Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Q 33:56 – Allah SHOLAT dan SHALAWAT kepada Nabi

Qur’an, Sura Al-Ahzaab, ayat 56

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Masalah utama ayat di atas adalah makna SHALAWAT yang artinya sama dengan SHOLAT, alias sembahyang, berdoa, beribadah pada Allah. Jika Allah bersholat atau berdoa, maka pada syafa yaaa Allah SWT berdoa?

Ternyata pertanyaan ini pun banyak dibahas di kalangan Muslim, sebab kedengarannya memang aneh.
Pertama-tama, saya ajukan tafsir dari At-Thabari akan Q 33:56:

Image
Image
Image
Image
Menurut saya, yang paling penting untuk diperhatikan dari tafsir Thabari di atas adalah keterangan dari halaman 237, paragraf kedua:

Image

Perhatikan kalimat yang gw garis bawahi merah:

Hal itu karena lafazh Image untuk SELAIN Allah berarti mendoakan.

Kenapa kok ada perkecualian seperti itu? Tak ada penjelasan apapun dari Thabari, sehingga kesannya seperti hendak mengatakan: POKOKNYA BEGITU!
Alasan utama perkecualian ini adalah karena Muslim MALU mengakui bahwa Allah berdoa bagi Muhammad. Jika Allah berdoa, lalu pada syafakah si doski berdoa? :rolling:
Jika Yesus berdoa, setidaknya, tuhannya kristen kan ada tiga, jadi ya bisa ke dua tuhan lainnya, kan? Hahahaah…

Islam dan Doa2 Allah

Sebuah pengamatan akan doa dan puji-pujian yang dilakukan Allah.
oleh: Sam Shamoun

Dari Qur’an kita mengetahui bahwa tuhan Islam berdoa/bersholat bagi umatnya, terutama Muhammad:

Q 2:157

They are those on whom are the prayers (salawatun) from their Lord and mercy (rahmatun), and it is they who are the guided-ones.
Artinya:
Mereka itulah yang mendapat doa2 / sholat2 (salawatun) dari Tuhan mereka dan pengampunan, dan merekalah orang2 yang mendapat petunjuk.

Versi Depag RI:

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan pengampunan dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Q 33:43 (terjemahan E.H. Palmer, 550 M)
He it is who prays (yusalli) for you and His angels too, to bring you forth out of the darkness into the light, for He is merciful to the believers.
Artinya:
Dia (Tuhan) yang berdoa/bersholat bagimu dan malaikat2Nya juga,

Versi Depag RI:

Dialah yang memberi pengampunan kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Q 33:56 (Palmer)

Verily, God and His angels pray (yusalluna) for the prophet. O ye who believe! pray for him (sallu) and salute him with a salutation!
Artinya:
Sesungguhnya, Allah dan para malaikatNya bersholat (yusalluna) bagi Nabi. Wahai kau yang percaya! Berdoalah baginya (sallu) dan hormati dia dengan penghormatan!

Versi Depag RI:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Hadis juga melaporkan bahwa Allah berdoa bagi umatnya:

Hadis Sahih Tirmidzi, (Aisha Bewley, Riyad as-Salihin (The Meadows of the Righteous), Book of Knowledge, 241. Chapter: the excellence of knowledge)

1387. Abu Umama melaporkan bahwa Rasul Allah berkata, “Allah dan para malaikatnya dan orang2 di surga dan di bumi, BAHKAN para semut dalam bebatuan DAN ikan, BERSHOLAT bagi berkat2 pada orang2 yang mengajarkan kebaikan.”

Juga hadis berikut:

2685. Abu Umamah al-Bahili menyatakan: “Dua orang disebutkan sebelum Rasul Allah. Salah satunya adalah seorang takwa dan yang lain adalah seorang ilmuwan. Maka Rasul Allah berkata: ‘Keunggulan seorang ilmuwan di atas seorang takwa adalah seperti keunggulanku di atas orang yang terendah diantara kalian.’ Maka Rasul Allah berkata; ‘Sesungguhnya Allah, dan para malaikatnya, penghuni surga dan bumi – bahkan semut dalam lubangnya, bahkan ikan – mengucapkan Salat bagi dia yang mengajarkan kebaikan pada orang2. (Hasan)

[Abu ‘Eisa berkata:] Hadis ini adalah hadis sahih gharib …

(terjemahan bahasa Inggris Jami‘ At-Tirmidhi, disusun oleh Imam Hafiz ‘Eisa Mohammad Ibn ‘Eisa At-Tirmidhi, dari hadis no. 2606 sampai 3290, diterjemahkan oleh Abu Khaliyl (USA), ahadit diedit dan referensi disusun oleh Hafiz Abu Tahir Zubair ‘Ali Za’i, pemeriksaan akhir dilakukan oleh Islamic Research Section Darussalam [Darussalam Publishers & Distributors, First Edition: November 2007], Volume 5, Bab 19. Perihal: Apa yang Berhubungan dengan Keunggulan Fiqh Diatas Sembahyang, hal. 80 – tercantum sebagai nomer 70 dalam versi ALIM CD-ROM koleksi hadis Tirmidhi.)

Keterangan berikut juga mengakui bahwa Allah berdoa:
Tafsir Ibnu Kathir, Q 33:56 (dari edisi bahasa Arab online)

Bani Israel berkata pada Musa: “Apakah Tuhanmu berdoa?” Tuhannya lalu memanggilnya dan berkata: “Wahai Musa, mereka bertanya padamu apakah Tuhanmu berdoa. Katakan [pada mereka] ‘Ya, aku berdoa, dan para malaikatku [berdoa] bagi nabi2ku dan utusan2ku,” “dan Allah lalu mengirimkan utusannya: “Allah dan para Malaikatnya berdoa…”

Juga ini:
Hadis nomer 216:

Bani Israel bertanya pada Musa: Apakah Tuhanmu berdoa? Musa menjawab: Takutlah pada Allah, wahai anak2 Israel!
Allah berkata: Wahai Musa! Apakah yang dikatakan orang2mu? Musa menjawab: Wahai Tuhanku, Apakakah kau telah tahu? Mereka berkata: Apakah Tuhanmu berdoa?
Allah berkata: Katakan pada mereka doa2Ku bagi pelayan2Ku adalah PengampunanKu lebih besar daripada AmarahKu. Jika tidak demikian, maka Aku telah menghancurkan mereka.

[Ibn ‘Asakir] (Al-Ahadith Al-QudsiyyahDivine Narratives diterjemahkan oleh Dr. Abdul Khaliq Kazi dan Dr. Alan B. Day, Bagian 2: Al-Ithafat Al-Saniyya Bi‘l-Ahadith Al-Qudsiyyah by Shaikh Zain al-Din Abdul Ra‘uf b. Taj al-‘Arifin b. ‘Ali b. Zayn al-‘Abidin al-Munawi [Dar Al Kitab Arabi – USA, 1995], hal. 305-306)

Keterangan berikut adalah doa Allah, diambil dari Al Sirah Al Halabiyya dari Ibnu Hisham:

قلت يا جبريل أيصلى ربك قال نعم قلت وما يقول قال يقول سبوح قدوس رب الملائكة والروح سبقت رحمتى غضبى
Aku [Muhammad] berkata, “Wahai Jibril, apakah Tuhanmu berdoa?” Dia berkata, “Ya.” Aku bertanya, “Apa yang dikatakanNya?”
“Inilah apa yang dikatakanNya. Dia berkata: ‘Mulia, suci, Tuhan para malaikat dan roh. Ampunanku melebihi amarahku.’”


~~~~~~~~~~ Berdasarkan keterangan2 di atas, sudah jelas bahwa Allah berdoa atau bersholat! ~~~~~~~~~~

Literatur Islam mengatakan bahwa kata salawat dan salah/sholat berhubungan dengan makna ibadah dan memulyakan:

Image

Penulis kamus Arab terkemuka ‘Al-Nihaayah fi Ghareeb al-Athar’ yakni Ibn Al-Atheer menjelaskan kata “Sala’h” sebagai berikut:

‘Al-Sala’h’ dan ‘Al-Salawaat’: digunakan untuk jenis pemujaan tertentu. Asal kata harafiah adalah doa (doa). Kadangkala, kata ‘Salah’ah’ berhubungan dengan salah satu dari kegiatan sholat. Juga disebutkan bahwa asal harafiah kata itu adalah ‘untuk memuliakan’ dan ibadah yang khusus disebut ‘Sala’h’, karena kata ini berarti memuliakan Tuhan.
(ref: http://www.understanding-islam.org/rela … scatid=135
Arti Kata “Sala’h, 19 Mei, 2001)

Sebenarnya kata2 ini digunakan dalam Qur’an untuk menunjukkan pemujaan atau doa yang wajib dilakukan hamba2 Allah padaNya:
Q 2:238

Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.

Q 9:99

Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul (wa-salawati al-rasuli). Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam pengampunan (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q 23:9

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya (Salawat).

Qur’an juga menyebut kata salla / sholat dalam berbagai bentuk tapi sama artinya:
Q 3:39

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat (yusalli) di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

Q 4:102

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat (As-Salat) bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang (yusallu), lalu bersembahyanglah (yusallu) mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Q 9:84

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) (tusalli = doa bagi jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

Q 75:31

Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) dan tidak mau mengerjakan salat,

Q 87:15

dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang (salla / sholat).

Q 96:9-10

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat (salla),

Lebih lanjut, Qur’an menyatakan bahwa semua pujian adalah bagi Allah saja:
Q 64:1

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Makhluk2 yang memuji Allah termasuk guruh dan para malaikat:

Q 13:13

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.

Q 2:30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Q 39:73-75

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.
Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Q 40:7

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, pengampunan dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

Q 42:5

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Muhammad dan pengikutnya diperintahkan untuk memuji-muji Allahnya:
Q 25:58

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya,

Q 110:3

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.

Allah bahkan meminta hamba²nya untuk memujinya beberapa kali dalam sehari:
Q 30:18

dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.

Q 40:55

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

Q 50:39

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya).

Terlebih lagi, pujian2 bagi Allah secara langsung berhubungan dengan ibadah bagiNya, seperti membungkukkan badan atau bersujud bagiNya:
Q 1:1-7

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Q 9:112

Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Q 15:98-99

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Q 32:15

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.

Di bagian awal sudah dibuktikan bahwa literatur Islam (Quran dan hadis) mengatakan bahwa Allah berdoa atau bersholat.
Ayat2 Qur’an di atas menyebutkan bahwa umat Allah harus berdoa dan bersholat! Dengan begitu, Allah dan umat Muslim sama2 berdoa dan bersholat!

Image
Sewaktu Muslim sholat memuji-muji Allah, ternyata Allah di surga pun melakukan sholat juga, memuji-muji Muhammad di hadapan para malaikatNya!!

~~~~~~~~~~ Q 64:1menyatakan semua pujian hanya bagi Allah saja. Lalu mengapa dunk Allah memuji-muji Muhammad dalam sholatNya? :rolleyes: ~~~~~~~~~~

[b]Allah ternyata juga melafalkan Qur’an, sama seperti yang Muslim lakukan dalam doa2 mereka:
:rolling:
Hadis At-Tirmidhi, nomer 660, dari ALIM CD-ROM:

Dikisahkan leh Abu Hurayrah:
Rasul Allah berkata, “Seribu tahun sebelum menciptakan surga dan bumi, Allah MELAFALKAN Ta-Ha dan Ya-Sin, dan ketika para malaikat mendengar pelafalanNya mereka berkata, ‘Berbahagialah orang2 yang menerima ini, berbahagialah pikiran yang mengingat ini, dan berbahagialah lidah2 yang mengucapkannya.” Darimi melaporkan begitu.

Karena Qur’an menjelaskan bahwa Allah berdoa dengan menggunakan kata yang sama artinya dengan memuji, memuja, dan meninggikan, maka ini berarti Allah juga memuji, meninggikan, memuja diriNya sendiri atau orang/makhluk lain.

Perhatikan keterangan dari Ibnu Katsir apa yang sebenarnya Allah lakukan:
Tafsir Ibnu Katsir Q 33:43

Arti kata Salah (sholat)

Allah bersholat berarti Allah memuji hambaNya di hadapan para malaikatNya, seperti yang dicatat Al-Bukhari dari Abu Al-‘Aliyah. Keterangan ini dicatat oleh Abu Ja`far Ar-Razi dari Ar-Rabi` bin Anas dari Anas. Yang lain mengatakan: “Sholatnya Allah berarti pengampunan.” Ada kemungkinan kedua keterangan ini tak bertentangan. Hanya Allah saja yang tahu. Sholat yang dilakukan para malaikat berarti mereka memohon dan mengharapkan pengampunan bagi umatnya, seperti yang dikatakan Allah …

Q 40:7-9

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, pengampunan dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala
ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan pengampunan kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”.
(supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya) berarti, pengampunanNya padamu, PUJIANNYA PADAMU, dan doa para malaikatNya bagimu, Dia membawa kamu keluar dari kegelapan dan kesesatan kepada cahaya pembimbing dan iman tertentu.

Juga ini:
Tafsir Ibnu Katsir Q 33:56

Perintah untuk mengatakan Salah (sholat) pada sang Nabi

Al-Bukhari meriwayatkan, Abul ‘Aliyah berkata: “Sholat Allah adalah pujianNya kepada Nabi di hadapan para malaikat, dan sholat para malaikat adalah doa² dari mereka.” Ibnu Abbas berkata: “Mereka mengirimkan berkat.”

Abu `Isa At-Tirmidhi berkata: “Ini dinyatakan dari Sufyan Ath-Thawri dan para ahli lainnya, yang berkata: Sholat Allah berarti pengampunan, sedangkan Sholat para malaikat berarti mereka meminta pengampunan.”

“Ada Hadis2 Mutawatir yang dinyatakan dari Rasul Allah yang memerintahkan kami untuk mengirim berkat baginya dan bagaimana kami harus bersholat baginya. Kami akan menyebut sebanyak yang kami bisa, jika Allah mengijinkan, dan kepada Allahlah kami minta pertolongan…

Doa2 Allah terdiri dari pujian bagi hambaNya yakni Muhammad di hadapan para malaikat di surga!

Pernyataan Ibnu Katsir menyiratkan bahwa Allah sebenarnya sembahyang pada malaikatNya karena dia berhadapan dengan mereka saat sholat dan menyatakan puji-pujian bagi hamba2Nya!

Dengan demikian, sewaktu muslim memuji-muji dan memuliakan seseorang ketika mereka sholat, Allah juga memuji-muji dan memuliakan seseorang saat Dia sholat! Saat Muslim memuliakan dan memuji-muji Allah, Allah pun sebenarnya memuliakan dan memuji-muji Muhammad dan umatnya! Yang disembah Muslim saat sholat adalah Allah karena mereka menyapaNya langsung saat sholat, sedangkan yang disembah Allah adalah para malaikatNya karena dia menyapa mereka langsung ketika dia memuji-muji para budak2nya! (1)

Menjawab Bantahan Muslim

Kalangan Muslim membantah keterangan di atas dan menyatakan bahwa sholat Allah sebenarnya adalah pengampunanNya yang dicurahkanNya bagi hamba2Nya. Dengan kata lain, ketika Qur’an mengatakan Allah bersholat, hal ini artinya adalah Allah menunjukkan pengampunanNya. Tapi masalah timbul karena literatur kitab suci Islam benar2 membedakan kata “doa/sholat” Allah dan “pengampunan” Allah:

Q 2:157

Upon them shall be prayers from their Lord AND MERCY (salawatun min rabbihim wa-rahmatun), and they are the rightly directed.

Artinya:
Bagi mereka adalah doa2 dari Tuhan mereka dan PENGAMPUNAN/RAHMAT (salawatun min rabbihim wa-rahmatun , dan mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk.

Versi Depag RI:

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Karena itulah penjelasan Muslim tidak masuk akal, seperti yang diakui oleh website Muslim berikut:

Berkat bagi Nabi – menurut kebanyakan ahli Islam, hal ini bermakna pengampunan dari Allah, doa² pengampunan yang diutarakan oleh para malaikat, dan doa yang dipanjatkan umat manusia. Para ahli Islam lainnya – termasuk Abu’l-Aaliyah dari kelompok jaman dulu dan Ibn al-Qayyim dari kelompok jaman lebih lanjut, dan Ibn ‘Uthaymin dari kelompok jaman modern – menganggap bahwa berkat bagi Nabi adalah: pujian baginya dari kelompok makhluk yang lebih tinggi (para malaikat, al-Saffaat 37:8), dan doa2 para malaikat dan Muslim untuk memohon berkat bagi Nabi adalah Nabi dipuji-puji oleh Allah di hadapan kelompok yang lebih tinggi (para malaikat).
Ibn al-Qayyim menulis tentang hal ini dalam bukunya yang berjudul Jala’ al-Afhaam fi Fadl al-Salaati wa’l-Salaam ‘ala Khayr il-Anaam, di mana dia menjelaskan panjang lebar makna berkat bagi Nabi, aturan dan keuntungannya.

Sheikh Muhammad ibn Saalih al-‘Uthaymeen berkata:

Kalimat “berkati Muhammad (salli ‘ala Muhammad)” – berarti berkat dari Allah adalah pengampunan, berkat dari para malaikat berarti doa2 minta ampun, dan berkat dari manusia berarti doa.

Jika dikatakan: “Para malaikat mengirim berkat baginya,” ini berarti mereka berdoa minta pengampunan bagi Nabi.
Jika dikatakan, “Khotib mengirim berkat baginya,” ini berarti dia berdoa agar Nabi diberkati.
Jika dikatakan, “Allah mengirim berkat baginya,” ini berarti Dia memberikan pengampunan bagi Nabi.

Pendapat ini dikenal luas di kalangan ulama Muslim, tapi penjelasan yang sebenarnya tidaklah begitu, karena kata ‘berkat’ (sholat) punya arti berbeda dengan pengampunan. Meskipun umat Muslim semuanya setuju bahwa diperbolehkan untuk berdoa minta ampun bagi setiap Muslim, tapi mereka berbeda pendapat tentang apakah boleh mereka berdoa minta berkat (salah/sholat atau salli ‘ala) bagi siapapun selain Nabi. Jika kata salaah/sholat berarti pengampunan, maka tentunya tiada perbedaan antara makna sholat dan pengampunan. Jika kita bisa berdoa minta ampun bagi seseorang, maka kita pun bisa mengirim berkat bagi orang itu.

Mari simak tafsir Q 2:157 dari Al-Sharh al-Mumti’, 3/163, 164 (Makna kata berkat dan salam bagi Nabi, Fatwa no. 69944)

Allah berkata:
Mereka adalah penerima Salawaat (yakni yang diberkati dan akan diampuni) dari Tuhan mereka, dan (merekalah yang) menerima pengampunanNya, dan merekalah orang yang diberi petunjuk.”
[al-Baqarah 2:157].

Kata rahmat (pengampunan) disebutkan sehubungan dengan kata salawaat (berkat), dan ini berarti terdapat dua makna yang berbeda, jadi arti ayat tersebut adalah jelas. Para ulama menggunakan kata salaah/sholat (berkat) di beberapa tempat dan kata rahmat (pengampunan) di tempat lain, maka salaah bukan berarti pengampunan. Yang paling tepat adalah pernyataan Abu’l-‘Aaliyah:

Salaah (berkat) dari Allah atas Nabi adalah pujianNya bagi Nabi di diantara para makhluk yang lebih tinggi (para malaikat).

Jadi makna Allaahumma salli ‘alayhi (wahai Allah, kirimkan berkat baginya) adalah:
Wahai Allah, pujilah dia diantara makhluk yang lebih tinggi, yakni diantara para malaikat yang dekat dengan Allah.

Jika seseorang berkata bahwa pendapat ini tidak benar jika ditinjau dari sudut pandang linguistik, karena salaah dalam bahasa Arab bermakna doa, dan bukan pujian, maka jawabnya adalah kata salaah juga berhubungan dengan kata silah (pemberian), dan tidak diragukan lagi bahwa pujian bagi Rasul Allah (SAW) diantara para malaikat merupakan pemberian terbesar, karena pujian kadangkala lebih penting bagi seseorang di atas segalanya. Jadi ini juga bisa berarti pemberian yang besar.

Berdasarkan pengertian tersebut, pandangan yang benar akan mengirim berkat (salaah) baginya berarti pujian baginya diantara kelompok yang lebih tinggi (malaikat).(akhir kutipan)

Keterangan Muslim di atas juga menyatakan doa2 Allah sebagai berkat2 Allah yang diberikan kepada hamba2Nya. Pendapat ini juga salah karena kata ‘berkat’ juga digunakan dalam Qur’an, yakni baraka, dan artinya bukanlah berdoa atau bersyalawat:

Q 7:137

Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah tertindas itu akan daerah-daerah timur bumi dan daerah-daerah baratnya, yang Kami telah melimpahkan berkat (barakna) padanya dan telah sempurnalah Kalimah Allah (janjiNya) yang baik kepada kaum Bani Israil kerana kesabaran mereka, dan Kami telah hancurkan apa yang telah dibuat oleh Firaun dan kaumnya dan apa yang mereka telah dirikan.

Q 11:73

Malaikat-malaikat itu berkata: Patutkah engkau merasa hairan tentang perkara yang telah ditetapkan oleh Allah? Memanglah rahmat Allah dan berkatNya melimpah-limpah kepada kamu (rahmatu Allahi wa-barakatuhu alaykum), wahai ahli rumah ini. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, lagi Maha Melimpah kebaikan dan kemurahanNya.

Terlebih lagi, hadis2 sebenarnya membedakan makna Sholat (salaah) Allah dan Berkat (baraka) Allah:

Tafsir Ibnu Katsir Q 33:56
Perintah untuk mengucapkan Salah/Sholat pada Nabi

Al-Bukhari meriwayatkan, Abul ‘Aliyah berkata: “Sholat Allah adalah pujianNya kepada Nabi di hadapan para malaikat, dan sholat para malaikat adalah doa2 dari mereka.” Ibnu Abbas berkata: “Mereka mengirimkan berkat.” Abu `Isa At-Tirmidhi berkata: “Ini dinyatakan dari Sufyan Ath-Thawri dan para ahli lainnya, yang berkata: Sholat Allah berarti pengampunan, sedangkan Sholat para malaikat berarti mereka meminta pengampunan.” “Ada Hadis2 Mutawatir yang dinyatakan dari Rasul Allah yang memerintahkan kami untuk mengirim berkat baginya dan bagaimana kami harus bersholat baginya. Kami akan menyebut sebanyak yang kami bisa, jika Allah mengijinkan, dan kepada Allahlah kami minta pertolongan. Dalam tafsir ayat ini, Al-Bukhari mencatat apa yang dikatakan Ka’b bin ‘Ujrah, “Dinyatakan, ‘Wahai Rasul Allah, berhubungan dengan penyampaian Salam bagimu, kami tahu akan hal ini, tapi bagaimana tentang Salah’ Nabi berkata:

<< Katakan: “Wahai Allah, kirimkan SHOLAT-MU pada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau mengirim SHOLAT-MU pada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Kau Maha Terpuji, Maha Pemurah. Wahai Allah, kirimkan BERKAT-MU pada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana kau mengirim BERKAT-MU pada keluarga, sesungguhnya Kau Maha Terpuji, Maha Pemurah.>> “Imam Ahmad mencatat bahwa Ibn Abi Layla berkata bahwa Ka’b bin ‘Ujrah bertemu dengannya dan berkata, “Haruskah aku memberimu hadiah? Rasul Allah datang pada kami dan kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Kami tahu bagaiman memberi Salam padamu, tapi bagaimana caranya mengirim Salah?’ Dia berkata…

<< Katakan: “Wahai Allah, kirimkan SHOLAT-MU pada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau mengirim SHOLAT-MU pada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Kau Maha Terpuji, Maha Pemurah. Wahai Allah, kirimkan BERKAT-MU pada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana kau mengirim BERKAT-MU pada keluarga, sesungguhnya Kau Maha Terpuji, Maha Pemurah.”>> Hadis ini telah dicatat oleh kelompok dalam buku2 mereka dengan berbagai rantai penyampai cerita.

Tafsir At-Thabari Q 33:56 telah mengganti kata Syalawat dengan “melimpahkan karunia”, sedangkan tafsir Ibnu Kathir masih jujur mengungkapkan kata aslinya (bersyalawat / bersholat):

Image
Image
Image
Keterangan dari Ibnu Katsir berikut menjelaskan bahwa Syalawat Allah bukanlah Berkat Allah, sebab baik kata Syalawat dan Berkat digunakan dalam paragraf yang sama, dengan makna yang berbeda. Dengan begitu, hadis berikut membantah keterangan Muslim bahwa Syalawat Allah = Berkat Allah.

Pengertian yang sebenarnya adalah: Syalawat Allah = Sholat / Doa Allah … bagi Muhammad!

Pertanyaan yang lalu timbul adalah: pada siapakah Allah bersholat?

Tentu saja pertanyaan memalukan seperti ini tak ada jawabannya dalam Islam. Yang bisa dilakukan para ulama Muslim hanya tiga:

  1. mengakui Muhammad salah atau ngawur;
  2. mengganti ayat Qur’an;
  3. mengganti makna Syalawat Allah.

Pilihan 1 dan 2 berakibat neraka dan terlalu mengerikan bagi Muslim, sedangkan pilihan 3 bisa dianggap sebagai taqiya di jalan Allah guna menutupi kengawuran Islam. Pilihan nomer 3 adalah pilihan termudah, dan inilah yang lalu dilakukan berbagai ulama Muslim tanpa malu.Image

Image
Image

Tafsir2 Thabari dan Ibnu Katsir, yang gw cantumin di atas merupakan bukti nyata bagaimana para ulama atau ahli Islam begitu jungkir balik mengeluarkan berbagai teori, tafsir dan arti kata baru demi menutupi makna asli dari Syalawat/Sholat yang dilakukan Allah. Para ulama mengatakan: Syalawat Allah = Berkat Allah. Tapi ternyata ada kata khusus untuk berkat dalam bahasa Arab, yakni Baraqa dan kata ini pun digunakan berkali-kali dalam Qur’an, dan artinya adalah ‘berkat’ dan bukan ‘sholat’. Jadi gimana nih? Kata Syalawat yang sama, jika dilakukan oleh Malaikat, bukan berarti ‘berkat’ lagi tapi berarti ‘doa2 yang dipanjatkan para Malaikat’. Mengapa satu kata (Syalawat) yang sama, bisa berbeda artinya jika dilakukan oleh orang/makhluk lain? Ini sama seperti kasus pada kalimat berikut:

Allah buang hajat, malaikat buang hajat.
Jika memakai logika Muslim Q 33:56, maka penjelasannya serupa dengan ini:
Pengertian ‘buang hajat’ pada Allah berubah artinya menjadi memberkati; sedangkan kata ‘buang hajat’ yang dilakukan malaikat berarti bener2 buang hajat.

Read More


Forum Berdiskusi

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: