Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

BISMI ALLAH : Kesukaan dan Ketidaksukaan Allah : bagian 1

BISMI ALLAH : Kesukaan dan Ketidaksukaan Allah

By Abul Kasem
e-mail: nirribilli@gmail.com
21 April, 2006


[Peringatan: Isi esai ini dapat menyinggung pembaca tertentu.]
GARIS BESAR

Tulisan ini dengan teliti menyelidiki tentang Allah, Tuhan-nya Islam. Allah adalah pusat agama Islam. Segala tindakan, segala ibadah, segala Jihad, segala penyerangan gelap Islami, segala pertumpahan darah Islami, segala hukum Islam dibuat hanya untuk satu tujuan: menyenangkan hati Allah.

Siapa sih Allah ini? Dari mana Dia datang? Di manakah Dia hidup sekarang? Apakah kegiatanNya sehari-hari? Bagaimanakah sifatNya? Apakah yang disukai dan tidak disukaiNya? Apakah Allah punya Kantor Pusat? – bagaimanakah bentuk kantor itu? Apakah Allah punya Singgasana? Apakah Allah punya jasmani atau apakah Allah itu makhluk yang amorfus – tanpa bentuk perwujudan apapun – tidak tampak, tidak dapat dikenali, dan tidak akan pernah dapat dimengerti?

Ini adalah pertanyaan² yang terlarang dan termasuk penghujatan. Meskipun begitu, pertanyaan² menghantui setiap pikiran Muslim sejak pertama kali mereka mendengar nama Allah sampai di saat dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tapi dia tidak akan pernah mendapat jawaban² yang memuaskan pada pertanyaan² ini.

Untuk jangka waktu selamanya, Allah tetap akan menjadi tanda tanya besar dalam diri Muslim. Para Islamis selalu menganggap sifat misterius dan sukar diduga Allah ini sebagai intisari Islam. Allah harus tetap sukar untuk dipahami, tidak banyak diketahui. Inilah yang membuat Islam hebat: permainan petak umpet antara Allah dan penyembahNya.

Tulisan ini mencoba menyingkirkan metode kuno dan irasional untuk mengerti Allah. Hasil yang paling mengejutkan dari penelaahan ini adalah: Allah itu ternyata tidak misterius sama sekali. Dia sama seperti kita semua yang adalah manusia yang hidup dan bernafas! Allah tidaklah misterius; dan Dia pun tidak bersembunyi dari kita semua. Dia hidup bersama Muhammad, tapi Dia tidak mati bersama Muhammad.

Berdasarkan bukti² yang tidak dapat disangkal, esai ini akan menyampaikan cerita tentang Allah dan bagaimana Muhammad mengajukan Allah sebagai makhluk untuk disembah – hanya karena dia ingin disembah – dalam nama Allah, sama seperti orang² pagan menyembah Allah.

Pendahuluan

Dua kata pertama di setiap Sura dalam Qur’an adalah Bismi Allah (kadang² ditulis sebagai Bismillah atau Basmallah) yang berarti: Dalam nama Allah. Perkecualian hanyalah di Sura 9 (Sura Baraat or Sura at-Taubat). Alasan mengapa dua kata ini (Bismi Allah) tidak ada di Sura 9 adalah karena Sura ini kelanjutan dari Sura 8 (Jarahan Perang). Dalam penyusunan Qur’an (mungkin di jaman Kalifah Uthman), Sura 9 ini dipisah dari Sura 8. Tiada huruf atau kata2 yang lebih suci daripada kedua kata itu. Dalam aturan bahasa Qur’an, kedua kata ini adalah sangat utama dalam segala ibadah agama. Memang benar, kata Bismi Allah merupakah kata kunci untuk membuka misteri Allah.

Kata² Bismi Allah adalah ucapan doa rutin dalam ibadah agama Islam seperti: melakukan sembahyang, perkawinan, makan, minum, membaca, menulis, tidur, bangun, berjalan, duduk, bangkit berdiri, berlari, bermain, buang air kecil, mencium, melakukan persetubuhan, duduk untuk belajar, mengunjungi dokter, siap² mau berangkat … dan segalanya. Kegiatan² saat di mana dua kata ini tidak digunakan adalah ketika melakukan pemancungan Islami, membunuh binatang, melakukan perang (Jihad), membersihkan dan berziarah ke kuburan. Kata² yang digunakan untuk kegiatan² ini adalah Allahu Akbar. Atas jasa para teroris Islam dan film pemancungan Islami yang mereka sebarkan di Internet, aku tidak perlu lagi menulis banyak² untuk menjelaskan kata² ini. Dunia sudah mengartikan kata² Allahu Akbar ini dengan teror, kejahatan, dan pembunuhan. Anehnya, kata² Bismi Allah tidak diucapkan dalam Azan. Kita mendengar ucapan Allahu Akbar (3 kali) di awal dan hampir di bagian akhir Azan.

Kata² Bismi Allah bukanlah penemuan Muhammad. Kaum pagan Mekah sudah biasa menggunakan dua kata suci ini meskipun tidak terus menerus dalam kebanyakan ibadah agama mereka karena mereka menganggap Allah sebagai Tuhan mereka yang paling utama. Mereka menamakan ibadah agama ini sebagai Tasmiya. Nama ini mungkin berasal dari budaya Yahudi yang menyebut HaShem dan memohon dengan khusuk ketika mereka melafalkan Taurat. Tidaklah jelas siapa yang menemukan kebiasaan ini – tapi jelas bahwa Muhammadlah yang secara luas menetapkan aturan pengucapan Bismi Allah sebagai praktek wajib bagi para Muslim di seluruh dunia. Jika engkau membaca lebih lanjut dalam esai ini, kau akan mengerti mengapa Muhammad mewajibkan untuk mengucapkan Bismi Allah di setiap kegiatan yang sebelumnya kusebut tadi.

Karena itu, memang penting untuk membedah secara menyeluruh dua kata Bismi Allah yang merupakan akar dari semua kegiatan Islami. Dengan melakukan penelitian secara mendetail, kita akan mengerti jalan pikiran Allah, yang adalah kunci untuk mengerti jalan pikiran Muhammad dan agama Islamnya. Inilah tujuan utama esai ini – untuk menjelaskan Allah yang misterius dan rekannya yang tak terpisahkan Muhammad.

Para pembaca mungkin mendapati beberapa bagian repetitif (berulang). Ini terjadi karena Qur’an dan Ahadis juga repetitif. Aku mencoba menghindari pengulangan sebisa mungkin, tapi dalam beberapa kasus, hal ini tidak bisa dihindari sama sekali.

Ucapan Terimakasih

Dalam beberapa bulan terakhir, aku menerima banyak e-mail dari para pembaca yang sangat ingin tahu mengapa tiada berita dariku. Aku sangat terpana dengan sikap mereka yang hangat dan penuh peduli, sangat mendukung dan memberi nasehat² yang baik. Karena itu aku merasa bersikap tidak adil bagi para pembaca ini jika aku tidak mengucapkan rasa terima kasih pada mereka atas kasih sayang dan pengertian yang tulus. Aku tidak pernah menyangka bahwa tulisanku akan dapat menggerakkan perasaan orang. Tadinya kupikir tulisan²ku hanyalah sampah belaka – hanya untuk dibuang di keranjang sampah sejarah. Balasan² yang kuterima selama ini tadinya adalah e-mail² penuh kebencian – ratusan banyaknya, penuh ancaman² untuk membunuhku – hanya karena aku mengutarakan pendapatku. Karena itu, ketika aku membaca e-mail² dari para pembaca yang sangat bersimpati padaku, perhatian mereka membangkitkan semangat dalam diriku – semangat untuk terus menulis dengan penaku. Aku sangat terharu ketika membaca e-mail2 penuh kasih itu. Beberapa pembaca khawatir akan keselamatanku ketika teroris Islam mengeluarkan fatwa mati untuk membunuh penulis2 pengritik Islam, termasuk diriku. Bagi mereka yang telah mengharapkan diriku selamat, aku ingin mengucapkan terima kasih sebesarnya. Bagi orang2 seperti kalianlah aku ingin menyerahkan seluruh pengabdianku agar anak cucu kita kelak tidak akan lupa hal yang kita perjuangkan saat ini yakni dunia yang bebas dari anarki dan kemunafikan agama. Kalian adalah perwujudan dari keinginan untuk melepaskan dunia dari kesintingan agama. Marilah kita mulai dari “Awal” yakni sifat dasar Allah.

Allah itu Anthropomorfik (menyerupai manusia)

Allah itu Nyata

Muslim seringkali membayangkan Tuhan mereka, Allah, sebagai makhluk yang omnipresent, omnipoten, tak berbentuk, sempurna, selalu terjaga dan mengatur dunia melalui perintah²Nya yang mutlak seperti yang tertulis di kitab suci Qur’an. Menurut banyak apoligis Muslim, tidak ada seorang pun yang memahami sifat dan besarnya Allah. Banyak ilmuwan Muslim terkemuka menulis esai dengan bahasa muluk penuh dengan omong kosong Islami. Tulisan mereka penuh pujian tentang Allah yang tidak dapat dilihat, tidak jelas, dan tidak dapat dimengerti. Banyak Muslim yang mengabdi penuh kepada Allah, sembahyang lima kali sehari, memohon karunia dan ampun dariNya. Apakah arti semua ini? Sudah jelas tampak hal yang bertentangan di sini.

Di satu pihak, mereka menyatakan konsep tentang Alah sebagai makhluk yang tidak nyata, tapi sewaktu sembahyang mereka akan menganggap Allah sebagai makhluk yang nyata yang punya mata untuk melihat, kuping untuk mendengar dan punya kualitas tubuh untuk mengabulkan permintaan² orang yang takwa. Jadi apakah keadaan yang sebenarnya: Allah itu makhluk yang tidak bertubuh, tidak nyata, tidak dapat terlihat, atau Allah itu makhluk yang nyata dan bertubuh? Percaya atau tidak: jika kita mencari sumber² Islam utama seperti Qur’an, Hadis, Sirah (biografi Muhammad) dan Sharia, kita dapat mengambil satu kesimpulan sederhana yakni Allah itu benar² nyata, Dia menulis Qur’an dengan tanganNya sendiri dan Dia menurunkan hukum dan anugrahNya dengan tanganNya sendiri.

Untuk memulainya, ilmuwan Islam yang cemerlang Ali Dashti berpendapat bahwa kebanyakan ilmuwan Islam percaya bahwa seperti manusia, Allah pun punya anggota badan (68:42). Ini berarti: Allah itu anthropomorfik! – lengkap dengan lengan, mata², kuping², kaki², tapak kaki dan tubuh! Dengan mengutip sumber Islam yang akurat dari Abu ‘Amer, Ali Dashti berkata bahwa menurut Islam yang paling awal/asli, Allah punya anggota dan organ² tubuh seperti manusia. Abu ‘Amer menggunakan ayat 68:42 untuk menerangkan sifat alami Allah. Inilah yang Dashti tulis:

Abu ‘Amer ol–Qorashi, seorang Moor dari Majorca yang meninggal di Baghdad tahun 1130 menyatakan bahwa kalimat “Tiada apapun yang sama denganNya” di Sura 42:9 (osh–Showra) (di Qur’an terjemahan Yusuf Ali ini adalah ayat 42:11) tidak dapat diartikan secara harafiah dan usaha pengartian harafiah merupakan tindakan penghujatan. Ini berarti, menurut Abu ‘Amer ol–Qorashi, tiada yang menyamai Allah dalam hal ke-Illahi-anNya, karena “Tuhan memiliki anggota2 dan organ2 tubuh sama seperti milikmu dan milikku.” Sebagai bukti bahwa Allah memiliki anggota2 dan organ2 tubuh, Abu ‘Amer ol–Qorashi mengutip pernyataan tentang hukuman akhir di Sura 68 (ol-Qalam) ayat 42:

“Pada hari Betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa” (Qur’An terjemahan YUSUF ALI: “The day that the Shin shall be laid bare and they shall be summoned to bow in adoration, But they shall not be able”)

Abu ‘Amer menepuk pahanya dan berkata,”Allah punya kaki² sama seperti punyaku.” (Dashti, “23 Years” (23 tahun karir kenabian Muhammad), 1994, hal. 158).

Ya, betul. Allah punya anggota² dan organ² tubuh sama seperti kita – manusia, yang Dia ciptakan dengan tanganNya sendiri. Inilah dua ayat yang menegaskan bahwa Allah benar² anthropomofik:

Q 42:11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Q 68:42

Pada hari Betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa.

Ali Dashti melanjutkan:

Allah adalah anthropomorphik (menyerupai manusia)! Menurut Ghazali, Mutazillites adalah kafir dan penghujat Allah. Allah akan turun dari takhtaNya – kata Ghazali.(Dashti, 1994, p. 157).

Dengan mengambil sumber dari Imam Ahmad b. Taymiya, salah satu ilmuwan Islam yang paling terkemuka, Dashti lalu menulis bahwa Ibn Taymiya tidak mau mengakui Ghazali yang tidak punya gambaran jelas tentang Allah dan percaya bahwa Allah bukanlah mahkluk yang berjasmani. Ghazali adalah ilmuwan Islam yang paling mashyur, banyak Muslim menganggap karya tulis Ghazali kedua terpenting setelah Qur’an. Ibn Taymiya bahkan menyebut Ghazali sebagai bid’ah. Ibn Taymiya sangat percaya bahwa Allah benar2 anthropomorphik! Allah akan turun dari takhtaNya!

Dashti menulis:

Akan tetapi, banyak Muslim yang punya pandangan yang kaku. Orang² seperti itu hanya menerima interpretasi yang telah ditegaskan oleh Hadis (Qur’an), dan mereka menganggap menggunakan akal dalam memahami masalah² agama akan menyesatkan dan tidak diperbolehkan. Mereka menerima arti ayat² Qur’an di atas secara harafiah dan percaya bahwa Allah punya kepala, mulut, mata², kuping², lengan² dan kaki² sama seperti manusia. Menurut pendapat Abu Ma’mar al–Hodhali (d. 236/850), seorang Imam di Baghdad, setiap orang yang tidak percaya akan ini dianggap kafir. Pendukung paham ini adalah Ahmad b. Hanbal (164/780–241/855) yang juga percaya pengertian yang harafiah. Tokoh paham ini Ahmad b. Taymiya begitu yakinnya sehingga dia menyebut Mo’tazelites kafir dan Ghazali bid’ah. Dalam peristiwa yang terkenal, setelah mengutip Qur’an dalam khotbahnya, Ahmad b. Taymiya berkata pada jemaat sambil turun dari podium Mesjid Besar di Damaskus, “Allah akan turun dari takhtanya sama seperti aku turun dari podium ini.” (Dashti, 1994, p. 157)

Dashti juga menulis bahwa ilmuwan² Muslim setuju bahwa Qur’an bukanlah suatu muzizat. Al-Maari menulis sebuah tiruan dari Qur’an. Tulis Dashti:

Telah diketahui secara umum bahwa penulis puisi Syria yang buta bernama Abu’l ‘Ala ol-Maari (368/979–450/1058 ) menulis Ketab ol-fusul wa’-ghayat, dan hanya sebagian yang masih ada sekarang, sebagai tiruan Qur’an. (Dashti, 1994, p. 48 )..

Berikut adalah bukti lain bahwa Allah adalah nyata dan punya kualitas² manusia (anthropomorphik): Enoch berjalan dengan Allah 19:56-57, 21:85-86 (Tabari, 1988, p. 6.42). Allah berjalan dengan manus1a² (di Surga tentunya) – ini sungguh sukar dipercaya. Tapi lihat apa yang Qur’an katakan!

Q 19:56

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Q 19:57

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Di catatan kaki nomer 55 di volume VI, Tabari menulis:

Seorang Nabi dinyatakan dalam Qur’an “diangkat ke tempat yang tinggi” oleh Tuhan (19:56 dan 21:85). Dia biasanya disebut dalam Alkitab sebagai Enoch (Akhnukh) yang “berjalan bersama Allah, lalu dia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kejadian 5:24).” (Tabari, 1988, p. 6.42).

Ini berarti Allah tentunya punya kaki, seperti manusia, yang bisa berjalan dengan manusia seperti Nabi Enoch (Idris).

Bukti lain bahwa Tuhan Islam yakni Allah adalah makhluk yang hidup dan melakukan kegiatanNya sehari-hari bagaikan makhluk² lain dapat terlihat di sebuah Hadis. Di Hadis Sahih Bukhari kita baca:

Orang2 biasa menyembah Muhammad sampai dia mati, lalu Abu Bakr menyatakan bahwa Muhammad sudah mati tapi jika orang² menyembah Allah maka Allah itu hidup … (Sahih Bukhari, 5.59.733)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 733:

Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Abu Bakr datang dari rumahnya ke As-Sunh dengan mengendarai seekor kuda. Dia turun dari kudanya dan masuk ke dalam Mesjid, tapi dia tidak bicara dengan orang2 sampai dia bertemu ‘Aisha dan langsung menuju Rasul Allah yang ditutupi oleh kain Hibra (serupa dengan kain Yemeni). Dia menyingkapkan kain yang menutupi wajah sang Nabi dan sujud di hadapannya dan menciumnya dan menangis, katanya, “Biarlah ayahku dan ibuku dikorbankan bagimu. Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu mati dua kali. Karena kematian telah disiratkan bagimu, telah terjadi atasmu.”

Dikisahkan oleh Ibn ‘Abbas: Abu Bakr ke luar ketika Umar bin Al-Khattab sedang bicara dengan orang2. Abu Bakr berkata, “Duduklah, wahai ‘Umar!” Tapi ‘Umar tidak mau duduk. Karena itu orang2 datang kepada Abu Bakr dan meninggalkan Umar. Abu Bakr berkata, “Untuk melanjutkan, jika diantara dari kalian semua biasa menyembah Muhammad, maka Muhammad mati, tapi jika (setiap orang diantara) kamu biasa menyembah Allah, maka Allah itu HIDUP dan TIDAK AKAN PERNAH MATI. Allah berkata — “Muhammad tidaklah lebih daripada seorang Rasul, dan memang (banyak) rasul2 telah mati sebelum dia (sampai akhir ayat) … Allah akan menganugerahi mereka yang bersyukur” (3:144) Demi Allah, tampaknya seperti orang2 belum pernah tahu bahwa Allah telah menyatakan Ayat ini sebelumnya sampai Abu Bakr melafalkannya dan semua orang menerimanya dari dia, dan aku dengan setiap orang melafalkannya setelah itu.

Dikisahkan oleh Az-Zuhri: Said bin Al-Musaiyab mengatakan padaku bahwa ‘Umar berkata, “Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakr melafalkan itu, kakiku tidak kuat menunjangkku dan aku jatuh pada saat mendengar dia melafalkannya, mengumumkan bahwa sang Nabi telah mati.”

Qur’an juga menyatakan bahwa Allah adalah makhluk yang hidup – sama seperti makhluk² lain. Ini ayatnya:

Q 20:11

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.

Satu kisah yang membuat orang paling ber-tanya² adalah kisah Muhammad yang melakukan perjalanan sejenak dari tempat dia tidur di kamar tidur Umm Hani (saudara sepupu Muhammad) ke mesjid di Jerusalem bernama Bait al-Maqdis dan lalu ke surga untuk bertemu dengan Allah (kisah ini tentu dipertanyakan kebenarannya karena tiada satu pun mesjid yang ada di Yerusalem ketika Muhammad masih hidup). Ibn Sa’d menulis di malam perjalanan ini terjadi, Muhammad pergi ke rumah Umm Hani, melakukan sembahyang isha (sembahyang malam hari) dengannya, naik Buraq yakni makhluk separuh kuda separuh malaikat dan lalu berangkat terbang ke Yerusalem. Dari sana Muhammad dan buraq terbang (di versi lain naik tangga yang tinggi) ke surga untuk bertemu Allah. (Ibn Sa’d, 1.248 ).

Kita mungkin tertawa mendengar perjalanan khayalan ini yang mestinya dikarang orang yang sedang berada di bawah pengaruh obat bius. Tapi lihat apa yang ditulis sumber utama Islam lain. Sahih Bukhari menulis:

Perjalanan malam hari ke Bait ul-Maqdis (Isra) merupakan pemandangan yang nyata dan bukan mimpi (berhubungan dengan ayat 17:60) …. (Sahih Bukhari, 5.58.228 ).

Hadis ini panjang, dan kukutip bagian yang sesuai:

Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 58, Number 228:

Dikisahkan oleh Ibn ‘Abbas:
Mengenai Pernyataan Allah”
………………………………………

(terjemahan Yusuf Ali: “And We granted the vision (Ascension to the heavens) which We made you see (as an actual eye witness) was only made as a trial for the people.” (17.60)) “Dan penglihatan (naik ke surga) yang Kami karuniakan sehingga kau melihat (sebagai saksi mata yang sebenarnya) hanya dibuat sebagai ujian bagi manusia.” (17:60)

Ibn Abbas menambahkan: penglihatan yang ditujunjukkan kepada Rasul Allah di Perjalanan Malam ketika dia dibawa ke Bait-ul Maqdis (yakni Yerusalem) merupakan penglihatan nyata (bukan mimpi). Dan pohon yang terkutuk dalam ayat itu adalah pohon Zaqqum sendiri. Ayat 17:60 disebutkan dalam Hadis Sahih Bukhari.

Q 17:60

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Kedua sumber (Qur’an dan Sahih Bukhari) ini membuktikan bahwa Allah memang nyata dan Dia benar² menghuni surga. Kalau Allah memang ada di mana² seperti yang dipercayai banyak Muslim, tidaklah perlu bagi Muhammad untuk melakukan perjalanan ini. Seharusnya Allah dapat dengan mudah saja menjelma dalam bentuk apapun dan bicara langsung pada Muhammad. Allah tentunya dapat melakukan ini seketika. Jadi mengapa Dia harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk kirim buraq kepada Muhammad hanya karena ingin bicara dengannya?

Karena itu, kita dapat dengan jelas mengambil kesimpulan bahwa Allah itu nyata. Dia punya jasad fisik dan punya tempat tinggal.

Allah berbentuk seperti manusia, Dia tampak mirip dengan Adam.

Muhammad menemui banyak kesulitan menjelaskan para pengikutnya Arab Bedouin yang buta huruf, tidak banyak pengetahuan dan gampang ditipu tentang konsep Allah buatannya sendiri. Masyarakat gurun pasir ini selalu menghubungkan konsep tuhan atau dewa dengan makhluk berjasad. Jadi, ketika Muhammad memperkenalkan faham satu Tuhan yang tidak dapat dilihat, mereka sangat bingung dan mempertanyakan kewarasannya, karena tidak seorang pun yang telah melihat Allah (meskipun mereka pun percaya akan dewa tertinggi yang mereka panggil sebagai Allah pula). Karena itu, Muhammad harus menghubungkan Allah-nya dengan makhluk2 hidup, dan apa yang lebih baik daripada menghubungkan wujud Allah dengan manusia pertama yang asli yakni Adam? Dia memberitahu para pengikutnya bahwa Allah memang benar2 tampak seperti Adam.

Ini Hadis dari Sahih Bukhari:

Adam berbentuk persis seperti Allah; Adam tingginya 60 kubik (30 m). …(Sahih Bukhari, 8.74.246)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 8, Book 74, Number 246:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Allah menciptakan Adam dari wujud dan bentukNya sendiri [/size](yang sempurna), [/b]60 kubik (kira2 30 meter) tinginya. Ketika Dia menciptakan Adam, Dia berkata (padanya), “Pergilah dan sapalah kelompok malaikat yang duduk di sana, dan dengarkan apa yang mereka katakan sebagai jawaban bagimu, karena itulah yang akan menjadi sapaanmu dan sapaan bagi anak2mu.” Adam (pergi dan berkata, “Salamu alaikum (Damai bagimu).” Mereka menjawab, “AsSalamu-‘Alaika wa Rahmatullah (Damai dan Pengampunan Allah bagimu).” Sang Nabi menambahkan “Jadi siapapun yang masuk Surga, akan berwujud dan berbentuk seperti Adam. Sejak itulah penciptaan (anak2) Adam (yang ukuran tingginya dikurangi terus) sampai pada masa kini.”

Di Sahih Muslim kita baca:

Adam adalah imej (gambar-diri) Allah …. (Sahih Muslim, 32.6325)

Hadis Sahih Muslim, Book 032, Number 6325:

Hadis ini telah disampaikan berdasarkan ijin dari Abu Huraira dan dalam Hadis yang disampaikan atas ijin dari Ibn Hatim dinyatakan bahwa Rasul Allah dikabarkan telah berkata: Jika salah seorang dari kamu berkelahi dengan saudara lakinya, dia tidak boleh memukul mukanya karena Allah menciptakan Adam berdasarkan rupaNya sendiri.

Agar tidak malu, dalam versi cetak Sahih Muslim, penerjemah Sahih Muslim dan ilmuwan Islam bernama ‘Abdul Hamid Siddiqi menulis di catatan kaki keterangan yang membingungkan yang hanya menunjukkan kebingungan mereka tentang konsep Allah yang diciptakan Muhammad. Ilmuwan Islam terkemuka ‘Abdul Hamid Siddiqi menulis:

Kami telah menerjemahkan Surathi sebagai gambar-diriNya dan bukannya bentukNya karena Allah tidak memiliki bentuk dan wujud yang pasti. Kata2 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam dari gambar-diriNya sendiri tidak berarti bahwa dia tidak diciptakan dari gambar-diriNya atau bentukNya, karena makhluk yang terbatas tidak dapat dibentuk dari pola makhluk yang Tak Terbatas. Kata2 “gambar-diriNya” digunakan untuk memberi pengertian akan seorang manusia yang terhormat dan dia menjadi ciptaanNya yang tertinggi dan termulia dan duta Allah di dunia.

Menurut beberapa ahli Islam, kata “nya” bukanlah untuk Tuhan, tapi untuk seseorang yang telah dipukuli mukanya.
Menurut penjelasan ini, seharusnya terjemahan kalimat itu berbunyi demikian: Karena Allah telah menciptakan Adam dalam bentuknya (bentuk di mana orang yang dipukul itu juga diciptakan). Karena itu setiap orang tidak boleh memukul muka karena muka ini adalah replika wajah Adam.

(Sahih Muslim, 2004, p. 4.1660, foot note 2872).

Perhatikan bahwa sang penerjemah mengarang konsep Allah versinya sendiri, yang jelas bertentangan dengan pengertian Qur’an akan Allah dan ahadis di Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Sudah jelas bahwa Professor ‘Abdul Hamid sama bingungnya seperti masyarakat Bedouin di jaman Muhammad!

Allah menyadari ketelanjangan Adam dan Hawa. (Ibn Sa’d, hal. 1.22).

Ya, Allah merasa malu melihat Adam telanjang. Karena Allah tampak serupa seperti Adam, Dia memang seharusnya merasa malu. Allah mestinya tidak pernah telanjang. Jadi, Dia memerintahkan Adam dan Hawa untuk berpakaian yang sopan.

Akan hal ini, Ibn Sa’d menulis:

Ketika Allah melihat ketelanjangan Adam dan Hawa, Dia memerintahkannya untuk menjagal seekor domba jantan dari 8 pasangan domba yang Allah turunkan dari surga². Jadi Adam mengambil domba jantan itu dan menjagalnya. Lalu dia mengambil kulitnya yang dibentangkan oleh Hawa. Lalu Adam dan Hawa menganyamnya. Adam merajut bahan pakaian bagi dirinya sendiri dan sebuah pakaian longgar dan penutup kepala bagi Hawa. Keduanya mengenakan pakaian dari bahan pakaian yang mereka miliki dan bertemu di saat Jam’a dan karenanya hari itu dinamakan jam’a. Mereka mengenali satu sama lain pada saat ‘arafah dan lalu tempat itu dinamakan ‘Arafah.

Allah punya tangan², kaki² dan kuping² tapi para berhala tidak punya.

Dari penelaahan sebelumnya, sudah tampak jelas bahwa Allahnya Muhammad memang benar berbentuk seperti manusia biasa. Karena Allah tampak seperti manusia biasa, maka masuk akal kalau Allah tentunya punya tubuh yang serupa seperti manusia biasa. Maka dari itu, dalam Qur’an kita baca bahwa Allah punya mata² dan kuping² … (Q 42:11)

Q 42:11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Allah punya tangan²; Dia menciptakan Adam dengan tanganNya sendiri (38:75, 48:10).

Q 38:75

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

Q 48:10

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Dalam memberi pendapat tentang kedua ayat di atas, penerjemah Sahih Bukhari, Dr. Muhammad Muhsin Khan menulis bahwa kedua ayat tersebut menyatakan dengan tegas kedua tangan Allah, tapi tiada yang serupa dengan tangan Allah. Para pembaca mungkin bingung dengan keterangan yang berbelit-belit itu, tapi tunggu sebentar, Dr. Muhsin lalu menulis:

Ini bukannya seperti yang sebagian orang duga bahwa Allah berada di mana²– di sini, di sana dan bahkan dalam dada manusia (Khan, 1994, p. 1067).

Dr. Muhsin Khan telah membenarkan apa yang kutulis sebelumnya bahwa Allah itu anthropomorfik dan Dia punya tempat tinggal yang tetap.

Di dalam Sahih Bukhari kita baca bahwa Allah memang punya tangan² jasmaniah. Tapi tangannya begitu besar sehingga Dia dapat menggenggam seluruh bumi dalam satu tanganNya. Mungkin besarnya ukuran tangan Allah inilah yang disebut sebagai perbedaan menurut Dr. Muhsin Khan ketika dia mengatakan bahwa Allah punya tangan² tapi tidak ada yang serupa dengan tangan Allah. Mari kita baca Hadis ini.

Allah akan menggenggam seluruh bumi dan menggulung semua surga dalam tangan kananNya … …(Sahih Bukhari, 6.60.336)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 336:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Aku mendengar Rasul Allah berkata, “Allah akan menggenggam seluruh bumi, dan menggulung semua surga di dalam tangan KananNya, dan Dia akan berkata,’Akulah Raja, di manakah raja² bumi?’”

Allah punya tapak kaki yang besar. Dia meletakkan tapak kakiNya di atas neraka. Iya, betul. Sewaktu memberi tanggapan akan Q 50:30, Sahih Bukhari berkata persis seperti itu. Mari kita lihat ayat Q 50:30.

Q 50:30

YUSUF ALI: Suatu Hari Kami akan bertanya pada Neraka,”Apakah kau sudah penuh?” Ia menjawab,”Apakah masih ada tambahan lagi (yang datang)?”

Ini Hadisnya:

Hadis Sahih Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 371:

Dikisahkan oleh Anas:
Sang Nabi berkata,”Orang2 akan dilemparkan ke dalam Api (Neraka) dan ia akan berkata: “Apakah masih ada tambahan lagi (yang datang)?” (50:30) sampai Alah meletakkan Tapak KakiNya di atasnya dan ia akan berkata,’Qati! Qati (Cukup! Cukup!)’”

Hadis Sahih Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 373:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Sang Nabi berkata, “Surga dan Api (Neraka) bersilat lidah, dan Api (Neraka) berkata, “Aku telah diberi kehormatan untuk menerima orang2 yang sombong dan para penindas.’ Surga berkata,”Apa yang salah pada diriku? Mengapa hanya orang2 yang lemah dan rendah hati saja yang masuk ke dalamku?”

Mendengar itu, Allah berkata kepada Surga: ‘Engkau adalah Belas KasihanKu yang Aku karuniakan kepada siapapun yang Kuinginkan dari pembantu2ku.’ Lalu Allah memganggil Api (Neraka), ‘Kau adalah (wujud) hukumanku yang kuterapkan kepada siapapun Kuinginkan dari budak2ku. Bagi Api (Neraka), ia tidak akan penuh sampai Allah meletakkan Tapak KakiNya di atasnya dan ia lalu akan berkata, ‘Qati! Qati’ Pada saat itulah ia akan penuh, dan bagian2nya yang berbeda akan bergerak berdekatan satu sama lain, dan Allah tidak akan salah akan ciptaanNya. Perihal Surga, Allah akan menciptakan ciptaan baru untuk memenuhinya.”

Inilah dua Ahadis serupa dari Sahih Muslim.

Allah akan meletakkan tapak kakinya di atas neraka ketika neraka penuh dengan orang2 berdosa. …..(Sahih Muslim, 40.6823, 6825).

Hadis Sahih Muslim, Book 040, Number 6823:

Anas b. Malik melaporkan bahwa Rasul Allah berkata bahwa Neraka akan terus menerus berkata: Apakah ada tambahan lagi, sampai Allah, yang Maha Kuasa dan Mulia, meletakkan tapak kakiNya di atasnya dan ia akan berkata: Cukup, cukup, demi KemuliaanMu, dan beberapa bagiannya akan bergerak mendekat satu sama lain.

Hadis Sahih Muslim, Book 040, Number 6825:

‘Abd al-Wahhab b. Ata’ melaporkan dalam hubungan dengan firman Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia: Kami akan berkata pada Neraka di Hari Kebangkitan: Apakah kau telah benar2 penuh? dan neraka akan berkata: Apakah masih ada tambahan lagi? Dan dia menyatakan atas ijin Anas b. Malik bahwa Rasu Allah berkata: (Orang2 berdosa) akan dibuang ke dalamnya dan ia (neraka) akan terus menerus berkata: Apakah masih ada tambahan lagi, sampai Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia, akan meletakkan kakiNya di atasnya dan beberapa bagian dari neraka akan bergerak mendekat bagian lainnya dan neraka akan berkata: Cukup, cukup, demi KemuliaanMu dan demi KehormatanMu, dan akan terdapat tempat yang cukup di Surga sampai Allah membuat ciptaan baru dan Dia akan membuat mereka tinggal di tempat yang tersisa di Surga.

Bahkan penerjemah Qur’an dan Sahih Bukhari yakni Drs al–Hilali dan Muhammad Muhsin Khan, yang menyertakan isi Hadis ini di catatan kaki mengakui sifat jasmani kaki Allah (Hilali and Khan, 1999, The Noble Qur’an, p. 679, foot note 1). Karena merasa malu akan Ahadis yang begitu konyol, kisah isapan jempol, banyak ilmuwan Islam masa kini yang membelokkan isi Ahadis ini dan menyatakan bahwa sebutan anggota tubuh Allah hanyalah sebagai kiasan saja. Inilah komentar dari ahli Hadis terkemuka Professor ‘Abdul Hamid Siddiqi:

Tangan di sini tidak diartikan secara harafiah, tapi sebagai arti kiasan.

(Siddiqi. 2004, p. 1.151, footnote 388 )

Di Qur’an 35:41 kita baca bahwa Allah menahan langit dan bumi kuat² agar keduanya tidak pindah dari tempat mereka; hanya Allah yang dapat menjamin surga dan bumi tetap ada. Ayat ini jelas menggambarkan besarnya ukuran tangan Allah dan sifat keperkasaan Allah begitu rupa sehingga hanya Allah saja yang secara fisik kuat untuk menahan bumi di posisinya yang sama.

Q 35:41

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Allah memang punya kemampuan fisik untuk mendengar dan melihat. Ini hadisnya dari Sunaan Abu Dawud:

Sunaan Abu Dawud, Vol. III, Hadith Number 4710

Abu Yunus Sulaim b. Jubair, yang merupakan nasabah Abu Hurairah, berkata: Aku mendengar Abu Hurairah melafalkan ayat ini (4:58 ): “Allah memang memerintahkanmu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” … sampai pada “Karena Allah adalah Dia yang mendengar dan melihat segalanya. Dia berkata: Aku melihat Rasul Allah meletakkan jempolnya di telinganya dan jarinya di atas matanya.

Abu Huraira berkata: Aku melihat Rasul Allah melafalkan ayat ini dan meletakkan jari2nya. Ibn Yunus berkata bahwa al-Muqri berkata: “Allah mendengar dan melihat” berarti Allah punya kekuatan untuk mendengar dan melihat.

Seperti biasa, karena malu akan hadis yang konyol ini, penerjemah Sunaan Abu Dawud, Professor Ahmad Hasan, dalam sebuah catatan kakinya dengan keras menyangkal adanya anggota² badan Allah secara fisik seperti telinga² dan mata². Dia lebih memilih menyalahkan kebodohan kaum Jahiliya atas adanya pengertian Allah punya jasmani. Di catatan kaki itu dia menulis:

Kaum Jahmiyyah tidak percaya akan sifat2 Illahi. Tradisi (hadis) ini menyangkal pandangan mereka. Allah tidak punya organ2 tubuh untuk mendengar dan melihat seperti telinga2 dan mata2, tapi yang dinyatakan adalah kemampuanNya untuk mendengar dan melihat. (Hasan, 2001, p. 3.1324, foot note 4121).

Sudah jelas bahwa Professor Hasan berbohong untuk memaksakan pendapat pribadinya terhadap para pembaca yang kurang cermat.

Marilah kita membaca apa yang Hadis Tirmidhi katakan tentang jari Allah. Muhammad Taqi-uddin Al-Hilali and Dr Muhammad Muhsin Khan memberi komentar ayat Q 7:143 yang membicarakan tentang percakapan Allah dengan Musa. Ayatnya sebagai berikut:

Q 7:143

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Inilah komentar dari kedua ahli Islam yang terkemuka itu:

Kemunculan Allah di gunung merupakan sebagian kecil saja dari diriNya. Kira2 sama besarnya dengan ujung jari kelingking seperti yang diterangkan oleh sang Nabi ketika dia melafalkan ayat ini (Hadis ini dikutip oleh At-Tirmidhi) (Hilali and Khan, 196, p. 225, foot note 1).

Muhammad begitu yakin akan sifat anthropomorfik Allah sehingga dia bahkan membandingkan anggota2 tubuh para berhala bangsa Arab pagan dengan anggota2 tubuh milik Allah. Dengan mengejek berhala² masyarakat Bedouin yang polytheis, Muhammad mengatakan kepada mereka bahwa anggota2 tubuh berhala² mereka tiada gunanya, sedangkan lengan², mata², dan kaki² Allah benar² nyata dan berfungsi. Marilah kita lihat ayat 7:194-196 dari Qur’an:

Q 7:194

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Q 7:195

Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”.

Q 7:196

Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Muhammad tetap menyatakan bahwa Allah itu memang nyata, dan ini berarti Allah memang punya anggota² jasmani. Untuk memperkuat pernyataannya, Muhammad membandingkan mata Dajjal (anti Kristus) dengan mata Allah. Dia berkata bahwa Dajjal bermata satu, tapi Allah tidak bermata satu. Inilah Hadisnya dari Sahih Bukhari:

Dajjal bermata satu tapi Allah tidak ….. (Sahih Bukhari, 4.55.553)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Book 55, Number 553:

Dikisahkan oleh Ibn Umar:
Pada suatu waktu Rasul Allah berdiri diantara orang2, memuji dan memuliakan Allah karena memang Dia berhak dan lalu menyatakan tentang Dajjal katanya, “Aku peringatkan kalian mengenai dia (Dajjal) dan tiada nabi manapun yang tidak memperingatkan negaranya tentang dia. Sudah pasti, Nuh memperingatkan negaranya tentang dia tapi aku akan katakan padamu tentang dia yang mana belum ada seorang nabi pun yang telah mengatakan pada masyarakatnya sebelum aku. Kau harus tahu bahwa dia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu.”

Sahih Muslim menulis bahwa Allah tidak tuli, Dia dapat bicara dan mendengar dan Dia benar² merupakan satu sosok dengan keseluruhan jasmani atau lebih tepatnya, sama seperti manusia. Marilah kita baca hadis ini dari Sahih Muslim:

Allah tidaklah tuli atau tidak hadir; harta karun Surga melafalkan ‘tiada yang seperkasa dan sekuat Allah’ …(Sahih Muslim, 35.6528 )

Hadis Sahih Muslim, Book 035, Number 6528:

Abu Musa melaporkan bahwa dia (dan rekan2nya yang lain) mendaki sebuah bukit kecil bersama Rasul Allah dan ketika semua orang sudah mendaki ke atas, dia mengumumkan (dengan suara keras): “Tiada tuhan selain Allah, Allah adalah yang Terbesar.” Setelah itu Rasul Allah berkata: “Sesungguhnya, kalian tidak memohon kepada Dia Yang tuli atau tidak hadir. Dia berkata: Abu Musa atau Abdullah b. Qais, tidakkah aku harus menunjukkan padamu kata2 (yang membentuk) harta karun Surga? Aku berkata: “Rasul Allah, apakah kata2 itu? Dia menjawab: “Tiada yang seperkasa dan sekuat Allah.”

Allah akan berjabatan tangan. Iya, betul. Allah memang punya tangan untuk bersalaman dengan umatNya yang setia. Ini hadis dari Sunann ibn Majah:

Sunaan ibn Majah, Vol. I Hadith Nnumber 104:

‘Ubayy b. Ka’b melaporkan bahwa Rasul Allah berkata, “Orang pertama yang akan Allah salami (di Hari Penghakiman) adalah ‘Umar dan dia akan jadi orang pertama yang akan disapa Allah (dengan berkata: Assalamu ‘alaika) dan dia akan jadi orang pertama yang memegang tanganNya dan dibimbing ke dalam Surga.

Menurut Al-Zawa’id, isnad hadis ini daif (cacat). Ini terdapat di dalamnya. Dawud b. ‘Ata al?Madani dan ilmuwan2 lainnya sepakat bahwa hadis ini du’f (lemah). Penyampai2 kisah yang lain dapat dipercaya dan jelas. As-Suyuti berkata, “Hafiz ‘Imad ud-Din b. Kathir dalam Jami al-Masanid telah berkata: Hadis ini sangat munkar (tidak sesuai) dan mendekati hadis maudu (karangan belaka).

Jika kau heran tentang isi paragraf kedua hadis di atas, inilah keterangannya. Menurut Ibn Majah, seseorang bernama Dawud b. ‘Ata al-Madani, yang adalah salah satu penyampai² isi hadis ini, bukanlah seorang yang sangat dapat dipercaya. Penyampai² isi hadis ini yang lain dapat dipercaya dan tulisan dalam hadis ini dapat diterima, meskipun lemah. Pendapat yang lain menyatakan bahwa mungkin hadis ini hasil karangan orang belaka.

Intinya adalah: meskipun hadis ini mungkin saja lemah dan kontroversial, tiada alasan kuat untuk menolak hadis ini, atau menganggapnya sebagai palsu. Andaikata pun isinya kontroversial dan merupakan hadis lemah, hal ini bukan berarti bahwa hadis tersebut adalah karangan belaka.

Ini bukti lain dari Qur’an bahwa Allah memang punya mata jasmani untuk melihat apa yang RasulNya sedang lakukan. Malah Allah menyuruh Nuh untuk membangun bahtera langsung di hadapan mataNya. Seelah memeriksa tugas Nuh, Allah menjamin untuk melenyapkan semua pelaku dosa.

Inilah ayat Q 11:36-37

Q 11:36

YUSUFALI: Dan diwahyukan kepada Nuh: “Tiada seorangpun dari kaummu yang akan percaya kecuali mereka yang telah percaya! Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

Q 11:37

YUSUFALI: “Tapi buatlah sebuah Bahtera di bawah mata2 Kami dan petunjuk Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Bersambung ke bagian 1 (b)

diterjemahkan oleh Adadeh


Daftar Kompilasi :

bagian 1bagian 2bagian 3

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: