Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Sex and sexuality in Islam: Part 4 dari 6 bagian

Sex & Seksualitas dalam Islam

By Abul Kasem
diterjemahkan oleh : ali5196 » Mon Jun 26, 2006 6:30 pm

http://www.islamreview.com/articles/sexinislam.shtml

Bagian ke-1 Bagian Ke-2 Bagian ke-3 Bagian ke-4 Bagian ke-5

[Peringatan: Artikel ini mengandung istilah2 yg eksplisit secara seksual dan tidak pantas bagi pembaca yg sensitif atau yg sakit jantung.]


Sex and sexuality in Islam

Part 4 dari 6 bagian

Perkawinan dengan Anak-anak dan SEX dengan ANAK DIBAWAH UMUR

Banyak negara sudah melarang praktek maksiat mengawinkan anak². Tipe perkawinan macam ini umum diantara masyarakat hindu kuno di India. Tetapi dengan reformasi dalamHinduimse oleh kaum aktivis humanis, adat ini tidak lagi diakui, paling tidak, secara hukum.

Bagaimana dengan Islam ? Muslim mengatakan Islam adalah agama PROGRESIF. Betulkah ? Apa ini lagi² kebohongan yg harus ditelan non-muslim sambil manggut² takut leher digorok ?

Faktanya : TIDAK ADA BATAS USIA MINIMUM DALAM ISLAM UTK MENIKAH. JADI TIDAK ADA LARANGAN MENIKAHKAN ANAK², BAHKAN BAYI YG BARU LAHIR.

Yang paling kejam dari praktek pelecehan anak² secara seksual ini adalah bahwa perkawinannya bersifat mengikat secara hukum, secara absolut, jika disetujui orang tua. Ini aturan Sha’riah ttg perkawinan anak²:

Hidayat (ref. 11, h.36) Ijin bagi Perkawinan dengan Anak²

Perkawinan antar anak² tetap mengikat setelah pubertas – Jika perkawinan anak² itu disetujui oleh ayah atau kakek, tidak ada pilihan setelah pubertas bagi mereka; karena keputusan orang tua tidak dapat dicurigai sbg memiliki motif negative karena cinta kasih mereka bagi keturunan mereka tidak diragukan; shg perkawinan antar pihak bersifat mengikat, sama spt perkawinan yg ditetapkan pihak² dewasa.

Pilihan menarik diri setelah pubertas – namun jika pihak berwenang selain orang tua yg memutuskan kontrak tsb, setiap pihak berhak, setelah dewasa, utk memilih apakah perkawinan itu harus diteruskan atau dibatalkan. Muhammad (saw), sendiri menikahi anak berusia enam (atau tujuh) tahun.

Ini dua hadis sahih :
Sahih Muslim Book 008, Number 3311:

‘A’isha melaporkan bahwa Rasulullah (saw) menikahinya saat ia TUJUH tahun, dan ia dibahwa ke rumahnya sbg penganting saat ia berusia SEMBILAN, dan boneka²nya berada bersamanya; dan saat ia (rasulullah) wafat, ia berusia DELAPAN BELAS.

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 236:

Diriwayahkan oleh ayah Hisham:
Khadija wafat 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Medinah. Ia tinggal disana kira-kira dua tahun dan ia menikah dengan ‘Aisha ketika ia gadis berusia 6 thn, dan ia memenuhi perkawinannya saat ia berusia SEMBILAN tahun.

Dan inilah caranya nabi, sang rahmatan lil alamin ber-indehoy dengan pengantin anak²nya.

Sahih Bukhari Volume 1, Book 6, Number 298:

Diriwayahkan ‘Aisha:
Nabi dan saya biasanya bermandi dalam satu pot saat kita Junub*. Selama menses, ia biasanya memerintahkan saya utk mengenakan Izar (baju yg dipakai dibawah pinggang) dan ia suka meraba-raba saya. Saat Itikaf, ia sering membawa miliknya dan mendekati saya dan saya akan mencucinya dan menggunakannya saat saya menses.

*Junub : adalah keadaaan tidak suci, yaitu setelah mengadakan hubungan sex.

Sahih Muslim Book 3, Number 0629:

‘A’isha melaporkan: Saya dan rasulullah (saw) mandi dari bak yang sama dan tangan² kami saling bergantian dimasukkan kedalamnya seakan² kami mengadakan hubungan seksual.

(I and the Messenger took a bath from the same vessel and our hands alternated into it in the state that we had had sexual intercourse. )

Belum jelas juga bagi anda ?
Dalam Sirat Rasul Ibn Ishak/Ibn Hisham (biografer paling otentik), kami membaca cerita dahsyat bahwa Muhamad ingin mengawini seorang bayi perempuan yg masih merangkak. Ini terjadi setelah ia menikahi A’isha.
(Suhayli, ii.79: dalam riwayat Yunus saya menuliskan bahwa rasulullah melihatnya

(Ummu’l-Fadl) ketika ia masih bayi dan merangkak didepan Muhamad dan ia mengatakan, ‘Jika ia besar nanti, san saya masih hidup, saya akan mengawininya.’ Tetapi ia wafat ketika anak it tumbuh dan Sufyan b. al-Aswad b. Abdu’l-Asad al-Makhzumi menikahinya dan ia melahirkan Rizq dan Lubaba….(ref.10, p. 311)

Bahkan Hazrat Umar menikahi Umm Kulthum, adik Bibi A’isha yg berusia EMPAT TAHUN ! Fantastik ! Ini semua contoh orang² yg paling mulia dalam Islam untuk dicontohkan pengikut.

RIZA atau Pengangkatan Anak lewat Penyusuan

Anda tidak tahu bahwa lelaki Muslim (dewasa) bisa menikahi bayi (berusia 2 tahun) DAN sekaligus juga wanita dewasa yg masih memiliki bayi yang masih menyusu ? Apa yg terjadi jika bayi yg dikawinkan tidak memiliki siapa² utk menyusuinya- katakanlah ia anak yatim-kecuali isteri nomor dua yg juga sibuk menyusui anaknya sendiri ?

Jaman sekarang kita menggunakan Susu Nestle. Namun ini bukan cara yg Islami.
(PS: dalambuku Carmen bin Laden (mantan isteri kakak bin Laden): Usama bin Laden tidak membolehkan isterinya menyusui anaknya dengan botol. Sang isteri diharuskan memberi minum pada anaknya dengan SENDOK. Si anak menolakn dan menangis terus kehausan. )

Ini yg Islami :
Hidayat (ref. 11, h.71)

Dua isteri menyusui yang lain—JIKA seorang lelaki menikahi seorang bayi dan seorang dewasa, maka pihak terakhir harus memberi susu kpd pihak pertama, kedua isteri menjadi dilarang bagi suami mereka, karena kalau mereka melanjutkan persatuan dalamperkawinan ini, ini mempertanyakan kepantasan hidup bersama dengan anak angkat dan ibu angkat, yang dilarang, spt hidup bersama dengan ibu dan puteri biologis.—KALAU suami belum memiliki hubungan KARNAL (sex) dengan isteri dewasanya, isterinya itu tidak berhak atas emas kawin apapun karena perpisahan datang dari dirinya:– namun sang bayi memiliki hak atas setengah emas kawinnya, karena bukan ia yg memulai perpisahan. (BAYI MEMULAI PERPISAHAN ???)

———————————————-
Riza antar anak² lelaki dan perempuan. Bagian ini silahkan anda terjemahkan sendiri, karena ini tidak relevan bagi topic pembahasan kami (perkawinan antar bandot dengan anak²):
So far, what I mentioned above relates to an adult man marrying an infant girl. How about an infant boy marrying a grown up girl (nine years and above)? As per Islamic Sharia, there is, of course, no restriction on this practise. The only means by which a child can be prevented from marrying a grown up girl (that is to make him halal to visit her and be with her in privacy) is through a peculiar system in Islam known as RIZA or Rid’a.

The Dictionary of Islam (ref. 6, p.546) defines RIZA thus:
RIZA. A legal term, which means sucking milk from the breast of a woman for a certain time.
The legal definition of RIZA is given in HEDAYA (ref. 11 ) as follows:
RIZA, or fosterage (Ibid, p.67)
Definition of the term—Riza, in its legal sense, means a child suckling milk from the breast of a woman for a certain time, which is termed the period of fosterage.
This is the Islamic name for suckling through fosterage. It is the practice by which a newly born baby is handed over to another woman who is able to suckle the infant. It was (and still is) a practice by the rich Arabs by which they hand over their newly born infants to be suckled by Beduin women. Even Prophet Muhammad (pbuh) was suckled, initially, by Thueiba, a slave woman of his uncle Abu Lahab for a very brief period, and then by his foster mother, Halima.
Here is a hadith proclaiming the restrictions by fosterage:
What is haram by birth is also haram by suckling…30.3.15
Malik’s Muwatta: Book 30, Number 30.3.15:

Yahya related to me from Malik from Abdullah ibn Dinar from Sulayman ibn Yasar and from Urwa ibn az-Zubayr from A’isha umm al-muminin, that the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said, ” What is haram by birth is haram by suckling

————————–
This practice will make the child being suckled to be haram to the foster mother. That is, the child, when he grows up, has unhindered access to his foster mother. It is, as if, the foster mother is the ‘real mother’ of the child. There is no problem with this noble provision, of course. So, where is the trouble? Let us examine the situation up close.

dalam Islam, seorang wanita boleh dikawinkan pada usia kapanpun, bahkan saat ia masih bayi. Ibu angkat adalah wanita, 9 tahun atau lebih, lain dari ibu biologisnya. Bayangkan, seorang bayi laki² berusia 6 bulan disusui ibu angkatnya yg baru melewati usia SEMBILAN tahun. Nanti, kalau anak laki² itu menjadi dewasa atau 18 th, menurut ukuran pubertas bagi laki² menurut Islam, ibu angkatnya hamper berusia 27 thn, usia yg masih muda bagi perkawinan, cinta, sex dan melahirkan anak. Menurut hukum Islam, ibu angkat itu dilarang dinikahi anak angkatnya. Ia bahkan tidak dapat menikahi adik angkatnya.

Here are a few rules on Islamic suckling or fosterage from the ‘Reliance of the Traveller’, the most authentic Sha’ria book (ref. 8, pp. 575-576)

n12.0 BECOMING UNMARRIAGEABLE KIN BY SUCKLING (RIDA’)

n12.1 An infant becomes the “child” of the female who breast-feeds him (A: in respect to being unable to marry her, to the permissibility of looking at her and being alone with her, and in his ablution (wudu) not being nullified by touching her) when:
(a) the milk comes from a female at least nine years old whether it is occasioned by sexual or something else;
(b) and she breast-feeds a child who is less than two full years old;
(c) in at least five separate breast-feedings (O: a restriction that excludes anything less than five; which is of no consequence. Separate breast-feedings means whatever is commonly acknowledged (def: f4.5) to be separate)
n12.2 In such a case:
(1) It is unlawful for the wet nurse to marry the child and its subsequent descendants (O: by familial relation or by suckling) exclusively (O: exclusively meaning that only the child’s descendants become unlawful for her to marry, not the child’s ancestors (N: or brothers)):
(2) She becomes the child’s “mother,” and it is unlawful for the child to marry her, her ancestors (O: by familial relation or by suckling), her descendants (O: who become as if they were brothers and sisters (O: though the child is not forbidden to marry the latter’s children).
In ahadith we read a few interesting stories about RIZA. Here are some samples.

Aisha’s sister Umm Kulthum suckled Salim ibn Abdullah ibn Umar only three times; that is why it was haram for him to visit Aisha; if suckled ten times by Kulthum then he would be halal for her…30.1.7

Malik’s Muwatta: Book 30, Number 30.1.7:

Yahya related to me from Malik from Nafi that Salim ibn Abdullah ibn Umar informed him that A’isha umm al-muminin sent him away while he was being nursed to her sister Umm Kulthum bint Abi Bakr as-Siddiq and said, “Suckle him ten times so that he can come in to see me.”
Salim said, “Umm Kulthum nursed me three times and then fell ill, so that she only nursed me three times. I could not go in to see A’isha because Umm Kulthum did not finish for me the ten times.”

Ten suckle is required for a boy to be halal to visit a woman…30.1.8
Malik’s Muwatta :Book 30, Number 30.1.8:

Yahya related to me from Malik from Nafi that Safiyya bint Abi Ubayd told him that Hafsa, umm al-muminin, sent Asim ibn Abdullah ibn Sad to her sister Fatima bint Umar ibn al-Khattab for her to suckle him ten times so that he could come in to see her. She did it, so he used to come in to see her.

(Please note that ten suckling was later abrogated by five suckles)

Malik’s Muwatta: Book 30, Number 30.3.17:

Yahya related to me from Malik from Abdullah ibn Abi Bakr ibn Hazm from Amra bint Abd ar-Rahman that A’isha, the wife of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, said, “Amongst what was sent down of the Qur’an was ‘ten known sucklings make haram’ – then it was abrogated by ‘five known sucklings’. When the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, died, it was what is now recited of the Qur’an.”

Yahya said that Malik said, “One does not act on this.”

Needless to say, that in an Islamic paradise, RIZA will be a perfectly rightful method to solve the problem of milk supply for the babies. Now, imagine what will happen to the marriage market if most women give up their infants to their foster mothers for a limited period of time! The marriage market will come to a halt, no joke. Most potential suitors will be forbidden for each other due to RIZA or suckling by fosterage, isn’t it?

Of course, I cited an extreme scenario of Islamic fosterage. Modern world is not at all dependent on RIZA or suckling by fosterage. We have formula milk for those infants whose mothers are unable to breast-feed them for one reason or other. However, I could not find any Sha’ria rule where bottle-feeding can be used as an alternative to RIZA. See, in the seventh century medieval period, there was no baby formula milk, nor was there any concept of bottle-feeding as an alternative to suckling. Therefore, those Bedouin Arabs resorted to RIZA to solve the mother’s milk supply problem.

Yang interesan disini adalah bahwa wanita JUGA DAPAT MENYUSUSI LELAKI DEWASA !! TOBAT ! TOBAT ! Mana mungkin ?

Ini buktinya :
Sahih Muslim: Book 008, Number 3426:

Ibn Abu Mulaika melaporkan bahwa al-Qasim b. Muhammad b. Abu Bakr meriwayahkan kpdnya bahwa ‘A’isha melaporkan bahwa :
Sahla bint Suhail b. ‘Amr datang kepada rasulullah (saw) dan mengatakan: Rasulullah, Salim (budak milik Abu Hudhaifa yg dibebaskan) hidup dengan kami dalamrumah kami, dan ia sudah mencapai pubertas dan memiliki pengetahuan (ttg masalah sex) yg biasanya dimiliki lelaki. Nabi mengatakan: SUSUI DIA SHG IA MENJADI HARAM (dalamperkawinan) BAGIMU.

Sex dengan budak juga merupakan hal yg sangat normal dalamIslam utk memuaskan nafsu birahi lelaki Muslim. Bgm dengan isterinya ? Sayangnya, perempuan tidak pernah kebagian orgy sex. Tapi seorang perempuan BISA menghalangi suaminya utk sex dengan budak. Bagaimana caranya ? dengan Riza.

Ini dia :
Seorang isteri cemburu tidak suka dengan orgy suami2nya. Ia kemudian pergi ke budak perempuan budak yg disukai suaminya dan MENYUSUI WANITA ITU dengan payudaranya. INI MEMBUAT BUDAK PEREMPUAN ITU HARAM bagi suaminya. Ide bagus bukan ? Sayangnya isteri itu malah ketiban duren ! Ia menerima hukuman.
Hazrat Umar meminta agar sang isteri dipecut/dipukuli, sehingga melindungi hak suaminya untuk melampiaskan orgynya dengan budak² perempuannya. Anda heran ? Ini ceritanya dari Muwatta milik Malik, pendiri aliran yurisprudensi

Maliki.
PS: terjemahkan sendiri !
Malik’s Muwatta: Book 30, Number 30.2.13:

Yahya related to me from Malik that Abdullah ibn Dinar said, “A man came to Abdullah ibn Umar when I was with him at the place where judgments were given and asked him about the suckling of an older person. Abdullah ibn Umar replied, ‘A man came to Umar ibn al-Khattab and said, ‘I have a slave-girl and I used to have intercourse with her. My wife went to her and suckled her. When I went to the girl, my wife told me to watch out, because she had suckled her!’ Umar told him to beat his wife and to go to his slave-girl because kinship by suckling was only by the suckling of the young.’ “

Bagaimana meluaskan konsep RIZA ini kepada suami dan isteri ?

Astagfirullah! Astagfirullah! Naujubillah! Tidak percaya ? Baca yg berikut ini:

Malik’s Muwatta:Book 30, Number 30.2.14:

Yahya mengatakan kepada saya (apa yg didengarnya) dari Malik dari Yahya ibn Said, bahwa seorang lelaki bernama Abu Musa al-Ashari, “Saya MEMINUM SUSU DARI BUAH DADA ISTERI SAYA DAN SUSUNYA MASUK PERUT SAYA.”
Abu Musa mengatakan, “Saya hanya bisa mengatakan bahwa isterimu menjadi HARAM bagimu.”
Abdullah ibn Masud mengatakan, “Nasehat macam apa yg kau berikan lelaki itu ? “
Abu Musa mengatakan, “Nah, nasehat apa yg akan kau berikan?”
Abdullah ibn Masud mengatakan, “Hanya ada persaudaraan lewat penyususan dalam dua tahun pertama.” —

Siapakah Abdullah ibn Masud? Ia adalah salah satu diantara ke 10 sahabat terdekat  Muhamad yang dijanjikan surga oleh Muhamad. Setiap kata yg diucapkan ibn Masud dianggap sbg otentik total. Malah, posisinya bisa dikatakan nomor dua setelah Muhammad. Jadi, apa yg dikatakan ibn Masud dalam hadis diatas ?

Para pembaca, inilah dampak pernyataannya itu; YA ! Suami bisa meminum susu isteri dan tetap sebagai partner sexnya. Aturan Islam yg memang aneh !
Alasan mengapa susu isteri bisa diminum isterinya dijelaskan berikut ini oleh Malik. Kalau orang dewasa minum susu isterinya, ini dianggap makanan dan bukan susu untuk anak angkat ! Absurd bukan ?

Malik’s Muwatta: Book 30, Number 30.1.11:

Yahya mengatakan kdp saya dari Malik bahwa Yahya ibn Said mengatakan bahwa ia mendengarkan Said ibn al-Musayyab berkata, “Riza hanya saat anak masih dalambuaian (masih bayi). Kalau tidak, ini tidak mengakibatkan hubungan darah.”

Yahya mengatakan kepada saya dari Malik dari Ibn Shihab bahwa ia mengatakan : “Riza, betapapun sedikit atau banyak menjadikan haram. Persaudaraan lewat Riza membuat lelaki muhrim.”

Yahya mengatakan bahwa ia mendengar Malik berkata, “Riza, betapapun kecil atau banyak kalau dilakukan dalam² tahun pertama, menjadikan haram. Apa yg terjadi setelah 2 tahun pertama itu, tidak membuat apapun haram. Riza seperti menjadi makanan.”

DAN, hadis yang paling TOP, adalah yang berikut ini;
Mohamad tidak suka menarik penis sebelum air mani di-ejakulasi; ia juga tidak suka senggama dengan wanita yg menyusui bayi

Sunaan Abu Dawud: Book 34, Number 4210:

Diriwayahkan Abdullah ibn Mas’ud:
Rasulullah (saw) tidak menyukai 10 hal: Zat pewarna bewarna kuning (khaluq), rambut putih yg dicat, trailing the lower garment (??), cincin emas, wanita yg tidak menutupi tubuh sesuai dengan aturan kepantasan, dadu yg dilempar, santet kecuali dengan   Mu’awwidhatan, pemakaian jimat, PENARIKAN PENIS SEBELUM KELUARNYA AIR MANI, dan dalamhal wanita yg isterinya atau bukan isterinya: bersenggama dengan wanita yg sedang dalamkeadaan menyusui bayi; tetapi ia tidak melarang (semua itu).

Read More

5 responses to “Sex and sexuality in Islam: Part 4 dari 6 bagian

  1. Moka April 6, 2013 pukul 2:29 pm

    Hai org kafir sdar dikti donk no… Neraka dah nunggu km untk mencincang km org xg kafir, mugkin dlm agamaxa memag di surh mengolok2 org.. Biasax kan semua agama mengajarkan hal yg positive tp kok aneh. Magkanya setan jg d sembh supaya g ngawur kayak org yg kecanduan narkoba ja

  2. Moka April 6, 2013 pukul 2:22 pm

    Memag kalau setan it kerjaanx gagu org buktix no.. Nyata kan masa klu memag org beragama gak spt setan yg slalu gagu agama org lain mangkax kalau patung jg d sembah masak ada tuhan d buat manusia. Cam kan it

    • Anonim Mei 3, 2013 pukul 1:54 pm

      Fikirlah sebelum berkata jgn lidah jadi babi.ramai yang melayu kata islam.hati kafir.hati islam susah dicari.suatu hari allah akan bagi bala pada umatnya yang hati kafir.

  3. Pingback: Sex and sexuality in Islam: Part 3 dari 6 bagian « Sejarah Islam

  4. Pingback: Sex and sexuality in Islam: Part 1 dari 6 bagian « Sejarah Islam

Tinggalkan Pesan Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: