Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Prinsip Al-Taqqiya

Sumber : faithfreedom.frihost.net

Prinsip Al-Taqqiya

Kata “Taqqiya”, berarti “menghindari” atau menjaga dari. Prinsip ini mengajarkan bahwa Muslim diijinkan utk berbohong utk menghindari luka2, kerugian terhdp dirinya atau sesama Muslim. Prinsip ini memberi kebebasan bagi Muslim utk berbohong dalam keadaan yg mereka anggap mengancam nyawa. Mereka dapat menolak agama mereka, selama mereka dalam hati tetap beriman.

Al-Taqqiya didasarkan pada ayat ini:

“Janganlah orang beriman mengambil sbg teman dan pembantu para kafir ketimbang sesama orang
beriman: jika kalian melakukannya, Allah tidak akan memberikanmu bantuan: kecuali dlm hal
pencegahan, agar kau dapat melindungi dirimu dari mereka. Tapi Allah memperingatimu agar hanya
mengingatNya; karena tujuan utama adalah bagi Allah.” Surah 3: 28

Jadi, Muslim boleh berpura-pura baik dengan Kafir dan berpura-pura sebagai kafir utk menghindari kerugian. Berdasarkan konsep taqqiya, adalah SAH bagi Muslim untuk berlaku bertentangan dengan agama mereka, misalnya:

  1.   Meminum anggur, melupakan sholat dan puasa selama Ramadan.
  2.   Menyatakan ketidakpercayaan kpd Allah.
  3.   Bersujud kpd dewa selain Allah.
  4.   Mengucapkan sumpah setia.

sumber :
Dampak Al-Taqqiya

Jadi hati-hati kalau Muslim nampak jujur dan baik hati. Kenyataannya hati mereka memiliki agenda bertentangan.

Dalam hal politik internasional, pertanyaannya adalah: Bisakah negara-negara Muslim dipercaya utk mematuhi perjanjian2 yg mereka sepakati dgn negara2 non-Muslim? Praktek menunjukkan bahwa saat Muslim masih lemah, mereka menyepakati apapun. Begitu mereka kuat, mereka akan membatalkan segala perjanjian/sumpah yg pernah mereka lakukan.

Aktivis Muslim sudah sering terbukti melakukan taktik penipuan dlm menyebarkan agama Islam dgn memoles arti Islam dan membuatnya nampak menarik bagi pendatang baru. Mereka dgn sengaja menghindar dari ayat2 dan ajaran yang biadab.

Contoh penipuan ini adalah, aktivis Muslim hanya mengutip ayat-ayat Mekah (ayat damai, ketika Muhamad masih lemah) yang memang berbunyi damai dan mengajarkan toleransi. Tetapi mereka tahu penuh bahwa ayat2 ini sudah DI-ABROGASI/DIBATALKAN oleh ayat kemudian setelah ia hijrah dan berkuasa di Medinah. Ayat-ayat ini penuh dgn kecurigaan dan kekejaman terhadap non-Muslim.

Kesimpulan, perlu dimengerti bahwa dalam menghadapi Muslim jangan percaya mentah2 apa yg dikatakannya. Masalahnya adalah bgm kita mengetahui apa yg disimpannya dalam hatinya.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: