Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Jihad BERTAHAN = tidak islami !!

Jihad BERTAHAN = tidak islami !!

Cover buku "Membongkar Kedok Al-Qaradhaw"

  • Judul Asli : Raf’ul -Litsaam An Mukhaalafatil-Qaradhawii li Sarii`atil Islaam
  • Penulis : Ahmad bin Muhammad bin Masnyur Al-Udaini
  • Penerbit : Daarul-Atsaar,Yaman cet I 4121/2000
  • Edisi Indonesia : Membongkar Kedok Al Qaradhawi : Bukti2 Penyimpangan Yusuf Al-Qaradhawi dari Syariat Islam.
  • Penerjemah : Abu Muqhbil Ahmad Yuswaji,Lc, Ibnu Rokhy, Lc
  • Penerbit : Masyarakat Belajar Depok
  • Telp : 021-77205166

BUKU ISLAMI tsb dibahas di Situs islam : http://www.Salafy.or.id

Hlm 82-88 : BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT Yusuf al-Qaradhawi “BAHWA JIHAD HANYA UNTUK BERTAHAN SAJA”

Saudaraku yang mulia; Allah Swt mensyariatkan jihad fisabilillah untuk mempertahankan agama dan syariatnya, untuk menjaga kemuliaan kaum muslimin, untuk menyerang orang-orang kafir di sarang mereka, dan untuk mengajak mereka masuk Islam.

Allah Swt berfirman:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taubah [91: 5)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka,
sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk[/list].(At-Taubah [9]: 29).

Berkenaan dengan surat At-Taubah ayat 5, Ibnu Katsir berkata dalam kitab Tafsirnya, juz II hal. 336:
Lafal “haitsu wajadtumuuhum” (dimana saja kamu jumpai mereka), maksudnya adalah bumi mana saja secara umum, hanya dikhususkan (dikecualikan) dengan haramnya memerangi mereka di tanah suci dengan firman-Nya:
“dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir”.(Al-Baqarah [21: 191)

Makna “khudzuuhum” (dan tangkaplah mereka) yakni, tahanlah mereka, jika kalian menghendaki membunuhnya, maka bunuhlah. Dan jika kalian menghendakinya maka penjarakanlah.

Sedangkan kalimat “waqshuruuhum waq`uduu lahum kulla marshad” (kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian), maknanya adalah, janganlah kalian merasa cukup hanya sekadar dengan adanya kalian menghadapi mereka bahkan kepunglah dengan gigih di markas-markas mereka dan benteng-benteng mereka serta mengintai di seluruh jalan-jalan dan jaringan mereka hingga mampu menjepit posisi mereka dan bisa memaksa mereka untuk memilih dibunuh atau masuk Islam.

Dalam hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan “Tiada Dzat yang berhak
diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”, menegakkan shalat dan memberikan
zakat. Jika mereka telah menunaikan yang demikian maka darah dan harta mereka terjaga dariku,
kecuali dengan hak Islam. Dan hisab (penghitungan amal)nya kembali kepada Allah.

Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang- orang yang bertakwa.” At-Taubah [9]: 123)

Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Maksud ayat “perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu” adalah, Allah berfirman, mulailah dengan memerangi yang terdekat rumahnya dengan kalian, lalu yang jauh dan seterusnya yang lebih jauh lagi. Dan orang-orang yang dituju dalam konteks ayat tersebut pada saat itu adalah orang-orang Romawi, karena mereka adalah penduduk Syam, sedangkan Syam merupakan daerah terdekat dari Madinah dibandingkan dengan Irak. Adapun setelah Allah menaklukkan bagi orang-orang beriman negeri Mekkah, maka wajib bagi setiap penduduk negeri untuk memerangi musuh yang berada disekitarnya terlebih dahulu, bukannya malah yang jauh dahulu, kecuali jika memang ada yang menuntut untuk ditolong maka wajib untuk menolong dan membantunya karena or-ang-orang yang beriman adalah satu tangan terhadap orang-orang beriman lainnya (Tafsir Ath-Thabari, juz XIV: 574-575). Dalam kitab Zaadul Masiir Ibnu Al-Jauzi menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Allah telah memerintahkan untuk memerangi orangorang kafir secara umum, dan memulai dengan yang paling dekat lalu yang dekat. (2aadulMasm, III: 518). Dahulu Rasulullah Saw mengirimkan pasukannya untuk memerangi orang orang kafir, seperti dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahiha`in dari Abdullah bin Umar , ia berkata: “Rasulullah mengirimkan pasukan ke Najed, saya pun ikut bersama pasukan tersebut lalu kami mendapatkan unta dan kambing. Bagian ghanimah kita pada saat itu sampai dua belas ribu unta, kemudian Rasulullah masih memberikan lagi masing-masing satu unta di luar ghanimah.” Imam Muslim rahimahuliahu ta’ala menyebutkan dalam kitab Shahihnya: Yahya bin Yahya At-Tamimi menceritakan kepada kami bahwa Sulaim bin Akhdhar juga telah menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun, ia berkata: “Saya menulis surat kepada Nafi’ untuk bertanya tentang doa sebelum berperang. Dia menjawab dengan menulis surat kepadaku bahwa pada awal Islam Rasulullah pernah menyerang Bani Mushthaliq pagi hari karena mereka telah berkhianat, sedangkan binatang ternak dibiarkan minum air, lalu dibunuhlah orang orang yang berhak untuk dibunuh dan ditawanlah orangorang yang mestinya ditawan, pada hari itu Rasulullah menang.” (Kitab AUihaad was-Siyar, dengan Syarah Imam Nawawi, II: 279). Imam Nawawi rahimahullah membuat satu bab khusus yang diberi judul “Bab Bolehnya Menyerang pada Pagi Buta dengan Diam-diam Tanpa Peringatan Terlebih DaHulu, Terhadap Orang-orang Kafir yang Dakwah Islam Telah Sampai kepada Mereka.” Kemudian beliau melanjutkan lagi: “Hadits ini juga menunjukkan dibolehkannya menyerang pada pagi buta dengan diam-diam terhadap orang-orang kafir yang dakwah Is¬lam telah sampai kepada mereka tanpa memberi tahu terlebih dulu.” Dalam masalah “memberikan peringatan kepada orang-orang kafir sebelum menyerang mereka,” Imam Nawawi menerangkan bahwa dalam hal ini ada tiga pendapat. Pendapat pertama mengatakan wajib secara mutlak; yang kedua mengatakan tidak wajib secara mutlak; dan yang Ketiga mengatakan wajib bagi mereka jika dakwah Islam belum sampai kepada mereka, namun jika dakwah Islam telah sampai kepada mereka maka hukumnya sunnah. Dari ketiga pendapat tersebut, Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat pertama dan kedua tersebut lemah. Lantas beliau mengomentari pendapat yang ketiga ini dengan mengatakan:

“Ini adalah pendapat yang benar, sesuai dengan pendapatnya Nafi’ sahaya Ibnu Umar, Hasan Al-Basri, Ats-Tsauri, Al-Laits, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Ini adalah pendapatnya jumhur ulama. Ibnul Mundzir mengatakan bahwa ini adalah pendapatnya kebanyakan ahlul ilmi yang diperkuat dengan hadits-hadits yang shahih. (Kitab Aljihaad was-Siyar, dengan Syarah Imam Nawawi, II: 280).

Ibnul Amir Ash-Shan’ani rahimahullah berkata dalam kitab Subulus-Salaam Syarh Bulughul Maram pada saat menerangkan hadits ini juga: “Hadits ini adalah dalil yang membolehkan penyerangan tanpa adanya peringatan dan seruan kepada Islam terlebih dahulu sebagai haknya orang-orang kafir yang dakwah telah sampai kepada mereka, ini adalah pendapat yang paling shahih.” (Juz IV, hal. 1338). Imam Muslim juga meriwayatkan dari hadits Buraidah dari ayahnya, ia berkata:

Bila Rasulullah mengangkat seorang pemimpin atas suatu pasukan maka beliau mewasiatkan kepadanya secara khusus untuk bertakwa kepada Allah dan juga kepada kaum muslimin yang bersamanya untuk berbuat baik, kemudian beliau bersabda: Berperanglah dengan nama Allah, di jalan Allah. maka perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah,

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah, pengarang kitab Fathul Majiid berkata:

Firman Allah “Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah” ayat ini umum mencakup semua orang-orang kafir baik yang memerangi maupun yang tidak. Tapi Allah mengkhususkan orang-orang yang mempunyai perjanjian, para pendeta, wanita dan anak-anak yang belum baligh (FathulMajiid, 602).

Al-Muzni menyebutkan dari Imam Syafi’i tentang keadaan orang-orang kafir, katanya:

“Kepada orang-orang yang sudah sampai padanya dakwah Islam, maka tidak apa-apa menyerang mereka dengan tiba-tiba dan diam-diam tanpa adanya dakwah lagi.” (TamKid, karya Ibnu AbdilBarr, XI: 49-50).

Ibnul Qayyim, setelah menyebutkan penaklukan Mekkah beliau menjelaskan beberapa faedah yang bisa dipetik dari perang tersebut, diantaranya adalah bolehnya menyerang orang-orang kafir pada malam hari dan menyerang daerah mereka dengan diam-diam jika memang dakwah telah sampai kepada mereka. Dahulu pasukan Rasulullah selalu menyerang orang-orang kafir pada malam dan pagi hari dengan diam-diam atas izin Rasulullah setelah sampai kepada mereka dakwah Islam (Zaadul Ma’aad, III: 423). Rasulullah dahulu menyerang orang-orang kafir sampai ke pusat pernukirnan mereka. Beliau memulai dengan memerangi orang-orang musyrik di jazirah Arab, kemudian dilanjutkan dengan penaklukan Mekkah, Thaif, Yaman, Yamamah, Hajr, Khaibar, Hadramaut dan berbagai negeri Arab lainnya. Kemudian orang rang dari berbagai kabilah Arab masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Setelah it, beliau mulai memerangi Ahli Kitab dan mempersiapkan pasukan untuk menyerang Rum, karena daerah mereka terdekat dari jazirah Arab. Mereka adalah orang yang paling berhak mendapat dakwah Islam karena mereka Ahli Kitab. Ketika Rasulullah sampai ke Tabuk, beliau pulang kembali ke negerinya, karena manusia dalam keadaan susah karena sedang dilanda paceklik. Rasulullah meninggal sebelum terlaksana kembali serangan ke Rum. Maka bangkitlah sahabat dan khalifahnya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq menggantikan posisinya. Sesaat setelah wafatnya Rasulullah agama Islam mengalami guncangan yang hampir meruntuhkannya, lalu Allah mengokohkannya kembali dengan perantara Abu Bakar. Beliau memantapkan dasar-dasar Islam dan pilar-pilarnya. Beliau juga mengembalikan orang-orang yang murtad ke pangkuan Islam, memungut zakat dari yang menolaknya serta menjelaskan kebenaran kepada yang belum mengetahuinya. Beliau pun meneruskan misi Rasulullah me dengan mempersiapkan pasukan Islam untuk menyerang Rum, negeri para penyembah salib dan ke Persia, negeri penyembah api. Allah pun berkenan menaklukkan negeri-negeri tersebut dengan keberkahannya dan menundukkan Kisra beserta kekaisaran dan orang’ orang yang patuh kepada keduanya, lalu menginfakkan hartanya untuk kepentingan agama Islam sebagaimana telah dikabarkan oleh Rasulullah. Perkara ini semakin sempurna pada masa kekuasaan Al-Faruq Abu Hafsh Umar bin Khaththab ,Allah melumat orang-orang kafir dan mulhid dengan perantaranya. Dengan izin Allah, Umar mampu meluluhlantakkan kekuatan para thaghut dan munafik yang menguasai kerajaan di Barat dan Timur. Beliau pun memboyong gudang kekayaan dari segala penjuru wilayah, lalu membagikannya sesuai aturan syar’i dan etika yang diridhai. Sepeninggal Umar bin Khaththab, datanglah Amirul Mukminin Khalifah Utsman bin ‘Affan. Beliau membangun Islam dengan kepemimpinan yang menakjubkan, sehingga agama Islam meluas ke segala penjuru wilayah yang dihuni manusia. Dan bersinarlah cahaya Islam sampai ke negeri Barat dan Timur. Kalimat Allah tetap terjunjung tinggi dan agama-Nya yang lurus pun semakin terang- benderang tersebar ke wilayah musuh-musuh Allah. Dan peperangan ini senantiasa berpindah dari orang-orang kafir yang fajir kepada yang selanjutnya lagi (Tafsiir Ibnu Katsir, II: 401-402). Semua ini adalah sebagai wujud pelaksanaan firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orangorang kafir yang di sekitar kamu itu.”(At-Taubah[9]:123). Setelah itu, datanglah masa para khalifah yang mereka juga menempuh apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang sebelumnya dengan memerangi negeri-negeri kafir. Mereka mempersiapkan pasukan dan mengirimkan ekspedisi ke wilayah Barat dan Timur. Mereka mampu menyeberangi berbagai benua, lautan dan samudera sampai ke pegunungan Baranis di Perancis, menembus Turkistan dan Azerbaijan, sehingga panji dakwah Islam pun terangkat tinggi di muka bumi ini. Periode berikutnya, datanglah Muhammad Al-Fatih. Beliau mampu menundukkan berbagai negeri yang tadinya kafir, lalu naiklah bendera Islam beserta hukum dan ajarannya di sana. Saat itu kaum muslimin hidup di bawah naungan panji jihad yang sarat akan harga diri dan kemulian serta kecukupan. Ketika mereka mulai lalai dan meninggalkan jihad fisabilillah, maka mereka pun dihinggapi sifat pengecut dan keterpurukan. Di akhir zaman ini ada orang-orang yang menyerukan bahwa jihad tidak untuk menyerang orang kafir, tapi hanya terbatas untuk bertahan saja. Contoh yang nyata adalah Yusuf Al-Qaradhawi dan orang-orang yang menjadi panutannya, seperti Muhammad Al-Ghazali dan lainnya. Penulis akhiri pembahasan ini dengan mengutip perkataan Al ‘Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Dengan ini saja cukup hujjah bagi kita. Beliau telah menulis sebuah makalah dengan judul “Laisal-Jihaadu Lid-Difaa’ Faqath” (Jihad bukan hanya untuk bertahan saja). Sebagian perkataan beliau:

Adapun pendapat bahwa perang hanya untuk bertahan saja, saya tidak mengetahui seorangpun dari ulama terdahulu yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan didalam Islam setelah turunnya ayat saif hanya untuk bertahan saja dan bahwa orang kafir tidak boleh diserang.

Jihad Apakah yang Terbesar? Jihad Perang!

Sumber:FFIndonesia

Cover buku Jihad : Mati Syahid

  • Judul : Hukum islam seputar Jihad dan mati syahid, Menyikapi Aksi Terorisme dan Perang fisik
  • Karya : Syamsuddin ramadlan al-Nawiy
  • Penerbit : Fadilah Print Surabaya
  • Telp : 031-60244576
  • Email : syamsuddin.Ramadhan@gmail.com
  • Tebal : 276 Halaman


BAB IX : MENGKRITISI HADITS JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU
[Semua ayat quran dalam b.arabnya tidak saya sertakan,untuk menghemat tempat,tetapi di buku aslinya ada b.arabnya baik ayat quran dan hadits ] Meskipun keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal perbuatan lain telah ditetapkan berdasarkan nash-nash syara’, akan tetapi ada sebagian kaum Muslim mema-hami, bahwa jihad melawan hawa nafsu (jihad al-nafs) merupakan jihad besar {jihad al-akbar} yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan jihad fi sabilillah dengan makna perang fisik melawan orang-orang kafir. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada sebuah sebuah hadits yang berbunyi: “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para shahabat bertanya, “Apa jihad besar itu? Nabi saw menjawab, “jihaad al-qalbi” (jihad hati). Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs”.178(178 KanZ al-‘Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/ 265) Berdasarkan hadits ini, mereka berhujjah bahwa jihad memerangi orang kafir adalah jihad kecil (jihad al-ashghar), sedangkan jihad memerangi hawa nafsu adalah jihad besar (jihad al-akbar). Walhasil, jihad memerangi hawa nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan jihad memerangi orang-orang kafir. Sesungguhnya, kesimpulan semacam ini adalah kesimpulan salah, akibat kesalahan dalam memahami nash-nash syariat. Adapun bantahan terhadap pendapat mereka adalah sebagai berikut; Pertama, status hadits jihaad al-nafs lemah, baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnaad hadits tersebut lemah (dla’if). Al-Hafidz al-‘Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin ‘Ablah.179 (179 Lihat Imam al-Dzahabiy, Syiar A’laam al-Nubalaa’, juz 6/ 324-325.

Di dalam kitab ini dituturkan, bahwasanya Mohammad bin Ziyad al-Maqdisiy pernah mendengar Ibrahim bin ‘Ablah berkata kepada orang-orang yang baru pulang dari peperangan (jihad), “Kalian baru saja kembali dari jihad kecil ffihaadal-ashghar), lantas, apayang kamu lakukan dalam jihad al-qalbiy.” Al-Hafidz al-Suyuthiy juga menyatakan, bahwa sanad hadits ini lemah (dla’if). Kedua, seandainya keabsahan hadits ini tidak perlu kita perbincangkan, maka lafadz jihad al-akbar yang tercantum di dalam hadits itu wajib dipahami dalam konteks literal umum; yakni perang hati atau jiwa melawan hawa nafsu dan syahwat serta menahan jiwa untuk selalu taat kepada Allah swt. Sebab, jihad menurut pengertian bahasa bisa bermakna perang maupun bukan perang. Sedangkan jihad kecil (jihaad al-ashghar) dalam hadits itu mesti dimaknai dalam konteks syar’iy dan ‘urfy, yakni berperang melawan orang-orang kafir di jalan Allah.180 (180 Dr. Mohammad Khair Haekal, al-Jihaad n>a al-Qitaal, juz 1/46) Suatu lafadz, jika memiliki makna bahasa, syar’iy, dan ‘urfiy, harus dipahami pada konteks syar’iynya terlebih dahulu. Baru kemudian dipahami pada konteks ‘urfiy (konvensi umum), dan lughawiy (literal). Demikian juga kata jihaad. Lafadz ini mesti dipahami pada konteks syar’iynya terlebih dahulu, yakni berperang melawan orang kafir. Jika makna ini ingin dialihkan ke makna-makna yang lain, selain makna tersebut, harus ada qarinah (indika-tor) yang menunjukkannya. Lafadz jihad (jihad al-akbar) yang termaktub di dalam hadits jihaad al-nafs harus dibawa kepada pengertian literal secara umum.Hanya saja, dalam konteks syar’iy dan konvensi umum, lafadz jihad harus dipahami perang melawan orang kafir (perang fisik), dan tidak boleh diartikan dengan perang melawan hawa nafsu dan syahwat. Ketiga, dari sisi matan hadits (redaksi), redaksi hadits jihaad al-nafs di atas bertentangan nash-nash yang menuturkan keutamaan jihaad fi sabilillah di atas amal-amal kebaikan yang lain. Oleh karena itu, redaksi (matan) hadits jihad al-nafs wajib ditolak karena bertentangan dengan nash-nash lain yang menuturkan keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal-amal perbuatan yang lain. Bahkan, para ulama yang memiliki kredibilitas ilmu dan iman telah menetapkan jihaad fi sabilillah sebagai amal yang paling utama secara mutlak. Adapun bukti yang menunjukkan bahwa jihad fi sabilillah adalah amal yang paling utama adalah sebagai berikut: a. Al-Quran telah menempatkan jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah) sebagai amal yang paling utama dibandingkan amal-amal yang lain. Allah swt berfirman di dalam al-Quran al-Karim;

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khaivatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nja dan (dart) berjihad di jalan-Nja, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” [al-Taubah:24]

Di ayat yang lain, Allah swt berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orangyang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orangyang beriman kepada Allah dan hart kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama disisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang splim.” [al-Taubah:19]

Allah swt juga melebihkan orang yang berangkat ke medan perang di atas orang yang tidak berangkat perang. Al-Quran telah menyatakan hal ini:

“Tidaklah sama antara mu’minyang duduk (yang tidak turut berperang)jang tidak mempunyai u^ur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta mereka danjhvanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanja at as orang-orangyang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahalayang baik (surga) dan Allah melebihkan orang- orang jang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar;(yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al- Nisaa’: 95-96]

Al-Quran juga menjelaskan balasan Allah swt atas semua waktu dan usaha yang dihabiskan oleh seorang mujahid ketika melaksanakan kewajiban jihad, serta kesibukan dirinya dengan aktivitas jihad. Hal ini telah dinyatakan dengan sangat jelas di dalam al-Quran;

“Tidaklah sepatutnya bagipenduduk Madinah dan orang- orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparanpadajalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkahyang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [al-Taubah: 120-121]

b. Al-Quran juga memuji mujahid di jalan Allah, serta perbuatan yang mereka lakukan. Dalam hal ini Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran;

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [9.111] “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari a^abyangpedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasu/-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta danjiwamu. Itulahyang lebih baik bagi kamujika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggalyang baik di dalam surga ^Adn. Itulah keberuntungan yang besar. ” [al-Shaff: 10-12]

c. Ada celaan dari Allah swt bagi orang yang meninggalkan jihad di jalan Allah swt. Allah swt berfirman;

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada- Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” [al-Taubah: 39]

d. Di dalam hadits Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas keutamaan jihad di atas amal kebaikan yang lain. Di dalam hadits banyak disebutkan keutamaan jihad di atas amal kebaikan yang lain. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Berjaga-jaga pada saat berperang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya”. [HR. Imam Bukhari] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Turmudziy, dan lain-lain. “Sesungguhnya, kedudukan kalian di dalam jihad di jalan Allah, lebih baik daripada sholat 60 tahun lamanya.” [HR. Imam Ahmad]. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudziy disebutkan, bahwa jihad lebih baik daripada sholat di dalam rumah selama 70 tahun. Masih banyak lagi riwayat yang menuturkan keutamaan dan keagungan jihad di atas amal kebaikan yang lain. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa jihad melawan orang-orang kafir merupakan amal yang paling utama secara mutlak. Oleh karena itu, hadits yang menyatakan bahwa jihad al-nafs di atas jihad fi sabilillah (perang dijalan Allah) harus ditolak untuk menyelamatkan khabar dari pertentangan.

JIHAD dan PERANG yang SESUAI SYARIAT ISLAM

LIHAT JUGA: Faithfreedom Indonesia

  • Judul asli : Al Jihad wal Qital fi as Siyasah asy Syar’iyyah

Lihat juga : Tidak Ada Perjanjian Damai dengan Musuh [friendster] Perjanjian damai dengan negara kafir harus memperhatikan syarat-syarat ini;

Pertama, perjanjian damai harus selalu berorientasi kepada kepentingan jihad, penyebaran dakwah Islam, serta perlindungan terhadap eksistensi Daulah Islamiyyah dan kaum Muslim.
Perjanjian damai dengan negara kafir tidak boleh dibuat selain untuk kepentingan jihad dan penyebaran Islam. Sebab, perjanjian damai dengan negara kufur akan menghentikan aktivitas
jihad; padahal, Khilafah Islamiyyah dilarang menghentikan jihad, kecuali jika perdamaian itu dijadikan media untuk melaksanakan jihad.

Cover buku “Jihad dan perang menurut Islam”

Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: