Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Sejarah Singkat Allah

by Adadeh » Fri May 12, 2006 11:04 am

Oleh : Abul Kasem
28 April, 2006
[Peringatan: Isi esai ini bisa menyinggung perasaan pembaca tertentu.]

Sejarah Singkat Allah

Jika kita mempelajari Allah secara serius, hal utama yang perlu diketahui adalah Allah ternyata punya latar belakang sejarah yang sangat menarik. Di Arabia kuno, sejak jaman Alkitab, ribuan tahun sebelum Muhammad lahri, Allah sudah disembah oleh para masyarakat gurun pasiru Bedouin di Arabia. Masyarakat Arab kuno menghubungkan Allah dengan bulan yang bersinar terang sepanjang tahun di malam hari di atas gurun pasir yang sangat luas dan liar. Tidaklah sukar untuk mengerti alasan mengapa Allah dianggap sebagai dewa bulan.

Masyarakat Arab Bedouin hidup dengan cara nomadis (pindah dari satu tempat ke tempat lain). Karena hidup di tanah gurun pasir yang gersang dan tiada sungai untuk irigasi dan bertani, maka masyarakat Arab Bedouin adalah masyarakat penggembala dan peternak. Mereka merupakan suku2 liar yang kelaparan (Rodinson, 2002, p. 17). Hidup mereka bergantung kepada rumput dan menjaga ternak, sambil terus-menerus melakukan penyerangan dan perampokan pada suku2 lain atau pada kafilah yang lewat. Rodinson menulis bahwa sifat suka berperang dan tidak mengenal hukum gaya Arab ini merupakan pilar masyarakat Bedouin (Rodinson, 2002, p. 14). Masyarakat Bedouin di masa itu hidup dari lingkaran penjarahan dan balas dendam yang tak kunjung habis. Perjalanan di siang hari hampir tidak mungkin dilakukan karena panasnya terik matahari yang tak tertahankan. Kebanyakan perjalanan dilakukan di malam hari, di bawah terang sinar bulan dan bintang2 yang gemerlap. Mereka mengagumi indahnya langit malam dengan bulan sebagai pusat keindahan. Bagi mereka, munculnya bulan yang anggun merupakan munculnya raja langit malam. Inilah alasan mengapa masyarakat Arab Bedouin miskin ini sangat berhubungan dekat dengan bulan dan waktu peredarannya. Mereka hidup diatur oleh bulan.

Bagi mereka, bulan merupakan pendukung kehidupan. Mereka mengatur penanggalan primitif mereka pada alur gerakan bulan. Agama2 dan upacara2 peradaban mereka diatur sesuai dengan posisi dan alur waktu bulan. Tidaklah heran jika masyarakat Arab menganggap bulan sebagai sosok illahi yang paling tinggi — Allah Taalaa – Tuhan yang Maha Kuasa. Profesor Sejarah Arab yakni almarhum Phillip K. Hitti, menulis bahwa menyembah bulan adalah bagian penting dalam masyarakat penggembala dan menyembah matahari adalah bagian penting dalam masyarakat petani (Hitti, 2002, p. 97). Bagi orang2 Bedouin Arab, bulan merupakan suatu yang sangat suci yang harus disembah dan dihubungkan dengan hal yang paling mulia. Bahkan setelah Muhammad memaksakan Islam dengan ancaman pedang, masyarakat Bedouin Muslim baru tetap saja melanjutkan ibadah kepercayaan kuno mereka dengan meyakini bahwa hidup mereka diatur oleh bulan.

Sampai hari ini sekalipun, kita tetap dapat melihat kekaguman Bedouin Arab dengan bulan tampak jelas dalam Islam. Islam berhubungan erat dengan bulan. Semua upacara ibadahnya berdasarkan penampakan bulan atau pada kalender bulan. Betapapun kerasnya Islam menyatakan dirinya menolak penyembahan berhala atau Paganisme, Islam tetap tidak dapat menghilangkan hubungannya yang lampau dengan Paganisme dan penyembahan berhala. Yang sebenarnya adalah: Islam masih melambangkan bulan, terutama logonya yang berbentuk bulan sabit. Lihatlah pucuk di atas segala mesjid, dan akan tampak bentuk logo bulan yang mencolok, kadang2 dengan bentuk sebuah bintang sekalian. Nanti akan kuterangkan alasan historis mengapa bintang juga merupakan lambang Islam. Untuk menjelaskan lebih jauh, lihatlah lambang Palang Merah di negara2 surga Islam. Lambangnya adalah simbol Islam berbentuk bulan dan sama persis dengan lambang dewa bulan Pagan Arab. Bahkan bendera2 negara2 Islam juga menunjukkan bentuk bulan dan bintang atau bulan saja. Lihatlah bendera2 nasional beberapa negara2 Islam seperti Algeria, Pakistan, Azerbaijan, Kazakhstan (menunjukkan terang bulan), Malaysia, Mauritania, Brunei, Turkey etc.

Image

Sebagai penyembahan berhala dan batu, ingatlah bahwa obyek tersuci dalam Islam adalah batu Ka’abah.

Batu (atau batu2 – diperkirakan terdiri dari 3 buah batu, seperti yang dilaporkan banyak ahli sejarah) ini adalah batu yang sama yang disembah Arab Pagan. Bahkan Muhammad mencium dan memeluknya di dadanya dengan penuh khidmat. Kalifah Umar pun melakukan hal yang sama dan kaum Muslim juga seharusnya melakukan hal yang sama setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Sekarang kita lihat secara ringkas sejarah tentang Allah (lihatlah patung Allah yang terbuat dari batu dan dipahat kaum Pagan. Di dadanya tertera lambang bulan sabit).

Image

Para ahli sejarah percaya bahwa Allah Arab ini berasal dari Syria. Masyarakat Aramean tinggal di Syria sekitar 1.300 SM. Orang2 Syria ini dahulu menyembah dengan khusuk beberapa dewa, dan yang utama dari dewa2 itu adalah dewa badai Hadad, dewa langit Alaha dan dewi Athargatis. Masyarakat Syria mungkin membuat rupa Allah ini berdasarkan rupa dewa Sumer dari kota kuno Babylon. Menurut banyak ahli sejarah, Alaha adalah nama Syria untuk Allah (Walker, 2004, hal. 20). Bagi mereka, Allah adalah Tuhan berkelamin pria, Tuhan yang paling berkuasa, yang punya tiga anak perempuan yakni Allat, Uzza dan Manat. Orang2 Nabatean yang adalah keturunan dari anak laki sulung Ismail di sekitar Semenanjung Sinai, pertamakali memperkenalkan Allah ke orang2 Arab melalui Syria (Walker, 2004, hal. 22). Orang2 Nabatean mungkin menyembah Allah dalam nama yang berbeda pula, seperti Elh dan Alh. Di samping Allah, orang2 Nabatean juga memperkenalkan dewa Hubal dari Syria, yang merupakan dewa pria besar. Patung Hubal ini nantinya diletakkan di Ka’abah. Hubal adalah patung berhala terbesar dari semua berhala di dalam dan sekitar Ka’abah. Patung raksasa Hubal berbentuk seorang pria yang tangan kanannya putus. Masyarakat Quraish menerima berhala Hubal ini dari Khuzaymah ibn Mudrikah, orang Mekah yang membelinya dari Syria. Setelah itu, masyarakat Quraish membuatkan lengan emas bagi patung itu. Patung Hubal berdiri di depan Ka’abah. Mayarakat Pagan Quraish menganggap Ka’abah adalah tempat untuk Hubal saja (Rodinson, 2002, p. 54). Mereka menggunakan panah2 ramalan/nujum untuk menentukan keabsahan bayi2 yang baru lahir (Al-Kalbi, 1952, hal. 23). Banyak ahli sejarah yang percaya bahwa Hubal adalah jelmaan fisik Allah di Ka’abah. Di masa mudanya, Muhammad membantu persiapan upacara yang dilakukan untuk menempatkan Hubal di Ka’abah (Walker, 2004, p. 42).

Penulis biografi Muhammad bernama Martin Lings, yang tadinya Katolik dan lalu memeluk Islam, setuju bahwa Hubal berasal dari Syria (Lings, 1983, p. 5, 11). Sejarawan Arab percaya bahwa Hubal yang perkasa ini sebenarnya adalah variasi dewa kuno Allah (Walker, 2004, p. 31). Kata Hubal berasal dari kata Semitik Hu yang berarti ‘He’ (kata diri bagi pria – Inggris) atau ‘He is’ (Dia adalah – Inggris) dengan kata akhiran El, yang jelas merupakan nama lain dari Allah. Nama Hubal biasa diteriakkan oleh para Quraish sebagai teriakan perang. Lama kelamaan, konsep tentang Allah sebagai Tuhan berkembang ke seluruh Arabia. Sebuah tulisan kuno yang ditemukan di Arabia selatan mengandung nama Allah. Allah adalah Hallah dalam tulisan kuno Safa. Ini adalah lima abad sebelum Islam ada. Masyarakat Arab terbiasa menyebutkan nama Allah dalam saat terancam. Allah yang sangat berkuasa ini perlahan-lahan menjadi sesembahan utama Quraish. Bahkan Qur’an pun membenarkan hal ini di ayat2 6:109, 6:136, 10:22, 31:22, dan 31:29 (Hitti, 2002, hal. 100–101). Nama2 lain dari Allah adalah Ilu bagi orang2 Babylon dan Assyria, El bagi orang Kanaan, Elohim bagi orang Yahudi, dan Ilah bagi orang Arab tengah (Walker, 2004, p. 420).

Satu lagi nama lain dari Allah adalah Wadd – dewa bulan yang berdiri di kepala Pantheon Minea. (Hitti, 2002, pp. 97–98 ). Versi lain Allah terdapat di Hadramawt di Arabia Selatan. Di sana Allah dikenal sebagai Sin, dewa bulan.

Kota kuno Arabia selatan yang terkenal bernama Saba di mana Ratu Saba atau Ratu Bilqis berkuasa. Orang2 Sabaean juga menyembah Allah yang dikenal dengan nama Almaqah (Hitti, 2002, p. 60). Dalam Qur’an kita temukan referensi Ratu Saba di Sura 27 (Sura an-Naml). Dalam Alkitab kota ini disebut sebagai Sheba dan Ratu Bilqies disebut sebagai Ratu Sheba. Agama Sabean berdasarkan sistem astronomi gugus planet dan kepercayaan menyembah bulan termasuk bagian darinya. Masyarakat Sabean juga memuja Allah sebagai Dewa Bulan. Akan tetapi, tidak seperti Arab Pagan, mereka tidak punya gambar rupa Allah dan menganggap Allah sebagai dewa tanpa bentuk yang punya kekuasaan tertinggi. Tentang Allah ini, Benjamin Walker menulis sebagai berikut:

Makhluk ilahir yang misterius dan tanpa bentuk, Allah tidak diwakilkan dengan gambar apapun dan dia pun tidak disembah seperti layaknya dewa2 dan dewi2 yang lebih kecil lainnya. Untuk membedakan Allah dengan dewa2 lainnya, dia diberi julukan Allah Taala, ‘Tuhan yang Maha Tinggi’ (Walker, 2004, p. 42).

Masyarakat lain yang juga menyembah Allah adalah masyarakat Nabatean. Selain Allah dan tuhan2/dewa2 lainnya, mereka juga juga menyembah dua dewa lainnya (mungkin lebih rendah posisinya dibandingkan Allah), yang bernama ar-Rahman dan ar-Rahim. Baik ar-Rahman maupun ar-Rahim dipuja bersama sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan. Herannya Qur’an juga menyebut kedua nama dewa Pagan ini, meskipun menganggap kedua nama ini milik Allah. Sura pertama Qur’an (Sura Fatiha) menyebutkan kedua nama itu. Juga Sura 19 (Sura Maryam) didominasi oleh nama2 kedua dewa tersebut.

Menurut Profesor Hitti, masyarakat Nabatean Paga di Afrika Utara pertamakali mendengar tentang ar-Rahman dan ar-Rahim mungkin dari Syria selatan. Setelah itu kedua nama dewa Pagan ini ditemukan di kuil2 Arabia Selatan (Hitti, 2002, p. 105). Saingan Muhammad yang bernama Maslama (atau Musaylima) berkhotbah dalam nama ar-Rahman, yang adalah Allah bagi orang Arabia selatan (Rodinson, 2002, p. 67, 119). Ini mungkin alasannya mengapa Muhammad kemudian tidak lagi menyebut ar-Rahman dan memilih Allahnya masyarakat Pagan Mekah sebagai Tuhan satu2nya.

Menurut sejarawan2 Arab, Petra (di Arabia utara, dekat Syria, yang adalah tempat tinggal masyarakat Nabatean), juga punya sejenis Ka’abah yang disebut Dushara (Dusares) yang adalah batu hitam berbentuk empat persegi panjang. (Hitti, 2002, p. 72).

Sejarah singkat Allah ini tentunya tidak lengkap tanpa Jehovah (Yahwa), Allahnya Musa (baca penjelasan gambar Jehovah di uang logam Jerman). Islam menganggap Musa menyembah Allah yang sama dengan Muslim. Jika Qur’an itu benar, maka logikanya adalah: Yehovah = Allah.

Berdasarkan catatan2 sejarah, Jehovah adalah Allah gurun pasir yang sederhana dan serius. Tempat tinggalnya adalah sebuah tenda (Hitti, 2002, p. 40). Meskipun kaum Yahudi mengakui Jehovah sebagai Tuhan mereka, sebagai Allahnya kaum Yahudi, mereka tidak berani menyebut namanya. Jehovah juga berarti “Yang Perkasa dan Yang Menggentarkan”, dan inilah alasannya mengapa kaum Yahudi tidak berani menyebut nama Jehovah (Hughes, 1994, p. 226). Mereka memilih memanggil nama Tuhannya dengan nama panggilan Rabb – Lord (bhs. Inggris) sebagai panggilan yang lebih lunak daripada Jehovah (Ibid, p. 141). Jadi dalam Qur’an, jika Jehovah adalah Allah, maka mestinya Dia adalah Allah yang menggentarkan milik orang Yahudi. Mengenai Rabb-nya kaum Yahudi, Muhammad sendiri punya versinya tersendiri: Allahnya juga dikenal sebagai ar-Rab – Lord (bhs. Inggris), sang Pemelihara, Yang Termulia: Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu (‘Allah is my Lord and your Lord (3:51)’); ‘Tuhan Kami (Rabb) adalah Tuhan (Rabb) surga dan bumi (18:14); dan ini menempati posisi Jehovah Yahudi (Hughes, 1994, p. 531).

Sesembahan bangsa Arab Bedouin yang terutama adalah Allah dewa bulan, dan anak2 perempuanNya yakni Allat, Uzza, dan Manat. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, bulan merupakan tema relijius utama dalam masyarakat peternak/penggembala. Bangsa Arab Bedouin yang buta huruf, kelaparan dan tak berpendidikan menghubungkan bulan dengan hal kekuatan, vitalitas, kekuasaan dan semua yang berhubungan dengan sifat maskulin. Dengan itu, bulan (dan Allah) adalah Tuhan maskulin. Hal ini tidak diragunkan lagi (keterangan lebih lanjut menyusul). Lalu bagaimana dengan matahari? Apakah matahari punya posisi yang sama sebagai tuhan dalam masyarakat Pagan? Jawabnya: ya. Masyarakat Bedouin juga menyembah dewa matahari. Namanya adalah Baal. Menarik untuk diketahui bahwa masyarakat Syria dan Phoenisian juga menyembah Baal – sang Dewa Matahari. Diduga dewa Baal disembah di masa Nabi Elisha (Hughes, 1004, p. 35). Masyarakat Mesir juga menganggap Baal sebagai dewanya. Lihatlah sosok Baal di gambar berikut.

Image

Baal dirupakan sebagai seorang pria dengan jenggot meruncing dan helm kuncup. Dia adalah Dewa perang, langit, badai, kesuburan, dan panen besar. Dalam Qur’an, Baal disebut ketika Nabi Elias memperingatkan masyarakatnya karena menyembah Baal (dewa matahari Allah) dan bukannya dewa bulan Allah, yang dianggap terbaik dari segala pencipta (37:125). Versi lain menyatakan bahwa yang benar adalah dewi matahari dan bukan dewa dan namanya adalah Shams (Rodinson, 2002, p. 23). Anehnya, ada sura dalam Qur’an yang bernama Shams atau Matahari (Sura 91, yang diturunkan di Mekah). Muhammad jelas lebih memilih Shams daripada Baal yang adalah dewa matahari Mesir. Jika ada Sura bernama Shams, maka tentunya tidak heran jika ada pula Suran bernama Qamar atau bulan (Sura 54, yang diturunkan di Mekah).

Mengapa Muhammad tidak memilih Baal sebagai dewa matahari Allah? Jawabannya sederhana. Matahari merupakan sumber enerji utama bagi masyarakat pertanian. Karena itu, wajar jika masyarakat pertanian menganggap Allah dewa matahari sebagai dewa mereka yang utama. Inilah sebabnya bangsa Mesir yang petani menyembah Baal. Muhammad berasal dari masyarakat peternak/penggembala, yang tidak tertarik pada masalah pertanian (hal ini nanti akan dibahas lebih jauh) – jadi buat apa menyembah Baal? Karena itu pula Baal versi dewa matahari Allah tidak begitu disukai oleh Muhammad dari Arabia. Sudah jelas bahwa masyarakat Pagan Mekah sangat kenal dengan dewa bulan Allah. Mereka biasa menyajikan persembahan makanan kepada Allah dan membagi-bagikannya kepada dewa2 berhala lainnya, seperti Ammanas di negara Kahulan (6.136) (ibn Ishaq, 2001, p. 37). Ini adalah kebiasaan sistem agama yang dilakukan Arab Pagan selama turun-temurun. Lalu Muhammad mulai berkhotbah dan mengajak Quraish Mekah untuk menyembah Allah saja (Allah monotheisme). Muhammad punya versi tersendiri akan Allah, yang membuat masyarakat Pagan sangat bingung dan tidak senang. Muhammad mulai mengecam mereka karena membagi persembahan makanan kepada dewa2 lain selain Allah, tepatnya Allah versi Muhammad. Tapi masyarakat Mekah Quraish bertoleransi. Mereka membiarkan Muhammad berkhotbah sekehendak hati. Masalah muncul ketika Muhammad ingin menghancurkan sumber mata pencaharian utama bangsa Quraish yakni naik haji dan pariwisata yang berhubungan dengan ziarah ke Ka’abah tempat para dewa dan dewi. Kaum Pagan Mekah bahkan punya gambar2 Abraham, Yesus, dan Maria – untuk menarik hati wisatawan Kristen dan Yahudi. Menurut sejarawan Arab terkemuka Phillip Hitti, di jaman Muhammad, Mekah memiliki penduduk Kristen Abyssinia (Hitti, 2002, p. 106).

Karena itu ziarah-pariwisata Mekah merupakan sumber nafkah yang penting (Ibid, p. 64). Awalnya, masyarakat Pagan Mekah tidak mau mengganggu daya tarik pariwisata daerah mereka dengan bertengkar melawan pengikut2 Muhammad. Meskipun Muhammad mengejek dan mengritik, mereka mendiamkannya saja. Bahkan penulis sejarah Islam terkemuka al-Tabari juga mengaku bahwa Muhammad tidak ditindas oleh kaum Pagan Mekah. Menurut Tabari, para pengikut Muhammad kebanyakan adalah anak2 muda, beberapa adalah putra dan adik dari pedagang2 ulung di Mekah. Muhamad tidak mengalami penindasan fisik apapun, meskipun terkadang dibuat jengkel. Paman Muhammad yang bernama Abu Talib merupakan orang yang dihormati di Mekah dan karena perlindungannya, Muhammad terhindar dari penyerangan pribadi (Tabari, 1988, p. 6.43).

Sikap Muhammad bisa mengurangi pendapatan para pedagang Mekah. Para pedagang ini juga merasa Muhammad mungkin mengancam kedudukan politis mereka yang berpengaruh di Mekah. Kaum Quraish tidak sangat memusuhi Muhammad sampai dia menyinggung dewa2 mereka, terutama pada Allat yang merupakan salah satu anak perempuan Allah. Hal ini mempengaruhi bisnis dengan pedagang2 Taif (Ibid, pp. 6.42, 43).

Anak2 Perempuan Allah

Kita telah baca bahwa dewa Bulan Allah merupakan dewa maskulin. Apakah Allah punya istri atau pasangan wanita? Pertanyaan ini akan membuat Muslim tulen marah berat. Tapi bukti2 sejarah, terutama bukti epigrafi, terlalu jelas untuk bisa ditolak. Dari tulisan2 kuno peninggalan budaya Sumeria (Babylon), tampak nyata bahwa Allah memang punya pasangan wanita (mungkin adalah istrinya) dan namanya adalah Lilith. Kaum Pagan percaya bahwa Allat adalah anak perempuan hasil hubungan Allah dan Lilith.

Allat digambarkan dalam epigraf Syria sebagai sosok yang mirip ibunya, Lilith, dengan buah dada dan vulva yang besar. Di buku Phillip Hitti yang berjudul History of the Arabs ditunjukkan gambar Allat di atas sebuah uang logam perunggu Nabatean (Hitti, 2002, p. 86). Wujud Allat ini mirip dengan Dewi Pengetahuan Hindu bernama Saraswati.

Image

Dewi Saraswati (Dewi Pengetahuan – Hindu)

Ada kemungkinan pula bahwa dua anak perempuan Allah yang lain yakni Uzza dan Manat juga dihasilkan melalui hubungan dengan Lilith, atau mungkin dengan gundik2 Allah. Dewi2 ini disinggung dalam Qur’an sebagai anak2 perempuan Allah (ayat2 Setan, 53:19-20). Ketika Muhammad sangat kecewa dengan kegagalan misinya merekrut banyak pengikut, dia mencoba berdamai dengan kaum Quraish Pagan. Dia memuji ketiga anak perempuan Allah dan ingin mendapat anugrah dari mereka. Akan tetapi Muhammad dengan cepat menyadari kesalahannya dan mengatakan bahwa semua nabi kadangkala dapat inspirasi dari Setan. Lalu dia pun membatalkan ayat2 15:19-23 dari Qur’an. Marilah kita baca ayat2 di Qur’an:

Q 15:19

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

Q 15:20

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.

Q 15:21

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

Q 15:22

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

Q 15:23

Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.

Ayat2 di atas tampaknya tiada hubungannya dengan Allat, Uzza atau Manat. Mengapa ayat2 ini lalu disebut ayat2 setan? Jawabannya: ayat2 ini adalah ayat2 terakhir yang dimasukkan Muhammad ke dalam Qur’an setelah Allah menegurnya karena berada di bawah pengaruh Setan. Muhammad mentaati perintah Allah. Dia mengganti ayat2 asli dengan ayat2 baru di atas. Jadi seperti apakah ayat2 aslinya?

Menurut William Montgomery Watt, salah satu penulis biografi Muhammad dan sejarah Islam yang paling terkemuka, ayat2 asli Q 15:19-23 berbunyi seperti ini:

(Watt, 1999, p.21; juga lihat ibn Ishaq, 2001, pp. 165?166):

Sudahkah kau mempertimbangkan Allat dan al-‘Uzza
Dan Manat, yang ketiga, yang lainnya?
Merekalah yang dimuliakan angsa2,
Doa mereka diharapkan;
Keserupaan mereka tidak dilupakan.

Hisham al-Kalbi, pengarang Kitab al-Asnam (The Book of Idols), menulis tentang ketiga anak2 perempuan Allah:

Allat: dia berdiam di al-Taif (kota yang tak jauh dari Mekah). Dia lebih baru daripada Manah. Dia berbentuk batu kotak. ‘Attab ibn Malik dari Thaqif adalah penjaganya. Mereka membangun sebuah rumah baginya. Masyarakat Quraish dan semua Arab biasa menyembahnya dan menamai anak2 mereka dengan namanya. Dia dahulu terletak di sebelah kiri mesjid yang saat ini berada di Taif. Ayat Q 53:19 menyinggung tentang dirinya. Atas perintah Muhammad, Mughirah ibn Shu’bab menghancurkan patung Allat dan membakar rumahnya sampai habis.

Ibn-Hajar menyumpah demi Allah sambil berkata, “Demi Allat dan ‘Uzza dan mereka semua yang percaya padanya, dan demi Allah yang lebih besar daripada mereka berdua” (ibn al–Kalbi, 1952, p. 15).

Uzza: Uzza ini lebih baru daripada Allat atau Manah. Masyarakat Arab menamai anak2 mereka dengan namanya.

Zilim ibn As’ad memperkenalkan al–Uzza. Uzza terletak di sebuah bukit di Nakhlat yang disebut Hurad, yang terletak di sebelah kanan jalan dari Mekah ke al-Irak, di atas Dhat-Irq. Zilim membangun sebuah rumah bagi Uzza dan menyebut bangunan itu Buss. Penyembahnya menerima pesan2 illahi di sana. Anak2 mereka dinamakan berdasarkan namanya, misalnya Abd-al-Uzza. Dialah dewi terbesar dalam masyarakat Quraish. Mereka biasa mengambil hatinya dengan mempersembahkan korban. Muhammad pun telah mempersembahkan korban domba putih bagi al-Uzza. Masyarakat Quraish dahulu mengelilingi Ka’abah dengan mengucapkan:

Demi Allat dan al-Uzza,
Dan Manah, berhala ketiga
Sungguh benar mereka adalah wanita2 yang paling terpuji
Yang anugerahnya diharapkan.

Ayat2 ini dibatalkan dan diganti dengan ayat2 53:19–20 dan 17:75–76.

Al-Uzza punya tempat untuk melakukan upacara persembahan yang disebut sebagai al-Ghabghab. Masyarakat Arab biasa mempersembahkan sapi di sana. Setelah persembahan, mereka biasa membagi-bagikan daging sapi diantara para jemaat yang hadir dalam upacara. Masyarakat Quraish memujanya di atas segala berhala yang lain. (ibn al–Kalbi, 1952, p. 17).

Setelah menonton tayangan film dokumenter di TV tentang reruntuhan Petra Arabia yang terletak di sebelah Barat Daya Saudi Arabia, aku menduga bahwa dewi Mekah Uzza barangkali mirip dengan Kali, sang dewi penghancur dari kepercayaan Hindu.

Image
Dewi Kali (Dewi Penghancur – Hindu)

Manah (pengucapan lainnya adalah Manat): Dewi yang tertua. Masyarakat Arab menamakan anak2 mereka dengan namanya. Dia berada di Qudayd, diantara Medina dan Mekah. Masyarakat Arab biasa mempersembahkan korban baginya – terutama suku Arab Aws dan Khazraj dan juga penduduk Medina dan Mekah. Di akhir ibadah naik haji, ketika hendak pulang ke tempat asal, orang2 akan berhenti di tempat Manah, menggunduli kepala mereka dan diam di sana untuk sementara. Ibadah naik haji tidak lengkap jika mereka belum mengunjungi Manah.

Manah disebut dalam Q 53:20. Dia adalah dewi masyarakat Hudhayl dan Khuza’ah. Atas perintah Muhammad, Ali menghancurkannya, mengambil segala hartanya dan membawanya kepada Muhammad. Yang paling berharga dari harta itu adalah dua buah pedang yang tadinya dipersembahkan kepada Manah oleh Raja Ghassan yang bernama al-Harith ibn Abi-Shamir al-Ghaassan. Pedang2 ini bernama Mikhdam dan Rasub. Muhammad memberikan kedua pedang ini kepada Ali. Adapun versi lain kisah ini menyebutkan bahwa Ali menemukan kedua pedang ini di kuil al-Fals, tempat berhala dewa Tayyi (ibn al-Kalbi, 1952, pp. 13–14).

Berikut adalah beberapa komentar tambahan tentang ketiga anak perempuan Allah: Allat, Uzza dan Manat. Allat adalah Dewi Perang, Uzza adalah Dewi Kurban, dan Manat adalah Dewi Takdir atau Nasib (Walker, 2004, p. 45). Allat berhubungan dengan bulan, Uzza dengan Planet Venus dan Manat dengan bintang Sirius (Ibid, p. 46).

Informasi di atas menjelaskan mengapa simbol Islam adalah bulan sabit dan bintang. Sudah jelas bahwa unsur Paganisme dalam Islam masih ada, terutama jika kita melihat lambang2 ini: Bulan Sabit adalah lambang bagi Allah dan bintang (Venus) adalah lambang bagi anakNya yakni Uzza. Anak perempuan ketiga Allah yakni Manat, dilambangkan dengan bintang Sirius. Bahkan Qur’an pun berkata bahwa Allah adalah Tuhan Alpha Sirius. Ini ayatnya tentang bintang Alpha Sirius (Manat). Tentunya para ahli Islam punya interpretasi yang berbeda akan simbol Islam:

Image

Apalagi Islam seharusnya menghindari simbol apapun. Para ahli Islam menganggap bahwa simbol bintang mewakili sembahyang lima waktu dan simbol bulan melambangkan bulan baru yang berarti perkembangan Islam. Aku mencari ayat Qur’an dan Ahadis yang mendukung arti simbol bulan sabit dan bintang. Mari kita baca apa yang Qur’an katakan:

Q 53:49

dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra

(Bintang Alpha Sirius merupakan bintang terterang yang dapat dilihat dari bumi).

Q 53:49

YUSUFALI: That He is the Lord of Sirius (the Mighty Star);

PICKTHAL: And that He it is Who is the Lord of Sirius;

SHAKIR: And that He is the Lord of the Sirius;

Di catatan kaki ayat ini, Abdullah Yusuf Ali menulis:

Aforisme ke 10 melambangkan kehebatan fenomena alam, cemerlangnya bintang Sirius, yang merupakan benda yang menonjol di langit, di awal tahun matahari, dari bulan Januari sampai April. Sirius adalah bintang terterang di langit dan cahayanya yang kebiruan mempesoan dan menggentarkan pikiran2 masyarakat Pagan. Masyarakat Arab Pagan menyembahnya sebagai dewa. Tapi Allah adalah Tuhan, Sang Pencipta dan Sang Pemelihara, merupakan unsur yang paling utama dari penciptaan dan hanya Dia yang layak disembah (Ali, 1983, p. 1450, foot note 5119).

Abdullah Yususf Ali yang berpengetahuan mungkin ingin menghindari kenyataan yang memalukan. Tiada keterangan dari sejarah Arab yang mengatakan bahwa orang2 Mekah takut akan bintang Sirius. Mereka selalu menganggap Sirius sebagai seorang Dewi, sama seperti mereka menganggap bulan sebagai Dewa Allah. Muhammad sendirilah yang ingin memutar balik kepercayaan yang mereka imani sejak lama.

Di ayat Q 53:49, Allah jelas mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan Sirius, yang menurut epigraf Sumeria, tak lain adalah Manat, salah satu dari anak perempuan Allah. Dewi2 ayat2 Setan terletak di Taif, Nakhla dan al-Mushallal, yang sangat dekat dengan Mekah (Tabari, 1988, p. 6.42).

Allat, disebut oleh Herodotus sebagai Aphrodite Urania, adalah ketua Dewi. Ini berarti Allat adalah versi Arab dewi Yunani Aphrodite Urania (Hitti, 2002, p. 72). Al-Uzza pun dianggap sama dengan Dewi Yunani Aphrodite (Ibid, .p. 79).

Al-Uzza merupakan Dewi yang serupa dengan Dewi Yunani Aphrodite. Anak laki al-Harith dipersembahkan sebagai korban bagi al-Uzza. Sepuluh tahun kemudian, al-Hartih balas dendam dan membunuh musuhnya yang bernama Lakhmid di sebuah pertempuran di daerah Qinnasrin. Perang ini dikenal sebagai “Hari Halimah” dalam tradisi Arabia. Halimah adalah anak perempuan Al-Harith yang sebelum perang, dengan tangannya sendiri membubuhi parfum kepada 100 pejuang Ghassanid yang siap mati dan membalutkan kain linen di atas baju perang mereka (pasukan bunuh diri?)

Catatan: kata dengan huruf italic merupakan komentar pribadiku.

Al-Lat tinggal di Taif. Muhammad mempersembahkan korban bagi al-Uzza. Al-Uzza merupakan Dewi Venus, sang bintang fajar. Tempat tinggalnya terdiri dari tiga pohon. Persembahan dengan korban manusia menjadi ciri khas umatnya. Al-Rahman (Sang Penyayang) atau RHM adalah nama dewa di tulisan kuno Sabean sebelum jaman Islam. Tulisan kuno Arabia selatan yang bernama Shirk menunjukkan penyembahan terhadap Satu Makhluk Illahi Perkasa dengan dewa dewi yang lebih kecil yang berhubungan dengannya. (Ibid, p. 99).

Manah adalah Dewi Nasib. Dia tinggal di batu hitam di Qusayd di jalan antara Mekah dan Yathrib (nama lama kota Medina). Sampai sekarang pun masyarakat Arab percaya 125 kekuatannya. Hubal merupakan Dewa utama di Ka’abah dalam bentuk manusia. Hubal diimport dari Mesopotamia (Ibid, p. 100).

Apakah Allah punya anak laki? Tentu saja, orang2 Kristen percaya akan hal itu. Kita tahu betul bahwa Islam beranggapan Allah tidak pernah punya anak laki. Benarkah itu? Mari kita baca ayat2 Qur’an ini.

Q 21:91

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya (organ seks), lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.

Maryam adalah anak Imran. Dia menjaga kesucian seksualnya dan masih perawan sebelum hamil melalui Allah. Allah meniupkan rohNya ke dalam tubuh Maryam.

Q 66:12

dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta’at.

Ayat2 ini berhubungan dengan kelahiran Yesus oleh Perawan Maria. Wakil Allah dalam bentuk manusia (Malaikat Penghulu, mungkin Gabriel), bertemu Maria ketika dia hidup sendiri di sebuah kuil. Wakil Allah ini memberitahu Maria bahwa dia membawa Roh (dengan kata lain Benih Allah) untuk menghamilinya. Lalu orang ini (Gabriel) meniupkan ke dalam tubuh Maria agar Benih Allah (Roh) masuk ke dalam uterusnya dan membuatnya hamil. Interpretasi ini sungguh sukar untuk dipercaya.

Mari kita baca tulisan ilmuwan Qur’an yang paling terkemuka: ibn Kathir. Ibn Kathir berkata tentang kehamilan seperti ini (artificial insemination?).

Dalam tafsir ayat 21:91, ibn Kathir menulis:

Isa and Maryam Muslim Sejati

Di sini Allah menyinggung kisah Maryam dan putranya ‘Isa, tak lama setelah mengutarakan tentang Zakariyya dan putranya Yahya, semoga damai menyertai mereka semua. Dia mengutarakan kisah Zakariyya terlebih dahulu, lalu diikuti kisah tentang Maryam karena keduanya berhubungan satu sama lain. Yang pertama adalah tentang seorang anak yang lahir dari orang yang sudah sangat tua, dari seorang wanita tua yang mandul dan tidak pernah hamil sebelumnya. Lalu Allah mengutarakan kisah Maryam yang bahkan lebih ajaib lagi karena ini adalah kisah tentang anak yang lahir dari seorang wanita tanpa berhubungan dengan seorang pria. Kisah2 ini juga ditulis di Surah Al `Imran dan di Surah Maryam. Di sini Allah menyampaikan kisah Zakariyya dan lalu diikuti kisah Maryam, inilah yang dikatakanNya:

[وَالَّتِى أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا]

(Dan dia yang menjaga kehormatannya,) berarti, Maryam (damai menyertainya). Ini sama seperti di Ayat Surah At-Tahrim:

[وَمَرْيَمَ ابْنَةَ عِمْرَانَ الَّتِى أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا]

(Dan Maryam, anak perempuan `Imran yang menjaga kehormatannya. Dan Kami meniupkan ke dalam [bajunya] Roh Kami)

[66:12].

[وَجَعَلْنَـهَا وَابْنَهَآ ءَايَةً لِّلْعَـلَمِينَ]

(dan Kami membuatnya dan putranya sebagai tanda bagi negara2.) berarti, bukti bahwa Allah mampu melakukan semua hal dan Dia menciptakan apapun yang Dia inginkan. Sesungguhnya, perintahNya, jika Dia bermaksud sesuatu, yang perlu dikatakanNya hanyalah, “Jadilah” – dan lalu hal itu terjadi! Ini sama seperti Ayat:

[وَلِنَجْعَلَهُ ءَايَةً لِّلْنَّاسِ]

(Dan (Kami ingin) menunjuknya sebagai tanda bagi umat manusia) [19:21]

[إِنَّ هَـذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَاْ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ – وَتَقَطَّعُواْ أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَجِعُونَ – فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّـلِحَـتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلاَ كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَـتِبُونَ

Tafsir di atas berarti bahwa Malaikat (Gabriel) menaruh benih (Roh) Allah di dalam rahim Maryam. Ini mungkin sukar dipercaya tapi mari kita baca tafsir ibn Kathir atas ayat 66:12.

(dan Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya (bagian seksualnya)) berarti, yang melindungi dan menyucikan kehormatannya, dengan menjadi suci dan bermoral,

[فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا]

(maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami) berarti, melalui seorang malaikat Jibril. Allah mengirim malaikat Jibril kepada Maryam, dan dia datang padanya dalam bentuk seorang pria. Allah memerintahkannya untuk meniupkan dari celah bajunya dan tiupan ini masuk ke dalam rahimnya melalui vaginanya; inilah cara Isa dibentuk. Karena itulah Allah berkata,

[فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَـتِ رَبَّهَا وَكُتُبِهِ]

(maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya,) berarti Firman dan hukumNya.

[وَكَانَتْ مِنَ الْقَـنِتِينَ]

Bahkan ibn Kathir mengakui bahwa Yesus membawa benih Allah (sperma atau Roh?). Jadi mengapa Islam harus menolak pengertian orang Kristen bahwa Yesus adalah anak Allah (atau Tuhan)? Tampaknya malah benar pengertian orang Kristen bahwa Yesus adalah anak Allah.

Sejarah singkat Allah berakhir di sini. Di bagian berikut, kau akan mengetahui lebih banyak tentang kemampuan Allah di bidang kandungan dan kebidanan.

Allah seringkali pindah tempat tinggal

Dari sejarah singkat tentang Allah di atas, kita dapat mengambil kesimpulan tentang versi2 yang berbeda akan Allah. Inilah daftar pendek Allah2 dan kemungkinan tempat tinggalnya.

Allah Sumeria: (Sumer, Babylon; dan lalu Mecca).

Allah Alaha: (Syria, lalu Mecca).

Allah Elh: (Syria, lalu Mecca).

Allah Ilah: (Syria, lalu Mecca).

Dewa Bulan Allah: (Arabia selatan, lalu Mecca).

Dewa Matahari Allah (Baal): (Egypt, lalu mungkin Mecca).

Allah Hubal: (Syria, lalu Ka’ba, Mecca).

Allah Jehovah: (mungkin, Palestine, lalu Mecca).

Allah Elohim: (Arabia tengah, lalu Mecca).

Allah Ila : (Arabia tengah, lalu Mecca).

Allah ar-Rahman: (Arabia utara, Arabia selatan, lalu Mecca).

Allah ar-Rahim: (Yemen, lalu Mecca).

Allah Sin: (Hadramawt, lalu Mecca).

Allah Hallah: (Syria, lalu Mecca).

Allah Ilu: (Babylon, Syria dan lalu Mecca).

Allah El: (Palestine, lalu Mecca).

Allah Wadd: (Minaean, lalu Mecca).

Allah Almaqah: (Kota Saba, lalu Mecca).

Allah Taa’la, Allah yang tertinggi: (Ka’ba, Mecca).

Kita mungkin bengong melihat begitu banyak versi Allah. Tapi tunggu dulu. Bukankah Qur’an berkata Allah punya banyak nama? Para ahli Islam bersikeras bahwa Allah punya 99 nama (termasuk Allah, dan ini berarti jumlah tepatnya adalah 100 nama). Meskipun kita tidak menemukan ayat Qur’an yang menyebutkan angka 99 dengan jelas, kita tidak perlu heran mengapa Allah punya begitu banyak nama (pada kenyataannya, banyak versi Allah). Masalahnya sekarang adalah: jika kita membaca Qur’an dengan seksama, dari awal sampai akhir, beberapa kali, kita mungkin menemukan nama Allah yang banyaknya lebih daripada 99 seperti yang dikatakan para ahli Islam. Jangan heran jika jumlahnya mencapai lebih dari 300 (iya, benar: tiga ratus) penjabaran tentang Allah.

Yang lebih mengherankan lagi adalah semuanya merupakan Allah-Allah (plural!) yang hidup di berbagai tempat tapi hanya di sekitar perbatasan Arabia, Syria, Palestina, Mesopotamia, Babylonia dan Irak. Mengapa Allah hanya memilih tempat2 ini (jelasnya: tanah Arab) untuk hidup kalau dia punya seluruh tata surya? Pertanyaan ini tidak sukar dijawab kalau kita melihat tingkat pengetahuan geografi masyarakat kuno Arab, Sumeria dan Babylonia. Hal yang menarik adalah: setelah hidup di tempat2 itu selama beribu-ribu tahun, Allah tiba2 berubah pikiran dengan kelahiran Muhammad, sang Nabi Islam. Islam mengaku bahwa Allah membuat Ka’abah 2.000 tahun sebelum Dia menciptakan Adam Adam (Ghazali, 1993, p. 1.190). Terdapat bukti bahwa Allah memang untuk sementara hidup di Mekah. Sebuah tulisan kuno yang ditemukan ketika menggali fondasi Ka’abah yang dilakukan oleh kakek Muhammad yang bernama Abdal Muttalib menyebut, “Akulah Allah, Tuhannya Bakka ….” ( ibn Ishaq, 2001, p. 85).

Setelah berkelana di seluruh gurun2 pasir tsb, akhirnya Allah tahu bahwa Muhammad lahir, dan Dia mengamil keputusan untuk tinggal menetap di Mekah, dalam Ka’abah tepatnya. Ini tidak usah diherankan, karena nama lain Ka’abah adalah Bait Allah (tempat tinggal Allah).

Karenanya, adalah tepat untuk mengatakan bahwa Allah memang punya tempat tinggal konkrit yang permanen di bumi dan itu adalah Ka’abah. Setiap tahun, jutaan Muslim datang ke Ka’abah hanya untuk satu tujuan: bertemu Allah secara pribadi di batu Ka’abah.

Ini ada beberapa ayat Qur’an yang membenarkan bahwa Allah akhirnya mengambil keputusan untuk tinggal diam di Mekah ketika Muhammad berada di Mekah.

Selama masa Muhammad di Mekah, Allah hidup di Mekah. Dialah Tuhan Mekah, Muhammad diperintahkan untuk melayani Tuhan kota Mekah dan bagi mereka yang memeluk Islam …27:91.

Masyarakat Quraish harus menyembah Allah karena memberi mereka tempat berlindung dan pentingnya makna Ka’abah (yakni tempat tinggal Allah) … 106:1-3.

Ka’abah adala rumah Allah; kunjungilah Allah di sana kapanpun juga – naik haji atau tidak … 2:158.

Para pembaca harus mengerti bahwa di artikel ini kita bicara mengenai Allahnya Muhammad. Masyarakat Arab Pagan sejak lama sekali sebelum Muhammad mulai khotbah, sudah mengenal Allah, bersama pasangannya, anak2 perempuannya dan kawan2nya yang tinggal di Mekah. Mereka tidak dapat menerima ketika Muhammad benar2 menolak dewa dewi lain yang berhubungan dengan Allah, yang dipercaya masyarakat Pagan mengetengahi Allah. Karena itu, mereka menanggapi Allahnya Muhammad sebagai dewa (tuhan) baru yang mereka tolak mentah2.

Bersambung ke Bagian 2 (ii)

Adadeh

Postby ali5196» Tue May 30, 2006 4:22 am

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: