Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

BISMI ALLAH : Kesukaan dan Ketidaksukaan Allah : bagian 2

by Adadeh » Mon May 08, 2006 2:03 pm

Allah itu Anthropomorfik

By Abul Kasem

nirribilli@gmail.com : 28 April, 2006

Kedua tangan Allah terjulur

Setelah Muhammad hijrah ke Medina, dia hidup miskin sekali. Banyak pengikutnya yang harus menahan lapar berhari-hari dan tergantung pada belas kasihan orang memberi sedekah kepada mereka untuk bisa makan. Untuk menutup mulut para pengritiknya, terutama orang² Yahudi, Muhammad mengaku bahwa dia dapat berkat berlimpah dari Allahnya. Tapi hal ini tidak terjadi, sehingga orang² Yahudi berkata bahwa Allah Muhammad ternyata tidak kaya. Mendengar itu, Muhammad menyatakan bahwa Yahudi salah duga dan bahwa “tangan Allah” tidak terikat; pada kenyataannya tangan²Nya terjulur. Ini berarti bahwa Allah punya dua tangan.

Pernyataan bahwa Allah punya dua tangan jasmani tercantum dalam Q 5:64

Q 5:64

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Dengan kedua tanganNya yang terjulur, Allah menciptakan Adam. Setelah selesai melakukan itu, Allah sangat kecewa karena Iblis, sang Setan, tidak mau menyembah ciptaan kedua tanganNya yakni Adam. Qur’an menegaskan bahwa Allah memang menciptakan Adam dengan kedua tanganNya. Mari kita lihat ayat Q 38:75

Q 38:75

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

Tidak hanya Qur’an membenarkan tentang kedua tangan jasmani Allah, tapi juga mengatakan bahwa Allah menggunakan kedua tanganNya yang terjulur untuk menggulung surga² (alam raya) – sama seperti orang menggulung tikar atau karpet dengan kedua tangannya. Setelah menggulung surga² dengan kedua tanganNya, Dia memegangnya dalam tangan kananNya! Inilah ayat yang mengatakan tentang Tangan Allah:

Q 39:67

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Tangan Allah memegang neraca keadilan

Muhammad meyakinkan bahwa AllahNya punya tangan² dan dengan satu tanganNya, Allah memegang neraca keadilan. Ini tampaknya seperti dalam gambar² yang biasa dilihat bertema seorang hakim memegang neraca keadilan di satu tangan dan sebilah pedang di tangan lainnya. Muhammad ingin pengkutnya punya gambaran yang sama jelasnya tentang kejujuran AllahNya. Jadi dia harus menggunakan kesamaan gambar ini yang mungkin telah dilihatnya dulu di naskah tulisan sistem pengadilan Romawi. Ini Hadisnya:

Hadis Sahih Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 206:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allah berkata, “Allah berkata, ‘Habiskanlah (belanjakanlah) (wahai manusia), dan aku akan menghabiskannya padamu.” Dia juga berkata, “Tangan Tuhan penuh, dan (kepenuhannya) tidak terpengaruh atas penggunaan sepanjang siang dan malam.” Dia juga berkata, “Apakau kau melihat apa yang Dia gunakan sejak Dia menciptakan Surga² dan Bumi? Meskipun begitu, apa yang ada di TanganNya tidak berkurang, dan SinggasanaNya terletak di atas air; dan di TanganNya terdapat keseimbangan (keadilan) di mana dia menaikkan dan merendahkan (orang2).”

Hadis Sahih Bukhari juga menegaskan bahwa Allah punya tangan kanan dan kiri. Di tangan kiriNya adalah neraca keadilan. Tiada yang menerangkan apa yang digenggam Allah di tangan kananNya. Orang bisa membayangkan apa yang Allah pegang di tangan kananNya tentunya besar sekali – mungkin seluruh populasi bumi atau sekantong uang atau barang jarahan raksasa. Hadis ini tidak menyebutkan isi tangan kanan Allah, dan hanya menyebutkan bahwa tanganNya penuh. Ini Hadisnya:

Tangan kanan Allah penuh, dan di tanganNya yang lain dia menggenggam neraca keadilan, singgasanaNya terdapat di atas air … …(Sahih Bukhari, 9.93.515)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 515:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Sang Nabi berkata,”Tangan Kanan Allah penuh, dan (kepenuhannya) tidak berpengaruh atas penghamburan siang dan malam. Apakah kau melihat yang Dia hamburkan setelah Dia menciptakan Surga2 dan Bumi? Meskipun demikian tiada yang berkurang di Tangan KananNya. SinggasanaNya terletak di atas air dan di dalam TanganNya yang lain adalah Upah atau Kekuasaan untuk mendatangkan kematian, dan Dia membangkitkan orang² dan merendahkan orang lainnya.” (Lihat Hadith No. 508)

Allah punya Betis

Jangan tertawa dulu. Kita telah baca bahwa Allah punya kaki, tapak kaki, mata, tangan. Untuk lebih meyakinkan bahwa Allah memang benar² anthropomorfik, Muhammad ngotot bahwa Allah bukan hanya punya tapak kaki, tapi juga betis. Qur’an 68:42 mengatakan di hari kebangkitan Allah akan menyingkapkan betisNya kepada para Muslim untuk menyembah, tapi mereka gagal melakukannya.

Q 68:42

Pada hari Betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa

Sebuah Hadis di Sahih Bukhari berkata bahwa Allah memang akan menyingkapkan BetisNya kepada Muslim. Hadisnya panjang sekali, tapi aku kutip bagian yang sesuai:

Hadis Sahih Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 532s:

Dikisahkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri:
… Maka Yang Maha Kuasa akan datang kepada mereka dalam bentuk yang tidak serupa dengan saat pertama kali mereka melihatNya, dan Dia akan berkat,”Akulah Tuhanmu,” dan mereka akan berkata,”Kau bukan Tuhan kami.” Dan tiada seorang pun akan berkata: padaNya tapi pada para Nabi, dan kemudian akan dikatakan kepada mereka,’Apakah kau tahu suatu tanda yang dapat membuatmu mengenalNya?’ Mereka akan berkata: ‘Betis,’ dan lalu Allah akan menyingkapkan BetisNya di hadapan semua Muslim yang akan menyembah di hadapannya dan yang tidak menyembah hanyalah orang yang dahulu menyembah Dia untuk menyombongkan diri dan dapat reputasi baik. Orang2 ini akan mencoba menyembah tapi punggung2 mereka menjadi kaku bagaikan sepotong kayu (dan mereka tidak bisa menyembah). Maka jembatan ditempatkan untuk menyeberang ke Neraka.’ Kami, pengikut sang Nabi berkata,”Wahai, Rasul Allah! Apakah jembatan itu? …

Hadis di atas menyatakan secara jelas sekali bahwa di Hari Kebangkitan, Muslim tidak akan salah mengenali Allah dari bentuk jasmaniNya. Dia akan dikenali dari betisNya.

Allah memiliki wajah yang sangat anggun dan tampan

Orang mungkin berpikir: dengan tangan terjulur, punya kaki, tapak kaki, betis, kuping, maka seperti apa sih Allah itu sebenarnya. Ini juga dijabarkan dalam Qur’an. Sama seperti orang yang berwajah tampah dan terhormat, Allah juga punya wajah yang anggun, tampan dan berwibawa. Mari kita lihat ayat 55:26-27.

Q 55:26

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

Q 55:27

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan

Q 55:27

YUSUFALI: But will abide (for ever) the Face of thy Lord,- full of Majesty, Bounty and Honour.

Terjemahan:

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu: penuh kebesaran, rahmat dan kemuliaan.

Marilah kita baca ayat lain. Ayat ini membenarkan bahwa Allah memegang karuniaNya di tanganNya.

Q 3:73

Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;

Dr Takiuddin al-Hilali and Dr Muhammad Muhsin Khan, penerjemah Qur’an memberi komentar atas ayat ini:

Semua yang telah dinyatakan dalam Qur’an sebagai sifat Allah yang maha tinggi seperti wajah, mata, tangan, betis, kaki, kedatanganNya, naik ke singgasanaNya (Istawa) dan lainnya, atau semua yang disebutkan Rasul Allah dalam Ahadis yang autentik sebagai Sifat Allah (Nuzul), kehadiranNya atau tertawaNya dan lainnya, para ilmuwan Qur’an dan Sunnah percaya bahwa inilah Sifat² Allah dan mereka membenarkan bahwa ini memang benar² Sifat² Allah tanpa Tawil (mengartikan makna kata sebagai arti yang berbeda) atau Tashbih (memberikan makna yang serupa) atau kesamaan dengan makhluk lain) atau Ta’til (tidak mengindahkan atau menyangkal, misalnya dengan mengatakan bahwa Allah tidak punya Muka atau Mata atau Tangan). Sifat2 ini hanyalah bagi Allah saja, dan Dia tidak mirip makhluk apapun. Seperti dalam pernyataan Allah (di Qur’an): (1) “Tiada yang serupa dengannya, dan dialah yang Maha Mendengar, Maha Melihat (Q 42:11).” (2) “Tiada yang sebanding denganNya.” (Q 112:4) (Hilali and Khan, 1996, p. 91, foot notes 1 and 2).

Aku kutip komentar kedua ilmuwan Islam ternama itu agar semakin jelas. Jika kita harus menyimpulkan komentar di atas, maka kesimpulannya adalah: Qur’an merupakan ladang ranjau yang penuh ketidakjelasan, ketidaksinambungan dan pertentangan. Kedua ilmuwan ini sudah membenarkan hal itu. Mari kita lihat lagi pertentangan sifat Allah di bagian lain. Allah menunjukkan wajahNya hanya pada Muslim yang mati, dan kafir tidak bisa melihat wajahNya. Untuk membingungkan para Muslim, Allahnya Muhammad tidak mau menunjukkan WajahNya yang Tampan dan Berwibawa kepada kafir. Hanya Muslim yang bisa melihat wajahNya. Lihatlah ayat 83:13-16:

Q 83:13

yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”

Q 83:14

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Q 83:15

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.

Q 83:16

Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.

Q 83:13–16

YUSUFALI:

When Our Signs are rehearsed to him, he says, “Tales of the ancients!” Q 083.013
By no means! but on their hearts is the stain of the (ill) which they do! Q 083.014
erily, from (the Light of) their Lord, that Day, will they be veiled. Q 083.015
Further, they will enter the Fire of Hell. Q 083.016

Sudah jelas bahwa alasan mengapa Muhammad menyampaikan kisah ini adalah untuk menarik hati orang masuk Islam. Sura ini dikeluarkan di awal Sura Mekah, sewaktu Muhammad masih lemah dan hanya punya segelintir pengikut. Sewaktu banyak orang pagan Quraish menanyakan Muhammad untuk menggambarkan bagaimana bentuk Allahnya, dia gagal mengungkapkannya. Ini karena kaum pagan sudah punya versi mereka sendiri akan Allah (lihat Bagian Dua), dan mereka tidak bisa menerima penggambaran Allah yang disampaikan Muhammad. Dengan marah dan frustasi, Muhammad mencela kaum karena tidak menerima Allahnya dan dia mengutuki mereka dengan mengatakan mereka akan masuk neraka. Mohon ingat bahwa di bagian sebelumnya, kita tahu bahwa Allah menunjukkan BetisNya kepada para kafir. Bukankah aneh jika sekarang Allah harus menyembunyikan WajahNya kepada para kafir jika mereka dengan mudah bisa melihat BetisNya. Ini satu lagi tanda tanya dalam Qur’an.

Allah Berbicara Seperti Seorang Manusia

Jika kita percaya pendapat dua ilmuwan Islam terkemukan (Hilali dan Khan) mengenai sifat anthropomorfik Allah, maka Qur’an sudah tentu salah. Di beberapa ayat Qur’an kita baca bahwa Allah bicara seperti seorang manusia. Dia, sebagai api, bicara kepada Musa (Q 27:9). Melalui perintah Allah, tongkat Musa berubah menjadi ular. Karena takut, Musa melarikan diri, tapi Allah memanggil Musa kembali (Q 27:9–10, 28:31). Bagaimana mungkin Musa dapat mendengar suara Allah jika Allah tidak menggunakan bahasa yang sama seperti manusia untuk berkomunikasi secara verbal dengan Musa? Jika ini tidak juga meyakinkan, ayat Qur’an lain mengatakan bahwa Musa yang ketakutan mendengar suara dari sebuah pohon: itu suara Allah. Allah memanggil Musa dengan suaraNya sendiri. Tiada malaikat ataupun jin di sana untuk menyampaikan pesan Allah kepada Musa. Allah Sendiri bicara pada Musa (Q 28:30). Di kejadian lain, Qur’an juga menyatakan bahwa Allah sendiri memanggil Musa di bukit Tuwa (Q 79:15-16). Marilah kita baca ayat2 Qur’an ini:

Q 27:8

Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.

Q 27:9

(Allah berfirman): “Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Q 27:10

dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.

Q 28:30

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Q 28:31

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

Q 79:15

Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.

Q 79:16

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;

Ini sebuah Hadis dari Sunan Abu Daud yang mengatakan pada kita bahwa Allah memang benar² bicara langsung kepada Musa tanpa ada perantara lain. Yang lucu adalah: ini dinyatakan Adam pada Musa ketika mereka berdebat di surga. Mari kita baca Hadis yang menggelikan ini:

Hadis Sunaan Abu Dawud, volume 3, hadith number 4685:

‘Umar b. al-Khattab melaporkan bahwa Rasul Allah berkata:
Moses berkata: Tuhanku, tunjukkan pada kami Adam yang menyebabkan diri kami dan dirinya sendiri ke luar dari Surga. Maka Allah menunjukkan padanya Adam. Dia (Musa) bertanya: Apakah kau ayah kami, Adam? Adam berkata padanya: Ya. Dia berkata: Engkaukah yang mana Allah meniupkan rohNya, mengajarkan kau semua nama, dan memerintahkan malaikat (untuk menyembah) dan mereka menyembahmu? Dia menjawab: Ya. Dia bertanya: Maka apa yang membuatmu mengakibatkan kami dan dirimu sendiri ke luar dari Surga? Adam bertanya padanya: Dan siapakah engkau? Dia berkata: Aku Musa. Dia berkata: Kaulah Nabi Banu Israel kepada siapa Allah bicara di balik layar, tidak menunjuk perantara diantaramu dan Dia. Dia berkata: Ya. Dia (Adam) bertanya: Tidakkah kau menemukan bahwa hal itu telah ditetapkan di dalam Kita Allah sebelum aku diciptakan? Dia menjawab: Ya. Dia (Adam) bertanya: Kalau begitu mengapa kau menyalahkan aku akan sesuatu yang telah ditentukan Illahi sebelum aku ada? Rasul Allah berkata: Maka Adam menang berdebat dengan Musa.

Allah bicara muka dengan muka kepada seorang jihadis

Sesuai dengan hukum Islam, kalau seorang pembom bunuh diri menyerahkan nyawanya dalam misi pembunuhan, dia akan langsung masuk Surga. Dia tidak perlu lagi menunggu Hari Kiamat, atau menunggu keputusan Allah dan lalu dikirim ke tempatnya yang layak. Setelah mati, jihadis (dalam hal ini pembom bunuh diri) seketika bertemu Allah dan Allah bicara padanya muka dengan muka. Ini merupakan bukti bahwa Allah bicara seperti seorang manusia dan menyapa jihadis seperti biasanya kita bicara di dunia. Ini hadis dari Ibn Majah:

Sunaan ibn Majah, Vol I, Hadith number 190:

Talha b. Khirash dilaporkan berkata demikian, “Aku mendengar Jabir b. ‘Abdullah berkata: Pada waktu Abdullah b. ‘Amr b. Haram terbunuh di perang Uhud, Rasul Allah menemuiku dan berkata, “Wahai Jabir, haruskah aku beritahu engkau apa yang Allah katakan mengenai ayahmu?” Yahya dalam Hadisnya telah mengatakan (perkataan ini): Wahai Jabir, mengapa kulihat engkau bersedih hati…?” Dia berkata, “Aku katakan padanya: Rasul Allah, ayahku telah mati sebagai martir dan dia meninggalkan beberapa tanggungan dan hutang.” Dia (Rasul Allah) berkata, “Haruskah aku menyampaikan padamu sapaan bahagia yang dikatakan Allah ketika bertemu ayahmu?” Dia berkata, “Ya, Rasul Allah.” Dia (Rasul Allah) berkata,”Allah bicara pada siapapun dari balik layar, tapi Dia bicara pada ayahmu muka dengan muka dan kataNya, “Wahai, orang jaminanKu, mintalah padaKu, akan Kukabulkan bagimu.” Dia berkata, “Tuhanku, (kuharap) Kau berilah aku nyawa baru sehingga aku terbunuh lagi untuk kedua kalinya bagi kepentinganMu.” Mendengar ini, Tuhan berkata: “Telah Kutentukan bahwa dia tidak akan kembali hidup.” Dia berkata,” Tuhanku, kalau begitu sampaikan ini pada mereka yang kutinggalkan.” Penyampai kisah berkata bahwa Allah menyampaikan (ayat): Tidak pernah, mereka hidup bersama Tuhan mereka, mereka telah diberi ketentuan (Q 3:16).

As?Samadi berkata, “Hadis ini tidak disampaikan oleh Ibn Majah: tidak dalam bentuk tulisan atau isnad. Tirmidkhi telah menyampaikannya dalam Tafsir (yakni bagian yang membahas pengertian ayat2 Qur’an dan Sura dan lalu dianggap sabagai hasan gharib hadith. Kita tidak tahu akan itu kecuali dari Hadis Musa b. Ibrahim yang menerimanya dari ahli2 Hadis yang terkenal.

Untuk lebih memperjelas bahwa Allah memberikan pertemuan khusus dengan para jihadis, Allah bertemu mereka secara pribadi seketika setelah mereka mati syahid. Ini satu lagi Hadis dari Sahih Bukhari. Hadis ini mengatakan bahwa para Muslim yang terbunuh di Bir Mauna bertemu Allah. Ini juga tertulis di Qur’an, tapi kemudai ayat ini dihilangkan (Sahih Bukhari, 4.52.299)

Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 299:

Dikisahkan oleh Anas:
Orang² dari suku2 Ril, Dhakwan, ‘Usiya dan Bani Lihyan datang menemui sang Nabi dan menyatakan bahwa mereka telah memeluk Islam, dan mereka memintanya membantu mereka dengan beberapa orang untuk melawan masyarakat suku mereka sendiri. Sang Nabi membantu mereka dengan 70 orang Ansar yang biasa kami panggil Al-Qurra’ (yakni Ilmuwan2) yang biasa memotong kayu di siang hari dan sembahyang sepanjang malam. Maka, orang2 itu membawa ke 70 orang tersebut sampai mereka sampai di tempat yang bernama Bi’r-Ma’ana di mana mereka (70 Muslim tsb) dikhianati dan dibunuh sebagai martir. Maka sang Nabi meminta kutukan atas suku2 Ril, Dhakwan dan Bani Lihyan dalam sembahyang selama sebulan.

Dikisahkan oleh Qatada: Anas memberitahu kami bahwa mereka (para Muslim) biasa melafalkan ayat Qur’an yang berhubungan dengan mereka yang mati sebagai martir yang bunyinya sebagai berikut: — “Wahai Allah! Biarlah orang² kami diberitahu berdasarkan keadaan kami bahwa kami telah bertemu dengan Allah kami yang merasa puas akan kami dan membuat kami puas pula.” Lalu ayat ini dibatalkan.

Ketika para jihadis muda mati di Bir Mauna, Jibril memberitahu Muhammad bahwa para jihadis telah bertemu Allah, mereka merasa puas akan Dia dan Allah merasa puas akan mereka; sebuah ayat diturunkan akan hal ini; tapi kemudian ayat itu dibatalkan (Sahih Bukhari, 4.52.57).

Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 57:

Dikisahkan oleh Anas:
Sang Nabi mengirim 70 orang dari suku Bani Salim kepada suku Bani Amir. Ketika mereka sampai di sana, paman kandungku berkata pada mereka, “Aku berangkat terlebih dahulu, dan jika mereka mengijinkanku untuk menyampaikan pesan Rasul Allah (maka keadaan ama); jika tidak kau tetap dekat denganku.” Maka dia pun bertemu dengan mereka dan kaum pagan menjamin keamanannya. Tapi ketika dia menyampaikan pesan dari sang Nabi, mereka mengisyaratkan seorang dari orang2 mereka yang lalu menusuknya sampai mati. Paman kandungku berkata, “Allah lebih Berkuasa! Demi Tuhan Ka’aba, aku telah berhasil.” Setelah itu mereka menyerang kelompok (Muslim) dan membunuh semuanya kecuali seorang lemah yang melarikan diri ke puncak gunung. (Hammam, penyampai cerita yang lain berkata, “Kukira seorang lagi juga selamat bersama orang itu).” Jibril memberitahu sang Nabi bahwa mereka (para martir) telah bertemu Allah, dan Dia merasa puas akan mereka dan membuat mereka puas pula. Kami biasa melafalkan, “Beritahu orang2 kami bahwa kami telah bertemu Allah kami, Dia merasa puas dengan kami dan Dia pun membuat kami puas.” Nantinya ayat Qur’an ini dibatalkan. Sang Nabi meminta Allah selama 40 hari untuk mengutuk para pembunuh dari suku Ral, Dhakwan, Bani Lihyan dan Bani Usaiya yang tidak mentaati Allah dan RasulNya.

Dua Ahadis di atas memberitahu bahwa ayat Qur’an yang berisi peristiwa ini kemudian dihilangkan dari Qur’an. Mengapa dihilangkan? Inilah alasannya: dalam ayat yang dibatalkan ini, para martirlah yang bicara dan bukannya Allah. Bacalah Hadis itu dengan seksama. Jika Qur’an memuat ayat yang dikatakan oleh jihadis yang adalah manusia biasa, maka seluruh kredibilitas Qur’an sebagai Firman Allah dan juga seluruh konstruksi Islam akan runtuh. Muhammad cukup cerdik untuk mengetahui hal ini. Maka dia pun mengambil keputusan yang sesuai dengan mencoret ayat yang berpotensial untuk menghancurkan Islam dari Qur’an.

Hadis yang serupa tapi lebih panjang dapat dibaca di Sahih Bukhari 5.59.421.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 421:

Dikisahkan oleh Anas bin Malik :
Sang Nabi memohon kutukan atas orang2 yang membunuh umatnya di Bir Mauna selama 30 hari (sewaktu sembahyang subuh). Dia memohon yang jahat ditimpakan kepada (suku2) Ril, Lihyan, dan Usaiya yang telah menentang Allah dan RasulNya. Allah mengeluarkan ayat Qur’an kepada NabiNya tentang mereka yang telah dibunuh, yakni para Muslim yang terbunuh di Bir Ma’una, dan kami melafalkan ayat itu sampai kemudian ayat itu dibatalkan. (Ayatnya adalah: ) “Beritahu orang2 kami bahwa kami telah bertemu dengan Allah kami, dan Dia merasa puas akan kami, dan kami pun merasa puas akan Dia.”

Harap diingat bahwa untuk bertemu Allah dengan bentuk jasmaniNya, para Muslim non jihadis harus mati dan menunggu sampai Hari Kebangkitan. Ini beberapa ayat Qur’an tentang hal itu:

Di Hari Kebangkitan, Allah akan datang dengan barisan demi barisan malaikat … Q 89:22.

Q 89:22

dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

Ketika bertemu dengan Allah, kata sapaan Muslim adalah ‘damai’ (Salam) …. Q 33:44

Q 33:44

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. Di Hari Kebangkitan, Allah sendiri akan menjawab semua pertanyaan … 

Q 40:16

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Q 40:16

YUSUFALI: The Day whereon they will (all) come forth: not a single thing concerning them is hidden from Allah. Whose will be the dominion that Day?” That of Allah, the One the Irresistible!

Coba perhatikan ayat Q 40:16. Siapa yang mengucapkan ayat ini? Allah atau Muhammad? Untuk menyangkal semua omong kosong ilmuwan Islam apologis, bacalah Hadis Sahih Bukhari 8.76.577 (hanya dikutip sebagian karena Hadisnya panjang) yang memberitahukan tanpa ragu lagi bahwa di Hari Kebangkitan, para pemuja matahari akan mengikuti matahari, para pemuja bulan akan mengikuti bulan, para penyembah berhala akan mengikuti dewa² mereka. Allah akan muncul di hadapan para Muslim dalam sebuah sosok dan akan membawa mereka untuk menyeberangi jembatan di atas api, lalu orang² yang berdosa akan dikirim ke Neraka dan orang yang beriman akan dikirim ke Surga.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 577:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
… Maka Allah akan datang pada mereka dalam bentuk yang mereka ketahui dan akan berkata, ‘Akulah Tuhanmu.’ Mereka akan berkata,’(Tidak ragu lagi) Kaulah Tuhan kami,’ dan mereka akan mengikutiNya. Lalu sebuah jembatan akan diletakkan di atas api Neraka. Rasul Allah menambahkan, “Aku akan menjadi orang pertama yang menyeberanginya …

Ini Hadis lain yang menunjukkan bahwa Allah itu anthropomorfik – Dia punya bentuk dan merupakan suatu wujud – sama seperti wujud manusia yang berdaging dan berdarah.

Kau tentu akan melihat Allah dengan matamu sendiri …..(Sahih Bukhari, 9.93.530, 531)

Allah duduk di singgasana dengan para malaikat yang menjagaNya

Dalam Qur’an tampak jelas bahwa Muhammad sangat teliti dalam menjabarkan Allahnya. Dia membandingkan Allah dengan seorang raja – sama seperti raja² di banyak negara, duduk di atas singgasana besar dan memerintah dari singgasanaNya. Qur’an bahkan memberitahu bahwa Allah menciptakan singgasanaNya dan lalu Dia berjalan naik dan lalu duduk di atasnya. Ini ayatnya

Allah menciptakan Surga (pertama-tama) dan (lalu) bumi dalam 6 hari lalu dia naik ke atas singgasanaNya … Q 7:54

Q 7:54

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Q 7:54

YUSUFALI: Your Guardian-Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six days, and is firmly established on the throne (of authority): He draweth the night as a veil o’er the day, each seeking the other in rapid succession: He created the sun, the moon, and the stars, (all) governed by laws under His command. Is it not His to create and to govern? Blessed be Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds!

Allah menciptakan surga2 (pertama-tama) dan (lalu) bumi dalam enam hari dan (lalu) Dia menyatakan diriNya di atas TakhtaNya (Dia bergerak menuju TakhtaNya dari posisi sebelumnya) …

Q 57:4

YUSUFALI: He it is Who created the heavens and the earth in Six Days, and is moreover firmly established on the Throne (of Authority). He knows what enters within the earth and what comes forth out of it, what comes down from heaven and what mounts up to it. And He is with you wheresoever ye may be. And Allah sees well all that ye do.

Delapan malaikat akan berada di sisi singgasana Allah (bentuk oktagonal?) … Q 69:17

Q 69:17

YUSUFALI: And the angels will be on its sides, and eight will, that Day, bear the Throne of thy Lord above them.

Sama seperti penjaga keamanan Allah mengawasi Muhammad, Nuh dan Nabi2 lainnya. Allah mengawasi Muhammad ketika dia sembahyang sendiri atau bersama-sama jemaat lain …. Q 26:218-219

Q 26:218

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),

Q 26:219

dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Q 26:220

Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Beberapa ayat itu menunjukkan kesan bahwa Allah benar2 hidup di atas kita dan mengawasi semua ciptaanNya – sama seperti seorang astronot yang sedang mengorbit, yang mengamati bumi dari jendela pesawat ruang angkasanya. Ini beberapa ayat lagi dari Qur’an yang menyatakan Allah mengamati dari atas di angkasa.

Allah seperti penjaga di menara pengawas — selalu waspada … Q 89:14

Q 89:14

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Allah punya dua mata. Dengan kedua mataNya Dia mengawasi bahtera Nuh …Q 54:13–14

Q 54:13

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,

Q 54:14

Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).

Q 54.13

YUSUFALI: But We bore him on an (Ark) made of broad planks and caulked with palm-fibre:

Q 54:14

YUSUFALI: She floats under our eyes (and care): a recompense to one who had been rejected (with scorn)!

Sebuah Hadis dari Sunaan Ibn Majah menyatakan bahwa Allah memang mengamati dari atas:

Sunaan Ibn Majah, Vol. I, Hadith Number 184:

Jabir b. ‘Abdullah mengisahkan bahwa Rasul Allah berkata, “Ketika penghuni Surga akan masuk menerima anugrah mereka, sebuah sinar tiba2 akan menerangi mereka. Dengan ini, mereka akan mendongakkan kepala2 mereka (dan melihat) bahwa Tuhan mereka sedang mengamati dari atas. Dia (Tuhan) akan berkata, “Assalamu ‘alaikum, wahai penghuni Surga!” Dia berkata, “Ini sesuai dengan kata2 Allah: Kata dari yang Tuhan yang Pengampun: Salam (damai) (Q 36:58 ).” Dia akan memandang mereka dan mereka pun akan memandangNya dan tidak menaruh perhatian atas apapun hadiah2 Illahi selama mereka tetap memandangNya sampai Dia menyembunyikan diriNya dari mereka dan TerangNya dan AnugrahNya akan terus berlaku pada diri mereka di rumah2 mereka.

Dalam sebuah catatan kaki, Ibn Majarh mempertanyakan kesahihan Hadis ini. Aku kutip Hadis ini untuk menunjukkan bahwa Muhammad memang mencoba meyakinkan pengikutnya tentang sifat Allahnya yang dapat dilihat. Bahkan tanpa Hadis ini sekalipun, ada beberapa ayat lain di Qur’an yang jelas menyatakan bahwa Allah punya kuping2 untuk mendengar semua percakapan. Ini ayatnya:

Allah mendengar keluhan yang disampaikan seorang wanita kepada Muhammad tentang suaminya. Allah mendengarkan semua percakapan … Q 58:1

Q 58:1

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Menyaksikan wujud jasmani Allah sama dengan mengamati matahari dan bulan. Banyak Hadis yang dengan jelas mengatakan bahwa Allah adalah makhluk yang dapat dilihat, meskipun orang harus mati dulu untuk melihat Allah. Inilah kesimpulan dari beberapa Ahadis semacam itu. Para pembaca harap memeriksa Hadis ini baik dalam versi internet maupun versi cetak. Mohon diingat bahwa tiada versi onlin dari kumpulan Hadis Ibn Majah (atau setidaknya belum kutemukan) dan tidak semua Ahadis Sunan Abu Daud ada di Internet. Semua Ahadis ini telah kukutip secara menyeluruh.

Di Hari Kebangkitan, kau akan melihat Allah seperti kau melihat matahari atau bulan di langit yang bersih …(Sahih Bukhari, 6.60.105)

Orang akan melihat Allah seperti melihat bulan … (Sahih Bukhari, 9.93.529)

Latar belakang bagi ayat Q 50:39 ketika Muhammad melihat bulan purnama, dia berkata bahwa kau akan melihat Allah seperti kau melihat bulan purnama…(Sahih Bukhari, 1.10.529, 547)

Kau akan melihat Allah sejelas kau melihat bulan dan matahari. Kait2 akan digunakan untuk menghukum para kafir. Muhammad, bersama para pengikutnya akan menjadi orang2 pertama yang menyeberangi jembatan Neraka. Beberapa orang berdosa akan tinggal di Neraka untuk sementara waktu, beberapa lagi untuk selamanya … (Sahih Bukhari, 1.12.770)

Sunaan ibn Majah, volume 1, hadith number 178

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasul Allah berkata, “Apakah kalian berdesakkan (dan saling dorong) untuk melihat bulan purnama di malam hari?” Para penonton berkata, “Tidak.” Mendengar itu, dia (sang Nabi) berkata, “Sama halnya, kau tidak akan berdesakkan untuk melihat Allah di Hari Kebangkitan.”

diterjemahkan oleh Adadeh


Daftar Kompilasi :

bagian 1 – bagian 2 – bagian 3

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: