Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Sudan : Perbudakan Masih Eksis

Postby  ali5196 » Wed Aug 29, 2007 7:03 pm

http://www.balaams-ass.com/alhaj/slaves.htm

Image

Image
Di Madhol, Sudan, setumpuk uang berpindah tangan dari sukarelawan Christian Solidarity International, John Eibner, saat ia membayar $13,200 bagi pembebasan 132 budak. Si Muslim Sudan yg menerima duit segumpal itu malah berani mengatakakan bahwa ia tidak kebagian komisi dlm transaksi ini. Kesemuanya adalah anak2 dan wanita, saat mereka berbaris gemeteran menanti kebebasan, termasuk para ibu2 muda yg diperkosa dgn bayi2 pada punggung mereka.

Sang pemilik budak, Muslim dari Sudan, menjual budak2 itu seakan menjual ternak di pelelangan umum. Akuac Malong, gadis muda dari suku Dinka, hampir bunuh diri. Pemiliknya mencoba mencuci otaknya dgn Islam dan memukuli bahkan membiarkannya kelaparan. Inilah evangelisme ala Islam, persis spt yg diserukan Muhamad dlm hadis.

Slave Trade Thrives in Sudan
Arab Masters Can Do as They Please

http://www.domini.org/openbook/sud80210.htm

http://english.gospelherald.com/article … aves/1.htm

Kristen membebaskan 102 Budak Sudan
Tuesday, Jan. 23, 2007

Organisasi Kristen bekerja sama dgn pemerintah setempat, gereja dan komite2 inter-etnik membantu membebaskan 102 budak hitam di negara bagian Aweil.

Christian Solidarity International (CSI) dari UK mengatakan bahwa budak2 itu kebanyakan bocah2 & lelaki2 muda yg disekap milisia2 Arab-Muslim.

Para budak mengalami kekejaman fisik, psikologis dan pemelukan Islam secara paksa, demikian CSI.

Agor Deng, 16, diperkosa berkali2 oleh pemilik dan teman2nya. Isteri pemilik bahkan mencabuti kukunya. Ia dipaksa utk solat dibawah ancaman mati.

Wanita 45 thn, Achol Loc Wiel, luka2 di kakinya saat berlangsungnya perajahan budak dan dipaksa berjalan ke Sudan Utara dimana ia di gang-rape oleh teman2 pemiliknya. Pemiliknya memaksanya agar meninggalkan Kristen dan masuk Islam.

Garang Akot Wiir, 30, lumpuh di tangan dan kaki kanannya stelah diikat dan dipukuli selama 24 jam karena ketahuan mencoba melarikan diri.

Mereka ini dikembalikan ke desa2 mereka, tempat militia Muslim melakukan aksi penjarahan melawan non-Muslim. Arus perbudakan terus berlangsung walau kedua kelompok bermusuhan menandatangani perjanjian di th 2005. Penyelamatan minggu lalu bertepatan dgn persiapan peringatan 200 thn dihapuskannya perdagangan budak antara UK – Afrika pd thn 25 Maret.
http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/6468097.stm

Penyidikan atas perbudakan di Darfur
By Joseph Winter
BBC News website

Image
Kaum Janjawid mengambil budak ?

Para pengacara di kawasan Darfur mengadakan penyidikan atas laporan adanya penculikan dan perbudakan selama konflik tsb, demikian BBC.

“Fenomena ini terjadi pada skala lebih kecil di utara ketimbang di selatan. Sekitar 11.000 orang diperbudak dlm perang utara vs selatan.

http://en.wikipedia.org/wiki/Sudan
UTARA : mayoritas Kristen & animis
SELATAN : mayoritas Muslim

Image

Militia2 pemerintah pro-Arab, “Murahalin” menaiki kuda dan masuk desa2 disebelah selatan, membunuhi lelaki, memperkosa wanita dan merampok apapun yg mereka temukan serta membakar gubug2.

Daerah yg paling di Sudan Selatan adalah Bahr al-Ghazal – sebelah selatan perbatasan dgn bagian utara yg mayoritas Arab dan tidak jauh dari Darfur Selatan.

Pemerintah Sudan membantah keras bahwa mereka memobilisasi Murahalin dan Janjawid utk meneror penduduk sipil yg dianggap mendukung pemberontak.

Mereka juga menolak adanya budak di Sudan, dan mengganti istilahnya dgn “orang2 yg diculik”. Menurut analis, keduanya sama artinya.

Setelah kelompok setempat mengangkat senjata melawan pemerintah, para kepala suku Arab dikatakan bahwa orang kulit hitam (animis?) ingin merebut tanah mereka dan perlu dilawan. Kaum Arab kemudian diperlengkapi dng senjata yg membawa akibat tragis.

Pengadilan di Khartoum mendengarkan bukti2 bahwa 40 wanita dan anak2 diculik dua tahun lalu dari desa Wadi Saleh oleh Janjawid dan dibagi2kan sbg barang jarahan kpd para perampok.

Image
Ex-slave’s audio slideshow

Pemaksaan agama (Islam) merupakan motivasi dibelakang penculikan orang2 di bagian Selatan – mereka kemudian diberikan nama2 Islam dan dinyatakan sbg Muslim. Namun kata seorang pengacara, “Muslim dilarang memperbudak sesama Muslim.”

BACA: oleh karena itulah si kafir dibagian selatan itu diculik dulu. Baru dia diancam : pilih islam atau jadi budak !! Susah amat sih ! :twisted:
http://debate.org.uk/topics/trtracts/t12.htm

Pertanyaan Mengganggu Tentang Sejarah Islam

Sebagai orang Afrika aku bingung dengan tiadanya riset sejarah yang seimbang yang ditulis orang2 Muslim tentang masyarakat Afrika.
Di Afrika Selatan kita ketahui bahwa seluruh wilayah Sahara seperti Maroko, Libia, Aljeria dan Mesir sampai Sudan dan Ethiopia dulunya adalah Kristen, sebelum Islam masuk dan menghancurkan gereja2 lokal. Mengapa hal ini tidak kita dengar sama sekali dalam literatur Islam?

Juga pikirkan ini: Afrika menghasilkan pemikir2 besar seperti [santo] Augustine dari Hippo (Aljazair), [santo] Clement dan [santo] Athanasius dari Mesir, dan Tertullian dari Carthage (Tunis), sedangkan Ethiopia punya gereja Afrika pertama yang benar2 mandiri dari Eropa. Bahkan, betapa anehnya bahwa di Afrikalah pertamanya dibangung gereja2, JAUH sebelum adanya gereja2 di Eropa, Kanada atau AS. Tapi Dimana sisa2 gereja Afrika itu sekarang ?

Mungkin kita bisa lihat Qur’an untuk mencari jawabnya. Lihat Surat Pedang, Q 9-5:
“maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan …”

Ayat ini cocok dengan pola Islam yang memerangi siapapun yang tidak mau tunduk di bawah Islam, dan hal ini pun dinyatakan dalam Surat Imran, 3:28:

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali [192] dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah …”

Sejarah Sudan merupakan contoh yang tepat. Sebelum penyerangan Muslim di tahun 1275M oleh kaum Mamluk dari Mesir, Sudan punya tiga negara Kristen mini:

NOBATIA di sebelah utara, dengan ibu kota Qustul,
MAKURIA, dengan ibu kota kota tua Dongola, dan
ALODIA atai ALWA, dengan ibu kota Soba.

Ketiga negara Kristen ini, dari tahun 300M sampai 1500M punya bahasa tulis mereka sendiri, merupakan pusat2 pendidikan tinggi, perdagangan internasional dengan Mesir, Ethiopia dan negara2 Timur Tengah lainnya, dan mengirim misionaris2 ke negara2 Afrika lainnya (see K. Milhalowski,Faras, vol.2, Poland, 1965 for extensive archaeological and historical documentation on these states).

Bahkan orang Arab seperti ibn Selim al-Assuani, merasa kagum ketika dia melihat Soba, dan menggambarkannya sebagai kota yang punya … gedung2 megah, rumah2 besar, gereja2, dan tanah yang menghasilkan buah lebih banyak daripada Makuria … (dan kota itu punya) banyak daging dan kuda2 yang bagus.

Tapi semua ini dihancurkan oleh penyerang2 Muslim di tahun 1275M, dan bukannya oleh penjajah Eropa! Kehancuran yang sama terjadi pula di seluruh Afrika, tapi kita tidak pernah membaca tanggung jawab para Muslim! Mengapa? Rasisme Arab Muslim sama saja memuakkannya dengan kaum Eropa, jadi mengapa kita membiarkan hal ini terus berlangsung?
http://www.assistnews.net/Stories/s06090025.htm
September 5, 2006

Mantan Budak SUDAN menceritakan Penculikan dan Pengalaman Mengerikannya di Sudan Utara
By Mark Ellis
Senior Correspondent, ASSIST News Service

NEW YORK (ANS) – Sbg anak lelaki berusia 9 tahun, ia menyaksikan desanya dibakar rata dan dibunuh habis oleh tentara Sudan. Kurang dari satu tahun kemudian, ia diculik dan diperbudak, dan mengalami kebiadaban mengerikan, sampai ia merasa sbg binatang.

Simon Deng, pendiri Sudan Freedom Walk dan pembicara bagi Kelompok Anti Perbudakan AS (iAbolish.com) adalah putera seorang petani di desa Tonga, yg mengirim anak2nya ke sekolah Kristen. Ia sering diwanti2 orang tuanya akan datangnya tentara2 Arab. “Kalau mereka datang, larilah sekuat mungkin,” ingat Deng. Suatu saat, tatkala ia sedang menjaga ternak kambing keluarganya, ia mendengarkan bunyi gemuruh tank2 buatan Jerman. Ketika tank2 berhenti, tentara berhamburan keluar, dan mulai membakari gubug2 kami, membunuh para lelaki dan mencuri ternak kami.

Deng dan keluarganya berhasil melarikan diri. Mereka mengungsi ke kota yg lebih besar dan lebih aman, Malakal dan menyewa rumah didekat Sungai Nil. Mereka bersahabat dgn keluarga Arab, tetangga mereka, dan anak2 mereka sering bermain bersama2.

Suatu hari, salah seorang lelaki tetangga mengatkan bahwa ia akan ke Sudan Utara dgn kapal uap dan meminta Deng, yg berusia 9 thn itu utk membantu dgn kopor2nya. Setelah semua kopornya dimuat ke kapal, orang itu meminta Deng utk menjaga kopor2nya, karena si lelaki itu harus cepat2 beli sesuatu di pasar.

Deng menunggui kopor2 orang itu dgn setia. Tetapi setelah beberapa saat, kapal itu tiba2 meninggalkan pelabuhan dan orang itu tidak kunjung tiba juga. Deng ketakutan dan mulai menangis. Beberapa menit kemudian—saat kapal di laut lepas—si pemilik kopor tiba2 muncul dan mencoba menenangkan Deng.

“Jangan nangis … susah utk menghentikan kapal ini,” katanya. “Nanti kita turun di tujuan akhir di Utara dan mengambil kapal utk mengantarmu kembali ke Selatan,” begitu janjinya.

Ternyata ia dibohongi ! Ketika kapal melabuh di Kusti, Deng melihat bahwa tiga 3 anak2 lain juga diculik oleh orang ini. “Ia membawa kami ke desanya dan saat kita tiba, semua orang bahagia bahwa ia datang dari selatan dan MEMBAWA BUDAK !” kata Deng.

Deng dan ketiga anak2 lain itu bingung dan tidak mengerti apa gerangan yg terjadi. Ia diberikan ke salah satu keluarga si lelaki itu sbg hadiah. “Sejak saat itu, saya tidak lagi melihat lelaki itu dan inilah permulaan mimpi buruk saya.”

Setelah penculiknya menghilang, keluarganya itu mencoba menjelaskan realitas baru ini dan Deng pun mulai menangis. Siapa sih mau jadi budak ? Utk menghentikan tangisannya, ia dipukuli secara bertubi2. Lalu mereka menunjukkan foto orang tanpa kaki, utk memperingatkan saya apa yg akan terjadi kalau suatu saat saya mencoba melarikan diri. Mereka akan menangkap saya dan memotong kaki2 saya, persis spt orang di foto itu.

Ancaman, pukulan dan terror menjadi senjata intimidasi. “Jika mereka memanggil saya dan tidak mengatakan ‘YA’ dgn keras, saya dipukuli,” kata Deng. “Saya harus mengatakan YA kpd semuanya; saya lupa bgm mengatakan ‘tidak.’”

Salah satu kewajibannya adalah mengambil air dari Sungai Nil. “Saya melakukan pekerjaan yg biasanya dilakukan seekor keledai. Saya adalah orang yg pertama bangun, dan terakhir tidur.”

Ia tidak diijinkan makan dgn keluarga itu.. ia harus tunggu sampai mereka selesai, dan kalau ada sisa2 makanan, ia bisa makan. Itulah santapannya setiap hari. Kalau tidak ada sisa, ia tidak makan.

Saya sampai makan rumput yg mereka berikan kpd ternak mereka. Saya diperlakukan lebih buruk dari ternak,” Deng mengingat. “Saya harus membersihkan kandang ternak dan karena saya tidak diberi kamar tidur, saya harus tidur di kandang ternak.”

Selain perlakuan keji ini, pemiliknya mengatakan, “KALAU KAU INGIN DIPERLAKUKAN SBG MANUSIA, KAU HARUS MASUK ISLAM DAN GANTI NAMA ke NAMA ARAB. Baru kau akan jadi putera kami.”

Ia takut mengatakan tidak. “Saya mencoba menunda dan mencuri2 waktu,” katanya. Masuk agama mereka benar2 membuatnya ngeri. “Utk apa saya mau jadi Muslim dan menjadi putera mereka kalau saya masih punya ibu yg manis dan ayah dan kakak2 dan adik2 ?” ia bertanya pada diri sendiri.

Selama TIGA tahun ia diperbudak dan keluarga barunya ini pindah ke kota lebih besar di Kusti agar putera2 mereka bisa masuk SMA. Suatu hari di pasar, Deng melihat 3 orang yg ia kenali berasal dari suku dan desa asalnya di selatan : suku Shilluk.

Pendek kata, ketiga orang Shilluk itu tidak percaya ia benar2 diperbudak dan berjanji kembali keesokan harinya utk kembali. Dan memang betul, keesokan harinya mereka kembali, membawa orang keempat bernama Ajack ; TEMAN AYAH DENG ! Mereka kegirangan dan menangis. “Kami semua menyangka kau mati,” katanya. “Ayahmu menawarkan 10 kerbau sbg hadiah bagi setiap orang y gbisa menemukan dirimu. Setelah 2 tahun kami asumsi kau sudah mati.”

Mereka memang harus berhati2, karena kalau ketahuan si pemilik budak, Deng akan dibawa ke tempat dimana mereka tidak lagi bisa menemukannya. Si Ajack, kemudian menyelundupkan Deng ke perahu, dimana ia bereuni kembali dgn keluarganya.

“Kita semua menangis bahagia. Ketika pertama kami saya melihat adik2 dan kakak2 saya, persis bagaikan shock,” katanya. “Ini spt mukjizat.”

Pada masa remajanya, Deng menjadi juara renang nasional dan bekerja di Parlemen Sudan, Kemudian ia imigrasi ke AS, dimana ia mulai bekerja sbg penjaga pantai di Coney Island. Bulan Maret 2006, ia memulai the Sudan Freedom Walk sbg cara utk mempublikasikan ketidakadilan yg berlanjut di Sudan. Pd Freedom Walk ini, ia melancong 300 mil dari markas PBB di New York ke Gedung Capitol di Washington D.C., dan mengadakan pertemuan khusus dgn President Bush di Gedung Putih.

“Thn 1983, JIHAD dinyatakan di Sudan Selatan melawan siapa saja yg tidak mau tunduk pada Hukum Islam,” kata Deng. “Dua juta orang Sudan Selatan DIBANTAI dan 7 juta orang menjadi pengungsi,” katanya, yg menciptakan krisis humaniter yg belum pernah terjadi.

Deng menuding press Barat karena tidak meliput krisis lebih dini. “KARENA ARAB MEMBANTAI KAFIR ATAS NAMA ISLAM, TIDAK ADA YG BERANI BUKA SUARA,” kecam Deng. “Missi mereka adalah merajah ternak, bunuh wanita dan lelaki, baker desa2 dan ambil anak2 kecil utk dijadikan budak. Bahkan sesama Kristen tidak mau membicarakannya. Orang takut dituduh anti-Islam atau anti-Arab.”
Kami dibantai karena kami Kristen,” katanya.

Walau perjanjian damai sudah ditandatangani antara Sudan Selatan dan Utara pada bulan January 2005, perang masih juga berlangsung di kawasan Darfur, dimana militia2 Arab yg bersekutu dgn bagian utara melakukan ETHNIC CLEANSING.

“Sampai sekarangpun ini masih berlangsung,” kata Deng. “MEREKA INGIN AGAR SEMUA ORANG MENJADI MUSLIM,” katanya.. “Sbg manusia, kami tidak bisa bungkam kalau kejahatan berlangsung didepan mata kami. Bgm saya bisa hidup menikmati kebebasan dan tidur setiap malam dgn aman saat desa2 kami masih juga dibakar, wanita2 masih juga diperkosa dan anak2 diperbudak ?”

————————————–
Mark Ellis is a Senior Correspondent for ASSIST News Service. He is also an associate pastor in Laguna Beach, CA. Contact Ellis at markellis4@cox.net
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … sc&start=0

Image
Image

Image

Image

Image
SUDAN: 232 Budak dibebaskan dari tangan Islam, selengkapnya dibawah ini
http://www.jihadwatch.org/archives/026346.php#respond
http://news.prnewswire.com/DisplayRelea … 765&EDATE=

Read More

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: