Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Safiyah, Juwariyah & Rayhanah, POW2 Muhamad

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=12521

( 8 ) Juwairiah Bint. Al-Harith:
Dia adalah seorang Yahudi. Dia adalah tawanan perang yang merupakan rampasan dalam perang melawan Banu Mustaliq. Ayahnya adalah pemimpin Banu Mustaliq. Juwariyah pertama kali adalah tawanan perang yang diambil oleh Thabit Ibn Qais. Dia adalah wanita yang sangat cantik luar biasa. Beberapa mengklaim bahwa Muhammad membelinya dari Thabit Ibn Qais. Muhammad menikahi Juwariah pd tahun 627 A.D. pada saat ia berusia 58 tahun dan Juwariyah 20 tahun. Pernikahan ini terjadi setelah pernikahan Muhammad dengan Zainab Bint Jahsh. Juwariyah hidup bersama Muhammad selama 6 tahun. Dia masih hidup 39 tahun setelah kematian Muhammad.

(9) Safiyah Bint Huyay:
Dia adalah seorang Yahudi. Dan merupakan seorang tawanan perang wanita diambil pada saat pembunuhan masal di Khaybar. Pada peperangan tersebut, dia kehilangan ayah, suami yang baru saja dinikahinya dan beberapa keluarga dekat yang lain. Safiyah pertama kali dimiliki oleh muslim yang bernama Dahia. Namun, ketika Muhammad melihat kecantikannya saat itu juga Muhammad membelinya dari Dahia dan menikahinya. Safiyah sangat terkejut ketika dibawa kepada Muhammad. Saudara sepupu perempuan Safiyah turut dengannya namun Muhammad tak tertarik padanya karena dia tidak cantik. Safiyah tak memiliki pilihan lain kecuali menikahi Muhammad untuk menyelamatkan hidupnya. Saat itu ia berusia 17 tahun dan ‘menikahi’ Kakek Muhammad yang telah berumur 60 tahun. Dia tinggal bersama Muhammad selama 4 tahun. Dia berusia 21 tahun ketika Muhammad, nabi Islam itu meninggal. Dia hidup menjanda selama 39 tahun dalam hidupnya dan meninggal saat berusia 60 tahun.

(13) Rayhana: Dia bukanlah istri nyata bagi Muhammad. Dia adalah seorang wanita rampasan perang. Dia adalah seorang Yahudi yang cantik jelita, dan karena itu Muhammad melamarnya. Namun dia menolak untuk masuk Islam walau akhirnya sbg POW tidak mungkin menolak ketika dilamar Muhammad.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=31

JUWARIYAH
oleh ALI SINA

Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan dan perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan Muhamad, sang pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.

Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum
mempunyai kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-Mustaliq.

BUKHARI, biografer Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis;
Diriwayahkan Ibn Aun:

“Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu.”

Volume 3, Book 46, Number 717:

Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomorr 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhamad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun mereka sama sekali tidak tertarik pada agama bawaan Muhamad itu. Akibatnya, ia tidak pernah memaafkan mereka karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil pemujaan dewa. Muhamad dalam kemarahannya mengatakan bahwa Allah akan mengutuk Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolakNya (Q. 5:60 dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk mencari pengikut.

Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab Medinah yang miskin dan bodoh –yang bekerja di kebun anggur milik kaum Yahudi– dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigran dari Yaman, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun. Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada perbudakan untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Allah. Muhamad telah mendapatkan agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan perang. Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:

Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing.
Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.
Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tembusan uang.
Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. “Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini.

HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya.”

www.trueteaching.com

Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia ”mempunyai budi pekerti agung(Q 68:4)”, dan ”contoh sempurna untuk diikuti (insan ul kamil) (Q 33:21).”

Pertanyaannya adalah, benarkah ini?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?
Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, inikah prilaku Nabi Tuhan? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah ”rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMATUL ALAMIN alias Rahmat bagi seluruh alam semesta ????

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmat Alam Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA ?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.

Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dengan campuran isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, ”anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?” lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata, ”Ini suatu penghinaan!.”

Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, ”Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah”

Ibn-i-S’ad dalam ‘Tabaqat‘, menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.

Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, ”Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwariah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat kesenangan dari istrinya yang lain. Namun Muhamad adalah orang tua licik. Dengan menyindirnya ”berat sebelah dalam timbangan”, ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari nafsu sex Muhamad.
SAFIYAH

Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai bagiannya dalam harta rampasan.

Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya. http://www.prophetmuhammed.org/
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah dicari dalam hadis).

Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu ‘I-Nadir. Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi’, pria yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang menceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana mereka berdua bermalam.

Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang wanita ini denganmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang ingin menyetubuhinya.

Sikap nabi Allah yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahinya untuk satu hari saja dan tidak mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.

Sejarawan muslimpun mencatat bahwa perkawinan terjadi satu hari setelah Muhamad menyetubuhinya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena Allah telah mengeluarkan ayat yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa perkawinan, meskipun mereka telah menikah. dan semua wanita yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki…(Q. 4:24)

Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi mengganggap bahwa budak tidak mempunyai hak se-cuilpun. Bayangkan dirimu sbg seorang wanita yang telah menikah dan bahagia, namun begitu Muhamad dan para pengikutnya menyerang kotamu, kamu akan kehilangan semua hakmu, sementara suamimu dibunuh atau diperbudak dan anda dihadiahkan kpd Mujahidin yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho Allah.

Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.

Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata,”Safiyah, ayahmu selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukumnya.” Dan Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena kesalahan orang lain?”
“Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa lainnya” Q. 53:38)

Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhanlah yang membantai kaum Yahudi dalam PD II.

“Nabi kemudian memberikannya pilihan utk bergabung kembali dgn rakyatnya setelah bebas atau menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dgnnya.

(Tabaqat)
(Kita harus ingat bahwa Muhamad membantai kebanyakan rakyatnya dan sisanya diusir dari tanah air mereka. Jadi, PILIHAN MACAM APA yg diberikan kpd Safiyah ????)

“Ia sangat pandai dan lembut dan mengatakan, “Ya rasulullah, saya sudah menanti Islam dan saya sudah mengharapkan (kedatangan) anda, sebelum datangnya undangan anda ini. Kini dgn kehormatan berada dihadapan anda, saya diberikan pilihan antara kafir dan Islam dan saya bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan rasulNya lebih dicintai saya daripada kebebasan saya sendiri ataupun bergabung dgn rakyat saya sendiri.”

 

(Tabaqat).

 

Apakah pengakuan ini memang jujur ? Apakah ia bebas mengucapkan apa yg ada dlm benaknya ? Ingat bahwa wanita itu DIPERBUDAK oleh lelaki yg MEMBANTAI seluruh keluarganya dan dgn mudah menghabisi jiwanya pula. Jelas ia tidak punya ‘kebebasan.’ Ini jelas menunjukkan bahwa ia tidak bebas. Atau, ia sangat lihai sampai berani berbohong demi menyelamatkan nyawanya.

 

Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhamad iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Jawabnya,”Ia adalah benar nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah : mereka harus menentangnya sekuat tenaga.

(Tabaqat)

Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua Yahudi yang mengenali Muhamad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT) kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA ? LOGISKAH INI ? Bukan hanya itu, DIMANA dalam Taurat disebut tentang Muhamad ? Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak mampu menemukannya?

Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.

(Tabaqat)

Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim ? Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, melainkan dibawa ke hadapan sang nabi karena dia paling muda dan paling cantik diantara tawanan lainnya.

Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran Khaibar dalam hadis.

Dinarasikan oleh ‘Abdul ‘Aziz:

Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan

(Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).

Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata,” Oh Nabi Allah! Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata, “Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata,” Oh nabi Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.” Maka nabi berkata,” Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan nabi berkata,“Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemdian nabi mengambil dan mengawini dia.

Thabit lalu bertanya pada Anas, “apa mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata” dirinya sendiri merupakan mahar yang harus dibayar ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.”

Sahih Bukhari 1.367

Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria pada saat pernikahan. Muhamad tidak membayar mahar kaerna ia harus membayarnya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorang nabi Tuhan.

Kisah macam diatas cukup membuat kita miris kalau terjadi pada jaman sekarang, namun lagi2 Muhamad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan menerima DUA imbalan:

Pertama, dengan menghindari mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja. Kedua, ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya.

Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhamad barangsiapa yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi 2 imbalan.
RAYHANAH

Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhamad menutup jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia memerintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka, termasuk istri dan anak2 mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah wanita tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhamad. Ia menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan untuk diperkosa penawannya, sang nabi besar Allah.

Read More

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: