Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

PAKISTAN: Penjualan budak anak2 Kristen

Postby   ali5196 » Fri May 26, 2006 12:56 am

www.barnabasfund.org
www.helppakistanchildren.org

25 May 2006
TERUNGKAP – PENJUALAN ANAK2 KRISTEN PAKISTAN SBG BUDAK MEMBIAYAI ISLAM MILITAN

Gul Khan, pemimpin organisasi kelompok Islam militan di Pakistan, membiayai aktivitasnya lewat penjualan anak2 Kristen kedalam perbudakan ! Anak2 berusia antara 6 dan 12, diculik dari rumah mereka dari desa2 terpencil Kristen di Punjab dan dikerangkeng dlm keadaan mengenaskan dan dijual seharga kira2 $1,700 sbg budak sex atau pembantu. Mereka disiksa secara fisik, dipukuli secara keras dan hanya diberi makan sehari sekali dan diperintahkan utk tidak berbicara, bermain atau berdoa.

Perdagangan ini dibongkar oleh 2 misionaris Kristen (Pakistan & AS) yg memiliki foto2 anak2 lelaki yg sedang dijual di sebuah pasar di Quetta, ibukota provinsi Baluchistan.

Para misionaris mengadakan rencana utk membebaskan mereka dgn berpura2 sbg businessman dari Lahore yg ingin membeli 2 budak lelaki. Bukan hanya mereka berhasil membeli 20 anak lelaki dan mengemablkaikan mereka ke rumah merkea, tetapi mereka juga merekam adegan Khan, sang penjual budak, menerima uang bagi 17 lelaki.

HUBUNGAN TERORIS

Khan adalah anggota senior Jamaat-ud Daawa (JUD), organisasi yg berhubungan dgn Al-Qaeda. AS menyatakan JUD sbg front bagi kelompok teroris Lashkar-i-Toiba yg dilarang di Pakistan dan Inggris. Tapi JUD populer di Pakistan karena memberikan perawatan kesehatan dan pendidikan gratis bagi penduduk miskin.

JUD dan Al-Qaeda bersama2 mencoba membunuh presiden Pakistan, Pervez Musharraf th 2003. Pemimpin JUD, Hafez Muhamed Sayeed dituduh mencetuskan huru hara di Pakistan sehubungan dgn penerbitan kartun Denmark ttg Muhamad.

Walaupun bukti terhdp Khan sangat kuat, polisi menganggap kelommpok2 spt JUD terlalu berat utk ditangani. Sejauh ini tidak pernah dilakukan penyelidikan.

“Terungkapnya perbudakan anak2 Kristen utk membiayai terorisme Islam memang manifestasi ekstrim terhdp diskriminasi dan opresi terhdp Kristen di Pakistan,” kata Dr Patrick Sookhdeo, direktur internasional the Barnabas Fund. “Ajaran murni Islam ttg pemberian status warga kelas dua kpd non-Muslim (yg disebut DHIMMI) menciptakan warga Muslim memusuhi warga minoritas Krsiten yg menjadi obyek diskriminasi sehari2, ketidakadilan dan penghinaan. Situasi ini diperuncing oleh masalah kasta dan kemiskinan.

Saya berharap polisi akan berupaya memeriksa kasus ini tetap spt biasanya, polisi sendiri merasa di-intimidasi oleh gerakan Islamis di Pakistan.”

Dr Sookhdeo is the author of a historical study entitled “A People Betrayed: The Impact of Islamization on the Christian Community in Pakistan”. For details of how to purchase this book, please contact
sales@barnabasbooks.org
http://www.helppakistanchildren.org/story.htm

Cerita lengkapnya telah diterjemahkan oleh curious dibawah ini. Thanks curious ! i am doing this one.
http://www.helppakistanchildren.org/story.htm

The Story

Ketika melakukan research untuk kunjungan saya yang kedua kalinya ke Paskitan, saya menemukan sebuah artikel di internet yang merupakan cerita dari sumber pertamanya tentang pelelangan budak di Jamrud, sebuah kota di propinsi perbatasan barat laut Pakistan. Artikel itu mengungkapkan tetek-bengek perdagangan budak dan menjelaskan dengan detil-detil mengerikan tentang penjualan seorang gadis muda dari Afghanistan, yang berdiri telanjang di depan segerombolan laki-laki, yang nantinya akan dikirim ke harem di Timur Tengah atau tempat pelacuran di Karachi. Baca artikelnya di sini ( http://www.ipoaa.com/pakistan_slave_trade.htm )

Ketika aku telah tiba di Jamrud awal tahun ini, aku membahas artikel yang memiriskan hati itu dengan perwakilan Pakistan kami, Amir, dan bertanya padanya apa mungkin kami bisa membeli beberapa anak yang sudah dinasibkan untuk dilelang dan mengembalikan mereka kembali kepada keluarga mereka. Dia menjawab akan berusaha sebaik mungkin, asalkan aku memang bersungguh-sungguh. Aku bilang iya. Aku tidak tahu betapa seriusnya dia tentang ide itu, dan sejauh mana aku akan terlibat.

Beberapa minggu kemudian, Amir mengirim e-mail yang menceritakan bagaimana dia telah menyelupi jaringan perbudakan. Dengan menggunakan identitas palsu dan berpura-pura sebagai seorang businessman yang ingin mendapatkan anak laki-laki untuk jaringan pengemisnya, dia bertemu dengan para penjual budak dekat Quetta di provinsi Baluchistan, tidak jauh dari perbatasan Afghanistan. Mereka menunjukkan foto-foto inventory (stok) mereka – dua puluh anak laki-laki yang mereka culik dari rumah-rumah Kristen. Hati nurani Muslim-muslim init tidak membolehkan mereka menculik anak-anak Muslim, hanya anak-anak kafir. Dia memberitahu aku bahwa dia telah memilih tiga anak laki-laki, yang menurutnya adalah keputusan yang sangat sukar dibuat. Dia tahu bahwa para penjual bbudak bisanya menjual anak-anak kepada orang-orang yang membeli mereka untuk menggunakan bagian tubuh mereka, untuk pelacuran dan untuk penyelundup narkoba yang akan menanamkan narkoba di badan mereka dengan operasi supaya tidak dapat dilacak di perbatasan. Mereka juga memjual anak-anak yang lebih kecil kepada orang Arab yang menggunakan mereka sebagai pengendara onta. Di akhir e-mailnya, dia memberitahu harga yang telah ditawarnya — $5,000. Ini sudah sangat murah, katanya, karena satu ginjal berharga $1,700 di pasaran gelap. Penjual budak mengaku biasanya menjual anak-anak seharga $3,000 per orang. Sepertinya kami telah menerima potongan harga karena membeli banyak.

Amir memberitahu aku bahwa penjual budak telah mengungkapkan bahwa mereka ada hubungannya dengan satu organisasi Islam bernama “Jamet-al-Dawa” yang aku tidak pernah dengar sebelumnya. Dia memberi aku alamat situs mereka ( http://www.jamatuddawa.org/English2/index.htm ). Mereka mengaku sebagai Muslim yang murni yang melakukan pekerjaan kemanusiaan dan berjuang untuk membangun Islam murni. Mereka melawan terorrisme, kata mereka.

Amir telah berjanji kepada penjual-penjual budak itu akan membayar dalam 60 hari, yaitu waktu aku akan kembali berada di Pakistan. Jadi transaksinya sudah terencana.

Tentu saja aku bergulat dengan etika rencana Amir itu. Aku tahu membeli tiga anak kecil akan menyelamatkan tiga nyawa, tapi itu juga akan menyuburkan sistem perbudakan. Uang muka untuk ketiga anak itu telah dibayar. Mestikan aku mengirim surat kepada Amir untuk mengundurkan diri?

Aku memutuskan untuk meneruskan rencana kami untuk menyelamatkan ketiga anak laki-laki itu.

Amir dan aku membahas beberapa rencana untuk mengadili para penjual budak. Aku segera tahu dari diskusi kami itu bahwa keadilan tidak gampang diperoleh di Pakistan. Polisi dan hakim-hakim biasanya menerima korupsi. Kami perlu punya “bukti konkrit” untuk mengadili penjual budak. Kami perlu buktinya dalam bentuk film.

Kami memutuskan untuk memasang kamera wireless yang tersembunyi pada tubuh Amir supaya dia bisa merekam pertemuannya dengan penjual budak. Jika Amir bisa mereka buka kartu tentang business mereka dan menunjukkan sekali lagi album photo inventori mereka, bukti-bukti itu bisa dia bawah kepada pihak berwajib (semoga saja ada orang yang bisa dipercayai). Jadi aku beli satu kamera wireless murahan yang aku bawa ke Pakistan bulan berikutnya. Alat seperti itu bisa dibeli dengan mudah di internet dari perusahaan yang menjual peralatan mata-mata.

Kami berhasil mengumpulkan uang $5,000 dari teman-teman ministry kami, dan aku segera kembali ke Pakistan. Aku ajari Amir cara memakai kamera wireless itu. Tapi kami akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakannya, karena jarak penyiarannya terbatas. Receiver (alat penerima signal) harus di dalam 50 kaki dari kameranya untuk menangkap signal. Jadi receiver itu mesti berada di sekitar 50 feet dari Amir, yang akan susah dilakukan jika dia bertemu dengan penjual budak di beberapa lokasi.

Belakangan pada hari yang sama Amir menerima telepon yang memberitahu dia di mana dia dapat bertemu dengan para penjual budak. Ketika kembali dari pertemuan itu, dia melaporkan telah membayar mereka $5,000 dan mereka berjanji akan menelpon dia lagi besoknya untuk memberitahu dia di mana anak-anak itu dapat diambil. Hatiku hancur. Aku bilang kepada Amir, aku takut mereka akan membawa lari uang kami dan sekarang sedang mentertawakan kami. Dia menyuruhku untuk tidak khawatir, karena mereka orang-orang suku Pashtun, dan karena itu selalu jujur dalam menjalankan business mereka. Aku tidak begitu terhibur mendengarnya.

Amir juga punya berita menarik. Dia telah berhasil mendapatkan foto-foto 17 anak lelaki lainnya yang akan dijual. Aku tanya dia bagaimana caranya membujuk penjual budak untuk memberinya foto-foto itu. Dia bilang dia telah berjanji akan membeli mereka semua, dan telah memberi penjual budak uang muka sebanyak $2,500! Ini benar-benar berita baru bagiku, karena kami belum pernah mendiskusikan pembelian anak-anak lainnya. Tetapi ketika dia menunjukkan foto-foto ke 17 anak lainnya, hatiku setuju dengan apa yang telah dilakukannya. Ke 17 anak itu akan dijual kepada orang-orang yang akan mempergunakan mereka untuk tujuan yang barangkali akan mematikan mereka.

Sadar betapa banyaknya duit yang diperlukan untuk membeli 17 anak, aku bertanya pada Amir, “Darimana duitnya?” Jawabnya, “Tuhan akan memberi.” Aku bilang, “Maksudmu, Tuhan akan memberi melalui aku, kan?” Dia tertawa. Amir telah berjanji akan membeli ke 17 anak itu dalam dua bulan. Aku yakin saat itu juga bahwa kami harus melakukan segalanya yang kami bisa untuk menghentikan para penjual budak itu, karena kami akan menyelamatkan nyawa dua puluh anak laki-laki yang kemungkinan besar akan digantikan oleh dua puluh anak lainnya.

Benar juga, malam berikutnya ada telepon masuk. Amir lari keluar dari rumah tempat kami tinggal, dan kemudian kami pun bersama tiga anak kecil tidak bertelanjang kaki, kotor dan bau, berumur 6, 8 dan 9 tahun, yang takut setengah mati terhadap apa yang akan kami lakukan kepada mereka. Pada mulanya mereka tidak mau bicara, dan untuk membujuk mereka memberitahu nama mereka saja setengah mati. Akhirnya kami tahu mereka telah diculik antara 3 dan 6 bulan sebelumnya. Sejak itu, mereka ditempatkan di kamar yang panas dan tidak berjendela siang dan malam bersama 17 anak lainnya. Mereka hanya diizinkan keluar kamar untuk buang air di halaman, dijaga oleh dua orang lelaki yang sering bermain kartu. Mereka diberi makan sekali sehari dan sering dipukul tanpa alasan. Mereka dilarang berbicara satu dengan lainnya, dilarang berdoa, dan akan dipukul kalau berani melakukannya. Mereka tidur di lantai. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berbaring dalam kegelapan… selama berbulan-bulan.

Perlahan-lahan kami akhirnya bisa memenangkan hati anak-anak tersebut dengan senyuman, makanan enak, rangkulan dan mainan. Kami bawa mereka untuk tinggal di rumah Amir. Dalam beberapa hari saja mereka sudah kami kembalikan berkumpul dengan keluarga mereka lagi, tidak jauh dari Lahore, hanya sekitar 20 menit dari kantor pusat Jamat-al-Dawa. Aku menyaksikan saat-saat bahagia itu ketika harapan yang telah punah dihidupkan kembali. Aku lalu pulang kembali ke U.S., bersemangat untuk melaporkan keberhasilan kami dan berharap akan mampu mengumpulkan $28,500 – jumlah yang besar sekali bagi ministry kecil kami – untuk membeli ke 17 anak lainnya dalam waktu kurang dari dua bulan lagi.

Amir dan aku banyak berdiskusi tentang rencana untuk menghentikan penjual budak itu. Kami menyakinkan penyumbang-penyumbang proyek itu bahwa itulah rencana kami. Amir terus berhubungan dengan pihak kepolisian tertinggi di kotanya. Polisi bekerjasama dengan dia dan mereka telah membuat rencana untuk menangkap penjual budak itu setelah transaksi kami berikutnya, begitu ke 17 anak-anak itu selamat di tangan kami. Dlaam enam minggu menuju hari jual0beli, dua orang polisi berpangkat tinggi pergi ke Quetta bersama Amir dua kali, berpura-pura menjadi pengawal Amir, untuk bertemu dengan penjual-penjual budak itu.

Namun aku sedih mendengar bahwa para polisi takut bahwa walaupun mereka menangkap penjual-penjual budak itu, organisasi yang mempekerjakan mereka dapat menyuap untuk membayar kebebasan mereka. Lalu nyawa para polis dan keluarga mereka akan terancam bahaya. Mereka juga menghendaki bukti nyata dalam film, yang jika ditunjukkan kepada pihak media dan masyarakat, akan memaksa hakim-hakim untuk bersikap adil. Lalu para penjual budak akan dihukum gantung karena kejahatan mereka itu.

Karena masalah dengan keadilan di Pakistan ini, polisi lebih suka rencan untuk “tembak semua” (penjual budak) segera setelah transaksi terjadi, rencana yang aku tidak dapat aku setujui. Tapi masih aku beritahu Amir, jika penjual-penjual budak itu memulai perang senjati ketika polisi mencoba menangkap mereka, aku tidak akan menyesal mendengar mereka mati.

Untuk mengumpulkan bukti nyata yang tampaknya kami perlukan itu, kami membeli satu kamera lagi, tapi yang ini bukan wireless. Kamera itu dihubungkan dengan alat perekam video, dan keduanya disembunyikan pada badan Amir. Semuanya akan terekam dalam SD memory chip yang kecil.

Pada saat itulah aku dihubungi oleh……, seorang produser flim dari New York, yang telah mendengar apa yang akan kami lakukan dari seorang produser lainnya yang pernah bertemu dengar Amir ketika dia sedang melakukan tugas kemanusiaan di daerah gempa bumi di Pakistan. Dia telah menghubungi ……, seorang koresponden urusan luar negeri senior untuk Sunday Times di London, yang tertarik pada cerita kami. Setelah bersurat-suratan dengan keduanya, mereka memutuskan untuk pergi bersama kami ke Pakistan di bulan May. Tetapi pada akhirnya hanya………… yang dapat pergi, karena ada keluarga … yang sakit parah.

Aku tiba lagi di Pakistan di awal bulan May. Kali ini penjual budak setuju untuk membawa ke 17 anak laki-laki itu dari Quetta ke Provinsi Punjab di mana kami berada. Dengan begitu kami tidak perlu bersusah-susah dan mengeluarkan biaya pengangkutan mereka yang begitu jauh. Kami juga meminta transaksi langsung, jadi penjual budak akan pulang membawa uang dan Amir akan pulang membawa 17 anak laki-laki. Dengan begitu, polisi yang akan menyaksikan transaksi dapat menangkap penjual budak secepatnya. (Dan kami akan mendapatkan kembali uang $28,500 dengan segera.)

Kami juga memutuskan bahwas salah seorang body guard Amir akan mengenakan kamera. Dengan begitu, si body guard bisa berdiri cukup jauh untuk menangkap wajah-wajah orang yang terlibat dalam transaksi itu, bukan hanya foto-foto close up yang tidak berguna. Kami uji coba kameranya berkali kali untuk memastikan semuanya berfungsi dan memastikan Amir tahu cara penggunaannya.

Amir telah mendengar dalam pertemuan sebelumnya dengan para penjual budak bahwa mereka juga telah menculik 13 anak perempuan. Bahkan ada calon pembeli yang akan datang dari England, yang akan menggunakan mereka untuk menyelundupkan obat terlarang yang akan dimasukkan ke dalam badan mereka secara operasi. (Ini bisa berarti dia punya orang dalam di Kedutaan Besar Inggris di Pakistan, yang akan memberi visa bagi ke 13 anak-anak perempuan itu, dan “orang tua courier” mereka untuk pergi ke England dengan mereka.)

Kami sadar setelah cerita ini diterbitkan di Sunday Times (seminggu setelah kejadian), penjual-penjual budak mungkin sudah melakukan segalanya yang diperlukan untuk menghilangkan bukti-bukti kejahatan mereka, dan ketiga belas gadis-gadis itu akan lenyap untuk selamnya. Jika mereka akan diselamatkan, kami hanya punya sedikit kesempatan, jadi kami memutuskan akan menawarkan membeli mereka juga. Amir menelpon penjual budak dan memberi tawaran yang diterima mereka. Kami tahu setelah artikel the Times yang diterbitkan pada tanggal 21 May itu, mereka mungkin tidak akan berpikir untuk menambah inventori lagi, dan pembeli dari England itu mungkin akan berubah pikiran. Aku segera mengirim e-mail kepada konstituensi kami, mengabarkan kesempatan kami untuk membeli 13 anak perempuan tersebut, dan meminta bantuan keuangan. Dalam beberapa hari, kami mendapat uang yang kami perlukan, walaupun penjual budak sudah menaikkan harga menjadi $2,000 per orang.

Ketika penjual budak akhirnya menelpon kami untuk memberi tahu waktu dan tempat penjual belian ke 17 anak laki-laki itu, kami sedikit terkejut. Kami pikir transaksi akan terjadi malam hari, tetapi telepon mereka datang pada pukul 11 pagi. Waktu pertemuan ditetapkan pukul 2 sore di tempat yang 2 jam jauhnya dari tempat kami. Kami hanya punya waktu 1 jam sebelum Amin harus berangkat. Dia segera menghubungi pihak kepolisian yang lalu bergerak ke tempat pertemuan. Enam orang ditempatkan dengan telepon genggam dekat tempat pertemuan. Mereka menyamar menjadi pekerja-pekerja. Begitu transaksi terjadi dan anak-anak diserahkan kepada Amir, mereka akan menelpon polisi lainnya yang tidak begitu jauh, yang akan membuntuti penjual budak dan menangkap mereka.

Kami juga cepat-cepat merakit kamera satunya lagi untuk diuji terakhir kali. Tapi kamera itu tidak berfungsi. Aku panik, menekan tiap tombol dan mencoba mencari tahu bagian mana yang rusak. Setelah sepuluh menit, aku menyerah. Kamera yang tampaknya merupakan bagian terpenting dalam usaha kami ini, telah rusak. Tetapi tiba-tiba tanpa alasan kamera itu hidup lagi. Amir lalu pergi menuju ke pintu, mengingatkan aku pada janjiku untuk merawat keluarganya jika ia tidak kembali. Aku tahu jika penjualppenjual budak itu menemukan kamera di badan body guard Amir, Amir dan body guardnya akan ditembak mati. Karena itu, aku telah mencoba membujuknya untuk tidak mem-film traksaksi itu dan meninggalkan kamera. Tapi dia berkeras ini perlu sekali jika kami mau mendapatkan bukti yang diperlukan untuk mengadili para penjual budak.

Amir pergi sekitar tengah hari. Kami menunggu-nunggu dan memelototi jam. Kami berdoa, lalu memelototi jam lagi. Berjam-jam telah lewat. Kami pikir kami sudah pasti akan mendengar dari dia sekitar jam 4 sore, dua jam setelah transaksi. Tapi tidak ada telepon darinya. Dengan berlalunya jam, kami terus mencari alasan mengapa semua ini memakan lebih banyak waktu. Kami terus ngomong-ngomong dengan istri Amir supaya dia tidak terus berpikir tentang suaminya. Setelah jam delapan, aku berusaha keras untuk menyembunyikan keputusasaanku. Kami duduk diam di bawah panasnya atap rumah Amir. Aku membayangkan dia berbaring mati di pinggir jalan dengan satu lubang peluru di kepalanya. Aku benci diriku sendiri karena membiarkan dia berkeras mem-film transaksi itu. Dan aku diam-diam mengutuk korupsi di sistem peradilan di Pakistan yang membuat kamera itu sangat penting. Mengapa tidak cukup bagi polisi untuk menyaksikan transaksi itu dan menangkap penjual budak dengan uang kami? Kami terus menunggu. Akhirnya pada pukul 9 malam kami memutuskan untuk menelpon telepon genggam Amir. Tidak ada jawaban. Telepon nya dimatikan.
Akhirnya pada pukul 9.30 malam, Amir tiba-tiba muncul di atas tangga yang menuju ke atap rumahnya. Kami melonjat menyambutnya, tertegun, tetapi penuh rasa lega. Setelay peluk-memeluk dan mengucap halleluyah, kami duduk mendengarkan ceritanya.

Ketika dia sampai di tempat pertemuan di jalan terpencil, dia pun menunggu. Enam orang polisi telah berada di sana dan berpura-pura sebagai pekerja yang sedang bekerja di ladang. Tampaknya para penjual budak pun menjaga-jaga memastikan tidak ada jebakan.
Amir mengharapkan truk akan segera sampai dengan 17 anak laki-laki. Tetapi setelah satu jam masih juga belum muncul. Akhirnya seorang lelaki berjalan menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil, dan menyuruhnya mengikuti perintahnya. Lelaki itu mengarahkan dia sepanjang jalan terpencil itu, di mana jarang sekali terlihat ada mobil, dan dikelilingi ladang-ladang yang baru dipanen. Tidak mungkin polisi bisa mengikuti mereka tanpa diketahui. Jadi Amir harus bekerja sendiri.

Dia diperintahkan untuk berhenti di depan kantor polisi di sebuah dusun kecil. Lelaki yang memberi arah itu lalu keluar dan digantikan seorang lelaki lain. Dia lalu mengarahkan Amir lebih jauh lagi ke pedalaman, ke sebuah lapangan terpencil. Di sanalah para penjual budak sedang menunggu, kira-kira lima belas orang lelaki, semuanya bersenjata lengkap. Pemimpin para penjual budak itu, Gull Khan, duduk di sebuah bangku dan salah seorang pengikutnya memijat pundaknya dari belakang.

Karena tidak ada waktu untuk menjemput polisi yang sebelumnya berpura-pura sebagai body guardnya, Amir membawa seorang supir dan seorang lelaki muda berbaju kotor yang tampaknya tidak menakutkan, yang berpura-pura sebagai seseorang yang mungkin datang untuk membersihkan kaca jendela mobil atau mengganti ban. Amir telah memasang kamera di badannya, yang sekali lagi tidak berfungsi pada awalnya tetapi berfungsi lagi begitu diperlukan. Ketika menonton video dari kamera tersembunyi itu, kami melihat juru kamera itu telah melakukan perkerjaannya dengan bagus sekali, memfilm semua nya yang terjadi. Dia berdiri cukup dekat, sehingga suara-suara dapat terdengar jelas. Amir dan lelaki muda itu tidak diperiksa badannya sama sekali seperti dalam pertemuan sebelumnya, mungkin karena Amir memakai baju olahraga yang ketat, dan lelaki muda itu memakai baju kotor dan kelihatan tidak berbahaya.

Penjual-penjual budak itu tidak membawa ke 17 anak lelaki itu. Ketika Amir menanyakan hal ini pada Gull Khan, dia menjawab bahwa begitu uang diterima dan diperiksa dan terbukti bukan uang palsu, Amir akan ditelepon dalam dua jam untuk menjemput anak-anak itu. Sementara itu, dia akan menawan teman muda Amir itu sebagai sandera, dan mengancam jika uang Amir terbukti palsu, dia tidak akan pernah melihat temannya itu lagi.

Ajaibnya, dengan memerintahkan lelaki muda itu untuk membuka tempat bagasi mobilnya yang diparkir agak jauh, Amir berhasil mencabut kamera dari badan lelaki itu sebelum dia diseret pergi oleh pengikut Gull Khan. Begitu ia masuk ke dalam mobil Gull Khan, matanya ditutupi dan dia dibawa pergi untuk dikurung terkunci di satu kamar kosong selama satu hari. Dia tidak tahu ke mana dia dibawa pergi.

Lebih ajaib lagi, ketika senja berganti malam, Amir berhasil mengikuti mobil Gull Khan secara berhati-hati dari jarak jauh dan memfilm seluruh perjalanannya itu. Gull Khan menyetir mobilnya langsung ke kantor pusat Jamat-al-Dawa. Ini lagi bukti yang menghubungkan Gull Khan dengan J-A-D.

Dari kantar pusat J-A-D Amir menyetir pulang ke tempat kami menunggunya.

Transaksi tidak seperti yang kami rencanakan. Penjual budak belum ditangkap. Sekarang mereka telah dapat uang kami seharga $28,500 dan kami belum mendapatkan ke 17 anak laki-laki itu. Tapi kami senang Amir masih hidup dan kami telah memfilmkan kejadiannya.
Mungkin masih ada harapan penjual-penjual budak itu bisa dibasmi. Kami pun mulai meletakkan harapan kami pada……………….dari London Sunday Times, berharap artikelnya akan membuka kedok penjual budak dan J-A-D sehingga pemerintah Pakistan harus mengambil tindakan untuk menghentikan business keji mereka.

Malam berikutnya Amir menerima telepon dari Gull Khan yang berulang kali meminta maaf tidak menelponnya dalam dua jam seperti yang dijanjikan, dia bilang dia sibuk dengan business lainnya. Tapi dia memberi tahu Amir di mana ke 17 anak lelaki dan teman Amir akan diturunkan. Amir menyuruh beberapa temannya pergi menjemput mereka menggunakan van sewaan, dan kami pun pergi menjemput anak-anak itu pagi pagi sekali melalui perjalanan selama dua jam.

Ketika kami tiba, ketujuh belas anak-anak itu sedang tidur terbaring di lantai rumah yang sangat primitif. Beberapa di antara mereka terbangun ketika kami sampai, dan kami memberi tahu mereka secara singkat siapa kami dan apa yang akan kami lakukan dengan mereka. Aku pikir tidak ada satupun dari mereka yang percaya kepada kami, tetapi ini baru permulaan. Kami biarkan mereka tidur lagi, dan kami menyetir selama dua jam kembali ke tempat tinggal kami untuk tidur. Sebentar lagi tugas kami untuk mengembalikan mereka ke rumah mereka akan dimulai.

Dari anak-anak itu dan seorang sumber rahasia, Amir memastikan di mana kampung-kampung dan daerah di mana rumah ke 17 anak itu. Kami terkejut melihat lokasi mereka tersebar di antara provinsi Punjab dan Sindh, beberapa di antaranya bahkan lebih dari 20 jam bermobil. Jadi kami harus membawa mereka dalam kelompok-kelompok kecil ke daerah rumah mereka. Ini memerlukan waktu mengemudi yang lama, dan kami habiskan setiap menit dari empat hari yang tersisa di Pakistan untuk mengembalikan anak-anak itu ke rumah mereka. Kami menyaksikan banyak pertemuan bahagia dan memfilmkan banyak kejadian itu. Transaksi untuk membeli ke 13 anak perrempuan terjadi setelah kami pulang dan mereka pun dikembalikan pada keluarganya segera setelah itu.

Begitu masuk ke dalam pesawat meninggalkan Pakistan, aku ambil koran Daily Times Pakistan. Di dalamnya aku temukan satu artikel pendek berjudul, “Minorities march in support of banned charities.” (Minoritas berparade mendukung badan-badan amal terlarang.” Menurut artikel itu:

HYDERABAD: Beratus-ratus orang Hindu dan Kristen berparade hari Senin untuk menukung dua badan amal Islam yang dicap “organisasi terroris” oleh Amerika Serikat. Departemen Negara AS mengatakan bulan ini bahwa Jamaatud-Dawa dan Idara Khidmat-e-Khalq yang berhubungan dengannya adalah topeng dari Lashkar e-Taiba, salah satu grup militer paling ditakuti yang berperang melawan pemerintahan India di Kashmir. Dengan membawa plakat dan umbul-umbul, sekitar 800 orang Hindu dan Kristen dari berbagai daerah di Sindh berparade di jalan-jalan di Hyderabad, mengecam keputusan AS itu sebagai “kejam”. “Menolong umat manusia bukanlah terrorism,” kata salah satu plakat. Protester juga meminta Pakistan untuk tidak mengikuti keputusan AS. “Jika pemerintah Pakistan mengambil tindakan terhadap Jamaatud-Dawa dan Idara-e-Khidmat-e-Khalq, masyarakat minoritas akan terpaksa berparade menuju Islamabad,” kata resolusi itu. Jamaatud-Dawa telah tampil jelas memberi bantuan di daerah gempa bumi di utara Pakistan. Badan amal itu juga terlibat dalam kegiatan amal di daerah perkampungan di Sidh di mana sebagian besar dari masyarakat Hindu yang kecil di Pakistan hidup. Pakistan melarang Lashkar-e-Taiba pada tahun 2002 dan memasukkan Jamaat-ud-Dawa dalam daftar organisasi teroris. REUTERS

Aku bertanya dalam hati apa yang akan para protester itu pikir jika mereka tahu kami baru saja mengembalikan anak-anak yang diculik oleh Jamat-al-Dawa dari kampung-kampung di daerah mereka sendiri di Pakistan. Aku bertanya dalam hati apa yang orang Kirsten yang ikut parade itu akan pikir jika mereka tahu bantuan kemanusiaan yang mereka terima dari Jamat-al-Dawa itu berasal dari dana hasil penculikan dan penjualan anak-anak Kristen, dari daerah mereka sendiri di Pakistan, untuk penjualan organ-organ tubuh mereka.

Setelah semua anak-anak dipertemukan kembali dengan keluarga mereka, Amir dan keluarganya melarikan diri dari Pakistan demi keselamatan mereka sendiri. Kami sekarang memonitor media massa selagi berita tentang apa yang terjadi menyebar ke seluruh dunia, dan kami akan meng-update website ini dengan perkembangan baru. Doa kami adalah supaya pendapat masyarakat akan memperkuat pihak yang berwenang di Pakistan untuk menutup Jamat-al-Dawa selama-lamanya dan mengadilli pihak yang bertanggung jawab.

Berpikir bahwa Departemen Negara AS atau Departemen Kehakiman AS mungkin mau tahu apa yang telah kami ketahui tentang Jamat-al-Dawa, aku mengirim e-mail berikut ini melalui website-website mereka sehari setelah sampai di rumah:

Hello. Saya seorang misionaris yang telah berkerja di Pakistan. Selama beberapa bulan terakhir ini, kami telah bekerja untuk membeli anak-anak Kristen yang diculik oleh penjual budak Muslim untuk dijual organ-organ tubuh mereka dan untuk penyelundup obat terlarang. Setelah dibeli, mereka kami kembalikan kepada keluarga mereka. Kami juga telah bekerja sama dengan pihak yang berwenang di Pakistan untuk menangkap penjual budak secara langsung setelah transaksi terakhir kami, yang melibatkan pembelian 17 anak-anak lelaki. Namun polisi tidak berhasil menangkap penjual budak selama transaksi terakhir itu karena alasan-alasan yang diluar pengaruh mereka. Kami juga telah tahu dari pengakuan penjual-penjual budak tersebut bahwa mereka berkaitan dengan organisasi Islam bernama Jamat-al-Dawa, dan kami telah berhasil mem-film mereka kembali dari transaksi terakhir kami langsung ke kantor pusat J-A-D, tidak begitu jauh dari Lahore. The London Sunday Times telah mengikuti cerita kami ini dan akan menerbitkannya Minggu ini untuk mengungkapkan J-A-D. Saya tidak tahu apakah pemerintah AS akan tertarik untuk tahu semua hal ini sebelum penerbitan, tapi saya pikir mungkin akan tertarik, karena saya tahu pemerintah telah mencap J-A-D sebagai organisasi teroris. Akan sangat bagus jika J-A-D ditutup, dan informasi tentang keterlibatan mereka dalam penculikan anak-anak Kristen untuk dijual akan mencemarkan image mereka sebagai badan kemanusiaan di Pakistan. Saya tidak tahu jika ini menarik bagi anda, tapi saya pikir setidaknya saya mesti mencoba memberi tahu anda. Jika anda ingin bicara dengan saya lebih jauh, saya bisa dihubungi pada nomor (…)………….. Jika tidak, maaf telah mengganggu anda. Salam……..

Hingga tanggal 28 May belum ada balasan dari keduanya. Saya yakin mereka punya banyak hal yang menyibukkan mereka.

Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan konsep pembelian anak-anak dari penjual budak, karena hanya akan menyuburkan sistem keji itu. Saya tidak bisa membantah, karena itulah kami tahu kami harus bertindak lebih jauh daripada hanya membeli anak-anak. Kami harus melakukan apa saja yang kami mampu untuk menghentikan penjual-penjual budak itu, karena itulah kami bekerja keras dengan polisi Pakistan untuk mencoba menangkap mereka. Sayangnya polisi gagal, tapi bukan karena tidak cukup perencanaan atau tidak cukup keberanian mereka. Sekarang kami berharap untuk bekerja dengan pihak berwenang di Pakistan untuk mengadili penjual budak dan Jamat-al-Dawa. Doa kami supaya melalui media masa, akan ada protes di seluruh Pakistan dan seluruh dunia yang akan membawa hasil yang bagus.

Kami akan terus melibatkan diri dalam ministri di Pakistan yang berguna bagi anak-anak tidak mampu, pastor-pastor Kristen, orang-orang teraniaya, dan orang-orang yang sangat miskin. Karena alasan keselamatan kami, kami tidak dapat mengungkapkan detail-detail secara jelas. Tapi jika anda mau tahu lebih lanjut bagaimana anda dapat membantu, e-mail kami di info@HelpPakistanChildren.org. Terima kasih.

Read More

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: