Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

DEBAT: A SINA vs MUHAMAD "RASULULLAH"

by ali5196 » Thu Sep 15, 2005 4:07 pm
Posted: Fri Jul 29, 2005 5:42 pm
Post subject:
http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad.htm
Ali Sina vs Muhamad “Rasulallah”
Image

UMAT MANUSIA VS MUHAMAD BIN ABDULLAH
Diterjemahkan bersama2 dengan CHESSMANIAC

Terdiri dari:
PEMBUKAAN/PREAMBLE
Bagian I Pembunuhan
Bagian II Agama & Moralitas
Bagian III Perkosaan 1
Bagian IV Perkosaan 2
Bagian V Perkosaan 3
Bagian VI Pedophil
Bagian VII Tidak santun & tidak bermoral
Bagian VIII Membenci wanita

———————————————————————————–
Inilah sidang pengadilan yang telah lama tertunda mengenai Islam dan dihadiri oleh :

Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdallah
Diwakili oleh : Pembela, Raheel Shahzad

Pendakwa : Umat Manusia (dari pihak non-Muslim)
diwakili oleh : Jaksa Penuntut, Ali Sina

Sidang pengadilan : Opini masyarakat umum

Jury/Hakim : Anda sekalian, pembaca FFI.

————————————————————————————

PEMBUKAAN/PREAMBLE
DARI RAHEEL SHAHZAD,
15 November 2003

Yth Mr Sina,
Secara kebetulan saya menemukan alamat website anda kurang lebih 2 bulan yang lalu. Saya sudah membaca sebagian besar artikel di website anda. Dan saya mengakui kagum dengan kemampuan intelektual anda.

Singkat cerita mengenai saya: Saya berumur 33 tahun, keturunan Pakistan, tinggal di USA selama kurang lebih 12 tahun. Sebelumnya, saya tinggal di Timur Tengah selama 20 tahun dan dilahirkan di Karachi, kistan. Dua tiga bulan terakhir, saya mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih detail tentang masalah keimanan. Saya menganggap diri saya muslim karena orang tua saya muslim. Saya lulus gelar Masters Degree in Bussiness dan memiliki usaha sendiri. Saya sudah menikah selama 6 tahun dan belum mempunyai anak.

Dua alasan email saya:
1 Untuk memastikan apakah anda sungguh-sungguh dalam menerima jawaban yang berlawanan dengan pandangan anda;
2 Untuk berdebat secara intelek.

Saya mengerti tema umum dalam tulisan anda yang pada dasarnya mengenai :
a) Kenyataan sejarah Islam yang ternodai (berisi kesalahan).
b) Pembela Islam takut memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
c) Islam merupakan ideologi penuh kekerasan yang berdasarkan kenyataan iman pada jaman Muhamad.
d) Penguasa/pemerintahan Islam penuh korupsi karena ideologi mereka yang salah.
e) Nabi Muhammad tidak patut dijadikan pendoman karena moralnya jauh dari apa yang diharapkan, hal yang diketahui secara luas oleh para kalangan akademis.
f) Allah (atau Tuhan) hanya imajinasi yang dibuat-buat dan
g) Muslim pada umumnya sudah dijejali kebencian terhadap agama lain berdasarkan ajaran yang salah oleh kalangan akademik islam.

Tujuan saya untuk melakukan debat adalah untuk menghasilkan 3 hal :

A) Untuk membuktikan bahwa pendapat anda tidak berdasarkan nilai intelek.

B) Bukti-bukti yang disampaikan mungkin benar adanya dan mungkin juga agak kabur namun seorang muslim moderat bisa mengerti dan menanggapi dengan semangat yang sama.

C) Memberikan anda kesempatan untuk mempertimbangkan kembali pendapat anda baik yang secara sengaja atau tidak.

Mungkin, setelah berdebat, anda bisa mempertimbangkan kembali keyakinan anda, malah mungkin anda bisa menyalurkan frustasi anda secara lebih berarti mengenai hal iman. Anda tidak perlu menghilangkan website anda.

Saya berharap ini akan merupakan debat yang bermanfaat berdasarkan saling menghormati kemampuan masing-masing untuk menjelaskan apa yang kita sebut dengan “agama”. Karena kita bicara tentang ISLAM secara spesifik, ini yang akan menjadi fokus debat.

Dengan hormat,
R. Shahzad
————————————————————————————-

15 November 2003
DARI ALI SINA

Yth Mr. Shahzad,

Saya sangat sibuk untuk berdebat dengan orang satu persatu. Sebenarnya saya menciptakan forum ini untuk meringankan beban saya. Walaupun demikian, saya menerima tantangan anda. Saya akan terbitkan debat kita ini di bagian debat pada website saya sehingga setiap orang dapat membacanya.

Saya akan sangat berterimakasih jika setiap koresponden anda hanya membahas satu aspek yang anda ingin perdebatkan. Bahasan yang singkat akan mudah untuk dibaca kembali.

Anda mengatakan sudah mengenal tulisan saya. Nah, segera saja anda membantah tuduhan saya bahwa :

1) Islam adalah palsu,
2) dan Muhammad BUKAN rasulullah namun seorang yang terganggu secara mental dan seorang penipu.

Dalam debat ini, saya akan mengambil posisi jaksa dan anda mewakili klien anda, sang terdakwa, Muhamad.

Mari kita mulai dengan :
1) karakter Muhamad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.

Keberatan saya berikut mengenai pernyataan kerasulan Muhammad adalah :
2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh penulis sang Quran ?

Mari kita membahas satu masalah satu per satu.

BAGIAN I
Muhamad sebagai pembunuh (assassin).

Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.

Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.

http://www.answering-islam.org/Muhammad … uafak.html
http://www.answering-islam.org/Muhammad … /asma.html
http://www.faithfreedom.org/Articles/si … ations.htm
http://www.answering-islam.org/Muhammad … allam.html

Sampai jumpa,

Ali Sina.

END OF PREAMBLE
Posted: Fri Jul 29, 2005 6:10 pm Post subject:

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad1.htm

UMAT MANUSIA vs. MUHAMAD BIN ABDALAH
BAGIAN I, PEMBUNUHAN

Nov. 16, 2003

Terdakwa: Muhammad bin Abdallah
Pembela: Raheel Shahzad
Perkara: Umat Manusia (Dunia non-Muslim)
Jaksa: Ali Sina

Sidang pengadilan: Opini publik
Jury: Anda

————————————–
DARI RAHEEL SHAHZAD
Nov. 16, 2003
Yth A Sina,

Anda menulis:
1) karakter Muhammad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.

Nah, anda melemparkan tuduhan kepada seorang manusia. Ini penting diakui karena kita berdua harus menilai tindak manusia lewat kode moral kita. Jadi nampaknya fair kalau seorang manusia kena tuduhan, maka ia juga harus diukur dari kaca mata manusia. Tidak diragukan bahwa Muhamad seorang manusia. Ia lahir dan mati. Nah, hubungan ketuhanannya inilah yang menjadi pembahasan kita disini.

Mari kita lihat definisi Manusia (HUMAN) dari dictionary.com ;

Of, relating to, or characteristic of humans: the course of human events; the human race.
Having or showing those positive aspects of nature and character regarded as distinguishing humans from other animals: an act of human kindness.
Subject to or indicative of the weaknesses, imperfections, and fragility associated with humans: a mistake that shows he’s only human; human frailty.
Having the form of a human.
Made up of humans: formed a human bridge across the ice.

Mengapa penting membahas definisi manusia (human) disini ? Karena kami dapat mengerti seorang manusia lewat kode moral kita sekarang. Yang interesan adalah definisi ketiga : indicative of the weaknesses or imperfections and fragility. Atau bah Indo: menunjukkan kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan.

Anda menulis: … seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb

A) Cinta – Cinta macam apa yang anda maksudkan disini ? Apakah artinya berbeda dari masa ke masa atau konstan ? Apakah ini cinta bagi sesama manusia atau cinta bagi dunia akhirat ? Dan apakah cinta ini termasuk cinta bagi hal2 yagn disepakati manusia cinta atau bagi apa saja yang disukai manusia? Apakah mencakup sex? Dan jika seorang lelaki menyatakan jatuh cinta kepada isteri orang lain, apakah ini dapat diterima secara moral oleh jaman kita ini ?

B) Kejujuran – apakah kejujuran dituntut dalam segala keadaan atau apakah ada pengecualian ?

C) Sikap menahan diri – Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang ? Atau kedua2nya ?

Alasan pertanyaan saya diatas penting untuk menentukan degnan jelas apa hukum yang berlaku sehingga kami dapat menentukan apa yang dimaksud degnan pelanggaran hukum tersebut. Baru kita dapat menuntut sang terdakwa, baru kita dapat menentukan kesalahan terdakwa.
Namun jika hukum itu sendiri bisa diinterpretasi macam2 maka jury tidak akan pernah bisa menentukan kesalahan sang terdakwa, karena memang tidak ada hukumnya.

Contoh di Amerika, banyak undang2 dibatalkan atau diganti karena dianggap sudah tidak pantas atau terlalu kabur. Banyak orang dibebaskan tanpa tuduhan karena hukumnya sendiri tidak jelas. Jadi, tanpa menetapkan hukumnya, sulit menentukan pelanggarannya.

Anda menulis:
2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh penulis sang Quran ?

Nah sekarang kita menyentuh masalah intelektualitas dan pengetahuan. Keberatan anda didasarkan pada pendapat anda bahwa intelektualitas adalah syarat keTuhanan, bahwa manusia harus dapat mengerti keTuhanan dari perspektifnya dan ketuhanan harus dapat dijelaskan sejelas mungkin. Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.

Absurditas dan ketidakwajaran juga harus dijelaskan artinya dalam hubungan dengan intelektualitas. Masalahnya adalah, intelektualitas sendiri artinya relatif. Dan intelektualitas sulit diukur bagi orang yang berbeda pandangan. Contoh, saya pandai dalam hal komputer tetapi tidak mengerti apapun tentang masalah medical science.

Jadi saya rasa maksud anda dengan intelektualitas adalah “nalar”.
Nalar/Logika adalah persepsi yang eksklusif dimana 2 persepsi berbeda memiliki logika berbeda.

Contoh:
1) John dan Mary bepergian ke Bermuda naik perahu
2) Sebuah perahu tidak dapat bergerak kalau ada lebih dari satu orang didalamnya. Nah, terdapat kontradiksi dalam kedua pernyataan tadi karena bertentangan dengan logika. Sehingga kedua pernyataan tadi jika digunakan bersama2 adalah absurd.
Tidak mungkin menghubungkan 1 dan 2 seperti ditulis diatas, tanpa sang penulis menambahkan kalimat atau menggunakan asumsi. jadi berdasarkan diatas, kedua pernyataan menentang nalar jika digunakan bersama.

Jadi, keberatan anda ada dua:
a) Quran sebagai kumpulan kalimat adalah absurd karena menentang nalar dan
b) karena menentang nalar, sang penulis haruslah seorang manusia karena hanya manusia yang mampu menentang nalar. Maka Tuhan harus menuruti nalar setiap manusia, kalau tidak Ia sebaiknya tidak memiliki hak untuk mengatakan apa2.

Mengenai masalah kalimat2 dalam Quran saya akan membahasnya dalam bagian lain. Tetapi yang perlu ditetapkan sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pelanggaran intelektualitas dan seperti saya sebutkan pada mulanya, pelanggaran moralitas.

Anda menulis:
Muhammad sebagai pembunuh (assassin).
Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.

‘Assassin’, sejauh pengertian saya berasal dari kata “Hashishin” (sekelompok Muslim yang membunuh atas perintah para Sheikh pada abad 17 dan para sheikh memberikan mereka hashish dengan alasan tdiak jelas). Jadi definisi assassination dibuat belum lama ini :

Seseorang yang mengadakan pembunuhan dengan cara mengejutkan (surprise attack), khususnya mereka yang mengadakan rencana untuk membunuh orang penting.

Nah, definisi ini tidak menunjukkan apapun tentang baik buruknya orang yang dibunuh. Alasalan pembunuhan juga tidak disebut apakah guna menjaga keadilan atau lain2. Juga tidak disebutkan kesalahan sang korban (orang yang dibunuh). Jadi, artinya secara singkat adalah pembunuhan. Atau pembunuhan dengan cara surprise. Apakah ini bisa dikatakan salah ? Salah menurut jamannya atau menurut jaman ini ?

Jadi, jika tentara Amerika memasuki rumah seseorang di Iraq dan membunuh penghuni rumah, terlepas dari kejahatan atau kebaikan yang dilakukan para penghuni, apakah para tentara AS itu akan disebut assassins?

Kalau iya, tetapi anda berpendapat bahwa mereka mencapai tujuan AS, maka mengapa orang lain yang juga berjuang untuk membela tujuan mereka disebut dengan assassins ? Jadi tergantung dari siapa yang menginterpretasi.

Dengan logika ini, Muhammad tidak dapat dituduh melakukan assassination karena ia mempunyai tujuan yang dengan jelas disebutkan, terlepas dari anda atau saya setuju dengan tujuannya itu apa tidak.

Anda menulis: Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.

Anda meminta saya menegaskan kesahihan sumber2 berita tersebut, yang rasa rasa adalah tuntutan UNFAIR. Ini bukan berarti saya tidak mencoba mencari kebenaran atau menolaknya. Saya hanya mengatakan bahwa anda ingin agara saya menggunakan sumber yang sama untuk membela klien saya, yang sudah pasti akan melemahkan posisi klien saya. Anda ingin membatasi sumber2 pembelaan saya.

Peraturan tentang cara pembuktian ini paling sedikit harus ditetapkan dahulu. Kasus2 masa lalu bagi saya tidak merupakan bukti, mereka hanya kasus yang mungkin tidak lagi dpat diberlakukan jaman sekarang. Pendapat orang juga tidak dapat digunakan sebagai bukti. Pernyataan atau asumsi juga bukan bukti. Jadi kalau kita tidak dapat menentukan cara pembuktian, maka sulit membatasi kasus.

Saya usulkan agar kami membatasi materi yagn memiliki referensi guna menentukan hukumnya dan baru membahas klien saya salah atau tidak.

Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan (established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu.

Kesimpulan saya :

Tuduhan anda banyak mengandung asumsi;
Standar anda dalam hal norma dan intelektualitas tidak jelas;
Anda menggunakan kata “assassin” namun tidak dapat menjelaskan artinya dan sangat menunjang pihak yang terbunuh;
Sumber2 pembuktian tidak jelas dan harus dibatasi ; dan
“Innocence until proven guilty beyond doubt” (Tidak bersalah sampai terbutki bersalah tanpa keraguan) adalah posisi saya.

Terima kasih.

R Shahzad

——————————————————————————–

JAWABAN A SINA
Nov. 16, 2003

Yth Mr. Shahzad,

Saya menuduh klien anda, Muhammad sebagai assassin dan dari sejumlah kasus yang tersedia, saya hanya memilih empat kasus.

Anda tidak sekalipun membantah tuduhan saya maupun ke-aslian (authenticity) kasus2 yang menjadi sumber tuduhan saya. Kasus2 ini memang sulit dibantah karena mereka dilaporkan dalam semua sumber Islam seperti Sirat Rasulallah-nya Ibn Is-haq, al Waqidi, al Tabari and beberapa hadis sahih.

Karena anda tidak dapat membantah bukti2 tersebut, anda lalu mencoba mendefinisikan istilah manusia (human being) dan pembunuhan (assassination).

Dalam pembelaan anda anda mengatakan bahwa Muhamad seorang manusia biasa dan anda menjelaskan apa artinya “manusia”. Anda menekankan bahwa Muhamad juga memiliki kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan. Saya setuju dengan itu semua. Namun ITU BUKAN ALASAN MENGHALALKAN PEMBUNUHAN.

Semua pelaku kriminal adalah manusia dan merekapun memiliki kelemahan. Tetapi apakah itu alasan untuk membebaskan mereka ?

Saya ragu sebuah jury akan membebaskan seorang pelaku kejahatan karena ia seorang manusia yang memiliki kelemahan. Kami semua manusia dengan berbagai kelemahan, tetapi tidak semua dari kami adalah pembunuh. Mungkin lebih baik anda membela klien anda dengan alasan TIDAK WARAS. Ini pembelaan yang bisa membebaskan klien anda dari segala tuduhan.

Anda kemudian mendefinisikan kembali konsep baik dan buruk dan bahwa definisi saya tentang kebaikan dan keTuhanan adalah subyektif.

Anda mengatakan cinta kasih adalah relatif dan bertanya apakah kalau bicara mengenai cinta, apakah juga menyangkut moralitasnya.

Anda mempertanyakan apakah kejujuran harus diterapkan dalam segala situasi dan apakah ada pengecualian kalau ketidakjujuran bisa membawa keuntungan.

Dan tentang sikap menahan diri anda bertanya:
“Sikap menahan diri – Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang ? Atau kedua2nya ?”

Pertanyaan2 ini tidak ada hubungannya dengan kasus.

Anda mengatakan alasan pertanyaan anda adalah anda tidak pasti apakah baik-buruk tindakan dianggap sama oleh semua orang. Dengan kata lain, anda mempertanyakan definisi orang tentang “baik dan buruk”. Sampai2 anda mengatakan bahwa pembunuhan/assassination belum tentu buruk. Anda menyimpulkan “tanpa menentukan hukumnya, kita tidak dapat memastikan hukum apa yang dilanggar.”

Saya tidak percaya bahwa baik-buruk begitu relatif sehingga kita tidak dapat menentukan bahwa membunuh seseorang karena ia tidak sependapat dengan kita adalah tindakan baik.

Mungkin baik-buruk bagi manusia adalah relatif. Tetapi intelektualitas kita, terlepas dari ketidaksempurnaannya, adalah satu2nya alat yang ktia gunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Adalah TIDAK MASUK AKAL untuk mengatakan bahwa pembunuhan adalah OK karena kita manusia yang memiliki kelemahan dan tidak mengerti beda antara baik dan buruk.

Cinta kasih juga kualitas manusia. Moralitas adalah topik lain lagi. Point-nya adalah bahwa seorang manusia yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan ini tidak patut menyandang gelar manusia. Kami menyebut orang macam itu MONSTER dan bukan manusia.

Pertanyaan anda mengenai kejujuran adalah : kejujuran selalu diinginkan dan ketidakjujuran selalu tidak diinginkan. Tidak ada pengecualian.

Apa yang anda inginkan disini adalah relativitas moral. Dengan kata lain, anda mengatakan kejahatan diperbolehkan kalau kebaikan adalah jalan yang terlalu panjang. Ini absurd, karena ini memperbolehkan orang untuk melakukan kejahatan sesuai dengan standar moralnya.

Saya sama sekali tidak kaget akan filosofi anda. Anda hanya mengekspresikan filofosi Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang moralitasnya relatif, yang mengijinkan ketidakjujuran, pembunuhan dan kejatahan lainnya yang sesuai dengan moral para pengikutnya.

Dibawah ini kutipan Iman Ghazali, akademisi Islam paling ternama:

“Kalau mencapai tujuan dapat dimungkinan dengan berbohong, dengan menyembunyikan kebenaran, membohong diijinkan jika tujuannya diijinkan.” (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section r8.2, page 745).

Berbeda dengan anda, saya tidak setuju dengan relativitas moral. Saya pengikut Prinsip Emas : “Jangan memperlakukan orang sebagaimana anda tidak ingin diperlakukan”.

Saya tidak ingin dibunuh, oleh karena itu saya juga tidak membunuh.

Saya tidak ingin orang menjajah kota saya, merampok harta saya, memperbudak anak2 saya dan meniduri isteri saya. Saya juga tidak melakukan hal ini kepada orang lain.

Saya tidak suka menjadi warga kelas dua, dihina dan diwajibkan membayar pajak (jizyah) karena ingin mempertahankan hak saya untuk mengikuti kepercayaan saya. Saya juga tidak memperlakukan orang lain demikian.

Saya tidak ingin orang memukuli saya kalau saya tidak patuh. Oleh karena itu pula saya tidak memukuli isteri saya.

Saya tidak suka dibohongi, dikibuli. Oleh karena itu saya merasa ketidakjujuran adalah tidak baik dan tidak ada pengecualian yang sah.

Melanjutkan pembahasan relativisme moral anda, anda juga mengatakan bahwa intelektualitas manusia adalah RELATIF sehingga tidak dapat mengerti prinsip2 keTuhanan.

Anda menulis:
“Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.”

Jawaban saya tetap sama. Intelektualitas manusia mungkin tidak sempurna namun merupakan satu2nya alat untuk membedakan baik dari buruk. Kalau tidak, bagaimana membedakan seorang penipu dengan seorang yang benar2 utusan Tuhan ? Ada ribuan orang yang mengaku nabi. Bagaimana kita tahu mana yang benar ? Bagaimana kita tahu bahwa Muhamad-lah benar2 rasulullah ?

Caranya ? Gunakan otak ! Yah, otak yang tidak sempurna itu. Jika kelakuan dan perkataan para “nabi” itu membuat otak kita bertanya2 maka kita tahu bahwa mereka itu tukang ngibul.

Seperti kata Galileo ; JIKA TUHAN TIDAK INGIN KITA MENGGUNAKAN OTAK KITA, MENGAPA IA MEMBERIKANNYA KEPADA KITA ?

Mengukur Quran dan tingkah laku Muhamad dengan otak/human intelligence kita, kita dapat dengan mudah menentukan kualitasnya sebagai pembawa pesan dari Tuhan. KECUALI anda berpendapat bahwa Tuhan memang begitu sinting sampai mengirim seorang bandit psychopath yang suka sex dengan anak kecil untuk mengantar kita semua, umat manusia, ke jalan yang benar.

Anda memberikan definisi tentang ‘assassin’.
Saya rasa anda bingung. Kita disini tidak membahas kebaikan dan kejahatan KORBAN, melainkan SANG PEMBUNUH. Pertanyaannya adalah apakah tindakan pembunuhan adalah tindakan yang PANTAS DILAKUKAN OLEH SEORANG RASULULLAH. Kesalahan seseorang harus ditentukan oleh pengadilan, tidak oleh seseorang yang merasa ia berhak membunuh orang lain karena tuduhan fitnah (misalnya).

Anda memberi contoh tentara AS. Kalau tentara AS masuk rumah orang lain dan membunuhi penghuni, apakah mereka bisa dicap assassin, anda tanya. Jawaban saya ; YA ! Tentara itu akan dituduh dengan ‘war crime’ dan harus diseret ke pengadilan.

Tentara AS tidak memasuki rumah orang dan membunuh secara sembarang. Mereka mungkin memasuki rumah orang untuk mencari senjata atau menangkap musuh. Namun mereka tidak akan menembak sebelum ditembaki terlebih dahulu.

Nah, bedakan dengan ekspedisi pembunuhan/assassination Muhamad. Dari link2 yang saya berikan kami bisa membaca bahwa Muhamad mengirim seseorang untuk membunuh seorang lelaki berusia 120 tahun karena memperingati orang2 Medinah agar menjaga diri terhadap kebohongan Muhamad. Ketika Asma binti Marwan, seorang penyair dan seorang ibu lima anak kecil mengeluh tentang pembunuhan brutal tersebut, Muhamad mengirimkan orang lain untuk membunuh Asma dimalam buta, selagi ia di tempat tidur menyusui bayinya. Mudah2an anda juga pernah membaca kasus Ka’b ibn Ashraf dan Abu Rafi.

Inilah macam kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda yang dianggap nabi dan diikuti secara buta oleh satu milyar orang. Dan lihatlah bagaimana ia mengejek siapapun dan bagaimana sang “allah” ciptaannya selalu siap dengan pujaan bagi dirinya:

Q.68:4 : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Q.33:21 : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) ….

Q.21:107 : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (‘rahmatul lil alamin’)

Q.81.19: sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) …

Kami (FFI) ingin menjelaskan fakta2 ini dan menelanjangi Muhamad, sehingga paling tidak kami dapat menyelamatkan Muslimin, korban utama kebohongan besar Islam ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun kami hanya bisa menyelamatkan mereka yang mau, mereka yang jiwa dan pemikirannya belum dirusak total oleh Islam. Namun mereka yang Islamnya sudah merasuk tidak lagi dapat kami bantu.

Seseorang yang membenarkan pembunuhan, mempertanyakan apakah kejujuran kadang2 baik dan telah tenggelam kedalam relativisme moral Islam sehingga tidak lagi dapat melihat kenyataan secara obyektif tidak lagi dapat diobati dengan nalar/logika.

Namun saya berterima kasih atas kejujuran anda (walaupun anda merasa ketidakjujuran kadang perlu) dan tidak membantah ke-otentik-an hadis dan sumber2 sejarah lain yang menunjukkan kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda, Muhamad.

Anda tidak mengajukan sumber2 sejarah lain dan nampaknya anda cukup puas dengan pembelaan anda bahwa pembunuhan, ketidakjujuran dan tindakan buruk lainnya, “kadang2 bisa menguntungkan” dan kami manusia tidak sanggup membedakan antara satu dengan yang lain. Dan oleh karena itu Muhamad tidak dapat dikenakan tuduhan apapun.

Dengan kata lain, anda mengejek kemampuan manusia untuk berpikir dan menggunakan nalar. Anda menyatakan bahwa karena manusia tidak sanggup mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dan oleh karena itu setiap kejahatan yang dilakukan Muhamad sebenarnya dapat diartikan sebagai kebaikan.

Bukankah ini cara berpikir seorang pelaku kriminal ? Ataukah Muhamad pengecualiannya ?

Interesan sekali pembelaan anda dengan menggunakan jalur pikir dan nalar/logika untuk menentukan salah atau tidak salahnya Muhamad.

Nalar/Logika macam apa yang anda maksudkan ? Apakah tidak jelas bagi anda bahwa pembunuhan bukan tindakan baik ? Bahwa pedophilia tidak baik ? Bahwa perampokan, pencurian dan pembudakan wanita dan anak2 adalah tidak baik ?

Terakhir, anda mengatakan:
“Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan Klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan. Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu.”

Saya tidak lagi perlu membuktikan kesalahan karena kesalahan itu sudah diakui. Cukup membaca sejarah dan hadis yang ditulis oleh para pengikut setia Islam guna melihat bagaimana mereka membanggakan diri atas tindakan kriminal yang dilakukan nabi mereka.

Sekarang terserah pada Jury untuk membahas keputusan mereka.

Ali Sina
——————————————————————————-

Untuk sesi pengadilan berikutnya, saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Muhamad = gila wanita (a lecherous womanizer). Saya menyatakan bahwa mengingat kurangnya kualtias keimanannya ini, ia BUKAN seorang rasulullah. Ia hanyalah seorang pemimpin cult yang sukses dan brutal yang menipu pengikutnya agar mematuhi ambisi dan nafsunya.

Dalam link2 berikut ini saya menyampaikan bukti2.

Juwayriah: http://www.faithfreedom.org/Articles/si … iriyah.htm

Safiyah: the Jewish wife of Muhammad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm

Adoption in Islam and Muhammad’s Marriage to Zainab Bint Jahsh
http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm

Mariyah The Coptic Sex Slave of the Prophet
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm

END OF PART I
http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad2.htm

BAGIAN II
Umat Manusia vs. Muhammad bin Abdallah
Agama dan Moralitas

Tergugat: Muhamad bin Abdullah
Pembela: Raheel Shahzad

Penggugat: Umat Manusia (Bagian non-muslim)
Penuntut: Ali Sina

Pengadilan: Opini Publik
Juri: Pembaca

————————————————————————————

Dari RAHEEL SHAHZAD :
18 November 2003

Mr. Sina,

Apabila menyelamatkan kemanusiaan merupakan tujuan anda, maka mengutuk atau menjelek2kan sebagian umat manusia meragukan motivasi dan sikap mental anda sesungguhnya. Tentu saja anda dapat mengaku bahwa anda tidak puas dgn Islam karena Islam menyebarkan kebencian, namun bagaimana mungkin membasmi kebencian dengan kebencian yang lebih besar? Apakah ini tidak nampak seperti lingkaran setan; menyatakan perang terhadap sekelompok orang dengan tujuan menyelamatkan mereka?

Bagaimana saya dapat percaya bahwa anda benar-benar ingin menyelamatkan umat manusia? Jika menyelamatkan saya dari cengkraman Islam tidak tercapai secara intelektual, bagaimana saya dapat percaya bahwa anda akan menyelamatkan orang lain dengan pesan anda?

Muslim dimanapun akan menolak sebuah pesan dimana yang membawa pesan memiliki perilaku yang sama dengan orang yang ia tuduh. Untuk dapat menyelamatkan yang kurang intelek, bukankah lebih penting untuk meyakinkan para intelektual dulu?

Katakanlah suatu saat proyek anda ini berhasil, maka pilihan apa yang anda tawarkan bagi sebagian besar umat manusia ini?

Terlalu banyak pertimbangan untuk dapat ditulis di sini, oleh karena itu saya akan menggunakan contoh EFEK DOMINO:
Seandainya pendapat anda mengakibatkan penolakan terhadap Quran, bukankah kita menghadapi dilema moral mengenai buku mana yang akhirnya benar-benar suci ? Bukankah Terdakwa juga dituduh telah berbohong maka hal ini juga akan mengakibatkan semua kitab sebelumnya menjadi tidak sah ?

AKibatnya, seluruh ajaran kemanusiaan secara fisik maupun rohani jadi diragukan dan akhirnya manusia akan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada yang namanya tuhan. Dan jika tuhan sendiri menjadi subjek yang diragukan maka kebaikan dan kejahatan hanya dinilai melalui nilai-nilai moral manusia, sehingga manusia sampai pada RELATIVISME MORAL.

Mereka yang berkuasa akan menjadi sewenang-wenang karena memiliki kuasa atas moral DAN karena tidak ada etika yang nyata dari yang maha kuasa. Manusia dapat berada pada posisi yang lebih rendah daripada hari ini. Karena mereka menyingkirkan pemikiran akan tuhan, atau membiarkan penafsiran terbukan tanpa ada suatu kerangka yang nyata mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada hari ini. Dan itulah yang menjadi kekhawatiran saya hari ini.

Sebenarnya saya setuju dengan misi anda, namun caranya yang sangat berbeda. Maka dari itu belas kasih terhadap kemanusiaan dan pertimbangan berdasarkan suatu logika tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang merasa diri sebagai tuhan. Dan saya pikir kesimpulanmu di bagian 1 tidak memenuhi syarat ini, karena anda tidak mampu menjabarkan tindakan yang harus diambil atau bahaya apa yang harus dihadapi bila mengikuti pola pikir anda tersebut.

Pada suatu titik anda akan terpaksa mengadopsi Relativisme Moral, yang anda tolak sendiri di bagian 1. Karena tanpa relativisme ini, anda tidak memberikan pilihan apapun. Apabila pemimpin suatu misi menolak apa yang seharusnya ada untuk menjamin kelangsungan suatu dunia tanpa tuhan, maka ini adalah penipuan. Pada akhirnya Moralitas Sesaat akan menjadi agama. Dan jaminan apakah yang anda berikan bahwa moral tidak akan ditolak atau berubah juga pada akhirnya? Mereka yang mengikuti pola ketuhanan anda sepantasnya disebut ‘moralis’.

Jika anda memang benar, Mr. Sina dan anda benar-benar mengharapkan orang meninggalkan Ilam, anda harus menyiapkan suatu kode moral bagi orang yang berpihak kepada anda. Dan kode moral itu harus dipergunakan sebagai contoh, mengacu pada perintah sederhana, atau akan sangat sulit diterapkan. Jika anda membiarkan para pengikut anda untuk membela diri sendiri atau mengembangkan kode moral sendiri, apakah anda menjamin Iran tidak akan menerapkan ‘Hijab’ terhadap warganya? Anggaplah mereka benar-benar membiarkan warganya memiliki kebebasan baik pikiran maupun tindakan, apa yang akan terjadi dengan mereka yang membelokkan kode moral anda? Anda tentu akan melarang mereka menolak kode moral yang mereka kembangkan secara bebas itu.

Mungkin anda tidak akan tersinggung, tetapi salah seorang dari anggota kelompok anda bisa tersinggung. Apa yang akan terjadi bila kode moral menjadi sangat bebas sehingga bertukar pasangan untuk semalam menjadi sesuatu yang lazim di suatu bagian dunia, bukan berdasarkan suatu kode moral, tetapi benar-benar suatu kebebasan, apakah hal tersebut wajar di mata anda? Itulah akibatnya bila Islam berhasil dihapuskan, digantikan oleh suatu agama baru yang aneh. Dan anda benar-benar tidak dapat mengharapkan orang-orang yang anda sadarkan untuk menerima ajaran lain selain moral yang menjadi ukuran. Hal ini berarti anda harus benar-benar mempercayai orang-orang tersebut dengan menganggap mereka semua adalah orang baik secara moral dan akal sehat. Lantas mengapa moral mereka dianggap kacau hanya karena mereka menganut islam? Jika islam diganti nama menjadi moralitas, perubahan apa yang anda harapkan akan terjadi dan bagaimana cara menegakkan hal ini?

Oleh karena itu saya menolak konsep anda dengan alasan:
a) kasus anda tidak cukup kuat
b) anda tidak mampu mengarahkan para juri atau penggugat
secara jelas
c) anda tidak menghargai aturan yang anda buat sendiri
d) anda telah menuduh secara sepihak tanpa memberi
kesempatan pembela dan juri mendengar kasusnya secara
Utuh
————————————————————————————

Dari ALI SINA
Yth Mr. Shahzad,

Sebagai Jaksa Penuntut, saya yakin dengan temuan saya dan tuduhan yang saya ajukan pada Klien anda. Jika saya ragu, saya pasti tidak akan mengajukan tuntutan.

Saya hadir untuk menuntut Muhamad dan tugas anda adalah untuk membelanya. Saya harus mendukung semua pernyataan dengan bukti. Terserah anda untuk membantah bukti saya dan mempertanyakan relevansi dan kesahihannya. Tentu saja anda juga harus memback-up pernyataan anda. Jika anda menuduh tentara Amerika melakukan kejahatan perang, dapatkah anda membuktikannya? Dapatkah anda mengajukan bukti dan saksi? Jika dapat, seharusnya anda jangan membuang waktu di depan komputer. Anda seharusnya berada di PBB dan meminta pengadilan internasional untuk mendukung pernyataan anda.

Anda menulis:
Jika menyelamatkan umat manusia menjadi tujuan anda, maka mengejek dan mengutuk sebagian dari umat manusia menggoyahkan motivasi dan tujuan anda.

Pernyataan anda diatas salah. Saya tidak mengutuk sebagian umat manusia. Saya menolak sebuah ideologi yang dianut oleh sebagian umat manusia. Apakah suatu ideologi menjadi benar dan sakral hanya karena banyak orang mempercayainya? Adakah batasan dimana masih boleh melakukan kritik dan batasan dimana kritik menjadi tabu?

Haruskah kita berhenti mengkritik ideologi? Bagaimana dengan neo-Nazisme? Ribuan orang yang menganut ajaran ini dengan setia. Haruskah kita berhenti mengkritik Hitler karena takut menyinggung perasaan orang kulit putih? Ataukah kita hanya boleh mengkritik doktrin yang hanya memiliki sedikit pengikut sedangkan yang pengikutnya banyak tidak boleh dikritik? Apakah ini kriteria yang anda maksud?

Jadi apakah memang boleh mengkritik Islam pada waktu masih baru dan pengikutnya sedikit? Dari sejarah kita lihat bahwa Muhamad mengirimkan pembunuh untuk membungkam para pengkritiknya. Pada saat yang sama ia sendiri mengkritik dan menodai agama kaum Quraisy, Yahudi dan Kristen dengan mengatakan bahwa mereka telah mengubah agama mereka sendiri dan apa yang sekarang mereka percayai bukanlah agama yang masih asli.

Jadi, pada prinsipnya Islam dan anda sendiri mengajarkan bahwa Islam sama sekali tidak boleh dikritik. Itulah intinya ? Boleh mengkritik semua kepercayaan lain, tapi Islam jangan ? Benarkah?

Peraturan ini diterapkan di negara-negara Islam. Siapa saja yang berkata-kata melawan Islam dan Muhamad akan didakwa melakukan pelecehan dan akan diperlakukan secara mengerikan. Namun di FFI kami mengkritik semua ideologi. Kami mempertanyakan semua kepercayaan. Sebagaimana inspirasi sang Budha, kami mencari pencerahan atas keraguan kami.

Jadi, mengkritik Islam tidak sama dengan menyebar kebencian.

Alquran sendiri yang menyebarkan kebencian :

…bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka… (9:5)
… Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali… (3:28)
atau
…sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis… (9:28)

Ayat-ayat itulah ayat penyebar kebencian. Perkataan seperti itulah yang seharusnya dihentikan.

Anda menulis:
Jika menyatakan kejahatan seseorang menjadi motif satu-satunya, maka saya tidak yakin anda telah mempertimbangkan semua dilema yang akan terjadi pada umat manusia secara umum.

Dalam pernyataan di atas anda mengimplikasikan bahwa kebenaran bukanlah menjadi pertimbangan anda. Anda lebih kuatir bagaimana kebenaran akan mempengaruhi umat manusia.

Saya yakin bahwa kebenaran selalu lebih baik. Kebenaran hanya akan menyakiti perasaan kita untuk sementara saja. Orang-orang senang dibohongi demi menghindari rasa sakit dan melepaskan kebohongan seperti ini tidaklah mudah. Saya berhasil melepaskan diri. Tetapi kebohongan benar-benar menghancurkan. Kepercayaan palsu sangatlah berbahaya.

Contohnya paham Nazisme. Paham itu berdasarkan kepercayaan palsu bahwa ras Aria berasal dari benua Atlantis yang hilang dan ras inilah yang memperkenalkan peradaban ke seluruh dunia. Kita melihat bahwa kepercayaan itu tampaknya baik-baik saja namun akibatnya sungguh luar biasa. Bayangkan mimpi buruk dan hilangnya begitu banyak nyawa atas kebohongan superioritas ras Aria.

Hari ini kita menuju kepada suatu kehancuran akibat satu lagi kebohongan. Kebohongan yang dimaksud adalah Islam. Islam mengajarkan bahwa penganutnya lebih baik daripada para kafir. Kafir harus diperangi dan Islam harus menjadi yang terbesar di dunia, bahwa jika 10 muslim menghadapi 100 kafir, muslim akan menang karena Allah akan menolong mereka. Bahwa pada akhirnya seluruh dunia akan menjadi muslim. Bila muslim mati dalam peperangan, mereka akan masuk surga dan mendapat hadiah bidadari yang banyak. Jika sebagian besar umat manusia mempercayai hal ini, ini namanya bom waktu.

Sejujurnya, saya tidak melihat alternatif yang lebih baik selain daripada menjinakkan bom ini. Dan itulah misi dari FFI. Kami mencoba menjangkau muslim sebelum terlambat dan mengatakan kepada mereka bahwa Islam itu palsu.

Gambaran umum
Anda mengajak para juri untuk melihat gambaran umum. Menurut anda menyadarkan orang akan palsunya Islam tidak penting karena ini hanyalah akan meninggalkan dunia tanpa agama. Dengan kata lain, anda pikir lebih baik menganut suatu agama palsu daripada tanpa agama sama sekali. Anda memperkirakan kekacauan dan degradasi moral.

Saya tidak setuju. Kita telah melihat bahwa RELATIVISME MORAL ADALAH CIRI KHAS ISLAM. Islamlah yang menyetujui kejahatan apabila hasilnya menguntungkan Islam dan muslim. Relativisme moral artinya menghalalkan segala cara.

Namun, saya percaya bahwa moral itu relatif, tetapi bukan dari sudut pandang islam. Saya percaya moralitas relatif terhadap sejarah dan budaya. Dalam Islam, moralitas relatif terhadap kepentingan Islam dan keinginan untuk menang dengan segala cara. Islam mengajarkan bahwa seseorang boleh melakukan kejahatan demi kepentingan Islam.

Etika dalam Islam tidak mempedulikan benar atau salah, baik atau buruk tetapi mengacu kepada halal dan haram. Pada kenyataannya etika merupakan omong kosong dalam islam. Islam sama sekali tidak peduli terhadap etika sama sekali. Diskusi mengenai etika tidak dikenal oleh “filsuf” islam.

Etika yang menyetujui pelanggaran hak asasi manusia pasti tidak benar. Tetapi tidak dalam Islam. Islam tidak menghargai hak non-muslim dan karenanya HAK MEREKA TIDAK SAMA dengan hak para muslim. Wanita dalam Islam juga tidak memiliki hak yang sama dengan para pria muslim. Dalam Islam, hukum syariah menjadi acuan benar dan salah.

Etika diturunkan dari kesadaran manusia dan the Golden Rule:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=25

Orang yang berakal sehat mampu membedakan benar dan salah mempergunakan Golden Rule sebagai parameter. Tetapi tidak dalam Islam. Benar dan salah mengacu kepada ucapan Muhamad. Contohnya, etika mengajarkan bahwa memukul wanita itu salah. Dalam Islam, memukul istri itu halal. Berdasarkan etika, hukuman tidak boleh melebihi kejahatannya. Dalam Islam hukuman bagi pencuri kecil-kecilan adalah potong tangan. Islam juga mementingkan ‘dosa atas pikiran’. Etika tidak mengenal ini.

Individu dalam masyarakat etis memiliki kebebasan bertindak dan berpikir. Anda bebas berpikir, bertindak, dan berkata-kata selama tidak merugikan orang lain. Dalam Islam kebebasan ini tidak ada. Anda dapat dihukum berat dan bahkan dieksekusi karena mengkritik, menolak islam, melakukan hubungan seks di luar nikah, atau berperilaku homoseks.

Dalam Islam, memukuli istri itu halal tetapi wanita diharamkan memperlihatkan rambutnya kepada orang lain. Poligami itu halal tetapi haram bagi wanita. Memiliki budak dihalalkan, namun diharamkan untuk memungut bunga pinjaman. Halal untuk memperawani gadis 9 tahun tetapi haram bagi anak lelaki dan anak perempuan untuk bermain bersama. Dihalalkan untuk memperkosa anak lelaki dan berperilaku pedofil tetapi haram bagi orang yang homoseks untuk berhubungan dengan sesama mereka yang tentu sudah dewasa. Hukum Syariah relatif terhadap apa yang dikatakan Syariah namun tidak relatif terhadap logika dan etika.

Relativitas moral secara historis dan budaya merupakan topik yang berbeda. Diperlukan pemahaman atas setiap kebudayaan dan tahapan sejarah serta setiap peradaban memiliki kode moral sendiri berbeda dengan peradaban lain.

Apa itu moralitas
Manusia beragama percaya bahwa moralitas berasal dari agama dan bila agama kehilangan pengaruhnya, manusia akan menjadi immoral. Apakah moralitas merupakan produk agama? Apakah orang yang tidak beragama juga tidak bermoral?

Anda berkata bahwa tanpa agama orang akan tukar menukar istri. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang muslim muda yang berkeras bahwa jika tanpa agama orang akan melakukan incest dan tidak ada yang akan mampu menahan mereka untuk meniduri ibu mereka sendiri. Saya bertanya apakah dia bergairah terhadap ibunya dan apakah Islam satu-satunya pencegah dia meniduri ibunya? Dia tampak tersinggung.

Bagian terbesar dari moralitas kita adalah naluri kita. Incest tidak dianut oleh peradaban manapun baik agamis maupun tidak. Tentu ada beberapa individu dengan perkembangan mental yang abnormal. Pada kenyataannya, kecuali Simpanse Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk melambangkan ikatan sosial, tidak ada jenis kera lain yang berkembang biak melalui incest.

Image
Simpanse Bonobo sedang menggosok2 :wink: …

Biasanya para pejantan mengunjungi kelompok lain untuk mencari pasangan. Singa muda dipaksa meninggalkan kelompoknya untuk mencari pasangan singa betina di kelompok lain.

Menariknya, pernikahan di antara anak-anak yang tumbuh bersama dalam suatu panti asuhan jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, sekalipun anak-anak ini tidak ada yang memiliki hubungan darah.

Namun beberapa isu moral tidak sejelas contoh di atas. Apa yang tergolong moral dan imoral tergantung pada waktu dan budaya. Bahkan bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Apa yang dulu dianggap bermoral misalnya seribu tahun lalu menjadi immoral saat ini, demikian sebaliknya. Begitu pula apa yang dianggap bermoral di satu belahan dunia bisa dianggap sebaliknya di bagian dunia lain.

Contohnya perilaku seks bebas. Banyak kebudayaan menganggap hal tersebut imoral. Tetapi ada juga kebudayaan yang menganggapnya sebagai norma. Bagi kami, ‘yang berkiblat ke Barat’ memiliki beberapa partner secara bersama-sama merupakan hal yang imoral. Namun bagi muslim yang menganut poligami, hal tersebut adalah ‘anugerah Allah’.

Di bagian dunia lain, wanita melakukan poliandri. Dalam suku Inuit, seorang pria akan menawarkan istrinya kepada tamunya untuk dihamili. Perilaku mana yang imoral? Dan siapa yang menentukan hal tersebut?

Image
Lelaki amazon … imoral ?

Apakah memperlihatkan bagian tubuh itu imoral? Di tengah hutan Amazon beberapa suku benar-benar telanjang BULAT. Apakah hal tersebut imoral ? Bagi mereka itulah gaya hidup. Di beberapa negara Islam, wanita diharuskan menutup seluruh bagian tubuhnya spt pocong. Apakah itu moral yang baik? Jika hal demikian menjadi definisi moral, apakah wanita yang berpakaian sopan tanpa hijab termasuk imoral? Bagaimana pula dengan wanita berbikini di pantai? Apakah mereka imoral? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bergantung pada siapa anda dan apa standar moral anda.

Mari kita lihat contoh lain: perbudakan. Apakah perbudakan itu immoral? Perbudakan dilakukan selama berabad-abad bahkan oleh orang yang paling religius. Muhamad bukan hanya memiliki budak tapi dia juga mengambil untung dengan cara memperjualbelikan manusia bebas sebagai budak. Apakah dia immoral? Jika ya, mengapa kita mengikuti seorang yang tidak bermoral dan jika tidak, mengapa sekarang kita mengutuk perbudakan?

Bagaimana dengan perilaku pedophil ? Kita semua tentu menolaknya dan menganggap hal tersebut sebagai suatu tindakan imoral. Tetapi pada waktu Muhamad melakukan hal tersebut terhadap anak perempuan berumur 9 tahun hal ini tidak dianggap imoral. Bahkan ayah Aisyah secara rela menyerahkan anaknya menikah dengan Muhamad sesuai dengan permintaan Muhamad. Pada waktu itu nampaknya tidak ada yang mengerutkan dahi. Pertanyaannya adalah, jika meniduri anak berumur 9 tahun tidak dianggap imoral, apakah berarti hal tersebut benar ? Tidak semua yang dipandang bermoral oleh masyarakat itu benar. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin dianggap wajar 1400 tahun yang lalu di tanah Arab, tetapi dulupun tetap tidak etis.

Moralitas ditentukan oleh situasi, tetapi etika melampaui waktu dan ruang. Etika berakar pada logika. Moralitas dapat berbeda antar kebudayaan, dari waktu ke waktu dan dari orang per orang. Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu bermoral atau tidak?

Seorang pria di Pakistan dapat menganggap bahwa pertemuan istrinya dengan sepupu laki-lakinya tanpa kehadiran orang ketiga sebagai tindakan imoral, menodai kehormatannya dan untuk memulihkan kehormatan, sang istri harus dibunuh. Baginya, pertemuan dua saudara adalah tindakan imoral tetapi membunuh dianggap baik-baik saja.

Kita harus membedakan moralitas yang membahayakan masyarakat dengan yang tidak. Apa yang membahayakan harus dianggap tidak etis dan dilarang. Perbudakan contohnya, melanggar kebebasan seorang manusia. Karena itu entah dilarang atau dipraktekkan oleh suatu budaya, hal tersebut tetap tidak etis. 1400 tahun yang lalu memiliki budak bukanlah tindakan immoral. Tetapi secara etika, perbudakan itu salah dan hal tersebut melintasi waktu. Bahkan sang nabipun tahu bahwa perbudakan itu salah. Itulah sebabnya ia menyuruh para pengikutnya untuk membebaskan budak sebagai tindakan amal. Namun ia tetap menambah koleksi budaknya dengan menyerang kota demi kota dan menangkapi orang bebas untuk kemudian dijadikan budak.

Menariknya, atas perkataan nabi, para muslim membebaskan budak ketika budak itu telah tua dan tidak mampu lagi bekerja. Membebaskan budak pada waktu mereka masih muda adalah tindakan amal dan bermoral tetapi membebaskan mereka setelah tua tanpa tunjangan apapun sangat tidak etis. Sang nabi lupa menyatakan hal tersebut dan karenanya para mantan budak yang sudah tua menjadi pengemis di jalan sementara majikan mereka mendapat anugerah allah karena telah membebaskan budak sambil menghindarkan diri merawat budak yang telah tua; sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Hal yang seharusnya dilakukan adalah jangan memperbudak orang lain ! Namun kekayaan Muhamad dan penguasa Islam justru berasal dari penjualan budak.

Sekarang saya akan menjawab kekuatiran anda mengenai tukar menukar istri. Saya menyebut hal tersebut sebagai perzinahan. Sekalipun dilakukan dengan sadar dan sama-sama suka. Pertanyaan anda adalah apa yang akan dilakukan oleh suatu masyarakat yang tidak beragama. Jawaban saya sama dengan jawaban Pierre Trudeau di hadapan parlemen Kanada. Dia berkata, “Negara tidak boleh mencampuri urusan kamar tidur penduduk.” Ia menyampaikan hal tersebut 30 tahun yang lalu. Namun saya tidak pernah melihat orang-orang Kanada menawarkan istri mereka kepada orang lain.

Memang urusan ranjang tetangga saya bukan urusan saya. Seperti yang dikatakan muslim: saya tidak mau terkubur bersama mereka. Lantas mengapa kita membahasnya?

Sekarang mari kita lihat negara Islam dimana pemerintah mengatur kehidupan pribadi penduduknya. Ibu-ibu yang memiliki anak diluar nikah dirajam batu sampai mati dengan cara yang paling sadis. Apakah itu yang disebut bermoral? Orang dicambuk karena meminum bir. Wanita dipukuli sampai berdarah karena selendang mereka tersingkap sehingga rambut mereka terlihat di muka umum. Tolong katakan kepada saya moralitas mana yang lebih baik?

Sebagai penutup, kita harus membedakan antara apa yang imoral dan apa yang tidak etis. Masalah moralitas harus diserahkan kepada individu; masalah etika harus diajarkan di sekolah dan ditegakkan melalui hukum atau kode etik. Apakah berganti-ganti pasangan itu imoral atau tidak etis? Jawaban atas bagian pertama bergantung pada siapa anda. Jika anda berada dalam kelompok ultra liberal negara barat atau penganut Islam, mungkin hal tersebut bukanlah hal imoral. Ini berkaitan dengan selera, budaya dan didikan. Kita tidak boleh terpaku pada sisi moral saja. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa di dalam kamarnya bukanlah urusan kita. Pertanyaannya adalah: apakah hal tersebut etis?

Jika berganti-ganti pasangan di-sah-kan misalnya melalui poligami, apakah hal tersebut tetap imoral? Mereka yang melakukannya mungkin tidak terlalu memusingkannya, tetapi hal tersebut tetap saja tidak etis. Pernikahan adalah institusi sosial yang pengaruhnya lebih luas daripada hanya kepada dua orang yang bersumpah setia. Bukan hanya anak-anak tetapi seluruh masyarakat akan ‘dipaksa’ untuk mendukung keluarga yang berubah jadi tidak berfungsi. Masyarakat harus membayar biaya pendidikan anak-anak, makanan mereka, pakaian mereka dan juga menanggung akibat atas sampah masyarakat yang kemungkinan besar akan dihasilkan oleh keluarga yang berantakan tadi. Poligami harus dilarang bukan karena imoral, sesuai dengan uraian kita tadi bahwa hal tersebut adalah masalah individu, tetapi karena poligami itu tidak etis. Hal tersebut membahayakan anak-anak dan masyarakat.

Apa yang disebut moral tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Moral religius terlihat tidak etis lagi. Apa yang kita anggap bermoral berlawanan dengan agama. Poligami, perbudakan, pengorbanan hewan, perkawinan dengan anak kecil dan lainnya tidak termasuk hal immoral dalam islam. Tapi wanita yang bepergian sendiri, tidak memakai hijab atau memasuki lift bersama seorang asing disebut immoral.

Karena itu moralitas harus diserahkan kepada masing-masing dan bisa berubah-ubah. Namun masalah etika harus didefinisikan. Nilai-nilai etis berdasarkan logika dan Golden Rule. Keduanya bersifat universal dan tidak akan berubah secara intinya, apa yang melukai orang dan mengganggu hak mereka itu tidak etis. Pada kenyataannya, binatangpun memiliki hak dan suatu masyarakat yang etis harus melindungi dan menghargai binatang.

Moralitas agama adalah moralitas orang jaman dulu. Masyarakat patriarki menerapkan kode moral terhadap wanita yang memberikan kendali kepada para pria atas istri mereka. Moralitas agama tidak berasal dari surga. Hal tersebut hanya menggambarkan rasa takut dan sifat posesif para pria yang menciptakan aturan tersebut. Islam mewajibkan hijab. Apakah hal ini berkaitan dengan ketakutan Muhamad sebagai orang yang mulai tua dalam mengendalikan para istrinya yang masih cantik dan melindungi mereka dari mata pria muda yang dianggapnya sebagai saingan? Dia terus menerus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap suami. Apakah ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sebagian besar istrinya adalah anak remaja yang masih berjiwa pemberontak sehingga harus dikendalikan?

Moralitas adalah sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi moralitas sejati tidak berasal dari doktrin dan kepercayaan kuno. Sangat menyedihkan bahwa ada yang membuat moralitas menjadi tawanan agama. Sangat absurd memaksakan moralitas dari suatu budaya yang telah lalu terhadap masyarakat modern saat ini. Moralitas diperoleh dari kesadaran manusia dan kepekaan rohani. Semakin kita dewasa, tindakan kitapun semakin baik. Kita tidak hidup dalam moralitas demi kerakusan atau ketakutan akan hidup setelah kematian. Kita berlaku moral karena moral meningkatkan kehidupan kita. Moralitas harus menjadi bagian kehidupan kita, sama seperti pengetahuan menjadi bagian dari diri kita. Moralitas sejati tidak pernah bertolak belakang dengan etika.

Etika sangat sedikit dipengaruhi agama. Seperti kata Gandhi, etika adalah persoalan ekonomi. Pertanyaannya adalah dimana kita akan menginvestasikan energi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika anda menginvestasikan energi dalam kenikmatan seksual anda akan memperoleh hasil yang sementara. Jika anda menginvestasikannya di dalam hal-hal yang berarti anda akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar.

Hidup dalam moral yang baik tidak berarti menghilangkan kenikmatan. Hidup tanpa rasa syukur bukanlah hidup. Semua merupakan pilihan. Apa yang kita pilih sebagai kesenangan kita? Itulah pertanyaan yang penting. Seseorang yang menginvestasikan energinya dalam melayani kemanusiaan mendapat kepuasan yang lebih besar daripada orang yang berkubang dalam pencarian kesenangan duniawi.

Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan pribadi, didasarkan pada kematangan dan pemahaman spiritual. Moralitas tidak seharusnya dipaksakan oleh otoritas yang lebih tinggi seperti negara atau agama. Moralitas yang dipaksakan bukanlah moralitas. Seseorang yang menjalani hidup dalam moral karena takut pada neraka bukanlah orang yang bermoral karena ia tidak memilih perilaku tersebut secara bebas. Rasa takut dan kerakusan, merupakan metode dalam agama tradisional, yang dipakai sebagai insentif untuk memaksa orang menerima sistem moral tidak akan membuat suatu masyarakat yang bermoral. Tidak seorangpun dan tidak satu agamapun yang mampu memaksakan moralitas kepada orang lain. Pemaksaan sistem moral tidak etis. Agama yang mengancam pengikutnya dengan api neraka atau memancing mereka dengan janji-janji surga tidak akan menjadikan pengikut yang bermoral. Cemeti dan wortel memang berhasil dalam melatih binatang tetapi tidak dalam mendidik manusia. Hanya orang yang dapat memilih secara bebas dapat disebut sebagai orang yang bermoral.

Seorang yang bermoral memilih untuk hidup baik karena hal tersebut memberinya kepuasan. Orang yang jujur puas dalam perilaku jujurnya. Ia akan memilih disiksa daripada harus berbohong atau menipu. Moralitas kita berhubungan langsung dengan kematangan spiritual. Jika kita bertumbuh secara spiritual; pengetahuan, sumbangan kepada masyarakat dan bekerja untuk perdamaian akan memberikan imbalan yang jauh lebih besar daripada berkubang dalam kepuasan sensual. Tidak ada yang salah dengan kepuasan sensual. Tetapi kita mendapatkan kepuasan lebih dalam melakukan sesuatu kepada masyarakat dibandingkan dengan memuaskan diri kita sendiri.

Agama primitif memperlakukan anda seperti anak kecil (kalau bukan binatang). Mereka ingin memaksakan sistem moral yang sudah kadaluarsa dengan mengancam pengikutnya dengan api neraka dan menyuap anda dengan surga untuk menerima moralitas kuno dan kadang tidak etis. Entah anda hidup bermoral karena rasa takut dan kerakusan ini atau karena anda mendapatkan kepuasan dengan berperilaku moral, tetap saja ditentukan oleh kedewasaan dan kepekaan rohani.

Moralitas keagamaan tidak diturunkan dari langit. Moralitas keagamaan merupakan moralitas orang jaman kuno, cara pandang mereka dan (dalam kasus islam) tipu daya. Kita tidak membutuhkan moralitas orang jaman dulu sama seperti kita tidak membutuhkan teknologi, ilmu, dan pengobatan mereka. Moralitas mereka harus dikubur bersama dengan tulang mereka. Manusia modern harus membentuk moralitas sendiri. Moralitas harus berkembang sama seperti perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia.

Moralitas baru tidak berarti imoral. Artinya keluar dari masa kegelapan ketidakpedulian dan membangkitkan generasi yang lebih bertanggung jawab. Manusia tidak lagi dapat dibelenggu dengan rasa takut dan ancaman di kehidupan setelah kematian. Ilmu pengetahuan telah memberi cahaya terhadap absurditas konsep agama dan menggoncang fondasi dari kepercayaan yang dipegang teguh leluhur kita. Hari ini kita harus mendidik anak-anak kita dengan kesadaran. Mereka harus belajar bahwa umat manusia itu satu. Sama seperti orang tua kita mengajarkan kebohongan agama dan kita mempercayainya. Kita dapat mengajar anak-anak kita kebenaran dan mereka akan percaya.

Kita tidak perlu berbohong dan menakut-nakuti anak kita dengan api neraka untuk mendidik moral, cinta kasih dan perilaku mereka. Metode seperti itu tidak pernah berhasil. Sejarah manusia menjadi saksinya.

Jika kita mencintai anak kita, mereka juga akan belajar mencintai. Jika kita jujur, secara moral dan etika mereka akan belajar jujur. Kita dapat membangun manusia yang lebih baik dengan berperilaku manusiawi sekarang ini. Tetapi pertama-tama kita harus mengajar mereka cinta kasih.

Nah, ini cinta kasih ala Muhamad sehubungan dengan mereka yang non-muslim:

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (9:14)

Seperti yang anda lihat, dasar kepercayaan Islam sangat tidak etis dan immoral. Kita tidak dapat menyembuhkan umat manusia sampai kita membuang kanker-nya. Kanker ini telah mencapai titik berbahaya yang akan membunuh kita. Pilihannya hanya umat manusia atau Islam. Umat manusia tidak akan memiliki masa depan selama penyakit ini tidak diobati. Islam harus dimusnahkan sekarang. Besok akan terlambat.

Bagaimana dengan agama lain:
Saya sadar bahwa banyak orang yang tergantung pada agama dan hidup bagi agama tanpa percaya pada tuhan yang berpribadi dan janji pada kehidupan setelah kematian. Saya ingin menekankan bahwa peperangan saya ini tidak dilakukan terhadap seluruh agama. Saya lihat anda menarik kesimpulan bahwa menolak Islam berarti menolak seluruh agama yang ada, tuhan dan kemudian moralitas. Tidak demikian! Saya bukan seorang yang religius dan tidak membutuhkan satu agama untuk hidup secara etis dan bermakna. Saya percaya hidup saya cukup bermakna dan usaha saya untuk mempersatukan umat manusia serta merintis jalan menuju perdamaian dengan menghancurkan penghalang terbesar menuju perdamaian (islam) adalah pengabdian terbesar yang dapat saya lakukan.

Namun, memang banyak orang yang membutuhkan agama dan saya menghargai itu. Perlawanan saya hanya tertuju kepada Islam. Bukan karena Islam adalah agama, justru karena ISLAM BUKAN AGAMA. Islam adalah politik yang dibungkus dengan kedok agama. Islam merupakan alat dominasi dan penaklukan. Islam memakai agama sebagai topeng untuk menelusup dan menaklukkan.

Jika orang meninggalkan Islam, mereka bisa memilih satu dari berbagai agama yang ada, atau memilih seperti saya yang tidak beragama. Jadi tidak perlu panik. Kekosongan karena meninggalkan Islam akan segera terisi karena ada banyak agama dan filosofi di dunia ini. Banyak muslim yang meninggalkan Islam dan mereka pasti dapat memberi tahu anda bahwa mereka sekarang lebih berbahagia.

Jika Islam mati, doktrin kebencian akan mati pula. Sama seperti membuang sel kanker. Hal ini berarti kebebasan bagi muslim dan suatu kesempatan baru untuk mengasihi seluruh umat manusia. Mereka akan memiliki kebebasan untuk merangkul saudara saudari mereka dalam kemanusiaan dan kasih sayang. Tidak ada lagi muslim lawan kafir. Tidak ada lagi “kita” lawan “mereka”.

Hal ini akan menjadi kelahiran baru bagi umat manusia seutuhnya. Kita akan menjadi satu, berbagi planet yang sama. Planet satu-satunya untuk hidup! Tidak ada lagi selain bumi yang mampu menampung manusia. Planet yang kecil ini, permata biru yang menggantung di tengah semesta yang kelam dan dingin adalah satu-satunya rumah kita. Jangan hancurkan demi suatu kebohongan.

Jika anda harus memiliki sebuah agama, mengapa memilih agama yang isinya kebencian melulu ?

Salam,
Ali Sina

BAGIAN II TAMAT
BAGIAN III
Umat Manusia vs. Muhammad bin Abdallah

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad3.htm
PEMERKOSAAN-BAGIAN I

Nov 20, 2003

Terdakwa: Muhammad bin Abdallah
Pembela: Raheel Shahzad
Perkara: Umat Manusia (Dunia non-Muslim)
Jaksa: Ali Sina

Sidang pengadilan: Opini publik
Jury: Anda
————————————————————————————-

Dari RAHEEL SHAHRAD

Yth Ali Sina,

Anda menulis:

Untuk kesempatan sidang selanjutnya, saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Terdakwa/Muhamad adalah pemimpin bejat (termasuk terlibat dalam tindakan PEMERKOSAAN). Saya menuduh derajat moralnya rendah sehingga ia tidak mungkin seorang nabi yang dikirim dari Atas. Ia hanyalah seorang pemimpin sekte yang kejam, yang memanfaatkan orang-orang bawahannya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadinya.

Mr Sina, ini hanyalah masalah interpretasi yang sebenarnya merupakan inti kasus ini. Jadi untuk anda sampai pada kesimpulan sebelum menjelaskan kedudukan kasus dengan jelas dan tidak hanya berdasarkan artikel2 simplistik dari sana sini, atau berdasarkan material yang ditolak oleh sebagian besar Muslim, tidaklah bijaksana.

Kita akan membahas tuduhan anda satu-persatu.

Anda menulis:

Dalam link2 berikut ini saya sampaikan tuduhan saya dengan cukup bukti.

Juwayriah http://www.faithfreedom.org/Articles/si … iriyah.htm
Safiyah: isteri Yahudi Muhamad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm
Adopsi dalam Islam dan perkawinan Muhamad kepada Zainab Bint Jahsh. http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm
Mariyah, Budak Koptik Muhamad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm
Propaganda seorang apologist/liberalis: jawaban langsung http://www.faithfreedom.org/Articles/ab … logist.htm

Tolong semuanya dibaca.

Saya sudah baca semuanya. Menikah berkali2 dalam masyarakat jaman ini merupakan problem moral dan banyak Muslim tidak mempraktekkannya. Mereka punya akal sehat untuk membedakan apa yang harus diikuti dan apa yang tidak diterima oleh standar masyarakat kini. Kebanyakan negara Islam yang maju juga tidak memperbolehkan perbudakan.

Amerika mengakhirinya 140 tahun yang lalu, meskipun ini tetap terjadi dan dilakukan oleh kaum kristiani. Akibatnya masih dirasakan oleh kaum Afrika-Amerika sampai saat ini, namun akan makan waktu lebih lama lagi untuk menghilangkan akar2 rasisme. Nilai moral berubah. Begitu pula dalam Islam. Muslim mampu menyadarinya. Maka, daripada saya meminta maaf (seperti yang dilakukan orang pada artikel ke-5), saya benar2 percaya bahwa sang nabi telah menikah 12 kali, mungkin juga lebih, seperti banyak ditemukan dari beberapa sumber yang tak jelas.

Dan diapun menikahi seorang budak, mungkin lebih dari satu. Thomas Jefferson juga mempunyai budak. Saya menduga bahwa semua bapak pendiri Amerika mempunyai budak. Namun sekarang apa yang bisa kita lakukan? Hanya karena Jefferson dan Washington tidak mengaku sebagai nabi, maka Muhamad harus dianggap sebagai orang yang memiliki moral yang lebih tinggi?

Pertanyaan saya adalah, mengapa? Apakah 1400 tahun lalu ada peraturan bahwa menikah beberapak kali adalah tidak bermoral? Mempunyai budak 1400 tahun lalu adalah kejam ? Apakah perbudakan 200 tahun yang lalu di Amerika dianggap immoral? Kata siapa? Praktek tersebut sangat umum dilakukan dan nilai moral masyarakat pada waktu itu pun berbeda.

Maka apakah jika Muhamad menikahi 12 wanita, atau 35, atau 400 wanita sekaligus adalah tindakan yang salah? Muhamad menikahi banyak wanita dan anda bisa memilih jumlah yang anda sukai karena angka tidaklah penting. Ia menunjukkan bahwa waktu itu praktik tersebut memang umum dilakukan. Jadi apa maksudnya menyerang poligami dan kepemilikan budak?

Bahkan jika anda menyampaikan 13.000 artikel mengenai hal ini, apa yang mau anda buktikan? Saya menyatakan tanpa rasa penyesalan bahwa ia menikah beberapa kali dan menikahi budak dengan tetap mengikuti kebudayaan yang normal pada jaman itu. Dan kebanyakan pria muslim tidak berbuat seperti itu karena adanya perubahan nilai moral saat ini tentang kehidupan perkawinan.

Mengikuti Sunnah bukan berarti harus menikahi 12 wanita, malahan pria muslim hanya bisa menikah 4 kali, yang sifatnya lebih untuk menghindari semangat para pria muslim untuk meniru nabi. Maka Sunnah ini sebenarnya tidak bisa dilakukan.

Muslim sering memiliki akal sehat dan wanita saat ini pun tidak akan menerima jika dijadikan isti kesembilan, walau sang pria beralasan mengikuti Sunnah nabi. Banyak wanita muslim seperti di Pakistan akan ngamuk jika suaminya mulai bermain mata dan menyimpan budak.

Tuduhan anda bahwa Muhamad menikahi banyak wanita hanya membuktikan satu hal, bahwa ia memang menikah berkali-kali dan mempunyai budak. Menyamakan nilai moral saat ini padanya adalah perbuatan yang tidak adil, bukan hanya pada Nabi , namun juga pada semua bapak pendiri Amerika.

Pertanyaan saya pada anda:

1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah berlebih-lebihan?
2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?
3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan perbudakan di negara2 maju diakibatkan karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu?
4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan oleh
muslimin di desa-desa tertinggal?
5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar pada prakteknya pada jaman sekarang di negara2 muslim?

JADI, Saya telah berusaha sejujur mungkin menanggapi Mr. Ali dalam isu poligami. Dari pengalaman saya, pernikahan dengan 12 wanita tidak lagi terjadi pada muslim jaman sekarang, dan jikapun ada, itu adalah pengecualian.

Ahl-e-Sunnat sendiri telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti praktek ini, dan hanya menyetujui bahwa sang nabi mengikuti kebiasaan yang umum pada jamannya. Mengapa kafir terus mempermasalahkan hal ini? Kami para muslim tidak mengikutinya.

Saya rasa dalam setiap bahasan saya hanya bisa mengatakan, “Menang benar (Muhamad berpoligami dan mempunyai budak), memangnya kenapa?” Apakah saya harus menjadi ateis karenanya?

Anda menulis:
Ada lebih dari 1 milyar muslim di dunia ini, mengapa tidak ada satupun dari mereka yang mampu membuktikan bahwa tuduhan saya salah?

Ini hanyalah masalah perspektif.
Mungkin karena anda membuat 2 peraturan dasar tentang perdebatan ini:
1. Saya selalu benar.
2. Jika saya salah, lihat peraturan no 1.

Saya tidak menggunakan prinsip ini, saya ingin menyanggah dan banyak hal yang saya dapat pelajari dan betulkan. Namun dalam salah keyakinan, tidak ada area hitam atau putih, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka bagi saya, kepercayaan diri dan keras kepala adalah hal yang berbeda.

————————————————————————————-
DARI ALI SINA

Yth Mr. Shahzad,

Nampakya anda tidak membaca artikel yang saya berikan, atau tidak mengerti inti masalahnya. Seluruh argumen anda berkisar pada : muslim sekarang tidak lagi mempraktekkan poligami. Ini tidak relevan ! :evil:

Masalah yang saya persoalkan tidak sekedar memperdebatkan jumlah wanita yang dinikahi Muhamad. Masalahnya adalah : RENDAHNYA MORAL MUHAMAD SAMPAI TERLIBAT PEMERKOSAAN ! Muhamad menyerang rakyat tidak bersalah tanpa peringatan, membunuh semua pria, mengambil wanita tercantik dan menyetubuhinya pada hari yang sama ia membunuh suami, ayah, dan semua orang yang disayanginya. Ini terjadi pada Juwairyah, Rayhanah dan Safiyah. TUGAS ANDA SEBAGAI PEMBELA ADALAH UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA MUHAMAD BUKAN SEORANG PEMERKOSA. Anda ternyata tidak sanggup !

RAYHANAH

Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhamad menutup jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia memerintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka, termasuk istri dan anak2 mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah wanita tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhamad. Ia menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan untuk diperkosa penawannya, sang nabi besar Allah.

JUWARIYAH

Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada
pergolakan dan perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan Muhamad, sang pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.

Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum
mempunyai kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-Mustaliq.

BUKHARI, biografer Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis;
Diriwayahkan Ibn Aun:

“Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu.”

Volume 3, Book 46, Number 717:

Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomorr 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhamad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun
mereka sama sekali tidak tertarik pada agama bawaan Muhamad itu. Ia tidak pernah memaafkan mereka karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil pemujaan dewa. Muhamad dalam kemarahannya mengatakan bahwa Allah akan mengutuk Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolakNya (Q. 5:60 dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk mencari pengikut.

Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab Medinah yang miskin dan bodoh, yang bekerja di kebun anggur milik kaum Yahudi, dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigarn dari Yemen, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun. Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada perbudakan untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Allah. Muhamad telah mendapatkan agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan perang.

Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika
keadaan menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:

Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing.

Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.

Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tembusan uang.

Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. “Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini.

HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya.”

www.trueteaching.com

Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia ”mempunyai budi pekerti agung ” (Q 68:4).” dan ”sebenarnya nabi adalah contoh sempurna untuk diikuti (Q 33:21).”

Pertanyaannya adalah, benarkah ini?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?
Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, inikah prilaku Nabi Tuhan? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah ”rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA ????

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmat Alam Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA ?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.

Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dengan campuran isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, ”anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?” lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata, ”Ini suatu penghinaan!.”

Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, ”Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah”

Ibn-i-S’ad dalam ‘Tabaqat‘, menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.

Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, ”Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwariah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat kesenangan dari istrinya yang lain. Namun Muhamad adalah orang tua licik. Dengan menyindirnya ”berat sebelah dalam timbangan”, ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari nafsu sex Muhamad.

SAFIYAH

Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai bagiannya dalam harta rampasan. Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya. http://www.prophetmuhammed.org/
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah dicari dalam hadis).

Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu ‘I-Nadir. Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi’, pria yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang menceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana mereka berdua bermalam.

Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang wanita ini denganmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang ingin menyetubuhinya.

Sikap nabi Allah, yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahi untuk satu hari saja dan mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.

Sejarawan muslim pun mencatat bahwa perkawinan terjadi satu hari setelah Muhamad menyetubuhinya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena Allah telah mengeluarkan ayat yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa perkawinan, meskipun mereka telah menikah.dan semua wanita yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki…(Q. 4:24)

Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi mengganggap bahwa budak tidak mempunyai hak se-cuilpun. Bayangkan dirimu sbg seorang wanita yang telah menikah dan berbahagia, namun begitu Muhamad dan para pengikutnya menyerang kotamu, kamu akan kehilangan semua hakmu, sementara suamimu dibunuh atau diperbudak dan anda dihadiahkan kpd Mujahidin yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho Allah.

Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.

Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata,”Safiyah, ayahmu selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukumnya.” Dan Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena kesalahan orang lain?”
“Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa lainnya” Q. 53:38)

Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhanlah yang membantai kaum Yahudi dalam PD II.

“Nabi kemudian memberikannya pilihan utk bergabung kembali dgn rakyatnya setelah bebas atau menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dgnnya.

(Tabaqat)
(Kita harus ingat bahwa Muhamad membantai kebanyakan rakyatnya dan sisanya diusir dari tanah air mereka. Jadi, PILIHAN MACAM APA yg diberikan kpd Safiyah ????)

“Ia sangat pandai dan lembut dan mengatakan, “Ya rasulullah, saya sudah menanti Islam dan saya sudah mengharapkan (kedatangan) anda, sebelum datangnya undangan anda ini. Kini dgn kehormatan berada dihadapan anda, saya diberikan pilihan antara kafir dan Islam dan saya bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan rasulNya lebih dicintai saya daripada kebebasan saya sendiri ataupun bergabung dgn rakyat saya sendiri.”

(Tabaqat).


Apakah pengakuan ini memang jujur ? Apakah ia bebas mengucapkan apa yg ada dlm benaknya ? Ingat bahwa wanita itu DIPERBUDAK oleh lelaki yg MEMBANTAI seluruh keluarganya dan dgn mudah menghabisi jiwanya pula. Jelas ia tidak punya ‘kebebasan.’ Ini jelas menunjukkan bahwa ia tidak bebas. Atau, ia sangat lihai sampai berani berbohong demi menyelamatkan nyawanya.

Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhamad iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Jawabnya,”Ia adalah benar nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah : mereka harus menentangnya sekuat tenaga.

(Tabaqat)

Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua Yahudi yang mengenali Muhamad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT) kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA ? LOGISKAH INI ? Bukan hanya itu, DIMANA dalam Taurat disebut tentang Muhamad ? Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak mampu menemukannya?

Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.

(Tabaqat)

Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim ? Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, melainkan dibawa ke hadapan sang nabi karena dia paling muda dan paling cantik diantara tawanan lainnya.

Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran Khaibar dalam hadis.

Dinarasikan oleh ‘Abdul ‘Aziz:

Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan

(Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).

Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata,” Oh Nabi Allah! Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata, “Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata,” Oh nabi Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.” Maka nabi berkata,” Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan nabi berkata,“Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemdian nabi mengambil dan mengawini dia.

Thabit lalu bertanya pada Anas, “apa mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata” dirinya sendiri merupakan mahar yang harus dibayar ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.”

Sahih Bukhari 1.367

Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria pada saat pernikahan. Muhamad tidak membayar mahar kaerna ia harus membayarnya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorang nabi Tuhan.

Kisah macam diatas cukup membuat kita miris kalau terjadi pada jaman sekarang, namun lagi2 Muhamad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan menerima DUA imbalan:

Pertama, dengan menghindari mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja.
Kedua, ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya.

Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhamad barangsiapa yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi 2 imbalan.

>>>Sdr Pembela, anda mengajukan berbagai pertanyaan. [/color]
1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah terlalu berlebih-lebihan?

Saya setuju bahwa standar moral kaum Arab jaman dulu tidak bisa dibandingkan dengan standar saat ini.

2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?

Saya menyetujui bahwa tingginya nilai moral seseorang dinilai berdasarkan masanya dan oleh orang-orang disekitarnya.

3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan nilai2 perbudakan di negara2 maju karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu?

Saya setuju bahwa nilai moral berubah seperti yang telah dikatakan pada bagian 2, juga relatif berdasarkan waktu dan tempat.

4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan adalah sesuatu yang hanya dilakukan muslim di desa-desa tertinggal?

Saya tidak mengatakan bahwa tindakan Muhamad menikahi banyak wanita melanggar nilai etika pada jamannya. Dan memang benar, poligami saat ini tidaklah dipraktekkan oleh sebagian besar muslim.

5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar pada prakteknya pada jaman sekarang di negara2 muslim?

Pada akhirnya saya pun mengerti bahwa meniduri gadis budak 1400 thun yang lalu di Arabia tidak dianggap imoral. Dan memang benar banyak Negara muslim tidak memperbolehkannya pada saat ini.

Seperti anda lihat, saya menyetujui seluruh poin anda diatas. Namun saya tidak menyetujui bahwa argumen anda membebaskan sang nabi dari tuduhan PEMERKOSAAN.

Inti permasalahan yang anda lewati adalah bahwa Muhamad mengklaim diri sebagai nabi Tuhan untuk segala zaman dan semua bangsa. Ia memperkenalkan diri sebagai Nabi Terakhir dan Yang Terbaik dari Semuanya. Ia bersikeras bahwa ia mempunyai ”budi pekerti agung” 68:4, “contoh yang harus diikuti” 33:21, ” rahmat bagi semesta alam” 21:107 dan ”Nabi yg paling terhormat” 81.19.

Namun berdasarkan apa yang telah kita telusuri, ternyata tidak begitu adanya.

Apakah contoh yang diberikan Muhamad dalam kisah Juwairiyah dan Safiyah sepatutnya diikuti oleh para muslim?

Jika anda bilang YA, maka Muslim sah2 saja menyerang rumah-rumah non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka.
Jika anda bilang TIDAK dan tindakan Muhamad pada jaman tersebut tidak dapat diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.

Yang menjadi masalah adalah bahwa Muslim tidak konsisten. Apakah kita harus mengikuti contohnya apa tidak? Apakah ia memberi contoh yang baik untuk kemanusiaan untuk diikuti atau tidak?

Image
George Washington

Muhamad bukan hanya figur sejarah. Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada satu orangpun yang mengatakan bahwa tindakannya merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !

————————————————————————————-

KESIMPULAN JAKSA
Pertama, Muhamad BUKAN contoh baik yang harus diikuti. Kedua; ayat Quran yang menyatakan contohnya harus diikuti atau ia nabi segala
jaman adalah palsu. Oleh karena itu, ini menyebabkan seluruh isi Quran tidak dapat diandalkan keasliannya dan oleh sebab itu tidak mungkin berasal dari Tuhan (!!!).

Kenapa kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh yang diberikan Muhamad walaupun ia menyuruh begitu? Apakah sekarang standar moral muslim lebih tinggi dari Muhamad? Mengapa kita harus mengikuti orang yang standar moralnya lebih rendah dari kita?

Syukurlah kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh Muhamad, walaupun memang ada yang benar2 mengikutinya. Osama bin Laden adalah contohnya, bayangkan apa yang terjadi jika lebih banyak lagi muslim sepertinya dan menjadi muslim yang sebenarnya.

Muslim yang tidak mengikuti contoh Muhamad adalah muslim yang tidak taat. Muslim yang taat berbuat banyak hal yang membawa bencana dan perbuatan setan lainnya. Semakin seorang muslim megikuti Quran, semakin berbahaya tidakannya terhadap kemanusiaan. Bukankah ini membuktikan bahwa Islam itu ajaran SETAN :twisted: ?

Jika ajaran agama saya menyuruh untuk memerangi tetangga, membunuh, memperbudak, memperkosa, memukul istrinya atau
sebanyak mungkin tawanan … mengapa saya tidak boleh melakukannya ? Mengapa anda kemudian mengatakan agar kita menggunakan akal kita sendiri dalam menentukan perbuatan yang kita anggap baik untuk diikuti. Apakah Tuhan mempermainkan kita?

Saya menyerahkan pada pembaca untuk menilainya.

KESIMPULAN AKHIR

Kegiatan seksual yang tak diinginkan sama saja dengan PEMERKOSAAN. Dapatkah anda menjelaskan bagaimana caranya budak tahanan wanita yang kebebasannya telah direnggut secara paksa DAPAT MENOLAK HUBUNGAN SEKSUAL ?

Jaksa mohon diri untuk sementara.

Ali Sina

END OF PART III
BAGIAN IV

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad4.htm
BAGIAN IV, PEMERKOSAAN 2

———————————————————————————-
DARI PEMBELA, RAHEEL SJAHZAD

Kepada para Jury,
Jawaban atas bagian III dan permintaan atas pembatalan tuduhan Jaksa.

Pembela meminta pembatalan terhadap kasus dengan dasar bahwa tuduhan Mr. Sina sendiri memberatkan dan menyesatkannya. Pembela juga menuntut untuk mengetahui maksud sebenarnya Jaksa Penuntut.

Dasar tuntutan saya adalah 2 pernyataan Jaksa Penuntut;

1)
Jaksa menyatakan bahwa ” Bukhari, biografer terkemuka Muhamad, menuliskan kisah tentang penyerbuan terhadap Bani al-Mustaliq yang dipaparkan dalam hadis.” Pernyataan ini membuktikan ketergantungan
Penuntut pada biogafer ini dan melandaskan semua tuntutannya berdasarkan hadisnya.

Namun kemudian Jaksa mengatakan dalam bahasannya pada kasus Juwairiah bahwa “Semua kisah tentang Juwairiyah bercampur antara fakta kebenaran dan hiperbola, yang selalu terdapat dalam semua kisah dalam hadis.”

Pertentangan kedua pernyataan ini memperlihatkan bawha Penuntut menggunakan hadis semau2nya. Disatu pihak ia mengutip dari Hadis, dilain pihak ia menganggap hadis bercampur antara fakta dan hiperbola.

Sekarang Pembela akan memberikan versi yang lebih akurat tentang kisah tersebut, walau Jaksa telah mengatakan bahwa sumber ini penuh dengan campuran anatara kebenaran dan hiperbola. Pembaca dapat menilai sendiri karena ini adalah versi hadis yang lengkap.

Volume 3, Book 46, Number 717 (Bukhari)
dan Book 019, Number 4292: (Muslim)

Pada peperangan 1400 tahun yang lalu, dalam suatu perang, banyak musuh dikalahkan, keluarga mereka ditawan dan salah satunya dijadikan istri Terdakwa. Berdasarkan kisah tersebut, tebusan bagi Juwairiya dibayar dan ia dibawa untuk dinikahkan.

Pembela tidak akan membahas lebih jauh tuduhan Jaksa karena sangat subyektif dan tidak berdasarkan bukti2 yang kuat. Tentu saja cerita yang tidak akurat dan dihiperbolakan dapat mengandung banyak pengertian. Maka Pembela ingin menunjuk sekali lagi bahwa kasus poligami adalah tidak relevan.

2)
Mr. Sina menulis:
“ Saya menyetujui bahwa nilai moral seseorang harus berdasarkan nilai moral yang berlaku saat itu pendapat masyarakat sekitarnya”
dan
“Akhirnya, saya pun menyetujui bahwa meniduri budak bukanlah pelanggaran moral di masy. Arab 1400 tahun yang lalu dan memang benar kebanyakan Negara muslim tidak mempraktekkannya lagi.”

Karena pernyataan ini maka saya tidak mengerti mengapa akhirnya Penuntut masih mempermasalahkan poligami.

Oleh karena perbedaan sikap Jaksa ini, Pembela menginginkan ditutupnya kasus ini.

Terima kasih,
R. Shahzad

————————————————————————————-

DARI A SINA KEPADA RAHEEL SHAHZAD

Pembela menyiapkan mosi untuk membatalkan kasus ini atas dasar, apa yang dianggapnya, “ke-tidakakurat-an bukti2 yang disampaikan Jaksa”.Oleh karena itu, katanya, maka seluruh kasus ini harus dibubarkan dan Terdakwa dinyatakan tidak bersalah.

Jika bukti2 ini ditulis oleh musuh2 Terdakwa, Pembela bisa saja benar. Ketidak-akuratan penyataan dapat saja djadikan dasar untuk membubarkan kasus ini, khususnya jika bukti tersebut adalah campuran fiksi- fakta dan hiperbola.

Namun kisah historis yang dipaparkan sebagi bukti ini bukanlah ditulis oleh musuh Muhamad. Ini merupakan pengakuan dari para pengikut setianya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menuduh pemimpin yang mereka cintai melakukan perilaku kriminal seperti pemerkosaan, pembantaian suatu suku bangsa, penyiksaan, pelecehan anak secara seksual, perbuatan cabul, atau pembunuhan terencana. Yang biasa dilakukan pengikut suatu aliran agama adalah turut membesar-besarkan kemampuan pemimpin mereka sebagai manusia yang superior, seperti nabi dari Allah misalnya. Apalagi jika ia sendiri yang mempengaruhi mereka dengan mengatakan bahwa ia memiliki moral yang paling luhur sekaligus rahmat bagi segenap ciptaan Allah.

Penuntut menganggap Bukhari sebagai penulis biografi Muhamad terkemuka karena memang begitulah kebanyakan para muslim menilainya. Bukunya merupakan sumber Sunnah dan merupakan tulang punggung Syariah. Buku2 tersebut juga merupakan sumber sejarah berharga tentang pribadi Muhamad. Buku2 tersebut dibaca dan diikuti oleh sebagian besar pengikut Islam selama 1400 tahun. Tanpa adanya buku tersebut, praktek Syariah dan pemahaman yang tepat terhadap Quran mustahil dilakukan. Ritual sholat, puasa, dan naik haji yang merupakan pilar Islam digambarkan dalam Hadis2 tersebut. Tanpa hadis, mempraktekkan Islam adalah suatu yang mustahil. Faktanya adalah, tanpa Hadis, maka keberadaan historis Mumamad sangatlah diragukan.

Buku2 Bukhari dan Muslim mengandung banyak inkonsistensi, hiperbola dan campuran antara fakta dan dusta. Hal tersebut adalah karena kecintaan mendalam terhadap pemimpin mereka. Muhamad menganggap dirinya sbg pusat alam semesta, penghubung satu-satunya antara manusia dengan Tuhan dan, (menurut hadis dari Iran) merupakan satu2nya alasan Tuhan menciptakan alam semesta ini. Konsep yang sama dapat ditemui dalam Quran dan hadis ketika ia sendiri berkata,
”Nabi lebih dekat pada para pengikutnya dibandingkan kedekatan mereka dengan diri mereka sendiri dan istri2 nabi adalah ibu mereka.” (33:6)

Memang sudah biasa jika pengikut agama berbohong untuk mem-besar2kan status pemimpin mereka dan membuat kisah2 luar biasa untuk lebih menggambarkan kharismanya. JADI tidaklah mungkin jika mereka membuat kisah untuk menyerang nabi tercinta mereka. Jika memang cerita2 yang memberatkan Muhamad memang ada, tidak masuk akal untuk meragukannya. Meskipun detailnya berbeda-beda, namun fakta bahwa banyak orang menarasikan kisah-kisah tersebut merupakan bukti kuat akan kebenarannya.

Pembela tidak sanggup menangkis semua tuduhan tersebut, namun malah meminta ditolaknya bukti2 ini karena saya, Jaksa, dianggap meragukan kebenaran Hadis. Bukankah Hadis2 ini telah dikatagorikan Sahih? Jika ternyata memang tidak benar, mengapa selama 1400 tahun tidak ada yang menyanggahnya? Mengapa kisah2 ini ternyata terus berulang dalam sumber2 yang berbeda? Hadis mengandung banyak sekali nama orang2 dan tak mudah untuk dikategorikan palsu. Dan akhirnya, mengapa pengikutnya harus menulis kisah2 yang mempermalukan nabi yang sangat mereka cintai?

Kami mempunyai bukti yang cukup dari Quran maupun Hadis untuk menuduh Terdakwa dan menyatakannya bersalah terhadap semua dakwaan, termasuk kasus PEMERKOSAAN yang telah memberatkannya di BAGIAN III persidangan ini.

____—-****O****—-____

Pembela juga nampaknya bingung dalam menanggapi pertanyaan Jaksa :

a. Muhamad menyatakan bahwa ia bermoral luhur dan memberi contoh yang baik untuk diikuti.

b. Muhamad mengikuti contoh masyarakat pada masanya, yang dia sendiri mencap sbg JAHILIYAH. Bukannya ia memberikan contoh yang lebih baik tetapi ia malahan mengikuti kebiasaan2 buruk orang2 yang semestinya harus dia bimbing.

c. Hasilnya; pengikutnya menjadi bingung dan mempercayainya dalam segala hal (a.), dan mereka mengikuti contohnya dalam (b.). Karena itu, timbullah praktek2 jahiliyah yang sekarang diikuti oleh milyaran orang yang tertipu karena Muhamad sendiri mengatakan bahwa ia adalah contoh yang baik untuk diikuti. Muhamad bukanlah pembaharu dan contoh yang baik untuk diikuti, ia hanyalah pengikut dan pelaksana dari suatu budaya barbar yang telah ada.

Berdasarkan bukti2 ini, Terdakwa harus pula dinyatakan bersalah melakukan pembohongan luas, memberi contoh yang buruk, dan menyesatkan para pengikutnya. Alasan yang menyatakan bahwa ia hanya orang yang mengikuti budaya pada jamannya adalah alasan yang tak dapat diterima. Ia adalah orang pada jaman tersebut yang turut mengikuti perbuatan jahiliah orang2 pada masanya, namun malah mengaku mempunyai standar moral yang lebih tinggi dan merupakan suatu contoh yang harus diikuti sepanjang masa. Oleh karena itulah ia telah menyesatkan pengikutnya, dan menipu mereka.

Ini tentunya adalah tuduhan tambahan, berbeda dari tuduhan PEMERKOSAAN yang sedang dibahas dan pasti ditolak oleh Pembela yang sibuk menghalang-halangi pengesahan bukti2 dan pengakuan dari pengikut setia Muhmmad sendiri.

Jaksa selesai dan menghimbau juri untuk menyatakan Muhamad bersalah atas tuduhan PEMERKOSAAN dan atas tuduhan MEMBOHONG bahwa ia adalah wakil umat manusia (atas klaimnya sebagai contoh yang baik dan bermoral luhur).

Jika pembela setuju, maka kita dapat menutup kasus ini dan berlanjut kepada topik lain.

END OF PART IV
Diterjemahkan oleh Barabaig

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad5.htm

BAGIAN V: PEMERKOSAAN 3

Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdallah
Pembela : Raheel Shahzad

Pendakwa : Umat Manusia
Penuntut : Ali Sina

Pengadilan : Opini masyarakat umum
Jury/Hakim : Anda sekalian.

—————————————
DARI RAHEEL SHAHZAD

Yth A SIna,

Penuntut menuduh, almarhum Tertuduh melakukan perkosaan. Hal ini harus berdasarkan bukti. Tidak pernah ada tuduhan langsung yang dibuat oleh korban terhadap Tertuduh. Lagipula Quran menuliskan bahwa kasus perkosaan membutuhkan 4 saksi mata (Quran tidak digunakan untuk membela, hanya menyatakan persyaratan).

Jika Penuntut mempergunakan tulisan biografi Bukhari dan Muslim, maka dia harus menerima secara keseluruhan atau menolak mereka sama sekali. Tidak bisa mempergunakan mereka sambil meragukan mereka sebagai saksi. Karena itu Pembela meminta ketegasan dari Penuntut.

Dengan demikian kasus ini hanyalah masalah opini pribadi, yang tidak disertai dengan bukti-bukti pemerkosaan. Jika tuduhan pemerkosaan diajukan maka wanita tersebut harus membuat tuduhan. Jika tidak, keputusan yang dibuat atas tuduhan ini tanpa kehadiran korban. Jika Safiyah “diperkosa”, Pembela meminta bukti sejarah atas kejadian ini. Jika acuan yang digunakan dari Bukhari dan Muslim, Pembela ingin menyaksikan buktinya. Jika acuan lain yang digunakan 1400 -1200 tahun yang lalu, Pembela ingin menyaksikannya pula.

Jika proses peradilan ini tidak dapat menunjukkan sumber dimana, digunakan kata “perkosaan” atau sumber lain yang menunjukkan kata synonim dengan “perkosaan” dalam kurun waktu seribu tahun yang lalu atau pengakuan dari Safiyah tentang kejadian perkosaan, maka Pembela akan meneruskan pembelaan.

Jika Ali Sina diperbolehkan oleh sidang untuk menggunakan sumber dari Bukhari dan Muslim, sumber yang sama akan digunakan juga oleh Pembela. Dengan kesimpulan bahwa kejadian ini lebih mengarah pada campur tangan dari Tuhan. Dengan demikian jaksa pembela menyimpulkan seperti yang tercatat dalam Bukhari dan Muslim, kasus urusan pribadi dengan Juwairiya didalam tenda, tidak menyangkut hubungan sex.

Seperti halnya Penuntut diperbolehkan untuk membuat tuduhan, maka dengan ini Pembela mengajukan pembelaan terhadap apa yang mungkin terjadi:

Sumber Bukhari dan Muslim tidak menuliskan kata-kata “sex”, hubungan badan, menggerayangi tubuh atau teriakan histeris. Hanya satu hal yang ditulis yaitu Tertuduh menginginkan ketenangan, dan Safiyah adalah tawanan perang dan Tertuduh sudah membayar tebusan terhadapnya kepada ayahnya. Status “tawanan” sebagai wanita bebas, yang diberikan oleh ayahnya setelah menerima tebusan dan dia sendiri telah meminta untuk pindah ke tempat yang lebih aman, dan Tertuduh khawatir kalau wanita jelita tsb (seperti yang digambarkan oleh Penuntut) akan mendapat celaka jika dibiarkan tanpa perlindungan pada masa yang penuh dengan kekerasan.

Dan kemudian Tertuduh menjelaskan duduk permasalahanya, bahwa tertuduh ingin melindungi Safiyah karena kecantikannya dapat membawa kemalangan baginya. Yang mana juga dijelaskan tentang ideologi Islam dan campur tangan dari Tuhan atas kejadian tsb. Setelah beberapa jam kemudian “tawanan” yang sudah dibebaskan ini dapat tidur dengan tenang tanpa ada perlawanan. Pagi harinya, ketika Tertuduh keluar dari tenda, dia melihat penjaga tenda dan bertanya apa yang telah dilakukan.

Penjaga ini menjelaskan bahwa perlunya untuk memberi keamanan kepada Tertuduh dengan istri barunya. Tertuduh menghaturkan terimakasih kepada penjaga tsb, dan kemudian memindahkan ketempat yang lebih aman.

Hari berikutnya “walima”, pesta pernikahan diadakan dan dihadiri oleh banyak orang. Tertuduh mencintai istrinya ini, Safiyah, meskipun dia yang berasal dari kaum Yahudi ini dan mengatakan bahwa Safiyah memiliki hal yang sama dengan istri-istri lainnya, yang mana membuat mereka cemburu. Sembilan bulan kemudian Juwairiya tidak melahirkan seorang bayi, yang mana memperkuat bukti bahwa hubungan sex tidak pernah terjadi.

Ketika masa perang telah berlalu, Safiyah dihormati oleh masyarakat sekitarnya sebagai seorang istri Tertuduh, dia kemudian menjalani hidup pernikahan yang normal. Dia tidak pernah menyatakan cerita perkosaan, dan dengan demikian tidak seorangpun beralasan untuk membuat tuduhan yang demikian. Tidak ada sumber dari Islam, Yahudi atau Kriten yang mengacuh pada tuduhan ini.

Tertuduh menjadikannya istri sampai Muhamad meninggal dan sampai pada hari tuanya, Safiyah tidak pernah menyatkan bahwa dia pernah dipermalukan secara sexual dan diabaikan sebagai istri. Safiyah meninggal dengan tenang, dan sampai saat ini dia termasuk sahabat setia Nabi, karena pengabdiannya. Safiyah tidak melahirkan seorang anakpun dengan tertuduh. Jiwanya telah kembali dengan tenang meskipun telah pernah mengalami tragedy yang mengerikan semasa hidupnya dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya pada masa perang.

Dalam standar kehidupan sekarang, dunia penuh dengan pertentangan kekuasaan dan tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa komunitas 1400 tahun yang lalu hidup penuh ketentraman dan seragam. Seperti halnya sekarang ini, jaman itu telah ada pertentangan pendapat, perbedaan kepecayaan dalam banyak hal. Semoga Safiyah mendapat ketenangan abadi. Amen.

Dengan ini Pembela meringkas penolakan kasus pemerkosaan yang dituduhkan, berdasarkan praduga “urusan pribadi di dalam tenda”. Pembela telah selesai mengajukan pembelaan, selanjut tergantung process peradilan untuk membuktikan jika pembelaan ini tidak benar adanya. Jika pembelaan ini ditolak, hal tsb berarti juga menolak tuduhan dari Penuntut. Terserah pada “hakim kemanusiaan” untuk memutuskan perkara.

Untuk diketahui selanjutnya, bahwa Pembela menyikapi tulisan di-website ini tentang pernikahan, perbudakan, dan istri-istri Tertuduh, bahwa motivasi dari Tertuduh adalah untuk melindungi para wanita dalam kejadian peperangan. Sedangkan sikap dari Penuntut berdasarkan “birahi”, terjadinya hubungan badan (sex) dalam perkara ini. Pembela sudah mengatakan bahwa hubungan badan (sex) tidak terjadi, kecuali dapat dibuktikan dengan bukti baru dalam bentuk gambar ( yang mana pembela sudah mengetahui bahwa hal itu tidak ada). Dengan ini sebenarnya, Penuntut telah memperlihatkan kebencian terhadap organisasi agama Islam. Pembela tidak melihat alasan hakim untuk berpihak kepada Penuntut.

Terimakasih
R Shahzad

————————————————————————————

DARI A SINA,

Yth Mr Shahzad,

KESAKSIAN KORBAN
Pembela menyatakan : karena tidak adanya korban perkosaan yang memperkarakan tuduhan kepada Tertuduh, karena tidak ada saksi perkosaan, maka kita tidak akan mendapatkan kesalahan pada almarhum Tertuduh.

Tujuan pengadilan ini bukanlah untuk menentukan kesalahan Tertuduh untuk kemudian dihukum. Bagaimana mungkin ? Tertuduh sudah mati! Tujuannya bersifat akademis, kita akan memberikan bukti-bukti bahwa Tertuduh tidaklah sesuci seperti yang diakui olehnya sendiri, dan dengan demikian tidak pantas untuk mengemban tugas yang diakuinya.

Membuktikan kesalahan Tertuduh dalam kasus perkosaan dan kasus lainnya tidak hanya mempunyai nilai sejarah, tapi juga akan memberi pengaruh sangat besar pada cara berpikir dan kelakuan berjuta-juta orang saat ini. Hal ini sangat penting karena kepercayaan Tertuduh menjadi sebab pertumpahan darah, kemiskinan dan kekacauan.
Saat terungkapnya kebenaran tentang Tertuduh, kepercayaan kepadanya dan kepada kekerasan ajarannya akan menghilang dan dunia akan menjadi tempat yang damai untuk semua manusia.

Tertuduh mengaku sebagai utusan Tuhan, sangat bermoral dan patut dicontoh. Dalam pandangan Penuntut, pengakuan tsb adalah tipuan belaka. Proses peradilan ini berharap untuk mengemukan alasan keraguan terhadap Tertuduh, dan membuktikan bahwa ia, Muhammad, bukan orang baik-baik, tetapi seorang penjahat.

Pembela memberi alasan:
Dalam kasus perkosaan diperlukan seorang korban yang membuat pernyataan “Saya diperkosa”. Belum pernah ada tuduhan macam ini terhadap Tertuduh.

Pembela jelas tidak benar. Sudah jelas korban tidak lagi hidup untuk bersaksi. Peran dari Penuntut adalah memberikan bukti-bukti yang masuk akal terhadap tindakan kriminal ini. Bukti kejahatan ini ditemukan dari PERNYATAAN TERTUDUH SENDIRI. Peradilan ini menyadari bahwa banyak pernyataan itu juga tidak benar. Penuntut berusaha untuk memisahkan / mencari kebenaran dari sedemikian banyak kebohongan dari pernyataan-pernyataan tsb. Dengan mengenali kontradiksi dari pernyataan Tertuduh, kebenaran akan terkuakkan.

HADIS BUKHARI DAN MUSLIM
Keberatan Pembela:
“Jika Penuntut menerima Bukhari dan Muslim sebagai dua penulis biografi terkenal, seharusnya dia menerima sepenuhnya atau menolak sepenuhnya hadis2 mereka. Tidaklah masuk akal untuk menggunakan dua orang tsb untuk menjelaskan perkara ini sambil menuduh motivasi kedua orang tsb. ”

Penuntut menolak keberatan tsb. Penuntut mengetahui Bukhari dan Muslim sebagai pengikut Muhamad yang setia, karena itu sikap mereka
tidak selalu objektif. Kedua sejarawan ini mengumpulkan cerita2 yang keluar dari mulut pengikut2 Muhamad.

Mereka berusaha membuktikan kebenaran cerita tsb sebatas kemampuan mereka dan mengelompokkannya sebagai 1)Sahih (asli), 2)Hasan (mungkin), 3)Dha’if (lemah) 4)Dha’if Jiddan (sangat lemah)
5)Maudhu (palsu). Mereka hanya memilih Hadis yang Sahih(asli) dan menolak selebihnya. Hidup mereka didedikasikan untuk mengumpulkan hadis2 tsb.

Kepercayaan dan pengabdian pada orang yang mereka percayai sebagai nabi tidak diragukan disini. Mereka mungkin sangat mempercayai cerita yang dibuat-buat (palsu) tentang mukjijat nabi tercinta dan melebih2kannya. Sangat masuk akal. Mereka JUGA memerinci tindakan kriminal Muhamad dengan sangat detail. Tanpa adanya tindakan kriminal Muhamad, mereka juga tidak akan menuliskannya. Karena itu, sangat masuk akal untuk mempercayai cerita kriminal yang dilakukan Muhamad dan mengabaikan cerita2 tentang kemampuannya melakukan mukjijat luar biasa.

Kenyataanya, mukjijat yang dilakukan oleh Muhammad bertentangan dengan Al Quran. Menurut Al Quran, ketika dia ditanya oleh orang-orang yang tidak percaya padanya untuk melakukan mujijat ia menjawab:

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.” Q. 17:90

Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” Q. 17:93

Karena itu pengikutnya bisa saja membuat-buat keajaiban dan mengakuinya sebagai perbuatan nabi yang mereka cintai; mereka memalsu hadis memuliakan nabi. Tetapi mereka tidak memiliki
asalan untuk memalsukan cerita tentang perbuatan kriminal nabi mereka.

SAFIYAH
Mr. Shahzad bercerita tentang SAFIYAH. Shahzad mengakui : bahwa setelah nabi membantai habis semua anggota keluarga Safiyah dan orang-orang yang dicintainya, nabi melihat betapa cantiknya Safiyah dan memutuskan untuk melindunginya dari kekerasan. Muhammad dalam tendanya menenangkan Safiyah dan menjelaskan bahwa adanya campur tangan Allah dalam kejadian ini.

Mr. Shahzad menjelaskan mereka tidur bersama dengan tenang dan tidak ada kejadian apa-apa. Tapi Mr Shahzad tidak menjelaskan mengapa seorang yang mengaku Rasul Allah yang mempunyai moral sempurna perlu tidur dengan wanita cantik didalam tenda tsb.

Mungkin malam pertama tidak terjadi apa-apa, tapi ini bukan berarti bahwa Muhamad tidak berusaha memaksakan kehendak kepada wanita yang sedang ditimpa kemalangan ini. Cerita berikutnya menjelaskan Safiyah menunjukkan upaya Tertuduh untuk memaksakan kehendaknya namun ditolak.

“Nabi tidak begitu senang dengan Safiyah, karena dia menolak ketika Rasul menginginkan untuk berdua dengannya dalam satu kesempatan”

Pembela mengatakan bahwa tidak ada hubungan sex dengan Safiyah karena dia tidak melahirkan anak Muhammad. Pada kenyataannya tidak semua hubungan sex selalu berakhir dengan kehamilan. Jawabannya disini adalah Muhamad sudah tua dan mungkin saja dia impotent. Dia termasuk orang yang gila sex dan paling suka bermain sex (dengan meraba-raba) dengan wanita cantik. Namun sekian banyak isteri dan gundiknya (pengecualian Mariah) tidak memberinya keturunan.

Hadis berikut ini memperlihatkan kalau tertuduh gila sex:
Bukhari Jilid 7 Buku 62 Nomer 6

Dikatakan oleh Anas: Biasanya nabi berkeliling (untuk bermain sex) dengan para istrinya dalam satu malam, dan ia mempunyai 9 istri.

Meskipun demikian ini bukan berarti Muhammad bisa melayani istri-istri mudanya. Dia hanya menelanjangi mereka dan bermain sex (meraba-raba saja).

Bukhari Jilid 1 buku 6 Nomer 299

Aisah berkata: Jika Rasul Allah ingin bermain sex (meraba-raba) seorang dari kita selama masa menstruasi, biasanya dia memerintahkan kita untuk mengenakan Izar (pakaian dalam yang dikenakan dari pinggang ke bawah) dan mulailah dia bermain sex (fondling) dengannya.” Aisha menambahkan “ Tidak ada dari kamu yang dapat menahan birahi seperti Rasul”.

Seorang laki-laki yang bisa menahan nafsu birahinya tidak perlu berkeliling untuk bermain sex. Mungkin saja itu yang dikatakannya kepada para istri mudanya, bahwa sebenarnya Muhamad impoten. Muhamad menikmati permainan sex dengan meraba-raba wanita telanjang dan berkhayal sedang bercinta dengan mereka.

Jilid 7 Buku 71 Mumber 660
Cerita Aisyah:

Nabi Allah, Muhammad, terkena sihir sehingga ia biasanya berpikir bahwa ia telah berhubungan sex dengan para istrinya padahal tidak demikian (Sufyan mengatakan: Itu merupakan sihir yang sangat ampuh kekuatannya)

Mungkinkah penglihatan Muhamad akan Jibril merupakan halunasi juga? Sudah cukup bukti untuk meragukan kewarasan Muhammad. Kasus ini kita akan bicarakan dalam lain kesempatan.

Quran ayat 4:24 dan ayat 23:1-7 : Muhamad menganjurkan para pengikutnya untuk memperkosa para tahanan perang. Adakah manusia normal yang menganggap perkosaan terhadap tawanan perang sbg hal yang wajar ? Wanita macam apa yang menginginkan hubungan sex dengan para pembunuh suaminya, ayahnya, saudaranya atau orang yang dicintainya?

Bukti bahwa Muhammad telah melakukan pemerkosaan dari cerita Rayhanah, Safiyah dan Juwairiah dan kenyataannya Muhamad telah mengijinkan untuk memperkosa wanita tahanan, sangat jelas diterangkan di Al Quran:

Ayat 4:24
Juga dilarang bagimu adalah wanita yang telah menikah, kecuali mereka yang dimiliki tangan kananmu.

Ayat 23:1-7 … Kecuali mereka yang dipersatukan dengan pernikahan, atau (tawanan) yang dimiliki tangan kananmu, dalam hal ini, kamu tidak dapat disalahkan. [tidak dapat disalahkan melakukan hubungan sex

Kepemilikan tangan kanan adalah para wanita tawanan perang. Dari ayat diatas jelaslah terbukti Muhamad menganjurkan perkosaan terhadap tahanan perang.

Pembela menyatakan Tertuduh menikah dengan Safiyah dan wanita
tawanan perang lainnya karena alasan untuk melindungi mereka dari kekerasan. Ini alasan yang memalukan dan mencoreng keadilan.

Jika Tertuduh benar mempunyai ketulusan untuk melindungi wanita tsb, dia tidak akan membunuh suami-suami mereka. Peperangan dimulai oleh Muhamad. Muhamad seorang agresor. Dia menyerang kelompok masyarakat (sipil) tanpa adanya peringatan, membantai mereka, membumi-hanguskan tempat tinggal mereka, merampas harta dan kebebasan mereka serta menculik istri-istri mereka.

Jika Muhamad mempunyai perasaan terhadap para wanita, tentu ia tidak akan membunuh para suami mereka dan orang-orang yang mereka
cintai, dia tidak akan memperbudak wanita, dia tidak akan membagi-bagikan wanita tawanan pada pengikutnya, dia tidak mengijinkan tindakan perkosaan, ia tidak akan memilih yang paling cantik untuk dirinya, dia tidak akan memerintahkan wanita untuk bertelanjang sehingga ia bisa meraba-raba wanita tsb dan dia tidak punya khayalan sex dengan mereka.

Penuntut berkesimpulan tidak pantas Muhamad diberi sebutan sebagai orang yang memiliki belas kasih. Penuntut mempelajari seluruh perjalanan hidup Tertuduh. Ia adalah seorang yang menghancurkan nilai kemanusiaan, mengabaikan welas asih, dan tidak memiliki nilai etika.

Namun Penuntut setuju dengan Pembela untuk menutup kasus ini dan meneruskannya dengan kasus selanjutnya.

END OF PART V
http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad6.htm

BAGIAN VI:
PEDOFILIA
Umat Manusia vs. Muhamad bin Abdallah
Nov 28, 2003

———————————————————————————
RAHEEL SHAHZAD/PEMBELA;

Disini saya meneruskan Bagian III. Disitu saya menjelaskan bahwa perkawinan ganda tidak perlu dipermasalahkan, karena anda menampilkan bukti2 utk mendukung perkawinan ganda Tertuduh, tapi kemudian anda menerapkan moralitas dan nilai2 masyarakat modern th 2003 sekarang (khususnya masyarakat barat), dan menyatakan Tertuduh bersalah atas polygami. Seperti saya katakan sebelumnya, baopak2 pendiri Amerika juga memiliki budak, tetapi mereka tidak pernah dituntut karena rendahnya moral mereka.

Pembela oleh karena itu menganjurkan agar praktek poligami 1400 tahun yg lalu dinilai sesuai dgn jaman itu dan tidak dapat dihakimi dgn nilai2 jaman sekarang Tertuduh dinyatakan tidak bersalah.

Berikut mengenai tuduhan pedofilia. Dgn menikahi gadis ‘tidak matang’ (demikian menurut pihak Penuntut) berusia 9 thn, Tertuduh dianggap mempraktekkan pedofilia. Moralitas lelaki berusia 53 thn yg menikahi gadis 9 thn juga dipertanyakan Penuntut.

Utk menanggapi tuduhan ini, saya ingin mencuplik sebuah artikel spt yg tertera dibawah ini :

“Inilah masalahnya dengan koleksi sumber2 hadis, yang memang tidak berasal dari Tuhan dan memang tidak dianggap demikian oleh kaum muslim. Hadis2 ini hanyalah saksi sejarah yang dimaksudkan untuk membimbing orang sekarang, yang juga memiliki otoritas kolektif untuk memutuskan relevansinya sekarang. Dan kalau ada masyarakat Islam yang memilih jalan garis keras, maka ini juga akan menjadi masalah bagi masyarakat yang menerimanya.”

[Sumber2 yg dikutip: Volume 5, Book 58, Number 236:
Diriwayahkan ayah Hisham:
Khadijah wafat 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Medinah. Disana ia tinggal selama kira2 dua tahun dan kemudian ia menikahi ‘Aisha ketika ia seorang gadis berusia ENAM tahun, dan ia memenuhi perkawinannya ketika ia berusia SEMBILAN tahun.]

Kira2 dua tahun tambah 6 = 9?

Karena perihal umur ini tidak konklusif, maka Muslim hanya bisa menyimpulkan bahwa ia seorang gadis yg sangat muda.

[Book 008, Number 3311:
‘A’isha melaporkan bahwa Rasulullah (saw) menikahinya ketika ia
berusia TUJUH tahun, dan ia dibawa kerumahnya ketika ia berusia SEMBILAN, dan boneka2nya berada bersamanya; dan ketika ia (rasulullah) wafat, ia berusia 18 thn.]

Aisha diperkirakan berusia 9 ketika mengadakan hubungan perkawinan, Tertuduh 53. Tertuduh wafat pada usia 63, dan Aisya 9+10=19, namun sumber2 mengatakan 18. Tidak konklusif. Oleh karena itu, haruslah diterapkan logika masy jaman sekarang. Sumber2nya (hadisnya) tidak perlu dicampakkan, namun harus diartikan bahwa Aisya menikah pada usia muda. Lalu, usia 7 thn mengkontradiksi hadis sahih sebelumnya, dgn demikian kedua hadis saling kontradiksi, dan oleh karena itu perlu dipertanyakan keakuratan usia (Aisya) yg ditampilkan Penuntut.

[Ia menikahi ‘Aisha di Mekah ketika ia seorang anak berusia TUJUH dan tinggal dgnnya di Medinah ketika ia berusia SEMBILAN atau SEPULUH. Ia satu2nya perawan yg dikawininya (rasul). Ayahnya, Abu Bakr, mengawininya (Aisya) kpdnya (Muhamad) dan rasul memberinya 400 dirham. (Ref. 3, page 792)]

Pembela kini memiliki semakin banyak alasan utk meragukan sumber sbg amat sangat tidak konklusif. Tidak konklusif dan tidak benar adalah dua hal berbeda. Oleh karena itu Pembela tidak menolak hadisnya, namun menerapkan logika: usia persisnya Aisya tidak jelas, diperdebatkan. Kalau kita memilih (usia) 9 atau 10, maka 10 atau 11 atau 12 bisa dianggap diluar konteks.

Pembela kini akan menyimpulkan bagi Juri bahwa Aisya bisa digambarkan sbg gadis muda, yg umurnya bisa dimasukkan dlm kategori tertentu. Jika Penuntut memilih usia yg paling rendah, maka Pembela juga dapat memilih usia yg paling tinggi. Pembela akan mengacu kpd Aisya sbg ‘gadis muda’ berusia 12, hal yg bisa diterima para pakar, tanpa menolak hadis secara keseluruhan. (Malah ada pakar yg menganggap ia berumur 14)

Jika Penuntut bersikeras pada usia 9 tahun, maka ia harus menyampaikan bukti2 sbb:

1- Laporan medis dan sertifikat kelahiran dari rumah sakit tempat ia dilahirkan

2- Sertifikat perkawinan dan tanggal yg jelas

3- Keberadaan fisiknya sbg gadis yg belum mencapai pubertas

4- Sumber pasti yg menyatakan bahwa ia belum menstruasi pada saat ‘pemenuhan’ perkawinan

5- Sumber sejarah yg tidak terbantahkan bahwa ia tidak sehat mental, tidak mampu menolak sex dan tidak memiliki kemampuan menjadi seorang istri pantas bagi lelaki dari berbagai usia.

6- Sumber2 tidak terbantahkan bahwa ayahnya, ibunya, masyarakatnya sangat tidak menerima perkawinan itu.

Kalau Penuntut tidak dapat menyampaikan bukti2 diatas, maka setiap teks 1000 tahun yg lalu, yg mengacu kpd usia Aisya lebih oleh karena itu harus dikesampingkan, juga oleh Pembela. Tuduhan yg diajukan jaman sekarang dibawah konstitusi tertentu terhdp seorang Tergugat yg wafat sudah lama 1400 thn lalu, oleh Pembela dianggap sangat rancu. Kecuali semua sumber bisa menyampaikan penanggalan pasti, maka Pembela berpendapat bahwa Penuntut menggunakan informasi selektif utk menyampaikan sudut pandangnya, dan oleh karena itu tidak menyampaikan kasus dgn tegas dan jelas.

Terlebih lagi, “pemenuhan perkawinan/consummation” dianggap berarti “hubungan seksual”, definisi yg juga dipaksakan terhdp Juri. Pembela tidak membantah bahwa “consummation” tidak berarti hubungan seksual, tetapi Penuntut tidak menyampaikan bukti bahwa “consummation” terhdp anak usia 12 tahun sebenarnya berarti hubungan seksual.

Disatu pihak Penuntut menganggap bahwa gadis muda adalah tidak matang dan bermain dgn boneka yg dianggapnya mencerminkan seorang anak secara mental dan fisik. Dilain pihak, ia (Aisya) dipercaya Penuntut utk menyampaikan arti “consummation”, terlepas dari variasi usia (Aisya) yg tertera dlm Hadis. “Consummation” berarti hubungan seksual menurut logika orang normal dan Pembela setuju, namun Penuntut tidak menyampaikan sumber manapun sbg bukti bahwa hubungan seksual ini memang spt apa yg dikatakannya (Aisya).

“Consummation” secara logika berarti perbuatan antara suami dan istri. Namun Penuntut menyebutnya pedoflia.

Pembela kini akan menyampaikan aspek2 pedofilia dan menunjukkan bahwa aspek2 ini disalahartikan dan Tergugat tidak mempraktekkannya :

Pedofilia adalah sebuah praktek yg tidak dianggap pantas oleh sebuah masyarakat dimana seorang individu mencari kenikmatan tidak sah dgn melakukan “sex” dgn “anak2”

Definisi itupun perlu sejumlah elemen, dan kalau elemen2 itu tidak ada maka Tergugat tidak dapat dianggap bersalah. Jika Penuntut memiliki definisinya sendiri, silahkan ia memaparkannya shg mudah bagi Pembela utk membantahnya. Karena Penuntut tidak menyampaikan definisi pedofilia apapun dari sumber atau perspektif sejarah manapun, penggunaan kata “pedofil” hanya didasarkan pada definisi pribadinya yg tidak jelas dan memihak, tanpa penjelasan apa yg dimaksudkan dgn “anak” 1400 thn yg lalu.

Definisi dan elemen2 pedofilia:

Aspek pertama adalah penerimaan secara sosial (‘social acceptability’), dan bukan social acceptability secara universal.
Makanan dan cuaca serta faktor2 lain mendikte pertumbuhan manusia, dan masyarkat itu juga memiliki hak dan kemampuan utk mengartikan apa yg dianggap logis dan apa yg tidak.

Kedua, penerimaan sebuah praktek secara universal belum tentu pantas bagi sebuah masyarkat independen tertentu. Jika wanita ingin hidup tanpa busana di hutan Amazon, ini tidak dianggap tidak pantas di hutan Amazon.

Elemen ketiga, adalah “sifat” kepantasan atau ketidak-etisan tsb. Praktek dlm sebuah masy yg dianggap etis dan sah dan dalam batas2 logis masy tsb, dan tidak sangat kontras dgn masy2 lain dijaman sekarang atau dimasa depan, lalu harus diperhitungkan.

Elemen keempat adalah kenikmatan seksual, sbg satu2nya tujuan bagi seseorang yg membayangkan ataupun terlibat dlm pedofilia. Kalau semua elemen ini tidak terpenuhi, maka definisi pedofilia tidak bisa diterapkan.

Penerimaan Sosial Universal/Universal Social Acceptability:
Penuntut menganggap bahwa relativitas moral/moral relativity sbg filosofi tidak berguna, tapi itu tidak secara otomatis membuatnya batal. Jika sebuah masyarakat menerima sejumlah kelakuan dlm batas2 logika, dan tidak melanggar hak azasi manusia, maka masyarakat itu bebas membiarkan anggota2nya mempraktekkannya.

Ini adalah prinsip2 dasar Amerika yg memberikan banyak kebebasan. Kanibalisme, misalnya, dihentikan, jika dianggap tidak pantas oleh masyarakat2 dijaman itu.

Etika, oleh karena itu, adalah milik masyarakat tsb. Karena perkawinan nabi tidak dibarengi dgn kritik dari sumber meyakinkan oleh para pakar 1400 thn yg lalu, atau 1200 thn yg lalu, maka harus diterima bahwa perkawinan dgn gadis muda adalah sebuah tindakan yg dapat diterima dan tidak merusak moralitas jaman itu.

A Sina oleh karena itu harus menyampaikan bukti2 jelas yg tidak dapat dibantah dari sumber manapun bahwa kelakuan Tergugat 1400 thn yg lalu mengakibatkan shock, olokan atau tantangan terhdp perkawinan dgn Aisya. Jika Tertuduh ingin menciptakan masyarakat bayangannya dan lalu menempatkan Tertuduh didalamnya, ini jelas salah. Kalau Penuntut menuduh pedofilia atas dasar definisinya karangannya sendiri dari sebuah masyarakat “universal”, maka Juri secara sengaja dibawa ke jalur yg salah.

Tidak etis atau tidak sah: penerimaan masyarakat atas perkawinan antara seorang lelaki dan perempuan telah dipenuhi oleh Tergugat, dan tidak dibantah oleh Penuntut.

Aspek seksual bukan bagian dari elemen ini. Kalau dijaman sekarang, seorang lelaki menikahi gadis berusia 3 tahun (dan ini MEMANG dilakukan dibagian2 tertentu di India), namun aspek seksual tidak terpenuhi oleh pasangan sebelum gadis itu mencapai usia dimana sex bisa terpenuhi, maka perkawinan dgn anak usia 3 thn tidak dapat dianggap tidak etis atau tidak sah.

Kalau hal yg tidak mengagetkan 1400 thn yg lalu, dijaman sekarang sampai mengundang shock, atau meminta masyarakat utk menganggap tidak pantas nilai2 1400 tahun lalu, sama saja dgn meminta sebuah hal yg tidak mungkin..

Kenikmatan Seksual: Ini tidak pernah ditantang oleh masyarakat manapun. Dlm masyarakat manapun, perkawinan adalah ijin sahl bagi sex, dan dibeberapa masyarakat bahkan menerimanya tanpa ikatan perkawinan. Namun pedofilia adalah praktek tidak etis karena melibatkan “anak”. Namun pandangan “anak” itu juga dianggap hal yg penting. Sang “anak”, tidak pernah memiliki arti universal dlm masyarakat manapun. Seorang “anak” di AS, misalnya, dianggap belum mencapai batas usia 18 thn secara hukum. Namun secara biologis ini tidak memiliki dasar apapun. Betapa aneh bahwa seseorang yg berumur 17 tahun & 354 hari masih dianggap sbg anak, dan satu hari kemudian ia dianggap orang dewasa. Jadi kita harus menyetujui bahwa perbedaan antara “anak” dan “orang dewasa” adalah karena persyaratan jaman sekarang. Setiap negara memiliki batas usia minimumnya sendiri bagi kepemilikan Surat Ijin Mengendarai/SIM. Jadi utk menetapkan kriteria anak, 1400 thn yg lalu dgn kriteria usia 16 atau 16 atau 14 pada jaman sekarang, tidak benar.

Mungkin bagi anak2 perempuan, dewasa bisa datang dng mulainya menstruasi, dan bagi anak2 lelaki dgn kemampuan mereproduksi atau bagi keduanya, dgn tumbuhnya jembut. Oleh karena itu hadis sering merujuk pada menses (menstruasi).
Ada gadis yg memulai menstruasi pada usia 8, dan ada yg memulainya pada usia 12. Bahkan di AS sekarang, anda dapat menemukan anak2 berusai 10 thn dgn karakteristik fisik sbg wanita.

… dst dst Pembela mengulang2 ttg perbedaan definisi anak perempuan atau wanita 1400 tahun yg lalu dgn jaman sekarang.

….

————————————————————————————-
ALI SINA KEPADA RAHEEL SHAHZAD

1)
Pembela memulai sidang dengan menunjuk bahwa moralitas masyarakat jaman dulu tidak boleh diterapkan pada moralitas jaman sekarang.

Argumen ini sudah didiskusikan sebelumnya dan kita tidak perlu lagi memperpanjang masalah ini. Namun perlu saya tambahkan disini bahwa para bapak pendiri Amerika, walaupun memiliki budak, mereka tidak pernah terlibat tindak kriminal seperti Tergugat. Mereka tidak pernah terlibat pemerkosaan, pembunuhan masal, pembunuhan terencana, genocide, perampokan, penipuan dan mengumpulkan kekayaan lewat perbudakan dst dst.

Bapak2 pendiri Amerika tidak pernah mengaku sebagai “wakil Allah di bumi” atau “contoh baik” untuk diikuti rakyat atau “memiliki moral mulia/ tinggi” seperti yang diakui Tergugat. Bapak2 pendiri Amerika itu adalah orang2 jujur yang lahir pada suatu masa dimana pemikiran humanisme masih dalam tahap awal. Mereka berupaya sekeras mungkin bagi tercapainya masyarakat yang lebih baik, lebih adil berdasarkan hukum.

Tergugat dilain pihak, mengikuti contoh orang2 yang dianggapnya jahiliyah, memberi contoh yang lebih jelek dari pada orang manapun dalam masanya dan membenarkan tindak kriminal yang paling biadab. Ia menciptakan sebuah masyarakat yang penuh dengan kekerasan, anti demokrasi, terbelakang, picik dan mengabadikan kesengsaraan bagi mereka.

Para bapak pendiri Amerika membuka pintu bagi kebebasan rakyat mereka dan membantu rakyat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang melebihi bangsa2 manapun didunia. Sementara pengikut Muhamad terbelenggu dalam kebodohan, fanatisme, kepercayaan buta dan semakin jauh dari kebahagiaan dan kesejahteraan dengan tujuan mencapai sebuah surga yang notabene palsu.

Hasilnya kelihatan sekali : Dalam hanya dua abad, Amerika menjadi superpower dunia yang tidak tersaingi tanpa perlu memperbudak atau menginjak2 negara2 lain. Namun 14 abad kemudian, para pengikut Muhamad masih terbelenggu kemiskinan dan tenggelam dalam kesengsaraan yang menjerat mereka dari segala penjuru.

Yang disebut dengan “the Golden Age of Islam” (Jaman Keemasan Islam) dicapai hanya karena Muslim merampas kekayaan finansial dan intelektual negara2 lain. Muslim menginvasi, merebut, meninggalkan jejak2 pertumpahan darah dan puing2 kehancuran. Dan begitu kekayaan itu mereka habiskan, dunia Islam kembali tenggelam dalam kemiskinan karena memang mereka terbukti tidak mampu maju ataupun mengikuti perubahan jaman.

2)
Pihak Pembela mencoba meragukan otoritas Hadis dan mengatakan:

“Inilah masalahnya dengan koleksi sumber2 hadis, yang memang tidak berasal dari Tuhan dan memang tidak dianggap demikian oleh kaum muslim. Hadis2 ini hanyalah saksi sejarah yang dimaksudkan untuk membimbing orang sekarang, yang juga memiliki otoritas kolektif untuk memutuskan relevansinya sekarang. Dan kalau ada masyarakat Islam yang memilih jalan garis keras, maka ini juga akan menjadi masalah bagi masyarakat yang menerimanya.”

Saya ingin bertanya kepada Pembela; bagaimana sebuah masyarakat Islam atau seseorang tahu MANA HADIS YANG PERLU DIIKUTI DAN MANA YANG TIDAK ???

Apa yang akan kau katakan pada Muslim yang berpendapat bahwa perempuan memiliki intelektualitas yang defisien (kurang dari lelaki) atau bahwa anjing hitam harus dibunuh karena IA MEMBACANYA DALAM HADIS ??? Apakah anda akan mengatakan bahwa ia salah dan hadis2 itu tidak lagi berlaku ? Dapatkah anda pula jelaskan mengapa ia harus percaya pada anda ?? Siapakah anda sampai merasa memiliki otoritas untuk menentukan mana hadis yang berlaku dan mana yang ketinggalan jaman ?? Apakah anda akan menentukan sirat dan sunah Nabi dengan STANDAR SEKULER ANDA ATAU STANDAR NEGARA KAFIR ?

Kita dihadapkan pada dilema. Quran tanpa Hadis membuat kita bingung. Hadis-lah yang memberikan penjelasan tentang arti Quran. Lalu datanglah Mr Shahzad yang mengatakan bahwa Hadis sebenarnya problematik. Ia mengatakan bahwa masyarakat secara kolektif bisa menentukan mana hadis yang ingin diikuti dan mana yang tidak. Saya ingin bertanya kepadanya, MEKANISME APA YANG DIGUNAKAN SATU MILYAR ORANG ISLAM UNTUK MENENTUKAN MANA HADIS YANG BERLAKU DAN MANA HARUS DIBUANG ?

Faktanya adalah, tidak ada mekanisme macam itu dan mengganti hadis atau Quran TIDAKLAH MUNGKIN. Orang bisa memilih untuk tidak mengikuti bagian tertentu dari hadis, tetapi tidak ada otoritas dalam Islam yang dapat menentukannya. Apakah kita memiliki hak untuk menghentikan para mullah atau teroris Muslim kalau mereka memilih untuk mengikuti ajaran kekerasan Quran ? WONG, mereka cuma mengikuti agama mereka ! Bukankah Islam pecah kedalam ratusan sekte, yang satu menganggap yang lainnya murtad, khususnya karena setiap orang memilih dan menolak hadis dan menafsirkan Quran semaunya, sesuai dgn keinginan masing ?

3)
Mengenai kasus PEDOFILIA, Pembela berputar2 bahwa Aisha dibeberapa hadis dikatakan berumur 6 dan di hadis lain berumur 7 dan lalu berkesimpulan bahwa karena teks tentang umur Aisha berbeda2 maka mereka “tidak konklusif” dan tidak boleh dipercaya sama sekali.Oleh karena itu ia mengatakan bahwa Aisha bisa jadi lebih tua ketika ia menikahi Tergugat.

Pembela menulis:[color]
Jika 9 atau 10 bisa disimpulkan darinya maka 10 atau 11 atau 12 juga dimungkinkan … beberapa pakar malah menyimpulkan usianya ketika nikah adalah 14.

Pembela menuntut agar Jaksa menunjukkan surat2 medis Aisha, sertifikat perkawinan dan sertifikat pembuktian bahwa Aisha beklum mencapai pubertas atau belum menstruasi pada saat menikah dengan Tergugat dan berbagai tuntutan tidak masuk akal lainnya.

Namun saya sbg Jaksa angkat topi pada Pembela karena ia jelas menganggap pernikahan dengan anak umur 9 tidak etis dan oleh karena itu mencoba membuktikan bahw Aisha sebenarnya lebih tua dari yang dikatakan hadis. Namun, upayanya ini tidak berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hadis yang mengatakan dengan JELAS bahwa usia Aisha ketika dicalonkan kepada Muhamad adalah ENAM dan SEMBILAN tahun ketika hubungan perkawinan dimulai.

Sahih Muslim Book 008, Number 3310:
‘A’isha mengatakan: rasulullah (saw) menikahi saya ketika saya berusia ENAM TAHUN dan saya masuk rumahnya ketika saya SEMBILAN TAHUN.

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64
Diriwayahkan ‘Aisha:

…]bahwa nabi menikahi saya ketika saya berumur ENAM dan ia melaksanakan perkawinan itu saat saya SEMBILAN TAHUN, dan kemudian ia tinggal bersama nabi selama sembilan tahun (yi sampai kematiannya).

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65
Diriwayahkan ‘Aisha:

bahwa nabi menikahinya saat ia ENAM TAHUN dan ia melaksanakan perkawinan saat ia SEMBILAN TAHUN. Hisham mengatakan : Saya diberitahu bahwa ‘Aisha tinggal bersama nabi selama 9 tahun …’

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88
Diriwayahkan ‘Ursa:

Nabi menulis kontrak perkawinan dgn ‘Aisha saat ia ENAM TAHUN dan melangsungkan perkawinan dgnnya saat ia SEMBILAN TAHUN dan ia tinggal dgn nabi selama 9 tahun …

Ada muslim yang bersikeras bahwa Abu Bakr yang mendatangi Muhamad dan memintanya mengawini puterinya. Ini jelas tidak benar dan ini buktinya.

Sahih Bukhari 7.18
Diriwayahkan ‘Ursa:

Nabi meminta Abu Bakr bagi ijin perkawinan dgn ‘Aisha. Abu Bakr mengatakan “TETAPI SAYA SAUDARAMU.” Nabi mengatakan, “KAU SAUDARA SAYA SE-UKUWIYAH, TETAPI IA (Aisha) HALAL BAGI SAYA utk saya kawini.”

Lihatlah bagaimana Muhamad melanggar semua adat/peraturan kaum Arab setiap kali dianggapnya menghalanginya mencapai keinginnanya.  Abu Bakr (ayah Aisha) dan Muhamad terikat janji persaudaraan. Jadi menurut adat, Aisha seperti sepupu Muhamad. Namun itu tidak menghalanginya untuk dijodohkan pada Muhamad saat ia berumur ENAM tahun. ANEHNYA, nabi penganut relativisme moral ini menggunakan alasan yangs ama untuk menolak wanita yang dianggapnya kurang muda atau kurang cantik baginya.

Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37
Narrated Ibn ‘Abbas:

Dikatakan kpd Nabi, “Mengapa kau tidak menikahi puteri Hamzah “? Ia menjawab, “[/color]Ia adalah sepupu angkat saya (puteri kakak saya)).”

Hamza dan Abu Bakr keduanya seperti saudara terhadap Muhamad. Namun Aisha pasti lebih sedap di mata Nabi dan tidak ada salahnya Nabi melanggar kode ektik dan adat masyarakatnya itu.

Dalam hadis berikut, Muhamad mengatakan pada Aisha bahwa ia mendapatkan mimpi tentangnya sebelum meminta ayahnya untuk mengawinkannya. Ini benar mimpi atau cuma dalih untuk membohongi anak kecil ?

Sahih Bukhari 9.140
Narrated ‘Aisha:

Rasulullah mengatakan kpd saya, “Kau dipertunjukkan dua kali kpd saya (dlm mimpi) sebelum saya menikahimu. Saya melihat bidaradari menggendongmu dlm selendang sutera dan saya mengatakan kpdnya, ‘Tunjukkanlah ia,’ dan lihatlah, ternyata itu kau.

Saya katakan pada diri saya sendiri, ‘Jika ini dari Allah maka terjadilah.’ “”

Ini hadis yang secara eksplisit menunjukkan umur Aisha pada saat perkawinannya.

Sahih Bukhari 5.236.
Diriwayatkan ayah Hisham:

Khadijah wafat 3 tahun sebelum nabi berangkat ke Medinah. Ia tinggal disana selama 2 tahun dan ia menikahi ‘Aisha ketika ia gadis ENAM TAHUN dan ia melangsungkan perkawinan ketika ia SEMBILAN TAHUN.

Sahih Bukhari 5.234
Diriwayahkan Aisha:

Nabi bertunangan dgn saya ketika saya gadis berusia ENAM TAHUN. Kami pergi ke Medinah dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Lalu saya jatuh sakit dan rambut saya rontok. Kemudian rambut saya tumbuh kembali dan ibu saya, Umm Ruman, datang kpd saya selagi saya bermain di ayunandgn teman2 perempuan saya. Ia memanggil saya dan saya mendatanginya, tidak tahu apa yg diinginkannya dari saya. Ia memegang tangan saya dan membuat saya berdiri di pintu rumah. Saya tidak dapat bernafas dan setelah pernafasan saya normal kembali, ia mengambil air dan menggosok muka saya dgn air. Lalu ia membawa saya masuk rumah. Didalam rumah saya melihat beberapa wanita Ansar yg mengatakan, “Selamat dan rahmat Allah besertamu …” Lalu ibu mempercayai saya kpd mereka dan mereka mempersiapkan saya (bagi perkawinan).

Tidak disangka, Rasulullah datang siang hari itu dan ibu saya menyerahkan saya kepadanya dan pada saat itu saya berusia SEMBILAN.

HANYA DALAM SATU HADIS UMURNYA DIKATAKAN “TUJUH ATAU ENAM”.

Sunan Abu-Dawud Book 41, Nomor 4915
Diriwayahkan Aisha, Ummul Mu’minin:

Rasulullah (saw) menikahi saya saat saya tujuh atau enam. Ketika ia tiba di Medinah, datanglah beberapa wanita. Menurut versi Bishr: Umm Ruman datang kpd saya saat saya bermain di ayunan. Mereka membawa saya, mempersiapkan dan mendandani saya. Saya lalu dibawa ke Rasulullah (saw) dan ia tinggal bersama saya ketika saya SEMBILAN ….

Dalam hadis diatas kami membaca bahwa Aisha bermain dalam ayunan. Itu bukan mainan perempuan dewasa. Hadis diatas menyebut Tergugat “hidup bersama” dengan Aisha pada saat ia berusia 9. Dan usia nikah disini disebut 6 atau 7.

Usia 6 atau 7 tidak beda jauh. Biasanya orang tidak pernah mengingat usia persisnya pada peristiwa2 penting. Jadi mengatakan 6 atau 7 tidak sama dengan 10 atau 12 atau malah 14, seperti yang dipaksakan Pembela.

Hadis berikutnya menunjukkan Aisha sedang bermain dengan boneka2nya.

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151
Narrated ‘Aisha:

Saya biasanya main dgn boneka dihadapan nabi, dan teman2 perempuan saya juga sering bermain dgn saya. Ketika Rasuloullah memasuki rumah kami, mereka biasanya menyembunyikan diri, tetapi nabi biasanya memanggi mereka utk bergabung dan bermain dgn saya.

Menurut adat Arab, bermain dengan boneka atau benda2 yang mirip orang dilarang, tetapi tidak bagi Aisha karena ia masih anak kecil, belum mencapai pubertas. Fateh-al-Bari page 143, Vol.13

Saya, Jaksa, oleh karena itu menyampaikan hadis diatas ketimbang tuntutan aneh Pembela berupa sertifikat kelahiran. Aisha masih anak2 saat ia bermain dengan boneka dan ayunan dan belum meraih pubertas. Surat medis atau sertifikat tidak diperlukan jika kita memiliki bukti diatas.

Sahih Muslim Book 008, Number 3311

‘A’isha melaporkan bahwa rasulullah (saw) menikahinya saat ia TUJUH TAHUN, dan ia dibawa kerumahnya sbg pengantin sbg pengantin ketika ia berusia SEMBILAN, dan boneka2nya bersamanya, dan ketika ia (nabi) wafat, Aisha berusia DELAPAN BELAS tahun.

Khadija adalah isteri pertama Muhamad yang meninggal bulan Desember, 619. Pada saat itu, Muhamad yang lahir tahun 570 AD berumur 49 (hampir 50) tahun. DUA BULAN setelah kematian Khadija, MUHAMAD MENIKAHI SAWDA DAN PADA SAAT YANG BERSAMAAN DIJODOHKAN PADA AISHA. 3 tahun kemudian ia melangusngkan perkawinannya dnegan Aisha YANG KETIKA ITU MASIH BERUMUR 9 TAHUN.

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 33
Diriwayahkan ‘Aisha:

Saya belum pernah iri terhdp wanita selain terhdp Khadijah, walau ia wafat TIGA tahunsebelum nabi menikahi saya.

Dalam bagian lainnya, Aisha mengatakan bahwa sejauh ingatannya, orang tuanya selalu Muslim.

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 245
Narrated ‘Aisha:

Saya tidak pernah mengingat orang tua saya mempercayai agama selain Islam,

Ini juga bukti bahwa Aisha dilahirkan dari Abu Bakr dan isterinya setelah mereka masuk Islam. Oleh karena itu ia tidak bisa lebih dari 9 atau 10 ketika ia menikah dgn Tergugat.

4)
Tergugat lalu menanyakan arti “hubungan” perkawinan (consummation of marriage) dan menyatakan bahwa Jaksa memaksakan kepada Jury pengertiannya sendiri.

Jaksa tidak sedikitpun berusaha memaksakan definisnya kepada arti sebuah kata. Ini hanya menunjukkan kesediaan Pembela untuk memaksakan pemikirannya guna membantah fakta dan kebenaran. Pembela mengatakan bahwa hubungan perkawinan bisa berarti hal2 lain dan bisa jadi Aisha menganggap “hubungan perkawinan” bukan hubungan seksual.

Saudara2, hubungan perkawinan hanya berarti satu hal. Pembela jelas memberikan arti lain. Bahkan kalau ia menganggap hubungan perkawinan hanya sebatas pada “me-raba2” (karena Aisha sering melaporkan bahiwa Muhamad meraba2 isteri2nya), MERABA2 ANAK DIBAWAH UMUR ADALAH PEDOFILIA ! INI MENJIJIKKAN, MEMUAKKAN DAN HARUS DIKUTUK.

Terlepas apakah Abu Bakr atau masyarakat jahiliyah ketika itu menyetujui “hubungan perkawainan” tsb, INI TIDAK MELOLOSKAN TERGUGAT DARI KEJAHATAN PEDOFILIA. Ia seharusnya memberi CONTOH YANG LEBIH BAIK !

Pembela lalu memberikan definisinya sendiri tentang pedofilia dan menetapkan 4 kriteria dan berdasarkan kriteria tersebut Tergugat bukan Pedofil.

Jaksa tidak akan mengupakan definisinya sendiri namun memanggil kesaksian para pakar. Menurut (kamus bahasa) Dictionary.com PEDOFILIA adalah:
TINDAKAN ATAU KHAYALAN ORANG DEWASA SEHUBUNGAN DGN AKTIVITAS SEKSUAL DENGAN ANAK ATAU ANAK2.

Menurut Paul A. Gore, Ph.D. dari University of Missouri-Kansas City, PEDOFILIA MELIBATKAN RANGSANGAN SEKSUAL DAN KEINGINAN ATAU KHAYALAN YANG MELIBATKAN IMPULS SEKSUAL TERHADAP ANAK2 DIBAWAH UMUR. SANG PEDOFIL HARUS BERADA DIATAS USIA 16 DAN ATRAKSI SEKSUAL HARUS MELIBATKAN ANAK BERUMUR 13 ATAU LEBIH MUDA YANG PALING SEDIKIT 5 TAHUN LEBIH MUDA DARI ORANG DEWASA TSB.

SANG PEDOFIL BERTINDAK UNTUK MEMUASKAN IMPULS SEKSUAL ATAU FANTASI DAN/ATAU RANGSANGAN SEKSUAL YANG MENGGANGU INDIVIDU TSB. SANG PEDOFIL TERANGSANG SECARA SEKSUAL KARENA KORBANNYA SEORANG ANAK, TERLEPAS DARI JENIS KELAMIN ANAK ATAU PEDOFIL TSB.

Oleh karena itu orang tidak perlu mengadakan hubungan seksual untuk memenuhi persyaratan seroang pedofil. Bahkan memiliki khayalan seksual saja dnegan anak dibawah usia 13 sudah termasuk definis pedofilia.

MUHAMAD BERUMUR 54 saat ia mengadakan SEX DENGAN AISHA yang
HANYA BERUSIA 9 TAHUN. Definisi manapun dan kapanpun menganggap ini P E D O F I L I A. Penetrasi aktual tidak penting terjadi untuk membuktikan Tergugat seorang PEDOFIL. Kemakluman masyarakat juga
bukan alasan kuat. Masyarakat jaman dulu memang jahiliyah dan biadab.
Malah ada masyarakat yang menganggap korban manusia normal dan bahkan mempraktekkan kanibalisme. Ini bukan alasan untuk percaya bahwa tindakan ini benar di jaman manapun APALAGI SEORANG NABI masyarakat tersebut yang mempraktekkan tindakan biadab itu TIDAK MUNGKIN SEORANG NABI.

Muhamad menganggap diri pembawa pesan Pencipta Alam Semesta (Rahmatul Alamin). Ia menganggap diri penunjuk jalan umat manusia. Katanya sendiri, ia memberikan contoh bagi seluruh umat manusia. Bahkan jika PEDOFILIA berlangsung dalam masyarakatnya jaman itu, ia seharusnya TIDAK melakukannya.

Kami disini tidak saja untuk mengutuk Muhamad namun membebaskan orang2 dari kepercayaan yang diciptakannya. Saya harap Muslimin dimanapun akan mencari kebenaran dan menyadari bahwa mereka dibohongi oleh seorang tukang tipu jahanam. Mengikuti kepercayaan ciptaan orang macam itu tidak akan mengantar siapapun ke surga. KECUALI ALLAH ITU SETAN, TIDAK ADA TUHAN YANG AKAN MENGUTUS ORANG DENGAN MORAL YANG SEDEMIKIAN RENDAH ITU UNTUK MENJADI PENUNJUK JALAN UMAT MANUSIA.

Pembela melanjutkan :
“Karena 1400 tahun lalu tidak ada pakar atau penulis yang menganggap pernikahan dengan seorang gadis dibawah usia pubertas itu salah, maka harus diterima bahwa perkawianan macam itu adalah KELAKUAN YHHANG BISA DITERIMA DAN TIDAK MENGHANCURKAN MORALITAS MASY JAMAN ITU.”

Walau saya tidak memiliki sertifikat pernikahan untuk membuktikan usia Aisha 9 tahun, sejauh yang saya tahu tidak ada satupun dokumen sejarah yang menyatakan bahwa perkawinan dgn anak2 dibawah umur DIANGGAP NORMAL. Rakyat beradab seperti Persia (saya sendiri orang Persia) tidak pernah mempraktekkan hal itu.

Sekarang ini di Iran, banyak gadis dibawah umur dan negara2 Islam lainnya menjadi korban sunnah ini. Khomeini menurunkan batas perkawinan menjadi 9 ketika ia memegang tampuk pimpinan. INI merupakan PEDOFILIA SECARA MASAL ! DAN INI TERJADI DI KEBANYAKAN NEGARA ISLAM. Dan orang hanya mengangguk2 sambil mengatakan “ALLAHu AKBAR” !

Untuk itu saya memohon pada Jury, baik Muslim maupun non-Muslim, untujk secara bulat mengutuk TERGUGAT, MUHAMAD BIN ABDULAH, karena memberi contoh burukk bagi umat manusia dan menyatakannya bersalah atas tuduhan PEDOFILIA.

Kepada rekan2 muslim saya, saya minta untuk membayangkan puteri/adik/saudara anda yang berumur 9 tahun digagahi atau diraba2 oleh seorang lelaki berumur 54 tahun. Bahkan jika kau mencintai Muhamad kau harus mengutuk tidnakan ini ! Kalau tidak, bagaimana kau bisa mengaca dan tidak merasa malu akan bebalnya hatimu ?

TAMAT BAGIAN VI
http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad7.htm

BAGIAN VII :

Kelakuan seks tidak senonoh, tidak bermoral, tidak pantas dan hubungan seks diluar perkawinan/Lewdness, Immorality , indecency and promiscuity

Umat Manusia vs. Muhammad bin Abdallah
Dec. 03, 2003

Terdakwa : Muhammad bin Abdallah
Diwakili oleh Pembela : Raheel Shahzad

Jaksa : Ali Sina a/n Umat Manusia (Dunia non-Muslim)

Sidang Pengadilan : Opini Publik
Jury : Pembaca FFI

————————————————————– ——————–

DARI RAHEEL SHAHZAD/PEMBELA:

Pihak Pembela sekarang akan menangani masalah orientasi seksual Terdakwa mengingat jumlah perkawinannya. Keberatan atas usia salah satu isterinya sudah dibahas diatas sehingga Aisha kini dicakupkan kedalam istilah isteri sah Terdakwa, sederajat dengan isteri2 lainnya. Menurut banyak sumber, Terdakwa menikahi sejumlah 13 wanita.

Mr Sina, mengapa anda tidak dapat menerima Terdakwa sebagai seorang lelaki dengan nafsu seksual seperti layaknya lelaki jaman sekarang ?Apakah seorang nabi tidak boleh menikmati sex ? Atau ini hanya tuntutan anda bahwa ia tidak boleh menikmati sex dengan isterinya ? Apakah anda hanya bersedia menerima mereka2 yang tidak memiliki nafsu maupun melakukan kegiatan seksual apapun ?

Bahkan lelaki yang paling berakhlak-pun dapat menikmati tubuh isterinya dalam kenyamanan rumah mereka dan bahkan sang isteri juga berhak menikmati suaminya selama sang isteri tidak dipaksa. Mengadakan hubungan sex berkali2 tidak membuat sesuatu perkawinan didasarkan atas nafsu. Bahkan keinginan untuk megnadakan hubungan sex dengan beberapa wanita tidak otomatis membuat seorang tidak bermoral. Pandangan seseorang atas sex bahkan dapat menganggap setiap tindakan sex orang lain sebagai tindakan atas dasar nafsu. Lagipula, mengapa kita harus mempersoalkan nafsu seorang suami terhadap isterinya ?

Lagipula bukankah setiap perkawinan melibatkan hubungan seksual ?
Perkawinan bukan sebuah “marriage of convenience” (kawin demi keuntungan) bagi masyarakat tersebut, kecuali demi mencapai tujuan baik. Jika anda menikahi seorang wanita, apakah anda wajib melakukan sex 90 kali sehari ? Apakah anda sebagai Jaksa memiliki bukti absolut bahwa Terdakwa menikah hanya karena alasan seksual dan tidak ada alasan lain ?

Saya tidak dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukannya, namun andapun tidak dapat membuktikan bahwa ia melakukannya. Anda mungkin akan menyampaikan sumber2 yang menggambarkan daya seksualnya sebesar sekian banyak lelaki dan bahwa ia mengunjungi setiap rumah setiap malam, namun apakah anda memiliki FOTO2 kegiatan seksual tersebut ? Bagaimana dengan para akademisi muslim ? Anda memiliki bukti mendetail bahwa setiap perkawinannya merupakan pelampiasan nafsu seksualnya ? Apakah anda tidak memungkinkan adanya alasan lain, seperti perlindungan sang wanita ?

Anda memberi segala macam teori dan menunjukkan sejumlah buku dan sumber dan mengatakan bahwa saya hanya memaklumi, padahal tidak.
Saya meminta anda menunjukkan bukti bahwa kesemua 13 perkawinan itu tidak memiliki alasan sosial lain kecuali alasan yang anda sebutkan diatas. Bahkan jika 300 akademisi-pun mengatakannya, mereka masih belum dapat meyakinkan saya bahwa sex terlibat dalam setiap perkawinan.

Karena tidak adanya foto album dan video 1400 tahun lalu, saya dianggap sebodoh itu menyimpulkan bahwa 13 perkawinan pasti menghasilkan 13 ejakulasi dalam 8 jam. Jika anda membaca kesemua teks dan menyimpulkan adanya nafsu seksual, anda boleh2 saja. Namun saya juga bisa membaca sumber yang sama dan menyimpulkan bahwa ada berbagai macam cara pandang terhadap hal ini.

Point saya adalah bahwa urusan tempat tidur jarang diungkapkan. Dan sebuah perkawinan tidak otomatis memiliki elemen2 yagn anda sebutkan itu. Saya membaca referensi tentang perkawinan Terdakwa dan dengan menggunakan kata2 yang sama saya bisa mengambil kesimpulan lain dalam batas2 logika.

Namun jika anda bersikeras bahwa Terdakwa gila sex, maka jawaban saya adalah:

Lihatlah jaman sekarang di AS; jutaan lelaki meniduri 8 sampai 10 wanita. Banyak anak muda memulai kegiatan seksual pada usia 15 atau 16, dan pada saat mereka berusia 60, sudah pasti meniduri banyak perempuan. Di AS ini tidak lagi dianggap aneh atau tidak bermoral.
Bahkan para politisi yagn memegang posisi tinggi sekarang dan kode moral mereka tidak dipertanyakan, kalaupun mereka pernah tidur dengan 30 wanita sepanjang hidup mereka. Bahkan Bll CLinton terjerat dalam nafsu, tetapi itu tidak menghalangi orang untuk tetap memilihnya sebagai presiden.

Bahkan presiden2 lain juga tidak memiliki kesulitan memisahkan maslah wanita dengan urusan negara. Lihatlah kelakuan JFK yang tidak pernah disembunyikan namun ia tokoh yang paling dihormati sampai sekarang.

Anda juga mengajukan keberatan atas perkawinannya pada usia tinggi
(khususnya menyangkut Aisha) dalam konteks itu pula. Pihak Pembela menganggap hal ini sangat aneh, mengingat kebebasan seksual dan kemajuan medis negara2 barat. Pembela mengajukan “Viagra” sebagai salah satu bukti, yagn dipakai sekarang untuk memperpanjang siklus seksual lelaki2 berusia. Jadi kalau Terdakwa ingin menikmati sex pada usia diatas 50’s, mengapa ia sampai diseret ke pengadilan ?

Jadi menurut Mr. Sina, siapapun diatas 50 tahun yn ingin mengadakan sex dalam perkawinan adalah tidak bermoral ? Perbedaan usia antara suami dan isteri bukan ditetapkan oleh pihak Jaksa, namun oleh Jury.

Jika Jaksa menganggap jijik perkawinan seorang lelaki berumur 50 tahun dgn perempuan berumur 20, maka Pembela berhak meminta Jaksa agar mengeluarkan sebuah deklarasi untuk menyatakan sikapnya ini. Jika suatu saat Jaksa ingin menunjukkan kesalahan Terdakwa, maka Pembela dapat menggunakan deklarasi Jaksa ini sebagai bahan pembelaan:

“Saya, Ali Sina, dengan ini menyatakan bahwa adalah tidak pantas untuk seorang lelaki berumur 50 tahun-lebih mengadakan hubungan sex atau memiliki rasa cinta bagi seorang wanita, tua ataupun muda, kapanpun. Dan jika lelaki itu terbukti melakukan poligami atau menikah lebih dari sekali atau memiliki nafsu seksual macam apapun bagi siapapun, lelaki atau perempuan, maka ia dinyatakan “defisien” dalam segala hal lain, akibat menunjukkan keinginan normal untuk melakukan hubungan sex tsb.

Saya juga menyatakan bahwa adalah melanggar norma apapun dan kapanpun bagi seorang lelaki berusia lanjut untuk menikmati tubuh isterinya dalam rumahnya. Jika orang macam itu terbukti melakukan hal diatas maka ia saya anggap tidak mampu memimpin bangsa, perusahaan atau sekelompok orang, karena memiliki kode moral defisien, tidak pantas diberi perhatian atau memang tidak waras.

Pernyataan ini akan berlaku kepadan setiap orang, bangsa, kapanpun dan bagi siapapun yang menganggap diri nabi. Saya juga menyatakan bahwa setiap presiden AS, kapanpun, kalau terbukti melakukan hubungan sex dalam usia lanjut akan di-impeach oleh Kongres dan dinyatakan tidak waras.

Jika sex dilakukan dengan seorang budak yang usianya tidak akan saya sebutkan, karena masyarakat tidak memiliki definisi kedewasaan, maka orang ini akan dianggap tidak pantas secara moral.

Sebagai pemimpin missi ini, saya juga mendeklarasikan bahwa siapapun yang setuju dengan missi saya ini dan berusia lebih dari 50 tahun dan
mengadakan sex dengan isteri atau isteri2nya tidak lagi dianggap bagian dari missi ini atas dasar tidak bermoral. Jika orang berusia diatas 50 tahun itu menikah lebih dari 3 kali, oleh FFI ia akan dinyatakan tidak waras. Mengingat missi ini adalah untuk menghukum seseorang yang hidup 1400 tahun lalu karena menikahi banyak wanita dan aktif secara seksual setelah usia 50, maka tidak akan ada missionary FFi yang akan menunjukkan sikap moral yang serupa.”

Tentu sekarang anda akan mengatakan bahwa seorang nabi diatas ini dan harus memiliki kekuatan moral dengan menolak sex atas nama tuhan. Namun, saya tanya kembali MENGAPA ? Apa hubungan orientasi seksual orang atau nafsu seksualnya atau keinginannya memiliki bebagai wanita dengan kemampuannya sebagai pemimpin ?

Apa yang membuat anda meragukan kemampuan kepemimpinan Terdakwa karena alasan kepemilikian 13 isteri ?

Apakah anda tidak melakukan double standard ? Seorang pempimpin sekarang boleh memiliki hubungan diluar perkawinan namun seorang pemimpin 1400 tahun lalu tidak boleh menikmati sex ?

Oleh karena itu Pembela menyerahkan kasus kepada Jury.

Saya meminta Jaksa agar memandang kasus ini secara obyektif. Namun jika anda dari mula sudah menetapkan sikap terhadap Klien saya, dan tidak ada logika yang dapat menyadari anda, maka saya sudah melakukan tugas saya. Saya bahkan tidak menggunakan sumber2 dari Quran atau Hadis atau akademisi lain. Saya hanya menyampaikan analisa sepenuhnya berdasarkan common sense (logika). Jika anda ingin mengejek Terdakwa dan kini ingin mendakwa Klien saya, maka commonsense kami tidak pernah akan ketemu.

Oleh karena itu saya akan meminta Jury mengambil keputusan yang adil, obyektif sehubungan degnan tuduhan polygamy, pedophilia dan aktivitas seksual yagn dinyatakan Pembela sebagai sikap normal yang terdapat dalam kebanyakan pria di kebanyakan negara. Jika mengingat alasan saya diatas anda masih juga tidak sanggup, maka saya rasa kita harus setuju untuk tidak setuju.

Ketahuilah bahwa saya tidak meminta anda untuk menerima ideologi Terdakwa. Jika anda menganggap Terdakwa bersalah, melanggar kode moral, maka anda juga bertanggung jawab. Oleh karena itu pembaca diminta untuk memandang hal sesuai dengan perspektif.

Seperti kata pepatah: “Kalau anda tidak setuju dengan isi pesan, jangan tembak sang pemberi pesan” (“If you do not agree with the message, don’t shoot the messenger” )

Terima kasih.
R Shahzad
——————————————————————– ————

DARI A SINA
Yth Mr. Shahzad,

Anda ternyata tidak juga mengerti masalah yang dibahas dalam pengadilan ini. Saya TIDAK menuduh Klien anda karena ia mahluk seksual. Semua umat manusia adalah mahluk seksual sebagaimana kita juga mahluk intelek dan spiritual. Sex memang salah satu fungsi manusia. Sex menjamin kelangsungan species. Sex juga merupakan hubungan erat antara lelaki dan perempuan yang bersama2 bertanggung jawab atas generasi berikutnya.

Saya menuduh Klien anda karena KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PATUT DAN melakukan HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN DILUAR PERKAWINAN.

CONTOH !!!

1) SEX DGN PEMBANTU

Mariah adalah pembantu Hafsa. Hafsa adalah puteri Omar dan salah satu isteri Muhamad.

Suatu hari Muhamad mengunjungi rumah Hafsa dan setelah melihat Mariah, pembantunya, ia langsung nafsu dan disitu juga ia memutuskan untuk menidurinya. Ia menyutuh Hafsa pergi ke rumah Omar dgn dalih (baca: nabi membohong) bahwa ayah Hafsa memanggilnya. Pada saat Hafsa keluar rumah, Muhamad mengajak Mariah ke tempat tidur dan mengadakan hubungan sex. Sementara itu Hafsa, yang kecewa karena ayahnya tidak memanggilnya, sampai di rumahnya dan memergoki suaminya di pelaminan dengan pembantunya.

Muhamad, ketika kepergok main dgn pembantu …
Hafsa menjadi histeris, melupakan status suaminya dan berteriak2 sampai mengundang perhatian orang lain. Sang nabi memohon agar ia tenang, agar tidak membeberkan rahasia ini kepada siapapun dan berjanji tidak lagi akan meniduri Mariah.

Hafsa tidak dapat menahan diri, menceritakan semuanya kepada Aisha yang akhirnya juga menentang sang nabi dan bersama isteri2 lainnya membuatnya pusing kepala.

Sehingga akhirnya sang nabi memutuskan untuk menghukumi mereka semua dengan tidak meniduri siapapun diantara mereka selama satu bulan. Menahan sex dari isteri adalah tahap kedua hukuman dalam Quran. Langkah pertama adalah menegur/memperingatkan mereka. Langkah ketiga adalah PUKULI mereka. Q.4:34.

Namun tidak melakukan hubungan sex dengan semua isterinya juga merugikan sang nabi. Bagaimana mengatasi hal ini ? Nah, datanglah “Allah”, teman setianya itu dengan wahyuNya (Surah Tahrim), membebaskan Muhamad dari kesengsaraan harus hidup tanpa sex selama sebulan :

Inilah teks surah yang konyol tersebut:Q. 66:1-5.

http://www.pesantrenvirtual.com/index.p … &surano=66
66. 1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?

66. 2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu [1487] dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

66. 3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad … Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

66. 4. … dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya …

66. 5. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta’at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Komentar:
Walaupun Muhamad berjanji pada Hafsa agar tidak melakukan hubungan sex dengan pembantunya, ia tidak dapat menahan godaan nafsu. Apalagi setelah ia bersumpah tidak akan tidur dengan semua isterinya selama sebulan. Situasi memang benar2 sulit, namun tidak ada yang IMPOSSIBLE jika anda seorang rasulallah.

Dalam Surah Tahrim, Allah mengijinkan nabi kesayangannya itu untuk melanjutkan hubungan seksualnya dan mengacuhkan isteri2nya. Memang enak jadi rasulallah. :evil: Allah begitu mempedulikan kepuasan seksual Muhamad sampai Ia mengijinkan SEMUA LELAKI agar melupakan janji/sumpah mereka. Subhanillah ! Allah benar2 AKBAR !

Perlu diperhatikan disini bahwa setelah Muhamad mengetahui dari Aisha bahwa Hafsa membongkar rahasianya kepada Aisha, Muhamad jgua membohongi Aisha dengan mengatakan bahwa Allah yang memberitahu Muhamad akan kelakuan Hafsa (membuka rahasia) itu. Padahal Aisha yang memberitahukannya kepada Muhamad. Luar biasa !

Aisha, yang muda, cantik, lagi pintar itu, bereaksi terhadap surah diatas. Ia dilaporkan sebagai mengatakan kepada Muhamad,

“Allahmu memang selalu segera datang membantumu!

Menjelaskan Surah Tahrim (66) diatas itu, Omar dilaporkan sebagai mengatakan:

Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648:

Rasulullah tidak mendatangi isteri2nya karena rahasia yang diberitahu Hafsa kepada Aisha, dan ia mengatakan tidak akan mendatangi isteri2nya selama satu bulan karena ia marah pada mereka ketika Allah menegurnya.

Cerita ini pasti memalukan bagi pengikut Muhamad sehingga mereka mebuat hadis2 lain untuk menjelaskan surah yang sudah dijelaskan oleh Omar.

Sahih Muslim Book 009, Number 3496 & 3497:

Aisha meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) menghabiskan waktu dengan Zainab dari Jahsh dan meminum madu dirumahnya. Aisha kemudian mengatakan: ‘Saya dan Hafsa setuju bahwa siapapun diantara kami yang dikunjungi Rasululah terlebih dahulu akan mengatakan kepadanya : mengapa kami mencium bau Maghafir (cairan pohon mimosa) dari tubuh anda.’

Ketika Rasulullah mengunjungi salah satu dari mereka sang isteripun menanyakan hal tsb. Rasulullah menjawab : ‘Saya mencicipi madu dirumah Zainab bint Jahsh dan tidak akan melakukannya lagi. ”

Jadi maksud Sahih Muslim ini ; bukannya SEKS yang dimaksudkan Allah dalam wahyu Surah 66:1(“Apa yang Allah halalkan bagimu“) melainkan MADU !

Eksistensi hadis2 diatas dan perbedaannya dengan riwayah Omar jelas menunjukkan fakta bahwa pengikut Muhamad siap berbohong (seperti banyak Muslim sekarang) demi menyelamatkan nama baik nabi. Sangat bodoh kalau kami menerima alasan meminum madu untuk membenarkan surah2 diatas. Madu tidak meninggalkan bau tidak enak. Juga aneh jika insiden kecil menyangkut bau madu sampai mengakibatkan keributan dalam rumah tangga nabi sampai ia tega mengancam menceraikan isteri2nya atau menghukum mereka dengan no-sex selama sebulan.

Dan apakah insiden kecil dengan madu sampai harus menyusahkan sang Pencipta Alam Semesta sampai harus campur aduk dalam keributan perkawinan nabinya dan mengancam isteri2nya dengan perceraian ? Bukankah lebih pantas jika madu yang dimaksudkan adalah madu diantara paha Mariah ?

2) KEPINGIN SEX DGN WANITA DARI BANI JAUN

Rendahnya standar moral dan etika Terdakwa bisa dibuktikan lagi dari cerita2 hidupnya. Seperti yang berikut ini : :

Bukhari Volume 7, Book 63, Number 182:
Diriwayahkan Abu Usaid:

Kami pergi dengan nabi ke sebuah taman yagn disebut dengan
Ash-Shaut …. nabi memasuki taman tersebut. Wanita dari Bani Jaun sedang menginap dalam rumah milik Umaima bint An-Nu’man bin Sharahil di taman tersebut. Ketika nabi memasuki rumahnya ia mengatakan kepadanya “Serahkan dirimu kepada saya sebagai hadiah“, katanya. Sang wanita mengatakan “Apakah seorang puteri raja dapat memberikan dirinya kepada orang biasa ?”

Nabi mengangkat tangannya dan menyentuhnya guna menenangkannya. Sang wanita mengatakan “Saya meminta Allah perlindungan dari dirimu.” Kata nabi, “Kau telah mencari perlindungan kepada Ia yang memberikan perlindungan.”

Lalu nabi datang kepada kami dan mengatakan, “O Abu Usaid! Berikan dirinya 2 gaun putih dan biarkan ia kembali kepada keluarganya.”

Apakah Muhamad belum juga cukup wanita ? Apakah ia harus MENGGENJOTI setiap wanita cantik yang ia temui ?

Perhatikan juga sifatnya. Suatu saat ia termakan nafsu dengan meminta pemilik rumah agar “menyerahkan dirinya sebagai hadiah“, dan ketika ditolak ia menjadi kasar dan mengangkat tangannya utnuk memukulinya. Dan setelah mengadu ke Allah, sang nabi gadungan itu sadar, merasa bersalah atas kelakuannya itu dan memberi kompensasi kepada korbannya dengan cara menyuapnya dengan hadiah.

Inikah profil seseorang yang STABIL SECARA MENTAL ?

SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI KEPADA PIHAK PEMBELA :
Saya tidak menuduh Terdakwa karena menyukai wanita, saya menuduh Terdakwa karena melampiaskan nafsunya pada wanita menikah secara paksa, tidak patut dan tidak senonoh. Saya menuduh Terdakwa karena kesediaannya melakukan apapun demi pelampiasan nafsunya.

3. NAFSU KPD ZAINAB

Satu lagi cerita skandal tentang nafsu dan imoralitas Muhamad seperti dilaporkan dalam Kitab al Tabaqat.

Diriwayatkan Muhammad Ibn Yahya Ibn Hayyan,

“Rasulullah mendatangi rumah Zaid … Zainab Binti Jahsh menghampirinya, mengenakan gaun rumah tipis, namun Rasulullah memalingkan muka darinya. Zainab mengatakan, ‘Ia tidak disini, Rasulullah, tapi silahkan masuk …” Rasulullah menolak.

Ketika Zaid pulang, Zainab melaporkan kedatangan Rasulullah. Zaid bertanya, ‘Kau mengijinkanya masuk, bukan?’ Zainab menjawab, ‘Saya tawari namun ia menolak. Ia mengatakan, ‘Ia tidak mengatakan apa2 ?’ Zainab mengatakan, `Ketika ia pergi ia mengatakan sesuatu namun bagi saya kurang jelas. Katanya, “Terpujilah Allah yang mengarahkan hati manusia.”

‘Zaid pergi menemui Rasulullah dan mengatakan, ‘O Rasulullah, saya mendengar anda pergi ke rumah saya. Mengapa anda tidak masuk ? Mungkin anda menyukai Zainab. Saya bisa meninggalkannya.’
Rasulullah mengatakan, ‘Pertahankanlah isterimu.’
Zaid mengatakan, ‘O Rasulullah, saya akan meninggalkannya.’
Rasulullah mengatakan, ‘Tetaplah bersama isterimu.’
Ketika Zaid meninggalkan Zainab, Zainab mengucilkan diri dan menghabiskan masa Iddah-nya.

Sementara Rasulullah duduk dan bicara dengan A´isha, ia kesurupan (kemasukan wahyu) dan ketika sembuh ia tersenyum dan mengatakan, ‘Siapa akan pergi ke Zainab dan memberikannya kabar baik bahwa Allah menikahkannya kepada saya di surga ?'”
(Tabaqat, 8:101-102).

Saudara sekalian, pada saat itu Muhamad SUDAH memiliki 4 isteri: Sawda, Aisha, Hafsa dan Umma Salama. Namun dengan meningkatnya kekuasaannya ia semakin yakin dan lihai mencuci otak pengikutnya agar menerima segala kelakuannya yang tidak patut sekalipun sehingga ia tidak lagi merasa harus mengendalikan diri. Namun tetap saja banyak orang Arab, termasuk pengikutnya, kaget dan mempertanyakan kelakuannya. Maududi menjelaskan:

“Begitu perkawinan disetujui, terjadi propaganda besar2an melawan Rasulullah. …Mereka menggunakan alasan perkawinan ini sebagai cara untuk mengakhiri superioritas moral nabi yang sebenarnya kunci kuasa dan kesuksesannya. Karena itu, dibuatlah cerita2 bahwa Muhamad jatuh cinta kepada isteri puteranya dan ketika puteranya tahu, ia menceraikan isterinya dan ayahnya kemudian menikahi bekas isterinya.”

Seperti dapat dilihat oleh Jury, Muhamad BAHKAN MENARUH NAFSU PADA ISTERI PUTERANYA SENDIRI. Ia berpura2 mendapat wahyu dari Allah bahwa Ia sudah menikahkan mereka di surga, sehingga ia menguasai Zainab dalam sekejap. Riwayah ini menunjukkan bahwa motifnya tidak lain selain NAFSU.

Aisha mengatakan, “Saya mendengar banyak tentang kecantikannya dan bagaimana Allah menikahkannya dengan di surga. Dan saya katakan, ‘Sudah pasti ia akan menyombongkan dirinya pada kita.”( Tabaqat, 8:101-102).

Nah, pada saat inilah surah yang terkenal dengan nama Tabir diturunkan. Q33:53

Diriwayahkan oleh Sulaiman Ibn Harb, mengutip Hammad Ibn Zaid, mengutip Ayyub Ibn Abi Qulaba bahwa Anas mrngatakan, “Saya paling tahu surah tabir ini. Pada malam Zainab diberikan kepada Rasulullah, ia mengadakan jamuan dan mengundang orang. Nabi ingin agar orang segera pulang karena pikirannya ada pada sang pengantin. Ia berdiri untuk memberi tahu mereka, sehingga beberapa orang pergi. Sekali lagi ia berdiri, namun beberapa tetap duduk. Ia berdiri untuk ketiga kalinya, dan baru kesemuanya pergi. Jadi ia memasuki rumahnya [dimana pengantin menunggu] dan Anas mengikutinya, namun nabi menghalanginya dengan menurunkan tabir dan mengatakan,

Hai kaum beriman ! Jangan memasuki rumah2 nabi, kecuali diijinkan … : namun jika kalian diundang, masuk dan setelah mendapatkan makan, segera pergi tanpa basa basi. Kelakuan ini membuat jengkel Nabi: ia malu mengusir adna namun Allah tidak malu mengatakan kebenaran. dan jika kalian meminta sesuatu dari wanita2 nabi, mintalah dari balik tabir: itu menjaga kebersihan hatimu dan hati mereka. Tidak pantas kalian membuat jengkel Rasulullah atau kalian menikahi janda2nya kapanpun setelah kematiannya. Sesungguhnya hal itu dimata Allah adalah dosa besar.

Para tamu kemudian beranjak pergi dan ia menurunkan tabir.

Lihat al-Simt al-thamin, p.110; al-Isti`ab, 40:1851; al-Isaba, 9:83.

Saya, Jaksa, mengajukan Surah 33.53 seperti dikutip diatas sebagai bukti bagaimana Terdakwa memanfaatkan Allah bagi kepuasan nafsunya dan keinginan egoistiknya.

Betapa bodohnya orang untuk percaya bahwa sang Pencipta Alam Semesta ini begitu khawatir tentang nabinya sampai menurunkan wahyu agar orang jangan memasuki rumahnya tanpa undangan atau agar orang segera meninggalkan rumahnya setelah menikmati santapan dan jangan sampai anda membuat jengkel nabi Saya karena SAYA, Pencipta Alam Semesta, mengatakan kepadamu bahwa nabi Saya malu2 ?

Sosok Terdakwa ini tukang tipu jitu. Ia menciptakan sebuah cult untuk membohongi orang. Namun ia bukan saja pembohong melainkan MONSTER. Dalam sejarah dunia sulit menemukan seseorang sebejat dirinya. Oleh karena itu saya memohon Jury agar menyatakan Terdakwa bersalah karena KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PATUT DAN melakukan HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN DILUAR PERKAWINAN.

Saya memohon agar saudara2 Muslim saya membuka mata mereka. Terdakwa BUKAN Rasulullah. Ia bohong. Bukti2 sangat kuat. Sangat bodoh bagi kita untuk percaya bahwa orang2 berkuasa tidak perlu mematuhi hukum. Mereka malah yang pertama yang harus mematuhi aturan moral dan etika. Tuhan tidak sebegitu sadis sampai mengirimkan orang dengan moralitas yang sedemikian rendah sebagai rasulNya.
Terdakwa Muhamad tidak menunjukkan contoh baik. Ia bukan orang yagn patut dihormati. Ia tidak memiliki moral ketuhanan.

Saya mendesak anda untuk mengutuk Mohamad, mengambil alih jiwa dan raga anda dari cengkramannya.

Jika Tuhan dan Setan memang ada, maka Allah tidak lain dari Setan dan Muhamad rasulnya. Tuhan asli tidak mungkin bersikap seperti Setan. Selamatkan ragamu kawan, dan sebarkan pesan ini keseluruh dunia sebelum Setan dan rasulnya, Muhamad, menghancurkannya.

END OF PART VII
http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad8.htm

BAGIAN VIII
Misogyny : Kebencian terhadap wanita
Umat manusia vs. Muhammad bin Abdallah
Dec. 7, 2003

Terdakwa : Muhammad bin Abdallah
Diwakili oleh Pembela : Raheel Shahzad

Pendakwa: Umat Manusia (Dunia non-Muslim)
Jaksa : Ali Sina

Jury: Pembaca FFI

—————————————————————– —————

Pihak Pembela sayangnya tidak memberi bantahan atas tuduhan Jaksa dalam bagian ini.

Jaksa : Ali Sina

Dalam sesi ini tuduhan Jaksa terhadap Terdakwa adalah misogyny.
Jaksa menyatakan bahwa Terdakwa:

– merendahkan derajat wanita,

– dan bahwa kaum wanita, sebelum kekuasaan Terdakwa di tanah Arab dan di negara manapun yang jatuh dibawah kekuasaan Islam, menikmati jauh lebih banyak kebebasan dan hak daripada dalam masyarakat ciptaan Terdakwa.

-Tuduhan saya BUKAN bahwa Mr. Muhammad bin Abdallah (almarhum) tidak memberikan cukup banyak hak kepada wanita, namun bahwa ia MERAMPAS segala hak yang dimiliki wanita dan menjadikan mereka warga kelas dua, yang tergantung dan berada dibawah kekuasaan lelaki.

-Ia memberlakukan perbudakaan berdasarkan jenis kelamin dan merendahkan status mereka sejajar dengan harta benda dan binatang. Tidak ada satu masyarakatpun dalam sejarah bangsa apapun, wanita begitu terhina dan direndahkan seperti dalam sejarah Islam.
Islam adalah agama misogynist par excellence.

1) Status Wanita Arab SEBELUM Islam lebih tinggi

Sayangnya kaum muslim tidak meninggalkan jejak literatur Arab masa pra-Islam. Mereka menganggap era ini sebagai era Jahilyah (era kegelapan) dan oleh karena itu membakar, menghancurkan setiap bukti sejarah. Oleh karena kami hanya tergantung dari sumber2 Islam. Namun dari sumber2 yang memberikan gambaran se-cuil-pun tentang era tsb kita sudah bisa menyimpulkan bahwa wanita sebelum Islam memiliki jauh lebih banyak hak.

Mari kita mulai dengan Khadijah isteri pertama Muhamad. Wanita ini janda, tidak memiliki suami namun tetap dikenal sebagai wanita kaya dan memiliki bisnis sukses dan bahkan mempekerjakan lelaki, termasuk Terdakwa. Ini saja menunjukkan bahwa pada jaman itu wanita memiliki bisnis sendiri dan kaum lelaki Quraysh tidak menganggap seorang boss wanita merendahkan kaum lelaki. Seperti dilaporkan hadis, adalah Khadijah yang melamar Muhammad.

Ini satu lagi bukti tingkat kebebasan yang dinikmati wanita Arab dalam masa pra-islam. Bedakan dengan masyarakat Islam sekarang, perempuan melamar lelaki dianggap taboo.

Contoh lain lagi : Hind , isteri Abu Sufyan, saudara dan musuh bebuyutan Muhammad. Dilaporkan bahwa dalam Pertempuran Uhud, Hind memimpin wanita Quraysh dengan membakar semangat kaum lelaki agar berjuang dan menghentikan agresi Muslim.

Pada saat menghangatnya pertempuran, para wanita Quraysh, dibawah pimpinan Hind, beramai2 menabuh gendang untuk mendukung para tentara. Salah satu anak buah Muhammad, Abu Dujanaj, mengatakan, “Saya melihat seseorang mendukung musuh dengan berteriak2 keras. Saya mendekatinya dan saat mengangkat pedang untuk membunuhnya, sekali lagi ia berteriak2 keras dan saya melihat bahwa ia seorang wanita; saya menghormati pedang Rasululah dan merasa mubazir untuk menggunakannya melawan wanita.” Wanita itu adalah Hind. [1]

Contoh lain wanita memimpin lelaki dalam pertempuran adalah Aisha isteri termuda Muhammad yang setelah kematian Muhamad memimpin tentara muslim melawan Ali dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran Jamal (Camel).

Ada juga contoh Asma bt. Marwan, wanita Yahudi penulis sajak dari Medinah yang atas suruhan Terdakwa dibunuh karena menulis sajak2 menentang Terdakwa. Kenyataan bahwa Terdakwa khawatir akan pengaruh tulisan Asma kalau2 sampai menghancurkan karir Terdakwa sebagai rasulullah adalah satu lagi bukti bahwa dalam budaya pra-Islam, kaum Arab menghormati, mendengarkan nasehat dan membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh wanita. Wanita saat itu tidak dianggap bodoh atau kurang tingkat intelektualnya (deficient in intelligence) seperti kemudian ditetapkan Quran.

Contoh paling nyata akan status tinggi wanita sebelum Islam adalah fakta bahwa pada jaman Muhamad, bahkan ada wanita yang menyatakan diri sebagai nabi dan memiliki banyak pengikut. Sekarang, jangankan nabi, bahkan menjadi Imam-pun tidak mungkin bagi wanita. Tetapi anehnya justeru wanita Islam-lah yang merupakan apologis/pemaklum terbesar status rendah mereka dan sepenuhnya menerima penghinaan mereka oleh Islam.

Sebagai bukti (A) Jaksa menyampaikan hadis dimana disebutkan bawha teman dekat Terdakwa, Muhammad Umar b. Khattab yang akhirnya menjadi khalif kedua, mengeluh bahwa perempuan Muslim mempelajari “kebiasaan buruk” emansipasi dan kebebasan dari kaum wanita Medinah dan bahwa Rasululah harus melakukan sesuatu.

Cerita ini terjadi pada saat Terdakwa sedang menjalani affairnya dengan Mariah, yang juga pembantu isterinya, Hafsa. Terdakwa ribut dengan semua isterinya karena mereka mengeluh akan kelakuannya yang tidur sana-sini dan Terdakwa mengancam akan menceraikan mereka semua.

Terdakwa sedang duduk dirumahnya ketika Umar mengunjunginya. Umar kemudian meriwayahkan:

“Kami, rakyat Quraish, dulunya memiliki kekuasaan atas wanita, namun setelah kami hidup dengan kaum Ansar [Muslimin dari Medina], kami melihat bahwa wanita Ansar memiliki kuasa atas kaum lelaki, sehingga wanita kami mulai mengikuti contoh mereka. Suatu hari saya berteriak kepada isteri saya dan ia malah membalas dengan membayar saya dengan uang logam dan saya tidak suka bahwa ia menyahuti saya. Isteri saya mengatakan, ‘Mengapa kau tersinggung jika saya menegurmu ? Demi Allah, para isteri Nabi menegurnya, dan akibatnya mereka bahkan tidak boleh berbicara padanya sehari penuh sampai malam.’

Apa yang dikatakannya, membuat saya takut dan saya mengatakan, ‘Siapapun dari mereka yang berbbuat demikian akan mengalami rugi besar.’ Lalu saya pergi ke Hafsa dan bertanya, ‘Apakah kalian membuat marah Rasulullah sepanjang hari sampai malam ?’ Ia menjawab iya. Saya mengatakan, ‘Kau adalah orang yang kalah dan hancur (dan tidak pernah akan mendapat sukses) ! Apakah kau tidak takut bahwa Allah akan membalas kemarahan rasulNya dan akibatnya kau akan dihancurkan ? Jangan meminta terlalu banyak dari Rasulullah, dan jangan menegurnya ataupun mengacuhkannya. … jangan tergoda untuk mengikuti contoh tetanggamu (Aisha) karena ia (Aisha) lebih cantik darimu dan lebih dicintai Rasulullah ….”

“AKhirnya, saya menghampiri nabi dan melihatnya berbaring diatas tikar … Saya menyalaminya dan sambil berdiri mengatakan “Apakah anda menceraikan isteri2 anda ?’ Ia menjawab tidak. Saya kemudian berkata: “Dengarkanlah Hai Rasulullah! Kami, rakyat Quraish dulu memiliki kuasa atas wanita kami, dan setelah kami tinggal diantara mereka yang membiarkan wanita mereka menguasai mereka …”

‘Umar menceritakan seluruhnya tentang isterinya. “Kemudian Nabi tersenyum.” ‘Kata Umar kemudian, “Saya lalu mengatakan, ‘Saya menemui Hafsa dan mengatakan kepadanya: Jangan mengikuti contoh temanmu (‘Aisha) karena ia lebih cantik dan lebih dicintai Nabi.’ Rasulullah tersenyum kembali.” [2]

Hadis diatas cukup jelas. Rakyat Mekah lebih picik dari orang2 Arab lainnya. Sering orang dalam komunitas agama lebih ekstrimis dan misoginis dari rakyat yang hidup di kota2 besar yang kurang religius.
Namun nampaknya Umar dan Muhamad ini lebih picik dari orang Mekah pada umumnya. Dengan kata lain, mereka yang paling picik (maha picik) dari yang picik. Sementara kebanyakan orang Mekah tidak pusing mendengarkan ocehan wanita atau menerima otoritas boss wanita, kedua orang ini menganggap emansipasi wanita sebagai hal tidak pantas dan harus dihancurkan.

2) Jilbab diusulkan Umar dan diterima Allah

Terdakwa yang berusia lanjut–takut kalau2 lelaki muda lain menaksir isteri2nya yang muda dan cantik dan “menyentuh” mereka– memerintahkan agar isteri2nya menutupi tubuh dan wajah mereka. Tentu dengan pertolongan wahyu berikut ini :

[Q 33:59] Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

Umar menjelaskan bagaiman surah diatas “turun” karena permintaannya.

“Allah setuju dengan saya (‘Umar) dalam 3 hal … (2) dan mengenai penutupan tubuh wanita, saya mengatakan ‘Wahai Rasululllah ! Saya ingin anda memerintahkan isteri2 anda agar menutupi diri dari lelaki karena orang baik maupun buruk berbicara kepada mereka .’ Akhirnya diturunkan surat tudung bagi wanita diturunkan.” [3]

Tidakkah aneh bahwa Pencipta Alam Semesta menunggu usul salah satu ciptaanNya untuk menurunkan peraturan bagi manusia ? Umar dengan lugu menyombongkan diri bahwa Allah setuju dengannya. Namun, tidak semua teman Terdakwa sebodoh Umar. Abdullah ibn Sarh lebih pintar dari Muhamad. Ia meninggalkan Muhamad dan Islam setelah ia melihat bahwa Allah sering mengganti2 wahyuNya dan terus mengupayakan perbaikan surah. Namun ini topik lain. Yang penting bagi kita disini adalah fakta bahwa kaum wanita jaman pra-Islam tidak mengenakan tutup tubuh dan wajah seperti dipaksakan kepada
wanita Islam sekarang. Tutup tubuh wanita ini timbul karena perasaan rendah diri Muhamad, karena sebagai orang berusia lanjut ia takut kalau2 haremnya, wanita2 cantik dan muda, dicuri lelaki lain.

Ketakutan orang tua ini tercermin dalam surat2 yang “katanya” datang dari mulut Allah.

[Q 33:30] Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.

[Q 33:31] Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.
http://www.kuran.gen.tr/?x=s_main&y=s_m … =21&sid=33

Muhamad sering memperingatkan isteri2nya agar tidak menarik perhatian lelaki lain dan menutupi tubuh dan wajah mereka agar tidak menjadikan diri mereka obyek nafsu lelaki.

[Q 33:32] Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik…

[Q 33:33] … dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Disini terlihat jelas bahwa wanita jaman pra-Islam dapat keluar rumah tanpa tutup tubuh atau wajah dan memamerkan diri. Sekarang, wanita Muslim—menunjukkan rambut atau lengan dari dalam mobilnya sendiri bisa diseret keluar dan dihajar polisi moral Islam di negara2 seperti Iran dan Saudi Arabia seperti juga di Afghanistannya Taleban. Hanya sedikit negara2 Islam yang mengijinkan wanita keluar rumah, apalagi dengan “berhias dan bertingkah laku spt Jahiliyah”.

3) Lelaki adalah Pemelihara Wanita dan lebih Superior dari Wanita.

Terdakwa tidak hanya merampas kebebasan wanita untuk berpakaian namun ia menaklukkan mereka dibawah lelaki dan tergantung lelaki. Ini katanya :

[Q 4:34] Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). …

Surah/surat diatas merendahkan wanita sejajar dengan binatang piaraan, memberikan lelaki kuasa untuk memeliharanya bak onta atau keledai.
Anehnya, Terdakwa TIDAK SADAR, ketika ia masih miskin dulu, ADALAH ISTERINYA, SANG BUSINESS-WOMAN KHADIJAH, yang memeliharanya ! Terdakwa juga lupa bahwa dulu ia hidup dari kocek Khadijah.

Dalam surah ini Muhamad secara tegas menunjukkan bahwa lelaki memiliki derajat kemampuan lebih tinggi dari wanita.

[Q2:228] Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.

Terdakwa berupaya sekeras mungkin agar membuat wanita takluk pada suami. Menurutnya, wanita yang tidak mematuhi suami akan ke neraka.

Terdakwa mengatakan:
“Saya juga melihat Api Neraka dan saya tidak pernah melihat pandangan mengerikan macam itu. Saya melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita.” Orang2 bertanya, “Ya rasul ! Mengapa ?” Nabi mengatakan,
“Karena mereka tidak tahu rasa terima kasih.” Ditanya apakah mereka tidak tahu rasa terima kasih terhdp Allah. Nabi menjawab, “Mereka tidak berterima kasih kpd pasangan hidup (suami2) dan tidak berterima kasih pada kelakuan baik. Kalau kalian baik terhdp salah satu dari mereka selama hidupmu dan jika ia (wanita) melihat sesuatu yg tidak disukainya dalam dirimu, ia (wanita) akan mengatakan, ‘Saya tidak pernah mendapatkan sesuatu yg baik darimu.’ ” [8]

4) Suami bisa MEMUKUL Isteri2

Terdakwa juga memerintahkan para suami agar memukuli isteri jika tidak patuh.

[Q 4:34]Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Diriyawahkan Mishkat al-Masabih :

“Surah diatas diturunkah sehubungan dengan seorang wanita yang mengeluh kepada Muhamad karena suaminya menamparinya di mukanya (yang masih ada bekas tamparannya). Pada mulanya, nabi mengatakan: ‘Balaslah suamimu’, namun kemudian menambahkan, ‘TUNGGU! Saya mau berpkir dulu.’ Setelah surah diatas diwahyukan, nabi mengatakan: ‘Kami ingin satu hal namun Allah menginginkan lain, dan apa yang diinginkan Allah adalah yang terbaik.'” [10]

Mungkin sang nabi tadinya kasihan pada wanita tersebut tetapi meningat isteri2nya sendiri yang suka mbalelo ia kemudian membuat Allah-nya mengumumkan surah yang tidak berperikemanusiaan ini, memberi lelaki hak untuk memukuli isterinya kalau membandel.

Jelas dari surah diatas, syarat seorang isteri dipukul, tidak perlu menunggu sampai si isteri tidak mematuhi suaminya. Cukup dengan adanya KEKHAWATIRAN/KECURIGAAN suami bahwa isterinya tidak patuh, tangannya berhak melayang ke tubuh isteri.

Seperti dikatakan muslimah dan penulis Canada, Irshad Manji, dalam bukunya “The trouble with Islam (hal. 34 mengenai Q4:34) :
“To deserve a beating, a woman doesn’t have to disobey anybody, a man merely has to fear her disobedience. His insecurity becomes her problem”.

(Utk memukul, tidak perlu menunggu sampai sang wanita tidak patuh. Cukup sang lelaki khawatir/curiga kalau dia tidak patuh. Jadi, rasa curiganya itu menjadi problema sang wanita)

5) Wanita baik2 tidak mengeluh jika suami memukuli mereka:

Book 11, Number 2141:
Diriwayahkan:

Iyas ibn Abdullah ibn AbuDhubab melaporkan Rasulullah (saw) sebagai megnatakan : jangan memukuli wanita2 Allah, namun ketika Umar datang pada Rasulullah (saw) dan megnatakan : Perempuan menjadi lebih berani terhadap suami mereka, IA (RASULULLAH) MEMBERIKAN IJIN UNTUK MEMUKULI MEREKA. Lalu banyak wanita datang kepada keluarga Rasulullah mengeluh tentang suami mereka. Akhirnya Rasulullah mengatakan : Banyak wanita datang kepada keluarga saya mengeluh tentang suami mereka. Mereka bukanlah yang terbaik diantara kalian.

Sang suami bahkan tidak perlu menjelaskan alasan mengapa memukuli isterinya.

Book 11, Number 2142:
Diriwayahkan Umar ibn al-Khattab:

Rasulullah (saw) mengatakan: Seorang lelaki tidak akan ditanya megnapa ia memukuli isterinya.

Terdakwa malah menuntut bahwa isteri bersujud dihadapan suaminya :

”Kalau ada orang yang saya perintahkan untuk bersujud maka saya akan memerintahkan WANITA untuk bersujud kepada suami mereka, karena hak khusus yang diberikan Allah kepada para suami. ” [11]

Muhamad sendiri memukuli isterinya.

Dalam sebuah hadis, Aisha meriwayahkan bahwa suatu malam Muhamad meninggalkan rumah mereka setelah ia menyangka Aisha sudah tidur. Diam2 ia mengikuti Muhamad dan ketika Muhamad kembali ke rumah ia menemui Aisha kehabisan nafas. Muhamad curiga dan meminta pengakuan dari Aisha dengan mengatakan jika ia menyembunyikan sesuatu para hantu akan memberitahunya. Aisha mengatakan bahwa setelah ia mengaku, “Ia memukuli saya di dada saya shg mengakibatkan sakit …” [Muslim 4.2127 ]

6) Kekurangan Wanita

Sebuah hadis melaporkan pertemuan Terdakwa dengan para wanita dimana ia menyebut mereka “deficient in intelligence and religion/kurang dalam hal intelektualitas dan agama”:

”Suatu saat Rasulullah pergi ke Musolah ‘Id-al-Adha atau Al-Fitr. Lalu ia melewati wanita2 itu dan mengatakan, “Wahai wanita ! Berikan zakat
karena saya melihat mayoritas penduduk Api Neraka adalah kalian (wanita).” Mereka tanya, “Mengapa, Rasulullah ?” Jawabnya, “Kalian sering mengutuk dan tidak berterima kasih pada suami2 kalain. Saya BELUM PERNAH MELIHAT SIAPAPUN YG LEBIH DEFISIEN DALAM INTELEK DAN AGAMA SPT KALIAN. Lelaki baik2 & waras bisa disesatkan oleh sebagian dari kalian.” Wanita2 itu bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa arti defisien dlm intelek kami dan agama ?” Katanya, “Bukankah bukti dua wnaita sama dgn seorang lelaki ?” Mereka menjawab ya. Katanya,
“Itulah defisiensi dlm intelektualitasnya. Bukankah benar bahwa wanita tidak dapat solat atau puasa selama menses ?” Mereka menjawab ya.
Katanya, “Itulah defisiensi dlm agamanya.” [12]

Kasus diatas tersebut menunjukkan misogyny (kebencian terhadap wanita) dimana Terdakwa pertama2 merampas hak perempuan dan lalu mengutuk mereka karena tidak memiliki hak2 tersebut. Tidak puas dengan mengakibatkan sakit badan, Terdakwa juga menghina wanita dengan menyalahkan korban. Hadis diatas ini dilaporkan oleh berbagai narator dan juga dicatat dalam Sahih Muslim, hadis yang paling otoritatif tentang Terdakwa/Muhamad.

7) Perempuan diciptakan UNTUK Lelaki

Dalam surah berikutnya Terdakwa mengatakan :

[Q 30:21] “dan Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya … ”

Bahasa Arabnya menegaskan bahwa “untukmu” menunjuk pada jenis kelamin lelaki dan “kepadanya” pada jenis kelamin wanita. Kenyataannya Allah dalam Quran tidak pernah berbicara langsung kepada perempuan. IA selalu berbicara kepada nabi atau para pengikut lelakiNya dan yang dimaksud dengan surah ini adalah : wanita diciptakan UNTUK lelaki, demi kesenangan lelaki.

Razi dalam At-Tafsir al-Kabir, mengomentari Q. 30:21 :

“Pernyataan ‘diciptakan untukmu’ adalah contoh bahwa wanita diciptakan seperti binatang dan tanaman, seperti juga Sang Pencipta mengatakan ‘Ia menciptakan untukmu apa yang ada di bumi’ dan ini membuat wanita TIDAK diciptakan bagi ibadah ataupun menyampaikan perintah2 Ilahi. Dia ‘menciptakan wanita’ adalah salah satu karunia yang diberikan kepada kami dan juga hak atas perintah Ilahi … karena wanita tidak diberikan hak memerintah seperti lelaki, karena PEREMPUAN LEMAH, DUNGU, SEPERTI ANAK KECIL dan hak memerintah tidak diberikan kepada anak kecil, namun kepada lelaki. Wanita harus diberi tanggung jawab agar mereka takut kepada siksaan hukuman dan mengikuti suaminya dan menjauhi apa yang dilarang, kalau tidak kesesatan menjalar.”

Hadi Sabzevari, seorang pemikir Islam ternama, dalam komentarnya terhadap seorang pemikir Islam ternama lainnya, Sadr al-Mote’alihin, menulis :

Bahwa Sadr ad-Deen Shirazi mengklasifikasikan wanita sebagai binatang adalah penunjukkan halus kepada kenyataan bahwa wanita, mengingat kekurangan mereka dalam hal intelektualitas dan pengertian mengenai hal2 mendetail, dan mengingat kesenangan mereka atas perhiasan materi, memang tepat dan adil disejajarkan kepada binatang [al-haywanti al-sa^mita].

Mereka memiliki sifat binatang [ad-dawwa^b], namun mereka diberikan bentuk badan manusia sehingga lelaki tidak akan malu/jijik/enggan untuk berbicara kepada mereka dan mengadakan hubungan sex dengan mereka. Oleh karena itulah hukum sempurna kami [shar’ina al-mutahhar] berpihak kepada lelaki dan memberi mereka superioritas dalam segala hal termasuk perceraian, “nushuz,” etc. [14]

Para pemikir diatas tidak membuat2 pernyataan merendahkan perempuan ini. Mereka MENGINTERPRETASIKAN perkataan Muhamad,
yang menurut mereka adalah rasul terhebat Allah yang contohnya harus diikuti.

Malahan pernyataan “naqisatan ‘aqlan wa dinan” (defisien dalam intelektualitas dan agama), sering digunakan orang2 Arab dan merupakan acuan kepada wanita dan berasal dari perkataan Muhamad.

Wanita yang menolak Sex akan Dikutuk Malaikat

Hadis berikut ini menjelaskan bahwa wanita diciptakan bagi lelaki, bagi kepuasan lelaki.

”Rasulullah mengatakan, “Jika seorang suami memanggil isteri ke tempat tidur dan ia menolak dan mengakibatkannya tidur selagi marah, para malaikat akan mengutuknya sampai keesokan hari.” [15]

Membaca hadis diatas tersebut akan membuat orang terheran2, apakah Allah tidak memiliki urusan lain selain menyibukkan diri dengan kenikmatan seksual lelaki muslim ?

Adalah tidak masuk akal bahwa Allah akan mengirimkan pasukan malaikatnya untuk nongkrong semalam suntuk dan mengutuk wanita yang enggan menghibur suami secara seksual. Mengutuk berarti mengundang dendam Ilahi. Mengapa Allah memerlukan begitu banyak malaikat kalau Ia sendiri cukup mampu menghukum para wanita itu ?

Ternyata the Divine House of Allah itu mengandung banyak kekurangan dan mismanagement. Seperti presiden sebuah negara yang mengirimkan stafnya untuk me-lobby rencana2 yang akan dilakukannya. Ini tidak masuk akal. Lebih banyak lagi hadis menyentuh topik ini :

“Abu Huraira melaporkan Rasulullah sebagai mengatakan : … jika seorang lelaki memanggil isterinya ke tempat tidur dan ia tidak menanggapi maka Sang Pencipta di Surga tidak akan suka dengannya kecuali suaminya kembali suka kepadanya.” [16]

Dan

“Nabi mengatakan, “Jika seorang wanita melewatkan malam mengacuhkan tempat tidur suaminya, maka malaikat akan mengutuknya sampai ia kembali ke suaminya.” [17]

Sulit mencari alasan mengapa Terdakwa begitu mempersoalkan kebutuhan sex lelaki. Apakah Terdakwa hanya ingin menakut-nakuti isteri2nya yang masih remaja agar tidak menolak tuntutan seksualnya ? Mungkin Terdakwa dalam usia lanjutnya bergigi keropos, bernafas tidak sedap dan mungkin juga impoten ? Atau mungkin Allah pekerjaannya sebagai GIGOLO ?

Menurut nabi egois ini, nafsu seksual lelaki begitu darurat sampai
sang wanita harus mengorbankan makanan dalam kompor.

“Rasulullah mengatakan : Kalau seorang suami memanggil isterinya untuk memuaskan nafsunya, ia harus datang padanya walaupun ia sibuk didepan kompor.” [18]

9) Wanita adalah Pudenda?!!

Muhamad tidak puas menghina wanita malah membandingkan mereka sebagai pudenda.

“Ali melaporkan kata2 Rasulullah: ‘Wanita memiliki 10 (‘aurat). Jika ia menikah, suaminya menutupi satu, dan jika ia meninggal, kuburan akan menutupi ke 10.”[19]

Apa yang dimaksud dengan AURAT? The Encyclopedia of Islam mendefinisikan ‘aurat sebagai pudendum, yaitu “alat kelamin external, khususnya perempuan”. [Arti “pudendum” dalam bahasa Latin adalah : hal yang memalukan, a thing to be ashamed of]” [20]

Dan menurut hadis berikut, wanita tidak hanya memliki 10 aurat, sang wanita itu sendiri dianggap aurat:

“Wanita adalah aurat. Kalau ia beranjak keluar rumah, setan akan menyambutnya.” [21]

Hadis berikut menunjukkan bahwa wanita tidak didorong untuk beranjak ke luar rumah, bahkan sembahyang di mesjid.

“Wanita paling dekat dengan wajah Allah jika ia ditemukan di rumah. Dan ibadah wanita di rumah lebih baik daripada ibadahnya di mesjid.”[22]

Ini jauh dari keadaan ketika kaum Arab menghormati wanita sebagai businesswoman (Khadijah), mengikuti perintah wanita sebagai pemimpin perang (Aisha), mendengarkan pemikiran wanita (Asma bt. Marwan), menerima dukungan dari mereka (Hind) dan mengikuti nabi wanita mereka. Secara bertahap, generasi baru diindoktrinasi dengan ajaran Muhamad, menjadi benci terhadap wanita dan pada akhirnya wanita Islam kehilangan hak dan kehormatan mereka.

10) Wanita kehilangan hak2 hukum

“Defisiensi wanita” dalam hal intelektualitas juga mempengaruhi hak mereka dalam hukum.

[Q 2:282]”Dan panggilallah para saksi, dua saksi kalau lelaki; atau jika keduanya bukan lelaki, maka satu lelaki dan 2 wanita, jika salah satu wanita keliru maka yang lainnya akan memperingatinya.

Dengan kata lain, bukan hanya seorang wanita tidak bisa memberikan kesaksian, namun kalau tidak ada kehadiran saksi lelaki, maka kesaksian wanita itu tidak ada artinya.

Jadi kalau seorang wanita diperkosa dan ia tidak dapat membawa saksi lelaki ia TIDAK dapat memberikan kesaksian melawan sang pemerkosa. Namun, kesaksiannya itu malah dianggap sebagai pengakuan seks tidak senonoh dan bisa digunakan untuk menghukum SANG WANITA ! Apalagi jika sang korban perkosaan menjadi hamil, bukti hasil perkosaan, ia dapat dituduh dan dihukum rajam sampai mati.

Jury mudah2an masih mengingat kasus AMINA LAWAL yang oleh pengadilan syariah Nigeria dikenakan hukuman rajam pada saat bayinya
tidak lagi perlu susu ibu.

11) Hak Waris Wanita lebih kecil
Muslim apologists mengatakan bahwa sebelum Islam, wanita tidak memiliki hak sama sekali dan tidak menerima waris. Ini jelas tidak terbukti. KHADIJAH MENERIMA KEKAYAANNYA LEWAT WARIS. Ketika Muhamad memutuskan bahwa hak waris wanita setengah dari hak waris saudara lelaki mereka, wanita tidak menerima ini dengan tangan terbuka.

[Q 4.11] Allah memberikan hak (waris) kepada anak2mu : kepada lelaki, jumlah bagian yang sama dengan 2 perempuan.

Malah salah satu isterinya mengeluh bahwa peraturan ini tidak adil bagi wanita.

Umma Salmah mengatakan: “Wahai Rasulullah ! Lelaki dapat melakukan Jihad, mengumpulkan hasil perang, sementara kami tidak dan menerima setengah dari warisan.” (i.e. saudara lelaki menerima dua kali jumlah yang diterima saudara perempuan). Setelah itu surah “Dan kau tidak boleh iri …. 4.32.” diturunkan.” [23]

[Q 4:32] Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan …

Ini menunjukkan bahwa wanita sebelum Islam memiliki hak waris lebh banyak dari yang diberikan dalam masa Islam.

12) Pandangan Muhamad tentang Wanita

Terdakwa begitu rendah pandangannya terhadap wanita sampai ia membandingkan mereka dengan ladang perkebunan dan lelaki dapat memasukinya dari manapaun (ana she’tom).

[Q 2.223] Isteri2 mu adalah ladang bagimu: jadi dekatilah ladangmu ini kapan dan bagaimanapun kau inginkan … (sering terjemahan dihaluskan/disanitasi.)

Memang tidak pantas untuk lebih deskriptif, namun jelas bahwa kata arab bagi ladang, “ana she’tom” berarti lobang perempuan manapun yang bagi lelaki diijinkan untuk dimasuki ! Ini tidak lain menganggap wanita tidak lebih dari sekedar alat permainan yang diciptakan untuk kepuasan lelaki.

“‘Umar pernah berbicara ketika isterinya memotong kalimatnya, jadi ia mengatakan kepadanya: ‘Kamu adalah mainan, jika kau diperlukan kami akan memanggilmu.'”[24]

Pemikir Islam ternama, Ghazali, mengatakan :

“Berada diantara wanita, memandangi mereka dan bermain dengan mereka, jiwa kembali segar, hati beristirahat dan ibadah kepada Allah diperkuat … itulah mengapa Allah mengatakan : … dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya (Q. 7:189)” [25]

Surah yang dimaksudkan Ghazali adalah:

[Q 7.189] Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya …

Jelas bahwa Muhamad tidak memiliki hormat bagi wanita.

Rasulullah mengatakan, “Setelah saya, tidak ada orang yang mengakibatkan penderitaan yang lebih besar terhadap perempuan ketimbang lelaki.” [26]

The Prophet said, “After me I have not left any affliction more harmful to men than women.”

Terdakwa juga membandingkan wanita dengan tulang rusuk bengkok.

“Wanita seperti tulang rusuk. Kalau kau mencoba meluruskannya, kau akan mematahkannya. Jika kau mendiamkannya kau akan mendapatkan manfaat dan kebengkokannya akan tetap berada didalamnya.” [27]

Hadis ini diklasifikasikan sebagai “disetujui bersama” karena dilaporkan oleh kolektor hadis lainnya.

Dalam hadis lain ia mengatakan :

“Wanita datang dan pergi dalam bentuk setan, jadi jika kau melihat wantia, kau harus segera kembali ke isterimu, sehingga dapat mengusir perasaan yagn ada didalammu”. [28]

11) Wanita dalam posisi tinggi

Sebelum Islam, dalam negara2 non-Arab, seperti di Persia dan Byzantine, wanita memiliki lebih banyak hak dari negara2 Arab. Malah, di Iran, perempuan bisa menjadi Ratu dan pemimpin negara. Apa komentar Muhamad mengenai hal ini ?

‘Ketika Nabi mendengar berita bahwa rakyat Persia membuat puteri Khosrau Ratu (pemimpin) mereka, ia mengatakan, “Tidak pernah sebuah bangsa akan sukses jika menjadikan wanita sebagai pemimpin.“’ [29]

Pernah saya ditanya mengapa negara2 Islam seperti Bangladesh dan Pakistan memiliki perdana menteri wanita ? Jawabannya adalah bahwa banyak muslim tidak tahu agama mereka dan secara tidak sadar mengikuti adat Jahiliyah pra-Islam. Jahiliah berarti kebodohan dan Muslimin sering melakukan hal2 yang tidak menuruti Islam. Tetapi Taliban, di lain pihak mengerti betul Islam. Semakin Islami sebuah negara, semakin sempurna syariah yang diberlakukan, semakin berkurang hak wanita.

12) Penguburan hidup2 bayi perempuan

Sering Muslimin memberi bukti bahwa Muhamad membebaskan wanita dengan perintah Quran yang melarang penguburan hidup2 bayi perempuan. Mereka ingin agar kau percaya bahwa ini praktek umum bangsa Arab yang hanya dihentikan setelah Islam. Namun dongeng ini bisa dibantah dengan mudah. Jika praktek ini begitu umum, bagaimana kaum Arab memiliki begitu banyak isteri dan bagaimana bangsa Arab bisa melanjutkan keturunan ?

Penguburan bayi perempuan hidup2 sekarang bahkan masih dipraktekkan di Cina dan India. Ini dilakukan oleh golongan yang paling rendah pendidikannya dan paling miskin. Praktek ini namun demikian dianggap melanggar hukum dan para pelakunya, jika ketahuan, akan dihukum. Tidak ada alasan bahwa hal ini berbeda di negara2 Arab. Sudah jelas orang Arab tidak menyukai tindakan ini karena melanggar kemanusiaan. Ketika Muhamad melarangnya, ia sekedar mengungkapkan perasaan mayoritas. Seperti pemimpin jaman sekarang yang melarang orang mengendarai mobil dibawah pengaruh alkohol. Namun apakah keputusan macam ini dianggap sebagai sesuatu yang lain daripada lain ?

Seperti saudara Juri bisa menyimak, wanita di masa Islam kehilangan segala hak, termasuk hak untuk bepergian sendirian. [30]

13) Allah memiliki puteri ? Alangkah merendahkan bagi Allah !

Pandangan Muhamad terhadap wanita begitu rendah sampai ia merasa tidak pantas bagi Allah untuk memiliki puteri jika lelaki biasa saja bisa mebanggakan putera2nya.

Dalam Q 53.19-22, setelah membantah pernyataan bahwa Allah memiliki puteri2 seperti dulunya anggapan suku Quraysh, ia mengatakan :
dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang TIDAK ADIL !”

Seandainya Allah hanya memiliki puteri dan bukan putera: mengapa memangnya keadaan ini dianggap begitu tidak adil ? Apakah Allah malu tidak memiliki putera ? IRONISNYA MALAH MUHAMAD YANG KETIBAN NASIB INI : semua puteranya mati ketika masih bayi dan ia hanya ditinggali anak2 perempuan. BETAPA MALUNYA IA ! Seseorang dengan ego kolosal tersebut HANYA memiliki anak perempuan, yang ia anggap sangat “TIDAK ADIL”.

Kenyataan bahwa kaum Arab memiliki dewi2 adalah bukti bahwa mereka cukup menghormati perempuan sampai memberikan mereka status dewi.
Menurut Muhamad, semua anggota Rumah Allah, termasuk malaikat adalah lelaki. Satu2nya kaum wanita yang ada di surga adalah para
“houris”, WTS surgawi yagn diciptakan khusus bagi kenikmatan lelaki/martir muslim. Malahan, tidak banyak wanita yang diijinkan masuk Surga. Seperti dikatakan Muhamad sendiri, kebanyakan dari mereka akan berakhir di NERAKA!

14) Komentar Terdakwa lainnya yang merendahkan Wanita

Dalam sebuah hadis Muhamad menyamakan wanita dengan anjing dan keledai:

“Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” [31]

Dalam hadis lainnya ia mengartikan mimpinya tentang seorang wanita hitam sebagai “epidemi”. [32]

Ia juga mengatakan bahwa wanita mengakibatkan penderitaan yang paling besar kepada lelaki:

“Setelah saya, tidak ada yang mengakibatkan penderitaan yang lebih besar terhadap lelaki ketimbang wanita. ” [33]

15) Isteri yang baik
Satu2nya kewajiban suami adalah untuk memilihara isteri. Ia harus menyediakan makanan, rumah dan pakaian. Namun kebutuhan emosional, psikologis maupun sexual ia tidak perlu ambil pusing. Menurut Islam, kebutuhan ini tidak ada karena perempuan bukanlah manusia.
Muhamad bukan saja memiliki segudang perempuan dalam haremnya ketika berusia lanjut dan mugnkin juga impoten, ia malah melarang isteri2nya yang muda itu untuk menikah kembali setelah ia mati.
Terdakwa begitu posesif sampai tidak sudi isterinya disentuh lelaki lain, bahkan setelah kematiannya.

Ia mensahkan poligami dan mengijinkan lelaki menikahi 4 isteri (Q.4:3) dan budak2 perempuan sesukanya. Bahkan ada yang percaya bahwa surah ini tidak membatasi jumlah isteri namun surah, namn bahwa seorang lelaki bisa menikahi sejumlah isteri, 2, tiga, dst.

Oleh karena itu lelaki boleh memiliki nafsu seksual terhadap wanita lain bahkan setelah menikahpun namun:

“Wanita saleh, adalah wanita yang jika suaminya memintanya, ia menurut; jika suaminya memandanginya, isteri menyenangkannya; jika suami bersumpah; isteri memenuhinya, dan jika suami absen, isteri akan menjaga diri dan harta bendanya.”[35]

Bukankah ini cara menggambarkan anjing setia ?

Nah, apa lagi yang harus dimiliki seorang perempuan saleh ?

“Wanita paling baik adalah mereka yang memiliki wajah paling cantik DAN EMAS KAWIN PALING RENDAH.”[36]

Satu lagi kualitas isteri baik :

“Isteri yang baik adalah yang membantu suami memikirkan dunia akhirat. Ia melakukannya dengan melakukan kewajibannya di rumahnya(membebaskan suami dari urusan rumah tangga), dan dengan memuaskan suaminya sebcarai seksual sehingga melindunginya dari godaan seksual.” [37]

Jika seorang nabi begitu membenci wantia, begitu merendahkan kepercayaan mereka, begitu menghina intelektualitas mereka, merampas hak2 mereka, apa yang dapat kita harapkan dari pengikutnya ?
Wanita muslim tidak pernah akan mencapai emansipasi, selama mereka menganggap Muhamad sebagai pemimpin spiritual mereka.

Jika muslimin tidak percaya saya, percayalah nabi mereka yang mengatakan:

“Rasulullah mengatakan, “banyak dari antara lelaki mencapai kesempurnaan namun tidak ada diantara para wanita kecuali Asia, isteri Faraoh, dan Maria, puteri ‘Imran.” [38]

KESIMPULAN:

Jaksa telah memberikan bukti berlimpah akan kejahatan Terdakwa untuk menyatakannya bersalah dalam hal MISOGYNY, pelecehan hak wanita dan merendahkan setengah jumlah umat manusia. [39]

Karena kejahatannya ini (misogyny), hak wanita Muslim dilecehkan dan mereka tidak dapat mengembangkan potensi penuh mereka. Sebaliknya mereka menjadi obyek hinaan, diskriminasi, perkosaan, honor killing dan macam2 pelecehan fisik, emosional dan sexual tanpa diberi hak untuk membela diri ataupun menuntut hak mereka. Hasilnya, seluruh dunia Muslim tertinggal dari penduduk dunia lain karena setengah jumlah penduduknya sendiri dihalangi dari emansipasi.

Wanita dihalangi dari pendidikan karena dianggap tidak perlu. Perempuan tidak berpendidikan ini menjadi terbelakang dan tidak memiliki percaya diri. Wanita2 macam inilah kemudian membesarkan anak2 lelaki dan mencerminkan kekurangan mereka terhadap anak2 mereka. Putera2 mereka ini mewarisi harga-diri rendah (low self-esteem) ibu mereka dan
“membangun” dunia Islam secara tidak memadai, tanpa kemampuan untuk mengatasi kekurangan2 didalam diri mereka: rasa takut, rasa terhina dan kebanggaan yang terluka. Pada akhirnya seluruh dunia Islam terjun dalam kegelapan, kebodohan dan kediktatoran.

Dr. Mahathir, mantan PM Malaysia, pada pertemuan puncak ke-10 Organization of Islamic Conference, memberi gambaran tepat :

“Kami semua Muslim. Kami semua tertekan. Kami semua dihina.”

Ini gambaran tepat tentang perasaan Muslimin pada umumnya. Dan perasaan inferioritas ini bukan karena kekuatan Zionis yang memiliki pengaruh atas Muslimin melalui alat pencet tombol jauh (remote control), kata Dr. Mahathir, namun akibat pelecehan hak wanita di semua negara2 Islam.

Ternyata ada juga orang dengan rasa kurang percaya diri yang sanggup mencapai puncak kekuasaan seperti Sadam Husein, Osama Bin Laden atau Hasan Sabbah. Namun merekapun memiliki inferiority-complex yang merusak jiwa mereka dan akibatnya mereka bertindak secara diktatorial, terlepas dari tinggi rendahnya status mereka dalam masyarakat. Lelaki muslim macam ini haus akan kuasa, perlu menunjukkan dirinya dan perlu membuktikan kepada dunia bahwa ia seseorang yang patut diperhitungkan. Ia haus akan pengakuan dan takut diacuhkan. Ia merasa diacuhkan, dihina, dikecilkan dan oleh karena itu mencari pelampiasan dendam. Ini juga disuarakan Dr. Mahathir yang menyerukan kepada Muslimin agar mendapatkan “guns and rockets, bombs and warplanes, tanks and warships” untuk merampas kembali hak mereka dari “detractors and enemies” mereka.

Mahathir memang betul ! Lelaki Muslim tertekan dan terhina. Namun faktanya adalah, penghinaan mereka tidak ada hubungannya dengan Yahudi. Ini karena cara mereka dibesarkan oleh ibu mereka dan cara Islam memperlakukan wanita. Wanita yang tidak memiliki self-esteem (rendah harga dirinya) tidak dapat membesarkan putera2 dengan harga diri tinggi. Hasilnya adalah lelaki dengan ego terluka, yang mencari kekuasaan dan pengakuan untuk mengatasi inferiority complex mereka itu.

Tidaklah aneh bahwa ibu Osama bin Laden adalah isteri yang paling tidak disukai ayahnya yang memiliki lebih dari 10 isteri ? Osama dibesarkan oleh seorang ibu yang rendah harga dirinya dan ia mewarisi sifat inferior sang ibu. Kini Osama berperang melawan dirinya sendiri itu dengan menjadi pahlawan muslimin yang mendukung tindakan terornya.

Lelaki dengan harga diri rendah sangat berbahaya. Lee Harvey Oswald membunuh J.F. Kennedy tanpa alasan lain selain membuktikan diri sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia penting dan sanggup melakukan hal besar. Semua lelaki terhina ini ingin membuktikan diri, bahkan sebagai pembunuh atau teroris. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan masal 9/11 dsb guna menjadi martyr, menderita karena diri yang direndahkan. Ide untuk menjadi pahlawan, pemaparan foto mereka diseluruh dunia adalah sangat menarik bagi lelaki yang merasa hidup
mereka tidak berguna.

Nabi gadungan dari tanah Arab ini tidak pernah dapat membayangkan bahwa obsesinya mengontrol isteri2nya satu hari dapat membawa dunia kepada kehancuran.

Oleh karena itu Jaksa menuntut pengutukan total terhadap MUHAMAD BIN ABDULLAH karena merampas hak wanita, merendahkan mereka pada derajat binatang piaraan dan oleh karena itu melahirkan bangsa sakit yang terdiri dari lelaki yang luka secara emosional dengan ego luar biasa, tanpa kemampuan berfungsi dalam dunia yang menuntut persamaan hak. Mereka tidak sanggup menjadi bahagia, positif dan puas. Mereka gagal dalam hubungan mereka dengan isteri dan anak mereka kecuali sifatnya patriarchal. Mereka gagal dalam masyarakat kecuali masy itu diktatorial.

Mereka mengulangi lingkaran pelecehan, penghinaan dan kediktatoran AD INFINITUM (tanpa akhir). Lelaki tidak berarti yang luka jiwanya
karena keperluan emosi mereka tidak dipenuhi oleh ibu2 mereka yang sama2 bodoh, picik dan kurang puas secara emosional, mengenakan topeng pengingkaran/denial dan grandiositas, menyembunyikan
diri dibelakang ego mereka yang cepat tersinggung. Mereka merupakan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan seluruh dunia.

Dari semua kejahatan yang dilakukan Terdakwa ; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan pedophilia, perbudakan dan genocide, ini yang paling parah. Misogyny paling menghancurkan bagi muslimin. Walaupun target misogyny adalah wanita, kerusakan yang diakibatkan dirasakan oleh setiap pengikut Muhammad. Sebuah masyarakat sakit dikembangkan oleh lelaki yang memiliki mental korban namun sombong dan egosentris, menyukai kekerasan, penyebar kebencian dan perang.

Saya menyerukan Jury agar mengutuk Terdakwa dengan suara bulat dan menyatakannya bersalah atas misogyny. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan !

——————————-
Referensi:

[1] http://anwary-islam.com/battle/ghazwah_uhud.htm
[2] Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648:
[3] Bukhari, v1, bk 8, sunnah 395.

[8] Bukhari Volume 2, Book 18, Number 161

[10] Razi, At-tafsir al-Kabir, on Q. 4:34.
[11] Muslim Book 11, Number 2135)
[12] Bukhari Volume 1, Book 6, Number 301

[13] Quran: 30.21

[15] (Quoted in Soroush, Abdolkarim, _Farbehtar az ideoloji_, Sera^t, Tehran, 1373 A.H.S.). [A.H.S. = After the Hegira, in Solar years].

[14] Bukhari Volume 4, Book 54, Number 460.

[16] Sahih Muslim Book 008, Number 3367:

[17] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 122
[18] Mishkat al-Masabih, English translation, Book I, Section ‘Duties of husband and wife’, Hadith No. 61.
[19] Kanz-el-‘Ummal, Vol. 22, Hadith No. 858. See also Ihy’a

[20] The World Book Dictionary

‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65.

[21] Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith.

[22] Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith.

[23] (Ibn Katheer vl.1, pg.498)

[24] Al-Musanaf by Abu Bakr Ahmad Ibn ‘Abd Allah Ibn Mousa Al-Kanadi who lived 557H., Vol. 1 Part 2, p. 263. See also Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al- Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 52.

[25] Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 34.
[26] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33
[27] Sahih Muslim Book 008, Number 3466
[28] Book 008, Number 3240
[29] Volume 9, Book 88, Number 219
[30] (Sahih Bukhari 2.194)
[31] Muslim Book 004, Number 1032
[32] Bukhari Volume 9, Book 87, Number 163
[33] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33
[34] Razi, At-tafsir al-kabir, commenting on Q. 4:3
[35] Mishkat al-Masabih, Book 1, duty towards children Hadith No. 43.

[36] Ihya’ ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, vol. II, Kitab Adab al-Nikah, p. 45.

[37] Ibid., p. 35

[38] Bukhari Volume 4, Book 55, Number 623

[39] For further studies, read Abul Kasem’s book on women available online and an excellent essay written by M. Rafiqul-Haqq and P. Newton called The Place of Women in Pure Islam also available online.

————————————————————– ——————
END OF CASE (PART VIII)
Read More

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: