Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Diskusi Tentang Sejarah Perbudakan

Malcolm X adalah tokoh Muslim dari kaum Afrika-Amerika yang berjuang menghapus segala macam diskriminasi lebih-lebih yang menimpa kaum Afrika-Amerika yang sering dikonotasikan dengan kaum negro yang terdiskriminasikan.

Begitu kira-kira.. lanjuuutt..

Malcolm-X wrote:Malcolm X adalah tokoh Muslim dari kaum Afrika-Amerika yang berjuang menghapus segala macam diskriminasi lebih-lebih yang menimpa kaum Afrika-Amerika yang sering dikonotasikan dengan kaum negro yang terdiskriminasikan.Begitu kira-kira.. lanjuuutt..

Tidak tahukah Malcom X bahwa Muhammad punya banyak budak2 negro?
Sahih Bukhari, Volume 2, Book 15, Number 103:
Narrated ‘Urwa on the authority of ‘Aisha:
On the days of Mina, (11th, 12th, and 13th of Dhul-Hijjah) Abu Bakr came to her while two young girls were beating the tambourine and the Prophet was lying covered with his clothes. Abu Bakr scolded them and the Prophet uncovered his face and said to Abu Bakr, “Leave them, for these days are the days of ‘Id and the days of Mina.” ‘Aisha further said, “Once the Prophet was screening me and I was watching the display of black slaves in the Mosque and (‘Umar) scolded them. The Prophet said, ‘Leave them. O Bani Arfida! (carry on), you are safe (protected)’.”

terjemahan:
Dikisahkan oleh ‘Urwa atas izin dari ‘Aisha:
Di hari2 Mina, (11th, 12th, and 13th of Dhul-Hijjah) Abu Bakr datang pada Aisha pada waktu dua orang gadis muda memukul tambur dan sang Nabi sedang berbaring ditutupi pakaiannya. Abu Bakar membentak mereka dan sang Nabi membuka penutup wajahnya dan berkata pada Abu Bakr, “Biarkan mereka, karena inilah hari2 ‘Id dan hari2 Mina.” ‘Aisha lalu berkata, “Suatu waktu sang Nabi mencadari mukaku dan aku melihat barisan budak2 hitam di Mesjid dan (‘Umar) membentak mereka. San Nabi berkata, ‘Biarkan mereka. O Bani Arfida! (teruskan), kau selamat (dilindungi)’.”

Sahih Bukhari, Volume 8, Book 73, Number 182:
Narrated Anas bin Malik:
Allah’s Apostle was on a journey and he had a black slave called Anjasha, and he was driving the camels (very fast, and there were women riding on those camels). Allah’s Apostle said, “Waihaka (May Allah be merciful to you), O Anjasha! Drive slowly (the camels) with the glass vessels (women)!”

Sahih Bukhari, Volume 9, Book 91, Number 368:
Narrated ‘Umar:
I came and behold, Allah’s Apostle was staying on a Mashroba (attic room) and a black slave of Allah’s Apostle was at the top if its stairs. I said to him, “(Tell the Prophet) that here is ‘Umar bin Al-Khattab (asking for permission to enter).” Then he admitted me.
… (cf. Bukhari 3.648, 6.435, 7.119)

Malik’s Muwatta, Book 21, Number 21.13.25:
Yahya related to me from Malik from Thawr ibn Zayd ad-Dili from Abu’l-Ghayth Salim, the mawla of ibn Muti that Abu Hurayra said, “We went out with the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, in the yearof Khaybar. We did not capture any gold or silver except for personal effects, clothes, and baggage. Rifaa ibn Zayd presented a black slave boy to the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, whose name was Midam. The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, made for Wadi’l-Qura, and when he arrived there, Midam was unsaddling the camel of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, when a stray arrow struck and killed him. The people said, ‘Good luck to him! The Garden!’ The Messenger of Allah said, ‘No! By He in whose hand my self is! The cloak which he took from the spoils on the Day of Khaybar before they were distributed will blaze with fire on him.’ When the people heard that, a man brought a sandal-strap or two sandal-straps to the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace. The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said, ‘A sandal-strap or two sandal-straps of fire!’ ”

Tidakkah Malcom X tahu bahwa Muslim Arab gemar menyerang suku2 kafir Afrika dan memperbudak mereka bagaikan ternak:
Image
Pedagang budak Arab sedang menggembalakan budak2 negronya.

Image
Penyerangan Muslim Arab terhadap Afrika Timur di tahun 1888. Jumlah kematian karena perdagangan budak Islam di Afrika selama 14 abad mencapai lebih dari 112 juta jiwa.

Lihat nih artikel:
MENGAPA ISLAM TIDAK PERNAH MENENTANG PERBUDAKAN?

Malcolm X adalah tokoh Muslim dari kaum Afrika-Amerika yang berjuang menghapus segala macam diskriminasi lebih-lebih yang menimpa kaum Afrika-Amerika yang sering dikonotasikan dengan kaum negro yang terdiskriminasikan.

BETAPA BODOHNYA MALCOLM X YANG MENGIKUTI AJARAN DAN PERBUATAN MUHAMMAD YANG NYATA2 TIDAK SAJA MENDISKRIMINASI NEGRO TAPI BAHKAN MEMPERBUDAK NEGRO!!

Adadeh wrote:BETAPA BODOHNYA MALCOLM X YANG MENGIKUTI AJARAN DAN PERBUATAN MUHAMMAD YANG NYATA2 TIDAK SAJA MENDISKRIMINASI NEGRO TAPI BAHKAN MEMPERBUDAK NEGRO!!

BETUL SKALI!!!!

Islam and slavery
@adadeh

Tahukah adadeh, slave berasal dari perkataan slav yang merujuk kepada

bangsa slavia yang tidak berharta dari Eropa Timur, termasuk kekaisaran

Romawi. Sistem perbudakan ini telah ada sejak berabad lamanya. Misalnya

pyramida di mesir dibangun oleh golongan ini. Tetapi tidak semua budak

tidak mempunyai hak. karena waktu zaman pemerintahan Islam, kebanyakan

budak telah diberi hak yang sama rata oleh tuannya. Malah salah satu

orang pertama yang memasuki Islam (as-Sabiqunal awwalun) ialah Bilal bin

Rabah yang merupakan seorang budak.

Tidakkah adadeh paham bahwa apa yang terjadi di Arab bukan semua berasal

dari ajaran Islam, ingatlah bahwa perbudakan itu telah ada jauh sebelum

Islam muncul.

KALAU MALCOLM X MEMANG BODOH, BELIAU TIDAK AKAN BERJUANG KERAS UNTUK

MENGHAPUS DISKRIMINASI YANG MENIMPA KAUM AFRO YANG TERDISKRIMINASIKAN.

Upss.. Maaf Pak Momod, jadi OOT nich.. Ini kan thread untuk membahas

arti nick yang dipakai oleh member di forum ini, jadi merembet ke

perbudakan. Kak adadeh tuh yang mulai duluan.. :lol: :lol:

@santri gatal

See you there..
:wink:

Malcolm-X wrote:@adadeh
Tahukah adadeh, slave berasal dari perkataan slav yang merujuk kepada bangsa slavia yang tidak berharta dari Eropa Timur, termasuk kekaisaran Romawi.

Buat apa pakai kata “slave” segala jikalau dalam Islam sendiri sudah ada kata “ABDI” alias budak? Bukankah perbudakan memang HALAL dalam Islam? Bahkan ayat2 Qur’an sendiri sudah menghalalkan pemerkosaan terhadap budak wanita kafir dalam perampokan dan agresi yang dilakukan tentara Muslim?

Sistem perbudakan ini telah ada sejak berabad lamanya.

Anak2 SD juga sudah tahu akan hal itu, tapi hanya Muhammad yang mengHALALkan perbudakan atas kafir dalam nama Allah SWT. Mana ada Tuhan yang menurunkan firman illahi mengijinkan manusia memperbudak sesama?

Tetapi tidak semua budak tidak mempunyai hak. karena waktu zaman pemerintahan Islam, kebanyakan budak telah diberi hak yang sama rata oleh tuannya.

Hak sama rata dengan apa? Adakah ayat2 Qur’an yang mengatakan Muslim dilarang membunuh budak? Apakah ada ayat2 Qur’an yang mengatakan memperbudak, membunuh, atau memperkosa budak adalah perbuatan zolim?

Malah salah satu orang pertama yang memasuki Islam (as-Sabiqunal awwalun) ialah Bilal bin Rabah yang merupakan seorang budak.

Bilal adalah budak dari majikan pagan. Dia melarikan diri ke Medinah bersama Muhammad dan dia tidak jadi budak lagi setelah tinggal di Medinah. Sesama Muslim dilarang memperbudak. Hanya kafir yang boleh diperbudak.

Tidakkah adadeh paham bahwa apa yang terjadi di Arab bukan semua berasal dari ajaran Islam,

Sudah jelas Islam memang menghalalkan dan mensahkan perbudakan atas firman Illahi. Silakan lihat aturan2 perbudakan di hadis muwatta malik, juga banyak sekali tuh ayat2 Qur’an tentang budak, tawanan wanita, jarahan perang. Jarahan perang itu termasuk budak2/tawanan2 kafir wanita dan anak2. Islam mengHALALkan perbudakan terhadap wanita dan anak2 atas izin Illahi. Periksa sendiri Qur’an-mu.

ingatlah bahwa perbudakan itu telah ada jauh sebelum Islam muncul.

Tapi Islam mensahkan dan menghalalkan perbudakan atas izin dan firman Illahi. Muhammad sama sekali tidak menentang perbudakan, apalagi melarangnya. Dia adalah pedagang budak yang sering melakukan jual beli budak di pasar budak.

KALAU MALCOLM X MEMANG BODOH, BELIAU TIDAK AKAN BERJUANG KERAS UNTUK MENGHAPUS DISKRIMINASI YANG MENIMPA KAUM AFRO YANG TERDISKRIMINASIKAN.

Malcolm X jelas tidak tahu bahwa Muhammad adalah pedagang budak, penculik kafir untuk dijadikan budak (dia menculik seluruh kaum wanita dan anak2 kaum Ghatafan dan membawa mereka semua ke Medinah), pemerkosa tawanan wanita, pemilik banyak budak. Malcolm X mengira bahwa agama Islam adalah agama asli masyarakat negro di Afrika. Dia adalah korban kebodohannya sendiri sehingga bisa dengan mudah dikibuli orang Muslim Arab di Amerika.

Banyak sekali orang2 negro Amerika yang telah mengerti sejarah Islam di Afrika, sehingga mereka menyebarluaskan hal itu di berbagai kegiatan sosial agar kaum kulit hitam tidak terjebak mengikuti ajaran Muhammad yang mengHALALkan perbudakan, terutama perbudakan atas kafir.

Ini kan thread untuk membahas arti nick yang dipakai oleh member di forum ini

Justru karena namamu itulah, aku jadi ingin tahu. Sekarang ajukan pertanyaan ini pada dirimu:
APAKAH KAU MENENTANG PERBUDAKAN ANTAR SESAMA MANUSIA?
Kalau jawabannya adalah IYA, maka pertanyaan berikut:
MAUKAH KAU MENGIKUTI AJARAN SESAT MENGHALALKAN PERBUDAKAN SESAMA MANUSIA?
Kalau jawabannya adalah: IYA, maka tak heran pula diriku sebab memang begitulah ajaran nabimu.

Jangan sok nentang2 perbudakan tapi membela Islam, ya? Itu namanya menipu diri sendiri dan menentang ajaran Allah SWT di Qur’an.
@adadeh sobatku,

Budak dalam islam adalah berasal dari tawanan perang fi sabilillah atau keturunannya. Sebenarnya Islam tidak mengakui perbudakan. Atau tepatnya tidak menyetujui perbudakan. Islam hanyalah menyikapi perbudakan yang sudah ada jauh sebelum datangnya agama ini. Perbudakan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia.

Pada abad ke 7 dari ujung Eropa, seluruh Afrika, hingga India dan China, tak satupun yang bebas budak. Semua umat manusia telah menerapkan sistem perbudakan. Bukan hanya dalam tatanan sosial, melainkan juga terkait dengan masalah moneter.

Pada saat itulah Islam datang dan secara sistematis melakukan menghilangkan perbudakan melalui syariat Islam. Semuanya kongkrit, bukan sekedar teori yang diseminarkan lalu masuk kotak. Salah satunya lewat bentuk hukuman pelanggran. Banyak sekali pelanggaran yang bentuk hukumannya adalah membebaskan budak. Ini adalah sebuah bentuk win win solution yang belum pernah ditawarkan sistem hukum manapun.

Di dalam Al-Quran kita menemukan beberapa ayat yang menjelaskan hukuman atas pelanggaran tertentu dan bentuknya adalah membebaskan budak.

“maka bayarlah diat yang diserahkan kepada keluarganya serta MERDEKAKAN BUDAK yang beriman” (QS. An-Nisa : 92)

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud , tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau MEMERDEKAKAN SEORANG BUDAK. (QS. Al-Maidah : 89)

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka MEMERDEKAKAN SEORANG BUDAK sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 3)

Biasanya dalam sistem hukum buatan manusia, kalau ada pelanggaran maka hukumannya adalah penjara yang hakikatnya adalah pengekangan kebebasan. Sebaliknya, pelanggaran dalam Islam justru hukumannya adalah pembebasan seseorang dari perbudakan. Maka tidak ada yang dizalimi, pelaku pelanggaran tidak hilang kemerdekaannya dan budakpun mendapatkan kemerdekaannya.

Semua pintu ke arah perbudakan telah ditutup rapat-rapat oleh syariat Islam. Sehingga secara perkembangan demografi, angka perbudakan dengan sendirinya akan semakin mengecil dan pada satu titik tertentu akan lenyap dari muka bumi.

Namun selama proses itu, Islam tetap membolehkan para pemilik budak untuk mendapatkan haknya dari budak mereka. Tentu saja dengan tidak boleh menzhalimi, menyiksa, menyakiti atau menganiaya. Alasannya adalah bahwa ketika para tuan memiliki budak, mereka membelinya dengan harga yang tinggi. Sehingga bila pembebasan budak dilakukan dalam sehari, akan runtuhlah sendi-sendi ekonomi masyarakat. Seorang yang punya seratus budak akan tiba-tiba menjadi miskin karena budak itu adalah harta miliknya. Harus ada nilai tukar yang sepadan untuk membebaskan budak begitu saja. Salah satunya adalah dengan pilihan bentuk hukuman.

Selain itu, sistem zakat yang diperkenalkan Islam pun punya andil dalam mengentaskan perbudakan. Sebab salah satu mustahiq zakat adalah para budak yang ingin menebus dirinya dengan uang kepada tuannya. Maka para budak akan mendapatkan harta zakat dari amil zakat untuk tebusan dirinya. Si pemilik budak tidak dirugikan dengan ditebusnya budak miliknya dengan harta yang sepadan.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, UNTUK BUDAK, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Allah SWT-Taubah : 60)

Dan terakhir adalah membebaskan budak begitu saja sebagai ibadah maliyah sunnah, yaitu bagi mereka yang ingin mendapatkan pahala yang besar disisi Allah SWT. Bukan karena melanggar, juga bukan karena ingin membayar zakat, tapi semata-mata sebagai bentuk taqarrub kepada Allah SWT dan keikhlasan.

Maka kalau sejarah mencatat hilangnya perbudakan dari muka bumi, ketahuilah bahwa pembebasan itu dimulai dari pusat-pusat peradaban Islam.

INTINYA, APAPUN YANG ANDA KATAKAN TENTANG ISLAM DAN PERBUDAKAN MALCOLM X TETAP MENGIMANI ISLAM..

Sama halnya kalau saya mengingatkan pada anda bahwa babi itu diharamkan dalam Alkitab, anda tetap saja akan makan BABI..

Wassalam,

PS: Sekali lagi maaf Pak Momod atas keOOT-annya, saya hanya memberikan penjelasan sama sobat saya adadeh.. :wink:

Malcolm-X wrote:Budak dalam islam adalah berasal dari tawanan perang fi sabilillah atau keturunannya.

Nah, ini dia lagi masalahnya. Mengapa menyerang terlebih dahulu suku2 yang tidak memerangi Islam? Mengapa memperbudak pria, wanita, dan anak2 yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat hanya karena hal itu dihalalkan Allah?
Mengapa Muslim butuh untuk memiliki tawanan perang dan lalu memperbudak mereka segala?
Maukah Muslim diperangi dan diperbudak kafir?
Tentu saja tidak. Karena itu pula, dalam lubuk sanubarimu dan dari tulisanmu sendiri kau jelas telah mengakui bahwa perbudakan adalah perbuatan biadab dan tidak seharusnya dilakukan siapapun, apalagi yang mengaku sebagai Rasul Allah.

Sebenarnya Islam tidak mengakui perbudakan. Atau tepatnya tidak menyetujui perbudakan.

Pengertianmu itu berdasarkan hati nuranimu, dan bukan berdasarkan apa yang diucapkan dan dilakukan Muhammad. Sebaliknya, Islam membudayakan perbudakan. Muhammad mulai mengambil budak2 ketika dia pindah ke Medina dan punya kekuasaan. Islam mengijinkan untuk mengambil budak sebagai “jarahan perang” atau upah berperang. Ini mengakibatkan terjadinya banyak perang2 “jihad” yang dilakukan negara2 dan suku2 Islam untuk menyerang kelompok2 non-Muslim dan menjadikan mereka budak2.

Perbudakan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia.

Demikian juga minuman yang memabukkan, tapi Muhammad mampu melarang Muslim minum khamar yang memabukkan (padahal dia sendiri sering meminumnya). Melarang minum khamar mampu, tapi Muhammad/Allah yang maha kuasa ternyata tidak mampu melarang perbudakan. Hal ini karena Muhammad sendiri butuh budak2 untuk hadiah bagi para Muslim dan bagi dirinya sendiri.

Pada abad ke 7 dari ujung Eropa, seluruh Afrika, hingga India dan China, tak satupun yang bebas budak. Semua umat manusia telah menerapkan sistem perbudakan. Bukan hanya dalam tatanan sosial, melainkan juga terkait dengan masalah moneter.

Sepanjang sejarah, muncul berbagai pemimpin bangsa yang menolak perbudakan, memperjuangkan hak azasi manusia, kesetaraan derajat manusia, seperti contohnya William Wilberforce, Clarkson, Abraham Lincoln, tapi tidak ada satu pun tokoh Muslim yang menentang perbudakan. Hal ini karena menentang perbudakan dalam Islam berarti menentang firman Allah dalam Qur’an.

Pada saat itulah Islam datang dan secara sistematis melakukan menghilangkan perbudakan melalui syariat Islam.

Hampir 100 tahun setelah Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi Amerika dan 130 tahun setelah semua budak dalam kerajaan inggris dibebaskan oleh UU parlemen, Saudi Arabia dan Yemen, ditahun 1962, dan Mauritania di tahun 1980, dengan berat hati menghilangkan perdagangan budak legal dari perundang2an mereka. Dan ini terjadi hanya setelah ada tekanan internasional yang hebat. Namun sampai sekarangpun masih banyak terdapat bukti yg dikumpulkan organisasi2 internasional bahwa perbudakan masih juga berlangsung dinegara2 muslim, dengan istilah yang lebih baru lagi. Hal ini bisa dibaca di saksi mata langsung perbudakan dalam Islam yang ditulis di buku2
“Slavery and Muslim Society in Africa”, by Allan Fisher dan “The Slave Trade Today” by Sean O’Callaghan. Para pengarang ini melihat sendiri perdagangan budak2 negro di pasar2 budak di negara pusat Islam yakni Saudi Arabia.

Di dalam Al-Quran kita menemukan beberapa ayat yang menjelaskan hukuman atas pelanggaran tertentu dan bentuknya adalah membebaskan budak.
“maka bayarlah diat yang diserahkan kepada keluarganya serta MERDEKAKAN BUDAK yang beriman” (QS. An-Nisa : 92)

Q 2:92 yang lengkap berbunyi:
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Apa kau tidak merasa hal yang janggal dari aturan Allah SWT ini? Mengapa musti menunggu sampai ada kejadian Muslim bunuh Muslim terlebih dahulu agar bisa membebaskan budak? Dalam ayat ini budak dianggap sebagai keping2 uang penghapus dosa yang harus dibayar pada Allah. Aneh sekali, bukan? Kalau memang niatnya adalah untuk menghapus perbudakan, ya jangan menyerang suku kafir dan memperbudak tawanan perang, dong. Kan sebenarnya mudah kalau memang punya niat baik untuk menerapkan penghapusan perbudakan?

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud , tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau MEMERDEKAKAN SEORANG BUDAK. (QS. Al-Maidah : 89)

Ayat di atas pun sama masalahnya dengan isi Q 2:92 dan Q 58:3 yang menganggap budak hanyalah gundi2 atau keping2 uang yang harus dibayarkan pada Allah untuk menyogok Allah agar dosa Muslim bisa dihapus. Aturan Illahi kok kayak begini?

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka MEMERDEKAKAN SEORANG BUDAK sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 3)

Bagaimana jika Muslim2 tersebut ternyata miskin yang tidak punya budak? Bagaimana bisa melaksanakan Q 58:3 jikalau tidak punya budak, padahal ketentuan ini wajib? Apa musti buka pasar budak terlebih dahulu? Bagaimana Q 58:3 ini bisa diterapkan di Indonesia yang tidak mengakui perbudakan sama sekali (beda dengan Islam)?
Orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Biasanya dalam sistem hukum buatan manusia, kalau ada pelanggaran maka hukumannya adalah penjara yang hakikatnya adalah pengekangan kebebasan. Sebaliknya, pelanggaran dalam Islam justru hukumannya adalah pembebasan seseorang dari perbudakan. Maka tidak ada yang dizalimi, pelaku pelanggaran tidak hilang kemerdekaannya dan budakpun mendapatkan kemerdekaannya.

Kalau begitu sudah jelas bahwa hukum ini dibuat bagi Muslim2 kaya yang punya budak. Muslim miskin yang tidak mampu punya budak, tidak akan sanggup menyogok Allah dengan keping2 uang (budak) agar dosanya diampuni. Yang kaya bisa enak2an saja bikin dosa terus2an karena setiap kali bikin dosa, dia tinggal memerdekakan seorang budak untuk menghapus dosanya. Malah hal ini juga membuat perbudakan semakin subur, karena Muslim kayaraya butuh budak2 itu untuk menghapus dosa.

Hal yang serupa juga terjadi saat ini dengan Muslim2 yang melakukan korupsi besar2an di Indonesia, tapi memakai uangnya untuk naik haji dengan harapan dosanya dihapus semua oleh Allah. Bukankah ini sungguh absurd? Memperbudak saja sudah merupakan pelanggaran hak azasi manusia. Lalu setelah itu menggunakan perbudakan sebagai alat penghapus dosa. Ini jelas lingkaran setan:
1. Islam menghalalkan Muslim memperbudak kafir,
2. Muslim yang melanggar aturan Islam dapat menghapus dosa dengan memerdekakan budak
3. Jika budak sudah habis tapi dosa masih banyak, maka:
Kembali lagi ke nomer 1. Jadi kafir adalah alat bagi Muslim untuk bisa menghapus dosa.

Semua pintu ke arah perbudakan telah ditutup rapat-rapat oleh syariat Islam.

Pintu perbudakan dalam Islam tidak akan pernah tertutup selama ayat2 ini masih berlaku:
Q 33:50
Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba2 wanita yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu.

Q 23:5,6
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak2 wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Sehingga secara perkembangan demografi, angka perbudakan dengan sendirinya akan semakin mengecil dan pada satu titik tertentu akan lenyap dari muka bumi.

Ternyata pada kenyataannya, perbudakan dalam Islam di jaman modern masih berkembang pesat, terutama di Afrika. Muhammad sendiri membeli, menjual, memperdagangkan budak. Hal ini pulalah yang ditiru Muslim2 jaman modern seperti ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Slavery_in_Sudan
According to the American Anti-Slavery Group, black Africans in southern Sudan have been abducted for centuries in the Arabian slave trade, but the slave raids by militia armed by the federal government of Sudan increased significantly after the 1989 military coup led by Field Marshal Omar Hassan Ahmad al-Bashir, who is the current president of Sudan.
terjemahan:
Menurut American Anti-Slavery Group, orang2 negro di Selatan Sudan telah diculiki selama berabad-abad untuk perdagangan budak Arabia, tapi penyerangan2 untuk mengambil budak oleh kelompok milisia yang dipersenjatai oleh Pemerintah Sudan meningkat pesat setelah tahun kudeta militer di tahun1989 oleh Omar Hassan Ahmad al-Bashir yang adalah Presiden Sudan saat ini.

Lihat tuh. Apakah yang dilakukan milisia Arab Muslim dan Presiden Sudan itu bertentangan dengan hukum Islam? Bukankah yang mereka lakukan itu persis dengan yang dilakukan Muhammad?

http://www.danielpipes.org/article/2687
Image
Si Homaidan Ali Al-Turki ini mengimport TKW Indonesia dan memperkosa dan memperbudaknya.
kutipan:
Last week, however, the FBI accused the couple of enslaving an Indonesian woman who is in her early 20s. For four years, reads the indictment, they created “a climate of fear and intimidation through rape and other means.” The slave woman cooked, cleaned, took care of the children, and performed other tasks for little or no pay, fearing that if she did not obey, “she would suffer serious harm.”
terjemahan:
Minggu lalu, FBI menuduh pasangan tersebut memperbudak seorang wanita Indonesia yang berusia awal 20 tahunan. Selama empat tahun, seperti yang tertulis dalam laporan, mereka menciptakan “suasanan ketakutan dan ancaman melalui pemerkosaan dan tindakan2 lainnya.” Budak wanita ini harus memasak, membersihkan, mengurus anak2, dan melakukan hal2 lain dengan bayaran rendah atau tidak dibayar sama sekali, dan dia takut jika dia tidak tunduk maka “dia akan sangat disakiti.”

Apakah yang dilakukan si Homa ini dosa menurut Islam? Apakah salah jika dia memperkosa budaknya? Bukankah Qur’an sendiri menghalalkan perkosaan terhadap budak2 wanita?
Q 23:5,6
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak2 wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Muslim tidak perlu menjaga kemaluannya terhadap budak2 wanita yang dia miliki. Si TKW memang tidak mengira dia bakal diperbudak, sebab perbudakan tidak ada di Indonesia yang masyarakatnya lebih berakhlak daripada badui Arab. Tapi si Homa berasal dari masyarakat badui Arab yang barbar, pengikut Muhammad sejati, sehingga dengan leluasa dia menerapkan haknya yang tertulis jelas di Q 23:5,6. Sunnah nabi, lhoo..

Juga jangan lupa ini:
PERBUDAKAN DI AFRIKA MODERN:

Sudan
Image
Francis Bok, authorand escaped former Sudanese slave. At the age of seven, he was captured and enslaved during a raid in Southern Sudan. For ten years he was slave to a family that called him “abeed” (black slave). In that time he states that he was neglected and abused, given an Arab name and forced to perform Islamic prayers. (Courtesy Unitarian Universalist Association/Jeanette Leardi)
terjemahan:
Francis Bok, pengarang buku dan dia berhasil melarikan diri dari perbudakan di Sudan. Di usia 7 tahun, dia ditangkap dan diperbudak dalam penyerangan yang terjadi di Sudan Selatan. Selama 10 tahun dia jadi budak di sebuah keluarga yang memanggilnya dengan julukan “abeed” (budak hitam). Di saat itu dia tidak diurus dan ditindas, diberi nama Arab dan dipaksa melakukan sholat.

There has been a recrudescence of jihad slavery since 1983 in the Sudan.
Slavery in the Sudan predates Islam, but continued under Islamic rulers and has never completely died out in Sudan. According to CBS news, slaves have been sold for $50 apiece. [1] In 2001 CNN reported the Bush administration was under pressure from Congress, including conservative Christians concerned about religious oppression and slavery, to address issues involved in the Sudanese conflict.[4] CNN has also quoted the U.S. State Department’s allegations: “The [Sudanese] government’s support of slavery and its continued military action which has resulted in numerous deaths are due in part to the victims’ religious beliefs.”

Setiap budak dijual dengan harga $50 per jiwa. Sungguh murah harga budak di pasar budak Islam modern. Ini jauh lebih murah dibandingkan yang tertulis di Hadis Muslim. Saat itu budak berharga 4.000 dinnar.

Chad
IRIN (Integrated Regional Information Networks) of the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs reports children being sold to Arab herdsmen in Chad. As part of a new identity imposed on them the herdsman “…change their name, forbid them to speak in their native dialect, ban them from conversing with people from their own ethnic group and make them adopt Islam as their religion.”
terjemahan:
IRIN yang adalah bagian dari Badan Hak Azasi Manusia PBB melaporkan anak2 dijual kepada orang2 Arab di Chad. Sebagai bagian pemberian identitas baru, majikan2 Arab “… merubah nama mereka, melarang mereka bicara dalam bahasa asli, melarang mereka bicara dengan orang2 sesama suku asal dan memaksa mereka masuk Islam.”

Mauritania:
Main article: Slavery in Mauritania
A system exists now by which Arab Muslims — the bidanes — own black slaves, the haratines.[12] An estimated 90,000 black Mauritanians remain essentially enslaved to Arab/Berber owners.[13] The ruling bidanes (the name means literally white-skinned people) are descendants of the Sanhaja Berbers and Beni Hassan Arab tribes who emigrated to northwest Africa and present-day Western Sahara and Mauritania during the Middle Ages.[14] According to some estimates, up to 600,000 black Mauritanians, or 20% of the population, are still enslaved, many of them used as bonded labour.[15] Slavery in Mauritania was finally criminalized in August 2007.[16] Malouma Messoud, a former muslim slave has explained her enslavement to a religious leader:
“We didn’t learn this history in school; we simply grew up within this social hierarchy and lived it. Slaves believe that if they do not obey their masters, they will not go to paradise. They are raised in a social and religious system that everyday reinforces this idea.”
In Mauritania, despite slave ownership having been banned by law in 1981, hereditary slavery continues. Moreover, according to Amnesty International:
“Not only has the government denied the existence of slavery and failed to respond to cases brought to its attention, it has hampered the activities of organisations which are working on the issue, including by refusing to grant them official recognition”. Imam El Hassan Ould Benyamin of Tayarat in 1997 expressed his views about earlier proclamations ending slavery in his country as follows:
“[it] is contrary to the teachings of the fundamental text of Islamic law, the Quran … [and] amounts to the expropriation from muslims of their goods; goods that were acquired legally. The state, if it is Islamic, does not have the right to seize my house, my wife or my slave.”

terjemahan:
Sistem perbudakan sekarang menunjukkan orang2 Arab Muslim (kaum bidan) memiliki budak2 negro yang disebut haratin. Diperkirakan 90.000 negro Mauritania saat ini diperbudak majikan2 Arab/Berber. Penguasa bidan (yang artinya adalah orang2 berkulit putih) adalah keturunan dari Berber Sanhaja dan suku2 Arab Beni Hassan yang datang ke Afrika barat daya dan saat ini Sahara selatan dan Mauritania di jaman Abad Pertengahan. Menurut perkiraan, sekitar 600.000 negro2 Mauritania, atau 20% dari populasi, masih diperbudak, banyak dari mereka yang dipergunakan sebagai pekerja yang bayarannya adalah bagian untuk membeli kemerdekaannya. Perbudakan di Mauritania dilarang di bulan Agustus 2007. Malouma Messoud, bekas budak Muslim menjelaskan perbudakannya berdasarkan pengertian agama Islamnya:
“Kami tidak belajar sejarah di sekolah; kami hanya dibesarkan dalam hirarki sosial ini dan hidup dengan cara itu. Budak2 percaya bahwa jika mereka tidak mentaati majikan2 mereka, maka mereka tidak akan masuk surga. Mereka dibesarkan dalam sistem sosial dan agama Islam dan setiap hari terus-menerus diingatkan akan hal ini.”

Meskipun perbudakan telah dilarang UU di tahun 1981 di Mauritania, warisan budaya perbudakan terus saja berlangsung. Menurut Amnesty International:
“Tidak hanya Pemerintah membantah adanya perbudakaan dan tidak menanggapi masalah ini, tapi mereka juga melawan organisasi2 yang memperjuangkan anti perbudakan, misalnya dengan cara tidak mengakui laporan mereka.
Imam El Hassan Ould Benyamin dari Tayarat di tahun 1997 menyatakan pendapatnya tentang pelarangan perbudakan di negaranya sebagai berikut:
“Hal ini bertentangan dengan ajaran dasar hukum Islam yakni Qur’an… dan jumlah
“[it] is contrary to the teachings of the fundamental text of Islamic law, the Quran … dan pengurangan kekayaan yang dimiliki Muslim, kekayaan yang halal untuk dimiliki. Negara Islam tidak punya hak untuk merampas rumahku, istriku, atau budakku.

Child slave trade
The trading of children has been reported in modern Nigeria and Benin.[21] The children are kidnapped or purchased for $20 – $70 each by slavers in poorer states, such as Benin and Togo, and sold into slavery in sex dens or as unpaid domestic servants for $350.00 each in wealthier oil-rich states, such as Nigeria and Gabon.
terjemahan:
Perdagangan Budak Anak2
Perdagangan budak anak2 dilaporkan terjadi di Nigeria dan Benin. Anak2 diculik atau dijual dengan harga $20 sampai $70 per orang oleh pedagang2 budak di negara2 miskin seperti Benin dan Togo. Mereka dijual sebagai budak di tempat2 pelacuran atau sebagai budak rumah tangga yang berharga $350 per orang di negara2 kaya minyak seperti Nigeria dan Gabon.

Ethiopia
Mahider Bitew, Children’s Rights and Protection expert at the Ministry of Women’s Affairs, says that some isolated studies conducted in Diredawa, Shashemene, Awassa and three other towns of the country indicate that the problem of child trafficking is very serious. According to a 2003 study about one thousand children were trafficked via Dire Dawa to countries of the Middle East. The majority of those children were girls, most of whom were forced to be sex workers after leaving the country. The International Labor Organization (ILO) has identified prostitution as the Worst Form of Child Labor.
In Ethiopia, children are trafficked into prostitution, to provide cheap or unpaid labor and to work as domestic servants or beggars. The ages of these children are usually between 10 and 18 and their trafficking is from the country to urban centers and from cities to the country. Boys are often expected to work in activities such as herding cattle in rural areas and in the weaving industry in Addis Ababa, and other major towns. Girls are expected to take responsibilities for domestic chores, childcare and looking after the sick and to work as prostitutes.

terjemahan:
Mahider Bitew, ahli Hak Azasi dan Perlindungan Anak2 dari Badan Permasalahan Wanita, mengatakan bahwa penelitian2 yang dilakukan di in Diredawa, Shashemene, Awassa dan tiga kota lain di negara itu menunjukkan masalah perdagangan anak sangatlah serius. Menurut penelitian di tahun 2003, sekitar seribu anak2 diperdagangkan melalui Dire Dawa ke negera2 Timur Tengah. Kebanyakan anak2 ini adalah anak2 perempuan, dan sebagian besar dipaksa jadi budak seks setelah meninggalkan negaranya. Badan Buruh PBB (ILO) menetapkan pelacuran sebagai bentuk perburuhan anak2 yang paling keji. Di Ethiopia, anak2 diperdagangkan dalam pelacuran, untuk jadi tenaga kerja gratisan atau bekerja sebagai pembantu atau pengemis.

Niger
In Niger, where the practice of slavery was outlawed in 2003, a study found that almost 8% of the population are still slaves. Slavery dates back for centuries in Niger and was finally criminalised in 2003, after five years of lobbying by Anti-Slavery International and Nigerian human-rights group, Timidria.
Descent-based slavery, where generations of the same family are born into bondage, is traditionally practised by at least four of Niger’s eight ethnic groups. The slave masters are mostly from the nomadic tribes — the Tuareg, Fulani, Toubou and Arabs. It is especially rife among the warlike Tuareg, in the wild deserts of north and west Niger, who roam near the borders with Mali and Algeria. In the region of Say on the right bank of the river Niger, it is estimated that three-quarters of the population around 1904-1905 was composed of slaves.
Historically, the Tuareg swelled the ranks of their slaves during war raids into other peoples’ lands. War was then the main source of supply of slaves, although many were bought at slave markets, run mostly by indigenous peoples.

Namun selama proses itu, Islam tetap membolehkan para pemilik budak untuk mendapatkan haknya dari budak mereka.

Maksudmu adalah termasuk memperkosa mereka, bukan?

Tentu saja dengan tidak boleh menzhalimi, menyiksa, menyakiti atau menganiaya.

Bagaimana mungkin jika ternyata Muhammad sendiri membunuhi sanak keluarga mereka yang pria, memperkosa mereka di hari yang sama suami2 mereka dibunuh, lalu juga memperbudak anak2 mereka, dan akhirnya membatalkan perkawinan2 mereka jika suami2 mereka masih hidup? Tidak tahukah kau akan hal ini? Apakah aku harus menunjukkan catatan sejarah dan ahadisnya padamu?

Alasannya adalah bahwa ketika para tuan memiliki budak, mereka membelinya dengan harga yang tinggi. Sehingga bila pembebasan budak dilakukan dalam sehari, akan runtuhlah sendi-sendi ekonomi masyarakat.

Dunia Islam telah melakukan perbudakan selama 1500 tahun sampai detik ini. Tidak ada gerakan Islam dari negara Muslim manapun yang menentang perbudakan selama 1.500 tahun sejak Muhammad menciptakan Islam. Selama Islam masih ada, Muslim tetap halal memperdagangkan budak.

Selain itu, sistem zakat yang diperkenalkan Islam pun punya andil dalam mengentaskan perbudakan.

Sekali lagi, semua hukum ini hanya bisa dilakukan orang2 yang punya duit. Budak2 anak dan wanita2 yang miskin yang tidak mampu membeli dirinya sendiri juga akan terus diperbudak sampai mati.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, UNTUK BUDAK, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Allah SWT-Taubah : 60)

Sudah zakat 1.500 tahun tapi sampai detik ini ternyata perbudakan tetap subur dalam dunia Islam. Mana bukti ucapanmu bahwa Islam sedikit demi sedikit menghapus perbudakan? Tidak ada kata haram bagi perbudakan dalam Islam.

Mengapa pula Muslim merasa perlu menghapus perbudakan jika Muhammad sendiri tidak pernah menghapuskannya bahkan aktif memperdagangkan budak?

Maka kalau sejarah mencatat hilangnya perbudakan dari muka bumi, ketahuilah bahwa pembebasan itu dimulai dari pusat-pusat peradaban Islam.

Coba sebutkan di mana pusat2 peradaban Islam itu? Saudi Arabia yang pusat Islam? Sampai sekarang arab2 di negara itu masih sangat aktif memperdagangkan budak sambil tidak lupa menculik wanita2 kulit putih untuk dijadikan harem atau budak seks.

INTINYA, APAPUN YANG ANDA KATAKAN TENTANG ISLAM DAN PERBUDAKAN MALCOLM X TETAP MENGIMANI ISLAM..

Itulah contoh kebodohan dan ironi terbesar di dunia kulit hitam Amerika. Coba lihat nih tulisan orang negro yang mempertanyakan perbudakan dalam Islam:
http://debate.org.uk/topics/trtracts/t12.htm
Inilah contoh orang negro yang kritis menggali Islam dan berani mempertanyakan apa yang dilakukan dan diucapkan Muhammad.
Jika Malcolm X tahu betul budak2 yang diperkosa Muhammad, budak2 negro yang disuruh berbaris di mesjid, mana mungkin dia mau masuk Islam? Islam identik dengan perbudakan, dari 1.500 tahun yang lalu sampai detik ini. Tanpa iming2 surga, budak dan jarahan perang, mana mau para jihadis membantu Muhammad merampoki para kafir? Budak, jarahan perang, iming2 mati syahid adalah kunci sukses Islam. Karena ketiga hadiah itulah maka Muslim rela mati berjuang bersama Muhammad dalam memerangi kafir.

Sama halnya kalau saya mengingatkan pada anda bahwa babi itu diharamkan dalam Alkitab, anda tetap saja akan makan BABI.

Apa nih hubungannya dengan Islam dan perbudakan?
Aku bukan pengikut ajaran Yudaisme dalam Taurat, jadi aku bebas makan apa saja. Apakah kau ini mentaati hukum Taurat Yudaisme sehingga tidak makan babi? Bukankah dalam Taurat tertulis bahwa YHWH melarang umatnya makan onta? Mengapa dong Muhammad malah doyan melahap daging onta dan malah sekaligus suka meminum air kencingnya?

Sahih Bukhari Volume 4, Buku 63, Nomer 261:
“Delapan orang dari suku ‘Ukil datang kepada sang Nabi dan mereka merasa udara Medina tidak cocok bagi mereka. Karena itu mereka berkata,”O Rasul Allah! Tolong berikan kami susu.” Rasul Allah berkata, ”Aku anjurkan kalian untuk bergabung dengan kelompok unta2.” Maka mereka pergi dan minum air kencing dan susu unta2 (sebagai obat) sampai mereka sehat dan gemuk. Lalu mereka membunuh gembala unta dan melarikan unta2 itu, dan mereka meninggalkan agamanya setelah tadinya mereka adalah Muslim. Pada saat sang Nabi diberitahu hal ini oleh orang yang minta tolong padanya, ia menyuruh beberapa orang untuk memburu para pencuri unta itu, dan sebelum matahari bertambah tinggi, pencuri2 itu dibawa kepada Nabi, dan Nabi memotong tangan2 dan kaki2 mereka. Ia meminta paku2, yang dipanaskan dan ditusukkan ke dalam mata2 para pencuri, dan mereka diterlantarkan di Harra (daerah berbatu di Medinah). Mereka minta air, dan tidak ada seorang pun yang memberi mereka air sampai mereka mati.”

PS: Sekali lagi maaf Pak Momod atas keOOT-annya, saya hanya memberikan penjelasan sama sobat saya adadeh.. :wink:

Ini debat yang sangat penting untuk membuka semua mata Muslim dan kafirun tentang Muslim dan perbudakan. Mod yth, mohon tulisan ini dipindahkan ke forum Qur’an agar tidak OOT lagi.
Mantep banget bos @adadeh. :D:D:D
nyatanya semasa kekhalifahan Islam perbudakan sudah hilang atau berkurang….yg penting kan faktanya.
kebiasaan si twister pake fakta2 penyelewengan kaidah Islamiah yg sebenarnya. …kik..kik …
sok ah malcom X izinin gue sentil mulut si crazy twister ini ….
Seperti biasa
argumen si alley dan csnya, momon, hanyalah argumen ngawur, dongengan pelipur lara karena ketahuan boroknya.
dan…. anak kecil saja bisa nulis kayak gitu.
Lihat saja si Adadeh mampu menampilkan data2 dan referensi yg akurat dan mendukung argumennya.

lanjjjuuuutttt…….

:lol: :lol: :lol:
alley , fakta apanya ?? kamu ini gimana ? aku udah tantangin allow untuk dapat laknat kok tapi mana ya? kamu ini tinggal di mana ? alamat emailmu apa >
Chad http://www.irinnews.org/report.aspx?reportid=52490

IRIN (Integrated Regional Information Networks) of the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs reports children being sold to Arab herdsmen in Chad. As part of a new identity imposed on them the herdsman “…
===
ada2 aja si adadeh…
asal pelaku kejahatan muslim, maka pasti itu adalah ajaran Islam.
lihat tuh si ayah, kristen yg ngejual anaknya.
kristen mendukung penjualan anak2?
mantab!

gaston31 wrote:Chad http://www.irinnews.org/report.aspx?reportid=52490IRIN (Integrated Regional Information Networks) of the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs reports children being sold to Arab herdsmen in Chad. As part of a new identity imposed on them the herdsman “…
===
ada2 aja si adadeh…
asal pelaku kejahatan muslim, maka pasti itu adalah ajaran Islam.
lihat tuh si ayah, kristen yg ngejual anaknya.
kristen mendukung penjualan anak2?
mantab!

sesuai ajaran ALKITAB …!!!!

    [EXODUS 21:7]

Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak

    , maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.

Lagi – lagi si montir kepala lari ke alkitab . bukannya alkitab sudah di palsukan .

KAYAKNYA SI MONTIR KEPALA PERLU DI PERBAIKI SYARAF SYARAF OTAKNYA
bagaimanapun gw setuju ama perjuangan malcolm-x tanpa melihat keyakinannya untuk menghapus diskriminasi perbudakan.

abusofyan wrote:Lagi – lagi si montir kepala lari ke alkitab . bukannya alkitab sudah di palsukan .

nah lo.. kalo percaya Al Kitab dah di palsukan… apa ada Al Kitab yg masih suci??.. kalo gak ada… berarti Nasrani tak pantas disebut agama….
karena yang namanya agama harus punya Kitab yang masih Suci….
Wah, om Adadeh laris manisss hehehehe. Setelah sukses menggebuk Julius “the chicken” rocky, tampaknya bakal ada lagi lulusan pesantren korban Adadeh.

:D
ya kita saksikan bagaimana pertarungannya. si momon dan alley pun ngak berani menghadapi adadeh. hanya menjadi cheerleader di belakang saja ,kayak ayam.
Adadeh telah berargumen dengan mantap (as always). Montir Kepala dan Alley perlu menunjukan bukti-bukti yang kuat bahwa Islam menentang perbudakan. Ayo dong berargumen yang baik, alley dan montir kan ‘orang lama’ di sini. Bagus nih untuk menambah wawasan.

Read More

3 responses to “Diskusi Tentang Sejarah Perbudakan

  1. Anonim Oktober 31, 2015 pukul 7:18 am

    Perbudakan terlahir dari zaman peradaban yahudi dan nasrasni, bangsa-bangsa yunani dan romawi, bangsa mesir, zaman yang kalian sebut kegelapan. apakah kalian menafikan ini !.
    Abraham Lincoln yang kalian katakan sebagai tokoh penghapus perbudakan internasional, benarkah ini !.
    Kami melihatnya tidak, kami melihat sesungguhnya perbudakan di dunia sampai hari ini masih terjadi.
    Adanya negara-negara produsen, negara-negara berkembang dan konsumen. Adanya negara dunia kesatu, kedua dan ketiga, G20, G7. Kita semua dikebiri membayar kewajiban, dipaksa untuk bekerja, yang kita katakan ini untuk ‘pembangunan’, ‘perkembangan’, dan ‘kemajuan’, untuk siapa indutri yang kita kerjakan ini. Sekelompok manusia yang konon hanya 2 % jumlahnya mendapatkan keuntungan yang sangat besar bahkan tak terhitung nilainya, dengan mempekerjakan sebagian besar manusia, waktu-waktu kita habis untuk bekerja, dan kita sudah merasa cukup senang dengan hanya ‘menonton’.
    Dengan mengubah istilah dan menyembuyikan fakta kebenaran sistem yang terjadi sehingga masyarakat tidak sadar, sistem perbudakan internasional.
    Silahkan lihat disini, thttps://www.youtube.com/watch?v=UG7DKmiELVI
    Tidak ada yang lebih diperbudak lagi daripada mereka yang merasa bahwa mereka bebas – Johannes Wolfgang von Gouthe 1749-1832

  2. Anonim Oktober 31, 2015 pukul 6:59 am

    Pada dasarnya, syariat Islam yang mengatur mengenai budak dan sistem perbudakan diturunkan ketika budak sudah ada, dan setiap bangsa memiliki system perbudakan masing-masing. Diantara system perbudakan yang ada pada saat itu adalah budak boleh diperjualbelikan bahkan dibunuh oleh tuannya sendiri. Ada pula system perbudakan yang membolehkan tuan memperisteri budak-budaknya dan memperlakukannya seperti binatang. Ada pula aturan yang menyatakan; jika seseorang tidak mampu membayar utang kepada seseorang, maka ia boleh dijadikan budak. Ada pula ketetapan, jika suatu negeri dikalahkan, maka penduduknya absah diperbudak seluruhnya. Berdasarkan fakta inilah, Islam datang dengan seperangkat hukum yang ditujukan untuk memecahkan persoalan perbudakan, serta menggariskan aturan-aturan tertentu (sistem) yang berhubungan dengan budak. Dan apabila kita kaji secara jernih dan mendalam, kita pasti akan berkesimpulan bahwa syariat Islam datang untuk “membebaskan budak dan melenyapkan sistem perbudakan” yang ada di seluruh dunia.
    Untuk memahami pandangan dan solusi Islam terhadap budak dan system perbudakan, ada dua hal penting yang perlu dimengerti. Pertama, sikap dan perlakuan Islam terhadap budak faktual (seseorang yang telah dijadikan budak), orang yang derajatnya turun atau tidak sebanding dengan orang-orang merdeka sehingga berhak untuk diperjualbelikan layaknya barang dagangan. Untuk sisi pertama ini, Islam telah menggariskan sejumlah aturan yang ditujukan untuk membebaskan para budak dan orang-orang yang diperlakukan seperti budak; serta menjadikan mereka sebagai orang yang merdeka. Kedua, pandangan Islam mengenai system perbudakan. Dalam hal ini, Islam telah memecahkan persoalan ini dengan cara menetapkan aturan-aturan tertentu yang pada intinya ditujukan untuk menghapuskan sistem perbudakan yang ada di seluruh dunia.
    Sikap dan Perlakuan Islam Terhadap Budak
    Sesungguhnya, Islam telah datang dengan seperangkat aturan yang ditujukan untuk membebaskan budak baik secara paksa maupun pilihan; dan meringankan budak-budak yang ada pada saat itu dengan perlakuan-perlakuan tertentu. Dalam hal ini para fuqaha’ telah merinci sejumlah hukum yang berhubungan dengan budak, diantaranya adalah:
    Pertama, Islam telah menetapkan sejumlah aturan bagi orang Islam yang memiliki budak, sehingga budak memiliki hak sebagaimana tuannya. Selain itu, Islam juga menetapkan sejumlah aturan sehingga fithrah dan sifatnya sebagai manusia (manusia bebas) bisa dijaga dan setara dengan manusia yang bebas. Misalnya, Al-Quran dan hadits memerintahkan kaum muslim untuk berbuat baik kepada budaknya. Allah swt berfirman, “Berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapa, karib kerabat, anak-anak yatim, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (TQS. an-Nisaa’: 36).
    Dalam hadits riwayat muslim dituturkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah kalian terhadap budak-budak yang kalian miliki. Sesungguhnya, mereka adalah saudaramu yang dijadikan Allah swt berada di bawah kekuasaanmu. Oleh karena itu, berilah mereka makan, seperti yang engkau makan, dan berilah mereka pakaian seperti pakaian yang engkau kenakan; janganlah memberi beban tugas yang memberatkan mereka, dan jika engkau membebani mereka dengan tugas, maka berlakulah baik (tidak memberatkan) kepada mereka.”
    Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan, “Barangsiapa membunuh budaknya, maka kami akan membunuhnya balik.”
    Nash-nash di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Islam telah memerintahkan kaum muslim untuk berbuat baik kepada budaknya, dan menyetarakan kedudukan mereka –secara fithrah dan kemanusiaan– dengan manusia merdeka. Dengan kata lain, Islam telah menyetarakan budak dan orang merdeka dalam hal darah dan kehormatan. Dalam fiqh juga dinyatakan, jika tuan “menikmati budaknya”, maka statusnya dipandang sebagaimana tatkala ia menikmati isterinya yang merdeka. Untuk itu, jika seorang budak hamil atau melahirkan anak dari tuannya, dengan segera ia harus dibebaskan secara paksa setelah kematian tuannya.
    Kedua, pada saat itu, Islam telah mendorong manusia untuk membebaskan budak-budak yang mereka miliki. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa, pembebasan budak akan membantu dirinya untuk bersyukur kepada nikmat Allah swt, dan memudahkan dirinya untuk mendaki jalan yang sukar. “Maka tidakkah sebaiknya sia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu, melepaskan budak dari perbudakan.” (TQS. al-Balad: 11-13)
    Rasulullah saw juga mendorong kaum muslim untuk membebaskan budak. “Siapa saja yang memudahkan urusan seorang muslim, maka Allah akan menghindarkan setiap anggota tubuhnya dari api neraka.“ (HR. Bukhari dan muslim)
    Ketiga, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budaknya, atau dibebaskan oleh penguasa. Jika seseorang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan waris dengan budaknya, maka ia wajib membebaskan budak tersebut, baik rela maupun tidak rela. Jika ia tidak rela, maka penguasa yang akan membebaskan budak tersebut. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memiliki budak yang memiliki hubungan kekerabatan (keluarga dan waris), maka ia adalah orang bebas.” (HR. Abu Dawud)
    Budak yang disiksa oleh tuannya dengan cara dibakar, dipotong salah satu anggota tubuhnya; atau siapa saja yang memukul atau mendera budak dengan deraan yang berlebihan, maka budak itu wajib dibebaskan. Jika tuannya tidak mau membebaskan, maka penguasa berhak memaksanya untuk membebaskan budaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Barangsiapa memukul budaknya atau menderanya, maka dendanya adalah membebaskannya.” (HR. Imam muslim)
    Islam juga telah menjadikan pembebasan budak sebagai denda (kifarah) atas dosa-dosa yang dilakukan seorang muslim. Allah telah menjadikan pembebasan budak sebagai kifarah atas pembunuhan tidak sengaja. Allah swt berfirman, “Tidaklah patut seorang mukmin membunuh mukmin yang lain, kecuali karena kesalahan (ketidaksengajaan). Siapa saja yang membunuh seorang mukmin karena kesalahan, hendaklah ia membebaskan budak atau membayar denda yang diserahkan kepada keluarganya..” (TQS. an-Nisaa’: 92)
    Pembebasan budak juga ditetapkan sebagai kifarah atas pelanggaran sumpah. Allah swt berfirman, “Maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kami berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau membebaskan seorang budak.” (TQS. al-Maidah: 89).
    Pembebasan budak juga dijadikan kifarat pada kasus dzhihar, dan juga kasus suami yang menyetubuhi isterinya di siang hari bulan Ramadlan. hukum-hukum di atas telah dikaitkan dengan pembebasan budak. Ini menunjukkan, bahwa Islam telah mendorong umatnya untuk berlaku baik, mendudukkan mereka pada tempat yang setara dengan orang merdeka, baik dalam hal harta dan darah, serta mendorong kaum muslim untuk membebaskan budak.
    Islam tidak mencukupkan diri hanya dengan menetapkan hukum-hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budak, akan tetapi Islam juga telah menetapkan hukum bagi budak untuk membebaskan dirinya sendiri, sebagaimana Islam telah menetapkan mekanisme bagi tuan untuk membebaskan budaknya. Allah swt berfirman,”Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kelebihan para mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” (TQS. an-Nuur: 33). Ayat ini berbicara tentang budak yang ingin membebaskan dirinya (mukatab).
    Keempat, di dalam baitul maal, terdapat pos khusus untuk membantu para budak membebaskan dirinya. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak , orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah swt.” (TQS at-Taubah: 60). Pos untuk pembebasan budak tidak ditentukan besar kecilnya. Seorang khalifah boleh saja memberikan prosentase di atas 50% untuk pembebasan budak. Bahkan ia boleh mengalokasikan semua perolehan zakat untuk pembebasan budak.
    Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas dapatlah disimpulkan bahwa syariat Islam diturunkan untuk membebaskan budak-budak dan menghapuskan perbudakan yang ada pada saat itu, bukan untuk melanggengkan dan mempertahankan eksistensinya.
    Islam dan sistem Perbudakan
    Adapun ditinjau dari sisi sistem perbudakan, sesungguhnya Islam telah menghapuskan sistem perbudakan secara permanen hingga hari akhir. Dengan kata lain, Islam telah mengharamkan perbudakan atas orang-orang merdeka dengan pengharaman yang pasti. Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga orang yang akan aku tuntut kelak di hari kiamat. Seorang laki-laki meminta kepadaku, kemudian ia berkhianat, dan seorang laki-laki yang menjual seorang laki-laki merdeka, kemudian ia memakan hasil penjualannya itu, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan seseorang dan tidak pernah diberi upahnya.”[HR. Bukhari] Hadits ini menunjukkan bahwa Allah swt melarang memperjualbelikan (memperbudak) orang-orang yang merdeka.
    Dalam kondisi perang, Islam juga telah mengharamkan secara mutlak memperbudak tawanan perang. Pada tahun ke 2 Hijrah, Allah swt telah menjelaskan ketentuan hukum mengenai tawanan perang, yaitu; (1) dilumpuhkan seluruhnya, (2) ditebus dengan sejumlah harta, ditukar dengan tawanan kaum muslim atau kafir dzimmiy. hukum ini telah melarang memperbudak tawanan perang. Allah swt berfirman;
    “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.“ (TQS. Muhammad (47) :4).
    Ada sebagian fukaha menyatakan bahwa Rasulullah saw telah memperbudak tawanan perang saat perang Hunain. Padahal, ayat di atas turun pada tahun ke 2 Hijriyyah jauh sebelum peristiwa perang Hunain. Untuk itu, mereka berpendapat bahwa kondisi perang, kaum muslim masih diperbolehkan memperbudak tawanan perang. Jawaban atas pernyataan ini adalah sebagai berikut. Sesungguhnya, perbuatan dan perkataan Rasulullah hanya berfungsi untuk mentaqyiid, mengkhususkan, atau mentafshilkan (merinci), kemutlakan, keumuman, dan kemujmalan (keglobalan) al-Quran, namun tidak bisa digunakan untuk menghapus al-Quran (nasakh). Ayat di atas sama sekali tidak berbentuk muthlaq sehingga layak untuk ditaqyiid. Ayat di atas lafadznya juga tidak berbentuk umum, sehingga absah untuk ditakhshish. Ayat di atas juga tidak berbentuk mujmal sehingga layak dirinci oleh sunnah. Sedangkan hadits yang menuturkan bahwa Rasulullah saw pernah memperbudak tawanan perang di Hunain, adalah hadits ahad. Khabar ahad tidak boleh menasakh (menghapus) al-Quran yang mutawatir. Oleh karena itu, jika riwayat yang menuturkan perbudakan tawanan perang di perang Hunain memang benar-benar shahih, maka ia harus ditolak matannya, karena bertentangan dengan khabar mutawatir.
    Fakta saat perang Hunain menunjukkan bahwa, para wanita dan anak-anak telah terlibat dalam perang, baik untuk memperkuat pasukan atau memberi semangat pasukan. Tatkala pasukan Hunain dikalahkan, wanita dan anak-anak itu dihukumi sebagai sabaya. Sabaya adalah kaum wanita dan anak-anak yang turut serta dan melibatkan diri dalam kancah peperangan. Menurut orang Arab, istilah sabaya hanya ditujukan untuk kaum perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam peperangan, dan tidak mencakup kaum laki-laki. Rasulullah saw membagi-bagikan mereka (sabaya) kepada kaum muslim yang turut berperang. Sebagian shahabat ada yang mengembalikan sabaya ini kepada keluarganya. Namun demikian, tatkala Rasulullah saw memerangi Khaibar, beliau tidak menawan penduduknya, baik laki-laki, wanita dan anak-anak. Beliau saw membiarkan mereka menjadi orang-orang yang bebas (merdeka). Ini menunjukkan bahwa perlakuan terhadap sabaya tergantung dari khalifah. khalifah boleh saja memperbudak mereka, atau membebaskan mereka. Namun, hukum semacam ini hanya berlaku kepada sabaya, yakni wanita dan anak-anak yang terlibat dalam perang. Sedangkan laki-laki yang turut perang dan orang-orang yang berada di dalam rumahnya dan tidak ikut berperang, tidak boleh diperbudak sama sekali. Dengan kata lain, tawanan perang (al-usriy) tidak boleh diperbudak, sedangkan sabaya (wanita-wanita dan anak-anak yang turut perang) boleh diperbudak atau dibebaskan. Hanya saja, sabaya tidak boleh ditebus dengan harta. Tindakan semacam ini pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat perang Hunain, dan Khaibar. Pada saat perang Hunain, Rasulullah saw memperbudak sabaya, lalu kemudian membebaskan mereka. Sedangkan pada saat perang Khaibar, beliau membebaskan para sabaya, dan tidak memperbudak mereka.
    Hanya saja, tindakan khalifah (imam) untuk “memperbudak” sabaya, tidak boleh diartikan bahwa sabaya itu hendak diperbudak secara langsung; atau diartikan bahwa Islam masih mentolerir dan melanggengkan perbudakan. Tetapi, tindakan semacam ini diberlakukan hanya dalam kondisi peperangan, dan berada di bawah koridor hukum darurat perang. Dengan demikian, tindakan khalifah tersebut semata-mata demi kepentingan politik perang (siyasah al-harb); dan bukan ditujukan untuk memperbudak mereka secara langsung.
    Dari seluruh keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, Islam telah memecahkan masalah perbudakan, sekaligus juga menetapkan aturan-aturan komprehensif yang bisa mencegah terjadinya perbudakan kembali. Selain itu, Islam juga memberikan kewenangan kepada khalifah untuk memperlakukan sabaya, sesuai dengan politik dan kepentingan perang. Tidak hanya itu saja, Islam juga telah menghapuskan perbudakan ketika Islam melarang melibatkan anak-anak dan wanita dalam medan peperangan, seperti yang diterapkan pada hukum perang modern. Ini semua menunjukkan bahwa Islam melarang dan menghapuskan perbudakan yang terjadi di tengah-tengah manusia untuk selama-lamanya. (Syamsuddin Ramadlan An-Nawiy – Lajnah Tsaqafiyyah Hizbut Tahrir Indonesia)

  3. Pasmawati Mei 27, 2012 pukul 8:15 pm

    Air seni dalam islam najis , bila terkena harus bersuci apa mungkin diminum?… , kalau hatimu sudah ditutup dari hidayah dijelaskanpun percuma , saya hanya penasaran agamamu apa,

Tinggalkan Pesan Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: