Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Tag Archives: Sex dalam Islam

Muhammad SAW : Mitos atau Fakta Sejarah?

MUHAMMAD: MITOS ATAU FAKTA SEJARAH?

Pendahuluan

Bahasan kita akan dimulai dari peristiwa kelahiran Muhammad, yang menurut Tradisi Islam terjadi pada saat percobaan penyerangan kota Mekkah oleh Raja Abraha dengan pasukannya yang menunggang gajah. Benarkah kejadiannya sejarahnya seperti demikian? Atau kisah kelahirannya hanya mitos dan legenda belaka ? Ini akan dibahas di bab 1.

Setelah itu kita akan beralih pada keberadaan kota Mekkah sendiri, yang menurut klaim Tradisi Islam sebagai kota perdagangan, bahkan induk peradaban dunia. Apakah Mekkah dan Kaabah memang telah ada semenjak sebelum kelahiran Islam? Apakah yang ada di balik ritual haji ? Ini akan dibahas di bab 2 & 3.

Menyoal kelahiran Muhammad, dan kota Mekkah, kita akan membahas benar tidaknya keberadaan suku Quraisy yang menurut Tradisi Islam, adalah suku yang berkuasa di Mekkah dan diserahi tanggung jawab untuk mengurusi Kaabah. Beberapa topik besar ini akan dibahas di bab 4.

Kemudian di bab 5 kita akan mencari kemungkinan penggambaran tempat yang dideskripsikan sebagai Mekkah yang sebenarnya, yang diduga bukan terletak di provinsi Hijaz di Arab pusat sekarang. Juga kita akan mencari kemungkinan dimana tempat seseorang yang nantinya akan dikenal sebagai Muhammad, Nabi dari Arab ini. Yang tentunya, menurut analisa historis yang tajam, bukan barasal dari Mekkah.

Di Bab 6 kita akan membuka tirai-tirai yang menyelimuti sosok Muhammad.

Siapakah kira-kira model-model yang dijadikan penggambaran sosok Muhammad dalam Tradisi Islam? Apakah keberadaannya bisa dibuktikan dari data
historis? Kalau tidak, sosok Muhammad hanya berupa kisah buatan belaka yang dikarang 200 tahun setelah pergerakan Arab di Jazirah Arab, demi untuk menutupi lubang besar kesejarahan keberadaannya.

Pada Bab 7 kita akan mendalami arti dan signifikansi kata Muhammad itu sendiri pada awalnya, jauh sebelum dibentuk oleh Tradisi Islam di jaman Dinasti Abassid. Menyadari betapa jarangnya kata Muhammad tertulis dalam Alquran, membuat para ulama di abad 8 berlomba-lomba mengumpulkan kisah-kisah kabar burung tentang Nabi ini. Benarkah Muhammad adalah Sang Penghibur yang dijanjikan dalam Injil Yohanes? Kita akan melihat pembahasan tersebut di bab ini.

Dan terakhir pada bab 8 kita akan menguak rahasia Prasasti di Kubah Batu, benarkah prasasti ini dibuat di jaman Abdul Malik atau jaman sesudahnya? Dan tentu saja terakhir berakhir pada kesimpulan. Semoga artikel-artikel ini dapat menjadi pemikiran-pemikiran bernas dalam khazanah berpikir anak-anak bangsa kita.


Buku ini diterjemahkan oleh Badrayana
dikutip dari : Indonesia Faithfreedom

Daftar Isi untuk bacaan (klik saja daftar bab-babnya)
Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? Pendahuluan

  1. Bab I : Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 
  2. Bab II : Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 
  3. Bab III : Muhammad – Mitos Sejarah atau Fakta Sejarah
  4. Bab IV : Muhammad – Mitos Sejarah atau Fakta Sejarah
  5. Bab V – Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 
  6. Bab VI : Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 
  7. Bab VII : Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 
  8. Bab I : Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? 

Ritual Ibadah Haji Mengungkap Siapa Allah

Ritual Ibadah Haji Mengungkap Siapa Allah – Faithfreedompedia

Penjelasan tata cara dan maksud dari ibadah haji.

Sekilas tentang Sholat

Mendirikan sholat adalah rukun Islam kedua yg harus dijalani oleh setiap Muslim. Sholat adalah cara sembahyang agama bangsa Arab yang pada waktu melakukannya yaitu ruku dan sujud harus menghadap ke Ka’bah di Mekkah. Tata cara sembahyang agama bangsa Arab ini diambil dan ditirukan dari tata ibadah agama Kristen. Tata cara sembahyang ini oleh agama Kristen telah dilakukan sejak zaman para rasul yaitu pada abad pertama tahun Masehi sampai sekarang ini. Arah kiblat dari sembahyang agama Kristen ini adalah arah ke timur dan dilakukan dalam dua versi. Versi yang pertama adalah versi nabi Daniel di mana jumlah melakukan sholat per harinya adalah tiga kali sehari. Versi yang kedua adalah versi nabi Daud di mana jumlah melakukan sholat per harinya adalah tujuh kali sehari. Pada zaman sekarang tata cara sholat ini hanya dilakukan oleh jemaat gereja Kristen Orthodox yang telah melakukannya sejak abad pertama tahun Masehi hingga sekarang ini. Dengan demikian rukun Islam yang kedua ini mengandung unsur-unsur peniruan terhadap ritual beribadah agama Kristen.

Pada mulanya kiblat sholat adalah Baitul Maqdis di Yerusalem, tetapi setelah Muhammad merasa kedudukannya makin kuat dan atas pertimbangan politis maka arah kiblat dipindahkan dari arah ke Baitul Maqdis di Yerusalem menjadi ke arah yang baru yaitu arah Masjidil Haram di Mekkah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 142 dan Hadits Shahih Bukhari no. 240:

Orang-orang yang b odoh di antara manusia akan berkata: “Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dari kiblat mereka semula (dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?) Katakanlah: Timur dan Barat kepunyaan Allah. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. (QS 2:142)

Dari surat Al-Baqarah ayat 142 itu timbul pertanyaan, “Mengapa sholat agama bangsa Arab harus menghadap ke arah Ka’bah di Mekkah?” Karena Ka’bah adalah tempat tinggal Allah, yaitu rumah Allah sebagaimana yang disebut dalam Surat Al Hajj (QS 2) ayat 26:

“Dan (ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim pada tempa Baitullah (dengan firman): Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu, dan sucikanlah rumahKu (Ka’bah) untuk orang-orang yang tinggal (itikaf) dan orang-orang yang ruku dan sujud (sholat)”. (QS 22:26)

Pada awalnya Ka’bah di Mekkah ini adalah lokasi pusat penyembahan 360 patung-patung berhala (Hadits Shahih Bukhari no. 1187). Tetapi sejak Muhammad menyiarkan agama Islam yang merubah agama bangsa Arab dari agama yang menyembah banyak Tuhan dengan 360 patung-patung berhala (politeisme) menjadi agama yang hanya menyembah satu Tuhan saja, maka seluruh patung-patung berhala disingkirkan, kecuali ditinggalkan hanya sebuah patung berhala yaitu batu hitam Hajar Aswad yang diletakkan di sudut Ka’bah.

Pada waktu penataan kembali Ka’bah (akibat banjir) dan penentuan di mana Hajar Aswad akan ditempatkan kembali, maka timbul perselisihan di antara pemuka-pemuka suku Quraisy, karena masing-masing pemuka suku merasa berhak untuk menentukan di mana tempat Hajar Aswad ditempatkan kembali. Akhirnya disepakati oleh mereka bahwa yang akan menjadi hakim dalam penempatan kembali batu hitam Hajar Aswad adalah orang yang pertama datang ke Ka’bah.

Ternyata orang yang datang pertama adalah Muhammad (waktu itu Muhammad berusia lebih kurang 35 tahun dan belum menjadi nabi) dan semua pemuka Quraisy menyetujui bahwa Muhammad-lah yang akan menentukan lokasi di mana Hajar Aswad akan diletakkan. Agar semua pemuka-pemuka suku Quraisy terlibat dalam penentuan tempat Hajar Aswad tersebut, maka Muhammad mengambil sehelai kain lalu dihamparkannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain tersebut. Kemudian Muhammad menyuruh agar setiap pemuka suku Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain tersebut ke tempat asal Hajar Aswad ditempatkan. Ketika sampai ke tempatnya, maka Muhammad meletakkan batu hitam Hajar Aswad tersebut dengan tangannya sendiri ke tempatnya. Dengan demikian selesailah persengketaan antara pemuka-pemuka Quraisy. Dan oleh peristiwa itu Muhammad diberi gelar Al-Amin, yaitu yang dipercaya.

Dengan begitu dari riwayat tersebut, Hajar Aswad inilah yang didewakan serta disembah dan diletakkan di Ka’bah sebagai tempat tinggal atau rumahnya Allah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang melakukan sholat haruslah menghadap ke arah Ka’bah di mana Hajar Aswad tersebut ada.

Upacara Ibadah Haji sebagai Ibadah Menyembah Berhala

Melakukan upacara ibadah haji telah dilakukan oleh bangsa Arab jauh sebelum Muhammad lahir. Dengan demikian upacara ibadah haji ini bukanlah merupakan ibadah agama yang baru dilaksanakan sejak agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad. Oleh sebab itu upacara ibadah haji yang sekarang ini hanya merupakan kelanjutan dari upacara ibadah haji bangsa Arab yang sejak dahulu kala dilaksanakan jauh sebelum Muhammad lahir dalam rangka bangsa Arab menyembah kelompok berhala yang berada di Ka’bah Mekkah yang berjumlah 360 patung berhala (Hadits Shahih Bukhari no. 1187).

Pada waktu itu Ka’bah di Mekkah telah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari no. 843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.

“Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh Rasulullah SAW sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang Musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” (Hadits Shahih Bukhari no. 843)

Sejak Muhammad menyiarkan agama Islam maka bangsa Arab yang melakukan upacara ibadah haji tidak boleh lagi telanjang bulat tetapi seluruh anggota badan harus ditutupi dengan kain putih (ihram) dengan catatan tidak boleh memakai baju dalam dan celana dalam dan tidak boleh bertepuk tangan.

Pakaian ihram ialah menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup.

Menurut Surat Ali Imraan ayat 97 setiap orang yang mampu harus melakukan upacara ibadah haji sebagai kewajiban penyembahan kepada Allah. Melakukan upacara ibadah haji berarti harus datang ke tempat Ka’bah di Mekkah untuk menyembah Allah secara langsung.

Padanya ada tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim dan barang siapa memasukinya, maka amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Dan barangsiapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Maha Kaya dari semesta alam. (QS 3:97)

Walaupun dikatakan dalam surat Ali Imraan ayat 97 bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang-orang yang mampu saja, yaitu orang-orang yang kaya saja dan bukan untuk orang-orang yang miskin, tetapi karena menurut Hadits Imam At-Turmudzi yang menyatakan bahwa Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan yang memberikan beratus-ratus ribu pahala, maka orang miskin pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji dengan cara menjual harta benda mereka yang terbatas itu secara habis-habisan.

Kebaikan dan pahala yang akan diperoleh jika mengunjungi Mekkah menurut Hadits Imam At-Turmudzi adalah sebagai berikut:

  1. Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan.
  2. Orang yang sekali saja sholat di Mekkah akan mendapatkan pahala yang sama seperti 100.000 sholat.
  3. Orang yang berpuasa sehari saja di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan 100.000 hari puasa.
  4. Orang yang memberi sedekah satu dirham di Mekkah akan memperoleh pahala dari Allah sebanyak 100.000 dirham sedekah.
  5. Orang yang membaca Alquran tamat satu kali (satu khatam) di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca Quran 100.000 khatam Quran.
  6. Orang yang membaca satu kali tasbih di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca 100.000 tasbih.

Hadits Imam At-Turmudzi:

“Ibnu Abbas mewariskan bahwa Rasulullah bersabda yang maksudnya: Tidak suatu negeri di permukaan bumi ini yang diangkat Allah padanya satu kebaikan dengan 100.000 kebaikan, kecuali Mekkah. Barangsiapa sholat sekali di Mekkah niscaya dikaruniai Allah pahala 100.000 sholat.
Barangsiapa bersedekah satu dirham di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 dirham sedekah.
Barangsiapa berpuasa sehari di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 hari puasa.
Barangsiapa membaca satu khatam Quran di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 khatam Quran.
Barangsiapa membaca satu kali tasbih di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 tasbih.
Satu hari beribadah di tanah haram itu lebih diharap dan lebih baik bagimu daripada berpuasa sepanjang masa dan beramal ibadah yang kamu kerjakan di tempat lain.”

Di samping Hadits Imam At-Turmudzi ini yang begitu memikat dan mendorong setiap pengikut agama bangsa Arab untuk datang ke Mekkah, terdapat pula Hadits lainnya yaitu Hadits riwayat Ibnu Majah yang mengatakan bahwa jika umat Islam berdoa sambil melihat Ka’bah, maka doa tersebut akan dikabulkan Allah.

Rasulullah SAW bersabda: Dibukakan pintu langit dan diperkenankan doa orang muslim ketika melihat Ka’bah. (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Semua hal-hal yang dinyatakan dalam hadits tersebut di atas jelas-jelas telah memberhalakan kota Mekkah dengan Ka’bahnya.

Lalu selanjutnya, sebagaimana diketahui bahwa ajaran agama bangsa Arab ialah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, sehingga ibadah apapun yang mereka laksanakan adalah dalam rangka cari pahala.

Oleh sebab itulah dalam kenyataannya orang berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji. Walaupun di dalam Alquran ditentukan bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang yang mampu saja atau hanya bagi orang-orang terbilang kaya saja, tetapi karena pahala yang dijanjikan begitu besar jumlahnya, yaitu beratus ribu dan jika tinggal di Mekkah sekurang-kurangnya satu minggu akan mendapat pahala berjuta-juta kali, maka tidak heranlah jika orang-orang miskin yang tidak mampu pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melaksanakan upacara ibadah haji ini.

Untuk mencari dana atau uang untuk biaya ibadah haji ini orang tidak segan-segan menjual seluruh harta bendanya yang jumlahnya sudah terbatas. Bahkan ada orang sampai melakukan penipuan demi memperoleh uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji tersebut. Ada sementara orang bahkan mencuri atau berkorupsi agar memperoleh uang untuk biaya upacara ibadah haji. Mereka sampai berani mencuri atau berkorupsi karena menurut Hadits Shahih Bukhari no. 647 yang menyatakan bahwa walaupun mereka mencuri dan berzinah, maka mereka tetap akan masuk surga, asalkan tidak syirik.

Abu Dzar mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Seorang datang kepadaku dari Tuhanku membawa berita: “Sesungguhnya barang siapa di antara umatku yang mati, sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, orang itu masuk surga.” Aku bertanya: Sekalipun orang itu berzinah dan mencuri? Jawab nabi: “Ya sekalipun dia berzinah dan mencuri.” (Hadits Shahih Bukhari no. 647)

Pada lazimnya upacara ibadah haji memakan waktu sekitar enam hari lamanya, yaitu mulai tanggal 8 Dzulhijjah sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah (Hadits Shahih Muslim no. 1241).

Hal yang dilakukan di dalam upacara ibadah haji adalah:

  1. Harus berpakaian ihram.
  2. Datang ke Masjidil Haram di Mekkah dan langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad berada untuk memulai thawaf qudum (selamat datang). Thawaf qudum dilaksanakan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.
  3. Melakukan Sa’i, yaitu melakukan perjalanan kaki dari bukit Marwah ke bukit Shafa yang berada dalam lingkungan Masjidil Haram sebanyak 7 kali.
  4. Kemudian pergi ke padang Arafah melakukan wukuf yaitu berada di padang Arafah mulai jam 12.00 siang sampai matahari terbenam. Selama berada dalam keadaan wukuf diwajibkan memikirkan perkara-perkara rohani dan membaca ayat-ayat Alquran. Di padang Arafah terdapat bukit Jabal Al Rahmat untuk dikunjungi.
  5. Upacara ibadah berikutnya adalah berjalan ke Musdalifa untuk tinggal sepanjang malam, kemudian paginya pergi ke Mina untuk melakukan upacara melontarkan jumrah, yaitu melontarkan batu kerikil kepada si Iblis sebanyak 7 kali. Ada 3 jumrah, yaitu: jumrah ula, jumrah wustha, jumrah aqabah. Dengan demikian upacara melontarkan batu kerikil kepada si Iblis adalah sebanyak 7×3 = 21 kali. Dalam hubungan ini pemerintah Saudi Arabia telah menyediakan sejumlah besar batu-batu kerikil untuk melontari Iblis. Batu-batu kerikil ini disediakan untuk para calon jemaah haji yang akan melakukan upacara melontari Iblis dengan batu kerikil. Batu-batu kerikil ini diletakkan di tempat-tempat yang menuju ke jumrah ula, wustha dan aqabah. Walaupun telah disediakan batu-batu kerikil secukupnya untuk melontari iblis-iblis tersebut, tetapi banyak juga dari jemaah haji yang melontarkan batu-batu dengan ukuran yang besar sehingga batu-batu tersebut sering mengenai dan melukai kepala orang-orang yang berada di muka di dekat jumrah-jumrah tersebut, terutama di jumrah aqabah. Sementara itu pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan penyembelihan hewan untuk kurban. Hewan yang dikurbankan pada umumnya adalah kambing, domba, sapi, unta. Selain dari pada itu diadakan upacara mencukur rambut atau menggunting rambut saja.
  6. Kemudian kembali ke Masjidil Haram di Mekkah untuk melakukan thawaf wada dan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwa. Thawaf wada sebagai thawaf selamat tinggal (Hadits Shahih Muslim no. 1261 dan no. 1262).

Sebelum dilakukan thawaf qudum maka pelaksana upacara ibadah haji harus membaca doa talbiyah yang berbunyi sebagai berikut:

Labbaik alaahumma labbaik
Labbaika laa Syarikalaka labaik
Innal hamda wan nimata laka walmulk
Laa Syaariika laka 3 x.

Artinya:

Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kerajaan hanya untukMu, tiada sekutu bagiMu.

Dengan demikian pada waktu pelaksana upacara ibadah haji memasuki Masjidil Haram maka ia harus langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad ditempatkan sambil membaca doa talbiyah tersebut di atas.

Kemudian setelah sampai di muka batu hitam Hajar Aswad lalu membungkuk dan menyembah sambil mencium batu hitam tersebut. Setelah mencium batu tersebut barulah ia dapat melakukan thawaf qudum (thawaf selamat datang) berjalan keliling Ka’bah sebanyak 7 kali.

Pada waktu jalan berkeliling Ka’bah sebanyak 7 kali, maka setiap kali melewati batu hitam Hajar Aswad tersebut, haruslah batu hitam itu dicium atau kalau tidak mungkin, maka disentuh atau kalau juga tidak mungkin disentuh karena banyaknya orang, haruslah mengangkat tangan ke arah batu hitam itu sambil mengucapkan Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar. Hal ini semuanya diungkapkan dalam hadits-hadits sebagai berikut:

“Dari Nafi r.a. katanya: Ketika Ibnu Umar telah dapat masuk ke tanah Haram, dia berhenti membaca talbiyah dan ia bermalam di Zu Thaa. Waktu melewati perbatasan tanah Haram berhenti membaca talbiyah. Dan setelah memasuki tanah Haram dibaca kembali.” (Hadits Shahih Bukhari no. 818)

“Dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya: Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekkah, mula-mula beliau datangi Hajar Aswad lalu beliau cium, kemudian beliau berjalan ke kanan lalu berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan kaki empat kali putaran.” (Hadits Shahih Muslim no. 1190)

“Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Tidak pernah saya tidak menyentuh kedua sudut ini, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan lapang, semenjak saya melihat nabi saw menyentuh kedua-duanya.” (Hadits Shahih Bukhari no. 835)

“Dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Nabi SAW pernah thawaf di Ka’bah dengan mengendarai unta. Setiap beliau melewati satu sudut, beliau memberi isyarat ke arah sudut itu dengan apa saja yang ada di tangan beliau sambil mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).” (Hadits Shahih Bukhari no. 838)

Dari uraian di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa batu hitam yang bernama Hajar Aswad yang terletak di salah satu sudut Ka’bah sangat didewa-dewakan dan dianggap sebagai Allah yang Maha Besar (Allahu Akbar).

Oleh sebab itulah setiap pengikut agama bangsa Arab harus sujud dan menyembahnya pada setiap kali melakukan sholat. Ka’bah di mana Hajar Aswad ditempatkan dianggap sangat suci sekali sehingga orang yang berada di sekitar Ka’bah dilarang menghadap atau membelakangi Ka’bah pada waktu buang air atau hajat besar di ruangan terbuka seperti tanah lapang atau padang pasir.

Setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat di mana pun dia berada harus menghadapkan dirinya ke arah Hajar Aswad yang ditempatkan di sudut Ka’bah atau berkiblat ke Mekkah, karena Ka’bah ada di dalam kota Mekkah dan Ka’bah itulah tempat tinggal atau rumah Allah atau tempatnya Hajar Aswad.

Jika kita perhatikan dalam Alquran Surat Al-Faatihah ayat 1, yaitu Basmalah yang menyatakan bahwa Allah ialah zat atau benda wujud (materi) yang maha suci yang disembah dengan sebenarnya, maka benda yang dimaksud adalah benda batu hitam Hajar Aswad yang oleh bangsa Arab disembah dan dipuja sejak jaman dahulu sebelum Islam disiarkan oleh Muhammad. Hanya pada waktu itu Hajar Aswad disembah dan dipuja bersama-sama dengan 359 berhala lainnya termasuk berhala-berhala perempuan Laata, Manaata dan Uzza. Pada waktu itu agama bangsa Arab sifatnya politeisme yaitu menyembah banyak Tuhan sampai jumlahnya 360 patung berhala yang didewakan sebagai Tuhan-tuhan.

Tetapi setelah agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad maka 359 patung-patung berhala disingkirkan dari Ka’bah (Hadits Shahih Bukhari no. 832) kecuali Hajar Aswad yang tetap tinggal, karena agama bangsa Arab yang baru mengajarkan hanya menyembah satu Tuhan sehingga agama bangsa Arab yang bersifat politheisme dirubah menjadi monotheisme yaitu hanya menyembah satu Tuhan yang di dalam hal ini menyembah satu berhala batu hitam yang bernama Hajar Aswad.

Mendewa-dewakan dan menyembah batu hitam Hajar Aswad yang dilakukan oleh Muhammad ternyata membuat gusar pengikut Muhammad yang setia, yaitu Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab yang telah mengimani rukun iman ketiga dari agama Islam yang percaya pada Taurat, Zabur dan Injil, mengetahui benar bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang hidup yang dapat memelihara dan melindungi.

Diapun mengetahui bahwa sebagian dari Taurat, Zabur dan Injil telah dimasukkan ke dalam Alquran antara lain di dalam Surat Ali-Imran (QS 3) ayat 150, surat Al-An Aam (QS 6) ayat 102, surat Asy-Syuura (QS 42) ayat 28, surat Al-Hasyr (QS 59) ayat 23.

Lain dari pada itu, juga Umar bin Khattab pun mengetahui bahwa Alquran adaah bagian dari Alkitab seperti disebutkan di dalam surat Az-Zukhruf (QS 43) ayat 4, dan surat Asy-Syuura (QS 26) ayat 196.

Oleh sebab itu pada prinsipnya Umar bin Khattab tidak mau sujud menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut, karena dia mengetahui benar bahwa batu hitam itu tidak lain adalah benda mati yang tidak mungkin dapat menciptakan langit dan bumi apalagi sebagai pemelihara, penjaga dan penolong.

Tetapi karena Muhammad sendiri telah memberi contoh untuk menyembah batu hitam tersebut, maka sebagai pengikut yang setia kepada Muhammad, akhirnya tidak ada jalan lain bagi Umar bin Khattab untuk juga menyembah dan mencium batu tersebut walaupun dalam hatinya tetap tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga dia bersungut-sungut pada waktu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Hal ini dapat disaksikan dalam Hadits Shahih Bukhari maupun Hadits Shahih Muslim sebagaimana dinyatakan berikut ini:

Dari Umar r.a. katanya: Bahwasanya dia datang mendekati Hajar Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya katanya: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat. Jikalau tidaklah karena saya melihat nabi saw mencium engkau, niscaya saya tidak akan menciummu pula.” (Hadits Shahih Bukhari no. 830)

Dari Salim r.a. katanya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad, kemudian Umar berkata: “Ketahuilah, demi Allah! Aku tahu engkau hanya batu. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, aku tidak akan menciummu.” (Hadits Shahih Muslim no. 1222)

Pengetahuan tentang Allah yang benar, telah dipahami oleh Umar bin Khattab yaitu Allah yang harus disembah oleh bangsa Arab adalah Allah yang disebut dalam Alkitab yang telah dituangkan ke dalam Alquran melalui Surat Ali-Imraan (QS 3) ayat 45, yaitu Isa Almasih yang terkemuka dan yang paling tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat yang lahir dari Roh Allah (Surat An-Nisaa ayat 171), yang merupakan firman Allah (Hadits Shahih Bukhari no. 1496), yang dapat menciptakan burung, di mana identik dengan penciptaan Allah akan manusia (Surat Al-Maidah ayat 110, Surat Ali-Imraan ayat 49), dan yang menghakimi setiap orang pada akhir zaman (Surat An-Nisaa ayat 159, Hadits Shahih Bukhari no. 1090, Muslim no. 127).

Oleh sebab itu pada waktu Umar bin Khattab mengucapkan doa talbiyah yaitu: “Aku penuhi panggilanMu ya Allah” sambil berjalan menuju batu hitam Hajar Aswad, kemudian setelah sampai di hadapan batu hitam tersebut, dia harus membungkuk menyembah dan mencium batu tersebut, timbullah dalam hatinya suatu pertentangan yang tidak ingin menyembah dan mencium batu tersebut sebagai tanda selamat datang sebelum melakukan thawaf qudum. Tetapi karena Muhammad telah memberi contoh sebelumnya bahwa batu hitam itu harus disembah dan dicium, maka Umar bin Khattab pun taat melaksanakannya sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad walaupun hatinya sangat menentangnya.

Oleh sebab itu beliau terpaksa mencium dan menyembah batu hitam tersebut disertai dengan bersungut-sungut dan bersumpah.

Sesungguhnya pada saat itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan syirik, karena dia telah percaya kepada Allah yang benar sesuai dengan disebutkan dalam Alkitab tetapi sekarang apa boleh buat, dia harus menunjukkan kesetiaannya kepada Muhammad dengan cara harus menyembah berhala pula.

Dia pun mengetahui bahwa Muhammad telah menurunkan Surat An-Nisaa (QS 4) ayat 117 dalam Alquran yang menyatakan bahwa penyembahan berhala adalah sama dengan menyembah setan. Oleh sebab itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dia lakukan yaitu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad dan mendewa-dewakannya sebenarnya dilarang, karena menimbulkan murka Allah.

“Yang mereka sembah selain dari Allah tidak lain hanyalah berhala perempuan dan tiadalah yang mereka sembah kecuali setan yang durhaka.” (QS 4:117)

Tentunya bukan Umar bin Khattab saja yang sadar akan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad adalah tidak sesuai dengan ketentuan Taurat dan Injil yang sudah diterapkan dalam Alquran.

Pada umumnya bangsa Arab yang beragama Yahudi dan yang beragama Kristen yang pada waktu itu sudah ada dan hidup di Mekkah dan Madinah, juga tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad karena mereka tahu bahwa hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam Taurat agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Tetapi anehnya, orang-orang yang tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut oleh Muhammad justru dinyatakan sebagai orang Musyrik dan orang kafir.

Menurut Muhammad, orang-orang Musyrik ini harus dimusuhi dan diperangi sebagaimana yang tertera dalam Alquran sebagai berikut:

“Apabila habis bulan-bulan Haram, maka perangilah orang-orang Musyrik itu di mana kamu jumpai, dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap tempat pengintaian mereka. Jika mereka taubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka pada jalannya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS 9:5)

Memang Muhammad telah berhasil mengubah agama bangsa Arab dari agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan menjadi agama monotheisme yang menyembah hanya satu Tuhan saja. Muhammad pun telah berhasil memasukkan sebagian dari Taurat dan Injil ke dalam Alquran, bahkan Taurat dan Injil dianggap sebagai dasar dari Alquran. Tetapi Muhammad tidak berhasil merubah tradisi bangsa Arab yang sejak beribu-ribu tahun yang lalu menyembah berhala sampai zaman sekarang. Muhammad hanya berhasil mengurangi jumlah berhala yang disembah dari 360 buah berhala menjadi penyembahan kepada satu berhala saja.

Mengapa hal ini sampai terjadi demikian, padahal pada mulanya Muhammad memasukkan unsur-unsur Taurat dan Injil agar dapat menyembah Tuhan yang benar sesuai dengan apa yang ditulis dalam Taurat dan Injil? Hal ini terjadi karena sejak bayi, Muhammad telah diserahkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib kepada batu hitam Hajar Aswad di kaki Ka’bah. Mungkin batu hitam Hajar Aswad ini mempunyai daya tarik yang luar biasa besarnya, sehingga walaupun pada mulanya secara resmi Muhammad bertekad menyembah Tuhan yang digambarkan Taurat dan Injil, tetapi akhirnya dalam kenyataannya hanya menyembah batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pengikut agama bangsa Arab selain Umar bin Khattab, menyadari tentang kekeliruan ini, oleh sebab itu kekeliruan ini mereka tutupi dengan cara bahwa setiap orang yang bukan pengikut agama bangsa Arab dilarang datang ke Ka’bah Mekkah, agar praktek penyembahan berhala ini tidak terlihat keluar dengan harapan kekeliruan ini tidak akan diketahui oleh umum.

Larangan ini khususnya ditujukan kepada pengikut-pengikut agama Yahudi dan agama Kristen, karena merekalah yang mengetahui Tuhan yang sebenarnya yang digambarkan dalam Taurat serta Injil dan yang telah diterapkan ke dalam Alquran.

Bangsa Arab yang pada waktu itu telah memeluk agama Yahudi dan yang memeluk agama Kristen pun tidak mau mengikuti ajaran baru dari Muhammad untuk menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad itu.

Oleh sebab itulah Muhammad mengeluarkan ketentuan bagi pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen bahwa mereka termasuk orang-orang Musyrik yang tidak boleh masuk ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berada di dalamnya.

Larangan ini tertuang dalam Alquran sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (QS 9:2)

Segala usaha telah dilakukan agar pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen tidak bisa memasuki tempat-tempat di mana upacara ibadah haji dilakukan, yaitu Mekkah dan sekitarnya agar praktek penyembahan berhala di Ka’bah tidak diketahui oleh orang luar.

Bahkan jika kita berkendaraan mobil menuju ke kota Mekkah, maka sebelum kita memasuki kota tersebut, akan kita lihat adanya tanda penunjuk jalan yang besar di persimpangan jalan yang membagi jalan menjadi dua jurusan yaitu satu arah untuk orang-orang Muslim yang dapat langsung memasuki kota Mekkah dan satu arah lagi bagi orang-orang yang bukan Muslim yang tidak diperkenankan masuk ke kota Mekkah dan harus kembali lagi atau pergi ke arah lain.

Larangan kepada orang-orang yang bukan Muslim ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Arab atau bangsa lainnya yang beragama Yahudi atau yang beragama Kristen. Dengan demikian penganut agama Yahudi maupun penganut agama Kristen yang tentunya mempunyai pemikiran yang sama dengan pemikiran Umar bin Khattab sebagaimana yang disebut dalam Hadits Shahih Bukhari no. 830 dan Hadits Shahih Muslim no. 1222 tidak akan bisa melihat apa yang terjadi dalam upacara ibadah haji ini, sehingga orang luar tidak akan melihat adanya pertentangan antara ajaran Taurat dan Injil yang menyembah Allah yang benar di satu pihak, dan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad di lain pihak, yang kedua-duanya tercakup dalam agama bangsa Arab tersebut.

Kesimpulan

Seandainya Muhammad pada waktu merubah agama bangsa Arab dari agama politheisme menjadi agama monotheisme dengan cara menyingkirkan seluruh patung berhala yang berada di Ka’bah yang jumlah 360 buah itu tanpa meninggalkan satu patung berhala pun, maka kekeliruan penyembahan kepada Allah pasti tidak akan terjadi.

Kalau memang demikian halnya maka bangsa Arab pasti akan menyembah Allah yang benar sebagaimana yang digambarkan dalam Taurat dan Injil yang dituangkan ke dalam Alquran.

Tetapi untuk rukun Islam yang kedua dan keempat, yaitu sholat menghadap berhala Hajar Aswad dan upacara ibadah haji ke Mekkah sama sekali tidak ada unsur Taurat dan Injil di dalamnya.

Agama bangsa Arab ini adalah satu-satunya agama di dunia yang walaupun bersifat monotheisme dan mengkaitkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen ke dalam Alquran, tetapi tetap menyembah batu hitam di Ka’bah yang bernama Hajar Aswad. Sedangkan agama Hindu dan agama Budha adalah agama yang murni menyembah dewa-dewa dalam bentuk berhala-berhala tanpa melibatkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Dalam teorinya, agama bangsa Arab ini menyembah Allah yang benar sesuai Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen yang telah dituangkan ke dalam Alquran, tetapi dalam prakteknya, karena adanya rukun Islam yang kedua dan kelima, maka ternyata yang disembah dan dicium adalah batu hitam Hajar Aswad yang berada di sudut Ka’bah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat, di manapun mereka berada, harus sujud menyembah ke arah Ka’bah tersebut.

Seyogianya, kekeliruan ini janganlah ditutup-tutupi, karena dengan ditutupnya atau disembunyikannya kekeliruan menyembah Allah tersebut, berarti ikut membantu pengikut agama bangsa Arab ini berjalan ke arah yang keliru. Memang di dalam Alquran surat Al-Araaf (QS 7) ayat 186 dikatakan bahwa “barangsiapa disesatkan Allah maka tidak ada baginya orang yang memberi petunjuk, dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya”. Karena kita hidup di negara yang berasaskan Pancasila, maka jika diketahui ada orang berjalan ke arah yang keliru tanpa disadarinya dan sama sekali di luar pengetahuannya, maka wajib menasehati dan menuntun orang itu agar berjalan ke arah yang benar.

Pada kenyataannya, sebagian besar pengikut agama bangsa Arab tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja bukanlah Allah yang digambarkan sebagaimana yang tertulis dalam Taurat dan Injil, melainkan pada hakikatnya yang mereka sembah adalah Batu Hitam Hajar Aswad.

Penyembahan pada batu Hajar Aswad baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu pergi ke Ka’bah di Mekkah di mana harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pada saat mencium bahu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.

Bagi pengikut agama bangsa Arab yang belum melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu melakukan upacara ibadah haji mungkin tidak akan mengetahui tentang praktek perbuatan syirik tersebut.

Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Faithfreedompedia.zip

Buku Islam : Aisyah di gauli ketika berumur 9 tahun

LIHAT JUGA : buku-islam-aisyah-digauli-umur-9-tahun-t9483/

AISYAH AISHA ISTRI NABI ISLAMI AKHLAK PEDHOPILIA ANAK KECIL AISYA POLIGAMI NABI SAW

Judul : Mengapa Nabi SAW berpoligami
Diterjemahkan dari JUDUL asli : women in the eyes and heart of muhamad
Karya : Dr.Ali Syariati
Terbitan school Publication ,Teheran
Penerbit di Indonesia : PENERBIT MISBAH
Email : Pantera@cbn.net.id

Image

Buku ini TANPA MALU-MALU mengakui AISYAH itu UMURNYA 7 TAHUN waktu di nikahi oleh MUHAMAD.

Dari mana Penulis itu mendapatkan umur 7 tahun? Tentu dari hadits seperti berikut ini :

Sahih Muslim Book 008, Number 3311
‘A’isha (Allah berkenan padanya) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) menikahi dia ketika dia berusia tujuh tahun, dan dia dibawa ke rumah Nabi sebagai pengantin ketika berusia sembilan tahun, dan boneka2nya ikut bersamanya; dan dia (sang Nabi) mati ketika ‘A’isha berusia delapan belas tahun.

Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4916 and Number 4917
Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:
Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

[Anda mau setuju atau tidak setuju,itu bukan urusan saya.Yang JELAS Hadits2 yang kami kutip tentang UMUR aisyah 6 dan 7 tahun itu BENAR adanya,BUKAN HADITS PALSU atau hadits yang DITAMBAH2in,terbukti dengan adanya pihak MUSLIM yang menyebut umur aisyah 7 tahun waktu dinikahin NABI.dan penulis juga mempercayai umur 7 tahun pada waktu dulu belumlah dewasa,tetapi masih anak2,ini sekaligus juga untuk membantah muslimers yang berargumen ‘jaman dulu itu walau umur 7 tahun,tapi sdh dewasa loh ‘. Seperti biasa, Kalau keberatan, Proteslah ke email tsb )

Baik, langsung saja saya kutipkan cerita dari buku tsb dari Halaman 78

Di sisi lain, Aisyah, anak perempuan Abu Bakar, adalah gadis pertama yang lahir dalam keadaan Islam. Kualitas inilah yang membuatnya mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding-kan selainnya, dan telah memotivasi para sahabat dan teman-teman seperjuangan Rasulullah untuk menjadikannya sebagai istri Rasulullah. Hanya kelembutan hati nurani (dan bukan akal ataupun logika) yang mampu memahami keluruhan usulan itu. Manakala bunga pertama mekar di taman, manakala buah pertama matang di kebun, maka semua itu merupakan hasil usaha keras si tukang kebun. Hati manusia akan menyadari bahwa bunga atau buah pertama itu murni milik si tukang kebun dan kekayaan yang hanya layak dimiliknya.

Abu Bakar adalah figur manusia yang penuh kelembutan, kesetiaan dan kecintaan yang meluap kepada Rasulullah. Dia sangat mengharapkan Rasulullah untuk mengawini anak perempuan-nya itu. Tetapi, waktu itu Aisyah baru berusia 7 tahun, sedangkan Muhammad saw telah berusia di atas 50 tahun. Di rumah beliau ada Fatimah yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Di luar rumahnya musuh-musuh berkeliaran, seperti Abu Jahal, sementara kehidupan beliau masih terkungkung dengan kepahitan, kekerasan dan penderitaan. Yang paling beliau butuhkan pada situasi semacam itu adalah pasangan jiwa (soulmate) untuk berbagi suka dan duka. Dan beliau merasa bahwa putri Abu Bakar yang baru berusia 7 tahun itu kurang cocok untuk situasi yang demikian.

Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, Muhammad saw pada akhirnya meminangnya (dan baru dua tahun kemudian mereka hidup bersama). Maka, anak perempuan pertama yang lahir dalam keadaan memeluk Islam dan merupakan barisan pertama generasi Islam itu menjadi istri Rasulullah. Dengan perkawinan tersebut, Muhammad dan Abu Bakar telah menjalin ikatan kekerabatan. Sosiologi Baduwi dan kesukuan mengakui bahwa ikatan kekerabatan pada zaman dan situasi waktu itu merupakan bentuk ikatan yang paling kuat untuk menyatukan dua manusia.

Aisyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang masih gadis ketika dinikahi, dan satu-satunya yang kecantikan dan kefemininannya menarik hati Nabi Muhammad. note : Kecantikan opo? wong masih ingusan..kekekeke

Meski demikian, kecantikannya itu bukan merupakan alasan utama kebersamaan mereka, karena bagaimana mung-kin kecantikan seorang gadis kecil berusia 7 tahun mampu membangkitkan perasaan sese-orang yang telah berusia 50 tahun.

Perkawinan mereka lebih merupakan per-paduan simbolis yang dikaitkan dengan kela-yakan yang bisa diterima akal. Tidak tepat menganggap hasrat dan cinta sebagai alasan perkawinan itu. Baru dua tahun kemudian ketika berada di Madinah mereka memulai hidup ber-sama.
Kita mesti menyadari bahwa cinta Muhammad saw terhadap Aisyah tepat seperti apa yang diungkapkan oleh penulis kontemporer Mesir, Muhammad Husayn Haykal: “…Berkembang setelah perkawinannya dan bukan sebelumnya. Sulit dipercaya Muhamad jatuh cinta pada gadis kecil berusia 7 tahun. Jadi tak bisa dinyatakan bahwa perkawinan itu hanya karena cinta semata.”

Dengan kata lain, perkawinannya dengan perempuan yang paling muda dan paling cantik di antara istri-istri Muhammad adalah demi kepentingan sosial dan politis semata …

SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM JILID 2
Penulis: Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri,
Penerjemah: Fadhli Bahri, Lc.;
Cetakan V, Darul Falah Jakarta, 2006
704 him; 15,5×24 cm.
Judul Asli: As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam
Penerbit: Darul Fikr, Beirut 1415 H/l994 M
ISBN 979-3036-17-6

Image

632 —Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam-Il

Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa SaJ/am menikahi Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq di Makkah ketika Aisyah berumur tujuh tahun dan menggaulinya di Madinah ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am tidak menikahi wanita gadis selain Aisyah binti Abu Bakar. Beliau dinikahkan dengan Aisyah oleh Abu Bakar dengan mahar empat ratus dirham.

saudah binti zam’ah Radhiyallahu Anha

Shallallahu Alaihi wa Sal/am menikah dengan Saudah binti Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luai dan orang yang menikahkan beliau dengannya ialah Salith bin Amr dengan mahar empat ratus dirham. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menikah­kan beliau dengannya ialah Abu Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl.”
Ibnu Hisyam berkata, “Ibnu Ishaq kontradiksi dalam hadits ini, padahal ia pemah menyebutkan bahwa Salith bin Amr dan Abu Hathib bin Amr berada di daerah Habasyah ketika pernikahan tersebut terjadi.”
Ibnu Ishaq berkata, “Sebelum diperistri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am, Saudah binti Zam’ah diperistri As-Sakran bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl.
zainab binti Jahsy Radhiyallahu Anha
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah dengan Zainab binti Jahys dan orang yang menikahkan beliau dengannya ialah saudara Zainab binti Jahsy, Abu Ahmad bin Jahsy, dengan mahar empat ratus dirham. Sebelum itu, Zainab binti Jahsy diperistri Zaid bin Haritsah, mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tentang Zainab binti Jahsy, Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat berikut,
http://www.faithfreedom.org/forum/viewt … sc&start=0

3. Muhamad mengaku melihat Aisya kecil dlm mimpi (basah)nya.

Volume 9, Book 87, Number 140:
Diriwayahkan ‘Aisha:
Rasulullah mengatakan kpd saya, “Kau ditunjukkan dua kali kpd saya (dlm mimpi (basah)) sebelum saya menikahimu. Saya melihat malaikat menggendongmu dalam kain sutera, dan saya mengatakan padanya,
‘Tunjukkan,’ dan lihatlah, ternyata kau (yg digendong malaikat). Saya mengatakan (kpd diri sendiri), ‘Ini dari Allah, maka terjadilah.’

Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 151
Dinyatakan ‘Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku.
(Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

sumber :
Image

Judul Asli:
‘Atsyah Qudwatun Nisaa’ul Mu’minin wa Habiibatu Rasuulu Rabbul ‘Aalamiin
Penulis:
Khalld Abu Shaleh >| Edisi Indonesia:

UMMUL MU’MININ ‘
Penerjemah: Wafi’ Zaanuddin Lc,
Editor; Team At-Tibyan
Desain Sampul: Team At-Tibyan Layoiil Team At-Tibyar;
Penerbil
At-Tibyan – Sola Jl. KyaJ Mojo 5B, Solo, 57117
telp./Fax (0271| 652540
email: pustaka@at-tibyan.com

http://www.at-tibyan.com

Pernikahan dengan nabi

halaman : 13
Rasulullah menikahi Aisyah saat dia berusia 6 atau 7 tahun. Beliau mengumpuli , nya saat usianya 9 tahun. Dan Rsulullah wafat saat ‘Aisyah berusia I5 tahun. (HR. Riwayat Muslim).

Image

“Aisyah berkata. ” Rasulullah menikahiku saat aku berumur 6 (enam)tahun dan mengumpuliku saat aku berusia 9(sembilan) tahun.”Dia berkata.” Kami dan datang ke Madinah,dan kau sakit panas.1. selama satu bulan,kemudian rambutku telah tumbuh kembali hingga kedua telingaku..Ummu Ruman mendatangiku di saat aku berada di ayunan bersama teman-temanku. Dia berteriak memanggilku, aku pun datang, tak tahu apa yangt diinginkan dariku. Maka dia menghentikanku di depan pintu. maka aku berkata, ” hah hah, hingga nafaskn habis.” Kemudian dia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang ternyata, di dalamnya banyak kaitm wanita dari anshar. Mereka berkata, “Semoga senantsasa dalam kebaikan penuh barakah dan dikaruniai nasib yang baik.” Maka aku diserahkan kepada mereka, kemudian mereka memandikan kcpalaku dan menghiasiku, tidak pernah aku dikejutkan atas kedatangan seseorang dengan tiba-tiba kecuali saat kedatsngan Rasulullah diwaktu dhuha, kemudian mereka menyerahkanku kepada-nya.” (Mutafaqun ‘alaihi).

[tambahan saya]
Hadits diatas tersebur KOMPATIBLE dgn hadits :
Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 64
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun, dan dia terus bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3310:
‘A’isha (Allah berkenan padanya) melaporkan: Rasulullah (saw) menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan aku diterima di rumahnya pada waktu aku berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 88
Dikisahkan oleh ‘Ursa:
Sang Nabi menulis (kontrak kawin) dengan ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun dan menyetubuhinya ketiak dia berusia sembilan tahun dan dia tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Bukhari 5.234
Dikisahkan oleh Aisha:
Sang Nabi bertunangan denganku ketika aku masih seorang gadis kecil berusia enam (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Lalu aku sakit dan rambutku rontok. Tak lama kemudian rambutku tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang padaku ketika aku bermain ayunan bersama beberapa dari kawan perempuanku. Ibu memanggilku, aku pergi menghadapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ibu memegang tanganku dan membawaku berdiri di depan pintu rumah. Aku tak bisa bernafas, dan ketika aku bisa bernafas lagi, dia (Ibu) mengambil air dan membilas wajah dan kepalaku. Lalu dia membawaku masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kulihat wanita2 Ansari yang berkata, “Salam sejahtera dan Berkat Allah dan semoga selamat.” Lalu dia (Ibu) menyerahkanku kepada mereka dan mereka mempersiapkanku (untuk perkawinan). Secara tak terduga, Rasul Allah datang padaku di pagi hari dan ibuku menyerahkanku kepadanya, dan pada saat itu aku adalah seorang gadis berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 90
Dinyatakan Aisha:
Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG LEBIH MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.
[end of tambahan]

Read More

Zakaria Boutros: Kebiasaan Sex Menyimpang sang Nabi

by pod-rock» Sat Apr 25, 2009 6:22 am

Tayangan Life TV : Father Zakaria Botros mengenai:

Kebiasaan Seks Menyimpang sang Nabi

http://www.jihadwatch.org/

Baru-baru ini Father Zakaria Botros menyiarkan sebuah tayangan TV yang didedikasikan utk mendiskusikan moralitas dan bagaimana seharusnya hal itu menjadi salah satu pilar penunjang dari “KENABIAN”.

Awalnya, dia mengajukan pertanyaan : “Apakah Muhammad sang nabi adalah manusia bermoral – manusia paling lurus, pantas utk ditiru oleh seluruh dunia?”

Dia membuka tayangan TV ini dengan mengutip Ibn Taymiyaa, yang menyebutkan pertanda dari kenabian. Taymiyya mengungkapkan bahwa banyak terdapat nabi-nabi palsu, seperti Musailima “si pembohong”, yang sejaman dengan Muhammad. Taymiyya menyebutkan pula bahwa mereka yang mengaku nabi2 itu, pada kenyataannya, ‘kerasukan’ belaka, dan satu-satunya cara utk menentukan keaslian nabi adalah dengan memeriksa/meneliti biografinya (sira-nya) dan perbuatan2 baiknya, dan amatilah apakah orang itu pantas menyandang gelar nabi atau tidak.

Karena ini adalah satu dari beberapa episode yang ditujukan utk menelaah konsep moral dan kenabian (dengan pemikiran bahwa yg pertama (moral) memperkuat yang kedua (kenabian)), tema utk episode ini adalah ‘kesucian’ (tahara): “Apakah Muhammad adalah manusia ‘suci’?” – dalam konteks ini, sebuah pertanyaan mengenai kebiasaan2 seksualnya mencuat.

Setelah pendahuluan tsb, Botros menatap kamera tajam2 dan memberikan peringatan:

“Episode ini untuk orang dewasa! Saya akan mendiskusikan banyak hal yang akan membuat saya sendiri malu, jadi, please! Wanita dan anak2 dipersilahkan keluar.”

Lalu dia meminta para muslim yg menonton utk terus bertanya dalam hati “Inikah nabi yang kuikuti?” ketika pada mereka ditampilkan kebiasaan2 seksual muhammad.

Pertama, dari Quran, Botros membaca ayat2 yang tak pelak lagi menyatakan bahwa Muhammad adalah “Suri Tauladan yang sempurna dalam hal kebaikan dan moral. “[68.4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Lalu dia mengutip dari para Ulama, seperti Ibn Kathir, yang berkeras bahwa Muhammad adalah “termulia diantara para manusia dan terbesar diantara para nabi.”

Botros dan seorang presenter TV – Father Botros berkeras meminta presenter tsb seorang pria, khusus utk acara ini saja, dia takut lebih malu lagi menceritakan kebiasaan2 seks yg menyimpang dari Muhammad jika sang presenter itu adalah wanita – lalu mendiskusikan ayat Quran 4.3, yang ‘membatasi’ jumlah istri muslim hingga Empat Orang, plus ‘apa yang tangan kananmu miliki,’ yaitu para budak wanita.

Tapi ternyata itu saja tidak cukup bagi Muhammad, tegas Botros; seluruh isi ayat itu ‘harus diturunkan’ hanya utk membenarkan dan/atau mengesahkan lebih banyak lagi wanita untuknya (Quran 33.50 Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Malah, Father Botros telah dengan cermat menyusun seluruh wanita – semuanya ada 66 orang – yang tercatat pernah punya hubungan seks dengan Muhammad.

Botros bilang itu adalah normal; menurut Sirat al-Halabi, Muhammad bisa mendapatkan wanita manapun juga, bahkan jika si wanita itu tidak mau sekalipun; dan jika Muhammad kepingin wanita istri orang lain, sang suami harus menceraikannya. Menurut Ibn Sa’ad, yang menulis biografi resmi lain tentang Muhammad, “Sang Nabi tidak akan mati hingga semua wanita membolehkan dia” (lihat Kitab Al-Tabaqat Al-Kubra, v.8, hal 194).

Sang Presenter TV, dg tiba-tiba, menginterupsi – “Bagaimana dengan gosip tentang Muhammad memperlihatkan kecenderungan homoseksual?”

Botros menjatuhkan wajahnya ketangan dan bergumam, “So, kau masih berkeras ingin kita membicarakan itu?” sang Presenter memaksa sambil berkata bahwa ini demi kebaikan para muslim sendiri yang patut mengetahui segalanya.

Dg demikian Botros, setelah berkali-kali meminta maaf pada para pemirsa muslimnya, sambil mengatakan betapa hal ini sangat memalukan baginya berkata: “Look! Kami cuma pembaca doang disini, membacakan apa yang kami dapat sendiri dari buku-buku islam! Jika para muslim tidak suka, mereka harus membakar buku2 islam itu langsung, jangan membakar orang yang membacanya.”

Anekdot pertama yang dibicarakan sang Father berputar sekitar sebuah hadis yang, oleh sementara Ulama disebut ‘lemah’, tapi meski demikian, menurut Botros telah muncul dalam 44 buah buku2 islam dunia – termasuk beberapa koleksi yang sangat dihormati seperti Hadis Sunan Bayhaqi dan Al-Halabi.

Menurut Hadis ini, seseorang bernama Zahir, yang selalu mengatakan pada setiap orang bahwa “sang nabi mencintaiku,” berkata bahwa satu hari Muhammad mengendap-endap dibelakangnya dan memeluk dia dengan ketat. Zahir, yang kaget, berteriak sambil meronta utk melepaskan diri, “Lepaskan aku!” setelah berpaling dia melihat bahwa yang memeluknya adalah Muhammad, dia berhenti meronta dan langsung “menyandarkan punggungnya pada dada Muhammad – doa2 dan berkah untuknya.”

Hadis ‘nyeleneh’ lainnya ada dalam Sunan Bayhaqi dan bisa dilacak hingga ke Hadis Sunan Abu Dawud (satu dari enam koleksi Hadis tersahih), yang menyatakan bahwa Muhammad mengangkat baju depannya bagi seorang pria yang mana pria itu langsung menciumi seluruh tubuhnya, “dari pusar hingga ke ketiak.”

Botros menatap kamera dengan muka yang ‘aneh’ sambil berkata, “bayangkan jika Sheikh Al Azhar (Persamaan paling dekat bagi para muslim untuk Sang Pausnya kaum Katolik) berkeliling mengangkat-angkat bajunya agar para pria bisa menciumi tubuh itu” (sang Father Botros lalu membuat bunyi-bunyian seperti ciuman, utk menambah efek perkataannya).

Sang Presenter berkata: “Pastinya masih ada yang lain lagi?”

Botros: “Tentu saja ada. Tidak kurang dari 20 buku Islam – seperti hadisnya Ahmad Bin Hanbal – menyatakan bahwa Muhammad suka mengisap lidah2 anak lelaki dan anak perempuan”…

Bersambung ke bagian II….

Bagian II

Botros lalu membacakan keras2 hadis2 tsb dari beberapa sumber, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira (orang yang dianggap paling diandalkan sebagai periwayat hadis), dimana Muhammad mengisap lidah dua anak Ali (calon Kalifah masa depan), Hasan dan Hussein.

Lalu dia membacakan sebuah hadis dimana Muhammad mengisap lidah anak perempuannya sendiri, Fatima. Father Botros juga menambahkan bahwa kata Arab utk ‘mengisap” (muss) tidak bisa, seperti yang disebutkan oleh para pembela islam, berarti lain selain dari ‘mengisap.’ Lagipula, tambahnya, “ini adalah kata yang persis dipakai ketika membicarakan ‘kegiatan’ Muhammad bersama istri-istrinya, khususnya dengan ‘istri bocah’ kesayangannya, Aisha.”

Dengan tampang yang sepertinya jijik, Botros berpaling pada kamera dan berkata: “Wahai para wanita, bayangkan sejenak, anda pulang kerumah lalu mendapatkan suamimu mengisap lidah anak perempuanmu? Apa yang akan kau lakukan? Lebih gila lagi: Nabimu sendiri – orang yang katanya “PALING BERMORAL SEDUNIA”, orang yang katanya, harus diikuti suri tauladannya oleh dunia! Orang yang ada tercatat dalam hadis, mengisapi lidah istri-istrinya, anak perempuannya, dan anak2 lelaki: Apakah kegiatan2 orang ini dijelaskan oleh Quran sebagai puncak dari KESEMPURNAAN MORAL?”

Presenter: “Lanjutkan!”

“Muhammad tidak akan tidur sebelum dia mencium anak perempuannya Fatima dan menggesekkan kepalanya pada dada sang anak (Father memberikan sumber2 sahihnya). Dear Lady! Kalian mau berkata apa jika suamimu tidur dengan muka didada anak perempuanmu? Apakah ini moral tinggi?!”

Lalu Father Botros, menunduk, dan meminta maaf berkali-kali, katanya: dia bisa membayangkan bagaimana semua ini pasti menyusahkan orang2 muslim, yang mana lalu sang presenter menenangkan dia: “bukan salahmu Father, tapi lebih dari kesalahan para muslim yang mencatat semua kejadian2 ini. Tapi bagaimanapun para muslim harus mengetahui ini. Silahkan lanjutkan.”

Botros melanjutkan membaca hadis2 selanjutnya, termasuk satu dari Musnad Ahmad bin Hanbal, yang mencatat bahwa Muhammad melihat anak perempuan berumur 2-3 tahun digendong ibunya. Muhammad begitu ‘tertarik’ oleh anak itu hingga berkata, “Demi Allah, jika anak ini mencapai umur cukup utk dinikahi dan aku masih hidup, aku pasti akan menikahi dia.”

Hadis lain mengatakan bahwa Muhammad ternyata telah meninggal sebelum anak perempuan yang disebutkan hadis diatas cukup umur, sang Father pada saat ini tak tahan utk tidak berkata (sambil bertampang sedih), “Awwwwww! Nabi yang malang! Lolos deh satu tuh!”

Botros lalu mengatakan pada pemirsa utk mengingat hadis terakhir itu, karena utk ‘konteksnya’ kemudian nanti, seraya dia membaca hadis lain dari Sunan Bin Said, yang mencatat bahwa Muhammad berkata “Kupeluk sianu dan sianu ketika dia (perempuan) masih anak-anak dan kurasakan aku sangat terangsang oleh anak itu.”
“Nabi apa yg kalian ikuti ini?!” Teriak pendeta Koptik ini. “Mana moralitasnya? Inikah manusia yang jadi tauladan muslim dg mati-matian? Pake otak!”

Hari sudah malam, tapi Fr. Botros belum selesai mengkatalogiskan temuan2nya mengenai kebiasaan menyimpang sang nabi (tayangan TV ini selama 1,5 jam).

Dia membaca sebuah hadis yang menyatakan bahwa Muhammad berbaring disebelah perempuan yang meninggal dikuburannya, juga menunjuk sebuah hadis yang menyatakan tentang “seks dengan mayat wanita,”, dll.

Saya matikan TV dan mulai membuat catatan yang lebih lengkap dari coretan2 saya ketika menonton tadi utk menyiapkan laporan ini

Bersambung ke bagian III

Bagian III

Pada episode ini, dia mulai dengan kecenderungan ‘banci’ sang nabi. Dia membaca dari beberapa hadis, termasuk Sahih Bukhari – Father Botros klaim bahwa ada tidak kurang dari 32 referensi berbeda mengenai fenomena ‘kebanci-bancian’ ini dalam buku2 islam – dimana Muhammad sering tidur diranjang memakai pakaian wanita, khususnya pakaian sang istri bocah, Aisha.

Father Botros: “mungkin para muslim pikir bahwa dia hanya memakai pakaian Aisha saja? Karena bocah perempuan itu ‘favorit’nya, mungkin setelah berhubungan intim dengannya, dia Cuma berbaring memakai pakaiannya?” (disini sang father menutupi mukanya dengan tangan, menandakan bahwa dia terpaksa menceritakan hal memalukan ini).

Lalu dia memberikan sebuah hadis yang menarik, dari Sahih Bukhari (2/911), yang mencatat bahwa Muhammad berkata, “Wahyu (Quran) tidak pernah datang padaku jika aku memakai pakaian wanita – kecuali pakaiannya Aisha.” Ini menandakan kebiasaan sang Nabi utk memakai pakaian wanita.

Father Botros lalu melanjutkan pada beberapa komentar dalam Tafsir al-Qurtubi – sebuah tafsir resmi dalam islam. Dia baca sebuah kisah dimana Aisha mengatakan bahwa, satu hari, ketika Muhammad telanjang di ranjang, Zaid mengetuk; Muhammad, tanpa memakai baju, membuka pindu dan ‘memeluk serta menciumnya’ – sambil telanjang. Ditempat lain lagi, Qurtubi menyimpulkan bahwa, ‘sang nabi pbuh – terus menerus disibukkan dengan wanita-wanita.

Father Botros berkata pada para muslim: “Jadi inikah nabi kalian – yg bermoral paling tinggi? Bukannya disibukkan dengan, misal doa atau perbuatan baik, dia malah disibukkan dengan wanita2?”

Lalu dia membaca dari Faid al-Qabir (3/371), dimana Muhammad tercatat berkata, “Kesukaanku terbesar adalah wanita dan parfum: rasa lapar terpuaskan dari makan dan minum – tapi bukan dari wanita.” Setelah membaca hadis ini, Father Botros Cuma menatap kamera tanpa berkata apa-apa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lalu dia membaca sebuah riwayat yg menarik (ada dalam Umdat al-Qari dan Faid al-Qabir). Diriwayatkan, Allah mengirim Jibril dengan semacam makanan surga (disebut al-kofid) pada Muhammad, lalu memerintahkan Muhammad utk “Makan!” – mirip ketika jibril mendatangi Muhammad dengan menyuruh “Baca!” (iqra, kata dari Quran). Riwayat ini terus mengutip perkataan Muhammad yang berkata bahwa makanan yg diberikan padanya “memberikan potensi seksual sama dengan 40 lelaki surga.” Father Botros lalu membaca dari sunan al-Tirmidhi, dimana dikatakan bahwa ‘lelaki surga’ itu punya potensi seks 100 lelaki dunia.

Sang Father bertanya-tanya: “Jadi, pake hitungan matematika, 40×100, kita bisa memastikan bahwa Muhammad, setiap memakan makanan perangsang ala surganya, punya kekuatan seks 4000 lelaki? Reaaaalllyy, O Ummat, inikah pengakuan nabi terkenal kalian – bahwa dia adalah seorang seks maniak?” Lalu, dengan becanda, “bayangkan kekagetan orang bule, bahwa Muhammadlah yang pertama-tama menemukan VIAGRA!”

Zakaria Botros melanjutkan membaca dari sumber2 lain lagi, seperti Sunan al-Nisa’I, dimana Muhammad dalam satu malam suka ‘mengunjungi’ semua wanita2nya, tanpa membasuh diri. Sang Father bertanya: “Ngapain lagi mencatat hal2 yang menjijikan dan memalukan seperti ini?”

Mungkin yg paling menarik, Father Botros menganalisa sebuah riwayat yg dicatat dalam karya Ibn Kathir, al-Bidaya we al-Nihaya. Berikut adalah terjemahan dari riwayat yg panjang tsb:

Setelah menaklukan yahudi Khaybar dan menjarah harta mereka, diantaranya ada sebuah keledai yang menjadi harta jarahan jatah sang nabi, sang nabi lalu bertanya pada sang keledai: “Siapa namamu?”

Sang Keledai menjawab, “Yazid Ibn Shihab. Allah telah membuatku dari 60 keturunan keledai, keledai2 yang hanya dikendarai oleh nabi2 saja. Tak satupun yang tersisa dari keturunan2 itu kecuali aku, dan tak seorangpun nabi tersisa kecuali anda dan aku harapkan anda mengendaraiku. Sebelum anda, aku adalah milik orang yahudi, yang kujatuhkan sebegitu seringnya hingga dia suka menendang perut dan memukul punggungku.”

Sampai disini, sang Father yang menahan ketawanya menambahkan, “seekor keledai ahli taqiya!” dia melanjutkan membaca, “Sang Nabi –mpbuh – berkata padanya, ‘Aku akan memanggilmu Ya’foor. O Ya’foor!’ Ya’foor menjawab, ‘Aku patuh.’ Sang Nabi bertanya, ‘Apa kau birahi pada betina?” Sang Keledai menjawab, ‘No!”

Sang Father berkata: “Bahkan keledai sekalipun merasa malu ditanya tentang seks oleh sang Nabi kelebihan seks ini! Disini ‘harusnya’ adalah sebuah mukjijat – keledai yg bisa bicara; dan dari semua benda yang berkomunikasi dengan binatang ini, pertanyaan yang paling penting yg ditanyakan nabimu adalah apakah sang keledai birahi pada betina?”

Berikut, membaca dari Sahih Bukhari (5/2012), Father Botros menceritakan sebuah riwayat dimana Muhammad mendatangi rumah seorang wanita muda bernama Umaima Bint Nua’m dan memerintahkan wanita itu utk “berikan tubuhmu padaku!” sang wanita menjawab, “mungkinkah seorang ratu memberikan dirinya pada rakyat jelata?” sambil mengangkat tangannya, Muhammad mengancam dia, dan mengirim dia pada orang tuanya.

Zakaria Botros: “You see, teman2, bahkan zaman dulu seklipun, yg katanya jaman kegelapan, masih ada orang yg berpinsip, yang tidak menyerah pada ancaman dan paksaan. Tapi, pertanyaan yg sebenarnya adalah, kenapa Muhammad menentang perintah dari Qurannya sendiri – “perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi” (33.50) – mencoba memaksa wanita muda ini?”

Terakhir, dengan tampang jijik, sang Father membaca dari sebuah hadis al-Siyuti (6.395), dimana Muhammad menyatakan bahwa, “Di surga, Maria ibunya Yesus, akan menjadi salah satu istriku.”

“Please, O Nabi,” kata sang Pendeta Koptik Ortodoks, “jangan bawa-bawa orang2 suci kami kedalam praktek2 menjijikanmu…”

Bersambung …

Tunggu sambungannya……bagaimana Muhammad memuaskan dirinya, ketika para wanitanya sedang berhalangan….


by pod-rock » Tue Apr 28, 2009 6:38 am

Bagian IV

Sekali lagi, pada awal acara, Father Botros membaca hadis terkenal Ibn Taymiyya mengenai bagaimana caranya membedakan nabi sejati dan palsu. Taymiyya menyatakan bahwa banyak nabi palsu, seperti Musailima “si Pembohong,” bahwa banyak dari mereka yang mengaku nabi, tapi sebenarnya hanya ‘kerasukan’, dan bahwa satu-satunya cara utk menentukan keaslian nabi adalah dengan mempelajari biografinya (sira) dan perbuatan2 baiknya, dan cermatilah apakah dia pantas utk diberi gelar nabi.

Setelah membaca riwayat yg panjang ini, Father Botros nyeletuk “Bagus,Ibn Taymiyya! Setidaknya kau tahu itu.”

Para pemirsa seperti biasa diberi peringatan : “Episode ini untuk orang dewasa! Saya akan mendiskusikan banyak hal yang akan membuat saya sendiri malu, jadi, please! Wanita dan anak2 dipersilahkan keluar.”

Lalu dia meminta para muslim yg menonton utk terus bertanya dalam hati “Inikah nabi yang kuikuti? Camkan ini dalam benakmu, O para Muslim!”

Father Botros meratap, betapa selama 1400 tahun penghalang2 telah dibentuk utk melindungi Muhammad sehingga tak seorangpun – baik muslim maupun kafir – bisa mengkritik kehidupannya: “Tapi waktunya telah tiba, teman; penghalang itu telah hancur!”

Berikut dia membacakan tiga episode mengenai kebiasaan seks menyimpang Muhammad – termasuk mengisap lidah2 anak lelaki dan perempuan, menciumi dada anaknya Fatima, ‘birahi’ pada bocah perempuan umur 2-3 tahun, berbaring bersama dengan mayat wanita, kecenderungan homoseksual, menerima wahyu2 ketika memakai pakaian wanita, seks dengan sembilan orang wanita tanpa mencuci anunya (dan malah berbangga diri karenanya), menyalami orang lain sambil telanjang, dan mengaku melakukan seks dengan Maria ibunya Yesus di surga. (utk yang terakhir ini, sang pendeta dengan wajah jijik berkata “Come on, Guy! Get Real!.”)

Dia memulai episode ini dengan mengatakan bahwa tidak kurang dari 34 buku islam, termasuk Tafsir al-Qurtubi dan Sahih Muslim mencatat bahwa Muhammad suka ‘meraba-raba” – Wajah sang Father menampakkan wajah marah – “mencium” dan “melakukan seks” ketika berpuasa (dibulan puasa), meski dia melarang orang lain melakukan hal yg sama.”

Kata sang presenter: “menarik. Tapi kita tahu bahwa sang Nabi punya dispensasi khusus: Punya yang lebih jelas lagi ngga?”

Father Botros: “Fine. Gimana kalu ini: Sang nabi suka mengunjungi (berseks ria) dengan wanita2nya ketika mereka menstruasi – so sorri utk topik menjijikan ini! Maaf! Maaf! Dan sekali lagi maaf para pemirsa!”

Lalu dia menunjukkan masalah utama dalam hal ini adalah bahwa dalam Quran (2:222) – “Dari mulut muhammad sendiri,” dia – melarang muslim mendekati wanita mens.

([2.222] Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.)

Lalu dia mengutip dari sejumlah Hadis yang memastikan bahwa Muhammad bebas berseks ria dengan wanita yg mens, termasuk dari Sahih Bukhari (v5, hal 350), yang berkata bahwa Jika Muhammad mengingini (birahi) pada wanita mens, dia menaruh kain disekeliling wanita itu dan melakukan seks dengannya, disini sang Father berteriak:

“Come on man!!! Apa ngga bisa lu cari seorang dari 66 orang wanita itu? Apa mesti pake yang lagi mens????”

Lalu, dengan tampang serius ke kamera: “Tapi serius nih, para pemirsa: malukah anda dengan semua hal ini? Saya sih malu – membacakannya saja. Dan ini adalah ‘NABIMU” – orang yang harus menjadi SURI TAULADAN!”

Lalu dia membaca dari sebuah hadis, diriwayatkan oleh Aisha, dan ditempatkan pada enam buku hadis utama, dimana sang istri bocah ini menceritakan bagaimana, ketika dia mens, jika sang nabi ‘menginginkan dia,’ sang nabi suka ‘memerintahkan’ dia utk seks dengannya.

Disini sang Father berkata – “MEMERINTAHKAN! INI PERKOSAAN NAMANYA! Manusia seperti apa yang kalian ikuti ini?”

Dia baca dari sejumlah hadis lain, semuanya menunjukkan kecenderungan seks Muhammad terhadap wanita yang sedang mens – yang oleh Quran dilarang – dan sang Father menambahkan, “Teman2, jika ini caranya ‘NABI TUHAN” bertingkah laku, lalu bagaimana kira-kira tingkah laku manusia biasa??”

Sang presenter bertanya: “Well, bisa ngga manusia biasa lain bertingkah seperti ini?”

Father Botros: “Pasti, sang nabi selalu bermurah hati pada para pengikutnya, selalu memberi mereka jalan keluar. Menurut delapan buku Hadis, Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Muhammad berkata jika seorang lelaki tidak tahan lagi dan berseks dengan istrinya yg mens, cukup membayar SATU DINAR sebagai tanda pertobatan; jika dia melakukan seks dengan istrinya ketika istrinya berada diakhir masa mensnya, ketika darahnya tidak begitu banyak lagi, dia cukup membayar SETENGAH DINAR, dapat DISKON!! Dia mengatakan diskon dalam bahasa inggris, dan lalu sang Father tertawa.

Sang presenter: “karena Muhammad punya banyak wanita, kenapa dia pingin seks dengan yang sedang mens?”

Father Botros: “Ahhhh. Anda pintar sekali meraba situasi. Alasannya sederhana, teman, yaitu bahwa Muhammad suka baunya, dia suka mencium baunya” – disini dia lalu menggerak-gerakkan hidung dan berbunyi seperti orang mencium bau – ‘bau darah menstruasi’.” Lalu dia mengutip dari al-Siyuti, dimana Aisha meriwayatkan bahwa Muhammad berkata padanya “Kesinilah,” yg dijawabnya, “Tapi aku lagi mens, O Rasulallah!.” Sang Rasul Berkata “Buka pahamu”; dia melakukannya dan “dia lalu menempelkan pipi dan dadanya dipahaku.”

Father Botros: “Help me People! Gimana bisa tingkah laku menyimpang seperti ini muncul dari seorang nabi – yang menjadi SURI TAULADAN?”

Dia membaca sebuah Hadis Sahih Bukhari (v.6, hal 2744), diriwayatkan oleh Aisha dimana aisha berkata bahwa, ketika mens, sang nabi biasa menempelkan kepalanya dipaha dia dan melantunkan Quran.

Fr. Botros: “SAMBIL MEMBACA QURAN!!!!”

Lalu dia baca dari Ahkam al-Koran (V.3, hal 444) dimana seorang wanita menyatakan bahwa dia biasa mengambil air dari sebuah sumur yang bukan saja tercemar darah menstruasi, tapi juga daging anjing mati dan segala macam kotoran2, dan diberikan pada Muhammad utk diminumnya.

Fr. Botros: “Lalu untuk apa ayat Q2.222?! Kalau “Nabi penutup” saja bisa meminum air najis seperti itu?”

Lalu, sambil menundukkan kepalanya dg mata agak terpejam dia berkata: “O Muhammad, Muhammad, Muhammad…..”

Bersambung ke bagian V, Pengkhianatan seks Muhammad atas istri-istrinya…… dan omongan2 joroknya


by pod-rock » Mon May 04, 2009 6:30 am

Bagian V

Ini adalah kelanjutan dari penelaahan Father Zakaria Botros tentang Moralitas Seksual Muhammad.

Link sumber aslinya:
Part I
Part II
Part III
Part IV

Terakhir sang pendeta Koptik tengah mendiskusikan kegemaran Sang Nabi dengan wanita yg sedang mens – meski Quran sendiri (sang Father menyebutnya “Perkataan Muhammad sendiri”) melarang lelaki mendekati wanita mens.

Father ZB sekarang mendiskusikan ketidak-setiaan Muhammad terhadap istri-istrinya (Padahal dengan menyebut istri2 bukannya satu istri saja sudah pertanda akan ketidak setiaan sang nabi ini), kelakuannya yang mengeksploitasi seks, dan kesukaannya berbicara jorok.

Pertama-tama, FZB menghabiskan cukup banyak waktu utk menceritakan kisah yang terkenal, dimana sang Nabi mengkhianati istrinya Hafsa untuk seorang Budak Wanita (Sayangnya saya tidak bisa mengungkapkan bagaimana ‘ramai’nya FZB dan bagaimana dengan gaya ‘ramai’ pula sang Father ini menceritakan kisah tsb).

Pendeknya, setelah mengirim Hafsa utk mengunjungi ayahnya, Hafsa ditengah jalan sadar bahwa malam itu adalah ‘malam gilirannya’ – Waktu dia segera kembali (FZB menambahkan “Hafsa kenal baik Muhammad; jika dia tidak hadir dirumah saat malam gilirannya, sang Nabi akan gila birahi dan mungkin akan menerkam wanita pertama yang lewat depan rumahnya!”).

Terbukti, Hafsa memergoki Muhammad sedang diranjang dengan budak wanitanya. Muhammad ‘cabut’ dan mengusir budak wanita itu dan bilang pada Hafsa bahwa jika Hafsa tidak bilang siapa-siapa, dia tidak akan lagi menyentuh budak wanita itu.

Sial: Hafsa nyanyi dan segera semua istri2 Muhammad demo akan keliaran birahi sang nabi; seperti kata FZB, “Ketika kondisi menjadi sangat kritis, Muhammad segera memutuskan utk ‘menurunkan’ wahyu baru pada mereka; jadi dia mengeluarkan surah Al-Tahrim (66.1-11) pada mereka, dimana katanya Allah menghukum Muhammad karena mencoba menyenangkan istri2nya dengan berjanji tidak akan serong lagi, dan Allah mengancam istri2 sang Nabi agar menurut kalau tidak sang nabi akan menceraikan mereka – tentunya, untuk ini mereka semua akan masuk neraka.”

([66.1] Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[66.2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[66.3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
[66.4] Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
[66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
[66.6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[66.7] Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.
[66.8] Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
[66.9] Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
[66.10] Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.
[66.11] Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”)

Lalu, FZB menatap kamera dan bertanya, “bayangkan, wahai kaum perempuan, jika suamimu menipu kamu agar keluar rumah dan ketika kamu kembali sebelum waktunya menemukan suamimu menindih wanita lain? Lelaki bagaimana suami seperti itu dimatamu? Ini lebih parah lagi – SEORANG NABI, yang kalian semua anggap MANUSIA PALING SEMPURNA, SURI TAULADAN SEPENUHNYA!!

Lalu dia menunjukkan bahwa “Bocah Aisha yg pintar kenal baik Muhammad”: ketika ‘wahyu2’ demikian turun menyelamatkan Muhammad, Aisha yg pintar sering mengamati dan berkata bahwa “Sungguh, Allahmu cepat sekali memenuhi kehendak dan birahimu” (al-Siyuti v6, hal 629)

Berikut, sang Father menceritakan sebuah kisah yg menggambarkan bagaimana sang Nabi mengeksplotasi secara seksual seorang ‘wanita idiot/retard’. Menurut 23 sumber buku islam (salah satunya Sahih Muslim vol.4, hal 1812) seorang wanita yg lemah pikiran menemui Muhammad dan berkata, “O Rasulallah! Aku punya sesuatu utkmu.” Sang Nabi secara sembunyi2 bertemu wanita itu dibelakang dan mengambil ‘sesuatu’ itu darinya.

Father Botros berkata: “Saya takut akan banyak muslim melakukan Sunnah Nabi berikut ini – JANGAN, ini hanya utk menggambarkan saja… Dengarkan kalian para muslim: jangan membenci saya karena saya mengungkapkan semua ini padamu; jangan menunggu disatu tempat utk membunuh saya. Saya Cuma membacakan buku2 islam kalian. Dan, seperti biasanya, kami dengan sabar menunggu para Sheikh dan Ulama2 besar utk menjawab isu2 ini dan menunjukkan pada kami apa yang salah.”

Lalu, FZB menceritakan bagaimana Muhammad suka bicara kotor – “SURI TAULADAN DALAM BICARA JOROK” – “Sorry, SO SORRY karena mengungkapkan pada anda sekalian bagaimana bahasa yang dipakai Muhammad itu – bahasa yang saya sendiri tidak berani mengucapkannya. Malah, nabi kalian mengatakan kata arab yg jorok – yg setara dengan ‘f-word’ (f#ck)” [Disini dia menyebutkan f-word, dan menganjurkan para pemirsa arabnya utk meng-google ‘f-word’ utk mengerti apa yang dia maksudkan.

FZB menolak mengucapkan atau mengeja kata2 jorok berikut, (dia meminta editor TV utk menampilkan dibawah layar dengan sensor huruf2 tertentu. Kata2 yang muncul dalam 67 buah buku Islam, termasuk Sahih Bukhari, riwayat yang berisi kata “inkatha’ – atau dalam konteksnya, Muhammad bertanya pada seorang pria mengenai seorang wanita, apakah dia sudah ‘f****** her” – (tulisan f****** her muncul dilayar)

Lalu FZB berteriak! “Cepat! Hapus tulisan itu! Utk kalian para muslim, apa yang akan kalian lakukan jika seorang Ulama Al-Azhar kemana-mana berkata memakai kata jorok tsb? Ini lebih parah lagi – NABIMU SENDIRI, CIPTAAN PALING SEMPURNA.”

Sang presenter bertanya apakah Muhammad mengatakan kata jorok lainnya, sang FZB langsung menjawab, “Oh boy, did he ever; sayangnya program ini terlalu pendek utk menyebutkan semuanya.”

Menurut Qaid al-Qadir (v.1, hal.381), Muhammad memerintahkan para muslim utk membalas pada kafir2 yg sombong dengan perkataan yang – lagi-lagi FZB tidak mengucapkannya, tapi muncul tulisan pada layar – “Go bite on your mother’s clitoris!” atau menurut Zad al-Mi’ad (v.3 hal 305), “Go bite on your dad’s penis!

Lalu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya FZB berkata penuh kecewa “O rasulallah …. Rasulallah… kalau saja kau mendengar perkataan Yesus : “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45)


by Adadeh » Tue May 05, 2009 4:29 am

Kata2 kotor yang diucapkan Muhammad dan para Sahabatnya:

Abu Bakar adalah sahabat terkarib Muhammad; dia nantinya jadi Kalifah pertama Islam. Kejadian berikut terjadi ketika Muhammad bersama 10.000 tentaranya berkumpul di luar Mekah dan siap menaklukan kota itu. Urwa Ibn Masoud yang adalah salahsatu ketua suku Quraish (suku asal Muhammad), pergi menghadap Muhammad di luar Mekah untuk membujuknya agar tidak menyerang kota dan suku asalnya sendiri. Urwa berbicara untuk mengingatkan Muhammad bahwa Muhammad sendiri merupakan bagian masyarakat Quraish, sedangkan para pengikutnya (Muslim) sendiri kadang2 meninggalkannya. Abu Bakr mendengar hal ini dan tidak suka. Dia berkata pada Uwa, “Kami meninggalkan dia? Pergi dan hisap klitoris Al-Lat” (dewi bangsa Quraish).
[Sumber: The Sira Alnabawya by Ibn Hisham, Almaghazi by AlWakidi]

Uthman Ibn Affan, Kalifah ketiga, suatu kali berkata pada Ammar Ibn Yasser, “Kaulah orang yang suka menggigit penis ayah sendiri”
[Sumber: Ansab Al-Ashraf by Al Balathri, Attabakat Alkubra by Ibn S’ad]

Ibn Masoud mendengar orang mencari sesuatu di dalam mesjid, dia meneriaki orang itu dengan kata2 kotor, orang lain menegur Ibn Masoud yang mengucapkan kata2 kotor itu, dan Ibn Masoud menjawab:
“Kami diperintah (oleh Muhammad) untuk melakukan itu!”
[Sumber: Reported by Al Albani from Sahih Ibn Khuzayma]

Seorang pria bernama Ajrad Al Tamimi bertengkar dengan Ubayy Ibn Ka’ab, Ajrad berkata (dengan pongah) ‘Wahai suku Tamim’, Ubayy menjawabnya semoga Allah menggigit penis ayahmu. Orang2 berkata pada Ubayy, ‘kami tidak tahu kau begitu kasar’ dia berkata ‘sang nabi sendiri yang menyuruh kami berkata seperti itu, tiada kata lain, pada orang2 yang berkelakuan seperti orang2 Jahiliyah.”
[Dilaporkan oleh Ibn Asaker in History of Damascus]

Sahih Al-Bukhari, number 6324( in the Arabic book)
When Ma’ez came to the prophet pbuh, he (the prophet) asked him ‘ perhaps you kissed or touched or looked at her.’ He (Ma’ez) said ‘no, messenger of Allah’. He (the prophet) said ‘ aniktaha?‘ (Did you f*** her) and used no other word, he (Ma’ez) said yes, he (the prophet) said ‘until that from you disappeared inside that from her?’ He (Ma’ez) said yes, and then he ordered him to be stoned (to death).
terjemahan:
Saat Maex datang menghadap sang Nabi, dia (sang Nabi) bertanya padanya, ‘Mungkin kau mencium atau menyentuh atau memandangnya.’ Ma’ez menjawab, ‘Tidak, Rasul Allâh.’ Dia (sang Nabi) bertanya, ‘aniktaha?’ (أنكتها → apakah kau n g e n t o t dengannya?) dan tidak menggunakan kata lain. Dia (Ma’ez) menjawab, ‘Iya.’ Dia (sang Nabi) berkata, ‘Sampai alatmu hilang masuk ke dalam alat wanita itu?’ Dia (Ma’ez) menjawab, ‘Ya.’ Lalu sang Nabi memerintahkan agar Ma’ez dirajam sampai mati.

Suka ngomong jorox, suka membaui aroma darah datang bulan sambil baca Qur’an, suka minum air comberan, suka pake baju istri agar menerima wahyu illahi, suka menjilati ketek Muslim, suka tidur sama mayat, suka ngeseks sama istri yang lagi datang bulan, dll. Hmmm… komplet dah kexintingan sang Nabi Islam. Pantesan umatnya pun seringkali kehilangan akal sehat dalam membela kexintingan Muhammad dan Islam.


by Adadeh » Sat May 16, 2009 9:37 am

pod-rock wrote:Lalu dia baca dari Ahkam al-Koran (V.3, hal 444) dimana seorang wanita menyatakan bahwa dia biasa mengambil air dari sebuah sumur yang bukan saja tercemar darah menstruasi, tapi juga daging anjing mati dan segala macam kotoran2, dan diberikan pada Muhammad utk diminumnya.

Fr. Botros: “Lalu untuk apa ayat Q2.222?! Kalau “Nabi penutup” saja bisa meminum air najis seperti itu?”

Ini benar tercantum dalam hadis sahih:
Sunaan Abu Dawud, Buku 1, Nomer 0067:
Dikisahkan oleh Abu Sa’id al-Khudri:
Aku mendengar bahwa orang2 bertanya pada Rasul Allah (semoga damai menyertainya): Air yang dibawa padamu berasal dari sumur Buda’ah. Itu adalah sumur di mana bangkai2 anjing, baju2 bekas datang bulan, dan tinja manusia dibuang. Sang Rasul Allah (semoga damai menyertainya) menjawab: Sudah jelas air ini murni dan tidak cemar oleh apapun.

Juga yang ini tak kalah joroknya:
Sahih Bukhari, Volume 1, Buku 5, Nomer 260:
Dikisahkan oleh Maimuna:
Sang Nabi melakukan mandi Janaba (setelah berhubungan seks atau mimpi basah). Pertama-tama dia membersihkan kemaluannya dengan tangannya, dan lalu menggosokkan tangan itu ke tembok dan mencucinya. Lalu dia melakukan wudhu dengan cara yang sama untuk sholat, dan setelah mandi dia lalu membersihkan kakinya.

Spermanya dileletin gitu aja ke tembok!! Hiiiyyy…. ajegile…

Ini contoh2 lain ahadis tentang kesehatan Islam:
* Jika kau tutupi kaki2mu dengan debu demi Allah, maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka … (Sahih Bukhari, 2.13.30)
* Jika kau mimpi buruk, maka ludahilah kakimu dan berlindunglah pada Allah
* Dua orang memakai tusuk gigi yang sama … (Sahih Bukhari, 9.87.133)
* Jika kau menyentuh bangkai, tak perlu kau cuci tanganmu … (Sunaan Abu Dawud, 1.0186)
* Kau boleh memakai air tercemar untuk wudhu … (Sunaan Abu Dawud, 1.0066)

Keringat Muhammad adalah Parfum

Ash Shifa (hal. 35) menyatakan bahwa para wanita mengumpulkan keringat Muhammad karena keringatnya seharum parfum. Ash Shifa melanjutkan:
Sang Rasul Allah tidur di atas permadani di rumah Anas dan dia berkeringat. Ibu Anas membawa botol berleher panjang untuk menampung keringatnya. Rasul Allah menanyakan padanya tentang hal ini, dan dia menjawab, “Kami masukkan keringat itu ke dalam parfum kami dan itu jadi parfum yang terharum.”
Hahaha… minyak wangi campur keringat nabi. Gak sekalian campur pipis dan pupnya sekalian tuh? Tanggung nih.

Contoh2 Kelakuan RASIS Muslim

by  ali5196 » Mon Sep 24, 2007 2:02 am
 

Image
http://jihadwatch.org/

“Hamas Al-Aqsa TV: Rice ‘ULAR HITAM,'”:
Tgl 18 Sept 2007, TV Hamas, Al-Aqsa, mencap Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice sbg “ular hitam.”

Kata2 itu dlm lingkaran kuning diatas.
Laporan AMNESTI INTERNASIONAL : wanita2 Arab berkomplot dlm pemerkosaan masal
The Guardian – Jul 20, 2004
http://www.guardian.co.uk/sudan/story/0 … 01,00.html

Penyanyi2 wanita Arab berkomplot dlm pemerkosaan, demikian laporan Amnesty Internasional. Saat wanita Afrika di Darfur sedang DIPERKOSA ramai2 oleh militia Janjawid, wanita2 Arab berdiri didekat mereka dan bernyanyi dgn girang. Lagu2 Hakama, atau “wanita Janjawid”, spt dijuluki para pengungsi, mendorong kekejaman yg dilakukan para milisia. Para wanita membangkitkan dan memanas2i kebencian rasial terhdp penduduk sipil berkulit hitam yg desa2nya diserang dan MERAYAKAN penghinaan musuh2 mereka, demikian AI.

“[Mereka -para Hakama] nampak sbg para komunikator selama serangan2 tsb. Mereka tidak aktif dlm menyerang penduduk desa, namun ikut serta dlm aksi penjarahan.”

Amnesty International mengumpulkan sejumlah kesaksian yg membuktikan kehadian para Hakama saat wanita2 Afrika diperkosa secara keji oleh Janjawid. Laporan itu mengatakan: “Hakama nampak secara langsung mengganggu wanita2 [yg sedang] diserang, dan menyerang mereka secara lisan.”

Pada sebuah serangan terhdp desa Disa bln Juni 2003, wanita2 Arab menemani para penyerang dan menyanyikan lagu2 pujian memuji pemerintah dan memaki2 penduduk desa berkulit hitam. Menurut seorang kepala suku Afrika, ini lagu para penyanyi :

“Darah orang hitam mengalir spt air,
kami mengambil barang mereka dan kami mengusir mereka dari daerah kami dan ternak kami akan berada di tanah mereka.
Kekuatan[Presiden Sudan Omer Hassan] al-Bashir adalah milik Arab dan kami akan membunuh kamu, wahai orang hitam, kami membunuh tuhan kalian.”

Sang kepala suku mengatakan, para wanita Arab melontarkan hinaan rasial terhdp wanita2 desa:

“Kalian gorilla, kalian hitam, dan busana kalian jelek sekali.”

Kaum milisia “sangat bahagia saat mereka memperkosa. Mereka bernyanyi saat memperkosa dan mengatakan bahwa kami cuma budak dan mereka bisa melakukan apapun yg mereka mau”, kata salah seorang korban dari 100 wanita dlm kesaksian Amnesti yg kini mengungsi kenegara tetangga Chad.

Pollyanna Truscott, koordinator krisis darfur utk Amnesty International mengatakan, pemerkosaan itu adalah bagian dari sistim dehumanisasi wanita. “Hal itu dilakukan utk menanamkan rasa takut, utk memaksa mereka utk meninggalkan komunitas mereka. Itu juga menghina para lelaki dlm komunitas mereka.”

Image
Wanita2 Darfur, setelah menikmati ‘kedamaian’ Islam

Read More

Diskusi tentang Pedofilia

Miss X wrote:
Melihat tulisan2 anda, saya bisa menilai bahwa anda cukup bisa berpikir jernih dan sopan dlm diskusi, tdk seperti kafir2 yg lain. Berdiskusi via PM ini adalah ide yg sgt bagus krn saat kita “show up”, semua argument masing2 berkemungkinan bercampur dgn ego. Saya salah satu jenis muslim yg kritis tp saya hanya dalam kapasitas INGIN MENGETAHUI krn saya tetap meyakini bhwa Allah Tak Pernah Salah. Saya ingin kita memandang masalah kontroversi pernikahan Aisha ini dari berbagai sudut, tdk terpaku pada Qurdis.

Inti yg dipermasalahkan oleh kafir ffi adalah :

“Pantaskah seorang yg menjadi panutan menggauli seorang anak kecil?”

Bisakah anda menjelaskan apakah “anak kecil” dalam konteks ini mengacu pada umur atau kesuburan?

Salam kenal pop eye

Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.

Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Miss X wrote: Pop Eye wrote:Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.
Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya tertarik dgn tulisan Aiyman Bin Khalid sbb :

Aiyman Bin Khalid wrote:NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.
BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:
Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Coba kita persempit mslh psikis yg anda maksudkan disini yaitu ttg kedewasaan dlm berpikir. Jika Saya katakan bahwa kedewasaan itu tidak bisa diukur dgn umur, apakah Anda setuju ?

Popeye wrote
Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Sayapun sejujurnya tidak bisa menerima itu. Tp mengingat beliau adalah utusan Tuhan yg saya imani dan mengingat bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan sesuatu apalagi yang berhubungan dgn Rasulullah sbg suri tauladan bagi hamba-hambaNya… Saya rasa cukup menjadi motivasi besar dlm diri Saya untuk mencari jawaban yg sebenar2nya ttg polemik ini.Pasti ada suatu alasan yg bisa diterima.

Popeye wrote:
Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Saya tdk akan mengcounter hadist2 itu krn Saya yakin merekapun berpijak pada suatu landasan yg kokoh dlm menentukan segala hal. Tp manusia tetaplah manusia dan selalu berpeluang salah kecuali jk mslh2 tsb dikembalikan kpd Alquran.

Saya akan buat lebih simple aja. Selain puber, wanita baru siap menikahi jika (terlepas umur berapa aja yg penting udeh puber):
– Sudah mengerti hubungan sex, sebab akibat dari berhubungan sex
– Jika hamil, sudah dapat mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.
– Common knowledges lain yg tak perlu saya kupas disini.

Pada masa kini, setiap negara punya standard umur tertentu bagi wanita untuk menikah. Memang harus diakui, bisa saja pada umur tersebut, wanita tersebut memang belum matang secara psikis. Tapi adalah lazim jika orang2 mempunyai ekspektasi misalnya gadis berumur 20 tahun sudah seharusnya matang secara fisik dan psikis. Jika belum dewasa pada umur tersebut, something must be really really wrong with either the education or with the mentality. That’s why dengan basic common sense ini, setiap negara mencantumkan standard umur tertentu sebagai syarat untuk menikah.

Saya mengakui bahwa umur tidaklah selalu valid untuk menentukan tingkatan kematangan psikis seorang wanita, tapi kira2 standard kedewasaan seperti apa yg anda harapkan dari bocah berusia 9 tahun?

Perempuan normal dari negara manapun pada abad manapun pada usia 9 tahun hanyalah seorang bocah cilik. Sungguh argumen yg maksa jika kita hendak membenarkan diri beranggapan Aisha sudah dewasa pada saat itu. Hadits dengan jelas mengatakan Aisyah masih maen boneka. Wanita dewasa aja masih harus berjuang di malam pertama, dan coba anda bayangkan ukuran vagina bocah 9 tahun VS penis dari pria umur 50-an. That’s why saya mengerti kenapa muslim Minaret dengan akal dan hati nuraninya sulit menerima kenyataan itu dan mencoba untuk mencari pembenaran lain dari Hadits tak jelas yg menyatakan umur Aisha 18-20 tahun ketika menikahi Nabi anda.

Bayangkan jika gadis 9 tahun yg masih maen boneka ini ternyata hamil, hal2 yg perlu diconsider :
– Apakah ia sanggup dengan telaten untuk memelihara bayinya di masa awal2 3 tahun pertama kelahiran anaknya.
Ga usah jauh2, semua temen2 saya yg perempuan (yg notabene berumur 20 tahun lebih tua dari Aisha) aja stress harus begadang terus jagain
anaknya, beberapa bahkan mengaku kalo bukan itu anak gw, rasanya gw pengen banting…saking stressnya.
– Sumbangan knowledge dan kasih sayang seperti apa yg bisa diberikan ibu umur 9 tahun kepada bayinya?
Masa toddler (0 – 5 tahun) sangat penting bagi anak untuk dilatih kreativitas dan kecerdasan. Bukan hanya karena anda mampu
memberi makan anakmu, maka tanggung jawabmu selesai begitu aja. Muhammad kerjaannya perang terus, saya percaya jika
Aisha punya bayi, maka semua IQ dan EQ dari si anak sangat bergantung penuh dengan si ibu.

Sebagai contoh, saya pernah membaca artikel kejadian di negara Barat, dimana seorang bocah cilik kurang lebih 9 tahun juga mempunyai bayi. Keluarganya mencoba untuk mendisiplin dirinya dengan mengharuskan dirinya untuk mengasuh sendiri bayi itu, dan bayangkan..ada satu kejadian dimana bocah ini ketinggalan bayinya (di taman kalo ga salah) karena dirinya asyik bermain.

Saya mengakui Ayman bin Khalid terlihat sangat menguasai Quran dan Hadits, bahasa Englishnya juga jago, tapi tidak berarti kita bisa menyetujui semua argumennya.

Argumennya sah dalam meng-counter Minaret yg menolak kenyataan bahwa Muhammad meniduri gadis 9 tahun (karena ia menggunakan Hadits2 sahih dan logikanya cukup ok dalam berdebat in this case), tapi sekali lagi bukan berarti praktek menggagahi bocak cilik 9 tahun adalah hal yg benar.

Hitler dengan kegilaannya nge-claim ras German adalah ras terhebat, dan Yahudi harus dimusnahkan. Hitler mungkin gila, tapi bukan berarti dia orang bodoh. Kemampuannya ber-orasi dan mempengaruhi rakyat Jerman membuat mayoritas rakyat Jerman bersepakat untuk melenyapkan Yahudi. Hitler juga pemimpin militer.

Yg membedakan kita dengan psychopath (orang sakit jiwa/buta hati nurani) adalah dalam berdebat kita tidak hanya menggunakan otak, tapi juga hati nurani kita.

Tidak ada satupun kaffir yg menyangkal bahwa practice bersetubuh dengan pengantin cilik sudah dikenal bahkan di luar Saudi Arabia sekalipun. Zaman dahulu tidak ada yg namanya sex education, sekali cowo birahi, ya kalo bisa dilampiaskan dengan menikahi bocah cilik sekalipun akan dijabanin. But keep in mind, mengingat Nabi anda adalah utusan Tuhan, yg katanya pedoman seluruh umat manusia, seharusnya justru membawa sebuah perubahan besar bagi praktek barbar masa lampau.

Sebagai contoh : Sidharta Gautama sang pembawa ajaran Budha, mengajarkan pengendalian diri, dia bertapa dan menghindari nafsu2 duniawi bahkan dengan meninggalkan keluarganya (contoh yg extreme, tapi beliau adalah seorang pangeran, wajar jika anak istrinya akan dinafkahi di kerajaannya), seorang pangeran yg kaya raya merendahkan diri untuk jadi rakyat jelata, mengosongkan diri dan mengendalikan nafsu, bukannya ikut2an praktek barbar pada zamannya.

Yesus, pembawa Injil, membuat gebrakan dengan mengajarkan murid2Nya untuk berdoa bahkan mengasihi musuh2nya (apa anehnya kalo kita cuman berdoa buat orang yg baik dengan kita), praktek yg tidak dilakukan pada zaman itu karena orang2 pasti akan mengutuk musuhnya. Beliau bukan hanya mengajarkan hal itu, tapi bahkan mempraktekkan saat dikayu salib, mengampuni musuh2Nya.

Yg jadi masalahnya, kenapa Nabi Anda justru ga membawa satu perubahan besar pada masa itu? ingat Sidharta dan Yesus sudah ada jauh2 hari sebelum Nabi anda, tapi i’m really sorry, berhubung anda Muslimah yg kritis, please tolong koreksi saya, apa perubahan besar yg sudah dibawakan oleh Nabi anda yg tidak ada dalam diri Sidharta dan Yesus? Jika mao dibahas, ini ga akan kelar2…tapi ok…saya akan persempit dengan masalah SEX saja. Jika benar2 dibaca hadits2 sahih agama anda, honestly speaking banyak sekali cerita tentang2 petualangan sex Nabi anda (membunuh suami Safiyah dan tanpa memberikan waktu berkabung untuknya langsung menikahi dan bersetubuh dengannya, ngambil istri anak angkatnya dengan dalih Aulloh yg bilang untuk ngambil, nikahi Aisyah juga dengan dalih yg sama, serta petualangan2 sex yg lain). Sangat berbeda dengan Sidharta dan Yesus yg justru belajar mengosongkan diri dan melepaskan hal2 duniawi. Anda tidak akan pernah menemukan referensi sahih Alkitab yg menceritakan 1 saja petualangan cinta Yesus, apalagi sampe ke urusan ranjang.

Saya mengandalkan pikiran kritis anda serta hati nurani anda. Tidak apa2 jika anda marah kepada saya.

Dan hal lain yg sangat mencengangkan kami para kaffir, terlepas dari masalah Nabi anda banyak sekali istrinya, yg sangat menarik adalah kasus Aisyah ini,adalah dimana seorang pria berumur 54-an bisa consummate (Complete a marriage by having sexual intercourse) seorang bocah 9 tahun. Itu jelas2 tertulis di Hadits anda, dan inilah yg dibela oleh Ayman bin Khalid dalam counter-nya terhadap muslim Minaret yg tidak bisa menerima kenyataan itu.

Jika Muhammad seorang laki2 normal (okelah anggap saja saya ikutin aja alur logika muslim pada umumnya yg bilang menikahi Aisyah karena masalah sosial, untuk mempererat hubungan dengan Abu Bakar ayahnya Aisha, atau faktor2 politis yg lain), sekali lagi…jika ia normal…maka ia mungkin saja menikahi Aisha pada umur 6 tahun, tapi akan menunggu Aisha hingga matang secara psikis baru bersetubuh dengannya.

Contohnya : anak perempuan sahabat saya berumur kurang lebih 6 tahun. Saya sayang dia coz anaknya pinter ngambil hati orang dan cerdas, jadi saya kalo kasih dia hadiah emang cukup berani dari segi harga. Dia nampaknya tau saya sayang dengannya, that’w why dia nempel banget, ga ada perasaan takut2nya dengan saya, tidak ada gap karena saya laki2, berani melok saya kapan aja (sampe kadang2 orang tuanya yg ga enak sendiri ama gw :lol: ), bahkan bisa tiba minta dipangku, atau langsung maen duduk aja di pangkuan saya. Tapi sebagai laki2 umur 30-an yg normal, sedikitpun saya tidak ereksi ketika pantatnya itu bahkan mengenai…maaf…celana bagian depan saya, paling2 yg saya lakukan adalah saya pindahkan pantatnya ke paha saya. Inilah yg perlu kita renungkan, kok bisa Nabi anda yg berumur 50-an (jika ia normal), ngesex dengan bocah 9 tahun even jika bocah tersebut sudah puber sekalipun?

Baik zaman dahulu maupun zaman sekarang, tidak ada laki2 normal umur 54-an bisa berbirahi dengan seorang bocah cilik yg berbeda umur 40-an tahun lebih tua darinya. Jika ini bukan pedophilia complex, what else do u call it?

Perlu diingat bahwa referensi ayat AYman bin Khalid yg menyatakan di kota Yamen ada gadis yg menjadi nenek pada usia 18 tahun (melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan umur 9 tahun juga), tidak sedikitpun tercatat bahwa suami dari bocah cilik tersebut berbeda 40-an tahun lebih muda dari umur suaminya.

Seperti referensi Hadits dari Ayman bin Khalid, bocah 15 tahun juga sudah dianggap dewasa dan boleh berperang, bahkan zaman sekarang pun bocah 15 tahun sudah wet dream, dan jika tidak mendapat sex education and parental guidance, bisa menghamili bocah 9 tahun. So saya tidak percaya bawa laki2 normal umur 54-an zaman Muhammad sekalipun bisa berbirahi dengan 9 year old kids. Yg ada praktek pada zaman itu adalah banyak sekali pernikahan pengantin2 bocah laki2 dan perempuan cilik yg pada akhirnya menghasilkan banyak parent2 bocah2 cilik.

Sekali lagi….satu2nya cara menyelamatkan muka Muhammad adalah dengan membuktikan bahwa Aisya tidak berhubungan sex dengannya pada umur 9 tahun. Itupun tidak menjawab permasalah mengenai pertanyaan saya diatas : Apa perubahan besar dari segi rohani dan akhlak yg dibawakan Muhammad yg tidak ada pada masa Sidharta dan Yesus. Sebagai orang yg nge-claim kalo dirinya adalah penyempurna agama2 sebelumnya, saya rasa sangat fair jika para pemeluk agama2 lain (Buddha, Kristen dll) yg katanya disempurnakan ajarannya oleh ajaran Nabi anda, mengharapkan standard moral Muhammad harus jauh lebih baik dari Sidharta dan Yesus..

Intermezzo : Yg jauh lebih luar biasa, Nabi anda diclaim mempunya standard moral yg luar biasa dan manusia paling sempurna yg pernah hidup di bumi, tapi pada saat yg bersamaan ketika saya berdebat dengan muslim FFI yg nicknya Crescent Star, mengakui bahwa Nabi Muhammad mengaku salah dalam case Hafsa kepergok Muhmmad ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa. Terlihat dari Muhammad panik dan minta Hafsa tidak menceritakan case itu kepada siapa2. Bagaimana mungkin manusia model seperti ini, bahkan bocah 9 tahun aja diembat…sempurna akhlaknya?

MIss X wrote: Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Terimakasih untuk kejujuran anda yg mengatakan anda masih childish pada umur tersebut.
Jika anda lihat argumen dari Ayman bin Khalid, terlihat jelas dia tergolong Muslim yg mengkategorikan kedewasaan dengan pubertas.
Dia sama sekali tidak menjelaskan apakah gadis berusia 9 tahun sudah mampu mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Mengapa saya sangat concern mengenai masalah ini. Karena di negara2 Saudi Arabia dan antek2nya, banyak bocah cilik yg dipaksa untuk menikah. Sungguh saya tidak bisa membayangkan jika peristiwa biadab seperti ini terjadi pada anak perempuan saya for the sake of sunnah Nabi. Anda sendiri pasti tau kasus Syekh Puji yg sekarang bahkan bebas dari penjara (saya tidak yakin akan sama ceritanya jika pelaku pedofilia tersebut adalah non Muslim). Muslim/ah berpikiran kritis seperti anda yg hendak saya jangkau.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop eye, mohon maaf sy baru bisa mereply skrg.

Saya sdh membaca tulisan Mas Pop dan mohon maaf saya tdk bs menquote satu2 krn terlalu panjang. Tp sy sdh menangkap inti dari semuanya krn argumen Mas Pop sdh tidak asing bg saya, semoga tanggapan sy bs mencakup semua pertanyaan dan pernyataan Mas.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai pernikahan Rasulullah dan Aisha, sy ingin menjelaskan sedikit mengenai serba serbi hadist/Sunnah. Saya ingin kita menetapkan satu persepsi yang sama shngga kita berdua tdk terjebak pd satu dialog yg hanya bertujuan saling menyerang dan bertahan tnpa saling berbagi pengetahuan dan membuka fikiran masing2.

Nama Ayman Bin Khalid itu terdengar asing bagi saya. Sy mngenal beliau dari forum ini namun dr semua tulisannya saya menilai beliau merupakan salah seorang alim yg kritis dan tdk membeo dgn hadist2 yg sdh dipilah dan dibukukan oleh ulama2 terdahulu. Perlu diketahui bahwa meskipun Bukhori dan Muslim telah disepakati oleh para ulama sbg periwayat hadist yg menggunakan methode paling baik dlm memilah dan memilih hadist sehingga semua hadis yg berasal , disetujui, atau mendapatkan syarat dari kedua atau slh satu dari keduanya bs mendapatkan predikat shahih 1, tp saya blm pernah mendengar mereka mengatakan bhwa hadist2 yg mreka riwayatkan itu 100% benar ( kl Mas Pop pernah membacanya, tlg beri sy referensi atau linknya) . Dlm hal ini saya tdk bermaksud ut meragukan kapasitas keduanya -krn sy mmg blm pantas & sy berlindung kpd Allah dari kata2 yg tdk pantas ttg keduanya- hnya krn ada beberapa hadist ttg Rasulullah yg tdk sreg dihati saya, namun perlulah semua org muslim ttp mengkaji dan terus menggali keilmuan ttg hadist ini tanpa menjadi muslim yg pasif ( tentu anda ingin muslim cm mjd pengekor saja khan? ). Ada bnyak kaidah yg mesti diperhatikan dlm memaknai sebuah hadist salah satunya adalah menelesuri budaya, hukum , sospol, norma dan nilai yg berlaku disuatu tempat yg mempengaruhi suatu hadist 2. Oleh sebab itu tdk bisa Mas Pop jabarkan sbuah hadist hanya berdasarkan pd bunyi hadist secara tekstual saja dan mgkn ini salah satu faktor yg membuat hadist2 shahih dari mereka tdk bs ditangkap secara meyeluruh dari orang2 yg membacanya shgga bnyak skali perselisihan didlm memaknainya. Jadi, yg saya harapkan dari Mas Pop adalah Mas Pop tdk berfikir jk penyangkalan muslim thdp hadist2 tertentu sbg upaya pembenaran thdp tindakan Rasulullah tp sy ingin Mas Pop menyikapi tindakan muslim itu sbg upaya menggali dan menyampaikan makna suatu hadist secara utuh, baik tekstual maupun kontekstual, dgn mengadakan beberapa penelitian dan studi kasus.

Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Disetiap masa, diharapkan atau tidak, selalu akan terjadi sebuah pergeseran nilai yg bersifat situasional seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .
Lalu kenapa banyak gadis cilik di Saudi sana yg menjadi korban pernikahan dini sehingga pemerintah merasa perlu mengeluarkan undang2 perlindungan anak ?
Seperti yg Mas Pop tanyakan :
Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Islam bukanlah apa yg dilakukan Muhammad tp Islam adalah apa yg dicontohkan Beliau. Apa yg Beliau lakukan belum tentu harus dicontoh tp tapi apa yg beliau contohkan sudah pasti harus dilakukan. Jd mesti harus Mas Pop bedakan mana yg dilakukan dan mana yg dicontohkan, jgn dipukul rata.

Seperti yg saya sebutkan sebelumnya, sosial, kondisi politik, budaya dan semacamnya sangat mempengaruhi keluarnya suatu hadist. Mesti diingat bahwa Rasulullah tdk pernah memerintahkan sahabat untuk menulis appn darinya tp karena sesuatu dan lain hal, maka pengkodifikasian hadist dipandang perlu pada masa kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz4 . Ini memberi suatu indikasi bahwa sunnah beliau yg dibukukan dlm bentuk hadist tdk semuanya berisi hal – hal yg harus diikuti kecuali apa – apa yg telah beliau ajarkan kpd para sahabatnya. Seperti hadist ttg adab duduk ketika makan ala Rasulullah yg diceritakan oelh salah seorang sahabat, bisakah Mas Pop bedakan apakah itu adalah sesuatu yg beliau lakukan ( kebiasaan ) atau sesuatu yg Beliau contohkan? Sama seperti pernikahannya dgn Aisha semua hadist mengenai itu adalah hadist2 yg memiliki sanad mauquf bukan marfu’.

Semoga ini bisa mewakili setiap argumen Mas Pop. Ditunggu tanggapannya.

Dear Miss X,

Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.

Miss X wrote:Miss X wrote:Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?

Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

Miss X wrote:Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Ok, argumen anda cukup OK untuk hal ini. Saya mengakui mungkin saya terlalu memaksakan kondisi kedewasaan zaman sekarang di-apply ke zaman barbaric in ancient times. Mungkin adalah hal yg lazim jaman dahulu jika bocah 9 tahun sudah menikah dan keadaan memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya. Saya akan berusaha fair dengan Anda jika jawaban anda memang ada common sense-nya. Tanggung jawab seorang ibu di jaman barbar tentulah berbeda dengan tanggung jawab seorang ibu di zaman modern sekarang ini, ok fair enough.

Miss X wrote:Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .

Ok anggaplah emang banyak kasus parental cilik berhasil mendidik anak dan menjadi langgeng di usia yg sangat muda in ancient times. Saya sudah berikan pada komentar sebelumnya dan saya mengerti maksud anda. Jika anda tidak bisa terima argumen saya tentang tanggung jawab seorang ibu, saya bisa mengerti dan menerima pendapat anda, karena situasi zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Jaman globalisasi seperti sekarang ini, jika kita maen statistic, saya berani yakin less than 1% ibu usia 9 thn yg bisa mendidik anaknya dengan baik seorang diri, tapi jika dibandingkan zaman barbar dimana ketrampilan yg dibutuhkan untuk survive/earn living tidaklah sesulit jaman sekarang, ok lah saya bisa terima argumen anda.

Tapi terus terang saya ga bisa mengerti jalan pikiran anda ketika anda berkomentar=> Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan.

Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh

Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.

Miss X wrote:Dear Miss X,
Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.
==========================================================================
Terima kasih Mas Pop atas pujiannya meskipun saya tidak merasa sedikitpun itu cocok buat saya. Saya merasa sangat tersanjung , orang sepintar dan open mainded sperti Mas Pop sudi berdiskusi dgn saya.
============================================================================

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?
============================================================================
Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Sebenarnya ada sedikit kebingungan dlm benak saya ttg standar apa yg Mas Pop gunakan dlm menyikapi mslh ini dan saya juga bingung harus menggunakan standar yg mana untuk menjawab pertanyaan Mas Pop ttg pandangan saya, sbg manusia yg hidup dizaman dulu atau sbg manusia yg hidup dizaman skrg ? Mas Pop yg saya hormati, dlm hal ini saya mencoba memberikan pandangan yg objektif berdasarkan waktu, tempat dan keadaan meskipun saya adalah manusia yg hidup dizaman ini dan semoga dialog kita ini tidak dibumbui oleh sentimen pribadi thdp objek yg sdg kita bahas.

Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.
==================================================================
Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

============================================================================
Dari Umar bin Khathab Ra. berkata : “Aku telah mendengar rasulullah saw.bersabda : Sesunggunya segala amalan itu tergantung pada niatnya. dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasulNya, ia akan sampai pada Allah dan RasulNya.dan barang siapa hijrahnya menuju dunia yang akan di perolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju. (HR : Bukhari & Muslim)

Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?
==================================================================
Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?
=========================================================================

Terima kasih Mas Pop sudah menyatakan sesuatu dgn terbuka. Tanpa mengurangi hormat sy, saya rasa kita sedang membicarakan ttg seorang gadis kecil yg dinikahi oleh pria yg umurnya terpaut sangat jauh yg dlm hal ini, Muhammad adalah seorang laki – laki yg mapan dlm hal ekonomi. Jd saya rasa , mslh ekonomi tdk ada hubungannya dgn apa yg sedang kita bahas.

Sex dan menjadi seorang ibu, seperti yg Mas Pop sebutkan, bersifat alamiah meskipun ibu2 sekarang ini berfikir lebih maju dlm hal kepengurusan anak. Istilah sex education ini sama seperti pedophilia, baru dikenal karena belum ada dizaman ortu sy dulu…masih tabu katanya. Tp jika kita membuat statistik, orang tua dizaman mana yg lebih berhasil mendidik anaknya dan lebih berhasil mempertahankan biduk rumah tangganya….zaman sekarang atau zaman dulu ?
==================================================================

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh seperti yg bisa anda baca di
wanita-sebagai-saksi-t42425/
muslim-netral-vs-pop-eye-t42400/

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.
==========================================================================
Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?
Saya ingin mengcopy pertkataan salah seorang muslimah FFI :

Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir

Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

================================================================
Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

==========================================================================
Jawaban saya sama seperti jawaban Mas Pop
=================================================================

Best regards

Miss X wrote::Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Anda yakin perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan ?

Zaman Nabi Musa:
1. Pernikahan dengan lebih dari 1 istri diizinkan (walaupun dalam Bible sendiri mencatat Zippora selama ia hidup adalah istri Musa satu2nya, dan ada theory yg mengatakan later on Musa menikah lagi ketika Zippora wafat). Jadi walaupun Musa memberikan izin untuk melakukan perceraian, dia sendiri bukan pelaku aktif dari kawin-cerai dan punya banyak istri
2. Hukum rajam batu terhadap wanita jika ketahuan berzinah, ga beda jauh dengan Nabi anda.

Zaman Yesus yg datang sekitar 1400 tahun setelah Musa
1. Yesus menentang perceraian, apa yg sudah disatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia.
Yesus menantang kaum2 agama Yahudi yg hendak merajam batu seorang perempuan yg ketahuan berzinah, apakah ada dari si
pelempar batu ini yg tidak pernah berdosa selama hidupnya, dan pada akhirnya karena malu, satu persatu para perajam itu pergi
sendiri, dan Yesus sendiri pada akhirnya berkata pada wanita penzinah itu : Akupun tidak akan menghukum engkau, pergilah
DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAGI.

Yesus mengajarkan (hal yg sama juga sudah diajarkan oleh Confusius yg hidup sebelum era Yesus): Perlakukan orang lain seperti
anda ingin sendiri diperlakukan,
jangan perlakukan orang lain dengan standard dimana anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Laki2 nature-nya juga
tidak ada yg mao dimadu, so kenapa juga tega melakukan sesuatu yg dirinya sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu?

Terinspirasi dari kehidupan Yesus yg sangat menghargai wanita, Christian memperlakukan system menikah hanya dengan satu
pasangan, hanya maut yg memisahkan pasangan yg sudah bersumpah setia dihadapan Tuhan.

Filsuf2 setelah zaman Yesus, prior to Muhammad time.
1. Salah satu artikel yg sudah saya terjemahkan di Resource Centre FFI, membuktikan bahwa Rufus bahkan melakukan perombakan
besar dengan cara berfikir budaya barbar masa lalu yg tidak menhargai wanita dengan menyatakan bahwa tugas istri/wanita
bukan hanya sumur, dapur dan kasur. Wanita berhak mendapatkan pendidikan yg setara dengan laki2 serta pemikiran2 beradab
lainnya yg dapat anda baca di

rufus-filsuf-romawi-pra-islam-yg-bela-hak-wanita-t40924/

Zaman Muhammad sang pembawa Alquran:
1. Back to zaman Musa, boleh kawin cerai lagi, boleh punya istri max 4 semuanya ditambah dengan syarat2 bagi Muslim,
tapi aturan ini ga berlaku untuk Muhammad yg mempunyai istri lebih dari 4 (seperti biasa alasan Muslim=>pengecualian buat
Muhammad yg punya akhlak sempurna, mengawini janda2 dengan tujuan mulia dan hal2 lain yg sering jadi bahan ketawaan orang2
kaffir).
2. Muhammad dengan mudah mengambil istri anak angkatnya, mengambil istri musuh yg dia bunuh, tapi dengan mudahnya dia
memberikan maklumat bagi istri2nya untuk tidak boleh menikah lagi setelah ia wafat dengan alasan itu menyakiti hati Allah
dan Rasulnya.
3. Muhammad mengajarkan untuk mendisiplin istri dengan memukul mereka jika perlu. Tentulah Muslim semua pada stress dan
berusaha untuk menjelaskan kepada kami arti memukul itu maksudnya adalah pukulan yg ringan.
4. Surat An Nisa di Alquran yg menghargai perempuan seperti yg anda describe.

Tanpa perlu ada Alquran dan petuah2 dari Nabi anda, prior to the Islam era, sudah ada Nabi, pemikir/filsuf/org2 well educated yg sudah punya pandangan yg luar biasa tentang penghargaan terhadap wanita dan menginspirasi orang2 sejamannya terlepas zaman tersebut masih era yg umumnya tidak menghargai wanita.

Dear Miss X, justru jika Anda berusaha jujur untuk melihat kehidupan pribadi Nabi anda yg katanya sangat sempurna akhlaknya itu, terjadi degradasi rule2 yg sudah dibuat oleh Nabi, pemikir2 jaman sebelum era Muhammad.

Sungguh setiap kali pecinta Islam berusaha menyakinkan dunia bahwa Islamlah yg mengangkat harkat dan martabat, based on perbandingan zaman yg saya sebutkan diatas, saya tidak bisa menahan ketawa.

Miss X wrote: :Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Dear Miss X,
Zaman barbar (termasuk di luar daerah Timur Tengah sekalipun) memperlakukan raja sebagai segala-galanya. Bukan hal yg aneh jika raja meminta apapun dari rakyatnya (termasuk istrinya sekalipun). Raja adalah supreme ruler, segala perintahnya adalah mutlak. Jadi dimata musuh2 Muhammad sekalipun, itu adalah praktek yg bisa diterima karena musuh mereka mungkin juga melakukan hal yg sama. Pengikut Muhammad memperlakukan dirinya sebagai raja, bahkan lebih dari itu, menganggap dirinya sebagai dewa. Bahkan sudah dikenal kebudayaan jaman dahulu dimana salah satu ibadah pagan adalah dimana perempuan2 beribadah dengan cara melacurkan diri kepada Nabi2nya. Adalah suatu kehormatan dan kebanggaan kalo perlu diusahakan bagi setiap wanita zaman barbar yg memuja dewanya untuk menikah dengan Nabinya. Jadi point anda hanya menjelaskan bahwa perbuatan Muhammad mengambil istri anak angkatnya, ngesex dengan bocah 9 thn adalah hal yg bisa diterima oleh budaya barbar. Tapi bukan berarti praktek budaya barbar tersebut adalah bermoral. Anda tidak bisa berharap terlalu banyak akan theory gossip dan cemoohan untuk jaman2 barbar seperti ini.

Semakin anda “memaksa” kami para kaffir untuk menerima perbuatan Muhammad karena itu tidak bertentangan dengan zaman barbar, semakin kami convinced bahwa Nabi anda tidak lain tidak bukan hanyalah manusia biasa yg terdorong dengan nafsu dunia dan praktek barbar zaman itu.

Mengapa pengikut Sidharta Gautama dan Yesus terinspirasi dan mengikuti beliau2?
Karena teladan hidup dari mereka (kasih, pengorbanan, self control) di zaman barbar terbukti masih berlaku hingga zaman sekarang.

Kualitas dan teladan hidup mereka yg masih bisa diapplied di zaman sekarang saja sudah membuktikan akhlak mereka diatas Muhammad. Anda tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yg meneladani sikap hidup Sidharta dan Yesus (dari sumber yg sahih) dimana dampak dari tindakan mereka akan membahayakan nyawa orang lain, atau jika kita perkecil scope kita ke topic ini, akan ngesex dengan anak kecil.

Miss X wrote::Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.

Dear Miss X, anolagi anda sama sekali tidak menjawab permasalahan moral yg kita hadapi.
Case 2 batu Vs pemantik hanya menjelaskan ke saya bahwa zaman dahulu, dengan keterbatasan kecerdasan manusia, tentulah masih depend on 2 batu, seiring dengan bertambah cerdasnya manusia, manusia mampu menciptakan pemantik untuk menyalakan api dengan cara yg sangat cepat.

Zaman ketika menggunakan batu untuk menyalakan api, hampir semua manusia purba menggunakan cara itu (kecuali jika memang ada segelintir ras manusia purba yg sangat cerdas yg bisa melakukannya dengan cara yg lebih efektif). Zaman ketika Muhammad ngesex dengan dengan bocah 9 thn, hanya segelintir adult men yg tidak normal naluri sexnya yg melakukan hal itu. Even zaman Muhammad sekalipun anda tidak akan mudah menemukan tua bangka 52 thn ngesex dengan bocah 9 thn.

Zaman dahulu, sama sekali tidak diperlukan adanya kecerdasan bagi pria dewasa untuk bisa membedakan memilih ngesex dengan bocah 9 thn atau ngesex dengan perempuan dewasa. Yg diperlukan hanya naluri sex normal dari laki2. Sama sekali tidak ada hubungannya standard zaman dahulu dengan zaman sekarang kalo soal urusan EREKSI.

Miss X wrote::Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?

Darimana anda yakin referensi anda valid dan bisa dipertanggung-jawabkan secara logis?
Apakah anda hendak menyakinkan saya Aisha bukan manusia biasa? Alien mungkin? bocah 9 thn tapi dengan penampilan fisik seperti gadis 20 thn yg normal?

Dear Miss X, kita sedang beradu argumentasi dengan hal2 yg logic. Bukan dengan referensi2 yg tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akal sehat manusia.

Umat Budha percaya referensi Kitab mereka yg mengatakan ketika Sidharta lahir, berbeda dengan bayi normal, bayi ini sudah bisa berjalan dan melakukan segelintir hal2 fantastis lainnya. Kira2 anda bisa terima argumen mereka ga kalo case ini diperhadapkan pada argumentasi logis?

http://en.wikipedia.org/wiki/Miracles_of_Gautama_Buddha

Referensi bayi Sidharta sudah bisa berjalan pada saat ia lahir di bumi adalah iman dari orang2 Buddhist dan itu adalah hak mereka. But whether the case make a good reasoning for common sense debate case is another thing.

Klaim yg anda paparkan kepada saya adalah argumentasi sangat klasik dari Muslim2 seluruh dunia. Adalah hak bagi2 setiap muslim untuk punya blind faith atas keyakinan anda dari referensi mengatakan bahwa umur 9 thn Aisha somehow secara ajaib sudah memiliki fisik layaknya wanita dewasa. Tapi adalah konyol jika hal ini dibawa ke dalam perdebatan yg menggunakan akal sehat.

Islam sendiri tidak percaya evolusi Darwin yg mengatakan manusia adalah hasil evolusi dari kera. Bagaimana kalian bisa percaya bocah 9 thn di zaman Muhammad bisa berevolusi/bermutasi tubuhnya menjadi perempuan dewasa?

Saya pernah liat di tivi case dimana anak yg terlihat sangat tua padahal masih bocah. Namun tidak perlu 1 menit bagi otak saya untuk mencerna bahwa wajah bocah tersebut sangat weird, ketara banget kelainan hormon, muka tetep muka anak kecil tapi sudah keriput dan tumbuh kumis.

Ada juga case acro megali, dimana seorang bocah yg jauh lebih tinggi dari bocah2 seusianya. Tapi sekali lagi, dari penampilan fisik, terlihat banget ukuran badannya yg tidak proporsional, muka sedikit idiot, yg pada akhirnya semua orang tau bocah ini mengalami kelainan hormon.

Jika Muslim masih insist untuk memegang theory bocah yg terlihat berfisik dewasa sebelon waktunya, tentulah muslim juga harus terima dari contoh case2 yg saya sebutkan diatas, Aisha berpenampilan seperti itu. Bukankah jauh lebih menjijikan jika bahkan Muhammad bisa bernafsu sex dengan bocah seperti itu ?

Ok saya buat perbandingan simple untuk klaim klasik yg anda ajukan VS kami para kaffir
Muslim masa kini
– Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha =>Tidak
– Referensi yg digunakan =>Referensi yg katanya cukup valid
– Argumentasi =>Aisha walaupun berumur 9 tahun tapi fisiknya sudah selayaknya seperti wanita dewasa pada umumnya yg siap untuk
disetubuhi

VS

Kaffir masa kini
– Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha=>Tidak
– Referensi yg digunakan=>Hadits Sahih Bukhari yg diakui Muslim diseluruh dunia
– Argumentasi=> Lebih dari satu ayat Hadits yg mencatat Aisha berumur 6 tahun dan masih maen boneka dan ayunan dan berumur 9
tahun pada saat ngesex dengan Muhammad. Berdasarkan informasi umur dan tingkah laku Aisha pada saat itu, kaffir berkesimpulan
tidak ada bukti apapun (selain iman buta) bahwa Aisha berpenampilan fisik layaknya wanita dewasa. Aisha hanyalah bocah cilik umur
9 tahun, dengan tingkah laku anak 9 tahun dan fisik anak 9 tahun, maka belon pantas untuk disetubuhi dan tidak akan
membangkitkan hawa nafsu laki2 dewasa normal pada umumnya.

Coba luangkan waktu sejenak untuk menilai secara objective perbandingan diatas, pendapat manakah yg akan dinilai lebih masuk akal oleh independent reader/judger, despite kita berdua sama2 tidak hidup di zaman Muhamad dan Aisha.

Miss X wrote::Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Dear Miss X
Contoh case: Jika tanpa sepengetahuan saya, pasangan saya masuk kamar saya dan sedang ganti baju, dan pada saat pulang dari kantor saya membuka pintu kamar saya dan TANPA SENGAJA/NIAT saya melihat dirinya ganti baju dan bertelanjang bulat didepan saya, naluriah sex normal laki2 saya akan membuat saya ereksi.

Atau jika misalnya, saya hendak berdiskusi dengan colleague saya, saya hampiri dia didepan Desktopnya, dan ternyata di depan monitor Desktopnya dia lagi nonton film porno dan saya jadi secara ga sengaja ngeliat cewe telanjang, saya akan ereksi.

Ereksi dari contoh diatas bukanlah dari NIAT SAYA UNTUK EREKSI, TAPI INSTINCT SEX NATURAL SAYA SEBAGAI LAKI2 NORMAL.
NIAT PUNYA PENGARUH UNTUK SAYA MELAMPIASKAN NAFSU SEKSUAL SAYA, TAPI UNTUK BISA BER-EREKSI, SETIAP LAKI2 BUTUH OBJECT YG BISA MERANGSANGNYA. BAGI LAKI2 NORMAL, ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH WANITA DEWASA. BAGI PEDOPHILE ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH BOCAH CILIK.

Bocah 6 tahun anak sahabat saya, mao saya niat gendong dia, mao niat liatin dia telanjang, saya tidak akan ereksi, boro2 kepikir ngesex dengannya, ereksi aja engga. Saya jamin semua laki2 normal akan mengerti penjelasan saya. Ga ada hubungannya dengan argumen anda dikarenakan niat. Saya tidak akan pernah memperkosa/melakukan hal2 cabul kepada anak temen saya bukan karena saya orang suci, tapi karena saya orang normal.

Contoh yg anda paparkan tentang kakek tua renta yg cabul terhadap bocah cilik hanya membuktikan bahwa memang kasus pedophilia terjadi di Indonesia. Jika ereksi aja ga bisa, gimana ada niat untuk perkosa? Jika kakek tersebut bisa perkosa anak kecil, berarti ia bisa dirangsang secara seksual oleh tubuh bocah cilik yg menyebabkan dirinya ereksi. As simple as that.

Kakek2 normal hanya terangsang oleh wanita dewasa, contoh case yg cukup ngetop adalah ketika bos kaya raya Majalah Playboy yg berusia 60-an menikah dengan model berusia 25 thn.

Miss X wrote::Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?

Hadits tanpa malu2 mencatat umur Aisha adalah 6 tahun saat dia married, dan 9 tahun saat dia di consummate.
Tidak diperlukan adanya kriteria khusus untuk mengerti bahwa Aisha masih bocah cilik saat ia menikah, dan melakukan sex pertama kalinya saat ia berumur 9 tahun dengan Muhammad.

Memangnya apa sih kriteria khusus yg bisa memberikan makna lain pada kata CONSUMMATED, MARRIED, bilangan 6 dan 9 tahun?
Penasaran saya :)

Miss X wrote::Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Kami para kaffir juga tidak kalah geli dengan kalian para Muslim yg segitu cinta mati dengan Muhammad. Jelas2 muslim semua self proclaim bahwa Muhammad bermoral sempurna, Nabi terakhir penyempurna ajaran Nabi2 lain sebelumnya, terus apanya yg aneh jika kami para kaffir mengangkat issue sex untuk mempertanyakan self proclaiming kehebatan moral Muhamamd?

Sex sejak zaman purba hingga saat ini dan akan selama2nya menjadi pergumulan terbesar kaum laki2 normal. That’s why kaffir mengagumi Sidharta dan Yesus yg begitu luar biasa mendedikasikan hidupnya untuk manusia dan mengesampingkan hawa nafsu sex dunianya.

Salahkan jika kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda Nabi penyempurna ajaran sebelumnya?

Salahkah kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda seperti yg Muslim2 katakan, sempurna akhlaknya?

Salahkan kami , setelah membaca sumber2 sahih dari muslim sendiri dan mengetahui bahwa Nabi anda tercatat sebagai orang yg mengambil istri dari anak angkatnya, ngawinin bocah cilik, ketahuan ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa pada saat giliran sexnya Hafsa sehingga Hafsa murka serta petualangan2 sex lainnya membuat kami para kaffir mengambil kesimpulan bahwa Nabi anda sama sekali tidak ada bedanya dengan pemimpin perang zaman barbar lain yg tidak bisa mengendalikan hawa nafsu sexnya, sehingga ia sama sekali tidak pantas disebut sebagai Nabi dengan akhlak paling sempurna?

Pernah sister Miki FFI ngepost comment bagi Muslimah di Facebook, Bagaimana pendapat anda tentang kakek tua umur 52 thn yg ngesex dengan bocah cilik 9 thn, tanpa pikir panjang, muslimah ini langsung menjawab itu adalah perbuatan terkutuk, immoral, namun pada saat yg sama setelah itu sis Miki memberikan bukti2 Hadits2 bahwa Muhammad melakukan hal itu, langsung sis Miki dibanned dan dituduh sebagai orang2 yg hendak menjelek2an Rasul Allah. Double standard ini sungguh menggelikan.

Anda geli melihat kami sama seperti kami juga geli melihat kalian. Biarlah independent reader/judger yg menilai “geli” siapa yg paling logis.

Miss X wrote: :Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

Bagaimana anda bisa mengklaim diri anda tau siapa Muhammad melebihi saya jika baik anda dan saya tidak pernah bertemu dengan Muhammad dan bahkan tidak hidup sejaman dengannya?

Anda bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah, anda bahkan belum pernah bertemu dengannya. Anda jelas bukanlah saksi yg qualified di pengadilan.

Jika ikutin standard kalian, saya juga bisa bersaksi bahwa Julius Caesar itu Rasul Allah.

Oh my goodness, jika model seperti Muhammad yg anak kecil aja diembat, istri bejibun anda katakan akhlaknya tertinggi, berarti harusnya anda juga harus fair bahwa Sidharta dan Yesus sudah selayaknya anda tempatkan sebagai manusia berakhlak dewa.

Miss X wrote::Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir
Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Setuju..proses berfikir juga akan terlihat dari kualitas debat dari seseorang. Sekarang tinggal anda yg menunjukkan kepada saya, apa sih definisi copas bagi anda?

Saya sama sekali tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan anda mengenai waktu tunggu 3 tahun.
Apakah dengan memberikan saya contoh pedophile zaman ini yg tidak bisa menunggu 3 tahun, anda hendak menggunakan waiting period 3 thn sebagai tolak ukur apakah suatu tindakan dinyatakan NORMAL atau tidak?

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


Wikipedia mengkategorikan 2 jenis pedophile:
1. Exclusive pedophile => pedophile yg murni cuman suka anak kecil
2. Non Exclusive pedophile => pedophile yg bisa berbirahi terhadap baik orang dewasa maupun anak kecil

Kriteria no 2 lah yg paling cocok dgn Nabi anda

Apa anehnya jika Nabi anda bisa sabar menunggu hingga 3 tahun? According to his rule, Muhammad mengizinkan Muslim bersetubuh dengan istri2nya dan budak2nya. Selama 3 tahun, Muhammad either bisa ngesex dengan istri/budak2nya dikarenakan Nabi anda itu bukan pedophile yg murni cuman suka anak kecil. Jadi kebutuhan sexualnya masih ada pelampiasan.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop atas tanggapannya yg mmg sangat saya tunggu. Sebelumnya Mas Pop berdalih mengatakan bahwa sulitnya mencari referensi mengenai pedophilia sbg tindakan amoral yg telah dikenal sejak zaman pra Islam adalah dikarenakan appn yg menyangkut wanita saat itu kurang mendapat perhatian, meskipun saya sdh tau bahwa itu hanya sebuah alasan . Sepertinya argumen Mas Pop diatas sdh menembak kaki Mas sendiri krn sgt bertolak belakang dgn pernyataan Mas Pop sebelumnya. Mas Pop sendiri telah membuktikan bhwa sudah ada kemajuan dlm berfikir bahkan sebelum Muhammad datang membawa risalah sehingga memang seharusnya semua hal yg menyangkut sejarah memiliki catatan masing – masing termasuk masalah wanita dan norma-norma yg berlaku dlm suatu masyarakat yg memaksa para anggotanya untuk mematuhinya dgn berbagai ancaman . Jadi alasan ketidakmampuan mencari referensi mengenai ketidaknormalan menikahi seorang gadis kecil dimasa itu adalah nol besar. Jika dosa zinah mendapat hukuman fisik berupa rajam, bgmana mungkin tdk ada satupun catatan mengenai bentuk hukuman bagi pendosa pedophilia meskipun hanya sebuah gosip atau celaan sebagaimana pendosa homoseksual?? Bagaimana celah sbg “seorang pedophilia” tdk tercatat pernah menciderai reputasi Muhammad sbg seorang Nabi pada masanya baik dari sahabat-sahabatnya yg setia menulis appn ttg beliau dan dari para musuhnya yg setia mencari celah keburukannya ?? Jelas ini memperkuat hipotesa saya bahwa pedophilia, ditinjau dari ilmu sosiologi, bukanlah sebuah penyakit masyarakat sebagaimana istilah yg berkembang saat ini karena tidak ada satupun gejala sosial yg tercatat dalam sejarah pra Islam maupun Pasca Islam sebelum abad ke 20 yang membuktikan bhwa ini adalah sebuah perbuatan tercela yg membuat Muhammad tdk pantas menyandang gelar sbg NABI.

Mohon maaf Mas Pop, kita tidak sedang bicara ttg hak – hak perempuan, sifat pengampunan, dan kesetiaan. Tp kita sedang membicarakan ttg PEDOPHILIA dan fokuskan arah diskusi ini pd topic ini.

Salah satu argumen anda yg sangat menarik untuk topic pedophilia ini adalah : Anda terus menerus meminta saya untuk menerima logika Muslim pada umumnya : Jika praktek pedophilia jaman dahulu tidak mendapatkan kecaman, maka sudah sepantasnya kami para kaffir menerima argumen kalian bahwa praktek pedophilia tidak dinilai bermoral di zaman itu.

Perbudakan zaman dahulu adalah hal yg bisa diterima di zaman sebelum dan sesudah Muhammad (termasuk oleh Muhammad sendiri). Walaupun sama2 manusia ciptaan Tuhan, karena perang, karena agama, karena alasan apapun, suatu suku/bangsa bisa menempatkan diri mereka lebih superior dari suku/ras lain dan membenarkan diri mereka untuk enslave ras lain. Dan seperti yg anda tahu, hidup budak hanya tergantung oleh belas kasihan tuanya, mereka hampir tidak mempunyai hak. Perbudakan zaman dahulu adalah practice yg bisa diterima, tapi bukan berarti ini membuktikan bahwa perbudakan adalah hal yg bermoral.

Jika anda merasa kaffir masa kini yg menciptakan definisi Pedophilia dan ngebanned hal tersebut padahal zaman dahulu tidak ada yg mempermasalahkan, sekarang silahkan anda jawab : Minum alkohol dan berjudi adalah hal yg diterima di Saudi Arabia zaman Muhammad. Kenapa Muhammad memutuskan untuk nge-banned hal tersebut?

Saya tau kita sedang membicarakan tentang pedophilia. ANda meminta saya untuk fokus dalam hal ini sementara pada saat yg sama Anda mengatakan MUhammad yg mengangkat harkat dan martabat perempuan. Jadi apa yg salah jika saya paparkan perbandingan zaman sebelum MUhammad dan Muhammad mengenai harkat martabat perempuan selain pedophilia? Apakah harkat dan martabat perempuan hanya terbatas pada masalah pedophilia?

Apakah ada yg salah pada logika saya jika counter muslim yg self proclaim tentang Muhammad mengangkat harkat martabat perempuan dengan issue2 dibawah :
– Hukum rajam terhadap wanita pezinah
– Wanita tidak boleh menolak bersetubuh dengan suaminya, that’s why ga ada seorang istri bisa menuntut suaminya untuk WIFE RAPE
di negara2 SYARIAH.
– Wanita diizinkan untuk dipukul
– Wanita hanya boleh bersuamikan satu, laki boleh beristrikan banyak
– Nilai kesaksian wanita hanya 1/2 dari laki2.
– and many more.

Dear Miss X, saya tau anda mencintai Muhammad (tidak ada yg meragukan hal itu), tapi tolong tunjukkan letak kesalahan saya yg anda katakan tolong focus terhadap masalah PEDOPHILIA. Apakah anda kira harkat dan martabat perempuan hanya senilai jika anda bisa memenangkan argumen terhadap saya mengenai masalah PEDOPHILIA?

APanya yg salah jika saya membawakan issue2 yg berhubungan dengan claim anda mengenai harkat dan martabat perempuan?
Kecuali jika memang harkat dan martabat perempuan hanya berkisar seputar masalah PEDOPHILIA, saya baru bisa terima kritikan anda bahwa saya out of context.

Miss X wrote: Mas Pop yang saya hormati, saya tidak berdiri disini sbg seorang umat yg sedang membela Nabinya tp saya disini sbg lawan debat anda yg mengajak anda berfikir secara objektif tentang sejarah dgn mempelajari gejala – gejala yg menyertainya untuk menarik sebuah kesimpulan yg sesuai atau minimal mendekati kenyataan.Saya kenal Mas Pop sbg org yg sgt cerdas dlm setiap postingan anda dan saya yakin bahwa Mas Pop pun tau bgmna cara berdiskusi dgn objektif tanpa melibatkan emosi dan perasaan sentimentil. Saya sangat berusaha untuk tidak mencampuradukan perasaan saya sbg seorang wanita dalam diskusi ini. Bagaimana kita memaksakan suatu standar yg baru saja kita buat tanpa meminta kesepakatan mereka?? Bahwa setiap norma dan nilai dalam masyarakat itu ada atas kesepakatan bersama dan menjadi hukum secara turun temurun baik suka ataupun tidak. Kalau pendapat Mas Pop itu benar adanya, maka Yesus andapun termasuk seorang bar bar karena tdk pernah menyinggung masalah pedophilia ini dlm ajarannya.

Bagaimana anda bisa berkata anda tidak sedang membela Nabi kesayangan anda dan berdiri sebagai lawan debat saya mengajak saya berfikir secara objektif tentang sejarah, jika anda sudah memposisikan diri Anda lebih mengenal Muhammad dibandingkan dengan saya, itu sebabnya anda mencintainya?

Anda sedang berusaha untuk tidak mencampur-adukkan perasaan anda sebagai wanita karena anda menyadari dengan jelas posisi Nabi anda pasti akan dalam masalah besar. Akan beda ceritanya jika yg melakukan activity ngesex dengan bocah 9 tahun ini adalah kakek2 masa kini. Objectivity anda sangat dipengaruhi oleh cinta anda terhadap Muhammad.

Saya tidak cerdas, tapi umumnya ketika saya berargumen, sebelum saya nge-post, saya sudah berdiskusi dengan orang2 yg tidak anti Islam ex: bos saya orang bule (yg programming skill-nya diatas saya, fyi saya adalah programmer) yg tidak anti Islam dalam dunia nyata. Saya berikan dia study case, saya tidak bawa2 Islam, saya minta dia bandingkan juga dengan zaman pra Islam.

Umumnya saya selalu kalah debat dengan bos saya jika menyangkut programming skill, banking business, karena dia bener2 jago dan luar biasa otaknya. Tapi sepintar apapun beliau, tetep aja dia ga bisa menyanggah argumen saya dari hasil debat saya dengan Anda ketika saya memintanya menilai secara objective. Bos saya hanya menyanggah saya karena dia tidak sependapat bahwa Muhammad ngesex dengan AIsha pada usia 9 tahun. Ia yakin Aisha disetubuhi pada saat ia sudah menjadi wanita dewasa seperti pendapat2 Muslim2 lain yg berusaha menyangkal keabsahan umur 9 tahun Aisha pada saat diconsummated. Selain daripada itu, bos saya setuju sepenuhnya dengan saya bahwa even di zaman barbar, praktek tua bangka 52 tahun consummated gadis kecil 9 tahun bukanlah hal yg lazim dan normal.

Saya masih jauh lebih menghargai muslim2 yg berusaha untuk mencari bukti bahwa usia Aisha bukanlah 9 tahun (terlepas dari mereka jadinya plintir2 ayat dan ngambil referensi tidak sahih) waktu dia di consummated. Muslim2 seperti itu jelas lebih jalan otaknya, sadar perdebatan apapun tidak akan dimenangkan oleh Muslim/ah selama mereka masih memegang theory Aisha berumur 9 tahun. Itu sebabnya muncul muslim2 seperti Minerva yg berusaha memberikan bukti/referensi lain mengenai umur 9 tahun, dimana jika mereka bisa memenangkan argumen bahwa umur Aisha bukanlah 9 thn, tuduhan terhadap pedophilia Muhammad akan dipatahkan.

Jadi bukan hanya saya dan para kaffir lain yg sadar weak point dari Muhammad untuk hal ini. Bahkan sodara2 muslimmu juga sudah banyak yg sadar akan hal ini, itu sebabnya sudah semakin berkembang theory2 dari Muslim yg berusaha menyanggah kevalidan umur Aisha. So let me tell you, bahkan lawan debat anda bukanlah cuman kami saja para kaffir, tapi juga sodara2 anda sendiri.

Untuk masalah anda dengan Yesus, saya akan more than happy untuk berdiskusi dengan Anda di topik diskusi yg baru.

Miss X wrote: Mas Pop yg saya hormati, ada baiknya jika semua dugaan sementara dari Mas Pop disertai dgn bukti – bukti dan referensi yg menguatkan yg menjadi pijakan dlm berfikir, bukan hanya sekedar omongan kosong yang “maksa” untuk dihubung – hubungkan. Saya tdk melihat adanya kerasionalan dalam berfikir seperti yg selalu dibangga-banggakan oleh kafir melainkan hanya tumpahan kebencian tanpa dasar yang jelas dan cenderung dibuat dan diada-adakan. Saya tidak memaksa Mas Pop untuk menerima Beliau sbg seorang Nabi, saya hanya meminta Mas Pop untuk mampu membuktikan semua tuduhan tercela itu dgn cara terpuji dan dgn referensi yg jelas.

Satu point pengakuan bahwa ada “kemungkinan” semua orang melakukan hal yang sama [ praktek pedophilia] sdh dgn sendirinya menjawab bahwa masyarakat tdk menganggap ini sbuah perbuatan tercela yg melanggar norma, lalu kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita?? Bagaimana jika kita meminta pendapat orang-orang zaman dulu ttg cara hidup kita, apa Mas Pop yakin bahwa mereka pasti mengaggap kita lebih berperadaban? Ini adalah standar yg benar – benar kacau balau.

Dear Miss X, kami para kaffir menggunakan referensi dari Hadits Sahih Bukhari, yg diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Anda butuh bukti apalagi selain itu?

Ada lebih dari 5 ayat Hadits sahih yg jelas2 menunjukkan Aisha berumur 9 tahun saat diconsummate oleh Nabi anda yg berbeda umur lebih dari 40 tahun darinya.

Dan terakhir saya temukan bukti lagi dari Sahih Hadits:
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

Anda baca baik2 referensi diatas. Bagian yg di bold, itu yg buat pernyataan tersebut bukan kami para kaffir, tapi si Penulis hadits sendiri. Ayat2 Hadits yg lain memang tidak ada yg terang2an nulis seperti itu, tapi ayat Hadits yg satu ini dengan begitu gamblang si Penulis menjelaskan kepada pembaca Muslim agar Aisha terbebas dari dosa penyembahan berhala. Bukti apalagi yg anda butuhkan?

Saya tertarik dengan kata2 anda : kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita.
Jika saya memaksakan anda harus menerima argumen saya, dan jika anda tidak bisa menerima, saya akan hukum anda, mungkin anda bisa bilang saya mendikte anda.

Kata dictator/diktator berasal dari kata kerja dictate/dikte, orang yg hanya mendikte orang lain untuk melakukan/mempercayai apa yg dia yakini terlepas dari benar apa salah, tidak ada yg namanya perdebatan dan argumentasi, dan jika orang lain tersebut menolak, maka akan ada sanksinya.

Saya seperti kaffir pada umumnya. Saya tidak terlahir dengan membenci Islam. Saya pikir semua agama baik. Saya tidak membenci Islam karena propaganda kaffir akan ajaran Islam. Tapi saya membenci ajaran Islam karena saya mengalami langsung tindakan permusuhan dan rasialisme dari Muslim/ah yg ketika saya compare dengan ajarannya ternyata match dan hampir semua kaffir di FFI juga ternyata mengalami pengalaman yg sama dengan saya. Awalnya kami juga berfikiran sama seperti anda itu adalah oknum.

Apa yg kami para kaffir lakukan hanya menyediakan wadah website dan mengadakan ajang debat logis dan biarkan independent reader/judger yg menilai Islam. Tidak ada hukuman/sanksi apapun jika tidak ada yg percaya dengan informasi kami, Jika karena kami mengkritisi moral Muhammad dengan akal logika kami, anda merasa itu berarti kami mendikte Muhummad, silahkan anda belajar lagi definisi kata dikte.

Itu sebabnya saya menyukai ide untuk berdebat di internet yg bisa dibaca oleh semua Muslim dan non Muslim, semua orang pro/anti Muslim atau orang yg netral/independent yg tidak memihak siapapun. Anda boleh berkata kami tidak rasionalis, tapi so far setiap kali saya memberikan argumentasi saya untuk dibaca orang yg tidak anti Islam sekalipun seperti bos saya, beliau tidak bisa menyanggah argumen saya. Apakah ini berarti saya lebih jago dari bos saya? Ini hanya membuktikan indenpendent judger bisa menilai kami secara objektif dan mengerti jalan logika kami terlepas dari mereka sendiri mungkin tidak anti Muhammad.

Miss X wrote: Saya ingin mengekspresikan rasa kecewa saya krn setiap kali muslim mengangkat perbandingan antara ajaran Islam VS agama-agama sebelumnya, Mas Pop dan teman – teman akan berteriak menang karena sepertinya kami ini telah tersudut sehingga menggunakan agama lain sbg tameng. Saya berusaha untuk tidak menyinggung tokoh agama maupun agama manapun krn saya benar – benar fokus sbg muslimah yg mencoba mengklarifikasi kerancuan cara berfikir kafir thdp Muhammad tp bkn berarti saya tak mampu membeberkan semua kebobrokan agama lain, toh itu tak sedikitpun membuat Mas Pop bergeming terhadap tuduhan-tuduhan yg ditujukan pada Islam dan Muhammad dan itu sedikitpun tdk menguntungkan saya . Tentu Mas Pop akan sangat kaget atau berusaha menutup – nutupi seandainya saya beberkan bahwa ternyata di Perjanjian Lama ternyata ada catatan ttg praktek Pedophilia bahkan dgn bocah berumur 2 thn tp anehnya saya tdk melihat adanya kecaman mengenai hal itu. Belum lagi praktek incest, selingkuh dgn menantu, berhubungan sex dgn budak, bahkan praktek poligami yg dilakukan oleh Yesus anda meskipun anda akan membantah bahwa itu tdk terdapat dalam Perjanjian baru. Tp Mas Pop, saya akan tetap anggap bahwa agama anda itu baik krn saya yakin bahwa banyak hal – hal baik didalam agama anda yg membuat anda tetap bertahan menganutnya . Jadi, kita tidak perlu OOT kemana – mana. Jika Mas Pop dkk keberatan jika kebobrokan agama anda diperbandingkan dgn Islam…maka jgn pernah berharap bisa memperbandingkan kebaikannya dgn Islam. Itu adalah sebuah prinsip yg fair. Saya tidak bodoh Mas Pop.

I’m fully agreed anda tidak bodoh.
Namun blind faith anda menguasai nalar anda, dan pada akhirnya blind faith anda yg menang.

Saya tidak akan menutup2i case incest, berhubungan sex dengan budak di Bible di Old Testament, bahkan saya bisa tunjukkan ayatnya. Saya tau jelas ayat apa yg anda maksud dan saya akui praktek itu memang terjadi di Old Testament. Tapi so far saya belum pernah ketemu satu referensi sahih dalam Bible yg mengizinkan praktek pedophilia. Keep in mind saya berbicara Bible, bukan Talmud, bukan buku2 Yahudi yg lain yg sering digunakan Muslim2 untuk menyerang Kekristenan. Sumber sahih umat Kristen diseluruh dunia hanya satu : BIBLE.

Tenang aja, jika anda ingin membuat diskusi baru mengenai Alkitab, saya akan dengan senang hati melayani anda.
Saya tidak bermasalah dengan kebobrokan agama kami para kaffir diperbandingkan oleh umat Islam. Namun satu hal yg saya cukup bangga katakan bahwa so far kami para kaffir belon pernah menemukan satupun kejahatan kemanusiaan yg dilakukan oleh oknum manapun yg bisa mengatasnamakan mereka lakukan dengan mengikut sunnah Sidharta Gautama atau Yesus Kristus. Kalaupun ada, tidak ada Bible atau Tripitaka sahih yg bisa mereka gunakan no matter how hard they want to twist the verse.

Miss X wrote: Saya tdk menyebutkan bahwa analogi saya diatas telah mewakili ttg apa yg sedang kita bahas. Saya hanya memberi satu gambaran bagaiamana lingkungan memperngaruhi cara berfikir manusia dimana seorang manusia akan berlaku sesuai apa yg ditetapkan lingkungannya sbg suatu hal yg baik.

Karena berkembangnya pola pikir manusia, sehingga lahirlah istilah Pedophilia di abad 20. Begitu banyak hal – hal yg melatarbelakangi hal ini, salah satunya karena banyaknya anak – anak yg menjadi korban pencabulan orang dewasa disuatu negara x dan amazing…justru istilah ini muncul di negara mayoritas kafir dgn sample kasus Pedophilia murni dinegara tersebut dgn Yesus sbg teladannya. Dengan orang sekelas Confusius dizaman pra Islam dan Richard von Krafft-Ebing diabad ke 20-an, bagaimana terdapat rentang waktu yg begitu jauh hanya untuk merumuskan satu istilah yg disebut PEDOPHILIA, wat happened??

Para pedophil dulunya kemana aja??

Mas Pop, coba sedikit kritis dlm berfikir…jgn kuasai diri anda dgn kebencian yg buta. Didalam rentang waktu yg begitu lama selalu ada alasan dan faktor – faktor, yg secara langsung maupun tidak, menggeser norma – norma dan nilai yg berlaku dimasyarakat, baik itu menuju kearah yg lebih baik maupun tidak. Apakah faktor – faktor itu? Karena kita sama-sama tidak hidup dizaman Aisha, untuk meneliti lebih jauh mslh ini , yg bisa kita lakukan hanyalah membuat hipotesa sementara. Salah satu dugaan sementara dari saya adalah perubahan bentuk tubuh manusia, bukan dari kera menjadi manusia tp adanya perubahan bentuk tubuh dan pernyusutan. Nanti dulu kita urusin masalah ereksi… nanti Mas Pop jadi tegang (heheh…bercanda Mas)

Sebagai contoh, It is a common knowledge even though the majority of American is so called a Christian, tapi hukum negara mereka memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan sekuler. Di Amerika sekolah Kristen yg memaksakan non Kristen untuk berdoa ala Kristen sebelum kelas dimulai akan bisa dituntut secara hukum. Gay marriage,abortion diperbolehkan karena hukum mereka tidak berasaskan Kekristenan, tapi murni hanya pada logika sekulerisme. So apa yg hendak anda point out jika memang istilah ini muncul dari negara mayoritas pengikut teladan Yesus? Memang betul negara mereka mayoritas ngaku Kristen, tapi jelas negara tersebut bukanlah mayoritas pengikut teladan Yesus karena itu jelas cacat logika since Jesus never set any example like that dari sumber sahih Bible.

Para pedophil dari dulu ya disitu-situ aja neng. Masalah istilah itu baru dirumuskan beribu-ribu tahun kemudian ga ada hubungannya dengan moral.

Hahahaaha….iya boleh lah kita urusin ereksi lagi nanti. Saya takut bisa ga ereksi nih kalo ngomongin bocah cilik 9 tahun terus.
Bagaimana kalo kita ngomongin tubuh wanita dewasa aja biar saya ereksi ? hahahaha….becandain kamu juga ah

Miss X wrote: Hmmm…masalah bermain boneka, coba Mas Pop lihat artis –artis di TV yg masih setia mengoleksi boneka hingga dewasa, apakah itu bs menjadi ukuran kedewasaan atau indikasi kecilnya ukuran “V” seorang wanita? NO WAY..

Saya bukan salah seorang pendukung teori evolusi Darwin krn saya berpegang pada Alquran yg mengatakan bahwa manusia diciptakan dlm bentuk yang paling sempurna. Saya tdk sedikitpun mau mengakui teori bohong yg diciptakan orang2 kafir yg mengatakan manusia adalah sbg hasil mutasi kera, biar Mas Pop aj yg meyakini hal itu [ heheh..becanda.com ]

Sekarang gini aja, berhubung kita2 sama ga hidup di zaman Muhammad Aisha, berarti kita harus bermain statistika.
Hadits Sahih dengan jelas mencatat informasi dibawah:
1. Usia Aisha 6 tahun
2. Aisha main boneka dan ayunan.
3. Keterangan dari Penulis Hadits mengapa Aisha diizinkan bermain boneka.

Jika hal ini dipaparkan bagi independent judger, walaupun mungkin tidak semua menyetujui argumen saya, tapi jika kita maen persentase kemungkinan, lebih mungkin diterima mana pendapat saya yg mengatakan bahwa Aisha masih bocah cilik VS pendapat anda yg mengatakan dia sudah dewasa? Memangnya berapa sih umur artist2 yg anda kasih referensi itu?

Kami akan terkesan maksa jika memang Hadits hanya mencatat bahwa Aisha maen boneka and kami mengclaim Aisha bocah cilik.
Namun Hadits juga memberikan kami informasi umur. Dan bahkan dari referensi yg saya berikan diatas, si Penulis Hadits bahkan memberikan pendapatnya mengenai kenapa Aisha diizinkan bermain boneka agar AIsha tidak dipersalahkan atas dosa penyembahan berhala. Pendapat dari Penulis itu jelas=>Aisha masih belon reached the age of puberty, masih di considered anak kecil.

Miss X wrote: Apa yg disebutkan Iman Syafii dlm pengalamannya itu adalah mengenai suatu masyarakat disuatu tempat…bukan satu dua orang yg punya kelainan hormon. Ada satu hadist yg shahih yg secara tidak langsung menguatkan pernyataan itu :

Rasullulah berasbda : “Allah menciptakan adam dengan tinggi enam puluh hasta. Kemudian setelah Adam, makhluk itu semakin berkurang tingginya seperti sekarang ini“ (HR.Bukhari)
1
Jika : 1 hasta = 45,72 CM maka tinggi Nabi Adam kurang lebih 27 Meter 2

Lalu bandingkan dgn tinggi manusia saat ini yang maksimal 2 meter :
27 – 2 M = menyusut hingga 25 M ? ini teori evolusi ala Rasulullah ya, dari hadist terpercaya yg dapat dijadikan hujjah.

Dalam rentang waktu dari :
zaman Nabi Adam ? Zaman Muhammad ? Zaman kita
kita prediksi penyusutannya :
27 M? 27~2 M ( ? ) ? 2 M

Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu. Tidak usalah kita bandingkan dgn manusia dizaman Adam, ukuran tubuh saya ketika kelas 6 SD 15 thn yang lalu dan ukuran tubuh keponakan saya yg kelas SMP saat ini saja, sudah beda jauhnya apalagi zaman kakak2 saya, mereka lebih montok – montok lagi. So, kemungkinan saya lebih besar bahwa bentuk tubuh Aisha saat itu sdh sangat mampu membuat seorang laki – laki ereksi bahkan berkali – kali.

Sebelum anda buru2 mengatakan theory anda lebih masuk akal, ada baiknya kita analisa dulu claim anda.
Sangat menarik membaca cara debat anda yg sering meminta saya memberikan bukti/referensi kepada anda mengenai praktek pedophilia dianggap tidak normal zaman dahulu kenapa ga ada sanksinya/cemoohan dan lain tapi anda sendiri jarang memberikan saya referensi logis untuk claim anda.

PR anda yg sudah saya jawab:
1. Mengapa Muhammad tidak dikecam pedophile jika melanggar norma2 barbar=> Jawaban saya, Perbudakan zaman dahulu juga
adalah praktek biasa dan tidak melanggar norma2 zaman barbar, tapi apakah berarti perbudakan bukan tindakan keji dan immoral?

Sudah berulang2 saya jelaskan anda tidak bisa berharap banyak dari normanya zaman barbar, tapi oke lah jika anda masih tidak
puas, anggap aja ini PR anda buat saya, karena anda tetap insist saya harus memberikan satu referensi aja mengenai norma zaman
barbar yg mengecam tindakan Muhammad.

PR saya buat anda, yg saya dapatkan dari argumen anda, SAYA AKAN APPLIED STANDARD ANDA, tolong gunakan independent reference/sumber pengetahuan yg diakui oleh dunia, bukan buku agama:
1. Berikan saya referensi dari sumber sejarah independent bahwa memang ada penemuan dan pembuktian bahwa wanita
zaman barbar yg berusia 9 tahun sudah mempunyai bentuk fisik tubuh seperti layaknya wanita dewasa normal
2. Berikan saya referensi dari sumber arkeologi/sejarah independent bahwa memang ada penemuan tulang belulang manusia zaman
purba yg berukuran 27 M
3. Berikan saya referensi dari sumber independent HANYA DIBUTUHKAN NIAT/KECERDASAN bagi manusia dewasa normal untuk dapet
EREKSI dengan bocah 9 tahun di jaman barbar.

Yg percaya manusia yg namanya NABI ADAM itu hanya agama2 yg dari line ABRAHAMIC, independent reader bahkan ga percaya ada manusia ya namanya Nabi ADAM. Berhubung saya juga kebetulan Kristen, saya hanya mengimani Adam memang ada (dalam perdebatan logis, saya bahkan ga bisa maksa orang atheist untuk percaya argumen saya karena memang tidak ada bukti, that’s why kata2 yg saya gunakan adalah IMAN), tapi even Christian ga ada yg percaya Adam berukuran 27 M. Hanya Muslim aja yg percaya theory itu

Jika saya hidup di zaman Muhammad, saya juga bisa buat referensi ngasal bahwa kakek buyut saya yg bernama si Cecep bertubuh dengan tinggi 100 m, mampu ngesex dengan 1000 wanita dalam satu hari tanpa ada jeda waktu untuk istirahat, saya jadikan claim saya sebagai buku dan saya ajarkan pada orang2 yg kemakan ajaran saya. Tapi independent reader akan menganalisa apakah benar claim yg saya ajukan dengan kecerdasan berfikir mereka. So what is the point jika anda memberikan saya referensi dari kata2 Muhammad sendiri bahwa Adam berukuran 27 m?

Sekali lagi…ini ajang perdebatan dengan menggunakan argumetasi logis, bukan hanya ajang mamer2in referensi.
Sebanyak apapun referensi yg anda dan saya paparkan, jika itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara logis, itu yg dinamakan ajang mempertunjukkan kebodohan.

Apakah anda bisa terima referensi kitab dari Budhist yg mengatakan bayi Sidharta Gautama yg barusan lahir sudah bisa berjalan dan berbicara dengan bahasa manusia dewasa (bayi sakti)? Jika anda bisa terima, tolong jelaskan ke saya dengan menggunakan bukan hanya referensi tapi juga dengan logika berfikir. Anda sendiri loh yg mengagung2kan statement dari muslimah FFI => yg penting proses berfikir. Ayo tolong beri saya proses berfikir anda jika anda bisa terima referensi dari kitab suci umat Buddha. Standard anda dalam menilai Sidharta seharusnya juga sama dengan standard anda dalam menilai self proclaiming Muhammad akan Nabi adam yg ukurannya 27 m.

Miss X wrote: Sebelum memulai hubungan kali pertama, Rasul berpesan agar jangan terburu-buru. Alangkah baiknya dimulai dengan kelembutan dan kemesraan. Misalnya, dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. Sebagaimana hadis Asma’ binti Yazid binti as-Sakan r.a., ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah SAW. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk disamping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah SAW disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazin berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah SAW!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” (HR. Ahmad di kitab Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah)

Coba diperhatikan dgn seksama, sepertinya Aisha juga tau apa yg bakal terjadi padanya di malam pertama diusianya yg 9 thn. Apa ada sebuah kesan paksaan terhadap seorang anak kecil untuk melayani nafsu seks seorg lelaki tuadari hadist diatas ? Apakah menurut Mas Pop, jika ada bocah 9 thn zaman sekarang mengahadapi malam pertama apakah akan sama seperti Aisha menghadapinya ?

Sejak awal diskusi saya tdk pernah merasa mempermasalahkan apakah 6 apakah 9…wlpn nanti katanya 2, well wateverlah. Saya mengatakan hal itu slm rangka menampik kesesuaian predikat “Sang Pedophilia” pd Muhammad mengenai pernikahannnya dgn Aisha..dgn menuntut kejelasan standarnya. Toh dari tadi saya belum melihat Mas cukup berani mengakui bhwa standar yg Mas dkk pakai itu sebenarnya sangat dipaksakan.
Jika Mas Pop menggunakan baju alam anak muda yg modern…tentu Mas Pop tidak akan terima jika dianggap edan oleh orang tua Mas Pop yg bergaya ala A Rafiq di era 80-an. Begitu juga sebaliknya, tentu mereka gak akan terima dianggap bergaya ketinggalan zaman oleh Mas Pop khan?

Saya setuju dengan Anda, memang tidak ada paksaan terhadap AIsya. Aisyah adalah istri favoritnya Muhammad, MUhmmad mencintai AIsha melebihi istri2 lainnya, saya tidak menentang akan hal itu. Apakah pernah saya bilang Muhammad maksa Aisha ngesex dengannya?

Sekarang gantian anda yg perhatikan baik2 definisi pedophilia di wikipedia (atau sumber lain anda boleh cari):

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


As a medical diagnosis, pedophilia (or paedophilia) is typically defined as a psychiatric disorder in adults or late adolescents (persons age 16 and older) characterized by a primary or exclusive sexual interest in prepubescent children (generally age 13 years or younger, though onset of puberty may vary). The child must be at least five years younger in the case of adolescent pedophiles.[1][2][3][4] The word comes from the Greek: pa?? (paîs), meaning “child,” and f???a (philía), “friendly love” or “friendship,”[5] though this literal meaning has been altered toward sexual attraction in modern times, under the titles “child love” or “child lover,” by pedophiles who use symbols and codes to identify their preferences.[6][7] The International Classification of Diseases (ICD) defines pedophilia as a “disorder of adult personality and behaviour” in which there is a sexual preference for children of prepubertal or early pubertal age.[8] The term has a range of definitions as found in psychiatry, psychology, the vernacular, and law enforcement.

Sampai hari ini saya belum menemui referensi manapun yg menyatakan pedophilia harus ada unsur PAKSAAN

Lagian apa juga hubungannya juga dengan baju era 80 dengan gaya baju masa kini VS orientasi sexual zaman purba dan zaman sekarang? Cara anda menjawab untuk hal ini tidak ada bedanya dengan argumen anda sebelumnya mengenai standard zaman dahulu dengan standard zaman sekarang mengenai pernikahan dengan bocah cilik yg sudah saya jawab dalam argumen2 saya sebelumnya.

Gaya baju manusia bisa berkembang dan bisa berubah2 sepanjang masa. Tapi orientasi sex normal laki2 akan tetap sama dulu sekarang dan sampai selama2nya.

Miss X wrote: Saya beragama Islam sejak saya lahir kedunia ini dan saya sgt tau ttg Islam dan Muhammad…jauuhhh melebihi Mas Pop dkk. Jika Mas Pop hanya bisa menilai Islam dan Muhammad dari sampulnya, maka saya sudah menilai Islam dan Muhammad sampai ke daftar pustakanya. Begitu pula sebaliknya ketika saya mulai menilai agama anda dan para tokohnya. Justru karena kita sama – sama tdk hidup dizamannya, oleh sebab itu saya taupun Mas Pop tak perlu terlalu yakin kl tuduhan – tudahn Mas Pop beserta bumbu – bumbunya itu sdh pasti benar. Oleh sebab itu, gunakanlah hujjah yg benar untuk menguatkan tuduhan itu dgn logika yg masuk akal supaya tuduhan – tuduhan itu terlihat ada bobotnya.

Perasksian itu masalah iman dan itu tdk sama dgn pengadilan dunia. Tdk ada yg salah dgn kalimat syahadat itu kecuali jika berbunyi :

Saya bersaksi melihat Allah dan saya bersaksi melihat Muhammad, dan kami beriman karenanya.

Saya ini muslim bukan atheis atau agnostic pendewa akal dan logika. Jika anda dilahirkan yatim piatu dan tak pernah melihat ayah dan ibu anda sekalipun, bgmana anda bisa yakin kl anda itu punya orang tua yg melahirkan anda? Saya semakin yakin bahwa yg merasuki jiwa kafir itu hanya kebencian dan kebodohan krn sedari tadi, Mas hanya bisa menghina – hina dgn hujjah berupa dugaan – dugaan yg tdk jelas hubungannya. Cobalah tunjukan anda itu bukan sekelas netter yg biasa nyampah saja…wlpn selalu menggunakan bahasa keren tapi tak ada bobotnya..( mohon maaf Mas Pop )

Dear Miss X,
Dikarenakan anda tidak hidup di zaman Muhammad, so dengan cara apa anda mengenalnya? tentu dari referensi Hadits2 serta pustaka2 Muslim yg lain kan? So what dengan Anda yg sudah muslim sejak lahir?

Pengetahuan yg anda dapatkan either orangtua anda/ustad atau siapapun juga dari buku sejarah pustaka Islam. Selama kami para kaffir masih tidak buta huruf, apa yg anda pelajari juga bisa kami pelajari. Bagaimana anda mungkin lebih mengenal Muhammad dibandingkan kami ?

Yg berbeda antara kaffir dan muslim adalah cara kita dalam menganalisa referensi2 sahih muslim serta segudang buku pustaka lainnya.

Tuduhan2 kami menggunakan sumber sahih Muslim sendiri, kenapa anda tidak bisa terima kenyataan itu?
Jika ngomong pengalaman spiritual, mungkin Muslim bisa claim karena kalian somehow merasakan muhammad dalam doa kalian, mimpi kalian, hal2 mukjizat lain, sedangkan kafir tidak. Well itu adalah pengalaman anda yg tidak bisa dibuktikan dengan logika dan tidak valid dalam sebuah debat yg menggunakan logika.

Sekali lagi jika back ke argumentasi logis dan debat dengan akal sehat, tolong berikan bukti yg berbobot jika anda mengenal Muhammad lebih dari kami.

Mengenai tidak ada yg salah dengan kalimat syahdaat, terus terang selama saya belajar bahasa, saya belon pernah menemukan referensi yang mengatakan bahwa KESAKSIAN juga bisa diartikan IMAN. Tolong berikan saya independent reference yg bisa menguatkan argumen anda.

Jika saya lahir tanpa ayah dan ibu saya tentulah tidak sulit bagi saya untuk tau bahwa ada orang tua yg melahirkan saya. Karena seiring dengan saya bertumbuh besar, kecerdasan saya juga bertambah, saya akan melihat teman2 saya yg lahir dan punya orang tua, bahwa untuk lahir dibutuhkan persetubuhan antara laki2 dan perempuan.Akan beda ceritanya jika anda bertanya kepada saya, darimana saya bisa tau siapa orang tua asli saya.

Adalah hak anda jika anda beranggapan saya hanya netter sekelas sampah. Tapi silahkan anda kumpulkan semua email2 dari kita berdua dari awal hingga hari ini, anda print dan berikan kepada independent reader (non Muslim, non Christian, yg tidak bela agama manapun). Anda lakukan pooling penilaian mereka atas jawaban anda dan jawaban saya. Jika memang ternyata argumen anda yg memenangkan pooling, feel free to say anything you want about me. Saya merencanakan untuk melakukan pooling ini untuk introspeksi diri saya sendiri apakah saya memang hanya netter sekelas sampah seperti yg anda katakan. Dengan pooling tersebut, kita bisa menunjukkan siapa sebenernya yg nyampah disini.

Saya sudah mulai terbiasa dikatakan netter sampah dan bodoh dari Muslim setiap kali saya menghina Muhammad (walaupun saya tidak pernah mengatakan logika netter lain bodoh jika mereka menghina Yesus). Saya tidak menampik saya akan emosi jika orang lain menghina saya, tapi jika orang lain menghina dan menjelek2an Yesus (walaupun tentu saya akan sedih), kenapa juga saya harus tuduh orang lain bodoh dimana pada kenyataanya memang saya tidak bisa menjelaskan semuanya secara logis tentang Yesus. Itulah yg saya berasa aneh dari kalian Muslim. Cinta kalian terhadap Muhammad membutakan kalian semua dan kalian rela untuk mengatakan orang lain bodoh, tidak berotak, ngucapin sampah, padahal yg kami kritik itu Muhammad, bukan kalian (dengan bukti2 dari Hadits sahih kalian sendiri DAN dengan argumentasi, bukan cuman sekedar kritik doang). Itulah yg namanya fanatisme blind faith.

Miss X wrote:Jelaskan dulu, mau pakai standar apa?

Standard logika yg tidak perlu harus menjadi Muslim, Buddhist, Christian atau penganut agama manapun untuk bisa mengerti penjelasan anda, yg dibutuhkan hanya akal sehat.

Miss X wrote:Saya setuju bahwa perlu ada seorang independent judger yg bisa menilai dgn lebih objektif ttg permasalahan yg kita sedang diskusikan, tp pertanyaannya siapa ? Dlm sebuah pertandingan piala dunia, juri yg dipilih tdk pernah berasal dari salah satu dari 2 negara yg bertanding. Brrti dlm hal ini yg seharusnya mjd independent judger itu adalah org yg sama sekali tdk beragama. Tp dikarenakan keyakinan ISLAM yg benar itu VS semua agama dan kepercayaan (termasuk atheis dan agnostic) bahkan dari internal Islam sendiri, berarti independent judger yg anda bilang itu sbnrnya tdk pernah ada jika kita memadang suatu permasalahan berdasarkan kepercayaan masing – masing.

Dalam diskusi ini saya sangat berusaha untuk tdk menggunakan link – link berbau Islam , itupun kl anda jeli memperhatikan. Saya juga bnyak menggunakan pendapat – pendapat dari pakar2 sosiologi seperti Talcot Parson dan MJ Lawang. Mereka tdk ada urusan dgn agama dan mereka juga buka orientalis atau kafir pro Islam…tp pendapat – pendapat mereka saya gunakan sbg pijakan saya dlm berargumen. Jd, saya rasa saya sdh menggunakan judger yg paling independent yg tdk bersangkut paut dgn agama.

Kita sedang berargumentasi secara logis, jadi logika yg kita gunakan harus bisa diterima oleh orang agnostik, atheist dan pemeluk agama manapun selama otak mereka masih sehat dan mengerti artinya perdebatan logis. Mao kaffir tersebut pro Islam atau anti Islam, jika memang argumennya masuk akal, akan saya terima. Jika argumennya ga logis, biarpun anti Islam sekalipun tidak akan saya gunakan sebagai referensi.

That’s why ketika anda tanyakan saya standard apa yg hendak digunakan, saya dengan santai jawab standard logika yg ga perlu jadi Muslim, Budhist, Christian atau pemeluk agama manapun.

Saya setuju dengan anda independent judger itu ga pernah akan ada jika kita memandang dari kepercayaan kita masing2. Dan pengertian argumentasi logis adalah kita beradu-argumentasi dengan logika kita, bukan dengan sentimen kepercayaan. Itu sebabnya jika kita ingin beragumentasi secara logis untuk membela agama kita, gunakanlah logika dan research, bukan hanya ajang mamer2in referensi. Ayat2 dalam kitab suci kita (mau dari agama manapun) tidak akan berarti apa2 jika itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara logis dalam argumentasi yg menggunakan akal logika.

Saya sendiri juga mengakui even though saya beriman dengan Yesus, tapi tidak semua pertanyaan tentang diriNya bisa saya jawab dengan argumentasi logis. Pendiri FFI international ALi Sina sendiri pernah mengeluarkan statement Yesus itu hanya mitos, mukjizat Yesus hanya claim kosong orang Kristen, namun ia tidak bermasalah dengan siapapun yg nyembah apapun, batu sekalipun selama kepercayaannya tidak membahayakan hidup orang lain. Saya sebagai Christian ga maksa berdebat dengannya, bahkan saya tidak menganggap hal itu sebagai suatu hinaan selama memang saya tidak bisa membuktikan secara logis, demikian juga umat2 Kristen yg lain.

Inilah yg saya aneh dari para muslim pecinta MUhammad. Mereka ngakunya bukan pendewa akal logika, tapi maksa untuk ngadu debat secara logis dan ngotot harus menang dalam perdebatan menggunakan logika. Kalo udeh nyenggol Muhammad, apapun yg ngaco juga harus jadi benar.

Miss X wrote:Mas Pop benar, My faith is blind in ur opinion…but ur faith is blind too in my opinion… so, do u agree if I tell u that all faith make people blind? Sebenarnya kita tidak buta, hanya saja org yg menganggap kita buta menutup mata untuk menerima apa yg kita yakini. Saya tidak mau menerima alasan kenapa anda mempertuhankan manusia dan andapun tdk mau menerima alasan mengapa muslim mencintai Muhammad dgn segudang kontroversinya. Tp itulah keyakinan… tdk ada yg mengetahui mengapa kita meyakini sesuatu melebihi diri kita sendiri. Seharusnya tdk perlu permasalahkan dgn claim “paling benar” krn yg terpenting adalah kita telah mengikuti apa yg menurut kita paling benar.

I’m totally agreed with you, my faith is also a blind faith, that’s why saya ga pernah maksa beradu argumentasi dengan para agnostic, atheist, dengan siapapun selama perdebatan dengan menggunakan referensi saya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara logis, dan seperti saya singgung sebelumnya, saya bahkan akui tidak semua hal yg bisa saya jelaskan secara logis mengenai iman saya dengan Yesus. Manusia ga bisa hidup hanya dengan mengandalkan logika.

Saya bahkan tidak bermasalah jika Yesus dihina, dikoreksi secara logis. Dan saya akan akui jika memang adu argumentasi dari lawan debat saya (mau apapun latar belakang kepercayaannya) jika common sense argumennya masuk akal. Berbeda banget dengan muslim2 yg ngeclaim Islam yg terhebat, sumber dari semua pengetahuan, namun ketika debat, sering menggunakan argumentasi yg bisa membuat orang yg masih waras tertawa terpingkal2.

Miss X wrote: Diawal saya menanyakan kpd Mas Pop, dizaman Muhammad dan sesudahnya adakah orang yg complain, baik dari sahabat maupun musuh2nya, mengenai keputusan beliau untuk menikahi gadis berusia 9 thn..mesti Mas Pop tau bahwa saya mengajukan pertanyaan ini bkn dalam rangka mengadakan pembenaran thdp apa yg Mas Pop sebut Pedophilia [dgn norma dan nilai yg saya anut saat ini tentunya] tp dikarenakan saya sangat menyadari bhwa kita berdua sama – sama tdk hidup dizaman Rasulullah begitupun Bukhari dan Muslim… jadi saya rasa penting untuk mengumpulkan adanya bukti – bukti empiris yg menyatakan bhwa perbuatan tsb adalah sebuah tindakan asusila sehingga Muhammad tdk pantas disebut sbg teladan, dan saya rasa saya telah mengatakan ini berulang – ulang. Jika Bukhari meriwayatkan usia Aisha yg 9thn saat dinikahi dgn suatu keterangan bhwa beliau itu msh belum dewasa…itu sama sekali tdk membuktikan bahwa Aisha itu belum bisa membuat pria ereksi. Pendapat pribadinya itu tdk bs dijadikan hujjah sehingga masih berpeluang adanya khilafiah dikalangan ulama.


Sahih Bukhari
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

‘A’isha (Allah be pleased with her) reported that Allah’s Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen years old. [Sahih MUslim 8:3311]

Dari 2 sumber sahih yg diakui Muslim diatas saja sudah jelas bahwa Aisha was only a little girl, not even yet reached the age of puberty. Pada saat married dengan Nabi tercinta anda, AIsha masih bawa bonekanya dan tidak dianggap melakukan pelanggaran penyembahan berhala karena dia masih bocah cilik. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan pada anda orientasi sex normal laki2 ga mungkin berbirahi dan ngesex dengan bocah cilik dan hal itu berlaku sepanjang masa, Bukti apalagi yg anda inginkan ?

Jika pendapat pribadi Sahih Muslim yg masuk akal aja tidak bisa anda terima, kenapa juga anda ingin saya menerima norma2 barbar yg tidak mempermasalahkan tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah cilik 9 tahun ?

Miss X wrote:Pengendali sosial ( Social Controlling ) adalah salah satu upaya masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai positif agar tidak dilanggar. Ini merupakan suatu wujud reaksi ketidaknyamanan akibat defisiensi moral yg dilakukan oleh seseorang atau sekelompok org. Dgn kata lain, jika salah satu saja dari alat – alat pengendali sosial itu diberlakukan [ contohnya gosip dan cemoohan] maka itu mengindikasikan adanya pelanggaran nilai dan norma dimasyarakat baik internal maupun universal. Meskipun Mas Pop berdalih tdk mudah mendapatkan referensi mengenai keasusilaan seorang pedophilia dgn alasan bahwa appn yg berhubungan dgn wanita itu tdk mendapatkan perhatian khusus sehingga mslh ini diabaikan karena kebar-baran pola pikir manusia zaman dulu, tetap saja untuk melontarkan suatu tuduhan..kita perlu bukti. Baik, anggap saja Bukhori dan para salafus shalih adalah pengikut “ABS” alias Asal Bapak Senang, tapi musuh-musuhnya tdk akan berbuat demikian bukan? Turunlah ayat Alquran yg menghapuskan budaya masyarakat Arab yg menganggap haram menikahi mantan istri anak angkat. Issue ini dikupas tuntas didalam periwayatan hadist.. bagaimana Abdullah Bin Ubay menggunakan senjata ini untuk menghembuskan fitnah sehinnga banyak kritik2 yg dilontarkan pd Muhammad, detail tanpa ada yg ditutupi. Ini menjadi bukti betapa menikahi Zainab merupakaan suatu cela dimata masyarakat sehingga kasak – kusuk yg beredar dimasyarakat sngt berpotensi mengancam reputasi Muhammad seandainya tdk ada ayat yg turun untuk mengclearkan mslh ini. Lalu kenapa kritik thdp pedophilia ini tdk satupun tercatat dalam sejarah Muhammad? Saya tdk meminta banyak hanya bukti, semua yg menyangkut Rasulullah itu pasti bisa anda dapati dlm periwayatan hadist tanpa perlu mencari referensi dari zaman pra Islam… tdk perlu menerka-nerka atau membuat sebuah asumsi tanpa pinjakan. Jika sampai tdk bisa anda temukan, maka berarti anda belum bisa membuktikan appn dan tuduhan ini hanyalah sebatas sentimen golongan semata.

Anda boleh katakan saya berdalih, tapi mari kita kaji claim Islam akan Nabi anda :

Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow. For a Muslim to suggest otherwise (thereby conceding that Muhammad’s actions are immoral when compared to today’s standards) would constitute apostasy via blasphemy in belief[12] and would make them liable for the death sentence under Islamic laws.

Nabi anda itu dikatakan, the perfect human, whose example is worthy of imitation dan bilang his morality as sublime and perfect example to follow. Klaim sesumbar ga tahan ini menjadi ajang pertanyaan semua orang yg masih waras otaknya. Anda terus menerus meminta kami jangan compare tindakan Muhammad dengan standard zaman ini dikarenakan Muhammad adalah product dari zamannya so dia hanya terikat oleh moral pada zamannya. Masalahnya Quran sendiri bilang dia itu manusia sempurna, moralnya beyond the contstraint of time, sungguh ga tahan banget sombongnya claim ini, so apa yg aneh kami mencoba mengcounter Quran dengan membandingkan dengan standard zaman ini?

Seandainya tidak ada omong besar dari Quran akan kehebatan moral dan kesempurnaan MUhammad serta tindakannya yg katanya berlaku untuk sepanjang zaman, mungkin saya masih akan mempertimbangkan argumen anda yg meminta kami untuk tidak menjudge dirinya dengan standard zaman ini.

Mengenai masalah haram menikahi mantan istri anak angkat, tolong berikan saya referensi yg menunjukkan Muhammad menikahi mantan istri anak angkatnya. Karena setahu saya, kronologisnya adalah Muhammad yg mu-peng/naksir duluan terhadap Zainab dan Zainab laporkan kepada Zaid. Setelah itu ga ada angin dan ga ada ujan tau2 Allah Islam membuat Zainab tidak menarik lagi bagi Zaid, yg pada akhirnya mengakibatkan Zaid menceraikan Zainab.

Tabari VIII:4
Suatu hari Muhammad pergi mencari Zayd. Ada satu penutup kain di atas lubang pintu, tetapi angin mengingkapkan tirai itu sehingga lubang pintu terbuka. Zaynab berada di kamarnya, telanjang, dan kekaguman terhadapnya memasuki hati Nabi. Setelah itu Allah membuatnya tidak menarik bagi Zayd.

Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa IA BERSEDIA MENCERAIKANNYA. Lalu kata Nabi kepadanya:
“Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah.”
Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.Kemudian IA DICERAI.

Miss X wrote: Tdk hanya perbudakan, bahkan zina dan mengubur anak perempuan hidup – hidup di Arab, bunuh diri di Jepang, dan kanibalisme di daerah pedalaman saja bisa diterima jika mmg itu adalah nilai dan norma yg telah disepakati bersama sbg suatu budaya dan jalan hidup. Kita tau bahwa zina dan alhkohol itu tdk bermoral, tp orang – orang barat yg kental dgn hal – hal yg berbau keduniawian (hedonisme)dan menjunjung tinggi kebebasan menganggap freesex bknlah pelanggaran moral tp nilai yg mereka anut itu tdk berlaku bagi orang – orang Timur yg kental dgn hal – hal berbau ketuhanan yg sangat mengecam perzinahan dan alkohol. Lalu keabsolutan definisi moral dlm pandangan anda itu apakah berlaku dlm kasus ini? Nilai itu undifined berarti moralpun tdk punya kriteria pasti dan ternyata andapun sependapat dgn saya.

Jadi apakah salah jika saya bilang mengubur anak perempuan hidup2 di Arab adalah tindakan immoral baik zaman dulu maupun zaman sekarang?

Jika mengikuti standard anda, berarti orang zaman dahulu tidak terikat dengan norma zaman sekarang, maka => adalah sah dan bermoral saja jika tindakan mengubur anak perempuan hidup2 di Arab yg dilakukan oleh orang2 yg hidup sebelum zaman Muhammad. Sungguh menggelikan bukan?

Bahkan kanibalisme pun anda katakan OK selama norma zaman itu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sungguh saya tidak habis pikir kenapa anda begitu kekeh menggunakan norma dalam argumentasi logis kita. Sepertinya Kanibalisme pun terlihat indah di mata anda jika norma jaman dulu tidak mempermasalahkan hal tersebut. All in the name of NORM.

Norma bisa berubah sepanjang zaman, namun standard moral dan orientasi sex normal laki2 akan tetap bisa di-apply DULU, SEKARANG, DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA.

Walaupun tradisi mengubur anak perempuan di Arab bisa diterima jika itu telah disepakati oleh norma/budaya, namun bukan berarti tindakan tersebut adalah hal yg bermoral, itu hanya menunjukkan budaya barbar masa lalu. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan jika praktek pedophilia tidak dikecam in ancient times, bukan berarti hal tersebut adalah hal yg bermoral. Apa sih yg bisa anda harapkan dari norma2 zaman barbar? Hanya segelintir orang2 seperti Rufus dari Roma yg menghargai harkat dan martabat perempuan di era barbar.

Siapa bilang alkohol itu hal yg tidak bermoral ? Minum alkohol adalah salah satu cara untuk menghangatkan tubuh di negara2 bermusim dingin.
Minum alkohol tidak selalu mengakibatkan mabuk as long individu yg meminumnya ngerti yg namanya self control. Tolong jangan bawa2 budaya Timur mengenai alkohol itu haram, hanya Muslim aja yg percaya hal itu. Kami para kaffir dari negara Timur tau dampak dari minum alkohol secara berlebihan dan masuk akal jika hal itu diharamkan, dan even negara2 non Muslim masa kini aja ada pengecekan jam malam untuk setiap driver yg meminum alkohol melampaui batas. Hanya muslim yg totally mengharamkan minum alkohol berapapun dosisnya.

Miss X wrote:Bukankah benar bahwa sepenuhnya agama tdk bisa disalahkan karena mayoritas ?? Semua tergantung ideologi.

Benar. Itu sebabnya yg kami kaji adalah Islam teaching yg di-compared dengan tindakan2 dari Muslim. Ternyata banyak yg selaras.

Miss X wrote:Hmm…pertanyaan yg bagus dan saya balik brtanya pada anda jika meminum alkohol menimbulkan sebuah dosa kefasikan ketika Muhammad diperintahkan untuk mengharamkan muslim untuk meminumnya, apakah hukum tersebut berlaku untuk orang – orang sebelumnya yg tdk tau bahwa alkohol itu haram ? Tentu tidak, sdh saya katakan bhwa nilai dan norma itu dibuat atas kesepakatan bersama sehingga menjadi sebuah jalan hidup. Dizaman ini, kita bisa mengatakan bahwa menikahi gadis berusia 9thn itu amoral dan saya setuju akan hal itu…tp itu hanya berlaku setelah hukum itu diciptakan dan tidak berlaku bagi Muhammad. Jika kita gunakan standar moral kita untuk menilai orang2 zaman dulu…maka tentu mereka adalah mayoritas manusia tak bermoral.

Sekali lagi hanya Muhammad dan pengikutnya yg cinta mati dengan dirinya yg beranggapan itu dosa kefasikan dan totally nge-banned alcohol. Sudah saya jelaskan sebelumnya, dalam takaran yg wajar, alcohol sendiri banyak gunanya, salah satunya adalah menghangatkan tubuh dari cuaca yg extreme dingin. Anda bisa searching sendiri referensinya di google dengan keyword : what is the benefit of drinking alcohol, dan anda akan temukan manfaat lain dari alcohol selama diminum dalam batas yg normal.

Kembali saya ingatkan kepada anda:
Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow.

Benar kata pepatah: padi itu semakin berisi semakin nunduk. Semakin besar claim besar dan omong besar dari Quran akan Muhammad, semakin besar pula responsibilities yg dia harus tanggung. Tong kosong emang nyaring bunyinya.Jika dia memang perfect human, sudah seharusnya semua tindakannya bisa ditiru dan diapplied di segala zaman.

Kalo anda tetep insist mengunakan argumen Muhammad adalah product pada zamannya dan hanya terikat pada norma zamannya, silahkan anda pelajari kembali kata uswa hasana, al-Insan al-Kamil => PERFECT HUMAN WHOSE EXAMPLE IS WORTHY OF IMITATION.

Miss X wrote:Saya akan terus mengulangi bahwa saya tdk pernah mempermaslahkan berapa umur Aisha saat dinikahi dan jangan memaksa saya untuk mempermasalahkannya. Hadist itu shahih berasal dari Bukhari dimana tdk ada satupun ulama yg meragukan kesahihan hadist2 yg beliau riwayatkan, lalu man anayg ingin mengoreksi sesorang yg sgt wara’ dan kompeten dlm periwayatan hadist seperti beliau? Sudah saya katakan sebelumnya…ketika saya menerima hadist2 yg baik mengenai Rasulullah dari Bukhori maka berarti sayapun harus menerima hadist2 ttg beliau yg tdk sreg dihati saya. Tp bukan berati saya ini pengekor, tp saya meyakini satu hal..ketika Allah mengatakan dia adalah sbg suri tauladan, maka saya meyakini bahwa dirinya tiada cacat sehingga saya mencari an explanable reason yg pasti melatarbelakangi setiap tindakannya. Saya bertuhankan Allah bukan Muhammad.

Adakah dari argumen saya yg stated bahwa Anda mempermasalahkan hal tersebut?
Saya tau jelas anda golongan Muslim yg tidak mempermasalahkan umur 9 tahun Aisha diembat oleh Muhammad, itu yg menjadi ajang perdebatan panjang lebar kita hingga saat ini kan ?

Mengenai statement anda yg berkata anda tidak bertuhankan Muhammad, Pernahkah anda menemukan kafir masa kini (dari agama manapun) yg akan membunuh/mengeluarkan fatwa kematian bagi orang yg menghina Nabi besarnya?

Anda boleh katakan itu oknum, tapi jika itu memang oknum, sungguh kami para kaffir geli, kok bisa ya banyak umat Islam yg masih mewarisi culture barbar zaman kuno. Kalian sibuk menyanggah kami yg menghina Muhammad, tapi jarang ada yg sibuk ngurusin sodara2mu sekelas FPI dan temen2nya yg bahkan bisa membunuh sodara Ahmadiyah mereka sendiri hanya dikarenakan mereka tidak mengakui Muhammad sebagai the last prophet. Apapun yg menyangkut Muhammad jika diperdebatkan secara publik, selalu ada ancaman kematian. Sungguh saya berdoa biar semakin banyak muslim yg elite otak dan baik akhlaknya.

Sayangnya doa saya tinggal doa, pada kenyataannya, di negara manapun (terutama negara penganut Syariah), selalu setiap ada tindakan either menghina Muhammad, membakar Quran, sodara2 seimanmu diseluruh dunia (bukan cuman di Indonesia) akan demo gila2an, ga jarang2 keluarin fatwa kematian, serta aksi2 demo yg berdampak korban kematian. Semua ini hanya dikarenakan satu hal : MENGHINA MUHAMMAD. Dan yg mengeluarkan fatwa ini bisa membela diri dengan ayat2 Hadits/Quran, luar biasa bukan ?

Jika kalian mengaku bertuhankan Allah bukan Muhammad, kenapa harus ngamuk dan membabi buta jika ada yg ngejelekin Muhammad? toh dia hanya manusia? Christian masa kini yg nge-claim Yesus sebagai Tuhan aja ga akan bunuh orang jika ada yg bilang Yesus bukan Tuhan. Kalimat syahadat dan doa2 kalian aja harus bawa2 nama Muhammad. Kalian memperlakukan Muhammad hampir setingkat dengan Tuhan.

Miss X wrote:Hmm…jika anda hanya perlu melontarkan tuduhan pedophilia berdasarkan hadist sahih Bukhori tanpa mampu membuktikan referensi2 yg saya minta sbg bukti, kenapa anda memungkiri teori yg saya buat dari hadist shahih yg berasal dari orang yg sama. Sudah jelas khan angka 60 Hasta, sama jelasnya dgn angka 9 dihadistnya… kenapa perlu penjelasan ? Jgn lupa, referensi kita sama – sama sahih dan saya tdk memungkiri angka 9 seperti anda memungkiri angka 60.

Saya sangat mampu untuk membuktikan apa yg saya katakan dgn logis…but its unfair. Selalu anda meminta penjelasan dan bukti pada saya tanpa ada feedback. So, saya sangat menunggu sesuatu yg sangat WAW dari argumen anda yg benar – benar tak bisa saya bantah..tp sampai saat ini saya belum membacanya.

Referensi anda memang sahih, tapi mari kita flashback argumentasi kita di email2 kita sebelumnya:

Pop eye => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Nabi Muhammad memang ngesex dengan bocah 9 thn yg bahkan belon reach the age of puberty.

Analisa=> Memang praktek ngesex dengan bocah kecil terjadi di masa lalu bahkan di negara non Muslim sekalipun, salah satunya pernikahan in ancient times, the minimum age of getting married was 12 (

http://en.wikipedia.org/wiki/Marriage

). Jika zaman dulu ancient Roman menerapkan minimum age of 12, jadi ga gitu aneh jika peradaban sekelas Arab tidak bermasalah dengan ngesex dengan bocah 9 tahun (walaupun sekali lagi tidak lazim tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah 9 tahun even di masa Muhammad sekalipun).

Dengan dasar logika itu maka Pop eye berkesimpulan bahwa referensi sahih Muslim ini memberikan informasi bahwa memang praktek nikahi bocah cilik 9 tahun tidak dipermasalahkan di zaman Muhammad, dan informasi sahih Muslim ini bisa dianggap valid, karena ada common sensenya, validitas angka 9 tahun ini bisa dipercaya dikarenakan tidak terdapat perbedaan yg mencolok antara 9 thn dan 12 thn in ancient time culture

Miss X => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Muhammad berkata : Nabi Adam tingginya 27 m (60 hasta)

Analisa => tidak ada analisa, hanya menggunakan referensi sahih. Tidak pernah ada penemuan purbakala yg pernah menunjukkan manusia dengan tinggi 27 m

Referensi sahih memang mengutip bilangan 9 dan 60 hasta, namun apakah anda bisa berargumentasi dengan menggunakan logika yg bisa diterima oleh orang waras adalah perkara yg lain.

Terus terang saya agak bingung dengan cara berdebat anda. Ketika saya menantang anda untuk membuktikan saya normal/tidak normal dalam kasus pedophilia, setidaknya saya melakukan 3 hal berikut :
1. Saya adalah pelaku active, dan saya sama sekali tidak bisa ereksi ketika pantat anak perempuan temen saya yg berusia 6 thn mengenai penis saya, mao saya NIATIN maupun engga.
2. Saya lakukan research dengan bertanya kepada laki2 normal lainnya, dan mereka juga mengalami hal yg sama.
3. Saya cari sumber referensi dari artikel/buku dari sumber independent/ilmu pengetahuan untuk membuktikan argumen saya, dan ternyata memang ereksi terhadap bocah cilik adalah hal yg tidak normal, itu sebabnya muncul istilah pedophilia.

BANDINGKAN DENGAN YG ANDA LAKUKAN
1. Demi membela Nabi tercinta anda, anda bahkan tidak bermasalah dengan praktek kubur anak perempuan hidup2, kanibalisme selama norma zaman tersebut tidak melarang akan hal tersebut. Dengan dasar tersebut, anda minta saya menunjukkan norma masa Muhammad yg mencemooh atau melarang pedophilia.
2. Demi membela Nabi tercinta anda, anda tunjukkan referensi yg katanya sahih bahwa AIsha walaupun 9 tahun tapi sudah bertubuh seperti wanita dewasa. Anda berikan argumen bocah cilik2 zaman sekarang juga udeh montok2 tubuhnya, tapi sayangnya laki2 normal zaman sekarang ga ada tuh yg tertarik dengan referensi bocah2 cilik yg anda paparkan.
3. Untuk membuktikan claim anda lagi, dengan referensi yg sahih, anda quote kata2 Muhammad yg stated kalo tinggi nabi Adam segede Dinosaurus (27 m)
4. Dan yg lebih luar biasa lagi, tanpa ada pengalaman pribadi, tanpa ada research, tanpa ada referensi independent ilmu pengetahuan, justru beban pembuktian anda berikan kepada saya (saya quote lagi kata2 anda: Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu)

Mao se-WOW apapun argument logis yg saya berikan, jika nalar anda sudah dikikis oleh rasa cinta mati anda terhadap Muhammad, maka tidak ada argument apapun yg akan memuaskan anda.

Miss X wrote:Apa anda sendiri pernah melihat YESUS, atau BAPA, atau Roh Kudus yg membuat anda percaya bahwa anda punya Tuhan ??

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Miss X wrote:Kl tdk ada paksaan berarti bukan pelanggaran seksual. Lah wong mereka sama-sama suka, kenapa Mas Pop yg sibuk ? Polisi aj gak bisa menuntuk pelaku pemerkosaan jk yg diperkosa itu ikhlas. Lalu apa masalahnya?

Syekh Puji menikahi Ulfa, juga sama2 suka, bahkan keluarga Ulfa membela si Puji mati2an, kenapa muslim2 masa kini juga sibuk dan mengatakan itu melanggar hak perlindungan anak ? Apa masalahnya?

Keep in mind bukan hanya kami aja yg teriak2 tindakan pedophilia dari Syekh Puji, sodara/i muslimmu juga banyak banget yg mengutuk tindakan itu.

Syekh Puji jelas lebih consistent dari sisi Islam, berani berkata ia tidak bersalah secara Islam karena Muhammad saja menikahi Aisha pada usia 6 tahun.

Semakin terbukti pemikiran para kafir, kalian hanya bisa objektif jika segala sesuatu tidak berhubungan dengan Muhammad. Jika Muhammad yg jadi taruhannya dalam ajang perdebatan logis, kalian akan ngamuk2 layaknya cacing kepanasan no matter how similar the act of Muhammad with the other offender like Syekh Puji.

Jika anda hanya menggunakan paksaan sebagai parameter benar tidaknya sebuah tindakan, akan banyak penjahat yg bisa bebas. Penipu yg jual barang tipuan (mis: barang buatan China yg dijelek diclaim buatan Japan yg tahan banting) juga merayu dan menipu si konsumen, dan customer yg termakan bualannya dengan rela membeli barang tipuannya, tidak ada unsur paksaan. Sungguh saya penasaran seperti apakah reaksi anda jika suatu hari ada tua bangka 54 tahun yg berhasil ngesex dengan anak perempuan anda yg berumur 9 tahun, dan ternyata anak anda juga enjoy dan seneng dengan tua bangka tersebut.

Miss X wrote: Mas Pop, saya gak bilang loh kl itu maksudnya orientasi seksual lelaki #-o
Kenapa sih Mas Pop kog mikirnya kesitu – situ aja.. [-(

Anda berusaha dengan segala cara, salah satunya dengan memberikan contoh gaya baju yg berbeda dari zaman ke zaman untuk membenarkan tindakan Nabi tercinta anda yg ngesex dengan Aisha si bocah 9 tahun yg tidak bertentangan dengan norma zaman itu.

Terus apanya yg aneh jika saya counter anda dengan orientasi seksual laki2 normal ?

Orientasi sex laki2 normal yg tidak akan berubah sepanjang zaman adalah argumentasi logis saya untuk counter mindset anda yg berfikir bahwa pedophilia hanya dibatasi oleh norma zaman ini.

Miss X wrote:Mas Pop… saya yakin anda tau bahwa salah satu alasan kenap seseorang itu memerlukan agama (sesuatu yg diyakini) krn banyaknya kelemahan dalam diri manusia yg diluar batas kemampuannya. Seorang agnostic atau atheis boleh menganggap logika sbg dewa tapi mreka juga tdk dapat hidup tanpa sebuah keajaiban yg tdk bs mereka jelaskan, apa yg mereka yakini itu hanyalah sebuah kesombongan pdhl mereka bahkan tak mampu menjelaskan kenapa langit ini tak bertiang. Saya yakin bahwa seorang atheis atau agnostic sungguh memelukan DOA ketika mereka berada diambang kematian…Tp Mas Pop, apa yg sdg kita bicarakan ini bkn tentang hal – hal berbau ghaib maka sdh tentu saya menggunakan 100% logika saya. Saya tidak “pamer referensi” seperti kata anda, tp saya mencoba untuk tdk “ngawur” memenuhi diskusi ini dgn pendapat2 subyekif saya dan saya juga telah memenuhi janji saya untuk memandang mslh Pedophilia ini dr sudut yg berbeda yaitu sosiologi dimana anda memandang ini sbg defisiensi moral Muhammad sbg Nabi, bkn sentimen kepercayaan yg saya yakini bahwa kita berdua tdk akan menemukan titik temunya. Saya rasa tdk berlebihan jika saya hanya meminta bukti sebuah referensi yg menguatkan dugaan anda bhwa beliau ini tdk bermoral dgn terlebih dahulu meneliti sikon yg melatarbelakangi suatu sejarah. Tapi anda sepertinya menganggap hal ini adlah sbg sesuatu yg tdk logis. Seperti yg anda bilang, meskipun perbudakan tdk akan pernah bisa dianggap bermoral, tp bagi saya hal itu bisa diterima jika situasi dan kondisi mmg tdk mendukung seseorang untuk tdk memperbudak atau diperbudak orang lain. Saya harap Mas Pop bisa mengangkap dgn jelas maksud saya.

Saya setuju dengan anda, kita tidak bisa hanya hidup berdasarkan logika, ada hal2 yg tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tapi bagaimana mungkin saya sebagai orang yg masih waras akal untuk menerima seorang nabi yg hanya terikat pada norma zamannya?

Kita tidak ngomongin soal culture, civilization, tapi kita ngomongin soal religion yg katanya dari Tuhan yg seharusnya levelnya diatas culture and human civilization. Jika agama (sesuatu yg katanya dari Tuhan) itu hanya terikat norma pada zamannya, kenapa juga Quran dengan sesumbar mengatakan kitabnya adalah the FINAL WORD OF GOD?

Pengikut Ahmadiyah masih jauh lebih consistent dalam hal Muhammad terikat norma pada zamannya. Itu sebabnya mereka mempercayai MUhammad bukanlah nabi terakhir. Jika pengikut Ahmadiyah yg berdebat dengan saya dengan menggunakan argumen “terikat norma zaman” demi membela Muhammad, saya akan sangat open minded mempertimbangkan argumen mereka.

Banyak orang2 yg ngaku2 nabi sebelum zaman Muhammad. Nabi Baal (similar to Dagon dan beberapa dewa yg lain) memperkenalkan Baal bagi para pemujanya. Salah satu tata ibadah mereka adalah dengan melemparkan bayi2 ke api menjadi persembahan bagi dewa BAAL. Dari segi norma, nabi Baal ini sama sekali tidak melanggar norma, tata ibadah mereka mendapatkan banyak sekali pengikut yg akhirnya dianggap sebagai suatu norma yg berlaku di masyarakat masa itu. Bahkan tata ibadah ini dianggap sebagai suatu hal yg mendatangkan kebaikan/berkat/kemakmuran bagi penyembahnya yg saat itu negaranya sedang dalam masa paceklik dan kekeringan. Semua agama akan mengagung2kan nabi mereka dan claim nabi mereka yg terbaik. Saya rasa juga tidak berlebihan jika saya mengatakan NORMA tidak bisa menjadi tolak ukur/parameter untuk menentukan bermoral atau tidak bermoralnya/biadab sebuah tindakan.

Jika pengikut Baal hari ini nge-claim bahwa Nabi mereka yg paling hebat,sempurna akhlak dan layak dicontoh, membawakan kebaikan bagi kehidupan mereka, memberikan argumen bakar bayi hidup2 bukanlah tindakan biadab dengan alasan korban penyembahan adalah budaya/norma yg bisa diterima masyarakat saat itu, bisakah anda terima argumen itu ? Yakinkah anda BIADAB tidaknya sebuah tindakan hanya terikat oleh norma?

Miss X wrote:Sedikit pengetahuan umum saja, apakah anda tau bahwa dalam kajian Tasyri (penetapan hukum Islam), para ulama yg ikut andil dlm Tasyri yg bersifat Insaniah dikaji dgn mendalam latarbelakang dan biografi hidupnya untuk mengetahui kondisi apa yg mempengaruhi mereka dlm menetapkan suatu hukum? Salah satu contoh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dimana hukum-hukum yg beliau tetapkan sangat dipengaruhi oleh situasi sosial politik yg bergolak pada masa pasca runtuhnya dinasti Abbasiyah. Tidak sedikit ulama dimasa kini yg mengkritisi hukum – hukum yg beliau tetapkan..namun hal itu sgt bisa dimaklumi mengingat situasi dan kondisi saat itu dimana banyak sekali tekanan yg mempengaruhi pola pikir beliau. Jadi, kita tdk bisa melemparkan sebuah kritik itu dgn membabi buta tanpa mempelajari latar belakangnya…saya tdk ingin pamer hanya mencoba berdebat sesuai prosedur, jd saya rasa Mas Pop terlalu memaksakan argumen Mas Pop.

Jika hukum itu dibuat oleh manusia dan ada cacatnya, saya bisa menerima penjelasan anda.
But keep in mind, Quran itu katanya dari Tuhan, dan Quran dengan jelas mencatat nabi anda sebagai manusia sempurna dan perfect role model for all human.

Jika anda bisa menerima informasi dari sahih muslim bahwa memang Muhammad 52 thn ngesex dengan bocah cilik 9 tahun, yg hanya terikat norma masa lalu dan yang ternyata di norma masa kini itu adalah praktek yg sangat menjijikan (itu anda akui sendiri, anda juga tidak bisa menerima praktek itu di zaman ini), kenapa juga kaffir dianggap salah jika mempertanyakan kebenaran Quran yg katanya FINAL WORD OF GOD tapi ternyata praktek Nabi sang manusia sempurnanya hanya terikat oleh norma zamannya?

Itu sebabnya banyak sekali sodara/i-mu yg kritis mempertanyakan kebenaran usia 9 thn itu,sadar dalam diskusi logis mereka tidak akan bisa membela muhammad selain jika mereka meruntuhkan ke-absahan informasi dari Sahih Bukhari akan usia Aisha. Saya tidak akan bosen2nya mengingatkan anda, lawan anda bukan cuma dari pihak kami kaffir, tapi juga dari sodara/i-mu sendiri.

It’s ok jika anda beranggapan saya terlalu maksa argumen saya, tapi so far ketika saya print screen dan paste ke word doc setiap diskusi kita dan saya minta penilaian objective dari orang lain akan argument saya yg katanya “maksa”, so far belon ada satupun pembaca yg saya sodorkan diskusi kita berpihak pada anda.

Miss X wrote:Coba lihat…sepertinya anda terus menerus mengulang hal yg sama dan spertinya appn yg sy sanggah itu tdk ada artinya sama sekali. Bung, kl anda tdk tau cara berdiskusi dan cara mengembangkan sebuah diskusi….maka saya rasa, kita cukupkan saja sampai disini.

Bagaimana mungkin saya mengembangkan diskusi lebih lanjut jika argumen anda ga jauh2 seputar NORMA ?
Setiap jawaban saya hanya merupakan respon terhadap pertanyaan anda. Anda meminta referensi, dan referensi yg saya gunakan dari sumber yg SAHIH dari ulama anda sendiri, hal yg sama juga dilakukan oleh kaffir2 FFI yg lain. The main reason why we use SAHIH reference adalah biar tidak ada muslim yg menyanggah kami menggunakan referensi2 yg tidak sah, tidak diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Ketika kami menggunakan referensi sahih, demi mengcounter saya, argumen panjang lebar anda ga jauh2 dari NORMA, NORMA and NORMA.

Saya rasa memang benar kata anda, diskusi kita cukup sampai disini. Saya bahkan tidak perlu memikirkan argumen baru untuk diskusi lebih lanjut dengan anda, jika PERBUDAKAN, KUBUR anak perempuan HIDUP-HIDUP, dan KANIBALISME pun anda anggap sah2 saja selama norma zaman tersebut tidak menentang akan hal itu.

Miss X wrote:Bung, ketika ada orang yg mengklaim dirinya paling tampan diantara anda dan teman – temannya, apakah anda akan tersinggung jika anda tdk merasa sbg orang yg buruk rupa? Setiap orang boleh mengatakan dirinya tampan tp itu tdk akan berperngaruh bagi org2 yg tdk merasa jelek. Jika statement itu sungguh mengusik hati, berarti ada rasa inferior yg membuat anda harus mengexpose kekurangan org tsb agar bisa menutupi rasa benci anda. Jadi mesti anda sadari, rasa iri dan dengki itu membuat seseorang menutupi hatinya dgn kebencian. Saya tdk meminta anda untuk menerima dia sbg uswatun hasanah tp setidaknya cobalah anda atasi perasaan inferior itu.

Mohon maaf Mas Pop, saya tdk melihat diskusi ini sbg sesuatu yg bisa menemukan titik temu krn sepertinya anda tdk cukup bisa mengkap dgn baik maksud2 saya. Terima kasih atas waktunya….semua salah ucap mohon dimaafkan.

Dear Miss X, setiap agama mengagung2kan dan membesar2kan Nabi mereka, termasuk Buddhist. Tapi saya ga pernah totally antipati dengan ajaran Buddhist, begitupun kaffir lain2. As a matter of fact saya sangat kagum dengan Nabi besar mereka.

Yg jadi masalah adalah Nabi anda katanya manusia sempurna, role model seluruh umat manusia, begitu aktif menghina dan menanamkan kebencian terhadap Yahudi dan Kekristenan, terus kok saya dibilang inferior dengan mempertanyakan karakter/tingkah2 lakunya dalam Hadits2 sahih yg diakui Muslim seluruh dunia ?

Jika ada orang yg claim dirinya tampan, beauty lies in the eyes of the beholder.
Tampan punya definisi yg beda2 tergantung mata orang melihatnya. Tapi menurut anda emang ada berapa definisi sih di dunia ini untuk kata PERFECT, SUBLIME MORALITY, ROLE MODEL ?

Jika ada orang yg berani claim dirinya MANUSIA SEMPURNA, ROLE MODEL FOR ALL TIME, orang tersebut menderita narcissist/triumphalist complex jika ia tidak bisa menerima kritikan dan mengatakan orang lain yg mengkritiknya inferior (padahal bukti2 kritikan adalah berdasarkan sumber sahih yg diakui oleh para pengikutnya diseluruh dunia). Anda tentunya tidak suka dikatakan tolol oleh orang yg nilai ujiannya bahkan selalu kalah jauh dengan anda kan? Pantaskah orang tersebut mengatakan anda inferior hanya karena anda mengkritik dirinya jauh lebih tolol dari anda?

Jika anda merasa pantas menyebut kami kaffir inferior karena dengan segala cara kami mencari celah dan kelemahan Muhammad, silahkan anda pertanyakan apa sebutan yg pantas bagi sodara2/i muslim anda diseluruh dunia yg tega mengeluarkan fatwa kematian, yg tanpa malu2 atau perasaan bersalah membunuh orang yg menghina Muhammad. Sungguh hingga hari inipun saya belum menemukan muslim yg berani terang2an menentang fatwa kematian tersebut. Persentase muslim yg berani menolak hukuman mati bagi orang yg menghina muhammad VS orang yg pro hukum mati bagi penghina Muhammad, perbandingannya seperti langit dan bumi.

Silahkan anda baca comment2 dari sodara/i muslimmu di indonesia akan reaksi kematian pengikut Ahmadiyah. Hampir 90% comment mengatakan itu salah Ahmadiyah, kenapa ga bikin ajaran baru aja, jangan ngaku2 bagian dari Islam. Comment diawali dengan kata2 manis seperti : FPI/oknum tidak seharusnya membunuh mereka, dan diakhir comment selalu diakhiri : TAPI ITU JUGA SALAH AHMADIYAH…TAPI ITU KARENA AHMADIYAH SESAT dan segala jurus TAPI yg lain. Dosa pengikut AHMADIYAH yg membuat mereka pantas mati hanya satu : KARENA TIDAK MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL TERAKHIR. Silahkan anda buka hati anda, siapa yg sebenernya menderita inferior complex.

Bukanlah hal yg mudah untuk berdebat dengan Muslim di dunia nyata karena resikonya adalah kematian. Terima kasih untuk kesediaan dan kesabaran anda dalam meresponi saya.
kemana si miss x ya?

Pop eye wrote:

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Beda dunk dengan mulut muslim yang sedari masih bocah dah memang di setting untuk jadi TUKANG NGIBUL yang buruk . Bagi LIDAH mereka bersaksi bahwa muhammad adalah utusan awlloh dah merupakan REFLEKS .

Read More

Muslim Bantah Shavanas ttg Usia Aisya/Aisha

Menanggapi “Muslim bantah Shavanas ttg Usia Aisya/Aisha” oleh Poligami [lihat: muslim-bantah-shavanas-ttg-usia-aisya-aisha-t38056/?hilit=shavanas ], dengan ini saya menyampaikan terjemahan dari The Age of Aishah’s Marriage Between Historians and Hadith Scholars yang bisa di donlot dari http://www.mediafire.com/?moeondthmmv (special thanks to Poligami).

terjemahan ini saya dedikasi kepada Tuanku aka Dorama dan semua Muslim yang masih punya hati nurani yang tidak dapat menerima bahwa nabi mereka ngeseks dgn Aisha saat berusia 9.

Silahkan disanggah pendapat Ayman bin Khalid, rekan se-ukuwahmu.

Best regards
Kaffir with brain

UMUR AISHA PADA SAAT KAWIN, DARI SUDUT PANDANG SEJARAWAN & PAKAR HADITS
Ditulis oleh : Ayman Bin Khalid
Editor : diedit oleh tim Multaqa Ahl al-Hadeeth
Silahkan kunjungi http://ahlalhdeeth.com/vbe/index.php (English) atau http://ahlalhdeeth.com/vb/index.php (Bahasa Arab) untuk mendapatkan literatur dan diskusi yg lebih bermanfaat.

Atas nama allah yg ditinggikan yg sudah selayaknya ditinggikan, pribadi yg menuntun siapapun yg ia kehendaki dan yang menyesatkan siapapun yang ia kehendaki. Kami awali dengan sikap hati yg berserah kepada allah

Prolog : Tujuan dari penulisan dan presentasi topik ini

Belakangan, ada usaha2 jahat dari pihak2 tertentu untuk menyebarkan keraguan mengenai umur Ummul Mukminin, Aisha ra, saat menikah dengan sosok terbaik dari seluruh umat manusia Nabi Muhammad. Ada pihak yang menolak bahwa Aisha berumur 6 tahun saat ia menikah dengan Nabi dan berumur 9 tahun saat Nabi menggaulinya.

Tuduhan palsu ini juga berusaha untuk menulis ulang sejarah dengan berkata bahwa Aisha berumur 18 tahun pada saat perkawinannya yang oleh karenanya bertentangan dengan apa yg sudah terbukti sahih dari Hadits yg sudah disetujui oleh para pakar Islam dan kaum terpelajar.

Sungguh, mengapa kita harus bertanya2 akan fenomena ini padahal kita telah diberitahu oleh Nabi sendiri saat ia berbicara mengenai penegakan hari Kiamat.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Sang Rasul berkata :

Pada hari kesudahan, akan banyak pembohong2 dan pemalsu2. Mereka akan datang padamu dengan kisah2 yg baik engkau dan ayahmu belum pernah mendengar. Jadi biarkanlah dirimu dan mereka (mis: ayahmu) berhati2 dan berjaga2 agar orang2 tersebut tidak menyesatkan dan menggoda engkau.
Sahih Muslim, hadeeth no. 16 dalam introduksi Muslim. Juga lihat Sahih Ibn Hibban no.6766 (Shuaib Al-Arnaut menyatakan isnadnya sbg otentik), Musnad Ahmad no. 8250, Mustadrak Al-Haakim no. 351, dan Musnad Abee Yaala no. 6384.

Dengan demikian, setelah menyelesaikan doa istikhaara (doa minta petunjuk pada saat hendak membuat keputusan), aku menulis sanggahan terhadap serangan ini dengan tujuan untuk mengklarifikasi masalah ini kepada orang2 beriman akan tuduhan2 ini. Hal ini karena ada serangan ganda:

  1. yg pertama menyebarkan keraguan di hati Muslim mengenai keaslian Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, dua buku yg menurut konsensus (kesepakatan bersama) para kaum terpelajar Muslim adalah buku yg paling mendekati keasliannya setelah Quran.
  2. Yg kedua, tujuannya adalah untuk mencemooh dan meremehkan status dari kaum terpelajar atau pakar Hadits kita yang mendedikasikan hidupnya untuk menyampaikan kebenaran ini kepada khalayak ramai demi kepentingan Islam/Allah.

Penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui bahwa verifikasi terhadap Hadits dilakukan kaum terpelajar terhormat, yg menghabiskan waktu dan berusaha demikian kerasnya untuk mempelajari Hadits dengan tujuan untuk memverifikasi Hadits2 tsb yang oleh karena itu menyucikan/membersihkan Sunnah dari kisah2 yg lemah serta usaha2 pemalsuan.

Karena itu, pemeriksaan secara teliti dari konteks dan hubungan berantai dari narrator dari semua Hadits di Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dipimpin oleh kaum terpelajar terhormat di masa lalu. Pada akhirnya, mereka semua (kaum terpelajar yg mempelajari Hadits) menyimpulkan bahwa kedua buku tersebut tanpa ragu adalah sebagai buku yg sahih/asli (This reference is to all the mawsool (connected) hadeeths in these two books.). Terlepas dari hal ini, dikarenakan kedunguan, kita menemukan beberapa Muslim bukan hanya membela gagasan tak berdasar dari hadists2 lemah di kedua buku ini, namun juga menyombongkan gagasan mereka seakan-akan mereka telah menyelesaikan pencapaian besar yg patut mendapatkan perhatian dari khalayak ramai atau telah memberikan keuntungan bagi umat.

Pada artikel ini, saya mempresentasikan pembuktian kesalahan dari tuduhan2 palsu tersebut. Dalam artikel ini, saya hanya menggunakan sumber yg otentik/asli sama seperti sumber yg digunakan oleh penulis dalam mempresentasikan tuduhan2 palsunya. Saya hanya mencari kepuasan rohani pribadi dan hadiah dari Allah, yg dimana tak akan mampu kulakukan tanpa hidayah dari Allah.

Dengan ini saya menyatakan apapun yg saya nyatakan dalam artikel ini adalah benar dari Allah dan apapun yg tidak benar adalah dari Shaytaan (Setan).

PENDAHULUAN

Sebelum memasuki bab berikut, pembaca seharusnya mengingat/mencatat poin2 penting berikut ini:
1. Tuduhan2 palsu tersebut banyak didasarkan pada bukti2 sejarah didalam buku yang berisi berbagai kisah yg tidak sahih, seperti yg dinyatakan oleh penulis itu sendiri. Kisah2 tersebut umumnya ditemukan dalam buku2 sejarah. Hal dibawah ini adalah apa yg dikatakan Abu Jafar At-Tabari, penulis Tarikh At-Tabari, salah satu buku sejarah yg paling terkenal, dalam pendahuluan bukunya:

Dengan ini saya menyatakan bahwa berita2 dan kisah2 yg ada dalam bukuku yang oleh pembaca dirasakan aneh atau salah, tidak dapat dipercaya, janggal atau tidak akurat, pada kenyataannya merupakan kisah2 yg saya dengar dari orang lain yg sudah saya nyatakan dalam bukuku dikarenakan kisah2 dalam bukuku adalah tanpa campur tangan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari pihak luar. Oleh karena itu saya menyatakan diri tidak bertanggung jawab atas isi dari bukuku. (Tarikh At-Tabari, 1/8)

2. Sejarahwan cenderung untuk menyebutkan/menyebarkan semua berita terlepas dari apakah berita itu aneh, palsu atau aneh tanpa verifikasi terhadap ke-otentikan dari berita tersebut. Metode ini sudah selalu menjadi pegangan bagi sejarahwan dikarenakan tugas mereka terbatas hanya untuk menceritakan apa yg mereka dengar, dan pada beberapa kasus yg lain mereka mengklarifikasi berita tersebut atau mengalihkan tugas klarifikasi tersebut kepada kaum terpelajar yg mendatangi mereka untuk mengklarifikasi berita tersebut.

3. Kebanyakan jenis2/tipe dari kisah2 dari buku sejarah tersebut tidak ada hubungan berantai dengan para narrator yg lain.

4. Sumber yg diakui kebenarannya harus sahih dan memenuhi dua syarat : sanad (hubungan berantai dari narrator yg lain) dan matan (text dan context dari kisah tersebut). Jika tidak lolos sensor akan 2 hal tersebut, maka kisah tersebut bisa diabaikan.

5. Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kisah yg sahih mendapatkan prioritas yg utama karena kisah yg sahih tidak bisa dinyatakan invalid oleh segelintir kisah2 yg tidak sahih.

Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau TIDAK ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kita tetap tidak bisa menerima kisah tersebut dikarenakan kisah tersebut hanya menawarkan kemungkinan2 dan asumsi tanpa adanya kepastian.

I. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA MENIKAHI GADIS 9 TAHUN ADALAH HAL YANG TIDAK DAPAT DITERIMA OLEH NORMA KEBUDAYAAN ARAB

Penulis argumen ini menyatakan : ”Sebagai permulaan, saya rasa adalah tanggung jawab bagi semua orang yang percaya bahwa menikahi gadis semuda 9 tahun adalah hal yg dapat diterima oleh norma kebudayaan Arab, setidak2nya memberikan beberapa contoh untuk memperkuat pandangan mereka”

Argumen in jelas2 lemah dikarenakan dua hal:

  1. Struktur dari argumen tersebut,
  2. Kepada siapa seharusnya beban pembuktian ini ditujukan.

NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.

BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:

Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

II. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEBANYAKAN KISAH2 TERSEBUT HANYA DISAMPAIKAN MELALUI HISHAM IBN ‘URWAH YANG KREDIBILITASNYA TIDAK DAPAT DIPERCAYA

Penulis argumen ini menyatakan : “Kebanyakan kisah2 tersebut hanya disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah dibawah otoritas dari ayahnya, ‘Urwah ibn Az-Zubair, keponakan dari Aisha. Kisah sepenting perkawinan Aisha logisnya seharusnya disampaikan oleh lebih dari sekedar segelintir orang”

Lagi-lagi si penulis berusaha menyampaikan argumen yg sia-sia yang pada akhirnya menyingkapkan kebodohan dari si penulis akan sains dari Hadits. Lebih lanjut lagi, hal tersebut mengindikasikan bahwa si penulis hanya copy paste argument tersebut tanpa mengerti apa yg tertulis dari kisah tersebut.

RUTE LAIN YG DIGUNAKAN UNTUK MENCERITAKAN HADITS
Hadits, yg menyampaikan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat ia telah menikah, dikisahkan oleh narrator lain sebagai berikut:
1. Muslim yg Sahih
Aisha → ‘Urwah → Az-Zuhree → Mamar → Abdur Razaaq → Abd ibn Humaid →Muslim
Aisha menyampaikan bahwa Nabi menikahinya pada saat Aisha berumur 7 tahun, dan membawanya ke rumah Nabi sebagai pengantin pada saat Aisha berumur 9 tahun, dimana Aisha membawa bonekanya bersamanya, dan pada saat Nabi meninggal, Aisha berusia 18 tahun (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 3311).

Note: Beberapa kisah menyatakan bahwa umur Aisha adalah 6 tahun sementara yg lain menyatakan bahwa ia berumur 7 tahun. Imam An-Nawawi pada saat ia berkomentar akan Hadits di Sharh of Saheeh Muslim menyatakan bahwa Ad-Dawoodee berkata:
“Berkenaan dengan kisah dimana dia (Aisha) menyatakan dia berumur 7 tahun sementara kebanyakan kisah menyatakan ia berumur 6 tahun, kedua narasi tersebut dapat direkonsiliasi dengan fakta bahwa dia berumur 6 tahun ditambah beberapa bulan. Karena itu di beberapa kisah Aisha hanya menyebutkan umurnya saat itu, sementara di kisah yg lain Aisha bermaksud untuk menyatakan umurnya di masa yg akan datang, dan hanya Allah yang paling mengetahui akan hal ini”

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash→ Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya, Ishaaq ibn Ibraheem, Abu Bakr ibn Abee Shaibah and Abu Kuraib → Muslim
Aisha menceritakan bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 8 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sahih Muslim, no. 1422)

2. Sunan Abu Daud
Aisha → Yahya (ibn Abdur Rahmaan ibn Haatib) → Muhammad (ibn Amr) → the father of U’baidullah ibn Muadh → Ubaidullah ibn Muadh → Abu Dawood
Yahya(ibn Abdur Rahman ibn Haatib) menceritakan bahwa Aisha berkata: “Saya datang ke Medinah dan tinggal di rumah Bani Al-Harith ibn Al-Khazraj” kemudian dia (Aisha) berkata: ”Demi Allah, saya sedang bermain ayunan yg diikatkan pada 2 pohon palem. Pada saat itu, rambutku sudah tumbuh hingga mencapai telingaku. Maka ibuku datang dan menurunkan aku dari ayunan dan membawaku, supaya mereka dapat mendandaniku dengan pakaian yg pantas, kemudian mengirimkan aku ke Nabi yg kemudian menggauli (consummated the marriage) aku pada saat aku berumur 9 tahun” (Sunan Abee Dawood, no. 4937. Al-Albaani declared it to be authentic (hasan sahih))

3. Sunan An-Nasaaee
Aisha → Abu Salamah ibn Abdur Rahman → Muhammad ibn Ibraheem → I’maraibn Ghazya → Yahya ibn Ayub → the paternal uncle of Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam → Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam ->An-Nasaaee
Abu Salam Bin Abdulrahman menceritakan dari Aisha bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3379. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))
Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar → Qutaibah → An-Nasaaee
Aisha berkata, “Rasul menikahiku pada saat umur 9 tahun dan aku tinggal bersamanya selama 9 tahun” (Sunan An-Nasaaee, no. 3257. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah →
Muhammad ibn Al-A’laa’ and Ahmad ibn Harb → An-Nasaaee
Al-Aswad menceritakan dari Aisya bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun, tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3258. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih)).

4. Sunan ibn Majah
Abdullah → Abu Ubaidah → Abu Ishaaq → Israeel → Abu Ahmad→ Ahmad ibn Sinan → Ibn Majah
Abdullah berkata “Nabi menikahi Aisha ketika ia berumur 7 tahun dan consummated the marriage (menggauli)nya pada aat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun”. (Sunan Ibn Majah (Eng. Trans.), no. 1877. Al-Albaani and Zubair Ali Zai both declared it to be authentic (sahih).)

5. Musnad Ahmad ibn Hanbal
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Al Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Musnad Ahmad, no. 24152. Shuaib Al-Arnaut said that its chain was authentic (sahih) according to the
conditions of the 2 Shaikhs (i.e. Bukhari and Muslim).).

6. Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya → Abu Ja’far Muhammad ibn Al-Hajjaaj Al-Waraaq → Abu Abdullah Muhammad Ibn Ya’qoub → Abu Abdullah Al-Haafidh → Al-Baihaqi
Al-Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal serumah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan Al-Baihaqi, no. 13437).

7. Mustadrak Al-Haakim
Jaabir → Yazeed ibn Jaabir → Abdullah ibn Abdur Rahman ibn Yazeed ibn Jaabir →Abu Mushar Abdul A’laa ibn Mushar → Ibraheem ibn Al-Hussain ibn Daizeel →Ahmad ibn U’baid ibn Ibraheem Al-Asdee, the Haafidh of Hamdan → Al-Haakim
Jaabir menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha pada saat Aisha berumur 7 tahun, consummate the marriage (menggauli)nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun dan Aisha sendiri meninggal pada masa Khalifah Mua’wiyah pada tahun 57 AH (Mustadrak Al-Haakim, no. 6714).

8. Al-Mujam Al-Kabeer of At-Tabaraani
Abdullah → Abu U’baidah → Abu Ishaaq→ Shareek → Yahya ibn Adam → AbdurRahman ibn Saalih Al-Azdee → Muhammad ibn Moosaa ibn Hammaad Al-Barbaree→ At-Tabaraani
Abdulah menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha ketika Aisha berumur 6 tahun dan consummated the marriage with her (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 10279).

Qataadah → Sa’eed ibn Abee U’roba → Zuhair ibn Ala’la Al-Qaisee → Ahmad ibn Al-Miqdaam → Muhammad ibn Ja’far ibn Ai’n Al-Baghdaadee → At-Tabaraani
Qataadah berkata: “Nabi menikahi Aisha bint Abee Bakr As-Siddeeq ketika ia berumur 6 tahun dan ia tidak menikahi gadis perawan selain Aisha. Mereka berkata bahwa Jibreel berkata kepada Nabi: “Inilah istrimu” sebelum Nabi menikahi Aisha, oleh sebab itu Nabi menikahi Aisha di Makkah sebelum hijrah (imigrasi dari Makkah ke Madeenah) dan hanya setelah kematian istri pertamanya Khadijah. Kemudian Nabi consummated the marriage (menggauli)-nya di Madeenah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan pada saat Aisha berumur 18 tahun, Nabi meninggal” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 40)

Aisha → Al-Qaasim ibn Muhammad → Sa’d ibn Ibraheem → Sufyaan →
Muhammad ibn Al-Hassan Al-Asdee → Al-Hassan ibn Sahal Al-Hannat →
Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani

Aisha berkata:”Saya menikah dengan Rasul ketika aku berumur 6 tahun, kemudian ia consummate the marriage (menggauli)-ku pada saat aku berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 52)

Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar ibn Al-Wasim →Sa’eed ibn Amr Al-Sha’athi → Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Aisha berkata:”Rasul menikahiku pada saat aku berumur 9 tahun dan aku hidup bersamanya selama 9 tahun kemudian” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 53)

Abu Maleekah → Abu Usaama → Al-Ajla’e Abdullah ibn U’mar ibn Abbaan →Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Abu Maleekah berkata:”Nabi meminta kepada Abu Bakr untuk memberikan Aisha kepada dirinya untuk dinikahi dan Abu Bakr pada saat itu sudah memberikan Aisha kepada Jubair ibn Mutam . Kemudia Abu Bakr menarik janjinya kepada Jubair ibn Mutam dan memberikan Aisha untuk dinikahi oleh Rasul. Aisha berumur 6 tahun pada saat itu sehingga Nabi menunggu selama 3 tahun kemudian consummated the marriage (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 62)

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Hadits ini (Hadits yg disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah) juga dikisahkan oleh banyak sumber diluar Hisham ibn ‘Urwah. Penulis sepertinya mengkritik kisah yg dibuat oleh Hisham Ibn ‘Urwah di Irak. Hal yg bias dari penulis ini menjadi jelas dimana orang lain bisa melihat bahwa Penulis terpaksa mengambil jalan untuk membingungkan pembaca dan pernyataan2 yg menyesatkan dalam usahanya untuk memperkuat opininya.

Lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa Penulis tidak punya pengetahuan apapun mengenai sains dari Hadits. Sebagai tambahan, salah satu kisah di Musnad Ahmad yg disampaikan Hisham berisi narrator2 yg bukan berasal dari Irak :
Aisha → ‘Urwah → Hisham ibn ’Urwah → Abdur Rahman → Sulaiman ibn Dawood→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Aisha berkata:”Aku menikah dengan Rasul di Makkah, setelah kematian Khadijah, ketika aku berumur 6 tahun, dan Nabi consummated the marriage with me (menggauli)-ku di Madeenah ketika aku berumur 9 tahun” (Musnad Ahmad, no. 24867)

Note : Kisah ini dinyatakan sahih/asli oleh Shuaib Al-Arnaut. Tolong diingat bahwa Abdur Rahman (ibn Abee Al-Zinaad) adalah Hasan al-hadith dan Ibn Mu’een berkata bahwa dia (Hasan al-hadith a.k.a Abdur Rahman) adalah orang yg memiliki ingatan terbaik dan pelestari dari kisah2 dari Hisham ibn ‘Urwah. Jadi bahkan jika kita berasumsi bahwa Abdur Rahman mendengarkan kisah ini di Irak kemudian mengetahui kaum terpelajar telah mengatakan beliau adalah orang yg paling tepat menceritakan kisah dari Hisham, maka cukup untuk menyatakan bahwa kisahnya dapat dipercaya.

APA PANDANGAN DARI KAUM TERPELAJAR TERHADAP HISHAM IBN ‘URWAH

Para sarjana menyatakan hal2 sebagai berikut mengenai Hisham Ibn ‘Urwah (Tahdhib at-Tahdhib dibawah Hisham ibn U’rwah):

- Al- I’ jli berkata : “Dia adalah orang yg thiqah (dapat dipercaya)”
– Muhammad ibn Sa’d berkata :“Dia adalah narrator yg thiqah yg menceritakan banyak Hadits dan dia adalah hujjah (sebuah kata yg bermakna jauh lebih kuat dibandingkan thiqah, hujjah dapat juga diartikan sebagai sifat/karakter dari yg bersangkutan yang sudah cukup untuk dijadikan bukti)”
– Abu Hatim berkata : “Dia adalah orang yang thiqah dan seorang iman (atau pemimpin) dari Hadits”
– Ya’ qub ibn Shaibah berkata : “Dia adalah orang yang bersungguh-sungguh terhadap apa yg ia ingat dan dia adalah seorang yg thiqah. Tak seorang pun yg menolak Hadits yg disampaikannya hingga suatu saat ia pergi ke Irak dimana dia mulai menceritakan Hadits dari ayahnya sementara pada kenyataannya dia mendengar Hadits tersebut dari orang lain yg mendengarnya dari ayahnya.”
– Abdur Rahman ibn Khirasj berkata: “Maalik tidak senang dengan Hisham. Namun, Hisham adalah orang yg jujur dan cerita yg dikisahkannya dianggap sebagai Hadits yg paling otentik dibandingkan Hadits yg lain. Saya diberitahu bahwa Maalik tidak menyukainya dikarenakan kisah2 Haditsnya kepada rakyat Irak. Hisham pergi ke Kufa 3 kali. Suatu saat ia berkata “Ayahku berkata kepadaku bahwa dia mendengar Aisha…” dan di lain waktu Hisham bercerita Hadits yg sama dengan mengatakan “Ayahku berkata kepadaku bahwa Aisha…” dan yg ketiga kali Hisham bercerita “Ayahku menceritakan bahwa Aisha…” ”

Ibn Hibban menyebutkan Hisham dalam bukunya Thiqaat (buku yg berisi narrator2 yg dapat dipercaya) sebagai berikut:
Hisham ibn ‘Urwah ibn Az-Zubair ibn Al-A’wwam Al-Asdee adalah orang yg dikenal juga sebagai Abu Al-Mundhir. Hisham melihat Jaabir ibn Abdullah dan Ibn ‘Umar dan menceritakan cerita Hadits tersebut dari Wahab ibn Keesan dan group Tabi’een. Hisham meninggal setelah perang Al-Hazeemah pada tahun 145 atau 146 AH dan ia dilahirkan pada tahun 60 or 61 AH. Dikatakan bahwa ia meninggal pada tahun 144 AH. Dia adalah seorang yg hafidh, luar biasa pengetahuannya akan Hadits, saleh dan mulia.( Thiqaat Ibn Hibban under Hisham ibn ‘Urwah)

Setelah membaca opini2 dari beberapa kaum terpelajar/sarjana terhadap Hisham, kita dapat menyimpulkan hal2 sebagai berikut:
– Kaum terpelajar dari Hadits melakukan perubahan pada cerita yg dikisahkan oleh Hisham Ibn U’rwah sementara pada saat yg sama mereka mengenali tadlees dari Hisham di beberapa Hadits yg ia kisahkan di Irak. Namun hal tersebut tidak membuat para kaum terpelajar menolak semua cerita yg ia kisahkan di Irak.
– Kritik dari beberapa kaum terpelajar hanya terbatas pada beberapa Hadits yg Hisham ceritakan pada saat ia berada di Irak. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya Hisham menggunakan frase2 (kombinasi/susunan kata) yg berbeda-beda untuk menyatakan bagaimana ia mendengarkan Hadits tersebut (rantai hubungan antar narrator/kisah, bukan textnya). Oleh karenanya, kaum terpelajar hanya mengecualikan kisah Hadits-nya di Irak, sementara sisa Hadits Hisham yg lain diterima oleh kaum terpelajar tanpa ragu, karena jelas sekali Hadits tersebut tidak bercacat.

Sebagai hasilnya, kita dapat melihat bahwa kaum terpelajar pada zaman tersebut terbiasa untuk memimpin proses analisa yg mendalam dari setiap Hadits. Analisa mereka tidak membuat mereka menolak Hadits yang bersinggungan dengan umur Aisha dikarenakan Hadits2 tersebut sahih. Lebih lagi, tidak ada seorang pun dari kaum terpelajar pada masa itu yg menolak semua Hadits yg dikisahkan oleh Hisham ibn U’rwah.

Jika TIDAK ada seorangpun dari pakar Hadits yang mempermasalahkan cerita/kisah dari Hisham ibn U’rwah, mengapa juga kita mempermasalahkan hal itu?

Note : Tadlees adalah istilah yg ditujukan pada saat seorang narator menceritakan kisah dari orang lain yg mana sebelumnya narrator tersebut telah mendengar kisah tersebut langsung dari orang yang bersangkutan, yang pada akhirnya memberikan kesan bahwa narator tersebut menceritakan kisah tersebut dari sisi orang yang bersangkutan secara langsung, padahal kenyataannya tidak demikian. Contohnya : (X) menceritakan kisah dari (Y). Umumnya (X) akan berkata: “(Y) berkata kepada kami…”sementara Tadlees akan berkata “Dari (Y)..” atau (Y) berkata..””.”

III. ARGUMEN YANG MENYATAKAN SURAH AL-QAMAR (SALAH SATU SURAH TERTUA) MENGUNGKAPKAN BAHWA AISHA ADALAH GADIS MUDA BELIA (BUKAN ANAK KECIL).

Penulis argumen ini berkata : “Menurut tradisi yg umum diterima pada masa itu, Aisha lahir sekitar 8 tahun sebelum Hijrah. Tetapi menurut kisah dari Bukhari (kitabu’l-tafseer), diinformasikan pada masa Surah Al-Qamar, telah terungkap dari Quran bab ke-54 dimana Aisha berkata “Aku adalah gadis muda”. Surah bab ke 54 dari Quran ini terungkap/diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah. Menurut tradisi, Aisha bukan hanya lahir sebelum pewahyuan dari surah tersebut, namun juga sebenarnya ia adalah gadis muda (jaariyah), bukan anak kecil (sibyah) pada masa itu.”

Argumen ini sama dengan argumen sebelumnya : lemah dan sesat, seperti yg akan saya paparkan lebih lanjut

TERJEMAHAN YANG BENAR DARI HADITS

Hadits tersebut telah salah diterjemahkan. Karena itu, saya memaparkan Hadits beserta terjemahannya yang benar sehingga para pembaca dapat menilai sendiri kebenarannya:

Yusuf bin Mahik menceritakan : Saya ada di rumah Aisha, Ibu dari semua umat percaya. Ia berkata “Wahyu ini “Namun Jam adalah waktu yg mereka tentukan (sebagai imbalan jasa mereka secara penuh); dan Jam akan menjadi lebih mundur waktunya dan akan jauh lebih pahit” disampaikan ke pada Muhammad di Makkah saat aku masih seorang gadis muda belia yang suka bermain2 (Jaariyah).””( Sahih Bukhari (Bahasa Arab-Eng.), vol. 6, no. 399)

Sangat jelas dari Hadits, Aisha hanya berkata bahwa ia menyaksikan pewahyuan kepada Muhammad dari salah satu ayat dari Surah pada saat dimana ia adalah gadis muda di Makkah. Darimana si Penulis mendapatkan gagasan bahwa Aisha menyaksikan Pewahyuan dari keseluruhan Surah?
Biarlah para pembaca sendiri yg menilai terjemahan yg benar dari Hadits dan membandingkannya dengan penafsiran dari si Penulis yg mengikuti nafsu sesatnya dan telah ditipu oleh Setan.

KEKURANG-OTENTIKAN KISAH-KISAH YG MENYATAKAN BAHWA AYAT INI DIWAHYUKAN/DIUNGKAPKAN 9 TAHUN SEBELUM HIJRAH

Dimana dinyatakan bahwa ayat ini diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah?Ayat ini hanya menyatakan bahwa Aisha adalah gadis muda pada masa itu. Penting untuk diingat bahwa adalah fakta ayat dari setiap Surah itu ciri khasnya diwahyukan secara bertahap. Itu sebabnya berkenaan dengan Surah ini, Muqatil ibn Sulaiman (One of the leading scholars of tafseer (exegesis) who took his knowledge of tafseer from Mujahahid.) berkata bahwa semua pewahyuan ini diwahyukan di Makkah kecuali 3 ayat (Fathul Qadeer) meskipun pandangan pada umumnya adalah semua ayat di Surah ini diwahyukan di Makkah. Tunjukkan mana kisah sahih yg Penulis gunakan untuk menyatakan pandangannya bahwa semua Wahyu dalam Surah diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah.

Beberapa poin berikut yg perlu dicatat/diingat:
a. Kebanyakan Surah2 diwahyukan dalam kurun periode waktu tertentu
b. Ada pandangan yg menyatakan bahwa beberapa ayat di Surah diwahyukan di Madinah
c. Tanggal pada saat terjadinya pewahyuan tidak dirincikan/disebutkan dalam kisah manapun.

Oleh karena itu, Penulis diminta untuk membuktikan bahwa ayat dimana Aisha menceritakan wahyu yang dia saksikan di Makkah adalah memang benar 9 tahun sebelum Hijrah.

TAHUN KELAHIRAN DARI AISHA SEPERTI YG DINYATAKAN DALAM BIOGRAFI
Saya mengutip biografi Aisha dibawah ini dari beberapa sumber/buku yg otentik
– Al-Mizzi berkata: “Dia (Aisha) menikah dengan Nabi Muhammad 2 tahun sebelum Hijrah seperti yg dikatakan oleh Abu U’baida dan yg lainnya mengatakan kejadian itu terjadi 3 tahun sebelum Hijrah sementara ada juga pendapat lain yg mengatakan 1.5 tahun sebelum Hijrah atau saat dimana Aisha berumur 6 tahun. Aisha menikah di Madinah setelah perang Badr di Shawwal tahun ke2 setelah Hijrah ketika dia berumur 9 tahun. Ada lagi pendapat lain yg mengatakan kejadian itu terjadi di Shawwal setelah 18 bulan dari Hijrah” (Tahdheeb al Kamaal, 35/227)
– Ibn Hajr berkata: “Az-Zubair ibn Bakkar dan yg lainnya berkata: Dia meninggal pada tahun ke 58 setelah Hijrah sementara Ibn ‘Uainah menceritakan dari Hisham bahwa Aisha meninggal pada tahun ke 57 setelah Hijrah” (Tahdheeb at-Tahdheeb, 12/436 and U’*** Al-Athar, 2/395)
– Al-Zarakli berkata : Aisha dilahirkan 9 tahun sebelum Hijrah dan meninggal pada saat 58 AH (Al-A’laam, 3/240 (Print Number 7; 1986 by daarul I’lm lilmalayeen))

IV. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA SIAPAPUN YANG DIBAWAH 15 TAHUN TIDAK DIPERKENANKAN/DIIZINKAN UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PERANG, DAN BAHWA AISHA BERPARTISIPASI BAIK PERANG BADR MAUPUN PERANG UHUD.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut beberapa kisah, Aisha ikut menemani Muslim2 dalam perang Badr dan Uhud. Lebih jauh lagi, juga dilaporkan di buku2 Hadits dan sejarah bahwa tidak ada seorangpun yg berusia dibawah 15 tahun diperkenankan/diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang Uhud. Semua anak laki2 yg berumur dibawah 15 tahun dikirim balik pulang. Aisha yg berpartisipasi dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa saat itu ia tak mungkin berumur 9 atau 10 tahun. Lagian biasanya wanita2 menemani pria dalam medan perang untuk membantu mereka, bukan untuk menambah beban mereka”

Kesimpulan dan penafsiran dari penulis menunjukkan kurang pengertian akan bahasa Arab, dan juga kurangnya pengetahuan mengenai Hadits, fiqh (Islamic jurisprudence) dan sains.

15 TAHUN ADALAH UMUR DIMANA PRIA MENCAPAI PUBERTAS
Hadits sahih, yang digunakan si Penulis, menyatakan hal sebagai berikut:

Telah dikisahkan atas seizin dan otoritas dari Ibn ‘Umar yang berkata : “Rasul menginspeksi aku di medan perang pada hari Uhud, dan aku berumur 14 tahun. Dia tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nabi menginspeksi aku pada Hari Khandaq dan pada waktu itu aku sudah berumur 15 tahun, dan beliau mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata: Saya datang kepada ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz yg merupakan khalifah dan menceritakan tradisi ini kepadanya. Dia berkata : Sungguh, ini adalah pemisahan antara apa yg minor dan mayor. Maka Ia menulis surat kepada Gubernur bahwa mereka harus membayar tunjangan nafkah bagi orang2 yg berumur 15 tahun, namun harus menjaga dan memelihara siapa saja yg umurnya kurang dari 15 tahun diantara anak2 tersebut.” (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 4605)

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Rasul memanggilku untuk menghadapnya pada malam perang Uhud saat aku berumur 14 tahun pada saat itu, beliau tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang, namun kembali Ia memanggilku di malam perang Trench ketika aku berumur 15 tahun, dan kali ini beliau mengizinkan aku untuk bergabung dalam mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata : Aku pergi kepada ‘Umar bin ‘Abdul Aziz yg pada saat itu adalah khalifah menceritakan kisah tersebut kepadanya. Dia kemudia berkata, “Umur 15 tahun ini adalah masa peralihan anak laki2 menjadi pria dewasa. (That is to say, if a boy does not experience one or both signs of puberty (ejaculation or the growth of pubic hair) by the age of fifteen, then the completion of fifteen years of age is his attainment of maturity whether or not the signs of puberty have yet become manifest.)” Dan kemudian ia menulis surat kepada Gubernur untuk memberikan upah bagi mereka yg sudah mencapai usia 15 tahun. (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 3, no. 832)

Imam An-Nawawi menaruh Hadits ini pada Judul “Umur seseorang mengalami pubertas” dan berkata “Usia 15 tahun adalah usia dimana seorang anak laki-laki menjadi seorang prajurit perang dan mengambil bagian untuk memimpin sama seperti lelaki dewasa.” (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Kemudian Ia berkata “Berkenaan dengan Hadits ini, Imam Ash-Shafi, Al-Azwa, Ibn Wahb dan Iman Ahmad beserta yg lainnya berkomentar bahwa umur 15 tahun adalah umur dimana anak laki-laki mencapai pubertas”. (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Sangat jelas bahwa umur 15 tahun ini hanya berlaku bagi laki-laki. Hal ini sudah dijelaskan sejelas-jelasnya dari Hadits itu sendiri, karena usia 15 tahun adalah usia dimana anak laki-laki tumbuh menjadi pria dewasa. Di masa perang, ketika seorang anak laki-laki mencapai usia tersebut, anak tersebut mengemban tanggung jawab yg sama dengan pria dewasa.

Al-Hafith Ibn Hajr menyatakan dalam komentarnya akan Hadits ini ketika ia menjelaskan penafsiran dari beberapa sarjana/kaum terpelajar berkenaan dengan Hadits ini:
Selanjutnya, beberapa kaum terpelajar Maliki menyatakan bahwa kejadian ini adalah kejadian dimana seseorang melatih jiwa kepemimpinan atas dirinya sendiri, bukan kepemimpinan secara pada umumnya (memimpin para pria). Selanjutnya, adalah mungkin bahwa anak tersebut mencapai umur pubertasnya pada umur tersebut (15 tahun) dan oleh karena itu diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang.( Fath Al-Bari, commentary on hadeeth no. 2521)

BUKTI BAHWA ANAK KECIL (LAKI-LAKI YANG BELUM MENGALAMI MASA PUBERTAS) JUGA MENGAMBIL BAGIAN DALAM PERANG

Telah terbukti dari Hadits sahih bahwa anak kecil juga mengambil bagian dalam peperangan.
Anas menceritakan : Haritha adalah seorang martir pada hari dimana terjadi Perang Badr, dan dia adalah bocah cilik laki-laki (ghulam : seorang laki-laki yang belum mencapai pubertasnya) kemudian ibunya datang kepada Nabi dan berkata “O Rasul, engkau tahu betapa aku mengasihi Haritha. Jika ia berada di Surga, saya akan tetap sabar, dan berharap akan hadiah dari Allah, namun jika tidak demikian, maka lihatlah apa yang akan kulakukan”. Nabi berkata “Biarlah Allah mengampunimu, apakah engkau sudah tidak waras? Apa engkau mengira hanya ada satu Surga? Ada banyak Surga dan anakmu berada di Surga tingkat tertinggi, Surga dari Al-Firdaus” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 318. Also narrated in Musnad Ahmad, no. 13831 and
Musnad Abi Ya’la, no. 3500)

‘Abdur Rahman bin ‘Auf menceritakan : “Ketika aku sedang berperang di barisan depan pada hari dimana terjadinya Perang Badr, tiba2 aku berbalik kebelakang dan melihat disamping kanan-kiriku dua anak laki-laki dan merasa tidak aman berdiri diantara mereka. Salah satu diantara mereka bertanya secara diam-diam kepadaku agar temannya tidak mendengar. “Wahai Paman! Tunjukkan padaku Abu Jahl.” Aku berkata, “Wahai anak kecil, apa yang akan kau lakukan kepadanya?”, Anak tersebut berkata “Aku berjanji kepada Allah jika aku melihatnya (Abu Jahl), aku akan membunuhnya atau aku yg terbunuh sebelum aku membunuhnya” Kemudian temannya yg lain juga mengatakan dengan diam-diam hal yg sama persis dengannya. Aku tidak akan merasa senang menjadi orang tengah diantara keduanya. Maka aku menunjukkan Abu Jahl kepada mereka. Kemdian keduanya menyerang Abu Jahl seperti layaknya elang hingga mereka mengalahkannya. Kedua anak tersebut adalah anak dari ‘Afra (anak dari perempuan Ansari) ” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 324.)

Sepertinya si penulis gagal untuk membedakan antara orang2 yg mengambil bagian dalam perang sebagai prajurit perang dan orang2 yg tetap tinggal di barisan belakang untuk merawat prajurit/tentara perang. Kriteria yg dibutuhkan untuk masing2 tipe prajurit ini adalah sangat berbeda, karena itu membandingkan keduanya adalah hal yang tidak valid.

Karena itu saya akan memberikan tantangan kepada Penulis sebagai berikut:
– Tolong tunjukkan satu Hadits saja yg menyatakan dengan jelas bahwa umur 15 tahun adalah usia minimum bagi perempuan untuk mengambil bagian dalam perang
– Tolong tunjukkan bukti Hadits yg mengatakan bahwa umur 15 tahun juga berlaku bagi wanita dengan menunjukkan pernyataan2 dari sarjana/kaum terpelajar terkemuka baik sarjana/kaum terpelajar di masa lalu maupun masa sekarang.

V. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA ASMAA BERUMUR 10 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA, DAN IA MENINGGAL PADA USIA KE 100 DI 73 AH

Menurut sejarahwan (hampir seluruhnya), Asmaa, kakak dari Aisha 10 tahun lebih tua dari Aisha. Hal ini dilaporkan dalam Taqri’bu-l-tehzi’b sama juga seperti dalam Al-bidayah wa’l-nihaya bahwa Asmaa meninggal pada 73 Hijrah ketika ia berumur 100 tahun. Jelas jika Asma berusia 100 tahun pada 73 Hijrah maka seharusnya ia berumur 27 atau 28 tahun pada masa Hijrah, dan Aisha seharusnya berumur 17 atau 18 tahun pada saat itu. Oleh karena itu, Aisha, jika ia menikah pada 1 AH (setelah Hijrah) or 2 AH, maka umurnya antara 18 – 20 tahun pada saat perkawinannya dengan Nabi.

Argumen ini didasarkan pada 2 poin, yg akan saya sebutkan dan sanggah sesuai dengan poin tersebut:
1. Perbedaan umur Asmaa dan Aisha
2. Kisah yg menyebutkan umur dari Asmaa

PERBEDAAN UMUR ANTARA ASMAA DENGAN AISHA

Perbedaan umur antara Asmaa dan Aisha diceritakan oleh sejarahwan, hanya dari perkataan Ibn Abee Az-Zinaad yg tidak hidup pada masa Asmaa dikarenakan ia berasal dari Atbaa’ at-Tabi’een (Generasi ketiga, ex: orang yg bertemu dengan orang yg bertemu dengan teman2nya Nabi). Dia hanya dipercaya oleh segelintir orang, jauh lebih banyak yg tidak mempercayainya. Selanjutnya, kebanyakan sarjana/kaum terpelajar yg menjadi sumbernya, tidak pernah melihat Asmaa. Karena itu kisah tersebut tidak dapat diterima dikarenakan rantainya munqati (tidak berlanjut/terputus)

note =>It is when the chain has a missing link between the Successors and the Companion. Ibn Hajr added that the break may occur at more than one place in the chain.

Jika kita hendak menerima kisah yg sangat lemah ini, maka kita juga harus menerima/mengakui pernyataan yg dibuat setelah menyebutkan kata2 dari Ibn Abee Az-Zinaad oleh sejarahwan yg menceritakan kisah tersebut. Imam Adh-Dhaabi berkata : “Ibn Abee Az-Zinaad berkata: Dia, Asmaa ibn Abee Bakr lebih tua 10 tahun dari Aisha”. Jika saya berkata hal ini benar, maka umur Asmaa pada saat ia meninggal seharusnya 91 tahun. Namun sebaliknya, Hisham ibn ‘Urwah berkata: Ia hidup 100 tahun dengan gigi yg masih lengkap. (Tareekh Al-Islam, 5/354)

KISAH YANG MENYATAKAN UMUR DARI ASMAA

Umur dari Asma hanya diceritakan oleh Hisham Bin ‘Urwah, yang kisahnya di Irak ditolak mentah2 oleh Penulis. Terdapat hubungan berantai antar narrator dalam kisah dimana disebutkan umur Asmaa, dimana narrator tersebut adalah berasal dari Irak, namun seperti yang kita lihat, si Penulis menerima kisah ini dikarenakan kisah tersebut sesuai dengan kebutuhan argumentasinya. Demi kepentingan berargumentasi, saya akan menerima kisah ini dan setuju bahwa umur dari Asmaa adalah 100 tahun ketika ia meninggal, meskipun para sejarahwan sendiri tetap netral/tidak memihak, tidak menyokong kisah ini mempunyai karakteristik atau kesamaan dengan kisah2 yg lain.

Argumen dari penulis tidak membuktikan apa2 mengenai umur dari Aisha, karena argument ini didasarkan pada kisah dari Ibn Abi Al-Zinaad, yg sudah kita sanggah sebelumnya dikarenakan kisahnya yg jelas2 lemah.

APAKAH SEJARAHWAN SETUJU DENGAN APA YANG DISEBUTKAN OLEH PENULIS?

Sebagai hasilnya, Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Penulis dikarenakan dia menyebutkan dalam argumennya bahwa kebanyakan para sejarahwan setuju dengan informasi ini (informasi bahwa umur Asmaa 10 tahun lebih tua dari Aisha)
a. Di buku sejarah manakah seperti yg dikutip oleh Penulis bahwa kebanyakan kaum sejarahwan setuju dengan informasi tersebut?
b. Apakah dengan mengumpulkan kisah2 dalam buku sejarah berarti si Penulis setuju akan hal itu? Tentu saja tidak, karena kaum sejarahwan menyebutkan juga kisah2 yg lain, dan kisah2 tersebut sahih bahwa umur Aisha adalah 6 tahun saat ia menikah
c. Dikarenakan pendapat dari Penulis yg menyatakan bahwa kebanyakan sejarahwan setuju dengan isu ini, dapatkah si Penulis menyebutkan nama2 orang yg menentang pendapat tersebut? (Perlu dicatat bahwa kaum sejarahwan tidak pernah saling sepakat akan informasi yg menyatakan bahwa beda umur Asmaa dan Aisha adalah 10 tahun)
d. Buku yg dikutip oleh si Penulis mengandung banyak kisah lain yang menyanggah dan bertentangan dengan gagasan/pandangannya. Yang ingin saya tanyakan adalah, bagaimana bisa si Penulis hanya menerima kisah yang sesuai/fit dengan kepentingannya untuk berargumentasi, sedangkan dengan mudah ia menolak mentah2 sisa2 kisah dari buku tersebut, sekalipun apa yg Penulis tolak sudah disetujui dan terbukti oleh Hadits sahih?

VI. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEEMPAT ANAK DARI ABU BAKR DARI 2 PERKAWINAN PERTAMANYA DILAHIRKAN PADA JAMAN JAAHILIYAH (zaman Pra Islam)

Penulis argumen ini menyatakan : “Tabari dalam tulisannya akan sejarah Islam, saat menyebutkan Abu Bakr, melaporkan bahwa Abu Bakr mempunyai 4 anak dan keempat2nya dilahirkan semasa zaman Jaahiliyah, masa pra Islam. Jelas, jika Aisha dilahirkan pada masa Jaahiliyah, tidak mungkin Aisha umurnya kurang dari 14 tahun di masa 1 AH, waktu yg mendekati masa perkawinannya.”

Lagi-lagi Penulis nampaknya mencoba untuk menyesatkan pembaca dengan memutar balikkan kata2 dan menerjemahkan kata2 dari Imam At-Tabari sesuai dengan kepentingannya berargumentasi, dimana penerjemahan ini jelas2 salah. Kembali hal ini menyingkapkan kurangnya pengetahuan si Penulis akan bahasa Arab.

KUTIPAN UTUH DARI IMAM AT-TABARI

Inilah kutipan secara utuh dari buku sejarah yg ditulis oleh Imam At-Tabari:
At-Tabari berkata dalam bukunya Sejarah Islam:

“Ali ibn Muhammad menceritakan bahwa seseorang menambahkan kata2 dari gurunya, bahwa Abu Bakr menikah selama zaman Pra Islam dengan Qateelah, dimana hal ini juga disetujui oleh Al-Kalbi juga, mereka berkata : Dia adalah Qateelah bin Abdul Uzza ibn Abd ibn As’ad ibn Jaabir ibn Maalik ibn Hasal ibn A’mir ibn Luai yg melahirkan Abdullah dan Asmaa. Abu Bakr juga menikah pada zaman Pra Islam dengan Umm Rooman bin A’mir ibn Umair ibn Dhahl ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah dan sumber lain mengatakan dia adalah Umm Rooman bin A’mir ibn Uwaimir ibn Abdush Shams ibn Utaab ibn Udhinah ibn Subai ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah yang melahirkan Aisha dan Abdur Rahman. Jadi keempat anaknya dilahirkan oleh kedua istrinya yg telah kita sebutkan diatas, yang dinikahi Abu Bakr selama masa Pra Islam” (Tarikh At-Tabari, 2/351)

Hal2 yg perlu diingat:

  1. At-Tabari tidak pernah berkata bahwa keempat anak Abu-Bakr dilahirkan pada masa Jaahiliyah sama sekali. Dia berkata dua istri Abu Bakr, yg ia sebutkan diatas, menikah dengan Abu Bakr pada masa Jaahiliyah
  2. At-Tabari tidak pernah menyebutkan tahun kelahiran anak2 Abu Bakr, demikian juga dengan tahun dimana Abu Bakr menikahi kedua istrinya.
  3. Cerita tersebut tidak mempunyai hubungan berantai antar narrator secara utuh.
VII. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA AISHA MEMELUK ISLAM JAUH SEBELUM MASA DARI UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Penulis argumen ini menyatakan : “Menurut Ibn Hisham, sang sejarahwan, Aisha memeluk Islam jauh sebelum masa dari Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Aisha memeluk Islam selama tahun pertama dari Islam. Sementara, jika kisah yg menceritakan Aisha menikah pada umur 7 tahun ini dianggap benar, maka Aisha seharusnya tidak dilahirkan pada masa tahun pertama dari Islam. Menurut Ibn Hisham, Aisha adalah orang ke-20 atau 21 yg memeluk Islam (Al Shirah al-Nabawiyyah, Ibn Hisham, vol 1, hal 227-234, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al-hadeeth, Al-Riyadh) sementara orang2 yg sudah memeluk Islam sebelum ‘Umar ibn al-Khattab adalah sebanyak 40 individu/orang. (Al-Sirah al-Nabawiyaah, Ibn Hisham, Vol 1, hal 295, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al hadeeth, Al-Riyadh)”

Argumen ini hanya beralas pada satu poin : tahun dimana Umar ibn Al Khattab memeluk Islam. Argumen ini bukan hanya rapuh sama seperti argument sebelumnya tapi juga menyesatkan seperti yg akan saya tunjukkan berikut ini

TAHUN DIMANA UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke 9 setelah masa permulaan pewahyuan kepada Nabi Muhammad. Berikut ini bukti yg diambil dari beberapa sumber, termasuk sumber yg sama yg digunakan Penulis untuk mendukung argumentasinya:

Ibn Sa’d berkata: “Muhammad ibn Umar berkata kepada kami bahwa Usamah ibn Zaid ibn Aslam berkata kepadanya bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa kakeknya berkata kepada ayahnya : “Saya mendengar Umar ibn Al-Khattab berkata : Saya dilahirkan 4 tahun sebelum kejadian Besar Fujjar.” Dia masuk Islam pada tahun ke-6 setelah pesan Islam ada, waktu dia berumur 26 tahun. Kakeknya berkata juga hal yg sama : Abdullah ibn Umar biasanya berkata: Ayahku (Umar) masuk Islam ketika aku berumur 6 tahun” (60Al-Tabaqat Al-Kubra, 3/250)

Ibn Ishaaq berkat: “Umar ibn Al-Khatab memeluk Islam setelah Muslim2 berimigrasi ke Abyssinia (nama masa kuno untuk Ethiophia)” (Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 2/32 and Seerah Ibn Hisham, 2/193)

Fakta sederhana ini menyanggah pendapat yg mengatakan bahwa Umar adalah orang ke-40 yg memeluk Islam dikarenakan Muslim2 yg bermigrasi ke Ethiopia itu lebih dari 80 orang (63Seerah Ibn Hisham, 2/193). Abdullah ibn Umar menceritakan pada masa itu ia adalah seorang ghulam (istilah yg digunakan untuk menggambarkan orang yg masih muda belia, namun sudah mampu membuat penilaian yg masuk akal) ketika Umar ibn Al-Khattab menyatakan ke-Islaman-nya didepan publik. (Seerah Ibn Hisham, 2/193 and Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 239)

Mari kita perhatikan dengan seksama penanggalan pada kutipan diatas:
Kutipan pertama:
Umur Abdullah ibn Umar pada masa Umar memeluk Islam adalah 6 tahun
Umar memeluk Islam 6 tahun setelah permulaan wahyu yg diterima oleh Nabi
Kutipan kedua:
Umar memeluk Islam setelah migrasi pertama ke Abyssinia.
Kutipan ketiga:
Abdullah ibn Umar menyatakan bahwa ayahnya memeluk Islam ketika ia masih ghulam (dibawah umur 9 tahun).

Dari kutipan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa penentuan tanggal dari Umar memeluk Islam adalah didasarkan pada umur anaknya. Pada Hadits sahih yg telah kita rujuk sebelumnya, menyatakan bahwa Abdullah ibn Umar berumur 14 tahun pada masa perang Uhud. Perang ini terjadi pada tahun ke-3 atau 4 setelah Hijrah. Kita juga tahu bahwa Nabi tinggal di Makkah selama 13 tahun setelah menerima pewahyuan. Oleh karena itu, berdasarkan berdasarkan informasi penanggalan ini, Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke-9 setelah masa pewahyuan kepada Nabi.
Berikut ini adalah urutan waktu untuk mendemonstrasikan kejadian2 tersebut:

Pra Hijrah (Tahun permulaan pewahyuan kepada Nabi)
– Tahun ke 5 => Aisha lahir
– Tahun ke 9 => Abdullah berusia 6 tahun
– Tahun ke 9 => Umar memeluk Islam

Hijrah => (tahun ke 13)

Pasca Hijrah
– Tahun ke 2 =>Pernikahan Aisha
– Tahun ke 3 / 4 => Perang Uhud
– Tahun ke 3 / 4 => Abdullah berusia 14 tahun

VIII ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KATA “BIKR” TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI KATA UNTUK MERUJUK SEORANG GADIS MUDA.

Penulis argumen ini berkata :”Menurut kisah yg diceritakan Ahman ibn Hanbal, setelah kematian Khadijah, ketika Khaulah datang kepada Nabi dan menasihatinya untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada pilihan apa yg ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata:’Engkau dapat menikahi seorang perawan (bikr) atau wanita yg sudah pernah menikah (thayyib). Ketika Nabi bertanya siapa gadis perawan tersebut, Khaulah mengajukan nama Aisha. Siapapun yg mengerti bahasa Arab sadar bahwa kata ‘bikr’ dalam bahasa Arab tidak ditujukan kepada gadis 9 tahun yg belum dewasa. Kata yg benar untuk gadis muda yg suka bermain-main seperti yg sudah saya nyatakan sebelumnya adalah ‘jaariyah’. ‘Bikr’ sebaliknya, digunakan untuk merujuk kepada wanita yg belum pernah menikah, dan sangat jelas gadis 9 tahun bukanlah seorang wanita. ”

Penulis sepertinya adalah penyanggah/penentang yg mengambil keuntungan dari kekurang-pahaman pembaca akan dasar2 perbendaharaan kata Arab ATAU penulis adalah orang yg terang2an meremehkan kemampuan intelek/berfikir dari pembaca. Namun dari cara dia menggunakan kata2 dari kalimatnya, terlihat bahwa dia menunjukkan boroknya sendiri akan kekurang-pahaman akan bahasa Arab. Apa lagi yg bisa kita harapkan dari orang yg cuman sekedar bisa mem-beo dari kata2 orang lain?

DEFINISI DARI BIKR DAN JAARIYAH
Argumen ini merujuk pada kata bikr dan jaariyah. Definisi dari kata2 tersebut adalah sebagai berikut:
Bikr secara umum artinya adalah anak sulung tetapi mempunyai arti tambahan, yg dapat juga digunakan untuk merujuk perempuan yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Al-Muheet Fi Al-Lugha, 2/49).

Bikr adalah seorang Jaariyah yg masih perawan dan pengertian Bikr pada wanita adalah seseorang yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Lisan Al-A’rab, 4/76).
Pengertian pada umumnya adalah setiap gadis yg masih muda belia/cilik disebut sebagai Jaariyah, jadi penggunaan kata jaariyah berhubungan/merujuk kepada umur. Namun kata Bikr adalah kata yg menjelaskan seorang perempuan yg masih perawan terlepas dari apakah mereka masih muda atau dewasa. Sebagai tambahannya, maksud dari Khaulah dalam pertanyaannya kepada Nabi adalah apakah Nabi berkeinginan untuk menikahi seseorang yg belum pernah menikah sebelumnya ATAU seseorang yg sudah pernah menikah sebelumnya.

IX ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA FATIMAH 5 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA DAN IA DILAHIRKAN 5 TAHUN SEBELUM MUHAMMAD MENCAPAI MASA KENABIAN-NYA.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut Ibn Hajar, Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisha. Fatimah dilaporkan bahwa ia lahir ketika Nabi berumur 35 tahun. Jika informasi ini benar adanya, umur Aisha tidak kurang dari 14 tahun pada saat Hijrah, 15 atau 16 tahun pada saat pernikahannya. Pernyataan asli Ibn Hajar dan terjemahannya dan referensinya adalah sebagai berikut : Fatimah dilahirkan pada masa dimana Ka’bah dibangun, ketika Nabi berumur 35 tahun. Dia (Fatimah) berumur 5 tahun lebih tua dari Aisha (Al-isbah fitamyizi’lsahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol 4, hal 377, Bahasa Arab,Maktabatu’l-Riyadh alhadeetha, al-Riyadh, 1978)”

Sangat penting untuk bersikap objektif ketika sejarah didiskusikan, dan sepertinya Penulis kurang akan hal ini dikarenakan keputus-asaannya untuk mencari argument apapun yg mendukung gagasan/pandangan pribadinya. Referensi diatas yg digunakan oleh Penulis, telah diambil sepotong-potong dengan cara yg sangat menyesatkan dan keluar dari konteks aslinya.

KUTIPAN SESUNGGUHNYA DARI IBN HAJR
Berikut ini beberapa bagian yg Penulis dengan gampangnya ubah/hilangkan, dikarenakan bagian ini bertentangan dengan argumennya:

Ibn Hajr berkata (sebelum kutipan tersebut/kutipan yg diambil Penulis):“Telah terjadi masalah mengenai perbedaan pendapat tahun Fatimah dilahirkan”
Kemudian Ibn Hajr berkata lagi setelah kutipan tersebut: “Abu Umar menceritakan bahwa Ubaidullah ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Ja’far Al-Hashemi berkata :”Fatimah dilahirkan ketika Nabi berumur 41 tahun, tahun dimana sudah hampir setahun atau lebih saat Nabi mendapatkan pewahyuannya. Dan dia lebih muda 5 tahun dari Aisha. Ali juga menikah dengan Fatimah pada tahun kedua setelah Hijrah pada bulan Muharram, yang merupakan 4 bulan setelah pernikahan Aisha, dan sumber lain juga menceritakan kisah yg sama.”” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-sahabah, 4/377)

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa dikarenakan banyak jumlah kisah dalam sejarah yg berhubungan dengan topik pernikahan Aisha, maka tidak ada satupun kisah yg dapat dengan mudah dipilih sebagai bukti KECUALI kisah tersebut lolos kualifikasi setelah narratornya diperiksa dengan seksama, conteks dan text dari Hadist tersebut oleh kaum terpelajar/sarjana Islam yg dipercaya.

EPILOG – NASIHAT TERAKHIR

Saya sudah menyediakan bukti2 yg cukup dalam tulisan saya untuk menunjukkan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya dengan Nabi dan hal ini adalah masalah konsensus (persetujuan yg diterima secara umum) diantara kaum terpelajar/sarjana, termasuk sejarahwan Muslim yg bukunya digunakan sebagai “bukti” yg digunakan si Penulis.

SI Penulis bergantung pada buku2 sejarah, yg sebenarnya juga menceritakan bahwa umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya. Namun, jelas2 ganjil bahwa si Penulis hanya mengakui/mendukung statement2 yg mendukung argumentasinya namun dengan mudah mengabaikan sisa2 statement lain yg bertentangan dengan opininya sementara sisa2 statement terarkhir terbukti sahih dan disetujui oleh kaum terpelajar/sarjana Muslim.

Metode cut and paste yg digunakan Penulis adalah bias, sangat menipu, dan pada kenyataannya menghapuskan kredibilitas dari si Penulis. Tidak ada hal yg bermanfaat yg dapat dicapai oleh seseorang yg menghalalkan segala cara untuk mempropagandakan idenya yg menyesatkan. Kita mencari tempat perlindungan dari Allah dari penyesatan ini dan penipuan dari Syaatan (Setan).

Saya hendak menasihatkan kepada diri saya sendiri dan saudara/i Muslimku bahwa kita hidup di masa2 yg sukar. Karena itu kita harus memproteksi diri kita dengan pengetahuan yg benar dari sumber yg sahih/asli. Setelah mencari perlindungan dari Allah dari pencobaan2 ini, tidak ada perlindungan yg lebih berarti selain membentengi diri kita dengan KEBENARAN. Ibn Sireen (A student of one of the Companions of the Prophet) mengatakan kata2 yg sederhana ini, dimana di waktu yg akan datang, dapat menjadi petunjuk yg sangat diperlukan bagi para kaum terpelajar, “Pengetahuan ini adalah pengetahuan agama, oleh karena itu berhati-hatilah dengan kepada siapa engkau memperoleh pengetahuan tersebut”.

Jadi mari kita tidak membiarkan telinga kita untuk mendengarkan hal2 yg meragukan yg disebarkan oleh musuh2 Islam, terutama mereka orang2 munafik yg telah menjadi juru bicara bagi orang2 kaffir, yang hanya sekedar mengeluarkan gema/sekedar membeo dikarenakan penyakit yg sudah mewabah dalam hati mereka. Mereka2 inilah yg dikatakan Allah:

Orang-orang tersebut adalah orang2 yg membuang2 waktu dan tenaga dalam hidupnya, sementara mereka sedang mengira bahwa mereka memperoleh kebaikan dengan perbuatan mereka.( Surah Al-Kahf (18):104)

Hanya Allah saja yg mengetahui hal terbaik.

Ditulis oleh seseorang yg terus menerus membutuhkan pengampunan dan belas kasihan dari Allah,
Ayman bin Khalid

Perbudakan dalam Sejarah Islam

PERBUDAKAN ISLAM

Telah banyak ditulis tentang pasar perbudakan Trans-Atlantic, yang mengejutkan ialah sedikit perhatian telah diberikan tentang pasar perbudakan Islam sepanjang Sahara, Laut Merah dan Samudra India. Keterliban Eropa di dalam pasar perbudakan Trans-Atlantic to Amerika telah berakhir di abad 14, sementara dibeberapa dunia Islam itu terus berlangsung sampai saat ini.

Perbandingan nyata dalam penahanan budak:
(kolom I = hal, kolom II= Perbudakan Islam, kolom III=Perbudakan Kulit Putih; kolom dipisahkan dgn tanda “!!”)
Hal !! Perbudakan Islam !! Perbudakan Kulit Putih
Jenis kelamin !! 2 wanita untuk 1 pria !! 2 pria untuk 3 budak
Dikirim !! 28 Juta jiwa !! 11 juta
Mati sebelum dijual !! 80-90% !! 10%
Dipekerjakan untuk !! sex, pembantu dan militer !! Perkebunan
Tujuan negara !! Timur Tengah,Mesir, !! 95%Amerika (Koloni:Portugis, Spanyol, Perancis)
Saat perbudakan !! Laki:dikeberi, bayi dibunuh !! boleh menikah & berkeluarga
Kehidupan sekarang !! Sedikit yang hidup !! jutaan jadi WN USA / Brasilia

Perbudakan Islam di Afrika sejak abad 14, dipercayai bahwa jumlah mati langsung (death toll) sebelum mereka sampai pasar budak dapat melebihi dari 112 juta jiwa, total jumlah korban orang Afrika ini sangatlah mungkin lebih tinggi dari 140 juta jiwa! (Dari saya: perlu diingat bahwa untuk menangkap satu atau dua orang untuk dijadikan budak, itu berarti 4-7 jiwa dari setiap keluarga mereka mati dibunuh: orang tua, anak-anak yang terlampau kecil, orang cacat dan terbunuh karena bela diri).

Ronald Segal mencatat : ”Ketika Islam menjajah Kerajaan Sasanid Iran dan Byzantine, termasuk Syira dan Mesir di abad ke tujuh, mereka menjarah banyak sekali emas dari gereja-gereja dan tempat tinggal para pendeta juga kuburan-kuburan.
Budak-budak perempuan diminta dalam jumalah besar untuk dijadikan pemusik, penyanyi, penari, dan banyak juga yang dibeli untuk pekerjaan rumah tangga alis pembantu (halusnya). Dan banyak yang diminta sebagai selir-selir. Selir para penguasa sangalah banyak. Contoh: Abdal Rahman III (912-961) di Kordoba melebihi 6000 (enam ribu) selir! Dan di Taman Fatimid di Kairo ia memiliki dua kali lipatnya.”
Kalipa di Bagdad pada awal abad ke sepuluh memiliki 7000 budak Negro dan 4000 budak Europa yang dikebiri. Hubungan homosex adalah hal yang umum.”

Teori perbudakan dalam Islam:
Ibn Khaldun (1332-1406) Sejarahwan dan pemikir Islam menulis: “Negera-negara Negro (Afrika) adalah suatu aturan penundukan kepada perbudaka, karena mereka memiliki tanda-tanda bahwa mereka adalah sangat serupa dengan binatang-binatang bodoh.”

Kuran membenarkan budak-budak perempuan untuk dinikmati oleh tuan-tuan mereka, dan dibawah Hukum Sharia mereka boleh disewakan untuk pelacuran.
Muhammad sendiri memilik 40 budak-budak perempuan, sebagian hasil penangkapan di dalam perang, sebagian hasil beli,

Suatu otobiografi dari wanita Sudan yg dijadikan budak di tahun 1992. ”Slave: My True Story”

Cerita diambil dari Islamic’s Black Slave
begitu ya terus2…masih ada lagi ngk ceritanya….masih ada yg lebih panjang kah??!!
Nih ! Silahkan baca !

Quran milik Presiden AS, JEFFERSON
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=9896

Jefferson membeli Quran karena ia ingin tahu ttg Muslim. Ini karena ia merencanakan utk melancarkan perang terhdp negara2 Islam “Barbary”, yi Maroko, Aljazair, Tunisia dan Tripoli.

Rupanya … kebanyakan orang AS sendiri lupa akan sejarah AS bahwa bajak2 laut Muslim selama berabad2 memperbudak jutaan orang Afrika dan puluhan ribu orang Eropa dan AS di negara2 “Barbary”.

Selama 10 abad, bajak2 laut Muslim menelusuri jalur pantai Afrika dan Mediteran, menjarah desa2 dan mengambil budak.

Perebutan budak dlm serangan fajar terhdp desa2 pantai yg lengah
mengakibatkan angka korban yg tinggi. Praktek para bajak laut Muslim adalah utk membunuh sebanyak mungkin lelaki dan wanita tua “non-Muslim” dan merebut “jarahan” berbentuk wanita2 muda dan anak2.

Wanita2 non-Muslim ini khususnya bernilai tinggi di pasaran budak sex. Hukum Islam sangat menunjang bagi pemuasan seksual lelaki Muslim dgn mengijinkan mereka utk mengambil paling tidak 4 istri sekaligus disamping sebanyak mungkin gundik sesuai dgn kemampuan dompet.

Lelaki semuda 9 atau 10 tahun dikebiri dan dijadikan ‘eunuchs‘ yg juga laku dipasaran perbudakan Timur Tengah. Pedagang2 budak Muslim membentuk “stasiun2 eunuch” disepanjang rute perbudakan utama Afrika bagi operasi pengebirian. Diperkirakan, hanya sebagian kecil anak2 yg mengalami kebiri selamat setelah operasi.

Ketika AS mendepak kekuasaan Inggris pd thn 1776, pedagang2 AS kehilangan perlindungan dari kapal2 Inggris. Karena AS belum memiliki angkatan laut, kapal2 dagang AS tidak memiliki pertahanan atas serangan bajak laut sering diserang shg kru kapal Kristen mereka diperbudak oleh bajak2 laut Muslim yg beroperasi dibawah kontrol “Dey Aljazair”– seorang komandan perang Islamis di Aljazair.

Karena perdagangan AS ini dihancurkan oleh bajak laut, maka Kongres setuju pada thn 1784 utk merundingkan perjanjian dgn keempat negara Barbary. Kongres melantik komisi khusus yg terdiri dari John Adams, Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin, utk mengurusi perundingan.

AS setuju utk membayar uang tebusan kpd bajak laut Muslim utk mengambil kembali kapal2 yg dijarah Muslim beserta dgn orang2 AS yg diperbudak.

Adams setuju dgn uang tebusan ini. Tapi Jefferson menolak. Ia percaya bahwa Muslim tidak akan habis2nya menuntut tebusan lewat ancaman perang. Ia mengusulkan dibentukan liga negara2 dagang utk memaksa Muslim menghentikan aksi pembajakan mereka.

Th 1786, Jefferson, waktu itu dubes AS di Perancis, dan Adams, dubes AS di Inggris, di London bertemu dgn Sidi Haji Abdul Rahman Adja, sang “Dey Aljazair,” yg kebetulan dubes Aljazair di Inggris, utk membicarakan perjanjian damai.

Selama pertemuan itu, Jefferson and Adams bertanya kdp sang Dey mengapa Muslim begitu benci terhdp AS, negara yg paling jarang berhubungan dgn mereka.

Ternyata jawab Dubes Sidi Haji Abdul Rahman Adja adalah bahwa Islam “dibentuk berdasarkan Hukum Nabi, bahwa tertulis dlm Quran bahwa semua negara yg tidak mengakui otoritas Muslim adalah laknat, dan adalah hak dan kewajiban Muslim utk melancarkan perang terhdp mereka dimanapun mereka ditemukan, dan memperbudak mereka semua, dan bahwa Muslim yg mati dlm pertempuran mendpt jaminan surga.”

Selama 15 tahun berikutnya, pemerintah AS membayar Muslim jutaan dollar agar mendapatkan jaminan keselamatan (safe passage) kapal2 AS dan dikembalikannya sandera2 AS. Jumlah total uang ini sampai mencapai 20 % dari pemasukan AS di thn 1800. … baca seterusnya

Islamic Slavery: Thomas Jefferson and Islam (Part 1)
http://www.youtube.com/watch?v=5U2phq6V … re=related
Sejarah: Pembantaian oleh Khalifah TURKI
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=1032

Pasukan2 Ottoman lalu menyerang desa-desa Kristen, menculik anak2 kecil, yang kemudian dibawa ke Konstantinopolis sebagai serdadu-budak, dan secara paksa di-Islamkan. Mereka ini dilarang berhubungan dengan wanita, kecuali saat mereka menyerang kota atau desa musuh, itulah saatnya diperkenankan untuk menjarah dan memperkosa sepuasnya selama tiga hari berturut-turut.Hal ini berlanjut terus sampai 1700, setelah keanggotaan lambat laun berubah menjadi tradisi turun-temurun, dan akhirnya berakhir dengan penghapusan Janissariyah, setelah timbul sebuah pemberontakan. Anak-anak orang Nasrani lainnya masih saja diculik untuk dijadikan budak sebagai pembantu-pembantu istana, kasim, dan gundik (harem). Praktek-praktek macam inilah yang meninggalkan kenangan pahit bagi penduduk Balkan dan Armenia tentang masa penjajahan Muslim yang berabad-abad itu.

Bagian 2 : Jihad vs Persia 634M
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=2671

Ali, menantu Muhamad, mengusulkan agar memindahkan markas ke panglima Arab Muslim, Mugheera-ibn-Shu’ba. Setelah pertempuran Qadsiyyah, penduduk Persia secara terbirit2 mengosongkan ibukota, Ctesiphon, dan alhasilnya, banyak anak2 dan orang tua tertinggal. Orang tua diberikan pilihan menerima Islam atau mati, dan kebanyakan memang memilih mati. Tetapi anak2 perempuan dan lelaki dijadikan budakdan dibagi2kan diantara para Arab sbg jarahan perang.{Pembagian budak sbg pampasan perang ini juga diulangi Muslim di Yerusalem (636), Damascus (637), Cesaria (639), Alexandria (650), Tripoli (651), Konstantinopel (1453)}

Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=2680

Pihak Arab menawan puluhan ribu Cina dan sekutu2 non-Qarluq Turki mereka dan membawa mereka ke Samarqand dan kemudian ke Baghdad dan Damaskus utk dijual sbg budak. Salah seorang tawanan Cina menyebut perlakuan di kamp2 penjara Arab mirip perlakuan terhdp ternak. Abu Muslim dan Ziyad mendapatkan kekayaan besar dari perdagangan budak ini dan menggunakannya utk membayar tentara mereka. Lebih penting lagi, Arab memaksa tawanan Turki dan Cina utk mengajarkan mereka seni membuat mesin2 katapul dan kereta2 penyerang, yg oleh Muslim2 Turki dimanfaatkan secara sukses dlm serangan melawan kota2 Bizantin.

Gunakan fasilitas SEARCH dan ketik kata ‘budak‘. Pilih Forum RESOURCE CENTRE JIHAD, dan anda akan melihat sejarah lengkap Islam sejak abad 7 dlm soal perbudakan tawanan perang, termasuk mereka yg diserang tanpa provokasi.

DianAZ wrote:Telah banyak ditulis tentang pasar perbudakan Trans-Atlantic, yang mengejutkan ialah sedikit perhatian telah diberikan tentang pasar perbudakan Islam sepanjang Sahara, Laut Merah dan Samudra India. Keterliban Eropa di dalam pasar perbudakan Trans-Atlantic to Amerika telah berakhir di abad 14, sementara dibeberapa dunia Islam itu terus berlangsung sampai saat ini.

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=16579

Kata murtadin Afrika, pastor Ashimolowo :

Ttg Perbudakan : utk setiap 1 budak yg diambil bule, ada 14 budak yg diambil Muslim dari Afrika.Barat mengambil budak utk kepentingan ekonomi, Islam mengambil budak utk SEX. Sampai ada 1 khalif dgn 3000 gundik. Perbudakan hanya baru saja dihapuskan di negara2 Islam th 1965 Saudi, th 1991 di Sudan. (Mauritania, baru tahun ini.)

Namun betapa IRONIS bahwa OKI (Organisasi Konferensi Islam) justru menuduh BARAT kurang cukup meminta maaf dan memberi kompensasi !

Muslim Nations Want ‘Islamophobia’ on Anti-Racism Meeting’s Agenda
August 28, 2007
http://www.cnsnews.com/news/viewstory.a … 0828a.html

Delegasi Mesir mengutuk langkah2 “tidak cukup” (oleh Barat) sejak 2001
“utk memperhatikan dan memperbaiki situasi rakyat keturunan budak-korban perdagangan budak transatlantik.”

Dokumen OKI di Durban ini mengatakan bahwa “ada negara yg mengambil inisiatif utk meminta maaf dan membayar kompensasi atas pelanggaran biadab dan masif [dlm perdagangan budak].”

“Kami menyerukan agar mereka yg belum menyumbang bagi pemulihan harga diri para korban agar segera mencari jalan2 utk melakukannya,” kata dokumen tsb.

DianAZ wrote:Cerita diambil dari Islamic’s Black Slave

Sedang diterjemahkan di :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 226#216226
Foto Album :
THE FORGOTTEN HOLOCAUST by ARAB SLAVE TRADERS
http://family.webshots.com/album/559849697fcELbz
Perdagangan Budak ARAB
http://en.wikipedia.org/wiki/Arab_slave_trade

Sejarawan menggunakan dokumen naratif yg tidak persis utk menghitung angka budak bagi Timur Tengah:

Luiz Felipe de Alencastro[23] memperkirakan 8 juta budak diambil dari Afrika antara abad 8-19 melewati rute Trans-Sahara.
Olivier Pétré-Grenouilleau menyebut angka 17 juta, utk jangka waktu yg sama.[24]
Paul Bairoch menyebut angka 25 juta, dibanding dgn 11 juta budak yg sampai di AS.[25]

Owen ‘Alik Shahadah (MUSLIM!), penulis African Holocaust, menyebut angka 10 juta dan bersikeras bahwa perdagangan itu BOOMing diabad 18saja, sebelumnya, perdagangan ini hanya segelintir (“a trickle trade”) dan bahwa angka2nya dibesar2kan utk membela jumlah budak bagi AS. [26].

Image

http://www.christianaction.org.za/artic … lavery.htm

Sementara budak2 yg dibawa ke AS dimaksudkan sbg pekerja perkebunan, budak2 ke Timur Tengah dimaksudkan bagi EKSPLOITASI SEKSUAL sbg gundik di harem2 dan keperluan militer.

Sementara anak2 keturunan budak di AS menjadi warga negara dgn hak sederajad, sedikit sekali keturunan budak di Timur Tengah selamat.

Kebanyakan budak di AS bisa menikah dan beranak pinak, budak2 di Timur Tengah di-MANDULkan (agar tidak dapat beranak pinak) dan anak2 yg lahir dari budak kebanyakan DIBUNUH saat baru lahir.

Diperkirakan, sekitar 11 juta orang Afrika ditransportasi lewat Samudera Atlantik (95% menuju ke Amerika Selatan, khususnya jajahan Portugis, Spanyol dan Perancis. Hanya 5% budak dibawa ke AS).

Paling sedikit 28 juta budak sampai ke Timur Tengah. 80% dari yg ditangkap pedagang budak Muslim diperkirakan mati sebelum mencapai pasar2 budak, Diperkirakan, angka kematian dari 14 abad penjarahan budak Muslim = 112 juta. Ditambah dgn jumlah budak yg dijual di pasar2 budak, jumlah total korban budak Trans Sahara dan Afrika Timur adalah lebih dari 140 juta. :shock: :shock:
http://carlagirl.net/blog/2006/02/rare- … slave.html

Samudra hindia : Budak2 Afrika Timur ditampung di kapal Belanda, HMS Daphne dari sebuah kapal/dhow Arab, 1 November 1868. Foto2 ini menunjukkan sebagian penderitaan yg diakibatkan oleh perdagangan budak.

Lelaki2 bagai tengkorak itu diselamatkan kapal Inggris dari kapal2 ilegal pengangkut budak dipantai Afrika yg tadinya dimaksudkan utk Amerika (Latin?). Kapten kapal diperintahkan agar tidak mengembalikan budak2 itu ke tempat asal mereka karena bahaya mereka akan ditangkap kembali oleh para pedagang budak. Namun tidak jelas dari dokumen, kemana mereka dibawa. Zanzibar ?
sumber

ImageDibandingkan dengan singkatnya masa perbudakan oleh orang-orang Amerika, bangsa Arab (zaman Islam dan Pra-Islam) jauh telah memburu, memperbudak, menganiaya dan membunuh etnis Afrika di Afrika Utara dan Timur selama ribuan tahun sebelum daerah yang sama terbuka bagi perbudakan penjajahan Arab.

Image

Salah satu fakta yang paling tragis yaitu Mekkah, jantung geografis komunitas muslim, adalah SATU DARI PASAR PERBUDAKAN TERBESAR dalam dunia muslim sepanjang abad sampai dengan abad ke 20 dimana standar-standar komunitas Internasional, yang diungguli oleh Barat menginformasikan para muslimin bahwa perbudakan adalah kekerasan yang melanggar kedalaman nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan dalam relasi global. Bahkan masa kini, perbudakan orang kulit hitam masih berlaku, justru di banyak negara Afrika di mana para muslim berada.

Uraian yutub di atas yang sangat bagus!!!
Korban penganiayaan/pembunuhan massal Auschwitz = 6 juta dan berlangsung hanya dalam kurun waktu 3 tahun.
Korban penganiayaan/pembunuhan massal perbudakan oleh muslim = 140 juga dan berlangsung sampai detik ini!!! Masyaaouwohhh!! Oom Ali aja sampe kaget

ali5196 wrote: jumlah total korban budak Trans Sahara dan Afrika Timur adalah lebih dari 140 juta.

Read More

%d blogger menyukai ini: