Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Arsip tag pedofilia

Perang Uhud – Maret 625M – Bagian 1

Sambungan dari bagian Pertama : Kisah Perang Uhud I

Perang Uhud – Maret 625M

Dari Faithfreedompedia

Teror 21 : Pertempuran Uhud, Dipimpin oleh Muhamad — Maret, 625M


ALASAN KALAHNYA MUSLIM DLM PERANG UHUD : KEBLINGER HARTA JARAHAN

Berkas:180px-Battle of Auhad.gif

Tentara Muslim mengetahui bahwa pihak Quraysh berhasil dipukul mundur. Maka tanpa menunggu lagi, mereka berlarian maju mengumpulkan barang jarahan perang. Begitu serakahnya mereka saling berebutan peralatan perang sehingga begitu para pemanah Muslim dari atas bukit melihat kawan2nya menjarah, merekapun meninggalkan posisi mereka dan ikut berlari mengambili barang jarahan perang. Hanya 10 pemanah yang dipimpin oleh Abd Allah ibn Jubayr yang tetap berada di posisi mereka seperti yang diperintahkan Muhammad. Selebihnya tidak mempedulikan lagi perintah Muhammad karena terlalu tergiur oleh barang jarahan. Inilah yang ditulis Tabari tentang bagaimana besarnya nafsu para Jihadis terhadap barang jarahan perang.[94]

Ketika para Jihadi yang menjaga garis belakang melihat tentara Quraysh dan para wanitanya
melarikan diri dan melihat barang jarahan perang, mereka jadi bernafsu mengambilnya dan berkata,
“Mari kita pergi ke Rasul Allah dan mengambil jarahan perang sebelum yang lain merebutnya duluan
dari kita.” Kelompok lain ingin mentaati perintah Muhammad dan yang lain ingin meninggalkan
posisi mereka. Pertentangan kedua kelompok ini dikatakan Tuhan di Q 3:145 “Siapa yang bernafsu …
Alam Baka. Menyaksikan keserakahan akan barang jarahan perang, Ibn Masud berkata, “Aku sebelumnya
tidak pernah menyadari bahwa ada pengikut2 Nabi yang begitu bernafsu akan dunia dan kekayaannya
sampai pada hari itu.”

Keserakahan tanpa kendali para Jihadi akan barang jarahan perang menyebabkan Khaild b. Walid, komandan pasukan berkuda Quraysh dapat menyerbu pasukan Muslim yang sedang mabuk barang jarahan dari belakang dan mengubah keadaan perang. Dia lalu menyerang dengan ganas sisa2 pemanah yang masih berada di tempat dan membunuh mereka semua, termasuk pemimpin para pemanah Abd Allah ibn Jubayr. Khalid b. Walid diikuti oleh Ikrimah b Abu Hakam (anak laki Abu Jahl; Abu Jahl dibunuh secara brutal di Badr II). Dikatakan bahwa para malaikat ada tapi mereka tidak membantu para Muslim.[95]

Sudah jelas alasannya mengapa para malaikat ragu2 untuk menolong tentara Allah. Ketika tentara Muslim berantakan dan terpukul mundur, Muhammad mencoba mengatur peperangan. Dia berusaha memanggil orang2 untuk berperang demi Rasul Allah. Tapi panggilannya tidak dihiraukan dan tentara Muslim terus mundur. Para musuh dengan cepat bergerak mendekati posisi Muhammad. Sekelompok Jihadis yang setia berusaha melindunginya. Muhammad tidak bisa lari lagi. Dalam keadaan penuh kebingungan inilah muncul suatu berita bahwa Muhammad telah dibunuh, dan ini mematahkan semangat tentara Muslim. Para biografer Muhammad menulis hal yang bertentangan dan membingungkan ttg episode Perang Uhud ini. Inilah yang kumengerti setelah mempelajari beberapa versi kisah ini.

93 Ibid
94 Tabari, vol.vii, p.114
95 Ibn S’ad, p.49

Melihat perubahan keadaan perang di garis depan yang tercerai-berai, pihak Quraysh segera bangkit lagi semangatnya dan maju lagi bertempur. Seorang Quraysh wanita bernama Umrah bt. Alqamah Al- Harithya mengangkat bendera Quraysh yang tergeletak dan menegakkannya di atas tanah. Kali ini pihak Quraysh menguasai keadaan peperangan. Mereka berkumpul kembali dan mulai mencari Muhammad.

Sekelompok tentara Quraysh yang telah membunuh pasukan panah Muslim, mengejar Muhammad dan para bodyguard-nya. Pada saat itu kebanyakan Jihadi sedang sibuk mengumpulkan barang jarahan. Hanya 9 orang Jihadi yang melindungi Muhammad, 7 dari mereka adalah orang Ansar (Medinah) dan 2 adalah Muhajir (yang hijrah dari Mekah). Sebagian tentara Khalid yang dipimpin oleh ibn Qamia melempari kelompok pelindung Muhammad dengan batu. Sebuah batu menerjang mulut Muhammad dan melukai gigi taring kanan bawah dan bibir bawahnya. Serangan pedang tentara Quraysh yang bernama Utbah b. Abi Waqqas (saudara laki Sa’d b. Abi Waqqas, orang Muslim) melukai jidat dan bahunya sehingga mengeluarkan banyak sekali darah.

Pasukan Mekah menyerang tentara Muslim dari belakang sehingga Muslim kocar-kacir. Banyak tentara Muslim yang dibunuh tentara Mekah. Beberapa Muslim terluka sangat parah dan banyak yang mulai melarikan diri dari medan perang. Dengan luka di mulut dan badannya dan hati yang terluka, Muhammad memanggil para pengikutnya untuk terus berperang, tapi tidak ada yang mendengarkannya. Maka Allah mengirim Q 3:128, “Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang lalim.” Muhammad yang sudah tak berdaya berteriak, “Siapa yang bersedia menjual nyawanya bagi kami?”

Mendengar jeritan putus asanya, Ziyad b. al-Sakani (atau Umarah b. Ziyad al-Sakani) dan 5 orang Jihadi datang untuk melindungi Muhammad. Mereka semua mati satu per satu di hadapan Muhammad sehingga tinggal Ziyad b. al-Sakani yang masih hidup.[96]

Dikisahkan bahwa Hatib b. Baltah mengikuti Utbah b. Abi Waqqas dan membunuhnya meskipun sebenarnya Sa’d b. Abi Waqqas yang ingin membunuh saudara lakinya sendiri (Utbah). Meskipun serangan terhadap Muhammad tidak mematikan (karena Muhammad memakai baju perang dua lapis), pukulan yang diterimanya begitu keras sehingga dua cincin helmnya menusuk masuk pipinya. Muhammad yang terluka dengan hebatnya mengutuki orang yang menyerangnya. Para bodyguard-nya berperang dengan sengit untuk melindunginya, tapi tentara Quraysh terus menyerang tanpa berhenti sehingga akhirnya ke tujuh bodyguard Muhammad tewas semua. Sekarang tinggal 2 Muhajir yang bernama Ubaidullah dan Sa’d b. Abi Waqqas yang melindungi Muhammad.

Dalam waktu singkat, tentara Quraish melukai Talhah b. Ubaidullah. Pemegang bendera Muslim yang bernama Musab b. Umayr berdiri tak jauh dari situ. Kebetulan muka dan sosok dia mirip dengan Muhammad. Ibn Qamiah menyerang dan membunuhnya. Karena dia mengira yang dibunuhnya adalah Muhammad, maka dia berteriak sekuat tenaga, “Muhammad sudah dibunuh.” Mendengar kabar naas ini, tentara Muslim jadi kacau; karena kebingungan, mereka jadi bertempur satu sama lain. Satu korban dari kejadian saling serang antar kawan ini adalah ayah Hudhayfa yang bernama Al-Yaman. Ketika Hudhayfa melihat ayahnya akan dibunuh tentara Muslim lain, dia menjerit untuk menahannya, tapi terlambat dan ayahnya yang Muslim tewas di tangan tentara Muslim. Nantinya Hudhayfa memaafkan pembunuh ayahnya dan tidak menuntut uang darah.

Banyak Muslim yang melarikan diri dari medan perang dan kembali ke Medinah. Beberapa dari mereka membawa bangkai kawan seperjuangannya untuk dikubur di Medinah. Beberapa Muslim bahkan mencoba untuk menghubungi Abd Allah ibn Ubayy untuk bertarung melawan tentara Quraysh, agar mereka tidak dibunuh tentara Quraysh. Tapi usaha ini gagal. Setelah mengetahui pihaknya kalah dan dirinya tidak ada yang melindungi, Muhammad pun lari menyelamatkan nyawanya. Seorang Jihadi yang bernama Ka’b b. Malik melihat Muhammad yang lari ketakutan dan berteriak gembira, “Rasul Allah masih hidup.” Muhammad yang sedang ketakutan meminta Ka’b untuk tutup mulut, tapi tentara Quraysh berhasil mendengar bahwa musuh besar mereka masih hidup.

Seorang Quraysh yang bernama Ubay b. Khalaf memacu kudanya ke arah Muhammad untuk membunuhnya. Muhammad mengambil sebilah tombak dari tentaranya dan menusukannya ke arah Ubay b. Khalaf dan melukainya. Ubay kembali ke posisi tentara Quraysh dengan luka di tenggorokan dan lehernya sambil berkata, “Demi Tuhan, Muhammad telah membunuhku.” Orang2 Quraysh tidak melihat adanya luka yang serius mengancam jiwa pada diri Ubay. Tapi Ubay bersikeras mengatakan bahwa kutukan Muhammad telah melukainya. Ubay b. Khalaf mati karena lukanya dalam perjalanan kembali ke Mekah. Walaupun tidak ada bukti bahwa Muhammad telah membunuh siapapun dengan tangannya sendiri, Ibn Sa’d menulis, “Ubay Ibn Khalaf al-Jumahi, yang dibunuh Muhammad dengan tangannya sendiri ….” [98]

96 Tabari, vol. vii, p.120
97 Mubarakpuri, p.3

Ketika sedang lari menyelamatkan diri, Muhammad jatuh ke sebuah lubang jebakan yang digali Abu Amir, sang biarawan Kristen, untuk menjebak serdadu Muslim. Sekarang setelah mendengar teriakan gembira Ka’b, sekitar 30 tentara Jihadi termasuk sahabat dekat Muhammad yakni Abu Bakr, Ali, Umar, dll berlari ke arahnya. Ketika mereka sampai ke lubang jebakan, dengan lega mereka menemukan bahwa Muhammad masih hidup. Muhammad meminta mereka tidak ribut tapi bergerak menuju ke Utara ke sebuah gua di sisi bukit. Ali mengulurkan tangan untuk membantu Muhammad ke luar dari lubang itu. Bersama Muhammad, kelompok itu lalu bergerak diam2 ke arah bukit dan berlindung di situ, untuk mengatur rencana mundur bagi tentara Muslim dan terutama merawat luka Muhammad dan serdadu lain.

Dikabarkan bahwa Aisha dan beberapa Muslimah bergabung bersama kelompok Muhammad. Fatimah (anak perempuan Muhammad) tiba di tempat pertempuran dan menolong membalut luka ayahnya. Dibutuhkan waktu sebulan sampai semua lukanya sembuh.

Saudara perempuan Hamzah yang bernama Safiyah juga datang. Dia sangat sayang dan dekat dengan Hamzah. Perang Uhud juga menunjukkan bahasa yang sangat kasar dan vulgar, terutama dari pihak Muslim. Misalnya:

Ketika keadaan tentara Muslim sedang kacau balau, Hamzah terus bertempur dengan gagah berani
membunuhi beberapa orang Quraysh. Budak Abisinia yang bernama Wahsi (Ingat? Dia disewa Hind bt.
Utbah untuk membunuh Hamzah) mengamatinya dari jarak dekat dan mengambil posisi strategis untuk mengarahkan lembing mautnya ke arah Hamzah. Pada saat iut, Abd al-Uzza al-Ghubshani (Abu Niyar) berlalu di hadapan Hamzah. Abu Niyar adalah anak dari pesunat anak perempuan yang bernama Umm Ammar yang adalah budak Shariq b. Amr b. Wahb al-Thaqafi yang dimerdekakan. Jadi Hamzah membentaknya, “Ke sini kamu, anak tukang potong klitoris (alat kelamin wanita).”[99] Ketika Wahsi, budak Jubayr,
melihat Hamzah membentak Abu Niyar, dia (Wahsi) dengan cepat melemparkan lembingnya dan menusuk bagian bawah perut Hamzah dan tembus ke luar diantara kakinya. Hamzah dengan cepat mati dan Wahsi mengambil kembali lembingnya dan balik menuju tempat kemah Quraysh. Dia sudah memenuhi tugasnya membunuh Hamzah. Mayat Hamzah tergeletak di tanah.

Jadi sekarang kita tahu bahwa FGM (Female Genital Mutilation = sunat bagi wanita) ternyata umum dilakukan diantara bangsa Arab di jaman Muhammad. Muhammad tidak berupaya apapun untuk mencegah praktek ini.

98 Ibn Sa’d vol.ii, p.50

Seperti yang dikatakan sebelumnya, setelah Muhammad dikeluarkan dari lubang, Abu Bakr, Umar, Ali dan orang2 Muslim lain membawanya ke sebuah gua untuk merawat luka2nya. Seorang Jihadi mengeluarkan cincin yang menembus pipi Muhammad. Sewaktu sedang melakukan ‘operasi’ primitif itu, dia memutuskan gigi taring Muhammad yang sudah rusak sejak tadi. Darah mengucur deras keluar dari luka Muhammad membasahi mukanya. Malik b. Sinan menghisap darah itu dan menelannya.[100] Melihat ini Muhammad berkata, “Dia yang darahnya bercampur dengan darahku tidak akan tersentuh api neraka.” [101] Abu Bakr, Umar, Ali dan sahabat2 dekat Muhammad berusaha menghibur Muhammad dan Talhah b. Ubaidullah yang terluka berat. Bagi mereka yang menyebarkan berita palsu tentang kematiannya, ‘Allah’ mengeluarkan ayat Q 3:144, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Para Jihadi sekeliling Muhammad menjadi sangat lelah dan banyak yang jatuh tertidur di gua itu. Dalam waktu singkat Muhammad akhirnya meninggalkan medan perang dan berlindung di pegunungan Uhud.

Pada saat itu, setelah pihak Quraysh menyadari bahwa pihak Muslim telah dikalahkan dan mereka (pihak Muslim) telah melarikan diri ke pegunungan, mereka mulai memeriksa musuh2nya yang tewas di medan perang. Saat itu adalah tengah hari. Setelah siang berlalu, kaum Quraysh mulai mencari mayat Muhammad, tapi tidak menemukannya sehingga mereka mulai curiga jangan2 dia tidak mati. Beberapa tentara Quraysh memotong-motong mayat2 Muslim. Mereka memotong kuping2 dan hidung2 (bahkan juga alat kelamin) korban2 mereka dan dijadikan kalung. Hind bt Utbah sangat dikuasai rasa dendam sehingga dia tidak hanya mengenakan kalung2 dan gelang2 anggota badan musuhnya Hamzah, tapi juga terus melanjutkan dengan memotong-motong badan Hamzah. Dia robek perutnya, mengambil hati dan memakannya tapi rasanya sangat tak karuan sehingga dia memuntahkannya kembali. Abu Sufyan mengutuk perbuatan liar Hind itu.[102]

Lalu Abu Sufyan mendekati daerah dekat gua tempat Muhammad dkk berlindung dan bertanya siapa yang berada dalam gua. Tidak ada yang menjawabnya. Karena itu Abu Sufyan lalu meneriakkan bahwa orang2
Quraiyh telah membunuh semua ketua kelompok Muslim, termasuk Muhammad. Karena tidak tahan hinaan ini, Umar dengan marah berteriak balik dan mengatakan mereka semua masih hidup, selamat dan sehat, termasuk Muhammad. Meskipun agak kaget, Abu Sufyan ragu2 untuk melanjutkan pertumpahan darah dan mengatakan pada Umar bahwa tentara Quraysh sedang memuaskan kemarahan dengan memotong-motong mayat2 Muslim, tidak peduli Umar suka atau tidak. Abu Sufyan sudah puas membayar kematian anak lakinya Hanzalah b. Abu Sufyan yang mati di Badr II. Dia lalu menantang Muhammad untuk bertemu lagi di tahun depan di Badr. Muhammad menerima tantangan ini.

Setelah berteriak memuja Hubal (dewa terbesar di Ka’aba) dan Uzza (dewa lain dari Nakhla) atas kemenangan pihak Mekah, Abu Sufyan memerintahkan prajuritnya berbaris kembali ke Mekah. Akan hal ini, Muhammad mengumumkan Allah sebagai pelindung kaum Jihadi.

99 Tabari, vol.vii, p.121
100 Mubarakpuri, p.323
101 Ibn Ishaq, p.754; Ibn Hisham’s note
102 Heykal, Ch. Uhud

Setelah Abu Sufyan pergi jauh dari tempat perlindungan kaum Muslim, Muhammad memerintah Ali untuk menyelidiki kepergian tentara Quraysh. Ali melaporkan kembali bahwa orang2 Quraysh menunggangi unta2 dan kuda2 mereka. Berita ini melegakan Muhammad karena ini menunjukkan tentara Quraysh sudah pasti kembali ke Mekah dan tidak berencana untuk kembali ke Uhud/Medinah. Setelah yakin tidak ada serangan lagi dari pihak Quraysh, Muhammad memerintah para pengikutnya untuk ke luar dari tempat persembunyian. Jadi sekali lagi pihak Muslim kembali ke medan perang yang sekarang penuh dengan mayat2 kaum Jihadi yang dipotong-potong. Ini sungguh pemandangan yang mengerikan. Ketika Muhammad melihat tubuh paman dan saudara angkatnya, Hamzah, yang berceceran, dia sangat sedih dan mulai menangis. Keadaan tubuh Hamzah sungguh mengerikan sehingga Muhammad melarang bibinya, Safiyah untuk melihat mayat saudara lakinya Hamzah. Tapi Safiyah tetap datang dan melihat mayat saudara lakinya tergeletak di tanah dengan sebagian anggota badannya hilang atau terpotong-potong. Safiyah tenang, menguasai diri dan meminta Allah mengampuni Hamzah. Muhammad memerintahkan agar mayat Hamzah dikubur di tempat dia mati.

Muhammad lalu bersumpah untuk membalas dendam dengan memotong-motong 30 orang Quraysh bagi Hamzah.

Ada yang bilang dia bersumpah untuk memotong 70 orang. Akan tetapi, praktek potong memotong ini dilarang kemudian di ayat Q 16:126. Muhammad lalu melarang pemotongan mayat tapi mengumumkan: “Jihadi yang terluka akan dibangkitkan di hari akhir dengan darah menetes dari lukanya dan bau lukanya akan seperti bau musk (wewangian).”[103] Selain itu dia juga berkata: “Tuhan menaruh roh2 mereka yang mati di Uhud dalam sekelompok burung2 hijau dan para Jihadi ingin kembali dari surga dan dibunuh lagi, lagi, dan laig.”[104]

Pesan yang sama bisa dilihat di

Hadis Sunaan Abu Dawud, Book 14, Number 2514:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Sang Nabi berkata: Ketika saudara2mu dibunuh di perang Uhud, Allah menaruh roh2 mereka dalam sekelompok burung2 hijau yang terbang ke sungai2 di surga, makan buah2nya dan bertelur di lampu² emas di naungan Takhta (Allah). Lalu ketika mereka merasakan manisnya makanan mereka, minum dan istirahat, mereka bertanya: Siapa yang dapat mengatakan kepada saudara2 kami bahwa kami hidup di Surga, sehingga mereka tidak takut untuk melakukan Jihad dan tidak mau berperang? Allah yang Maha Tinggi berkata: Aku akan memberitahukan mereka tentang kamu; jadi Allah mengirim turun, “Dan jangan mengira mereka yang mati di jalan Allah… “ sampai akhir ayatnya.

103 Ibn Ishak, p.388

104 Ibn Ishak, p.400


Setelah mengubur rekan2 mereka, para Muslim termasuk Muhammad kembali ke Medinah. Dalam perjalanan pulang ke Medinah, banyak orang, terutama kaum wanita yang sangat ingin tahu nasib orang2 yang mereka cintai. Muhammad tak punya pilihan lain kecuali menceritakan nasib buruk kekasih dan saudara2 mereka. Ketika dia melewati tempat tinggal para Ansar, Muhammad mendengar para wanita menangisi orang2 yang mereka kasihi. Dia sendiri menangis tapi tidak menemukan seorangpun yang menangisi Hamzah, paman Muhammad.

Di malam harinya (Sabtu, 7 Shawal), Muhammad bersama dengan tentara Muslim kembali ke Medinah. Ketika Muhammad masuk ke rumah keluarganya, dia dan Ali memberikan pedang2 mereka kepada Fatimah (anak Muhammad dan istri Ali) untuk membersihkan bercak darah pada pedang itu. Dilaporkan 70 Muslim mati di perang Uhud. Pihak Quraysh kehilangan 23 orang.[105]

Ada beberapa kecelakaan pembunuhan Muslim yang dilakukan pihak Muslim sendiri. Misalnya seperti yang sudah disebutkan bahwa Husayl b. Jabir al-Yaman dibunuh oleh pihak Muslim yang tidak mengenalinya. Muhamad membayar uang darah pada anak laki Husayl yang bernama Hudhayfah. Lalu Hudhayfah memberikan uang itu kepada para Muslim yang memerlukannya.

Anak laki Hatib yang bernama Yazid menderita luka parah dan dihibur oleh para Muslim lainnya dengan janji surga bagi yang mati sebagai martir. Mendengar hal ini, Hatib jadi marah dan menyalahkan pihak Muslim yang salah bunuh dan mengakibatkan anaknya mati. Muslim lain yang bernama Quzaman telah berperang dengan gagah berani dan membunuh 8 sampai 9 orang pagan dan dia sendiri luka parah. Ketika orang2 menyelamatinya karena keberaniannya, dia hanya berkata bahwa dia melakukan itu untuk membela masyarakatnya sendiri. Ketika rasa sakit yang ditanggungnya jadi tak tertahankan, dia akhirnya bunuh diri dengan memotong urat nadi tangannya dengan mata anak panah. Muhammad sangat tidak suka akan Quzman yang berkata bahwa dia berperang dan mati untuk negaranya dan bukan untuk Allah dan RasulNya. Ketika para pengikut Muhammad tanya padanya tentang nasib Quzman setelah mati, Muhammad menjawab, “Dia jadi penghuni neraka.”[106]

105 Ibn Sa’d, vol.ii, p.50

106 Mubarakpuri, p.334

Seorang Yahudi yang bernama Mukhayriq juga mati di Uhud. Dia berperang bagi Muslim dan mengajak orang2 Yahudi lain untuk bertempur bersama Muhammad. Tapi kebanyakan Yahudi tidak ikut perang karena menghormati hari Sabbath (Sabtu). Melalui pengakuannya, Muhammad mengatakan bahwa Mukhayriq adalah Yahudi terbaik.

Di malam hari setelah mereka kembali ke Uhud, tentara Muslim tetap siaga di kota Medinah untuk berjaga-jaga andaikata pihak Quraysh menyerang lagi. Di sepanjang malam Muhammad memikirkan lagi apa yang telah terjadi dan bagaimana masa depannya dan para pengikutnya. Kekalahan di Uhud teramat menyakitkan baginya dan kredibilitasnya sebagai Rasul Allah sekarang terancam – Muhammad tahu betul akan hal ini. Dia harus tetap tenang, berkepala dingin dan menguasai diri, dan harus menentukan langkah apa yang harus dia ambil untuk memulihkan kredibilitasnya dan rasa terpesona para pengikutnya terhadap dirinya. Bagi mereka, dia tak terkalahkan dan dekat dengan Allah – hal ini merupakan kebenaran mutlak bagi mereka. Muhammad bersumpah untuk tidak akan kehilangan kekuatan kharisma dan hipnotisnya didepan para Jihadi. Di saat yang sama dia pun sadar akan bahaya tentara Quraysh kembali dan menyerang Medinah tiba2. Satu2nya pilihan baginya adalah ke luar untuk mencari tahu tentang tentara Quraysh dan memasukkan teror dalam hati mereka dengan segala cara yang bisa dia lakukan – ia kini sudah menjadi spesialis dlm hal ini.

Muhammad yang Gemuk (PERANG UHUD)

Muslim seringkali mengatakan Muhammad jarang makan, tidak punya cukup harta untuk makan, dan lain sebagainya untuk menutupi fakta bahwa Muhammad hidup enak karena bergelimangan harta jarahan yang diambilnya dari kafir. Sekarang saya menemukan bukti bahwa sebenarnya Muhammad itu gemuk. Berikut adalah keterangan dari Tafsir Ath-Thabari, volume 6, Sura Aali ‘Imraan dan An-Nisaa’

Image
Image

Keterangan ini bersangkutan dengan Perang Uhud, di mana Muhammad memakai dua baju perang. Tapi Muslim kalah telak melawan pasukan Qurasih dalam perang ini.

Berikut saya cantumkan sebagian kejadian Perang Uhud dan berbagai peristiwa yang memalukan bagi Muhammad dan gerombolan garong Muslimnya. Masih dari tafsir Thabari, volume 6.

Image
Image
Image
Image
Image
Image

Dari buku Sirat Rasul oleh Ibn Ishaq, perkataan Nabi palsu ini lebih memalukan lagi:

Image

Menurut apa yang dikatakan al-Husayn bin ‘Abdu’l-Rahmân bin ‘Amr bin Sa’d bin Mu’âdh padaku dengan ijin dari Mahmúd bin ‘Amr, ketika musuh menyerangnya, sang Rasul berkata, ‘Siapa yang bersedia menjual nyawanya bagi kami?’ (→ maksudnya adalah: MUHAMMAD MEMINTA MUSLIM UNTUK RELA MATI BAGINYA! Tentunya ini dilakukannya dengan suara yang keras agar Muslim yang melarikan diri mendengar suaranya.) Lalu Ziyâd bin al-Sakan datang bersama lima Muslim Ansor (Medina). (Sumber lain mengatakan yang datang adalah ‘Umâra bin Yazid bin al-Sakan.) Mereka berperang membela Rasul dari serangan musuh, sampai semua terbunuh kecuali Ziyâd (atau ‘Umâra) yang terus bertempur sampai dia dilumpuhkan. Pada saat ini, sejumlah Muslim kembali dan mengusir musuh yang menyerang Rasul. Sang Rasul memerintahkan mereka untuk membawa orang itu (Ziyâd (atau ‘Umâra)) padanya dan menempatkan kakinya sebagai penunjang kepalanya dan dia mati dengan wajah di atas kaki Rasul.

Nabi apaan tuh yang malah meminta pengikutnya menjual nyawa dan darah bagi keselamatan si Nabi?
Image
 
Tambahan keterangan perang Uhud dari Hadis Bukhari:
Image
Image

Hadis di atas dengan sangat jelas menerangkan bahwa sebenarnya motivasi utama Muslim berperang bagi Muhammad adalah karena HARTA JARAHAN. Begitulah sesatnya Muslim karena mengikuti Nabi yang sesat. 

Read More


Forum Berdiskusi

Q 23:12-14 Proses Kreasi Manusia dari sudut pandang Allah SWT

by ICU » Thu Aug 26, 2010 6:56 am

Untuk membuktikan bahwa Allah SWT ternyata tuhan yang MAHA TOLOL, yang perlu kita simak adalah Qur’an, khususnya ayat2 Qur’an yang menjelaskan proses kreasi manusia. Mari simak ayat2 tersebut:

Qur’an Sura Al-Mu’minuun (23), verse 12-14
12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan  segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang  itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.  Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Sebenarnya ayat2 di atas sudah berulang-kali dibahas, tapi semua ini tidak lengkap jika tidak disertai tafsir Qur’an dari pihak Islam sendiri, tepatnya At-Thabari. Lihat keterangan dari beliau tentang “proses kreasi manusia menurut Allah SWT”:

Image

Image
Image

Tahap Pertama: Manusia berasal dari saripati tanah:
Image
Image

Tahap kedua: Saripati Tanah masuk ke rahim berubah jadi Air Mani
Image
_____________________________________
Image

Tahap ketiga: Air Mani diubah jadi Segumpal Darah
Image

Tahap keempat: Segumpal Darah diubah jadi Segumpal Daging
Image

Tahap kelima: Segumpal Daging diubah jadi TULANG BELULANG!!
Image

Tahap keenam: Tulang Belulang dibalut Daging
Image

Tahap ketujuh: Jadi Makhluk Lain
Image
Agar lebih praktis, gw jejer aja nih kronologi tahapan kreasi manusia menurut Allah SWT:

Image

Sekarang bandingkan dengan proses kreasi manusia menurut kafir:

Image

Sangat berbeda, bukan? Gambar foto perkembangan janin di atas menunjukkan bahwa tak ada pemisahan apapun dalam pembentukan tulang belulang, otot, dan berbagai anggota tubuh manusia. Semuanya berkembang secara bersamaan, sampai mencapai tahap akhir.

Manakah yang dipercayai Muslim? Proses Kreasi menurut Allah SWT atau Proses Kreasi menurut Kafir?

Tentu saja kagak ada Muslim yang percaya keterangan proses kreasi menurut Allah SWT, karena memang sangat menggelikan dan super absurb. Kalo tentang sains, teknologi, dan kedokteran, bahkan Muslim paling taat sekalipun tetap lebih percaya pada kafir daripada Allah SWT. Qur’an, Sura 23:12-14 dengan telak membuktikan bahwa perihal sains Allah SWT  Meskipun begitu Muslim tetap saja percaya bahwa Allah SWT adalah tuhan pencipta manusia. .

Read More


Forum Berdiskusi

Klaim Bohong Iptek Al-Qur’an : Embriologi

KLAIM BOHONG IPTEK QUR’AN : EMBRIOLOGI

I. PENDAHULUAN

Salah satu klaim yang laris manis dikalangan Islam adalah Al-Qur’an yang diturunkan di abad ke tujuh masehi ternyata telah meramalkan adanya penemuan ilmu pengetahuan modern abad ke 20.
Contohnya adalah diforum ini. Berikut komentar dari sdr. Piyeung di
Embriologi Ala Qur’an II
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=6554
Bagaimana mungkin Muhammad yang buta huruf dan dari abad ke 7 Masehi mampu mengungkapkan kenyataan ilmiah yang baru terbukti sekarang ini? Bukankah ini pemberitahuan dari ALLAH? Subhaanallaah, ALLAHU AKBAR.

Pembahasan tentang hal serupa dapat diakses pula di :
Embriologi Ala Qur’an I
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=61

Klaim adanya ramalan ilmu pengetahuan modern ini bagi muslim membuktikan bahwa Al-Qur’an pasti ditulis oleh Aulloh SWT. Namun klaim-klaim tersebut bagi non muslim jelas tidak lebih dari upaya mencocok-cocokkan ilmu pengetahuan modern dengan statement-statement yang umum dan sangat samar-samar dalam Al-Qur’an. Ini terbukti dengan tidak mampunya muslim memberikan contoh saat ditanya apa ilmu pengetahuan yang sudah diramalkan oleh al-qur’an namun belum ditemukan oleh ilmuwan modern!!!

Salah satu klaim yang paling sering dibuat adalah tentang embriologi dalam Al-Qur’an dimana diklaim bahwa Al-Qur’an sudah menuliskan tentang tahapan embriologi dengan sangat tepat sesuai dengan pengetahuan yang baru ditemukan diabad ke 20.

Kutipan-kutipan keajaiban berikut diambil dari :
Buku Harun Yahya yang dapat diakses di
www.keajaibanalquran.com

II. KEAJAIBAN YANG DIKLAIM

II.1 Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim
Bacaan :
QS 39 : 6
“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. ……..

Diklaim oleh Harun Yahya sebagai berikut :
Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya. ……
Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:
“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)

Komentar :
Klaim Harun Yahya adalah :
Ada 3 tahapan yang telah diramalkan dalam Al-Qur’an yaitu pre-embrionik, embrionik dan janin

Ayat diatas tidak sekalipun mengindikasikan tentang tahapan preembrionik, embrionik dan janin. Yang dimaksud dengan tiga kegelapan bukanlah tiga tahapan perkembangan bayi melainkan tiga selubung yang melindungi bayi sesuai dengan yang dipahami oleh sahabat-sahabat Muhammad SAW.
Sumber :
Tafsir Ibn Kathir
http://www.theholybook.org/en/a.47718.html

(in three veils of darkness) means, in the darkness of the womb, the darkness of the placenta which blankets and protects the child, and the darkness of the belly. This was the view of Ibn `Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, `Ikrimah, Abu Malik, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Suddi and Ibn Zayd
(dalam tiga kegelapan) berarti, dalam kegelapan rahim, dalam kegelapan ari-ari yang menyelubungi dan melindungi bayi, dan dalam kegelapan perut. Ini adalah pandangan dari Ibn Abbas, mudah-mudahan Allah berkenan padanya, Mujahid, Ikrimah, Abu Malik, Ad-Dahhak, Qatadah, As Suddi dan Ibn Zayd.

Jadi perbedaan antara tafsir dengan klaim Harun Yahya adalah sebagai berikut :
Harun Yahya : tahapan bayi : pre-embrionik, embrionik , janin
Tafsir : 3 selubung yang melindungi bayi : ari-ari, rahim dan perut.

Jelaslah bahwa ketiga kegelapan itu sama sekali bukan ayat ramalan tentang ilmu pengetahuan modern melainkan hanya menginformasikan apa yang bisa dilihat dan diketahui oleh manusia melalui observasi sederhana yaitu : rahim, ari-ari dan perut. Dari jaman Adam dan Hawa pengetahuan ini sudah dimengerti.
Tidak ada sama sekali keajaiban ilmu pengetahuan disini.

II.2 Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Bacaan :
QS 96 1 – 3
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”

Diklaim Harun Yahya sebagai berikut :
Pada tahap awal perkembangannya, bayi dalam rahim ibu berbentuk zigot, yang menempel pada rahim agar dapat menghisap sari-sari makanan dari darah ibu. Gambar di atas adalah zigot yang terlihat seperti sekerat daging. Informasi ini, yang ditemukan oleh embriologi modern, secara ajaib telah dinyatakan dalam Al Qur’an 14 abad yang lalu dengan menggunakan kata “‘alaq”, yang bermakna “sesuatu yang menempel pada suatu tempat” dan digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah. ……
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36)
Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Komentar :
Klaim Harun Yahya adalah :
Alaq berarti : sesuatu yang menempel pada suatu tempat
Zigot yang seperti sekerat daging, menempel pada dinding rahim, menghisap sari makanan dari darah sang ibu.

II.2.1. Pengertian Alaq / Alaqa

Apa perbedaan alaq dengan alaqa
Sumber :
The Qur’an and the Bible in the light of history and science
William Campbell
Section IV – II B
http://www.answering-islam.org/Campbell/s4c2b.html

The Arabic word ‘alaqa in the singular; or ‘alaq as the collective plural … In the dictionaries of Wehr and Abdel-Nour the only meanings given for ‘alaqa in this feminine singular form are “clot” and “leech”, ….
In 96:1-2, we read,
“Proclaim! in the name of your Lord Who created–created man from ‘alaq.
Here the word is in the collective plural. This word form can have other meanings because ‘alaq is also the derived verbal noun of the verb ‘aliqa which means “to hang, be suspended, dangle, to stick, cling, cleave, adhere, and to be attached”.

Kata Arab ‘alaqa’ dalam bentuk tunggal atau alaq dalam bentuk jamak ….. Dalam kamus Wehr dan Abdel Nour, arti satu-satunya bagi alaqa dalam bentuk feminin tunggal adalah “gumpalan” dan “lintah”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah)
Disini kata alaq adalah dalam bentuk jamak …….
….. alaq juga adalah kata kerja (yang diturunkan dari nama) benda yang berasal dari kata kerja aliqa yang memiliki arti “menggantung, menempel

Jadi :
Alaqa : kata benda tunggal : gumpalan
Alaq memiliki 2 pengertian yaitu :
* kata benda jamak yang berarti gumpalan-gumpalan
* kata kerja yang berarti menggantung, menempel

Terlihat bagaimana Harun Yahya membuat akrobat terjemahan dengan mengubah kata kerja “menempel” menjadi kata benda “sesuatu yang menempel”. Kata kerja jelas berbeda dengan kata benda.

Dalam ayat-ayat proses penciptaan manusia yang digunakan adalah kata benda alaqa (bukan kata kerja alaq) yang berarti gumpalan. Kata alaqa muncul 5 kali yaitu :

QS 75 : 37 – 39 :
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah (alaqa), …

QS 40 : 67 :
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani,sesudah itu dari segumpal darah (alaqa),

QS 22 : 5
… Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah (alaqa), …..

QS 23 : 12 – 14 :
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (alaqa), lalu segumpal darah (alaqa) itu Kami jadikan segumpal daging, …..

Terjemahan Indonesia yang menggunakan “segumpal darah” adalah terjemahan yang benar karena kata alaqa adakah kata benda, bukan kata kerja (alaq)

Terjemahan untuk bahasa Inggris juga menggunakan kata benda “clot” yang berarti gumpalan, diantaranya : clot (Pickthall, Maulana Muhammed Ali, Muhammed Zafrulla Khan, Hamidullah), small lump of blood (Kasimirski), leech-like clot (Yusuf Ali).

Gumpalan darah adalah apa yang diyakini oleh sahabat-sahabat Muhammad SAW sebagaimana terekam dalam tafsir dari QS 23 : 14.
Sumber :
Tafsir Ibn Kathir
http://www.theholybook.org/en/a.47229.html

(Then We made the Nutfah into a clot,) meaning, `then We made the Nutfah, which is the water gushing forth that comes from the loins of man, i.e., his back, and the ribs of woman, i.e., the bones of her chest, between the clavicle and the breast. Then it becomes a red clot, like an elongated clot.’ `Ikrimah said, “This is blood.”
(Kemudian KAMI menjadikan air mani itu segumpal darah), berarti, ‘kemudian Kami menjadikan air mani, yang adalah air yang memancar dari pinggang manusia yaitu tulang belakang, dan rusuk wanita yaitu tulang dada antara selangka dan dada. Kemudian menjadi gumpalan darah yang merah berbentuk memanjang’. Ikrimah berkata, “INI ADALAH DARAH

Atau hadis berikut dimana Muhammad SAWpun meyakini adanya tahapan darah dalam perkembangan janin.
Sumber :
Muslim, Book 033, Hadith Number 6390.
Abdullah (b. Mas’ud) reported that Allah’s Messenger (may peace be upon him) who is the most truthful (of the human beings) and his being truthful (is a fact) said: Verily your creation is on this wise. The constituents of one of you are collected for forty days in his mother’s womb in the form of blood, after which it becomes a clot of blood in another period of forty days. Then it becomes a lump of flesh and forty days later Allah sends His angel ….
Abdullah bin Masud melaporkan bahwa Rasulullah … berkata, “… Bagian-bagian dari dirimu dikumpulkan dalam 40 hari di rahim ibumu dalam wujud darah, kemudian menjadi gumpalan darah dalam kurun waktu 40 hari. Kemudian menjadi gumpalan daging dan 40 hari kemudian Allah mengutus malaikatnya ……….

Sementara satu ayat yang menggunakan kata alaq adalah QS 96 : 2
QS 96 1 – 3
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Dari struktur kalimatnya, kata alaq disini adalah kata benda, bukan kata kerja sehingga tim DEPAG juga menerjemahkan sebagai segumpal darah, meskipun seharusnya lebih tepat jika digunakan kata jamak yaitu gumpalan-gumpalan darah.

Kita bandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris untuk QS 96 : 2 berikut ini :
Yusuf Ali : Created man, out of a (mere) clot of congealed blood:
Pickthal : Createth man from a clot.
Shakir : He created man from a clot.
Maulana Muhammad Ali : Creates man from a clot

Semuanya menterjemahkan alaq sebagai kata benda, bukan kata kerja.

Jadi terlihatlah kenapa Harun Yahya harus berakrobat untuk mengubah pengertian alaq yang adalah kata kerja bermakna menempel / menggantung menjadi kata benda dengan menambahkan kata “sesuatu” menjadi “sesuatu yang menempel”
Jika Harun Yahya konsisten maka QS 96 : 2 akan berbunyi
QS 96 1 – 3
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia menempel

Jelas kalimat diatas menjadi kalimat yang tidak benar.

Namun ada satu terjemahan yang mengelikan oleh Rashad Khalifa yang tidak punya rasa malu.
QS 96 : 2 : He created man from an embryo.

II.2.2. Manusia Berasal Dari Gumpalan Darah

Yang dimaksud dengan alaq adalah segumpal darah sesuai dengan terjemahan Al-Qur’an dan apa yang diyakini oleh Muhammad SAW. Ayat diatas justru membuktikan kesalahan Al-Qur’an karena tidak pernah ada fasenya dimana embrio maupun janin berbentuk segumpal darah. Uniknya kesalahan ini juga disadari oleh Buchaile, dalam bukunya yang sering menjadi rujukan muslim menyebutkan :
Sumber :
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Maurice Bucaille
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, bab : Reproduksi Manusia

“Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa Arab: ‘alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lain adalah “gumpalan darah” yang sering disebutkan dalam terjemahan Qur-an. Ini adalah suatu KEKELIRUAN yang harus kita koreksi. MANUSIA TIDAK PERNAH MELEWATI TAHAP “GUMPALAN DARAH.”

Oleh karenanya, BUCHAILLE DENGAN SENGAJA TELAH MENGUSULKAN TERJEMAHAN YANG SALAH YAITU “SESUATU YANG MELEKAT” yang mengindikasikan fetus menempel di uterus melalui placenta.
Sumber :
Ibid
Ide tentang “sesuatu yang melekat” disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan semenjak tahap “setetes sperma” sampai sempurna.

Surat 22 ayat 5 .
Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dan kabur) maka (ketahuilah) bahwasanya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari SEGUMPAL DARAH, (SESUATU YANG MELEKAT) …..

Surat 23 ayat 4:
Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan SEGUMPAL DARAH (SESUATU YANG MELEKAT).”

Surat 40 ayat 67.
Artinya: “Dialah yang menciptakan kamu dan tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dan SEGUMPAL DARAH (SESUATU YANG MELEKAT).”

Surat 75 ayat 31. -38.
Artinya: “Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim). Kemudian mani itu menjadi SEGUMPAL DARAH (SESUATU YANG MELEKAT) lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya.”

Usulan terjemahan “sesuatu yang melekat” inilah yang tampaknya kemudian dengan nyamannya diadopsi oleh Harun Yahya. Enak sekali yah, demi membela kesalahan Al-Qur’an dengan mudahnya terjemahan “segumpal darah” dinyatakan kurang tepat. Padahal arti “segumpal darah” ini diakui oleh Muhammad SAW, sahabat-sahabatnya, ahli tafsir terkemuka dan tim penterjemah Al-Qur’an Departemen Agama yang sudah pasti adalah pakar-pakar bahasa Arab. Jadi pengertian alaq sebagai “segumpal darah” yang sudah benar selama hampir 1400 tahun sekarang harus diganti menjadi “sesuatu yang melekat” demi menutupi kesalahan Al-qur’an dan mencocok-cocokkan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pandangan manusia berasal dari darah adalah kesalahan pengetahuan primitife yang diadopsi Al-Qur’an karena hal inilah yang kelihatan oleh mata . Wanita setiap bulannya akan mengeluarkan darah mensutruasi sehingga pemikiran Allah SWT / Muhammad SAW menyimpulkan kemudian bahwa manusia berasal dari segumpal darah. Pandangan ini jelas salah. Tidak ada fasenya dimana sperma yang telah membuahi sel telur berubah menjadi segumpal darah. Kejadian ini hanya mungkin terjadi dalam KONDISI JANIN TIDAK BERKEMBANG. Jadi EMBRIO YANG TIDAK BERKEMBANG BERUBAH MENJADI GUMPALAN DARAH. Karena Muhammad memiliki banyak istri, sangat mungkin ada diantara istri-istrinya yang keguguran dan dari pengamatan dari rahim sang istri akan keluarlah gumpalan darah yang adalah embrio yang tidak berkembang.

II.2.3. Sesuatu Yang Menempel Seperti Lintah

Lagipula pengetahuan tentang adanya placenta atau ari-ari juga sudah diketahui manusia sejak jaman Hawa melahirkan anak sulungnya karena ari-air ini akan keluar dari rahim sang ibu. Dan sejak jaman Hawa orang juga pasti tahu kalau ari-ari itu pasti menempel disesuatu, dalam hal ini dinding rahim. Dr. Keith Moore dalam jurnal berikut menambahkan informasi “keajaiban” tentang telah diketahuinya oleh Muhammad tentang kemiripan antara alaq (lintah) yang menempel dengan embrio diusia 23 – 24 hari.
Sumber :
The Journal of the Islamic Medical Association, Vol.18, Jan-June 1986, pp.15-16
http://www.islam101.com/science/embryo.html

This statement is from Sura 23:14. The word “alaqah” refers to a leech or bloodsucker. This is an appropriate description of the human embryo from days 7-24 when it clings to the endometrium of the uterus, in the same way that a leech clings to the skin. Just as the leech derives blood from the host, the human embryo derives blood from the decidua or pregnant endometrium. It is remarkable how much the embryo of 23-24 days resembles a leech (Fig. 2).
…. Mengagumkan bagaimana miripnya embrio diusia 23 – 24 hari dengan lintah (gambar 2)

Image

Gambar atas adalah lintah, sedangkan gambar bawah adalah embrio diusia 23 – 24 hari.

Jika kita bandingkan dengan pengetahuan modern, yang agak mirip adalah dihari ke 29, Carnegie stage 11

Image

Apakah pengetahuan bahwa bentuk janin disekitar minggu ke 4 – 5 yang mirip lintah ini baru dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan modern abad 20??.
Sumber :
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 25

Jenis-jenis keguguran
Jika terjadi sebelum minggu ke 12 kehamilan disebut keguguran dini …. Disebut keguguran penuh apabila jaringan janin dan plasenta keluar seluruhnya dari rahim pada saat keguguran.

Jadi sejak manusia purba pertama kali mengalami keguguran penuh, mereka sudah bisa melihat bentuk janin yang keluar seperti apa. Dan bentuk janin yang keluar diminggu ke 4 – 5 bisa mereka lihat seperti lintah. Tidak ada yang ajaib disini.

II.3 Perkembangan Tulang dan Otot

Bacaan :
QS 23 : 14
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Diklaim Harun Yahya sebagai berikut :
……, jaringan tulang rawan pada embrio di dalam rahim ibu mulanya mengeras dan menjadi tulang keras. Lalu tulang-tulang ini dibungkus oleh sel-sel otot. Allah menjelaskan perkembangan ini dalam ayat: “…dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging”.
………
Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.
……
Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

Komentar :
Klaim Harun Yahya adalah :
Tulang berkembang dulu, baru dibungkus oleh otot

Tampaknya Harun Yahya tidak bisa membedakan antara daging dengan otot. Ayat QS 23 : 14 diatas jelas menggunakan kata daging, bukan otot. Begitu pula terjemahan bahasa Inggris berikut ini dimana semua menggunakan flesh, bukan muscle.

QS 23.014
Yusuf Ali Then We made the sperm into a clot of congealed blood; then of that clot We made a (foetus) lump; then we made out of that lump bones and clothed the bones with flesh; ..
Pickthal : Then fashioned We the drop a clot, then fashioned We the clot a little lump, then fashioned We the little lump bones, then clothed the bones with flesh, …
Shakir : Then We made the seed a clot, then We made the clot a lump of flesh, then We made (in) the lump of flesh bones, then We clothed the bones with flesh, …
M Asad : and then We create out of the drop of sperm a germ-cell, and then We create out of the germ-cell an embryonic lump, and then We create within the embryonic lump bones, and then We clothe the bones with flesh

Kalau toh klaim Harun Yahya tentang penggunaan kata “otot” benar, ini tidak membuktikan apa-apa karena orang dari jaman Adam dan Hawa juga sudah tahu bahwa tulang diselimuti dengan otot dan daging. Ambil contoh saat kita makan sop konro, bisa kita lihat kalau tulang diselimuti daging dan otot. Jadi dimana ajaibnya??

Lagipula klaim Harun Yahya bahwa tulang mendahului otot adalah salah. Berikut diberikan gambar dari buku Keith Moore edisi standard. Perlu diketahui bahwa buku Keith Moore dicetak dalam 2 versi, yaitu versi standard dan versi yang diterbitkan dinegara mayoritas Islam.
Sumber :
The Developing Human
Keith L. Moore
Edisi 4th , 1988, chapter 15 – 17, halaman 346

The skeletal and muscle system develops from the mesoderm, some of which becomes mesenchymal cells. These mesenchymal cells make muscles, and also have the ability to differentiate…into osteoblasts which make bone. At first the bones form as cartilage models so that by the end of the sixth week the whole limb skeleton is formed out of cartilage but without any bony calcium as shown in Figure 15-13.[31]
Sistim rangka dan otot berkembang dari mesoderm, diantaranya berkembang menjadi sel-sel mesenchymal. Sel-sel mesenchymal ini membentuk otot, dan juga memiliki kemampuan untuk berkembang berbeda …. Menjadi osteoblast yang membentuk tulang. Pada awalnya tulang berbentuk tulang rawan hingga akhir minggu ke 6 keseluruhan rangka anggota badan terbentuk dari tulang rawan namun tanpa ada kandungan kalsium tulang seperti diperlihatkan dalam gambar 15 – 13

Gambar 15 – 13 dapat diakses disini
http://www.answering-islam.org/Campbell/alaqa5.jpg

Perhatikan gambar C diatas : terlihat jaringan mesenchyme yang menghasilkan otot dan tulang sudah terbentuk dihari ke 33.
Sementara digambar E diatas : diakhir minggu ke 6 telah terbentuk tulang (yang masih dalam kondisi tulang rawan) dan otot (muscle).

Jadi menurut Menurut Prof Keith Moore dalam edisi standardnya, jaringan dimana tulang berasal yaitu mesoderm, adalah jaringan yang sama yang menghasilkan otot dan daging dan pertumbuhan itu terjadi bersamaan.

Atau menurut dokter-dokter local.
Sumber:
Ilmu Kebidanan
Editor : Prof DR. dr. Sarwono P, Prof dr HanifaW
YBP-SP – Bag. Kebidanan dan Kandungan UI,
Edisi 5, 1999, halaman 60 dan 61

Pertumbuhan embrio terjadi dari embrional plate yang selanjutnya terdiri atas tiga unsure lapisan, yakni sel-sel ectoderm (vivaldi : lapisan luar), mesoderm (vivaldi : lapisan tengah) dan entoderm (vivaldi : lapisan dalam).

Sumber :
Info Lengkap Kehamilan dan Persalinan
Konsultasi ilmiah : dr. Anthony A, SpOG & dr Ani Sri Sukmaniah
3 G Publisher, 2004, halaman 34 dan 35

Lapisan dalam terbagi menjadi tiga. Bagian-bagian itu akan berkembang secara terpisah. Lapisan luar (vivaldi : ectoderm) tumbuh menjadi syaraf dan kulit janin. Lapisan tengah akan tumbuh menjadi tulang, tulang rawan, otot, sistim sirkulasi, ginjal dan organ seks (mesoderm). Sedangkan lapisan terdalam akan berkembang menjadi organ pernafasan dan pencernaan janin (entoderm).

Jadi tulang dan daging berkembang bersama-sama, bukan tulang dulu baru daging seperti pandangan al-Qur’an.

II.4. Mani Yang Bercampur

Bacaan :
QS 76 2
“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.”

Diklaim Harun Yahya sebagai berikut :
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Komentar :
Klaim Harun Yahya adalah :
Mani tersusun dari berbagai macam cairan.

Kita coba lihat pengertian ayat QS 76 : 2 sesuai yang dipahami oleh sahabat-sahabat Muhammad SAW.
Sumber :
Tafsir Ibn Kathir
http://www.theholybook.org/en/a.48317.html

(Verily, We have created man from Nutfah Amshaj,) meaning, mixed. The words Mashaj and Mashij mean something that is mixed together. Ibn `Abbas said concerning Allah’s statement,
(from Nutfah Amshaj,) “This means the fluid of the man and the fluid of the woman when they meet and mix.” …. `Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan and Ar-Rabi` bin Anas all made statements similar to this. They said, “Amshaj is the mixing of the man’s fluid with the woman’s fluid.”
(Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur) berarti bercampur. Kata mashaj dan mashijj berarti sesuatu yang bercampur. Ibn Abbas mengatakan sehubungan dengan pernyataan Allah
(setetes mani yang bercampur) “ini berarti bahwa cairan laki-laki dan cairan perempuan saat bertemu dan bercampur …. Ikrimah, Mujahid, Al Hasan dan Ar Rabi bin Anas semuanya membuat pernyataan yang sama. Mereka berkata, “Amshaj adalah percampuran antara cairan lelaki dengan cairan wanita.”

Atau pendapat Muhamamd SAW berikut.
Sumber :
Muslim, Book 003, Hadith Number 0608.
Anas b. Malik reported that Umm Sulaim narrated it that she asked the Apostle of Allah (may peace be upon him) about a woman who sees in a dream what a man sees (sexual dream). The Messenger of Allah (may peace be upon bi m) said: …… Man’s discharge (i.e. sperm) is thick and white and the discharge of woman is thin and yellow; so the resemblance comes from the one whose genes prevail or dominate
….. Rasulullah berkatka, ”…. Yang dikeluarkan laki-laki (sperma) adalah kental dan putih dan yang dikeluarkan wanita adalah encer dan kuning ; .

Jadi menurut Muhammad SAW, yang dimaksud campuran disini adalah percampuran antara cairan lelaki dan cairan wanita. Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya yang punya banyak istri dan gundik-gundik serta tawanan perang yang bebas diperkosa tentu saja mengetahui saat berhubungan intim, dinding vagina wanita akan mengeluarkan cairan yang sebetulnya lebih berfungsi sebagai ”pelumas”. Oleh Muhammad SAW cairan inilah dan darah menstruasi wanitalah yang dia kira bisa menghasilkan anak saat bertemu dengan sperma lelaki. Kesalahan yang wajar ala pengetahuan primitif yang mendasarkan dari apa-apa yang bisa dilihat dan dirasakan saja. Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya tentu saja tidak mengetahui adanya sel telur karena tidak terlihat. Jadi jelaslah bagaimana Harun Yahya membuat klaim bohong dengan cara mencocok-cocokkan pernyataan salah dalam Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern.

II.5. Setetes Mani

Bacaan :
QS 75 : 36 – 37
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?”

Diklaim Harun Yahya sebagai berikut :
Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma ….. Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya….. Fakta bahwa manusia tidak diciptakan dengan menggunakan keseluruhan air mani, tapi hanya sebagian kecil darinya, dinyatakan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, “setetes mani yang ditumpahkan”.

Komentar :
Jadi klaimHarun Yahya adalah :
Setetes mani adalah 1 sel sperma

Kita coba lihat pengertian ayat QS 75 : 36 – 37 sesuai yang dipahami oleh sahabat-sahabat Muhammad SAW.
Sumber :
Tafsir Ibn Kathir
http://www.theholybook.org/en/a.48311.html

(Was he not a Nutfah of semen emitted) meaning, was not man a weak drop of sperm from a despised fluid known as semen, that is emitted from the loins into the wombs
( Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan) berarti, bukankah manusia adalah tetesan encer dari sperma dari cairan yang hina yang dinamakan semen, yang terpancar dari pinggang kedalam rahim

Jadi diera Muhammad SAW nutfah diartikan sebagai weak yang dapat diterjemahkan cair atau lemah. Tidak ada ide sama sekali tentang “setitik” mani apalagi bicara tentang jumlah sperma yang sampai jutaan. Terbuktilah bahwa terjemahan Al-Qur’an hanyalah mencocok-cocokkan dengan ilmu pengetahuan.

Hal kedua yaitu bahwa tidak diperlukan keseluruhan mani yang dikeluarkan juga sudah diketahui sejak jaman Adam dan Hawa. Pada saat berhubungan intim, memang biasanya sebagian dari mani tidak masuk kedalam rahim melainkan tertumpah keluar.

Jadi apanya yang ajaib?

II.6. Jenis Kelamin Bayi

Bacaan :
QS 53 : 45 – 46
“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.”

Diklaim oleh Harun Yahya sebagai berikut:
Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sel-sel ibu. Atau setidaknya, dipercaya bahwa jenis kelamin ini ditentukan secara bersama oleh sel-sel lelaki dan perempuan. Namun kita diberitahu informasi yang berbeda dalam Al Qur’an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan “dari air mani apabila dipancarkan”……
Kromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan. Di dalam sel telur ibu hanya dijumpai kromosom X, yang menentukan sifat-sifat kewanitaan. Di dalam air mani ayah, terdapat sperma-sperma yang berisi kromosom X atau kromosom Y saja. Jadi, jenis kelamin bayi bergantung pada jenis kromosom kelamin pada sperma yang membuahi sel telur, apakah X atau Y. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, penentu jenis kelamin bayi adalah air mani, yang berasal dari ayah.

Komentar :
Jadi klaim Harun Yahya adalah :
Al-Qur’an memprediksikan bahwa sperma mengandung kromosom X dan Y

Jika kita baca ayat QS 53 diatas, tidak ada sama sekali informasi bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh kromosom laki-laki. Ayat diatas hanya menyatakan bahwa laki-laki dan wanita tercipta dari air mani, sesuatu yang memang sudah diketahui sejak jaman Adam dan Hawa. Justru ayat diatas membuktikan kesalahan Al-Qur’an karena manusia tidak tercipta hanya dari air mani, melainkan juga dari sel telur. Dimana ayatnya dalam Al-Qur’an yang menyebutkan keberadaan sel telur. Tidak ada. Karena sel telur tidak kelihatan. Makanya Aulloh dan Muhammad SAW tidak tahu sama sekali tentang keberadaannya malah menyangka bahwa cairan vagina yang bercampur dengan air manilah cikal bakal janin.

Kesalahan ayat diatas dibuktikan lebih lanjut dengan hadis berikut :
Sumber :
Sahih Muslim, Book 003, Number 0614
http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamental … l#003.0614

The reproductive substance of man is white and that of woman yellow, and when they have sexual intercourse and the male’s substance prevails upon the female’s substance, it is the male child that is created by Allah’s Decree, and when the substance of the female prevails upon the substance contributed by the male, a female child is formed by the Decree of Allah. The Jew said: What you have said is true; verily you are an Apostle. He then returned and went away. The Messenger of Allah (may peace be upon him) said: He asked me about such and such things of which I have had no knowledge till Allah gave me that.
………
Substansi zat reproduksi laki-laki adalah berwarna putih dan wanita berwarna kuning, dan saat mereka melakukan hubungan intim dan zat reproduksi laki-laki unggul terhadap zat reproduksi wanita, anak lak-lakilah yang tercipta sesuai firman Allah, dan ketika zat reproduksi wanita yang unggul dibandingkan laki-laki, anak perempuan yang terbentuk …..

Zat reproduksi disini yang dimaksud adalah cairan laki-laki dan cairan wanita sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibn Kathir (http://www.theholybook.org/en/a.48317.html) diatas yang berbunyi (from Nutfah Amshaj,) “This means the fluid of the man and the fluid of the woman when they meet and mix.”

Jadi penentuan jenis kelamin bayi menurut Muhammad SAW sepertinya ditentukan dalam pertandingan adu kuat antara air mani dengan cairan wanita (kaya adu panco atau tarik tambang).

Jadi selain Al-Qur’an tidak bicara tentang kromosom X dan Y, dalam hadispun tidak ada informasi tentang kromosom X, Y dan ovum. Pengetahuan dari hadis diatas terbukti salah karena jenis kelamin wanita bukan ditentukan oleh lebih kuatnya cairan di vagina melainkan ditentukan oleh kromosom laki-laki.

III. KESALAHAN YANG DISEMBUNYIKAN

Tahapan Emriologi

Satu hal yang dilupakan oleh Harun Yahya adalah tentang tahapan embriologi.
Saat mengutip ayat berikut
QS 23 : 14 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Harun Yahya hanya membahas tentang tulang dan otot tapi tidak berani untuk membahas ayat diatas secara keseluruhan.

Kita lihat apa yang dikatakan tafsir tentang ayat diatas.
Sumber :
Tafsir Ibn Kathir
http://www.theholybook.org/en/a.47229.html

(then We made the clot into a little lump of flesh,) which is like a piece of flesh with no shape or features.
(then We made out of that little lump of flesh bones,) meaning, `We gave it shape, with a head, two arms and two legs, with its bones, nerves and veins.’
(then We clothed the bones with flesh,) meaning, `We gave it something to cover it and strengthen it.’
(lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging), seperti potongan daging yang tidak memiliki bentuk
( dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang) berarti, ”Kami memberinya bentuk, dengan sebuah kepala, dua tangan dan dua kaki, dengan tulang, urat syaraf dan urat nadi”
( lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging) berarti, ”Kami membungkusnya dengan sesuatu dan menguatkannya”.

Menurut ayat diatas, tahapan perkembangan bayi adalah :
Air mani – segumpal darah – segumpal daging yang tidak berbentuk – diubah menjadi tulang – diberi bentuk kepala, 2 tangan, 2 kaki syaraf dan pembuluh darah – meliputi dengan daging – diciptakan bentuk lainnya.

Jangka waktu dari tahapan-tahapan diatas adalah sesuai dengan hadis dan Tafsir Ibn Kathir untuk QS 22 : 5

Sumber :
Bukhari, Volumn 001, Book 006, Hadith Number 315.
Narated By Anas bin Malik : The Prophet said, “At every womb Allah appoints an angel who says, ‘O Lord! A drop of semen, O Lord! A clot. O Lord! A little lump of flesh.” Then if Allah wishes (to complete) its creation, the angel asks, (O Lord!) Will it be a male or female, a wretched or a blessed, and how much will his provision be? And what will his age be?’ So all that is written while the child is still in the mother’s womb.”
Dikisahkan oleh Anas bin Malik :asulullah berkata, “Di setiap rahim Allah telah menempatkan malaikat yang berkata, “Oh Tuhan! Setetes mani, Oh Tuhan! Gumpalan darah. Oh Tuhan! Sekerat daging” Kemudian jika Allah berkeinginan untuk menyelesaikan ciptaannya, malaikat bertanya, “Oh Tuhan, apakah laki-laki atau perempuan? …..

Sumber :
Bukhari, Volumn 004, Book 055, Hadith Number 549.
Narated By Abdullah : Allah’s Apostle, the true and truly inspired said, “(as regards your creation), every one of you is collected in the womb of his mother for the first forty days, and then he becomes a clot for an other forty days, and then a piece of flesh for an other forty days. ….. Then the soul is breathed into his body. ……
… Rasulullah, yang benar dan mendapat inspirasi berkata, “….. setiap dari kamu dikumpulkan dalam rahim ibumu selama 40 hari pertama, kemudian menjadi gumpalan darah untuk jangka waktu 40 hari, kemudian menjadi sepotong daging untuk selama 40 hari … kemudian nyawa dihembuskan kedalam tubuh ….

Sumber :
Muslim, Book 033, Hadith Number 6390.
Abdullah (b. Mas’ud) reported that Allah’s Messenger (may peace be upon him) who is the most truthful (of the human beings) and his being truthful (is a fact) said: Verily your creation is on this wise. The constituents of one of you are collected for forty days in his mother’s womb in the form of blood, after which it becomes a clot of blood in another period of forty days. Then it becomes a lump of flesh and forty days later Allah sends His angel to it with instructions concerning four things, so the angel writes down his livelihood, his death, his deeds, his fortune and misfortune. …
Abdullah bin Masud melaporkan bahwa Rasulullah … berkata, “… Bagian-bagian dari dirimu dikumpulkan dalam 40 hari di rahim ibumu dalam wujud darah, kemudian menjadi gumpalan darah dalam kurun waktu 40 hari. Kemudian menjadi gumpalan daging dan 40 hari kemudian Allah mengutus malaikatnya ……….

Sumber :
http://www.tafsir.com
The Development of the Nutfah and Embryo in the Womb
(then from a clot then from a little lump of flesh) if the Nutfah establishes itself in the woman’s womb, it stays like that for forty days, then more material is added to it and it changes into a red clot, by the leave of Allah, and it remains like that for forty days. Then it changes and becomes a lump of flesh, like a piece of meat with no form or shape. Then it starts to take on a form and shape, developing a head, arms, chest, stomach, thighs, legs, feet and all its members.
…. Jika air mani telah berada di rahim wanita, dia akan dalam keadaan sama selama 40 hari, kemudian material baru ditambahkan dan berubah menjadi gumpalan darah dan tetap dalam kondisi gumpalan darah selama 40 hari. Kemudian berubah menjadi gumpalan daging yang tidak memiliki bentuk. Kemudian mulailah berbentuk, menjadi kepala, tangan, dada, perut, paha, kaki …….

Jadi jika kita gabungkan penjelasan Qur’an, hadis dan tafsir diatas, kita akan mendapatkan urutan perkembangan janin sebagai berikut :
Air mani / darah (hingga hari ke 40 hari) – segumpal darah (hingga hari ke 80) – segumpal daging yang tidak berbentuk (hingga hari ke 120) – ditentukan jenis kelaminnya dan diberi nyawa – diubah menjadi tulang – diberi bentuk kepala, 2 tangan, 2 kaki syaraf dan pembuluh darah – meliputi dengan daging – diciptakan bentuk lainnya.

Pernyataan diatas jelas salah total.

III.1. Air mani atau sperma tidak mungkin bertahan selama 40 hari

Tafsir Ibn Kathir diatas menyatakan bahwa air mani tetap dalam keadaan sama selama 40 hari. Ini adalah salah total karena sperma mempunyai masa hidup yang singkat yaitu hanya sekitar maksimal 3 hari.
Sumber :
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 5

Sel sperma mempunyai umur atau kemampuan untuk membuahi sel telur dalam waktu 2 – 3 hari.

Jadi tidak mungkin sel sperma akan berada dalam keadaan tetap selama 40 hari dalam rahim wanita. Lagipula menurut pengetahuan modern, dihari ke 40 bentuk janin bukan berupa air mani atau darah, melainkan sudah seperti ini (Carnegie stage 16)

Image

III.2. Tidak ada masanya dimana embrio menjadi segumpal darah, segumpal daging dan tulang belulang.

Kesalahan periode segumpal darah diakui oleh Maurice Buchaille sesuai pembahasan di bab II diatas.
Sementara perkembangan janin menurut pengetahuan modern dibagi-bagi menurut tahapan Carnegie adalah sebagai berikut.
Saya hanya mengutip sebagian saja. Tahapan selengkapnya dapat diakses di
http://www.embryology.ch/anglais/iperio … gie02.html

• Stage 7 (sekitar hari ke 19)
Menurut Al-Qur’an dan Muhammad pada tahapan ini (hingga hari ke 40),janin masih berupa sperma atau darah cair.
Image

• Stage 9 (sekitar hari ke 25)
Image

• Stage 15 (sekitar hari ke 36)
Image

• Stage 18 (sekitar hari ke 44)
Menurut Al-Qur’an dan Muhamamd SAW dalam periode ini (hari ke 40 hingga ke 80) janin masih berupa segumpal darah.

Image

• Stage 19 (sekitar hari ke 46)
Image

• Stage 21 (sekitar hari ke 51)
Image

Jadi tidak ada yang namanya periode segumpal darah, segumpal daging dan menjadi tulang terus dibungkus lagi dengan daging ala pengetahuan Al-Qur’an dan Muhammad SAW.

III.3. Penentuan jenis kelamin

Jenis kelamin tidak ditentukan oleh Allah SWT setelah 120 hari sesuai yang dikatakan oleh Muhammad SAW diatas. Jenis kelamin sudah ditentukan sejak saat pembuahan sel telur oleh sperma dimana jika sperma mengandung kromosom X maka akan menghasilkan anak perempuan, sedangkan jika sperma mengandung kromosom Y akan menghasikan anak laki-laki.
Sumber:
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 5

… sel sperma memiliki dua kromosom seks yang berbeda, yaitu XY…… Bila kromosom sel sperma yang membuahi sel telur adalah X maka zigot (sel telur yang telah dibuahi) yang terbentuk adalah XX, berarti jadilah anak perempuan. Namun bila sel sperma yang membuahi sel telur berkromosom Y, jadilah zigot anak laki-laki.

Jenis kelamin janin bahkan sudah bisa dilihat pada minggu ke 12 atau hari ke 84.
Sumber :
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 32

Minggu ke 12
… Pada pemeriksaan USG , jenis kelamin janin sudah dapat diidentifikasi secara jelas.

III.4. Pembentukan anggota tubuh

Menurut urutan dari Al-Qur’an dan Muhamamd SAW, pembentukan anggota tubuh manusia baru akan dimulai setelah usia kandungan diatas hari ke 120 atau sekitar minggu ke 17.
Pengetahuan modern sebaliknya menyebutkan sebagai berikut.
Sumber :
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 27

Minggu ke 9
.. Kepalanya lebih tegak dan leher lebih berkembang. Kelopak mata mulai terbentuk. Lubang hidung dan ujung hidung juga sudah terdeteksi. Lidah mulai tampak. Daun teling sudah terlihat dan lebih berkembang. Lengan dan tungkai sudah lebih panjang. Begitu pula dengan jari-jari tangan. Sementara dibagian tangan/kaki mulai terbentuk siku/lutut dan mata kaki

Jadi diminggu ke 8 – 9, kira-kira bentuknya sudah seperti ini :
Image

Sementara jika kita lihat Carnegie stage 15 diatas, terlihat bahwa cikal bakal anggota tubuh sudah terlihat di hari ke 36 atau minggu ke 6.

Sementara diminggu ke 12 atau sekitar hari ke 80, jika menurut Al-Qur’an dan Muhammad SAW baru selesai periode segumpal darah, sementara menurut ilmu pengetahuan modern sudah seperti ini.
Image

Dan dihari ke 120 atau sekitar minggu ke 16/17, jika menurut Al-Qur’an dan Muhammad SAW baru dimulai pembentukan anggota tubuh, menurut ilmu pengetahuan modern janin sudah berbentuk sebagai berikut :
Image

Benar-benar Al-Qur’an dan Muhammad SAW salah total.

III.5. Nyawa diberikan setelah hari ke 120

Pendapat ini jelas salah karena embrio sudah bisa melakukan aktifitas gerakan yang dikontrol dari otak sejak minggu ke 9.
Sumber :
Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
Nakita
Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 27

Minggu ke 9
Embrio sudah bisa menggerakkan tubuh dan tungkainya di dalamair ketuban. Hal ini disebabkan otak embrio sudah terhubung dengan saraf dan otot-otot tubuh. Otakpun sudah mengirim kode-kode saraf yang ditransfer menuju otot.

III.6. Asal Zat Reproduksi Manusia

Al-Qur’an menuliskan bahwa air mani berasal dari antara tulang sulbi.
QS 86 : 5 – 7
Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,
yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.

Namun terjemahan Indonesia ini agak meragukan karena jika kita bandingkan dengan terjemahan Ingrgis terlihat berbeda.
Yusuf Ali : “He is created from a drop emitted—proceeding from between the backbone (tulang belakang) and the ribs (tulang rusuk).”
Pickthall : “He is created from a gushing fluid that issued from between the loins (pinggang) and ribs. (rusuk)
Muhammad Khan : “He is created from a fluid poured forth, which issues forth from between the loins (pinggang) and the breastbones (tulang dada).”

Kebingungan terjemahan tampaknya karena tafsir Ibn Kathir menuliskan versi seperti terjemahan Indonesia.
Sumber :
http://www.theholybook.org/en/a.48417.html
(Proceeding from between the backbone and the ribs.) meaning, the backbone (or loins) of the man and the ribs of the woman, which is referring to her chest. Shabib bin Bishr reported from `Ikrimah who narrated from Ibn `Abbas that he said,
(Proceeding from between the backbone and the ribs.) “The backbone of the man and the ribs of the woman.
… berarti tulang belakang (atau pinggang) dari laki-laki dan daru tulang rusuk wanita, yang mengacu kepada dada wanita.Shabib bin Bishr melaporkan dari Ikrimah yang mengisahkan dari Ibn Abbas bahwa dia berkata …… “Tulang belakang laki-laki dan tulang rusuk wanita

Heran juga, Al-Qur’an yang katanya ditulis oleh Aulloh SWT sendiri ternyata sulit diterjemahkan hingga mengahasilkan terjemahan yang berbeda artinya.
Jadi menurut Al-Qur’an, zat reproduksi manusia berasal dari :
Laki-laki (sperma) : dari sekitar tulang belakang dan pinggang, kemungkinan ginjal karena inilah organ yang ada dipinggang.
Wanita (ovum) : dari sekitar dada

Pernyataan diatas jelas salah total dan tampaknya dicontek dari PENGAJARAN HIPPOCRATES di abad 5 SM (1100 tahun sebelum Muhammad SAW)
Sumber :
Hippocratic Writings
Penguin Classics, 1983, halaman 317-8

“sperma dihasilkan dari semua cairan dalam tubuh, disebarkan dari otak melalui sumsum tulang belakang kemudian melalui ginjal hingga testikel dan organ pria.

1) Sperma dihasilkan di testis.
Sperma tidak dihasilkan dari wilayah ginjal melainkan dari testis
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Testis
The respective functions of the testicles are:
• producing sperm (spermatozoa)
• producing male sex hormones, of which testosterone is the best-known

Dan lokasi testis kita semua sudah tahu.
Image

Sementara ginjal (kidney) adanya jauh diatas testis.

2) Sel Telur Dihasilkan di Ovarium
Sel telur dihasilkan diovarium yang letaknya jauh dari tulang rusuk.
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Ovary
Ovaries are egg-producing reproductive organs found in female organisms

IV. PENGETAHUAN EMBRIOLOGI PRA ISLAM

Menarik bahwa pengetahuan emriologi ala al-Qur’an dan Muhammad SAW ternyata sudah beredar ratusan tahun sebelumnya.
Sebagai rangkuman tahapan emriologi Islam adalah sebagai berikut :
• Tahap 1 : air mani (40 hari)
• Tahap 2 : segumpal darah (40 hari)
• Tahap 3 : segumpal daging (40 hari)
• Tahap 4 : dirubah menjadi tulang
• Tahap 5 : tulang dibungkus dengan daging

Kita akan melihat perbandingan dengan ilmuwan pra Islam.

IV.1. Aristoteles

Aristoteles adalah imluwan Yunani yang hidup dari 384 SM – 322 SM atau sekitar 900 tahun sebelum era Muhammad SAW. Beliau mengarang sebuah buku yang berjudul On The Generation of Animals. Berikut cuplikannya sebagaimana dikutip dari buku dr. William Campbell yang mengutip dari sumber :
Aristotle, On the Generation of Animals,
Trans. by Arthur Platt, Vol. 9
Encyclopædia Britannica Inc., 1952,

Sumber :
http://www.answering-islam.org/Campbell/s4c2b.html
Section 728a (cat : berbicara tentang sperma)
…. “It follows that what the female would contribute to the semen of the male would be material for the semen to work upon.”
… Selanjutnya zat yang akan disumbangkan pihak wanita terhadap sperma adalah zat dimana sperma akan bekerja …..
Section 654b
“Nature forms from the purest material the flesh … and from the residues thereof bones, sinews, hair, and also nails … and lastly, round about the bones, and attached to them by thin fibrous bands, grow the fleshy parts. …”
“Bentuk alami terbuat dari material murni (yaitu) daging… dan dari sisanya terbentuk tulang, otot, rambut dan juga kuku … dan terakhir, mengelilingi dan menempel ditulang adalah lapisan ikatan serat tipis, tumbuhlah bagian-bagian daging.

Jadi menurut Aristoteles, tahapan perkembangan janin adalah sebagai berikut :
• Tahap 1 : air mani / sperma
• Tahap 2 : bercampur dengan zat reproduksi wanita (darah)
• Tahap 3 : daging
• Tahap 4 : tulang
• Tahap 5 : tulang dibungkus dengan daging

IV.2. Galen

Galen lahir di Pergamus – Turki tahun 131 M atau sekitar 400 tahun sebelum era Muhammad SAW. Berikut pendapat Galen sebagaimana dikutip dari buku dr. William Campbell, bagian 4, bab IIB yang mengutip dari :
Corpus Medicorum Graecorum Galeni de Semine (Galen: On Semen)
Greek text with English trans. Phillip de Lacy, Akademic Verlag, 1992
Sction I : 9, halaman 50, 92-95, 101

Sumber :
http://www.answering-islam.org/Campbell/s4c2b.html
The substance from which the fetus is formed is not merely menstrual blood, as Aristotle maintained, but menstrual blood plus the two semens.”
Substansi dari mana janin dibentuk bukanlah hanya dari darah menstruasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Aristoteles, tetapi darah menstruasi ditambah dua air mani

“the first is that in which … the form of the semen prevails. At this time Hippocrates too, the all marvelous, … still calls it semen (geniture).”
Yang pertama …. Air mani menang. Pada saat ini Hippocrates yang terkenalpun, …. Masih menyebutnya air mani

“when it has been filled with blood, and heart, brain and liver are (still) unarticulated and unshaped … the substance of the foetus has the form of flesh
Ketika sudah diisi dengan darah, dan jantung dan hati yang belum jelas dan tidak berbentuk … substansi janin adalah dalam bentuk daging

The time has come for nature to articulate the organs precisely and to bring all the parts to completion. Thus it caused flesh to grow on and around all the bones
Waktunya telah tiba untuk berbentuk organ-organ secara tepat dan membawa semua bagian menuju penyelesaian. Oleh karena itu menyebabkan daging tumbuh mengelilingi seluruh tulang.

Jadi menurut Galen, tahapan perkembangan janin adalah sebagai berikut :
• Tahap 1 : air mani / sperma
• Tahap 2 : bercampur dengan darah menstruasi
• Tahap 3 : daging
• Tahap 4 : tulang
• Tahap 5 : tulang dibungkus dengan daging

Dan hasil karya Galen ini banyak digunakan di Persia.
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Galen
Most of Galen’s Greek writings were first translated to the Syriac language by Nestorian monks in the university of Gundishapur, Persia.
pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Syria oleh rahib Nestoria di Universitas Gunadishpur, Persia

Penterjemahan karya-karya Galen kedalambahasa Persia dilakukan sebelum tahun 579 M.
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Library_of_Gundishapur
However, it was under the rule of the Sassanid monarch Khusraw (531-579 CE), called Anushiravan “The Blessed” and known to the Greeks and Romans as Chosroes, that Gondeshapur became known for medicine and erudition. Khusraw I gave refuge to various Greek philosophers, Syriac-speaking Christians and Nestorians ….…The king commissioned the refugees to translate Greek and Syriac texts into Pahlavi. They translated various works on medicine, astronomy, philosophy, and useful crafts.
… dibawah dinasti Sasanid Khusraw (531 – 579) … Gundashpur menjadi terkenal karena ilmu pengobatannya dan pengetahuannya. … Khusraw I memberikan perlindungan bagi banyak filsuf Yunani, orang Kristen berbahasa Syria dan kaum Nestorian …. Raja memerintahkan para pengungsi untuk menterjemahkan teks Yunani dan Syria kedalam teks Pahlavi. Mereka menterjemahkan banyak karya dalam pengobatan, astronomi, filosofi dan keahlian yang bermanfaat.

Terlihatlah bagaimana persamaan antara embriologi Al-Qur’an dan Muhammad SAW dengan Aristoteles dan Galen. Jadi jika selambatnya ditahun 579 M karya Galen sudah diterjemahkan kedalam bahasa Persia, maka jelas bahwa orang-orang Arab yang berdagang hingga Persia bisa menyerap pengetahuan Galen tersebut. Termasuk tentunya Muhammad SAW. Kesamaan yang sangat mencolok sehingga dengan mudah kita bisa menyatakan bahwa pengetahuan Al-Qur’an dan Muhammad SAW adalah hasil dengar-dengaran dari Aristoteles dan Galen.

V. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pengetahuan modern yang diklaim tidak lebih adalah upaya mencocok-cocokkan ayat samar-samar dalam Qur’an dengan pengetahuan modern dan ironisnya bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Muhammad SAW dalam hadis.

2. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang embriologi tidak lebih adalah observasi sederhana yang bisa dilakukan oleh manusia primitive

3. Pengetahuan embriologi Al-Qur’an dan Muhammad SAW tidak lebih adalah hasil dengar-dengaran dari pendapat Aristoteles dan Galen yang setidaknya sudah beredar di Persia sekitar tahun 579 M atau sekitar 31 tahun sebelum Muhammad SAW memulai dakwah.

4. Aristoteles jelas salah dalam pengetahun tentang emriologinya.
Galen jelas salah dalam pengetahuan tentang emriologinya.
Al-Qur’an dan Muhammad SAW yang mencontek Aristoteles dan Galen juga ikut salah dalam pengetahuan tentang emriologinya.

5. Bahwa Al-Qur’an adalah hasil dengar-dengaran tidaklah mengerankan karena Aulloh SWT dan Muhammad SAW memang sering memasukkan kisah dengar-dengaran dari sana sini seperti yang terjadi saat :
a. Memasukkan kisah Alexander Agung yang telah saya bahas disini :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=4802

b. Memasukkan kisah The Seven Sleepers yang telah saya bahas disini :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6137

6. Ini membuktikan sekali lagi bahwa Islam harus ditegakkan dengan kebohongan.

Sekian
KETERGANTUNGAN ILMU KEDOKTERAN ISLAM PADA SUMBER YUNANI

Muslim menolak anggapan bahwa ilmu pengetahuan kedokteran yang ada di Qur’an dan hadis adalah hasil dengar-dengaran dari sumber-sumber Yunani. Salah satunya adalah sdr. Faiz di http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6554

yang saat memberikan komentar terhadap tulisan saya menuliskan antara lain :
“…. Hipocrates salah Qur’an benar.… tidak ada bukti adanya manuskrip-manuskrip dari Yunani kuno yang ada di Madinah …. kesalahan Aristotelles, Gallen, serta Hipocrates tidak pernah ada didalam Qur’an dan hadits, jadi berpikirlah dengan cara yang sehat

Tulisan berikut saya kutip dari buku Phillip K Hitti yang menginformasikan bagaimana ketergantungan ilmu kedokteran Arab kuno terhadap sumber-sumber Yunani.
Semua kutipan diambil dari :
History of The Arabs
Phillip K. Hitti
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006

Diera Muhammad SAW hidup ilmu pengobatan masih sangat primitif.
Sumber :
Hitti, halaman 318
Ilmu pengobatan yang berkembang di semenanjung Arab memang sangat primitive. Pengobatan biasanya melibatkan praktek perdukunan dan jimat untuk melawan pengaruh jahat setan. Beberapa praktek pengobatan … yang disebutkan dalam berbagai hadis sebagai pengobatan ala Nabi merupakan praktek yang lazim ditemukan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Dalam bukunya, Muqaddimah, Ibn Khaldun yang terkenal kritis, menyebutkan dengan nada minor jenis pengobatan semacam itu ……

Sementara ilmu kedokteran Yunani pada saat itu dipandang sebagai ilmu kedokteran yang jauh lebih tinggi. Bahkan diera Muhammad SAW hidup, sudah ada ”dokter” Arab lulusan Persia dari Universitas Gundashpur yang mendasarkan pengajarannya pada sumber-sumber Yunani.

Sumber :
Hitti, halaman 319
Pengobatan ilmiah Arab bersumber terutama dari Yunani, dan sebagian lagi dari Persia. Pengobatan Persia sendiri dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Daftar urutan teratas dokter-dokter Arab pada abad pertama Islam ditempati oleh al Harits ibn Kaladah (wafat 634) dari Taif yang menuntut ilmu di Persia. Al Harits adalah orang pertama yang dididik secara ilmiah di semenanjung Arab dan memperoleh gelar kehormatan sebagai dokter orang Arab.

Sumber :
http://www.nlm.nih.gov/hmd/arabic/natural_hist1.html
An Arab named al-Ḥārith ibn Kaladah al-Thaqafī is said to have studied medicine at Gondeshapur in Persia. He is also reported to have held learned discussions with the Persian ruler Khusraw Anushirwan, who died in AD 579.
Seorang Arab bernama al Harith ibn Kaladah al Thaqafi dilaporkan telah belajar pengobatan di Gondeshapur di Persia ….

Jadi diera Muhammad SAW hidup sudah ada orang Arab dari Taif yang belajar ilmu kedokteran Yunani di Persia. Kota Taif sangatlah dekat dengan Mekah. Jadi sangat mungkin kalau orang-orang Quraish di jaman Muhammad SAW hidup sudah mendengar tentang teori-teori Galen, Aristoteles dan Hippocrates.

Penterjemahan tulisan ilmu kedokteran ke bahasa Arab sudah dilakukan setidaknya tahun 683 M

Sumber :
Hitti, halaman 319
Seorang dokter Yahudi dari Persia, Masarjawayh yang tinggal di Basrah pada masa-masa awal pemerintahan Marwan ibn al Hakam menerjemahkan (683 M) ke dalam bahasa Arab sebuah naskah Suriah tentang pengobatan yang awalnya ditulis dalam bahasa Yunani oleh seorang pendeta Kristen di Iskandariyah.

Hampir seluruh karya-karya lengkap ilmu pengetahuan Yunani sudah diterjemahkan ke bahasa Arab sekitar tahun 800-an masehi.

Sumber :
Hitti, halaman 388 – 390
Ketua para penterjemah, demikian kata orang Arab, adalah Hunayn ibn Ishaq (809 – 873) ….. Hunayun tampaknya telah mempersiapkan penerjemahan buku Galen, Hippocrates dan Dioscorides, juga karya Plato dan Aristoteles…. Diantara semua karya itu, karya utamanya adalah terjemahan ke bahasa Suriah dan Arab hampir semua tulisan ilmiah Galen. Tujuh buku Galen tentang anatomi yang versi Yunaninya tidak ditemukan lagi, untung saja telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Fakta bahwa yang dipilih untuk diterjemahkan kedalam bahasa Arab adalah karya-karya Galen, Hippocrates dan Aristoteles jelas membuktikan bahwa dalam bidang kedokteran, dunia Arab era Muhammad SAW dan sesudahnya sangat tergantung pada informasi kedokteran Yunani tersebut.

Makanya tidaklah mengherankan kalau tahapan embriologi dalam Qur’an dan hadis sangatlah mirip dengan teorinya Galen dan Aristoteles.

Bagaimanapun juga kesalahan iptek yang bersumber dari pengetahuan Yunani sudah terekam dalam Qur’an dan hadis sehingga harus ada counter klaim keajaiban iptek. Dan proses untuk ”mendapatkan keajaiban” iptek embriologi itu haruslah dengan cara menyesuaikan dengan fakta ilmu pengetahuan modern seperti contoh kasus berikut yang ditulis oleh sdr Faiz :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6554

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, saat ini kita mengetahui bahwa manusia tidak mungkin tercipta dari gumpalan darah beku, maka ‘alaqah yang ditafsirkan sebagai gumpalan darah beku harus disesuaikan.

Padahal tafsiran darah beku itu adalah tafsir yang diyakini kebenarannya oleh institusi pendidikan Islam, menurut sdr Faiz :

Dalam Al-Qur’aan disebutkan “Dia menciptakan manusia dari ‘alaqah”, oleh institusi pendidikan Islam ditafsirkan sebagai “gumpalan darah beku”,

Dan tafsiran alaqah sebagai gumpalan darah beku itu sudah mengikuti hukum tata bahasa yang sangat ketat, menurut sdr Faiz :

Namun penafsiran tersebut haruslah mengikuti hukum tata bahasa Arab yang sangat ketat

Tafsir yang sudah dilakukan oleh institusi Islam sendiri selama lebih dari 1000 tahun, dengan mengikuti hukum tata bahasa Arab yang ketat, ternyata menghasilkan sesuatu yang salah.

Sangat ironis.

Read More


Forum Berdiskusi

Klaim Bohong Muhammad SAW Keturunan Abraham

MUHAMMAD BUKAN KETURUNAN ABRAHAM

Tulisan berikut ini akan membahas tentang keabsahan klaim muslim bahwa Muhammad SAW adalah keturunan dari Abraham. Dalam tulisan ini banyak digunakan SUMBER-SUMBER ISLAM sendiri yang ternyata justru MERAGUKAN KLAIM BAHWA MUHAMMAD SAW ADALAH KETURUNAN ABRAHAM.

I. KLAIM MUSLIM
Muslim mengklaim bahwa Muhammad SAW adalah keturunan dari Ismail.
Sumber :
The Choice
Ahmed Deedat

Bab 1-1-3 : Bukti Lebih Lanjut
…… Dengan cara yang sama Muhammad berasal dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. …….

Secara lebih spesifik Ahmed Deedat merujuk kepada KEDAR, anak Ismail.
Sumber :
The Choice – Combat Kit :

(b) “. . desa-desa yang didiami Kedar” (Injil-Yesaya 42: 11).
“Arab dan semua pemuka Kedar…. ” (Injil – Yehezkiel 27: 21)
Ensiklopedi Injil standar Internasional mengutip yang berikut ini dari A. S. Fulton:
” … Dari rumpun Ismail, Kedar adalah yang paling penting, dan oleh karena itu pada masa berikutnya nama tersebut diaplikasikan untuk semua suku-suku liar padang pasir Melalui Kedar (Arab Keidar) geneolog Muslim menelusuri nenek moyang Muhammad dari Ismail.”

II. PERMASALAHAN
Permasalahan mendasar pertama adalah karena ada 2 pendapat yang berbeda tentang dari anak Ismail yang mana klaim keturunan ini dibuat, apakah dari Nabit atau dari Kedar.

Kita lihat dulu silsilah nabi SAW yang diambil dari :
http://media.isnet.org/islam/Silsilah/Muhammad02.html (sebelah kiri)
Sumber http://www.ahle-sunnat.org.uk/PLINAGE3.html (sebelah kanan)

Kedua sumber sama untuk nama di bawah Adnan, namun berbeda untuk nama diatas Adnan, berikut Nabit dan Kedar.

00 IBRAHIM vs 00 Prophet Ibrahim (Alaihi Salaam)
01 Isma’eel ….vs 01 Prophet Ismail (Alaihi Salaam
02 NABIT ….vs 02. QAIDAR (KEDAR)
03 Yashjub ….vs 03. Nabt
04 Tayrah …..vs 04. Al YAsa
05 Nahur ……vs ??????
06 Muqawwam vs 05. Al Muqawwam
?????????……..vs 06 Yaqdud
?????????……..vs 07 Zayd
07 Udad …….vs 08. Adad
08 ‘ADNAN vs 09 Adnan
09 Mu’ad
10 Nizar
11 MUDAR
12 Ilyas
13 Mudrika
14 Khuzayma
15 Kinana
16 AL NADR (AL QURAYSH)
17 Malik
18 Fihr
19 Ghalib
20 Lu’ayy
21 Ka’ab
22 Murra
23 Kilab
24 Qussayy (Real name: Zayd)
25 ‘Abdu Manaf (Real name: Al Mughira)
26 Hashim (Real name: ‘Amr) as Banu Hashim
27 ‘Abdu Al Mutallib (Real name: Shaiba)
28 ‘Abdullah
29 MUHAMMAD saw

Nama yang perlu mendapat perhatian adalah Nabit, Kedar. Adnan, Mudhar dan Quraish.

II.1. MUHAMMAD SAW KETURUNAN NABIT
Nabit adalah anak pertama Ismail, sedang Kedar adalah anak ke 2 Ismail
Kej 25 : 13 : ….. Nebayot anak sulung Ismail, selanjutnya Kedar ………

Menurut pendapat Muhammad Ibn Ishaq
Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Ishaq Ibn Yasar. Lahir di Medinah 704 M, meninggal di Baghdad 767 M. Mengunpulkan kisah-kisah tentang kehidupan nabi SAW dengan sumber berasal dari ayah dan ke 2 pamannya. Buku biografi tentang nabi SAW yang direview kembali oleh Ibn Hisham adalah sumber tertua tentang sejarah hidup nabi SAW.

Sumber :
Sirat Ibnu Ishaq
(Kitab Sejarah Nabi Tertua), buku 1,
Muhammadiyah University Press, 2002, halaman 4 :

Muhammad adalah anak dari Abdullah, bin Abdul Muttalib, bin Hashim …… bin Mudhar … bin Adnan ….. bin Yashjub, bin Nabit, bin Ismail, bin Ibrahim.

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabit anak pertama Ismail

II.2. MUHAMMAD SAW KETURUNAN KEDAR
Pendapat ini terekam oleh Ibn Sa’d.
Lahir di Basrah 783 M dan meninggal tahun 845 M. Belajar agama dari Muhammad ibn Umar al-Waqidi. Dalam pencariannya terhadap ilmu, Ibn Sa’d belajar hingga ke Kufa dan Madina. Otoritasnya diakui oleh ulama belakangan yaitu : Ibn Hajar, adh-Dhahabi, al-Khatib al-Baghdadi dan Ibn Khallikan.

Sumber :
Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir Volume I
Muhammad Ibn Sa’d
Terjemahan oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D dibantu oleh H.K. Ghazanfar M.A.
Halaman 50 :

Hisham said: A narrator informed me on the authority of my father, but I had not heard it from him, that he related the genealogy thus, Ma‘add Ibn ‘Adnan Ibn Udad Ibn al-Hamaysa’ Ibn Salaman Ibn ‘Aws Ibn Yuz Ibn Qamwal Ibn Ubayyi Ibn al-‘Awwam, Ibn Nashid Ibn Haza Ibn Buldas Ibn Tudlaf Ibn Tabikh Ibn Jahim Ibn Nahish Ibn Makha Ibn ‘Ayfa Ibn ‘Abqar Ibn ‘Ubayd Ibn al-Du‘a Ibn Hamdan Ibn Sanbar Ibn Yathriba Ibn Nahzan Ibn Yalhan Ibn Ir‘awa Ibn ‘Ayfa Ibn Dayshan Ibn ‘Isar Ibn Iqnad Ibn Ibham Ibn Muqsi Ibn Nahith Ibn Zarih Ibn Shumayyi Ibn Mazzi Ibn ‘Aws Ibn ‘Arram IBN QAYDHAR Ibn Isma‘il Ibn Ibrahim (my Allah bless them both).

Pendapat ini yang sekarang laris dikutip oleh ulama-ulama modern.
Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad,
Syaikh Shafiyyur Rahman al Mubarakfury
Robbani Press, 2002, halaman 46 – 47 :

Kedua, bagian yang mereka perselisihkan, antara setuju dan tidak, yaitu diatas Adnan sampai Ibrahim. ………..
Bagian kedua, yaitu diatas Adnan. Adnan adalah bin Ad bin Humaisi ….. bin Iram bin Qidar bin Ismail bin Ibrahim

Jadi sejarah tertua mengkaitkan Muhammad SAW dengan Nabit (anak pertama), sementara tulisan yang belakangan mengkaitkan Muhammad SAW dengan Qidar (Kedar – anak kedua Ismail).

II.3. KENAPA TERJADI PERUBAHAN?
Kemungkinannya karena pakar-pakar Islam awal cenderung mengkaitkan dengan anak sulung yaitu Nabit yang secara tradisi umumnya menjadi anak yang mendapat hak kesulungan.

Sementara pakar Islam modern setelah lebih mengetahui Alkitab ternyata mendapati :
• Nabit sama sekali tidak memegang peranan dan hampir tidak disebutkan namanya. Bahkan malah dihubungkan dengan domba-domba yang akan akan dikurbankan orang Israel.
Yesaya 60 : 7 :
Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.

Tentu saja ayat ini tidak mengenakkan bagi pakar-pakar muslim sehingga pandangan bahwa nabi SAW keturunan Nabit tidak lagi perlu dipertahankan.

• nama Kedar disebutkan dalam konotasi “kegembiraan” :
Yesaya 42 : 11 : “..demikian pun segala dusun yang diduduki ORANG KEDAR, baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu ……”.

Kalimat dalam Yes 42 kemudian dipergunakan untuk menjustifikasi bahwa nabi Muhammad SAW telah diramalkan dalam Alkitab melalui Kedar, sementara bukit batu berarti wilayah Mekah yang berbukit-bukit.

Itu sebabnya silsilah harus diganti dari Nabit menjadi Kedar.

Ironisnya, Kedar justru dikonotasikan sebagai musuh Israel.

Mazmur 120 : 5 – 7 :
Ayat 5 : CELAKALAH aku karena harus tinggal sebagai orang asing di Mesekh, karena harus diam diantara kemah-kemah KEDAR.
Ayat 6 : Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang MEMBENCI PERDAMAIAN.
Ayat 7 : Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka MEREKA MENGHENDAKI PERANG

Jadi Kedar muncul dalam konteks CELAKA, PEPERANGAN dan KETIDAKDAMAIAN.

Jika muslim berkeras bahwa Kedar menubuatkan nabi SAW (bangsa Arab), maka NUBUAT ALKITAB INI TERPENUHI dengan PEPERANGAN-PEPERANGAN yang dilancarkan oleh nabi SAW dan muslim selanjutnya

Jika ayat ini menjadi tidak mengenakkan muslim, MUNGKIN di kemudian hari akan ada perubahan lagi bahwa Muhammad SAW keturunan dari Tema, anak ke 9 Ismail.
Kej 25 : 13 : …… Hadad, TEMA, Yetur, ………

Perubahan dimungkinkan karena adanya sebuah oase di digurun Nefud di Arab Tengah yang bernama TEIMA. Jadi nabi SAW bisa dikaitkan dengan TEMA – dengan Ismail.

III. SKEPTISISME SUMBER KUNO ISLAM
Sebetulnya garis keturunan nabi Muhammad diatas Adnan tidak dapat ditentukan lagi. Banyak ulama kono Islam yang mengakui hal tersebut.

III.1. MENURUT IBN KATHIR
Namanya Abul Fida Ismail ibn Abi Hafs Shihabuddin Omar ibn Kathir ibn Daw ibn Kathir. Lahir di Busra (Syria) tahun 1302 M, meninggal 1373 M. Mengarang kitab tafsir yang diakui oleh muslim sebagai satu yang terbaik.

Sumber :
The Life of the Prophet Muhammad
AL- SIRA AL- NABAWIYYA by IBN KATHIR , volume 1
Translated by Professor Trevor le Gassick
Paper Back Reviewed by Dr A Fareed / Dr.M Fareed
Garnet Publishing – UK, halaman 50 – 52

There is no question of ‘Adnan being of the line of Ishmael, son of Abraham, upon both of whom be peace. What dispute there is relates to the number of forebears there were from ‘Adnan to Ishmael according to the various sources.
At one end of the spectrum, there s the extreme view that considers there to have been FORTY; this is the view of Christians and Jews who adopted it from the writings of Rakhiya, the clerk of Armiya (Jeremy) b. Halqiya, as we will relate.
Some authorities maintain there THIRTY, others TWENTY, yet more FIFTEEN, TEN, NINE, or SEVEN.
It has been said that the lowest estimate given is for FOUR, according to the account given by Musa b. Ya‘qub ……..

Tidak ada keraguan bawa Adnan adalah keturunan Ismail, anak Abraham. Yang tidak pasti adalah tentang jumlah generasi antara Adnan hingga Ismail menurut beberapa sumber.
Salah satu pendapat tentang jumlah generasi, yang paling ekstrim adalah ada EMPATPULUH GENERASI, in iadalah pendapat Kristen dan Yahudi yang mengadopsi pandangan ini dari sumber Rakhiya …. Beberapa otoritas menyatakan TIGAPULUH GENERASI, yang lain DUA PULUH GENERASI, bahkan LIMA BELAS GENERASI, SEPULUH GENERASI, SEMBILAN GENERASI, atau TUJUH GENERASI. Dilaporkan bahwa estimasi paling sedikit adalah EMPAT GENERASI,menurut laporan dari Musa bin Yakub …….

Jadi Ibn Kathir secara iman berpendapat bahwa tidak ada keraguan tentang Muhammad SAW adalah keturunan Ismail, hanya masalah berapa jumlah generasi antara Ismail hingga Muhammad SW yang tidak jelas.
Namun keyakinan Ibn Kathir ini sebetulnya pupus dengan sendirinya karena dia sendiri mengutipkan sumber-sumber yang menolak dan meragukan pendapat bahwa Muhammad SAW adalah keturunan Ismail.

Sumber :
Ibid, halaman 50 – 52
As for Malik, God have mercy on him, he expressed disapproval when asked about someone tracing his descent back to Adam and commented: “WHENCE COMES TO HIM KNOWLEDGE OF THAT?” When he was asked about tracing back to Ishmael, he expressed similar disapproval, asking, “WHO COULD PROVIDE SUCH AN INFORMATION?”

Sementara menurut Malik – Allah mengasihinya – Malik menunjukkan ketidaksetujuannya ketika seseorang menyatakan silsilah nenek moyangnya hingga ke Adam dan berkata, “Kapan informasi itu sampai kepadanya?” Ketika Malik ditanya silsilah hingga Ismail, dia menunjukkan ketidaksetujuannya, dan bertanya, “SIAPA YANG DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI SILSILAH ITU?”

It is reported that Ibn ‘Abbas said, “Between ‘Adnan and Ishmael there were 30 ancestors WHO ARE UNKNOWN.” Ibn ‘Abbas is also reputed to have said when he traced back lines of descent as far as ‘Adnan: “The genealogists have LIED

Dilaporkan bahwa ibn Abbas berkata, “Antara Adnan dan Ismail ada 30 generasi yang TIDAK DIKETAHUI” Ibn abbas dilaporkan ketika mengecek silsilah nenek moyang hingga Adnan, berkata, “Ahli silsilah telah BERBOHONG”

‘Umar b. al-Khattab stated, “We carry back the genealogy ONLY AS FAR AS ‘ADNAN.” …..
Abu al-Aswad stated that he had heard Abu Bakr Sulayman b. Abu Khaytham, one of the very most knowledgeable men of the poetry and the genealogy of Quraysh, say, “WE NEVER KNEW ANYONE WITH INFORMATION GOING BACK BEYOND MA‘AD B. ‘ADNAN, whether relating poetry or other knowledge.”

Umar ibn Khatab menyatakan, “Kami mengetahui daftar nenek moyang hanya SAMPAI KEPADA ADNAN” …..
Abu al-Aswad menyatakan bahwa dia mendengar Abu Bakar Sulayman ibn Abu Khaytam, salah satu orang yang paling terkemuka dalam sejarah suku Quraysh berkata, “Kami tidak pernah mengatahui ada orang yang mengetahui garis keturunan SEBELUM ADNAN, BAIK DALAM BENTUK SYAIR ATAU APAPUN.”

Kutipan diatas jelas yaitu :
• Daftar keturunan hanya DIKETAHUI HINGGA ADNAN
• Keturunan sebelum Adnan TIDAK DIKETAHUI
• Ada banyak KEBOHONGAN untuk mengkaitkan nabi Muhammad SAW dengan Ismail dan Abraham dalam khasanah sejarah Islam.

Pada akhirnya Ibn Kathir hanya dapat meyakini nabi Muhammad SAW keturunan Kedar – Ismail hanya atas dasar IMAN.

III.2. MENURUT MUHAMMAD IBN SA’D
Ibn Sa’dpun mencatat skeptisisme yang sama.
Sumber :
Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir Volume I
Muhammad Ibn Sa’d
Terjemahan oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D dibantu oleh H.K. Ghazanfar M.A.
Halaman 50 – 53 :

.. he on the authority of Ibn ‘Abbas; he said: Verily the Prophet (may peace be upon him), WHENEVER he related his genealogy, DID NOT GO BEYOND MA‘ADD IBN ‘ADNAN IBN UDAD, then he kept quiet and said: The narrators of genealogy ARE LIARS, ……
Ibn ‘Abbas says: The Prophet would have been informed of the genealogy (prior to Adnan by Allah) if he (Prophet) had so wished.

… dia dari otoritas Ibn Abbas, berkata : “Sesungguhnya Rasulullah, setiap mengaitkan silsilah keturunan, TIDAK PERNAH LEBIH DARI MA’AD BIN ADNAN BIN UDAD, kemudian Rasulullah akan terdiam dan berlata : Ahli-ahli silsilah ADALAH PEMBOHONG, ……..
Ibn Abbas berkata : “RASULULLAH PASTI AKAN SUDAH DIINFORMASIKAN DAFTAR KETURUNAN (SEBELUM ADNAN OLEH ALLAH) JIKA RASULULLAH MEMANG SANGAT MENGINGINKANNYA.

… Verily the genealogy of Ma‘add Ibn ‘Adnan HAS BEEN TRACED DIFFERENTLY. In some narrations it is Ma‘add Ibn ‘Adnan Ibn Muqawwam, Ibn Nahur Ibn Tirah Ibn Ya‘rub Ibn Yashjub IBN NABIT Ibn Isma ‘il.
He (Ibn Sa‘d) said: And some say: Ma‘add Ibn ‘Adnan Ibn Udad ’Itahab Ibn Ayyub IBN QAYDHAR Ibn Isma‘il Ibrahim.

… Sungguh silsilah keturunan Ma’add bin Adnan telah dilacak DENGAN JALUR BERBEDA. Dalam beberapa narasi adalah Ma‘add Ibn ‘Adnan Ibn Muqawwam, Ibn Nahur Ibn Tirah Ibn Ya‘rub Ibn Yashjub IBN NABIT Ibn Isma ‘il.
Ibn Sa’d berkata : Dan beberapa mengatakan : Ma‘add Ibn ‘Adnan Ibn Udad ’Itahab Ibn Ayyub IBN QAYDHAR Ibn Isma‘il Ibrahim.

… he on the authority of ‘Urwah; he said: WE DID NOT FIND ANY ONE TRACING THE GENEALOGY ABOVE MA‘ADD IBN ‘ADNAN.
… I heard Abu Bakr Ibn Sulayman Ibn Abu Hathamah saying… WE DID NOT FIND CERTAINTY IN THE KNOWLEDGE OF A SCHOLAR NOR IN THE VERSES OF A POET (ABOUT GENERATIONS) ABOVE MA‘ADD IBN ‘ADNAN…

Dia menurut otoritas Urwah : Kami tidak menemukan seorangpun yang dapat mengetahui silsilah DIATAS MA‘ADD IBN ‘ADNAN.

…. Aku mendengar Abu Bakar Ibn Sulayman Ibn Abu Hathamah berkata …… Kami tidak menemukan dengan pasti pengetahuan dari ilmuwan ataupun dari sajak-sajak kuno tentang silsilah DIATAS MA‘ADD IBN ‘ADNAN…

III.3. MENURUT IBN JARIR AT TABARI
Lahir di Thabrastan tahun 839 M, meninggal di Baghdad 932 M. Seorang ahli sejarah yang terkemuka, ahli tafsir dan seorang imam. Kitab tafsirnya telah menjadi rujukan bagi segala ulama tafsir. Tabari mencatat perbedaan keturunan apakahdari Nabit atau Kedar

Sumber :
The History of Al-Tabari,
Volume VI, Muhammad At Mecca,
Diterjemahkan oleh W. Montgomery Watt dan M.V. McDonald
State University of New York Press, Albany, 1988, halaman 38

“… I heard the Messenger of God say, ‘Ma‘add ‘Adnan b. Udad b. Zand b. Yara b. A‘raq al-Thara.’ Umm Salamah: Zand is al-Hamaysa‘, Yara is NABT and A‘raq al-Thara is Ishmael, son of Abraham.

“… Aku mendengar RASULULLAH BERKATA, “‘Ma‘add ‘Adnan b. Udad b. Zand b. Yara b. A‘raq al-Thara.’ Umm Salamah: Zand adalah al-Hamaysa‘, Yara adalah NABIT dan A‘raq al-Thara adalah Ishmael, anak Abraham.

… ‘Adnan, AS SOME GENEALOGISTS ASSERT, was the son of Udad b. Muqawwam b. Nahur b. Tayrah b. Ya ‘rub b. NABIT b. Isma‘il (Ishmael) b. Ibrahim (Abraham), WHILE OTHERS SAY: ‘Adnan b. Udad b. Aytahab b. Ayyub b. QAYDHAR b. Isma‘il (Ishmael) b. Ibrahim (Abraham). Qusayy b. Kilab traces his descent back to QAYDHAR in his poetry. YET OTHER GENEALOGISTS SAY: ‘Adnan b. Mayda‘ b. Mani‘ b. Udad b. Ka‘b b. Yashjub b. Ya‘rub b. al-Hamaysa‘ b. QAYDHAR b. Isma‘il (Ishmael) b. Ibrahim (Abraham). THESE DIFFERENCES arise because it is an old science, taken from the people of the first Book (the Old Testament)

Adnan, menurut beberapa ahli silsilah, adalah anak dari ….. b Nahor b. Terah b. Yarub b. NABIT b. Ismail b. Ibrahim, sementara yang lain menyatakan ‘Adnan b. Udad b. Aytahab b. Ayyub b. QAYDHAR b. Ismail b. Ibrahim …… Perbedaan ini muncul karena hal ini adalah pengetahuan kuno, diambil dari pendapat ahli kitab.

Pendapat Tabari bahwa Muhammad SAW menyatakan silsilah hingga Abraham bertabrakan dengan pendapat Ibn Sa’d yang justru menyatakan bahwa Muhammad SAW tidak pernah menyebutkan silsilah diatas Adnan.

Jelas bahwa silsilah Muhammad SAW hanya diketahui sampai Adnan saja.
Jadi sebetulnya TIDAK ADA YANG TAHU garis keturunan sebelum Adnan.

Kalau memang tidak ada yang tahu bagaimana bisa mengkaitkan Muhammad SAW dengan Adnan dan dengan Ismail??

III.3. IMAM BUKHARI
Dalam salah satu hadisnya, Bukhari mencatat kejadian dimana Hagar dan Ismail dibuang oleh Abraham di Mekah. Namun sangat menarik karena dikisahkan bahwa Muhammad SAW ternyata tidak sekalipun menyebut nama Hagar melainkan menggunakan istilah IBU ISMAIL atau SHE. Ini jelas mengindikasikan bahwa Muhammad SAW TIDAK MENGETAHUI NAMA Hagar.

Sumber :
Sahih Bukhari
Volume 004, buku 055, Hadis Nomor 583.

Narated By Ibn Abbas : The first lady to use a girdle was the MOTHER OF ISHMAEL. SHE used a girdle so that SHE might hide her tracks from SARAH., ….. ….. ISHMAEL’S MOTHER followed him saying, “O Abraham! ….. SHE repeated that to him many times, but he did not look back at her Then SHE asked him, …. SHE said, “Then He will not neglect us,” …… SHE became thirsty …… SHE started looking at him (i.e. Ishmael) tossing in agony; SHE left him, for SHE could not endure looking at him,…… SHE repeated that (running between Safa and Marwa) seven times.”

The Prophet said, “This is the source of the tradition of the walking of people between them (i.e. Safa and Marwa). When SHE reached the Marwa (for the last time) SHE heard a voice and asked herself to be quiet and listened attentively. SHE heard the voice again ….
The Prophet added, “May Allah bestow Mercy on ISHMAEL’S MOTHER! ……. SHE lived in that way till some people from the tribe of Jurhum …… The Prophet added, “ISHMAEL’S MOTHER was sitting near the water. ……. The Prophet further said, “ISHMAEL’S MOTHER was pleased with the whole situation as SHE used to love ……. The child (i.e. Ishmael) grew up and learnt Arabic from them and (his virtues) caused them to love and admire him as he grew up, and when he reached the age of puberty they made him marry a woman from amongst them.

After ISHMAEL’S MOTHER had died,

Dalam hadis lainnya, bahkan diindikasikan bahwa orang-orang Arab TIDAK TAHU BAHWA HAGAR ADALAH IBU ISMAIL, hal yang mustahil terjadi jika Quraish memang keturunan Ismail.

Sumber :
Sahih Bukhari
Volume 007, Buku 062, Hadis Nomor 021.

Narated By Abu Huraira : The Prophet said: Abraham did not tell lies except three. (One of them was) when Abraham passed by a tyrant and (his wife) Sara was accompanying him (Abu Huraira then mentioned the whole narration and said:) (The tyrant) gave her Hajar. Sara said, “Allah saved me from the hands of the Kafir (i.e. infidel) and gave me Hajar to serve me.” (Abu Huraira added:) That (Hajar) is your mother, O Banu Ma’-As-Sama’ (i.e., the Arabs).
Dikisahkan oleh Abu Huraira : Rasulullah berkata : “Abraham tidak berbohong kecuali dalam 3 kesempatan. (Satu diantaranya adalah saat) Abraham diterima oleh seorang tiran dan Sara sedang mendampinginya. … Sang tiran memberinya Hagar. Sara berkata, “Allah menyelamatkan aku dari tangan kafir dan memberiku Hagar sebagai pelayan.” (ABU HURAIRA) MENAMBAHKAN, “(HAGAR) ITU ADALAH IBUMU, O BANI MA’AS-SAMA (ORANG-ORANG ARAB).

Dari kedua hadis diatas mengindikasikan dengan jelas bahwa NAMA HAGAR TIDAK DIKENAL OLEH MUHAMMAD SAW DAN SAHABAT-SAHABATNYA. Itulah sebabnya Muhammad SAW tidak menyebut nama Hagar dan Abu Huraira sampai merasa perlu untuk menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa Hagar adalah ibu mereka.

IV. JIBRIL TURUN TANGAN
Bahkan silsilah Muhammad SAW dari MUDHAR juga baru muncul BELAKANGAN. Dan lagi-lagi muncullah Jibril yang menyelamatkan (mirip saat ingin menikahi Zainab) dengan memberitahu garis keturunan nabi Muhammad melalui Mudhar.
Sumber :
Kitab al-Tabaqat al-Kabir, Volume I,
Muhammad Ibn Sa’d
Terjemahan oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D dibantu oleh H.K. Ghazanfar M.A.
halaman 4


Ma’n Ibn ‘Isa al-Ashja’i al-Qazzaz (silk-merchant) informed us; he said: Mu’awiyah Ibn Salih informed us on the authority of Yahya Ibn Jabir who had seen some Companions of the Prophet and said: The people of Banu Fuhayrah came to the Prophet and said to him: You belong to us. He replied: Verily, (the archangel) Gabriel has informed me that I belong to Mudar.
Ma’n Ibn ‘Isa al-Ashja’i al-Qazzaz (pedagang sutera) menginformasikan : dia berkata : Muawiyah Ibn Salih menginfrmasikan menurut Yahya Ibn Jabir yang telah melihat beberapa sahabat Rasulullah SAW dan berkata : Bani Fuhayrah mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepadanya : “Rasulullah SAW adalah dari golongan kami”. Rasulullah SAW menjawab : “Sunguh, JIBRIL TELAH MEMBERITAHUKAN KEPADAKU BAHWA AKU TERMASUK KETURUNAN MUDHAR.”

Kisah serupa terekam juga dalam sahih Bukhari.
Sumber :
Sahih Bukhari
Volume 4, Buku 56, Nomor 698
Narrated Kulaib:
I was told by the Rabiba (i.e. daughter of the wife of the Prophet) who, I think, was Zainab, that the Prophet forbade the utensils (of wine called) Ad-Dubba, Al-Hantam, Al-Muqaiyar and Al-Muzaffat. I said to her, “Tell me as to which tribe the Prophet belonged; was he from the tribe of Mudar?” She replied, “He belonged to the tribe of Mudar and was from the offspring of An-Nadr bin Kinana.”
Dikisahkan oleh Kulaib :
…… Aku berkata kepadanya, “Katakan padaku kepada suku mana Rasulullah berasal, apakah beliau dari suku Mudhar?” Dia menjawab, “Rasulullah berasal dari suku Mudhar dan berasal dari keturunan An Nadr bin Kinana.”

Ini mengindikasikan bahwa :
1. Bani Fuhayrah tidak mengetahui bahwa Muhammad SAW atau suku Quraish adalah dari keturunan Mudhar
2. Jika tidak diketahui garis keturunan dari Mudhar, apalagi dari Adnan, apalagi dari Nabit atau Kedar, apalagi dari Ismail dan apalagi dari Abraham.
3 garis keturunan Muhammad hanya diketahui setelah menerima wahyu dari Jibril.

Konsekuensi lebih lanjut adalah GARIS KETURUNAN BANI QURAISH DARI MUDHAR, DARI ADNAN DAN DARI ISMAIL TIDAK DIKETAHUI SEBELUM MUNCULNYA MUHAMMAD SAW KARENA KALAU PENGETAHUAN INI SUDAH ADA KAN TIDAK PERLU JIBRIL MEWAHYUKAN SESUATU YANG SUDAH DIKETAHUI RAMAI ORANG.

Atau dengan kata lain garis keturunan itu DIKARANG kemudian.

V. KOMENTAR ULAMA MODERN
Pandangan bahwa Ismael adalah bapa bangsa Arab sebenarnya baru muncul pada awal berkembangnya Islam. Pada jaman pra Islam, tidak ada yang berpendapat bahwa Ismail adalah bapa bangsa Arab.

Beberapa pakar Islam mengakui hal tersebut :

1) Dr. Taha Hussein, seorang profesor dari Mesir, pendapatnya dikutip dalam buku Mizan al Islam karya Anwar Jundi, halaman 170 :
Dalam kasus cerita Abraham dan Ismail membangun Kabah cukup jelas, cerita ini MUNCUL BELAKANGAN disaat Islam mulai berkembang. Islam mengeploitasi kisah ini untuk kepentingan agama”

Siapa DR. Taha Husayn.
Dikutip dari :
Encyclopaedia Britannica edisi 2003
Sub Topik : Taha Hussein

Lahir Nov. 14, 1889, Maghaghah, Mesir
Meninggal Oct. 28, 1973, Kairo
Figur yang menonjol dalam khasanah Mesir modern …..Ditahun 1902 dia belajar di Al-Azhar, Kairo …… Ditahun 1908 dia masuk Universitas Kairo dan di tahun 1914 menjadi orang pertama yang meraih gelar doktor …… Taha menjadi professor Kebudayaan Arab di Universitas Kairo, karirnya dipenuhi dengan gejolak karena pandangan-pandangan kritisnya yang sering membuat marah kaum Islam ortodoks. ….Tahun 1926 dia menerbitkan buku On Pre-Islamic Poetry, dalam buku ini dia menyimpulkan beberapa syair-syair yang dinyatakan pra Islam sebetulnya adalah pemalsuan oleh muslim kemudian karena beberapa alasan, salah satunya adalah untuk memberikan otoritas kepada Al-Qur’an. Karena buku ini, dia dinyatakan kafir. ….. Taha kemudian menjabat sebagai Menteri Pendidikan ditahun 1950 – 1952 …..

2) W Aliyudin Shareef, dalam buku In Response to Robert Morey’s Islamic Invasion, halaman 3 – 4 :
“Pada masa sebelum Islam, Ismail TIDAK PERNAH DISEBUTKAN sebagai Bapa Bangsa Arab”

VI. ASAL USUL BANGSA ARAB
Menurut sumber Islam, orang Arab berasal dari Qathan (Yoktan).
Sumber :
Sejarah Islam
Ahmad Al-Usairy
Akbar Media Eka Sarana, 2003, halaman 62

2. Arab Baqiyah
MEreka adalah orang-orang Arab yang hingga saat in masih ada. Mereka adalah bani Qathan dan Bani Adnan. BANU QATHAN ADALAH ORANG ARAB ARIBAH (ORANG ARAB ASLI) dan tempat mereka adalah di selatan jazirah Arab. …….. Sedangkan bani Adnan, mereka adalah orang-orang Arab Musta’ribah, yakni orang-orang Arab yang mengambil bahasa Arab sebagai bahasa mereka. Mereka adalah ORANG-ORANG ARAB BAGIAN UTARA……

Dan juga keturunan dari Iram anak Sem
Sumber :
Sirat Ibnu Ishaq
Kitab Sejarah Nabi Tertua, buku 1,
Muhammadiyah University Press, 2002, halaman 4

Ad ibn Aus ibn IRAM IBN SAM ibn Nuh dan Thamud dan Jadis dua anak dari Abir ibn IRAM IBN SAM ibn Nuh, dan Tasm dan Imlaq dan Umayan anak-anak Lawidh ibn Sam ibn Nuh adalah semuanya Arab. Nabit ibn Isma’il memperanakkan Yashjub dan garis keturunannya adalah : Ta’rub-Tayrah-Bahur-Muqawwan-Udad-’Adnan.

Kutipan dari buku Sejarah Islam diatas memperkuat argument bahwa keturunan Ismail memang hidup disekitar perbatasan Sinai,
baca : Paran dan Baka Bukanlah Mekah
http://indonesian.knowislam.info/forum/ … .php?t=634
http://diskusi.forumsplace.com/message2 … aaea32f94e

Menyadari kelemahan diatas, maka muslim akan mengarang satu scenario lagi sebagai berikut.
Sumber :
Sejarah Islam
Ahmad Al-Usairy
Akbar Media Eka Sarana, 2003, halaman 62

…. Mereka adalah orang-orang Arab bagian utara. SEDANGKAN TEMPAT TINGGAL ASLI MEREKA ADALAH MEKAH

Jadi ada satu skenario untuk mencocokkan sejarah dengan klaim agama yaitu : keturunan Ismail awalnya mendiami Mekah kemudian pindah ke utara menuju sekitar wilayah Sinai.
Satu skenario yang tidak ada pembuktian arkeologinya. Kalau memang keturunan Ismail pindah ke Utara meninggalkan Mekah, terus suku Quraish yang tinggal di Mekah keturunan siapa?

Sementara menurut Alkitab kita bisa melihat hal-hal sebagai berikut.
1. Nuh memiliki 3 anak, yaitu Sem, Ham dan Yafet
Kejadian 10:1. Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh

2. Sem memiliki 5 anak
Kejadian 10:22 Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud dan Aram.

3. Anak Sem dari Aram (Iram) menjadi orang Arab sesuai pendapat dari Ibn Ishaq diatas.

4. Qathan atau Yoktan yang menjadi bapa bangsa Arab asli berasal dari anak Sem yang bernama Arpakhsad
Kejadian 10
Ayat 24 ARPAKHSAD memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber.
Ayat 25 Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah PELEG, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah YOKTAN.

5. Sementara Abraham sendiri berasal dari keturunan Nuh – Sem – Arpakhsad – Peleg(kakak dari Yoktan atau Qathan) – Rehu – Serug – Nahor – Terah – Abram (Abraham)

Jika memang Muhammad SAW dan Quraish mengaku dari keturunan Ismail, hal ini tetap meninggalkan kesulitan karena keturunan Ismail bukanlah bangsa Arab asli dan mereka diklaim sudah meninggalkan Mekah menuju Utara.
Itulah sebabnya, pengaitan Quraish dengan Mudhar ternyata juga baru terjadi belakangan setelah Islam mulai berkembang. PENGAITAN YANG DIPERLUKAN UNTUK MENDAPATKAN KLAIM KENABIAN DARI JALUR ABRAHAM.

VI. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sbb :
1. Muhammad SAW tidak mengetahui nama ibu Ismail, hal yang mustahil terjadi jika Quraish memang adalah keturunan Ismail

2. Orang Arab tidak mengetahui nama ibu Ismail, hal yang mustahil terjadi jika Quraish memang adalah keturunan Ismail

3. Orang Arab bahkan termasuk Quraish tidak mengetahui bahwa mereka keturunan Mudhar, hal yang mustahil terjadi jika Quraish memang adalah keturunan Ismail

4. Orang Arab tidak mengetahui garis keturunan diatas Adnan

5. Garis keturunan diatas Adnan yang mengkaitkan dengan Abraham adalah KEBOHONGAN

6. Kebingungan bahkan berlanjut hingga anak Ismail yang mana : Nabit atau Kedar, maklum karena klaim dibuat belakangan.

7. Orang Arab berasal dari keturunan Iram dan Qathan, bukan dari Ismail. Kaum Ismail adalah IMIGRAN kedalam bangsa Arab

Dengan demikian, cukup beralasan kalau dikatakan bahwa :
MUHAMMAD SAW BUKANLAH KETURUNAN KEDAR/NABIT – ISMAIL – IBRAHIM.

Sekian

Topik serupa dapat diakses di :

Kebohongan Sejarah Mekah, Kabah dan Zamzam
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=2961
http://diskusi.forumsplace.com/message2 … aaea32f94e

Paran dan Baka Bukanlah Mekah
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … .php?t=634
http://diskusi.forumsplace.com/message2 … aaea32f94e

Read More


Put your signature here.

Nubuatan Palsu Muhammad Dalam Qur’an dan Hadis

[url=http://answering-islam.org/indonesian/muhammad/nubuatan-palsu-muhammad.html]Link terkait[/url]

Nubuatan Palsu Muhammad Dalam Qur’an dan Hadis

Sam Shamoun

Alkitab memberikan kita sarana untuk dapat membedakan mana nabi yang benar dan mana nabi yang palsu:

“Tetapi nabi yang lancang berkata-kata di dalam nama-Ku, yang tidak aku perintahkan untuk mengatakannya dan yang berkata dalam nama ilah yang lain, maka nabi itu harus mati. Dan apabila kamu berkata di dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak YAHWEH katakan? Yaitu, Apabila seorang nabi berkata demi nama YAHWEH dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak menjadi kenyataan, itulah perkataan yang tidak YAHWEH katakan – nabi itu telah berbicara dengan lancang, maka janganlah takut kepadanya” Ulangan 18:20-22.

Berdasarkan apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat-ayat sebelumnya, kita akan menguji beberapa prediksi yang dibuat Muhammad dalam Qur’an dan tradisi-tradisi Islam untuk melihat apakah ia lulus dari pengujian Tuhan.

Berkenaan dengan Penaklukkan Roma Terhadap Persia

Sura 30:2-4: “Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).”

Sebagaimana dinyatakan dalam nubuatan tersebut, Kerajaan Byzantium memang mengalami kemenangan terhadap bangsa Persia yang pada awalnya telah mengalahkan mereka. Namun ada beberapa permasalahan mendasar sehubungan dengan nubuatan ini:

  • Menurut Yusuf Ali, bahasa Arab untuk “dalam beberapa tahun lagi”, yaitu Bidh’un, mengandung pengertian suatu periode antara 3 sampai 9 tahun (bukan sepuluh atau belasan keatas); namun menurut catatan sejarah kemenangan itu tidak mereka alami hingga hampir 14 tahun kemudian. Orang Persia mengalahkan Byzantium dan menawan Yerusalem pada sekitar tahun 614 atau 615 M. Serangan balasan Byzantium tidak dimulai hingga 622 M dan kemenangan itu tidak dicapai sepenuhnya hingga 628 M, sehingga seluruhnya menjadi suatu periode antara 13 hingga 14 tahun, bukan hanya “beberapa tahun” seperti yang dikemukakan Qur’an.
  • Sejarawan dan komentator Muslim yang terkemuka, al-Tabari, berpendapat kemenangan Roma terjadi pada 628 M (6 Hijriah), tepat setelah penandatanganan perjanjian Hudaiybiya:

Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq – Ibn Shihab al-Zuhri -’Ubaydallah b. ‘Abdullah b. ‘Utbah b. Mas’ud – ‘Abdullah b. ‘Abbas – Abu Sufyan b. Harb, yang mengatakan: “Saudara-saudara, kami hanyalah pedagang. Perang antara kami dengan Rasul Allah telah menghalangi perjalanan kami, sehingga kesehatan kami merosot. Setelah perjanjian damai antara kami dengan Rasul Allah, kami takut kami tidak akan mendapatkan keamanan. Saya pergi ke Syria dengan sekelompok pedagang Quraysh. Tujuan utama kami adalah Gaza, dan kami tiba pada saat Heraclius menang atas orang Persia yang ada di negerinya – ia mengusir mereka dan mengambil kembali Salib Besarnya dari mereka, yang telah mereka rampas. Setelah menyelesaikan semuanya ini dan setelah menerima berita bahwa salibnya telah diselamatkan dari mereka (saat itu ia tinggal di Hims), ia pergi kesana berjalan kaki sambil bersyukur kepada Tuhan yang telah mengembalikan salib itu kepadanya, dan dapat berdoa di Yerusalem. Karpet-karpet digelarkan baginya, dan dedaunan wangi ditebarkan di atasnya. Ketika ia tiba di Yerusalem dan melaksanakan ibadah – ia disertai para komamndan militernya dan kaum bangsawan Roma – ia bangun dengan bersusah hati di suatu pagi sambil memandangi langit…” (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, diterjemahkan oleh Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany 1997], Volume VIII, h. 100-101; penekanan dengan huruf tebal oleh redaksi)

Catatan kaki penerjemah berbunyi:

436. “Pada 627 Heraclius menginvasi kekaisaran Persia, dan pada bulan Desember tahun itu memperoleh kemenangan yang besar dekat Niniweh kuno, tetapi harus mundur tidak lama setelah itu. Namun demikian, pada Februari 628, Kaisar Persia dibunuh, dan putranya yang menggantikannya menginginkan damai. Tetapi sekitar 628 Heraclius menganggap dirinya sendiri telah menang, namun negosiasi mengenai evakuasi kekaisaran Byzantium oleh bangsa Persia tidak selesai hingga Juni 629. Pada September 629 Heraclius memasuki Konstantinopel sebagai pemenang, dan pada Maret 630 mengembalikan Jalan Suci ke Yerusalem” (Watt, Muhammad at Medina, 113-114). Lihat juga Ostrgorsky, History of the Byzantine State, 103-4. (Ibid., penekanan oleh penulis).

Kumpulan Hadis al-Bukhari memberikan keterangan lebih lanjut bahwa kunjungan Abu Sufyan dengan Heraclius terjadi setelah penandatanganan perjanjian Hudaiybiya:

Dikisahkan oleh Abdullah bin ‘Abbas:

Bahwa Abu Sufyan bin Harb memberitahukannya bahwa Heraclius memanggilnya dan para anggota karavan dari Quraysh yang telah berangkat ke Sham sebagai pedagang, selama kesepakatan damai yang dibuat Rasul Allah dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. (Sahih al-Bukhari, Volume 4, Buku 53, Nomor 399)

Watt mengemukakan kemenangan utuh Roma pada 630 M, limabelas hingga enambelas tahun setelah nubuatan Muhammad!

  • Teks asli Qur’an tidak mempunyai huruf hidup. Jadi, kata Arab Sayaghlibuna, “mereka akan mengalahkan,” dapat dengan mudah tertukar artinya, dengan mengubah dua huruf hidup, menjadi Sayughlabuna, “mereka (yaitu bangsa Roma) akan dikalahkan.” Oleh karena huruf hidup tidak ditambahkan beberapa waktu setelah peristiwa ini, sangatlah mungkin si penulis dengan sengaja bermain-main dengan teks tersebut, memaksakan teks tersebut seolah menjadi sebuah pernyataan profetis (nubuatan ilahiah).

Kenyataan ini diperkuat oleh komentator Muslim al-Baidawi. C.G. Pfander menyebutkan komentar Baidawi dalam berbagai bacaan di seputar teks ini:

“Tetapi Al Baizawi mengaburkan keseluruhan argumen orang Muslim dengan memberi informasi pada kita mengenai beberapa varian pembacaan ayat-ayat dari Suratu’r Rum. Ia mengatakan pada kita bahwa ada yang membaca غَلَبَتِ dan bukannya seperti biasanya, غُلِبَتِ, danسَيُغْلَبُونَ alih-alih سَيَغْلُبُونَ. Maknanya kemudian akan menjadi: ‘Orang-orang Byzantium telah menaklukkan bagian terdekat negeri itu, dan mereka akan dikalahkan dalam beberapa tahun’. Jika ini adalah pembacaan yang tepat, maka kisah pertemuan Abu Bakr dengan Ubai pasti hanya sebuah dongeng, oleh karena Ubai sudah wafat jauh sebelum orang Muslim mulai mengalahkan Byzantium, dan bahkan jauh sebelum kemenangan-kemenangan Heraclius atas Persia. Ini menunjukkan betapa tradisi-tradisi semacam itu tidak dapat dipercayai. Penjelasan yang diberikan Al Baizawi adalah, orang-orang Byzantium menjadi para penakluk ‘negeri Syria yang terairi dengan baik’ (على ريف آلْشام), dan teks tersebut menubuatkan orang Muslim segera akan mengalahkan mereka. Jika artinya seperti ini, maka tradisi yang mencatat ‘turunnya’ ayat-ayat itu sekitar 6 tahun sebelum Hijrah pastilah salah, dan teks itu paling awal bertanggal 6 Hijriah. Sudah jelas bahwa, oleh karena huruf hidup tidak digunakan ketika Qur’an pertama kalinya ditulis dalam huruf Kufik, tidak seorangpun dapat memastikan yang manakah dari dua pembacaan tersebut yang benar.

Kita telah melihat ada banyak ketidakpatian mengenai: (1) Tanggal ayat-ayat tersebut ‘diturunkan’, (2) Pembacaan yang benar, dan (3) Maknanya, sehingga sangat mustahil untuk menunjukkan bahwa teks tersebut memuat nubuatan yang telah digenapi. Oleh karena itu, teks tersebut tidak dapat dijadikan bukti nubuat kenabian Muhammad”. (C. G. Pfander, Mizan-ul-Haqq – The Balance of Truth, revised and enlarged by W. St. Clair Tisdall [Light of Life P.O. Box 18, A-9503, Villach Austria], h. 279-280; penekanan oleh penulis)

Dengan keadaan ini, seorang Muslim tidak dapat dengan yakin mengatakan pada kita pembacaan teks mana yang benar dan dengan demikian tidak dapat meyakinkan kita bahwa ayat ini aslinya menubuatkan kemenangan Byzantium atas Persia. Bahkan ini memberikan kita nubuat yang (ternyata) palsu dalam Qur’an.

  • Kita menjadi heran melihat nubuat dari Tuhan tidak dapat memerinci waktu kemenangan yang dialami, mengingat Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, yang telah menetapkan akhir dari sebuah permulaan. Ketika Tuhan memerinci suatu kerangka waktu sebagai sebuah bagian yang penting dari nubuatan maka kita mengharapkan ketepatan waktu, bukan menerka-nerka tanpa juntrung. Apabila Tuhan menebak orang Byzantium pada suatu ketika akan menang, yaitu dalam “beberapa tahun” (yang ternyata nyasar kebelasan tahun) dan bukannya menetapkan tahun yang pasti, itu tidaklah konsisten dengan keyakinan akan Dia yang Maha Kuasa dan Maha Hadir. Dengan demikian, tidak mungkin Tuhan yang sejati membuat nubuatan semacam itu.

Menariknya, frase “beberapa tahun” malahan semakin mendiskreditkan nubuatan ini. Abu Bakr meyakini istilah “beberapa tahun” berarti orang-orang Byzantium akan memperoleh kemenangan dalam waktu 3 tahun:

“Teks ini berkenaan dengan kekalahan orang-orang Byzantium di Syria oleh orang Persia di bawah Khusran Parvis (615 M, enam tahun sebelum Hijrah). Namun demikian, kekalahan orang Persia segera akan terjadi ‘dalam satu atau dua tahun’. Berdasarkan prediksi ini, Abu Bakr membuat taruhan dengan Ubai-ibn-Khalaf bahwa prediksi ini akan digenapi dalam tiga tahun, tetapi ia dikoreksi oleh Muhammad yang menyatakan bahwa ‘satu dua tahun’ artinya antara 3 dan 9 tahun (Al-Baizawi)”. Orang Muslim mengatakan pada kita bahwa orang Byzantium mengalahkan musuh-musuh mereka dalam tempo 7 tahun. Namun demikian, kenyataannya orang Byzantium mengalahkan Persia pada 628 M (komentari Al-Baizawi). Ini 12 tahun tahun setelah nubuat Muhammad. Akibatnya teks ini tidak memenuhi kualifikasi sebuah nubuat, terutama lagi peristiwanya sangat mudah ditebak”. (Gerhard Nehls, Christians Ask Muslims [Life Challenge, SIM International; Africa, 1992], h. 70-71)

Saat memasuki Mekkah Sura 48:27 memberikan janji berikut ini:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

Ayat ini diwahyukan sehubungan dengan kegagalan usaha orang Muslim masuk ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf (ritual dalam ibadah Haji yaitu berlari di antara 2 gunung yang dianggap sebagai peringatan peristiwa Hagar menimba air untuk Ismail).

Dalam perjalanan mereka ke Ka’bah, mereka bertemu dengan utusan Mekkah yang dipimpin Suhail b. Amr yang melarang orang Muslim menyelesaikan perjalanan mereka. Pertemuan ini kemudian berujung pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya.

Beberapa permasalahan timbul dari keseluruhan insiden ini. Pertama, pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya, Muhammad sepakat dengan kaum pagan Mekkah untuk mengembalikan pada mereka orang-orang yang telah memeluk Islam. Pada saat yang sama Muhammad juga tunduk kepada tuntutan mereka untuk menggantikan tanda tangannya ‘Muhammad, Rasul Allah’ dengan ‘Muhammad, putra Abdullah’ sehingga ia diijinkan untuk berziarah ke Mekkah pada tahun berikutnya. Berikut ini diambil dari Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891:

“Ketika Suhail bin Amr datang, Nabi berkata, ‘Kini masalahnya sudah menjadi mudah’. Suhail berkata kepada Nabi, ‘Buatlah perjanjian damai dengan kami’. Jadi, Nabi memanggil juru tulis dan berkata kepadanya, ‘Tulislah: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Suhail berkata, ‘Mengenai kata Maha Pemurah, demi Allah, aku tidak tahu apa artinya. Jadi tulislah: Demi nama-Mu ya Allah, seperti yang biasa kau tulis sebelumnya’. Orang Muslim berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan menulisnya kecuali: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Nabi berkata, ‘Tulislah: Demi nama-Mu ya Allah’. Kemudian ia mendikte, ‘Inilah perjanjian damai yang telah dibuat Muhammad, Rasul Allah’. Suhail berkata, “Demi Allah, jika kami tahu engkau adalah Rasul Allah kami tidak akan mencegahmu mengunjungi Kabah, dan tidak akan memerangimu. Jadi, tulislah: ‘Muhammad bin Abdullah’. Nabi berkata, ‘Demi Allah! Aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian tidak mempercayaiku. Tulislah: ’Muhammad bin Abdullah.’ (Az-Zuhri berkata, ‘Nabi menerima semuanya, karena sebelumnya ia telah mengatakan bahwa ia akan menerima semua tuntutan mereka jika itu sejalan dengan ketetapan Allah’, (yaitu dengan mengijinkannya dan para sahabatnya untuk melaksanakan Umroh). Nabi berkata kepada Suhail, ‘Dengan syarat engkau mengijinkan kami mengunjungi Rumah (yaitu Kabah) supaya kami dapat melakukan Tawaf di sekelilingnya’. Suhail berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan (mengijinkanmu tahun ini) agar tidak memberi kesempatan kepada orang-orang Arab untuk mengatakan bahwa kami telah menyerah kepada kalian, tetapi kami akan mengijinkan kalian tahun depan’. MAKA, NABI MENYURUH UNTUK MENULISKAN HAL ITU.

“Kemudian Suhail berkata, ‘Kami juga mendesak agar kalian mengembalikan pada kami siapapun yang datang pada kalian dari kami, sekalipun ia telah memeluk agama kalian’. Orang Muslim berkata, ‘Dimuliakanlah Allah! Bagaimanakah orang seperti itu dikembalikan kepada pagan setelah ia menjadi Muslim?’” (penekanan dengan cetak tebal oleh penulis).

Salah seorang yang dari mereka yang dipaksa kembali ke Mekkah dengan kaum pagan adalah Abu Jandal. Dalam Sirat Rasulullah (The Life of Muhammad, terj. Alfred Guillaume, Oxford University Press), h. 505, karangan Ibn Ishaq, dikatakan:

‘Ketika Suhayl (perwakilan orang Mekkah dan tokoh dalam perjanjian tersebut) melihat Abu Jandal, ia berdiri dan menampar wajahnya dan mencengkeram kerah bajunya, dan berkata, ‘Muhammad, kesepakatan diantara kami telah disetujui sebelum orang ini datang kepadamu’. Ia menjawab, ‘Engkau benar’. Ia mulai menariknya dengan kasar dengan mencengkeram kerah bajunya dan menyeretnya, mengembalikannya kepada Quraisy, sementara Abu Jandal menjerit sambil tercekik, ‘Apakah aku akan dikembalikan kepada para penganut politeis supaya mereka dapat membuat aku berpaling dari agamaku wahai orang Muslim?’ Dan itu menambah kemarahan orang banyak’” (penekanan oleh penulis).

Dan:

‘Sementara mereka dalam keadaan ini Abu–Jandal bin Suhail bin ‘Amr datang dari lembah Mekkah gemetaran dan tersungkur di tengah orang Muslim. Suhail berkata, ‘Wahai Muhammad! Inilah persyaratan pertama dalam perjanjian damai kami dengan engkau, yaitu engkau akan mengembalikan Abu Jandal kepadaku’. Nabi berkata, ‘Perjanjian damai itu masih belum ditulis’. Suhail berkata, ‘Aku tidak akan pernah mengijinkanmu tetap menahannya’. Nabi berkata, ‘Ya, lakukanlah’. Ia berkata, ‘Aku tidak akan melakukannya: Mikraz berkata, ‘Kami mengijinkanmu (menahannya)’. Abu Jandal berkata, ‘Wahai orang Muslim! Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang pagan walaupun aku telah menjadi Muslim? Tidakkah kalian melihat betapa aku telah menderita?’

Sebelumnya Abu Jandal telah disiksa dengan sangat berat demi tujuan Allah (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891)

Kita harus bertanya apakah Musa pernah mengembalikan seorang petobat (terutama seorang Mesir) kembali kepada Firaun yang menyembah berhala untuk menyenangkannya dan mendapatkan apa yang diinginkannya? Apakah Yesus pernah mengkompromikan kebenaran Tuhan dengan bersepakat dengan orang Farisi dan mengembalikan para pencari kebenaran yang bukan Yahudi agar Ia dapat diterima oleh dewan pemerintahan Yahudi? Apakah Musa atau Yesus akan bertindak sejauh itu dengan menyangkali kerasulan mereka untuk memuaskan tuntutan kaum pagan? Akankah orang-orang ini menolak memuliakan Tuhan yang sejati dalam cara yang diperintahkan Sang Pencipta dan tunduk kepada permintaan orang-orang yang tidak percaya untuk menyebut nama Tuhan sesuai kehendak mereka, seperti yang dilakukan Muhammad?

Seperti dugaan kita, orang Muslim menjadi marah, terutama Umar b. al-Khattab yang menghardik Muhammad:

‘Umar bin al-Khattab berkata, ‘Aku menemui Nabi dan berkata, “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” Nabi berkata, “Ya, benar”. Aku berkata, “Bukankah jalan kita benar dan jalan musuh kita tidak benar?” Ia berkata, “Ya”. Aku berkata, “Jadi mengapa kita harus rendah hati dalam agama kita?” Ia berkata, “Aku adalah utusan Allah dan aku tidak melanggar perintah-Nya, dan Ia akan membuat aku berkemenangan”’ (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Book 50, Number 891)

Kemarahan orang-orang Muslim dapat dibenarkan ketika kita menyadari bahwa Muhammad menjanjikan para pengikutnya akan mempunyai akses ke Mekkah pada tahun itu juga. Ketika hal itu tidak terjadi, Muhammad berusaha membenarkan pernyataannya dengan mengatakan, “Ya, apakah pernah aku mengatakan padamu bahwa kita akan pergi ke Kabah tahun ini?” (Ibid)

Dengan kata lain, oleh karena ia tidak memerinci kapan mereka akan memasuki Mekkah, ini tidak dapat dipandang sebagai nubuat palsu! Ini semata-mata hanyalah sebuah kesalahan oleh karena rombongan orang Muslim sedang dalam perjalanan menuju ke Mekkah ketika perwakilan kaum pagan Arab menghentikan mereka. Pada kenyataannya, salah satu tuntutan Muhammad dalam menandatangani perjanjian itu adalah justru agar kaum pagan mengijinkan orang Muslim menuntaskan perjalanan mereka ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf. Suhail menolak permintaan Muhammad dan malah membuat kesepakatan sehingga orang Muslim dapat masuk ke Mekkah pada tahun berikutnya. Ibn Kathir kemudian mendukung hal ini dalam komentarinya terhadap Sura 48:27 berikut:

“Dalam sebuah mimpi, Rasul Allah melihat dirinya sendiri memasuki Mekkah dan melaksanakan Tawaf di sekitar Rumah. Ia menceritakan pada para sahabatnya mimpi ini ketika ia masih di Al-Madinah. Ketika mereka pergi ke Mekkah pada tahun Al-Hudaybyyah, tak seorangpun di antara mereka meragukan penglihatan Nabi AKAN MENJADI KENYATAAN TAHUN ITU JUGA. Ketika perjanjian damai itu telah disepakati dan mereka harus kembali ke Al-Madinah pada tahun itu, dan diijinkan kembali ke Mekkah pada tahun berikutnya, BEBERAPA ORANG SAHABAT NABI TIDAK MENYUKAI APA YANG TELAH TERJADI. ‘Umar bin Al-Khattab bertanya mengenai HAL INI, dan berkata, ‘Bukankah engkau telah mengatakan pada kami bahwa kita akan pergi ke Rumah dan melaksanakan Tawaf di sekitarnya?’” (Tafsir Ibn Kathir, Abridged, Volume 9, Surat Al-Jathiyah to the end of Surat Al-Munafiqun, Dirangkum oleh sekelompok sarjana di bawah pengawasan Shaykh Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri [Darussalam Publishers & Distributors, Riyadh, Houston, New York, London, Lahore; edisi pertama, September 2000], h. 171; penekanan cetak tebal oleh penulis).

Al-Tabari menulis:

“Sementara Rasul Allah menulis dokumen itu – ia dan Suhayl b. ‘Amr – tiba-tiba Abu Jandal, anak Suhayl b. ‘Amr, datang dengan langkah-langkah pendek tergopoh-gopoh. Ia telah berhasil meloloskan diri menemui Rasul Allah. Para sahabat Rasul Allah TIDAK RAGU mereka akan menaklukkan, karena ada visi yang dilihat Rasul Allah. Oleh karena itu, ketika mereka melihat apa yang ada di depan mata mereka – perdamaian, langkah mundur, dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan Rasul Allah – mereka sangat berduka akan hal itu sehingga mereka hampir putus asa. Ketika Suhayl melihat Abu Jandal, ia mendatanginya, menampar wajahnya, dan mencengkeramnya pada bagian atas jubahnya. “Muhammad”, katanya, “perjanjian itu ditandatangani antara aku dan engkau sebelum orang ini datang kepadamu”. “Engkau benar”, jawabnya. Suhayl mulai menarik dan menyeret [anaknya Abu Jandal] pada bagian atas jubahnya untuk mengembalikannya pada kaum Quraysh. Abu Jandal mulai berteriak sekuat tenaganya, “Wahai orang-orang Muslim, akankah aku dikembalikan kepada para politeis agar mereka menyiksaku oleh karena agamaku?” Ini membuat orang-orang merasa semakin marah. Rasul Allah berkata: “Abu Jandal, anggaplah sebagai pahala, karena Allah akan memberimu dan juga orang-orang yang tertindas bersamamu, kelepasan dan jalan keluar. Kami telah mengadakan perjanjian dan damai antara kami dengan orang-orang ini; kami telah berjanji pada mereka dan mereka pun telah berjanji pada kami, dan kami tidak akan berkhianat terhadap mereka”. (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, Volume VIII, h. 86-87; penekanan oleh penulis).

Ini membuktikan bahwa Muhammad sebenarnya percaya ia akan memasuki Mekkah, sebuah rencana yang tidak pernah terwujud. Untuk menyelamatkan mukanya, ia harus menyangkal bahwa ia mengatakan orang Muslim akan masuk ke Mekkah pada tahun itu juga!

Kedua, keadaan diperburuk ketika Muhammad membatalkan perjanjian dengan orang Mekkah dengan menolak mengembalikan petobat-petobat Muslim dari kaum Quraisy. Penolakan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hal-hal yang tercantum dalam dokumen yang telah disetujui Muhammad dan yang ditandatanganinya:

“Umm Khulthum Uqba b. Mu’ayt berpaling kepada Rasul dalam periode ini. Kedua saudaranya ‘Umara dan Walid anak-anak ‘Uqba, datang dan meminta Rasul untuk mengembalikannya kepada mereka sesuai dengan kesepakatan antara ia dengan kaum Quraysh di Hudaybiyya, tetapi ia menolak. Allah melarangnya” (Sirat Rasulullah, p. 509; penekanan oleh penulis).

Dengan demikian Muhammad membenarkan pembatalan sumpahnya dengan mengklaim bahwa itu adalah kehendak Allah. Malangnya bagi orang Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhan yang disembah Muhammad bukanlah Tuhan dalam Alkitab yang suci, oleh karena mengingkari sumpah sangat tidak diperbolehkan (bdk. Bilangan 30:1-2).

Berdasarkan semua ini kita harus mempertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut. Pernahkah Musa tunduk pada permintaan Firaun agar dapat membawa orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir? Pernahkah Yesus menyangkali status-Nya sebagai Mesias agar mendapatkan akses ke Bait Suci? Adakah nabi Tuhan yang sejati berkompromi dengan orang-orang tak beriman agar dapat menggenapi kehendak Tuhan? Apakah para nabi ini terus membatalkan sumpah dan janji mereka agar memperoleh keuntungan yang tidak adil terhadap orang-orang yang tak beriman?

Satu masalah terakhir berkenaan dengan semua ini adalah, orang Muslim mengklaim bahwa setiap kata dalam Qur’an diwahyukan secara langsung oleh Allah kepada Muhammad melalui Jibril. Berdasarkan asumsi ini selanjutnya orang Muslim berpendapat tidak ada orang yang dapat menemukan perkataan Muhammad tumpang tindih dengan perkataan Allah. Jika demikian, bagaimana orang Muslim menjelaskan kenyataan bahwa Sura 48:27 memuat pernyataan insya Allah, yaitu “jika Allah menghendaki?” Apakah Allah tidak tahu apa kehendak-Nya? Jika demikian, apakah Ia tidak yakin apakah tujuan-Nya akan tercapai atau tidak sehingga Ia harus melengkapi pernyataan-Nya sendiri dengan frase insya Allah?

Kita dapat mengerti betapa lemahnya manusia yang tidak mengetahui tujuan Tuhan itu boleh melengkapi pernyataan mereka dengan ekspresi “jika Tuhan berkehendak” (bdk. Yakobus 4:13-15). Tetapi jikalau Tuhan sendiri yang membuat kualifikasi semacam itu, ini sangat tidak layak dan tidak masuk akal.

Lebih jauh lagi, jika Allah pada kenyataannya adalah pihak yang sedang berbicara, lalu siapa yang dimaksudkan-Nya ketika Ia mengatakan “jika Allah menghendaki”? Apakah Ia sedang berbicara mengenai diri-Nya sendiri atau orang lain? Jika Ia sedang berbicara mengenai orang lain, lalu ada berapa Allah? Atau barangkali Allah adalah Sosok yang berkepribadian banyak mengingat ada lebih dari satu Pribadi yang membentuk keesaan Allah?

Ini membawa kita pada kesimpulan bahwa nubuat Muhammad bukan hanya tidak terwujud, tetapi motivasi-motivasinya dalam menyampaikan wahyu adalah kekuasaan, uang dan ketenaran. Ayat ini juga sekaligus membuktikan bahwa Allah bukanlah pembuat Qur’an.

Mengenai munculnya Antikristus dan akhir dunia

Muhammad terang-terangan mengklaim bahwa Antikristus (yang disebut Dajjal), akan muncul tidak lama setelah orang Muslim menaklukkan Konstantinopel. Tradisi-tradisi berikut ini diambil dari Sunan Abu Dawud:

Buku 37, Nomor 4281:

Dikisahkan oleh Mu’adh ibn Jabal:

Nabi (SAW) berkata: Kejayaan Yerusalem akan terjadi ketika Yathrib tinggal reruntuhan, kehancuran Yathrib akan terjadi ketika perang besar datang, hasil akhir perang besar adalah penaklukkan Konstantinopel dan penaklukkan Konstantinopel ketika Dajjal (Antikristus) datang. Ia (Nabi) memukul paha atau pundaknya dengan tangannya dan berkata: hal ini benar sebagaimana engkau ada disini atau saat engkau sedang duduk (artinya Mu’adh ibn Jabal)???

Buku 37, Nomor 4282:

Dikisahkan oleh Mu’adh ibn Jabal:

Nabi (SAW) berkata: Perang yang terbesar, penaklukkan Konstantinopel dan kedatangan Dajjal (Antikristus) akan terjadi dalam waktu tujuh bulan.

Buku 37, Nomor 4283:

Dikisahkan oleh Abdullah ibn Busr:

Nabi (SAW) berkata: Waktu antara perang besar dan penaklukan kota (Konstantinopel) adalah tujuh tahun, dan Dajjal (Antikristus) akan datang pada tahun ketujuh.

Berdasarkan hal itu, orang Muslim menaklukkan Yerusalem pada 636 M. Konstantinopel diambil alih oleh orang Muslim pada Mei 1453 M. tetapi nubuat mengenai Yathrib (Medinah) porak poranda dan kedatangan Antikristus yang akan terjadi pada bulan ketujuh setelah penaklukkan Konstantinopel tidak terwujud. Berdasarkan tradisi-tradisi terdahulu, Antikristus diharuskan muncul pada November 1453.

Boleh jadi ada yang ingin berargumen bahwa peristiwa-peristiwa ini mengacu kepada penaklukan-penaklukan di masa depan. Sebagai contoh bisa jadi ada yang mengatakan bahwa Konstantinopel digunakan sebagai sebuah sinonim bagi kekaisaran Kristen Roma. Oleh karena itu, ini menubuatkan orang Muslim akan mengambil alih Roma sebelum Antikristus muncul.

Masalahnya adalah jika Muhammad berbicara mengenai Roma, sederhananya ia hanya menggunakan kata Roma (bahasa Arab: Ar-Rum). Kenyataannya, Roma/Ar-Rum adalah nama untuk Sura ke 30 dalam Qur’an. Jika ia menyebut Konstantinopel atau bahkan Byzantium ia justru akan membuat kesalahan anakronistik (penempatan peristiwa/ orang/benda pada masa yang salah). Lihat pembahasan di atas.

Dengan demikian, berdasarkan faktor-faktor yang ada, kita terpaksa menyimpulkan bahwa nubuat-nubuat Muhammad gagal terwujud, sehingga ini mendiskualifikasinya dari klaim kenabiannya.

Muhammad juga percaya bahwa dunia ini berusia muda dan akan berakhir tidak lama setelah kedatangannya. Kutipan-kutipan berikut ini diambil dari The History of al-Tabari, Volume 1 – General Introduction and from the Creation to the Flood (terj. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), penekanan dengan huruf cetak tebal oleh penulis:

“Menurut Ibn Humayd-Yahya b. Wadih – Yahya Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn Abbas: Dunia ini adalah salah satu dari sekian banyak minggu dunia yang lain – tujuh ribu tahun. Enam ribu dua ratus tahun telah berlalu. (Dunia ini) pasti akan mengalami ratusan tahun, yang dalam masa itu tidak ada orang yang beriman kepada keesaan Allah. Yang lainnya mengatakan bahwa total lamanya waktu adalah enam ribu tahun”. (Tabari, h. 172-173; penekanan oleh penulis).

“Menurut Abu Hisham- Mu’awiyah b. Hisham- Sufyan- al-A’mash- Abu Salih- Ka’b: Dunia ini berusia enam ribu tahun”. (Ibid.)

“Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar- Isma’il b. ‘Abd al-Karim- ‘Abd al-Samad b. Ma’qil I- Wahb: Lima ribu enam ratus tahun usia dunia ini telah berlalu. Saya tidak tahu raja-raja dan nabi-nabi mana yang telah hidup dalam tiap periode (zaman) dalam tahun-tahun itu. Saya bertanya pada Wahb b. Munabbih: Berapa lama (durasi total) dunia ini? Ia menjawab: Enam ribu tahun”. (Tabari, h. 173-174; penekanan oleh penulis).

Menurut at-Tabari Muhammad percaya bahwa akhir dunia akan terjadi 500 tahun setelah kedatangannya:

“Menurut Hannad b. al-Sari and Abu Hisham al-Rifa’i- Abu Bakr b. ‘Ayyash- Abu Hasin- Abu Salih- Abu Hurayrah: Rasul Allah berkata: Ketika aku diutus (untuk menyampaikan pesan ilahi), aku dan Waktu bagaikan dua ini, sambil menunjuk jari tengah dan jari telunjuknya”. (Tabari, p. 176; penekanan oleh penulis, lihat juga h. 175-181).

Tradisi-tradisi serupa ditemukan dalam Sahih Muslim:

Buku 41, Nomor 7044:

Hadis ini telah dilaporkan oleh Sahl b. Sa’d bahwa ia mendengar Rasul Allah (SAW) berkata: aku dan Waktu Terakhir (sangat erat) seperti ini (dan ia, untuk menjelaskan hal itu) menunjuk (dengan menyatukan) jari telunjuk (yaitu jari) yang dekat dengan jempol dan jari tengah (bersama-sama).

Buku 41, Nomor 7046:

Shu’ba melaporkan: Aku mendengar Qatada dan Abu Tayyab bercerita bahwa keduanya mendengar Anas ketika bercerita bahwa Rasul Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini, dan Shu’ba mengacungkan jari telujuk dan jari tengahnya saling berdekatan ketika ia sedang menceritakannya.

Buku 41, Nomor 7049:

Anas melaporkan Utusan Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini dan (ketika ia melakukannya) menggabungkan jari telunjuk dengan jari tengah.

At-Tabari mengomentari makna Waktu yang dekat dengan Muhammad bagaikan jari tengah dan jari telunjuknya:

“Dengan demikian, (bukti mengijinkan adanya) konklusi sebagai berikut: Permulaan hari adalah terbitnya fajar, dan akhirnya adalah terbenamnya matahari. Selanjutnya, tradisi mengenai otoritas Nabi adalah benar. Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, ia berkata setelah sembahyang siang: apa yang tersisa dari dunia ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya bagaikan sisa hari ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya. Ia juga berkata: Ketika aku diutus, aku dan Waktu bagaikan jari tengah dan jari telunjuk ini terjalin bersama; aku mengumpamakannya seperti ini – yaitu jari tengah – melampaui yang satunya – yaitu jari telunjuk. Selanjutnya, lamanya (waktu) antara sembahyang siang – yaitu, ketika bayangan dari segala sesuatu dua kali lebih besar dari ukuran aslinya, berdasarkan asumsi yang terbaik (‘ala al-taharri) – (hingga matahari terbenam) adalah lamanya waktu satu setengah dari sepertujuh hari, diberi atau diambil sedikit. Demikian pula, ekses panjangnya jari tengah yang melebihi jari telunjuk adalah kira-kira atau serupa dengan hal itu. Ada juga tradisi yang benar mengenai otoritas Rasul Allah, seperti yang dikisahkan Ahmad b. ‘Abd al-Rahman b. Wahb kepadaku – yaitu paman kandungnya ‘Abdallah b. Wahb- Mu’awiyah b. Salih- ‘Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr- ayahnya Jubayr b. Nufayr – sahabat Nabi, Abu Tha’labah al-Khushani: Rasul Alah berkata: Sesungguhnya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) setengah hari – sehubungan dengan hari dalam seribu tahun.

“Semua fakta ini jika digabungkan akan memperjelas dua pernyataan yang telah saya sebutkan berkenaan dengan totalitas jangka waktu, satu dari Ibn Abbas, dan yang lainnya dari Ka’b, yang nampaknya lebih tepat sesuai dengan informasi dari Rasul Allah yaitu yang diteruskan Ibn ‘Abbas kepada kami dengan otoritasnya: Dunia ini adalah satu dari minggu-minggu dunia lain – tujuh ribu tahun”.

“Akibatnya, oleh karena demikian adanya dan laporan mengenai otoritas Rasul Allah adalah benar – yaitu, ia melaporkan apa yang tersisa dari waktu yang dimiliki dunia ini selama masa hidupnya adalah setengah hari, atau lima ratus tahun, oleh karena lima ratus tahun adalah setengah hari dari hari-hari itu, dimana satu hari adalah seribu tahun – konklusinya adalah, waktu yang dimiliki dunia ini telah berlalu hingga ke saat pernyataan Nabi berkaitan dengan apa yang telah kami teruskan dengan otoritas Abu Tha’labah al-Khushani dari Nabi, dan adalah 6500 tahun atau kira-kira 6500 tahun. Allah lebih tahu!” (Tabari, h. 182-183, penekanan dengan cetak tebal oleh penulis)

Oleh karena itu, berdasarkan tradisi-tradisi ini Muhammad meyakini bahwa tidak hanya dunia ini berusia kurang dari 7000 tahun tetapi dunia ini akan berakhir pada hari ketujuh, atau tujuh ribu tahun sejak dunia ini diciptakan!

Dengan demikian, dunia ini mestinya sudah berakhir kira-kira antara tahun 1070-1132 M, kurang lebih 500 tahun setelah kelahiran dan kematian Muhammad. Ini berdasarkan pada kenyataan bahwa menurut at-Tabari dan yang lainnya, kedatangan Muhammad terjadi kira-kira 6500 tahun sejak waktu penciptaan. Jelas ini lagi-lagi adalah nubuat palsu.

Namun tanggal ini bertentangan dengan tanggal yang diperkirakan Abu Dawood dalam Sunannya. Disana, kita melihat bahwa Antikristus akan muncul tujuh bulan setelah penaklukkan Konstantinopel, sebuah peristiwa yang terjadi pada 1453 M. jika demikian, bagaimana Muhammad dapat mengklaim bahwa dunia akan berakhir 500 tahun setelah kelahiran dan kematiannya? Yang memperburuk adalah tradisi Islam yang mengklaim bahwa Antikristus benar-benar akan muncul dalam masa hidup Muhammad. Kenyataannya berdasarkan tradisi-tradisi, Antikristus adalah seorang pria bernama Ibn Saiyad:

Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 23, Nomor 437:

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:

‘Umar pergi bersama Nabi (SAW) dengan sekelompok orang menemui Ibn Saiyad hingga mereka melihatnya sedang bermain dengan anak-anak laki-laki dekat perbukitan Bani Mughala. Pada waktu itu Ibn Saiyad sedang memasuki masa remajanya dan tidak memperhatikan (kami) hingga nabi memukulnya dengan tangannya dan berkata kepadanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Ibn Saiyad memandangnya dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Utusan bagi orang yang buta huruf”. Kemudian Ibn Saiyad bertanya kepada Nabi (SAW), “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Rasul (SAW) menolaknya dan berkata, “Aku percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya”. Kemudian ia berkata (kepada Ibn Saiyad), “Apa pendapatmu?” Ibn Saiyad menjawab, “Orang-orang benar dan para pembohong mengunjungiku”. Nabi berkata, “Engkau telah bingung dengan masalah ini”. Kemudian Nabi berkata kepadanya, “Aku memikirkan sesuatu tentang engkau, (dapatkah kau mengatakannya padaku apakah itu?)”. Ibn Saiyad berkata, “Itu adalah Al-Dukh (asap)”. (2) Nabi berkata, “Biarlah engkau ada dalam ketidaktahuan. Engkau tidak dapat melewati kekurangan-kekuranganmu”. Mendengar hal itu ‘Umar berkata, “Wahai Rasul Allah! Ijinkan aku memenggal kepalanya”. Tetapi nabi (SAW) berkata, “Jika ia adalah dia (yaitu Dajjal), maka engkau tidak dapat mengalahkannya, dan jika ia bukan, maka tidak ada gunanya membunuhnya”. (Ibn ‘Umar menambahkan): Kemudian Rasul Allah (SAW) sekali lagi pergi bersama Ubai bin Ka’b ke (kebun) pohon-pohon Kurma dimana Ibn Saiyad tinggal. Nabi (SAW) ingin mendengar sesuatu dari Ibn Saiyad sebelum Ibn Saiyad dapat melihatnya, dan nabi (SAW) melihatnya berbaring ditutupi sehelai kain dan mendengar ia menggerutu. Ibu Ibn Saiyad melihat Rasul Allah ketika ia sedang bersembunyi di balik daun-daun pohon Kurma. Ia berkata kepada Ibn Saiyad, “Wahai Saf! (inilah nama Ibn Saiyad) ada Muhammad disini”. Mendengarnya Ibn Saiyad bangun. Nabi berkata, “Suruh perempuan ini meninggalkannya (jangan ia mengganggunya), kemudian Ibn Saiyad akan menyatakan realitas kasusnya”.

Tradisi-tradisi terus mengidentifikasi Ibn Saiyad sebagai Antikristus:

Sahih al-Bukhari, Volume 9, Buku 92, Nomor 453:

Dikisahkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir:

Aku melihat Jabir bin ‘Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn Saiyad adalah Dajjal. Aku berkata kepada Jabir, “Bagaimana engkau bisa bersumpah demi Allah?” Jabir berkata, “Aku telah mendengar ‘Umar bersumpah demi Allah berkenaan dengan hal ini di hadapan Nabi dan Nabi menyetujuinya”.

Sunan Abu Dawood, Buku 37, Nomor 4317:

Dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah:

Muhammad ibn al-Munkadir mengatakan bahwa ia melihat Jabir ibn Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn as-Sa’id adalah Dajjal (Antikristus). Aku menunjukkan keterkejutanku dengan berkata: Engkau bersumpah demi Allah! Ia berkata: Aku mendengar Umar bersumpah mengenai itu di hadapan Rasul Allah (SAW), tetapi Rasul Allah (SAW) tidak berkeberatan mengenai hal itu.

Namun tradisi-tradisi ini bertentangan dengan tradisi-tradisi berikut dimana Antikristus digambarkan sebagai seorang bermata satu dan dirantai:

Sahih al-Bukhari, Volume 4, Buku 55, Nomor 553:

Dikisahkan oleh Ibn Umar:

Suatu ketika Rasul Allah berdiri di antara orang-orang, memuliakan dan memuji Allah karena itu layak bagi-Nya dan kemudian menyebut Dajjal berkata, “Aku memperingatkan kamu akan dia (yaitu Dajjal) dan tidak ada nabi yang memperingatkan bangsanya mengenai dia. Tidak diragukan lagi, Nuh memperingatkan bangsanya mengenai dia tetapi aku mengatakan padamu mengenai sesuatu yang tidak dikatakan nabi manapun kepada bangsa ini sebelum aku. Kamu harus tahu bahwa ia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu”.

Sunan Abu Dawood, Buku 37, Nomor 4306:

Berkisahlah Ubadah ibn as-Samit: Nabi (SAW) berkata: Aku telah mengatakan begitu banyak padamu mengenai Dajjal (Antikristus) sehingga aku takut kamu tidak mengerti. Antikristus itu pendek, berjari pendek, berambut ikal, buta, dan tidak berdiri tegak dan juga tidak berpendirian keras. Jika kamu bingung mengenai dia, ketahuilah bahwa Tuhanmu tidak bermata satu.

Sunan Abu Dawood, Buku 37, Nomor 4311:

Dikisahkan oleh Fatimah, anak perempuan Qays:

Rasul Allah (SAW) pernah menunda malam sembahyang berjamaah. Ia keluar dan berkata: perkataan Tamim ad-Dari menahanku. Ia meneruskannya kepadaku dari seorang yang ada di pulau-pulau di laut. Tiba-tiba saja ia mendapati seorang perempuan yang sedang menyerat rambutnya. Ia bertanya: Siapakah engkau?

Ia berkata: Aku adalah Jassasah. Pergilah ke kastil itu. Jadi aku pergi kesana dan menemukan seorang pria yang sedang menyeret rambutnya, ia dirantai dengan besi, dan melompat-lompat antara Surga dan bumi.

Aku bertanya: Siapakah engkau? Ia menjawab: Akulah Dajjal (Antikristus). Apakah Nabi orang-orang yang buta huruf kini telah datang? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: apakah mereka menaatinya atau tidak? Aku berkata: Tidak, mereka telah menaatinya. Ia berkata: Itu lebih baik bagi mereka.

Disini mungkin ada yang menyela dan mengklaim bahwa tradisi-tradisi menyebutkan ada 30 Antikristus yang akan datang ke dunia:

Sunan Abu Dawood, Buku 37, Nomor 4319:

Dikisahkan oleh Abu Hurayrah:

Nabi (SAW) berkata: Waktu Terakhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh Dajjal (para penyesat), setiap orang menganggap dirinya sendiri sebagai Rasul Allah. (lihat juga Sahih al-Bukhari, Volume 9, Buku 88, Nomor 237)

Ini mengakibatkan Ibn Saiyad hanyalah satu dari 30 Antikristus, dan bukan SANG Antikristus yang akan datang tepat sebelum akhir dunia.

Ada beberapa permasalahan dengan pendapat ini. Pertama, tidak satupun dari tradisi-tradisi ini yang mengklaim bahwa Ibn Saiyad adalah satu dari 30 Antikristus yang akan muncul. Melainkan, tradisi-tradisi mengemukakan bahwa dialah SANG Dajjal atau Antikristus. Kedua, jika kita mengambil tanggal-tanggal baik yang diusulkan at-Tabari atau Abu Dawood, ke-30 Dajjal itu, semuanya, harus muncul baik sebelum 1070-1132 atau 1453 M. Akhirnya berdasarkan Perjanjian Baru, Muhammad sesungguhnya adalah salah satu dari Antikristus-antikristus tersebut:

“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. … Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1 Yohanes 2:18, 22-23)

Oleh karena Muhammad menyangkali Yesus adalah Putra Tuhan, maka ia adalah salah satu dari banyak Antikristus yang akan datang, menurut Rasul Yohanes.

Jika yang sudah-sudah tidak terlalu buruk, tradisi-tradisi lainnya mengatakan Muhammad menubuatkan bahwa akhir segala sesuatu akan datang dalam masa hidup para pengikutnya:

Sahih Muslim, Buku 41, Nomor 7050:

‘A’isha melaporkan bahwa ketika orang-orang Arab di gurun menemui Rasul Allah (SAW) mereka bertanya mengenai Waktu Terakhir, yaitu kapankah datangnya. Dan ia memandang yang termuda di antara mereka dan berkata: Jika ia hidup ia tidak akan menjadi sangat tua sehingga ia akan melihat Waktu Terakhir mendatangimu, ia akan melihatmu sekarat.

Sahih Muslim, Buku 41, Nomor 7051:

Anas menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Rasul Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang. Di hadapannya ada seorang anak laki-laki dari kaum Ansar yang bernama Mahammad. Rasul Allah (SAW) berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu.

Sahih Muslim, Buku 41, Nomor 7052:

Anas b. Malik menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Utusan Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang? Maka Utusan Allah (SAW) berdiam diri sejenak, kemudian melihat seorang anak laki-laki di hadapannya yang berasal dari suku Azd Shanilwa dan berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu. Anas mengatakan bahwa anak laki-laki ini seusia kita pada hari-hari itu.

Sahih Muslim, Buku 41, Nomor 7053:

Anas menceritakan: Seorang anak laki-laki dari Mughira b. Shu’ba tidak sengaja melewati (nabi suci) dan ia seusia saya. Kemudian Rasul Allah (SAW) berkata: Jika ia berumur panjang ia tidak akan menjadi sangat tua hingga datangnya Waktu Terakhir (kepada orang-orang tua dari generasi ini).

Muhammad dengan jelas mengatakan bahwa anak laki-laki ini tidak akan menjadi sangat tua sebelum Waktu Terakhir mendatangi orang-orang. Marilah sekarang kita bermurah hati dan beranggapan bahwa anak laki-laki itu berusia 10 tahun dan hidup hingga berusia 110 tahun, sehingga Waktu Terakhir akan terjadi ratusan tahun setelah Muhammad membuat pernyataan-pernyataan ini. Namun, berabad-abad telah berlalu dan Waktu Terakhir masih belum mendatangi kita.

Tapi tunggu, masih ada lagi! Berdasarkan kisah-kisah al-Bukhari, Muhammad mengumumkan bahwa semua orang akan mati dalam waktu seratus tahun:

Sahih al-Bukhari, Volume 1, Buku 3, Nomor 116:

Dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar:

Suatu ketika nabi memimpin kami sembahyang ‘Isya’ selama lima hari terakhir hidupnya dan setelah menyelesaikannya (sembahyang itu) (dengan Taslim) ia berkata: “Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”.

Sahih al-Bukhari, Volume 1, Buku 10, Nomor 539:

Dikisahkan oleh Abdullah:

“Suatu malam Rasul Allah memimpin kami bersembahyang ‘Isha dan itulah yang disebut orang Al-‘Atma. Setelah menyelesaikan sembahyang, ia menghadap kami dan berkata: ‘Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah seratus tahun mulai malam ini’” (Lihat Hadis No. 575).

Hampir 14 abad telah berlalu dan masih ada makhluk hidup di bumi ini! Hadis ini sangat bermasalah sehingga narasi lainnya berusaha untuk menjelaskannya dengan berargumen bahwa Muhammad benar-benar bermaksud tak satupun dari generasinya yang masih hidup setelah seratus tahun:

Sahih al-Bukhari, Volume 1, Buku 10, Nomor 575:

Dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar:

Nabi melakukan sembahyang ‘Isha’ pada hari-hari terakhirnya dan setelah menyelesaikannya dengan Taslim, ia berdiri dan berkata, ““Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”.

Orang-orang melakukan kesalahan dalam memahami pernyataan Rasul Allah dan mereka berkutat dalam hal-hal yang dikatakan mengenai para narator tersebut (yaitu ada yang mengatakan bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi setelah 100 tahun, dll). Tetapi Nabi berkata, “Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”; maksudnya, “Ketika abad itu (orang-orang dalam abad itu) akan berlalu”.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari laporan khusus ini. Pertama, perhatikan bagaimana para narator langsung mengemukakan bahwa orang Muslim memahami perkataan Muhammad yang menyatakan bahwa dunia akan berakhir dalam waktu seratus tahun. Ini memberikan bukti bahwa makna sesungguhnya dari apa yang disebut Muhammad sebagai nubuat adalah hari terakhir yang akan terjadi dalam seratus tahun.

Kedua, perhatikan betapa tidak masuk akalnya penjelasan ad hoc ini. Orang yang mengumpulkan Hadis mengharapkan para pembacanya untuk percaya bahwa apa yang dimaksudkan Muhammad adalah tidak satupun dari generasinya yang tetap hidup dalam seratus tahun, sedangkan tidak ada yang mengherankan dari klaim semacam ini. Untuk mengatakan satu generasi akan mati semua dalam waktu seratus tahun tidak membutuhkan pengetahuan supranatural. Satu-satunya yang dibutuhkan untuk membuat klaim semacam itu hanyalah akal sehat oleh karena harapan hidup pada jaman itu sangat rendah. Hampir-hampir tidak ada orang yang hidup lebih dari seratus tahun. Jika itu dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan (“nubuat ilahi”) mengenai harapan hidup orang-orang di sekelilingnya, maka hal ini tentu sangat sepele, tak ada yang penting. Jadi apa tujuannya?

Walaupun janggal, pernyataan itu sudah pasti salah. Muhammad mengatakan “di atas bumi” – itu adalah tempat yang sangat luas. Walaupun jarang ada orang yang berusia seratus tahun, kemungkinan besar mereka selalu ada sepanjang masa. Bahkan dalam masa hidup Muhammad setidaknya ada satu orang yang setua itu. Abu Afak dilaporkan mencapai usia 120 tahun:

SARIYYAH SALIM IBN ‘UMAYR

Lalu muncullah sariyyah Salim Ibn ‘Umayr al-‘Amri terhadap Abu ‘Afak, orang Yahudi itu, pada bulan Syawal pada permulaan bulan keduapuluh sejak hijrah Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya. Abu ‘Afak, berasal dari banu ‘Amr Ibn ‘Awf, dan adalah seorang yang tua yang telah mencapai usia seratus dua puluh tahun. Ia adalah seorang Yahudi, dan suka menghasut orang untuk melawan Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya, dan membuat syair-syair (satiris). Salim Ibn ‘Umayr yang adalah salah satu peratap agung dan yang berpartisipasi dalam Perang Badr, berkata: Aku bersumpah aku akan membunuh Abu ‘Afak atau aku mati sebelum dia mati. Ia menunggu kesempatan hingga datanglah suatu malam yang panas, dan Abu ‘Afak tidur di tempat terbuka. Salim Ibn ‘Umayr mengetahuinya, lalu ia menusukkan pedangnya ke hatinya dan menekannya hingga menembus tempat tidurnya. Musuh Allah itu menjerit dan orang-orang yang adalah para pengikutnya bergegas mendekatinya, membawanya ke rumahnya dan merawatnya. (Ibn Sa’ad’s Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir, Terjemahan Inggris oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D didampingi H.K. Ghazanfar M.A. [Kitab Bhavan Exporters & Importers, 1784 Kalan Mahal, Daryaganj, New Delhi – 110 002 India), Volume II, h. 31; penekanan cetak tebal oleh penulis).

Apakah Muhammad benar-benar ingin mengatakan: seratus tahun mulai dari sekarang, tidak ada lagi orang yang usianya lebih dari seratus tahun? Sekali lagi: apa tujuan pernyataan semacam itu? Apa kaitannya dengan berita Islam?

Lebih jauh lagi, Muhammad menyampaikan pernyataannya itu dengan kata-kata ini: “Tahukah kamu apa pentingnya malam ini?” Untuk alasan utamanya, penafsiran alternatif yang diberikan oleh narator hanya sedikit yang masuk akal. Lagipula, dalam hal apa observasi suatu masa diperlukan, jika tidak seorangpun akan berusia lebih dari seratus tahun menjadi hal yang penting bagi orang Muslim atau Islam? Ini sama sekali tidak relevan, dan tidak relevan adalah lawan dari hal yang penting.

Di sisi lain, proklamasi Hari Kebangkitan dan penghakiman Allah atas semua orang adalah bagian yang mendasar dalam Islam. Jika itu telah diwahyukan kepada Muhammad dalam doanya bahwa dunia akan berakhir tepat dalam tempo seratus tahun, wahyu semacam itu akan menandai malam ini, dan tidak perlu ditanyakan lagi itu adalah sesuatu yang sangat penting.

Hanya penafsiran inilah yang benar-benar membuat pernyataan itu masuk akal. Namun demikian, masalahnya, satu-satunya penafsiran yang berarti dari pernyataan itu membawa konsekuensi bahwa Muhammad membuat nubuat yang palsu. Orang Muslim telah berusaha untuk mengalihkan hal ini dengan cara menaruh pernyataan yang tidak penting, tidak relevan – dan kemungkinan besar masih tidak tepat – ke dalam mulut Muhammad.

Akhirnya, harus selalu diingat bahwa imam al-Bukhari mengumpulkan tradisi-tradisi ini secara kasar 250 tahun setelah perpindahan Muhammad ke Medinah (kira-kira 622/623 M), lama setelah Muhammad mengatakan bahwa dunia akan berakhir. Berdasarkan hal ini, tidaklah mengejutkan jika ia atau orang lain akan memberikan penjelasan untuk menghindar dari keharusan untuk mengakui bahwa Muhammad adalah seorang nabi palsu atau dengan sesat mengklaim bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi seratus tahun setelah masa hidupnya.

Oleh karena itu, tak peduli dari sudut manapun orang melihatnya, kita tetap ditinggalkan dengan kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat diperbaiki dan prediksi-prediksi palsu.

KONKLUSI

Kita telah menguji Qur’an dan juga tradisi-tradisi Islam dan mendapati bahwa kedua sumber tersebut memuat prediksi-prediksi palsu. (Itu hanyalah bualan spekulatif yang mengatasnamakan Allah, namun yang tidak menjadi kenyataan). Berdasarkan kriteria kenabian yang diberikan Tuhan dalam Ulangan 18 kita menemukan bahwa Muhammad gagal dalam tes ini. Ini berarti bahwa Muhammad bukanlah nabi yang benar dan ia juga bukan nabi seperti Musa.

Dalam melayani Tuhan dan Juruselamat kita yang Agung, Yesus Kristus, Tuhan kita yang bangkit dan hidup selamanya. Amin. Datanglah Tuhan Yesus. Kami selalu mengasihi-Mu.

Judul Dalam Bahasa Inggris: Muhammad’s False Prophecies

Beberapa orang Muslim telah bereaksi terhadap tulisan ini dengan cara yang berbeda. Tanggapan-tanggapan ini ditautkan dari jawaban-jawaban Sam Shamoun kepada Hesham Azmy, Moiz Amjad, dan Osama Abdallah.

Read More

Imam Saudi: fatwa baru halalkan pedofilia sbg perkawinan

Raymond Ibrahim: New Saudi Fatwa Defends Pedophilia as ‘Marriage’
http://www.jihadwatch.org/2011/07/raymo … riage.html

Perkawinan dgn anak2 ala Islam kembali mengundang headlines dlm media Arab: Dr. Salih bin Fawzan, ulama terkemuka dan anggoa dewan agama tertinggi Saudi baru mengumumkan fatwa menegaskan bahwa TIDAK ADA USIA MINIMUM BAGI PERKAWINAN, dan bahwa anak2 bisa dinikahi ”bahkan saat masih bayi.”

Fatwa yang mencuat tanggal July 13, mengeluh bahwa “Campur Tangan dari pihak2 yang tidak memiliki informasi terhadap peraturan2 Syariah oleh pers dan wartawan semakin meningkat, mengakibatkan konsekwensi berat pada masyarakat, termasuk campur tangan mereka dalam masalah perkawinan dengan anak2 kecil yang belum mencapai kedewasaaan dan tuntutan mereka agar adanya USIA MINIMUM bagi perkawinan.”

Fawzan BERSIKERAS BAHWA SYARIAH TIDAK MENETAPKAN BATAS USIA BAGI ANAK2 PEREMPUAN. Ia menegaskan kembali ayat Quran 65:4, yang membahas perkaiwnan dengan bocah2 perempuan yang belum menstruasi dan fakta bahwa Muhammad saw menikahi Aisyah saat ia berusia 6 tahun dan memulai hubungan sex saat Aisyah berusia 9 tahun.

Ulama setuju bahwa para ayah diijinkan menikahi gadis2 cilik merka, bahkan saat mereka masih bayi, walau suami mereka tidak diijinkan melakukan senggama sebelum mereka mencapai berat badan sama dengan lelaki dan bisa diletakkan dibawah suaminya.

Fawzan menutupi fatwanya dengan peringatan: “Barangsiapa yang menuntut ditetapkannya usia minimum dalam perkawinan atau mensahkan hal2 yang tidak diijinkan Allah melakukan tindakan mengkontradiksi syariah dan oleh karena itu harus takut pada AIlah. Karena hukum adalah urusan Allah dan peraturan adalah urusan Dia semata2. Termasuk aturan tentang perkawinan.”

Selain Fawzan, mufti agung Saudi juga mendukung perkawinan dengan anak2 karena diijinkan Quran dan Sunnah.

Image
Foto Qaradawi. Apa yg ditunjukkannya dgn jarinya itu? :finga:

Ulama Islam Mesir terkemuka dna pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), Sheik Yusuf Qaradawi, menikahi seorang perempuan saat ia masih berusia 14 saat Qaradawi berada diatas usia 40.

http://www.famousmuslims.com/SHEIKH%20S … FAWZAN.htm
http://www.fatwa-online.com/scholarsbio … owzaan.htm

Sheikhul karim (bermoral tinggi) ini adalah anggota Dewan Ulama Senior dan anggota Komite Fiqih di Mekah (bagian dari ar-Raabitah) dan anggota Komite Pengamat Du’aat dalam Ibadah Haji, sementara mengetuai Komite Permanen Riset Islami dan Fataawa. Ia juga Imam, khotib dan guru pada Mesjid Prince Mut’ib Ibn ‘Abdul-’Azeez Masjid di al-Malzar.
Setelah lulus dari Fakultas Syariah, ia ditunjuk menjadi guru institut pendidikan di Riyadh dan ditransfer menjadi dosen Fakultas Syariah. Kemudian ia
mengajar di Departeman Studi Tinggi dalam Facultas Prinsip2 Agama (Usul Ad-din). Lalu ia mengajar dan menjadi ketua di Mahkamah
Tinggi Kehakiman. Ia kembali mengajar setelah habisnya periode kepemimpinannya. Ia kemudian dijadikan anggota Komite Permanen bagi Riset Islami dan Fataawa, yang dilanjutkannya sampai hari ini.

Sungguh orang yang memiliki kapasitas yang tak diragukan dalam hal keilmuan islam, dan inilah wajah islam sesungguhnya…
Sheik Fawzan juga barusan menganjurkan agar para Muslim yang tidak rajin solat agar dibunuh saja.

syeik-saudi-muslim-yg-tidak-solat-kafir-bunuh-dia-t45207/
Sheik Saudi, Ahmad al Mu’bi , juga menguatkan fatwa ini!
imam-muslim-saudi-boleh-kawin-kontrak-dgn-anak-1-tahun-t43031/

Read More

Perkawinan Islam dan Penghalalan Pelacuran

Perkawinan Islam dan Penghalalan Pelacuran

oleh Sujit Das – 20 Feb, 2008

Image
Pedofilia dalam dunia Islam

Kehidupan perkawinan sangatlah penting. Sungguh beruntung pasangan yang memulainya dengan pengertian yang benar akan nilai dan makna perkawinan. Perkawinan merupakan persekutuan spiritual yang suci antara dua jiwa duniawi ini untuk mencapai kehidupan yang terhormat, suci, Dharma (adat sosial dalam Hindu) dan tujuan illahi melalui kehidupan yang ideal. Karena itu, rumah pasangan yang berumahtangga merupakan pusat kehidupan spiritual yang suci. Rumah adalah tempat mereka beribadah, berdoa dan melakukan meditasi setiap hari. Adalah benar bahwa perkawinan sebenarnya diciptakan di surga. Seks bukanlah segala-galanya dalam perkawinan.

Rumah merupakan arena suci untuk mencapai penyangkalan-diri dan pengontrolan-diri dan ini lebih menarik daripada mengalahkan suatu monarki. Diberkatilah pasangan2 yang mencapai kehidupan illahi, di mana kebenaran, kesucian dan kasih sejati, rasa percaya dan kasih sayang membentuk fondasi dasar kehidupan illahi. Tuhan berada di rumah seperti itu. Orang2 berkunjung ke tempat suci seperti itu.

Dalam agama Hindu, upacara perkawinan merupakan yajña Veda (api pengorbanan), di mana dewa2 Aria dipanggil dalam adat kuno Indo-Aria. Sang dewa api Agni merupakan saksi utama perkawinan Hindu. Berdasarkan hukum dan tradisi, tiada perkawinan Hindu yang dianggap lengkap tanpa kehadiran api suci ini dan pasangan suami istri harus berjalan melingkari api bersama sebanyak tujuh kali. Jarang terjadi perceraian dalam pasangan Hindu.

Dalam agama Kristen, perkawinan dianggap sebagai penyatuan lelaki dan perempuan oleh Tuhan untuk seumur hidup. Prinsip dasar telah dinyatakan dalam Alkitab di kitab Kejadian 2:24 (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.) Setelah itu, Yesus mengajukan dasar perkawinan dengan menggabungkan dua ayat penting dari kitab Kejadian (1:27; 2:7-25). Dia menunjukkan keutuhan proses penciptaan – “lelaki dan perempuan yang diciptakanNya”. Lalu Yesus menyatakan perkawinan sebagai hubungan yang suci, persekutuan yang sangat intim dan nyata sehingga “keduanya menjadi satu daging”. Sebagai manusia, suami dan istri mempunyai nilai yang sama. Mereka adalah satu dalam pengertian yang sebenarnya.

Lalu bagaimana dengan Islam dan Muslim?

Ada orang2 pesimis yang menjabarkan perkawinan sebagai penghalalan pelacuran. Hal ini tepat sekali untuk menjabarkan kesucian perkawinan Muslim dan status dari wanita bersuami dalam Islam. Menurut Islam, melalui pernikahan, pria punya hak milik penuh atas ‘daging’ di tubuh wanita. Tidak seperti agama Hindu dan Kristen, perkawinan bukanlah persatuan yang mengikat dalam Islam. Hal ini karena tidak ada pengertian persekutuan dan penyatuan antara pasangan suami istri. Qur’an tidak memandang perceraian dan perpisahan sebagai pilihan tragis, tapi sebagai kesempatan emas bagi pria. Dalam Islam, wanita dianggap tak berotak, dan hanya berupa daging halal saja bagi pria untuk dinikmati.

Lihatlah Hadis Sahih Bukhari 7.62.173 yang menyatakan bahwa Istri harus mencukur bulu kemaluannya tatkala suami kembali pulang ke rumah setelah perjalanan jauh.

Di bukunya, Nasrin (2007) mengeluh, “Ibuku mengenakan ‘purdah’. Dia mengenakan ‘burqa’ dengan net jaring yang menutupi bagian mukanya. Ini mengingatkanku akan kerudung penutup2 daging di rumah nenekku. Satu punya jaring yang terbuat dari kain, dan yang satu lagi terbuat dari kawat. Tapi maknanya tetap sama – agar daging itu aman.”

Di jaman Muhammad dan para penggantinya, pelacuran lenyap untuk sementara waktu (Durant, 1950). Ini BUKAN karena Muhammad menganggap wanita bernilai luhur dan berusaha keras utk menaikkan harkat wanita. Yang terjadi justru sebaliknya; Muhammad merendahkan status wanita menikah sampai sama derajatnya dengan budak seks dan pelacur. Dia mengijinkan pengumbaran nafsu seksual sedemikian rupa dalam Islam sehingga para pelacur jadi pengangguran. Kenyataan yang mencengangkan adalah Muhammad memandang wanita sebagai binatang piaraan.

Dalam khotbah terakhirnya, Muhammad menyamakan wanita dengan binatang ternak. Tabari (IX:113) mencatat (dikutip oleh Winn, 2004, hal. 557) “Perlakukan wanita dengan baik karena mereka seperti binatang2 piaraan dan mereka tidak memiliki apapun. Allah telah menghalalkan untuk menikmati tubuh2 mereka dalam Qur’an-Nya.”

Hal yang sama juga bisa dilihat di Sunaan Abu Dawud 11.2155: Wanita2, budak2 dan unta2 adalah sama semua; harus mencari perlindungan Allah dari mereka semua ini.

Ajaran Muhammad sungguh luar biasa. Di tahun 2007, seorang pria Afghanistan, 40 tahun, mencukur gundul istrinya yang bernama Nazia, 17 tahun, lalu memotong kedua daun telinganya, hidungnya, menghancurkan gigi2nya dengan batu, memukulinya dengan hebatnya sampai tangan dan kakinya hancur dan menyiram kakinya dengan air mendidih saat gadis itu pingsan. Semua ini dilakukannya di hari pertama Idul Adha, upacara korban Islam. Nazia adalah istrinya yang kedua. Pria ini sudah membunuh istrinya yang pertama. (Hairan, 2007; IRIN, 2007).

Beginilah cara Muslim merayakan Id; mengorbankan nyawa istrinya sendiri sebagai ganti onta, karena onta mahal harganya, sedangkan wanita sangat murah.

Dalam bahasa Urdu, wanita disebut ‘aurat’ (عورت), dan kata ini berasal dari kata Arab ‘awrah’ (عورة). Kata Arab ini berarti vagina wanita. Ini berarti pula seluruh tubuh Muslimah adalah vagina besar dan tidak lebih daripada itu (Warraq, 2005. hal. 316). Berapa banyak sih Muslim Asia berbahasa Urdu yang tahu benar arti kata ini yang diterapkan bagi ibu, saudara perempuan, dan putri mereka? Kata yang sebenarnya sangat merendahkan sanak saudara mereka sendiri?

‘Nikah’ (perkawinan Islam, النكاح) merupakan kata Arab yang arti harafiahnya adalah ‘pencoblosan secara seksual’ (Kaleeby, 2002; Warraq, 2005). Kata itu dapat dilafalkan sebagai ‘Nokh’, yang sama artinya dengan ‘awrah’, yakni vagina besar = seluruh tubuh Muslimah. Para Muslim yang kurang pengetahuan seringkali menggunakan kata Nikah tanpa tahu arti sebenarnya yang justru merendahkan wanita kalangan mereka sendiri sampai sederajat dengan budak2 wanita dan WTS.

Kasem (n. d) menyimpulkan bahwa cara penghalalan penikmatan tubuh wanita ini sama seperti transaksi dagang, atau secara sederhananya: pelacuran. Dalam semua kasus perkawinan dan seks, para wanita diperlakukan sebagai obyek seks belaka, sama seperti penyaji pelayanan seks yang harus dibayar dengan imbalan.

Imbalan/Emas kawin (dowry) bagi pelayanan seksual dari pihak istri dikenal sebagai ‘mahr’ dan harus dibayar pria Muslim sebelum perkawinan. Pembayaran bisa dilakukan seketika atau di masa depan. Tiada perkawinan Islam yang sah tanpa pembayaran ‘mahr’. Para Muslimah bisa berbangga hati dengan ‘mahr’ yang mereka terima, tapi tidak mengerti makna ‘mahr’ yang sebenarnya. Dalam kenyataannya, ‘mahr’ tak lebih daripada pembayaran atas pembelian tubuh wanita untuk kenikmatan seksual. Perendahan derajat wanita ini dihalalkan oleh Allah dalam Syariah. Jika seorang Muslim menikahkan saudara perempuan atau putrinya kepada pria Muslim, dia sebenarnya melelang vagina saudara perempuan atau anaknya yang lembut dan hangat untuk dapat keuntungan harta.

Menurut Syariah, jika ‘mahr’ terlalu rendah, perkawinan bisa dibatalkan. Seringkali pihak Muslimah tidak menikmati ‘mahr’ tersebut. Harta ‘mahr’ habis digunakan untuk menghiasi rumah pasangan pengantin baru atau ayah Muslimah tersebut mengambil seluruh ‘mahr’ (Warraq, 2005, hal. 311). Dalam perkawinan Islam, tiada kasih atau puisi romantis segala.

Kasem (n. d) lebih jauh mengutip buku Hukum Syariah yang menyatakan bahwa hak2 suami termasuk, tapi tidak terbatas pada ‘…. Memiliki tubuh wanita untuk melakukan apapun yang dikehendakinya termasuk pemukulan… seorang suami memiliki hak penuh untuk menikmati tubuh istrinya (dari ubun2 sampai tapak kakinya!) dalam pengertian tidak menyakitinya secara fisik … dia wajib membawa istrinya bersamanya tatkala dia melakukan perjalanan.’

Kasem (n. d) juga mengutip dari buku berjudul The Hedaya Commentary on the Islamic Laws (Hidayah Hukum Islam). Buku ini umum digunakan oleh ahli hukum Syariah dalam menafsirkan hukum Islam. Di buku ini tercantum, “… mahr yang dibayar penuh merupakan pembayaran untuk menyerahkan wanita, ‘Booza’, berarti ‘Genitalia arvum Mulieris’ ”

Kasem dengan rasa jijik menyarikan, “Ya, kau tidak salah baca arti ‘Genitalia arvum Mulieris’ adalah vagina wanita. Kalimat di atas dengan jelas berarti bahwa Muslimah menjual vaginanya dan dibayar dengan mahr. Ini jelas transaksi dagang. Jangan salah mengerti! Titik.”

Apa yang dikatakan Kasem ternyata sesuai dengan Al-Hadis. Misalnya dalam Mishkat al-Masabih, dinyatakan bahwa “Wanita itu bagaikan kemaluan. Ketika dia pergi ke luar, setan memandangnya.”

Menurut Syariah Islam, suami tidak wajib membayar biaya pengobatannya jika istri sakit (Warraq, 2005. hal. 311).

Syariah tidak mengenal kata perkosaan dalam perkawinan. Begitu ‘mahr’ telah dibayar, sang istri jadi budak seks yang halal bagi Muslim (biasanya jadi istri kedua, ketiga, atau keempat wanita2 lain yang sama tidak berdayanya). Dalam pelacuran, pembeli jasa seks tidak perlu peduli atas kepuasan seksual pelacurnya.

Kepuasan seksual dan pilihan pasangan yang diinginkan wanita tidak dikenal dalam Islam. Kejadian2 perkosaan dalam perkawinan sedemikian tinggi di Bangladesh, seperti yang dikeluhkan oleh Azad (1995, hal. 240), “Bagi wanita, malam pertama perkawinan adalah perlakuan seks yang dipaksakan. Di Bangladesh, jumlah perkosaan perkawinan beberapa kali lipat lebih tinggi daripada perkosaan2 jenis lain.”

Di laporannya yang lain, Azad (1995, hal. 248) lagi2 mengeluhkan, “Di sini [Bangladesh], terjadi perkosaan yang dilakukan seorang pria dan perkosaan rame2. Di sini terjadi; ayah memperkosa putri kandungnya sendiri, menantu pria memperkosa mertua wanita… pejabat kantor memperkosa penyapu kantor, guru pria memperkosa murid wanita, Imam memperkosa anak perempuan TK, ipar pria memperkosa ipar wanita, mertua pria memperkosa menantu wanita… “ [laporan ditulis dalam bahasa Bengali, diterjemahkan oleh penulis].

Sikap Islam terhadap wanita dapat disejajarkan dengan tulisan abad ke 16 yang berjudul Taman yang Harum, ditulis oleh Shaykh Nefzawi. Begini tanya Nefzawi “Tahukah kau bahwa agama wanita terletak dalam vagina² mereka?” Dia melanjutkan, “Alat kelamin mereka tidak pernah terpuaskan, dan untuk memuaskan nafsu berahi, mereka tidak peduli bersetubuh dengan orang bodoh, negro, orang kotor, dan bahkan orang hina yang menjijikan. Setanlah yang membuat cairan2 mengalir dari dalam vagina2 mereka” (dikutip Warraq, 1995, hal. 290).

Warraq (1995) mengeluhkan, “Islam selalu saja menganggap kaum wanita sebagai makhluk rendah di segala bidang; secara fisik, intelek, dan moral. Pandangan negatif ini jelas ditulis dalam Qur’an, ditunjang ahadis, dan ditambah lagi dengan komentar2 para ahli agama Islam yang merupakan penjaga dogma Islam dan kebodohan Muslim.”

Hukum Syariah Islam juga mengijinkan kawin sesaat saja. Hal ini disebut sebagai kawin Mutah, yang tidak lebih daripada praktek pelacuran terselubung. Dalam Kamus Islam, Mutah adalah ‘perkawinan kontrak berbatas waktu tertentu, dengan imbalan uang’. (dikutip oleh Brahmachari, 2008). Di bawah sistem ini, seorang Muslim bisa gonta-ganti istri setiap hari. Perkawinan ini merupakan ijin sesaat untuk servis seks dan dengan demikian merupakan penghalalan pelacuran.

Para Mulah dan Imam India sangat sadar akan hukum illahi perkawinan Islam ini. Di Hyderabad, kota besar India, para Mullah dan Imam ini bekerja sebagai germo untuk pria2 Arab. Banyak dari pria2 Arab tersebut yang sangat kaya raya tapi bejad moral. Mereka berkunjung ke Hyderabad dan mengawini gadis2 Muslimah India yang berusia muda, dengan bantuan Mullah lokal untuk kawin dengan orang2 Arab tersebut dalam kurun waktu 15 sampai 30 hari saja. Setelah memuaskan nafsu berahinya dan mengambil keperawanan gadis2 India malang ini sembari menikmati keramah-tamahan masyarakat India, pria2 Arab ini menceraikan para gadis tersebut dengan talak tiga. Mereka lalu kembali pulang ke tanah Arab sebagai pria terhormat. Di satu kejadian, seorang pria Arab tua bernama Muhammad Zafer Yaqub Hassan al Jorani dari Sharjah menikahi Haseena Begum; gadis India berusia 19 tahun, pada tanggal 7 Mei, 2004, dan Muhammad menceraikannya dua hari kemudian. Pada tanggal 24 Mei, Muhammad la mengawini gadis Ruksana Begum berusia 16 tahun. Haseena lalu melaporkan hal ini pada polisi dan Muhammad ditangkap bersama-sama dengan sang Mullah germo Shamsuddin yang menerima bayaran 40.000 rupee dari Muhammad. Muhammad sendiri sudah punya dua istri dan 11 anak di rumahnya di Arab. Laporan lain di Hindu Voice keluaran bulan January 2007, menyatakan seorang pria Arab kaya berusia 60 tahun menikahi tiga gadis India yakni Afreen, Farheena dan Sultana, dalam waktu 10 menit di Hyderabad. (Brahmachari, 2008).

Dilaporkan sekitar 35 sampai 40 perkawinan palsu setiap tahun antara pria2 Arab kaya raya dan gadis2 Muslim India di Hyderabad. Angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Kenyataannya, para Mullah sudah mulai mengejar-ngejar para Arab kaya ini sejak tiba di airport internasional di Hyderabad. Begitu para Arab turun pesawat, mereka sudah disambut para Mullah germo untuk mengadakan tawar-menawar pelayanan seks terselubung dengan perkawinan. Foto2 gadis2 ditunjukkan, pembayaran diatur, dan tanggal serta tempat perkawinan ditetapkan. Ini sungguh bisnis besar. Perbuatan memalukan ini tidak diketahui anak2 dan cucu2 perempuan mereka di tanah Arab yang berusia sama dengan sang gadis pengantin. Yang lebih mengganggu lagi adalah para Arab ini kebanyakan menyewa kamar di rumah2 para Imam yang menyediakan fasilitas perkawinan palsu ini. Dalam beberapa kasus, perkawinan hanya berlangsung selama 24 jam (Sheikh, 2005). Inilah caranya bagaimana para Mullah menggunakan Islam untuk mempromosikan pelacuran Islamiah dan menggemukkan kantong mereka dengan uang. Majhar Hussain, presiden Confederation of Voluntary Agencies berkata, “Perkawinan Mutah ini merubah gadis2 Muslimah muda jadi pelacur2.” (dikutip Brahmachari, 2008). Jika praktek ini terus terjadi dan para Mullah tidak dihentikan, maka dalam waktu singkat Hyderabad bisa jadi kota pusat penghalalan pelacuran Syariah Islamiah, dan jadi ‘Mekahnya Sarang Pelacuran) yang dicari-cari para Muslim, terutama dari dunia Arab. Banyak Muslim yang akan datang ke India untuk servis Haji Sex (naik haji sambil ngeseks Islamiah). Jika kekurangan perawan muda, para Mullah bisa jadi mencari istri2 Muslimah muda usia untuk melakukan bisnis pelacuran ini.

Berapa banyak Muslim India yang mengetahui kegiatan para Mullah germo di Hyderabad? Tragisnya, para Mullah, sang penjaga Islam, malah menjadi pemanfaat Islam yang terbesar. Para Mullah ini mencari nafkah dengan mempertaruhkan kehormatan para wanita muda dari keluarga Muslim.

Dalam Islam, bahkan susu payudara wanita bukanlah miliknya sendiri, karena suaminya (yang telah membelinya dengan ‘mahr’) lebih berhak memiliki susu tersebut. Jika suami Muslim memaksa menyedot susu dari istrinya, maka di bawah aturan Syariah, susu tersebut dianggap sebagai makanan dan bukannya susu untuk pertumbuhan bayi. Menurut Muwatta Malik (Buku 30, Nomer 30.1.11), “Menyedot susu… setelah dua tahun pertama, banyak atau sedikit, bukanlah hal yang haram. Susu itu seperti makanan.” Juga hadis lain dari Muwatta Malik (Buku 30, nomer 30.2.14), menyatakan bahwa pria Muslim halal untuk meminum susu istrinya (atau, istri2nya, dia bebas memilih dan merasakan mana yang lebih enak) setiap saat dan boleh sambil menggauli istrinya secara seksual (wah, banyak banget nih keuntungan suami Muslim dibandingkan suami non-Muslim). Inilah puncak ketololan hukum illahi Allah.

Beberapa tahun yang lalu AIMPLB (All India Muslim Personal Law Board) telah menetapkan aturan perkawinan. Tapi tidak ada anggota wanita dalam badan ini (Sheikh, 2005). Di sebuah masyarakat beradab, hal ini sungguh tidak terbayangkan, tapi biasa saja dalam dunia Muslim sih. Menurut Islam, “daging halal” tubuh wanita tidak punya kepribadian ataupun jati diri.

Dalam Syariah, wanita boleh dikawini di usia berapapun, bahkan jika dia baru saja lahir. Khomeini berkata, “Pria boleh mendapatkan kepuasan seksual dari seorang anak bahkan bayi sekalipun” (Paz, 2006). Yang dikatakan Khomeini sangatlah tidak etis, tapi halal dalam Islam. Muhammad sang nabi kegelapan merupakan maniak seks. Telah banyak tulisan yang menyatakan koleksi istri2nya yang banyak itu (termasuk anak ingusan Aisyah dan menantu Muhammad sendiri yang bernama Zainab), budak2 seks, dan gundik2 harem. Yang tidak banyak diketahui adalah Muhammad juga tertarik pada bayi perempuan yang masih merangkak. Ibn Ishaq yang merupakan penulis riwayat hidup sang Nabi yang tertua dan paling terpercaya menyatakan hal ini dalam bukunya yang berjudul Sirat Rasul Allah.

”… sang Nabi melihatnya (Ummu’l-Fadl) ketika dia masih bayi yang merangkak di hadapannya dan berkata, ‘Jika dia telah tumbuh dan aku masih hidup, aku akan mengawininya.’ Tapi sang Nabi terlebih dahulu meninggal sebelum dia tumbuh besar…”

Umar (Khulafa Rashedin, salah satu dari 4 Kalifah Tauladan) mengikuti jejak Muhammad dengan mengawini Umm Kulthum ketika berusia 4,5 tahun atau setengah usia Aisyah ketika ditiduri oleh muhammad. Inilah aturan illahi Islami. Jika Muhammad dan Kalifah Umar saja tidak normal, bagaimana mungkin kita dapat menyalahkan Khomeini? Melakukan perkawinan dengan anak2 adalah sama dengan melakukan pelacuran pada anak2.

Poligami dihalalkan dalam Qur’an (4:3). Muslim boleh mengambil sampai empat istri dalam waktu yang bersamaan. Di India, saudara angkat Sultan Mughal bernama Akbar yakni Mirza Aziz punya penjelasan lucu mengapa pria butuh empat istri. ‘Pria harus menikah dengan satu wanita Hindustan untuk memiliki anak, satu istri dari Khurasan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, satu wanita dari Iran untuk jadi teman bicara dan bercakap.’ Dan yang keempat? ‘Ya tentu saja kawini pula satu wanita dari Transoxiana untuk mencambuki ketiga istri lainnya dan menjaga perdamaian.’ (Early, 1977 hal. 666).

Al-Ghazali menasehati semua Muslim sebagai berikut, “Jika seorang wanita tidak mencukupi, ambilah beberapa lainnya (sampai jumlahnya empat). Jika kau masih tidak bahagia, ganti saja mereka semua.”

Kemudahan memiliki sejumlah istri2 dan gundik2, dan kebebasan Muslim untuk kawin terus diantara sanak keluarga sendiri seringkali membingungkan hubungan antar anggota keluarga tersebut. Akibatnya, ketiak Munawwar Ali yang masih kecil pergi ke Madrasah untuk dapat pendidikan Islam; dirinya dikenal sebagai anak dari 20 anak dari seorang istri dari 13 istri milik Sheikh Abdullah Ali! Banyaknya jumlah anak ini merupakan salah satu alasan mengapa banyak keluarga Muslim yang miskin.

Sepanjang sejarah, penguasa Muslim selalu punya ‘harem’ yang dijaga ketat. Dalam bahasa Arab, ‘harem’ merupakan tempat terlarang di mana seluruh ‘begum’ (istri2) hidup – dunia harem terkunci dari dunia luar. Dalam bahasa sederhananya, harem merupakan tempat pelacuran milik pribadi. Di India, harem para sultan Mughal sangatlah besar.

Akbar, yang merupakan sultan Mughal pertama, memiliki sampai lebih dari 5.000 wanita (Early, 1977, hal. 642). Dari jumlah itu, istri2nya berjumlah 300 orang dan yang lainnya adalah gundik. Anak lakinya yang bernama Jahangir punya lebih dari 1.000 istri. Ali punya 200 istri. Ibn al-Teiyib, imam terkenal dari Baghdad, yang usianya sampai 85 tahun, dilaporkan punya 900 istri, al-Mutawakkil punya 400 istri – dan setiap istri hanya ditidurinya semalam saja (Durant, 1950, hal. 222). Cucu Muhammad yakni Hasan punya 300 istri. Hasan seringkali menikahi 4 wanita sekaligus dan lalu menceraikan keempatnya secara bersamaan pula (Kasem, n.d.). Para Muslim tidak menghormati kesucian perkawinan. Kebanyakan imam2 Muslim punya banyak istri dan segudang anak. Durant (1950) berkomentar, ‘Mungkin Islam salah aturan dan memperlakukan perkawinan secara ekstrim.’

Abul Fazl (dikutip Early, 1977, hal. 643) mengajukan alasan ‘hebat’ untuk mendukung poligami – ‘Sama seperti bagi orang lain di mana satu istri saja tidak cukup, maka demikian pula orang2 yang hebat punya lebih banyak kebutuhan, agar rumah mereka tampak lebih megah, dan lebih banyak orang lagi yang bisa dinafkahi.’

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana orang2 Muslim ini bisa punya sedemikian banyak istri, jika ketetapannya hanya boleh sampai empat saja? Ya gampang saja, karena yang dibutuhkan hanyalah sedikit akal2an. Allah berkata dalam Qur’an (4:3), “Nikahilah wanita yang baik bagimu, dua orang, tiga orang atau empat orang.” Kalimat ini lalu diartikan dalam berbagai pengertian yang berbeda-beda oleh para ahli Qur’an – seorang ahli menambahkan dua, tiga, dan empat, sehingga jumlahnya jadi sembilan istri. Ahli Qur’an yang lain mendapatkan jumlah 18 dengan cara menjumlahkan dua, tiga, dan empat, lalu dikali dua (Eraly, 1977). Karena Islam tidak pernah kekurangan ahli Qur’an, maka pengertian baru selalu dapat dihasilkan bilamana uang sogokan tinggi tersedia. Inilah sebabnya jumlah wanita di harem pribadi begitu membludak.

Dalam keluarga2 tradisional Muslim di negara2 Timur Tengah, ayah atau kakak pria boleh mengawinkan wanita dalam keluarga kepada siapapun yang diinginkannya, meskipun wanita itu masih di bawah umur. Kawin karena dasar cinta kasih jarang terdengar dan malah dilarang, karena bisa2 jumlah mahr-nya berkurang. Para gadis biasanya menikah di usia 12 tahun, dan menjadi ibu di usia 13 atau 14 tahun (Durant, 1950; hal. 220). Seringkali pengantin pria tidak boleh melihat wajah pengantin wanita sebelum pernikahan. Lalu daiakan perayaan, makan2, dan berdoa. Setelah upacara2 tersebut, pengantin baru masuk ruangan tertutup dan pengantin pria membuka cadar penutup wajah pengantin wanita sambil berkata, “Dalam nama Allah, yang Maha Penyayang, Maha Pemurah..” Jika pengantin pria tidak suka dengan apa yang dilihatnya, maka dia bisa seketika mengirim kembali pengantin wanita ke orangtuanya beserta mahrnya dan mencari pengantin wanita baru (Durant, 1950; hal. 220).

Secara umum, wanita tidak berharga dalam Islam (keadaan dunia Islam jaman sekarang tidak banyak berbeda saat ini dibandingkan dengan jaman Muhammad). Bahkan di kalangan Muslim paling rendah sekalipun, di mana tidak banyak terdapat perbedaan gender, tetap saja nasib wanita lebih jelek daripada nasib pria. Kaum wanita yang miskin semakin buruk kesehatannya karena terus-menerus melahirkan dan membesarkan anak, sambil harus terus bekerja mencari nafkah membantu suaminya. Tidak banyak yang bisa dinikmati dalam hidup bagi mereka, kecuali tetap berusaha hidup.

  • Di Afghanistan dan di Bangladesh, lebih dari separuh remaja wanita telah menikah.
  • Di Iran, para wanita biasanya menikah ketika mereka mencapai usia 9 tahun (Spencer, 2005).
  • Di Bangladesh, 59% para gadis menderita kekurangan gizi dan 10% lainnya sangat parah keadaannya. (UNDP, 1995).

Bahkan para Muslimah kelas menengah dan atas juga mengalami keadaan yang sama, seperti yang dinyatakan oleh Manucci (1989), “Mereka (Muslimah) tidak punya rasa ketertarikan di luar pengabdian rutin pada keluarga, tidak punya kehidupan sosial di luar lingkungan keluarga, dan tidak punya kedudukan dalam masyarakat.”

Pendidikan para Muslimah dalam masyarakat secara umum, biasanya tidak lebih dari belajar sholat, membaca beberapa Sura Qur’an, dan belajar seni mengurus rumah tangga (Durant, 1950; hal. 221). Kebebasan dan pendidikan wanita dianggap sebagai ancaman dominasi pria. Omar sang Kalifah kedua, mengatakan, ‘Larang wanita untuk belajar menulis! Cegah mereka melakukan hal yang baru.’ Dan juga, ‘Suruh mereka telanjang saja, karena pakai baju hanya alasan untuk keluar rumah saja.’ (Warraq, 2005, hal. 299). Dalam tulisannya yang lain, Durant (1950) mengeluhkan, “Di masa kecilnya yang menyenangkan dia menikmati beberapa tahun penuh kasih sayang, tapi di usia 7 atau 8 tahun, dia lalu dikawinkan dengan pemuda dari keluarga pilihan ayahnya yang menawarkan uang untuk membeli pengantin wanita… si gadis cilik ini harus tunduk atas perintah ayahnya, suaminya, atau bahkan anak lakinya sendiri; dia selalu jadi babu, jarang sekali dianggap sederajat dengan pria. Sang suami menuntut banyak anak darinya, atau tepatnya anak2 laki; kewajiban sang wanita hanya menghasilkan tentara2 saja. Di banyak kasus, dia merupakan salah satu dari banyak istri suaminya. Sang suami bisa dengan mudah menceraikannya sesuka hatinya.”

Di Pakistan, fundamentalis Islam sangat menentang keras pendidikan bagi wanita. Di masa tiada hukum selama lima hari di bulan Februari, 2004; para Muslim ini membakar delapan sekolah bagi para pelajar putri (Spencer, 2005). Para Mullah Pakistan, menyatakan bahwa para Muslimah yang ingin belajar berarti melakukan pemberontakan terhadap Islam: “Peringatkan para wanita tersebut, kami akan cabik2 mereka. Kami akan hukum mereka dengan hebatnya, sehingga di masa depan tidak akan ada lagi yang berani bersuara menantang Islam.” (dikutip oleh Warraq, 2005. hal. 321)

=======================

Some medieval theologians thought that Muhammad had invented polygamy, but it is not true, because it antedated Islam by some years (Durant, 1954; p. 39). Muhammad legalized polygamy in his newly established religion and lowered the status of women to the level of prostitutes with divine sanction. As Ascha (1989) concluded, “Islam is the fundamental cause of the repression of the Muslim women and remains the major obstacle to the evolution of their position.”

In cultures that permit polygamy, the youngest co-wife is required to care for elder co-wives. This relationship is sometimes a daughter/mother relationship, but in many cases the elder wives view the younger with bitterness and resentment. In many polygamous relationships, the child bride is treated as an unpaid servant and may never succeed in earning the respect of the elder wives or their children.

In addition to above; domestic violence is the most widespread and common form of violence against women and young girls in Muslim families. Child brides live with older men who expect them to carry out all the duties of an adult woman, even if those responsibilities are too great for a child, let alone a woman. Frequently, the husbands assert their authority in the home through physical violence and consider wife torture a heroic deed.

In Egypt twenty-nine percent of married adolescents have been beaten by their husbands; out of this forty-one percent during pregnancy.

In Jordan, twenty-six percent of reported cases of domestic violence were committed against wives under eighteen.

As per one report by Amnesty International; over ninety percent of Pakistani wives have been mishandled (struck, beaten, or abused sexually) for minor offences like cooking unsatisfactory meal and failure to give birth of a male child (Spencer, 2005). Wife beating is sanctioned by Allah (Koran 4:34). In a Hadith Muhammad advised, “Hang up your whip where your wife can see it” (cited Warraq, 2005. p. 314).

In Sudan, the genital passage of the divorced women and widows are closed by stitching keeping a small portion open for menses (Azad, 2005. p. 197).

Even Muhammad raised his violent hand on his child bride, Aisha. It is recorded in Sahih Muslim, Book 004, number 2127 (cited Kasem, 2005) – once while sleeping with Aisha, Muhammad secretly left his bed and went to the graveyard at Baqi; Aisha spied and followed Muhammad; when Muhammad learned Aisha’s misdeed he hit her (beat her) on her chest that caused much pain to her. This divine act of wife-beating is recorded in The History of al-Tabari. Vol. IX, (cited Kasem, 2005). However, the ‘kind’ treatment of women does not end here. Kasem (2005) cited another Hadith from Sunaan Abu Dawud (11.2142) – ‘The Prophet said: A man will not be asked as to why he beat his wife’. Somalia Muslims whip their newly wedded wives on the very first night (Azad, 1995. p. 197, Miles, 1988. p. 89). Merciless beating without any reason is a religious tradition in Somalia.

Fajlur Rahaman referred to one Hadith (cited Azad, 1995. p. 166), which says “even if the husband is a leper and the wife cleans the pus of his wounds with her tongue and swallows the pus, still she is not equal to her husband” (original in Bengali, translated by author).
In pre-Islamic Arabia women were free, happy and respectful. They used to take part in meetings, often attended in court of law with similar equality of man; run business (Khadija, the first wife of Muhammad was a business women and employed several men to look after her business); even fought many battles. Only under Islam they were animalized.

So, this is the status of married women under Islam. No doubt, a comparison of a legally married woman with prostitutes is unethical and of bad taste. It does not reflect well on the author. But, this article is not the product of a sick mind. Every bit of information on this article is true and taken from authentic sources. On the other hand, Muhammad’s and his followers ‘high regard’ for women points to the only conclusion that Islam cannot be a God approved religion. It is because; high status and respect of women and responsibility of a married couple towards each other, to the family and to the society in general; as taught in Christianity, Hinduism, Buddhism and other established religions; is totally absent in Islam. The plain truth is that, the God of Islam is an invented God. This God is actually a puppet and his only purpose is to legalize any crime in the name of religion. And, no doubt, this God is doing well in his job, ever since it was invented.

In general a Muslim takes his ‘sex’ philosophically, with hardly more of metaphysical or theological misgiving than an animal. Marriage is never a sacrament with him; it is frankly a commercial transaction. It never occurs to him to be ashamed that he treats women as prostitutes or animals; he would rather be ashamed of the opposite.

In Islamic nations, much of the married women’s work remains unrecognized and unvalued. Women are constantly under the threat of divorce (Azad, 1995). Often they don’t get enough food to eat from their husbands. In Bangladesh, seventy-seven percent of married women from middle income households and more than ninety-five percent of those from low income households are underweight and malnourished (UNDP, 1995). On top of this, their contribution to the family often goes unnoticed. In Sudan the time spent for gathering fuel wood has increased fourfold in a decade, which is the duty of a woman. In Mozambique, women spent more than fifteen hours a week just for collecting water for the family (UNPD, 1995). Some Afghani women are compelled to go for grazing around the mountain valleys looking for a blade of grass to feed themselves and their children (Sina, 2001). A recent UN report disclosed that women in Saudi Arabia are the victims of systematic and pervasive discrimination across all aspects of social life (Times, 2008). In Islamic nations, more girls than boys die at young age. Birth of a girl is still seen as a disaster in Muslim societies. Women, who constitute half the global population, definitely deserve a better deal.

Islam seeks power, promotes hate and domination in the name of an imaginary God. In a civilized society, charity begins at home, but in Islamic society; hate and domination begin at home. Probably prostitutes are in a better position than those helpless ‘animals’ called ‘Muslim women’. The greatest task of moral is always sexual regulation. A sense of family value is observed amongst many animals also. Mother is the first ‘Guru’ (spiritual guide) for a child. The child learns the alphabet from his mother. The child learns to speak from his mother. She may make him a saint or a ruler or a rogue. She imparts her virtues to her child with her milk. No society can progress unless their women folks are educated and free. Muslim women should be given education and liberty and then they will bring the required revisions for their betterment. No need to shed endless crocodile tears by the so-called intellectual Muslims to try to fool the civilized world. It’s a pity that the Muslims are too spiritually deprived to ever realize this fact.

——————————————-

Daftar Pustaka
Buku, majalah, jurnal, dan koran

Ascha G. (1989), Du status inferieur de la femme en Islam. pp.11. Paris.
Azad, Humayun (1995); Nari (woman), originally written in Bengali. Revised third edition. Sept’95. Agami Prakasani. Dhaka, Bangladesh.
Durant, Will (1950), The story of civilization – The age of faith. Simon and Schuster. NY.
Durant, Will (1954), The story of civilization – Our Oriental Haritage. Simon and Schuster. NY.
Eraly, Abraham (1977), The lives and times of great Mughals. First edition. Penguin books. New Delhi, India
Kaleeby (2002), Dictionary of the Quranic phrases and its meaning; compiled by Sheik Mousa Ben Mohammed Al Kaleeby, Maktabat Al Adab, Cairo.
Manucci, Niccolao (Italian adventurer in India in the second half of the 17th century); Storia do Mogor, 2nd volume (translated by William Irvine). London 1907-08 / Delhi 1922.
Miles, Rosalind (1988 ); The women’s history of the world. Michael Joseph publication. London.
Nasrin, Taslima. (2007), Let’s burn the Burqa, Outlook, the weekly news magazine published from India, January 22, 2007 issue, pp 62.
Pelsaert Francis (a Dutch treader in India in the second decade of the 17th century); Remonstrantie (translated by W. H Moreland as Jahangir’s India), Cambridge, 1925 / India 1972.
Spencer, Robert (2005); The politically incorrect guide to Islam (and the crusades). pp. 69 – 77. Regnery Publishing. Inc. USA
Times (2008); Saudi woman strip-searched for café meet with man. The times of India, a daily newspaper published from India. 7th February. 2008 issue, pp 15, first column.
UNDP (1995); Human Development Report. Published for the United Nations Development Programme (UNDP), pp. 35 . OUP. Delhi. India
Warraq. Ibn (2005), Why I am not a Muslim, Prometheus books. NY.
Winn, Craig (2004); The Prophet of Doom – Islam’s Terrorist Dogma in Muhammad’s Own Words. First edition. Cricketsong books (A division of Virginia publishers), Canada.

Internet

Brahmachari R. (2008), Mutah, or temporary marriage in muslim society. Published on 26th January, 2008. at Faith Freedom International. (Last accessed 28th January / 08 ).
Hairan, A. (2007), Husband cut off wife’s ears, nose on Eid day. Published in Groundreport.com on December 23, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).
IRIN, (2007); Nazia, Afghanistan, “My husband cut off my ears and nose and broke my teeth”. Published in YubaNet.com on 26th December, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).
Kasem, Abul (n.d), Sex and Sexuality in Islam, Islam-watch. (Last accessed 10th January / 08 )
Kasem, Abul (n.d); Women in Islam. Islam-watch. (Last accessed 11th January / 08 )
Kasem, Abul (2005) – Did Prophet Muhammad ever beat his Wives? Published on 28th April, 2005 at Mukto-mona. (Last accessed 10th December / 07)
Paz, (2006), Khomeini’s Teachings on sex with infants and animals. (Last accessed 24th March / 07)
Sheikh Q. (2005), You opened my eyes in Leaving Islam section of Faith Freedom International. (Last accessed 16th June / 06)
Silas (n.d), Wife beating in Islam, Answering Islam. (Last accessed 20th December / 07)
Sina, Ali (2001), The fall of Islam, Faith Freedom International. URL: (Last accessed 1st March / 05).
pernikahan islam = pelacuran
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=16090

http://www.brandeis.edu/projects/fse/mu … riage.html
Read More

Zakaria Boutros: Kebiasaan Sex Menyimpang sang Nabi

by pod-rock» Sat Apr 25, 2009 6:22 am

Tayangan Life TV : Father Zakaria Botros mengenai:

Kebiasaan Seks Menyimpang sang Nabi

http://www.jihadwatch.org/

Baru-baru ini Father Zakaria Botros menyiarkan sebuah tayangan TV yang didedikasikan utk mendiskusikan moralitas dan bagaimana seharusnya hal itu menjadi salah satu pilar penunjang dari “KENABIAN”.

Awalnya, dia mengajukan pertanyaan : “Apakah Muhammad sang nabi adalah manusia bermoral – manusia paling lurus, pantas utk ditiru oleh seluruh dunia?”

Dia membuka tayangan TV ini dengan mengutip Ibn Taymiyaa, yang menyebutkan pertanda dari kenabian. Taymiyya mengungkapkan bahwa banyak terdapat nabi-nabi palsu, seperti Musailima “si pembohong”, yang sejaman dengan Muhammad. Taymiyya menyebutkan pula bahwa mereka yang mengaku nabi2 itu, pada kenyataannya, ‘kerasukan’ belaka, dan satu-satunya cara utk menentukan keaslian nabi adalah dengan memeriksa/meneliti biografinya (sira-nya) dan perbuatan2 baiknya, dan amatilah apakah orang itu pantas menyandang gelar nabi atau tidak.

Karena ini adalah satu dari beberapa episode yang ditujukan utk menelaah konsep moral dan kenabian (dengan pemikiran bahwa yg pertama (moral) memperkuat yang kedua (kenabian)), tema utk episode ini adalah ‘kesucian’ (tahara): “Apakah Muhammad adalah manusia ‘suci’?” – dalam konteks ini, sebuah pertanyaan mengenai kebiasaan2 seksualnya mencuat.

Setelah pendahuluan tsb, Botros menatap kamera tajam2 dan memberikan peringatan:

“Episode ini untuk orang dewasa! Saya akan mendiskusikan banyak hal yang akan membuat saya sendiri malu, jadi, please! Wanita dan anak2 dipersilahkan keluar.”

Lalu dia meminta para muslim yg menonton utk terus bertanya dalam hati “Inikah nabi yang kuikuti?” ketika pada mereka ditampilkan kebiasaan2 seksual muhammad.

Pertama, dari Quran, Botros membaca ayat2 yang tak pelak lagi menyatakan bahwa Muhammad adalah “Suri Tauladan yang sempurna dalam hal kebaikan dan moral. “[68.4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Lalu dia mengutip dari para Ulama, seperti Ibn Kathir, yang berkeras bahwa Muhammad adalah “termulia diantara para manusia dan terbesar diantara para nabi.”

Botros dan seorang presenter TV – Father Botros berkeras meminta presenter tsb seorang pria, khusus utk acara ini saja, dia takut lebih malu lagi menceritakan kebiasaan2 seks yg menyimpang dari Muhammad jika sang presenter itu adalah wanita – lalu mendiskusikan ayat Quran 4.3, yang ‘membatasi’ jumlah istri muslim hingga Empat Orang, plus ‘apa yang tangan kananmu miliki,’ yaitu para budak wanita.

Tapi ternyata itu saja tidak cukup bagi Muhammad, tegas Botros; seluruh isi ayat itu ‘harus diturunkan’ hanya utk membenarkan dan/atau mengesahkan lebih banyak lagi wanita untuknya (Quran 33.50 Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Malah, Father Botros telah dengan cermat menyusun seluruh wanita – semuanya ada 66 orang – yang tercatat pernah punya hubungan seks dengan Muhammad.

Botros bilang itu adalah normal; menurut Sirat al-Halabi, Muhammad bisa mendapatkan wanita manapun juga, bahkan jika si wanita itu tidak mau sekalipun; dan jika Muhammad kepingin wanita istri orang lain, sang suami harus menceraikannya. Menurut Ibn Sa’ad, yang menulis biografi resmi lain tentang Muhammad, “Sang Nabi tidak akan mati hingga semua wanita membolehkan dia” (lihat Kitab Al-Tabaqat Al-Kubra, v.8, hal 194).

Sang Presenter TV, dg tiba-tiba, menginterupsi – “Bagaimana dengan gosip tentang Muhammad memperlihatkan kecenderungan homoseksual?”

Botros menjatuhkan wajahnya ketangan dan bergumam, “So, kau masih berkeras ingin kita membicarakan itu?” sang Presenter memaksa sambil berkata bahwa ini demi kebaikan para muslim sendiri yang patut mengetahui segalanya.

Dg demikian Botros, setelah berkali-kali meminta maaf pada para pemirsa muslimnya, sambil mengatakan betapa hal ini sangat memalukan baginya berkata: “Look! Kami cuma pembaca doang disini, membacakan apa yang kami dapat sendiri dari buku-buku islam! Jika para muslim tidak suka, mereka harus membakar buku2 islam itu langsung, jangan membakar orang yang membacanya.”

Anekdot pertama yang dibicarakan sang Father berputar sekitar sebuah hadis yang, oleh sementara Ulama disebut ‘lemah’, tapi meski demikian, menurut Botros telah muncul dalam 44 buah buku2 islam dunia – termasuk beberapa koleksi yang sangat dihormati seperti Hadis Sunan Bayhaqi dan Al-Halabi.

Menurut Hadis ini, seseorang bernama Zahir, yang selalu mengatakan pada setiap orang bahwa “sang nabi mencintaiku,” berkata bahwa satu hari Muhammad mengendap-endap dibelakangnya dan memeluk dia dengan ketat. Zahir, yang kaget, berteriak sambil meronta utk melepaskan diri, “Lepaskan aku!” setelah berpaling dia melihat bahwa yang memeluknya adalah Muhammad, dia berhenti meronta dan langsung “menyandarkan punggungnya pada dada Muhammad – doa2 dan berkah untuknya.”

Hadis ‘nyeleneh’ lainnya ada dalam Sunan Bayhaqi dan bisa dilacak hingga ke Hadis Sunan Abu Dawud (satu dari enam koleksi Hadis tersahih), yang menyatakan bahwa Muhammad mengangkat baju depannya bagi seorang pria yang mana pria itu langsung menciumi seluruh tubuhnya, “dari pusar hingga ke ketiak.”

Botros menatap kamera dengan muka yang ‘aneh’ sambil berkata, “bayangkan jika Sheikh Al Azhar (Persamaan paling dekat bagi para muslim untuk Sang Pausnya kaum Katolik) berkeliling mengangkat-angkat bajunya agar para pria bisa menciumi tubuh itu” (sang Father Botros lalu membuat bunyi-bunyian seperti ciuman, utk menambah efek perkataannya).

Sang Presenter berkata: “Pastinya masih ada yang lain lagi?”

Botros: “Tentu saja ada. Tidak kurang dari 20 buku Islam – seperti hadisnya Ahmad Bin Hanbal – menyatakan bahwa Muhammad suka mengisap lidah2 anak lelaki dan anak perempuan”…

Bersambung ke bagian II….

Bagian II

Botros lalu membacakan keras2 hadis2 tsb dari beberapa sumber, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira (orang yang dianggap paling diandalkan sebagai periwayat hadis), dimana Muhammad mengisap lidah dua anak Ali (calon Kalifah masa depan), Hasan dan Hussein.

Lalu dia membacakan sebuah hadis dimana Muhammad mengisap lidah anak perempuannya sendiri, Fatima. Father Botros juga menambahkan bahwa kata Arab utk ‘mengisap” (muss) tidak bisa, seperti yang disebutkan oleh para pembela islam, berarti lain selain dari ‘mengisap.’ Lagipula, tambahnya, “ini adalah kata yang persis dipakai ketika membicarakan ‘kegiatan’ Muhammad bersama istri-istrinya, khususnya dengan ‘istri bocah’ kesayangannya, Aisha.”

Dengan tampang yang sepertinya jijik, Botros berpaling pada kamera dan berkata: “Wahai para wanita, bayangkan sejenak, anda pulang kerumah lalu mendapatkan suamimu mengisap lidah anak perempuanmu? Apa yang akan kau lakukan? Lebih gila lagi: Nabimu sendiri – orang yang katanya “PALING BERMORAL SEDUNIA”, orang yang katanya, harus diikuti suri tauladannya oleh dunia! Orang yang ada tercatat dalam hadis, mengisapi lidah istri-istrinya, anak perempuannya, dan anak2 lelaki: Apakah kegiatan2 orang ini dijelaskan oleh Quran sebagai puncak dari KESEMPURNAAN MORAL?”

Presenter: “Lanjutkan!”

“Muhammad tidak akan tidur sebelum dia mencium anak perempuannya Fatima dan menggesekkan kepalanya pada dada sang anak (Father memberikan sumber2 sahihnya). Dear Lady! Kalian mau berkata apa jika suamimu tidur dengan muka didada anak perempuanmu? Apakah ini moral tinggi?!”

Lalu Father Botros, menunduk, dan meminta maaf berkali-kali, katanya: dia bisa membayangkan bagaimana semua ini pasti menyusahkan orang2 muslim, yang mana lalu sang presenter menenangkan dia: “bukan salahmu Father, tapi lebih dari kesalahan para muslim yang mencatat semua kejadian2 ini. Tapi bagaimanapun para muslim harus mengetahui ini. Silahkan lanjutkan.”

Botros melanjutkan membaca hadis2 selanjutnya, termasuk satu dari Musnad Ahmad bin Hanbal, yang mencatat bahwa Muhammad melihat anak perempuan berumur 2-3 tahun digendong ibunya. Muhammad begitu ‘tertarik’ oleh anak itu hingga berkata, “Demi Allah, jika anak ini mencapai umur cukup utk dinikahi dan aku masih hidup, aku pasti akan menikahi dia.”

Hadis lain mengatakan bahwa Muhammad ternyata telah meninggal sebelum anak perempuan yang disebutkan hadis diatas cukup umur, sang Father pada saat ini tak tahan utk tidak berkata (sambil bertampang sedih), “Awwwwww! Nabi yang malang! Lolos deh satu tuh!”

Botros lalu mengatakan pada pemirsa utk mengingat hadis terakhir itu, karena utk ‘konteksnya’ kemudian nanti, seraya dia membaca hadis lain dari Sunan Bin Said, yang mencatat bahwa Muhammad berkata “Kupeluk sianu dan sianu ketika dia (perempuan) masih anak-anak dan kurasakan aku sangat terangsang oleh anak itu.”
“Nabi apa yg kalian ikuti ini?!” Teriak pendeta Koptik ini. “Mana moralitasnya? Inikah manusia yang jadi tauladan muslim dg mati-matian? Pake otak!”

Hari sudah malam, tapi Fr. Botros belum selesai mengkatalogiskan temuan2nya mengenai kebiasaan menyimpang sang nabi (tayangan TV ini selama 1,5 jam).

Dia membaca sebuah hadis yang menyatakan bahwa Muhammad berbaring disebelah perempuan yang meninggal dikuburannya, juga menunjuk sebuah hadis yang menyatakan tentang “seks dengan mayat wanita,”, dll.

Saya matikan TV dan mulai membuat catatan yang lebih lengkap dari coretan2 saya ketika menonton tadi utk menyiapkan laporan ini

Bersambung ke bagian III

Bagian III

Pada episode ini, dia mulai dengan kecenderungan ‘banci’ sang nabi. Dia membaca dari beberapa hadis, termasuk Sahih Bukhari – Father Botros klaim bahwa ada tidak kurang dari 32 referensi berbeda mengenai fenomena ‘kebanci-bancian’ ini dalam buku2 islam – dimana Muhammad sering tidur diranjang memakai pakaian wanita, khususnya pakaian sang istri bocah, Aisha.

Father Botros: “mungkin para muslim pikir bahwa dia hanya memakai pakaian Aisha saja? Karena bocah perempuan itu ‘favorit’nya, mungkin setelah berhubungan intim dengannya, dia Cuma berbaring memakai pakaiannya?” (disini sang father menutupi mukanya dengan tangan, menandakan bahwa dia terpaksa menceritakan hal memalukan ini).

Lalu dia memberikan sebuah hadis yang menarik, dari Sahih Bukhari (2/911), yang mencatat bahwa Muhammad berkata, “Wahyu (Quran) tidak pernah datang padaku jika aku memakai pakaian wanita – kecuali pakaiannya Aisha.” Ini menandakan kebiasaan sang Nabi utk memakai pakaian wanita.

Father Botros lalu melanjutkan pada beberapa komentar dalam Tafsir al-Qurtubi – sebuah tafsir resmi dalam islam. Dia baca sebuah kisah dimana Aisha mengatakan bahwa, satu hari, ketika Muhammad telanjang di ranjang, Zaid mengetuk; Muhammad, tanpa memakai baju, membuka pindu dan ‘memeluk serta menciumnya’ – sambil telanjang. Ditempat lain lagi, Qurtubi menyimpulkan bahwa, ‘sang nabi pbuh – terus menerus disibukkan dengan wanita-wanita.

Father Botros berkata pada para muslim: “Jadi inikah nabi kalian – yg bermoral paling tinggi? Bukannya disibukkan dengan, misal doa atau perbuatan baik, dia malah disibukkan dengan wanita2?”

Lalu dia membaca dari Faid al-Qabir (3/371), dimana Muhammad tercatat berkata, “Kesukaanku terbesar adalah wanita dan parfum: rasa lapar terpuaskan dari makan dan minum – tapi bukan dari wanita.” Setelah membaca hadis ini, Father Botros Cuma menatap kamera tanpa berkata apa-apa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lalu dia membaca sebuah riwayat yg menarik (ada dalam Umdat al-Qari dan Faid al-Qabir). Diriwayatkan, Allah mengirim Jibril dengan semacam makanan surga (disebut al-kofid) pada Muhammad, lalu memerintahkan Muhammad utk “Makan!” – mirip ketika jibril mendatangi Muhammad dengan menyuruh “Baca!” (iqra, kata dari Quran). Riwayat ini terus mengutip perkataan Muhammad yang berkata bahwa makanan yg diberikan padanya “memberikan potensi seksual sama dengan 40 lelaki surga.” Father Botros lalu membaca dari sunan al-Tirmidhi, dimana dikatakan bahwa ‘lelaki surga’ itu punya potensi seks 100 lelaki dunia.

Sang Father bertanya-tanya: “Jadi, pake hitungan matematika, 40×100, kita bisa memastikan bahwa Muhammad, setiap memakan makanan perangsang ala surganya, punya kekuatan seks 4000 lelaki? Reaaaalllyy, O Ummat, inikah pengakuan nabi terkenal kalian – bahwa dia adalah seorang seks maniak?” Lalu, dengan becanda, “bayangkan kekagetan orang bule, bahwa Muhammadlah yang pertama-tama menemukan VIAGRA!”

Zakaria Botros melanjutkan membaca dari sumber2 lain lagi, seperti Sunan al-Nisa’I, dimana Muhammad dalam satu malam suka ‘mengunjungi’ semua wanita2nya, tanpa membasuh diri. Sang Father bertanya: “Ngapain lagi mencatat hal2 yang menjijikan dan memalukan seperti ini?”

Mungkin yg paling menarik, Father Botros menganalisa sebuah riwayat yg dicatat dalam karya Ibn Kathir, al-Bidaya we al-Nihaya. Berikut adalah terjemahan dari riwayat yg panjang tsb:

Setelah menaklukan yahudi Khaybar dan menjarah harta mereka, diantaranya ada sebuah keledai yang menjadi harta jarahan jatah sang nabi, sang nabi lalu bertanya pada sang keledai: “Siapa namamu?”

Sang Keledai menjawab, “Yazid Ibn Shihab. Allah telah membuatku dari 60 keturunan keledai, keledai2 yang hanya dikendarai oleh nabi2 saja. Tak satupun yang tersisa dari keturunan2 itu kecuali aku, dan tak seorangpun nabi tersisa kecuali anda dan aku harapkan anda mengendaraiku. Sebelum anda, aku adalah milik orang yahudi, yang kujatuhkan sebegitu seringnya hingga dia suka menendang perut dan memukul punggungku.”

Sampai disini, sang Father yang menahan ketawanya menambahkan, “seekor keledai ahli taqiya!” dia melanjutkan membaca, “Sang Nabi –mpbuh – berkata padanya, ‘Aku akan memanggilmu Ya’foor. O Ya’foor!’ Ya’foor menjawab, ‘Aku patuh.’ Sang Nabi bertanya, ‘Apa kau birahi pada betina?” Sang Keledai menjawab, ‘No!”

Sang Father berkata: “Bahkan keledai sekalipun merasa malu ditanya tentang seks oleh sang Nabi kelebihan seks ini! Disini ‘harusnya’ adalah sebuah mukjijat – keledai yg bisa bicara; dan dari semua benda yang berkomunikasi dengan binatang ini, pertanyaan yang paling penting yg ditanyakan nabimu adalah apakah sang keledai birahi pada betina?”

Berikut, membaca dari Sahih Bukhari (5/2012), Father Botros menceritakan sebuah riwayat dimana Muhammad mendatangi rumah seorang wanita muda bernama Umaima Bint Nua’m dan memerintahkan wanita itu utk “berikan tubuhmu padaku!” sang wanita menjawab, “mungkinkah seorang ratu memberikan dirinya pada rakyat jelata?” sambil mengangkat tangannya, Muhammad mengancam dia, dan mengirim dia pada orang tuanya.

Zakaria Botros: “You see, teman2, bahkan zaman dulu seklipun, yg katanya jaman kegelapan, masih ada orang yg berpinsip, yang tidak menyerah pada ancaman dan paksaan. Tapi, pertanyaan yg sebenarnya adalah, kenapa Muhammad menentang perintah dari Qurannya sendiri – “perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi” (33.50) – mencoba memaksa wanita muda ini?”

Terakhir, dengan tampang jijik, sang Father membaca dari sebuah hadis al-Siyuti (6.395), dimana Muhammad menyatakan bahwa, “Di surga, Maria ibunya Yesus, akan menjadi salah satu istriku.”

“Please, O Nabi,” kata sang Pendeta Koptik Ortodoks, “jangan bawa-bawa orang2 suci kami kedalam praktek2 menjijikanmu…”

Bersambung …

Tunggu sambungannya……bagaimana Muhammad memuaskan dirinya, ketika para wanitanya sedang berhalangan….


by pod-rock » Tue Apr 28, 2009 6:38 am

Bagian IV

Sekali lagi, pada awal acara, Father Botros membaca hadis terkenal Ibn Taymiyya mengenai bagaimana caranya membedakan nabi sejati dan palsu. Taymiyya menyatakan bahwa banyak nabi palsu, seperti Musailima “si Pembohong,” bahwa banyak dari mereka yang mengaku nabi, tapi sebenarnya hanya ‘kerasukan’, dan bahwa satu-satunya cara utk menentukan keaslian nabi adalah dengan mempelajari biografinya (sira) dan perbuatan2 baiknya, dan cermatilah apakah dia pantas utk diberi gelar nabi.

Setelah membaca riwayat yg panjang ini, Father Botros nyeletuk “Bagus,Ibn Taymiyya! Setidaknya kau tahu itu.”

Para pemirsa seperti biasa diberi peringatan : “Episode ini untuk orang dewasa! Saya akan mendiskusikan banyak hal yang akan membuat saya sendiri malu, jadi, please! Wanita dan anak2 dipersilahkan keluar.”

Lalu dia meminta para muslim yg menonton utk terus bertanya dalam hati “Inikah nabi yang kuikuti? Camkan ini dalam benakmu, O para Muslim!”

Father Botros meratap, betapa selama 1400 tahun penghalang2 telah dibentuk utk melindungi Muhammad sehingga tak seorangpun – baik muslim maupun kafir – bisa mengkritik kehidupannya: “Tapi waktunya telah tiba, teman; penghalang itu telah hancur!”

Berikut dia membacakan tiga episode mengenai kebiasaan seks menyimpang Muhammad – termasuk mengisap lidah2 anak lelaki dan perempuan, menciumi dada anaknya Fatima, ‘birahi’ pada bocah perempuan umur 2-3 tahun, berbaring bersama dengan mayat wanita, kecenderungan homoseksual, menerima wahyu2 ketika memakai pakaian wanita, seks dengan sembilan orang wanita tanpa mencuci anunya (dan malah berbangga diri karenanya), menyalami orang lain sambil telanjang, dan mengaku melakukan seks dengan Maria ibunya Yesus di surga. (utk yang terakhir ini, sang pendeta dengan wajah jijik berkata “Come on, Guy! Get Real!.”)

Dia memulai episode ini dengan mengatakan bahwa tidak kurang dari 34 buku islam, termasuk Tafsir al-Qurtubi dan Sahih Muslim mencatat bahwa Muhammad suka ‘meraba-raba” – Wajah sang Father menampakkan wajah marah – “mencium” dan “melakukan seks” ketika berpuasa (dibulan puasa), meski dia melarang orang lain melakukan hal yg sama.”

Kata sang presenter: “menarik. Tapi kita tahu bahwa sang Nabi punya dispensasi khusus: Punya yang lebih jelas lagi ngga?”

Father Botros: “Fine. Gimana kalu ini: Sang nabi suka mengunjungi (berseks ria) dengan wanita2nya ketika mereka menstruasi – so sorri utk topik menjijikan ini! Maaf! Maaf! Dan sekali lagi maaf para pemirsa!”

Lalu dia menunjukkan masalah utama dalam hal ini adalah bahwa dalam Quran (2:222) – “Dari mulut muhammad sendiri,” dia – melarang muslim mendekati wanita mens.

([2.222] Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.)

Lalu dia mengutip dari sejumlah Hadis yang memastikan bahwa Muhammad bebas berseks ria dengan wanita yg mens, termasuk dari Sahih Bukhari (v5, hal 350), yang berkata bahwa Jika Muhammad mengingini (birahi) pada wanita mens, dia menaruh kain disekeliling wanita itu dan melakukan seks dengannya, disini sang Father berteriak:

“Come on man!!! Apa ngga bisa lu cari seorang dari 66 orang wanita itu? Apa mesti pake yang lagi mens????”

Lalu, dengan tampang serius ke kamera: “Tapi serius nih, para pemirsa: malukah anda dengan semua hal ini? Saya sih malu – membacakannya saja. Dan ini adalah ‘NABIMU” – orang yang harus menjadi SURI TAULADAN!”

Lalu dia membaca dari sebuah hadis, diriwayatkan oleh Aisha, dan ditempatkan pada enam buku hadis utama, dimana sang istri bocah ini menceritakan bagaimana, ketika dia mens, jika sang nabi ‘menginginkan dia,’ sang nabi suka ‘memerintahkan’ dia utk seks dengannya.

Disini sang Father berkata – “MEMERINTAHKAN! INI PERKOSAAN NAMANYA! Manusia seperti apa yang kalian ikuti ini?”

Dia baca dari sejumlah hadis lain, semuanya menunjukkan kecenderungan seks Muhammad terhadap wanita yang sedang mens – yang oleh Quran dilarang – dan sang Father menambahkan, “Teman2, jika ini caranya ‘NABI TUHAN” bertingkah laku, lalu bagaimana kira-kira tingkah laku manusia biasa??”

Sang presenter bertanya: “Well, bisa ngga manusia biasa lain bertingkah seperti ini?”

Father Botros: “Pasti, sang nabi selalu bermurah hati pada para pengikutnya, selalu memberi mereka jalan keluar. Menurut delapan buku Hadis, Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Muhammad berkata jika seorang lelaki tidak tahan lagi dan berseks dengan istrinya yg mens, cukup membayar SATU DINAR sebagai tanda pertobatan; jika dia melakukan seks dengan istrinya ketika istrinya berada diakhir masa mensnya, ketika darahnya tidak begitu banyak lagi, dia cukup membayar SETENGAH DINAR, dapat DISKON!! Dia mengatakan diskon dalam bahasa inggris, dan lalu sang Father tertawa.

Sang presenter: “karena Muhammad punya banyak wanita, kenapa dia pingin seks dengan yang sedang mens?”

Father Botros: “Ahhhh. Anda pintar sekali meraba situasi. Alasannya sederhana, teman, yaitu bahwa Muhammad suka baunya, dia suka mencium baunya” – disini dia lalu menggerak-gerakkan hidung dan berbunyi seperti orang mencium bau – ‘bau darah menstruasi’.” Lalu dia mengutip dari al-Siyuti, dimana Aisha meriwayatkan bahwa Muhammad berkata padanya “Kesinilah,” yg dijawabnya, “Tapi aku lagi mens, O Rasulallah!.” Sang Rasul Berkata “Buka pahamu”; dia melakukannya dan “dia lalu menempelkan pipi dan dadanya dipahaku.”

Father Botros: “Help me People! Gimana bisa tingkah laku menyimpang seperti ini muncul dari seorang nabi – yang menjadi SURI TAULADAN?”

Dia membaca sebuah Hadis Sahih Bukhari (v.6, hal 2744), diriwayatkan oleh Aisha dimana aisha berkata bahwa, ketika mens, sang nabi biasa menempelkan kepalanya dipaha dia dan melantunkan Quran.

Fr. Botros: “SAMBIL MEMBACA QURAN!!!!”

Lalu dia baca dari Ahkam al-Koran (V.3, hal 444) dimana seorang wanita menyatakan bahwa dia biasa mengambil air dari sebuah sumur yang bukan saja tercemar darah menstruasi, tapi juga daging anjing mati dan segala macam kotoran2, dan diberikan pada Muhammad utk diminumnya.

Fr. Botros: “Lalu untuk apa ayat Q2.222?! Kalau “Nabi penutup” saja bisa meminum air najis seperti itu?”

Lalu, sambil menundukkan kepalanya dg mata agak terpejam dia berkata: “O Muhammad, Muhammad, Muhammad…..”

Bersambung ke bagian V, Pengkhianatan seks Muhammad atas istri-istrinya…… dan omongan2 joroknya


by pod-rock » Mon May 04, 2009 6:30 am

Bagian V

Ini adalah kelanjutan dari penelaahan Father Zakaria Botros tentang Moralitas Seksual Muhammad.

Link sumber aslinya:
Part I
Part II
Part III
Part IV

Terakhir sang pendeta Koptik tengah mendiskusikan kegemaran Sang Nabi dengan wanita yg sedang mens – meski Quran sendiri (sang Father menyebutnya “Perkataan Muhammad sendiri”) melarang lelaki mendekati wanita mens.

Father ZB sekarang mendiskusikan ketidak-setiaan Muhammad terhadap istri-istrinya (Padahal dengan menyebut istri2 bukannya satu istri saja sudah pertanda akan ketidak setiaan sang nabi ini), kelakuannya yang mengeksploitasi seks, dan kesukaannya berbicara jorok.

Pertama-tama, FZB menghabiskan cukup banyak waktu utk menceritakan kisah yang terkenal, dimana sang Nabi mengkhianati istrinya Hafsa untuk seorang Budak Wanita (Sayangnya saya tidak bisa mengungkapkan bagaimana ‘ramai’nya FZB dan bagaimana dengan gaya ‘ramai’ pula sang Father ini menceritakan kisah tsb).

Pendeknya, setelah mengirim Hafsa utk mengunjungi ayahnya, Hafsa ditengah jalan sadar bahwa malam itu adalah ‘malam gilirannya’ – Waktu dia segera kembali (FZB menambahkan “Hafsa kenal baik Muhammad; jika dia tidak hadir dirumah saat malam gilirannya, sang Nabi akan gila birahi dan mungkin akan menerkam wanita pertama yang lewat depan rumahnya!”).

Terbukti, Hafsa memergoki Muhammad sedang diranjang dengan budak wanitanya. Muhammad ‘cabut’ dan mengusir budak wanita itu dan bilang pada Hafsa bahwa jika Hafsa tidak bilang siapa-siapa, dia tidak akan lagi menyentuh budak wanita itu.

Sial: Hafsa nyanyi dan segera semua istri2 Muhammad demo akan keliaran birahi sang nabi; seperti kata FZB, “Ketika kondisi menjadi sangat kritis, Muhammad segera memutuskan utk ‘menurunkan’ wahyu baru pada mereka; jadi dia mengeluarkan surah Al-Tahrim (66.1-11) pada mereka, dimana katanya Allah menghukum Muhammad karena mencoba menyenangkan istri2nya dengan berjanji tidak akan serong lagi, dan Allah mengancam istri2 sang Nabi agar menurut kalau tidak sang nabi akan menceraikan mereka – tentunya, untuk ini mereka semua akan masuk neraka.”

([66.1] Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[66.2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[66.3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
[66.4] Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
[66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
[66.6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[66.7] Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.
[66.8] Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
[66.9] Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
[66.10] Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.
[66.11] Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”)

Lalu, FZB menatap kamera dan bertanya, “bayangkan, wahai kaum perempuan, jika suamimu menipu kamu agar keluar rumah dan ketika kamu kembali sebelum waktunya menemukan suamimu menindih wanita lain? Lelaki bagaimana suami seperti itu dimatamu? Ini lebih parah lagi – SEORANG NABI, yang kalian semua anggap MANUSIA PALING SEMPURNA, SURI TAULADAN SEPENUHNYA!!

Lalu dia menunjukkan bahwa “Bocah Aisha yg pintar kenal baik Muhammad”: ketika ‘wahyu2’ demikian turun menyelamatkan Muhammad, Aisha yg pintar sering mengamati dan berkata bahwa “Sungguh, Allahmu cepat sekali memenuhi kehendak dan birahimu” (al-Siyuti v6, hal 629)

Berikut, sang Father menceritakan sebuah kisah yg menggambarkan bagaimana sang Nabi mengeksplotasi secara seksual seorang ‘wanita idiot/retard’. Menurut 23 sumber buku islam (salah satunya Sahih Muslim vol.4, hal 1812) seorang wanita yg lemah pikiran menemui Muhammad dan berkata, “O Rasulallah! Aku punya sesuatu utkmu.” Sang Nabi secara sembunyi2 bertemu wanita itu dibelakang dan mengambil ‘sesuatu’ itu darinya.

Father Botros berkata: “Saya takut akan banyak muslim melakukan Sunnah Nabi berikut ini – JANGAN, ini hanya utk menggambarkan saja… Dengarkan kalian para muslim: jangan membenci saya karena saya mengungkapkan semua ini padamu; jangan menunggu disatu tempat utk membunuh saya. Saya Cuma membacakan buku2 islam kalian. Dan, seperti biasanya, kami dengan sabar menunggu para Sheikh dan Ulama2 besar utk menjawab isu2 ini dan menunjukkan pada kami apa yang salah.”

Lalu, FZB menceritakan bagaimana Muhammad suka bicara kotor – “SURI TAULADAN DALAM BICARA JOROK” – “Sorry, SO SORRY karena mengungkapkan pada anda sekalian bagaimana bahasa yang dipakai Muhammad itu – bahasa yang saya sendiri tidak berani mengucapkannya. Malah, nabi kalian mengatakan kata arab yg jorok – yg setara dengan ‘f-word’ (f#ck)” [Disini dia menyebutkan f-word, dan menganjurkan para pemirsa arabnya utk meng-google ‘f-word’ utk mengerti apa yang dia maksudkan.

FZB menolak mengucapkan atau mengeja kata2 jorok berikut, (dia meminta editor TV utk menampilkan dibawah layar dengan sensor huruf2 tertentu. Kata2 yang muncul dalam 67 buah buku Islam, termasuk Sahih Bukhari, riwayat yang berisi kata “inkatha’ – atau dalam konteksnya, Muhammad bertanya pada seorang pria mengenai seorang wanita, apakah dia sudah ‘f****** her” – (tulisan f****** her muncul dilayar)

Lalu FZB berteriak! “Cepat! Hapus tulisan itu! Utk kalian para muslim, apa yang akan kalian lakukan jika seorang Ulama Al-Azhar kemana-mana berkata memakai kata jorok tsb? Ini lebih parah lagi – NABIMU SENDIRI, CIPTAAN PALING SEMPURNA.”

Sang presenter bertanya apakah Muhammad mengatakan kata jorok lainnya, sang FZB langsung menjawab, “Oh boy, did he ever; sayangnya program ini terlalu pendek utk menyebutkan semuanya.”

Menurut Qaid al-Qadir (v.1, hal.381), Muhammad memerintahkan para muslim utk membalas pada kafir2 yg sombong dengan perkataan yang – lagi-lagi FZB tidak mengucapkannya, tapi muncul tulisan pada layar – “Go bite on your mother’s clitoris!” atau menurut Zad al-Mi’ad (v.3 hal 305), “Go bite on your dad’s penis!

Lalu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya FZB berkata penuh kecewa “O rasulallah …. Rasulallah… kalau saja kau mendengar perkataan Yesus : “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." (Lukas 6:45)


by Adadeh » Tue May 05, 2009 4:29 am

Kata2 kotor yang diucapkan Muhammad dan para Sahabatnya:

Abu Bakar adalah sahabat terkarib Muhammad; dia nantinya jadi Kalifah pertama Islam. Kejadian berikut terjadi ketika Muhammad bersama 10.000 tentaranya berkumpul di luar Mekah dan siap menaklukan kota itu. Urwa Ibn Masoud yang adalah salahsatu ketua suku Quraish (suku asal Muhammad), pergi menghadap Muhammad di luar Mekah untuk membujuknya agar tidak menyerang kota dan suku asalnya sendiri. Urwa berbicara untuk mengingatkan Muhammad bahwa Muhammad sendiri merupakan bagian masyarakat Quraish, sedangkan para pengikutnya (Muslim) sendiri kadang2 meninggalkannya. Abu Bakr mendengar hal ini dan tidak suka. Dia berkata pada Uwa, “Kami meninggalkan dia? Pergi dan hisap klitoris Al-Lat” (dewi bangsa Quraish).
[Sumber: The Sira Alnabawya by Ibn Hisham, Almaghazi by AlWakidi]

Uthman Ibn Affan, Kalifah ketiga, suatu kali berkata pada Ammar Ibn Yasser, “Kaulah orang yang suka menggigit penis ayah sendiri”
[Sumber: Ansab Al-Ashraf by Al Balathri, Attabakat Alkubra by Ibn S’ad]

Ibn Masoud mendengar orang mencari sesuatu di dalam mesjid, dia meneriaki orang itu dengan kata2 kotor, orang lain menegur Ibn Masoud yang mengucapkan kata2 kotor itu, dan Ibn Masoud menjawab:
“Kami diperintah (oleh Muhammad) untuk melakukan itu!”
[Sumber: Reported by Al Albani from Sahih Ibn Khuzayma]

Seorang pria bernama Ajrad Al Tamimi bertengkar dengan Ubayy Ibn Ka’ab, Ajrad berkata (dengan pongah) ‘Wahai suku Tamim’, Ubayy menjawabnya semoga Allah menggigit penis ayahmu. Orang2 berkata pada Ubayy, ‘kami tidak tahu kau begitu kasar’ dia berkata ‘sang nabi sendiri yang menyuruh kami berkata seperti itu, tiada kata lain, pada orang2 yang berkelakuan seperti orang2 Jahiliyah.”
[Dilaporkan oleh Ibn Asaker in History of Damascus]

Sahih Al-Bukhari, number 6324( in the Arabic book)
When Ma’ez came to the prophet pbuh, he (the prophet) asked him ‘ perhaps you kissed or touched or looked at her.’ He (Ma’ez) said ‘no, messenger of Allah’. He (the prophet) said ‘ aniktaha?‘ (Did you f*** her) and used no other word, he (Ma’ez) said yes, he (the prophet) said ‘until that from you disappeared inside that from her?’ He (Ma’ez) said yes, and then he ordered him to be stoned (to death).
terjemahan:
Saat Maex datang menghadap sang Nabi, dia (sang Nabi) bertanya padanya, ‘Mungkin kau mencium atau menyentuh atau memandangnya.’ Ma’ez menjawab, ‘Tidak, Rasul Allâh.’ Dia (sang Nabi) bertanya, ‘aniktaha?’ (أنكتها → apakah kau n g e n t o t dengannya?) dan tidak menggunakan kata lain. Dia (Ma’ez) menjawab, ‘Iya.’ Dia (sang Nabi) berkata, ‘Sampai alatmu hilang masuk ke dalam alat wanita itu?’ Dia (Ma’ez) menjawab, ‘Ya.’ Lalu sang Nabi memerintahkan agar Ma’ez dirajam sampai mati.

Suka ngomong jorox, suka membaui aroma darah datang bulan sambil baca Qur’an, suka minum air comberan, suka pake baju istri agar menerima wahyu illahi, suka menjilati ketek Muslim, suka tidur sama mayat, suka ngeseks sama istri yang lagi datang bulan, dll. Hmmm… komplet dah kexintingan sang Nabi Islam. Pantesan umatnya pun seringkali kehilangan akal sehat dalam membela kexintingan Muhammad dan Islam.


by Adadeh » Sat May 16, 2009 9:37 am

pod-rock wrote:Lalu dia baca dari Ahkam al-Koran (V.3, hal 444) dimana seorang wanita menyatakan bahwa dia biasa mengambil air dari sebuah sumur yang bukan saja tercemar darah menstruasi, tapi juga daging anjing mati dan segala macam kotoran2, dan diberikan pada Muhammad utk diminumnya.

Fr. Botros: “Lalu untuk apa ayat Q2.222?! Kalau “Nabi penutup” saja bisa meminum air najis seperti itu?”

Ini benar tercantum dalam hadis sahih:
Sunaan Abu Dawud, Buku 1, Nomer 0067:
Dikisahkan oleh Abu Sa’id al-Khudri:
Aku mendengar bahwa orang2 bertanya pada Rasul Allah (semoga damai menyertainya): Air yang dibawa padamu berasal dari sumur Buda’ah. Itu adalah sumur di mana bangkai2 anjing, baju2 bekas datang bulan, dan tinja manusia dibuang. Sang Rasul Allah (semoga damai menyertainya) menjawab: Sudah jelas air ini murni dan tidak cemar oleh apapun.

Juga yang ini tak kalah joroknya:
Sahih Bukhari, Volume 1, Buku 5, Nomer 260:
Dikisahkan oleh Maimuna:
Sang Nabi melakukan mandi Janaba (setelah berhubungan seks atau mimpi basah). Pertama-tama dia membersihkan kemaluannya dengan tangannya, dan lalu menggosokkan tangan itu ke tembok dan mencucinya. Lalu dia melakukan wudhu dengan cara yang sama untuk sholat, dan setelah mandi dia lalu membersihkan kakinya.

Spermanya dileletin gitu aja ke tembok!! Hiiiyyy…. ajegile…

Ini contoh2 lain ahadis tentang kesehatan Islam:
* Jika kau tutupi kaki2mu dengan debu demi Allah, maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka … (Sahih Bukhari, 2.13.30)
* Jika kau mimpi buruk, maka ludahilah kakimu dan berlindunglah pada Allah
* Dua orang memakai tusuk gigi yang sama … (Sahih Bukhari, 9.87.133)
* Jika kau menyentuh bangkai, tak perlu kau cuci tanganmu … (Sunaan Abu Dawud, 1.0186)
* Kau boleh memakai air tercemar untuk wudhu … (Sunaan Abu Dawud, 1.0066)

Keringat Muhammad adalah Parfum

Ash Shifa (hal. 35) menyatakan bahwa para wanita mengumpulkan keringat Muhammad karena keringatnya seharum parfum. Ash Shifa melanjutkan:
Sang Rasul Allah tidur di atas permadani di rumah Anas dan dia berkeringat. Ibu Anas membawa botol berleher panjang untuk menampung keringatnya. Rasul Allah menanyakan padanya tentang hal ini, dan dia menjawab, “Kami masukkan keringat itu ke dalam parfum kami dan itu jadi parfum yang terharum.”
Hahaha… minyak wangi campur keringat nabi. Gak sekalian campur pipis dan pupnya sekalian tuh? Tanggung nih.

Apakah Allâh SWT adalah Tuhan atau Setan?

by Adadeh » Sat Nov 21, 2009 2:36 am

Thanks to netter berani_murtad:

1.Dalam Penyesatan

Sifat Iblis:

Qs4:60

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya

Qs4:119

dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

QS 38:82.

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya

Sifat Allâh SWT:

Qs43:36

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Qs13:33

Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.

QS 47:1

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka

QS 40:74

(yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu.” Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.

QS 40:34

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.

QS 35:8

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

2.Dalam Permusuhan dan Kebencian

Sifat Setan:

Qs17:53

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Qs5:91

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Sifat Allâh SWT

Qs5:14

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.

Qs5:64

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

3.Dalam Penipuan

Sifat Setan:

Qs4:120

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

QS 7:22

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

QS 7:27

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

QS 4:76

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Sifat Allâh SWT:
QS 8:30

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah Pembuat Tipu Daya yang Paling Lihai.

QS 3:54

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah adalah pembuat tipu daya yang paling lihai.

4.Dalam Kemaksiatan

Sifat Setan:

Qs15:39

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

sifat Allah SWT:
Qs19:83

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?,

5.Dalam Perceraian

Sifat Setan:
Qs2:102

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Sifat Allâh SWT:

Qs65:1

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.

Qs66:5

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

setelah anda tau sifat setan dan sifat Allah SWT adalah sama. lalu siapakah yang menjadikan setan itu untuk berdosa? sementara perintah untuk membuat dosa adalah dibuat oleh Allah SWT. dan Aulohlah yang menciptakan setan dengan sengaja agar berbuat jahat.
mari kita lihat ayatnya:

Qs43:36

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Allah SWT yang mengadakan setan yang menyesatkan.

Qs2:30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Allah SWT yang menjadikan orang di bumi yang akan membuat kerusakan dan pembunuhan. jadi mereka yang melakukan hal kerusakan dan pembunuhan adalah rancangan dari auloh.

QS6:123

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

yang menciptakan penjahat untuk melakukan tipu daya seperti setan adalah auloh sendiri. dia sendiri yang merencanakan penjahat ini untuk berada di dunia.

QS2:253

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.

Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
dari poin di atas, jelas auloh memang menghendaki manusia berbunuh-bunuhan. Qs25:31
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.
yang mengadakan orang-orang berdosa adalah auloh sendiri. para pendosa ini memang sudah dirancang oleh auloh untuk menjadi musuh para nabi.

Qs6:112

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

aulohlah yang menjadikan setan manusia dan setan jin untuk menjadi musuh nabi. sekali lagi ini adalah rancangan auloh untuk mengadakan setan yang disengaja agar menjadi musuh para nabi.

%d bloggers like this: