Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Tag Archives: aljabar

Einstein dan Agama Islam

Eistein beragama Islam

Mullah Iran mengatakan bahwa Einstein berpaling pada Islam dan menjadi pemeluk Islam Syiah

.

Dalam sebuah debat dengan seorang mullah terpelajar dari Iran, penentang saya mengutip sebuah pernyataan yang ia klaim berasal dari Albert Einstein.

“Quran bukanlah sebuah buku Aljabar atau geometri, melainkan sebuah kumpulan aturan-aturan yang membimbing manusia kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang bahkan para filsuf sekalipun tidak sanggup untuk menolaknya.”

Saya melakukan sebuah pencarian dan menemukan bahwa pernyataan di atas dikutip di banyak situs-situs Islam. Namun demikian, pernyataan itu secara menyesatkan dikaitkan dengan Einstein. Padahal pandangan Einstein tentang Tuhan dan agama secara radikal bertentangan dengan Islam. Di bagian berikut ini, ia menjelaskan keyakinannya:

“Kapasitas untuk memahami misteri kehidupan,  meskipun dibarengi oleh ketakutan, juga telah menjadi sebab bangkitnya agama. Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak dapat menembus diri kita benar-benar eksis, yang memanifestasikan dirinya sebagai hikmat tertinggi dan keindahan yang bersinar, dimana para pengajar kita yang kurang memiliki ketertarikan hanya bisa memahaminya dalam bentuknya yang paling primitif – pengetahuan ini, perasaan ini, ada di pusat religiositas yang benar, dan hanya pada perasaan ini saja aku menjadi bagian dari orang-orang religius yang saleh. Aku tidak bisa membayangkan satu sosok Tuhan yang memberikan upah dan menghukum obyek-obyek yang Ia sendiri ciptakan, yang mana tujuan-tujuan mereka adalah untuk menjadi model dari apa yang mereka miliki – satu sosok Tuhan yang hanya merupakan refleksi dari kelemahan manusia. Aku pun tidak bisa mempercayai bahwa ada individu yang bisa menyelamatkan tubuhnya yang mati, meskipun jiwa-jiwa yang telah kehilangan kekuatannya mempunyai pemikiran seperti itu melalui ketakutan atas kebodohan yang menyerap diri mereka sendiri”

Di sini jelas bahwa Einstein tidak mempercayai satu sosok Tuhan yang personal, yang memberikan upah dan menjatuhkan hukuman, seperti ia sendiri pun tidak mempercayai hidup sesudah mati. Konsep-konsep ini adalah hal yang fundamental bagi Islam. Tanpa satu sosok Tuhan yang personal, dan tanpa Hari Penghakiman, maka sebuah firdaus yang penuh dengan hawa nafsu dan sebuah neraka Islam yang penuh dengan siksaan, menjadi tidak berarti.

Secara keseluruhan, Islam didasarkan pada ketakutan. Tak ada kata yang lebih sering diulang dalam Quran daripada kata “neraka” dan “Hari Penghakiman”. Saya telah berdebat dengan ribuan orang-orang Muslim, banyak dari mereka yang sangat terdidik, tetapi banyak juga yang tidak. Nada dari perdebatan-perdebatan ini selalu tentang penghukuman Tuhan yang tengah menanti saya. Ketakutan inilah yang telah melumpuhkan orang-orang Muslim dan menyebabkan mereka hidup tanpa harapan. Selama ketakutan ini tetap ada, mereka tidak akan pernah bisa meragukan Islam dan tidak akan sanggup membebaskan diri mereka sendiri dari cengkeramannya.

Einstein percaya bahwa agama adalah produk dari kebodohan dan ketakutan. Komentar-komentar mengenai Islam secara menyesatkan dikaitkan dengan dirinya. Tetapi hal itu sama sekali tidak mengejutkanku. Hampir semua hal yang dikatakan oleh orang-orang Muslim adalah kebohongan. Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa seseorang tidak dapat menemukan satu pun kebenaran di dalam agama ini.

Gustav Le Bon

Hal yang mengejutkan saya adalah bahwa Mullah yang berpengetahuan luas ini, dalam pesan yang ia sampaikan sebelumnya pada saya, telah memposkan sebuah daftar panjang dari semua kutipan yang berasal dari beberapa orang anti-Semit seperti Gustav Le Bon dan lainnya; yang melukiskan bahwa orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang paling jahat dan licik dari semua bangsa yang ada dalam dunia, dan dengan demikian men-dehumanismereka dan menyebut mereka sebagai keturunan Setan. Teori-teori Le Bon mengenai ras dan manusia sangat mempengaruhi Hitler dalam tulisannya Mein Kampf, dan disebutkan bahwa Mussolini menyimpan buku Le Bon di samping tempat tidurnya.

Orang yang terdidik ini percaya bahwa Allah telah merubah orang-orang Yahudi menjadi babi-babi dan monyet-monyet. Sungguh menakjubkan melihat apa yang telah dilakukan oleh Islam kepada otak manusia. Dan ketika aku telah membuktikan bahwa dia itu salah, mengingatkannya akan begitu banyak hal-hal besar yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi bagi umat manusia, maka ia berkata, “aha! Sekarang kami tahu bahwa engkau adalah seorang Yahudi.” Meskipun demikian, dari semua orang, ia memilih Albert Eistein, seorang Yahudi, dan secara menyesatkan mengkaitkan kata-kata pujian terhadap Islam itu kepadanya.

Jika Einstein secara rasial inferior, sebagaimana yang dikatakan oleh Le Bon, dan juga sebagaimana yang dikatakan oleh Quran, mengapa mengutipnya? Jika sebagai seorang Yahudi, dia itu sama sekali tidak ada harganya, mengapa pandangannya mengenai Islam dianggap sebagai hal yang penting? Kebodohan pemikiran orang-orang Muslim tak pernah berhenti membuatku takjub.

Untuk bisa sepenuhnya memahami pemikiran delusional dari orang-orang Muslim ini, saya ingin menginformasikan pada para pembaca bahwa para mullah di Iran mengklaim bahwa Einstein telah menjadi pemeluk Islam Syiah. Pemerintah yang mengontrol situsSobheSadegh.ir mengatakan bahwa menurut seorang ulama yang tidak diketahui namanya, dan yang telah menyampaikan sebuah kotbah di sebuah mesjid di Teheran, ahli fisika nuklir Albert Einstein, dikatakan (tanpa bukti) telah menjadi seorang pemeluk Islam Syiah melalui usaha yang dilakukan oleh Ayatollah Agung Boroujerdi, yang juga telah mendesak Einstein untuk merahasiakan perpalingannya pada Islam, supaya ia tidak dibunuh.

Namun demikian, jauh dari berpaling menjadi seorang pemeluk Islam atau memuji agama ini, sebagai seorang Yahudi, Einstein memiliki pandangan yang berbeda mengenai Yesus. Di bawah ini adalah sebuah klip wawancara dari the Saturday Evening Post, October 26, 1929:

T: “Sejauh mana engkau dipengaruhi oleh Kekristenan?”

Sebagai seorang anak, aku menerima instruksi baik dari Alkitab dan juga dari Talmud. Aku adalah seorang Yahudi, tetapi aku pun adalah seorang yang sangat tertarik dengan figur yang penuh kemuliaan dari orang Nazareth itu (Yesus).

T : Apakah kau sudah membaca buku Emil Ludwig mengenai Yesus?

Buku Emil Ludwig mengenai Yesus kurang dalam. Yesus terlalu kolosal bagi pena seorang penulis buku. Tak ada seorang pun yang bisa menghilangkan Kekristenan dengan sebuah kata-kata yang indah.

T: Apakah engkau menerima eksistensi Yesus sebagai sebuah peristiwa yang historis?

Itu tidak perlu lagi dipertanyakan! Tak seorang pun dapat membaca Injil tanpa merasakan kehadiran Yesus yang sebenarnya. PersonalitasNya menyebar di setiap kata. Tak ada kisah mitos yang bisa diisi dengan kehidupan seperti itu.”

T: “Ludwig Lewisohn, dalam salah satu bukunya yang terakhir, mengklaim bahwa banyak dari ucapan-ucapan Yesus merupakan pengulangan dari apa yang pernah dikatakan oleh nabi-nabi lainnya.”

Jawab Einstein,”Tak seorang pun bisa menyangkali fakta bahwa Yesus benar-benar eksis, juga tak ada yang dapat membantah bahwa ajaran-ajarannya itu indah. Bahkan meskipun beberapa dari yang Ia ajarkan itu sebelumnya sudah pernah disampaikan oleh orang lain, tak seorang pun yang pernah mengekspresikannya sedemikian ber-otoritas Ilahi sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus.”

Situs-situs Islam ini memposkan beberapa kutipan dari orang-orang terkenal seperti Napoleon Bonaparte, Gandhi, Leo Tolstoy, Bernard Shaw, dan orang-orang lainnya yang memuji Islam. Mengutip pendapat orang-orang terkenal sebagai bukti akan kebenaran sebuah agama adalah sebuah kekeliruan yang logis. Bahkan orang-orang terkenal pun bisa salah, tetapi fakta bahwa tak ada dari orang-orang ini yang merupakan sarjana Islam atau telah membaca kitab suci Muslim atau sejarahnya, menyebabkan pendapat mereka tentang Islam menjadi tak ada nilainya.

Hitler pun memuji-muji Islam. Pendapat Hitler-lah satu-satunya yang perlu kita pertimbangkan secara serius, sebab Hitler memahami Islam dengan sangat baik. Masihkah orang-orang tetap memuji Islam setelah mereka tahu bahwa Muhammad itu adalah seorang perampok, pembunuh massal, pemerkosa dan orang yang mempromosikan perbudakan? Fakta-fakta ini baru menjadi perhatian publik sejak satu dekade yang lalu. Saat aku mulai menulis mengenai hal ini, tak ada yang mempercayaiku. Aku kedengaran bagi mereka seperti seorang gila. Benar-benar tidak masuk akal bagaimana seorang kriminal disembah oleh 1,5 milyar manusia. Tetapi inilah fakta yang dihadapi oleh dunia.

Orang-orang terkenal ini, yang berbicara meninggikan Islam, mengucapkannya dari ketidaktahuan mereka. Dengan memuji Islam menyebabkan orang-orang Muslim menjadi sangat senang. Orang-orang Muslim secara terus-menerus mencari persetujuan dari orang-orang yang berwenang, dan bagi orang yang tidak waspada ini adalah cara yang mudah bagi mereka untuk disukai oleh orang-orang Muslim. Sedihnya, pujian yang mereka berikan menyebabkan orang-orang Muslim menjadi bebal dan menjadikan mereka lebih fanatik, dan sebagai hasilnya menjadikan mereka lebih banyak lagi melakukan kekerasan.

Inti dari pesan Muhammad adalah jihad. Jika anda menyatakan persetujuan anda terhadap Islam, maka anda mensahkan semua ajaran-ajarannya yang jahat, termasuk jihad, dan mendorong terorisme. Jika sekarang kebenaran itu telah disingkapkan, tak seorang pun boleh memuji Islam lagi hanya demi menyenangkan orang-orang Muslim. Kebodohan tak lagi bisa menjadi alasan. Memuji Islam adalah sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Novelis Rusia Leo Tolstoy

Pihak berwenang lainnya yang dikutip oleh orang-orang Muslim adalah Novelis Rusia Leo Tolstoy. Ia diklaim telah mengatakan, “Quran berisi hal-hal yang riil serta prinsip-prinsip yang jelas, dan umat manusia bisa menggunakannya  secara umum.” Meskipun demikian, Tolstoy juga berpendapat bahwa Islam telah dikorupsi dan memuji Bab, Baha-u-llah, dua orang yang merupakan pendiri dari Iman Bahai. Kedua nabi ini ditolak oleh orang-orang Muslim. Beberapa bulan sebelum kematiannya, Tolstoy menulis:

“Aku sudah lama mengenal Babis, dan selalu tertarik dengan ajaran-ajaran mereka. Aku memandang bahwa ajaran-ajaran ini, dan juga semua ajaran religius sosial rasionalistis yang muncul belakangan, keluar dari ajaran asli Brahmanisme, Budhisme, Yudaisme, Kristen dan Islam, yang didistorsi oleh para imam. Agama-agama ini memiliki masa depan yang baik dimana pada suatu hari nanti agama-agama ini tidak akan terpecah-pecah lagi melainkan akan menjadi satu agama bagi seluruh umat manusia.”

Tolstoy juga menyebut gerakan Ahmadiyah di Lahor dan gerakan Mahdi di Afrika dan berkata,



“Kedua ajaran religious ini tidak berisi hal-hal yang baru, juga pandangan mereka tentang manusia serta hubungan di antara manusia juga tidak berubah, sebagaimana yang diajarkan oleh Babiisme. Karena itu dengan segenap hati aku merasa simpati dengan Babiisme sebab ia mengajarkan persaudaraan dan kesetaraan manusia dan bagaimana manusia seharusnya mengorbankan kehidupan material sebagai pelayanan kepada Tuhan.

Ajaran-ajaran Babis yang datang pada kita bersumber dari ajaran-ajaran Bahaullah yang secara bertahap dikembangkan dan sekarang ada di hadapan kita dengan ajaran keagamaan yang paling tinggi dan murni.”


Jadi aku mau bertanya kepada orang-orang Muslim yang mengutip “pihak yang memiliki otoritas” untuk membuktikan bahwa Islam adalah kebenaran, mengapa mereka mengabaikan pihak yang sama yang memiliki otoritas, saat mereka memuji iman-iman yang lain, khususnya iman Babi dan Baha’i, yang oleh Muslim dianggap sebagai bidat? Jika pendapat Tolstoy mengenai Muhammad itu valid, demikian juga pendapatnya mengenai Bab dan Bahaullah.

Bersandar pada “pihak yang punya otoritas” sebagai bukti kebenaran, secara logis adalah sebuah penyesatan. Ini disebut argumentum ad verecundiam. Kebenaran dari sebuah agama hanya bisa ditentukan dengan menganalisa ajaran-ajarannya dan siapa yang menuliskannya. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus, melalui buah-buahnya.

Ketika kita menganalisa Islam, kita menemukannya sebagai agama yang mempromosikan kebencian, sebuah agama yang disebarkan melalui tipu daya, menganjurkan kekerasan dan mendorong perseteruan dan penumpahan darah. Ketika kita mengamati para pengikutnya, kita bisa melihat bahwa mereka mundur ke belakang, suka melakukan kekerasan, bebal dan tidak beradab. Inilah buah-buah pahit yang berasal dari pohon yang ada di neraka.

Einstein adalah seorang Atheis Yahudi dan seorang Zionis. Ia adalah semua hal yang dibenci oleh orang-orang Muslim. Einstein tidak percaya dengan satu sosok Tuhan yang personal. Pemikirannya secara diametris bertentangan dengan Islam. Ia juga tidak menjadi pemeluk Islam dan sama sekali tidak pernah memujinya. Ia memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Yesus, tetapi bukan kepada Muhammad. Muhammad tidak patut untuk dihormati. Dengan memahami bagaimana Muhammad hidup, dan warisan kehancuran yang ia tinggalkan di belakang, Muhammad layak menerima cemoohan dari kita.

dikutip dari :

%d bloggers like this: