Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Tag Archives: aisha

Imam Saudi: fatwa baru halalkan pedofilia sbg perkawinan

Raymond Ibrahim: New Saudi Fatwa Defends Pedophilia as ‘Marriage’
http://www.jihadwatch.org/2011/07/raymo … riage.html

Perkawinan dgn anak2 ala Islam kembali mengundang headlines dlm media Arab: Dr. Salih bin Fawzan, ulama terkemuka dan anggoa dewan agama tertinggi Saudi baru mengumumkan fatwa menegaskan bahwa TIDAK ADA USIA MINIMUM BAGI PERKAWINAN, dan bahwa anak2 bisa dinikahi ”bahkan saat masih bayi.”

Fatwa yang mencuat tanggal July 13, mengeluh bahwa “Campur Tangan dari pihak2 yang tidak memiliki informasi terhadap peraturan2 Syariah oleh pers dan wartawan semakin meningkat, mengakibatkan konsekwensi berat pada masyarakat, termasuk campur tangan mereka dalam masalah perkawinan dengan anak2 kecil yang belum mencapai kedewasaaan dan tuntutan mereka agar adanya USIA MINIMUM bagi perkawinan.”

Fawzan BERSIKERAS BAHWA SYARIAH TIDAK MENETAPKAN BATAS USIA BAGI ANAK2 PEREMPUAN. Ia menegaskan kembali ayat Quran 65:4, yang membahas perkaiwnan dengan bocah2 perempuan yang belum menstruasi dan fakta bahwa Muhammad saw menikahi Aisyah saat ia berusia 6 tahun dan memulai hubungan sex saat Aisyah berusia 9 tahun.

Ulama setuju bahwa para ayah diijinkan menikahi gadis2 cilik merka, bahkan saat mereka masih bayi, walau suami mereka tidak diijinkan melakukan senggama sebelum mereka mencapai berat badan sama dengan lelaki dan bisa diletakkan dibawah suaminya.

Fawzan menutupi fatwanya dengan peringatan: “Barangsiapa yang menuntut ditetapkannya usia minimum dalam perkawinan atau mensahkan hal2 yang tidak diijinkan Allah melakukan tindakan mengkontradiksi syariah dan oleh karena itu harus takut pada AIlah. Karena hukum adalah urusan Allah dan peraturan adalah urusan Dia semata2. Termasuk aturan tentang perkawinan.”

Selain Fawzan, mufti agung Saudi juga mendukung perkawinan dengan anak2 karena diijinkan Quran dan Sunnah.

Image
Foto Qaradawi. Apa yg ditunjukkannya dgn jarinya itu? :finga:

Ulama Islam Mesir terkemuka dna pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), Sheik Yusuf Qaradawi, menikahi seorang perempuan saat ia masih berusia 14 saat Qaradawi berada diatas usia 40.

http://www.famousmuslims.com/SHEIKH%20S … FAWZAN.htm
http://www.fatwa-online.com/scholarsbio … owzaan.htm

Sheikhul karim (bermoral tinggi) ini adalah anggota Dewan Ulama Senior dan anggota Komite Fiqih di Mekah (bagian dari ar-Raabitah) dan anggota Komite Pengamat Du’aat dalam Ibadah Haji, sementara mengetuai Komite Permanen Riset Islami dan Fataawa. Ia juga Imam, khotib dan guru pada Mesjid Prince Mut’ib Ibn ‘Abdul-‘Azeez Masjid di al-Malzar.
Setelah lulus dari Fakultas Syariah, ia ditunjuk menjadi guru institut pendidikan di Riyadh dan ditransfer menjadi dosen Fakultas Syariah. Kemudian ia
mengajar di Departeman Studi Tinggi dalam Facultas Prinsip2 Agama (Usul Ad-din). Lalu ia mengajar dan menjadi ketua di Mahkamah
Tinggi Kehakiman. Ia kembali mengajar setelah habisnya periode kepemimpinannya. Ia kemudian dijadikan anggota Komite Permanen bagi Riset Islami dan Fataawa, yang dilanjutkannya sampai hari ini.

Sungguh orang yang memiliki kapasitas yang tak diragukan dalam hal keilmuan islam, dan inilah wajah islam sesungguhnya…
Sheik Fawzan juga barusan menganjurkan agar para Muslim yang tidak rajin solat agar dibunuh saja.

syeik-saudi-muslim-yg-tidak-solat-kafir-bunuh-dia-t45207/
Sheik Saudi, Ahmad al Mu’bi , juga menguatkan fatwa ini!
imam-muslim-saudi-boleh-kawin-kontrak-dgn-anak-1-tahun-t43031/

Read More

Perkawinan Islam dan Penghalalan Pelacuran

Perkawinan Islam dan Penghalalan Pelacuran

oleh Sujit Das – 20 Feb, 2008

Image
Pedofilia dalam dunia Islam

Kehidupan perkawinan sangatlah penting. Sungguh beruntung pasangan yang memulainya dengan pengertian yang benar akan nilai dan makna perkawinan. Perkawinan merupakan persekutuan spiritual yang suci antara dua jiwa duniawi ini untuk mencapai kehidupan yang terhormat, suci, Dharma (adat sosial dalam Hindu) dan tujuan illahi melalui kehidupan yang ideal. Karena itu, rumah pasangan yang berumahtangga merupakan pusat kehidupan spiritual yang suci. Rumah adalah tempat mereka beribadah, berdoa dan melakukan meditasi setiap hari. Adalah benar bahwa perkawinan sebenarnya diciptakan di surga. Seks bukanlah segala-galanya dalam perkawinan.

Rumah merupakan arena suci untuk mencapai penyangkalan-diri dan pengontrolan-diri dan ini lebih menarik daripada mengalahkan suatu monarki. Diberkatilah pasangan2 yang mencapai kehidupan illahi, di mana kebenaran, kesucian dan kasih sejati, rasa percaya dan kasih sayang membentuk fondasi dasar kehidupan illahi. Tuhan berada di rumah seperti itu. Orang2 berkunjung ke tempat suci seperti itu.

Dalam agama Hindu, upacara perkawinan merupakan yajña Veda (api pengorbanan), di mana dewa2 Aria dipanggil dalam adat kuno Indo-Aria. Sang dewa api Agni merupakan saksi utama perkawinan Hindu. Berdasarkan hukum dan tradisi, tiada perkawinan Hindu yang dianggap lengkap tanpa kehadiran api suci ini dan pasangan suami istri harus berjalan melingkari api bersama sebanyak tujuh kali. Jarang terjadi perceraian dalam pasangan Hindu.

Dalam agama Kristen, perkawinan dianggap sebagai penyatuan lelaki dan perempuan oleh Tuhan untuk seumur hidup. Prinsip dasar telah dinyatakan dalam Alkitab di kitab Kejadian 2:24 (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.) Setelah itu, Yesus mengajukan dasar perkawinan dengan menggabungkan dua ayat penting dari kitab Kejadian (1:27; 2:7-25). Dia menunjukkan keutuhan proses penciptaan – “lelaki dan perempuan yang diciptakanNya”. Lalu Yesus menyatakan perkawinan sebagai hubungan yang suci, persekutuan yang sangat intim dan nyata sehingga “keduanya menjadi satu daging”. Sebagai manusia, suami dan istri mempunyai nilai yang sama. Mereka adalah satu dalam pengertian yang sebenarnya.

Lalu bagaimana dengan Islam dan Muslim?

Ada orang2 pesimis yang menjabarkan perkawinan sebagai penghalalan pelacuran. Hal ini tepat sekali untuk menjabarkan kesucian perkawinan Muslim dan status dari wanita bersuami dalam Islam. Menurut Islam, melalui pernikahan, pria punya hak milik penuh atas ‘daging’ di tubuh wanita. Tidak seperti agama Hindu dan Kristen, perkawinan bukanlah persatuan yang mengikat dalam Islam. Hal ini karena tidak ada pengertian persekutuan dan penyatuan antara pasangan suami istri. Qur’an tidak memandang perceraian dan perpisahan sebagai pilihan tragis, tapi sebagai kesempatan emas bagi pria. Dalam Islam, wanita dianggap tak berotak, dan hanya berupa daging halal saja bagi pria untuk dinikmati.

Lihatlah Hadis Sahih Bukhari 7.62.173 yang menyatakan bahwa Istri harus mencukur bulu kemaluannya tatkala suami kembali pulang ke rumah setelah perjalanan jauh.

Di bukunya, Nasrin (2007) mengeluh, “Ibuku mengenakan ‘purdah’. Dia mengenakan ‘burqa’ dengan net jaring yang menutupi bagian mukanya. Ini mengingatkanku akan kerudung penutup2 daging di rumah nenekku. Satu punya jaring yang terbuat dari kain, dan yang satu lagi terbuat dari kawat. Tapi maknanya tetap sama – agar daging itu aman.”

Di jaman Muhammad dan para penggantinya, pelacuran lenyap untuk sementara waktu (Durant, 1950). Ini BUKAN karena Muhammad menganggap wanita bernilai luhur dan berusaha keras utk menaikkan harkat wanita. Yang terjadi justru sebaliknya; Muhammad merendahkan status wanita menikah sampai sama derajatnya dengan budak seks dan pelacur. Dia mengijinkan pengumbaran nafsu seksual sedemikian rupa dalam Islam sehingga para pelacur jadi pengangguran. Kenyataan yang mencengangkan adalah Muhammad memandang wanita sebagai binatang piaraan.

Dalam khotbah terakhirnya, Muhammad menyamakan wanita dengan binatang ternak. Tabari (IX:113) mencatat (dikutip oleh Winn, 2004, hal. 557) “Perlakukan wanita dengan baik karena mereka seperti binatang2 piaraan dan mereka tidak memiliki apapun. Allah telah menghalalkan untuk menikmati tubuh2 mereka dalam Qur’an-Nya.”

Hal yang sama juga bisa dilihat di Sunaan Abu Dawud 11.2155: Wanita2, budak2 dan unta2 adalah sama semua; harus mencari perlindungan Allah dari mereka semua ini.

Ajaran Muhammad sungguh luar biasa. Di tahun 2007, seorang pria Afghanistan, 40 tahun, mencukur gundul istrinya yang bernama Nazia, 17 tahun, lalu memotong kedua daun telinganya, hidungnya, menghancurkan gigi2nya dengan batu, memukulinya dengan hebatnya sampai tangan dan kakinya hancur dan menyiram kakinya dengan air mendidih saat gadis itu pingsan. Semua ini dilakukannya di hari pertama Idul Adha, upacara korban Islam. Nazia adalah istrinya yang kedua. Pria ini sudah membunuh istrinya yang pertama. (Hairan, 2007; IRIN, 2007).

Beginilah cara Muslim merayakan Id; mengorbankan nyawa istrinya sendiri sebagai ganti onta, karena onta mahal harganya, sedangkan wanita sangat murah.

Dalam bahasa Urdu, wanita disebut ‘aurat’ (عورت), dan kata ini berasal dari kata Arab ‘awrah’ (عورة). Kata Arab ini berarti vagina wanita. Ini berarti pula seluruh tubuh Muslimah adalah vagina besar dan tidak lebih daripada itu (Warraq, 2005. hal. 316). Berapa banyak sih Muslim Asia berbahasa Urdu yang tahu benar arti kata ini yang diterapkan bagi ibu, saudara perempuan, dan putri mereka? Kata yang sebenarnya sangat merendahkan sanak saudara mereka sendiri?

‘Nikah’ (perkawinan Islam, النكاح) merupakan kata Arab yang arti harafiahnya adalah ‘pencoblosan secara seksual’ (Kaleeby, 2002; Warraq, 2005). Kata itu dapat dilafalkan sebagai ‘Nokh’, yang sama artinya dengan ‘awrah’, yakni vagina besar = seluruh tubuh Muslimah. Para Muslim yang kurang pengetahuan seringkali menggunakan kata Nikah tanpa tahu arti sebenarnya yang justru merendahkan wanita kalangan mereka sendiri sampai sederajat dengan budak2 wanita dan WTS.

Kasem (n. d) menyimpulkan bahwa cara penghalalan penikmatan tubuh wanita ini sama seperti transaksi dagang, atau secara sederhananya: pelacuran. Dalam semua kasus perkawinan dan seks, para wanita diperlakukan sebagai obyek seks belaka, sama seperti penyaji pelayanan seks yang harus dibayar dengan imbalan.

Imbalan/Emas kawin (dowry) bagi pelayanan seksual dari pihak istri dikenal sebagai ‘mahr’ dan harus dibayar pria Muslim sebelum perkawinan. Pembayaran bisa dilakukan seketika atau di masa depan. Tiada perkawinan Islam yang sah tanpa pembayaran ‘mahr’. Para Muslimah bisa berbangga hati dengan ‘mahr’ yang mereka terima, tapi tidak mengerti makna ‘mahr’ yang sebenarnya. Dalam kenyataannya, ‘mahr’ tak lebih daripada pembayaran atas pembelian tubuh wanita untuk kenikmatan seksual. Perendahan derajat wanita ini dihalalkan oleh Allah dalam Syariah. Jika seorang Muslim menikahkan saudara perempuan atau putrinya kepada pria Muslim, dia sebenarnya melelang vagina saudara perempuan atau anaknya yang lembut dan hangat untuk dapat keuntungan harta.

Menurut Syariah, jika ‘mahr’ terlalu rendah, perkawinan bisa dibatalkan. Seringkali pihak Muslimah tidak menikmati ‘mahr’ tersebut. Harta ‘mahr’ habis digunakan untuk menghiasi rumah pasangan pengantin baru atau ayah Muslimah tersebut mengambil seluruh ‘mahr’ (Warraq, 2005, hal. 311). Dalam perkawinan Islam, tiada kasih atau puisi romantis segala.

Kasem (n. d) lebih jauh mengutip buku Hukum Syariah yang menyatakan bahwa hak2 suami termasuk, tapi tidak terbatas pada ‘…. Memiliki tubuh wanita untuk melakukan apapun yang dikehendakinya termasuk pemukulan… seorang suami memiliki hak penuh untuk menikmati tubuh istrinya (dari ubun2 sampai tapak kakinya!) dalam pengertian tidak menyakitinya secara fisik … dia wajib membawa istrinya bersamanya tatkala dia melakukan perjalanan.’

Kasem (n. d) juga mengutip dari buku berjudul The Hedaya Commentary on the Islamic Laws (Hidayah Hukum Islam). Buku ini umum digunakan oleh ahli hukum Syariah dalam menafsirkan hukum Islam. Di buku ini tercantum, “… mahr yang dibayar penuh merupakan pembayaran untuk menyerahkan wanita, ‘Booza’, berarti ‘Genitalia arvum Mulieris’ ”

Kasem dengan rasa jijik menyarikan, “Ya, kau tidak salah baca arti ‘Genitalia arvum Mulieris’ adalah vagina wanita. Kalimat di atas dengan jelas berarti bahwa Muslimah menjual vaginanya dan dibayar dengan mahr. Ini jelas transaksi dagang. Jangan salah mengerti! Titik.”

Apa yang dikatakan Kasem ternyata sesuai dengan Al-Hadis. Misalnya dalam Mishkat al-Masabih, dinyatakan bahwa “Wanita itu bagaikan kemaluan. Ketika dia pergi ke luar, setan memandangnya.”

Menurut Syariah Islam, suami tidak wajib membayar biaya pengobatannya jika istri sakit (Warraq, 2005. hal. 311).

Syariah tidak mengenal kata perkosaan dalam perkawinan. Begitu ‘mahr’ telah dibayar, sang istri jadi budak seks yang halal bagi Muslim (biasanya jadi istri kedua, ketiga, atau keempat wanita2 lain yang sama tidak berdayanya). Dalam pelacuran, pembeli jasa seks tidak perlu peduli atas kepuasan seksual pelacurnya.

Kepuasan seksual dan pilihan pasangan yang diinginkan wanita tidak dikenal dalam Islam. Kejadian2 perkosaan dalam perkawinan sedemikian tinggi di Bangladesh, seperti yang dikeluhkan oleh Azad (1995, hal. 240), “Bagi wanita, malam pertama perkawinan adalah perlakuan seks yang dipaksakan. Di Bangladesh, jumlah perkosaan perkawinan beberapa kali lipat lebih tinggi daripada perkosaan2 jenis lain.”

Di laporannya yang lain, Azad (1995, hal. 248) lagi2 mengeluhkan, “Di sini [Bangladesh], terjadi perkosaan yang dilakukan seorang pria dan perkosaan rame2. Di sini terjadi; ayah memperkosa putri kandungnya sendiri, menantu pria memperkosa mertua wanita… pejabat kantor memperkosa penyapu kantor, guru pria memperkosa murid wanita, Imam memperkosa anak perempuan TK, ipar pria memperkosa ipar wanita, mertua pria memperkosa menantu wanita… “ [laporan ditulis dalam bahasa Bengali, diterjemahkan oleh penulis].

Sikap Islam terhadap wanita dapat disejajarkan dengan tulisan abad ke 16 yang berjudul Taman yang Harum, ditulis oleh Shaykh Nefzawi. Begini tanya Nefzawi “Tahukah kau bahwa agama wanita terletak dalam vagina² mereka?” Dia melanjutkan, “Alat kelamin mereka tidak pernah terpuaskan, dan untuk memuaskan nafsu berahi, mereka tidak peduli bersetubuh dengan orang bodoh, negro, orang kotor, dan bahkan orang hina yang menjijikan. Setanlah yang membuat cairan2 mengalir dari dalam vagina2 mereka” (dikutip Warraq, 1995, hal. 290).

Warraq (1995) mengeluhkan, “Islam selalu saja menganggap kaum wanita sebagai makhluk rendah di segala bidang; secara fisik, intelek, dan moral. Pandangan negatif ini jelas ditulis dalam Qur’an, ditunjang ahadis, dan ditambah lagi dengan komentar2 para ahli agama Islam yang merupakan penjaga dogma Islam dan kebodohan Muslim.”

Hukum Syariah Islam juga mengijinkan kawin sesaat saja. Hal ini disebut sebagai kawin Mutah, yang tidak lebih daripada praktek pelacuran terselubung. Dalam Kamus Islam, Mutah adalah ‘perkawinan kontrak berbatas waktu tertentu, dengan imbalan uang’. (dikutip oleh Brahmachari, 2008). Di bawah sistem ini, seorang Muslim bisa gonta-ganti istri setiap hari. Perkawinan ini merupakan ijin sesaat untuk servis seks dan dengan demikian merupakan penghalalan pelacuran.

Para Mulah dan Imam India sangat sadar akan hukum illahi perkawinan Islam ini. Di Hyderabad, kota besar India, para Mullah dan Imam ini bekerja sebagai germo untuk pria2 Arab. Banyak dari pria2 Arab tersebut yang sangat kaya raya tapi bejad moral. Mereka berkunjung ke Hyderabad dan mengawini gadis2 Muslimah India yang berusia muda, dengan bantuan Mullah lokal untuk kawin dengan orang2 Arab tersebut dalam kurun waktu 15 sampai 30 hari saja. Setelah memuaskan nafsu berahinya dan mengambil keperawanan gadis2 India malang ini sembari menikmati keramah-tamahan masyarakat India, pria2 Arab ini menceraikan para gadis tersebut dengan talak tiga. Mereka lalu kembali pulang ke tanah Arab sebagai pria terhormat. Di satu kejadian, seorang pria Arab tua bernama Muhammad Zafer Yaqub Hassan al Jorani dari Sharjah menikahi Haseena Begum; gadis India berusia 19 tahun, pada tanggal 7 Mei, 2004, dan Muhammad menceraikannya dua hari kemudian. Pada tanggal 24 Mei, Muhammad la mengawini gadis Ruksana Begum berusia 16 tahun. Haseena lalu melaporkan hal ini pada polisi dan Muhammad ditangkap bersama-sama dengan sang Mullah germo Shamsuddin yang menerima bayaran 40.000 rupee dari Muhammad. Muhammad sendiri sudah punya dua istri dan 11 anak di rumahnya di Arab. Laporan lain di Hindu Voice keluaran bulan January 2007, menyatakan seorang pria Arab kaya berusia 60 tahun menikahi tiga gadis India yakni Afreen, Farheena dan Sultana, dalam waktu 10 menit di Hyderabad. (Brahmachari, 2008).

Dilaporkan sekitar 35 sampai 40 perkawinan palsu setiap tahun antara pria2 Arab kaya raya dan gadis2 Muslim India di Hyderabad. Angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Kenyataannya, para Mullah sudah mulai mengejar-ngejar para Arab kaya ini sejak tiba di airport internasional di Hyderabad. Begitu para Arab turun pesawat, mereka sudah disambut para Mullah germo untuk mengadakan tawar-menawar pelayanan seks terselubung dengan perkawinan. Foto2 gadis2 ditunjukkan, pembayaran diatur, dan tanggal serta tempat perkawinan ditetapkan. Ini sungguh bisnis besar. Perbuatan memalukan ini tidak diketahui anak2 dan cucu2 perempuan mereka di tanah Arab yang berusia sama dengan sang gadis pengantin. Yang lebih mengganggu lagi adalah para Arab ini kebanyakan menyewa kamar di rumah2 para Imam yang menyediakan fasilitas perkawinan palsu ini. Dalam beberapa kasus, perkawinan hanya berlangsung selama 24 jam (Sheikh, 2005). Inilah caranya bagaimana para Mullah menggunakan Islam untuk mempromosikan pelacuran Islamiah dan menggemukkan kantong mereka dengan uang. Majhar Hussain, presiden Confederation of Voluntary Agencies berkata, “Perkawinan Mutah ini merubah gadis2 Muslimah muda jadi pelacur2.” (dikutip Brahmachari, 2008). Jika praktek ini terus terjadi dan para Mullah tidak dihentikan, maka dalam waktu singkat Hyderabad bisa jadi kota pusat penghalalan pelacuran Syariah Islamiah, dan jadi ‘Mekahnya Sarang Pelacuran) yang dicari-cari para Muslim, terutama dari dunia Arab. Banyak Muslim yang akan datang ke India untuk servis Haji Sex (naik haji sambil ngeseks Islamiah). Jika kekurangan perawan muda, para Mullah bisa jadi mencari istri2 Muslimah muda usia untuk melakukan bisnis pelacuran ini.

Berapa banyak Muslim India yang mengetahui kegiatan para Mullah germo di Hyderabad? Tragisnya, para Mullah, sang penjaga Islam, malah menjadi pemanfaat Islam yang terbesar. Para Mullah ini mencari nafkah dengan mempertaruhkan kehormatan para wanita muda dari keluarga Muslim.

Dalam Islam, bahkan susu payudara wanita bukanlah miliknya sendiri, karena suaminya (yang telah membelinya dengan ‘mahr’) lebih berhak memiliki susu tersebut. Jika suami Muslim memaksa menyedot susu dari istrinya, maka di bawah aturan Syariah, susu tersebut dianggap sebagai makanan dan bukannya susu untuk pertumbuhan bayi. Menurut Muwatta Malik (Buku 30, Nomer 30.1.11), “Menyedot susu… setelah dua tahun pertama, banyak atau sedikit, bukanlah hal yang haram. Susu itu seperti makanan.” Juga hadis lain dari Muwatta Malik (Buku 30, nomer 30.2.14), menyatakan bahwa pria Muslim halal untuk meminum susu istrinya (atau, istri2nya, dia bebas memilih dan merasakan mana yang lebih enak) setiap saat dan boleh sambil menggauli istrinya secara seksual (wah, banyak banget nih keuntungan suami Muslim dibandingkan suami non-Muslim). Inilah puncak ketololan hukum illahi Allah.

Beberapa tahun yang lalu AIMPLB (All India Muslim Personal Law Board) telah menetapkan aturan perkawinan. Tapi tidak ada anggota wanita dalam badan ini (Sheikh, 2005). Di sebuah masyarakat beradab, hal ini sungguh tidak terbayangkan, tapi biasa saja dalam dunia Muslim sih. Menurut Islam, “daging halal” tubuh wanita tidak punya kepribadian ataupun jati diri.

Dalam Syariah, wanita boleh dikawini di usia berapapun, bahkan jika dia baru saja lahir. Khomeini berkata, “Pria boleh mendapatkan kepuasan seksual dari seorang anak bahkan bayi sekalipun” (Paz, 2006). Yang dikatakan Khomeini sangatlah tidak etis, tapi halal dalam Islam. Muhammad sang nabi kegelapan merupakan maniak seks. Telah banyak tulisan yang menyatakan koleksi istri2nya yang banyak itu (termasuk anak ingusan Aisyah dan menantu Muhammad sendiri yang bernama Zainab), budak2 seks, dan gundik2 harem. Yang tidak banyak diketahui adalah Muhammad juga tertarik pada bayi perempuan yang masih merangkak. Ibn Ishaq yang merupakan penulis riwayat hidup sang Nabi yang tertua dan paling terpercaya menyatakan hal ini dalam bukunya yang berjudul Sirat Rasul Allah.

”… sang Nabi melihatnya (Ummu’l-Fadl) ketika dia masih bayi yang merangkak di hadapannya dan berkata, ‘Jika dia telah tumbuh dan aku masih hidup, aku akan mengawininya.’ Tapi sang Nabi terlebih dahulu meninggal sebelum dia tumbuh besar…”

Umar (Khulafa Rashedin, salah satu dari 4 Kalifah Tauladan) mengikuti jejak Muhammad dengan mengawini Umm Kulthum ketika berusia 4,5 tahun atau setengah usia Aisyah ketika ditiduri oleh muhammad. Inilah aturan illahi Islami. Jika Muhammad dan Kalifah Umar saja tidak normal, bagaimana mungkin kita dapat menyalahkan Khomeini? Melakukan perkawinan dengan anak2 adalah sama dengan melakukan pelacuran pada anak2.

Poligami dihalalkan dalam Qur’an (4:3). Muslim boleh mengambil sampai empat istri dalam waktu yang bersamaan. Di India, saudara angkat Sultan Mughal bernama Akbar yakni Mirza Aziz punya penjelasan lucu mengapa pria butuh empat istri. ‘Pria harus menikah dengan satu wanita Hindustan untuk memiliki anak, satu istri dari Khurasan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, satu wanita dari Iran untuk jadi teman bicara dan bercakap.’ Dan yang keempat? ‘Ya tentu saja kawini pula satu wanita dari Transoxiana untuk mencambuki ketiga istri lainnya dan menjaga perdamaian.’ (Early, 1977 hal. 666).

Al-Ghazali menasehati semua Muslim sebagai berikut, “Jika seorang wanita tidak mencukupi, ambilah beberapa lainnya (sampai jumlahnya empat). Jika kau masih tidak bahagia, ganti saja mereka semua.”

Kemudahan memiliki sejumlah istri2 dan gundik2, dan kebebasan Muslim untuk kawin terus diantara sanak keluarga sendiri seringkali membingungkan hubungan antar anggota keluarga tersebut. Akibatnya, ketiak Munawwar Ali yang masih kecil pergi ke Madrasah untuk dapat pendidikan Islam; dirinya dikenal sebagai anak dari 20 anak dari seorang istri dari 13 istri milik Sheikh Abdullah Ali! Banyaknya jumlah anak ini merupakan salah satu alasan mengapa banyak keluarga Muslim yang miskin.

Sepanjang sejarah, penguasa Muslim selalu punya ‘harem’ yang dijaga ketat. Dalam bahasa Arab, ‘harem’ merupakan tempat terlarang di mana seluruh ‘begum’ (istri2) hidup – dunia harem terkunci dari dunia luar. Dalam bahasa sederhananya, harem merupakan tempat pelacuran milik pribadi. Di India, harem para sultan Mughal sangatlah besar.

Akbar, yang merupakan sultan Mughal pertama, memiliki sampai lebih dari 5.000 wanita (Early, 1977, hal. 642). Dari jumlah itu, istri2nya berjumlah 300 orang dan yang lainnya adalah gundik. Anak lakinya yang bernama Jahangir punya lebih dari 1.000 istri. Ali punya 200 istri. Ibn al-Teiyib, imam terkenal dari Baghdad, yang usianya sampai 85 tahun, dilaporkan punya 900 istri, al-Mutawakkil punya 400 istri – dan setiap istri hanya ditidurinya semalam saja (Durant, 1950, hal. 222). Cucu Muhammad yakni Hasan punya 300 istri. Hasan seringkali menikahi 4 wanita sekaligus dan lalu menceraikan keempatnya secara bersamaan pula (Kasem, n.d.). Para Muslim tidak menghormati kesucian perkawinan. Kebanyakan imam2 Muslim punya banyak istri dan segudang anak. Durant (1950) berkomentar, ‘Mungkin Islam salah aturan dan memperlakukan perkawinan secara ekstrim.’

Abul Fazl (dikutip Early, 1977, hal. 643) mengajukan alasan ‘hebat’ untuk mendukung poligami – ‘Sama seperti bagi orang lain di mana satu istri saja tidak cukup, maka demikian pula orang2 yang hebat punya lebih banyak kebutuhan, agar rumah mereka tampak lebih megah, dan lebih banyak orang lagi yang bisa dinafkahi.’

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana orang2 Muslim ini bisa punya sedemikian banyak istri, jika ketetapannya hanya boleh sampai empat saja? Ya gampang saja, karena yang dibutuhkan hanyalah sedikit akal2an. Allah berkata dalam Qur’an (4:3), “Nikahilah wanita yang baik bagimu, dua orang, tiga orang atau empat orang.” Kalimat ini lalu diartikan dalam berbagai pengertian yang berbeda-beda oleh para ahli Qur’an – seorang ahli menambahkan dua, tiga, dan empat, sehingga jumlahnya jadi sembilan istri. Ahli Qur’an yang lain mendapatkan jumlah 18 dengan cara menjumlahkan dua, tiga, dan empat, lalu dikali dua (Eraly, 1977). Karena Islam tidak pernah kekurangan ahli Qur’an, maka pengertian baru selalu dapat dihasilkan bilamana uang sogokan tinggi tersedia. Inilah sebabnya jumlah wanita di harem pribadi begitu membludak.

Dalam keluarga2 tradisional Muslim di negara2 Timur Tengah, ayah atau kakak pria boleh mengawinkan wanita dalam keluarga kepada siapapun yang diinginkannya, meskipun wanita itu masih di bawah umur. Kawin karena dasar cinta kasih jarang terdengar dan malah dilarang, karena bisa2 jumlah mahr-nya berkurang. Para gadis biasanya menikah di usia 12 tahun, dan menjadi ibu di usia 13 atau 14 tahun (Durant, 1950; hal. 220). Seringkali pengantin pria tidak boleh melihat wajah pengantin wanita sebelum pernikahan. Lalu daiakan perayaan, makan2, dan berdoa. Setelah upacara2 tersebut, pengantin baru masuk ruangan tertutup dan pengantin pria membuka cadar penutup wajah pengantin wanita sambil berkata, “Dalam nama Allah, yang Maha Penyayang, Maha Pemurah..” Jika pengantin pria tidak suka dengan apa yang dilihatnya, maka dia bisa seketika mengirim kembali pengantin wanita ke orangtuanya beserta mahrnya dan mencari pengantin wanita baru (Durant, 1950; hal. 220).

Secara umum, wanita tidak berharga dalam Islam (keadaan dunia Islam jaman sekarang tidak banyak berbeda saat ini dibandingkan dengan jaman Muhammad). Bahkan di kalangan Muslim paling rendah sekalipun, di mana tidak banyak terdapat perbedaan gender, tetap saja nasib wanita lebih jelek daripada nasib pria. Kaum wanita yang miskin semakin buruk kesehatannya karena terus-menerus melahirkan dan membesarkan anak, sambil harus terus bekerja mencari nafkah membantu suaminya. Tidak banyak yang bisa dinikmati dalam hidup bagi mereka, kecuali tetap berusaha hidup.

  • Di Afghanistan dan di Bangladesh, lebih dari separuh remaja wanita telah menikah.
  • Di Iran, para wanita biasanya menikah ketika mereka mencapai usia 9 tahun (Spencer, 2005).
  • Di Bangladesh, 59% para gadis menderita kekurangan gizi dan 10% lainnya sangat parah keadaannya. (UNDP, 1995).

Bahkan para Muslimah kelas menengah dan atas juga mengalami keadaan yang sama, seperti yang dinyatakan oleh Manucci (1989), “Mereka (Muslimah) tidak punya rasa ketertarikan di luar pengabdian rutin pada keluarga, tidak punya kehidupan sosial di luar lingkungan keluarga, dan tidak punya kedudukan dalam masyarakat.”

Pendidikan para Muslimah dalam masyarakat secara umum, biasanya tidak lebih dari belajar sholat, membaca beberapa Sura Qur’an, dan belajar seni mengurus rumah tangga (Durant, 1950; hal. 221). Kebebasan dan pendidikan wanita dianggap sebagai ancaman dominasi pria. Omar sang Kalifah kedua, mengatakan, ‘Larang wanita untuk belajar menulis! Cegah mereka melakukan hal yang baru.’ Dan juga, ‘Suruh mereka telanjang saja, karena pakai baju hanya alasan untuk keluar rumah saja.’ (Warraq, 2005, hal. 299). Dalam tulisannya yang lain, Durant (1950) mengeluhkan, “Di masa kecilnya yang menyenangkan dia menikmati beberapa tahun penuh kasih sayang, tapi di usia 7 atau 8 tahun, dia lalu dikawinkan dengan pemuda dari keluarga pilihan ayahnya yang menawarkan uang untuk membeli pengantin wanita… si gadis cilik ini harus tunduk atas perintah ayahnya, suaminya, atau bahkan anak lakinya sendiri; dia selalu jadi babu, jarang sekali dianggap sederajat dengan pria. Sang suami menuntut banyak anak darinya, atau tepatnya anak2 laki; kewajiban sang wanita hanya menghasilkan tentara2 saja. Di banyak kasus, dia merupakan salah satu dari banyak istri suaminya. Sang suami bisa dengan mudah menceraikannya sesuka hatinya.”

Di Pakistan, fundamentalis Islam sangat menentang keras pendidikan bagi wanita. Di masa tiada hukum selama lima hari di bulan Februari, 2004; para Muslim ini membakar delapan sekolah bagi para pelajar putri (Spencer, 2005). Para Mullah Pakistan, menyatakan bahwa para Muslimah yang ingin belajar berarti melakukan pemberontakan terhadap Islam: “Peringatkan para wanita tersebut, kami akan cabik2 mereka. Kami akan hukum mereka dengan hebatnya, sehingga di masa depan tidak akan ada lagi yang berani bersuara menantang Islam.” (dikutip oleh Warraq, 2005. hal. 321)

=======================

Some medieval theologians thought that Muhammad had invented polygamy, but it is not true, because it antedated Islam by some years (Durant, 1954; p. 39). Muhammad legalized polygamy in his newly established religion and lowered the status of women to the level of prostitutes with divine sanction. As Ascha (1989) concluded, “Islam is the fundamental cause of the repression of the Muslim women and remains the major obstacle to the evolution of their position.”

In cultures that permit polygamy, the youngest co-wife is required to care for elder co-wives. This relationship is sometimes a daughter/mother relationship, but in many cases the elder wives view the younger with bitterness and resentment. In many polygamous relationships, the child bride is treated as an unpaid servant and may never succeed in earning the respect of the elder wives or their children.

In addition to above; domestic violence is the most widespread and common form of violence against women and young girls in Muslim families. Child brides live with older men who expect them to carry out all the duties of an adult woman, even if those responsibilities are too great for a child, let alone a woman. Frequently, the husbands assert their authority in the home through physical violence and consider wife torture a heroic deed.

In Egypt twenty-nine percent of married adolescents have been beaten by their husbands; out of this forty-one percent during pregnancy.

In Jordan, twenty-six percent of reported cases of domestic violence were committed against wives under eighteen.

As per one report by Amnesty International; over ninety percent of Pakistani wives have been mishandled (struck, beaten, or abused sexually) for minor offences like cooking unsatisfactory meal and failure to give birth of a male child (Spencer, 2005). Wife beating is sanctioned by Allah (Koran 4:34). In a Hadith Muhammad advised, “Hang up your whip where your wife can see it” (cited Warraq, 2005. p. 314).

In Sudan, the genital passage of the divorced women and widows are closed by stitching keeping a small portion open for menses (Azad, 2005. p. 197).

Even Muhammad raised his violent hand on his child bride, Aisha. It is recorded in Sahih Muslim, Book 004, number 2127 (cited Kasem, 2005) – once while sleeping with Aisha, Muhammad secretly left his bed and went to the graveyard at Baqi; Aisha spied and followed Muhammad; when Muhammad learned Aisha’s misdeed he hit her (beat her) on her chest that caused much pain to her. This divine act of wife-beating is recorded in The History of al-Tabari. Vol. IX, (cited Kasem, 2005). However, the ‘kind’ treatment of women does not end here. Kasem (2005) cited another Hadith from Sunaan Abu Dawud (11.2142) – ‘The Prophet said: A man will not be asked as to why he beat his wife’. Somalia Muslims whip their newly wedded wives on the very first night (Azad, 1995. p. 197, Miles, 1988. p. 89). Merciless beating without any reason is a religious tradition in Somalia.

Fajlur Rahaman referred to one Hadith (cited Azad, 1995. p. 166), which says “even if the husband is a leper and the wife cleans the pus of his wounds with her tongue and swallows the pus, still she is not equal to her husband” (original in Bengali, translated by author).
In pre-Islamic Arabia women were free, happy and respectful. They used to take part in meetings, often attended in court of law with similar equality of man; run business (Khadija, the first wife of Muhammad was a business women and employed several men to look after her business); even fought many battles. Only under Islam they were animalized.

So, this is the status of married women under Islam. No doubt, a comparison of a legally married woman with prostitutes is unethical and of bad taste. It does not reflect well on the author. But, this article is not the product of a sick mind. Every bit of information on this article is true and taken from authentic sources. On the other hand, Muhammad’s and his followers ‘high regard’ for women points to the only conclusion that Islam cannot be a God approved religion. It is because; high status and respect of women and responsibility of a married couple towards each other, to the family and to the society in general; as taught in Christianity, Hinduism, Buddhism and other established religions; is totally absent in Islam. The plain truth is that, the God of Islam is an invented God. This God is actually a puppet and his only purpose is to legalize any crime in the name of religion. And, no doubt, this God is doing well in his job, ever since it was invented.

In general a Muslim takes his ‘sex’ philosophically, with hardly more of metaphysical or theological misgiving than an animal. Marriage is never a sacrament with him; it is frankly a commercial transaction. It never occurs to him to be ashamed that he treats women as prostitutes or animals; he would rather be ashamed of the opposite.

In Islamic nations, much of the married women’s work remains unrecognized and unvalued. Women are constantly under the threat of divorce (Azad, 1995). Often they don’t get enough food to eat from their husbands. In Bangladesh, seventy-seven percent of married women from middle income households and more than ninety-five percent of those from low income households are underweight and malnourished (UNDP, 1995). On top of this, their contribution to the family often goes unnoticed. In Sudan the time spent for gathering fuel wood has increased fourfold in a decade, which is the duty of a woman. In Mozambique, women spent more than fifteen hours a week just for collecting water for the family (UNPD, 1995). Some Afghani women are compelled to go for grazing around the mountain valleys looking for a blade of grass to feed themselves and their children (Sina, 2001). A recent UN report disclosed that women in Saudi Arabia are the victims of systematic and pervasive discrimination across all aspects of social life (Times, 2008). In Islamic nations, more girls than boys die at young age. Birth of a girl is still seen as a disaster in Muslim societies. Women, who constitute half the global population, definitely deserve a better deal.

Islam seeks power, promotes hate and domination in the name of an imaginary God. In a civilized society, charity begins at home, but in Islamic society; hate and domination begin at home. Probably prostitutes are in a better position than those helpless ‘animals’ called ‘Muslim women’. The greatest task of moral is always sexual regulation. A sense of family value is observed amongst many animals also. Mother is the first ‘Guru’ (spiritual guide) for a child. The child learns the alphabet from his mother. The child learns to speak from his mother. She may make him a saint or a ruler or a rogue. She imparts her virtues to her child with her milk. No society can progress unless their women folks are educated and free. Muslim women should be given education and liberty and then they will bring the required revisions for their betterment. No need to shed endless crocodile tears by the so-called intellectual Muslims to try to fool the civilized world. It’s a pity that the Muslims are too spiritually deprived to ever realize this fact.

——————————————-

Daftar Pustaka
Buku, majalah, jurnal, dan koran

Ascha G. (1989), Du status inferieur de la femme en Islam. pp.11. Paris.
Azad, Humayun (1995); Nari (woman), originally written in Bengali. Revised third edition. Sept’95. Agami Prakasani. Dhaka, Bangladesh.
Durant, Will (1950), The story of civilization – The age of faith. Simon and Schuster. NY.
Durant, Will (1954), The story of civilization – Our Oriental Haritage. Simon and Schuster. NY.
Eraly, Abraham (1977), The lives and times of great Mughals. First edition. Penguin books. New Delhi, India
Kaleeby (2002), Dictionary of the Quranic phrases and its meaning; compiled by Sheik Mousa Ben Mohammed Al Kaleeby, Maktabat Al Adab, Cairo.
Manucci, Niccolao (Italian adventurer in India in the second half of the 17th century); Storia do Mogor, 2nd volume (translated by William Irvine). London 1907-08 / Delhi 1922.
Miles, Rosalind (1988 ); The women’s history of the world. Michael Joseph publication. London.
Nasrin, Taslima. (2007), Let’s burn the Burqa, Outlook, the weekly news magazine published from India, January 22, 2007 issue, pp 62.
Pelsaert Francis (a Dutch treader in India in the second decade of the 17th century); Remonstrantie (translated by W. H Moreland as Jahangir’s India), Cambridge, 1925 / India 1972.
Spencer, Robert (2005); The politically incorrect guide to Islam (and the crusades). pp. 69 – 77. Regnery Publishing. Inc. USA
Times (2008); Saudi woman strip-searched for café meet with man. The times of India, a daily newspaper published from India. 7th February. 2008 issue, pp 15, first column.
UNDP (1995); Human Development Report. Published for the United Nations Development Programme (UNDP), pp. 35 . OUP. Delhi. India
Warraq. Ibn (2005), Why I am not a Muslim, Prometheus books. NY.
Winn, Craig (2004); The Prophet of Doom – Islam’s Terrorist Dogma in Muhammad’s Own Words. First edition. Cricketsong books (A division of Virginia publishers), Canada.

Internet

Brahmachari R. (2008), Mutah, or temporary marriage in muslim society. Published on 26th January, 2008. at Faith Freedom International. (Last accessed 28th January / 08 ).
Hairan, A. (2007), Husband cut off wife’s ears, nose on Eid day. Published in Groundreport.com on December 23, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).
IRIN, (2007); Nazia, Afghanistan, “My husband cut off my ears and nose and broke my teeth”. Published in YubaNet.com on 26th December, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).
Kasem, Abul (n.d), Sex and Sexuality in Islam, Islam-watch. (Last accessed 10th January / 08 )
Kasem, Abul (n.d); Women in Islam. Islam-watch. (Last accessed 11th January / 08 )
Kasem, Abul (2005) – Did Prophet Muhammad ever beat his Wives? Published on 28th April, 2005 at Mukto-mona. (Last accessed 10th December / 07)
Paz, (2006), Khomeini’s Teachings on sex with infants and animals. (Last accessed 24th March / 07)
Sheikh Q. (2005), You opened my eyes in Leaving Islam section of Faith Freedom International. (Last accessed 16th June / 06)
Silas (n.d), Wife beating in Islam, Answering Islam. (Last accessed 20th December / 07)
Sina, Ali (2001), The fall of Islam, Faith Freedom International. URL: (Last accessed 1st March / 05).
pernikahan islam = pelacuran
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=16090

http://www.brandeis.edu/projects/fse/mu … riage.html
Read More

Apakah Allâh SWT adalah Tuhan atau Setan?

by Adadeh » Sat Nov 21, 2009 2:36 am

Thanks to netter berani_murtad:

1.Dalam Penyesatan

Sifat Iblis:

Qs4:60

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya

Qs4:119

dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

QS 38:82.

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya

Sifat Allâh SWT:

Qs43:36

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Qs13:33

Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.

QS 47:1

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka

QS 40:74

(yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu.” Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.

QS 40:34

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.

QS 35:8

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

2.Dalam Permusuhan dan Kebencian

Sifat Setan:

Qs17:53

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Qs5:91

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Sifat Allâh SWT

Qs5:14

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.

Qs5:64

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

3.Dalam Penipuan

Sifat Setan:

Qs4:120

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

QS 7:22

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

QS 7:27

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

QS 4:76

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Sifat Allâh SWT:
QS 8:30

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah Pembuat Tipu Daya yang Paling Lihai.

QS 3:54

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah adalah pembuat tipu daya yang paling lihai.

4.Dalam Kemaksiatan

Sifat Setan:

Qs15:39

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

sifat Allah SWT:
Qs19:83

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?,

5.Dalam Perceraian

Sifat Setan:
Qs2:102

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Sifat Allâh SWT:

Qs65:1

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.

Qs66:5

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

setelah anda tau sifat setan dan sifat Allah SWT adalah sama. lalu siapakah yang menjadikan setan itu untuk berdosa? sementara perintah untuk membuat dosa adalah dibuat oleh Allah SWT. dan Aulohlah yang menciptakan setan dengan sengaja agar berbuat jahat.
mari kita lihat ayatnya:

Qs43:36

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Allah SWT yang mengadakan setan yang menyesatkan.

Qs2:30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Allah SWT yang menjadikan orang di bumi yang akan membuat kerusakan dan pembunuhan. jadi mereka yang melakukan hal kerusakan dan pembunuhan adalah rancangan dari auloh.

QS6:123

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

yang menciptakan penjahat untuk melakukan tipu daya seperti setan adalah auloh sendiri. dia sendiri yang merencanakan penjahat ini untuk berada di dunia.

QS2:253

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.

Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
dari poin di atas, jelas auloh memang menghendaki manusia berbunuh-bunuhan. Qs25:31
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.
yang mengadakan orang-orang berdosa adalah auloh sendiri. para pendosa ini memang sudah dirancang oleh auloh untuk menjadi musuh para nabi.

Qs6:112

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

aulohlah yang menjadikan setan manusia dan setan jin untuk menjadi musuh nabi. sekali lagi ini adalah rancangan auloh untuk mengadakan setan yang disengaja agar menjadi musuh para nabi.

Q 18:86 Matahari Terbenam di Lumpur

By : ICU

Muslim mengatakan Qur’an mengandung sains yang benar. Mereka merubah penafsiran asli Qur’an agar sesuai dengan teori sains buatan kafir. Contoh yang paling jelas “keajaiban sains Islam” terdapat di Qur’an, Sura Al-Kahfi (18), ayat 86 yang berbunyi:

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka”.

Tafsir2 kuno Qur’an menerangkan pengertian ayat di atas secara harafiah, bahwa menurut Allah SWT/Muhammad, matahari ternyata benar2 TENGGELAM ke dalam lumpur berwarna hitam!! Silakan simak sendiri keterangan dari Ath-Thabari:

Image
Image
Image
Banyak Muslim yang menyangkal bahwa sebenarnya yang dimaksud Muhammad bukanlah begitu, tapi begini dan begitu. Bukti tafsir Thabari menunjukkan bahwa Q 18:86 memang benar menerangkan Muhammad mengira matahari terbenam ke dalam lumpur hitam.

Image
Image

Salahkah para Muslim meninggalkan Islam setelah menyadari kesalahan Sains ini.
Image

Q 18:86 menyatakan bahwa Zulkarnain melihat matahari terbenam. Tapi keterangan Thabari nomer 23379 menjelaskan bahwa sebenarnya Muhammad-lah yang melihat matahari terbenam. Lihat keterangan berikut:

Image

Read More


Put your signature here.

Ke 99 nama Allah

Sifat segenap Nama Ilahi terkandung di dalam Kesembilan-Puluh-Sembilan Nama Allah yang Indah, atau Al-Asma ul-Husna. Kita mewarisi yang ke-99 tersebut melalui sebuah hadis Nabi Muhammad saw. yang membeberkannya secara khusus:

AL-ASMA’UL HUSNAA (NAMA-NAMA INDAH DAN AGUNG)

  1. ALLAH – Nama Ilahi yang serba komprehensif. Nama panggilan Ketuhanan yang merupakan asal-usul segenap Nama lain-Nya.
  2. AR-RAHMAN – Yang Maha Pemurah. Ia yang melimpahkan Kemurahannya kepada segenap Makhluk-Nya.
  3. AR-RAHIEM – Yang Maha Penyayang. Ia melimpahkan Kemurahannya kepada semua orang yang beriman.
  4. AL-MALIK – Yang Maha Kuasa dan Merajai. Ia Raja seluruh alam semesta.
  5. AL-QUDDUS – Yang Maha Suci dari Sifat Kekurangan. Atau Yang Maha Kudus.
  6. AS-SALAAM – Yang Maha Sejahtera (memberi keselamatan). Yang Maha Suci dari Sifat Buruk. “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.”
  7. AL-MUKMIN – Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati Janji-Nya; Yang Memberi keamanan kepada Makhluk-Nya. Atau Maha Pelindung Iman, atau Maha Pelindung Mukminin. Dia mengaktifkan Nama ini di dalam diri mukminin sehingga terpelihara imannya.
  8. AL-MUHAIMIN – Yang memperhatikan, menjaga, serta menaungi Hamba-Hamba-Nya dalam segala keadaan. Atau Yang Maha Pelindung, khususnya Pelindung iman.
  9. AL-AZIZ – Yang Maha Kuat dan Mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Atau Yang Maha Mulia, atau pun Yang Maha Jaya.
  10. AL-JABBAR – Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya atas semua Makhluk-Nya; Yang Maha Perkasa. Yang Kehendak-Nya tidak terkalahkan atau diingkari.
  11. AL-MUTAKABBIR – Yang patut Dipuja karena Keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Memiliki Kebesaran. Atau Yang Maha Bangga, atau Yang Maha Agung. Hanya Tuhan, Yang Berkuasa atas segala Hidup, berhak berbangga.
  12. AL-KHALIK – Yang Maha Pencipta. Yang Maha Kuasa Menciptakan segala sesuatu, seluruh alam semesta, dan segala Makhluk di dalamnya.
  13. AL-BARI’ – Yang menjadikan segala sesuatu. Atau Yang Maha Pengembang. Tuhan merencanakan Makhluk-Nya dan menuntunnya melalui tahap-tahap dalam proses perkembangannya.
  14. AL-MUSHAWWIR – Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu. Secara aktif, Tuhan mencetak segala sesuatu dan membentuknya seraya Ciptaan-Nya menempuh segala tahap dalam proses perkembangannya.
  15. AL-GHAFFAR – Yang Maha Kuasa Menutupi segala kesalahan Hamba-Hamba-Nya dengan mengampuni dosa-dosa mereka. Melalui Kuasa Nama ini, Tuhan mengampuni orang yang berdosa.
  16. AL-QOHHAR – Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang dapat Memaksakan segala yang menjadi Kehendak-Nya. Atau Yang Maha Penekan. Tuhan menaklukan dan mengakhiri segala sesuatu.
  17. AL-WAHHAB – Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya. Tuhan memberi Kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  18. AR-ROZZAQ – Yang Memberi Rezeki. Tuhan adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
  19. AL-FATTAH – Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk. Tuhan jualah yang membuka jalan ke arah segala pengembangan.
  20. AL-‘ALIEM – Yang Maha Mengetahui. Atau Yang Serba Mengetahui. Tiada suatu pun yang luput dari Pengetahuan-Nya.
  21. AL-QOBIDH – Yang Maha Kuasa Menyempitkan. Dia yang menyempitkan atau menyusutkan sesuatu untuk mempersulit urusan Makhluk-Nya.
  22. AL-BASITH – Yang Maha Kuasa Melapangkan. Dia yang mempermudah segala urusan Makhluk-Nya atau sebaliknya membiarkan mereka berkembang.
  23. AL-KHOFIDH – Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  24. AR-ROFI‘ – Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  25. AL-MU’IZZ – Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  26. AL-MUDZILL – Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya. Yang mampu meninggikan martabat juga mampu menurunkannya.
  27. AS-SAMIE’ – Yang Maha Mendengar. Tiada suatu pun yang luput dari Pendengaran-Nya.
  28. AL-BASHIER – Yang Maha Melihat. Tiada suatu pun yang luput dari Pengamatan-Nya.
  29. AL-HAKAM – Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan adalah Hakim seluruh umat manusia, terutama pada Hari Kiamat.
  30. AL-‘ADLU – Yang Maha Adil. Tuhan adil dalam Keputusan-Nya dan membagikan hukuman dan pahala dengan segala cermat-Nya, sehingga di seluruh alam semesta, termasuk Keputusan-Nya, tidak terdapat ketimpangan atau deviasi yang kecil sekali pun.
  31. AL-LATHIEF – Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik. Yang bersifat santun dan lembut kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia yang Maha Pemurah, mengagumkan, dan terlalu halus untuk dilihat dengan mata kepala. (“Tuhan Allah sulit ditebak, tetapi Ia tidak jahat.” Albert Einstein.
  32. AL-KHOBIER – Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu. Karena Ia Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, niscaya Tuhan memantau segala kejadian.
  33. AL-HALIEM – Yang tetap dapat menahan amarah. Atau Yang Maha Lemah Lembut. Atau Yang Maha Penyabar. Tuhan baru tega menghukum bila digusarkan terus-menerus.
  34. AL-‘ADHIEM – Yang Maha Besar; Yang Maha Luhur; Yang Maha Agung. Ia Raja alam semesta dan Maha Besar dari sudut martabat.
  35. AL-GHAFUR – Yang Maha Pengampun. Dia memaafkan segala dosa yang disesali pelakunya.
  36. ASY-SYAKUR – Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik.. Tuhan menerima syukur mereka yang bersyukur kepada-Nya. Sampai tingkat tertentu, Ia sekali gus pengucap syukur serta perbuatan mengucapkan syukur.
  37. AL-‘ALIY – Yang Maha Tinggi Martabat-Nya. Ia Tuhan Yang bertakhta jauh-jauh di atas.
  38. AL-KABIER – Yang Maha Besar. Ia teramat Besar dari sudut ukuran ruang dan waktu.
  39. AL-HAFIEDZ – Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya. Ia melindungi segala sesuatu, terutama Sabda-Nya (Alquran), sampai tiba ajalnya, dengan pengertian bahwa Alquran akan bertahan sampai akhir segala zaman.
  40. AL-MUQIET – Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk-Makhluk-Nya., seperti makanan, minuman dan sebagainya. Atau Yang Maha Pemelihara. Di antara ketiga fase hidup (Kreasi, Hidup, dan Pemusnahan), Nama ini bertalian dengan fase kedua.
  41. AL-HASIEB – Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat. Juga berarti Juru Hitung, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencipta berdasarkan perhitungan yang amat sangat halus (oleh Al-Muhshi).
  42. AL-JALIEL – Yang memiliki segala Sifat kebenaran dan kebesaran. Juga menyangkut segi Ilahi sebagai Yang Maha Pemurka.
  43. AL-KARIEM – Yang Maha Mulia, yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelumnya. Karena Ia jua yang memberikan kita segala milik yang kita punyai, maka Kemurahan-Nya tak terhingga.
  44. AR-RAQIEB – Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu, dan tiada suatu pun yang luput dari Pegawasan-Nya. Ia memantau, menyelia, dan mengontrol. (Banyak di antara penemuan teknologi mutakhir menjelmakan Nama ini.)
  45. AL-MUJIEB – Yang dapat mengabulkan doa Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Pengabul Doa.
  46. AL-WASI’ – Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Yang Maha Besar dari sudut keluasan atau permuaian.
  47. AL-HAKIEM – Yang Maha Bijaksana. Ia Asal-Usul, Pemilik, dan Pembagi segala sifat kearifan.
  48. AL-WADUD – Yang Mencintai dan Mengasihi. Tuhan adalah Cinta Kasih dan Pembagi-nya—Pengasih, Kasih, dan Kekasih.
  49. AL-MAJIED – Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia teramat Ajaib dan patut dipuja, dan oleh karena itu paling patut diagungkan.
  50. AL-BA’ITS – Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat. Tuhan membangkitkan ahli kubur pada Hari Kiamat. Ia juga menciptakan hidup baru dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang hanya dikira mati.
  51. ASY-SYAHIED – Yang menyaksikan segala sesuatu. Karena Ia Yang Serba Sadar dan Yang Maha Pengawas, maka Tuhan adalah Saksi akan segala kejadian sejagat raya, termasuk perbuatan kita yang kecil sekali pun.
  52. AL-HAQ – Yang Haq; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran. Ia inti terdalam seluruh alam dan sama sekali luput dari segala sifat dusta dan kesilapan.
  53. AL-WAKIEL – Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya. Melalui Nama ini kita percaya kepada Tuhan, dan melalui Nama ini Ia memberi rezeki asalkan kita telah berusaha sendiri (memenuhi kewajiban dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya).
  54. AL-QOWIYU – Yang Maha Kuat lagi Perkasa. AtauYang Tak Terbatas.
  55. AL-MATIEN – Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya. Ia Yang Bertahan, yang Maha Melawan, atau Yang Maha Pemberani. (Nama ini terwujud dalam bahan adikeras sebangsa intan.)
  56. AL-WALIYU – Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Sahabat lagi Pelindung. Tuhan merupakan Sahabat setia terhadap segenap Sahabat-Nya
  57. AL-HAMIED – Yang Patut dipuja dan dipuji. Segala puja dan puji adalah Milik-Nya jua.
  58. AL-MUHSHI – Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia menghitung dan memelihara segala ada, baik yang besar maupun yang kecil sekali pun, hingga tiada suatu pun yang luput dari Perhitungan dan Pemeliharaan-Nya. Atau Yang Maha Penghitung atau pun Yang Maha Perancang. Ia sumber ilmu matematika, dan oleh sebab itu sumber segala ilmu pengetahuan alam (lihat juga Al-Hasieb). Menurut Leopold Kronecker, seorang ahli matematika tersohor, “Tuhan hanya menciptakan nomor; selain itu, segala sesuatu adalah ciptaan manusia.” Atau, yang lebih tepat, di alam semesta ini Tuhan mewujudkan ilmu matematika-Nya yang tinggi serta Kalkulasi dan Proporsi Ilahi, sehingga tugas manusia ialah hanya menemukan dan meniru Kemuliaan-Nya.
  59. AL-MUBDI’U – Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada. Segala apa yang diambil oleh Tuhan dapat dikembalikan-Nya.
  60. AL-MU’IED – Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap. Melalui Kekuatan Nama ini, semua doa kita untuk arwah tercinta yang telah tiada akan dikabulkan oleh-Nya pada Hari Kebangkitan.
  61. AL-MUHYI – Yang Maha Kuasa Menghidupkan segala sesuatu yang sudah mati. Ia memberi hayat kepada segala Makhluk hidup.
  62. AL-MUMIET – Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup. Atau Yang Maha Pencipta Maut, atau Yang Maha Pemusnah. Segala sesuatu yang hidup akhirnya ditakdirkan mati oleh-Nya.
  63. AL-HAYYU – Yang Maha Tetap Hidup. Hanya Tuhan jualah yang mempunyai Hidup abadi, karena Ia tidak lahir dan tidak mati pula.
  64. AL-QOYYUM – Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya. Ia untuk selama-lamanya berdiri tegak, siaga, dan awas.
  65. AL-WAAJID – Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki. Ia memberi bentuk badani kepada segala sesuatu yang terdapat di dunia ini.
  66. AL-MAAJID – Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan. Satu-satunya Ada yang patut diagungkan.
  67. AL-WAAHID – Yang Maha Tunggal. Atau Yang Maha Tersendiri dalam bentuk dan jenis. Atau Yang Maha Pemersatu. Segala kelipat-gandaan tersatu di dalam Diri-Nya.
  68. AL-AHAD – Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, tanpa salinan, (maksudnya tidak ditinjau dari sudut urutan angka matematika, tetapi sebagai “Ia Yang tidak diserupai oleh sesama satu pun.”)
  69. ASH-SHOMAD – Yang menjadi tujuan segala makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Atau Yang Maha Abadi. Segenap Makhluk menyeru-Nya dalam kekurangan, dan Dia, yang bebas dari segala kebutuhan, menyediakan kebutuhan mereka.
  70. AL-QODIR – Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki. Tuhan Maha Kuasa. (Sezarah dari segala Sifat Nama ini terwujud pada laut lepas, ilmu Ilahi, dan bidang keuangan.)
  71. AL-MUQTADIR – Yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa.
  72. AL-MUQODDIM – Yang Maha Kuasa Mendahulukan. Atau Yang Maha Pemercepat. Bila dikehendaki-Nya, Tuhan sanggup mempercepat segala urusan.
  73. AL-MU’AKHKHIR – Yang Maha Kuasa Mengakhirkan. Atau Yang Maha Pemerlambat. Sebaliknya, Ia sanggup memperlambat segala urusan.
  74. AL-AWWAL – Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada.
  75. AL-AAKHIR – Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir).
  76. ADH-DHAHIR – Yang Lahir – Yang dapat dilihat kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di luar.
  77. AL-BATHIN – Yang Batin – Yang tidak dapat dilihat Zat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dalam.
  78. AL-WAALI – Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk-Nya. Direktur seluruh alam.
  79. AL-MUTA’AAL – Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi dan tidak dapat diatasi atau dilampaui oleh siapa atau apa pun.
  80. AL-BARRU – Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan. Sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya.
  81. AL-TAUWAAB – Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa. Setelah menerima tobatnya, Ia mengampuni mereka.
  82. AL-MUNTAQIM – Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa. Tuhan tidak meridai perbuatan jahat, dan lambat laun mesti membalas dendam-Nya.
  83. AL-AFUWWU – Yang Maha Memberi Maaf, asalkan pendosa bertobat.
  84. AR-RO’UF – Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang. Belas Kasih ialah Tanda-Nya.
  85. MALIKUL-MULKI – Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan Kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki. Atau Pemilik Kerajaan. Atau Pemilik Abadi segala Kedaulatan. Atau pun Pemilik Kerajaan Allah.
  86. DZUL JALAALI wal IKROM – Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, serta Kemurahan. Tuhan Segala Keagungan dan Kemurahan. Dia Lebih Besar, Penuh Rahmah, dan Maha Pemurah.
  87. AL-MUQSITHU – Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya. Ilmu ekonomi juga berasal dari Nama ini. Ekonomi Ilahi bersifat adil dan cermat.
  88. AL-JAAMI’U – Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu. Tuhan mempersatukan segala sesuatu (yang beraneka segi) di dalam Diri-Nya.
  89. AL-GHONIYYU – Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun. Yang Maha Mandiri. Sedemikian agung Kekayaan-Nya sehingga besarnya seluruh alam semesta ibarat kepala peniti saja.
  90. AL-MUGHNI – Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya. Ia melimpahkannya kepada siapa saja menurut Kehendak-Nya.
  91. AL-MAANI’U – Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu. Pada akhirnya, hanya Tuhan jualah yang mampu menahan sesuatu sehingga batal.
  92. ADH-DHAARRU – Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan. Hanya Tuhan jualah yang mampu mengganggu atau menyusahkan Makhluk-Nya.
  93. ANN-NAAFI’U – Yang dapat memberikan manfaat. Atau Yang Maha Menguntungkan. Hanya Tuhan jualah yang mampu menolong atau menyembuhkan Makhluk-Nya.
  94. AN-NURU – Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu. “Allah yang menerangi langit dan bumi.” (Q24.35) Makhluk pertama ialah Nur Ruh Muhammad, yang muncul dari Nur Ilahi Yang Purba. Itu berarti bahwa Rasul adalah Makhluk yang terdekat pada Tuhan, dilihat dari sudut ontologis (hakikat hidup), dan tidak hanya dari sudut temporal (berkenaan dengan waktu).
  95. AL-HAADI – Yang memberi petunjuk. Tuhan dapat menuntun kita sepanjang jalan yang lurus (atau benar).
  96. AL-BADIE’U – Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapa pun. Atau Yang Tiada Bertara. Ia yang menimbulkan segala sesuatu.
  97. AL-BAQI – Yang Maha Kekal Wujud-Nya. Atau Maha Selamat. Atau Yang Maha Tetap. Meskipun segala sesuatu akan habis, tetapi Ia takkan berkesudahan.
  98. AL-WARITSU – Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada. Atau Yang Maha Waris. Pada saat segala sesuatu kembali kepada-Nya, Ia akan berada di tempat untuk menerimanya.
  99. AR-ROSYIEDU – Yang Maha Pandai dan Bijaksana. Atau Yang Maha Penyuluh. Atau Yang Maha Pemandu yang merintis Jalan yang Benar. Nama ini dikaruniakan kepada segenap nabi, rasul, wali Allah, ahli hikmah, dan syekh yang patut dipercaya.
  100. ASH-SHOBURU – Yang Maha Sabar. Tuhan adalah sumber segala Kesabaran. Banyak Nama-Nya, namun Dia telah ridha mengungkapkan yang di atas kepada Hamba-Hamba-Nya sebagai Nama-Nya yang paling berguna baginya.

_________________

Read More

Apakah Nabi Wafat Saat Sedang Ngesex dengan Aisyah

by Adadeh » Thu Apr 30, 2009 6:26 am

Apakah sang Nabi Wafat Saat sedang Bersenggama dengan Aisyah?
Oleh Ayesha Ahmed
25 Apr, 2008
Note: Artikel ini bisa tergolong satir.

Rupanya Allâh memberi Nabi kita, sang juara ngeseks dengan libido 70 pria, kematian terbaik yang bisa dialami seorang pria. Dia ternyata mati saat ngeseks dengan istri yang paling dikasihinya …

Bukti bahwa dia mati saat ngeseks bisa dilihat di sini:
Ibn Hisham, Sirat, hal. 682:

… lalu dia mendengar Aisyah berkata; “Sang Rasul mati di dadaku saat giliranku (ngeseks dengan sang Rasul). Adalah karena kebodohan dan usia mudaku maka sang Rasul mati di dalam pelukan tanganku.

Sahih Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 144:
Dikisahkan oleh Aisyah:

… sewaktu mengalami sakit parah, Rasul Allâh bertanya pada istri²nya, “Besok aku harus menggiliri siapa ya? Di mana tempat yang harus kudatangi besok?” Dia sedang menunggu-nunggu giliran mengunjungi Aisyah. Maka semua istrinya mengijinkan dia tinggal di tempat mana yang dia inginkan, dan dia pun tinggal di rumah Aisyah sampai dia mati di sana. Dia mati di hari giliran biasaku (untuk ngeseks) di rumahku. Allâh mengambil nyawanya pada saat kepalanya berada diantara dada dan leherku dan ludahnya bercampur dengan ludahku.

Aisyah menyalahkan usia mudanya dan kebodohannya yang mengakibatkan sang Nabi wafat. Hasrat besar Aisyah ingin menyenangkan sang Nabi mengakibatkan terjadinya foreplay/pemanasan seks yang liar dan lidah² keduanya saling berbelit sambil melakukan hubungan seks yang sangat hot. Karena Aisyah belum banyak pengalaman, dia tidak tahu bahaya yang bisa dihadapi orang tua yang lagi sakit keras kala melakukan seks panas dengan wanita muda. Jika saja ngeseks-nya agak pelan, maka mungkin sang Nabi masih hidup. Sang Nabi mencapai klimaks dengan penuh ledakan tapi hal ini tidak dapat ditanggung oleh jantungnya yang telah tua dan lemah. Aisyah melihat sang Nabi mati dan terkulai di dadanya saat mengalami ejakulasi yang tak terbayang nikmatnya (kasus seperti ini sebenarnya sering terjadi). Inilah sebabnya Aisyah merasa bersalah karena dia secara tidak langsung mengakibatkan kematian sang Nabi.

Sang Nabi Mati tanpa Melafalkan Kalimat Syahadah

Hadis² menunjukkan bahwa pada saat kematiannya, mulut sang Nabi tidak mengucapkan kalimat Syahadah sebagaimana yang harus dilakukan Muslim sewaktu menjelang ajal. Sebaliknya, mulut dan lidah sang Nabi malahan sibuk ber-french-kissing dengan istri mudanya.

Bukti² Nyata

Tubuhnya tentu jadi kaku setelah mati dalam kondisi ejakulasi. Kenyataan bahwa para sahabatnya mencoba membungkusnya dengan tiga lapis kain menunjukkan adanya tonjolan yang memalukan di selangkangan sang Nabi. Para sahabatnya berusaha menutupi tonjolan ini dengan lapisan² kain ekstra. Mereka tidak mau orang² tahu apa yang sedang dilakukan sang Nabi saat mengalami kematian.
Hadis Sahih Abu Daud, Buku 20, nomer 3147:

Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Rasul Allâh diselubungi tiga buah kain buatan Najran: dua kain dan satu pakaian yang dikenakannya saat mati.

Rupanya ketiga buah kain ini berhasil menenangkan keadaan dan dia pun dikubur di tempatnya bercinta. Sekedar untuk cross check n catetan saya sendiri, berikut ini links yang berhubungan dengan Volume 7, Book 62, Number 144:

http://www.islamreview.com/articles/PRO … ISHA.shtml
http://arabiguitar.blogspot.com/2009/04 … aking.html
http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/bukhari/062_sbt.html
http://www.faithfreedom.org/2009/04/25/ … -to-aisha/
http://www.islamreview.com/articles/PRO … ISHA.shtml
http://www.usc.edu/schools/college/crcc … 2.sbt.html

Read More

Sumber Nafkah Muhammad dan Muslim Awal

Pengakuan Muhammad bahwa rejekinya berasal dari bayang² tombaknya:

Image
Bayang² tombak di sini berarti jarahan/rampasan perang (lihat keterangan di SINI).
=========================================

Sudah tak terhitung jumlahnya perdebatan antara Muslim dan kafir tentang Jihad di forum FFI. Muslim Indonesia kebanyakan menentang Jihad serang kafir untuk sebarkan Islam dan mereka tidak hentinya menyangkal pengakuan Muhammad bahwa dia mencari nafkah melalui ujung tombaknya terhadap kafir agar kafir menyerahkan harta bendanya pada Muhammad. (Sahih Al-Jaami’ As-Sagheer No. 2828; Hadis sahih al Bukhari, bab Jihad dan Biografi, perkataan nomer 2913; dan juga Mussnad Al Imam Ahammed, perkataan nomer 5409 dan 4869). Hadis² sahih tentang Sholat mereka terima tanpa ragu, tapi Hadis sahih pengakuan Muhammad dalam mencari nafkah mereka tolak mentah².

Berikut adalah pengakuan jujur Muslim bahwa Muhammad memang mencari nafkah melalui perampasan dan perampokan harta kafir.

Sumber Nafkah Umat Muslim

Negara Islam punya sejarah yang unik karena merupakan satu²ny negara yang tidak memajak umatnya. Bagaimana mungkin? Hal ini karena sumber pendapat negara datang dari:

1.Jizyah ? pajak terhadap kafir Kristen dan Yahudi
2.Kharaaj ? pajak tanah pertanian kafir
3.Ghanima ? harta kafir yang dijarah atau dirampas Muslim
4. ?Fay harta kafir yang dirampas Muslim tanpa peperangan. Para kafir ketakutan dan ngacir lari melarikan diri dari Muslim dan meninggalkan harta bendanya atau mereka menyerah tanpa perlawanan atau mereka bayar Jizyah. Pembagian Fay terserah pada ketetapan Imam (dilaporkan oleh Ahmad dan At-Tabarani. Termasuk hadis sahih. Sahih Al-Jaami’ As-Sagheer, Nomer 2828)

Semua sumber nafkah ini berasal dari Jihad; jadi Pemerintah tidak perlu memajak umat Muslim lagi. Tapi di jaman sekarang umat Muslim tidak lagi melakukan Jihad fe Sabilillah, sehingga negara terpaksa memajak umat Muslim. Sedangkan Rasul Allâh SAW berkata “Pajak itu haram dan siapapun yang punya pekerjaan apapun yang berhubungan dengan pajak akan dikutuk”
Begitulah jalan keluarnya, dan umat Muslim perlu sadar dan membaca hadis singkat ini dan mengikuti pesannya.

Ibn Rajab al-Hanbal (rahimahullah) menyatakan bahwa salah satu Salaf (Muslim awal yang suci) ditanyai ‘Mengapa kau tidak membeli sebuah ladang pertanian bagimu dan keluargamu?’ Dia menjawab ‘Allâh ‘Azza wa Jall telah mengirim aku untuk membunuh petani dan merampas tanah ladangnya.’
Ketika ‘Umar ibn al-Khattab (radiyallahu ‘anhu) mendengar bahwa para sahabat mulai sibuk bertani di ladang yang subur setelah mendapatkan ladang itu sebagai Ghanima (harta jarahan) dari jihad fe Sabilillah di Yordania, dia (‘Umar) menunggu sampai waktu memanen hasil ladang dan lalu memerintahkan semua ladang pertanian dibakar habis. Karenanya beberapa sahabat datang dan mengeluh padanya. Dia (‘Umar) berkata ‘Bertani adalah pekerjaan masyarakat ahli kitab (Yahudi dan Kristen); pekerjaanmu adalah berperang dalam Jihad fe Sabilillah dan menyebarkan agama Allâh.’

SubhanAllâh, kejadian yang serupa juga dinyatakan di hadis berikut:
Sunan Abu Dawud: Book 14, Number 2506

Dikisahkan oleh Abu Ayyub:
Abu Imran berkata: Kami pergi melakukan penyerangan dari Medinah dengan tujuan menyerang Konstantinopel. Abdur Rahman ibn Khalid ibn al-Waleed adalah pemimpin tentara. Pasukan Romawi tetap mempertahankan tembok² kota itu. Seorang (Muslim) tiba² menyerang musuh. Karenanya orang² berkata: Berhenti! Berhenti! Tiada tuhan selain Allâh.” Orang itu membahayakan dirinya sendiri.
Abu Ayyub berkata: Ayat ini diwahyukan bagi kami orang² Ansaar (para pembantu). Ketika Allâh menolong RasulNya (SAW) dan membuat Islam jadi agama dominan, kami berkata (berencana): Marilah! Mari kita tinggal di tanah milik kita ini dan mengolahnya.
Karena itu, Allâh, yang Maha Besar, menurunkan wahyu: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah, ayat 195). Menjatuhkan diri dalam kebinasaan berarti kita tinggal di tempat harta milik kita dan bertekad mengembangkannya, dan tidak melakukan Jihad.
Abu Imran berkata: Abu Ayyub melanjutkan melakukan Jihad fe Sabilillah sampai dia mati dan dikuburkan di Konstantinopel.
? Adadeh: harus diingat bahwa Muhammad dan gerombolan Muslimlah yang terlebih dahulu menyerang Romawi Konstantinopel.

Tinggalkan kegiatan bertani untuk dilakukan oleh masyarakat Ahli Kitab, sedangkan kau (Muslim) pergilah dan sebarkanlah agama Allâh ‘Azza wa Jall. Mereka (para Ahli Kitab) akan bertani dan mereka akan memberimu makan; mereka akan bayar Jizya (pajak uang bagi kafir di bawah Kalifah), mereka akan bayar Kharaaj (Kharaaj adalah pajak hasil ladang pertanian) karena:

Sahih Al-Jaami’ As-Sagheer No. 2828

Rasul Allâh (sallallahu ‘alayhe wassallam) berkata,
“Sumber rezekiku berasal dari bayang² tombakku.”

(Dilaporkan oleh Ahmad dan At-Tabarani. Termasuk hadis sahih.) ? juga terdapat di Hadis sahih al Bukhari, bab Jihad dan Biografi, perkataan nomer 2913; dan juga Mussnad Al Imam Ahammed, perkataan nomer 5409 dan 4869; versi koleksi Hadis Bukhari internet tidak mencantumkan hadis sahih sumber cari nafkah sang Nabi Islam, karena Muslim KTP pada malu mencantumkannya.

Jadi jika rezeki Rasul Allâh (SAW) berasal dari Ghanima (harta rampasan), maka rezeki ini tentunya adalah rezeki yang terbaik dan lebih baik daripada bertani, bisnis, beternak, dan lebih baik dari pekerjaan apapun juga karena Rasul Allâh (SAW) berkata: “Sumber rezekiku berasal dari bayang² tombakku.”

wallahu alam
==============
Catatan dari Adadeh:
Dalam perdebatan, Muslim terus menyangkal dengan menyatakan bahwa Allâh memerintahkan Jihad karena saat itu Muslim sedang dalam keadaan berperang. Tapi perhatikan bahwa peperangan² terhadap kafir itu terjadi karena Muhammad dan gerombolan Muslimnya menyerang pihak kafir terlebih dahulu!! Siapakah yang menyerang Muhammad dan umat Muslim di Medinah? Tidak ada kafir manapun yang terlebih dahulu menyerang Muhammad dan umatnya. Muhammad mengadakan 78 perang (ghazwa and saria ? serang dan sergap) dan semuanya akibat dia terlebih dahulu yang menyerang kafir. Jika Muhammad tidak mengobarkan perang Jihad, maka tentunya tidak ada perang; tapi jika Muhammad tidak berjihad, maka dia tidak akan dapat nafkah atau rejeki! Dia sendiri sudah jelas² mengaku bahwa mata pencahariannya, nafkahnya, rejekinya berasal dari jihad merampas, menjarah, dan merampok harta kafir.

Jika Muslim masih ngotot menyangkal, tanyakan saja pada mereka:
BAGAIMANA MUHAMMAD MENCARI NAFKAH DI MEDINAH SELAMA 10 TAHUN? ? Sewaktu di Mekah sih, dia dinafkahi oleh bini pertamanya si Khadijah yang merupakan orang terkaya di Mekah.
DAPAT SUMBER UANG DAN HARTA DARI MANAKAH DIA UNTUK MENAFKAHI 23 ISTRI² (ini berarti sedikitnya nikah 2 kali setahun) DAN BUDAK² SEKSNYA? BAGAIMANA UMAT MUSLIM CARI NAFKAH DI MEDINAH SEDANGKAN MEREKA HARUS MELAKUKAN 78 PEPERANGAN DALAM WAKTU 10 TAHUN?
Khotbah Imam Anwar al-Awlaki

VI. Jalan Keluar bagi Masalah yang Dihadapi Umat Islam

Kita setuju kita mempunya masalah sekarang. (Adadeh: masalah Muslim yang juga diketahui Muslim: miskin, terbelakang dalam segala bidang, malu²inlah pokoknya) Setiap Muslim mengatakan umat Muslim menderita karena bermasalah tapi kita berbeda-beda dalam mengatasi masalah. Kita tidak seharusnya berbeda pendapat jika kita memiliki Qur’an dan Sunnah. Kita tidak seharusnya berbeda pendapat jika jawaban terdapat dalam Qur’an dan Sunnah. Maka apakah jalan keluar dari masalah kita sekarang? Jalan keluarnya terdapat dalam sebuah hadis tatkala Rasul Allâh berkata:

“Ketika kamu melakukan transaksi dagang, memegang ekor sapi² (beternak), dan merasa senang melakukan pertanian, dan tidak lagi melakukan Jihad fi Sabilillah, Allâh akan mempermalukanmu, dan tidak akan menghentikan mempermalukanmu, sampai kau kembali pada din yang sebenarnya (yakni Islam yang sejati).”

[ref. Dikisahkan oleh ‘Abdullah ibn ‘Umar (radiyallahu ‘anhu). Terdapat di Sunan Abu Dawud: Book 23,
Number 3455 & Saheeh Al-Jaami' No. 688 & Ahmad Number 4825 & Aboo Umayyah at-Tarsoose in
"Musnad ibn ‘Umar" (no. 22)]

Hadis ini menjelaskan pada kita masalah dan jalan keluarnya. Yang menarik adalah masalah yang diutarakan dalam hadis itu malah dianggap Muslim modern sebagai jalan keluar. Maka apakah masalahnya? Rasul Allâh berkata: ketika kau sibuk dengan bisnis dan tanah ladang dan ternakmu dan kau meninggalkan Jihad fi Sabilillah, kau akan dipermalukan.

Beberapa Muslim mengatakan bahwa jalan keluar satu²nya bagi Umat Muslim untuk bisa menang adalah jika kita mengikuti cara² negara² lain dalam bidang industri, pertanian, perdagangan, sehingga kita bisa jadi seperti mereka dan kita akan menang. Jadi, jika kita ini sukses dalam berbisnis, bertani, berteknologi, dan lain², maka itulah jalan keluar bagi umat Muslim. Akan tetapi Rasul Allâh justru mengatakan hal itu sebagai masalahnya.

Sebagian Muslim menyatakan jalan keluar bagi Umat Muslim adalah menghindari terorisme dan menghabiskan waktu mereka untuk jadi ahli dalam bidang bisnis, teknologi, pertanian, dll; beginilah caranya agar umat Muslim bisa bersaing dengan kafir. Rasul Allâh berkata bahwa pandangan ini salah dan Allâh ‘Azza wa Jall akan mempermalukan Umat Muslim jika mereka melakukannya. Rasul Allâh mengatakan tiada jalan keluar lain sampai Muslim kembali kepada din. Penafsir hadis ini menjelaskan bahwa kembali pada din berarti kembali melakukan Jihad fi Sabilillah terutama karena Rasu Allâh menjelaskan bahwa meninggalkan Jihad berarti meninggalkan din sehingga jalan satu² kembali pada din adalah kembali melakukan Jihad fi Sabilillah; jadi Jihad itu sama artinya dengan agama Islam. Nah, inilah jalan keluarnya; jalan keluar bagi Umat Muslim adalah kembali melakukan Jihad fi Sabilillah.

Ibn Rajab al-Hanbal (rahimahullah) menyatakan bahwa salah satu Salaf (Muslim awal yang suci) ditanyai ‘Mengapa kau tidak membeli sebuah ladang pertanian bagimu dan keluargamu?’ Dia menjawab ‘Allâh ‘Azza wa Jall telah mengirim aku untuk membunuh petani dan merampas tanah ladangnya.’

Ketika ‘Umar ibn al-Khattab (radiyallahu ‘anhu) mendengar bahwa para sahabat mulai sibuk bertani di ladang yang subur setelah mendapatkan ladang itu sebagai Ghanima (harta jarahan) dari jihad fe Sabilillah di Yordania, dia (‘Umar) menunggu sampai waktu memanen hasil ladang dan lalu memerintahkan semua ladang pertanian dibakar habis. Karenanya beberapa sahabat datang dan mengeluh padanya. Dia (‘Umar) berkata ‘Bertani adalah pekerjaan masyarakat ahli kitab (Yahudi dan Kristen); pekerjaanmu adalah berperang dalam Jihad fe Sabilillah dan menyebarkan agama Allâh.’

Tinggalkan kegiatan bertani untuk dilakukan oleh masyarakat Ahli Kitab, sedangkan kau (Muslim) pergilah dan sebarkanlah agama Allâh ‘Azza wa Jall. Mereka (para Ahli Kitab) akan bertani dan mereka akan memberimu makan; mereka akan bayar Jizya (pajak uang bagi kafir di bawah Kalifah), mereka akan bayar Kharaaj (Kharaaj adalah pajak hasil ladang pertanian) karena Rasul Allâh (sallallahu ‘alayhe wassallam) berkata,
“Sumber rezekiku berasal dari bayang² tombakku.”
(Dilaporkan oleh Ahmad dan At-Tabarani. Termasuk hadis sahih. Sahih Al-Jaami’ As-Sagheer No. 2828)

Ada sebuah wawancara dengan seorang juru bicara Al-Jaysh al-Islam fil ‘Irak [ref. dilaporkan oleh Ahmad and At-Tabarani. Termasuk hadis Saheeh. Saheeh Al-Jaami’ As-Sagheer No. 2828] Ketika ditanya ‘Apakah sumber nafkahmu?’, dia menjawab ‘Sumber nafkah kami adalah Ghanima tapi kami tak keberatan jika umat Muslim bersedia memberi sedekah pada kami.’ Mereka tidak akan jadi pengemis, karena mereka menafkahi diri mereka dengan Ghanima (jarahan perang) dari melakukan Jihad fi Sabilillah.

Jadi, jalan keluar bagi Umat Muslim sekarang adalah Jihad fi Sabilillah. Ketika Umat Muslim mulai melakukan ibadah jihad ini, Umat lainnya menganggap Jihad fi Sabilillah sebagai suatu ironi. Mereka malahan lari dari tugas ini karena dianggap akan mengurangi uang dan malah kehilangan nyawa; memang benar bahwa kau bisa kehilangan nyawa dan harta dalam Jihad fi Sabilillah. Tapi sebenarnya jika Umat Muslim berperang Jihad fi Sabilillah, maka Umat menjadi paling kaya dan jika Umat berperang Jihad fi Sabilillah, maka ternyata sangat sedikit Umat yang mati.

Jika kita bikin grafik jumlah Muslim yang mati, kita akan menemukan bahwa hanya sedikit sekali Muslim yang mati ketika Umat Muslim melakukan Jihad fi Sabilillah, sedangkan jika Umat Muslim meninggalkan Jihad fi Sabilillah maka yang mati malahan jutaan. Jika kita menggambar kurfa kekayaan Muslim, maka kau temukan bahwa Umat Muslim punya harta terbanyak saat melakukan Jihad fi Sabilillah dan jadi termiskin saat meninggalkan Jihad fi Sabilillah.

==============
Catatan dari Adadeh:
Dari kasus² di atas, perhatikan baik² apakah Muhammad, ‘Umar ibn al-Khattab, Abu Bakr, Usman pernah menunggu kafir menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka mengobarkan jihad?
Juga perhatikan seluruh tulisan Imam Anwar al-Awlaki apakah Muslim harus menunggu kafir menyerang terlebih dahulu sebelum Muslim boleh melakukan Jihad fi Sabilillah?
Khotbah Pak Awlaki ini dengan jelas menganjurkan Umat Muslim berpedoman pada perintah dan sunnah Nabi, yang tidak pernah menunggu kafir menyerang terlebih dahulu untuk melancarkan usaha cari nafkahnya berjihad merampoki kafir. Malah lebih dari itu, Pak Awlaki juga menyatakan justru dari Jihad itulah Umat Muslim akan semakin kaya dan makmur. Itu baru pengakuan jujur Muslim, karena yang dilakukannya hanyalah mengutip ucapan dan perintah Muhammad saja.

Juga patut diingat bahwa tiada satu pun ayat Qur’an yang memerintahkan Muslim bekerja keras dalam mencari nafkahnya dengan cara halal (? halal dalam pengertian manusia waras umumnya, yakni: jujur dalam melakukan usaha bisnis, dagang, bertani, beternak, berkarya, berilmu, dll). Harap diingat pula bahwa pengertian halal dalam Islam tidak sama dengan pengertian halal yang dimengerti manusia waras pada umumnya. Manusia waras yang berakhlak mana pernah menghalalkan penjarahan, perampokan, dan perampasan harta orang lain sebagai cara cari nafkah yang diridhoi Tuhan. Karena itu, jika Muslim memberi contoh² hadis palsu yang menyatakan Allâh memerintahkan Muslim kerja keras cari nafkah dengan jujur (tak merampoki kafir), tanyakan pada mereka:
(1) mana contoh Muhammad melakukan perbuatan seperti itu di Medinah; dan
(2) mana pula ayat Qur’an yang menyatakan hal seperti itu.
Tidak ada satupun Muslim FFI yang berani mengakui bahwa mata pencaharian Muhammad berasal dari menjarah/merampas harta kafir. Tapi tidak begitu dengan Muslim² lain yang berani mengakui bahwa memang begitu cara Muhammad cari nafkah, dan bahkan ITULAH CARA CARI NAFKAH YANG TERBAIK. Nah, ini merupakan pengakuan jujur. Berikut masih dari sumber Muslim sendiri:
=============

Alasan² Mengapa Jihad Harus Dilaksanakan Muslim
8 – Untuk Mendapatkan Harta Jarahan

Saheeh al-Jaami’, 2831
Disampaikan oleh Ahmad:
Sang Nabi SAW berkata:
Aku telah dikirim sebelum Waktu dengan pedang agar Allâh saja yang disembah, dan rejekiku berasal dari bayang² tombakku, dan telah diperintahkan untuk menerapkan penghinaan bagi siapapun yang melawan perintahku, dan siapapun yang meniru orang (kafir) merupakan salah satu dari mereka.

Al-Haafiz berkata:
Hadis ini menyatakan bahwa harta jarahan adalah halal bagi umat Muslim, dan bahwa rejeki sang Nabi berasal dari jarahan perang dan tidak dari mata pencaharian lainnya. Karena itu, sebagian ahli Islam menyatakan bahwa inilah mata pencaharian yang terbaik.

Al-Qurtubi berkata:
Allâh telah memberi nafkah pada RasulNya SAW melalui usaha perangnya dan Dia membuat itu sebagai mata pencaharian terbaik yakni cari nafkah melalui pemaksaan dan kekuatan. Sang Nabi melakukan Perang Badr untuk menghadapi kafilah Abu Sufyan.

(Adadeh: nah, ini baru Muslim jujur yang mengaku bahwa Muhammad menyerang kafilah Quraish di Badr untuk cari nafkah!! Beda banget sama Muslim plintat-plintut munafik seperti si Montlir, Gaston, dan banci² lainnya)

Al Qurtubi berkata:
Kenyataan bahwa sang Nabi menemui kafilah ini menunjukkan bahwa diperbolehkan untuk mengambil harta jarahan sebagai sumber mata pencaharian yang halal. Hal ini membantah pendapat Maalik yang menyatakan hadis ini makruh, ketika dia mengatakan bahwa ini merupakan perang untuk mendapatkan harta duniawi.

Al-Shawkaani berkata:
Ibn Abi Jamrah berkata: Para ahli ahadis jika tujuan utama adalah untuk menegakkan firman Allâh, maka tidak mengapa jika hal lain juga dicapai.

(Adadeh ? maksudnya adalah tidak apa² menggunakan cara² kriminal jarah, rampas, rampok harta kafir jika ini bertujuan untuk kebaikan Islam.)

==============
Karena Jihad merupakan cara cari nafkah yang utama, maka Muslim pun harus menyerang dan meneror kafir, tidak peduli kalaupun kafir tidak pernah memusuhi Muslim. Masih dari website yang sama:
==============

Jika kafir tidak berkumpul memerangi Muslim, maka perang bersifat Fard Kifaya dengan persyaratan minimum menunjuk Muslim untuk menjaga daerah perbatasan, dan mengirim sekelompok pasukan SETIDAKNYA SETAHUN SEKALI UNTUK MELAKUKAN TEROR PADA MUSUH ALLÂH. Sudah menjadi kewajiban Imam untuk mengumpulkan dan mengirim sekelompok tentara ke tanah perang (Dar-ul-Harb ? tanah kafir, yang berarti halal untuk diperangi Muslim) SEKALI ATAU DUA KALI SETIAP TAHUN. Terlebih lagi, sudah jadi kewajiban umat Muslim untuk membantu sang Imam, dan jika Imam ini tidak mengirim tentara, maka dia telah berdosa.

Dan sang Ulama telah menjelaskan tipe Jihad ini adalah untuk tetap mendapatkan bayaran Jizya (paksaan bayaran yang harus dibayar kafir pada Muslim). Para ahli Islam tentang prinsip² Islam juga telah berkata:
Jihad itu merupakan Dakwah dengan paksaan, dan sudah jadi kewajiban untuk melakukannya dengan segala kemampuan, sampai semua orang yang ada hanyalah Muslim atau orang² yang tunduk di bawah Islam.
(Hashiyah Ash-Shirwani and Ibn Al-Qasim in Tuhfah Al-Muhtaj Alal Minhaj 9/213)
==============

Catatan dari Adadeh:
Sekali lagi, Muslim ini benar² jujur mengakui bahwa Jihad itu harus selalu dilakukan Muslim sebagai cara cari nafkah Muslim, dan agar duit terus masuk dari kantong kafir ke kantong Muslim lewat pemaksaan, penindasan, penjajahan. Sudah jelas bahwa Islam itu agama perampok dan penjarah. Muhammad sendiri tidak malu² mengakui hal ini, tapi anehnya Muslim² seluruh Indonesia menolak pengakuan Nabinya mentah². Kenapa yaaa?

Kecenderungan aneh tampak di dunia Islam. Muslim yang sangat giat mengulang-ulang hadis pengakuan Muhammad cari nafkah lewat Jihad ternyata adalah Muslim² yang giat berjihad menyebar teror. Contoh nyata tampak di website berikut dari Muslim teroris Chechna bernama Shaykh Said Abu Saad:

PERINGATAN BAGI MUSLIM UNTUK BERJIHAD

Image

kutipan:
Dan Rasul Allâh SAW berkata dalam hadis yang terkenal ini, yang diteruskan pada lebih dari 20 orang sahabatnya:
“Sebenarnya, akan ada sekolompok umat dalam umatku (di hadis lain disebut “sekelompok dalam umatku”, atau di hadis lainnya disebut “sebuah umat dari umatku”), dan mereka akan berperang untuk kebenaran, dan Allâh akan menundukkan hati orang² bagi mereka, dan akan memberi nafkah dari orang² yang dikalahkan.”
Dan karenanya sang Nabi berkata bahwa “Rejekiku, sumber nafkahku diberikan padaku melalui bayang² tombakku”, dan seberapa jauh tombak itu terlontar, sebegitu pula banyaknya nafkah yang diberikan Allâh pada Muslim.

Pesan Muhammad sudah jelas bagi Muslim: Muslim harus berjihad memerangi kafir, dan kafirlah yang harus menafkahi Muslim.
Jika ini bukan agama sesat, maka apa dunk namanya? Muhammad menghendaki Muslim berperang tiada akhir, sampai Islam mendominasi dunia. Jika ini benar² terjadi di dunia nyata sekarang, maka akibatnya umat Muslim seluruh dunia bisa hancur musnah tak berbekas. Muslim jaman sekarang tidak berani melakukan jihad universal / seluruh dunia karena mereka tahu kekuatan militer kafir jauh lebih superior daripada Muslim. Tapi jika kafir lemah, maka Muslim takkan ragu menyerang dan menjajah kafir sama persis seperti yang dulu dilakukan Muhammad, Abu Bakr, Umar, Usman, Ali, kekalifahan Umaya, Abbisid, Ottoman.
Siapa lagi yaaa yang doyan banget mengulang-ulang hadis dari Nabi Muhammad yang mengaku sumber nafkahnya berasal dari ujung atau bayang² tombaknya? Siapa lagi jika bukan Jihadis Osama bin Laden!!

OSAMA BIN LADEN: Text of Fatwah Urging Jihad Against Americans -1998
Published in Al-Quds al-‘Arabi on Febuary 23, 1998

kutipan:
Statement signed by Sheikh Usamah Bin-Muhammad Bin-Ladin; Ayman al-Zawahiri, leader of the Jihad Group in Egypt; Abu- Yasir Rifa’i Ahmad Taha, a leader of the Islamic Group; Sheikh Mir Hamzah, secretary of the Jamiat-ul-Ulema-e-Pakistan; and Fazlul Rahman, leader of the Jihad Movement in Bangladesh

Praise be to God, who revealed the Book, controls the clouds, defeats factionalism, and says in His Book “But when the forbidden months are past, then fight and slay the pagans wherever ye find them, seize them, beleaguer them, and lie in wait for them in every stratagem (of war)”; and peace be upon our Prophet, Muhammad Bin-‘Abdallah, who said “I have been sent with the sword between my hands to ensure that no one but God is worshipped, God who put my livelihood under the shadow of my spear and who inflicts humiliation and scorn on those who disobey my orders.” The Arabian Peninsula has never–since God made it flat, created its desert, and encircled it with seas–been stormed by any forces like the crusader armies now spreading in it like locusts, consuming its riches and destroying its plantations. All this is happening at a time when nations are attacking Muslims like people fighting over a plate of food. In the light of the grave situation and the lack of support, we and you are obliged to discuss current events, and we should all agree on how to settle the matter.

terjemahan paragraf kedua:
Terpujilah Allâh, yang menurunkan Qur’an, mengatur awan, mengalahkan kepalsuan, dan berkata dalam BukuNya: “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian”; dan damai bersertamu Nabi kami, Muhammad Bin-‘Abdallah, yang mengatakan “Aku telah dikirim dengan pedang diantara kedua tanganku untuk meyakinkan bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allâh, Allâh memberikan sumber nafkahku dari bayang² tombakku dan menerapkan penghinaan dan penentangan terhadap siapapun yang tidak mentaati perintahku.” Jazirah Arabia – Allâh membuatnya datar, membuat gurun pasir yang dikelilingi lautan – tidak pernah dilanda kekuatan apapun seperti tentara salib yang sekarang menyebar di sana bagaikan belalang, memakan kekayaan dan menghancurkan pertanian. Semua ini terjadi saat negara² menyerang Muslim seperti orang² menyerbu makanan. Di saat genting dan tiada dukungan ini, kami dan kau wajib berdiskusi akan masalah² sekarang, dan kita harus setuju akan jalan keluarnya.

Sudah jelas bahwa Osama ingin dinafkahi musuhnya para kafir Amerika, tapi apa boleh buat, Allâh ternyata tidak meridhoi. Sekarang dia malah harus nyumput ketakutan (takut di-waterboarding), tidak berani nongol sama sekali dan harus dinafkahi saja tuan rumahnya Muslim Taliban di Pakistan. :lol:
Tentunya kurang afdol jika tidak disertakan sumber buku cetaknya. Berikutnya adalah gambar cover depan buku koleksi Sahih Al-Bukhari:

Image

Ini halaman pertamanya:
Image

Ini pengakuan sang Nabi atas mata pencahariannya:
Image

terjemahan:
Bab 88. Apa yang dikatakan berhubungan dengan tombak².
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa sang Nabi SAW berkata, “Mata pencaharianku berada di bawah bayang² tombakku, (1) dan orang yang tidak taat perintahku akan dihina dengan bayar Jizya.” (2)

(1) “Di bawah bayang² tombakku” berarti “dari jarahan perang”
(2) Jizya ? pungutan uang paksa terhadap kafir Kristen, Yahudi, yang menolak Islam.

Berikut adalah pengakuan sang Nabi bahwa dia dimenangkan melalui teror yang dilakukannya terhadap para kafir:
Image

terjemahan hadis dalam kotak merah:
Pernyataan sang Nabi SAW: Aku telah dimenangkan dalam perjalanan sebulan melalui teror/rasa takut (yang dimasukkan ke dalam hati musuh). Pernyataan Allâh:
‘Kami akan memasukkan teror/rasa takut ke dalam hati para kafir.’ (Q 3:151)

terjemahan hadis dalam kotak ungu:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allâh SAW berkata, “Aku telah dikirim dengan pesan² pendek yang mengandung arti² terbanyak, dan aku telah dimenangkan melalui teror/rasa takut (yang dimasukkan ke dalam hati para musuh), dan ketika aku masih tidur, kunci² harta dunia dibawa kepadaku dan diletakkan ke dalam tanganku.”
Abu Huraira menambahkan: Rasul Allâh SAW telah meninggal dunia dan sekarang kalian, para umat, mendapatkan harta² tersebut (sang Nabi SAW tidak menikmatinya)
(? ya jelas tidak bisa menikmati karena udah mati!)

Nabinya tukang teror kafir dan bahkan hidup dari meneror kafir, Allâhnya juga tak ketinggalan menghalalkan teror terhadap kafir. Hmmm… kok Muslim sakit ati sih jika Islam dikatakan sebagai agama teror, padahal Nabi dan Allâhnya sudah mengaku tuh.

Yang juga jadi pertanyaan adalah: Mengapa Muslim tidak mau mengikutsertakan hadis sahih tentang sumber nafkah sang Nabi SAW di versi Hadis Sahih Bukhari internet? Ada berbagai website Islam yang mencantumkan koleksi Hadis Bukhari di internet, tapi tak satu pun mau mengikutsertakan hadis hebat nafkah Nabi SAW ini. Muslim ternyata malu atas pengakuan Nabinya. Muhammad menyuruh umatnya melakukan Jihad yang dimengerti umat Muslim sebagai perang suci di jalan Allâh, tapi sebenarnya hal ini tidak lain adalah cara sang Nabi mencari nafkah melalui usaha umat Muslim menjarah, merampas, dan merampok kafir. Inilah rahasia paling mendasar dalam Islam yang harus diketahui Muslim dan non-Muslim Indonesia.

Wahai Muslim, pikirkan dan renungkan pengakuan jujur Nabimu tentang caranya cari nafkah.
Muhammad membujuk orang² dengan janji² kekayaan dan kesenangan duniawi dan jasmani. Ajarannya sarat dengan segala isi janji²nya tersebut, dan dia membuka lebar² segala macam pemuasan hasrat seksual, kekayaan, jabatan, kekuasaan, bahkan hasrat melampiaskan kebencian, kekejian, kebuasan terhadap sesama manusia. Dengan demikian, tidak heran jika Muhammad sendiri menjadi budak hawa nafsunya.

Para Muslim FFI jerit² bahwa Muhammad berjihad karena kafir terlebih dahulu menyerang umat Muslim. Jika disodorkan bukti bahwa umat Yahudi, Persia, Romawi, Kristen, pagan Arab, ternyata tidak pernah menyerang Muhammad dan umat Muslim terlebih dahulu, mereka dengan liciknya berubah siasat dan mulai menyemburkan berbagai alasan karangan sendiri, tidak peduli benar atau salah, yang penting perbuatan Muhammad jadi tampak baik dan halal.

Untunglah banyak Muslim lain yang tidak malu² mengakui bahwa Muhammad memang melakukan Jihad menyerang kafir, padahal kafir tidak memeranginya terlebih dahulu.

http://salafiyyah-jadeedah.tripod.com/Q … dition.htm
oleh: Mustafa Salahaddin

Ada dua jenis jihad melawan kafir, yakni:
(1) Jihad Menyerang / Ofensif (Jihad talab)
(2) Jihad Bertahan / Defensif (Jihad daf’)

Jihad Menyerang adalah jihad yang dilakukan terhadap kafir padahal tidak ada kafir yang memerangi Muslim atau mengepung untuk memerangi Muslim. Jihad seperti ini disebut Fard Kifayah, yang berarti jika sebagian Muslim melakukan kewajiban ini, maka umat Muslim lainnya tidak perlu melakukannya. Jika tidak ada Muslim yang melakukan kewajiban ini, maka semua umat Muslim berdosa.

Qur’an, Sura Al-Anfal (8), ayat 39
Allâh berkata:
Wahai umat Muslim, perangi mereka sampai tiada fitnah lagi dan agama Allâh ditegakkan sepenuhnya.

Hadis Sahih Bukhari, vol. 1, no. 24; Hadis Sahih Muslim, vol. 1, no. 29:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa Rasul Allâh berkata:
Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang² sampai mereka bersaksi tiada tuhan selain Allâh, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allâh, dan melakukan kewajiban sholat, dan bayar zakat. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah dan kekayaan mereka akan selamat daripadaku, dan perbuatan mereka akan dipertimbangkan oleh Allâh.

Al-Mughni, 9/163

Ibn Qudaamah berkata:
Jihad adalah kewajiban bagi umat Muslim; jika sebagian orang melakukannya, maka umat Muslim lainnya bebas dari kewajiban itu.” Arti fard kifaayah adalah jika jihad tidak dilakukan oleh cukup banyak Muslim, maka semua Muslim berdosa, tapi jika Muslim yang melakukan cukup banyak, maka sisa umat Muslim lainnya bebas dari dosa itu. Awalnya, perintah Jihad itu bagi semua Muslim, sama seperti kewajiban pribadi (fard ‘ayn), tapi dalam kasus fard kifaayah kewajiban tidak harus dilakukan semua Muslim jika sudah cukup banyak Muslim yang berjihad. Ini tidak sama dengan fard ‘ayn di mana kewajiban tetap harus dilakukan tidak peduli berapa banyak Muslim yang telah melakukannya. Jihad adalah fard kifaayah, menurut ahli² Islam pada umumnya.

Hashiyah Ash-Shirwani and Ibn Al-Qasim in Tuhfah Al-Muhtaj Alal Minhaj 9/213

Para ahli Islam telah berkata bahwa jihad jenis ini adalah untuk TETAP MENDAPATKAN JIZYAH (pajak paksaan yang harus dibayar kafirun yang hidup di tanah Islam). Para ahli juga berkata: “Jihad itu adalah Dakwah dengan menggunakan paksaan, dan ini wajib dilakukan dengan segala kemampuan, sampai semua orang yang tersisa hanyalah Muslim saja atau orang² yang tunduk di bawah Islam.

Majmu’ al-Fatawa 28/249

Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah berkata: “Setiap orang yang mendengar panggilan dari Rasul Allâh untuk memeluk Islam, yang karena itulah dia diutus, dan tidak mau memenuhi panggilannya, maka mereka harus diperangi sampai tiada fitnah lagi dan supaya semua tunduk pada Allâh.

 

Tentang tindakan melakukan Jihad ofensif dengan atau tanpa imam atau pemimpin umat, maka simak penjelasan dari Imam Ash-Shawkani. Nama sebenarnya adalah Imam Ali bin Muhammad bin Abdullah Ash-Shawkanee. Dia hidup tahun 1173-1250 AH (1777-1834 M), dan dia adalah ahli Islam besar yang belajar dari berbagai ahli Islam terkemuka, dan menulis buku terkenal “Nayl Al-Autar.” Di bukunya yang berjudul Irshaad as-Saa’il Ilaa Dalaa’il al-Masaa’il, dia menulis:


“Umat Muslim berbeda pendapat tentang menyerang kafir di tanah kafir (Jihad ofensif), apakah terlebih dahulu harus ada Imam yang memimpin Muslim? Yang benar adalah Jihad merupakan kewajiban setiap Muslim, dan ayat² Qur’an dan kisah² nubuat tidak membatasi harus ada Imam terlebih dahulu.”

(hal. 80, ar-Rasaa’il as-Salafeeyah)

Catatan dari Adadeh:
Jadi Jihad Ofensif harus dilakukan sebagian Muslim sebagai kewajiban agar Jizya tetap terus mengalir ke kantong Muslim. Jika tidak ada yang melakukan Jihad Ofensif menyerang kafir, maka seluruh umat Muslim berdosa karena mengabaikan kewajiban. Jihad Defensif harus dilakukan semua Muslim sebagai kewajiban jika kafir menyerang tanah Islam. Dengan begitu, berdasarkan hukum Islam, halal² saja lahyaw Muhammad memerangi kafir yang tidak pernah menyerang dia terlebih dahulu. Para Muslim kaffah tidak malu² mengakui hal ini, tapi para Muslim KTP yang masih waras otaknya maluu banget mengakuinya sebab memang hal ini tidak masuk diakal. Masakan mukul /nyerang /bunuh orang yang tak bersalah? Begitu umumnya jalan pikir mereka.

Di forum Faithfreedom ini, para Muslim PURA² TIDAK TAHU bahwa Jihad Ofensif memang WAJIB dalam Islam, tapi di forum Islam sendiri para Muslim jelas² mengakui hal itu. Nih tulisan dari Muslim Indonesia Hizbut-Tahrir yang dikutip swaramuslim.com:

JIHAD OFENSIF
(Tafsir QS at-Taubah [9]: 123)
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

————————————————

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS al-Taubah [9]: 123).

Ayat ini terdapat dalam surat at-Taubah. Dalam surat ini, dalam beberapa ayatnya, kaum Muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik. Ayat ini termasuk di antaranya.

Ketika ayat ini diturunkan, perintah memerangi kaum musyrik langsung bisa dijalankan. Pasalnya, saat itu Daulah Islamiyah sudah berdiri kokoh. Surat ini termasuk yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah saw. 1

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ alladzîna âmanu qâtilû al-ladzîna yalûnakum min al-kuffâr
(Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu).
Kata qâtilû merupakan fi’l al-amr dari mashdar kata al-qitâl atau al-muqâtalah. Secara bahasa, kata al-muqâtalah berarti al-muhârabah (peperangan).2 Pengertian peperangan yang dimaksud tentulah perang fisik.[size=85]3 [/size]

Adapun kata yalûna merupakan bentuk mudhâri dari al-waly yang berarti al-qurb wa al-dunuw (dekat).4 Kata yalûnakum pun dapat dimaknai dengan yaqrubûna minkum (yang dekat dari kalian).5 Bertolak dari makna-makna tersebut, ayat ini dapat dipahami sebagai perintah terhadap kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir yang dekat dengan mereka.6

Beberapa ayat dalam QS at-Taubah di atas (yakni ayat 5, 29, dan 36) memang memerintahkan kaum Muslim memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Akan tetapi, untuk bisa memerangi mereka dalam waktu bersamaan tentu tidak mungkin. Yang mungkin bisa dilakukan adalah memerangi sekelompok di antara mereka terlebih dulu. Karena harus dipilih, maka kaum yang paling dekat dengan merekalah harus didahulukan.7 Inilah skala prioritas yang ditetapkan ayat ini.

Ar-Razi, az-Zuhayli, dan ash-Shabuni menuturkan, ketika Allah Swt. memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Dia pun mengajarkan metode yang paling tepat dan cocok untuk ditempuh, yakni mereka harus memulai dari yang dekat-dekat, lalu beralih kepada yang jauh-jauh.8 Dengan metode ini, kewajiban untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan dapat tercapai.9 (? Adadeh: Apakah ada yang masih ragu bahwa Islam memang adalah agama perang? Bahwa Allâh SWT tak lain adalah dewa perang?)

Metode inilah yang ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat ra. Pada awalnya beliau memerangi kaumnya, lalu bangsa Arab di Hijaz, kemudian Syam.10 Dari Madinah, Syam memang lebih dekat dibandingkan dengan Irak, Persia, atau Mesir. Setelah Syam dapat dikuasai pada masa Sahabat, kaum Muslim baru beralih ke Irak, berikutnya ke wilayah-wilayah lain.11

Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Walyajidû fîkum ghilzhah (dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian). Makna ghilzhah adalah dhidd ar-riqqah (lawan dari halus);12 bisa juga berarti syiddah (keras), quwwah (kuat), dan hamiyyah (gagah berani).13 Menurut al-Andalusi dan al-Baqa’i, dalam ayat ini, kata ghildhah digunakan untuk menunjukkan syiddah li al-harb (kerasnya peperangan).14

Menurut lahiriah ayat ini, yang diperintah untuk merasakan sifat ghilzhah adalah kaum kafir. Akan tetapi, perintah itu sebenarnya ditujukan kepada kaum Mukmin. Mereka diperintahkan memiliki sifat-sifat yang disebutkan itu, yakni sifat ghilzhah dengan segala makna yang tercakup di dalamnya.15 Dengan demikian, ayat ini menggunakan musabab untuk menyatakan sebab. Artinya, jika kaum kafir bisa merasakan kerasnya kaum Muslim, hal itu disebabkan oleh kerasnya kaum Muslim terhadap mereka.16

Perintah untuk memiliki segala sifat yang tercakup dalam kata ghilzhah itu amat tepat. Sebab, demikianlah tabiat dan kemaslahatan dalam peperangan.17 Untuk bisa memenangkan peperangan, sifat tersebut harus dimiliki kaum Muslim (Lihat juga: QS at-Taubah [9]: 73).

Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Wa’lamû anna Allâh ma’a al-muttaqîn (Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Di akhir ayat ini Allah Swt. mengingatkan bahwa Dialah Penolong hamba-hamba-Nya yang bertakwa.18

Beberapa Pelajaran

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini. Di antaranya:

1. Jihad ofensif

Menurut ayat ini, jihad yang diwajibkan terhadap kaum Muslim tidak hanya bersifat difâ’î (defensif, membela diri), namun juga ibtidâ’i (ofensif, memulai perang terlebih dulu). Ayat ini jelas memberikan kesimpulan demikian.

Patut dicatat, jihad ibtidâ’i ini harus dilakukan di bawah komando Daulah Islamiyah. Pasalnya, jihad ini dilancarkan dalam kerangka futûhât, yakni upaya memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut diintegrasikan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad futûhât tidak bisa dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.

Inilah yang dikerjakan Rasulullah saw. dulu. Ketika Rasulullah saw. berhasil mendirikan negara di Madinah, beliau pun mengirim banyak detasemen dan pasukan perang ke wilayah-wilayah lain. Tidak jarang, beliau memimpin langsung pasukan tersebut. Selama Rasulullah saw. hidup, beliau telah memimpin 27 kali peperangan. Adapun jumlah utusan dan ekspedisi militer yang tidak beliau pimpin langsung mencapai 60 kali. 19

Dengan jihad ibtidâ’i inilah wilayah kekuasaan Islam terus mengalami perluasan. Jika di awal berdirinya, luas wilayah Daulah Islamiyah sekitar 274 mil persegi (kota Madinah), maka sepuluh tahun kemudian-ketika Rasulullah saw. menghadap Tuhannya-luas wilayah Daulah mencapai lebih dari 1.000.000 mil persegi.20

Kewajiban jihad ibtidâ’i ini juga tidak terlepas dari konteks dakwah. Disebutkan bahwa tatkala Rasulullah saw. memberangkatkan pasukan perang, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada panglimanya. Di antara pesan beliau:

HR Muslim:
Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kalangan kaum musyrik maka serulah mereka pada tiga pilihan, mana saja di antara ketiganya, selama mereka bersedia memenuhi seruanmu, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka.
(1) Ajaklah mereka memeluk Islam. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah dirimu untuk menyerang mereka….
(2)Jika mereka enggan (memenuhi seruan kalian), mintalah mereka membayar jizyah. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah diri kalian untuk menyerang mereka.
(3) Jika mereka enggan juga, mintalah perlindungan kepada Allah, kemudian perangilah mereka.

2. Keharusan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban jihad.

Dalam ayat ini, kaum Muslim diperintahkan agar memiliki sifat ghilzhah dalam perang menghadapi kaum kafir. Ini berarti, mereka harus menyiapkannya secara sungguh-sungguh sehingga kaum kafir bisa merasakan kerasnya pasukan kaum Muslim dalam pertempuran.

Prinsip ini patut dicamkan dalam diri kaum Muslim. Kendati jihad terkategori tindakan menolong agama-Nya, dan bagi siapapun yang menolong agama-Nya dijanjikan memperoleh pertolongan-Nya (QS Muhammad [47]: 7), kaum Muslim tidak boleh meninggalkan faktor-faktor sababiyyah yang bisa mengantarkan kemenangan. Mereka harus mengerahkan segala kemampuan sehingga menjadi pasukan yang kuat dan handal. (Lihat juga: QS al-Anfal [8]: 60).

Jika kaum Muslim bisa menunjukkan keperkasaan kekuatan militernya, jelas setiap musuh akan merasa gentar menghadapi kaum Muslim. Rasa gentar ini akan menyebar luas kepada musuh-musuh yang nyata maupun yang potensial, sehingga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencegah kemunculan pihak-pihak yang hendak melakukan makar. Pasukan Islam pun tidak perlu menemui banyak perlawanan. Dengan begitu, pertumpahan darah pun dapat dihindari. Inilah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Amat sering pasukan Islam memperoleh kemenangan tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti dan tertumpahnya darah. Di antaranya adalah peristiwa dibebaskannya Makkah. Makkah dapat dikuasai pasukan kaum Muslim tanpa harus menumpahkan darah. Demikian juga pada saat Perang Tabuk. Ketika pasukan Islam yang berjumlah 30.000 personel sampai di Tabuk, pasukan Romawi-negara adidaya saat itu-sudah pergi meninggalkan daerah itu. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

«???????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????????? ??????»

Aku dimenangkan dengan rasa takut (yang dialami pasukan musuh) sepanjang satu bulan perjalanan. (HR al-Bukhari).

3. Resep memperoleh pertolongan.

Dalam ayat ini ditegaskan, Allah Swt. bersama orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan para mufassir, ma’iyyah dalam ayat ini bermakna pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Itu berarti, siapapun yang ingin mendapatkan pertolongan Allah Swt., dia harus mengikatkan dirinya dengan semua perintah dan larangan-Nya, termasuk kewajiban jihad dengan segala ketentuannya.

Bertolak dari prinsip tersebut, kaum Muslim tidak perlu takut, cemas, ragu, dan khawatir terhadap kekuatan musuh-musuhnya dalam menjalankan jihad, karena Allah Swt. bersama mereka. Jika Allah Swt. telah menjadi Penolong mereka, tentu tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka. Jadi, masih takutkah kaum Muslim mengibarkan bendera jihad melawan musuh-musuh mereka?

Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

Catatan Kaki:
1. Ash-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 421.
2. Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 407.
3. Zahid Ivan Salam, Jihad dan Kabijakan Luar Negeri (terj. Abu Faiz, dkk) (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 58.
4. Abd al-Qadir al-Razi, Tartîb Mukhtâr al-Shihah (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 879.
5. Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312; al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta’wîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 525; al-Baqa’i, Nazhm Durar fî Tanâsub al-Ayât wa al-Suwar, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 403; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 530.
6. Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 517; Abu Ali al-Fadhl, Majmû’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qurân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt), 127; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 47.
7. Al-Jashash, Ahkâm al-Qur’ân, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 230.
8. Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 181; al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 427; al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80; al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
9. Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423; Sulaiman al-‘Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 2003), 239.
10. Al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312.
11. Sulaiman al-‘Ajili, al-Futûhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
12. Al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 5, 531; Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr, vol. 15, 182; al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423.
13. Al-Quthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 189; al-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
14. Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhith, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 118; al-Baqa’i, Nazham Durar, vol. 3, 403.
15. Al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 426- 427
16. Sulaiman al-‘Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
17. Al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80
18. Abu Ali al-Fadhl, Majmû’ al-Bayân, vol. 5, 127; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 9, 47.
19. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, terj. Muhammad Halabi dkk. (Yogyakarta: Mardiyah Press, 2005), 454.
20. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, 456.

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id

Catatan dari Adadeh:
Perhatikan pengakuan jujur Muslim Hizbut Tahrir:

Patut dicatat, jihad ibtidâ’i ini harus dilakukan di bawah komando Daulah Islamiyah. Pasalnya, jihad ini dilancarkan dalam kerangka futûhât, yakni upaya memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut diintegrasikan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad futûhât tidak bisa dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.
Inilah yang dikerjakan Rasulullah saw. dulu.

Pengakuan itu persis sama dengan semua keterangan tentang Jihad di Faithfreedom, tapi para Muslim KTP di sini menentangnya habis²nya setiap hari, selama bertahun-tahun. Mereka terus menerus menyangkal keterangan dari literatur Islam sendiri, bahkan sampai² mengarang sejarah Islam sendiri, membuat teori penghalalan sendiri, pokoknya agar Islam tampai damai, Muhammad tampak sebagai sosok lemah lembut yang cinta damai. Mereka bahkan jadi marah jika banyak Muslim yang menyadari hal ini dan lalu murtad. Para Muslim KTP ini jadi giat menentang perintah Allâh mereka sendiri yang mewajibkan mereka melakukan Jihad Ofensif terhadap kafir!

Sesuai pengakuan jujur Muslim Hizbut Tahrir tersebut, maka tak heran jikalau Muslim yang benar² mengikuti perbuatan dan perkataan Muhammad akan berubah jadi monster bengis yang gemar menindas, merampok, dan membunuh kafir. Mereka telah sukses mematikan hati nurani dan nalar mereka, guna mewujudkan pengabdian tertinggi dalam Islam. Nabinya adalah monster, maka para umat sejatinya pun akan jadi monster pula. Jika Islam itu agama damai, maka mengapa hal itu perlu digembar-gemborkan setiap hari oleh umat Muslim? Umat Kristen, Hindu, Budha, Sikh, Shinto, Tao, Kong Hu Cu dll kok tidak perlu tuh melakukan hal itu terhadap agama² mereka.
Paksaan untuk Memeluk Islam:

Hadis Sahih Muslim, Buku 19, Nomer 4294:
It has been reported from Sulaiman b. Buraid through his father that when the Messenger of Allah (may peace be upon him) appointed anyone as leader of an army or detachment he would especially exhort him to fear Allah and to be good to the Muslims who were with him. He would say: Fight in the name of Allah and in the way of Allah. Fight against those who disbelieve in Allah. Make a holy war, do not embezzle the spoils; do not break your pledge; and do not mutilate (the dead) bodies; do not kill the children.
When you meet your enemies who are polytheists, invite them to three courses of action.
If they respond to any one of these, you also accept it and withold yourself from doing them any harm.
(1) Invite them to (accept) Islam; if they respond to you, accept it from them and desist from fighting against them. Then invite them to migrate from their lands to the land of Muhairs and inform them that, if they do so, they shall have all the privileges and obligations of the Muhajirs. If they refuse to migrate, tell them that they will have the status of Bedouin Muilims and will be subjected to the Commands of Allah like other Muslims, but they will not get any share from the spoils of war or Fai’ except when they actually fight with the Muslims (against the disbelievers).
(2) If they refuse to accept Islam, demand from them the Jizya. If they agree to pay, accept it from them and hold off your hands.
(3) If they refuse to pay the tax, seek Allah’s help and fight them. When you lay siege to a fort and the besieged appeal to you for protection in the name of Allah and His Prophet, do not accord to them the guarantee of Allah and His Prophet, but accord to them your own guarantee and the guarantee of your companions for it is a lesser sin that the security given by you or your companions be disregarded than that the security granted in the name of Allah and His Prophet be violated When you besiege a fort and the besieged want you to let them out in accordance with Allah’s Command, do not let them come out in accordance with His Command, but do so at your (own) command, for you do not know whether or not you will be able to carry out Allah’s behest with regard to them.

terjemahan:
Dilaporkan oleh Sulaiman b. Buraid melalui ayahnya bahwa saat Rasul Allâh SAW menunjuk seseorang untuk jadi pemimpin tentara Islam, dia menasehatinya agar dia takut akan Allâh dan bersikap baik terhadap sesama Muslim yang ada bersamanya. Dia akan berkata: Peranglah dalam nama Allâh dan di jalan Allâh. Perangi mereka yang tidak beriman pada Allâh. Lakukan Jihad, jangan mencuri jarahan perang; (? karena jatah 20% harus diberikan terlebih dahulu pada Muhammad, dan Muhammad memilih dulu segala barang atau cewek terbaik sebelum sisanya dibagi-bagi untuk para Jihadis)
jangan langgar sumpahmu (? perjanjian² dengan kafir dilanggar berkali-kali oleh Muhammad, sebab baginya taqiyya itu halal dalam memerangi kafir);
dan jangan potong² mayat; (? ini pun dilanggarnya pula dengan sikapnya yang senang menerima kepala Umm Qirfa (wanita kafir uzur yang dibelah tubuhnya pake 2 onta) dan malah mengarak kepala itu di Medinah)
jangan bunuh anak² (? ini pun dilanggarnya dengan membunuh ratusan anak kafir Yahudi Qurayza; perintah jangan bunuh anak kafir ini adalah karena anak² ini nantinya dijual sebagai budak dan uangnya digunakan untuk nafkah Muslim. Jika semua anak² kafir dibunuhi, maka berkurang pula sumber pendapatan Muslim. Muhammad benci kafir, termasuk anak² kafir).
Ketika kau bertemu dengan musuh yang menyembah berhala, beri mereka tiga pilihan.

(1) Ajak mereka untuk menerima Islam; jika mereka bersedia, maka terimalah mereka dan jangan perangi mereka. Lalu ajak mereka pindah dari tanah mereka ke tanah Muhair dan katakan pada mereka bahwa jika mereka bersedia melakukan itu, maka mereka akan menikmati keuntungan dan kewajiban para Muhajir. Tapi jika mereka menolak, maka katakan pada mereka bahwa mereka akan punya status sebagai Muslim Baduy dan harus tunduk di bawah Perintah Allâh sama seperti Muslim² lainnya, tapi mereka tidak akan dapat jatah rampasan perang atau Fai’ kecuali jika mereka ikut berperang bersama Muslim untuk melawan kafir.
(2) Jika mereka menolak untuk memeluk Islam, maka tuntutlah Jizya dari mereka. (? ingat kata² Hillman: BOLEH KAFIR ASAL BAYAR!!) Jika mereka setuju untuk bayar, terimalah bayaran itu dari mereka dan jangan perangi mereka.
(3) Jika mereka menolak bayar Jizya, mintalah pertolongan dari Allâh dan perangi mereka. Jika kau mengepung benteng mereka, dan mereka lalu perlindungan dalam nama Allâh dan RasulNya, jangan beri mereka jaminan dari Allâh dan RasulNya, tapi jaminan darimu dan tentaramu, karena dosanya lebih sedikit jika jaminan darimu dilanggar daripada jika jaminan dari Allâh dan RasulNya dilanggar. Jika kau mengepung sebuah benteng, dan mereka yang dikepung ingin keluar benteng sesuai dengan perintah Allâh, jangan biarkan mereka keluar dengan perintah Allâh, tapi dengan perintahmu, karena kau tidak tahu apakah kau sanggup melakukan perintah Allâh akan nasib mereka.

Meskipun telah memberi Muslim aturan 3 pilihan dalam memaksakan Islam terhadap kafir, Muhammad sendirit tak segan² melanggar peraturan bikinannya sendiri, tergantung dari berapa banyak duit kafir yang dibutuhkannya. Muhammad menyerang suku Yahudi Bani Al-Mustaliq tanpa memberi peringatan apapun terlebih dahulu, apalagi memberi tiga pilihan segala. Banu Al-Mustaliq tidak pernah menyerang Muhammad dan gerombolan Muslimnya terlebih dahulu.

Hadis Sahih Muslim, Buku 019, Nomer 4292:
Ibn ‘Aun reported:
I wrote to Nafi’ inquiring from him whether it was necessary to extend (to the disbelievers) an invitation to accept (Islam) before meeting them in fight. He wrote (in reply) to me that it was necessary in the early days of Islam. The Messenger of Allah (may peace be upon him) made a raid upon Banu Mustaliq while they were unaware and their cattle were having a drink at the water. He killed those who fought and imprisoned others. On that very day, he captured Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ said that this tradition was related to him by Abdullah b. Umar who (himself) was among the raiding troops.

terjemahan:
Dilaporkan oleh Ibn ‘Aun:
Aku menulis pada Nafi’ untuk menanyakan padanya apakah perlu terlebih dahulu meminta kafir memeluk Islam sebelum memerangi mereka. Dia menjawab dengan menulis padaku bahwa hal itu dulu wajib di jaman awal Islam. Rasul Allâh SAW menyerang Banu Mustaliq ketika mereka sedang tidak siap dan ternak² mereka lagi minum air. Dia membunuhi siapapun yang melawannya dan menahan sisanya. Di hari yang sama, dia menangkap Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ mengatakan bahwa hadis ini dikatakan padanya oleh Abdullah b. Umar yang ikut dalam tentara Muslim yang melakukan penyerangan.

Agama tuhan kok malah menganjurkan umatnya cari nafkah melalui perbuatan kriminal merampok, menjarah, dan membunuh sesama manusia?
Ini dapat artikel lain di Internet.
Sumber: http://www.nabble.com/Cara-mencari-nafkah-Rasulullah-sungguh-sangat-%22Mulia%22–Bacalah-dilengkapi-bukti…-td9017023.html

Cara mencari nafkah Rasulullah sungguh sangat “Mulia”

Hadis Sahih Bukhari, Vol. IV, bab 88:

Dikisahkan oleh Ibn ?Umar bahwa sang Nabi berkata,?Mata pencaharianku ada di bawah bayangan tombakku, (1) dan dia yang tidak menaati perintahku akan dihinakan dengan membayar Jizya.?Catatan: (1) ?Di bawah bayangan tombakku? berarti ?dari jarahan perang?.

Yah, memang begitulah. Muhammad, sang Rasul Allah, menafkahi dirinya dengan cara merampok, dan Hadis di atas dengan jelas menyatakannya. Juga patut diperhatikan bahwa Hadis ini telah dihilangkan dalam versi Internet Sahih Bukhari. Hadis yang sukar dipercaya ini hanya dapat ditemukan di terjemahan cetak asli ?The Translation of Sahi Bukhari? oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan. [Ref: The Translation of the Meanings of Sahih Al-Bukhari, Arabic-English, Vol.IV (page 104) by Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University?Al-Medina Al-Munauwara]. Silakan periksa sendiri referensi itu kalau kau tak percaya. Menarik untuk diperhatikan catatan kaki oleh penerjemah yang menerangkan bahwa ?tombak? adalah ?barang jarahan?, sungguh pintar.

Kalau kau pikir ini sukar dipercaya ? bahwa seorang utusan Allah, ciptaan Allah yang terbaik ternyata memakai pedangnya (baca: terorisme) untuk cari nafkah [se-level dengan preman pasar atau preman terminal J] ? maka teruslah baca karena banyak hal lain yang bahkan lebih mengejutkan. Di Hadis Sahih Muslim ditulis jelas tanpa ragu bahwa Muhammad dan pengikutnya memang menggunakan pedang untuk melakukan terorisme (komentar dalam kurung adalah dari penerjemah Hadis ini):

Hadis Sahih Muslim, Book 004, Number 1066:

Abu Huraira melaporkan: Rasul Allah berkata aku telah dibantu teror (dalam hati musuhnya); aku telah menerima firman2 yang pendek tapi jelas artinya, dan ketika aku tidur aku diberikan kunci-kunci harta benda dunia yang diletakkan di tanganku.

Jika Hadis-hadis yang sangat jelas itu belum juga terasa cukup meyakinkan untuk membuktikan Muhammad menggunakan terorisme untuk memperkaya para pengikutnya, ini ada satu lagi:

Hadith from Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 220:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allah berkata,?Aku telah diberi perintah-perintah yang sangat pendek dengan arti yang sangat luas, dan aku telah dibuat menang melalui teror (yang ditaruh di hati musuh), dan ketika aku tidur, kunci-kunci harta benda dunia diberikan padaku dan diletakkan ke dalam tanganku.? Abu Huraira menambahkan: Rasul Allah telah meninggalkan dunia dan sekarang kau, orang-orang, membawa ke luar harta benda itu (yang tidak dinikmati oleh Nabi).

Untuk mewujudkan perkataannya, Muhammad bahkan mengumumkan bahwa barang jarahan atau hasil rampokan adalah halal baginya, dan ini ditegaskan di sini:

Hadis Sahih Bukhari Volume 4, Book 53, Number 351:

Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah: Rasul Allah berkata,?Barang jarahan adalah halal bagiku.?

Hadis berikut menerangkan bahwa Muhammad mendirikan mesjid-mesjid dengan biaya dari hasil rampokan, jarahan dan pungutan pajak paksa Jizya terhadap non-Muslim. Bacalah Hadis ini dengan teliti dan kau akan mengerti mengapa banyak orang tertarik untuk bergabung dengan Muhammad dan Islamnya. Ya, alasannya hanyalah keserakahan dan nafsu akan uang dan kekayaan semata-mata. Muhammad melanggar semua hukum dan aturan masyarakat mapan yang beradab hanya untuk memuaskan keserakahan pengikut-pengikutnya. Ini hadisnya:

Hadith Sahih Bukhari, Volume 4, Book 53, Number 390:

Dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdullah:
Rasul Allah suatu saat berkata padaku,?Jika uang masukan dari Bahrain tiba, aku akan beri kamu segini banyak dan segitu banyak.? Ketika Rasul Allah telah mati, uang dari Bahrain tiba, dan Abu Bakr mengumumkan,?Bagi yang telah dijanjikan oleh Rasul Allah, silakan datang padaku.? Lalu aku menghadap Abu Bakr dan berkata,?Rasul Allah berkata padaku,?Jika uang masukan dari Bahrain tiba, aku akan beri kamu segini banyak dan segitu banyak.? Setelah mendengar itu Abu Bakr berkata padaku, ?Ciduklah (uang) dengan kedua tanganmu.? Aku ciduk uang dengan kedua tanganku dan Abu Bakr memintaku menghitungnya. Aku menghitung dan jumlahnya adalah lima ratus (keping emas). Jumlah seluruhnya yang dia berikan padaku adalah seribu lima ratus (keping emas).

Dikisahkan oleh Anas: Uang dari Bahrain dibawa kepada Nabi. Dia berkata,?Sebarkan uang itu di Mesjid.? Inilah jumlah uang terbesar yang pernah diserahkan kepada Rasul Allah. Saat itu Al-?Abbas datang padanya dan berkata,?O Rasul Allah! Berilah aku uang karena aku memberikan uang tebusan diriku dan Aqil.? Sang Nabi berkata padanya,?Ambillah.? Dia menciduk uang dengan kedua tangannya dan menuangkannya di atas bajunya dan mencoba mengangkatnya tapi tidak bisa dan dia minta pada sang Nabi, ?Maukah kau meminta seseorang untuk menolongku mengangkat ini?? Nabi berkata, ?Tidak.? Lalu Al-?Abbas berkata,?Kalau begitu, maukah kau membantuku mengangkatnya?? Nabi berkata, ?Tidak.? Lalu Al-?Abbas membuang sebagian uang, tapi tetap saja dia tidak kuat mengangkutnya, dan dia sekali lagi meminta pada Nabi,? Maukah kau meminta seseorang untuk menolongku mengangkat ini?? Nabi berkata,?Tidak.? Lalu, Al-?abbas membuang sebagian lagi uang dan memikulnya di pundaknya dan lalu pergi. Sang Nabi
terus melihatnya terpesona akan keserakahannya sampai dia menghilang dari penglihatan. Rasul Allah tidak beranjak dari tempat itu sampai tidak ada satu Dirham pun tersisa dari uang itu.

Sekarang mari kita lihat bagaimana Jihadis Muslim awal memilih korban teror mereka. Setelah cari-cari mangsa, Muhammad mengetahui bahwa dia hanya punya dua pilihn: merampok orang-orang Medina atau merampok kafilah-kafilah orang Mekah yang kaya raya di jalur dagang Mekah ? Medina. Tidak bisa merampok sekutunya sendiri orang Medina (orang Ansar) karena ini sama dengan bunuh diri. Pilihan lain yang sisa adalah merampok orang-orang Yahudi dan musuh bebuyutannya orang-orang Mekah Quraysh yang pada umumnya menolak ajaran agamanya. Dia tidak bisa mengganggu orang-orang Yahudi terlalu awal karena dia telah bikin perjanjian damai dengan mereka. Dia tidak punya alasan sah untuk menyerang dan merampas tanah dan harta benda mereka. Perlu diingat bahwa di kegiatan-kegiatan perampokan awal, Muhammad tidak mau orang-orang Ansar terlibat di dalamnya. Ini karena dia tidak mau mengecewakan orang-orang Medina dengan menampakkan belangnya yang asli. Dia juga takut jika usaha perampokannya
gagal, maka kaum Ansar tidak lagi kagum dan hormat padanya. Karena itu, pada mulanya, dia tidak mengundang kaum Ansar untuk ikut bagian dalam kegiatan terornya. Dia perlu menunjukkan pada tuan tanah tempat tinggalnya bahwa terorisme memang adalah usaha yang menguntungkan!

Karena tidak mungkin untuk menjarah orang-orang Yahudi, maka pilihan satu-satunya yang sisa adalah menyerang dan menjarah kafilah-kafilah Quraysh. Meskipun demikian, saat itu dia hanya punya segelintir prajurit. Dia tidak akan mampu melancarkan serangan telak terhadap tentara Quraysh yang perkasa, dan memang perkiraannya tepat. Sebenarnya karena alasan takut akan tentara Quraysh itulah dia meninggalkan Mekah.

Dia lalu dapat gagasan cemerlang. Rencananya adalah untuk menyergap para pedagang Quraysh pada saat mereka sedang lengah, yakni pada saat mereka sedang sendirian, tidak banyak tentara, atau jauh dari tempat aman di Mekah. Ini berarti menyerang kafilah-kafilah pedagang Quraysh, meneror dan merampok mereka di perjalanan dagang dengan Syria atau saat mau balik ke Mekah. Tapi Muhammad juga penuh perhitungan dan tidak terburu-buru. Dia sabar menunggu kesempatan baik untuk menyerang kafilah-kafilah Quraysh yang sedang lengah. Rencana ini memang sangat cerdik dan licik. Tidak dapat disangkal bahwa dengan penjarahan ini Muhammad dapat mengompori pengikutnya, para Jihadis, untuk membalas dendam pada ?penyiksa? mereka dan di waktu yang sama mereka juga dapat banyak harta jarahan yang sebelumnya tidak dapat disediakan Muhammad pada para Muhajir (pengikut Nabi yang setia yang pindah dari Mekah ke Medina) yang miskin, bodoh, terbelakang dan kelaparan ini.

Dengan pemikiran ini, Muhammad mulai bergerak. Dia mengirim beberapa mata-mata untuk mencari tahu kegiatan-kegiatan kafilah Mekah. Akan tetapi, kafilah Quraysh selalu dilindungi dan dijaga baik-baik oleh para tentara penjaga keamanan untuk mencegah dirampok di jalan. Meskipun begitu, Muhammad tetap mencoba keberuntungannya karena para kafilah Mekah itu penuh dengan harta benda yang sangat berharga. Biografer (penulis kisah hidup) Nabi apologis (= berusaha menutupi kejelekan Islam) seperti Hussein Haykal,[v] tentu mencoba mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa para Muhajir dari Mekah rindu pulang kampung dan sedang cari kesempatan untuk balas dendam. Memang merasa rindu kampung halaman sih wajar saja, tapi alasan yang sangat jelas untuk merampok kafilah Quraysh adalah karena ingin menjarah dan merampas harta benda. Sederhana saja dan sudah jelas. Alasan Haykal ini pupus karena setelah Muhammad menaklukkan Mekah, tidak ada satu pun Muhajir yang katanya tadi ?rindu kampung
halaman? yang mau balik pulang ke Mekah.

Mari kita bahas secara singkat penyergapan atau serangan teror atas kafilah Quraysh. Ada pertentangan mana perampokan atas kafilah Quraysh yang pertama dilakukan Muhammad. Ibn Ishak menulis bahwa Muhammad sendiri melaksanakan serangan pertama, dan ini adalah terhadap kafilah di Waddan. Buku Ibn Ishak tidak cukup memberi keterangan kapan hal ini terjadi. Waqidi menulis bahwa serangan pertama dipimipin oleh Hamzah. Para penulis biografi lain setuju dengan versi Waqidi tentang tanggal-tanggal penyerangan-penyerangan Muhammad. Aku juga akan menggunakan keterangan Waqidi.

Read More

Diskusi tentang Pedofilia

Miss X wrote:
Melihat tulisan2 anda, saya bisa menilai bahwa anda cukup bisa berpikir jernih dan sopan dlm diskusi, tdk seperti kafir2 yg lain. Berdiskusi via PM ini adalah ide yg sgt bagus krn saat kita “show up”, semua argument masing2 berkemungkinan bercampur dgn ego. Saya salah satu jenis muslim yg kritis tp saya hanya dalam kapasitas INGIN MENGETAHUI krn saya tetap meyakini bhwa Allah Tak Pernah Salah. Saya ingin kita memandang masalah kontroversi pernikahan Aisha ini dari berbagai sudut, tdk terpaku pada Qurdis.

Inti yg dipermasalahkan oleh kafir ffi adalah :

“Pantaskah seorang yg menjadi panutan menggauli seorang anak kecil?”

Bisakah anda menjelaskan apakah “anak kecil” dalam konteks ini mengacu pada umur atau kesuburan?

Salam kenal pop eye

Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.

Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Miss X wrote: Pop Eye wrote:Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.
Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya tertarik dgn tulisan Aiyman Bin Khalid sbb :

Aiyman Bin Khalid wrote:NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.
BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:
Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Coba kita persempit mslh psikis yg anda maksudkan disini yaitu ttg kedewasaan dlm berpikir. Jika Saya katakan bahwa kedewasaan itu tidak bisa diukur dgn umur, apakah Anda setuju ?

Popeye wrote
Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Sayapun sejujurnya tidak bisa menerima itu. Tp mengingat beliau adalah utusan Tuhan yg saya imani dan mengingat bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan sesuatu apalagi yang berhubungan dgn Rasulullah sbg suri tauladan bagi hamba-hambaNya… Saya rasa cukup menjadi motivasi besar dlm diri Saya untuk mencari jawaban yg sebenar2nya ttg polemik ini.Pasti ada suatu alasan yg bisa diterima.

Popeye wrote:
Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Saya tdk akan mengcounter hadist2 itu krn Saya yakin merekapun berpijak pada suatu landasan yg kokoh dlm menentukan segala hal. Tp manusia tetaplah manusia dan selalu berpeluang salah kecuali jk mslh2 tsb dikembalikan kpd Alquran.

Saya akan buat lebih simple aja. Selain puber, wanita baru siap menikahi jika (terlepas umur berapa aja yg penting udeh puber):
– Sudah mengerti hubungan sex, sebab akibat dari berhubungan sex
– Jika hamil, sudah dapat mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.
– Common knowledges lain yg tak perlu saya kupas disini.

Pada masa kini, setiap negara punya standard umur tertentu bagi wanita untuk menikah. Memang harus diakui, bisa saja pada umur tersebut, wanita tersebut memang belum matang secara psikis. Tapi adalah lazim jika orang2 mempunyai ekspektasi misalnya gadis berumur 20 tahun sudah seharusnya matang secara fisik dan psikis. Jika belum dewasa pada umur tersebut, something must be really really wrong with either the education or with the mentality. That’s why dengan basic common sense ini, setiap negara mencantumkan standard umur tertentu sebagai syarat untuk menikah.

Saya mengakui bahwa umur tidaklah selalu valid untuk menentukan tingkatan kematangan psikis seorang wanita, tapi kira2 standard kedewasaan seperti apa yg anda harapkan dari bocah berusia 9 tahun?

Perempuan normal dari negara manapun pada abad manapun pada usia 9 tahun hanyalah seorang bocah cilik. Sungguh argumen yg maksa jika kita hendak membenarkan diri beranggapan Aisha sudah dewasa pada saat itu. Hadits dengan jelas mengatakan Aisyah masih maen boneka. Wanita dewasa aja masih harus berjuang di malam pertama, dan coba anda bayangkan ukuran vagina bocah 9 tahun VS penis dari pria umur 50-an. That’s why saya mengerti kenapa muslim Minaret dengan akal dan hati nuraninya sulit menerima kenyataan itu dan mencoba untuk mencari pembenaran lain dari Hadits tak jelas yg menyatakan umur Aisha 18-20 tahun ketika menikahi Nabi anda.

Bayangkan jika gadis 9 tahun yg masih maen boneka ini ternyata hamil, hal2 yg perlu diconsider :
– Apakah ia sanggup dengan telaten untuk memelihara bayinya di masa awal2 3 tahun pertama kelahiran anaknya.
Ga usah jauh2, semua temen2 saya yg perempuan (yg notabene berumur 20 tahun lebih tua dari Aisha) aja stress harus begadang terus jagain
anaknya, beberapa bahkan mengaku kalo bukan itu anak gw, rasanya gw pengen banting…saking stressnya.
– Sumbangan knowledge dan kasih sayang seperti apa yg bisa diberikan ibu umur 9 tahun kepada bayinya?
Masa toddler (0 – 5 tahun) sangat penting bagi anak untuk dilatih kreativitas dan kecerdasan. Bukan hanya karena anda mampu
memberi makan anakmu, maka tanggung jawabmu selesai begitu aja. Muhammad kerjaannya perang terus, saya percaya jika
Aisha punya bayi, maka semua IQ dan EQ dari si anak sangat bergantung penuh dengan si ibu.

Sebagai contoh, saya pernah membaca artikel kejadian di negara Barat, dimana seorang bocah cilik kurang lebih 9 tahun juga mempunyai bayi. Keluarganya mencoba untuk mendisiplin dirinya dengan mengharuskan dirinya untuk mengasuh sendiri bayi itu, dan bayangkan..ada satu kejadian dimana bocah ini ketinggalan bayinya (di taman kalo ga salah) karena dirinya asyik bermain.

Saya mengakui Ayman bin Khalid terlihat sangat menguasai Quran dan Hadits, bahasa Englishnya juga jago, tapi tidak berarti kita bisa menyetujui semua argumennya.

Argumennya sah dalam meng-counter Minaret yg menolak kenyataan bahwa Muhammad meniduri gadis 9 tahun (karena ia menggunakan Hadits2 sahih dan logikanya cukup ok dalam berdebat in this case), tapi sekali lagi bukan berarti praktek menggagahi bocak cilik 9 tahun adalah hal yg benar.

Hitler dengan kegilaannya nge-claim ras German adalah ras terhebat, dan Yahudi harus dimusnahkan. Hitler mungkin gila, tapi bukan berarti dia orang bodoh. Kemampuannya ber-orasi dan mempengaruhi rakyat Jerman membuat mayoritas rakyat Jerman bersepakat untuk melenyapkan Yahudi. Hitler juga pemimpin militer.

Yg membedakan kita dengan psychopath (orang sakit jiwa/buta hati nurani) adalah dalam berdebat kita tidak hanya menggunakan otak, tapi juga hati nurani kita.

Tidak ada satupun kaffir yg menyangkal bahwa practice bersetubuh dengan pengantin cilik sudah dikenal bahkan di luar Saudi Arabia sekalipun. Zaman dahulu tidak ada yg namanya sex education, sekali cowo birahi, ya kalo bisa dilampiaskan dengan menikahi bocah cilik sekalipun akan dijabanin. But keep in mind, mengingat Nabi anda adalah utusan Tuhan, yg katanya pedoman seluruh umat manusia, seharusnya justru membawa sebuah perubahan besar bagi praktek barbar masa lampau.

Sebagai contoh : Sidharta Gautama sang pembawa ajaran Budha, mengajarkan pengendalian diri, dia bertapa dan menghindari nafsu2 duniawi bahkan dengan meninggalkan keluarganya (contoh yg extreme, tapi beliau adalah seorang pangeran, wajar jika anak istrinya akan dinafkahi di kerajaannya), seorang pangeran yg kaya raya merendahkan diri untuk jadi rakyat jelata, mengosongkan diri dan mengendalikan nafsu, bukannya ikut2an praktek barbar pada zamannya.

Yesus, pembawa Injil, membuat gebrakan dengan mengajarkan murid2Nya untuk berdoa bahkan mengasihi musuh2nya (apa anehnya kalo kita cuman berdoa buat orang yg baik dengan kita), praktek yg tidak dilakukan pada zaman itu karena orang2 pasti akan mengutuk musuhnya. Beliau bukan hanya mengajarkan hal itu, tapi bahkan mempraktekkan saat dikayu salib, mengampuni musuh2Nya.

Yg jadi masalahnya, kenapa Nabi Anda justru ga membawa satu perubahan besar pada masa itu? ingat Sidharta dan Yesus sudah ada jauh2 hari sebelum Nabi anda, tapi i’m really sorry, berhubung anda Muslimah yg kritis, please tolong koreksi saya, apa perubahan besar yg sudah dibawakan oleh Nabi anda yg tidak ada dalam diri Sidharta dan Yesus? Jika mao dibahas, ini ga akan kelar2…tapi ok…saya akan persempit dengan masalah SEX saja. Jika benar2 dibaca hadits2 sahih agama anda, honestly speaking banyak sekali cerita tentang2 petualangan sex Nabi anda (membunuh suami Safiyah dan tanpa memberikan waktu berkabung untuknya langsung menikahi dan bersetubuh dengannya, ngambil istri anak angkatnya dengan dalih Aulloh yg bilang untuk ngambil, nikahi Aisyah juga dengan dalih yg sama, serta petualangan2 sex yg lain). Sangat berbeda dengan Sidharta dan Yesus yg justru belajar mengosongkan diri dan melepaskan hal2 duniawi. Anda tidak akan pernah menemukan referensi sahih Alkitab yg menceritakan 1 saja petualangan cinta Yesus, apalagi sampe ke urusan ranjang.

Saya mengandalkan pikiran kritis anda serta hati nurani anda. Tidak apa2 jika anda marah kepada saya.

Dan hal lain yg sangat mencengangkan kami para kaffir, terlepas dari masalah Nabi anda banyak sekali istrinya, yg sangat menarik adalah kasus Aisyah ini,adalah dimana seorang pria berumur 54-an bisa consummate (Complete a marriage by having sexual intercourse) seorang bocah 9 tahun. Itu jelas2 tertulis di Hadits anda, dan inilah yg dibela oleh Ayman bin Khalid dalam counter-nya terhadap muslim Minaret yg tidak bisa menerima kenyataan itu.

Jika Muhammad seorang laki2 normal (okelah anggap saja saya ikutin aja alur logika muslim pada umumnya yg bilang menikahi Aisyah karena masalah sosial, untuk mempererat hubungan dengan Abu Bakar ayahnya Aisha, atau faktor2 politis yg lain), sekali lagi…jika ia normal…maka ia mungkin saja menikahi Aisha pada umur 6 tahun, tapi akan menunggu Aisha hingga matang secara psikis baru bersetubuh dengannya.

Contohnya : anak perempuan sahabat saya berumur kurang lebih 6 tahun. Saya sayang dia coz anaknya pinter ngambil hati orang dan cerdas, jadi saya kalo kasih dia hadiah emang cukup berani dari segi harga. Dia nampaknya tau saya sayang dengannya, that’w why dia nempel banget, ga ada perasaan takut2nya dengan saya, tidak ada gap karena saya laki2, berani melok saya kapan aja (sampe kadang2 orang tuanya yg ga enak sendiri ama gw :lol: ), bahkan bisa tiba minta dipangku, atau langsung maen duduk aja di pangkuan saya. Tapi sebagai laki2 umur 30-an yg normal, sedikitpun saya tidak ereksi ketika pantatnya itu bahkan mengenai…maaf…celana bagian depan saya, paling2 yg saya lakukan adalah saya pindahkan pantatnya ke paha saya. Inilah yg perlu kita renungkan, kok bisa Nabi anda yg berumur 50-an (jika ia normal), ngesex dengan bocah 9 tahun even jika bocah tersebut sudah puber sekalipun?

Baik zaman dahulu maupun zaman sekarang, tidak ada laki2 normal umur 54-an bisa berbirahi dengan seorang bocah cilik yg berbeda umur 40-an tahun lebih tua darinya. Jika ini bukan pedophilia complex, what else do u call it?

Perlu diingat bahwa referensi ayat AYman bin Khalid yg menyatakan di kota Yamen ada gadis yg menjadi nenek pada usia 18 tahun (melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan umur 9 tahun juga), tidak sedikitpun tercatat bahwa suami dari bocah cilik tersebut berbeda 40-an tahun lebih muda dari umur suaminya.

Seperti referensi Hadits dari Ayman bin Khalid, bocah 15 tahun juga sudah dianggap dewasa dan boleh berperang, bahkan zaman sekarang pun bocah 15 tahun sudah wet dream, dan jika tidak mendapat sex education and parental guidance, bisa menghamili bocah 9 tahun. So saya tidak percaya bawa laki2 normal umur 54-an zaman Muhammad sekalipun bisa berbirahi dengan 9 year old kids. Yg ada praktek pada zaman itu adalah banyak sekali pernikahan pengantin2 bocah laki2 dan perempuan cilik yg pada akhirnya menghasilkan banyak parent2 bocah2 cilik.

Sekali lagi….satu2nya cara menyelamatkan muka Muhammad adalah dengan membuktikan bahwa Aisya tidak berhubungan sex dengannya pada umur 9 tahun. Itupun tidak menjawab permasalah mengenai pertanyaan saya diatas : Apa perubahan besar dari segi rohani dan akhlak yg dibawakan Muhammad yg tidak ada pada masa Sidharta dan Yesus. Sebagai orang yg nge-claim kalo dirinya adalah penyempurna agama2 sebelumnya, saya rasa sangat fair jika para pemeluk agama2 lain (Buddha, Kristen dll) yg katanya disempurnakan ajarannya oleh ajaran Nabi anda, mengharapkan standard moral Muhammad harus jauh lebih baik dari Sidharta dan Yesus..

Intermezzo : Yg jauh lebih luar biasa, Nabi anda diclaim mempunya standard moral yg luar biasa dan manusia paling sempurna yg pernah hidup di bumi, tapi pada saat yg bersamaan ketika saya berdebat dengan muslim FFI yg nicknya Crescent Star, mengakui bahwa Nabi Muhammad mengaku salah dalam case Hafsa kepergok Muhmmad ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa. Terlihat dari Muhammad panik dan minta Hafsa tidak menceritakan case itu kepada siapa2. Bagaimana mungkin manusia model seperti ini, bahkan bocah 9 tahun aja diembat…sempurna akhlaknya?

MIss X wrote: Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Terimakasih untuk kejujuran anda yg mengatakan anda masih childish pada umur tersebut.
Jika anda lihat argumen dari Ayman bin Khalid, terlihat jelas dia tergolong Muslim yg mengkategorikan kedewasaan dengan pubertas.
Dia sama sekali tidak menjelaskan apakah gadis berusia 9 tahun sudah mampu mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Mengapa saya sangat concern mengenai masalah ini. Karena di negara2 Saudi Arabia dan antek2nya, banyak bocah cilik yg dipaksa untuk menikah. Sungguh saya tidak bisa membayangkan jika peristiwa biadab seperti ini terjadi pada anak perempuan saya for the sake of sunnah Nabi. Anda sendiri pasti tau kasus Syekh Puji yg sekarang bahkan bebas dari penjara (saya tidak yakin akan sama ceritanya jika pelaku pedofilia tersebut adalah non Muslim). Muslim/ah berpikiran kritis seperti anda yg hendak saya jangkau.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop eye, mohon maaf sy baru bisa mereply skrg.

Saya sdh membaca tulisan Mas Pop dan mohon maaf saya tdk bs menquote satu2 krn terlalu panjang. Tp sy sdh menangkap inti dari semuanya krn argumen Mas Pop sdh tidak asing bg saya, semoga tanggapan sy bs mencakup semua pertanyaan dan pernyataan Mas.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai pernikahan Rasulullah dan Aisha, sy ingin menjelaskan sedikit mengenai serba serbi hadist/Sunnah. Saya ingin kita menetapkan satu persepsi yang sama shngga kita berdua tdk terjebak pd satu dialog yg hanya bertujuan saling menyerang dan bertahan tnpa saling berbagi pengetahuan dan membuka fikiran masing2.

Nama Ayman Bin Khalid itu terdengar asing bagi saya. Sy mngenal beliau dari forum ini namun dr semua tulisannya saya menilai beliau merupakan salah seorang alim yg kritis dan tdk membeo dgn hadist2 yg sdh dipilah dan dibukukan oleh ulama2 terdahulu. Perlu diketahui bahwa meskipun Bukhori dan Muslim telah disepakati oleh para ulama sbg periwayat hadist yg menggunakan methode paling baik dlm memilah dan memilih hadist sehingga semua hadis yg berasal , disetujui, atau mendapatkan syarat dari kedua atau slh satu dari keduanya bs mendapatkan predikat shahih 1, tp saya blm pernah mendengar mereka mengatakan bhwa hadist2 yg mreka riwayatkan itu 100% benar ( kl Mas Pop pernah membacanya, tlg beri sy referensi atau linknya) . Dlm hal ini saya tdk bermaksud ut meragukan kapasitas keduanya -krn sy mmg blm pantas & sy berlindung kpd Allah dari kata2 yg tdk pantas ttg keduanya- hnya krn ada beberapa hadist ttg Rasulullah yg tdk sreg dihati saya, namun perlulah semua org muslim ttp mengkaji dan terus menggali keilmuan ttg hadist ini tanpa menjadi muslim yg pasif ( tentu anda ingin muslim cm mjd pengekor saja khan? ). Ada bnyak kaidah yg mesti diperhatikan dlm memaknai sebuah hadist salah satunya adalah menelesuri budaya, hukum , sospol, norma dan nilai yg berlaku disuatu tempat yg mempengaruhi suatu hadist 2. Oleh sebab itu tdk bisa Mas Pop jabarkan sbuah hadist hanya berdasarkan pd bunyi hadist secara tekstual saja dan mgkn ini salah satu faktor yg membuat hadist2 shahih dari mereka tdk bs ditangkap secara meyeluruh dari orang2 yg membacanya shgga bnyak skali perselisihan didlm memaknainya. Jadi, yg saya harapkan dari Mas Pop adalah Mas Pop tdk berfikir jk penyangkalan muslim thdp hadist2 tertentu sbg upaya pembenaran thdp tindakan Rasulullah tp sy ingin Mas Pop menyikapi tindakan muslim itu sbg upaya menggali dan menyampaikan makna suatu hadist secara utuh, baik tekstual maupun kontekstual, dgn mengadakan beberapa penelitian dan studi kasus.

Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Disetiap masa, diharapkan atau tidak, selalu akan terjadi sebuah pergeseran nilai yg bersifat situasional seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .
Lalu kenapa banyak gadis cilik di Saudi sana yg menjadi korban pernikahan dini sehingga pemerintah merasa perlu mengeluarkan undang2 perlindungan anak ?
Seperti yg Mas Pop tanyakan :
Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Islam bukanlah apa yg dilakukan Muhammad tp Islam adalah apa yg dicontohkan Beliau. Apa yg Beliau lakukan belum tentu harus dicontoh tp tapi apa yg beliau contohkan sudah pasti harus dilakukan. Jd mesti harus Mas Pop bedakan mana yg dilakukan dan mana yg dicontohkan, jgn dipukul rata.

Seperti yg saya sebutkan sebelumnya, sosial, kondisi politik, budaya dan semacamnya sangat mempengaruhi keluarnya suatu hadist. Mesti diingat bahwa Rasulullah tdk pernah memerintahkan sahabat untuk menulis appn darinya tp karena sesuatu dan lain hal, maka pengkodifikasian hadist dipandang perlu pada masa kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz4 . Ini memberi suatu indikasi bahwa sunnah beliau yg dibukukan dlm bentuk hadist tdk semuanya berisi hal – hal yg harus diikuti kecuali apa – apa yg telah beliau ajarkan kpd para sahabatnya. Seperti hadist ttg adab duduk ketika makan ala Rasulullah yg diceritakan oelh salah seorang sahabat, bisakah Mas Pop bedakan apakah itu adalah sesuatu yg beliau lakukan ( kebiasaan ) atau sesuatu yg Beliau contohkan? Sama seperti pernikahannya dgn Aisha semua hadist mengenai itu adalah hadist2 yg memiliki sanad mauquf bukan marfu’.

Semoga ini bisa mewakili setiap argumen Mas Pop. Ditunggu tanggapannya.

Dear Miss X,

Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.

Miss X wrote:Miss X wrote:Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?

Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

Miss X wrote:Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Ok, argumen anda cukup OK untuk hal ini. Saya mengakui mungkin saya terlalu memaksakan kondisi kedewasaan zaman sekarang di-apply ke zaman barbaric in ancient times. Mungkin adalah hal yg lazim jaman dahulu jika bocah 9 tahun sudah menikah dan keadaan memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya. Saya akan berusaha fair dengan Anda jika jawaban anda memang ada common sense-nya. Tanggung jawab seorang ibu di jaman barbar tentulah berbeda dengan tanggung jawab seorang ibu di zaman modern sekarang ini, ok fair enough.

Miss X wrote:Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .

Ok anggaplah emang banyak kasus parental cilik berhasil mendidik anak dan menjadi langgeng di usia yg sangat muda in ancient times. Saya sudah berikan pada komentar sebelumnya dan saya mengerti maksud anda. Jika anda tidak bisa terima argumen saya tentang tanggung jawab seorang ibu, saya bisa mengerti dan menerima pendapat anda, karena situasi zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Jaman globalisasi seperti sekarang ini, jika kita maen statistic, saya berani yakin less than 1% ibu usia 9 thn yg bisa mendidik anaknya dengan baik seorang diri, tapi jika dibandingkan zaman barbar dimana ketrampilan yg dibutuhkan untuk survive/earn living tidaklah sesulit jaman sekarang, ok lah saya bisa terima argumen anda.

Tapi terus terang saya ga bisa mengerti jalan pikiran anda ketika anda berkomentar=> Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan.

Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh

Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.

Miss X wrote:Dear Miss X,
Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.
==========================================================================
Terima kasih Mas Pop atas pujiannya meskipun saya tidak merasa sedikitpun itu cocok buat saya. Saya merasa sangat tersanjung , orang sepintar dan open mainded sperti Mas Pop sudi berdiskusi dgn saya.
============================================================================

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?
============================================================================
Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Sebenarnya ada sedikit kebingungan dlm benak saya ttg standar apa yg Mas Pop gunakan dlm menyikapi mslh ini dan saya juga bingung harus menggunakan standar yg mana untuk menjawab pertanyaan Mas Pop ttg pandangan saya, sbg manusia yg hidup dizaman dulu atau sbg manusia yg hidup dizaman skrg ? Mas Pop yg saya hormati, dlm hal ini saya mencoba memberikan pandangan yg objektif berdasarkan waktu, tempat dan keadaan meskipun saya adalah manusia yg hidup dizaman ini dan semoga dialog kita ini tidak dibumbui oleh sentimen pribadi thdp objek yg sdg kita bahas.

Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.
==================================================================
Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

============================================================================
Dari Umar bin Khathab Ra. berkata : “Aku telah mendengar rasulullah saw.bersabda : Sesunggunya segala amalan itu tergantung pada niatnya. dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasulNya, ia akan sampai pada Allah dan RasulNya.dan barang siapa hijrahnya menuju dunia yang akan di perolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju. (HR : Bukhari & Muslim)

Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?
==================================================================
Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?
=========================================================================

Terima kasih Mas Pop sudah menyatakan sesuatu dgn terbuka. Tanpa mengurangi hormat sy, saya rasa kita sedang membicarakan ttg seorang gadis kecil yg dinikahi oleh pria yg umurnya terpaut sangat jauh yg dlm hal ini, Muhammad adalah seorang laki – laki yg mapan dlm hal ekonomi. Jd saya rasa , mslh ekonomi tdk ada hubungannya dgn apa yg sedang kita bahas.

Sex dan menjadi seorang ibu, seperti yg Mas Pop sebutkan, bersifat alamiah meskipun ibu2 sekarang ini berfikir lebih maju dlm hal kepengurusan anak. Istilah sex education ini sama seperti pedophilia, baru dikenal karena belum ada dizaman ortu sy dulu…masih tabu katanya. Tp jika kita membuat statistik, orang tua dizaman mana yg lebih berhasil mendidik anaknya dan lebih berhasil mempertahankan biduk rumah tangganya….zaman sekarang atau zaman dulu ?
==================================================================

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh seperti yg bisa anda baca di
wanita-sebagai-saksi-t42425/
muslim-netral-vs-pop-eye-t42400/

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.
==========================================================================
Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?
Saya ingin mengcopy pertkataan salah seorang muslimah FFI :

Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir

Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

================================================================
Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

==========================================================================
Jawaban saya sama seperti jawaban Mas Pop
=================================================================

Best regards

Miss X wrote::Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Anda yakin perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan ?

Zaman Nabi Musa:
1. Pernikahan dengan lebih dari 1 istri diizinkan (walaupun dalam Bible sendiri mencatat Zippora selama ia hidup adalah istri Musa satu2nya, dan ada theory yg mengatakan later on Musa menikah lagi ketika Zippora wafat). Jadi walaupun Musa memberikan izin untuk melakukan perceraian, dia sendiri bukan pelaku aktif dari kawin-cerai dan punya banyak istri
2. Hukum rajam batu terhadap wanita jika ketahuan berzinah, ga beda jauh dengan Nabi anda.

Zaman Yesus yg datang sekitar 1400 tahun setelah Musa
1. Yesus menentang perceraian, apa yg sudah disatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia.
Yesus menantang kaum2 agama Yahudi yg hendak merajam batu seorang perempuan yg ketahuan berzinah, apakah ada dari si
pelempar batu ini yg tidak pernah berdosa selama hidupnya, dan pada akhirnya karena malu, satu persatu para perajam itu pergi
sendiri, dan Yesus sendiri pada akhirnya berkata pada wanita penzinah itu : Akupun tidak akan menghukum engkau, pergilah
DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAGI.

Yesus mengajarkan (hal yg sama juga sudah diajarkan oleh Confusius yg hidup sebelum era Yesus): Perlakukan orang lain seperti
anda ingin sendiri diperlakukan,
jangan perlakukan orang lain dengan standard dimana anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Laki2 nature-nya juga
tidak ada yg mao dimadu, so kenapa juga tega melakukan sesuatu yg dirinya sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu?

Terinspirasi dari kehidupan Yesus yg sangat menghargai wanita, Christian memperlakukan system menikah hanya dengan satu
pasangan, hanya maut yg memisahkan pasangan yg sudah bersumpah setia dihadapan Tuhan.

Filsuf2 setelah zaman Yesus, prior to Muhammad time.
1. Salah satu artikel yg sudah saya terjemahkan di Resource Centre FFI, membuktikan bahwa Rufus bahkan melakukan perombakan
besar dengan cara berfikir budaya barbar masa lalu yg tidak menhargai wanita dengan menyatakan bahwa tugas istri/wanita
bukan hanya sumur, dapur dan kasur. Wanita berhak mendapatkan pendidikan yg setara dengan laki2 serta pemikiran2 beradab
lainnya yg dapat anda baca di

rufus-filsuf-romawi-pra-islam-yg-bela-hak-wanita-t40924/

Zaman Muhammad sang pembawa Alquran:
1. Back to zaman Musa, boleh kawin cerai lagi, boleh punya istri max 4 semuanya ditambah dengan syarat2 bagi Muslim,
tapi aturan ini ga berlaku untuk Muhammad yg mempunyai istri lebih dari 4 (seperti biasa alasan Muslim=>pengecualian buat
Muhammad yg punya akhlak sempurna, mengawini janda2 dengan tujuan mulia dan hal2 lain yg sering jadi bahan ketawaan orang2
kaffir).
2. Muhammad dengan mudah mengambil istri anak angkatnya, mengambil istri musuh yg dia bunuh, tapi dengan mudahnya dia
memberikan maklumat bagi istri2nya untuk tidak boleh menikah lagi setelah ia wafat dengan alasan itu menyakiti hati Allah
dan Rasulnya.
3. Muhammad mengajarkan untuk mendisiplin istri dengan memukul mereka jika perlu. Tentulah Muslim semua pada stress dan
berusaha untuk menjelaskan kepada kami arti memukul itu maksudnya adalah pukulan yg ringan.
4. Surat An Nisa di Alquran yg menghargai perempuan seperti yg anda describe.

Tanpa perlu ada Alquran dan petuah2 dari Nabi anda, prior to the Islam era, sudah ada Nabi, pemikir/filsuf/org2 well educated yg sudah punya pandangan yg luar biasa tentang penghargaan terhadap wanita dan menginspirasi orang2 sejamannya terlepas zaman tersebut masih era yg umumnya tidak menghargai wanita.

Dear Miss X, justru jika Anda berusaha jujur untuk melihat kehidupan pribadi Nabi anda yg katanya sangat sempurna akhlaknya itu, terjadi degradasi rule2 yg sudah dibuat oleh Nabi, pemikir2 jaman sebelum era Muhammad.

Sungguh setiap kali pecinta Islam berusaha menyakinkan dunia bahwa Islamlah yg mengangkat harkat dan martabat, based on perbandingan zaman yg saya sebutkan diatas, saya tidak bisa menahan ketawa.

Miss X wrote: :Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Dear Miss X,
Zaman barbar (termasuk di luar daerah Timur Tengah sekalipun) memperlakukan raja sebagai segala-galanya. Bukan hal yg aneh jika raja meminta apapun dari rakyatnya (termasuk istrinya sekalipun). Raja adalah supreme ruler, segala perintahnya adalah mutlak. Jadi dimata musuh2 Muhammad sekalipun, itu adalah praktek yg bisa diterima karena musuh mereka mungkin juga melakukan hal yg sama. Pengikut Muhammad memperlakukan dirinya sebagai raja, bahkan lebih dari itu, menganggap dirinya sebagai dewa. Bahkan sudah dikenal kebudayaan jaman dahulu dimana salah satu ibadah pagan adalah dimana perempuan2 beribadah dengan cara melacurkan diri kepada Nabi2nya. Adalah suatu kehormatan dan kebanggaan kalo perlu diusahakan bagi setiap wanita zaman barbar yg memuja dewanya untuk menikah dengan Nabinya. Jadi point anda hanya menjelaskan bahwa perbuatan Muhammad mengambil istri anak angkatnya, ngesex dengan bocah 9 thn adalah hal yg bisa diterima oleh budaya barbar. Tapi bukan berarti praktek budaya barbar tersebut adalah bermoral. Anda tidak bisa berharap terlalu banyak akan theory gossip dan cemoohan untuk jaman2 barbar seperti ini.

Semakin anda “memaksa” kami para kaffir untuk menerima perbuatan Muhammad karena itu tidak bertentangan dengan zaman barbar, semakin kami convinced bahwa Nabi anda tidak lain tidak bukan hanyalah manusia biasa yg terdorong dengan nafsu dunia dan praktek barbar zaman itu.

Mengapa pengikut Sidharta Gautama dan Yesus terinspirasi dan mengikuti beliau2?
Karena teladan hidup dari mereka (kasih, pengorbanan, self control) di zaman barbar terbukti masih berlaku hingga zaman sekarang.

Kualitas dan teladan hidup mereka yg masih bisa diapplied di zaman sekarang saja sudah membuktikan akhlak mereka diatas Muhammad. Anda tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yg meneladani sikap hidup Sidharta dan Yesus (dari sumber yg sahih) dimana dampak dari tindakan mereka akan membahayakan nyawa orang lain, atau jika kita perkecil scope kita ke topic ini, akan ngesex dengan anak kecil.

Miss X wrote::Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.

Dear Miss X, anolagi anda sama sekali tidak menjawab permasalahan moral yg kita hadapi.
Case 2 batu Vs pemantik hanya menjelaskan ke saya bahwa zaman dahulu, dengan keterbatasan kecerdasan manusia, tentulah masih depend on 2 batu, seiring dengan bertambah cerdasnya manusia, manusia mampu menciptakan pemantik untuk menyalakan api dengan cara yg sangat cepat.

Zaman ketika menggunakan batu untuk menyalakan api, hampir semua manusia purba menggunakan cara itu (kecuali jika memang ada segelintir ras manusia purba yg sangat cerdas yg bisa melakukannya dengan cara yg lebih efektif). Zaman ketika Muhammad ngesex dengan dengan bocah 9 thn, hanya segelintir adult men yg tidak normal naluri sexnya yg melakukan hal itu. Even zaman Muhammad sekalipun anda tidak akan mudah menemukan tua bangka 52 thn ngesex dengan bocah 9 thn.

Zaman dahulu, sama sekali tidak diperlukan adanya kecerdasan bagi pria dewasa untuk bisa membedakan memilih ngesex dengan bocah 9 thn atau ngesex dengan perempuan dewasa. Yg diperlukan hanya naluri sex normal dari laki2. Sama sekali tidak ada hubungannya standard zaman dahulu dengan zaman sekarang kalo soal urusan EREKSI.

Miss X wrote::Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?

Darimana anda yakin referensi anda valid dan bisa dipertanggung-jawabkan secara logis?
Apakah anda hendak menyakinkan saya Aisha bukan manusia biasa? Alien mungkin? bocah 9 thn tapi dengan penampilan fisik seperti gadis 20 thn yg normal?

Dear Miss X, kita sedang beradu argumentasi dengan hal2 yg logic. Bukan dengan referensi2 yg tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akal sehat manusia.

Umat Budha percaya referensi Kitab mereka yg mengatakan ketika Sidharta lahir, berbeda dengan bayi normal, bayi ini sudah bisa berjalan dan melakukan segelintir hal2 fantastis lainnya. Kira2 anda bisa terima argumen mereka ga kalo case ini diperhadapkan pada argumentasi logis?

http://en.wikipedia.org/wiki/Miracles_of_Gautama_Buddha

Referensi bayi Sidharta sudah bisa berjalan pada saat ia lahir di bumi adalah iman dari orang2 Buddhist dan itu adalah hak mereka. But whether the case make a good reasoning for common sense debate case is another thing.

Klaim yg anda paparkan kepada saya adalah argumentasi sangat klasik dari Muslim2 seluruh dunia. Adalah hak bagi2 setiap muslim untuk punya blind faith atas keyakinan anda dari referensi mengatakan bahwa umur 9 thn Aisha somehow secara ajaib sudah memiliki fisik layaknya wanita dewasa. Tapi adalah konyol jika hal ini dibawa ke dalam perdebatan yg menggunakan akal sehat.

Islam sendiri tidak percaya evolusi Darwin yg mengatakan manusia adalah hasil evolusi dari kera. Bagaimana kalian bisa percaya bocah 9 thn di zaman Muhammad bisa berevolusi/bermutasi tubuhnya menjadi perempuan dewasa?

Saya pernah liat di tivi case dimana anak yg terlihat sangat tua padahal masih bocah. Namun tidak perlu 1 menit bagi otak saya untuk mencerna bahwa wajah bocah tersebut sangat weird, ketara banget kelainan hormon, muka tetep muka anak kecil tapi sudah keriput dan tumbuh kumis.

Ada juga case acro megali, dimana seorang bocah yg jauh lebih tinggi dari bocah2 seusianya. Tapi sekali lagi, dari penampilan fisik, terlihat banget ukuran badannya yg tidak proporsional, muka sedikit idiot, yg pada akhirnya semua orang tau bocah ini mengalami kelainan hormon.

Jika Muslim masih insist untuk memegang theory bocah yg terlihat berfisik dewasa sebelon waktunya, tentulah muslim juga harus terima dari contoh case2 yg saya sebutkan diatas, Aisha berpenampilan seperti itu. Bukankah jauh lebih menjijikan jika bahkan Muhammad bisa bernafsu sex dengan bocah seperti itu ?

Ok saya buat perbandingan simple untuk klaim klasik yg anda ajukan VS kami para kaffir
Muslim masa kini
– Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha =>Tidak
– Referensi yg digunakan =>Referensi yg katanya cukup valid
– Argumentasi =>Aisha walaupun berumur 9 tahun tapi fisiknya sudah selayaknya seperti wanita dewasa pada umumnya yg siap untuk
disetubuhi

VS

Kaffir masa kini
– Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha=>Tidak
– Referensi yg digunakan=>Hadits Sahih Bukhari yg diakui Muslim diseluruh dunia
– Argumentasi=> Lebih dari satu ayat Hadits yg mencatat Aisha berumur 6 tahun dan masih maen boneka dan ayunan dan berumur 9
tahun pada saat ngesex dengan Muhammad. Berdasarkan informasi umur dan tingkah laku Aisha pada saat itu, kaffir berkesimpulan
tidak ada bukti apapun (selain iman buta) bahwa Aisha berpenampilan fisik layaknya wanita dewasa. Aisha hanyalah bocah cilik umur
9 tahun, dengan tingkah laku anak 9 tahun dan fisik anak 9 tahun, maka belon pantas untuk disetubuhi dan tidak akan
membangkitkan hawa nafsu laki2 dewasa normal pada umumnya.

Coba luangkan waktu sejenak untuk menilai secara objective perbandingan diatas, pendapat manakah yg akan dinilai lebih masuk akal oleh independent reader/judger, despite kita berdua sama2 tidak hidup di zaman Muhamad dan Aisha.

Miss X wrote::Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Dear Miss X
Contoh case: Jika tanpa sepengetahuan saya, pasangan saya masuk kamar saya dan sedang ganti baju, dan pada saat pulang dari kantor saya membuka pintu kamar saya dan TANPA SENGAJA/NIAT saya melihat dirinya ganti baju dan bertelanjang bulat didepan saya, naluriah sex normal laki2 saya akan membuat saya ereksi.

Atau jika misalnya, saya hendak berdiskusi dengan colleague saya, saya hampiri dia didepan Desktopnya, dan ternyata di depan monitor Desktopnya dia lagi nonton film porno dan saya jadi secara ga sengaja ngeliat cewe telanjang, saya akan ereksi.

Ereksi dari contoh diatas bukanlah dari NIAT SAYA UNTUK EREKSI, TAPI INSTINCT SEX NATURAL SAYA SEBAGAI LAKI2 NORMAL.
NIAT PUNYA PENGARUH UNTUK SAYA MELAMPIASKAN NAFSU SEKSUAL SAYA, TAPI UNTUK BISA BER-EREKSI, SETIAP LAKI2 BUTUH OBJECT YG BISA MERANGSANGNYA. BAGI LAKI2 NORMAL, ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH WANITA DEWASA. BAGI PEDOPHILE ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH BOCAH CILIK.

Bocah 6 tahun anak sahabat saya, mao saya niat gendong dia, mao niat liatin dia telanjang, saya tidak akan ereksi, boro2 kepikir ngesex dengannya, ereksi aja engga. Saya jamin semua laki2 normal akan mengerti penjelasan saya. Ga ada hubungannya dengan argumen anda dikarenakan niat. Saya tidak akan pernah memperkosa/melakukan hal2 cabul kepada anak temen saya bukan karena saya orang suci, tapi karena saya orang normal.

Contoh yg anda paparkan tentang kakek tua renta yg cabul terhadap bocah cilik hanya membuktikan bahwa memang kasus pedophilia terjadi di Indonesia. Jika ereksi aja ga bisa, gimana ada niat untuk perkosa? Jika kakek tersebut bisa perkosa anak kecil, berarti ia bisa dirangsang secara seksual oleh tubuh bocah cilik yg menyebabkan dirinya ereksi. As simple as that.

Kakek2 normal hanya terangsang oleh wanita dewasa, contoh case yg cukup ngetop adalah ketika bos kaya raya Majalah Playboy yg berusia 60-an menikah dengan model berusia 25 thn.

Miss X wrote::Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?

Hadits tanpa malu2 mencatat umur Aisha adalah 6 tahun saat dia married, dan 9 tahun saat dia di consummate.
Tidak diperlukan adanya kriteria khusus untuk mengerti bahwa Aisha masih bocah cilik saat ia menikah, dan melakukan sex pertama kalinya saat ia berumur 9 tahun dengan Muhammad.

Memangnya apa sih kriteria khusus yg bisa memberikan makna lain pada kata CONSUMMATED, MARRIED, bilangan 6 dan 9 tahun?
Penasaran saya :)

Miss X wrote::Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Kami para kaffir juga tidak kalah geli dengan kalian para Muslim yg segitu cinta mati dengan Muhammad. Jelas2 muslim semua self proclaim bahwa Muhammad bermoral sempurna, Nabi terakhir penyempurna ajaran Nabi2 lain sebelumnya, terus apanya yg aneh jika kami para kaffir mengangkat issue sex untuk mempertanyakan self proclaiming kehebatan moral Muhamamd?

Sex sejak zaman purba hingga saat ini dan akan selama2nya menjadi pergumulan terbesar kaum laki2 normal. That’s why kaffir mengagumi Sidharta dan Yesus yg begitu luar biasa mendedikasikan hidupnya untuk manusia dan mengesampingkan hawa nafsu sex dunianya.

Salahkan jika kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda Nabi penyempurna ajaran sebelumnya?

Salahkah kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda seperti yg Muslim2 katakan, sempurna akhlaknya?

Salahkan kami , setelah membaca sumber2 sahih dari muslim sendiri dan mengetahui bahwa Nabi anda tercatat sebagai orang yg mengambil istri dari anak angkatnya, ngawinin bocah cilik, ketahuan ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa pada saat giliran sexnya Hafsa sehingga Hafsa murka serta petualangan2 sex lainnya membuat kami para kaffir mengambil kesimpulan bahwa Nabi anda sama sekali tidak ada bedanya dengan pemimpin perang zaman barbar lain yg tidak bisa mengendalikan hawa nafsu sexnya, sehingga ia sama sekali tidak pantas disebut sebagai Nabi dengan akhlak paling sempurna?

Pernah sister Miki FFI ngepost comment bagi Muslimah di Facebook, Bagaimana pendapat anda tentang kakek tua umur 52 thn yg ngesex dengan bocah cilik 9 thn, tanpa pikir panjang, muslimah ini langsung menjawab itu adalah perbuatan terkutuk, immoral, namun pada saat yg sama setelah itu sis Miki memberikan bukti2 Hadits2 bahwa Muhammad melakukan hal itu, langsung sis Miki dibanned dan dituduh sebagai orang2 yg hendak menjelek2an Rasul Allah. Double standard ini sungguh menggelikan.

Anda geli melihat kami sama seperti kami juga geli melihat kalian. Biarlah independent reader/judger yg menilai “geli” siapa yg paling logis.

Miss X wrote: :Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

Bagaimana anda bisa mengklaim diri anda tau siapa Muhammad melebihi saya jika baik anda dan saya tidak pernah bertemu dengan Muhammad dan bahkan tidak hidup sejaman dengannya?

Anda bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah, anda bahkan belum pernah bertemu dengannya. Anda jelas bukanlah saksi yg qualified di pengadilan.

Jika ikutin standard kalian, saya juga bisa bersaksi bahwa Julius Caesar itu Rasul Allah.

Oh my goodness, jika model seperti Muhammad yg anak kecil aja diembat, istri bejibun anda katakan akhlaknya tertinggi, berarti harusnya anda juga harus fair bahwa Sidharta dan Yesus sudah selayaknya anda tempatkan sebagai manusia berakhlak dewa.

Miss X wrote::Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir
Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Setuju..proses berfikir juga akan terlihat dari kualitas debat dari seseorang. Sekarang tinggal anda yg menunjukkan kepada saya, apa sih definisi copas bagi anda?

Saya sama sekali tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan anda mengenai waktu tunggu 3 tahun.
Apakah dengan memberikan saya contoh pedophile zaman ini yg tidak bisa menunggu 3 tahun, anda hendak menggunakan waiting period 3 thn sebagai tolak ukur apakah suatu tindakan dinyatakan NORMAL atau tidak?

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


Wikipedia mengkategorikan 2 jenis pedophile:
1. Exclusive pedophile => pedophile yg murni cuman suka anak kecil
2. Non Exclusive pedophile => pedophile yg bisa berbirahi terhadap baik orang dewasa maupun anak kecil

Kriteria no 2 lah yg paling cocok dgn Nabi anda

Apa anehnya jika Nabi anda bisa sabar menunggu hingga 3 tahun? According to his rule, Muhammad mengizinkan Muslim bersetubuh dengan istri2nya dan budak2nya. Selama 3 tahun, Muhammad either bisa ngesex dengan istri/budak2nya dikarenakan Nabi anda itu bukan pedophile yg murni cuman suka anak kecil. Jadi kebutuhan sexualnya masih ada pelampiasan.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop atas tanggapannya yg mmg sangat saya tunggu. Sebelumnya Mas Pop berdalih mengatakan bahwa sulitnya mencari referensi mengenai pedophilia sbg tindakan amoral yg telah dikenal sejak zaman pra Islam adalah dikarenakan appn yg menyangkut wanita saat itu kurang mendapat perhatian, meskipun saya sdh tau bahwa itu hanya sebuah alasan . Sepertinya argumen Mas Pop diatas sdh menembak kaki Mas sendiri krn sgt bertolak belakang dgn pernyataan Mas Pop sebelumnya. Mas Pop sendiri telah membuktikan bhwa sudah ada kemajuan dlm berfikir bahkan sebelum Muhammad datang membawa risalah sehingga memang seharusnya semua hal yg menyangkut sejarah memiliki catatan masing – masing termasuk masalah wanita dan norma-norma yg berlaku dlm suatu masyarakat yg memaksa para anggotanya untuk mematuhinya dgn berbagai ancaman . Jadi alasan ketidakmampuan mencari referensi mengenai ketidaknormalan menikahi seorang gadis kecil dimasa itu adalah nol besar. Jika dosa zinah mendapat hukuman fisik berupa rajam, bgmana mungkin tdk ada satupun catatan mengenai bentuk hukuman bagi pendosa pedophilia meskipun hanya sebuah gosip atau celaan sebagaimana pendosa homoseksual?? Bagaimana celah sbg “seorang pedophilia” tdk tercatat pernah menciderai reputasi Muhammad sbg seorang Nabi pada masanya baik dari sahabat-sahabatnya yg setia menulis appn ttg beliau dan dari para musuhnya yg setia mencari celah keburukannya ?? Jelas ini memperkuat hipotesa saya bahwa pedophilia, ditinjau dari ilmu sosiologi, bukanlah sebuah penyakit masyarakat sebagaimana istilah yg berkembang saat ini karena tidak ada satupun gejala sosial yg tercatat dalam sejarah pra Islam maupun Pasca Islam sebelum abad ke 20 yang membuktikan bhwa ini adalah sebuah perbuatan tercela yg membuat Muhammad tdk pantas menyandang gelar sbg NABI.

Mohon maaf Mas Pop, kita tidak sedang bicara ttg hak – hak perempuan, sifat pengampunan, dan kesetiaan. Tp kita sedang membicarakan ttg PEDOPHILIA dan fokuskan arah diskusi ini pd topic ini.

Salah satu argumen anda yg sangat menarik untuk topic pedophilia ini adalah : Anda terus menerus meminta saya untuk menerima logika Muslim pada umumnya : Jika praktek pedophilia jaman dahulu tidak mendapatkan kecaman, maka sudah sepantasnya kami para kaffir menerima argumen kalian bahwa praktek pedophilia tidak dinilai bermoral di zaman itu.

Perbudakan zaman dahulu adalah hal yg bisa diterima di zaman sebelum dan sesudah Muhammad (termasuk oleh Muhammad sendiri). Walaupun sama2 manusia ciptaan Tuhan, karena perang, karena agama, karena alasan apapun, suatu suku/bangsa bisa menempatkan diri mereka lebih superior dari suku/ras lain dan membenarkan diri mereka untuk enslave ras lain. Dan seperti yg anda tahu, hidup budak hanya tergantung oleh belas kasihan tuanya, mereka hampir tidak mempunyai hak. Perbudakan zaman dahulu adalah practice yg bisa diterima, tapi bukan berarti ini membuktikan bahwa perbudakan adalah hal yg bermoral.

Jika anda merasa kaffir masa kini yg menciptakan definisi Pedophilia dan ngebanned hal tersebut padahal zaman dahulu tidak ada yg mempermasalahkan, sekarang silahkan anda jawab : Minum alkohol dan berjudi adalah hal yg diterima di Saudi Arabia zaman Muhammad. Kenapa Muhammad memutuskan untuk nge-banned hal tersebut?

Saya tau kita sedang membicarakan tentang pedophilia. ANda meminta saya untuk fokus dalam hal ini sementara pada saat yg sama Anda mengatakan MUhammad yg mengangkat harkat dan martabat perempuan. Jadi apa yg salah jika saya paparkan perbandingan zaman sebelum MUhammad dan Muhammad mengenai harkat martabat perempuan selain pedophilia? Apakah harkat dan martabat perempuan hanya terbatas pada masalah pedophilia?

Apakah ada yg salah pada logika saya jika counter muslim yg self proclaim tentang Muhammad mengangkat harkat martabat perempuan dengan issue2 dibawah :
– Hukum rajam terhadap wanita pezinah
– Wanita tidak boleh menolak bersetubuh dengan suaminya, that’s why ga ada seorang istri bisa menuntut suaminya untuk WIFE RAPE
di negara2 SYARIAH.
– Wanita diizinkan untuk dipukul
– Wanita hanya boleh bersuamikan satu, laki boleh beristrikan banyak
– Nilai kesaksian wanita hanya 1/2 dari laki2.
– and many more.

Dear Miss X, saya tau anda mencintai Muhammad (tidak ada yg meragukan hal itu), tapi tolong tunjukkan letak kesalahan saya yg anda katakan tolong focus terhadap masalah PEDOPHILIA. Apakah anda kira harkat dan martabat perempuan hanya senilai jika anda bisa memenangkan argumen terhadap saya mengenai masalah PEDOPHILIA?

APanya yg salah jika saya membawakan issue2 yg berhubungan dengan claim anda mengenai harkat dan martabat perempuan?
Kecuali jika memang harkat dan martabat perempuan hanya berkisar seputar masalah PEDOPHILIA, saya baru bisa terima kritikan anda bahwa saya out of context.

Miss X wrote: Mas Pop yang saya hormati, saya tidak berdiri disini sbg seorang umat yg sedang membela Nabinya tp saya disini sbg lawan debat anda yg mengajak anda berfikir secara objektif tentang sejarah dgn mempelajari gejala – gejala yg menyertainya untuk menarik sebuah kesimpulan yg sesuai atau minimal mendekati kenyataan.Saya kenal Mas Pop sbg org yg sgt cerdas dlm setiap postingan anda dan saya yakin bahwa Mas Pop pun tau bgmna cara berdiskusi dgn objektif tanpa melibatkan emosi dan perasaan sentimentil. Saya sangat berusaha untuk tidak mencampuradukan perasaan saya sbg seorang wanita dalam diskusi ini. Bagaimana kita memaksakan suatu standar yg baru saja kita buat tanpa meminta kesepakatan mereka?? Bahwa setiap norma dan nilai dalam masyarakat itu ada atas kesepakatan bersama dan menjadi hukum secara turun temurun baik suka ataupun tidak. Kalau pendapat Mas Pop itu benar adanya, maka Yesus andapun termasuk seorang bar bar karena tdk pernah menyinggung masalah pedophilia ini dlm ajarannya.

Bagaimana anda bisa berkata anda tidak sedang membela Nabi kesayangan anda dan berdiri sebagai lawan debat saya mengajak saya berfikir secara objektif tentang sejarah, jika anda sudah memposisikan diri Anda lebih mengenal Muhammad dibandingkan dengan saya, itu sebabnya anda mencintainya?

Anda sedang berusaha untuk tidak mencampur-adukkan perasaan anda sebagai wanita karena anda menyadari dengan jelas posisi Nabi anda pasti akan dalam masalah besar. Akan beda ceritanya jika yg melakukan activity ngesex dengan bocah 9 tahun ini adalah kakek2 masa kini. Objectivity anda sangat dipengaruhi oleh cinta anda terhadap Muhammad.

Saya tidak cerdas, tapi umumnya ketika saya berargumen, sebelum saya nge-post, saya sudah berdiskusi dengan orang2 yg tidak anti Islam ex: bos saya orang bule (yg programming skill-nya diatas saya, fyi saya adalah programmer) yg tidak anti Islam dalam dunia nyata. Saya berikan dia study case, saya tidak bawa2 Islam, saya minta dia bandingkan juga dengan zaman pra Islam.

Umumnya saya selalu kalah debat dengan bos saya jika menyangkut programming skill, banking business, karena dia bener2 jago dan luar biasa otaknya. Tapi sepintar apapun beliau, tetep aja dia ga bisa menyanggah argumen saya dari hasil debat saya dengan Anda ketika saya memintanya menilai secara objective. Bos saya hanya menyanggah saya karena dia tidak sependapat bahwa Muhammad ngesex dengan AIsha pada usia 9 tahun. Ia yakin Aisha disetubuhi pada saat ia sudah menjadi wanita dewasa seperti pendapat2 Muslim2 lain yg berusaha menyangkal keabsahan umur 9 tahun Aisha pada saat diconsummated. Selain daripada itu, bos saya setuju sepenuhnya dengan saya bahwa even di zaman barbar, praktek tua bangka 52 tahun consummated gadis kecil 9 tahun bukanlah hal yg lazim dan normal.

Saya masih jauh lebih menghargai muslim2 yg berusaha untuk mencari bukti bahwa usia Aisha bukanlah 9 tahun (terlepas dari mereka jadinya plintir2 ayat dan ngambil referensi tidak sahih) waktu dia di consummated. Muslim2 seperti itu jelas lebih jalan otaknya, sadar perdebatan apapun tidak akan dimenangkan oleh Muslim/ah selama mereka masih memegang theory Aisha berumur 9 tahun. Itu sebabnya muncul muslim2 seperti Minerva yg berusaha memberikan bukti/referensi lain mengenai umur 9 tahun, dimana jika mereka bisa memenangkan argumen bahwa umur Aisha bukanlah 9 thn, tuduhan terhadap pedophilia Muhammad akan dipatahkan.

Jadi bukan hanya saya dan para kaffir lain yg sadar weak point dari Muhammad untuk hal ini. Bahkan sodara2 muslimmu juga sudah banyak yg sadar akan hal ini, itu sebabnya sudah semakin berkembang theory2 dari Muslim yg berusaha menyanggah kevalidan umur Aisha. So let me tell you, bahkan lawan debat anda bukanlah cuman kami saja para kaffir, tapi juga sodara2 anda sendiri.

Untuk masalah anda dengan Yesus, saya akan more than happy untuk berdiskusi dengan Anda di topik diskusi yg baru.

Miss X wrote: Mas Pop yg saya hormati, ada baiknya jika semua dugaan sementara dari Mas Pop disertai dgn bukti – bukti dan referensi yg menguatkan yg menjadi pijakan dlm berfikir, bukan hanya sekedar omongan kosong yang “maksa” untuk dihubung – hubungkan. Saya tdk melihat adanya kerasionalan dalam berfikir seperti yg selalu dibangga-banggakan oleh kafir melainkan hanya tumpahan kebencian tanpa dasar yang jelas dan cenderung dibuat dan diada-adakan. Saya tidak memaksa Mas Pop untuk menerima Beliau sbg seorang Nabi, saya hanya meminta Mas Pop untuk mampu membuktikan semua tuduhan tercela itu dgn cara terpuji dan dgn referensi yg jelas.

Satu point pengakuan bahwa ada “kemungkinan” semua orang melakukan hal yang sama [ praktek pedophilia] sdh dgn sendirinya menjawab bahwa masyarakat tdk menganggap ini sbuah perbuatan tercela yg melanggar norma, lalu kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita?? Bagaimana jika kita meminta pendapat orang-orang zaman dulu ttg cara hidup kita, apa Mas Pop yakin bahwa mereka pasti mengaggap kita lebih berperadaban? Ini adalah standar yg benar – benar kacau balau.

Dear Miss X, kami para kaffir menggunakan referensi dari Hadits Sahih Bukhari, yg diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Anda butuh bukti apalagi selain itu?

Ada lebih dari 5 ayat Hadits sahih yg jelas2 menunjukkan Aisha berumur 9 tahun saat diconsummate oleh Nabi anda yg berbeda umur lebih dari 40 tahun darinya.

Dan terakhir saya temukan bukti lagi dari Sahih Hadits:
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

Anda baca baik2 referensi diatas. Bagian yg di bold, itu yg buat pernyataan tersebut bukan kami para kaffir, tapi si Penulis hadits sendiri. Ayat2 Hadits yg lain memang tidak ada yg terang2an nulis seperti itu, tapi ayat Hadits yg satu ini dengan begitu gamblang si Penulis menjelaskan kepada pembaca Muslim agar Aisha terbebas dari dosa penyembahan berhala. Bukti apalagi yg anda butuhkan?

Saya tertarik dengan kata2 anda : kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita.
Jika saya memaksakan anda harus menerima argumen saya, dan jika anda tidak bisa menerima, saya akan hukum anda, mungkin anda bisa bilang saya mendikte anda.

Kata dictator/diktator berasal dari kata kerja dictate/dikte, orang yg hanya mendikte orang lain untuk melakukan/mempercayai apa yg dia yakini terlepas dari benar apa salah, tidak ada yg namanya perdebatan dan argumentasi, dan jika orang lain tersebut menolak, maka akan ada sanksinya.

Saya seperti kaffir pada umumnya. Saya tidak terlahir dengan membenci Islam. Saya pikir semua agama baik. Saya tidak membenci Islam karena propaganda kaffir akan ajaran Islam. Tapi saya membenci ajaran Islam karena saya mengalami langsung tindakan permusuhan dan rasialisme dari Muslim/ah yg ketika saya compare dengan ajarannya ternyata match dan hampir semua kaffir di FFI juga ternyata mengalami pengalaman yg sama dengan saya. Awalnya kami juga berfikiran sama seperti anda itu adalah oknum.

Apa yg kami para kaffir lakukan hanya menyediakan wadah website dan mengadakan ajang debat logis dan biarkan independent reader/judger yg menilai Islam. Tidak ada hukuman/sanksi apapun jika tidak ada yg percaya dengan informasi kami, Jika karena kami mengkritisi moral Muhammad dengan akal logika kami, anda merasa itu berarti kami mendikte Muhummad, silahkan anda belajar lagi definisi kata dikte.

Itu sebabnya saya menyukai ide untuk berdebat di internet yg bisa dibaca oleh semua Muslim dan non Muslim, semua orang pro/anti Muslim atau orang yg netral/independent yg tidak memihak siapapun. Anda boleh berkata kami tidak rasionalis, tapi so far setiap kali saya memberikan argumentasi saya untuk dibaca orang yg tidak anti Islam sekalipun seperti bos saya, beliau tidak bisa menyanggah argumen saya. Apakah ini berarti saya lebih jago dari bos saya? Ini hanya membuktikan indenpendent judger bisa menilai kami secara objektif dan mengerti jalan logika kami terlepas dari mereka sendiri mungkin tidak anti Muhammad.

Miss X wrote: Saya ingin mengekspresikan rasa kecewa saya krn setiap kali muslim mengangkat perbandingan antara ajaran Islam VS agama-agama sebelumnya, Mas Pop dan teman – teman akan berteriak menang karena sepertinya kami ini telah tersudut sehingga menggunakan agama lain sbg tameng. Saya berusaha untuk tidak menyinggung tokoh agama maupun agama manapun krn saya benar – benar fokus sbg muslimah yg mencoba mengklarifikasi kerancuan cara berfikir kafir thdp Muhammad tp bkn berarti saya tak mampu membeberkan semua kebobrokan agama lain, toh itu tak sedikitpun membuat Mas Pop bergeming terhadap tuduhan-tuduhan yg ditujukan pada Islam dan Muhammad dan itu sedikitpun tdk menguntungkan saya . Tentu Mas Pop akan sangat kaget atau berusaha menutup – nutupi seandainya saya beberkan bahwa ternyata di Perjanjian Lama ternyata ada catatan ttg praktek Pedophilia bahkan dgn bocah berumur 2 thn tp anehnya saya tdk melihat adanya kecaman mengenai hal itu. Belum lagi praktek incest, selingkuh dgn menantu, berhubungan sex dgn budak, bahkan praktek poligami yg dilakukan oleh Yesus anda meskipun anda akan membantah bahwa itu tdk terdapat dalam Perjanjian baru. Tp Mas Pop, saya akan tetap anggap bahwa agama anda itu baik krn saya yakin bahwa banyak hal – hal baik didalam agama anda yg membuat anda tetap bertahan menganutnya . Jadi, kita tidak perlu OOT kemana – mana. Jika Mas Pop dkk keberatan jika kebobrokan agama anda diperbandingkan dgn Islam…maka jgn pernah berharap bisa memperbandingkan kebaikannya dgn Islam. Itu adalah sebuah prinsip yg fair. Saya tidak bodoh Mas Pop.

I’m fully agreed anda tidak bodoh.
Namun blind faith anda menguasai nalar anda, dan pada akhirnya blind faith anda yg menang.

Saya tidak akan menutup2i case incest, berhubungan sex dengan budak di Bible di Old Testament, bahkan saya bisa tunjukkan ayatnya. Saya tau jelas ayat apa yg anda maksud dan saya akui praktek itu memang terjadi di Old Testament. Tapi so far saya belum pernah ketemu satu referensi sahih dalam Bible yg mengizinkan praktek pedophilia. Keep in mind saya berbicara Bible, bukan Talmud, bukan buku2 Yahudi yg lain yg sering digunakan Muslim2 untuk menyerang Kekristenan. Sumber sahih umat Kristen diseluruh dunia hanya satu : BIBLE.

Tenang aja, jika anda ingin membuat diskusi baru mengenai Alkitab, saya akan dengan senang hati melayani anda.
Saya tidak bermasalah dengan kebobrokan agama kami para kaffir diperbandingkan oleh umat Islam. Namun satu hal yg saya cukup bangga katakan bahwa so far kami para kaffir belon pernah menemukan satupun kejahatan kemanusiaan yg dilakukan oleh oknum manapun yg bisa mengatasnamakan mereka lakukan dengan mengikut sunnah Sidharta Gautama atau Yesus Kristus. Kalaupun ada, tidak ada Bible atau Tripitaka sahih yg bisa mereka gunakan no matter how hard they want to twist the verse.

Miss X wrote: Saya tdk menyebutkan bahwa analogi saya diatas telah mewakili ttg apa yg sedang kita bahas. Saya hanya memberi satu gambaran bagaiamana lingkungan memperngaruhi cara berfikir manusia dimana seorang manusia akan berlaku sesuai apa yg ditetapkan lingkungannya sbg suatu hal yg baik.

Karena berkembangnya pola pikir manusia, sehingga lahirlah istilah Pedophilia di abad 20. Begitu banyak hal – hal yg melatarbelakangi hal ini, salah satunya karena banyaknya anak – anak yg menjadi korban pencabulan orang dewasa disuatu negara x dan amazing…justru istilah ini muncul di negara mayoritas kafir dgn sample kasus Pedophilia murni dinegara tersebut dgn Yesus sbg teladannya. Dengan orang sekelas Confusius dizaman pra Islam dan Richard von Krafft-Ebing diabad ke 20-an, bagaimana terdapat rentang waktu yg begitu jauh hanya untuk merumuskan satu istilah yg disebut PEDOPHILIA, wat happened??

Para pedophil dulunya kemana aja??

Mas Pop, coba sedikit kritis dlm berfikir…jgn kuasai diri anda dgn kebencian yg buta. Didalam rentang waktu yg begitu lama selalu ada alasan dan faktor – faktor, yg secara langsung maupun tidak, menggeser norma – norma dan nilai yg berlaku dimasyarakat, baik itu menuju kearah yg lebih baik maupun tidak. Apakah faktor – faktor itu? Karena kita sama-sama tidak hidup dizaman Aisha, untuk meneliti lebih jauh mslh ini , yg bisa kita lakukan hanyalah membuat hipotesa sementara. Salah satu dugaan sementara dari saya adalah perubahan bentuk tubuh manusia, bukan dari kera menjadi manusia tp adanya perubahan bentuk tubuh dan pernyusutan. Nanti dulu kita urusin masalah ereksi… nanti Mas Pop jadi tegang (heheh…bercanda Mas)

Sebagai contoh, It is a common knowledge even though the majority of American is so called a Christian, tapi hukum negara mereka memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan sekuler. Di Amerika sekolah Kristen yg memaksakan non Kristen untuk berdoa ala Kristen sebelum kelas dimulai akan bisa dituntut secara hukum. Gay marriage,abortion diperbolehkan karena hukum mereka tidak berasaskan Kekristenan, tapi murni hanya pada logika sekulerisme. So apa yg hendak anda point out jika memang istilah ini muncul dari negara mayoritas pengikut teladan Yesus? Memang betul negara mereka mayoritas ngaku Kristen, tapi jelas negara tersebut bukanlah mayoritas pengikut teladan Yesus karena itu jelas cacat logika since Jesus never set any example like that dari sumber sahih Bible.

Para pedophil dari dulu ya disitu-situ aja neng. Masalah istilah itu baru dirumuskan beribu-ribu tahun kemudian ga ada hubungannya dengan moral.

Hahahaaha….iya boleh lah kita urusin ereksi lagi nanti. Saya takut bisa ga ereksi nih kalo ngomongin bocah cilik 9 tahun terus.
Bagaimana kalo kita ngomongin tubuh wanita dewasa aja biar saya ereksi ? hahahaha….becandain kamu juga ah

Miss X wrote: Hmmm…masalah bermain boneka, coba Mas Pop lihat artis –artis di TV yg masih setia mengoleksi boneka hingga dewasa, apakah itu bs menjadi ukuran kedewasaan atau indikasi kecilnya ukuran “V” seorang wanita? NO WAY..

Saya bukan salah seorang pendukung teori evolusi Darwin krn saya berpegang pada Alquran yg mengatakan bahwa manusia diciptakan dlm bentuk yang paling sempurna. Saya tdk sedikitpun mau mengakui teori bohong yg diciptakan orang2 kafir yg mengatakan manusia adalah sbg hasil mutasi kera, biar Mas Pop aj yg meyakini hal itu [ heheh..becanda.com ]

Sekarang gini aja, berhubung kita2 sama ga hidup di zaman Muhammad Aisha, berarti kita harus bermain statistika.
Hadits Sahih dengan jelas mencatat informasi dibawah:
1. Usia Aisha 6 tahun
2. Aisha main boneka dan ayunan.
3. Keterangan dari Penulis Hadits mengapa Aisha diizinkan bermain boneka.

Jika hal ini dipaparkan bagi independent judger, walaupun mungkin tidak semua menyetujui argumen saya, tapi jika kita maen persentase kemungkinan, lebih mungkin diterima mana pendapat saya yg mengatakan bahwa Aisha masih bocah cilik VS pendapat anda yg mengatakan dia sudah dewasa? Memangnya berapa sih umur artist2 yg anda kasih referensi itu?

Kami akan terkesan maksa jika memang Hadits hanya mencatat bahwa Aisha maen boneka and kami mengclaim Aisha bocah cilik.
Namun Hadits juga memberikan kami informasi umur. Dan bahkan dari referensi yg saya berikan diatas, si Penulis Hadits bahkan memberikan pendapatnya mengenai kenapa Aisha diizinkan bermain boneka agar AIsha tidak dipersalahkan atas dosa penyembahan berhala. Pendapat dari Penulis itu jelas=>Aisha masih belon reached the age of puberty, masih di considered anak kecil.

Miss X wrote: Apa yg disebutkan Iman Syafii dlm pengalamannya itu adalah mengenai suatu masyarakat disuatu tempat…bukan satu dua orang yg punya kelainan hormon. Ada satu hadist yg shahih yg secara tidak langsung menguatkan pernyataan itu :

Rasullulah berasbda : “Allah menciptakan adam dengan tinggi enam puluh hasta. Kemudian setelah Adam, makhluk itu semakin berkurang tingginya seperti sekarang ini“ (HR.Bukhari)
1
Jika : 1 hasta = 45,72 CM maka tinggi Nabi Adam kurang lebih 27 Meter 2

Lalu bandingkan dgn tinggi manusia saat ini yang maksimal 2 meter :
27 – 2 M = menyusut hingga 25 M ? ini teori evolusi ala Rasulullah ya, dari hadist terpercaya yg dapat dijadikan hujjah.

Dalam rentang waktu dari :
zaman Nabi Adam ? Zaman Muhammad ? Zaman kita
kita prediksi penyusutannya :
27 M? 27~2 M ( ? ) ? 2 M

Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu. Tidak usalah kita bandingkan dgn manusia dizaman Adam, ukuran tubuh saya ketika kelas 6 SD 15 thn yang lalu dan ukuran tubuh keponakan saya yg kelas SMP saat ini saja, sudah beda jauhnya apalagi zaman kakak2 saya, mereka lebih montok – montok lagi. So, kemungkinan saya lebih besar bahwa bentuk tubuh Aisha saat itu sdh sangat mampu membuat seorang laki – laki ereksi bahkan berkali – kali.

Sebelum anda buru2 mengatakan theory anda lebih masuk akal, ada baiknya kita analisa dulu claim anda.
Sangat menarik membaca cara debat anda yg sering meminta saya memberikan bukti/referensi kepada anda mengenai praktek pedophilia dianggap tidak normal zaman dahulu kenapa ga ada sanksinya/cemoohan dan lain tapi anda sendiri jarang memberikan saya referensi logis untuk claim anda.

PR anda yg sudah saya jawab:
1. Mengapa Muhammad tidak dikecam pedophile jika melanggar norma2 barbar=> Jawaban saya, Perbudakan zaman dahulu juga
adalah praktek biasa dan tidak melanggar norma2 zaman barbar, tapi apakah berarti perbudakan bukan tindakan keji dan immoral?

Sudah berulang2 saya jelaskan anda tidak bisa berharap banyak dari normanya zaman barbar, tapi oke lah jika anda masih tidak
puas, anggap aja ini PR anda buat saya, karena anda tetap insist saya harus memberikan satu referensi aja mengenai norma zaman
barbar yg mengecam tindakan Muhammad.

PR saya buat anda, yg saya dapatkan dari argumen anda, SAYA AKAN APPLIED STANDARD ANDA, tolong gunakan independent reference/sumber pengetahuan yg diakui oleh dunia, bukan buku agama:
1. Berikan saya referensi dari sumber sejarah independent bahwa memang ada penemuan dan pembuktian bahwa wanita
zaman barbar yg berusia 9 tahun sudah mempunyai bentuk fisik tubuh seperti layaknya wanita dewasa normal
2. Berikan saya referensi dari sumber arkeologi/sejarah independent bahwa memang ada penemuan tulang belulang manusia zaman
purba yg berukuran 27 M
3. Berikan saya referensi dari sumber independent HANYA DIBUTUHKAN NIAT/KECERDASAN bagi manusia dewasa normal untuk dapet
EREKSI dengan bocah 9 tahun di jaman barbar.

Yg percaya manusia yg namanya NABI ADAM itu hanya agama2 yg dari line ABRAHAMIC, independent reader bahkan ga percaya ada manusia ya namanya Nabi ADAM. Berhubung saya juga kebetulan Kristen, saya hanya mengimani Adam memang ada (dalam perdebatan logis, saya bahkan ga bisa maksa orang atheist untuk percaya argumen saya karena memang tidak ada bukti, that’s why kata2 yg saya gunakan adalah IMAN), tapi even Christian ga ada yg percaya Adam berukuran 27 M. Hanya Muslim aja yg percaya theory itu

Jika saya hidup di zaman Muhammad, saya juga bisa buat referensi ngasal bahwa kakek buyut saya yg bernama si Cecep bertubuh dengan tinggi 100 m, mampu ngesex dengan 1000 wanita dalam satu hari tanpa ada jeda waktu untuk istirahat, saya jadikan claim saya sebagai buku dan saya ajarkan pada orang2 yg kemakan ajaran saya. Tapi independent reader akan menganalisa apakah benar claim yg saya ajukan dengan kecerdasan berfikir mereka. So what is the point jika anda memberikan saya referensi dari kata2 Muhammad sendiri bahwa Adam berukuran 27 m?

Sekali lagi…ini ajang perdebatan dengan menggunakan argumetasi logis, bukan hanya ajang mamer2in referensi.
Sebanyak apapun referensi yg anda dan saya paparkan, jika itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara logis, itu yg dinamakan ajang mempertunjukkan kebodohan.

Apakah anda bisa terima referensi kitab dari Budhist yg mengatakan bayi Sidharta Gautama yg barusan lahir sudah bisa berjalan dan berbicara dengan bahasa manusia dewasa (bayi sakti)? Jika anda bisa terima, tolong jelaskan ke saya dengan menggunakan bukan hanya referensi tapi juga dengan logika berfikir. Anda sendiri loh yg mengagung2kan statement dari muslimah FFI => yg penting proses berfikir. Ayo tolong beri saya proses berfikir anda jika anda bisa terima referensi dari kitab suci umat Buddha. Standard anda dalam menilai Sidharta seharusnya juga sama dengan standard anda dalam menilai self proclaiming Muhammad akan Nabi adam yg ukurannya 27 m.

Miss X wrote: Sebelum memulai hubungan kali pertama, Rasul berpesan agar jangan terburu-buru. Alangkah baiknya dimulai dengan kelembutan dan kemesraan. Misalnya, dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. Sebagaimana hadis Asma’ binti Yazid binti as-Sakan r.a., ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah SAW. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk disamping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah SAW disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazin berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah SAW!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” (HR. Ahmad di kitab Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah)

Coba diperhatikan dgn seksama, sepertinya Aisha juga tau apa yg bakal terjadi padanya di malam pertama diusianya yg 9 thn. Apa ada sebuah kesan paksaan terhadap seorang anak kecil untuk melayani nafsu seks seorg lelaki tuadari hadist diatas ? Apakah menurut Mas Pop, jika ada bocah 9 thn zaman sekarang mengahadapi malam pertama apakah akan sama seperti Aisha menghadapinya ?

Sejak awal diskusi saya tdk pernah merasa mempermasalahkan apakah 6 apakah 9…wlpn nanti katanya 2, well wateverlah. Saya mengatakan hal itu slm rangka menampik kesesuaian predikat “Sang Pedophilia” pd Muhammad mengenai pernikahannnya dgn Aisha..dgn menuntut kejelasan standarnya. Toh dari tadi saya belum melihat Mas cukup berani mengakui bhwa standar yg Mas dkk pakai itu sebenarnya sangat dipaksakan.
Jika Mas Pop menggunakan baju alam anak muda yg modern…tentu Mas Pop tidak akan terima jika dianggap edan oleh orang tua Mas Pop yg bergaya ala A Rafiq di era 80-an. Begitu juga sebaliknya, tentu mereka gak akan terima dianggap bergaya ketinggalan zaman oleh Mas Pop khan?

Saya setuju dengan Anda, memang tidak ada paksaan terhadap AIsya. Aisyah adalah istri favoritnya Muhammad, MUhmmad mencintai AIsha melebihi istri2 lainnya, saya tidak menentang akan hal itu. Apakah pernah saya bilang Muhammad maksa Aisha ngesex dengannya?

Sekarang gantian anda yg perhatikan baik2 definisi pedophilia di wikipedia (atau sumber lain anda boleh cari):

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


As a medical diagnosis, pedophilia (or paedophilia) is typically defined as a psychiatric disorder in adults or late adolescents (persons age 16 and older) characterized by a primary or exclusive sexual interest in prepubescent children (generally age 13 years or younger, though onset of puberty may vary). The child must be at least five years younger in the case of adolescent pedophiles.[1][2][3][4] The word comes from the Greek: pa?? (paîs), meaning “child,” and f???a (philía), “friendly love” or “friendship,”[5] though this literal meaning has been altered toward sexual attraction in modern times, under the titles “child love” or “child lover,” by pedophiles who use symbols and codes to identify their preferences.[6][7] The International Classification of Diseases (ICD) defines pedophilia as a “disorder of adult personality and behaviour” in which there is a sexual preference for children of prepubertal or early pubertal age.[8] The term has a range of definitions as found in psychiatry, psychology, the vernacular, and law enforcement.

Sampai hari ini saya belum menemui referensi manapun yg menyatakan pedophilia harus ada unsur PAKSAAN

Lagian apa juga hubungannya juga dengan baju era 80 dengan gaya baju masa kini VS orientasi sexual zaman purba dan zaman sekarang? Cara anda menjawab untuk hal ini tidak ada bedanya dengan argumen anda sebelumnya mengenai standard zaman dahulu dengan standard zaman sekarang mengenai pernikahan dengan bocah cilik yg sudah saya jawab dalam argumen2 saya sebelumnya.

Gaya baju manusia bisa berkembang dan bisa berubah2 sepanjang masa. Tapi orientasi sex normal laki2 akan tetap sama dulu sekarang dan sampai selama2nya.

Miss X wrote: Saya beragama Islam sejak saya lahir kedunia ini dan saya sgt tau ttg Islam dan Muhammad…jauuhhh melebihi Mas Pop dkk. Jika Mas Pop hanya bisa menilai Islam dan Muhammad dari sampulnya, maka saya sudah menilai Islam dan Muhammad sampai ke daftar pustakanya. Begitu pula sebaliknya ketika saya mulai menilai agama anda dan para tokohnya. Justru karena kita sama – sama tdk hidup dizamannya, oleh sebab itu saya taupun Mas Pop tak perlu terlalu yakin kl tuduhan – tudahn Mas Pop beserta bumbu – bumbunya itu sdh pasti benar. Oleh sebab itu, gunakanlah hujjah yg benar untuk menguatkan tuduhan itu dgn logika yg masuk akal supaya tuduhan – tuduhan itu terlihat ada bobotnya.

Perasksian itu masalah iman dan itu tdk sama dgn pengadilan dunia. Tdk ada yg salah dgn kalimat syahadat itu kecuali jika berbunyi :

Saya bersaksi melihat Allah dan saya bersaksi melihat Muhammad, dan kami beriman karenanya.

Saya ini muslim bukan atheis atau agnostic pendewa akal dan logika. Jika anda dilahirkan yatim piatu dan tak pernah melihat ayah dan ibu anda sekalipun, bgmana anda bisa yakin kl anda itu punya orang tua yg melahirkan anda? Saya semakin yakin bahwa yg merasuki jiwa kafir itu hanya kebencian dan kebodohan krn sedari tadi, Mas hanya bisa menghina – hina dgn hujjah berupa dugaan – dugaan yg tdk jelas hubungannya. Cobalah tunjukan anda itu bukan sekelas netter yg biasa nyampah saja…wlpn selalu menggunakan bahasa keren tapi tak ada bobotnya..( mohon maaf Mas Pop )

Dear Miss X,
Dikarenakan anda tidak hidup di zaman Muhammad, so dengan cara apa anda mengenalnya? tentu dari referensi Hadits2 serta pustaka2 Muslim yg lain kan? So what dengan Anda yg sudah muslim sejak lahir?

Pengetahuan yg anda dapatkan either orangtua anda/ustad atau siapapun juga dari buku sejarah pustaka Islam. Selama kami para kaffir masih tidak buta huruf, apa yg anda pelajari juga bisa kami pelajari. Bagaimana anda mungkin lebih mengenal Muhammad dibandingkan kami ?

Yg berbeda antara kaffir dan muslim adalah cara kita dalam menganalisa referensi2 sahih muslim serta segudang buku pustaka lainnya.

Tuduhan2 kami menggunakan sumber sahih Muslim sendiri, kenapa anda tidak bisa terima kenyataan itu?
Jika ngomong pengalaman spiritual, mungkin Muslim bisa claim karena kalian somehow merasakan muhammad dalam doa kalian, mimpi kalian, hal2 mukjizat lain, sedangkan kafir tidak. Well itu adalah pengalaman anda yg tidak bisa dibuktikan dengan logika dan tidak valid dalam sebuah debat yg menggunakan logika.

Sekali lagi jika back ke argumentasi logis dan debat dengan akal sehat, tolong berikan bukti yg berbobot jika anda mengenal Muhammad lebih dari kami.

Mengenai tidak ada yg salah dengan kalimat syahdaat, terus terang selama saya belajar bahasa, saya belon pernah menemukan referensi yang mengatakan bahwa KESAKSIAN juga bisa diartikan IMAN. Tolong berikan saya independent reference yg bisa menguatkan argumen anda.

Jika saya lahir tanpa ayah dan ibu saya tentulah tidak sulit bagi saya untuk tau bahwa ada orang tua yg melahirkan saya. Karena seiring dengan saya bertumbuh besar, kecerdasan saya juga bertambah, saya akan melihat teman2 saya yg lahir dan punya orang tua, bahwa untuk lahir dibutuhkan persetubuhan antara laki2 dan perempuan.Akan beda ceritanya jika anda bertanya kepada saya, darimana saya bisa tau siapa orang tua asli saya.

Adalah hak anda jika anda beranggapan saya hanya netter sekelas sampah. Tapi silahkan anda kumpulkan semua email2 dari kita berdua dari awal hingga hari ini, anda print dan berikan kepada independent reader (non Muslim, non Christian, yg tidak bela agama manapun). Anda lakukan pooling penilaian mereka atas jawaban anda dan jawaban saya. Jika memang ternyata argumen anda yg memenangkan pooling, feel free to say anything you want about me. Saya merencanakan untuk melakukan pooling ini untuk introspeksi diri saya sendiri apakah saya memang hanya netter sekelas sampah seperti yg anda katakan. Dengan pooling tersebut, kita bisa menunjukkan siapa sebenernya yg nyampah disini.

Saya sudah mulai terbiasa dikatakan netter sampah dan bodoh dari Muslim setiap kali saya menghina Muhammad (walaupun saya tidak pernah mengatakan logika netter lain bodoh jika mereka menghina Yesus). Saya tidak menampik saya akan emosi jika orang lain menghina saya, tapi jika orang lain menghina dan menjelek2an Yesus (walaupun tentu saya akan sedih), kenapa juga saya harus tuduh orang lain bodoh dimana pada kenyataanya memang saya tidak bisa menjelaskan semuanya secara logis tentang Yesus. Itulah yg saya berasa aneh dari kalian Muslim. Cinta kalian terhadap Muhammad membutakan kalian semua dan kalian rela untuk mengatakan orang lain bodoh, tidak berotak, ngucapin sampah, padahal yg kami kritik itu Muhammad, bukan kalian (dengan bukti2 dari Hadits sahih kalian sendiri DAN dengan argumentasi, bukan cuman sekedar kritik doang). Itulah yg namanya fanatisme blind faith.

Miss X wrote:Jelaskan dulu, mau pakai standar apa?

Standard logika yg tidak perlu harus menjadi Muslim, Buddhist, Christian atau penganut agama manapun untuk bisa mengerti penjelasan anda, yg dibutuhkan hanya akal sehat.

Miss X wrote:Saya setuju bahwa perlu ada seorang independent judger yg bisa menilai dgn lebih objektif ttg permasalahan yg kita sedang diskusikan, tp pertanyaannya siapa ? Dlm sebuah pertandingan piala dunia, juri yg dipilih tdk pernah berasal dari salah satu dari 2 negara yg bertanding. Brrti dlm hal ini yg seharusnya mjd independent judger itu adalah org yg sama sekali tdk beragama. Tp dikarenakan keyakinan ISLAM yg benar itu VS semua agama dan kepercayaan (termasuk atheis dan agnostic) bahkan dari internal Islam sendiri, berarti independent judger yg anda bilang itu sbnrnya tdk pernah ada jika kita memadang suatu permasalahan berdasarkan kepercayaan masing – masing.

Dalam diskusi ini saya sangat berusaha untuk tdk menggunakan link – link berbau Islam , itupun kl anda jeli memperhatikan. Saya juga bnyak menggunakan pendapat – pendapat dari pakar2 sosiologi seperti Talcot Parson dan MJ Lawang. Mereka tdk ada urusan dgn agama dan mereka juga buka orientalis atau kafir pro Islam…tp pendapat – pendapat mereka saya gunakan sbg pijakan saya dlm berargumen. Jd, saya rasa saya sdh menggunakan judger yg paling independent yg tdk bersangkut paut dgn agama.

Kita sedang berargumentasi secara logis, jadi logika yg kita gunakan harus bisa diterima oleh orang agnostik, atheist dan pemeluk agama manapun selama otak mereka masih sehat dan mengerti artinya perdebatan logis. Mao kaffir tersebut pro Islam atau anti Islam, jika memang argumennya masuk akal, akan saya terima. Jika argumennya ga logis, biarpun anti Islam sekalipun tidak akan saya gunakan sebagai referensi.

That’s why ketika anda tanyakan saya standard apa yg hendak digunakan, saya dengan santai jawab standard logika yg ga perlu jadi Muslim, Budhist, Christian atau pemeluk agama manapun.

Saya setuju dengan anda independent judger itu ga pernah akan ada jika kita memandang dari kepercayaan kita masing2. Dan pengertian argumentasi logis adalah kita beradu-argumentasi dengan logika kita, bukan dengan sentimen kepercayaan. Itu sebabnya jika kita ingin beragumentasi secara logis untuk membela agama kita, gunakanlah logika dan research, bukan hanya ajang mamer2in referensi. Ayat2 dalam kitab suci kita (mau dari agama manapun) tidak akan berarti apa2 jika itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara logis dalam argumentasi yg menggunakan akal logika.

Saya sendiri juga mengakui even though saya beriman dengan Yesus, tapi tidak semua pertanyaan tentang diriNya bisa saya jawab dengan argumentasi logis. Pendiri FFI international ALi Sina sendiri pernah mengeluarkan statement Yesus itu hanya mitos, mukjizat Yesus hanya claim kosong orang Kristen, namun ia tidak bermasalah dengan siapapun yg nyembah apapun, batu sekalipun selama kepercayaannya tidak membahayakan hidup orang lain. Saya sebagai Christian ga maksa berdebat dengannya, bahkan saya tidak menganggap hal itu sebagai suatu hinaan selama memang saya tidak bisa membuktikan secara logis, demikian juga umat2 Kristen yg lain.

Inilah yg saya aneh dari para muslim pecinta MUhammad. Mereka ngakunya bukan pendewa akal logika, tapi maksa untuk ngadu debat secara logis dan ngotot harus menang dalam perdebatan menggunakan logika. Kalo udeh nyenggol Muhammad, apapun yg ngaco juga harus jadi benar.

Miss X wrote:Mas Pop benar, My faith is blind in ur opinion…but ur faith is blind too in my opinion… so, do u agree if I tell u that all faith make people blind? Sebenarnya kita tidak buta, hanya saja org yg menganggap kita buta menutup mata untuk menerima apa yg kita yakini. Saya tidak mau menerima alasan kenapa anda mempertuhankan manusia dan andapun tdk mau menerima alasan mengapa muslim mencintai Muhammad dgn segudang kontroversinya. Tp itulah keyakinan… tdk ada yg mengetahui mengapa kita meyakini sesuatu melebihi diri kita sendiri. Seharusnya tdk perlu permasalahkan dgn claim “paling benar” krn yg terpenting adalah kita telah mengikuti apa yg menurut kita paling benar.

I’m totally agreed with you, my faith is also a blind faith, that’s why saya ga pernah maksa beradu argumentasi dengan para agnostic, atheist, dengan siapapun selama perdebatan dengan menggunakan referensi saya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara logis, dan seperti saya singgung sebelumnya, saya bahkan akui tidak semua hal yg bisa saya jelaskan secara logis mengenai iman saya dengan Yesus. Manusia ga bisa hidup hanya dengan mengandalkan logika.

Saya bahkan tidak bermasalah jika Yesus dihina, dikoreksi secara logis. Dan saya akan akui jika memang adu argumentasi dari lawan debat saya (mau apapun latar belakang kepercayaannya) jika common sense argumennya masuk akal. Berbeda banget dengan muslim2 yg ngeclaim Islam yg terhebat, sumber dari semua pengetahuan, namun ketika debat, sering menggunakan argumentasi yg bisa membuat orang yg masih waras tertawa terpingkal2.

Miss X wrote: Diawal saya menanyakan kpd Mas Pop, dizaman Muhammad dan sesudahnya adakah orang yg complain, baik dari sahabat maupun musuh2nya, mengenai keputusan beliau untuk menikahi gadis berusia 9 thn..mesti Mas Pop tau bahwa saya mengajukan pertanyaan ini bkn dalam rangka mengadakan pembenaran thdp apa yg Mas Pop sebut Pedophilia [dgn norma dan nilai yg saya anut saat ini tentunya] tp dikarenakan saya sangat menyadari bhwa kita berdua sama – sama tdk hidup dizaman Rasulullah begitupun Bukhari dan Muslim… jadi saya rasa penting untuk mengumpulkan adanya bukti – bukti empiris yg menyatakan bhwa perbuatan tsb adalah sebuah tindakan asusila sehingga Muhammad tdk pantas disebut sbg teladan, dan saya rasa saya telah mengatakan ini berulang – ulang. Jika Bukhari meriwayatkan usia Aisha yg 9thn saat dinikahi dgn suatu keterangan bhwa beliau itu msh belum dewasa…itu sama sekali tdk membuktikan bahwa Aisha itu belum bisa membuat pria ereksi. Pendapat pribadinya itu tdk bs dijadikan hujjah sehingga masih berpeluang adanya khilafiah dikalangan ulama.


Sahih Bukhari
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

‘A’isha (Allah be pleased with her) reported that Allah’s Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen years old. [Sahih MUslim 8:3311]

Dari 2 sumber sahih yg diakui Muslim diatas saja sudah jelas bahwa Aisha was only a little girl, not even yet reached the age of puberty. Pada saat married dengan Nabi tercinta anda, AIsha masih bawa bonekanya dan tidak dianggap melakukan pelanggaran penyembahan berhala karena dia masih bocah cilik. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan pada anda orientasi sex normal laki2 ga mungkin berbirahi dan ngesex dengan bocah cilik dan hal itu berlaku sepanjang masa, Bukti apalagi yg anda inginkan ?

Jika pendapat pribadi Sahih Muslim yg masuk akal aja tidak bisa anda terima, kenapa juga anda ingin saya menerima norma2 barbar yg tidak mempermasalahkan tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah cilik 9 tahun ?

Miss X wrote:Pengendali sosial ( Social Controlling ) adalah salah satu upaya masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai positif agar tidak dilanggar. Ini merupakan suatu wujud reaksi ketidaknyamanan akibat defisiensi moral yg dilakukan oleh seseorang atau sekelompok org. Dgn kata lain, jika salah satu saja dari alat – alat pengendali sosial itu diberlakukan [ contohnya gosip dan cemoohan] maka itu mengindikasikan adanya pelanggaran nilai dan norma dimasyarakat baik internal maupun universal. Meskipun Mas Pop berdalih tdk mudah mendapatkan referensi mengenai keasusilaan seorang pedophilia dgn alasan bahwa appn yg berhubungan dgn wanita itu tdk mendapatkan perhatian khusus sehingga mslh ini diabaikan karena kebar-baran pola pikir manusia zaman dulu, tetap saja untuk melontarkan suatu tuduhan..kita perlu bukti. Baik, anggap saja Bukhori dan para salafus shalih adalah pengikut “ABS” alias Asal Bapak Senang, tapi musuh-musuhnya tdk akan berbuat demikian bukan? Turunlah ayat Alquran yg menghapuskan budaya masyarakat Arab yg menganggap haram menikahi mantan istri anak angkat. Issue ini dikupas tuntas didalam periwayatan hadist.. bagaimana Abdullah Bin Ubay menggunakan senjata ini untuk menghembuskan fitnah sehinnga banyak kritik2 yg dilontarkan pd Muhammad, detail tanpa ada yg ditutupi. Ini menjadi bukti betapa menikahi Zainab merupakaan suatu cela dimata masyarakat sehingga kasak – kusuk yg beredar dimasyarakat sngt berpotensi mengancam reputasi Muhammad seandainya tdk ada ayat yg turun untuk mengclearkan mslh ini. Lalu kenapa kritik thdp pedophilia ini tdk satupun tercatat dalam sejarah Muhammad? Saya tdk meminta banyak hanya bukti, semua yg menyangkut Rasulullah itu pasti bisa anda dapati dlm periwayatan hadist tanpa perlu mencari referensi dari zaman pra Islam… tdk perlu menerka-nerka atau membuat sebuah asumsi tanpa pinjakan. Jika sampai tdk bisa anda temukan, maka berarti anda belum bisa membuktikan appn dan tuduhan ini hanyalah sebatas sentimen golongan semata.

Anda boleh katakan saya berdalih, tapi mari kita kaji claim Islam akan Nabi anda :

Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow. For a Muslim to suggest otherwise (thereby conceding that Muhammad’s actions are immoral when compared to today’s standards) would constitute apostasy via blasphemy in belief[12] and would make them liable for the death sentence under Islamic laws.

Nabi anda itu dikatakan, the perfect human, whose example is worthy of imitation dan bilang his morality as sublime and perfect example to follow. Klaim sesumbar ga tahan ini menjadi ajang pertanyaan semua orang yg masih waras otaknya. Anda terus menerus meminta kami jangan compare tindakan Muhammad dengan standard zaman ini dikarenakan Muhammad adalah product dari zamannya so dia hanya terikat oleh moral pada zamannya. Masalahnya Quran sendiri bilang dia itu manusia sempurna, moralnya beyond the contstraint of time, sungguh ga tahan banget sombongnya claim ini, so apa yg aneh kami mencoba mengcounter Quran dengan membandingkan dengan standard zaman ini?

Seandainya tidak ada omong besar dari Quran akan kehebatan moral dan kesempurnaan MUhammad serta tindakannya yg katanya berlaku untuk sepanjang zaman, mungkin saya masih akan mempertimbangkan argumen anda yg meminta kami untuk tidak menjudge dirinya dengan standard zaman ini.

Mengenai masalah haram menikahi mantan istri anak angkat, tolong berikan saya referensi yg menunjukkan Muhammad menikahi mantan istri anak angkatnya. Karena setahu saya, kronologisnya adalah Muhammad yg mu-peng/naksir duluan terhadap Zainab dan Zainab laporkan kepada Zaid. Setelah itu ga ada angin dan ga ada ujan tau2 Allah Islam membuat Zainab tidak menarik lagi bagi Zaid, yg pada akhirnya mengakibatkan Zaid menceraikan Zainab.

Tabari VIII:4
Suatu hari Muhammad pergi mencari Zayd. Ada satu penutup kain di atas lubang pintu, tetapi angin mengingkapkan tirai itu sehingga lubang pintu terbuka. Zaynab berada di kamarnya, telanjang, dan kekaguman terhadapnya memasuki hati Nabi. Setelah itu Allah membuatnya tidak menarik bagi Zayd.

Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa IA BERSEDIA MENCERAIKANNYA. Lalu kata Nabi kepadanya:
“Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah.”
Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.Kemudian IA DICERAI.

Miss X wrote: Tdk hanya perbudakan, bahkan zina dan mengubur anak perempuan hidup – hidup di Arab, bunuh diri di Jepang, dan kanibalisme di daerah pedalaman saja bisa diterima jika mmg itu adalah nilai dan norma yg telah disepakati bersama sbg suatu budaya dan jalan hidup. Kita tau bahwa zina dan alhkohol itu tdk bermoral, tp orang – orang barat yg kental dgn hal – hal yg berbau keduniawian (hedonisme)dan menjunjung tinggi kebebasan menganggap freesex bknlah pelanggaran moral tp nilai yg mereka anut itu tdk berlaku bagi orang – orang Timur yg kental dgn hal – hal berbau ketuhanan yg sangat mengecam perzinahan dan alkohol. Lalu keabsolutan definisi moral dlm pandangan anda itu apakah berlaku dlm kasus ini? Nilai itu undifined berarti moralpun tdk punya kriteria pasti dan ternyata andapun sependapat dgn saya.

Jadi apakah salah jika saya bilang mengubur anak perempuan hidup2 di Arab adalah tindakan immoral baik zaman dulu maupun zaman sekarang?

Jika mengikuti standard anda, berarti orang zaman dahulu tidak terikat dengan norma zaman sekarang, maka => adalah sah dan bermoral saja jika tindakan mengubur anak perempuan hidup2 di Arab yg dilakukan oleh orang2 yg hidup sebelum zaman Muhammad. Sungguh menggelikan bukan?

Bahkan kanibalisme pun anda katakan OK selama norma zaman itu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sungguh saya tidak habis pikir kenapa anda begitu kekeh menggunakan norma dalam argumentasi logis kita. Sepertinya Kanibalisme pun terlihat indah di mata anda jika norma jaman dulu tidak mempermasalahkan hal tersebut. All in the name of NORM.

Norma bisa berubah sepanjang zaman, namun standard moral dan orientasi sex normal laki2 akan tetap bisa di-apply DULU, SEKARANG, DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA.

Walaupun tradisi mengubur anak perempuan di Arab bisa diterima jika itu telah disepakati oleh norma/budaya, namun bukan berarti tindakan tersebut adalah hal yg bermoral, itu hanya menunjukkan budaya barbar masa lalu. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan jika praktek pedophilia tidak dikecam in ancient times, bukan berarti hal tersebut adalah hal yg bermoral. Apa sih yg bisa anda harapkan dari norma2 zaman barbar? Hanya segelintir orang2 seperti Rufus dari Roma yg menghargai harkat dan martabat perempuan di era barbar.

Siapa bilang alkohol itu hal yg tidak bermoral ? Minum alkohol adalah salah satu cara untuk menghangatkan tubuh di negara2 bermusim dingin.
Minum alkohol tidak selalu mengakibatkan mabuk as long individu yg meminumnya ngerti yg namanya self control. Tolong jangan bawa2 budaya Timur mengenai alkohol itu haram, hanya Muslim aja yg percaya hal itu. Kami para kaffir dari negara Timur tau dampak dari minum alkohol secara berlebihan dan masuk akal jika hal itu diharamkan, dan even negara2 non Muslim masa kini aja ada pengecekan jam malam untuk setiap driver yg meminum alkohol melampaui batas. Hanya muslim yg totally mengharamkan minum alkohol berapapun dosisnya.

Miss X wrote:Bukankah benar bahwa sepenuhnya agama tdk bisa disalahkan karena mayoritas ?? Semua tergantung ideologi.

Benar. Itu sebabnya yg kami kaji adalah Islam teaching yg di-compared dengan tindakan2 dari Muslim. Ternyata banyak yg selaras.

Miss X wrote:Hmm…pertanyaan yg bagus dan saya balik brtanya pada anda jika meminum alkohol menimbulkan sebuah dosa kefasikan ketika Muhammad diperintahkan untuk mengharamkan muslim untuk meminumnya, apakah hukum tersebut berlaku untuk orang – orang sebelumnya yg tdk tau bahwa alkohol itu haram ? Tentu tidak, sdh saya katakan bhwa nilai dan norma itu dibuat atas kesepakatan bersama sehingga menjadi sebuah jalan hidup. Dizaman ini, kita bisa mengatakan bahwa menikahi gadis berusia 9thn itu amoral dan saya setuju akan hal itu…tp itu hanya berlaku setelah hukum itu diciptakan dan tidak berlaku bagi Muhammad. Jika kita gunakan standar moral kita untuk menilai orang2 zaman dulu…maka tentu mereka adalah mayoritas manusia tak bermoral.

Sekali lagi hanya Muhammad dan pengikutnya yg cinta mati dengan dirinya yg beranggapan itu dosa kefasikan dan totally nge-banned alcohol. Sudah saya jelaskan sebelumnya, dalam takaran yg wajar, alcohol sendiri banyak gunanya, salah satunya adalah menghangatkan tubuh dari cuaca yg extreme dingin. Anda bisa searching sendiri referensinya di google dengan keyword : what is the benefit of drinking alcohol, dan anda akan temukan manfaat lain dari alcohol selama diminum dalam batas yg normal.

Kembali saya ingatkan kepada anda:
Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow.

Benar kata pepatah: padi itu semakin berisi semakin nunduk. Semakin besar claim besar dan omong besar dari Quran akan Muhammad, semakin besar pula responsibilities yg dia harus tanggung. Tong kosong emang nyaring bunyinya.Jika dia memang perfect human, sudah seharusnya semua tindakannya bisa ditiru dan diapplied di segala zaman.

Kalo anda tetep insist mengunakan argumen Muhammad adalah product pada zamannya dan hanya terikat pada norma zamannya, silahkan anda pelajari kembali kata uswa hasana, al-Insan al-Kamil => PERFECT HUMAN WHOSE EXAMPLE IS WORTHY OF IMITATION.

Miss X wrote:Saya akan terus mengulangi bahwa saya tdk pernah mempermaslahkan berapa umur Aisha saat dinikahi dan jangan memaksa saya untuk mempermasalahkannya. Hadist itu shahih berasal dari Bukhari dimana tdk ada satupun ulama yg meragukan kesahihan hadist2 yg beliau riwayatkan, lalu man anayg ingin mengoreksi sesorang yg sgt wara’ dan kompeten dlm periwayatan hadist seperti beliau? Sudah saya katakan sebelumnya…ketika saya menerima hadist2 yg baik mengenai Rasulullah dari Bukhori maka berarti sayapun harus menerima hadist2 ttg beliau yg tdk sreg dihati saya. Tp bukan berati saya ini pengekor, tp saya meyakini satu hal..ketika Allah mengatakan dia adalah sbg suri tauladan, maka saya meyakini bahwa dirinya tiada cacat sehingga saya mencari an explanable reason yg pasti melatarbelakangi setiap tindakannya. Saya bertuhankan Allah bukan Muhammad.

Adakah dari argumen saya yg stated bahwa Anda mempermasalahkan hal tersebut?
Saya tau jelas anda golongan Muslim yg tidak mempermasalahkan umur 9 tahun Aisha diembat oleh Muhammad, itu yg menjadi ajang perdebatan panjang lebar kita hingga saat ini kan ?

Mengenai statement anda yg berkata anda tidak bertuhankan Muhammad, Pernahkah anda menemukan kafir masa kini (dari agama manapun) yg akan membunuh/mengeluarkan fatwa kematian bagi orang yg menghina Nabi besarnya?

Anda boleh katakan itu oknum, tapi jika itu memang oknum, sungguh kami para kaffir geli, kok bisa ya banyak umat Islam yg masih mewarisi culture barbar zaman kuno. Kalian sibuk menyanggah kami yg menghina Muhammad, tapi jarang ada yg sibuk ngurusin sodara2mu sekelas FPI dan temen2nya yg bahkan bisa membunuh sodara Ahmadiyah mereka sendiri hanya dikarenakan mereka tidak mengakui Muhammad sebagai the last prophet. Apapun yg menyangkut Muhammad jika diperdebatkan secara publik, selalu ada ancaman kematian. Sungguh saya berdoa biar semakin banyak muslim yg elite otak dan baik akhlaknya.

Sayangnya doa saya tinggal doa, pada kenyataannya, di negara manapun (terutama negara penganut Syariah), selalu setiap ada tindakan either menghina Muhammad, membakar Quran, sodara2 seimanmu diseluruh dunia (bukan cuman di Indonesia) akan demo gila2an, ga jarang2 keluarin fatwa kematian, serta aksi2 demo yg berdampak korban kematian. Semua ini hanya dikarenakan satu hal : MENGHINA MUHAMMAD. Dan yg mengeluarkan fatwa ini bisa membela diri dengan ayat2 Hadits/Quran, luar biasa bukan ?

Jika kalian mengaku bertuhankan Allah bukan Muhammad, kenapa harus ngamuk dan membabi buta jika ada yg ngejelekin Muhammad? toh dia hanya manusia? Christian masa kini yg nge-claim Yesus sebagai Tuhan aja ga akan bunuh orang jika ada yg bilang Yesus bukan Tuhan. Kalimat syahadat dan doa2 kalian aja harus bawa2 nama Muhammad. Kalian memperlakukan Muhammad hampir setingkat dengan Tuhan.

Miss X wrote:Hmm…jika anda hanya perlu melontarkan tuduhan pedophilia berdasarkan hadist sahih Bukhori tanpa mampu membuktikan referensi2 yg saya minta sbg bukti, kenapa anda memungkiri teori yg saya buat dari hadist shahih yg berasal dari orang yg sama. Sudah jelas khan angka 60 Hasta, sama jelasnya dgn angka 9 dihadistnya… kenapa perlu penjelasan ? Jgn lupa, referensi kita sama – sama sahih dan saya tdk memungkiri angka 9 seperti anda memungkiri angka 60.

Saya sangat mampu untuk membuktikan apa yg saya katakan dgn logis…but its unfair. Selalu anda meminta penjelasan dan bukti pada saya tanpa ada feedback. So, saya sangat menunggu sesuatu yg sangat WAW dari argumen anda yg benar – benar tak bisa saya bantah..tp sampai saat ini saya belum membacanya.

Referensi anda memang sahih, tapi mari kita flashback argumentasi kita di email2 kita sebelumnya:

Pop eye => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Nabi Muhammad memang ngesex dengan bocah 9 thn yg bahkan belon reach the age of puberty.

Analisa=> Memang praktek ngesex dengan bocah kecil terjadi di masa lalu bahkan di negara non Muslim sekalipun, salah satunya pernikahan in ancient times, the minimum age of getting married was 12 (

http://en.wikipedia.org/wiki/Marriage

). Jika zaman dulu ancient Roman menerapkan minimum age of 12, jadi ga gitu aneh jika peradaban sekelas Arab tidak bermasalah dengan ngesex dengan bocah 9 tahun (walaupun sekali lagi tidak lazim tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah 9 tahun even di masa Muhammad sekalipun).

Dengan dasar logika itu maka Pop eye berkesimpulan bahwa referensi sahih Muslim ini memberikan informasi bahwa memang praktek nikahi bocah cilik 9 tahun tidak dipermasalahkan di zaman Muhammad, dan informasi sahih Muslim ini bisa dianggap valid, karena ada common sensenya, validitas angka 9 tahun ini bisa dipercaya dikarenakan tidak terdapat perbedaan yg mencolok antara 9 thn dan 12 thn in ancient time culture

Miss X => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Muhammad berkata : Nabi Adam tingginya 27 m (60 hasta)

Analisa => tidak ada analisa, hanya menggunakan referensi sahih. Tidak pernah ada penemuan purbakala yg pernah menunjukkan manusia dengan tinggi 27 m

Referensi sahih memang mengutip bilangan 9 dan 60 hasta, namun apakah anda bisa berargumentasi dengan menggunakan logika yg bisa diterima oleh orang waras adalah perkara yg lain.

Terus terang saya agak bingung dengan cara berdebat anda. Ketika saya menantang anda untuk membuktikan saya normal/tidak normal dalam kasus pedophilia, setidaknya saya melakukan 3 hal berikut :
1. Saya adalah pelaku active, dan saya sama sekali tidak bisa ereksi ketika pantat anak perempuan temen saya yg berusia 6 thn mengenai penis saya, mao saya NIATIN maupun engga.
2. Saya lakukan research dengan bertanya kepada laki2 normal lainnya, dan mereka juga mengalami hal yg sama.
3. Saya cari sumber referensi dari artikel/buku dari sumber independent/ilmu pengetahuan untuk membuktikan argumen saya, dan ternyata memang ereksi terhadap bocah cilik adalah hal yg tidak normal, itu sebabnya muncul istilah pedophilia.

BANDINGKAN DENGAN YG ANDA LAKUKAN
1. Demi membela Nabi tercinta anda, anda bahkan tidak bermasalah dengan praktek kubur anak perempuan hidup2, kanibalisme selama norma zaman tersebut tidak melarang akan hal tersebut. Dengan dasar tersebut, anda minta saya menunjukkan norma masa Muhammad yg mencemooh atau melarang pedophilia.
2. Demi membela Nabi tercinta anda, anda tunjukkan referensi yg katanya sahih bahwa AIsha walaupun 9 tahun tapi sudah bertubuh seperti wanita dewasa. Anda berikan argumen bocah cilik2 zaman sekarang juga udeh montok2 tubuhnya, tapi sayangnya laki2 normal zaman sekarang ga ada tuh yg tertarik dengan referensi bocah2 cilik yg anda paparkan.
3. Untuk membuktikan claim anda lagi, dengan referensi yg sahih, anda quote kata2 Muhammad yg stated kalo tinggi nabi Adam segede Dinosaurus (27 m)
4. Dan yg lebih luar biasa lagi, tanpa ada pengalaman pribadi, tanpa ada research, tanpa ada referensi independent ilmu pengetahuan, justru beban pembuktian anda berikan kepada saya (saya quote lagi kata2 anda: Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu)

Mao se-WOW apapun argument logis yg saya berikan, jika nalar anda sudah dikikis oleh rasa cinta mati anda terhadap Muhammad, maka tidak ada argument apapun yg akan memuaskan anda.

Miss X wrote:Apa anda sendiri pernah melihat YESUS, atau BAPA, atau Roh Kudus yg membuat anda percaya bahwa anda punya Tuhan ??

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Miss X wrote:Kl tdk ada paksaan berarti bukan pelanggaran seksual. Lah wong mereka sama-sama suka, kenapa Mas Pop yg sibuk ? Polisi aj gak bisa menuntuk pelaku pemerkosaan jk yg diperkosa itu ikhlas. Lalu apa masalahnya?

Syekh Puji menikahi Ulfa, juga sama2 suka, bahkan keluarga Ulfa membela si Puji mati2an, kenapa muslim2 masa kini juga sibuk dan mengatakan itu melanggar hak perlindungan anak ? Apa masalahnya?

Keep in mind bukan hanya kami aja yg teriak2 tindakan pedophilia dari Syekh Puji, sodara/i muslimmu juga banyak banget yg mengutuk tindakan itu.

Syekh Puji jelas lebih consistent dari sisi Islam, berani berkata ia tidak bersalah secara Islam karena Muhammad saja menikahi Aisha pada usia 6 tahun.

Semakin terbukti pemikiran para kafir, kalian hanya bisa objektif jika segala sesuatu tidak berhubungan dengan Muhammad. Jika Muhammad yg jadi taruhannya dalam ajang perdebatan logis, kalian akan ngamuk2 layaknya cacing kepanasan no matter how similar the act of Muhammad with the other offender like Syekh Puji.

Jika anda hanya menggunakan paksaan sebagai parameter benar tidaknya sebuah tindakan, akan banyak penjahat yg bisa bebas. Penipu yg jual barang tipuan (mis: barang buatan China yg dijelek diclaim buatan Japan yg tahan banting) juga merayu dan menipu si konsumen, dan customer yg termakan bualannya dengan rela membeli barang tipuannya, tidak ada unsur paksaan. Sungguh saya penasaran seperti apakah reaksi anda jika suatu hari ada tua bangka 54 tahun yg berhasil ngesex dengan anak perempuan anda yg berumur 9 tahun, dan ternyata anak anda juga enjoy dan seneng dengan tua bangka tersebut.

Miss X wrote: Mas Pop, saya gak bilang loh kl itu maksudnya orientasi seksual lelaki #-o
Kenapa sih Mas Pop kog mikirnya kesitu – situ aja.. [-(

Anda berusaha dengan segala cara, salah satunya dengan memberikan contoh gaya baju yg berbeda dari zaman ke zaman untuk membenarkan tindakan Nabi tercinta anda yg ngesex dengan Aisha si bocah 9 tahun yg tidak bertentangan dengan norma zaman itu.

Terus apanya yg aneh jika saya counter anda dengan orientasi seksual laki2 normal ?

Orientasi sex laki2 normal yg tidak akan berubah sepanjang zaman adalah argumentasi logis saya untuk counter mindset anda yg berfikir bahwa pedophilia hanya dibatasi oleh norma zaman ini.

Miss X wrote:Mas Pop… saya yakin anda tau bahwa salah satu alasan kenap seseorang itu memerlukan agama (sesuatu yg diyakini) krn banyaknya kelemahan dalam diri manusia yg diluar batas kemampuannya. Seorang agnostic atau atheis boleh menganggap logika sbg dewa tapi mreka juga tdk dapat hidup tanpa sebuah keajaiban yg tdk bs mereka jelaskan, apa yg mereka yakini itu hanyalah sebuah kesombongan pdhl mereka bahkan tak mampu menjelaskan kenapa langit ini tak bertiang. Saya yakin bahwa seorang atheis atau agnostic sungguh memelukan DOA ketika mereka berada diambang kematian…Tp Mas Pop, apa yg sdg kita bicarakan ini bkn tentang hal – hal berbau ghaib maka sdh tentu saya menggunakan 100% logika saya. Saya tidak “pamer referensi” seperti kata anda, tp saya mencoba untuk tdk “ngawur” memenuhi diskusi ini dgn pendapat2 subyekif saya dan saya juga telah memenuhi janji saya untuk memandang mslh Pedophilia ini dr sudut yg berbeda yaitu sosiologi dimana anda memandang ini sbg defisiensi moral Muhammad sbg Nabi, bkn sentimen kepercayaan yg saya yakini bahwa kita berdua tdk akan menemukan titik temunya. Saya rasa tdk berlebihan jika saya hanya meminta bukti sebuah referensi yg menguatkan dugaan anda bhwa beliau ini tdk bermoral dgn terlebih dahulu meneliti sikon yg melatarbelakangi suatu sejarah. Tapi anda sepertinya menganggap hal ini adlah sbg sesuatu yg tdk logis. Seperti yg anda bilang, meskipun perbudakan tdk akan pernah bisa dianggap bermoral, tp bagi saya hal itu bisa diterima jika situasi dan kondisi mmg tdk mendukung seseorang untuk tdk memperbudak atau diperbudak orang lain. Saya harap Mas Pop bisa mengangkap dgn jelas maksud saya.

Saya setuju dengan anda, kita tidak bisa hanya hidup berdasarkan logika, ada hal2 yg tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tapi bagaimana mungkin saya sebagai orang yg masih waras akal untuk menerima seorang nabi yg hanya terikat pada norma zamannya?

Kita tidak ngomongin soal culture, civilization, tapi kita ngomongin soal religion yg katanya dari Tuhan yg seharusnya levelnya diatas culture and human civilization. Jika agama (sesuatu yg katanya dari Tuhan) itu hanya terikat norma pada zamannya, kenapa juga Quran dengan sesumbar mengatakan kitabnya adalah the FINAL WORD OF GOD?

Pengikut Ahmadiyah masih jauh lebih consistent dalam hal Muhammad terikat norma pada zamannya. Itu sebabnya mereka mempercayai MUhammad bukanlah nabi terakhir. Jika pengikut Ahmadiyah yg berdebat dengan saya dengan menggunakan argumen “terikat norma zaman” demi membela Muhammad, saya akan sangat open minded mempertimbangkan argumen mereka.

Banyak orang2 yg ngaku2 nabi sebelum zaman Muhammad. Nabi Baal (similar to Dagon dan beberapa dewa yg lain) memperkenalkan Baal bagi para pemujanya. Salah satu tata ibadah mereka adalah dengan melemparkan bayi2 ke api menjadi persembahan bagi dewa BAAL. Dari segi norma, nabi Baal ini sama sekali tidak melanggar norma, tata ibadah mereka mendapatkan banyak sekali pengikut yg akhirnya dianggap sebagai suatu norma yg berlaku di masyarakat masa itu. Bahkan tata ibadah ini dianggap sebagai suatu hal yg mendatangkan kebaikan/berkat/kemakmuran bagi penyembahnya yg saat itu negaranya sedang dalam masa paceklik dan kekeringan. Semua agama akan mengagung2kan nabi mereka dan claim nabi mereka yg terbaik. Saya rasa juga tidak berlebihan jika saya mengatakan NORMA tidak bisa menjadi tolak ukur/parameter untuk menentukan bermoral atau tidak bermoralnya/biadab sebuah tindakan.

Jika pengikut Baal hari ini nge-claim bahwa Nabi mereka yg paling hebat,sempurna akhlak dan layak dicontoh, membawakan kebaikan bagi kehidupan mereka, memberikan argumen bakar bayi hidup2 bukanlah tindakan biadab dengan alasan korban penyembahan adalah budaya/norma yg bisa diterima masyarakat saat itu, bisakah anda terima argumen itu ? Yakinkah anda BIADAB tidaknya sebuah tindakan hanya terikat oleh norma?

Miss X wrote:Sedikit pengetahuan umum saja, apakah anda tau bahwa dalam kajian Tasyri (penetapan hukum Islam), para ulama yg ikut andil dlm Tasyri yg bersifat Insaniah dikaji dgn mendalam latarbelakang dan biografi hidupnya untuk mengetahui kondisi apa yg mempengaruhi mereka dlm menetapkan suatu hukum? Salah satu contoh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dimana hukum-hukum yg beliau tetapkan sangat dipengaruhi oleh situasi sosial politik yg bergolak pada masa pasca runtuhnya dinasti Abbasiyah. Tidak sedikit ulama dimasa kini yg mengkritisi hukum – hukum yg beliau tetapkan..namun hal itu sgt bisa dimaklumi mengingat situasi dan kondisi saat itu dimana banyak sekali tekanan yg mempengaruhi pola pikir beliau. Jadi, kita tdk bisa melemparkan sebuah kritik itu dgn membabi buta tanpa mempelajari latar belakangnya…saya tdk ingin pamer hanya mencoba berdebat sesuai prosedur, jd saya rasa Mas Pop terlalu memaksakan argumen Mas Pop.

Jika hukum itu dibuat oleh manusia dan ada cacatnya, saya bisa menerima penjelasan anda.
But keep in mind, Quran itu katanya dari Tuhan, dan Quran dengan jelas mencatat nabi anda sebagai manusia sempurna dan perfect role model for all human.

Jika anda bisa menerima informasi dari sahih muslim bahwa memang Muhammad 52 thn ngesex dengan bocah cilik 9 tahun, yg hanya terikat norma masa lalu dan yang ternyata di norma masa kini itu adalah praktek yg sangat menjijikan (itu anda akui sendiri, anda juga tidak bisa menerima praktek itu di zaman ini), kenapa juga kaffir dianggap salah jika mempertanyakan kebenaran Quran yg katanya FINAL WORD OF GOD tapi ternyata praktek Nabi sang manusia sempurnanya hanya terikat oleh norma zamannya?

Itu sebabnya banyak sekali sodara/i-mu yg kritis mempertanyakan kebenaran usia 9 thn itu,sadar dalam diskusi logis mereka tidak akan bisa membela muhammad selain jika mereka meruntuhkan ke-absahan informasi dari Sahih Bukhari akan usia Aisha. Saya tidak akan bosen2nya mengingatkan anda, lawan anda bukan cuma dari pihak kami kaffir, tapi juga dari sodara/i-mu sendiri.

It’s ok jika anda beranggapan saya terlalu maksa argumen saya, tapi so far ketika saya print screen dan paste ke word doc setiap diskusi kita dan saya minta penilaian objective dari orang lain akan argument saya yg katanya “maksa”, so far belon ada satupun pembaca yg saya sodorkan diskusi kita berpihak pada anda.

Miss X wrote:Coba lihat…sepertinya anda terus menerus mengulang hal yg sama dan spertinya appn yg sy sanggah itu tdk ada artinya sama sekali. Bung, kl anda tdk tau cara berdiskusi dan cara mengembangkan sebuah diskusi….maka saya rasa, kita cukupkan saja sampai disini.

Bagaimana mungkin saya mengembangkan diskusi lebih lanjut jika argumen anda ga jauh2 seputar NORMA ?
Setiap jawaban saya hanya merupakan respon terhadap pertanyaan anda. Anda meminta referensi, dan referensi yg saya gunakan dari sumber yg SAHIH dari ulama anda sendiri, hal yg sama juga dilakukan oleh kaffir2 FFI yg lain. The main reason why we use SAHIH reference adalah biar tidak ada muslim yg menyanggah kami menggunakan referensi2 yg tidak sah, tidak diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Ketika kami menggunakan referensi sahih, demi mengcounter saya, argumen panjang lebar anda ga jauh2 dari NORMA, NORMA and NORMA.

Saya rasa memang benar kata anda, diskusi kita cukup sampai disini. Saya bahkan tidak perlu memikirkan argumen baru untuk diskusi lebih lanjut dengan anda, jika PERBUDAKAN, KUBUR anak perempuan HIDUP-HIDUP, dan KANIBALISME pun anda anggap sah2 saja selama norma zaman tersebut tidak menentang akan hal itu.

Miss X wrote:Bung, ketika ada orang yg mengklaim dirinya paling tampan diantara anda dan teman – temannya, apakah anda akan tersinggung jika anda tdk merasa sbg orang yg buruk rupa? Setiap orang boleh mengatakan dirinya tampan tp itu tdk akan berperngaruh bagi org2 yg tdk merasa jelek. Jika statement itu sungguh mengusik hati, berarti ada rasa inferior yg membuat anda harus mengexpose kekurangan org tsb agar bisa menutupi rasa benci anda. Jadi mesti anda sadari, rasa iri dan dengki itu membuat seseorang menutupi hatinya dgn kebencian. Saya tdk meminta anda untuk menerima dia sbg uswatun hasanah tp setidaknya cobalah anda atasi perasaan inferior itu.

Mohon maaf Mas Pop, saya tdk melihat diskusi ini sbg sesuatu yg bisa menemukan titik temu krn sepertinya anda tdk cukup bisa mengkap dgn baik maksud2 saya. Terima kasih atas waktunya….semua salah ucap mohon dimaafkan.

Dear Miss X, setiap agama mengagung2kan dan membesar2kan Nabi mereka, termasuk Buddhist. Tapi saya ga pernah totally antipati dengan ajaran Buddhist, begitupun kaffir lain2. As a matter of fact saya sangat kagum dengan Nabi besar mereka.

Yg jadi masalah adalah Nabi anda katanya manusia sempurna, role model seluruh umat manusia, begitu aktif menghina dan menanamkan kebencian terhadap Yahudi dan Kekristenan, terus kok saya dibilang inferior dengan mempertanyakan karakter/tingkah2 lakunya dalam Hadits2 sahih yg diakui Muslim seluruh dunia ?

Jika ada orang yg claim dirinya tampan, beauty lies in the eyes of the beholder.
Tampan punya definisi yg beda2 tergantung mata orang melihatnya. Tapi menurut anda emang ada berapa definisi sih di dunia ini untuk kata PERFECT, SUBLIME MORALITY, ROLE MODEL ?

Jika ada orang yg berani claim dirinya MANUSIA SEMPURNA, ROLE MODEL FOR ALL TIME, orang tersebut menderita narcissist/triumphalist complex jika ia tidak bisa menerima kritikan dan mengatakan orang lain yg mengkritiknya inferior (padahal bukti2 kritikan adalah berdasarkan sumber sahih yg diakui oleh para pengikutnya diseluruh dunia). Anda tentunya tidak suka dikatakan tolol oleh orang yg nilai ujiannya bahkan selalu kalah jauh dengan anda kan? Pantaskah orang tersebut mengatakan anda inferior hanya karena anda mengkritik dirinya jauh lebih tolol dari anda?

Jika anda merasa pantas menyebut kami kaffir inferior karena dengan segala cara kami mencari celah dan kelemahan Muhammad, silahkan anda pertanyakan apa sebutan yg pantas bagi sodara2/i muslim anda diseluruh dunia yg tega mengeluarkan fatwa kematian, yg tanpa malu2 atau perasaan bersalah membunuh orang yg menghina Muhammad. Sungguh hingga hari inipun saya belum menemukan muslim yg berani terang2an menentang fatwa kematian tersebut. Persentase muslim yg berani menolak hukuman mati bagi orang yg menghina muhammad VS orang yg pro hukum mati bagi penghina Muhammad, perbandingannya seperti langit dan bumi.

Silahkan anda baca comment2 dari sodara/i muslimmu di indonesia akan reaksi kematian pengikut Ahmadiyah. Hampir 90% comment mengatakan itu salah Ahmadiyah, kenapa ga bikin ajaran baru aja, jangan ngaku2 bagian dari Islam. Comment diawali dengan kata2 manis seperti : FPI/oknum tidak seharusnya membunuh mereka, dan diakhir comment selalu diakhiri : TAPI ITU JUGA SALAH AHMADIYAH…TAPI ITU KARENA AHMADIYAH SESAT dan segala jurus TAPI yg lain. Dosa pengikut AHMADIYAH yg membuat mereka pantas mati hanya satu : KARENA TIDAK MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL TERAKHIR. Silahkan anda buka hati anda, siapa yg sebenernya menderita inferior complex.

Bukanlah hal yg mudah untuk berdebat dengan Muslim di dunia nyata karena resikonya adalah kematian. Terima kasih untuk kesediaan dan kesabaran anda dalam meresponi saya.
kemana si miss x ya?

Pop eye wrote:

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Beda dunk dengan mulut muslim yang sedari masih bocah dah memang di setting untuk jadi TUKANG NGIBUL yang buruk . Bagi LIDAH mereka bersaksi bahwa muhammad adalah utusan awlloh dah merupakan REFLEKS .

Read More

%d blogger menyukai ini: