Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Category Archives: Seksualitas Nabi

Safiyah, Juwariyah & Rayhanah, POW2 Muhamad

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=12521

( 8 ) Juwairiah Bint. Al-Harith:
Dia adalah seorang Yahudi. Dia adalah tawanan perang yang merupakan rampasan dalam perang melawan Banu Mustaliq. Ayahnya adalah pemimpin Banu Mustaliq. Juwariyah pertama kali adalah tawanan perang yang diambil oleh Thabit Ibn Qais. Dia adalah wanita yang sangat cantik luar biasa. Beberapa mengklaim bahwa Muhammad membelinya dari Thabit Ibn Qais. Muhammad menikahi Juwariah pd tahun 627 A.D. pada saat ia berusia 58 tahun dan Juwariyah 20 tahun. Pernikahan ini terjadi setelah pernikahan Muhammad dengan Zainab Bint Jahsh. Juwariyah hidup bersama Muhammad selama 6 tahun. Dia masih hidup 39 tahun setelah kematian Muhammad.

(9) Safiyah Bint Huyay:
Dia adalah seorang Yahudi. Dan merupakan seorang tawanan perang wanita diambil pada saat pembunuhan masal di Khaybar. Pada peperangan tersebut, dia kehilangan ayah, suami yang baru saja dinikahinya dan beberapa keluarga dekat yang lain. Safiyah pertama kali dimiliki oleh muslim yang bernama Dahia. Namun, ketika Muhammad melihat kecantikannya saat itu juga Muhammad membelinya dari Dahia dan menikahinya. Safiyah sangat terkejut ketika dibawa kepada Muhammad. Saudara sepupu perempuan Safiyah turut dengannya namun Muhammad tak tertarik padanya karena dia tidak cantik. Safiyah tak memiliki pilihan lain kecuali menikahi Muhammad untuk menyelamatkan hidupnya. Saat itu ia berusia 17 tahun dan ‘menikahi’ Kakek Muhammad yang telah berumur 60 tahun. Dia tinggal bersama Muhammad selama 4 tahun. Dia berusia 21 tahun ketika Muhammad, nabi Islam itu meninggal. Dia hidup menjanda selama 39 tahun dalam hidupnya dan meninggal saat berusia 60 tahun.

(13) Rayhana: Dia bukanlah istri nyata bagi Muhammad. Dia adalah seorang wanita rampasan perang. Dia adalah seorang Yahudi yang cantik jelita, dan karena itu Muhammad melamarnya. Namun dia menolak untuk masuk Islam walau akhirnya sbg POW tidak mungkin menolak ketika dilamar Muhammad.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=31

JUWARIYAH
oleh ALI SINA

Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan dan perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan Muhamad, sang pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.

Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum
mempunyai kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-Mustaliq.

BUKHARI, biografer Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis;
Diriwayahkan Ibn Aun:

“Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu.”

Volume 3, Book 46, Number 717:

Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomorr 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhamad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun mereka sama sekali tidak tertarik pada agama bawaan Muhamad itu. Akibatnya, ia tidak pernah memaafkan mereka karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil pemujaan dewa. Muhamad dalam kemarahannya mengatakan bahwa Allah akan mengutuk Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolakNya (Q. 5:60 dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk mencari pengikut.

Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab Medinah yang miskin dan bodoh –yang bekerja di kebun anggur milik kaum Yahudi– dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigran dari Yaman, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun. Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada perbudakan untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Allah. Muhamad telah mendapatkan agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan perang. Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:

Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing.
Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.
Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tembusan uang.
Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. “Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini.

HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya.”

www.trueteaching.com

Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia ”mempunyai budi pekerti agung(Q 68:4)”, dan ”contoh sempurna untuk diikuti (insan ul kamil) (Q 33:21).”

Pertanyaannya adalah, benarkah ini?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?
Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, inikah prilaku Nabi Tuhan? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah ”rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMATUL ALAMIN alias Rahmat bagi seluruh alam semesta ????

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmat Alam Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA ?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.

Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dengan campuran isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, ”anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?” lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata, ”Ini suatu penghinaan!.”

Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, ”Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah”

Ibn-i-S’ad dalam ‘Tabaqat‘, menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.

Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, ”Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwariah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat kesenangan dari istrinya yang lain. Namun Muhamad adalah orang tua licik. Dengan menyindirnya ”berat sebelah dalam timbangan”, ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari nafsu sex Muhamad.
SAFIYAH

Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai bagiannya dalam harta rampasan.

Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya. http://www.prophetmuhammed.org/
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah dicari dalam hadis).

Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu ‘I-Nadir. Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi’, pria yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang menceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana mereka berdua bermalam.

Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang wanita ini denganmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang ingin menyetubuhinya.

Sikap nabi Allah yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahinya untuk satu hari saja dan tidak mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.

Sejarawan muslimpun mencatat bahwa perkawinan terjadi satu hari setelah Muhamad menyetubuhinya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena Allah telah mengeluarkan ayat yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa perkawinan, meskipun mereka telah menikah. dan semua wanita yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki…(Q. 4:24)

Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi mengganggap bahwa budak tidak mempunyai hak se-cuilpun. Bayangkan dirimu sbg seorang wanita yang telah menikah dan bahagia, namun begitu Muhamad dan para pengikutnya menyerang kotamu, kamu akan kehilangan semua hakmu, sementara suamimu dibunuh atau diperbudak dan anda dihadiahkan kpd Mujahidin yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho Allah.

Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.

Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata,”Safiyah, ayahmu selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukumnya.” Dan Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena kesalahan orang lain?”
“Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa lainnya” Q. 53:38)

Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhanlah yang membantai kaum Yahudi dalam PD II.

“Nabi kemudian memberikannya pilihan utk bergabung kembali dgn rakyatnya setelah bebas atau menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dgnnya.

(Tabaqat)
(Kita harus ingat bahwa Muhamad membantai kebanyakan rakyatnya dan sisanya diusir dari tanah air mereka. Jadi, PILIHAN MACAM APA yg diberikan kpd Safiyah ????)

“Ia sangat pandai dan lembut dan mengatakan, “Ya rasulullah, saya sudah menanti Islam dan saya sudah mengharapkan (kedatangan) anda, sebelum datangnya undangan anda ini. Kini dgn kehormatan berada dihadapan anda, saya diberikan pilihan antara kafir dan Islam dan saya bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan rasulNya lebih dicintai saya daripada kebebasan saya sendiri ataupun bergabung dgn rakyat saya sendiri.”

 

(Tabaqat).

 

Apakah pengakuan ini memang jujur ? Apakah ia bebas mengucapkan apa yg ada dlm benaknya ? Ingat bahwa wanita itu DIPERBUDAK oleh lelaki yg MEMBANTAI seluruh keluarganya dan dgn mudah menghabisi jiwanya pula. Jelas ia tidak punya ‘kebebasan.’ Ini jelas menunjukkan bahwa ia tidak bebas. Atau, ia sangat lihai sampai berani berbohong demi menyelamatkan nyawanya.

 

Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhamad iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Jawabnya,”Ia adalah benar nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah : mereka harus menentangnya sekuat tenaga.

(Tabaqat)

Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua Yahudi yang mengenali Muhamad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT) kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA ? LOGISKAH INI ? Bukan hanya itu, DIMANA dalam Taurat disebut tentang Muhamad ? Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak mampu menemukannya?

Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.

(Tabaqat)

Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim ? Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, melainkan dibawa ke hadapan sang nabi karena dia paling muda dan paling cantik diantara tawanan lainnya.

Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran Khaibar dalam hadis.

Dinarasikan oleh ‘Abdul ‘Aziz:

Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan

(Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).

Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata,” Oh Nabi Allah! Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata, “Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata,” Oh nabi Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.” Maka nabi berkata,” Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan nabi berkata,“Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemdian nabi mengambil dan mengawini dia.

Thabit lalu bertanya pada Anas, “apa mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata” dirinya sendiri merupakan mahar yang harus dibayar ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.”

Sahih Bukhari 1.367

Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria pada saat pernikahan. Muhamad tidak membayar mahar kaerna ia harus membayarnya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorang nabi Tuhan.

Kisah macam diatas cukup membuat kita miris kalau terjadi pada jaman sekarang, namun lagi2 Muhamad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan menerima DUA imbalan:

Pertama, dengan menghindari mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja. Kedua, ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya.

Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhamad barangsiapa yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi 2 imbalan.
RAYHANAH

Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhamad menutup jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia memerintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka, termasuk istri dan anak2 mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah wanita tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhamad. Ia menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan untuk diperkosa penawannya, sang nabi besar Allah.

Read More

Diskusi tentang Pedofilia

Miss X wrote:
Melihat tulisan2 anda, saya bisa menilai bahwa anda cukup bisa berpikir jernih dan sopan dlm diskusi, tdk seperti kafir2 yg lain. Berdiskusi via PM ini adalah ide yg sgt bagus krn saat kita “show up”, semua argument masing2 berkemungkinan bercampur dgn ego. Saya salah satu jenis muslim yg kritis tp saya hanya dalam kapasitas INGIN MENGETAHUI krn saya tetap meyakini bhwa Allah Tak Pernah Salah. Saya ingin kita memandang masalah kontroversi pernikahan Aisha ini dari berbagai sudut, tdk terpaku pada Qurdis.

Inti yg dipermasalahkan oleh kafir ffi adalah :

“Pantaskah seorang yg menjadi panutan menggauli seorang anak kecil?”

Bisakah anda menjelaskan apakah “anak kecil” dalam konteks ini mengacu pada umur atau kesuburan?

Salam kenal pop eye

Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.

Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Miss X wrote: Pop Eye wrote:Hi Miss X,

Jika anda menanyakan pendapat saya, maka anak kecil dalam hal ini dilihat dari umur, dimana pada umumnya umur cukup valid untuk menentukan kadar kematangan seorang wanita.
Konsentrasi saya adalah pada tingkat kematangan seorang wanita, bukan hanya dari segi fisik seperti kesuburan, tapi dari segi psikis.

Saya tertarik dgn tulisan Aiyman Bin Khalid sbb :

Aiyman Bin Khalid wrote:NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.
BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:
Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Coba kita persempit mslh psikis yg anda maksudkan disini yaitu ttg kedewasaan dlm berpikir. Jika Saya katakan bahwa kedewasaan itu tidak bisa diukur dgn umur, apakah Anda setuju ?

Popeye wrote
Saya berusaha untuk kritis and open minded, tapi seberusaha keras seperti apapun saya , i just couldn’t reach my common sense to accept somehow 53 year old man consummated 9 year old kid.

Sayapun sejujurnya tidak bisa menerima itu. Tp mengingat beliau adalah utusan Tuhan yg saya imani dan mengingat bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan sesuatu apalagi yang berhubungan dgn Rasulullah sbg suri tauladan bagi hamba-hambaNya… Saya rasa cukup menjadi motivasi besar dlm diri Saya untuk mencari jawaban yg sebenar2nya ttg polemik ini.Pasti ada suatu alasan yg bisa diterima.

Popeye wrote:
Satu2nya cara untuk membela Muhammad adalah dengan berusaha counter claim2 dari Hadits bahwa Muhammad tidaklah consummated Aisha pada umur 9 tahun, namun pada usia 18 – 20 thn seperti yg dilakukan muslim Minaret di artikelnya seperti yg sudah drujuk oleh bro Poligami.

Saya tdk akan mengcounter hadist2 itu krn Saya yakin merekapun berpijak pada suatu landasan yg kokoh dlm menentukan segala hal. Tp manusia tetaplah manusia dan selalu berpeluang salah kecuali jk mslh2 tsb dikembalikan kpd Alquran.

Saya akan buat lebih simple aja. Selain puber, wanita baru siap menikahi jika (terlepas umur berapa aja yg penting udeh puber):
- Sudah mengerti hubungan sex, sebab akibat dari berhubungan sex
- Jika hamil, sudah dapat mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.
- Common knowledges lain yg tak perlu saya kupas disini.

Pada masa kini, setiap negara punya standard umur tertentu bagi wanita untuk menikah. Memang harus diakui, bisa saja pada umur tersebut, wanita tersebut memang belum matang secara psikis. Tapi adalah lazim jika orang2 mempunyai ekspektasi misalnya gadis berumur 20 tahun sudah seharusnya matang secara fisik dan psikis. Jika belum dewasa pada umur tersebut, something must be really really wrong with either the education or with the mentality. That’s why dengan basic common sense ini, setiap negara mencantumkan standard umur tertentu sebagai syarat untuk menikah.

Saya mengakui bahwa umur tidaklah selalu valid untuk menentukan tingkatan kematangan psikis seorang wanita, tapi kira2 standard kedewasaan seperti apa yg anda harapkan dari bocah berusia 9 tahun?

Perempuan normal dari negara manapun pada abad manapun pada usia 9 tahun hanyalah seorang bocah cilik. Sungguh argumen yg maksa jika kita hendak membenarkan diri beranggapan Aisha sudah dewasa pada saat itu. Hadits dengan jelas mengatakan Aisyah masih maen boneka. Wanita dewasa aja masih harus berjuang di malam pertama, dan coba anda bayangkan ukuran vagina bocah 9 tahun VS penis dari pria umur 50-an. That’s why saya mengerti kenapa muslim Minaret dengan akal dan hati nuraninya sulit menerima kenyataan itu dan mencoba untuk mencari pembenaran lain dari Hadits tak jelas yg menyatakan umur Aisha 18-20 tahun ketika menikahi Nabi anda.

Bayangkan jika gadis 9 tahun yg masih maen boneka ini ternyata hamil, hal2 yg perlu diconsider :
- Apakah ia sanggup dengan telaten untuk memelihara bayinya di masa awal2 3 tahun pertama kelahiran anaknya.
Ga usah jauh2, semua temen2 saya yg perempuan (yg notabene berumur 20 tahun lebih tua dari Aisha) aja stress harus begadang terus jagain
anaknya, beberapa bahkan mengaku kalo bukan itu anak gw, rasanya gw pengen banting…saking stressnya.
- Sumbangan knowledge dan kasih sayang seperti apa yg bisa diberikan ibu umur 9 tahun kepada bayinya?
Masa toddler (0 – 5 tahun) sangat penting bagi anak untuk dilatih kreativitas dan kecerdasan. Bukan hanya karena anda mampu
memberi makan anakmu, maka tanggung jawabmu selesai begitu aja. Muhammad kerjaannya perang terus, saya percaya jika
Aisha punya bayi, maka semua IQ dan EQ dari si anak sangat bergantung penuh dengan si ibu.

Sebagai contoh, saya pernah membaca artikel kejadian di negara Barat, dimana seorang bocah cilik kurang lebih 9 tahun juga mempunyai bayi. Keluarganya mencoba untuk mendisiplin dirinya dengan mengharuskan dirinya untuk mengasuh sendiri bayi itu, dan bayangkan..ada satu kejadian dimana bocah ini ketinggalan bayinya (di taman kalo ga salah) karena dirinya asyik bermain.

Saya mengakui Ayman bin Khalid terlihat sangat menguasai Quran dan Hadits, bahasa Englishnya juga jago, tapi tidak berarti kita bisa menyetujui semua argumennya.

Argumennya sah dalam meng-counter Minaret yg menolak kenyataan bahwa Muhammad meniduri gadis 9 tahun (karena ia menggunakan Hadits2 sahih dan logikanya cukup ok dalam berdebat in this case), tapi sekali lagi bukan berarti praktek menggagahi bocak cilik 9 tahun adalah hal yg benar.

Hitler dengan kegilaannya nge-claim ras German adalah ras terhebat, dan Yahudi harus dimusnahkan. Hitler mungkin gila, tapi bukan berarti dia orang bodoh. Kemampuannya ber-orasi dan mempengaruhi rakyat Jerman membuat mayoritas rakyat Jerman bersepakat untuk melenyapkan Yahudi. Hitler juga pemimpin militer.

Yg membedakan kita dengan psychopath (orang sakit jiwa/buta hati nurani) adalah dalam berdebat kita tidak hanya menggunakan otak, tapi juga hati nurani kita.

Tidak ada satupun kaffir yg menyangkal bahwa practice bersetubuh dengan pengantin cilik sudah dikenal bahkan di luar Saudi Arabia sekalipun. Zaman dahulu tidak ada yg namanya sex education, sekali cowo birahi, ya kalo bisa dilampiaskan dengan menikahi bocah cilik sekalipun akan dijabanin. But keep in mind, mengingat Nabi anda adalah utusan Tuhan, yg katanya pedoman seluruh umat manusia, seharusnya justru membawa sebuah perubahan besar bagi praktek barbar masa lampau.

Sebagai contoh : Sidharta Gautama sang pembawa ajaran Budha, mengajarkan pengendalian diri, dia bertapa dan menghindari nafsu2 duniawi bahkan dengan meninggalkan keluarganya (contoh yg extreme, tapi beliau adalah seorang pangeran, wajar jika anak istrinya akan dinafkahi di kerajaannya), seorang pangeran yg kaya raya merendahkan diri untuk jadi rakyat jelata, mengosongkan diri dan mengendalikan nafsu, bukannya ikut2an praktek barbar pada zamannya.

Yesus, pembawa Injil, membuat gebrakan dengan mengajarkan murid2Nya untuk berdoa bahkan mengasihi musuh2nya (apa anehnya kalo kita cuman berdoa buat orang yg baik dengan kita), praktek yg tidak dilakukan pada zaman itu karena orang2 pasti akan mengutuk musuhnya. Beliau bukan hanya mengajarkan hal itu, tapi bahkan mempraktekkan saat dikayu salib, mengampuni musuh2Nya.

Yg jadi masalahnya, kenapa Nabi Anda justru ga membawa satu perubahan besar pada masa itu? ingat Sidharta dan Yesus sudah ada jauh2 hari sebelum Nabi anda, tapi i’m really sorry, berhubung anda Muslimah yg kritis, please tolong koreksi saya, apa perubahan besar yg sudah dibawakan oleh Nabi anda yg tidak ada dalam diri Sidharta dan Yesus? Jika mao dibahas, ini ga akan kelar2…tapi ok…saya akan persempit dengan masalah SEX saja. Jika benar2 dibaca hadits2 sahih agama anda, honestly speaking banyak sekali cerita tentang2 petualangan sex Nabi anda (membunuh suami Safiyah dan tanpa memberikan waktu berkabung untuknya langsung menikahi dan bersetubuh dengannya, ngambil istri anak angkatnya dengan dalih Aulloh yg bilang untuk ngambil, nikahi Aisyah juga dengan dalih yg sama, serta petualangan2 sex yg lain). Sangat berbeda dengan Sidharta dan Yesus yg justru belajar mengosongkan diri dan melepaskan hal2 duniawi. Anda tidak akan pernah menemukan referensi sahih Alkitab yg menceritakan 1 saja petualangan cinta Yesus, apalagi sampe ke urusan ranjang.

Saya mengandalkan pikiran kritis anda serta hati nurani anda. Tidak apa2 jika anda marah kepada saya.

Dan hal lain yg sangat mencengangkan kami para kaffir, terlepas dari masalah Nabi anda banyak sekali istrinya, yg sangat menarik adalah kasus Aisyah ini,adalah dimana seorang pria berumur 54-an bisa consummate (Complete a marriage by having sexual intercourse) seorang bocah 9 tahun. Itu jelas2 tertulis di Hadits anda, dan inilah yg dibela oleh Ayman bin Khalid dalam counter-nya terhadap muslim Minaret yg tidak bisa menerima kenyataan itu.

Jika Muhammad seorang laki2 normal (okelah anggap saja saya ikutin aja alur logika muslim pada umumnya yg bilang menikahi Aisyah karena masalah sosial, untuk mempererat hubungan dengan Abu Bakar ayahnya Aisha, atau faktor2 politis yg lain), sekali lagi…jika ia normal…maka ia mungkin saja menikahi Aisha pada umur 6 tahun, tapi akan menunggu Aisha hingga matang secara psikis baru bersetubuh dengannya.

Contohnya : anak perempuan sahabat saya berumur kurang lebih 6 tahun. Saya sayang dia coz anaknya pinter ngambil hati orang dan cerdas, jadi saya kalo kasih dia hadiah emang cukup berani dari segi harga. Dia nampaknya tau saya sayang dengannya, that’w why dia nempel banget, ga ada perasaan takut2nya dengan saya, tidak ada gap karena saya laki2, berani melok saya kapan aja (sampe kadang2 orang tuanya yg ga enak sendiri ama gw :lol: ), bahkan bisa tiba minta dipangku, atau langsung maen duduk aja di pangkuan saya. Tapi sebagai laki2 umur 30-an yg normal, sedikitpun saya tidak ereksi ketika pantatnya itu bahkan mengenai…maaf…celana bagian depan saya, paling2 yg saya lakukan adalah saya pindahkan pantatnya ke paha saya. Inilah yg perlu kita renungkan, kok bisa Nabi anda yg berumur 50-an (jika ia normal), ngesex dengan bocah 9 tahun even jika bocah tersebut sudah puber sekalipun?

Baik zaman dahulu maupun zaman sekarang, tidak ada laki2 normal umur 54-an bisa berbirahi dengan seorang bocah cilik yg berbeda umur 40-an tahun lebih tua darinya. Jika ini bukan pedophilia complex, what else do u call it?

Perlu diingat bahwa referensi ayat AYman bin Khalid yg menyatakan di kota Yamen ada gadis yg menjadi nenek pada usia 18 tahun (melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan umur 9 tahun juga), tidak sedikitpun tercatat bahwa suami dari bocah cilik tersebut berbeda 40-an tahun lebih muda dari umur suaminya.

Seperti referensi Hadits dari Ayman bin Khalid, bocah 15 tahun juga sudah dianggap dewasa dan boleh berperang, bahkan zaman sekarang pun bocah 15 tahun sudah wet dream, dan jika tidak mendapat sex education and parental guidance, bisa menghamili bocah 9 tahun. So saya tidak percaya bawa laki2 normal umur 54-an zaman Muhammad sekalipun bisa berbirahi dengan 9 year old kids. Yg ada praktek pada zaman itu adalah banyak sekali pernikahan pengantin2 bocah laki2 dan perempuan cilik yg pada akhirnya menghasilkan banyak parent2 bocah2 cilik.

Sekali lagi….satu2nya cara menyelamatkan muka Muhammad adalah dengan membuktikan bahwa Aisya tidak berhubungan sex dengannya pada umur 9 tahun. Itupun tidak menjawab permasalah mengenai pertanyaan saya diatas : Apa perubahan besar dari segi rohani dan akhlak yg dibawakan Muhammad yg tidak ada pada masa Sidharta dan Yesus. Sebagai orang yg nge-claim kalo dirinya adalah penyempurna agama2 sebelumnya, saya rasa sangat fair jika para pemeluk agama2 lain (Buddha, Kristen dll) yg katanya disempurnakan ajarannya oleh ajaran Nabi anda, mengharapkan standard moral Muhammad harus jauh lebih baik dari Sidharta dan Yesus..

Intermezzo : Yg jauh lebih luar biasa, Nabi anda diclaim mempunya standard moral yg luar biasa dan manusia paling sempurna yg pernah hidup di bumi, tapi pada saat yg bersamaan ketika saya berdebat dengan muslim FFI yg nicknya Crescent Star, mengakui bahwa Nabi Muhammad mengaku salah dalam case Hafsa kepergok Muhmmad ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa. Terlihat dari Muhammad panik dan minta Hafsa tidak menceritakan case itu kepada siapa2. Bagaimana mungkin manusia model seperti ini, bahkan bocah 9 tahun aja diembat…sempurna akhlaknya?

MIss X wrote: Saya juga sependapat dgn beliau krn umur itu tdk bisa dijadikan patokan untuk mengukur kematangan wanita baik dari segi fisik maupun psikis. Saat saya seusia Aisha ketika “katanya” digauli Rasulullah, Saya sdh mengalami menstruasi entah yg keberapa kali. Mmg saat itu secara fisik saya sudah baligh, tp untuk masalah psikis saya akui mmg Saya msh childish.

Terimakasih untuk kejujuran anda yg mengatakan anda masih childish pada umur tersebut.
Jika anda lihat argumen dari Ayman bin Khalid, terlihat jelas dia tergolong Muslim yg mengkategorikan kedewasaan dengan pubertas.
Dia sama sekali tidak menjelaskan apakah gadis berusia 9 tahun sudah mampu mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Mengapa saya sangat concern mengenai masalah ini. Karena di negara2 Saudi Arabia dan antek2nya, banyak bocah cilik yg dipaksa untuk menikah. Sungguh saya tidak bisa membayangkan jika peristiwa biadab seperti ini terjadi pada anak perempuan saya for the sake of sunnah Nabi. Anda sendiri pasti tau kasus Syekh Puji yg sekarang bahkan bebas dari penjara (saya tidak yakin akan sama ceritanya jika pelaku pedofilia tersebut adalah non Muslim). Muslim/ah berpikiran kritis seperti anda yg hendak saya jangkau.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop eye, mohon maaf sy baru bisa mereply skrg.

Saya sdh membaca tulisan Mas Pop dan mohon maaf saya tdk bs menquote satu2 krn terlalu panjang. Tp sy sdh menangkap inti dari semuanya krn argumen Mas Pop sdh tidak asing bg saya, semoga tanggapan sy bs mencakup semua pertanyaan dan pernyataan Mas.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai pernikahan Rasulullah dan Aisha, sy ingin menjelaskan sedikit mengenai serba serbi hadist/Sunnah. Saya ingin kita menetapkan satu persepsi yang sama shngga kita berdua tdk terjebak pd satu dialog yg hanya bertujuan saling menyerang dan bertahan tnpa saling berbagi pengetahuan dan membuka fikiran masing2.

Nama Ayman Bin Khalid itu terdengar asing bagi saya. Sy mngenal beliau dari forum ini namun dr semua tulisannya saya menilai beliau merupakan salah seorang alim yg kritis dan tdk membeo dgn hadist2 yg sdh dipilah dan dibukukan oleh ulama2 terdahulu. Perlu diketahui bahwa meskipun Bukhori dan Muslim telah disepakati oleh para ulama sbg periwayat hadist yg menggunakan methode paling baik dlm memilah dan memilih hadist sehingga semua hadis yg berasal , disetujui, atau mendapatkan syarat dari kedua atau slh satu dari keduanya bs mendapatkan predikat shahih 1, tp saya blm pernah mendengar mereka mengatakan bhwa hadist2 yg mreka riwayatkan itu 100% benar ( kl Mas Pop pernah membacanya, tlg beri sy referensi atau linknya) . Dlm hal ini saya tdk bermaksud ut meragukan kapasitas keduanya -krn sy mmg blm pantas & sy berlindung kpd Allah dari kata2 yg tdk pantas ttg keduanya- hnya krn ada beberapa hadist ttg Rasulullah yg tdk sreg dihati saya, namun perlulah semua org muslim ttp mengkaji dan terus menggali keilmuan ttg hadist ini tanpa menjadi muslim yg pasif ( tentu anda ingin muslim cm mjd pengekor saja khan? ). Ada bnyak kaidah yg mesti diperhatikan dlm memaknai sebuah hadist salah satunya adalah menelesuri budaya, hukum , sospol, norma dan nilai yg berlaku disuatu tempat yg mempengaruhi suatu hadist 2. Oleh sebab itu tdk bisa Mas Pop jabarkan sbuah hadist hanya berdasarkan pd bunyi hadist secara tekstual saja dan mgkn ini salah satu faktor yg membuat hadist2 shahih dari mereka tdk bs ditangkap secara meyeluruh dari orang2 yg membacanya shgga bnyak skali perselisihan didlm memaknainya. Jadi, yg saya harapkan dari Mas Pop adalah Mas Pop tdk berfikir jk penyangkalan muslim thdp hadist2 tertentu sbg upaya pembenaran thdp tindakan Rasulullah tp sy ingin Mas Pop menyikapi tindakan muslim itu sbg upaya menggali dan menyampaikan makna suatu hadist secara utuh, baik tekstual maupun kontekstual, dgn mengadakan beberapa penelitian dan studi kasus.

Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Disetiap masa, diharapkan atau tidak, selalu akan terjadi sebuah pergeseran nilai yg bersifat situasional seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .
Lalu kenapa banyak gadis cilik di Saudi sana yg menjadi korban pernikahan dini sehingga pemerintah merasa perlu mengeluarkan undang2 perlindungan anak ?
Seperti yg Mas Pop tanyakan :
Muslim2 kebanyakan dengan bangga berkata Alquran berlaku sepanjang masa, teladan Nabi berlaku sepanjang masa, nah sekarang coba jujur dengan diri anda sendiri, apakah case seperti Aisyah ini berlaku sepanjang masa?

Islam bukanlah apa yg dilakukan Muhammad tp Islam adalah apa yg dicontohkan Beliau. Apa yg Beliau lakukan belum tentu harus dicontoh tp tapi apa yg beliau contohkan sudah pasti harus dilakukan. Jd mesti harus Mas Pop bedakan mana yg dilakukan dan mana yg dicontohkan, jgn dipukul rata.

Seperti yg saya sebutkan sebelumnya, sosial, kondisi politik, budaya dan semacamnya sangat mempengaruhi keluarnya suatu hadist. Mesti diingat bahwa Rasulullah tdk pernah memerintahkan sahabat untuk menulis appn darinya tp karena sesuatu dan lain hal, maka pengkodifikasian hadist dipandang perlu pada masa kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz4 . Ini memberi suatu indikasi bahwa sunnah beliau yg dibukukan dlm bentuk hadist tdk semuanya berisi hal – hal yg harus diikuti kecuali apa – apa yg telah beliau ajarkan kpd para sahabatnya. Seperti hadist ttg adab duduk ketika makan ala Rasulullah yg diceritakan oelh salah seorang sahabat, bisakah Mas Pop bedakan apakah itu adalah sesuatu yg beliau lakukan ( kebiasaan ) atau sesuatu yg Beliau contohkan? Sama seperti pernikahannya dgn Aisha semua hadist mengenai itu adalah hadist2 yg memiliki sanad mauquf bukan marfu’.

Semoga ini bisa mewakili setiap argumen Mas Pop. Ditunggu tanggapannya.

Dear Miss X,

Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.

Miss X wrote:Miss X wrote:Mengenai pernikahan kontroversial antara Rasulullah dan Aisha, saya berpendapat kl pernikahan ini dapat terjadi karena mmg hal ini tidak bertentangan dgn norma sosial dan budaya serta hukum yg berlaku dimasa dan masyarakat itu krn saya belum pernah membaca satupun hadist mauquf (hadist sanadnya berujung pd para sahabat) yg menentang perbuatan ini. Didalam sirahpun saya belum pernah membaca ada musuh2 beliau, baik dari golongan kafir maupun munafik, yg mengangkat hal ini untuk merusak citra Beliau. Jika hal ini sdh dikenal sbg salah satu kelainan jiwa ( pedophilia ) yg sgt bertentangan dgn nilai dan norma seperti saat ini, logikanya hal tsb sdh cukup mumpuni bagi para musuh kaum muslimin untuk menghancurkan reputasi beliau sbg seorang Nabi di depan para pengikutnya sebagaimana issue yg diangkat oleh kaum munafik seputar pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab. Contoh yg paling dekat adalah AA Gym, meskipun apa yg beliau lakukan itu halal dan syah menurut hukum.. tp cukuplah masyarakat menghukumi beliau krn tindakan yg tdk sesuai adat dan norma yg dipandang baik oleh orang2 di Indonesia . Jadi saya menarik sebuah kesimpulan bhwa menikahi gadis berusia 9 thn bukanlah sebuah tindakan amoral atau bejat seperti yg Mas Pop dkk selalu lontarkan jika yg digunakan adalah standar yg sesuai yg berlaku dimasa dan masyarakat itu. Hal Ini berlaku untuk semua “petualangan cinta” Beliau kecuali jika Mas Pop bisa menghadirkan satu saja komentar miring dari orang2 yg hidup dizamannya baik dari sahabat maupun musuh2 yg memeranginya.

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?

Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

Miss X wrote:Lalu apakah seorang wanita yg sdh pubertas secara otomatis bisa disebut dewasa, tentulah tidak. Kedewasaan itu tdk diukur dari faktor usia ataupun kesuburan krn seseorang itu bisa mejadi dewasa bahkan sebelum memasuki usia pubernya. Didikan orang tua, kerasnya hidup, dan budaya sosial masyarakat menjadi faktor utama sbg penentu kedewasaan seseorang. Hal ini terbukti dan sejalan dgn referensi dari Akhi Aiman Bin Khalid yg bersumber dari pengalaman Iman Syafii serta beberapa kontradiksi yg dihadirkan seputar usia Aisha ketika dinikahi Muhammad 3 dan jika hipotesa mereka terbukti benar maka tentu asumsi Mas Pop ttg “contoh buruk” menikahi anak dibawah umur yg belum mengerti arti sebuah tanggung jawab sbg seorang istri dan ibu sdh terbantahkan. Usia yg kecil dimasa itu tdk secara otomatis berarti mereka not qualify enough untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Ok, argumen anda cukup OK untuk hal ini. Saya mengakui mungkin saya terlalu memaksakan kondisi kedewasaan zaman sekarang di-apply ke zaman barbaric in ancient times. Mungkin adalah hal yg lazim jaman dahulu jika bocah 9 tahun sudah menikah dan keadaan memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya. Saya akan berusaha fair dengan Anda jika jawaban anda memang ada common sense-nya. Tanggung jawab seorang ibu di jaman barbar tentulah berbeda dengan tanggung jawab seorang ibu di zaman modern sekarang ini, ok fair enough.

Miss X wrote:Kehidupan manusia brkembang semakin bebasnya sehingga peran orang tua sbg pendidik dan nilai dan norma masyarakat yg dulunya bersifat mengikat sdh tergantikan dan lama kelamaan terkikis habis. Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan. Hal ini sdh menjadi adat istiadat orang tua meskipun blm terexpose secara formal melalui media. Saya juga merasa aneh kenapa Mas Pop begitu yakin bhwa bocah berumur 9 tahun tdk memiliki qualifikasi yg cukup untuk menjalankan biduk rumah tangga padahal banyak contoh kasus – termasuk orang tua saya – yg sukses mendidik anak dan menjadi rumah tangga yg langgeng meskipun menikah diusia sangat muda, dan mereka hanyalah salah satu diantara banyak pasangan muda yg menikah diusia dini. Masalah ukuran “V” vs “P” bknkah itu seharusnya bukanlah urusan kita tp merupakan “nego” yg mendalam antara keduanya? Sy blm pernah membaca satu hadist atau sirahpun yg menceritakan bhwa Aisha pernah mengalami pendarahan krn “diserang” oleh sesuatu yg besar .

Ok anggaplah emang banyak kasus parental cilik berhasil mendidik anak dan menjadi langgeng di usia yg sangat muda in ancient times. Saya sudah berikan pada komentar sebelumnya dan saya mengerti maksud anda. Jika anda tidak bisa terima argumen saya tentang tanggung jawab seorang ibu, saya bisa mengerti dan menerima pendapat anda, karena situasi zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Jaman globalisasi seperti sekarang ini, jika kita maen statistic, saya berani yakin less than 1% ibu usia 9 thn yg bisa mendidik anaknya dengan baik seorang diri, tapi jika dibandingkan zaman barbar dimana ketrampilan yg dibutuhkan untuk survive/earn living tidaklah sesulit jaman sekarang, ok lah saya bisa terima argumen anda.

Tapi terus terang saya ga bisa mengerti jalan pikiran anda ketika anda berkomentar=> Saya tidak tau keadaan apa yg membuat orang2 dizaman ini berfikir bhwa sex education dan common knowladge yg dibutuhkan -padahal hewan saja tdk membutuhkannya- dlm menjalankan fungsi sbg ibu sehingga perlu disosialisasikan.

Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh

Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.

Miss X wrote:Dear Miss X,
Sebelumnya saya ingin express kekaguman saya terhadap cara berdebat Anda.
Anda muslimah paling sopan dan paling well educated di FFI yg pernah saya ajak debat sebelumnya.
Semoga banyak muslimah lain yg bisa meniru teladan Anda.
==========================================================================
Terima kasih Mas Pop atas pujiannya meskipun saya tidak merasa sedikitpun itu cocok buat saya. Saya merasa sangat tersanjung , orang sepintar dan open mainded sperti Mas Pop sudi berdiskusi dgn saya.
============================================================================

Respon saya=>Seperti yg pernah saya lontarkan sebelumnya, praktek pernikahan bocah cilik adalah praktek yg sudah lama dikenal in ancient times (walaupun sekali lagi saya tegaskan anda tidak akan mudah mencari referensi laki2 usia 50-an ngesex dengan bocah 9 tahun even in ancient times namun masih dikategorikan praktek lazim dan normal), dan dikarenakan civilization umat manusia yg saat itu masih belum semaju zaman sekarang cara berfikirnya, tentulah orang2 ga terlalu mempermasalahkan hal itu. That’s why jika Anda ingin lebih menggali sejarah, ada yg dinamakan Dark Age, ada istilah orang2 barbar2. Orang2 barbar tidaklah selalu mempunyai makna orang tersebut orang yg vicious, cruel, tapi kata2 barbar sendiri bisa diapply pada orang2 yg cara berfikirnya masih primitif, hidupnya hanya berdasarkan survival instinct.

Dan ancient Culture juga less appreciate woman, so walaupun Muhammad yg kala itu sudah berumur 50-an mengawini dan ngesex dengan bocah 9 tahun, sekali lagi, walaupun itu tidak lazim dilakukan, zaman itu people less care about the woman. Jadi saya akuin akan sangat sulit mencari satu komentar miring dari orang2 yg hidup sejaman dengannya. Apalagi di Islam sendiri kalian mengenal zaman Jahiliyah yg selaras dengan penjelasan saya akan Dark Age. Menghargai wanita adalah hal terakhir yg dipikirkan oleh laki2 di jaman tersebut. According to Hadits, wanita itu hanya “ladang untuk bercocok tanam”, selaras dengan zaman barbar yg memang hanya memperlakukan wanita sebagai asset, sebagai penghasil anak, dan saya akuin bahkan budaya diluar Timur Tengah juga demikian. So saya ga akan berasa terlalu aneh jika hal tersebut jarang diungkit2 baik oleh sahabat maupun musuh2nya Muhammad.

Seiring semakin majunya cara berfikir manusia, maka manusia menciptakan terminology pedophilia yg dengan mudah anda bisa pelajari di wikipedia. Istilah pedophilia ini ga akan berkembang at the first place kalo pria/wanita dewasa berhasrat sex terhadap anak kecil adalah hal yg normal. Saya secara pribadi ingin mengetahui apa pandangan anda soal pedophilia. Apakah menurut anda masih lazim jika ada pria umur 54-an yg bisa ngesex dengan bocah 9 tahun zaman sekarang? Bisakah anda memberikan saya pandangan anda akan hal ini?
============================================================================
Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Sebenarnya ada sedikit kebingungan dlm benak saya ttg standar apa yg Mas Pop gunakan dlm menyikapi mslh ini dan saya juga bingung harus menggunakan standar yg mana untuk menjawab pertanyaan Mas Pop ttg pandangan saya, sbg manusia yg hidup dizaman dulu atau sbg manusia yg hidup dizaman skrg ? Mas Pop yg saya hormati, dlm hal ini saya mencoba memberikan pandangan yg objektif berdasarkan waktu, tempat dan keadaan meskipun saya adalah manusia yg hidup dizaman ini dan semoga dialog kita ini tidak dibumbui oleh sentimen pribadi thdp objek yg sdg kita bahas.

Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.
==================================================================
Seperti yg sudah saya ungkapkan, saya (yg berumur 32) sudah berkali2 mangku anak perempuan cantik sahabat saya, dan berkali2 saya tidak bisa ereksi jika pantatnya menyentuh penis saya. Saya bukan cowo suci, saya akan menikah sebentar lagi dan jika saya berdua dengan pasangan saya, ga usah ampe saya mangku dia, saya melihat pantatnya saja saya sudah ereksi gila2an. Sekarang bisakah anda menjelaskan kepada saya bagaimana Muhammad (yg kala itu berumur kurang lebih 54 thn), jika ia normal, bisa ereksi dan ngesex dengan Aisha yg notabene 9 thn?

Anda memberikan saya argumen bahwa sampai sekarang belum bisa diketemukan referensi dari sahabat/musuh Muhammad yg against that act, tapi saya juga sampai sekarang belum bisa ketemu satupun argumentasi Muslim/ah yg bisa menjawab dengan baik contoh simple dari saya. Saya adalah cowo normal senormal2nya, Jika saya bisa dengan mudah ereksi dengan pasangan saya yg beda umur 5 tahun dengan saya, dan tidak pernah ereksi dengan bocah 6 tahun anak sahabat saya, bagaimana Muhammad bisa melakukan hal itu?

Cuman ada 2 kemungkinan=> saya yg ga normal, atau Muhammad yg normal. Jika anda ingin membela Muhammad, dapatkah anda membuktikan ke saya bahwa sayalah yg ga normal?

Istilah pedophilia ga akan muncul kalo memang praktek laki2 54 thn ngesex dengan bocah 9 thn tersebut lazim Dear Miss X.

============================================================================
Dari Umar bin Khathab Ra. berkata : “Aku telah mendengar rasulullah saw.bersabda : Sesunggunya segala amalan itu tergantung pada niatnya. dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasulNya, ia akan sampai pada Allah dan RasulNya.dan barang siapa hijrahnya menuju dunia yang akan di perolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju. (HR : Bukhari & Muslim)

Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?
==================================================================
Apakah maksud anda, zaman sekarang sex education tidak diperlukan? jadi maksud anda sah2 aja jika zaman sekarang anak umur 15 tahun ingin minta kawin dengan anak usia 9 thn tanpa mempertimbangkan kedewasaan mereka dan pengertian mereka akan sebab akibat dari sex dan tanggung jawab? anda yakin pernikahan anak2 jaman sekarang dengan usia tersebut bisa menghasilkan keluarga dengan pondasi ekonomi yg kuat (tanpa supply dari orangtua)? Saya akan sangat kaget jika statistik bisa membuktikan 1% saja pasangan cilik zaman ini (mandiri,tanpa bantuan orang tua setelah mereka menikah) bisa menafkahi anaknya dan membangun kehidupan keluarga yg layak zaman sekarang. Saya bisa mengerti jika anda berusaha untuk menyakinkan saya keadaan zaman dahulu berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Tapi adalah jelas naif jika kita berfikir zaman sekarang sex education dan common knowledge tidak diperlukan.

Bagi binatang, naluriah mereka hanya ngesex, ngelahirin anak, nyusu-in anak secara instinct,anak belajar dari induknya bagaimana cara berburu dan akhirnya anak tersebut mandiri untuk survive hingga dewasa dan selanjutnya mengulangi siklus yg sama. Anda yakin sesimple itu juga tanggung jawab seorang ibu manusia?

Ayah saya lahir dari pernikahan usia dini kakek nenek saya. Keberhasilan dan kemandirian ayah saya based on the story was not because of the discipline method from his parent. Ayah saya lahir dari keluarga yg sangat miskin (sangat umum terjadi pada pernikahan usia dini dengan banyak anak). Kehebatan manusia adalah, dia bisa belajar dari kesalahan dirinya, kesalahan orang lain. Kerasnya kehidupan membuat ayah saya bekerja lebih giat dan sekolah lebih giat. Belajar dari pengalaman, ayah saya menikah di usia 25 dan membangun pondasi keluarga yg lebih kokoh dari orang tuanya. Bisakah saya sesumbar mengatakan keberhasilan ayah saya ini dikarenakan didikan dari orang tuanya?
=========================================================================

Terima kasih Mas Pop sudah menyatakan sesuatu dgn terbuka. Tanpa mengurangi hormat sy, saya rasa kita sedang membicarakan ttg seorang gadis kecil yg dinikahi oleh pria yg umurnya terpaut sangat jauh yg dlm hal ini, Muhammad adalah seorang laki – laki yg mapan dlm hal ekonomi. Jd saya rasa , mslh ekonomi tdk ada hubungannya dgn apa yg sedang kita bahas.

Sex dan menjadi seorang ibu, seperti yg Mas Pop sebutkan, bersifat alamiah meskipun ibu2 sekarang ini berfikir lebih maju dlm hal kepengurusan anak. Istilah sex education ini sama seperti pedophilia, baru dikenal karena belum ada dizaman ortu sy dulu…masih tabu katanya. Tp jika kita membuat statistik, orang tua dizaman mana yg lebih berhasil mendidik anaknya dan lebih berhasil mempertahankan biduk rumah tangganya….zaman sekarang atau zaman dulu ?
==================================================================

Mengenai masalah ukuran Mr P dan V, ok ini memang argumen pribadi saya. Tidak apa2 jika anda ingin menyanggah dan saya juga ga akan refute balik. Saya tertarik komentar “ukuran Mr P dan V”, tertarik komentar “ada alesan spiritual apa sih ampe seorang Nabi 54-an pengen cepet2 kawinin anak 9 thn, ga ada cewe dewasa laen apa” dikarenakan saya eneg dengan self proclaiming dari Muslim/ah seluruh dunia yg memuji2 akhlak Muhammad bahkan memberikan label manusia sempurna. Oh my goodness, jika Muhammad manusia sempurna, maka layaklah saya disebut manusia 1/2 dewa. Jika nafsu sex aja ga bisa dikendalikan, buat apa saya percaya orang tersebut adalah Nabi? Saya bukanlah Buddhist, tapi saya sangat mengagumi Nabi mereka Sidharta Gautama. Sex adalah salah satu hal tersulit untuk dikendalikan oleh laki2 normal. Saya ga habis pikir kenapa ada orang yg lebih mengagung2kan Nabi yg “kemampuan sex-nya 100 kali dari laki2 biasa” dibandingkan dengan pria yg bisa mengontrol hawa nafsunya.

Itu yg kadang2 saya ga bisa ngerti dari Muslim/ah. Kadang2 saking cintanya dengan Muhammad, mereka rela mempermalukan diri dengan argumen2 bodoh seperti yg bisa anda baca di
wanita-sebagai-saksi-t42425/
muslim-netral-vs-pop-eye-t42400/

Ok let’s back to the main topic. Main accusation dari kaffir FFI mengenai pernikahannnya dengan Aisha yg waktu itu masih 6 tahun dan ngesex dengannya 3 thn kemudian cuman satu : Muhammad itu pedophile.

Anda boleh mengabaikan argumen saya mengenai tanggung jawab seorang ibu, tapi anda tidak bisa mengabaikan pengalaman pribadi saya (yg saya juga cross check dengan sahabat2 saya (laki2 normal) yg laen, saya juga cross-check dengan definisi dari pedophilia itu sendiri di wikipedia) yg tidak bisa ereksi dengan bocah perempuan cantik manis umur 6 tahun, dan saya juga fully believe saya tidak akan bisa ereksi dengan bocah 9 tahun no matter how sweet, how pretty she is.

Saya menunggu jawaban logis dari Anda on how 50 year old dude could even had a sexual desire to 9 year old kid and consummated her if he was not a pedophile.
==========================================================================
Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?
Saya ingin mengcopy pertkataan salah seorang muslimah FFI :

Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir

Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

================================================================
Beranikah anda melepaskan putri anda jika putri 9 thn anda diminta nikah oleh muslim taat, suci, solehah berumur 54-an?
So far jawaban yg saya dapetin cuman, oo tentu ga boleh, ga adalah muslim yg seperti Muhammad yg sempurna bla bla and another stupid argument.

==========================================================================
Jawaban saya sama seperti jawaban Mas Pop
=================================================================

Best regards

Miss X wrote::Baik terima kasih Mas Pop atas tanggapannya. Mas Pop berasumsi bahwa praktek pedophilia sebenarnya sdh dianggap tidak normal sejak dulu. Namun hal ini tdk mendapatkan perhatian khusus karena kedudukan wanita saat itu dianggap tidak terlalu penting sehingga tdk ada satupun catatan khusus yg bisa dijadikan referensi untuk membuktikan bahwa praktek pedophilia sebenarnya adalah sebuah penyimpangan sexual yg telah dikenal masyarakat sejak lama. Ok, kl sebuah catatan khusus (referensi) Mas Pop jadikan standar untuk menilai apakah suatu masyarakat menghormati dan mengangkat harkat dan martabat perempuan, berarti tdk perlu diragukan lg bahwa kedatangan Islam telah memberi arti berbeda ttg hak – hak perempuan krn bisa Mas Pop check didalam Alquran , betapa banyak ayat – ayat yg memceritakan ttg perempuan sehingga diabadikan dlm satu surat bernama An Nisa ( perempuan ). So, kl mmg orang2 dlm peradaban pra Islam tdk pernah memberi perhatian khusus, maka perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Anda yakin perhatian Islamlah yg sesungguhnya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan ?

Zaman Nabi Musa:
1. Pernikahan dengan lebih dari 1 istri diizinkan (walaupun dalam Bible sendiri mencatat Zippora selama ia hidup adalah istri Musa satu2nya, dan ada theory yg mengatakan later on Musa menikah lagi ketika Zippora wafat). Jadi walaupun Musa memberikan izin untuk melakukan perceraian, dia sendiri bukan pelaku aktif dari kawin-cerai dan punya banyak istri
2. Hukum rajam batu terhadap wanita jika ketahuan berzinah, ga beda jauh dengan Nabi anda.

Zaman Yesus yg datang sekitar 1400 tahun setelah Musa
1. Yesus menentang perceraian, apa yg sudah disatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia.
Yesus menantang kaum2 agama Yahudi yg hendak merajam batu seorang perempuan yg ketahuan berzinah, apakah ada dari si
pelempar batu ini yg tidak pernah berdosa selama hidupnya, dan pada akhirnya karena malu, satu persatu para perajam itu pergi
sendiri, dan Yesus sendiri pada akhirnya berkata pada wanita penzinah itu : Akupun tidak akan menghukum engkau, pergilah
DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAGI.

Yesus mengajarkan (hal yg sama juga sudah diajarkan oleh Confusius yg hidup sebelum era Yesus): Perlakukan orang lain seperti
anda ingin sendiri diperlakukan,
jangan perlakukan orang lain dengan standard dimana anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Laki2 nature-nya juga
tidak ada yg mao dimadu, so kenapa juga tega melakukan sesuatu yg dirinya sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu?

Terinspirasi dari kehidupan Yesus yg sangat menghargai wanita, Christian memperlakukan system menikah hanya dengan satu
pasangan, hanya maut yg memisahkan pasangan yg sudah bersumpah setia dihadapan Tuhan.

Filsuf2 setelah zaman Yesus, prior to Muhammad time.
1. Salah satu artikel yg sudah saya terjemahkan di Resource Centre FFI, membuktikan bahwa Rufus bahkan melakukan perombakan
besar dengan cara berfikir budaya barbar masa lalu yg tidak menhargai wanita dengan menyatakan bahwa tugas istri/wanita
bukan hanya sumur, dapur dan kasur. Wanita berhak mendapatkan pendidikan yg setara dengan laki2 serta pemikiran2 beradab
lainnya yg dapat anda baca di

rufus-filsuf-romawi-pra-islam-yg-bela-hak-wanita-t40924/

Zaman Muhammad sang pembawa Alquran:
1. Back to zaman Musa, boleh kawin cerai lagi, boleh punya istri max 4 semuanya ditambah dengan syarat2 bagi Muslim,
tapi aturan ini ga berlaku untuk Muhammad yg mempunyai istri lebih dari 4 (seperti biasa alasan Muslim=>pengecualian buat
Muhammad yg punya akhlak sempurna, mengawini janda2 dengan tujuan mulia dan hal2 lain yg sering jadi bahan ketawaan orang2
kaffir).
2. Muhammad dengan mudah mengambil istri anak angkatnya, mengambil istri musuh yg dia bunuh, tapi dengan mudahnya dia
memberikan maklumat bagi istri2nya untuk tidak boleh menikah lagi setelah ia wafat dengan alasan itu menyakiti hati Allah
dan Rasulnya.
3. Muhammad mengajarkan untuk mendisiplin istri dengan memukul mereka jika perlu. Tentulah Muslim semua pada stress dan
berusaha untuk menjelaskan kepada kami arti memukul itu maksudnya adalah pukulan yg ringan.
4. Surat An Nisa di Alquran yg menghargai perempuan seperti yg anda describe.

Tanpa perlu ada Alquran dan petuah2 dari Nabi anda, prior to the Islam era, sudah ada Nabi, pemikir/filsuf/org2 well educated yg sudah punya pandangan yg luar biasa tentang penghargaan terhadap wanita dan menginspirasi orang2 sejamannya terlepas zaman tersebut masih era yg umumnya tidak menghargai wanita.

Dear Miss X, justru jika Anda berusaha jujur untuk melihat kehidupan pribadi Nabi anda yg katanya sangat sempurna akhlaknya itu, terjadi degradasi rule2 yg sudah dibuat oleh Nabi, pemikir2 jaman sebelum era Muhammad.

Sungguh setiap kali pecinta Islam berusaha menyakinkan dunia bahwa Islamlah yg mengangkat harkat dan martabat, based on perbandingan zaman yg saya sebutkan diatas, saya tidak bisa menahan ketawa.

Miss X wrote: :Dlm argumen sebelumnya, saya mengemukakan bahwa saya belum membaca baik didalam sirah dan atau hadis mauquf yg mengecam perbuatan beliau yg menikahi dan menyetubuhi Aisha yg umurnya terpaut sangat jauh, baik dari kalangan sahabat maupun musuh2nya. Kenapa saya menganggap ini penting , karena saya ingin Mas Pop tau apakah perbuatan tersebut melanggar norma dan nilai yg berlaku sehingga Rasulullah itu tak pantas disebut Nabi dan uswatun hasanah. Cemoohan dan gosip dalam kajian ilmu sosiologi yg berkembang sekarang ini merupakan salah satu alat pengendali sosial 1. Cemoohan dan gosip merupakan salah satu indikasi terjadinya pelanggaran norma di masyarakat sehingga menjadi suatu bentuk hukuman yg lbh menyakitkan daripada hukuman fisik yg berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dihadapan masyarakat. Logikanya, ketika masalah pernikahan beliau dgn mantan menantunya Zainab diangkat oleh musuh-musuhnya untuk menghancurkan reputasinya dimata umat, bagaimana bisa sebuah kejahatan seksual sekelas pedophilia tidak digunakan oleh mereka, jika seandainya mereka menganggap pedophilia ini bknlah hal yg lazim dilakukan sebagaimana ketidaklaziman menikahi mantan istri dari anak angkat dalam kebudayaan Arab?

Dear Miss X,
Zaman barbar (termasuk di luar daerah Timur Tengah sekalipun) memperlakukan raja sebagai segala-galanya. Bukan hal yg aneh jika raja meminta apapun dari rakyatnya (termasuk istrinya sekalipun). Raja adalah supreme ruler, segala perintahnya adalah mutlak. Jadi dimata musuh2 Muhammad sekalipun, itu adalah praktek yg bisa diterima karena musuh mereka mungkin juga melakukan hal yg sama. Pengikut Muhammad memperlakukan dirinya sebagai raja, bahkan lebih dari itu, menganggap dirinya sebagai dewa. Bahkan sudah dikenal kebudayaan jaman dahulu dimana salah satu ibadah pagan adalah dimana perempuan2 beribadah dengan cara melacurkan diri kepada Nabi2nya. Adalah suatu kehormatan dan kebanggaan kalo perlu diusahakan bagi setiap wanita zaman barbar yg memuja dewanya untuk menikah dengan Nabinya. Jadi point anda hanya menjelaskan bahwa perbuatan Muhammad mengambil istri anak angkatnya, ngesex dengan bocah 9 thn adalah hal yg bisa diterima oleh budaya barbar. Tapi bukan berarti praktek budaya barbar tersebut adalah bermoral. Anda tidak bisa berharap terlalu banyak akan theory gossip dan cemoohan untuk jaman2 barbar seperti ini.

Semakin anda “memaksa” kami para kaffir untuk menerima perbuatan Muhammad karena itu tidak bertentangan dengan zaman barbar, semakin kami convinced bahwa Nabi anda tidak lain tidak bukan hanyalah manusia biasa yg terdorong dengan nafsu dunia dan praktek barbar zaman itu.

Mengapa pengikut Sidharta Gautama dan Yesus terinspirasi dan mengikuti beliau2?
Karena teladan hidup dari mereka (kasih, pengorbanan, self control) di zaman barbar terbukti masih berlaku hingga zaman sekarang.

Kualitas dan teladan hidup mereka yg masih bisa diapplied di zaman sekarang saja sudah membuktikan akhlak mereka diatas Muhammad. Anda tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yg meneladani sikap hidup Sidharta dan Yesus (dari sumber yg sahih) dimana dampak dari tindakan mereka akan membahayakan nyawa orang lain, atau jika kita perkecil scope kita ke topic ini, akan ngesex dengan anak kecil.

Miss X wrote::Saya akan memberi sedikit analogi sederhana :
Ketika teknologi berupa pemantik atau korek api belum ditemukan, manusia menggunakan 2 buah batu untuk menyulut api. Sbg manusia dizaman ini, bgmn kita bisa mengatakan mereka primitif jika mereka mmg belum mengenal apa yg dinamakan pemantik atau korek api? Seandainya dulu mereka tau ada cara yg lebih mudah, apakah mereka msh akan menggunakan 2 buah batu?

Hal ini juga berlaku bagi kasus yg disebut pedophilia ini karena istilah ini baru ada setelah mgkn berabad abad lamanya dan belum dikenal sbg suatu penyimpangan sexual yg fatal. Tentu kita tdk bisa memaksa orang2 dahulu untuk menggunakan standar yg kita gunakan karena setiap manusia itu hidup dgn beradaptasi dgn lingkungannya. Apa yg mereka pandang baik dahulu tentulah tidak sama dgn nilai2 yg kita pegang sbg suatu kebaikan saat ini. Tp satu hal bahwa praktik pedophilia itu merupakan sebuah kelainan psikologis yg memerlukan bahasan lebih jauh lagi dan mohon maaf Mas Pop itu bkn kulifikasi saya. Tp jika Mas Pop bertanya ttg pandangan saya mengenai Pedophilia, tentulah pandangan saya tdk jauh berbeda dgn Mas Pop karena kita hidup dizaman yg sama.Saya tdk mau tergiring pada satu opini yg membuat saya mengadakan suatu pembenaran tdhp sesuatu yg tidak benar, apa yg Mas Pop anggap salah tentu itu jg berarti salah dimata saya…tp itu hanya berlaku bagi orang2 yang sezaman dgn kita yg menggunakan standar nilai yg sama sebagaimana yg kita anut saat ini.

Dear Miss X, anolagi anda sama sekali tidak menjawab permasalahan moral yg kita hadapi.
Case 2 batu Vs pemantik hanya menjelaskan ke saya bahwa zaman dahulu, dengan keterbatasan kecerdasan manusia, tentulah masih depend on 2 batu, seiring dengan bertambah cerdasnya manusia, manusia mampu menciptakan pemantik untuk menyalakan api dengan cara yg sangat cepat.

Zaman ketika menggunakan batu untuk menyalakan api, hampir semua manusia purba menggunakan cara itu (kecuali jika memang ada segelintir ras manusia purba yg sangat cerdas yg bisa melakukannya dengan cara yg lebih efektif). Zaman ketika Muhammad ngesex dengan dengan bocah 9 thn, hanya segelintir adult men yg tidak normal naluri sexnya yg melakukan hal itu. Even zaman Muhammad sekalipun anda tidak akan mudah menemukan tua bangka 52 thn ngesex dengan bocah 9 thn.

Zaman dahulu, sama sekali tidak diperlukan adanya kecerdasan bagi pria dewasa untuk bisa membedakan memilih ngesex dengan bocah 9 thn atau ngesex dengan perempuan dewasa. Yg diperlukan hanya naluri sex normal dari laki2. Sama sekali tidak ada hubungannya standard zaman dahulu dengan zaman sekarang kalo soal urusan EREKSI.

Miss X wrote::Jika berbicara bagaimana Beliau bisa ereksi dgn seorang bocah cilik? Sekali lg, sdh diberikan sebuah referensi yg jelas dari Akhi Ayman Bin Khalid yg bersumber dr pengalaman Imam As syafii mengenai sebuah tempat dimana wanita terlihat lebih tua dari umurnya dan kita, baik Mas Pop maupun saya, tdk melihat dgn jelas ukuran tubuh Aisha saat di setubuhi apalagi ukuran “V” nya. Tp setidaknya saya dan saudara muslim lainnya memiliki sebuah referensi yg ckp valid sbg pijakan kami dlm beragumen bahwa dikala itu Aisha sudah cukup pantas untuk disetubuhi dan tdk ada pemaksaan secara sexual appn thdp Aisha yg pernah diriwayatkan dalam hadist mauquf manapun kecuali Aisha mengarungi malam pertamanyanya dgn perasaan malu bukan takut seperti seorang anak kecil (Dari Asma’ binti Abubakar), bgmana dgn Mas Pop ?

Darimana anda yakin referensi anda valid dan bisa dipertanggung-jawabkan secara logis?
Apakah anda hendak menyakinkan saya Aisha bukan manusia biasa? Alien mungkin? bocah 9 thn tapi dengan penampilan fisik seperti gadis 20 thn yg normal?

Dear Miss X, kita sedang beradu argumentasi dengan hal2 yg logic. Bukan dengan referensi2 yg tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akal sehat manusia.

Umat Budha percaya referensi Kitab mereka yg mengatakan ketika Sidharta lahir, berbeda dengan bayi normal, bayi ini sudah bisa berjalan dan melakukan segelintir hal2 fantastis lainnya. Kira2 anda bisa terima argumen mereka ga kalo case ini diperhadapkan pada argumentasi logis?

http://en.wikipedia.org/wiki/Miracles_of_Gautama_Buddha

Referensi bayi Sidharta sudah bisa berjalan pada saat ia lahir di bumi adalah iman dari orang2 Buddhist dan itu adalah hak mereka. But whether the case make a good reasoning for common sense debate case is another thing.

Klaim yg anda paparkan kepada saya adalah argumentasi sangat klasik dari Muslim2 seluruh dunia. Adalah hak bagi2 setiap muslim untuk punya blind faith atas keyakinan anda dari referensi mengatakan bahwa umur 9 thn Aisha somehow secara ajaib sudah memiliki fisik layaknya wanita dewasa. Tapi adalah konyol jika hal ini dibawa ke dalam perdebatan yg menggunakan akal sehat.

Islam sendiri tidak percaya evolusi Darwin yg mengatakan manusia adalah hasil evolusi dari kera. Bagaimana kalian bisa percaya bocah 9 thn di zaman Muhammad bisa berevolusi/bermutasi tubuhnya menjadi perempuan dewasa?

Saya pernah liat di tivi case dimana anak yg terlihat sangat tua padahal masih bocah. Namun tidak perlu 1 menit bagi otak saya untuk mencerna bahwa wajah bocah tersebut sangat weird, ketara banget kelainan hormon, muka tetep muka anak kecil tapi sudah keriput dan tumbuh kumis.

Ada juga case acro megali, dimana seorang bocah yg jauh lebih tinggi dari bocah2 seusianya. Tapi sekali lagi, dari penampilan fisik, terlihat banget ukuran badannya yg tidak proporsional, muka sedikit idiot, yg pada akhirnya semua orang tau bocah ini mengalami kelainan hormon.

Jika Muslim masih insist untuk memegang theory bocah yg terlihat berfisik dewasa sebelon waktunya, tentulah muslim juga harus terima dari contoh case2 yg saya sebutkan diatas, Aisha berpenampilan seperti itu. Bukankah jauh lebih menjijikan jika bahkan Muhammad bisa bernafsu sex dengan bocah seperti itu ?

Ok saya buat perbandingan simple untuk klaim klasik yg anda ajukan VS kami para kaffir
Muslim masa kini
- Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha =>Tidak
- Referensi yg digunakan =>Referensi yg katanya cukup valid
- Argumentasi =>Aisha walaupun berumur 9 tahun tapi fisiknya sudah selayaknya seperti wanita dewasa pada umumnya yg siap untuk
disetubuhi

VS

Kaffir masa kini
- Saksi hidup pada zaman Muhammad/Aisha=>Tidak
- Referensi yg digunakan=>Hadits Sahih Bukhari yg diakui Muslim diseluruh dunia
- Argumentasi=> Lebih dari satu ayat Hadits yg mencatat Aisha berumur 6 tahun dan masih maen boneka dan ayunan dan berumur 9
tahun pada saat ngesex dengan Muhammad. Berdasarkan informasi umur dan tingkah laku Aisha pada saat itu, kaffir berkesimpulan
tidak ada bukti apapun (selain iman buta) bahwa Aisha berpenampilan fisik layaknya wanita dewasa. Aisha hanyalah bocah cilik umur
9 tahun, dengan tingkah laku anak 9 tahun dan fisik anak 9 tahun, maka belon pantas untuk disetubuhi dan tidak akan
membangkitkan hawa nafsu laki2 dewasa normal pada umumnya.

Coba luangkan waktu sejenak untuk menilai secara objective perbandingan diatas, pendapat manakah yg akan dinilai lebih masuk akal oleh independent reader/judger, despite kita berdua sama2 tidak hidup di zaman Muhamad dan Aisha.

Miss X wrote::Innama a’maluu binniyat : sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niat. Hadist ini memiliki tingkatan tertinggi (muttafaq ‘alaih). Ketika Mas Pop dihadapkan pada 2 keadaan, seorang gadis cilik nan cantik dan calon istri Mas Pop yg aduhai, tentu Mas Pop juga memiliki niat yang berbeda terhadap keduanya sehingga Mas Pop berlaku sebagaimana yg Mas Pop niatkan. Tidak sedikit kita lihat di media ttg kasus perkosaan gadis2 kecil oleh orang2 yg sdh tua renta tp kenapa keinginan yg sama tidak menghampiri Mas Pop? Ttentu jawabannya karena ada perbedaan niat antar Mas Pop dgn mereka.

Dear Miss X
Contoh case: Jika tanpa sepengetahuan saya, pasangan saya masuk kamar saya dan sedang ganti baju, dan pada saat pulang dari kantor saya membuka pintu kamar saya dan TANPA SENGAJA/NIAT saya melihat dirinya ganti baju dan bertelanjang bulat didepan saya, naluriah sex normal laki2 saya akan membuat saya ereksi.

Atau jika misalnya, saya hendak berdiskusi dengan colleague saya, saya hampiri dia didepan Desktopnya, dan ternyata di depan monitor Desktopnya dia lagi nonton film porno dan saya jadi secara ga sengaja ngeliat cewe telanjang, saya akan ereksi.

Ereksi dari contoh diatas bukanlah dari NIAT SAYA UNTUK EREKSI, TAPI INSTINCT SEX NATURAL SAYA SEBAGAI LAKI2 NORMAL.
NIAT PUNYA PENGARUH UNTUK SAYA MELAMPIASKAN NAFSU SEKSUAL SAYA, TAPI UNTUK BISA BER-EREKSI, SETIAP LAKI2 BUTUH OBJECT YG BISA MERANGSANGNYA. BAGI LAKI2 NORMAL, ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH WANITA DEWASA. BAGI PEDOPHILE ORIENTASI SEKSUALNYA TENTULAH DENGAN TUBUH BOCAH CILIK.

Bocah 6 tahun anak sahabat saya, mao saya niat gendong dia, mao niat liatin dia telanjang, saya tidak akan ereksi, boro2 kepikir ngesex dengannya, ereksi aja engga. Saya jamin semua laki2 normal akan mengerti penjelasan saya. Ga ada hubungannya dengan argumen anda dikarenakan niat. Saya tidak akan pernah memperkosa/melakukan hal2 cabul kepada anak temen saya bukan karena saya orang suci, tapi karena saya orang normal.

Contoh yg anda paparkan tentang kakek tua renta yg cabul terhadap bocah cilik hanya membuktikan bahwa memang kasus pedophilia terjadi di Indonesia. Jika ereksi aja ga bisa, gimana ada niat untuk perkosa? Jika kakek tersebut bisa perkosa anak kecil, berarti ia bisa dirangsang secara seksual oleh tubuh bocah cilik yg menyebabkan dirinya ereksi. As simple as that.

Kakek2 normal hanya terangsang oleh wanita dewasa, contoh case yg cukup ngetop adalah ketika bos kaya raya Majalah Playboy yg berusia 60-an menikah dengan model berusia 25 thn.

Miss X wrote::Mas Pop, semua hal memang memiliki difinisi tapi tak semua difinisi bisa diaplikasi tanpa adanya kriteria khusus untuk meletakkan suatu kata atau kalimat pada posisi yg tepat. Contohnya kata “take”, apakah selalu bermakna “mengambil” jika diletakkan pd kalimat manapun ?

Hadits tanpa malu2 mencatat umur Aisha adalah 6 tahun saat dia married, dan 9 tahun saat dia di consummate.
Tidak diperlukan adanya kriteria khusus untuk mengerti bahwa Aisha masih bocah cilik saat ia menikah, dan melakukan sex pertama kalinya saat ia berumur 9 tahun dengan Muhammad.

Memangnya apa sih kriteria khusus yg bisa memberikan makna lain pada kata CONSUMMATED, MARRIED, bilangan 6 dan 9 tahun?
Penasaran saya :)

Miss X wrote::Mas Pop yg cerdas tapi terkadang lucu, saya terkadang geli ketika melihat teman2 Mas Pop selalu mengangkat masalah sex untuk menjatuhkan reputasi Muhammad. Tidakkah ada cara yang lebih terpuji untuk menunjuki orang lain kejalan yg lebih benar drpd apa yg Beliau ajarkan ?

Kami para kaffir juga tidak kalah geli dengan kalian para Muslim yg segitu cinta mati dengan Muhammad. Jelas2 muslim semua self proclaim bahwa Muhammad bermoral sempurna, Nabi terakhir penyempurna ajaran Nabi2 lain sebelumnya, terus apanya yg aneh jika kami para kaffir mengangkat issue sex untuk mempertanyakan self proclaiming kehebatan moral Muhamamd?

Sex sejak zaman purba hingga saat ini dan akan selama2nya menjadi pergumulan terbesar kaum laki2 normal. That’s why kaffir mengagumi Sidharta dan Yesus yg begitu luar biasa mendedikasikan hidupnya untuk manusia dan mengesampingkan hawa nafsu sex dunianya.

Salahkan jika kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda Nabi penyempurna ajaran sebelumnya?

Salahkah kami menggunakan otak kami untuk mengkaji apakah benar Nabi anda seperti yg Muslim2 katakan, sempurna akhlaknya?

Salahkan kami , setelah membaca sumber2 sahih dari muslim sendiri dan mengetahui bahwa Nabi anda tercatat sebagai orang yg mengambil istri dari anak angkatnya, ngawinin bocah cilik, ketahuan ngesex dengan Mariyah di ranjangnya Hafsa pada saat giliran sexnya Hafsa sehingga Hafsa murka serta petualangan2 sex lainnya membuat kami para kaffir mengambil kesimpulan bahwa Nabi anda sama sekali tidak ada bedanya dengan pemimpin perang zaman barbar lain yg tidak bisa mengendalikan hawa nafsu sexnya, sehingga ia sama sekali tidak pantas disebut sebagai Nabi dengan akhlak paling sempurna?

Pernah sister Miki FFI ngepost comment bagi Muslimah di Facebook, Bagaimana pendapat anda tentang kakek tua umur 52 thn yg ngesex dengan bocah cilik 9 thn, tanpa pikir panjang, muslimah ini langsung menjawab itu adalah perbuatan terkutuk, immoral, namun pada saat yg sama setelah itu sis Miki memberikan bukti2 Hadits2 bahwa Muhammad melakukan hal itu, langsung sis Miki dibanned dan dituduh sebagai orang2 yg hendak menjelek2an Rasul Allah. Double standard ini sungguh menggelikan.

Anda geli melihat kami sama seperti kami juga geli melihat kalian. Biarlah independent reader/judger yg menilai “geli” siapa yg paling logis.

Miss X wrote: :Saya dan semua muslimah itu tdk bodoh. Karena kami tau siapa Beliau -lebih dari yg Mas Pop tau- itu sebabnya kami mencintainya. Dia dicintai krn orang2 telah mengenalnya..bkn seperti kita yg dicintai krn org2 tidak mengenal kita yg sesungguhnya. Saya tdk pernah melihat satu laki – lakipun yg mampu menempatkan akhlaknya ditempat tertinggi diatas semua nafsunya selain Beliau.

Bagaimana anda bisa mengklaim diri anda tau siapa Muhammad melebihi saya jika baik anda dan saya tidak pernah bertemu dengan Muhammad dan bahkan tidak hidup sejaman dengannya?

Anda bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah, anda bahkan belum pernah bertemu dengannya. Anda jelas bukanlah saksi yg qualified di pengadilan.

Jika ikutin standard kalian, saya juga bisa bersaksi bahwa Julius Caesar itu Rasul Allah.

Oh my goodness, jika model seperti Muhammad yg anak kecil aja diembat, istri bejibun anda katakan akhlaknya tertinggi, berarti harusnya anda juga harus fair bahwa Sidharta dan Yesus sudah selayaknya anda tempatkan sebagai manusia berakhlak dewa.

Miss X wrote::Yang terpenting dari membaca bukanlah copas tapi yg terpenting adalah proses berfikir
Sedikit saja, jika kita mengambil contoh dari orang2 pedophilia di zaman ini yg kita lihat ramai diberita, adakah salah satu dari mereka ( tersangka ) yang menunggu 3 thn – atau bberapa bln saja- untuk menyetubuhi korban2nya? – kl mmg keberatan, Mas Pop tak perlu menjawabnya krn mmg ini sdh berupa pertanyaan dan jawaban-

Setuju..proses berfikir juga akan terlihat dari kualitas debat dari seseorang. Sekarang tinggal anda yg menunjukkan kepada saya, apa sih definisi copas bagi anda?

Saya sama sekali tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan anda mengenai waktu tunggu 3 tahun.
Apakah dengan memberikan saya contoh pedophile zaman ini yg tidak bisa menunggu 3 tahun, anda hendak menggunakan waiting period 3 thn sebagai tolak ukur apakah suatu tindakan dinyatakan NORMAL atau tidak?

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


Wikipedia mengkategorikan 2 jenis pedophile:
1. Exclusive pedophile => pedophile yg murni cuman suka anak kecil
2. Non Exclusive pedophile => pedophile yg bisa berbirahi terhadap baik orang dewasa maupun anak kecil

Kriteria no 2 lah yg paling cocok dgn Nabi anda

Apa anehnya jika Nabi anda bisa sabar menunggu hingga 3 tahun? According to his rule, Muhammad mengizinkan Muslim bersetubuh dengan istri2nya dan budak2nya. Selama 3 tahun, Muhammad either bisa ngesex dengan istri/budak2nya dikarenakan Nabi anda itu bukan pedophile yg murni cuman suka anak kecil. Jadi kebutuhan sexualnya masih ada pelampiasan.

Miss X wrote:Terima kasih Mas Pop atas tanggapannya yg mmg sangat saya tunggu. Sebelumnya Mas Pop berdalih mengatakan bahwa sulitnya mencari referensi mengenai pedophilia sbg tindakan amoral yg telah dikenal sejak zaman pra Islam adalah dikarenakan appn yg menyangkut wanita saat itu kurang mendapat perhatian, meskipun saya sdh tau bahwa itu hanya sebuah alasan . Sepertinya argumen Mas Pop diatas sdh menembak kaki Mas sendiri krn sgt bertolak belakang dgn pernyataan Mas Pop sebelumnya. Mas Pop sendiri telah membuktikan bhwa sudah ada kemajuan dlm berfikir bahkan sebelum Muhammad datang membawa risalah sehingga memang seharusnya semua hal yg menyangkut sejarah memiliki catatan masing – masing termasuk masalah wanita dan norma-norma yg berlaku dlm suatu masyarakat yg memaksa para anggotanya untuk mematuhinya dgn berbagai ancaman . Jadi alasan ketidakmampuan mencari referensi mengenai ketidaknormalan menikahi seorang gadis kecil dimasa itu adalah nol besar. Jika dosa zinah mendapat hukuman fisik berupa rajam, bgmana mungkin tdk ada satupun catatan mengenai bentuk hukuman bagi pendosa pedophilia meskipun hanya sebuah gosip atau celaan sebagaimana pendosa homoseksual?? Bagaimana celah sbg “seorang pedophilia” tdk tercatat pernah menciderai reputasi Muhammad sbg seorang Nabi pada masanya baik dari sahabat-sahabatnya yg setia menulis appn ttg beliau dan dari para musuhnya yg setia mencari celah keburukannya ?? Jelas ini memperkuat hipotesa saya bahwa pedophilia, ditinjau dari ilmu sosiologi, bukanlah sebuah penyakit masyarakat sebagaimana istilah yg berkembang saat ini karena tidak ada satupun gejala sosial yg tercatat dalam sejarah pra Islam maupun Pasca Islam sebelum abad ke 20 yang membuktikan bhwa ini adalah sebuah perbuatan tercela yg membuat Muhammad tdk pantas menyandang gelar sbg NABI.

Mohon maaf Mas Pop, kita tidak sedang bicara ttg hak – hak perempuan, sifat pengampunan, dan kesetiaan. Tp kita sedang membicarakan ttg PEDOPHILIA dan fokuskan arah diskusi ini pd topic ini.

Salah satu argumen anda yg sangat menarik untuk topic pedophilia ini adalah : Anda terus menerus meminta saya untuk menerima logika Muslim pada umumnya : Jika praktek pedophilia jaman dahulu tidak mendapatkan kecaman, maka sudah sepantasnya kami para kaffir menerima argumen kalian bahwa praktek pedophilia tidak dinilai bermoral di zaman itu.

Perbudakan zaman dahulu adalah hal yg bisa diterima di zaman sebelum dan sesudah Muhammad (termasuk oleh Muhammad sendiri). Walaupun sama2 manusia ciptaan Tuhan, karena perang, karena agama, karena alasan apapun, suatu suku/bangsa bisa menempatkan diri mereka lebih superior dari suku/ras lain dan membenarkan diri mereka untuk enslave ras lain. Dan seperti yg anda tahu, hidup budak hanya tergantung oleh belas kasihan tuanya, mereka hampir tidak mempunyai hak. Perbudakan zaman dahulu adalah practice yg bisa diterima, tapi bukan berarti ini membuktikan bahwa perbudakan adalah hal yg bermoral.

Jika anda merasa kaffir masa kini yg menciptakan definisi Pedophilia dan ngebanned hal tersebut padahal zaman dahulu tidak ada yg mempermasalahkan, sekarang silahkan anda jawab : Minum alkohol dan berjudi adalah hal yg diterima di Saudi Arabia zaman Muhammad. Kenapa Muhammad memutuskan untuk nge-banned hal tersebut?

Saya tau kita sedang membicarakan tentang pedophilia. ANda meminta saya untuk fokus dalam hal ini sementara pada saat yg sama Anda mengatakan MUhammad yg mengangkat harkat dan martabat perempuan. Jadi apa yg salah jika saya paparkan perbandingan zaman sebelum MUhammad dan Muhammad mengenai harkat martabat perempuan selain pedophilia? Apakah harkat dan martabat perempuan hanya terbatas pada masalah pedophilia?

Apakah ada yg salah pada logika saya jika counter muslim yg self proclaim tentang Muhammad mengangkat harkat martabat perempuan dengan issue2 dibawah :
- Hukum rajam terhadap wanita pezinah
- Wanita tidak boleh menolak bersetubuh dengan suaminya, that’s why ga ada seorang istri bisa menuntut suaminya untuk WIFE RAPE
di negara2 SYARIAH.
- Wanita diizinkan untuk dipukul
- Wanita hanya boleh bersuamikan satu, laki boleh beristrikan banyak
- Nilai kesaksian wanita hanya 1/2 dari laki2.
- and many more.

Dear Miss X, saya tau anda mencintai Muhammad (tidak ada yg meragukan hal itu), tapi tolong tunjukkan letak kesalahan saya yg anda katakan tolong focus terhadap masalah PEDOPHILIA. Apakah anda kira harkat dan martabat perempuan hanya senilai jika anda bisa memenangkan argumen terhadap saya mengenai masalah PEDOPHILIA?

APanya yg salah jika saya membawakan issue2 yg berhubungan dengan claim anda mengenai harkat dan martabat perempuan?
Kecuali jika memang harkat dan martabat perempuan hanya berkisar seputar masalah PEDOPHILIA, saya baru bisa terima kritikan anda bahwa saya out of context.

Miss X wrote: Mas Pop yang saya hormati, saya tidak berdiri disini sbg seorang umat yg sedang membela Nabinya tp saya disini sbg lawan debat anda yg mengajak anda berfikir secara objektif tentang sejarah dgn mempelajari gejala – gejala yg menyertainya untuk menarik sebuah kesimpulan yg sesuai atau minimal mendekati kenyataan.Saya kenal Mas Pop sbg org yg sgt cerdas dlm setiap postingan anda dan saya yakin bahwa Mas Pop pun tau bgmna cara berdiskusi dgn objektif tanpa melibatkan emosi dan perasaan sentimentil. Saya sangat berusaha untuk tidak mencampuradukan perasaan saya sbg seorang wanita dalam diskusi ini. Bagaimana kita memaksakan suatu standar yg baru saja kita buat tanpa meminta kesepakatan mereka?? Bahwa setiap norma dan nilai dalam masyarakat itu ada atas kesepakatan bersama dan menjadi hukum secara turun temurun baik suka ataupun tidak. Kalau pendapat Mas Pop itu benar adanya, maka Yesus andapun termasuk seorang bar bar karena tdk pernah menyinggung masalah pedophilia ini dlm ajarannya.

Bagaimana anda bisa berkata anda tidak sedang membela Nabi kesayangan anda dan berdiri sebagai lawan debat saya mengajak saya berfikir secara objektif tentang sejarah, jika anda sudah memposisikan diri Anda lebih mengenal Muhammad dibandingkan dengan saya, itu sebabnya anda mencintainya?

Anda sedang berusaha untuk tidak mencampur-adukkan perasaan anda sebagai wanita karena anda menyadari dengan jelas posisi Nabi anda pasti akan dalam masalah besar. Akan beda ceritanya jika yg melakukan activity ngesex dengan bocah 9 tahun ini adalah kakek2 masa kini. Objectivity anda sangat dipengaruhi oleh cinta anda terhadap Muhammad.

Saya tidak cerdas, tapi umumnya ketika saya berargumen, sebelum saya nge-post, saya sudah berdiskusi dengan orang2 yg tidak anti Islam ex: bos saya orang bule (yg programming skill-nya diatas saya, fyi saya adalah programmer) yg tidak anti Islam dalam dunia nyata. Saya berikan dia study case, saya tidak bawa2 Islam, saya minta dia bandingkan juga dengan zaman pra Islam.

Umumnya saya selalu kalah debat dengan bos saya jika menyangkut programming skill, banking business, karena dia bener2 jago dan luar biasa otaknya. Tapi sepintar apapun beliau, tetep aja dia ga bisa menyanggah argumen saya dari hasil debat saya dengan Anda ketika saya memintanya menilai secara objective. Bos saya hanya menyanggah saya karena dia tidak sependapat bahwa Muhammad ngesex dengan AIsha pada usia 9 tahun. Ia yakin Aisha disetubuhi pada saat ia sudah menjadi wanita dewasa seperti pendapat2 Muslim2 lain yg berusaha menyangkal keabsahan umur 9 tahun Aisha pada saat diconsummated. Selain daripada itu, bos saya setuju sepenuhnya dengan saya bahwa even di zaman barbar, praktek tua bangka 52 tahun consummated gadis kecil 9 tahun bukanlah hal yg lazim dan normal.

Saya masih jauh lebih menghargai muslim2 yg berusaha untuk mencari bukti bahwa usia Aisha bukanlah 9 tahun (terlepas dari mereka jadinya plintir2 ayat dan ngambil referensi tidak sahih) waktu dia di consummated. Muslim2 seperti itu jelas lebih jalan otaknya, sadar perdebatan apapun tidak akan dimenangkan oleh Muslim/ah selama mereka masih memegang theory Aisha berumur 9 tahun. Itu sebabnya muncul muslim2 seperti Minerva yg berusaha memberikan bukti/referensi lain mengenai umur 9 tahun, dimana jika mereka bisa memenangkan argumen bahwa umur Aisha bukanlah 9 thn, tuduhan terhadap pedophilia Muhammad akan dipatahkan.

Jadi bukan hanya saya dan para kaffir lain yg sadar weak point dari Muhammad untuk hal ini. Bahkan sodara2 muslimmu juga sudah banyak yg sadar akan hal ini, itu sebabnya sudah semakin berkembang theory2 dari Muslim yg berusaha menyanggah kevalidan umur Aisha. So let me tell you, bahkan lawan debat anda bukanlah cuman kami saja para kaffir, tapi juga sodara2 anda sendiri.

Untuk masalah anda dengan Yesus, saya akan more than happy untuk berdiskusi dengan Anda di topik diskusi yg baru.

Miss X wrote: Mas Pop yg saya hormati, ada baiknya jika semua dugaan sementara dari Mas Pop disertai dgn bukti – bukti dan referensi yg menguatkan yg menjadi pijakan dlm berfikir, bukan hanya sekedar omongan kosong yang “maksa” untuk dihubung – hubungkan. Saya tdk melihat adanya kerasionalan dalam berfikir seperti yg selalu dibangga-banggakan oleh kafir melainkan hanya tumpahan kebencian tanpa dasar yang jelas dan cenderung dibuat dan diada-adakan. Saya tidak memaksa Mas Pop untuk menerima Beliau sbg seorang Nabi, saya hanya meminta Mas Pop untuk mampu membuktikan semua tuduhan tercela itu dgn cara terpuji dan dgn referensi yg jelas.

Satu point pengakuan bahwa ada “kemungkinan” semua orang melakukan hal yang sama [ praktek pedophilia] sdh dgn sendirinya menjawab bahwa masyarakat tdk menganggap ini sbuah perbuatan tercela yg melanggar norma, lalu kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita?? Bagaimana jika kita meminta pendapat orang-orang zaman dulu ttg cara hidup kita, apa Mas Pop yakin bahwa mereka pasti mengaggap kita lebih berperadaban? Ini adalah standar yg benar – benar kacau balau.

Dear Miss X, kami para kaffir menggunakan referensi dari Hadits Sahih Bukhari, yg diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Anda butuh bukti apalagi selain itu?

Ada lebih dari 5 ayat Hadits sahih yg jelas2 menunjukkan Aisha berumur 9 tahun saat diconsummate oleh Nabi anda yg berbeda umur lebih dari 40 tahun darinya.

Dan terakhir saya temukan bukti lagi dari Sahih Hadits:
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

Anda baca baik2 referensi diatas. Bagian yg di bold, itu yg buat pernyataan tersebut bukan kami para kaffir, tapi si Penulis hadits sendiri. Ayat2 Hadits yg lain memang tidak ada yg terang2an nulis seperti itu, tapi ayat Hadits yg satu ini dengan begitu gamblang si Penulis menjelaskan kepada pembaca Muslim agar Aisha terbebas dari dosa penyembahan berhala. Bukti apalagi yg anda butuhkan?

Saya tertarik dengan kata2 anda : kenapa kita dijaman ini sibuk mendikte orang – orang yg tdk satu persepsi dgn kita.
Jika saya memaksakan anda harus menerima argumen saya, dan jika anda tidak bisa menerima, saya akan hukum anda, mungkin anda bisa bilang saya mendikte anda.

Kata dictator/diktator berasal dari kata kerja dictate/dikte, orang yg hanya mendikte orang lain untuk melakukan/mempercayai apa yg dia yakini terlepas dari benar apa salah, tidak ada yg namanya perdebatan dan argumentasi, dan jika orang lain tersebut menolak, maka akan ada sanksinya.

Saya seperti kaffir pada umumnya. Saya tidak terlahir dengan membenci Islam. Saya pikir semua agama baik. Saya tidak membenci Islam karena propaganda kaffir akan ajaran Islam. Tapi saya membenci ajaran Islam karena saya mengalami langsung tindakan permusuhan dan rasialisme dari Muslim/ah yg ketika saya compare dengan ajarannya ternyata match dan hampir semua kaffir di FFI juga ternyata mengalami pengalaman yg sama dengan saya. Awalnya kami juga berfikiran sama seperti anda itu adalah oknum.

Apa yg kami para kaffir lakukan hanya menyediakan wadah website dan mengadakan ajang debat logis dan biarkan independent reader/judger yg menilai Islam. Tidak ada hukuman/sanksi apapun jika tidak ada yg percaya dengan informasi kami, Jika karena kami mengkritisi moral Muhammad dengan akal logika kami, anda merasa itu berarti kami mendikte Muhummad, silahkan anda belajar lagi definisi kata dikte.

Itu sebabnya saya menyukai ide untuk berdebat di internet yg bisa dibaca oleh semua Muslim dan non Muslim, semua orang pro/anti Muslim atau orang yg netral/independent yg tidak memihak siapapun. Anda boleh berkata kami tidak rasionalis, tapi so far setiap kali saya memberikan argumentasi saya untuk dibaca orang yg tidak anti Islam sekalipun seperti bos saya, beliau tidak bisa menyanggah argumen saya. Apakah ini berarti saya lebih jago dari bos saya? Ini hanya membuktikan indenpendent judger bisa menilai kami secara objektif dan mengerti jalan logika kami terlepas dari mereka sendiri mungkin tidak anti Muhammad.

Miss X wrote: Saya ingin mengekspresikan rasa kecewa saya krn setiap kali muslim mengangkat perbandingan antara ajaran Islam VS agama-agama sebelumnya, Mas Pop dan teman – teman akan berteriak menang karena sepertinya kami ini telah tersudut sehingga menggunakan agama lain sbg tameng. Saya berusaha untuk tidak menyinggung tokoh agama maupun agama manapun krn saya benar – benar fokus sbg muslimah yg mencoba mengklarifikasi kerancuan cara berfikir kafir thdp Muhammad tp bkn berarti saya tak mampu membeberkan semua kebobrokan agama lain, toh itu tak sedikitpun membuat Mas Pop bergeming terhadap tuduhan-tuduhan yg ditujukan pada Islam dan Muhammad dan itu sedikitpun tdk menguntungkan saya . Tentu Mas Pop akan sangat kaget atau berusaha menutup – nutupi seandainya saya beberkan bahwa ternyata di Perjanjian Lama ternyata ada catatan ttg praktek Pedophilia bahkan dgn bocah berumur 2 thn tp anehnya saya tdk melihat adanya kecaman mengenai hal itu. Belum lagi praktek incest, selingkuh dgn menantu, berhubungan sex dgn budak, bahkan praktek poligami yg dilakukan oleh Yesus anda meskipun anda akan membantah bahwa itu tdk terdapat dalam Perjanjian baru. Tp Mas Pop, saya akan tetap anggap bahwa agama anda itu baik krn saya yakin bahwa banyak hal – hal baik didalam agama anda yg membuat anda tetap bertahan menganutnya . Jadi, kita tidak perlu OOT kemana – mana. Jika Mas Pop dkk keberatan jika kebobrokan agama anda diperbandingkan dgn Islam…maka jgn pernah berharap bisa memperbandingkan kebaikannya dgn Islam. Itu adalah sebuah prinsip yg fair. Saya tidak bodoh Mas Pop.

I’m fully agreed anda tidak bodoh.
Namun blind faith anda menguasai nalar anda, dan pada akhirnya blind faith anda yg menang.

Saya tidak akan menutup2i case incest, berhubungan sex dengan budak di Bible di Old Testament, bahkan saya bisa tunjukkan ayatnya. Saya tau jelas ayat apa yg anda maksud dan saya akui praktek itu memang terjadi di Old Testament. Tapi so far saya belum pernah ketemu satu referensi sahih dalam Bible yg mengizinkan praktek pedophilia. Keep in mind saya berbicara Bible, bukan Talmud, bukan buku2 Yahudi yg lain yg sering digunakan Muslim2 untuk menyerang Kekristenan. Sumber sahih umat Kristen diseluruh dunia hanya satu : BIBLE.

Tenang aja, jika anda ingin membuat diskusi baru mengenai Alkitab, saya akan dengan senang hati melayani anda.
Saya tidak bermasalah dengan kebobrokan agama kami para kaffir diperbandingkan oleh umat Islam. Namun satu hal yg saya cukup bangga katakan bahwa so far kami para kaffir belon pernah menemukan satupun kejahatan kemanusiaan yg dilakukan oleh oknum manapun yg bisa mengatasnamakan mereka lakukan dengan mengikut sunnah Sidharta Gautama atau Yesus Kristus. Kalaupun ada, tidak ada Bible atau Tripitaka sahih yg bisa mereka gunakan no matter how hard they want to twist the verse.

Miss X wrote: Saya tdk menyebutkan bahwa analogi saya diatas telah mewakili ttg apa yg sedang kita bahas. Saya hanya memberi satu gambaran bagaiamana lingkungan memperngaruhi cara berfikir manusia dimana seorang manusia akan berlaku sesuai apa yg ditetapkan lingkungannya sbg suatu hal yg baik.

Karena berkembangnya pola pikir manusia, sehingga lahirlah istilah Pedophilia di abad 20. Begitu banyak hal – hal yg melatarbelakangi hal ini, salah satunya karena banyaknya anak – anak yg menjadi korban pencabulan orang dewasa disuatu negara x dan amazing…justru istilah ini muncul di negara mayoritas kafir dgn sample kasus Pedophilia murni dinegara tersebut dgn Yesus sbg teladannya. Dengan orang sekelas Confusius dizaman pra Islam dan Richard von Krafft-Ebing diabad ke 20-an, bagaimana terdapat rentang waktu yg begitu jauh hanya untuk merumuskan satu istilah yg disebut PEDOPHILIA, wat happened??

Para pedophil dulunya kemana aja??

Mas Pop, coba sedikit kritis dlm berfikir…jgn kuasai diri anda dgn kebencian yg buta. Didalam rentang waktu yg begitu lama selalu ada alasan dan faktor – faktor, yg secara langsung maupun tidak, menggeser norma – norma dan nilai yg berlaku dimasyarakat, baik itu menuju kearah yg lebih baik maupun tidak. Apakah faktor – faktor itu? Karena kita sama-sama tidak hidup dizaman Aisha, untuk meneliti lebih jauh mslh ini , yg bisa kita lakukan hanyalah membuat hipotesa sementara. Salah satu dugaan sementara dari saya adalah perubahan bentuk tubuh manusia, bukan dari kera menjadi manusia tp adanya perubahan bentuk tubuh dan pernyusutan. Nanti dulu kita urusin masalah ereksi… nanti Mas Pop jadi tegang (heheh…bercanda Mas)

Sebagai contoh, It is a common knowledge even though the majority of American is so called a Christian, tapi hukum negara mereka memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan sekuler. Di Amerika sekolah Kristen yg memaksakan non Kristen untuk berdoa ala Kristen sebelum kelas dimulai akan bisa dituntut secara hukum. Gay marriage,abortion diperbolehkan karena hukum mereka tidak berasaskan Kekristenan, tapi murni hanya pada logika sekulerisme. So apa yg hendak anda point out jika memang istilah ini muncul dari negara mayoritas pengikut teladan Yesus? Memang betul negara mereka mayoritas ngaku Kristen, tapi jelas negara tersebut bukanlah mayoritas pengikut teladan Yesus karena itu jelas cacat logika since Jesus never set any example like that dari sumber sahih Bible.

Para pedophil dari dulu ya disitu-situ aja neng. Masalah istilah itu baru dirumuskan beribu-ribu tahun kemudian ga ada hubungannya dengan moral.

Hahahaaha….iya boleh lah kita urusin ereksi lagi nanti. Saya takut bisa ga ereksi nih kalo ngomongin bocah cilik 9 tahun terus.
Bagaimana kalo kita ngomongin tubuh wanita dewasa aja biar saya ereksi ? hahahaha….becandain kamu juga ah

Miss X wrote: Hmmm…masalah bermain boneka, coba Mas Pop lihat artis –artis di TV yg masih setia mengoleksi boneka hingga dewasa, apakah itu bs menjadi ukuran kedewasaan atau indikasi kecilnya ukuran “V” seorang wanita? NO WAY..

Saya bukan salah seorang pendukung teori evolusi Darwin krn saya berpegang pada Alquran yg mengatakan bahwa manusia diciptakan dlm bentuk yang paling sempurna. Saya tdk sedikitpun mau mengakui teori bohong yg diciptakan orang2 kafir yg mengatakan manusia adalah sbg hasil mutasi kera, biar Mas Pop aj yg meyakini hal itu [ heheh..becanda.com ]

Sekarang gini aja, berhubung kita2 sama ga hidup di zaman Muhammad Aisha, berarti kita harus bermain statistika.
Hadits Sahih dengan jelas mencatat informasi dibawah:
1. Usia Aisha 6 tahun
2. Aisha main boneka dan ayunan.
3. Keterangan dari Penulis Hadits mengapa Aisha diizinkan bermain boneka.

Jika hal ini dipaparkan bagi independent judger, walaupun mungkin tidak semua menyetujui argumen saya, tapi jika kita maen persentase kemungkinan, lebih mungkin diterima mana pendapat saya yg mengatakan bahwa Aisha masih bocah cilik VS pendapat anda yg mengatakan dia sudah dewasa? Memangnya berapa sih umur artist2 yg anda kasih referensi itu?

Kami akan terkesan maksa jika memang Hadits hanya mencatat bahwa Aisha maen boneka and kami mengclaim Aisha bocah cilik.
Namun Hadits juga memberikan kami informasi umur. Dan bahkan dari referensi yg saya berikan diatas, si Penulis Hadits bahkan memberikan pendapatnya mengenai kenapa Aisha diizinkan bermain boneka agar AIsha tidak dipersalahkan atas dosa penyembahan berhala. Pendapat dari Penulis itu jelas=>Aisha masih belon reached the age of puberty, masih di considered anak kecil.

Miss X wrote: Apa yg disebutkan Iman Syafii dlm pengalamannya itu adalah mengenai suatu masyarakat disuatu tempat…bukan satu dua orang yg punya kelainan hormon. Ada satu hadist yg shahih yg secara tidak langsung menguatkan pernyataan itu :

Rasullulah berasbda : “Allah menciptakan adam dengan tinggi enam puluh hasta. Kemudian setelah Adam, makhluk itu semakin berkurang tingginya seperti sekarang ini“ (HR.Bukhari)
1
Jika : 1 hasta = 45,72 CM maka tinggi Nabi Adam kurang lebih 27 Meter 2

Lalu bandingkan dgn tinggi manusia saat ini yang maksimal 2 meter :
27 – 2 M = menyusut hingga 25 M ? ini teori evolusi ala Rasulullah ya, dari hadist terpercaya yg dapat dijadikan hujjah.

Dalam rentang waktu dari :
zaman Nabi Adam ? Zaman Muhammad ? Zaman kita
kita prediksi penyusutannya :
27 M? 27~2 M ( ? ) ? 2 M

Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu. Tidak usalah kita bandingkan dgn manusia dizaman Adam, ukuran tubuh saya ketika kelas 6 SD 15 thn yang lalu dan ukuran tubuh keponakan saya yg kelas SMP saat ini saja, sudah beda jauhnya apalagi zaman kakak2 saya, mereka lebih montok – montok lagi. So, kemungkinan saya lebih besar bahwa bentuk tubuh Aisha saat itu sdh sangat mampu membuat seorang laki – laki ereksi bahkan berkali – kali.

Sebelum anda buru2 mengatakan theory anda lebih masuk akal, ada baiknya kita analisa dulu claim anda.
Sangat menarik membaca cara debat anda yg sering meminta saya memberikan bukti/referensi kepada anda mengenai praktek pedophilia dianggap tidak normal zaman dahulu kenapa ga ada sanksinya/cemoohan dan lain tapi anda sendiri jarang memberikan saya referensi logis untuk claim anda.

PR anda yg sudah saya jawab:
1. Mengapa Muhammad tidak dikecam pedophile jika melanggar norma2 barbar=> Jawaban saya, Perbudakan zaman dahulu juga
adalah praktek biasa dan tidak melanggar norma2 zaman barbar, tapi apakah berarti perbudakan bukan tindakan keji dan immoral?

Sudah berulang2 saya jelaskan anda tidak bisa berharap banyak dari normanya zaman barbar, tapi oke lah jika anda masih tidak
puas, anggap aja ini PR anda buat saya, karena anda tetap insist saya harus memberikan satu referensi aja mengenai norma zaman
barbar yg mengecam tindakan Muhammad.

PR saya buat anda, yg saya dapatkan dari argumen anda, SAYA AKAN APPLIED STANDARD ANDA, tolong gunakan independent reference/sumber pengetahuan yg diakui oleh dunia, bukan buku agama:
1. Berikan saya referensi dari sumber sejarah independent bahwa memang ada penemuan dan pembuktian bahwa wanita
zaman barbar yg berusia 9 tahun sudah mempunyai bentuk fisik tubuh seperti layaknya wanita dewasa normal
2. Berikan saya referensi dari sumber arkeologi/sejarah independent bahwa memang ada penemuan tulang belulang manusia zaman
purba yg berukuran 27 M
3. Berikan saya referensi dari sumber independent HANYA DIBUTUHKAN NIAT/KECERDASAN bagi manusia dewasa normal untuk dapet
EREKSI dengan bocah 9 tahun di jaman barbar.

Yg percaya manusia yg namanya NABI ADAM itu hanya agama2 yg dari line ABRAHAMIC, independent reader bahkan ga percaya ada manusia ya namanya Nabi ADAM. Berhubung saya juga kebetulan Kristen, saya hanya mengimani Adam memang ada (dalam perdebatan logis, saya bahkan ga bisa maksa orang atheist untuk percaya argumen saya karena memang tidak ada bukti, that’s why kata2 yg saya gunakan adalah IMAN), tapi even Christian ga ada yg percaya Adam berukuran 27 M. Hanya Muslim aja yg percaya theory itu

Jika saya hidup di zaman Muhammad, saya juga bisa buat referensi ngasal bahwa kakek buyut saya yg bernama si Cecep bertubuh dengan tinggi 100 m, mampu ngesex dengan 1000 wanita dalam satu hari tanpa ada jeda waktu untuk istirahat, saya jadikan claim saya sebagai buku dan saya ajarkan pada orang2 yg kemakan ajaran saya. Tapi independent reader akan menganalisa apakah benar claim yg saya ajukan dengan kecerdasan berfikir mereka. So what is the point jika anda memberikan saya referensi dari kata2 Muhammad sendiri bahwa Adam berukuran 27 m?

Sekali lagi…ini ajang perdebatan dengan menggunakan argumetasi logis, bukan hanya ajang mamer2in referensi.
Sebanyak apapun referensi yg anda dan saya paparkan, jika itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara logis, itu yg dinamakan ajang mempertunjukkan kebodohan.

Apakah anda bisa terima referensi kitab dari Budhist yg mengatakan bayi Sidharta Gautama yg barusan lahir sudah bisa berjalan dan berbicara dengan bahasa manusia dewasa (bayi sakti)? Jika anda bisa terima, tolong jelaskan ke saya dengan menggunakan bukan hanya referensi tapi juga dengan logika berfikir. Anda sendiri loh yg mengagung2kan statement dari muslimah FFI => yg penting proses berfikir. Ayo tolong beri saya proses berfikir anda jika anda bisa terima referensi dari kitab suci umat Buddha. Standard anda dalam menilai Sidharta seharusnya juga sama dengan standard anda dalam menilai self proclaiming Muhammad akan Nabi adam yg ukurannya 27 m.

Miss X wrote: Sebelum memulai hubungan kali pertama, Rasul berpesan agar jangan terburu-buru. Alangkah baiknya dimulai dengan kelembutan dan kemesraan. Misalnya, dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. Sebagaimana hadis Asma’ binti Yazid binti as-Sakan r.a., ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah SAW. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk disamping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah SAW disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazin berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah SAW!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” (HR. Ahmad di kitab Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah)

Coba diperhatikan dgn seksama, sepertinya Aisha juga tau apa yg bakal terjadi padanya di malam pertama diusianya yg 9 thn. Apa ada sebuah kesan paksaan terhadap seorang anak kecil untuk melayani nafsu seks seorg lelaki tuadari hadist diatas ? Apakah menurut Mas Pop, jika ada bocah 9 thn zaman sekarang mengahadapi malam pertama apakah akan sama seperti Aisha menghadapinya ?

Sejak awal diskusi saya tdk pernah merasa mempermasalahkan apakah 6 apakah 9…wlpn nanti katanya 2, well wateverlah. Saya mengatakan hal itu slm rangka menampik kesesuaian predikat “Sang Pedophilia” pd Muhammad mengenai pernikahannnya dgn Aisha..dgn menuntut kejelasan standarnya. Toh dari tadi saya belum melihat Mas cukup berani mengakui bhwa standar yg Mas dkk pakai itu sebenarnya sangat dipaksakan.
Jika Mas Pop menggunakan baju alam anak muda yg modern…tentu Mas Pop tidak akan terima jika dianggap edan oleh orang tua Mas Pop yg bergaya ala A Rafiq di era 80-an. Begitu juga sebaliknya, tentu mereka gak akan terima dianggap bergaya ketinggalan zaman oleh Mas Pop khan?

Saya setuju dengan Anda, memang tidak ada paksaan terhadap AIsya. Aisyah adalah istri favoritnya Muhammad, MUhmmad mencintai AIsha melebihi istri2 lainnya, saya tidak menentang akan hal itu. Apakah pernah saya bilang Muhammad maksa Aisha ngesex dengannya?

Sekarang gantian anda yg perhatikan baik2 definisi pedophilia di wikipedia (atau sumber lain anda boleh cari):

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedophilia


As a medical diagnosis, pedophilia (or paedophilia) is typically defined as a psychiatric disorder in adults or late adolescents (persons age 16 and older) characterized by a primary or exclusive sexual interest in prepubescent children (generally age 13 years or younger, though onset of puberty may vary). The child must be at least five years younger in the case of adolescent pedophiles.[1][2][3][4] The word comes from the Greek: pa?? (paîs), meaning “child,” and f???a (philía), “friendly love” or “friendship,”[5] though this literal meaning has been altered toward sexual attraction in modern times, under the titles “child love” or “child lover,” by pedophiles who use symbols and codes to identify their preferences.[6][7] The International Classification of Diseases (ICD) defines pedophilia as a “disorder of adult personality and behaviour” in which there is a sexual preference for children of prepubertal or early pubertal age.[8] The term has a range of definitions as found in psychiatry, psychology, the vernacular, and law enforcement.

Sampai hari ini saya belum menemui referensi manapun yg menyatakan pedophilia harus ada unsur PAKSAAN

Lagian apa juga hubungannya juga dengan baju era 80 dengan gaya baju masa kini VS orientasi sexual zaman purba dan zaman sekarang? Cara anda menjawab untuk hal ini tidak ada bedanya dengan argumen anda sebelumnya mengenai standard zaman dahulu dengan standard zaman sekarang mengenai pernikahan dengan bocah cilik yg sudah saya jawab dalam argumen2 saya sebelumnya.

Gaya baju manusia bisa berkembang dan bisa berubah2 sepanjang masa. Tapi orientasi sex normal laki2 akan tetap sama dulu sekarang dan sampai selama2nya.

Miss X wrote: Saya beragama Islam sejak saya lahir kedunia ini dan saya sgt tau ttg Islam dan Muhammad…jauuhhh melebihi Mas Pop dkk. Jika Mas Pop hanya bisa menilai Islam dan Muhammad dari sampulnya, maka saya sudah menilai Islam dan Muhammad sampai ke daftar pustakanya. Begitu pula sebaliknya ketika saya mulai menilai agama anda dan para tokohnya. Justru karena kita sama – sama tdk hidup dizamannya, oleh sebab itu saya taupun Mas Pop tak perlu terlalu yakin kl tuduhan – tudahn Mas Pop beserta bumbu – bumbunya itu sdh pasti benar. Oleh sebab itu, gunakanlah hujjah yg benar untuk menguatkan tuduhan itu dgn logika yg masuk akal supaya tuduhan – tuduhan itu terlihat ada bobotnya.

Perasksian itu masalah iman dan itu tdk sama dgn pengadilan dunia. Tdk ada yg salah dgn kalimat syahadat itu kecuali jika berbunyi :

Saya bersaksi melihat Allah dan saya bersaksi melihat Muhammad, dan kami beriman karenanya.

Saya ini muslim bukan atheis atau agnostic pendewa akal dan logika. Jika anda dilahirkan yatim piatu dan tak pernah melihat ayah dan ibu anda sekalipun, bgmana anda bisa yakin kl anda itu punya orang tua yg melahirkan anda? Saya semakin yakin bahwa yg merasuki jiwa kafir itu hanya kebencian dan kebodohan krn sedari tadi, Mas hanya bisa menghina – hina dgn hujjah berupa dugaan – dugaan yg tdk jelas hubungannya. Cobalah tunjukan anda itu bukan sekelas netter yg biasa nyampah saja…wlpn selalu menggunakan bahasa keren tapi tak ada bobotnya..( mohon maaf Mas Pop )

Dear Miss X,
Dikarenakan anda tidak hidup di zaman Muhammad, so dengan cara apa anda mengenalnya? tentu dari referensi Hadits2 serta pustaka2 Muslim yg lain kan? So what dengan Anda yg sudah muslim sejak lahir?

Pengetahuan yg anda dapatkan either orangtua anda/ustad atau siapapun juga dari buku sejarah pustaka Islam. Selama kami para kaffir masih tidak buta huruf, apa yg anda pelajari juga bisa kami pelajari. Bagaimana anda mungkin lebih mengenal Muhammad dibandingkan kami ?

Yg berbeda antara kaffir dan muslim adalah cara kita dalam menganalisa referensi2 sahih muslim serta segudang buku pustaka lainnya.

Tuduhan2 kami menggunakan sumber sahih Muslim sendiri, kenapa anda tidak bisa terima kenyataan itu?
Jika ngomong pengalaman spiritual, mungkin Muslim bisa claim karena kalian somehow merasakan muhammad dalam doa kalian, mimpi kalian, hal2 mukjizat lain, sedangkan kafir tidak. Well itu adalah pengalaman anda yg tidak bisa dibuktikan dengan logika dan tidak valid dalam sebuah debat yg menggunakan logika.

Sekali lagi jika back ke argumentasi logis dan debat dengan akal sehat, tolong berikan bukti yg berbobot jika anda mengenal Muhammad lebih dari kami.

Mengenai tidak ada yg salah dengan kalimat syahdaat, terus terang selama saya belajar bahasa, saya belon pernah menemukan referensi yang mengatakan bahwa KESAKSIAN juga bisa diartikan IMAN. Tolong berikan saya independent reference yg bisa menguatkan argumen anda.

Jika saya lahir tanpa ayah dan ibu saya tentulah tidak sulit bagi saya untuk tau bahwa ada orang tua yg melahirkan saya. Karena seiring dengan saya bertumbuh besar, kecerdasan saya juga bertambah, saya akan melihat teman2 saya yg lahir dan punya orang tua, bahwa untuk lahir dibutuhkan persetubuhan antara laki2 dan perempuan.Akan beda ceritanya jika anda bertanya kepada saya, darimana saya bisa tau siapa orang tua asli saya.

Adalah hak anda jika anda beranggapan saya hanya netter sekelas sampah. Tapi silahkan anda kumpulkan semua email2 dari kita berdua dari awal hingga hari ini, anda print dan berikan kepada independent reader (non Muslim, non Christian, yg tidak bela agama manapun). Anda lakukan pooling penilaian mereka atas jawaban anda dan jawaban saya. Jika memang ternyata argumen anda yg memenangkan pooling, feel free to say anything you want about me. Saya merencanakan untuk melakukan pooling ini untuk introspeksi diri saya sendiri apakah saya memang hanya netter sekelas sampah seperti yg anda katakan. Dengan pooling tersebut, kita bisa menunjukkan siapa sebenernya yg nyampah disini.

Saya sudah mulai terbiasa dikatakan netter sampah dan bodoh dari Muslim setiap kali saya menghina Muhammad (walaupun saya tidak pernah mengatakan logika netter lain bodoh jika mereka menghina Yesus). Saya tidak menampik saya akan emosi jika orang lain menghina saya, tapi jika orang lain menghina dan menjelek2an Yesus (walaupun tentu saya akan sedih), kenapa juga saya harus tuduh orang lain bodoh dimana pada kenyataanya memang saya tidak bisa menjelaskan semuanya secara logis tentang Yesus. Itulah yg saya berasa aneh dari kalian Muslim. Cinta kalian terhadap Muhammad membutakan kalian semua dan kalian rela untuk mengatakan orang lain bodoh, tidak berotak, ngucapin sampah, padahal yg kami kritik itu Muhammad, bukan kalian (dengan bukti2 dari Hadits sahih kalian sendiri DAN dengan argumentasi, bukan cuman sekedar kritik doang). Itulah yg namanya fanatisme blind faith.

Miss X wrote:Jelaskan dulu, mau pakai standar apa?

Standard logika yg tidak perlu harus menjadi Muslim, Buddhist, Christian atau penganut agama manapun untuk bisa mengerti penjelasan anda, yg dibutuhkan hanya akal sehat.

Miss X wrote:Saya setuju bahwa perlu ada seorang independent judger yg bisa menilai dgn lebih objektif ttg permasalahan yg kita sedang diskusikan, tp pertanyaannya siapa ? Dlm sebuah pertandingan piala dunia, juri yg dipilih tdk pernah berasal dari salah satu dari 2 negara yg bertanding. Brrti dlm hal ini yg seharusnya mjd independent judger itu adalah org yg sama sekali tdk beragama. Tp dikarenakan keyakinan ISLAM yg benar itu VS semua agama dan kepercayaan (termasuk atheis dan agnostic) bahkan dari internal Islam sendiri, berarti independent judger yg anda bilang itu sbnrnya tdk pernah ada jika kita memadang suatu permasalahan berdasarkan kepercayaan masing – masing.

Dalam diskusi ini saya sangat berusaha untuk tdk menggunakan link – link berbau Islam , itupun kl anda jeli memperhatikan. Saya juga bnyak menggunakan pendapat – pendapat dari pakar2 sosiologi seperti Talcot Parson dan MJ Lawang. Mereka tdk ada urusan dgn agama dan mereka juga buka orientalis atau kafir pro Islam…tp pendapat – pendapat mereka saya gunakan sbg pijakan saya dlm berargumen. Jd, saya rasa saya sdh menggunakan judger yg paling independent yg tdk bersangkut paut dgn agama.

Kita sedang berargumentasi secara logis, jadi logika yg kita gunakan harus bisa diterima oleh orang agnostik, atheist dan pemeluk agama manapun selama otak mereka masih sehat dan mengerti artinya perdebatan logis. Mao kaffir tersebut pro Islam atau anti Islam, jika memang argumennya masuk akal, akan saya terima. Jika argumennya ga logis, biarpun anti Islam sekalipun tidak akan saya gunakan sebagai referensi.

That’s why ketika anda tanyakan saya standard apa yg hendak digunakan, saya dengan santai jawab standard logika yg ga perlu jadi Muslim, Budhist, Christian atau pemeluk agama manapun.

Saya setuju dengan anda independent judger itu ga pernah akan ada jika kita memandang dari kepercayaan kita masing2. Dan pengertian argumentasi logis adalah kita beradu-argumentasi dengan logika kita, bukan dengan sentimen kepercayaan. Itu sebabnya jika kita ingin beragumentasi secara logis untuk membela agama kita, gunakanlah logika dan research, bukan hanya ajang mamer2in referensi. Ayat2 dalam kitab suci kita (mau dari agama manapun) tidak akan berarti apa2 jika itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara logis dalam argumentasi yg menggunakan akal logika.

Saya sendiri juga mengakui even though saya beriman dengan Yesus, tapi tidak semua pertanyaan tentang diriNya bisa saya jawab dengan argumentasi logis. Pendiri FFI international ALi Sina sendiri pernah mengeluarkan statement Yesus itu hanya mitos, mukjizat Yesus hanya claim kosong orang Kristen, namun ia tidak bermasalah dengan siapapun yg nyembah apapun, batu sekalipun selama kepercayaannya tidak membahayakan hidup orang lain. Saya sebagai Christian ga maksa berdebat dengannya, bahkan saya tidak menganggap hal itu sebagai suatu hinaan selama memang saya tidak bisa membuktikan secara logis, demikian juga umat2 Kristen yg lain.

Inilah yg saya aneh dari para muslim pecinta MUhammad. Mereka ngakunya bukan pendewa akal logika, tapi maksa untuk ngadu debat secara logis dan ngotot harus menang dalam perdebatan menggunakan logika. Kalo udeh nyenggol Muhammad, apapun yg ngaco juga harus jadi benar.

Miss X wrote:Mas Pop benar, My faith is blind in ur opinion…but ur faith is blind too in my opinion… so, do u agree if I tell u that all faith make people blind? Sebenarnya kita tidak buta, hanya saja org yg menganggap kita buta menutup mata untuk menerima apa yg kita yakini. Saya tidak mau menerima alasan kenapa anda mempertuhankan manusia dan andapun tdk mau menerima alasan mengapa muslim mencintai Muhammad dgn segudang kontroversinya. Tp itulah keyakinan… tdk ada yg mengetahui mengapa kita meyakini sesuatu melebihi diri kita sendiri. Seharusnya tdk perlu permasalahkan dgn claim “paling benar” krn yg terpenting adalah kita telah mengikuti apa yg menurut kita paling benar.

I’m totally agreed with you, my faith is also a blind faith, that’s why saya ga pernah maksa beradu argumentasi dengan para agnostic, atheist, dengan siapapun selama perdebatan dengan menggunakan referensi saya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara logis, dan seperti saya singgung sebelumnya, saya bahkan akui tidak semua hal yg bisa saya jelaskan secara logis mengenai iman saya dengan Yesus. Manusia ga bisa hidup hanya dengan mengandalkan logika.

Saya bahkan tidak bermasalah jika Yesus dihina, dikoreksi secara logis. Dan saya akan akui jika memang adu argumentasi dari lawan debat saya (mau apapun latar belakang kepercayaannya) jika common sense argumennya masuk akal. Berbeda banget dengan muslim2 yg ngeclaim Islam yg terhebat, sumber dari semua pengetahuan, namun ketika debat, sering menggunakan argumentasi yg bisa membuat orang yg masih waras tertawa terpingkal2.

Miss X wrote: Diawal saya menanyakan kpd Mas Pop, dizaman Muhammad dan sesudahnya adakah orang yg complain, baik dari sahabat maupun musuh2nya, mengenai keputusan beliau untuk menikahi gadis berusia 9 thn..mesti Mas Pop tau bahwa saya mengajukan pertanyaan ini bkn dalam rangka mengadakan pembenaran thdp apa yg Mas Pop sebut Pedophilia [dgn norma dan nilai yg saya anut saat ini tentunya] tp dikarenakan saya sangat menyadari bhwa kita berdua sama – sama tdk hidup dizaman Rasulullah begitupun Bukhari dan Muslim… jadi saya rasa penting untuk mengumpulkan adanya bukti – bukti empiris yg menyatakan bhwa perbuatan tsb adalah sebuah tindakan asusila sehingga Muhammad tdk pantas disebut sbg teladan, dan saya rasa saya telah mengatakan ini berulang – ulang. Jika Bukhari meriwayatkan usia Aisha yg 9thn saat dinikahi dgn suatu keterangan bhwa beliau itu msh belum dewasa…itu sama sekali tdk membuktikan bahwa Aisha itu belum bisa membuat pria ereksi. Pendapat pribadinya itu tdk bs dijadikan hujjah sehingga masih berpeluang adanya khilafiah dikalangan ulama.


Sahih Bukhari
Narrated ‘Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl friends also used to play with me. When Allah’s Apostle used to enter they used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at that time, as she was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

‘A’isha (Allah be pleased with her) reported that Allah’s Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen years old. [Sahih MUslim 8:3311]

Dari 2 sumber sahih yg diakui Muslim diatas saja sudah jelas bahwa Aisha was only a little girl, not even yet reached the age of puberty. Pada saat married dengan Nabi tercinta anda, AIsha masih bawa bonekanya dan tidak dianggap melakukan pelanggaran penyembahan berhala karena dia masih bocah cilik. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan pada anda orientasi sex normal laki2 ga mungkin berbirahi dan ngesex dengan bocah cilik dan hal itu berlaku sepanjang masa, Bukti apalagi yg anda inginkan ?

Jika pendapat pribadi Sahih Muslim yg masuk akal aja tidak bisa anda terima, kenapa juga anda ingin saya menerima norma2 barbar yg tidak mempermasalahkan tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah cilik 9 tahun ?

Miss X wrote:Pengendali sosial ( Social Controlling ) adalah salah satu upaya masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai positif agar tidak dilanggar. Ini merupakan suatu wujud reaksi ketidaknyamanan akibat defisiensi moral yg dilakukan oleh seseorang atau sekelompok org. Dgn kata lain, jika salah satu saja dari alat – alat pengendali sosial itu diberlakukan [ contohnya gosip dan cemoohan] maka itu mengindikasikan adanya pelanggaran nilai dan norma dimasyarakat baik internal maupun universal. Meskipun Mas Pop berdalih tdk mudah mendapatkan referensi mengenai keasusilaan seorang pedophilia dgn alasan bahwa appn yg berhubungan dgn wanita itu tdk mendapatkan perhatian khusus sehingga mslh ini diabaikan karena kebar-baran pola pikir manusia zaman dulu, tetap saja untuk melontarkan suatu tuduhan..kita perlu bukti. Baik, anggap saja Bukhori dan para salafus shalih adalah pengikut “ABS” alias Asal Bapak Senang, tapi musuh-musuhnya tdk akan berbuat demikian bukan? Turunlah ayat Alquran yg menghapuskan budaya masyarakat Arab yg menganggap haram menikahi mantan istri anak angkat. Issue ini dikupas tuntas didalam periwayatan hadist.. bagaimana Abdullah Bin Ubay menggunakan senjata ini untuk menghembuskan fitnah sehinnga banyak kritik2 yg dilontarkan pd Muhammad, detail tanpa ada yg ditutupi. Ini menjadi bukti betapa menikahi Zainab merupakaan suatu cela dimata masyarakat sehingga kasak – kusuk yg beredar dimasyarakat sngt berpotensi mengancam reputasi Muhammad seandainya tdk ada ayat yg turun untuk mengclearkan mslh ini. Lalu kenapa kritik thdp pedophilia ini tdk satupun tercatat dalam sejarah Muhammad? Saya tdk meminta banyak hanya bukti, semua yg menyangkut Rasulullah itu pasti bisa anda dapati dlm periwayatan hadist tanpa perlu mencari referensi dari zaman pra Islam… tdk perlu menerka-nerka atau membuat sebuah asumsi tanpa pinjakan. Jika sampai tdk bisa anda temukan, maka berarti anda belum bisa membuktikan appn dan tuduhan ini hanyalah sebatas sentimen golongan semata.

Anda boleh katakan saya berdalih, tapi mari kita kaji claim Islam akan Nabi anda :

Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow. For a Muslim to suggest otherwise (thereby conceding that Muhammad’s actions are immoral when compared to today’s standards) would constitute apostasy via blasphemy in belief[12] and would make them liable for the death sentence under Islamic laws.

Nabi anda itu dikatakan, the perfect human, whose example is worthy of imitation dan bilang his morality as sublime and perfect example to follow. Klaim sesumbar ga tahan ini menjadi ajang pertanyaan semua orang yg masih waras otaknya. Anda terus menerus meminta kami jangan compare tindakan Muhammad dengan standard zaman ini dikarenakan Muhammad adalah product dari zamannya so dia hanya terikat oleh moral pada zamannya. Masalahnya Quran sendiri bilang dia itu manusia sempurna, moralnya beyond the contstraint of time, sungguh ga tahan banget sombongnya claim ini, so apa yg aneh kami mencoba mengcounter Quran dengan membandingkan dengan standard zaman ini?

Seandainya tidak ada omong besar dari Quran akan kehebatan moral dan kesempurnaan MUhammad serta tindakannya yg katanya berlaku untuk sepanjang zaman, mungkin saya masih akan mempertimbangkan argumen anda yg meminta kami untuk tidak menjudge dirinya dengan standard zaman ini.

Mengenai masalah haram menikahi mantan istri anak angkat, tolong berikan saya referensi yg menunjukkan Muhammad menikahi mantan istri anak angkatnya. Karena setahu saya, kronologisnya adalah Muhammad yg mu-peng/naksir duluan terhadap Zainab dan Zainab laporkan kepada Zaid. Setelah itu ga ada angin dan ga ada ujan tau2 Allah Islam membuat Zainab tidak menarik lagi bagi Zaid, yg pada akhirnya mengakibatkan Zaid menceraikan Zainab.

Tabari VIII:4
Suatu hari Muhammad pergi mencari Zayd. Ada satu penutup kain di atas lubang pintu, tetapi angin mengingkapkan tirai itu sehingga lubang pintu terbuka. Zaynab berada di kamarnya, telanjang, dan kekaguman terhadapnya memasuki hati Nabi. Setelah itu Allah membuatnya tidak menarik bagi Zayd.

Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa IA BERSEDIA MENCERAIKANNYA. Lalu kata Nabi kepadanya:
“Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah.”
Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.Kemudian IA DICERAI.

Miss X wrote: Tdk hanya perbudakan, bahkan zina dan mengubur anak perempuan hidup – hidup di Arab, bunuh diri di Jepang, dan kanibalisme di daerah pedalaman saja bisa diterima jika mmg itu adalah nilai dan norma yg telah disepakati bersama sbg suatu budaya dan jalan hidup. Kita tau bahwa zina dan alhkohol itu tdk bermoral, tp orang – orang barat yg kental dgn hal – hal yg berbau keduniawian (hedonisme)dan menjunjung tinggi kebebasan menganggap freesex bknlah pelanggaran moral tp nilai yg mereka anut itu tdk berlaku bagi orang – orang Timur yg kental dgn hal – hal berbau ketuhanan yg sangat mengecam perzinahan dan alkohol. Lalu keabsolutan definisi moral dlm pandangan anda itu apakah berlaku dlm kasus ini? Nilai itu undifined berarti moralpun tdk punya kriteria pasti dan ternyata andapun sependapat dgn saya.

Jadi apakah salah jika saya bilang mengubur anak perempuan hidup2 di Arab adalah tindakan immoral baik zaman dulu maupun zaman sekarang?

Jika mengikuti standard anda, berarti orang zaman dahulu tidak terikat dengan norma zaman sekarang, maka => adalah sah dan bermoral saja jika tindakan mengubur anak perempuan hidup2 di Arab yg dilakukan oleh orang2 yg hidup sebelum zaman Muhammad. Sungguh menggelikan bukan?

Bahkan kanibalisme pun anda katakan OK selama norma zaman itu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sungguh saya tidak habis pikir kenapa anda begitu kekeh menggunakan norma dalam argumentasi logis kita. Sepertinya Kanibalisme pun terlihat indah di mata anda jika norma jaman dulu tidak mempermasalahkan hal tersebut. All in the name of NORM.

Norma bisa berubah sepanjang zaman, namun standard moral dan orientasi sex normal laki2 akan tetap bisa di-apply DULU, SEKARANG, DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA.

Walaupun tradisi mengubur anak perempuan di Arab bisa diterima jika itu telah disepakati oleh norma/budaya, namun bukan berarti tindakan tersebut adalah hal yg bermoral, itu hanya menunjukkan budaya barbar masa lalu. Saya sudah berulang2 kali menjelaskan jika praktek pedophilia tidak dikecam in ancient times, bukan berarti hal tersebut adalah hal yg bermoral. Apa sih yg bisa anda harapkan dari norma2 zaman barbar? Hanya segelintir orang2 seperti Rufus dari Roma yg menghargai harkat dan martabat perempuan di era barbar.

Siapa bilang alkohol itu hal yg tidak bermoral ? Minum alkohol adalah salah satu cara untuk menghangatkan tubuh di negara2 bermusim dingin.
Minum alkohol tidak selalu mengakibatkan mabuk as long individu yg meminumnya ngerti yg namanya self control. Tolong jangan bawa2 budaya Timur mengenai alkohol itu haram, hanya Muslim aja yg percaya hal itu. Kami para kaffir dari negara Timur tau dampak dari minum alkohol secara berlebihan dan masuk akal jika hal itu diharamkan, dan even negara2 non Muslim masa kini aja ada pengecekan jam malam untuk setiap driver yg meminum alkohol melampaui batas. Hanya muslim yg totally mengharamkan minum alkohol berapapun dosisnya.

Miss X wrote:Bukankah benar bahwa sepenuhnya agama tdk bisa disalahkan karena mayoritas ?? Semua tergantung ideologi.

Benar. Itu sebabnya yg kami kaji adalah Islam teaching yg di-compared dengan tindakan2 dari Muslim. Ternyata banyak yg selaras.

Miss X wrote:Hmm…pertanyaan yg bagus dan saya balik brtanya pada anda jika meminum alkohol menimbulkan sebuah dosa kefasikan ketika Muhammad diperintahkan untuk mengharamkan muslim untuk meminumnya, apakah hukum tersebut berlaku untuk orang – orang sebelumnya yg tdk tau bahwa alkohol itu haram ? Tentu tidak, sdh saya katakan bhwa nilai dan norma itu dibuat atas kesepakatan bersama sehingga menjadi sebuah jalan hidup. Dizaman ini, kita bisa mengatakan bahwa menikahi gadis berusia 9thn itu amoral dan saya setuju akan hal itu…tp itu hanya berlaku setelah hukum itu diciptakan dan tidak berlaku bagi Muhammad. Jika kita gunakan standar moral kita untuk menilai orang2 zaman dulu…maka tentu mereka adalah mayoritas manusia tak bermoral.

Sekali lagi hanya Muhammad dan pengikutnya yg cinta mati dengan dirinya yg beranggapan itu dosa kefasikan dan totally nge-banned alcohol. Sudah saya jelaskan sebelumnya, dalam takaran yg wajar, alcohol sendiri banyak gunanya, salah satunya adalah menghangatkan tubuh dari cuaca yg extreme dingin. Anda bisa searching sendiri referensinya di google dengan keyword : what is the benefit of drinking alcohol, dan anda akan temukan manfaat lain dari alcohol selama diminum dalam batas yg normal.

Kembali saya ingatkan kepada anda:
Muhammad is the “uswa hasana, al-Insan al-Kamil” (the perfect human, whose example is worthy of imitation). The Qur’an even refers to his morality as “sublime” (Qur’an 68:4), and as the Qur’an is believed by Muslims to be the literal and final words of God, they are beyond the constraints of time. All Muslims consider Muhammad to be the perfect example to follow.

Benar kata pepatah: padi itu semakin berisi semakin nunduk. Semakin besar claim besar dan omong besar dari Quran akan Muhammad, semakin besar pula responsibilities yg dia harus tanggung. Tong kosong emang nyaring bunyinya.Jika dia memang perfect human, sudah seharusnya semua tindakannya bisa ditiru dan diapplied di segala zaman.

Kalo anda tetep insist mengunakan argumen Muhammad adalah product pada zamannya dan hanya terikat pada norma zamannya, silahkan anda pelajari kembali kata uswa hasana, al-Insan al-Kamil => PERFECT HUMAN WHOSE EXAMPLE IS WORTHY OF IMITATION.

Miss X wrote:Saya akan terus mengulangi bahwa saya tdk pernah mempermaslahkan berapa umur Aisha saat dinikahi dan jangan memaksa saya untuk mempermasalahkannya. Hadist itu shahih berasal dari Bukhari dimana tdk ada satupun ulama yg meragukan kesahihan hadist2 yg beliau riwayatkan, lalu man anayg ingin mengoreksi sesorang yg sgt wara’ dan kompeten dlm periwayatan hadist seperti beliau? Sudah saya katakan sebelumnya…ketika saya menerima hadist2 yg baik mengenai Rasulullah dari Bukhori maka berarti sayapun harus menerima hadist2 ttg beliau yg tdk sreg dihati saya. Tp bukan berati saya ini pengekor, tp saya meyakini satu hal..ketika Allah mengatakan dia adalah sbg suri tauladan, maka saya meyakini bahwa dirinya tiada cacat sehingga saya mencari an explanable reason yg pasti melatarbelakangi setiap tindakannya. Saya bertuhankan Allah bukan Muhammad.

Adakah dari argumen saya yg stated bahwa Anda mempermasalahkan hal tersebut?
Saya tau jelas anda golongan Muslim yg tidak mempermasalahkan umur 9 tahun Aisha diembat oleh Muhammad, itu yg menjadi ajang perdebatan panjang lebar kita hingga saat ini kan ?

Mengenai statement anda yg berkata anda tidak bertuhankan Muhammad, Pernahkah anda menemukan kafir masa kini (dari agama manapun) yg akan membunuh/mengeluarkan fatwa kematian bagi orang yg menghina Nabi besarnya?

Anda boleh katakan itu oknum, tapi jika itu memang oknum, sungguh kami para kaffir geli, kok bisa ya banyak umat Islam yg masih mewarisi culture barbar zaman kuno. Kalian sibuk menyanggah kami yg menghina Muhammad, tapi jarang ada yg sibuk ngurusin sodara2mu sekelas FPI dan temen2nya yg bahkan bisa membunuh sodara Ahmadiyah mereka sendiri hanya dikarenakan mereka tidak mengakui Muhammad sebagai the last prophet. Apapun yg menyangkut Muhammad jika diperdebatkan secara publik, selalu ada ancaman kematian. Sungguh saya berdoa biar semakin banyak muslim yg elite otak dan baik akhlaknya.

Sayangnya doa saya tinggal doa, pada kenyataannya, di negara manapun (terutama negara penganut Syariah), selalu setiap ada tindakan either menghina Muhammad, membakar Quran, sodara2 seimanmu diseluruh dunia (bukan cuman di Indonesia) akan demo gila2an, ga jarang2 keluarin fatwa kematian, serta aksi2 demo yg berdampak korban kematian. Semua ini hanya dikarenakan satu hal : MENGHINA MUHAMMAD. Dan yg mengeluarkan fatwa ini bisa membela diri dengan ayat2 Hadits/Quran, luar biasa bukan ?

Jika kalian mengaku bertuhankan Allah bukan Muhammad, kenapa harus ngamuk dan membabi buta jika ada yg ngejelekin Muhammad? toh dia hanya manusia? Christian masa kini yg nge-claim Yesus sebagai Tuhan aja ga akan bunuh orang jika ada yg bilang Yesus bukan Tuhan. Kalimat syahadat dan doa2 kalian aja harus bawa2 nama Muhammad. Kalian memperlakukan Muhammad hampir setingkat dengan Tuhan.

Miss X wrote:Hmm…jika anda hanya perlu melontarkan tuduhan pedophilia berdasarkan hadist sahih Bukhori tanpa mampu membuktikan referensi2 yg saya minta sbg bukti, kenapa anda memungkiri teori yg saya buat dari hadist shahih yg berasal dari orang yg sama. Sudah jelas khan angka 60 Hasta, sama jelasnya dgn angka 9 dihadistnya… kenapa perlu penjelasan ? Jgn lupa, referensi kita sama – sama sahih dan saya tdk memungkiri angka 9 seperti anda memungkiri angka 60.

Saya sangat mampu untuk membuktikan apa yg saya katakan dgn logis…but its unfair. Selalu anda meminta penjelasan dan bukti pada saya tanpa ada feedback. So, saya sangat menunggu sesuatu yg sangat WAW dari argumen anda yg benar – benar tak bisa saya bantah..tp sampai saat ini saya belum membacanya.

Referensi anda memang sahih, tapi mari kita flashback argumentasi kita di email2 kita sebelumnya:

Pop eye => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Nabi Muhammad memang ngesex dengan bocah 9 thn yg bahkan belon reach the age of puberty.

Analisa=> Memang praktek ngesex dengan bocah kecil terjadi di masa lalu bahkan di negara non Muslim sekalipun, salah satunya pernikahan in ancient times, the minimum age of getting married was 12 (

http://en.wikipedia.org/wiki/Marriage

). Jika zaman dulu ancient Roman menerapkan minimum age of 12, jadi ga gitu aneh jika peradaban sekelas Arab tidak bermasalah dengan ngesex dengan bocah 9 tahun (walaupun sekali lagi tidak lazim tua bangka 54 tahun ngesex dengan bocah 9 tahun even di masa Muhammad sekalipun).

Dengan dasar logika itu maka Pop eye berkesimpulan bahwa referensi sahih Muslim ini memberikan informasi bahwa memang praktek nikahi bocah cilik 9 tahun tidak dipermasalahkan di zaman Muhammad, dan informasi sahih Muslim ini bisa dianggap valid, karena ada common sensenya, validitas angka 9 tahun ini bisa dipercaya dikarenakan tidak terdapat perbedaan yg mencolok antara 9 thn dan 12 thn in ancient time culture

Miss X => Menggunakan referensi sahih, quote bahwa Muhammad berkata : Nabi Adam tingginya 27 m (60 hasta)

Analisa => tidak ada analisa, hanya menggunakan referensi sahih. Tidak pernah ada penemuan purbakala yg pernah menunjukkan manusia dengan tinggi 27 m

Referensi sahih memang mengutip bilangan 9 dan 60 hasta, namun apakah anda bisa berargumentasi dengan menggunakan logika yg bisa diterima oleh orang waras adalah perkara yg lain.

Terus terang saya agak bingung dengan cara berdebat anda. Ketika saya menantang anda untuk membuktikan saya normal/tidak normal dalam kasus pedophilia, setidaknya saya melakukan 3 hal berikut :
1. Saya adalah pelaku active, dan saya sama sekali tidak bisa ereksi ketika pantat anak perempuan temen saya yg berusia 6 thn mengenai penis saya, mao saya NIATIN maupun engga.
2. Saya lakukan research dengan bertanya kepada laki2 normal lainnya, dan mereka juga mengalami hal yg sama.
3. Saya cari sumber referensi dari artikel/buku dari sumber independent/ilmu pengetahuan untuk membuktikan argumen saya, dan ternyata memang ereksi terhadap bocah cilik adalah hal yg tidak normal, itu sebabnya muncul istilah pedophilia.

BANDINGKAN DENGAN YG ANDA LAKUKAN
1. Demi membela Nabi tercinta anda, anda bahkan tidak bermasalah dengan praktek kubur anak perempuan hidup2, kanibalisme selama norma zaman tersebut tidak melarang akan hal tersebut. Dengan dasar tersebut, anda minta saya menunjukkan norma masa Muhammad yg mencemooh atau melarang pedophilia.
2. Demi membela Nabi tercinta anda, anda tunjukkan referensi yg katanya sahih bahwa AIsha walaupun 9 tahun tapi sudah bertubuh seperti wanita dewasa. Anda berikan argumen bocah cilik2 zaman sekarang juga udeh montok2 tubuhnya, tapi sayangnya laki2 normal zaman sekarang ga ada tuh yg tertarik dengan referensi bocah2 cilik yg anda paparkan.
3. Untuk membuktikan claim anda lagi, dengan referensi yg sahih, anda quote kata2 Muhammad yg stated kalo tinggi nabi Adam segede Dinosaurus (27 m)
4. Dan yg lebih luar biasa lagi, tanpa ada pengalaman pribadi, tanpa ada research, tanpa ada referensi independent ilmu pengetahuan, justru beban pembuktian anda berikan kepada saya (saya quote lagi kata2 anda: Tentu teori saya lebih masuk akal kecuali jika Mas Pop bisa membuktikan bahwa Nabi Adam memiliki kelainan hormon sehingga dia bisa setinggi itu)

Mao se-WOW apapun argument logis yg saya berikan, jika nalar anda sudah dikikis oleh rasa cinta mati anda terhadap Muhammad, maka tidak ada argument apapun yg akan memuaskan anda.

Miss X wrote:Apa anda sendiri pernah melihat YESUS, atau BAPA, atau Roh Kudus yg membuat anda percaya bahwa anda punya Tuhan ??

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Miss X wrote:Kl tdk ada paksaan berarti bukan pelanggaran seksual. Lah wong mereka sama-sama suka, kenapa Mas Pop yg sibuk ? Polisi aj gak bisa menuntuk pelaku pemerkosaan jk yg diperkosa itu ikhlas. Lalu apa masalahnya?

Syekh Puji menikahi Ulfa, juga sama2 suka, bahkan keluarga Ulfa membela si Puji mati2an, kenapa muslim2 masa kini juga sibuk dan mengatakan itu melanggar hak perlindungan anak ? Apa masalahnya?

Keep in mind bukan hanya kami aja yg teriak2 tindakan pedophilia dari Syekh Puji, sodara/i muslimmu juga banyak banget yg mengutuk tindakan itu.

Syekh Puji jelas lebih consistent dari sisi Islam, berani berkata ia tidak bersalah secara Islam karena Muhammad saja menikahi Aisha pada usia 6 tahun.

Semakin terbukti pemikiran para kafir, kalian hanya bisa objektif jika segala sesuatu tidak berhubungan dengan Muhammad. Jika Muhammad yg jadi taruhannya dalam ajang perdebatan logis, kalian akan ngamuk2 layaknya cacing kepanasan no matter how similar the act of Muhammad with the other offender like Syekh Puji.

Jika anda hanya menggunakan paksaan sebagai parameter benar tidaknya sebuah tindakan, akan banyak penjahat yg bisa bebas. Penipu yg jual barang tipuan (mis: barang buatan China yg dijelek diclaim buatan Japan yg tahan banting) juga merayu dan menipu si konsumen, dan customer yg termakan bualannya dengan rela membeli barang tipuannya, tidak ada unsur paksaan. Sungguh saya penasaran seperti apakah reaksi anda jika suatu hari ada tua bangka 54 tahun yg berhasil ngesex dengan anak perempuan anda yg berumur 9 tahun, dan ternyata anak anda juga enjoy dan seneng dengan tua bangka tersebut.

Miss X wrote: Mas Pop, saya gak bilang loh kl itu maksudnya orientasi seksual lelaki #-o
Kenapa sih Mas Pop kog mikirnya kesitu – situ aja.. [-(

Anda berusaha dengan segala cara, salah satunya dengan memberikan contoh gaya baju yg berbeda dari zaman ke zaman untuk membenarkan tindakan Nabi tercinta anda yg ngesex dengan Aisha si bocah 9 tahun yg tidak bertentangan dengan norma zaman itu.

Terus apanya yg aneh jika saya counter anda dengan orientasi seksual laki2 normal ?

Orientasi sex laki2 normal yg tidak akan berubah sepanjang zaman adalah argumentasi logis saya untuk counter mindset anda yg berfikir bahwa pedophilia hanya dibatasi oleh norma zaman ini.

Miss X wrote:Mas Pop… saya yakin anda tau bahwa salah satu alasan kenap seseorang itu memerlukan agama (sesuatu yg diyakini) krn banyaknya kelemahan dalam diri manusia yg diluar batas kemampuannya. Seorang agnostic atau atheis boleh menganggap logika sbg dewa tapi mreka juga tdk dapat hidup tanpa sebuah keajaiban yg tdk bs mereka jelaskan, apa yg mereka yakini itu hanyalah sebuah kesombongan pdhl mereka bahkan tak mampu menjelaskan kenapa langit ini tak bertiang. Saya yakin bahwa seorang atheis atau agnostic sungguh memelukan DOA ketika mereka berada diambang kematian…Tp Mas Pop, apa yg sdg kita bicarakan ini bkn tentang hal – hal berbau ghaib maka sdh tentu saya menggunakan 100% logika saya. Saya tidak “pamer referensi” seperti kata anda, tp saya mencoba untuk tdk “ngawur” memenuhi diskusi ini dgn pendapat2 subyekif saya dan saya juga telah memenuhi janji saya untuk memandang mslh Pedophilia ini dr sudut yg berbeda yaitu sosiologi dimana anda memandang ini sbg defisiensi moral Muhammad sbg Nabi, bkn sentimen kepercayaan yg saya yakini bahwa kita berdua tdk akan menemukan titik temunya. Saya rasa tdk berlebihan jika saya hanya meminta bukti sebuah referensi yg menguatkan dugaan anda bhwa beliau ini tdk bermoral dgn terlebih dahulu meneliti sikon yg melatarbelakangi suatu sejarah. Tapi anda sepertinya menganggap hal ini adlah sbg sesuatu yg tdk logis. Seperti yg anda bilang, meskipun perbudakan tdk akan pernah bisa dianggap bermoral, tp bagi saya hal itu bisa diterima jika situasi dan kondisi mmg tdk mendukung seseorang untuk tdk memperbudak atau diperbudak orang lain. Saya harap Mas Pop bisa mengangkap dgn jelas maksud saya.

Saya setuju dengan anda, kita tidak bisa hanya hidup berdasarkan logika, ada hal2 yg tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tapi bagaimana mungkin saya sebagai orang yg masih waras akal untuk menerima seorang nabi yg hanya terikat pada norma zamannya?

Kita tidak ngomongin soal culture, civilization, tapi kita ngomongin soal religion yg katanya dari Tuhan yg seharusnya levelnya diatas culture and human civilization. Jika agama (sesuatu yg katanya dari Tuhan) itu hanya terikat norma pada zamannya, kenapa juga Quran dengan sesumbar mengatakan kitabnya adalah the FINAL WORD OF GOD?

Pengikut Ahmadiyah masih jauh lebih consistent dalam hal Muhammad terikat norma pada zamannya. Itu sebabnya mereka mempercayai MUhammad bukanlah nabi terakhir. Jika pengikut Ahmadiyah yg berdebat dengan saya dengan menggunakan argumen “terikat norma zaman” demi membela Muhammad, saya akan sangat open minded mempertimbangkan argumen mereka.

Banyak orang2 yg ngaku2 nabi sebelum zaman Muhammad. Nabi Baal (similar to Dagon dan beberapa dewa yg lain) memperkenalkan Baal bagi para pemujanya. Salah satu tata ibadah mereka adalah dengan melemparkan bayi2 ke api menjadi persembahan bagi dewa BAAL. Dari segi norma, nabi Baal ini sama sekali tidak melanggar norma, tata ibadah mereka mendapatkan banyak sekali pengikut yg akhirnya dianggap sebagai suatu norma yg berlaku di masyarakat masa itu. Bahkan tata ibadah ini dianggap sebagai suatu hal yg mendatangkan kebaikan/berkat/kemakmuran bagi penyembahnya yg saat itu negaranya sedang dalam masa paceklik dan kekeringan. Semua agama akan mengagung2kan nabi mereka dan claim nabi mereka yg terbaik. Saya rasa juga tidak berlebihan jika saya mengatakan NORMA tidak bisa menjadi tolak ukur/parameter untuk menentukan bermoral atau tidak bermoralnya/biadab sebuah tindakan.

Jika pengikut Baal hari ini nge-claim bahwa Nabi mereka yg paling hebat,sempurna akhlak dan layak dicontoh, membawakan kebaikan bagi kehidupan mereka, memberikan argumen bakar bayi hidup2 bukanlah tindakan biadab dengan alasan korban penyembahan adalah budaya/norma yg bisa diterima masyarakat saat itu, bisakah anda terima argumen itu ? Yakinkah anda BIADAB tidaknya sebuah tindakan hanya terikat oleh norma?

Miss X wrote:Sedikit pengetahuan umum saja, apakah anda tau bahwa dalam kajian Tasyri (penetapan hukum Islam), para ulama yg ikut andil dlm Tasyri yg bersifat Insaniah dikaji dgn mendalam latarbelakang dan biografi hidupnya untuk mengetahui kondisi apa yg mempengaruhi mereka dlm menetapkan suatu hukum? Salah satu contoh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dimana hukum-hukum yg beliau tetapkan sangat dipengaruhi oleh situasi sosial politik yg bergolak pada masa pasca runtuhnya dinasti Abbasiyah. Tidak sedikit ulama dimasa kini yg mengkritisi hukum – hukum yg beliau tetapkan..namun hal itu sgt bisa dimaklumi mengingat situasi dan kondisi saat itu dimana banyak sekali tekanan yg mempengaruhi pola pikir beliau. Jadi, kita tdk bisa melemparkan sebuah kritik itu dgn membabi buta tanpa mempelajari latar belakangnya…saya tdk ingin pamer hanya mencoba berdebat sesuai prosedur, jd saya rasa Mas Pop terlalu memaksakan argumen Mas Pop.

Jika hukum itu dibuat oleh manusia dan ada cacatnya, saya bisa menerima penjelasan anda.
But keep in mind, Quran itu katanya dari Tuhan, dan Quran dengan jelas mencatat nabi anda sebagai manusia sempurna dan perfect role model for all human.

Jika anda bisa menerima informasi dari sahih muslim bahwa memang Muhammad 52 thn ngesex dengan bocah cilik 9 tahun, yg hanya terikat norma masa lalu dan yang ternyata di norma masa kini itu adalah praktek yg sangat menjijikan (itu anda akui sendiri, anda juga tidak bisa menerima praktek itu di zaman ini), kenapa juga kaffir dianggap salah jika mempertanyakan kebenaran Quran yg katanya FINAL WORD OF GOD tapi ternyata praktek Nabi sang manusia sempurnanya hanya terikat oleh norma zamannya?

Itu sebabnya banyak sekali sodara/i-mu yg kritis mempertanyakan kebenaran usia 9 thn itu,sadar dalam diskusi logis mereka tidak akan bisa membela muhammad selain jika mereka meruntuhkan ke-absahan informasi dari Sahih Bukhari akan usia Aisha. Saya tidak akan bosen2nya mengingatkan anda, lawan anda bukan cuma dari pihak kami kaffir, tapi juga dari sodara/i-mu sendiri.

It’s ok jika anda beranggapan saya terlalu maksa argumen saya, tapi so far ketika saya print screen dan paste ke word doc setiap diskusi kita dan saya minta penilaian objective dari orang lain akan argument saya yg katanya “maksa”, so far belon ada satupun pembaca yg saya sodorkan diskusi kita berpihak pada anda.

Miss X wrote:Coba lihat…sepertinya anda terus menerus mengulang hal yg sama dan spertinya appn yg sy sanggah itu tdk ada artinya sama sekali. Bung, kl anda tdk tau cara berdiskusi dan cara mengembangkan sebuah diskusi….maka saya rasa, kita cukupkan saja sampai disini.

Bagaimana mungkin saya mengembangkan diskusi lebih lanjut jika argumen anda ga jauh2 seputar NORMA ?
Setiap jawaban saya hanya merupakan respon terhadap pertanyaan anda. Anda meminta referensi, dan referensi yg saya gunakan dari sumber yg SAHIH dari ulama anda sendiri, hal yg sama juga dilakukan oleh kaffir2 FFI yg lain. The main reason why we use SAHIH reference adalah biar tidak ada muslim yg menyanggah kami menggunakan referensi2 yg tidak sah, tidak diakui oleh Muslim diseluruh dunia. Ketika kami menggunakan referensi sahih, demi mengcounter saya, argumen panjang lebar anda ga jauh2 dari NORMA, NORMA and NORMA.

Saya rasa memang benar kata anda, diskusi kita cukup sampai disini. Saya bahkan tidak perlu memikirkan argumen baru untuk diskusi lebih lanjut dengan anda, jika PERBUDAKAN, KUBUR anak perempuan HIDUP-HIDUP, dan KANIBALISME pun anda anggap sah2 saja selama norma zaman tersebut tidak menentang akan hal itu.

Miss X wrote:Bung, ketika ada orang yg mengklaim dirinya paling tampan diantara anda dan teman – temannya, apakah anda akan tersinggung jika anda tdk merasa sbg orang yg buruk rupa? Setiap orang boleh mengatakan dirinya tampan tp itu tdk akan berperngaruh bagi org2 yg tdk merasa jelek. Jika statement itu sungguh mengusik hati, berarti ada rasa inferior yg membuat anda harus mengexpose kekurangan org tsb agar bisa menutupi rasa benci anda. Jadi mesti anda sadari, rasa iri dan dengki itu membuat seseorang menutupi hatinya dgn kebencian. Saya tdk meminta anda untuk menerima dia sbg uswatun hasanah tp setidaknya cobalah anda atasi perasaan inferior itu.

Mohon maaf Mas Pop, saya tdk melihat diskusi ini sbg sesuatu yg bisa menemukan titik temu krn sepertinya anda tdk cukup bisa mengkap dgn baik maksud2 saya. Terima kasih atas waktunya….semua salah ucap mohon dimaafkan.

Dear Miss X, setiap agama mengagung2kan dan membesar2kan Nabi mereka, termasuk Buddhist. Tapi saya ga pernah totally antipati dengan ajaran Buddhist, begitupun kaffir lain2. As a matter of fact saya sangat kagum dengan Nabi besar mereka.

Yg jadi masalah adalah Nabi anda katanya manusia sempurna, role model seluruh umat manusia, begitu aktif menghina dan menanamkan kebencian terhadap Yahudi dan Kekristenan, terus kok saya dibilang inferior dengan mempertanyakan karakter/tingkah2 lakunya dalam Hadits2 sahih yg diakui Muslim seluruh dunia ?

Jika ada orang yg claim dirinya tampan, beauty lies in the eyes of the beholder.
Tampan punya definisi yg beda2 tergantung mata orang melihatnya. Tapi menurut anda emang ada berapa definisi sih di dunia ini untuk kata PERFECT, SUBLIME MORALITY, ROLE MODEL ?

Jika ada orang yg berani claim dirinya MANUSIA SEMPURNA, ROLE MODEL FOR ALL TIME, orang tersebut menderita narcissist/triumphalist complex jika ia tidak bisa menerima kritikan dan mengatakan orang lain yg mengkritiknya inferior (padahal bukti2 kritikan adalah berdasarkan sumber sahih yg diakui oleh para pengikutnya diseluruh dunia). Anda tentunya tidak suka dikatakan tolol oleh orang yg nilai ujiannya bahkan selalu kalah jauh dengan anda kan? Pantaskah orang tersebut mengatakan anda inferior hanya karena anda mengkritik dirinya jauh lebih tolol dari anda?

Jika anda merasa pantas menyebut kami kaffir inferior karena dengan segala cara kami mencari celah dan kelemahan Muhammad, silahkan anda pertanyakan apa sebutan yg pantas bagi sodara2/i muslim anda diseluruh dunia yg tega mengeluarkan fatwa kematian, yg tanpa malu2 atau perasaan bersalah membunuh orang yg menghina Muhammad. Sungguh hingga hari inipun saya belum menemukan muslim yg berani terang2an menentang fatwa kematian tersebut. Persentase muslim yg berani menolak hukuman mati bagi orang yg menghina muhammad VS orang yg pro hukum mati bagi penghina Muhammad, perbandingannya seperti langit dan bumi.

Silahkan anda baca comment2 dari sodara/i muslimmu di indonesia akan reaksi kematian pengikut Ahmadiyah. Hampir 90% comment mengatakan itu salah Ahmadiyah, kenapa ga bikin ajaran baru aja, jangan ngaku2 bagian dari Islam. Comment diawali dengan kata2 manis seperti : FPI/oknum tidak seharusnya membunuh mereka, dan diakhir comment selalu diakhiri : TAPI ITU JUGA SALAH AHMADIYAH…TAPI ITU KARENA AHMADIYAH SESAT dan segala jurus TAPI yg lain. Dosa pengikut AHMADIYAH yg membuat mereka pantas mati hanya satu : KARENA TIDAK MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL TERAKHIR. Silahkan anda buka hati anda, siapa yg sebenernya menderita inferior complex.

Bukanlah hal yg mudah untuk berdebat dengan Muslim di dunia nyata karena resikonya adalah kematian. Terima kasih untuk kesediaan dan kesabaran anda dalam meresponi saya.
kemana si miss x ya?

Pop eye wrote:

Hanya iman, tidak ada bukti logis, dan saya tidak akan pernah berusaha memenangkan perdebatan dengan menggunakan argumentasi logis. Ini adalah iman saya, dan saya akui sangat subjective dan mudah dipatahkan secara logis. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata2 SAYA BERSAKSI BAHWA YESUS ITU ADALAH ANAK ALLAH. Saya hanya akan berkata : saya beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah yg hidup.

Beda dunk dengan mulut muslim yang sedari masih bocah dah memang di setting untuk jadi TUKANG NGIBUL yang buruk . Bagi LIDAH mereka bersaksi bahwa muhammad adalah utusan awlloh dah merupakan REFLEKS .

Read More

Mengapa Para Imam & Mullah Doyan Sodomi Anak²?

Jawabnya adalah:

SODOMI DIHALALKAN ALLÂH DAN RASULNYA

oleh Amar Khan
28 Dec, 2009

Di Pakistan, para Mullah terkenal sekali doyan melakukan pelecehan dan penyiksaan seksual terhadap anak². Setiap hari kita membaca berita seorang Mullah menyodomi muridnya yang belum tumbuh jenggot. Hal ini sangat biasa di Pakistan. Hampir setiap orang tahu apa yang biasa terjadi di Madrasah. Bahkan salah satu temanku pun hampir saja disodomi oleh uztadnya ketika dia sedang belajar menghafal Qur’an.

Tapi kenapa sih para Mullah ini melakukan hal ini? Apakah hal ini memang diharamkan Islam? Para Muslim balik keras teriak² mengecam sodomi, homoseksualitas, terutama di Eropa dan negara barat lainnya.

Para Mullah ini menyatakan bahwa masturbasi adalah haram. Melihat wanita yang bukan muhrimnya juga haram. Karena tidak punya istri dan tidak boleh masturbasi, maka jalan satu²nya melampiaskan berahi mereka adalah menyodomi murid²nya ajah. Ketika sedang membaca website Syiah, aku menemukan kenyataan bahwa akar sodomisasi di dunia Muslim ternyata terdapat dalam literatur dan sejarah Islam. Ini lhooo contoh² top kasus sodomisasi dari sejarah dan buku² sahih Sunni Islam.

Umar doyan sodomi dan Allah dipaksa untuk menghalalkan praktek sodomi dalam Qur’an. Hal ini jelas tampak dalam tulisan² berikut:
Jami al Tirmidhi, Bab al Tafsir, Volume 2, halaman 382, ‘Ayat Hars’
Fathul Bari, Volume 8 halaman 191 Kitab Tafsir Ayat Hars
Gharab, al Qur’an Volume 3 halaman 249, Ayat Hars
Tafsir al Ibn Kathir, Volume 1, halaman 261
Fayl ai Lawathar, Volume 6, halaman 229
Tafsir Qurtubi, Volume 1, halaman 92, Ayat Hars

Mari kutip secara lengkap tulisan dari Jami al Tirmidhi [Bab al Tafsir, Vol. 2, hal. 382, 'Ayat Hars']:
Ibn Abbas narrates that Hadhrath Umar went before Rasulullah (s) and “Master I am destroyed!’. Rasulullah (s) asked ‘what thing has destroyed you?’. Umar replied last night I had anal sex. Rasulullah (s) did not give a reply to Umar, then Allah (swt) sent down this revelation “Your wives are as a tilth unto you; so approach your tilth when or how ye will; the words ‘kabool wa Dhabar’ (the anus is accepted)”
terjemahan:
Ibn Abbas menceritakan bahwa Hadhrath Umar menemui Rasul Allâh dan berkata, ‘Tuan, aku anchoerz!’ Rasul Allâh bertanya, ‘Apa sih yang menghancurkanmu?’ Umar menjawab bahwa kemaren malam dia melakukan sodomi. Rasul Allâh tidak menjawab Umar, maka Allâh menurunkan wahyu “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki (Q 2:223); kata²nya adalah ‘kabool wa Dhabar’ (berarti ngeseks melalui anus adalah halal).”

Sama seperti babehnya (si Umar), Abdullah ibn Umar juga menganggap sodomi itu halal. Contohnya bisa kita lihat di tulisan Sunni Islam berikut:
Tafsir Durre Manthur, Volume 1, halaman 264, Ayat Hars
Tafsir Qasmi, Volume 2, halaman 220, oleh Jamaladeen Qasmi
Tafsir Qurtubi, halaman 92, Ayat Hars

Ini kutipan lengkap dari Tafsir Durre Manthur:
Traditions wherein Abdullah ibn Umar believed sodomy with women are well known and Sahih.
terjemahan:
Kebiasaan di mana Abdullah ibn Umar yakin sodomi dengan wanita biasa dilakukan dan Sahih.

Ulama Madina pun yakin bahwa sodomi adalah halal. Jika tak percaya, maka silakan periksa sumber² Sunni ini:
Fayl al Lawathar, Volume 6, halaman 154, Kitab Nikah, Bab Mut’ah
Tafsir Qasmi, Volume 2, halaman 223, Ayat Hars
Tafsir Ibn Katheer, Volume 1, halaman 262, Ayat Hars
Fathul Bari, Volume 8, halaman 191, Ayat Hars
Tafsir Mazhari, Volume 3, Halaman 19

Berikut adalah kutipan lengkap dari Fayl al Lawathar:
Imam Auzai stated of the Fatwas from Hijaaz that are famous, one fatwa is from the people of Makka is that is that they deem e d Mut’ah with women to be permissible, the other from the people of Madina, that sodomy with women is permissible.
terjemahan:
Imam Auzai menerangkan Fatwa² Hijaaz terkenal, dan salah satu fatwa dari masyarakat mekah menyatakan mereka yakin bahwa Mut’ah dengan wanita adalah halal, dan satu fatwa lain dari masyarakat Medina menyebutkan bahwa sodomi dengan wanita adalah halal.

Ibn Kathir dalam Tafsirnya juga menyatakan:
Pernyataan bahwa sodomi dengan wanita merupakan tindakan halal berasal dari hukum² Medina.

Para sahabat Nabi pun yakin bahwa sodomi itu halal. Mari baca Tafsir Qurtubi, volume 3, halaman 93, Ayat Hars:
Fatwas on the permissibility of sodomy with women Saeed bin Maseeb Nafi, ibn Umar, Muhammad bin Kab, Abdul Malik, Imam Malik, a large group amongst the Sahaba and Tabaeen deemed sodomy to be permissible.
terjemahan:
Fatwa² sodomi dengan wanita adalah halal. Saeed bin Maseeb Nafi, ibn Umar, Muhammad bin Kab, Abdul Malik, Imam Malik, kelompok besar yang terdiri dari para sahabat dan Tabain menganggap sodomi adalah halal.

Imam Sha’afi juga menganggap sodomi halal lhoo! Silakan baca tulisan² Sunni Islam ini:
Tafsir Durre Manthur, Volume 1, halaman 266, Ayat Hars
Tafsir Ruh al Ma’ani, halaman 125, Ayat Hars
Tafsir Ahkam al Qur’an, Volume 1, halaman 265
Tafsir Qasmi, Volume 2, halaman 228, Baqarah Verse 223
Al Mahzoorath halaman 268

Mari kita baca Tafsir Durre Manthur:
On sodomy with women, Imam Sha’afi no Sahih narration’s have reached us from Rasulullah (s) as to whether it is halaal or haraam and logic suggests that this halaal.
terjemahan:
Tentang sodomi dengan wanita, Imam Sha’afi menyatakan tiada hadis sahih yang kami temukan dari Rasul Allâh yang menyatakan hal itu halal atau haram sehingga logikanya menyiratkan hal itu halal.

Imam of Ahl’ul Sunnah Abu Maleeka menasehatkan jika ‘sempit’ maka dibantu pake tongkat ajah! Kalo lo pada gak percaya, maka mari baca Tafsir Durre Manthur Ayat Hars:
Abu Maleeka was asked whether it was permissible to practise sodomy with women. He replied ‘Last night I practised sodomy with my servant, penetration became difficult hence I sought the assistance of a stick.
terjemahan:
Abu Malika ditanyai apakah halal untuk melakukan sodomi dengan wanita. Dia menjawab, ‘Tadi malam aku menyodomi babuku, memasukinya jadi susah sehingga aku cari bantuan dengan menggunakan sebuah tongkat.

Imam Malik yakin sodomi dengan wanita adalah halal. Mari baca sumber² tulisan Sunni ini:
Ahkam al Qur’an, Volume 1, halaman 352, Ayat Hars
Tafsir Gharab al Qur’an, Volume 2, halaman 249, Ayat Hars
Tafsir Durre Manthur, Volume 1, halaman 111, Ayat Hars
Fathul Bari, Volume 8, halaman 190, Kitab Tafsir Ayat Hars

Dikutip langsung dari Ahkam al Qur’an:
Sahil asked Imam Malik ‘is sodomy with women permissible? Imam Malik replied ‘I just did this act and have just washed my sexual organs.
terjemahan:
Sahil bertanya pada Imam Malik apakah menyodomi wanita adalah halal? Imam Malik menjawab, ‘Aku baru saja melakukan hal itu dan baru saja mencuci alat kelaminku.’

Murid Imam Abu Hanifa yang terhormat yakni Ibn Mubarak ternyata adalah HOMOSEKS! Di ‘Muhadarat al-’udaba’, hal. 199, Chapter 1, “Al hada al Saani” dinyatakan:
Hakim Tabaristan made Abdullah bin Mubarak a Judge, who was addicted to the anus (Homosexual) he asked the Hakim ‘Sir I need some men who can help you” Hakim sai, ‘I was aware of your need before this.’
terjemahan:
Hakim Tabaristan menunjuk Abdullah bin Mubarak sebagai Pemutus Hukuman, dan orang ini ketagihan ngeseks lewat anus (homoseksual). Dia bertanya pada Hakim, ‘Pak, aku butuh beberapa pria yang dapat menolongku.’ Hakim berkata, ‘Aku sudah tahu kebutuhanmu dari dulu.’

Islam Salaf menganggap sholat di belakang Imam homoseks halal. Mari baca Sahih al Bukhari, hal. 96, Kitab Bab ul Salaat, disampaikan oleh Zuhri [Sahih al-Bukhari, hal. 96, cetakan 1375 AH]:
The Imamate of a mukhanath at a time of necessity is Sahih.
terjemahan:
Melakukan sholat dipimpin oleh seorang imam homoseks di saat yang dibutuhkan adalah diperbolehkan.

Catatan: kata Arab Mukhanath” berarti homoseks . Hadis ini dihilangkan dari versi Inggris Bukhari, tapi tetap ada di buku² hadis kuno bahasa Arab, yakni pada cetakan 1375 Hijri.

Jadi kupikir para Mullah yang melakukan sodomi terhadap anak² perempuan dan laki kecil tidaklah salah menurut Islam, karena dia hanya melakukan Sunnah Nabi dan para sahabat saja.
Hal ini juga ditegaskan di buku “KEBENARAN YANG HILANG : SIsi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim” karangan Farag Fouda Terbitan Dian Rakyat dan Yayasan Paramadina.

Lihat halaman 159 yang mengkisahkan perilaku homoseksual Al-Watsiq (khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah awal)
salah satu bukti bahwa semakin kurang memahami al quran semakin baik perilakunya

Warga Pati Tuntut Penyodomi Santri Ditangkapsumber : http://www.liputan6.com/news/?id=171121&c_id=2

Liputan6.com, Pati: Ratusan warga Dukuh Seti berunjuk rasa di Kantor Kepolisian Resor Pati, Jawa Tengah, baru-baru ini. Mereka mendesak polisi cepat bertindak dan menangkap pengasuh pondok pesantren dan pimpinan Yayasan Baitul Hasin, AKN Marzuqi.

Selain warga, sejumlah santri dan alumnus Sekolah Menengah Kejuruan Telkom Terpadu AKN Marzuqi yang berada di bawah Yayasan Baitul Hasin kecewa dengan perilaku pengasuh pondok pesantren mereka. Menurut mantan siswa SMK Telkom Terpadu, kekerasan fisik dan dugaan sodomi yang dilakukan AKN Marzuqi telah bertahun-tahun dilakukannya. Namun para santri dan siswa SMK Telkom Terpadu tak bernyali untuk melaporkan sepak terjang Marzuqi [baca: Belasan Korban Asusila Minta Jaminan Keamanan].

Sedangkan Wakil Kepala Kepolisian Pati Komisaris Polisi Carto mengatakan, pihaknya menghargai tuntutan warga. Menurut dia, kasus sodomi yang dilakukan pengasuh pesantren dan pimpinan Yayasan Baitul Hasin itu sudah ditangani Markas Besar Polri sehingga penyidik kepolisian setempat tidak lagi menangani kasus tersebut.(ANS/Taufan Yudha)

Guru Ngaji Sodomi 26 Murid TK

Kamis, 10 April 2008 | 03:31 WIB

JAKARTA, KAMIS – Seorang guru ngaji di sebuah taman kanak-kanak (TK) di Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, YK (24), dilaporkan telah menyodomi 26 orang siswa di TK tersebut. Para siswa itu disodomi secara bergiliran.

Perbuatan bejat guru ngaji ini tidak tercium hampir tiga bulan lamanya, setelah akhirnya ada orangtua siswa yang melaporkan peristiwa ini kepada Ny Mia, Ketua Yayasan TK Mu tersebut, Rabu (9/4) siang.

Mendengar laporan dari orangtua korban, Mia terperanjat. Ia tidak menyangka bahwa YK mempunyai kelainan seksual dan tega menyodomi para siswa yang belajar ngaji kepadanya. “Sehari-harinya orang ini berperilaku baik. Sama sekali tidak mencurigakan,” katanya.

Dari laporan itu akhirnya diketahui bahwa sebagian besar siswa lelaki di TK tersebut telah menjadi korban penyimpangan seksual YK. Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi Mapolsektro Tambora untuk melaporkan kejadian tersebut. Petugas Polsektro Tambora mengalihkan kasus ini ke Polrestro Jakbar.

Petugas Polrestro Jakbar yang menerima laporan ini meminta para siswa TK yang menjadi korban melakukan visum di rumah sakit. Hasil visum dari RS Sumber Waras didapat fakta bahwa dubur para siswa itu rusak karena kemasukan benda.

Sampai berita ini ditulis, YK masih dalam pengejaran polisi. Menurut Mia, YK melarikan diri dari sekolahnya sejak Senin (7/4). “Waktu itu dia minta izin untuk pulang ke kampung halamannya,” kata Mia.

Aksi bejat yang dilakukan YK ini nyaris tak tercium oleh pihak sekolah. Statusnya sebagai guru ngaji dan perangainya yang mencerminkan orang yang memiliki moral tinggi mampu menutupi perilaku bejatnya selama ini. Dari pengakuan para korban diketahui bahwa perbuatan ini dilakukan sejak tiga bulan lalu.

Sebagian besar para korbannya juga tidak berani melaporkan hal ini karena diancam akan dibunuh. Perlakuan tak senonoh YK ini dilakukan ketika pengajian berlangsung. Siswa yang akan disodomi dipanggil dan diminta meninggalkan ruang kelas.

YK bersama anak yang menjadi sasarannya itu kemudian ke mushola. Di tempat itu lah YK melampiaskan nafsunya. Perbuatan seperti ini terus diulangi hingga nyaris seluruh siswa di sekolah itu pernah diperlakukan tak senonoh olehnya. (Warta Kota/tos)
Target: Guru ngaji sodomi anak muridnya

iga korban ngaku
dipaksa, kemaluannya
juga dioral

MESTONG– Penghuni Yayasan Panti Jompo dan Anak Yatim Piatu Sailun Salimbai di Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi, digemparkan oleh kasus asusila. Seorang guru mengaji di panti tersebut bernama Yaser Arafat (23), yang juga jadi tenaga honorer di SMP di Kecamatan Mestong tega mencabuli dan mensodomi tiga muridnya yang tinggal di panti tersebut.

Ketiga korban itu masih di bawah umur, berinisial AF (13), GG (13), dan AR (13). Ketiganya adalah murid kelas 1 di salah satu SMP di Kecamatan Mestong.

Informasi yang diperoleh Jambi Independent, aksi amoral tersebut dilakukan Yaser sejak Desember 2005.
Namun baru terungkap Senin (6/2) malam kemarin, setelah salah satu orang tua korban melapor ke Polsek Mestong. Mendapat laporan itu, pagi kemarin (7/2), sekitar pukul 07.30 WIB, Yaser langsung diciduk anggota Reskrim Polsek Mestong.

Dia dijemput anggota di SMP, tempatnya bekerja sebagai honorer di bagian TU. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini warga Desa Tanjung Pauh Kilometer 32 Kecamatan Mestong itu meringkuk dalam tahanan Polsek Mestong.

‘’Kejadian ini terungkap setelah orang tua GG, salah satu korban melapor ke kita. Selanjutnya kita langsung mengejar pelaku ke rumahnya di Desa Tanjung Pauh, namun dia tidak ada. Baru pagi kemarin anggota menciduknya di sekolah tempat dia bekerja,” kata Kapolres Muarojambi AKBP Sarono didampingi Kapolsek Mestong Iptu Endang Kusnandar.

Menurut kapolres, dalam pemeriksaan tersangka sudah mengakui perbuatannya. Dan dari hasil pemeriksaan itu terungkap bahwa dua dari tiga korban, yaitu AP dan GG sudah positif disodomi tersangka. Sementara satu lagi yaitu AR hanya dioral.

‘’Jadi, selain menyodomi, tersangka juga mengoral kemaluan korbannya dan dicium-ciumi. Menurut keterangan korban perbuatan ini sudah sering kali dilakukan tersangka. Masing-masing mereka dioral sekitar 10 kali,” jelas kapolres.

Menurut pengakuan GG, perbuatan tak senonoh itu sering dilakukan tersangka pada malam hari, ketika mereka sedang tidur. Kata GG, ia sempat disodomi tersangka satu kali ketika sedang tidur satu kamar dengan tersangka.

Malam itu mereka berbincang-bincang, tiba-tiba pelaku langsung berusaha membuka celananya. Ia berusaha berontak, tetapi tangannya dijegal tersangka.

‘’Kemudian dimasukkannyo ‘anunya’ ke ‘anu’ aku. Rasonya sakit. Aku sudah berontak, tapi tangan aku dipegangnyo kuat-kuat,” ungkap GG.

Setelah kejadian itu, menurut GG, tersangka juga sering mengoral burungnya. Kalau disodomi satu kali, tapi kalau diemut sering, sekitar 10 kali lah,” jelas bocah lugu ini.

Sama dengan GG, korban lainnya, AP, juga mengaku sempat disodomi tersangka. Namun menurut dia, sebelum (maaf) kemaluan tersangka masuk ke anunya, dia cepat bangun dan lari.

‘’Belum sempat masuk semuanyo, aku langsung berontak dan lari dari dia,” kata AP. Menurut dia, setiap mau dicabuli mereka sudah berusaha menolak. Tapi tersangka selalu memaksa.

Selain disodomi, menurut AP, dia juga dioral sebanyak lima kali. ‘’Kayak mano mau melawan, kalau berontak dikit, tangan kami dipegangnyo kuat-kuat,” ungkap AP lagi. Bahkan kata bocah ini, dia sudah pernah memberi tahu kelakuan Yaser tersebut kepada ibu panti, Ny Marpuah.

Dan menurut dia, ibu panti juga sudah tahu dengan kelakuan buruk Yaser tersebut. Cara yang sama juga dilakukan terhadap Yaser terhadap AR. Bahkan dia sempat dibawa tersangka ke Pekanbaru dengan alasan mau bertemu dengan orang tua korban.

Tetapi bocah imut-imut ini masih beruntung, tersangka tidak sempat menyodok anusnya seperti dua rekannya.(nta/sal)
Guru Ngaji Sodomi 3 Muridnya

Desember 9, 2008

MEDAN, MANDIRI

Tiga bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) masing-masing Ik (8), Rk (8) dan Su (8) warga Jalan Pancasila, Tembung, didampingi orang tua masing-masing mendatangi Mapolsekta Percut Sei Tuan untuk membuat pengaduan, Selasa (9/12).

Pasalnya, ketiga bocah ini menjadi korban sodomi yang dilakukan guru ngaji mereka sendiri berinisial B (30) penduduk Binjai yang menyewa rumah di Jalan Pancasila, Tembung.

Informasi yang dihimpun wartawan, korban sodomi diduga bukan hanya tiga orang melainkan mencapai 26 orang. Namun yang membuat pengaduan baru tiga orang, sedangkan pelaku masih diburu petugas.

Modus operandi pelaku, yakni berpura-pura mengajari para korban mengaji di rumah pelaku. Kemudian B yang dikenal masyarakat sekitar sebagai orang yang saleh, mengajak para korbannya untuk tidur-tidur di rumahnya.

Setelah bocah-bocah yang masih duduk di bangku SD dekat dengan pelaku dan para orang tua bocah tidak curiga, pelaku yang berkedok sebagai guru ngaji itu pun mulai beraksi. Di saat korban tidur di rumahnya, maka secara perlahan-lahan guru ngaji cabul itu membuka celana korban kemudian menyodominya.

Bila korbannya berontak, maka pelaku akan memberi imbalan uang sebesar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Namun setelah menyodomi korban, pelaku selalu mengancam para korban untuk tidak melaporkan perbuatannya kepada siapa pun termasuk kepada orang tua korban. Bila korban nekad melapor, pelaku mengancam tidak akan mengajari korban mengaji.

Lama kelamaan, Ik, Rk dan Su takut melihat pelaku karena takut disodomi lagi sehingga tidak mau mengaji. Kemudian mereka bercerita kepada orang tuanya dan akhirnya diteruskan membuat pengaduan ke Mapolsekta Percut Sei Tuan.

Kanit Reskrim Polsekta Percut Sei Tuan Iptu S Sembiring saat dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya kasus guru ngaji mencabuli muridnya.

Diterangkan Sembiring, pelakunya sampai sekarang masih dalam pencarian. Disinggung tentang jumlah korban yang membuat pengaduan, Kanit Reskrim mengatakan baru tiga orang. [jam]
Guru Ngaji Sodomi Muridnya

indosiar.com, Bali – Seorang guru mengaji di Bali Selasa (18/10/05) kemarin, diamankan polisi karena nekad menyodomi murid ngajinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Slamet Riyadi, hanya bisa pasrah saat digelandang ke Mapolsek Denpasar Barat, Bali karena nekad menyodomi Riski (7), yang tidak lain muridnya ngaji sendiri. Ulah bejat tersangka bermula saat korban hendak belajar ngaji bersama dua temannya di rumah kontrakan tersangka. Tersangka mengiming-imingi korban akan diberi hadiah. Begitu korban lengah, tersangka langsung membaringkan korban dalam posisi tengkurap setelah mulut korban diplester dan kedua tangannya diikat.

Kepada petugas tersangka mengaku nekad melakukan hal itu karena tidak kuasa menahan nafsu birahinya setelah 2 tahun ditinggal cerai.(Masuddin/Sup)
Guru Ngaji Sodomi 27 Anak

Senin, 18 Agustus 2008
RANTAU, TRIBUN – Seorang guru mengaji, Abu Bakar (34), warga Jl Gerilya RT 5 RW 2, Desa Mandarahan, Tapin Utara, Tapin, Kalsel, dibekuk jajaran Reskrim Polres Tapin. Dalam pemeriksaan polisi, Abu Bakar mengaku telah menyodomi sebanyak 27 orang anak.

Perbuatan lelaki yang juga dikenal sebagai wakar (penjaga malam) itu, terbongkar setelah seorang anak, Fa (12) yang jadi korban penyimpangan seksualnya mengadu kepada orangtuanya.

Tidak terima anaknya jadi korban sodomi, orangtua Fa langsung melaporkan kejadian itu Reskrim Polres Tapin, Sabtu (16/8) malam. Hanya beberapa jam setelah menerima laporan, jajaran reskrim berhasil menangkap dan menjebloskan Abu Bakar ke tahanan, Minggu (17/8) dinihari.

Menurut Kapolres Tapin Kapolres Tapin AKBP Drs Drs Akhmad Saury, melalui Kasatreskrim Tapin AKP Ade Wira SIK, via telepon, Minggu (17/8) malam, Abu Bakar ditangkap atas laporan satu keluarga korban.

“Dari pemeriksaan, ternyata ada beberapa orang yang (maaf) juga disodomi pelaku,” kata Akhmad Saury seraya mengatakan Abu Bakar juga berprofesi sebagai guru mengaji.

Ketika pemeriksaan dikembangkan ternyata ada korban lainnya selain pelapor, yakni sebanyak tujuh orang, antara lain Rj (18), Fa (12), Dr, Um, Kr, Jh dan Fj. “Kesemuanya dikenal tersangka. Sebagian murid Abu Bakar,” ujar Saury.

Setelah dilakukan pendalaman pemeriksaan, Minggu (17/8) malam, tersangka mengakui jumlah korban aksi sodomi yang ternyata telah dilakukannya sejak tahun 2003 lalu, sebanyak 27 orang.

“Abu Bakar mengaku, seingatnya jumlah anak yang telah disodominya sebanyak 27 orang. Itu pengakuannya. Jumlah korban bisa saja lebih dari itu,” kata AKP Ade Wira SIK, sembari mengatakan pihaknya terus mengembangkan pemeriksaan terhadap kasus ini.

Diimingi Barang

Menurut Ade dari hasil pemeriksaan visum, memang korban pelapor disodomi oleh pelaku. Meski tak merinci secara pasti di mana para korban digarap, Abu Bakar menyebut lokasi di sekitar sekolah SMPN 1, di belakang rumahnya dan tempat lainnya.

“Awalnya katanya hanya ada satu korban. Namun setelah kita kembangkan ternyata ada korban lainnya. Seperti Dr, Um, Jh, Kr dan Fj, hingga Abu Bakar sendiri mengatakan korbannya 27 orang,” ungkap Ade.

Dikatakan Ade para korban tidak diancam korban. Namun, para korban diiming-imingi barang dan lainnya oleh korban sebelum disodomi.

“Dari hasil pemeriksaan sementara tidak ada ancaman. Ada yang diberi kaos bola, pisau dan lainnya,” ujar Kasat muda ini seraya mengatakan beberapa korban belum mintai keterangan.

Untuk Abu Bakar, polisi akan menjerat dengan pasal 292 KUHP serta Pasal 82 UU RI No23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. (BanjarmasinPost/dwi)
Korban Sodomi oleh Guru Ngaji Trauma Lihat Pria
Thursday, April 10, 2008

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Sedih sekali baca berita ini. Mungkin si pelaku ingin bersaing dengan pastor gereja Katolik yang sudah berkali-kali ditangkap karena melakukan sodomi terhadap anak yang seharusnya dilindungi dan dibimbing dalam agama.

Juga sangat disayangkan sikap anak-anak yang lain di lingkungan si korban. Anak yang sudah menjadi korban diejek oleh mereka dan menjadi korban lagi.

Bagaimana anak kecil bisa bersikap begitu kejam terhadap tentangga dan teman sekolahnya yang tidak bersalah? Di mana orang tuanya yang seharusnya mengajarkan mereka untuk merasa kasihan pada si korban? Apa perlu ajaran khusus di sekolah sehingga anak2 sekolah bisa merasa “kasih-sayang” di dalam hatinya?

Masa korban diejek anak2 yang lain?

Bagaimana masa depan bangsa ini kalau warga negara sudah menjadi kejam dan tidak punya rasa sayang di dalam hatinya pada umur 10 tahun?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene
===========================================
10/04/2008 14:33 WIB

Korban Sodomi oleh Guru Ngaji Trauma Lihat Pria
Andi Saputra – detikcom

Jakarta – Trauma psikis telah dialami Farhan, salah satu siswa SD Perniagaan Tambora, Jakarta Barat, yang menjadi korban sodomi oleh guru ngajinya, Yusuf (24). Farhan yang kini duduk dibangku kelas 2, mengalami trauma berat. Menurut penuturan orangtua Farhan, Aisyah, Farhan tidak mau lagi menemui laki-laki.

“Farhan sering mengurung diri di rumah dan hanya mau keluar saat sekolah. Karena teman-temannya sering ngejek-ngejek,” tutur Aisyah di Polres Jakarta Barat, Jl S Parman, Jakarta Barat, Kamis (10/3/2008).

Aisyah berharap, Yusuf dihukum seberat-beratnya, “Saya ingin pelaku dihukum seberat-beratnya karena pelaku sudah kejam ke anak saya.”

Sementara, saat ini polisi tengah melakukan visum pada 10 korban. Sedangkan korban lainnya, telah divisum pada Rabu 9 April 2008 malam. Keseluruhan korban divisum di RSCM. ( ptr / ana )

==================================
Guru Ngaji Sodomi 26 Anak Diancam 15 Tahun Penjara
Andi Saputra – detikcom
10/04/2008 15:24 WIB

Jakarta – Yusuf alias Ucup alias Cucup Kurniawan (24), tersangka sodomi pada 26 siswa ngajinya hukuman penjara 15 tahun penjara.

“Yusuf terancam pasal 82 UU No 23/2002 tentang UU Perlindungan Anak jo pasal 292 KUHP, dengan ancaman penjara 15 tahun,” kata Kapolres Jakarta Barat Kombes Iza Fadri, di Mapolres Jakarta Barat, Jl S Parman No 31, Jakarta Barat, Kamis (10/3/2008).

Yusuf ditangkap di kampung halamannya, Wanaraja, Garut, Jawa Barat. “Saat ditangkap, Yusuf tidak melakukan perlawanan sedikit pun,” ujar dia.

Iza menambahkan, pihaknya telah mendapatkan 17 laporan dari korban sodomi yang dilakukan oleh Yusuf. Mereka adalah FA, UD, AN, IR, AG, AS, UM, MA, PE, RI, IR, OK, BO, FI, RU, RA, RY. Rata-rata korban berusia 5 tahun hingga 15 tahun.

“Jumlah ini akan bertambah karena pelaku melakukan sodomi dari 2004 hingga sekarang,” pungkasnya. ( ptr / nrl )

Sumber: Detik.com
Guru Ngaji Jadi Buronan Kasus Sodomi

Selasa, 09 Desember 2008 | 19:35 WIB

TEMPO Interaktif, Medan: Kepolisian Sektor Kota Percut Sei Tuan menetapkan pria yang berprofesi sebagai guru ngaji sebagai buronan. Bu, 26 tahun, sejak Selasa (9/12) siang, dicari penyidik kepolisian hingga ke rumah orang tuanya di Kota Binjai, Sumatera Utara.

Kepala Kepolisian Sektor Percut Sei Tuan, Ajun Komisaris Polisi Edi Bona Sinaga mengatakan, Bu diduga melakukan penyimpangan seks terhadap empat murid ngajinya yang berumur, 9 tahun hingga 13 tahun. “Perbuatan itu terjadi sejak Februari hingga menjelang Idul Adha kemarin. Korban mungkin bisa lebih karena muridnya ada 26 orang,” kata Edi.

Terungkapnya perbuatan Bu atas pengakuan para korbannya. “Tadi tiga korban didampingi orang tua mereka sudah membuat laporan pengaduan. Kita masih lakukan pemeriksaan berita acara, dan akan melakukan visum kepada para korban,” jelas Edi.

Menindak lanjuti laporan korban, sejumlah petugas polisi memburu Bu. “Kita sudah cari Bu hingga ke rumah orang tuanya. Tapi dia sudah tidak ada,” kata Edi.

Para korban mengaku disodomi secara terpisah. Modusnya, kata Edi, Bu berdalih memberikan ilmu kebal kepada korban. “Itu dilakukan di rumah kontrakannya, dan di samping rumah warga di Gang Pancasila, Dusun 9, Kecamatan Percut Sei Tuan,” aku Edi.

Selain berdalih menurunkan ilmu kekebalan, Bu juga berpura-pura kesurupan dan meminta salah satu muridnya untuk masuk ke kamar dan membuka seluruh pakaian. “(Saat kesurupan) muridnya memanggilnya kakek,” jelas Edi.

Soetana Monang Hasibuan
Guru Ngaji Ditangkap, Sodomi 11 Santrinya

indosiar.com, Bandung – Seorang guru ngaji harus menjadi contoh tapi apa yang dilakukan seorang guru ngaji di Cimahi, Jawa Barat bukannya memberikan contoh baik. Guru ngaji bernama Opik Sofyan, justru tega mencabuli 11 orang anak didiknya dengan cara sodomi.

Opik Sofyan seorang guru ngaji, sebuah TPA didaerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat harus berurusan dengan polisi. Tersangka ditangkap Satuan Reserse Kriminal Sat Reskrim Polres Cimahi setelah dilaporkan telah mencabuli didiknya yang selama ini diajar dan dibimbing tersangka.

Tidak tanggung – tanggung korban telah dicabuli tersangka dengan cara di sodomi berjumlah 11 orang, bahkan korban yang rata – rata laki – laki itu di sodomi setelah lebih dari satu kali. Tersangka mengakui kesebelas korban di sodomi setelah diajak kerumahnya lalu diiming – imingi akan diberi ikan hias peliharaannya.

Tersangka juga mengaku memiliki perilaku seks menyimpang, yakni menyukai sesama jenis. Kasus sodomi ini terungkap berkat pengakuan salah seorang korban yang mengadukan perbuatan tersangka kepada orangtuanya. Bahkan sebelum akhirnya diamankan polisi, tersangka sempat menjadi bulan – bulanan warga.

Perbuatan tersangka berlangsung selama bulan Juli. Selama itu perbuatannya tidak diketahui karena korban ketakutan setelah diancam akan dikeluarkan serta tidak diberi ikan jika mengadu kepada orangtuanya. (Cecep Hendar/Dv).
Anak usia 10 tahun di sodomi, uztad di Delhi ditangkap

New Delhi: Seorang uztad berusia 21 tahun pada sebuah madrasah ditangkap pada hari Jum’at karena menurut dugaan telah melakukan sodomi terhadap seorang anak berusia 10 tahun di ibukota Negara tersebut, polisi mengatakan.

Mohammad Shehzad, yang telah bergabung dengan madrasah Kali Masjid di Hazrat Nizamuddin dua minggu yang lalu, ditangkap karena telah mensodomi salah satu dari para pelajar pada hari Selasa malam.

Shehzad telah dimasukan ke dalam penjara, polisi megatakan.

Polisi mengatakan sang anak laki2 tersebut akhirnya dapat mengumpulkan keberanian untuk memberitahu ibunya mengenai peristiwa tersebut pada hari Kamis.

Ibu sang anak bersama2 dengan beberapa orang setempat kemudian pergi ke madrasah tersebut dan melabrak sang uztad.
Ayah sang anak meninggal beberapa waktu yang lalu dan sejak itu dia tinggal bersama ibunya.
Imam Perkosa Anak Laki
May 18, 2009

Image
Sang Imam Yasser Mohamed Shahade yang tak dapat menahan nafsu berahi.

Polisi Tampa, Florida, menangkap seorang Imam dan menuduhnya telah melakukan pemerkosaan terhadap anak laki usia 13 tahun yang berada di mesjid Tampa untuk sholat subuh.
Polisi berkata anak laki itu menginap di mesjid semalam di hari Sabtu untuk melakukan sholat subuh. Sekitar jam 6 pagi, polisi berkata dia diperkosa sang imam yang tinggal di mesjid di jalan 1307 West North B Street.
Yasser Mohamed Shahade, 35 tahun, ditangkap dan ditahan di Penjara Orient Road dengan tuduhan melakukan pemaksaan seksual terhadap anak laki tersebut. Catatan penjara menulis bahwa pekerjaannya adalah pengkhotbah Islam. Polisi mengatakan sang Imam berasal dari Mesir dan telah tinggal di mesjid itu selama 2 bulan terakhir.

rainy wrote:Hal ini juga ditegaskan di buku “KEBENARAN YANG HILANG : SIsi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim” karangan Farag Fouda Terbitan Dian Rakyat dan Yayasan Paramadina.Lihat halaman 159 yang mengkisahkan perilaku homoseksual Al-Watsiq (khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah awal)

Tolong jabarkan disini donk !
Gak heran FFI kualitasnya menurun krn RCnya pun berisi artikel sampah doanggg…!

SODOMI DIHALALKAN ALLÂH DAN RASULNYA

HEII! MANAAA HADITSnyaaaaa!!

nih gw kasih hadits,
“Terlaknatlah orang yang mendatangi isteri dari duburnya (melakukan anal seks) (HR Ahmad)”

Ibn `Abbas (may Allah be pleased with him) narrated: “The Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) said: “Allah will not look at a man who has anal sex with his wife.” (Reported by Ibn Abi Shaybah, 3/529, and At-Tirmidhi classified it as an authentic hadith, 1165)

hayoo.. ADMIN di UPDATE RCnyaa..

tafsir ayatnya pun GAK BERANI ngutip dari Ibn Kathir, cih..!
http://www.qtafsir.com/index.php?option … w&id=189#1
Allah said:

﴿نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ﴾

(Your wives are a tilth for you,)

Ibn `Abbas commented, “Meaning the place of pregnancy.” ﴿Allah then said:﴾

﴿فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ﴾

(…so go to your tilth, when or how you will,) meaning, wherever you wish from the front or from behind, as long as sex takes place in one valve (the female sexual organ), as the authentic Hadiths have indicated.

For instance, Al-Bukhari recorded that Ibn Al-Munkadir said that he heard Jabir say that the Jews used to claim that if one has sex with his wife from behind (in the vagina) the offspring would become cross-eyed. Then, this Ayah was revealed:

﴿نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ﴾

(Your wives are a tilth for you, so go to your tilth, when or how you will,)
Muslim and Abu Dawud also reported this Hadith.

Ibn Abu Hatim said that Muhammad bin Al-Munkadir narrated that Jabir bin `Abdullah told him that the Jews claimed to the Muslims that if one has sex with their wife from behind (in the vagina) their offspring will become cross-eyed. Allah revealed afterwards:

﴿نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ﴾

(Your wives are a tilth for you, so go to your tilth, when or how you will,)

tempat bercocok tanam adalah Ms.V! krn hanya disinilah manusia bisa punya anak.

Admin, tolong RC dibersihin dari artikel2 SAMPAH donk!!
oii.. kafir! yg kritis donk! Masak klo artikel dari adadeh langsung pada manggut2 kyak kerbau dicocok hidungnya..!

gaston31 wrote:HEII! MANAAA HADITSnyaaaaa!!

Baca yang bener tuh daftar hadisnya di atas:
Jami al Tirmidhi, Bab al Tafsir, Volume 2, halaman 382, ‘Ayat Hars’ → Jami a-Tirmidhi (Arabic: جامع الترمذي‎), popularly Sunan al-Tirmidhi (Arabic: سُـنَن الترمذي‎) is one of the Sunni Six major Hadith collections collected by al-Tirmidhi.

Image

Mari kutip secara lengkap tulisan dari Jami al Tirmidhi [Bab al Tafsir, Vol. 2, hal. 382, 'Ayat Hars']:
Ibn Abbas narrates that Hadhrath Umar went before Rasulullah (s) and “Master I am destroyed!’. Rasulullah (s) asked ‘what thing has destroyed you?’. Umar replied last night I had anal sex. Rasulullah (s) did not give a reply to Umar, then Allah (swt) sent down this revelation “Your wives are as a tilth unto you; so approach your tilth when or how ye will; the words ‘kabool wa Dhabar’ (the anus is accepted)”
terjemahan:
Ibn Abbas menceritakan bahwa Hadhrath Umar menemui Rasul Allâh dan berkata, ‘Tuan, aku anchoerz!’ Rasul Allâh bertanya, ‘Apa sih yang menghancurkanmu?’ Umar menjawab bahwa kemaren malam dia melakukan sodomi. Rasul Allâh tidak menjawab Umar, maka Allâh menurunkan wahyu “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki (Q 2:223); kata²nya adalah ‘kabool wa Dhabar’ (berarti ngeseks melalui anus adalah halal).”
hayoo.. ADMIN di UPDATE RCnyaa..

Gaston wrote:tafsir ayatnya pun GAK BERANI ngutip dari Ibn Kathir, cih..!
http://www.qtafsir.com/index.php?option … w&id=189#1
Allah said:

Memang begitulah ajaran Islam: Penuh kontradiksi. Ini tambahan keterangan dari Al-Tabari tentang sodomi dalam Qur’an, Sura 2, ayat 23:

Image
Terjemahan kotak nomer 1:
… Ibn ‘Awn melaporkan dari Nafi’ (maulah Persia ‘Abd Allâh b. ‘Umar dan sumber yang sangat dapat dipercaya) yang mengatakan: Ibn ‘Umar terbiasa diam ketika Qur’an dilafalkan.
Suatu hari aku melafalkan di hadapan ‘Umar: Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki,”
dan dia berkata: “Apakah kau tahu latar belakang kejadian ayat ini?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Dia berkata, “Ayat ini diwahyukan berhubungan dengan ngeseks dengan wanita melalui dubur² mereka.”

Terjemahan kotak nomer 2:
Tabari, 2:535 (3464), di mana versi lain menyatakan Nafi “memegang kumpulan Qur’an bagi Ibn ‘Umar, dan Umar sampai pada ayat, ‘Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam…,’ dan berkata “Hal ini berhubungan dengan ngeseks melalui dubur dengan wanita.”
Sama dengan keterangan di atas, Zayd b. Aslam melaporkan bahwa Ibn ‘Umar berkata, “Seorang pria melakukan sodomi dengan istrinya, setelah itu dia merasa bersalah. Maka Allâh mewahyukan: ‘Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam…’ (Tabari, 2:536-7 [3470]).

Image
Terjemahan kotak nomer 3:
Dari ‘Abd al-Rahmân b. Sâbit yang berkata: Aku berkata pada Hafsa (putri ‘Abd al-Rahmân b. Abi Bakr): “Aku berharap untuk bertanya padamu tentang sesuatu, tapi aku malu menanyakannya.”
Hafsa menjawab: “Silakan tanya apa saja, putraku!”
Dia bertanya: “Well, aku ingin bertanya padamu tentang ngeseks dengan wanita melalui dubur² mereka.”
Hafsa menjawab: Umm Salama menjelaskan padaku: “Aku bertanya pada Rasul Allâh mengenai hal itu, dan dia melafalkan: “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Tabari, 2:535 (3468))

Terjemahan kotak nomer 4:
‘Atâ b. Yasâr berkata: Seorang pria menyodomi istrinya sewaktu Rasul Allâh masih hidup, dan orang² mencelanya karena itu dan berkata, “Jejali dubur istri!” Tapi Allâh mewahyukan: “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Tabari, 2:538-9 (3476))
Ustad Usia 21 Tahun Ditangkap Karena Tuduhan Melakukan Sodomi
TNN 2 May 2009, 04:22am IST

NEW DELHI: Seorang ustad berusia 21 tahun ditangkap karena tuduhan melakukan sex tak wajar sodomi di madrasah tempat dia mengajar di Hazrat Nizamuddin pada hari Kamis malam. Tertuduh yang bernama Shehzad mulai mengajar anak² madrasah di Mesjid Kali di Nizamuddin pada tanggal 16 Maret tahun ini. Dia berasal dari Saharanpore in UP.
Menurut pihak polisi, terdapat 40 anak² Muslim yang belajar di madrasah tersebut. Sekitar 15 hari yang lalu, seorang anak usia 10 tahun, murid kelas 4 di sekolah negeri, bergabung di madrasah itu setelah sekolah usai untuk ikut pengajaran Qur’an. “Anak laki ini adalah murid Shehzad dan tinggal di madrasah. Di malam tanggal 27 dan 28 April, Shehzad membius anak itu dan membawanya ke teras madrasah di mana dia melakukan sodomi dua kali terhadap anak tersebut. Di tanggal 29 April, anak itu memanggil ibunya dan memberitahu apa yang telah terjadi. Sang ibu lalu datang di hari Kamis, dan melaporkan hal ini pada kami,” kata pejabat polisi di kantor polisi Nizamuddin.
Pemeriksaan medis membetulkan bahwa anak laki itu telah disodomi.
Muslim Maroko Murtad Gara² Akan Disodomi Muslim Indonesia:

Sodomi dan Islam
Editor: Steve Van Nattan
Tanggal: 15 Juni, 2000, hari Kamis
Dari: Christian
Untuk: Steve Van Nattan
Perihal:

Wahai Steve,

Ketika sedang menyiapkan bahan ajaran tentang Muhammad dan membaca ulasanmu akan dia, aku menemukan dua kalimat berikut dan aku ingin memberitahumu keterangan tambahan yang lebih jelas:

1) John Gunther di bukunya yang berjudul “Inside Africa” menjabarkan bagaimana Berber Maroko membenci orang² Arab, meskipun kedua golongan adalah Muslim. Alasannya adalah karena Muslim Berber itu sangat amat heteroseksual, dan Gunther menerangkan bahwa para Muslim Arab sangat amat suka melakukan sodomi.

Komentar dariku:
Aku adalah orang Maroko dan aku dulu hidup di Maroko sampai separuh usiaku dan telah berkelana ke berbagai penjuru Maroko. Masyarakat Berber (terutama yang berasal dari Selatan, yakni Souss) juga suka melakukan sodomi. Sebenarnya mereka malah suka sodomi lebih daripada orang² Arab. Di manapun kau pergi ke toko² perbelanjaan yang dimiliki seorang Maroko Selatan (Soussi), maka 90-99% di toko² itu akan kau jumpai seorang anak laki yang bekerja sebagai pembantu di siang hari dan jadi boneka sex pemilik toko di malam hari. Setiap orang Maroko juga sudah tahu akan hal ini. Masyarakat Marrakekh dijuga dikenal semua orang Maroko sebagai pelaku sodomi. Masyarakat Marrakekh ini campuran 50% Arab, 50% Berber. Daerah doyan sodomi lain yang terkenal adalah Essawira, terutama kota yang bernama “Labr’at L’enshan” (artinya adalah pasar ular hari Rabu). Sudah jadi pengetahuan umum bahwa di daerah ini para pria saat tidur bersama istri², mereka akan meminta istri² memakai topi pria dan lalu disodomi.

2) Alasannya sudah jelas – sodomi sangat disukai banyak para pria Muslim Arab, dan keterangan ini umum diketahui siapapun yang kenal betul dengan kehidupan masyarakat Timur Tengah. Aku kenal beberapa Arab murtad yang lalu memeluk Kristen yang memperingatkan tentang hal ini begitu aku memberitahu mereka aku ingin bergaul dengan masyarakat Arab. Mereka khawatir tentang putra²ku. Di Saudi Arabia, pria² padang pasir Baduy tidak melakukan sodomi, sedangkan pria² Arab di kota² besar Hadhramaut, Riyadh, dan kota² utara, Mecca and Jiddah sangat suka menyodomi anak² laki.

Komentar dariku:
Diantara masyarakat Arab, pria² Arab di Jazirah Arabia merupakan pelaku sodomi yang paling berat. Mereka tidak hanya melakukan sodomi, tapi mereka pun disodomi pula. Tidak hanya pria Muslim Arab saja yang doyan sodomi, tapi pria² Muslim lainnya juga, seperti misalnya Muslim Malaysia dan Indonesia. Seorang Maroko yang kukenal mengisahkan padaku tentang temannya orang Aljeria yang difitnah mencuri dan dipenjara selama bertahun-tahun karena dia tidak mau menyenangkan hati Imam mesjid disodomi di WC mesjid. Imam ini mengikuti dia ke WC, menyentuh penisnya dan ingin menyodominya. Setelah temannya menolak disodomi, imam ini memfitnahnya mencuri sehingga temannya dimasukkan penjara. Aku juga telah mendengar kisah lain bahwa Muslim diraba-raba penisnya oleh Muslim lain di mesjid sewaktu sholat.

Satu dari alasan² yang membuatku muak akan Islam dan meninggalkan mesjid dan mulai tertarik datang ke gereja adalah karena seorang Muslim Indonesia ingin melakukan sodomi atasku di mesjid. Aku segera menolaknya di depan orang banyak. Apa yang terjadi keesokan harinya? Sang Imam membawaku ke polisi dan menuduhku mencuri hartanya di mesjid. Dia membawaku ke kantor polisi dan ketika polisi tidak menemukan bukti apapun, mereka memintaku menandatangani persetujuan di atas kertas dan berjanji agar aku tidak lagi datang ke mesjid itu. Sejak hari itu aku tidak pernah lagi datang ke mesjid. Jika aku menceritakan hal ini pada Muslim lain, mereka menghina dan mengejekku. Tapi itulah saat Tuhan mulai membuka mataku dan membimbingku mencari kebenaran.

— seterusnya baca sendiri —
Madrasah: Tempat Kembangbiak Jihadis dan Virus HIV – AIDS
oleh: Salah Uddin Shoaib Choudhury
Senin, 30 Mar 2009

Image


Although people are always putting focus on Madrassas involvement in breeding Jihadists, they are yet to investigate the inside stories in Madrassas, where male and female students are sexually abused by the clergies on a regular basis. Sodomy is a growing phenomenon in the Madrassas, and according to various reports, silent spread of HIV and Aids is gradually putting a huge blanket on the large number of students and teachers coming of such institutions.

terjemahan:
Meskipun orang² selalu menghubungkan Madrasah sebagai tempat pembibitan jihadis, ada hal lain yang juga perlu diamati dalam dunia Madrasah, di mana murid² laki dan perempuan diperkosa oleh para ustad terus-menerus. Sodomi merupakan fenomena yang semakin merebak di madrasah², dan menurut berbagai laporan, penyakit HIV dan AIDS secara bertahap menyebar bagaikan selimut raksasa yang menyelubungi sejumlah besar murid² dan ustad² di madrasah².
Mari Periksa TK Madrasah (Sodomi atas bocah² Muslim di Madrasah):

Image
Memuakkan. :vom:

Kasus Sodomi 1:
[India]: Shaheeruddin, chief of the Bodh Gaya-based residential Madrassa was sent to jail on July 25, 2008 on charges of sodomy.

The madrassa chief was arrested late on Thursday evening on the complaint of a 13-year-old madrassa inmate who said that Shaheeruddin had been sodomizing him for about six weeks against his wishes.

Irfan [name changed], the victim, a resident of Malmal village of Madhubani district, along with his guardian, met senior police officials at the Janata Durbar on Thursday to register complaint against the Madrassa chief.

According to the Bodh Gaya DSP Rajvansh Singh, on the instruction of senior police officials, the victim was examined by Dr. Sartaj Khan at the Anugrah Narain Magadh Medical College and Hospital.

During the medical examination, the doctor found signs of sodomy on the victim’s body. The victim told police officials that though Shaheeruddin had been sodomizing him for the last several weeks, the last time it was done was on July 20, 2008.

After initial hesitation, the victim revealed his trauma to one of his Madrassa mates and then went back home to narrate the story to his family elders, who in turn complained to the police.

The Bodh Gaya DSP said that after medical confirmation of the sodomy charge, the police picked up the Madrassa chief. A case under Section 377 has been instituted against the Madrassa chief.

Section 377 says “Whoever voluntarily has carnal intercourse against the order of nature with any man, woman or animal shall be punished with imprisonment with life, or with imprisonment of either description for a term which may extend to 10 years, and shall also be liable to fine.”
The news of the Madrassa chief’s arrest was received in Bodh Gaya with shocked disbelief, as Shaheeruddin is considered to be an influential person in the area.

The Madrassa, housing hundreds of poor children from different parts of the state, is run on charity and Shaheeruddin is regarded as the main resource mobilizer for the Madrassa where the inmates are supposed to receive religious education with an emphasis on pious conduct.

Hundreds of supporters of the Madrassa chief laid a siege around the Bodh Gaya police station demanding immediate release of the accused. The Madrassa chief’s supporters said the charges were cooked up by the Madrassa boy who, according one of the supporters of the Madrassa chief was earlier awarded corporal punishment by the institution head.

Kasus Sodomi 2:
[Brunei]: Hearing of a sodomy case facing a Madrassa teacher who is alleged to have sodomized five of his students between the age of eight and 10 starts on March 25 at the Kisutu Resident Magistrate’s Court in Dar es Salaam.

The accused, Mohamed Hatimu (28), is appearing before Resident Magistrate Hadija Msongo.

Prosecutor Nassoro Sewaya told the court On February 1, 2008 that investigation into the case had been completed and asked the court to set a hearing date. Sewaya said he would call 16 witnesses to testify.

Hatimu is alleged to have committed the offence between April and June 2007 at Mwanayamala in the city. The accused is out on bail.

Kasus Sodomi 3:
[Pakistan]: When, on the morning of 21 February 2007, a bearded man walked up to a woman and asked ‘Why aren’t you wearing proper Islamic dress?’ he was not looking for an answer. It was just a rhetorical question because, before the woman could respond, he had pumped a bullet into her head which killed her.

The woman – dressed so traditionally that only her face was visible – was Zill-e-Huma, who at the time was addressing a public meeting in her capacity as Social Welfare Minister of Pakistan’s largest province, Punjab.

After shooting the Minister, Hafiz Muhammad Sarwar calmly stood his ground, allowed the police to arrest him and said loud and clear: he had killed the Minister because, as a good Muslim, she was supposed to be staying inside her home and not ruling men. The rule of women, said Hafiz Muhammad Sarwar, was anti-Islamic. Women seen outside the home are evil. ‘I have killed her out of conviction that she was leading an un-Islamic life and spreading an evil influence on other women.’

He also proudly claimed that in the past five years he had killed twelve prostitutes and seriously injured dozens more for being immoral women: ‘One immoral woman will cause one hundred men to go to hell in the hereafter; hence no immoral woman should be left to stay alive.’

The police officers there confirmed that Hafiz Muhammad was a well-known prostitute-killer. When asked what would happen to his children, he replied: ‘I am not worried about the future of my children. I have killed the women in line with God’s commandments and He will take care of my children.’

Hafiz Muhammad Sarwar, a Wahhabi by religious persuasion, started his ‘divine mission’ on the night of 3 November 2002 when he shot Dabbi, a poor prostitute. Within six months he had killed half-a-dozen prostitutes and hurt many more in Lahore and Gujranwala, and came to be known as ‘Serial Killer’. At the time of his arrest in 2004 he proudly confessed to having killed ‘immoral’ prostitutes. His favourite method of attack was to knife or shoot the prostitutes just above the crotch. If they survived the attack they would be paralyzed or permanently disabled [which actually happened].

But he was never punished, because his affluent Islamist friends and patrons took care of the murder witnesses and the relations of the prostitutes, either by paying them the Shari’a-sanctioned blood money, or by simply terrorizing them. During his incarceration he was examined by a noted psychiatrist who pronounced him ‘normal’ but religiously fanatical. Thus, after spending one year in jail, he was a free man. His patrons helped him set up in business as a locksmith, and he enjoyed the reputation of an honest, clean man.

Read More

Kontroversi umur AISYA, 3 artikel

PERHATIAN:
POST INI TERDIRI DARI 3 ARTIKEL:
1) KONTROVERSI SEKITAR UMUR AISHA (sudah diterjemahkan)
2) DEBAT MENGENAI UMUR AISHA (link ke diskusi di FFI)
3) AISYA, PENGANTIN ANAK2 MUHAMAD
4) MORALITAS PERKAWINAN DENGAN ANAK KECIL
5) Muhamad, Aisha dan Pengantin anak2 (Efek psikologis dan biologis sex sebelum akil baliq)****

SEHARUSNYA ARTIKEL NOMOR 3) DIMULAI TERLEBIH DAHULU. APA BOLEH BUAT. YANG DITERJEMAHKAN TERLEBIH DAHULU ADALAH NOMOR 1) INI.

DEMIKIAN AGAR JELAS & SELAMAT MEMBACA.
_____________________________________________________________
ARTIKEL 1

http://www.faithfreedom.org/Articles/si … ha_age.htm
CONTROVERSIES ABOUT THE AGE OF AISHA By Ali Sina
Kontroversi sekitar umur Aisha

Kaum Islam “modernist” menyanggah fakta umur Aisya ini. Mereka bersikeras:
(dari http://www.understanding-islam.com/ri/mi-004.htm)

1)
Menurut tradisi yang diterima pada umumnya, Aisha dilahirkan sekitar 8 tahun sebelum Hijrah. Ia kemudian menikah pada tahun 1 Hijrah. Jadi banyak yangmengasumsi bahwa Aisha berumur 9 tahun ketika ia menikah. NAMUN menurut narasi lainnya dalam Bukhari (kitabu’l-tafseer) Aisha dilaporkan mengatakan bahwa saat diwahyukannya Surah Al-Qamar, Surah Qur’an nomor 54, “Saya seorang gadis muda”. Surah ke-54 itu diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah. Jadi menurut tradisi ini, pada saat itu Aisha bukan lagi anak2 (sibyah) melainkan gadis muda (jariyah).

Jawaban A SINA terhadap yang diatas:
Bahkan jika kita mengasumsi bahwa riwayah diatas akurat, tidak ada alasan mengapa riwayah ini lebih penting ketimbang riwayah lainnya yang begitu mendetil tentang umur Aisha, menggambarkannya bermain dengan boneka, pembicaraannya dengan teman2 seumurnya dan ceritanya bersembunyi ketika Muhamad memasuki kamar, memorinya tentang bermain di ayunan ketika ibunya memanggilnya dan mencuci mukanya dan mempertontonkannya kepada Muhamad, ke-dungu-annya dan rasa kaget ketika Muhamad beraksi dalam perannya sebagai suami, dsb. Peristiwa2 ini lebih menempel di ingatan ketimbang kapan turunnya wahyu. Kemungkinan orang lebih mengingat peristiwa penting ketimbang kepastian tanggal datangnya Surah.//

2)
Menurut beberapa riwayah, Aisha menemani pasukan muslim dalam pertempuran Badr dan Uhud. Juga dilaporkan dalam hadis dan sejarah bahwa mereka dibawah umur 15 tahun tidak diijinkan mengambil bagian dalam pertempuran Uhud. Semua anak lelaki dibawah umur 15 dipulangkan kembali. Partisipasi Aisha dalam pertempuran Badr dan Uhud pada saat itu jelas menunjukkan bahwa ia bukan lagi berusia 9 atau 10. Lagipula, perempuan biasa menemani kaum lelaki dalam pertempuran guna memberi bantuan.

Jawab A SINA:
Ini alasan lemah. Pada saatnya pertempuran Badr dan Uhud Aisha berumur antara 10 sampai 11 tahun. Ia tidak bertempur seperti kaum lelaki. Ia disitu untuk menghangati tempat tidur Muhamad. Lelaki dibawah umur 15 dipulangkan, tetapi ini tidak berlaku bagi Aisha.//

3)
Menurut kebanyakan pakar sejarah, Asma, kakak perempuan Aisha berumur 10 tahun diatas Aisha. Dilaporkan dalam Taqri’bu’l-tehzi’b dan Al-bidayah wa’l-nihayah bawha Asma wafat tahun 73 hijrah pada usia 100 tahun. Jelas, jika Asma berusia 100 tahun pada tahun 73 Hijrah, pada saat hijrah ia berumur 27 atau 28. Jika Asma berusia 27 atau 28 pada saat hijrah, maka Aisha berumur 17 atau 18 tahun. Jadi, pada saat Aisha menikah pada tahun 1 AH (after hijrah) atau 2 AH, ia berumur antara 18 atau 20 tahun.

Jawaban A SINA:
Pada saat Asma sudah sangat berumur, orang tidak terlalu peduli mengenai umur persisnya. Lebih mudah membulatkan angka 100 tahun ketimbang menyebut 90 tahun. Bedanya tidak kelihatan bagi orang2 sekitarnya.

Dengan asumsi Hadis tersebut autentik, ini mungkin suatu kesalahan tidak sengaja. Dijaman baheula belum ada sertifikat lahir. Lagipula, Asma bukan orang penting dan tidak akan menyangka bahwa 1300 tahun kemudian ia menjadi obyek kontroversi. Ini bisa2 sebuah kesalahan dalam Hadis.//

4)
Tabari dalam tulisannya tentang sejarah Islam, menulis bawha Abu Bakr (ayah Aisha) memiliki 4 anak dan kesemuanya dilahirkan dalam masa Jahiliyyah — masa pra Islam. Jelas jika Aisha lahir dalam masa jahiliyyah, ia tidak dapat berusia dibawah 14 pada masa 1 AH — saat ia kemungkinan besar menikah.

Jawab A SINA:
Riwayah Tabari tidak dikenal sebagai Sahih. Bahkan jika riwayahnya ini sesuai fakta, tidak ada alasan mengapa kita harus menyingkirkan hadis2 yang jauh lebih eksplisit dan mendetail yang saling menunjang dan mengaskan bahwa umur Aisha 9 pada saat ia menikahi Muhamad. Orang lebih mengingat peristiwa2 penting ketimbang hal2 yang tidak terlalu signifikan. Tanggal lahir anak2 Abu Bakr bukan hal penting bagi Muslimin saat itu untuk dicatat. Yang lebih penting adalah detail perkawinan Nabi. Dalam cerita pernikahan Safiyah, bahkan makanan yang dihidangkan pun dicatat.//

5)
Menurut pakar sejarah Ibn Isham, Aisha menerima Islam jauh sebelum Umar ibn Khattab. Ini menunjukkan bahwa Aisha menerima Islam pada tahun 1 Islam. Itu berarti mustahil jika ia dilahirkan pada tahun pertama Islam.

Jawab A SINA:
Para apologis tidak menyertakan teori ini dengan hadis. Lagipula teori ini juga salah. Guna mengerti dan menerima sebuah agama, paling tidak orang harus punya otak. Katakanlah Aisha berumur 12 (atau 15). Kalau memang benar Aisha menerima Islam pada tahun pertama Islam, maka pada saat ia menikahi Muhamad ia berusia 26 tahun (12 + 14) !

Pertama, perempuan jaman itu menikah pada umur jauh lebih muda. Tidak ada seorangpun mau menunggu menikah sampai umur 26 tahun. dan sangat tidak masuk akal bahwa seorang wanita berumur 26 tahun masih bermain dengan boneka. Ini menunjukkan bahwa para muslim apologis malu akan perlakuan Nabi dan mencari-cari alasan untuk menutupi ketidakpantasan sang Nabi.

6)
Tabari juga melaporkan bahwa pada saat Abu Bakr berencana untuk migrasi ke Habshah (8 years sebelum Hijrah), ia pergi ke Mut`am — ayah anak lelaki yang dipinangkan degnan Aisha — dan memintanya agar menerima Aisha sebagai isteri puteranya. Mut`am menolak karena Abu Bakr memeluk Islam, dan akhirnya puteranya menceraikan Aisha.
Nah, jika Aisha berumur hanya 7 tahun pada saat menikah dengan Nabi, mustahil ia dilahirkan pada saat Abu Bakr berencana untuk migrasi ke Habshah. Berdasarkan ini, kita bisa berasumsi bahwa Aisha bukan hanya dilahrkan 8 tahun sebelum hijrah, namun juga seorang wanita muda yang siap memasuki perkawinan.

Jawab A SINA:
Tradisi Arab untuk menjodohkan anak2 pada saat lahir tidak aneh. Bahkan sampai sekarangpun tradisi ini masih berlanjut. Teori diatas tidak membuktikan Aisha seorang gadis muda.

7)
Menurut riwayah Ahmad ibn Hanbal, setelah kematian Khadijah, Khaulah menghadap Nabi agar menikah lagi. Nabi bertanya kepadanya siapa kira2 menurutnya yang ingin dicalonkannya. Khaulah mengatakan: “Kau dapat menikahi perawan (bikr), atau perempuan yang sudah menikah (thayyib)”. Nabi lalu bertanya siapa sang perawan, Khaulah mengusulkan Aisha. Mereka yang mengerti bahasa Arab, tahu bahwa kata “bikr” digunakan tidak untuk menggambarkan gadis berumur 9 tahun. Kata yagn tepat bagi anak2 kecil adalah “Jariyah”. “Bikr” hanya dipakai untuk menggambarkan gadis belum menikah dan bukan seorang berusia 9 tahun.

Jawab A SINA:
Keterangan ini tidak tepat. Saya lahir di Iran dan saya mengerti bahasa Arab. Bikr berarti perawan dan tidak menunjukkan umur. Faktanya, Aisha adalah isteri kedua Muhammad (setelah Khadijah) namun Muhammad MENUNGGU TIGA TAHUN sebelum melakukan hubungan perkawinan karena AISHA TERLALU MUDA. Oleh karena itu ia memuaskan dirinya dengan Umma Salamah, sampai Aisha tumbuh sedikit lagi. Tidak masuk akal untuk mengawini wanita cantik seperti Aisha dan menunggu tiga tahun sebelum membawanya ke rumahnya.

8)
Menurut Ibn Hajar, Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisha. Fatimah dilaporkan lahir pada saat Nabi berumur 35 tahun. Jika info ini benar maka Aisha tidak mungkin berusia dibawah 14 tahun pada saat hijrah dan pada saat menikah berumur 15 atau 16 tahun.

Jawab A SINA :
Tentu info diatas tidak benar. Jika Fatimah 5 tahun diatas Aisha, dan Fatimah lahir saat Nabi berusia 35 tahun, maka Aisha lahir pada saat Nabi berusia 30 tahun. Jadi beda usia mereka 30 tahun. Kalau memang begitu, Ketika Muhamad berusia 54 saat menikahi Aisha, maka Aisha berumur 24 tahun. Ini jelas tidak tepat. Alasannya sudah diberikan diatas selain mengkontradiksi hadis yang diberikan para apologis tentang umur Asma, yang dikatakan 10 tahun diatas Aisha dan wafat pada tahun 73 Hijrah. Kalau begitu pada saat Hijrah, Asma berumur 100 –73 = 27 tahun, sementara menurut hadis, ia berumur 34 tahun.

Kejanggalan antara kedua hadis yang diberikan oleh para apologis menunjukkan kelemahan mereka. Ini menunjukkan bahwa pada jaman itu angka tidak banyak berarti. Kemungkinan besar orang lupa tanggal. Namun peristiwa dengan mudah diingat. Laporan tentang usia muda Aisha konsisten dengan cerita2 masa kanak2nya, bermain dengan boneka, dan teman2 seumurnya dan bersembunyi ketika Muhamad memasuki ruangan dan kagetnya ketika Muhamad mengadakan hubungan seksual dengannya. Mereka yang mengingkari fakta dan mencoba membuktikan sebaliknya menunjukkan malunya mereka akan tindakan Nabi. Mungkin mereka harus di-diskreditkan karena mengetahui kesalahan Muhamad dan kita tidak patut menuruti mereka karena mereka tidak memiliki kejujuran intelektual.

9)
Pada akhirnya, para apologis menyimpulkan:
“Menurut pendapat saya, menjodohkan anak2 seumur 9 atau 10 tahun bukan tradisi Arab dan Nabi juga tidak menikahi Aisha se-muda itu. Orang2 Arab tidak menolak perkawinannya karena perkawinannya memang layak, tidak sebagaimana diriwayahkan sebaliknya.”

Jawab:
Saya total tidak setuju. Tradisi ini MEMANG KHAS ARAB, bahkan masih dilanjutkan sampai sekarang, bahkan di negara2 yang ditaklukkan Islam. Sampai sekarang tidak aneh melihat anak2 berumur 9 tahun dikawinkan. Alasan bahwa tidak ada yang tidak setuju akan perkawinan Muhamad dengan anak ingusan adalah karena ini sesuai adat. Alasan mengapa ini tidak dilaporkan dalam banyak hadis adalah karena ini memang bukan hal luar biasa.

Beberapa minggu yang lalu saya membaca dalam surat kabar bahwa di Iran, seorang perempuan 9 tahun meminta cerai dari suaminya yang berumur 15 tahun setelah perkawinan 20 hari karena ia selalu memukulinya. Ketika sang lelaki ditanya mengapa, ia mengatakan “Isteri saya malas melakukan tugas rumah tangga dan selalu bermain dengan bonekanya. “

Image
Bayangkan : Muhamad ketika itu berusia sama spt pria dlm foto diatas itu, memegang gadis seumur Aisya. Bayangkan sekali lagi, seorang kakek mengawini cicitnya ! Tidak muakkah anda ?

:twisted:

AFGHANISTAN :PENGANTIN ANAK2
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=3633
:vom: :vom: :vom:
Lihat diskusi di :

Nilai Moral Nabi Yg Meniduri Gadis 9 Th
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=53

Anda tahu Muhamad (umur 53) menikah dgn anak umur 9 tahun ?
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … .php?t=124
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Aisha.htm

Aisha: Istri Muhammad yang Masih Anak2
Oleh Ali Sina

Membayangkan pria tua terangsang oleh anak kecil adalah sangat memuakkan. Kita semua merinding dibuatnya karena mengingatkan kita pada tindak kriminal fedofilia. Sukar diterima bahwa sang Nabi Suci, pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, bisa menikahi Aisha ketika ia berusia 6 tahun dan menyetubuhinya pada saat ia berusia 9 tahun. Waktu itu, Muhammad berusia 54 tahun.

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3310:
‘A’isha (Allah berkenan padanya) melaporkan: Rasulullah (saw) menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan aku diterima di rumahnya pada waktu aku berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 64
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun, dan dia terus bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun. Hisham berkata: “Aku telah diberitahu bahwa ‘Aisha tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).” Apa yang kau ketahui tentang Qur’an (di luar kepala).

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 88
Dikisahkan oleh ‘Ursa:
Sang Nabi menulis (kontrak kawin) dengan ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun dan menyetubuhinya ketiak dia berusia sembilan tahun dan dia tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Beberapa Muslim mengatakan bahwa adalah ayah Aisha, Abu Bakr, yang meminta agar Muhamad mengawini anaknya. Ini saja tidak benar dan inilah buktinya.

Sahih Bukhari 7.18
Dinyatakan ‘Ursa:
Sang Nabi meminta Abu Bakr untuk menyerahkan Aisha untuk dinikahi. Abu Bakr berkata,”Tapi engkau saudaraku.” Nabi berkata, ”Engkau saudaraku dalam agama Allah dan BukuNya, tapi ia (Aisha) adalah sah untuk dinikahiku.

Orang2 Arab waktu itu masih primitif dengan tidat terikat banyak aturan. Tapi meskipun begitu mereka punya kode etik. Contohnya, meskipun mereka berperang sepanjang tahun, mereka menghilangkan semua rasa permusuhan di bulan2 suci dalam tahun itu. Mereka juga menganggap Mekah adalah kota suci dan tidak ada yang boleh berperang terhadapnya. Istri dari anak angkat seorang pria akan dianggap sebagai menantu wanitanya dan siapapun tidak boleh menikahi menantu wanita itu. Adalah suatu kebiasaan untuk membuat sumpah persaudaraan dan menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Sang Nabi nyata-nyata melanggar semua aturan2 yang dianggapnya menghalangi keinginannya.

Abu Bakr dan Muhamad sudah melakukan sumpah saudara. Jadi berdasarkan adat, Aisha seharusnya sudah seperti keponakan “buyut” sang Nabi. Tapi inipun tidak menghentikannya untuk menikahinya walaupun Aisha masih berusia 6 tahun. !!! :twisted: Bayangkan kalau opa anda menikahi anak anda yang masih 6 tahun !

Nabi yang suka mengubah2 standar moral menutut keadaan ini, sempat berpura2 menolak Aisha ketika ditanya:

Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37
Dinyatakan Ibn ‘Abbas:
Dikatakan pada sang Nabi,”Maukah engkau menikahi anak perempuan Hamza?” Nabi menjawab,”Dia adalah keponakan angkatku (anak saudara angkatku).

Di hadis berikut, sang Nabi menceritakan secara rahasia pada Aisha bahwa ia bermimpi tentang dia sebelum meminta ayahnya untuk memperistrinya.

Sahih Bukhari 9.140
Dinyatakan ‘Aisha:
Nabi Allah berkata padaku,”Kau ditampakkan padaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam kain sutra, dan aku berkata padanya,’Singkapkan (dia), ‘ dan lihatlah, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’ Maka kau ditunjukkan padaku, malaikat membawamu dengan sehelai kain sutra, dan aku berkata (pada malaikat), ‘Singkapkan (dia), dan lihat, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’

Masalahnya bukan apakah Muhamad memang bermimpi atau apakah dia mengatakannya hanya untuk menyenangkan Aisha. Masalahnya adalah mana mungkin malaikat menawarkan anak kecil kepada Nabi. Didunia Muhamad, malaikatpun tidak bermoral ?

Ada banyak sekali hadis yang secara tegas menyatakan usia Aisha pada saat dia menikah. Ini sebagian dari ayat2 tsb.:

Sahih Bukhari 5.236.
Dikisahkan oleh ayah Hisham:
Khadija meninggal dunia tiga tahun sebelum sang Nabi berangkat ke Medina. Dia diam di sana selama dua tahun atau lebih dan lalu dia menikahi ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun, dan dia (Nabi) menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari 5.234
Dikisahkan oleh Aisha:
Sang Nabi bertunangan denganku ketika aku masih seorang gadis kecil berusia enam (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Lalu aku sakit dan rambutku rontok. Tak lama kemudian rambutku tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang padaku ketika aku bermain ayunan bersama beberapa dari kawan perempuanku. Ibu memanggilku, aku pergi menghadapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ibu memegang tanganku dan membawaku berdiri di depan pintu rumah. Aku tak bisa bernafas, dan ketika aku bisa bernafas lagi, dia (Ibu) mengambil air dan membilas wajah dan kepalaku. Lalu dia membawaku masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kulihat wanita2 Ansari yang berkata, “Salam sejahtera dan Berkat Allah dan semoga selamat.” Lalu dia (Ibu) menyerahkanku kepada mereka dan mereka mempersiapkanku (untuk perkawinan). Secara tak terduga, Rasul Allah datang padaku di pagi hari dan ibuku menyerahkanku kepadanya, dan pada saat itu aku adalah seorang gadis berusia sembilan tahun.

Dan di Hadis yang lain kita baca.

Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4916 and Number 4917
Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:
Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

Dalam hadis di atas kita baca bahwa Aisha bermain ayunan. Ini adalah permainan anak2 kecil. Hadis berikut menarik disimak karena ini menunjukkan Aisha masih terlalu kecil sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi ketika sang Nabi Suci “mengejutkannya”.

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 90
Dinyatakan Aisha:
Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG LEBIH MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.

Tentunya ini sangat mengejutkan baginya! Tapi hadis berikut juga menarik karena hadis ini menunjukkan bahwa Aisha hanyalah seorang gadis cilik yang masih suka bermain dengan boneka2nya. Perhatikan apa yang ditulis pengarang dalam tanda kurung. (sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas).

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151
Dinyatakan oleh ‘Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

Sahih Muslim Book 008, Number 3311
‘A’isha (Allah berkenan padanya) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) menikahi dia ketika dia berusia tujuh tahun, dan dia dibawa ke rumah Nabi sebagai pengantin ketika berusia sembilan tahun, dan boneka2nya ikut bersamanya; dan dia (sang Nabi) mati ketika ‘A’isha berusia delapan belas tahun.

Sang Nabi suci mati ketika dia berusia 63 tahun. Karena itu dia mestinya menikahi Aisha ketika dia berusia 51 tahun dan menyetubuhinya ketika dia berusia 54 tahun.

Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 33
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Aku tidak pernah merasa begitu cemburu pada wanita mana pun seperti yang kurasakan pada Khadija, meskipun dia telah meninggal tiga tahun sebelum sang Nabi mengawiniku, dan ini karena aku mendengar dia (Nabi) terlalu sering berkata tentang dia, dan karena Tuhannya memerintahkan dia untuk memberi Khadija kabar2 sukacita agar dia dapat tempat di surga, terbuat dari Qasab dan karena dia (Nabi) dulu sering menyembelih seekor domba dan mem-bagi2kannya diantara kawan2 Khadija.

Khadija meninggal dunia di bulan Desember, 619 AD. Ini adalah dua tahun sebelum Hijra. Pada saat itu sang Nabi berusia 51 tahun. Jadi di tahun yang sama waktu Khadija meninggal, sang Nabi menikahi Aisha dan membawanya ke rumahnya tiga tahun kemudian, yakni setahun setelah Hijra. Tapi selama menunggu Aisha, sang Nabi menikahi Umm Salama.

Sekarang beberapa orang mungkin tetap ngotot mengatakan bahwa hadis2 ini bohong semua. Orang2 boleh bebas percaya apapun yang mereka inginkan. Tapi kebenaran ini tampak nyata seterang matahari bagi mereka yang punya mata.

Pertanyaannya adalah, untuk apa pengikut Muhamad yang banyak itu mau menyusun begitu banyak hadis2 palsu tentang usia Aisha? Malah sebenarnya hadis2 itu saling menegaskan isinya satu sama lain.

Kalau mengarang cerita mukjizat palsu ttg Muhamad, orang masih bisa mengerti. Jemaat Bab percaya bahwa Bab mulai menyembah Tuhan begitu ia lahir. Ada sebuah hadis seperti itu pula tentang Muhamad. Orang2 Kristen percaya bahwa kelahiran Kristus merupakan suatu mukjizat dan kaum Yahudi percaya Musa membelah Laut Merah.

Orang2 penganut agama (apapun) suka mendengar cerita2 seperti ini. Ini menegaskan kepercayaan mereka. Ada banyak mukjizat2 yang tidak masuk akal yang berkenaan dengan Muhamad di hadis2, meskipun Muhamad sendiri menyangkalnya. Tapi kenapa orang akan
mengarang2 tentang usia Aisha yang nantinya akan menunjukkan Nabinya sbg seorang fedofilia?//
http://www.faithfreedom.org/Articles/si … aleval.htm

Penelaahan Moral pada Perkawinan Sang Nabi dengan Aisha
Oleh Ali Sina

Aisha berumur 9 tahun atau 8 tahun 9 bulan berdasarkan perhitungan tahun tatasurya ketika Muhamad menidurinya. Kenyataan ini
ditunjukkan dalam sejumlah besar hadis. Kesemua hadis ini konsisten isinya.

Hal ini tadinya tidak pernah jadi masalah sampai saat kaum Muslim berhubungan dengan nilai2 Barat dan malu mengakui bahwa Nabi mereka seorang pedofil. Muslimin menyangkal fakta2 yang menganga dengan jelas didepan hidung mereka. Herannya, sebagian besar Muslimin tetap merasa perkawinan Aisa pada usia muda sbg hal NORMAL.

Seorang wanita Amerika, yang berkiriman surat denganku tentang Islam, merasa tertarik akan agama ini karena pacar prianya adalah Muslim. Dia mengakui kaget mendengar Muhamad berhubungan seks dengan anak perempuan berusia 9 tahun, tapi dia lalu lega saat beberapa orang Muslim menyangkal hal ini. Ini memang menjadi bahan pertentangan semua orang Muslim. Karena itu aku menulis jawaban ini.

Masih juga ada orang yang menyangkal terjadinya holocaust (pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi dalam PD2). Ini baru saja terjadi 55 tahun yang lalu dan direkam dengan cermat. Tetap saja ada orang yang menyangkalnya. Mereka lalu mulai mengarang2 pertentangan kenyataan.
Tetapi apakah kau akan meragukan terjadinya holocaust hanya karena orang menentangnya ? Orang2 cerdas tidak terpengaruh akan pertentangan. Mereka melihat fakta dan tidak terombang-ambing dengan kata2 orang. Justru orang2 yang mempertentangkan ini menutup dan menghindari masalah utama.

Hanya beberapa tahun yang lalu, Sheikh Baaz di Saudi Arabia mengeluarkan fatwa bahwa setiap orang yang mengatakan bumi bulat adalah kafir. Tentu saja ini tidak bisa bertahan terlalu lama, tapi dia sudah memulai sebuah pertentangan. Lalu apakah pendapatmu tentang bentuk bumi? Apakah engkau tidak mau memikirkannya karena ini merupakan pokok bahasan yang bertentangan? Bagaimana dengan evolusi? Banyak orang Muslim dan Kristen yang tidak percaya akan hal itu. Mereka percaya dongeng Adam dan Hawa dan penciptaan bumi. Ini merupakan pertentangan yang besar. Apakah kau tidak mau memikirkannya? Bukan masalah bagimu? Hampir semua hal di dunia ini merupakan masalah yang bertentangan. Dari masalah hukuman mati ke masalah alasan Perang Irak dsb dsb, semuanya adalah masalah yang penuh pertentangan. Bahkan masalah agama pun merupakan masalah yang bertentangan. Tetapi kau tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab jika kau dihadapkan dengan masalah yang bertentangan.

Aku setuju bahwa moralitas itu relatif dan kita tidak boleh menghakimi moralitas masyarakat kuno dengan moralitas modern yang kita anut sekarang.

Sudah jelas kita akan merinding jika kita berpikir tentang fedofilia dan mengakui bahwa itu adalah tindakan memalukan yang tak bermoral. Tapi pada zaman Muhamad dan bahkan sekarang pun di beberapa negara Islam, menikahi anak berusia 9 tahun bukanlah tindakan tak bermoral. Pada kenyataannya Aisha diberikan pada Muhamad dengan persetujuan orang tuanya dan tidak seorang pun mengangkat alis (kaget). Pertanyaannya adalah, jika meniduri anak perempuan berusia 9 tahun tidak dipandang sebagai sesuatu yang jelek sehingga tidak dianggap amoral, apakah itu tetap dapat diterima? Tidak semua yang diterima suatu masyarakat adalah baik. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin bukan tindakan amoral bagi bangsa Arab 1.400 tahun yang lalu, tapi sekarang, dan juga dulu, merupakan tindakan yang tidak etis. Moralitas terbentuk oleh keadaan, tapi etika melampaui batasan waktu dan tempat. Etika berakar dari akal sehat (logika). Moralitas dapat ber-ubah2 dari satu budaya ke budaya lainnya, dari satu waktu ke waktu lain dan dari satu orang ke orang lain. Siapa yang menentukan mana yang bermoral dan tidak?

Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin bukan tindakan amoral bagi Muhammad dkk di kebudayaan tak beradab itu, tapi secara etika ini salah. Jika Muhamad adalah seorang utusan Tuhan dan seorang yang terhormat, seperti yang diakuinya Allahnya (katanya), maka dia seharusnya tahu apa yang dilakukannya bukan perbuatan terhormat dan tidak etis.

Memang benar zaman dulu orang menikah di usia sangat dini. Dan memang benar bahwa se-kali2 orang2 tua yang kaya menikahi gadis2 yang sangat muda. Kita harus menyadari bahwa orang2 ini bersikap sesuai dengan budayanya. Kita tidak mencela mereka karena memang mereka tidak tahu tata-cara yang lebih baik. Yang mereka lalukan adalah normal (bagi mereka). Tapi kita mencela budaya2 seperti itu.

Akan tetapi, kita tidak dapat menggunakan penilaian yang sama bagi orang2 yang mengaku sbg standar moralitas bagi umat manusia.

Jika rata2 orang tidak dapat membedakan mana yang baik dan jelek, maka utusan2 Tuhan–jika benar2 mereka diutus Tuhan–harus lebih tahu. Jika pernyataan mereka benar, jika pengetahuan mereka datang dari illahi, jika mereka terinspirasi (illahi), maka mereka seharusnya tidak mengikuti tradisi masyarakat mereka sendiri tapi sebaliknya harus menerapkan contoh yang baik. Muhamad mengikuti moralitas masyarakatnya. Tapi moralitas ini secara etis salah. Dia mengaku sebagai orang yang berakhlak terbaik dan utusan terakhir dari Tuhan. Menurut dia, Tuhan telah mewahyukan pesanNYa lewat dirinya kepada seluruh umat manusia. Jadi segala kelakuan dan ajarannya kita harus ketahui dan ikuti se-lama2nya. Sementara segala yang ia lakukan dan kerjakan, di bawah pengamatan nilai2 modern, terbukti sangat salah.

Sekarang kita menyadari bahwa kita tidak dapat hidup berdasarkan contoh2nya lagi dan tidak bisa lagi melakukan ajaran2nya. Moralitas kita sudah berubah. Negara manapun (kecuali negara Islam) akan tegas2 memenjarakan pria kalau sampai meniduri anak umur 9 tahun. Kita tidak mengizinkan orang mengambil budak atau memperdagangkan perbudakan seperti yang dilakukan Muhamad.

Jika kita tidak bisa mengikuti moralitas Muhamad lagi, jika yang dia katakan dan lakukan tidak cocok lagi untuk dunia modern, kenapa kita masih butuh seorang Muhamad ? Bagian mana dari ajarannya yang masih harus kita terima dan bagian mana yang harus kita buang? Siapa yang bisa menentukan itu? Ini adalah pertanyaan yang penting. Jika kita bebas memilih ajaran yang cocok bagi kita, maka kita harus memberi kebebasan yang sama bagi orang lain.

Misalnya kau percaya bahwa menikahi anak kecil harus dilarang, atau bahwa poligami tidak dapat diterima lagi di zaman ini. Kau tidak setuju dengan perbudakan, sunat laki atau wanita, memukuli istri, atau Jihad. Kau lebih suka konsentrasi pada bagian lain dari Islam seperti Salat, Zikat, Haji, dll. Ini adalah pilihanmu. Tapi dapatkah kau melarang orang2 Muslim lain yang memilih hal yang berbeda (dari agama Islam)? Bagaimana kau dapat menghentikan seorang Muslim yang mengikuti ajaran2 Islam yang bagimu sudah ketinggalan zaman? Dengan otoritas apa kau bisa mencegah orang yang ingin menyebarkan Islam melalui Jihad, sama seperti yang dilakukan Muhammad?

Bagaimana kau bisa mencegah tindakan pedofilia ? Apa yang dapat kau katakan pada Muslim yang ingin punya empat istri dan suka memukuli mereka jika mereka tidak taat, seperti yang diperintahkan sang Nabi?

Jika kau menggunakan logika untuk memilih ajaran2 (Islam) terbaik, maka kau berkata bahwa logika lebih unggul daripada wahyu (illahi) dan karena itu kau KAFI, tidak Islami karena tidak mengikuti jalan pikir/contoh Muhamad.

Banyak negara2 Islam yang sadar bahwa Islam sejati mustahil diterapkan. Hanya sedikit sekali yang bisa menerapkannya secara penuh; mereka semua telah merubahnya sampai tahap tertentu dan memasukkan paham sekuler ke dalam hukum2 mereka untuk membuat hidup lebih layak. Mereka (negara2) yang mengikuti Islam secara penuh menjadikan NERAKA di bumi. Semakin tinggi kadar Islamnya, semakin parah–bukan semakin baik–nasib warganya. Anda masih juga tidak setuju ?

Di Jaman Pertengahan (sekitar abad 14 – 15), ketika agama menjerumuskan Eropa ke abad kegelapan, negara2 Islam malah maju dan makmur. Ini dimungkinkan karena toleransi para pemimpin (negara Islam) saat itu, terpisahnya pemerintahan dari mesjid dan ketidaktertarikan mereka untuk menerapkan hukum Islam.

Zakaria Ar-Razi, salah satu pemikir terbesar di dunia Islam, menyerang agama secara umum–dan Islam khususnya–dengan pernyataan yang tidak terpikirkan di jaman kini. Dia menulis:

Para nabi – kambing2 bandot dengan jenggot panjang, tidak dapat menyatakan keunggulan intelektual atau spiritual. Kambing2 bandot ini pura2 datang bawa pesan dari Tuhan, semuanya membuat capek diri mereka sendiri dengan menyemburkan kebohongan2 mereka, dan menuntut ketaatan buta yang menyeluruh pada “firman2 sang pemimpin.”

Muzizat2 para nabi palsu belaka, berdasar tipu daya, atau dongeng2 mereka bohong semua. Kesalahan2 yang dikatakan para nabi jelas tampak pada kenyataan bahwa mereka bertentangan satu sama lain: satu nabi menegaskan hal yang ditentang nabi lainnya, tapi setiap nabi mengaku sebagai satu2nya pembawa kebenaran; karena itu Perjanjian Baru menentang Hukum Taurat, Qur’an menentang Perjanjian Baru.

Tentang Qur’an, ini hanyalah kumpulan berbagai “dongeng2 yang konyol dan tidak konsisten,” yang katanya tidak dapat ditiru, padahal kenyataannya bahasa, gaya, dan pernyataannya banyak salahnya. Kebiasaan, tradisi, dan kemalasan intelektual menuntun orang2 untuk mengikuti pemimpin2 agama mereka secara buta.

Agama telah menjadi satu2nya alasan terjadinya perang2 berdarah yang telah menghancurkan umat manusia. Agama2 memusuhi pandangan2 filosofis dan riset ilmu pengetahuan. Yang disebut sebagai kitab2 suci tidak ada harganya dan malah mengakibatkan kehancuran daripada kebaikan, sedangkan “tulisan2 orang2 kuno seperti Plato, Aristoteles, Euclid dan Hippocrates lebih banyak memberi sumbangan pada humanitas.”

Kritik seperti ini pada Islam di jaman ini, bisa mendatangkan hukuman mati. Dapatkah di jaman sekarang seorang terpelajar dapat bicara bebas menentang Islam dengan memanggil nabi2nya “Kambing Bandot” seperti yang disebut Ar-Razi? Ingatkah kau dengan fatwa yang dijatuhkan pada Salman Rushdi ?

Sudah jelas bahwa di jaman Kejayaan Islam dulu, negara2 Islam menikmati kebebasan dan tingkat sekulerisme yang sekarang tidak nampak lagi. Dan dengan hilangnya itu, kejayaan Islam pun hilang pula. Islam dapat dijadikan alat ukur tingkat kebarbaran dan keterbelakangan. Negara yang menerapkan lebih banyak unsur Islam, menjadi semakin terbelakang dan semakin tak berbudaya.

Aku percaya jika Islam dihapus sama sekali, kita akan mendapatkan lagi kejayaan masa lalu di jaman sekuler dan bahkan bisa lebih jaya lagi. Tidak ada alasan bahwa ras Arab bermata hitam lebih rendah daripada ras Eropa mata biru. Jumlah ilmuwan dan intelektual Arab di negara2 Barat merupakan tanda bahwa kami (orang Arab) tidak lebih bodoh daripada ras mana pun. Alasan kenapa kami terbelakang, tak berbudaya, dan barbar di tanah air sendiri adalah karena Islam telah mengambil harga diri, humanitas, dan daya pikir kami. Islam telah mencuci otak kami, dan sama seperti obat bius, Islam telah merusak pikiran orang2 kami.//
BELUM DITERJEMAHKAN !

http://www.answering-islam.org/Silas/childbrides.htm
MUHAMMAD, AISHA, ISLAM, AND CHILD BRIDES
by Silas

Muhammad was 52 and Aisha was 9 when they married and sexually consummated their marriage. Muhammad followed an Arab custom in marrying a child who had her first menstrual cycle. This action must be questioned, regardless of it being a cultural norm, because Muhammad’s action and teachings on marriage established an Islamic precedent: a girl is judged an adult following her first menses, and is eligible for marriage and sexual relations. Thus Muslim men are allowed to marry and have intercourse with young girls who have happened to have an early first menstrual cycle. As will be shown, this leads to physical and psychological damage to the child.
AISYAH umur 7 TAHUN (Dari buku islam yang ada di INDONESIA)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=9483
FOTO: PENGANTIN ANAK-ANAK MUSLIM!!
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=3633
jadi mmg usia aisyah saat menikah juga tidak akurat,yang pasti aisyah sudah cukup umur.
Ali Sina ..You make me laugh… :rolling:

kandi wrote:jadi mmg usia aisyah saat menikah juga tidak akurat,yang pasti aisyah sudah cukup umur.

Gimana sih? katanya ga akurat, tapi terus kok elo tau sudah “pasti” cukup umur? tau dari mane neng?

:stun:
karena sesuai QS 4:19 Persetubuhan (antara suami istri) harus dilakukan saat keduanya sudah cukup umur,sudah siap secara fisik,lahir maupun bathin.
sesahih-sahihnya status suatu hadist,jika bertentangan dgn 1 saja ayat quran,menjadi gugur dan tak terpakai. apalagi jika haidst itu juga bertentangan dg hadist-hadist lain yg lebih sahih dan lebih kuat.
Begini jadul jahiliya pernikahan manusia itu cuman berdasarkan akil balig/secara fisik saja tanpa melihat lagi sisi2 dr kedewasaan secara moral , jadul sudah akil balik berarti sudah waktunya menikah … sekarang jaman da berubah apakah cult jadul jahilliya masih bisa eksis pada jaman sekarang ini ? cuman islam saja yg masih eksis dengan usia perkawinan dibawah umur yg cuman berdasarkan kedewasaan seseorang dr akil balik saja.

Bagi kafir cara2 yg begitu itu sudah ga bisa diikutin lagi , tp islam masih saja menerapkan hal ini terutama di desa2 malahan disahkan juga dr hasil muktamar NU yg ke 32.

Jadi untuk masalah pernikahan mohamad dengan aisah dimana aisah masih dibawah umur dianggap WAJAR karena waktu itu masih jadul !!!

Tapi….

Akan tidak menjadi WAJAR lagi kalo itu terjadi masa masa sekarang ini. Ini artinya apa ?
Nah sekarang muslim/ah silahkan kesini polling-apakah-muslim-malu-dengan-t41397/

Pisss… :heart:
lol! siapa yg malu,justru akan sangat menyedihkan jika tidak ada hadist Aisya,istri yg haids akan disenggamai dan disuruh tidur di luar rumah krn dianggap najis,spt kebiasaan kafir waktu itu…lol! sudah dianggak najis,msh jg disetubuhi…itulah tradisi kafir,yg akan terus terjadi sampai skrg,kalau tak tjd pernikahan nabi dg Aisya tepat pd wktnya,sblm nabi wafat.

Dorama wrote:sesahih-sahihnya status suatu hadist,jika bertentangan dgn 1 saja ayat quran,menjadi gugur dan tak terpakai. apalagi jika haidst itu juga bertentangan dg hadist-hadist lain yg lebih sahih dan lebih kuat.

mau bertentangan atau tidaknya dengan koran, toh tetap aja si momad birahi n kimpoi sama anak ingusan (pedophille)

Image
kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

doramma wrote:kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

nah…ini dia datang …
Saya pingin undang anda untuk membelajari saya tentang islam disini : akk-pingin-t41567/

Piss… :heart:

doramma wrote:kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

apa bukti masih kurang ????

Image

Image
TAK ADA BUKTI, mana buktinya hah?!

Justru let us look at the following Verses in the Bible: “If a man takes a wife and, after laying with her, dislikes her and slanders her and gives her a bad name, saying, ‘I married this woman but when I approached her, I did not find proof of her virginity,’ then the girl’s father and mother shall bring proof [how do you think they would do that?] that she was a virgin to the town elders at the gate. The girl’s father will say to the elders, ‘I gave my daughter in marriage to this man, but he dislikes her. Now he has slandered her and said, ‘I did not find your daughter to be a virgin.’ But here is the proof of my daughter’s virginity.’ Then her parents shall display the cloth [the father would literally stick his two fingers covered with a piece of cloth into his daughter's vagina before she gets married and keep that bloody cloth for as long as his daughter is married] with before the elders of the town, and the elders shall take the man and punish him. (From the NIV Bible, Deuteronomy 22:13-18)”
Here is a more clear translation from Hebrew Resources: “The girl’s father and mother shall produce the evidence of the girl’s virginity before the elders of the town at the gate. And the girl’s father shall say to the elders, “I gave this man my daughter to wife, but he had taken an aversion to her; so he has made up charges, saying, ‘I did not find your daughter a virgin.’ But here is the evidence of my daughter’s virginity!” And they shall spread out the cloth before the elders of the town. (From the New JPS translation, Deuteronomy 22:15-17)”
The New JPS translation of Deuteronomy 22:15-17 makes it even more clear about having the parents of the girl displaying the bloody piece of cloth before the elders of the town.
According to the Talmud, the cloth should be “A cloth of less than 3 square finger-breadths. (From the Talmud, Eruvin 29b-30a and Succah 16a)”, and before it is being used, it should be “soft, woolen and clean. (From the Talmud, Niddah 17a)”

The Pedophilic Verses against 3-year old girls:
The pedophilic Biblical verses are Numbers 31:17-18 and Numbers 31:35-40. Below, you will see DETAILED HISTORY on these SPECIFIC verses from the Jewish Talmud explaining the pedophilia that took place against the 3-year old slave girls under the direct command of Moses.
While Christians are not obligated to follow the laws of the Talmud in their social lives, but the historical FACTS that exist in the Talmud about the Biblical verses Numbers 31:17-18 and Numbers 31:35-40 below, and how the “BIBLE FOLLOWERS” during those days were mostly pedophiles who literally forced sex on 3-year old girls after Moses’ supposed ‘Divine’ order is clear indication that the Bible condones pedophilia.

Sedangkan jika nabi tidak menikahi Aisyah maka Aisya tak akan bisa memberikan hadist-hadist yang menolong nasib wanita, istri dan anak sbb:

http://answering-ff.org/board/alkitab-w … t5427.html

Imamat:
15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

Menurut ajaran kristen diatas, bahwa wanita haid adalah najis. Segala sesuatu yang dipegang, diduduki dan ditidurinya menjadi najis, dan harus segera dicuci. Dan setelah selesai haid harus mempersembahkan korban sebagai penghapus dosa. Ajaran diatas sangatlah melecehkan wanita. Ajaran diatas seharus harus tetap dijalankan oleh umat kristen. Kalau umat kristen menurut apa yang di ajarkan Yesus maka laksanakan hukum tentang wanita haid diatas. Sebab Yesus tidak akan menghilangkan satu huruf pun dair hukum Taurat.

Menurut Islam:
Menurut ajaran Islam, suami masih diperkenankan untuk mencintai dan bermesraan dengan istrinya waktu datang bulan. Dan hal ini bukan merupakan suatu najis. Tidak seperti ajaran kristen yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipegang atau diduduki perempuan haid menjadi najis, ajaran Islam mengajarkan bahwa apapun yang dipegang wanita haid tidak akan menjadi najis. Rasulullah saw bersabda:

Dari Aisyah ra, katanya : “Bersabda Rasulullah saw; “Tolong ambilkan aku tikar sembahyang dari masjid!” Jawabku: “Aku sedang haid.” Rasulullah saw bersabda; “Haidmu bukan ditanganmu.” (Terjemah shahih Muslim, kitab Al Haid).

Diriwayatkan oleh Aisyah ra , katanya: “Pernah aku membasuh kepala Rasulullah saw diwaktu aku sedang haid”. (Terjemah shahih Muslim , Kitab Haid).

http://answering-ff.org/board/alkitab-w … t5427.html

Imamat:
15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

Menurut ajaran kristen diatas, bahwa wanita haid adalah najis. Segala sesuatu yang dipegang, diduduki dan ditidurinya menjadi najis, dan harus segera dicuci. Dan setelah selesai haid harus mempersembahkan korban sebagai penghapus dosa. Ajaran diatas sangatlah melecehkan wanita. Ajaran diatas seharus harus tetap dijalankan oleh umat kristen. Kalau umat kristen menurut apa yang di ajarkan Yesus maka laksanakan hukum tentang wanita haid diatas. Sebab Yesus tidak akan menghilangkan satu huruf pun dair hukum Taurat.

Menurut Islam:
Menurut ajaran Islam, suami masih diperkenankan untuk mencintai dan bermesraan dengan istrinya waktu datang bulan. Dan hal ini bukan merupakan suatu najis. Tidak seperti ajaran kristen yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipegang atau diduduki perempuan haid menjadi najis, ajaran Islam mengajarkan bahwa apapun yang dipegang wanita haid tidak akan menjadi najis. Rasulullah saw bersabda:

Dari Aisyah ra, katanya : “Bersabda Rasulullah saw; “Tolong ambilkan aku tikar sembahyang dari masjid!” Jawabku: “Aku sedang haid.” Rasulullah saw bersabda; “Haidmu bukan ditanganmu.” (Terjemah shahih Muslim, kitab Al Haid).

Diriwayatkan oleh Aisyah ra , katanya: “Pernah aku membasuh kepala Rasulullah saw diwaktu aku sedang haid”. (Terjemah shahih Muslim , Kitab Haid).

ck..ck..ck… :roll:
Selain itu hadist Aisya ttg usia itu memang masih belum ada kesepakatan antar ulama, sehubungan dengan ketidakakuratan datanya..

Read More

Muslim Bantah Shavanas ttg Usia Aisya/Aisha

Menanggapi “Muslim bantah Shavanas ttg Usia Aisya/Aisha” oleh Poligami [lihat: muslim-bantah-shavanas-ttg-usia-aisya-aisha-t38056/?hilit=shavanas ], dengan ini saya menyampaikan terjemahan dari The Age of Aishah’s Marriage Between Historians and Hadith Scholars yang bisa di donlot dari http://www.mediafire.com/?moeondthmmv (special thanks to Poligami).

terjemahan ini saya dedikasi kepada Tuanku aka Dorama dan semua Muslim yang masih punya hati nurani yang tidak dapat menerima bahwa nabi mereka ngeseks dgn Aisha saat berusia 9.

Silahkan disanggah pendapat Ayman bin Khalid, rekan se-ukuwahmu.

Best regards
Kaffir with brain

UMUR AISHA PADA SAAT KAWIN, DARI SUDUT PANDANG SEJARAWAN & PAKAR HADITS
Ditulis oleh : Ayman Bin Khalid
Editor : diedit oleh tim Multaqa Ahl al-Hadeeth
Silahkan kunjungi http://ahlalhdeeth.com/vbe/index.php (English) atau http://ahlalhdeeth.com/vb/index.php (Bahasa Arab) untuk mendapatkan literatur dan diskusi yg lebih bermanfaat.

Atas nama allah yg ditinggikan yg sudah selayaknya ditinggikan, pribadi yg menuntun siapapun yg ia kehendaki dan yang menyesatkan siapapun yang ia kehendaki. Kami awali dengan sikap hati yg berserah kepada allah

Prolog : Tujuan dari penulisan dan presentasi topik ini

Belakangan, ada usaha2 jahat dari pihak2 tertentu untuk menyebarkan keraguan mengenai umur Ummul Mukminin, Aisha ra, saat menikah dengan sosok terbaik dari seluruh umat manusia Nabi Muhammad. Ada pihak yang menolak bahwa Aisha berumur 6 tahun saat ia menikah dengan Nabi dan berumur 9 tahun saat Nabi menggaulinya.

Tuduhan palsu ini juga berusaha untuk menulis ulang sejarah dengan berkata bahwa Aisha berumur 18 tahun pada saat perkawinannya yang oleh karenanya bertentangan dengan apa yg sudah terbukti sahih dari Hadits yg sudah disetujui oleh para pakar Islam dan kaum terpelajar.

Sungguh, mengapa kita harus bertanya2 akan fenomena ini padahal kita telah diberitahu oleh Nabi sendiri saat ia berbicara mengenai penegakan hari Kiamat.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Sang Rasul berkata :

Pada hari kesudahan, akan banyak pembohong2 dan pemalsu2. Mereka akan datang padamu dengan kisah2 yg baik engkau dan ayahmu belum pernah mendengar. Jadi biarkanlah dirimu dan mereka (mis: ayahmu) berhati2 dan berjaga2 agar orang2 tersebut tidak menyesatkan dan menggoda engkau.
Sahih Muslim, hadeeth no. 16 dalam introduksi Muslim. Juga lihat Sahih Ibn Hibban no.6766 (Shuaib Al-Arnaut menyatakan isnadnya sbg otentik), Musnad Ahmad no. 8250, Mustadrak Al-Haakim no. 351, dan Musnad Abee Yaala no. 6384.

Dengan demikian, setelah menyelesaikan doa istikhaara (doa minta petunjuk pada saat hendak membuat keputusan), aku menulis sanggahan terhadap serangan ini dengan tujuan untuk mengklarifikasi masalah ini kepada orang2 beriman akan tuduhan2 ini. Hal ini karena ada serangan ganda:

  1. yg pertama menyebarkan keraguan di hati Muslim mengenai keaslian Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, dua buku yg menurut konsensus (kesepakatan bersama) para kaum terpelajar Muslim adalah buku yg paling mendekati keasliannya setelah Quran.
  2. Yg kedua, tujuannya adalah untuk mencemooh dan meremehkan status dari kaum terpelajar atau pakar Hadits kita yang mendedikasikan hidupnya untuk menyampaikan kebenaran ini kepada khalayak ramai demi kepentingan Islam/Allah.

Penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui bahwa verifikasi terhadap Hadits dilakukan kaum terpelajar terhormat, yg menghabiskan waktu dan berusaha demikian kerasnya untuk mempelajari Hadits dengan tujuan untuk memverifikasi Hadits2 tsb yang oleh karena itu menyucikan/membersihkan Sunnah dari kisah2 yg lemah serta usaha2 pemalsuan.

Karena itu, pemeriksaan secara teliti dari konteks dan hubungan berantai dari narrator dari semua Hadits di Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dipimpin oleh kaum terpelajar terhormat di masa lalu. Pada akhirnya, mereka semua (kaum terpelajar yg mempelajari Hadits) menyimpulkan bahwa kedua buku tersebut tanpa ragu adalah sebagai buku yg sahih/asli (This reference is to all the mawsool (connected) hadeeths in these two books.). Terlepas dari hal ini, dikarenakan kedunguan, kita menemukan beberapa Muslim bukan hanya membela gagasan tak berdasar dari hadists2 lemah di kedua buku ini, namun juga menyombongkan gagasan mereka seakan-akan mereka telah menyelesaikan pencapaian besar yg patut mendapatkan perhatian dari khalayak ramai atau telah memberikan keuntungan bagi umat.

Pada artikel ini, saya mempresentasikan pembuktian kesalahan dari tuduhan2 palsu tersebut. Dalam artikel ini, saya hanya menggunakan sumber yg otentik/asli sama seperti sumber yg digunakan oleh penulis dalam mempresentasikan tuduhan2 palsunya. Saya hanya mencari kepuasan rohani pribadi dan hadiah dari Allah, yg dimana tak akan mampu kulakukan tanpa hidayah dari Allah.

Dengan ini saya menyatakan apapun yg saya nyatakan dalam artikel ini adalah benar dari Allah dan apapun yg tidak benar adalah dari Shaytaan (Setan).

PENDAHULUAN

Sebelum memasuki bab berikut, pembaca seharusnya mengingat/mencatat poin2 penting berikut ini:
1. Tuduhan2 palsu tersebut banyak didasarkan pada bukti2 sejarah didalam buku yang berisi berbagai kisah yg tidak sahih, seperti yg dinyatakan oleh penulis itu sendiri. Kisah2 tersebut umumnya ditemukan dalam buku2 sejarah. Hal dibawah ini adalah apa yg dikatakan Abu Jafar At-Tabari, penulis Tarikh At-Tabari, salah satu buku sejarah yg paling terkenal, dalam pendahuluan bukunya:

Dengan ini saya menyatakan bahwa berita2 dan kisah2 yg ada dalam bukuku yang oleh pembaca dirasakan aneh atau salah, tidak dapat dipercaya, janggal atau tidak akurat, pada kenyataannya merupakan kisah2 yg saya dengar dari orang lain yg sudah saya nyatakan dalam bukuku dikarenakan kisah2 dalam bukuku adalah tanpa campur tangan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari pihak luar. Oleh karena itu saya menyatakan diri tidak bertanggung jawab atas isi dari bukuku. (Tarikh At-Tabari, 1/8)

2. Sejarahwan cenderung untuk menyebutkan/menyebarkan semua berita terlepas dari apakah berita itu aneh, palsu atau aneh tanpa verifikasi terhadap ke-otentikan dari berita tersebut. Metode ini sudah selalu menjadi pegangan bagi sejarahwan dikarenakan tugas mereka terbatas hanya untuk menceritakan apa yg mereka dengar, dan pada beberapa kasus yg lain mereka mengklarifikasi berita tersebut atau mengalihkan tugas klarifikasi tersebut kepada kaum terpelajar yg mendatangi mereka untuk mengklarifikasi berita tersebut.

3. Kebanyakan jenis2/tipe dari kisah2 dari buku sejarah tersebut tidak ada hubungan berantai dengan para narrator yg lain.

4. Sumber yg diakui kebenarannya harus sahih dan memenuhi dua syarat : sanad (hubungan berantai dari narrator yg lain) dan matan (text dan context dari kisah tersebut). Jika tidak lolos sensor akan 2 hal tersebut, maka kisah tersebut bisa diabaikan.

5. Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kisah yg sahih mendapatkan prioritas yg utama karena kisah yg sahih tidak bisa dinyatakan invalid oleh segelintir kisah2 yg tidak sahih.

Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau TIDAK ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kita tetap tidak bisa menerima kisah tersebut dikarenakan kisah tersebut hanya menawarkan kemungkinan2 dan asumsi tanpa adanya kepastian.

I. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA MENIKAHI GADIS 9 TAHUN ADALAH HAL YANG TIDAK DAPAT DITERIMA OLEH NORMA KEBUDAYAAN ARAB

Penulis argumen ini menyatakan : ”Sebagai permulaan, saya rasa adalah tanggung jawab bagi semua orang yang percaya bahwa menikahi gadis semuda 9 tahun adalah hal yg dapat diterima oleh norma kebudayaan Arab, setidak2nya memberikan beberapa contoh untuk memperkuat pandangan mereka”

Argumen in jelas2 lemah dikarenakan dua hal:

  1. Struktur dari argumen tersebut,
  2. Kepada siapa seharusnya beban pembuktian ini ditujukan.

NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.

BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:

Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

II. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEBANYAKAN KISAH2 TERSEBUT HANYA DISAMPAIKAN MELALUI HISHAM IBN ‘URWAH YANG KREDIBILITASNYA TIDAK DAPAT DIPERCAYA

Penulis argumen ini menyatakan : “Kebanyakan kisah2 tersebut hanya disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah dibawah otoritas dari ayahnya, ‘Urwah ibn Az-Zubair, keponakan dari Aisha. Kisah sepenting perkawinan Aisha logisnya seharusnya disampaikan oleh lebih dari sekedar segelintir orang”

Lagi-lagi si penulis berusaha menyampaikan argumen yg sia-sia yang pada akhirnya menyingkapkan kebodohan dari si penulis akan sains dari Hadits. Lebih lanjut lagi, hal tersebut mengindikasikan bahwa si penulis hanya copy paste argument tersebut tanpa mengerti apa yg tertulis dari kisah tersebut.

RUTE LAIN YG DIGUNAKAN UNTUK MENCERITAKAN HADITS
Hadits, yg menyampaikan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat ia telah menikah, dikisahkan oleh narrator lain sebagai berikut:
1. Muslim yg Sahih
Aisha → ‘Urwah → Az-Zuhree → Mamar → Abdur Razaaq → Abd ibn Humaid →Muslim
Aisha menyampaikan bahwa Nabi menikahinya pada saat Aisha berumur 7 tahun, dan membawanya ke rumah Nabi sebagai pengantin pada saat Aisha berumur 9 tahun, dimana Aisha membawa bonekanya bersamanya, dan pada saat Nabi meninggal, Aisha berusia 18 tahun (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 3311).

Note: Beberapa kisah menyatakan bahwa umur Aisha adalah 6 tahun sementara yg lain menyatakan bahwa ia berumur 7 tahun. Imam An-Nawawi pada saat ia berkomentar akan Hadits di Sharh of Saheeh Muslim menyatakan bahwa Ad-Dawoodee berkata:
“Berkenaan dengan kisah dimana dia (Aisha) menyatakan dia berumur 7 tahun sementara kebanyakan kisah menyatakan ia berumur 6 tahun, kedua narasi tersebut dapat direkonsiliasi dengan fakta bahwa dia berumur 6 tahun ditambah beberapa bulan. Karena itu di beberapa kisah Aisha hanya menyebutkan umurnya saat itu, sementara di kisah yg lain Aisha bermaksud untuk menyatakan umurnya di masa yg akan datang, dan hanya Allah yang paling mengetahui akan hal ini”

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash→ Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya, Ishaaq ibn Ibraheem, Abu Bakr ibn Abee Shaibah and Abu Kuraib → Muslim
Aisha menceritakan bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 8 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sahih Muslim, no. 1422)

2. Sunan Abu Daud
Aisha → Yahya (ibn Abdur Rahmaan ibn Haatib) → Muhammad (ibn Amr) → the father of U’baidullah ibn Muadh → Ubaidullah ibn Muadh → Abu Dawood
Yahya(ibn Abdur Rahman ibn Haatib) menceritakan bahwa Aisha berkata: “Saya datang ke Medinah dan tinggal di rumah Bani Al-Harith ibn Al-Khazraj” kemudian dia (Aisha) berkata: ”Demi Allah, saya sedang bermain ayunan yg diikatkan pada 2 pohon palem. Pada saat itu, rambutku sudah tumbuh hingga mencapai telingaku. Maka ibuku datang dan menurunkan aku dari ayunan dan membawaku, supaya mereka dapat mendandaniku dengan pakaian yg pantas, kemudian mengirimkan aku ke Nabi yg kemudian menggauli (consummated the marriage) aku pada saat aku berumur 9 tahun” (Sunan Abee Dawood, no. 4937. Al-Albaani declared it to be authentic (hasan sahih))

3. Sunan An-Nasaaee
Aisha → Abu Salamah ibn Abdur Rahman → Muhammad ibn Ibraheem → I’maraibn Ghazya → Yahya ibn Ayub → the paternal uncle of Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam → Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam ->An-Nasaaee
Abu Salam Bin Abdulrahman menceritakan dari Aisha bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3379. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))
Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar → Qutaibah → An-Nasaaee
Aisha berkata, “Rasul menikahiku pada saat umur 9 tahun dan aku tinggal bersamanya selama 9 tahun” (Sunan An-Nasaaee, no. 3257. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah →
Muhammad ibn Al-A’laa’ and Ahmad ibn Harb → An-Nasaaee
Al-Aswad menceritakan dari Aisya bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun, tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3258. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih)).

4. Sunan ibn Majah
Abdullah → Abu Ubaidah → Abu Ishaaq → Israeel → Abu Ahmad→ Ahmad ibn Sinan → Ibn Majah
Abdullah berkata “Nabi menikahi Aisha ketika ia berumur 7 tahun dan consummated the marriage (menggauli)nya pada aat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun”. (Sunan Ibn Majah (Eng. Trans.), no. 1877. Al-Albaani and Zubair Ali Zai both declared it to be authentic (sahih).)

5. Musnad Ahmad ibn Hanbal
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Al Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Musnad Ahmad, no. 24152. Shuaib Al-Arnaut said that its chain was authentic (sahih) according to the
conditions of the 2 Shaikhs (i.e. Bukhari and Muslim).).

6. Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya → Abu Ja’far Muhammad ibn Al-Hajjaaj Al-Waraaq → Abu Abdullah Muhammad Ibn Ya’qoub → Abu Abdullah Al-Haafidh → Al-Baihaqi
Al-Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal serumah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan Al-Baihaqi, no. 13437).

7. Mustadrak Al-Haakim
Jaabir → Yazeed ibn Jaabir → Abdullah ibn Abdur Rahman ibn Yazeed ibn Jaabir →Abu Mushar Abdul A’laa ibn Mushar → Ibraheem ibn Al-Hussain ibn Daizeel →Ahmad ibn U’baid ibn Ibraheem Al-Asdee, the Haafidh of Hamdan → Al-Haakim
Jaabir menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha pada saat Aisha berumur 7 tahun, consummate the marriage (menggauli)nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun dan Aisha sendiri meninggal pada masa Khalifah Mua’wiyah pada tahun 57 AH (Mustadrak Al-Haakim, no. 6714).

8. Al-Mujam Al-Kabeer of At-Tabaraani
Abdullah → Abu U’baidah → Abu Ishaaq→ Shareek → Yahya ibn Adam → AbdurRahman ibn Saalih Al-Azdee → Muhammad ibn Moosaa ibn Hammaad Al-Barbaree→ At-Tabaraani
Abdulah menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha ketika Aisha berumur 6 tahun dan consummated the marriage with her (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 10279).

Qataadah → Sa’eed ibn Abee U’roba → Zuhair ibn Ala’la Al-Qaisee → Ahmad ibn Al-Miqdaam → Muhammad ibn Ja’far ibn Ai’n Al-Baghdaadee → At-Tabaraani
Qataadah berkata: “Nabi menikahi Aisha bint Abee Bakr As-Siddeeq ketika ia berumur 6 tahun dan ia tidak menikahi gadis perawan selain Aisha. Mereka berkata bahwa Jibreel berkata kepada Nabi: “Inilah istrimu” sebelum Nabi menikahi Aisha, oleh sebab itu Nabi menikahi Aisha di Makkah sebelum hijrah (imigrasi dari Makkah ke Madeenah) dan hanya setelah kematian istri pertamanya Khadijah. Kemudian Nabi consummated the marriage (menggauli)-nya di Madeenah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan pada saat Aisha berumur 18 tahun, Nabi meninggal” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 40)

Aisha → Al-Qaasim ibn Muhammad → Sa’d ibn Ibraheem → Sufyaan →
Muhammad ibn Al-Hassan Al-Asdee → Al-Hassan ibn Sahal Al-Hannat →
Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani

Aisha berkata:”Saya menikah dengan Rasul ketika aku berumur 6 tahun, kemudian ia consummate the marriage (menggauli)-ku pada saat aku berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 52)

Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar ibn Al-Wasim →Sa’eed ibn Amr Al-Sha’athi → Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Aisha berkata:”Rasul menikahiku pada saat aku berumur 9 tahun dan aku hidup bersamanya selama 9 tahun kemudian” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 53)

Abu Maleekah → Abu Usaama → Al-Ajla’e Abdullah ibn U’mar ibn Abbaan →Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Abu Maleekah berkata:”Nabi meminta kepada Abu Bakr untuk memberikan Aisha kepada dirinya untuk dinikahi dan Abu Bakr pada saat itu sudah memberikan Aisha kepada Jubair ibn Mutam . Kemudia Abu Bakr menarik janjinya kepada Jubair ibn Mutam dan memberikan Aisha untuk dinikahi oleh Rasul. Aisha berumur 6 tahun pada saat itu sehingga Nabi menunggu selama 3 tahun kemudian consummated the marriage (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 62)

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Hadits ini (Hadits yg disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah) juga dikisahkan oleh banyak sumber diluar Hisham ibn ‘Urwah. Penulis sepertinya mengkritik kisah yg dibuat oleh Hisham Ibn ‘Urwah di Irak. Hal yg bias dari penulis ini menjadi jelas dimana orang lain bisa melihat bahwa Penulis terpaksa mengambil jalan untuk membingungkan pembaca dan pernyataan2 yg menyesatkan dalam usahanya untuk memperkuat opininya.

Lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa Penulis tidak punya pengetahuan apapun mengenai sains dari Hadits. Sebagai tambahan, salah satu kisah di Musnad Ahmad yg disampaikan Hisham berisi narrator2 yg bukan berasal dari Irak :
Aisha → ‘Urwah → Hisham ibn ’Urwah → Abdur Rahman → Sulaiman ibn Dawood→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Aisha berkata:”Aku menikah dengan Rasul di Makkah, setelah kematian Khadijah, ketika aku berumur 6 tahun, dan Nabi consummated the marriage with me (menggauli)-ku di Madeenah ketika aku berumur 9 tahun” (Musnad Ahmad, no. 24867)

Note : Kisah ini dinyatakan sahih/asli oleh Shuaib Al-Arnaut. Tolong diingat bahwa Abdur Rahman (ibn Abee Al-Zinaad) adalah Hasan al-hadith dan Ibn Mu’een berkata bahwa dia (Hasan al-hadith a.k.a Abdur Rahman) adalah orang yg memiliki ingatan terbaik dan pelestari dari kisah2 dari Hisham ibn ‘Urwah. Jadi bahkan jika kita berasumsi bahwa Abdur Rahman mendengarkan kisah ini di Irak kemudian mengetahui kaum terpelajar telah mengatakan beliau adalah orang yg paling tepat menceritakan kisah dari Hisham, maka cukup untuk menyatakan bahwa kisahnya dapat dipercaya.

APA PANDANGAN DARI KAUM TERPELAJAR TERHADAP HISHAM IBN ‘URWAH

Para sarjana menyatakan hal2 sebagai berikut mengenai Hisham Ibn ‘Urwah (Tahdhib at-Tahdhib dibawah Hisham ibn U’rwah):

- Al- I’ jli berkata : “Dia adalah orang yg thiqah (dapat dipercaya)”
- Muhammad ibn Sa’d berkata :“Dia adalah narrator yg thiqah yg menceritakan banyak Hadits dan dia adalah hujjah (sebuah kata yg bermakna jauh lebih kuat dibandingkan thiqah, hujjah dapat juga diartikan sebagai sifat/karakter dari yg bersangkutan yang sudah cukup untuk dijadikan bukti)”
- Abu Hatim berkata : “Dia adalah orang yang thiqah dan seorang iman (atau pemimpin) dari Hadits”
- Ya’ qub ibn Shaibah berkata : “Dia adalah orang yang bersungguh-sungguh terhadap apa yg ia ingat dan dia adalah seorang yg thiqah. Tak seorang pun yg menolak Hadits yg disampaikannya hingga suatu saat ia pergi ke Irak dimana dia mulai menceritakan Hadits dari ayahnya sementara pada kenyataannya dia mendengar Hadits tersebut dari orang lain yg mendengarnya dari ayahnya.”
- Abdur Rahman ibn Khirasj berkata: “Maalik tidak senang dengan Hisham. Namun, Hisham adalah orang yg jujur dan cerita yg dikisahkannya dianggap sebagai Hadits yg paling otentik dibandingkan Hadits yg lain. Saya diberitahu bahwa Maalik tidak menyukainya dikarenakan kisah2 Haditsnya kepada rakyat Irak. Hisham pergi ke Kufa 3 kali. Suatu saat ia berkata “Ayahku berkata kepadaku bahwa dia mendengar Aisha…” dan di lain waktu Hisham bercerita Hadits yg sama dengan mengatakan “Ayahku berkata kepadaku bahwa Aisha…” dan yg ketiga kali Hisham bercerita “Ayahku menceritakan bahwa Aisha…” ”

Ibn Hibban menyebutkan Hisham dalam bukunya Thiqaat (buku yg berisi narrator2 yg dapat dipercaya) sebagai berikut:
Hisham ibn ‘Urwah ibn Az-Zubair ibn Al-A’wwam Al-Asdee adalah orang yg dikenal juga sebagai Abu Al-Mundhir. Hisham melihat Jaabir ibn Abdullah dan Ibn ‘Umar dan menceritakan cerita Hadits tersebut dari Wahab ibn Keesan dan group Tabi’een. Hisham meninggal setelah perang Al-Hazeemah pada tahun 145 atau 146 AH dan ia dilahirkan pada tahun 60 or 61 AH. Dikatakan bahwa ia meninggal pada tahun 144 AH. Dia adalah seorang yg hafidh, luar biasa pengetahuannya akan Hadits, saleh dan mulia.( Thiqaat Ibn Hibban under Hisham ibn ‘Urwah)

Setelah membaca opini2 dari beberapa kaum terpelajar/sarjana terhadap Hisham, kita dapat menyimpulkan hal2 sebagai berikut:
- Kaum terpelajar dari Hadits melakukan perubahan pada cerita yg dikisahkan oleh Hisham Ibn U’rwah sementara pada saat yg sama mereka mengenali tadlees dari Hisham di beberapa Hadits yg ia kisahkan di Irak. Namun hal tersebut tidak membuat para kaum terpelajar menolak semua cerita yg ia kisahkan di Irak.
- Kritik dari beberapa kaum terpelajar hanya terbatas pada beberapa Hadits yg Hisham ceritakan pada saat ia berada di Irak. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya Hisham menggunakan frase2 (kombinasi/susunan kata) yg berbeda-beda untuk menyatakan bagaimana ia mendengarkan Hadits tersebut (rantai hubungan antar narrator/kisah, bukan textnya). Oleh karenanya, kaum terpelajar hanya mengecualikan kisah Hadits-nya di Irak, sementara sisa Hadits Hisham yg lain diterima oleh kaum terpelajar tanpa ragu, karena jelas sekali Hadits tersebut tidak bercacat.

Sebagai hasilnya, kita dapat melihat bahwa kaum terpelajar pada zaman tersebut terbiasa untuk memimpin proses analisa yg mendalam dari setiap Hadits. Analisa mereka tidak membuat mereka menolak Hadits yang bersinggungan dengan umur Aisha dikarenakan Hadits2 tersebut sahih. Lebih lagi, tidak ada seorang pun dari kaum terpelajar pada masa itu yg menolak semua Hadits yg dikisahkan oleh Hisham ibn U’rwah.

Jika TIDAK ada seorangpun dari pakar Hadits yang mempermasalahkan cerita/kisah dari Hisham ibn U’rwah, mengapa juga kita mempermasalahkan hal itu?

Note : Tadlees adalah istilah yg ditujukan pada saat seorang narator menceritakan kisah dari orang lain yg mana sebelumnya narrator tersebut telah mendengar kisah tersebut langsung dari orang yang bersangkutan, yang pada akhirnya memberikan kesan bahwa narator tersebut menceritakan kisah tersebut dari sisi orang yang bersangkutan secara langsung, padahal kenyataannya tidak demikian. Contohnya : (X) menceritakan kisah dari (Y). Umumnya (X) akan berkata: “(Y) berkata kepada kami…”sementara Tadlees akan berkata “Dari (Y)..” atau (Y) berkata..””.”

III. ARGUMEN YANG MENYATAKAN SURAH AL-QAMAR (SALAH SATU SURAH TERTUA) MENGUNGKAPKAN BAHWA AISHA ADALAH GADIS MUDA BELIA (BUKAN ANAK KECIL).

Penulis argumen ini berkata : “Menurut tradisi yg umum diterima pada masa itu, Aisha lahir sekitar 8 tahun sebelum Hijrah. Tetapi menurut kisah dari Bukhari (kitabu’l-tafseer), diinformasikan pada masa Surah Al-Qamar, telah terungkap dari Quran bab ke-54 dimana Aisha berkata “Aku adalah gadis muda”. Surah bab ke 54 dari Quran ini terungkap/diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah. Menurut tradisi, Aisha bukan hanya lahir sebelum pewahyuan dari surah tersebut, namun juga sebenarnya ia adalah gadis muda (jaariyah), bukan anak kecil (sibyah) pada masa itu.”

Argumen ini sama dengan argumen sebelumnya : lemah dan sesat, seperti yg akan saya paparkan lebih lanjut

TERJEMAHAN YANG BENAR DARI HADITS

Hadits tersebut telah salah diterjemahkan. Karena itu, saya memaparkan Hadits beserta terjemahannya yang benar sehingga para pembaca dapat menilai sendiri kebenarannya:

Yusuf bin Mahik menceritakan : Saya ada di rumah Aisha, Ibu dari semua umat percaya. Ia berkata “Wahyu ini “Namun Jam adalah waktu yg mereka tentukan (sebagai imbalan jasa mereka secara penuh); dan Jam akan menjadi lebih mundur waktunya dan akan jauh lebih pahit” disampaikan ke pada Muhammad di Makkah saat aku masih seorang gadis muda belia yang suka bermain2 (Jaariyah).””( Sahih Bukhari (Bahasa Arab-Eng.), vol. 6, no. 399)

Sangat jelas dari Hadits, Aisha hanya berkata bahwa ia menyaksikan pewahyuan kepada Muhammad dari salah satu ayat dari Surah pada saat dimana ia adalah gadis muda di Makkah. Darimana si Penulis mendapatkan gagasan bahwa Aisha menyaksikan Pewahyuan dari keseluruhan Surah?
Biarlah para pembaca sendiri yg menilai terjemahan yg benar dari Hadits dan membandingkannya dengan penafsiran dari si Penulis yg mengikuti nafsu sesatnya dan telah ditipu oleh Setan.

KEKURANG-OTENTIKAN KISAH-KISAH YG MENYATAKAN BAHWA AYAT INI DIWAHYUKAN/DIUNGKAPKAN 9 TAHUN SEBELUM HIJRAH

Dimana dinyatakan bahwa ayat ini diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah?Ayat ini hanya menyatakan bahwa Aisha adalah gadis muda pada masa itu. Penting untuk diingat bahwa adalah fakta ayat dari setiap Surah itu ciri khasnya diwahyukan secara bertahap. Itu sebabnya berkenaan dengan Surah ini, Muqatil ibn Sulaiman (One of the leading scholars of tafseer (exegesis) who took his knowledge of tafseer from Mujahahid.) berkata bahwa semua pewahyuan ini diwahyukan di Makkah kecuali 3 ayat (Fathul Qadeer) meskipun pandangan pada umumnya adalah semua ayat di Surah ini diwahyukan di Makkah. Tunjukkan mana kisah sahih yg Penulis gunakan untuk menyatakan pandangannya bahwa semua Wahyu dalam Surah diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah.

Beberapa poin berikut yg perlu dicatat/diingat:
a. Kebanyakan Surah2 diwahyukan dalam kurun periode waktu tertentu
b. Ada pandangan yg menyatakan bahwa beberapa ayat di Surah diwahyukan di Madinah
c. Tanggal pada saat terjadinya pewahyuan tidak dirincikan/disebutkan dalam kisah manapun.

Oleh karena itu, Penulis diminta untuk membuktikan bahwa ayat dimana Aisha menceritakan wahyu yang dia saksikan di Makkah adalah memang benar 9 tahun sebelum Hijrah.

TAHUN KELAHIRAN DARI AISHA SEPERTI YG DINYATAKAN DALAM BIOGRAFI
Saya mengutip biografi Aisha dibawah ini dari beberapa sumber/buku yg otentik
- Al-Mizzi berkata: “Dia (Aisha) menikah dengan Nabi Muhammad 2 tahun sebelum Hijrah seperti yg dikatakan oleh Abu U’baida dan yg lainnya mengatakan kejadian itu terjadi 3 tahun sebelum Hijrah sementara ada juga pendapat lain yg mengatakan 1.5 tahun sebelum Hijrah atau saat dimana Aisha berumur 6 tahun. Aisha menikah di Madinah setelah perang Badr di Shawwal tahun ke2 setelah Hijrah ketika dia berumur 9 tahun. Ada lagi pendapat lain yg mengatakan kejadian itu terjadi di Shawwal setelah 18 bulan dari Hijrah” (Tahdheeb al Kamaal, 35/227)
- Ibn Hajr berkata: “Az-Zubair ibn Bakkar dan yg lainnya berkata: Dia meninggal pada tahun ke 58 setelah Hijrah sementara Ibn ‘Uainah menceritakan dari Hisham bahwa Aisha meninggal pada tahun ke 57 setelah Hijrah” (Tahdheeb at-Tahdheeb, 12/436 and U’*** Al-Athar, 2/395)
- Al-Zarakli berkata : Aisha dilahirkan 9 tahun sebelum Hijrah dan meninggal pada saat 58 AH (Al-A’laam, 3/240 (Print Number 7; 1986 by daarul I’lm lilmalayeen))

IV. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA SIAPAPUN YANG DIBAWAH 15 TAHUN TIDAK DIPERKENANKAN/DIIZINKAN UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PERANG, DAN BAHWA AISHA BERPARTISIPASI BAIK PERANG BADR MAUPUN PERANG UHUD.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut beberapa kisah, Aisha ikut menemani Muslim2 dalam perang Badr dan Uhud. Lebih jauh lagi, juga dilaporkan di buku2 Hadits dan sejarah bahwa tidak ada seorangpun yg berusia dibawah 15 tahun diperkenankan/diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang Uhud. Semua anak laki2 yg berumur dibawah 15 tahun dikirim balik pulang. Aisha yg berpartisipasi dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa saat itu ia tak mungkin berumur 9 atau 10 tahun. Lagian biasanya wanita2 menemani pria dalam medan perang untuk membantu mereka, bukan untuk menambah beban mereka”

Kesimpulan dan penafsiran dari penulis menunjukkan kurang pengertian akan bahasa Arab, dan juga kurangnya pengetahuan mengenai Hadits, fiqh (Islamic jurisprudence) dan sains.

15 TAHUN ADALAH UMUR DIMANA PRIA MENCAPAI PUBERTAS
Hadits sahih, yang digunakan si Penulis, menyatakan hal sebagai berikut:

Telah dikisahkan atas seizin dan otoritas dari Ibn ‘Umar yang berkata : “Rasul menginspeksi aku di medan perang pada hari Uhud, dan aku berumur 14 tahun. Dia tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nabi menginspeksi aku pada Hari Khandaq dan pada waktu itu aku sudah berumur 15 tahun, dan beliau mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata: Saya datang kepada ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz yg merupakan khalifah dan menceritakan tradisi ini kepadanya. Dia berkata : Sungguh, ini adalah pemisahan antara apa yg minor dan mayor. Maka Ia menulis surat kepada Gubernur bahwa mereka harus membayar tunjangan nafkah bagi orang2 yg berumur 15 tahun, namun harus menjaga dan memelihara siapa saja yg umurnya kurang dari 15 tahun diantara anak2 tersebut.” (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 4605)

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Rasul memanggilku untuk menghadapnya pada malam perang Uhud saat aku berumur 14 tahun pada saat itu, beliau tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang, namun kembali Ia memanggilku di malam perang Trench ketika aku berumur 15 tahun, dan kali ini beliau mengizinkan aku untuk bergabung dalam mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata : Aku pergi kepada ‘Umar bin ‘Abdul Aziz yg pada saat itu adalah khalifah menceritakan kisah tersebut kepadanya. Dia kemudia berkata, “Umur 15 tahun ini adalah masa peralihan anak laki2 menjadi pria dewasa. (That is to say, if a boy does not experience one or both signs of puberty (ejaculation or the growth of pubic hair) by the age of fifteen, then the completion of fifteen years of age is his attainment of maturity whether or not the signs of puberty have yet become manifest.)” Dan kemudian ia menulis surat kepada Gubernur untuk memberikan upah bagi mereka yg sudah mencapai usia 15 tahun. (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 3, no. 832)

Imam An-Nawawi menaruh Hadits ini pada Judul “Umur seseorang mengalami pubertas” dan berkata “Usia 15 tahun adalah usia dimana seorang anak laki-laki menjadi seorang prajurit perang dan mengambil bagian untuk memimpin sama seperti lelaki dewasa.” (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Kemudian Ia berkata “Berkenaan dengan Hadits ini, Imam Ash-Shafi, Al-Azwa, Ibn Wahb dan Iman Ahmad beserta yg lainnya berkomentar bahwa umur 15 tahun adalah umur dimana anak laki-laki mencapai pubertas”. (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Sangat jelas bahwa umur 15 tahun ini hanya berlaku bagi laki-laki. Hal ini sudah dijelaskan sejelas-jelasnya dari Hadits itu sendiri, karena usia 15 tahun adalah usia dimana anak laki-laki tumbuh menjadi pria dewasa. Di masa perang, ketika seorang anak laki-laki mencapai usia tersebut, anak tersebut mengemban tanggung jawab yg sama dengan pria dewasa.

Al-Hafith Ibn Hajr menyatakan dalam komentarnya akan Hadits ini ketika ia menjelaskan penafsiran dari beberapa sarjana/kaum terpelajar berkenaan dengan Hadits ini:
Selanjutnya, beberapa kaum terpelajar Maliki menyatakan bahwa kejadian ini adalah kejadian dimana seseorang melatih jiwa kepemimpinan atas dirinya sendiri, bukan kepemimpinan secara pada umumnya (memimpin para pria). Selanjutnya, adalah mungkin bahwa anak tersebut mencapai umur pubertasnya pada umur tersebut (15 tahun) dan oleh karena itu diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang.( Fath Al-Bari, commentary on hadeeth no. 2521)

BUKTI BAHWA ANAK KECIL (LAKI-LAKI YANG BELUM MENGALAMI MASA PUBERTAS) JUGA MENGAMBIL BAGIAN DALAM PERANG

Telah terbukti dari Hadits sahih bahwa anak kecil juga mengambil bagian dalam peperangan.
Anas menceritakan : Haritha adalah seorang martir pada hari dimana terjadi Perang Badr, dan dia adalah bocah cilik laki-laki (ghulam : seorang laki-laki yang belum mencapai pubertasnya) kemudian ibunya datang kepada Nabi dan berkata “O Rasul, engkau tahu betapa aku mengasihi Haritha. Jika ia berada di Surga, saya akan tetap sabar, dan berharap akan hadiah dari Allah, namun jika tidak demikian, maka lihatlah apa yang akan kulakukan”. Nabi berkata “Biarlah Allah mengampunimu, apakah engkau sudah tidak waras? Apa engkau mengira hanya ada satu Surga? Ada banyak Surga dan anakmu berada di Surga tingkat tertinggi, Surga dari Al-Firdaus” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 318. Also narrated in Musnad Ahmad, no. 13831 and
Musnad Abi Ya’la, no. 3500)

‘Abdur Rahman bin ‘Auf menceritakan : “Ketika aku sedang berperang di barisan depan pada hari dimana terjadinya Perang Badr, tiba2 aku berbalik kebelakang dan melihat disamping kanan-kiriku dua anak laki-laki dan merasa tidak aman berdiri diantara mereka. Salah satu diantara mereka bertanya secara diam-diam kepadaku agar temannya tidak mendengar. “Wahai Paman! Tunjukkan padaku Abu Jahl.” Aku berkata, “Wahai anak kecil, apa yang akan kau lakukan kepadanya?”, Anak tersebut berkata “Aku berjanji kepada Allah jika aku melihatnya (Abu Jahl), aku akan membunuhnya atau aku yg terbunuh sebelum aku membunuhnya” Kemudian temannya yg lain juga mengatakan dengan diam-diam hal yg sama persis dengannya. Aku tidak akan merasa senang menjadi orang tengah diantara keduanya. Maka aku menunjukkan Abu Jahl kepada mereka. Kemdian keduanya menyerang Abu Jahl seperti layaknya elang hingga mereka mengalahkannya. Kedua anak tersebut adalah anak dari ‘Afra (anak dari perempuan Ansari) ” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 324.)

Sepertinya si penulis gagal untuk membedakan antara orang2 yg mengambil bagian dalam perang sebagai prajurit perang dan orang2 yg tetap tinggal di barisan belakang untuk merawat prajurit/tentara perang. Kriteria yg dibutuhkan untuk masing2 tipe prajurit ini adalah sangat berbeda, karena itu membandingkan keduanya adalah hal yang tidak valid.

Karena itu saya akan memberikan tantangan kepada Penulis sebagai berikut:
- Tolong tunjukkan satu Hadits saja yg menyatakan dengan jelas bahwa umur 15 tahun adalah usia minimum bagi perempuan untuk mengambil bagian dalam perang
- Tolong tunjukkan bukti Hadits yg mengatakan bahwa umur 15 tahun juga berlaku bagi wanita dengan menunjukkan pernyataan2 dari sarjana/kaum terpelajar terkemuka baik sarjana/kaum terpelajar di masa lalu maupun masa sekarang.

V. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA ASMAA BERUMUR 10 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA, DAN IA MENINGGAL PADA USIA KE 100 DI 73 AH

Menurut sejarahwan (hampir seluruhnya), Asmaa, kakak dari Aisha 10 tahun lebih tua dari Aisha. Hal ini dilaporkan dalam Taqri’bu-l-tehzi’b sama juga seperti dalam Al-bidayah wa’l-nihaya bahwa Asmaa meninggal pada 73 Hijrah ketika ia berumur 100 tahun. Jelas jika Asma berusia 100 tahun pada 73 Hijrah maka seharusnya ia berumur 27 atau 28 tahun pada masa Hijrah, dan Aisha seharusnya berumur 17 atau 18 tahun pada saat itu. Oleh karena itu, Aisha, jika ia menikah pada 1 AH (setelah Hijrah) or 2 AH, maka umurnya antara 18 – 20 tahun pada saat perkawinannya dengan Nabi.

Argumen ini didasarkan pada 2 poin, yg akan saya sebutkan dan sanggah sesuai dengan poin tersebut:
1. Perbedaan umur Asmaa dan Aisha
2. Kisah yg menyebutkan umur dari Asmaa

PERBEDAAN UMUR ANTARA ASMAA DENGAN AISHA

Perbedaan umur antara Asmaa dan Aisha diceritakan oleh sejarahwan, hanya dari perkataan Ibn Abee Az-Zinaad yg tidak hidup pada masa Asmaa dikarenakan ia berasal dari Atbaa’ at-Tabi’een (Generasi ketiga, ex: orang yg bertemu dengan orang yg bertemu dengan teman2nya Nabi). Dia hanya dipercaya oleh segelintir orang, jauh lebih banyak yg tidak mempercayainya. Selanjutnya, kebanyakan sarjana/kaum terpelajar yg menjadi sumbernya, tidak pernah melihat Asmaa. Karena itu kisah tersebut tidak dapat diterima dikarenakan rantainya munqati (tidak berlanjut/terputus)

note =>It is when the chain has a missing link between the Successors and the Companion. Ibn Hajr added that the break may occur at more than one place in the chain.

Jika kita hendak menerima kisah yg sangat lemah ini, maka kita juga harus menerima/mengakui pernyataan yg dibuat setelah menyebutkan kata2 dari Ibn Abee Az-Zinaad oleh sejarahwan yg menceritakan kisah tersebut. Imam Adh-Dhaabi berkata : “Ibn Abee Az-Zinaad berkata: Dia, Asmaa ibn Abee Bakr lebih tua 10 tahun dari Aisha”. Jika saya berkata hal ini benar, maka umur Asmaa pada saat ia meninggal seharusnya 91 tahun. Namun sebaliknya, Hisham ibn ‘Urwah berkata: Ia hidup 100 tahun dengan gigi yg masih lengkap. (Tareekh Al-Islam, 5/354)

KISAH YANG MENYATAKAN UMUR DARI ASMAA

Umur dari Asma hanya diceritakan oleh Hisham Bin ‘Urwah, yang kisahnya di Irak ditolak mentah2 oleh Penulis. Terdapat hubungan berantai antar narrator dalam kisah dimana disebutkan umur Asmaa, dimana narrator tersebut adalah berasal dari Irak, namun seperti yang kita lihat, si Penulis menerima kisah ini dikarenakan kisah tersebut sesuai dengan kebutuhan argumentasinya. Demi kepentingan berargumentasi, saya akan menerima kisah ini dan setuju bahwa umur dari Asmaa adalah 100 tahun ketika ia meninggal, meskipun para sejarahwan sendiri tetap netral/tidak memihak, tidak menyokong kisah ini mempunyai karakteristik atau kesamaan dengan kisah2 yg lain.

Argumen dari penulis tidak membuktikan apa2 mengenai umur dari Aisha, karena argument ini didasarkan pada kisah dari Ibn Abi Al-Zinaad, yg sudah kita sanggah sebelumnya dikarenakan kisahnya yg jelas2 lemah.

APAKAH SEJARAHWAN SETUJU DENGAN APA YANG DISEBUTKAN OLEH PENULIS?

Sebagai hasilnya, Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Penulis dikarenakan dia menyebutkan dalam argumennya bahwa kebanyakan para sejarahwan setuju dengan informasi ini (informasi bahwa umur Asmaa 10 tahun lebih tua dari Aisha)
a. Di buku sejarah manakah seperti yg dikutip oleh Penulis bahwa kebanyakan kaum sejarahwan setuju dengan informasi tersebut?
b. Apakah dengan mengumpulkan kisah2 dalam buku sejarah berarti si Penulis setuju akan hal itu? Tentu saja tidak, karena kaum sejarahwan menyebutkan juga kisah2 yg lain, dan kisah2 tersebut sahih bahwa umur Aisha adalah 6 tahun saat ia menikah
c. Dikarenakan pendapat dari Penulis yg menyatakan bahwa kebanyakan sejarahwan setuju dengan isu ini, dapatkah si Penulis menyebutkan nama2 orang yg menentang pendapat tersebut? (Perlu dicatat bahwa kaum sejarahwan tidak pernah saling sepakat akan informasi yg menyatakan bahwa beda umur Asmaa dan Aisha adalah 10 tahun)
d. Buku yg dikutip oleh si Penulis mengandung banyak kisah lain yang menyanggah dan bertentangan dengan gagasan/pandangannya. Yang ingin saya tanyakan adalah, bagaimana bisa si Penulis hanya menerima kisah yang sesuai/fit dengan kepentingannya untuk berargumentasi, sedangkan dengan mudah ia menolak mentah2 sisa2 kisah dari buku tersebut, sekalipun apa yg Penulis tolak sudah disetujui dan terbukti oleh Hadits sahih?

VI. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEEMPAT ANAK DARI ABU BAKR DARI 2 PERKAWINAN PERTAMANYA DILAHIRKAN PADA JAMAN JAAHILIYAH (zaman Pra Islam)

Penulis argumen ini menyatakan : “Tabari dalam tulisannya akan sejarah Islam, saat menyebutkan Abu Bakr, melaporkan bahwa Abu Bakr mempunyai 4 anak dan keempat2nya dilahirkan semasa zaman Jaahiliyah, masa pra Islam. Jelas, jika Aisha dilahirkan pada masa Jaahiliyah, tidak mungkin Aisha umurnya kurang dari 14 tahun di masa 1 AH, waktu yg mendekati masa perkawinannya.”

Lagi-lagi Penulis nampaknya mencoba untuk menyesatkan pembaca dengan memutar balikkan kata2 dan menerjemahkan kata2 dari Imam At-Tabari sesuai dengan kepentingannya berargumentasi, dimana penerjemahan ini jelas2 salah. Kembali hal ini menyingkapkan kurangnya pengetahuan si Penulis akan bahasa Arab.

KUTIPAN UTUH DARI IMAM AT-TABARI

Inilah kutipan secara utuh dari buku sejarah yg ditulis oleh Imam At-Tabari:
At-Tabari berkata dalam bukunya Sejarah Islam:

“Ali ibn Muhammad menceritakan bahwa seseorang menambahkan kata2 dari gurunya, bahwa Abu Bakr menikah selama zaman Pra Islam dengan Qateelah, dimana hal ini juga disetujui oleh Al-Kalbi juga, mereka berkata : Dia adalah Qateelah bin Abdul Uzza ibn Abd ibn As’ad ibn Jaabir ibn Maalik ibn Hasal ibn A’mir ibn Luai yg melahirkan Abdullah dan Asmaa. Abu Bakr juga menikah pada zaman Pra Islam dengan Umm Rooman bin A’mir ibn Umair ibn Dhahl ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah dan sumber lain mengatakan dia adalah Umm Rooman bin A’mir ibn Uwaimir ibn Abdush Shams ibn Utaab ibn Udhinah ibn Subai ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah yang melahirkan Aisha dan Abdur Rahman. Jadi keempat anaknya dilahirkan oleh kedua istrinya yg telah kita sebutkan diatas, yang dinikahi Abu Bakr selama masa Pra Islam” (Tarikh At-Tabari, 2/351)

Hal2 yg perlu diingat:

  1. At-Tabari tidak pernah berkata bahwa keempat anak Abu-Bakr dilahirkan pada masa Jaahiliyah sama sekali. Dia berkata dua istri Abu Bakr, yg ia sebutkan diatas, menikah dengan Abu Bakr pada masa Jaahiliyah
  2. At-Tabari tidak pernah menyebutkan tahun kelahiran anak2 Abu Bakr, demikian juga dengan tahun dimana Abu Bakr menikahi kedua istrinya.
  3. Cerita tersebut tidak mempunyai hubungan berantai antar narrator secara utuh.
VII. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA AISHA MEMELUK ISLAM JAUH SEBELUM MASA DARI UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Penulis argumen ini menyatakan : “Menurut Ibn Hisham, sang sejarahwan, Aisha memeluk Islam jauh sebelum masa dari Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Aisha memeluk Islam selama tahun pertama dari Islam. Sementara, jika kisah yg menceritakan Aisha menikah pada umur 7 tahun ini dianggap benar, maka Aisha seharusnya tidak dilahirkan pada masa tahun pertama dari Islam. Menurut Ibn Hisham, Aisha adalah orang ke-20 atau 21 yg memeluk Islam (Al Shirah al-Nabawiyyah, Ibn Hisham, vol 1, hal 227-234, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al-hadeeth, Al-Riyadh) sementara orang2 yg sudah memeluk Islam sebelum ‘Umar ibn al-Khattab adalah sebanyak 40 individu/orang. (Al-Sirah al-Nabawiyaah, Ibn Hisham, Vol 1, hal 295, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al hadeeth, Al-Riyadh)”

Argumen ini hanya beralas pada satu poin : tahun dimana Umar ibn Al Khattab memeluk Islam. Argumen ini bukan hanya rapuh sama seperti argument sebelumnya tapi juga menyesatkan seperti yg akan saya tunjukkan berikut ini

TAHUN DIMANA UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke 9 setelah masa permulaan pewahyuan kepada Nabi Muhammad. Berikut ini bukti yg diambil dari beberapa sumber, termasuk sumber yg sama yg digunakan Penulis untuk mendukung argumentasinya:

Ibn Sa’d berkata: “Muhammad ibn Umar berkata kepada kami bahwa Usamah ibn Zaid ibn Aslam berkata kepadanya bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa kakeknya berkata kepada ayahnya : “Saya mendengar Umar ibn Al-Khattab berkata : Saya dilahirkan 4 tahun sebelum kejadian Besar Fujjar.” Dia masuk Islam pada tahun ke-6 setelah pesan Islam ada, waktu dia berumur 26 tahun. Kakeknya berkata juga hal yg sama : Abdullah ibn Umar biasanya berkata: Ayahku (Umar) masuk Islam ketika aku berumur 6 tahun” (60Al-Tabaqat Al-Kubra, 3/250)

Ibn Ishaaq berkat: “Umar ibn Al-Khatab memeluk Islam setelah Muslim2 berimigrasi ke Abyssinia (nama masa kuno untuk Ethiophia)” (Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 2/32 and Seerah Ibn Hisham, 2/193)

Fakta sederhana ini menyanggah pendapat yg mengatakan bahwa Umar adalah orang ke-40 yg memeluk Islam dikarenakan Muslim2 yg bermigrasi ke Ethiopia itu lebih dari 80 orang (63Seerah Ibn Hisham, 2/193). Abdullah ibn Umar menceritakan pada masa itu ia adalah seorang ghulam (istilah yg digunakan untuk menggambarkan orang yg masih muda belia, namun sudah mampu membuat penilaian yg masuk akal) ketika Umar ibn Al-Khattab menyatakan ke-Islaman-nya didepan publik. (Seerah Ibn Hisham, 2/193 and Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 239)

Mari kita perhatikan dengan seksama penanggalan pada kutipan diatas:
Kutipan pertama:
Umur Abdullah ibn Umar pada masa Umar memeluk Islam adalah 6 tahun
Umar memeluk Islam 6 tahun setelah permulaan wahyu yg diterima oleh Nabi
Kutipan kedua:
Umar memeluk Islam setelah migrasi pertama ke Abyssinia.
Kutipan ketiga:
Abdullah ibn Umar menyatakan bahwa ayahnya memeluk Islam ketika ia masih ghulam (dibawah umur 9 tahun).

Dari kutipan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa penentuan tanggal dari Umar memeluk Islam adalah didasarkan pada umur anaknya. Pada Hadits sahih yg telah kita rujuk sebelumnya, menyatakan bahwa Abdullah ibn Umar berumur 14 tahun pada masa perang Uhud. Perang ini terjadi pada tahun ke-3 atau 4 setelah Hijrah. Kita juga tahu bahwa Nabi tinggal di Makkah selama 13 tahun setelah menerima pewahyuan. Oleh karena itu, berdasarkan berdasarkan informasi penanggalan ini, Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke-9 setelah masa pewahyuan kepada Nabi.
Berikut ini adalah urutan waktu untuk mendemonstrasikan kejadian2 tersebut:

Pra Hijrah (Tahun permulaan pewahyuan kepada Nabi)
- Tahun ke 5 => Aisha lahir
- Tahun ke 9 => Abdullah berusia 6 tahun
- Tahun ke 9 => Umar memeluk Islam

Hijrah => (tahun ke 13)

Pasca Hijrah
- Tahun ke 2 =>Pernikahan Aisha
- Tahun ke 3 / 4 => Perang Uhud
- Tahun ke 3 / 4 => Abdullah berusia 14 tahun

VIII ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KATA “BIKR” TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI KATA UNTUK MERUJUK SEORANG GADIS MUDA.

Penulis argumen ini berkata :”Menurut kisah yg diceritakan Ahman ibn Hanbal, setelah kematian Khadijah, ketika Khaulah datang kepada Nabi dan menasihatinya untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada pilihan apa yg ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata:’Engkau dapat menikahi seorang perawan (bikr) atau wanita yg sudah pernah menikah (thayyib). Ketika Nabi bertanya siapa gadis perawan tersebut, Khaulah mengajukan nama Aisha. Siapapun yg mengerti bahasa Arab sadar bahwa kata ‘bikr’ dalam bahasa Arab tidak ditujukan kepada gadis 9 tahun yg belum dewasa. Kata yg benar untuk gadis muda yg suka bermain-main seperti yg sudah saya nyatakan sebelumnya adalah ‘jaariyah’. ‘Bikr’ sebaliknya, digunakan untuk merujuk kepada wanita yg belum pernah menikah, dan sangat jelas gadis 9 tahun bukanlah seorang wanita. ”

Penulis sepertinya adalah penyanggah/penentang yg mengambil keuntungan dari kekurang-pahaman pembaca akan dasar2 perbendaharaan kata Arab ATAU penulis adalah orang yg terang2an meremehkan kemampuan intelek/berfikir dari pembaca. Namun dari cara dia menggunakan kata2 dari kalimatnya, terlihat bahwa dia menunjukkan boroknya sendiri akan kekurang-pahaman akan bahasa Arab. Apa lagi yg bisa kita harapkan dari orang yg cuman sekedar bisa mem-beo dari kata2 orang lain?

DEFINISI DARI BIKR DAN JAARIYAH
Argumen ini merujuk pada kata bikr dan jaariyah. Definisi dari kata2 tersebut adalah sebagai berikut:
Bikr secara umum artinya adalah anak sulung tetapi mempunyai arti tambahan, yg dapat juga digunakan untuk merujuk perempuan yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Al-Muheet Fi Al-Lugha, 2/49).

Bikr adalah seorang Jaariyah yg masih perawan dan pengertian Bikr pada wanita adalah seseorang yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Lisan Al-A’rab, 4/76).
Pengertian pada umumnya adalah setiap gadis yg masih muda belia/cilik disebut sebagai Jaariyah, jadi penggunaan kata jaariyah berhubungan/merujuk kepada umur. Namun kata Bikr adalah kata yg menjelaskan seorang perempuan yg masih perawan terlepas dari apakah mereka masih muda atau dewasa. Sebagai tambahannya, maksud dari Khaulah dalam pertanyaannya kepada Nabi adalah apakah Nabi berkeinginan untuk menikahi seseorang yg belum pernah menikah sebelumnya ATAU seseorang yg sudah pernah menikah sebelumnya.

IX ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA FATIMAH 5 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA DAN IA DILAHIRKAN 5 TAHUN SEBELUM MUHAMMAD MENCAPAI MASA KENABIAN-NYA.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut Ibn Hajar, Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisha. Fatimah dilaporkan bahwa ia lahir ketika Nabi berumur 35 tahun. Jika informasi ini benar adanya, umur Aisha tidak kurang dari 14 tahun pada saat Hijrah, 15 atau 16 tahun pada saat pernikahannya. Pernyataan asli Ibn Hajar dan terjemahannya dan referensinya adalah sebagai berikut : Fatimah dilahirkan pada masa dimana Ka’bah dibangun, ketika Nabi berumur 35 tahun. Dia (Fatimah) berumur 5 tahun lebih tua dari Aisha (Al-isbah fitamyizi’lsahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol 4, hal 377, Bahasa Arab,Maktabatu’l-Riyadh alhadeetha, al-Riyadh, 1978)”

Sangat penting untuk bersikap objektif ketika sejarah didiskusikan, dan sepertinya Penulis kurang akan hal ini dikarenakan keputus-asaannya untuk mencari argument apapun yg mendukung gagasan/pandangan pribadinya. Referensi diatas yg digunakan oleh Penulis, telah diambil sepotong-potong dengan cara yg sangat menyesatkan dan keluar dari konteks aslinya.

KUTIPAN SESUNGGUHNYA DARI IBN HAJR
Berikut ini beberapa bagian yg Penulis dengan gampangnya ubah/hilangkan, dikarenakan bagian ini bertentangan dengan argumennya:

Ibn Hajr berkata (sebelum kutipan tersebut/kutipan yg diambil Penulis):“Telah terjadi masalah mengenai perbedaan pendapat tahun Fatimah dilahirkan”
Kemudian Ibn Hajr berkata lagi setelah kutipan tersebut: “Abu Umar menceritakan bahwa Ubaidullah ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Ja’far Al-Hashemi berkata :”Fatimah dilahirkan ketika Nabi berumur 41 tahun, tahun dimana sudah hampir setahun atau lebih saat Nabi mendapatkan pewahyuannya. Dan dia lebih muda 5 tahun dari Aisha. Ali juga menikah dengan Fatimah pada tahun kedua setelah Hijrah pada bulan Muharram, yang merupakan 4 bulan setelah pernikahan Aisha, dan sumber lain juga menceritakan kisah yg sama.”” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-sahabah, 4/377)

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa dikarenakan banyak jumlah kisah dalam sejarah yg berhubungan dengan topik pernikahan Aisha, maka tidak ada satupun kisah yg dapat dengan mudah dipilih sebagai bukti KECUALI kisah tersebut lolos kualifikasi setelah narratornya diperiksa dengan seksama, conteks dan text dari Hadist tersebut oleh kaum terpelajar/sarjana Islam yg dipercaya.

EPILOG – NASIHAT TERAKHIR

Saya sudah menyediakan bukti2 yg cukup dalam tulisan saya untuk menunjukkan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya dengan Nabi dan hal ini adalah masalah konsensus (persetujuan yg diterima secara umum) diantara kaum terpelajar/sarjana, termasuk sejarahwan Muslim yg bukunya digunakan sebagai “bukti” yg digunakan si Penulis.

SI Penulis bergantung pada buku2 sejarah, yg sebenarnya juga menceritakan bahwa umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya. Namun, jelas2 ganjil bahwa si Penulis hanya mengakui/mendukung statement2 yg mendukung argumentasinya namun dengan mudah mengabaikan sisa2 statement lain yg bertentangan dengan opininya sementara sisa2 statement terarkhir terbukti sahih dan disetujui oleh kaum terpelajar/sarjana Muslim.

Metode cut and paste yg digunakan Penulis adalah bias, sangat menipu, dan pada kenyataannya menghapuskan kredibilitas dari si Penulis. Tidak ada hal yg bermanfaat yg dapat dicapai oleh seseorang yg menghalalkan segala cara untuk mempropagandakan idenya yg menyesatkan. Kita mencari tempat perlindungan dari Allah dari penyesatan ini dan penipuan dari Syaatan (Setan).

Saya hendak menasihatkan kepada diri saya sendiri dan saudara/i Muslimku bahwa kita hidup di masa2 yg sukar. Karena itu kita harus memproteksi diri kita dengan pengetahuan yg benar dari sumber yg sahih/asli. Setelah mencari perlindungan dari Allah dari pencobaan2 ini, tidak ada perlindungan yg lebih berarti selain membentengi diri kita dengan KEBENARAN. Ibn Sireen (A student of one of the Companions of the Prophet) mengatakan kata2 yg sederhana ini, dimana di waktu yg akan datang, dapat menjadi petunjuk yg sangat diperlukan bagi para kaum terpelajar, “Pengetahuan ini adalah pengetahuan agama, oleh karena itu berhati-hatilah dengan kepada siapa engkau memperoleh pengetahuan tersebut”.

Jadi mari kita tidak membiarkan telinga kita untuk mendengarkan hal2 yg meragukan yg disebarkan oleh musuh2 Islam, terutama mereka orang2 munafik yg telah menjadi juru bicara bagi orang2 kaffir, yang hanya sekedar mengeluarkan gema/sekedar membeo dikarenakan penyakit yg sudah mewabah dalam hati mereka. Mereka2 inilah yg dikatakan Allah:

Orang-orang tersebut adalah orang2 yg membuang2 waktu dan tenaga dalam hidupnya, sementara mereka sedang mengira bahwa mereka memperoleh kebaikan dengan perbuatan mereka.( Surah Al-Kahf (18):104)

Hanya Allah saja yg mengetahui hal terbaik.

Ditulis oleh seseorang yg terus menerus membutuhkan pengampunan dan belas kasihan dari Allah,
Ayman bin Khalid

%d bloggers like this: