Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Category Archives: Sejarah Kabah

Kilas Balik Arabia Sebelum Jaman Islam

Kilas Balik Arabia Sebelum Jaman Islam

Oleh H. L. Oberoi dan P. N. OakArabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan. Asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sanskrit, huruf “V” diganti jadi huruf “B”. Arva dalam bahasa Sanskrit berarti kuda. Arvasthan berarti tanah kuda, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya.

Di abad ke 6 dan 7 Masehi, gelombang perubahan yang mengakibatkan perpisahan dengan masa lalu melanda Asia Barat. Semua hubungan dengan masa lalu diputuskan, gambar2 masa lalu dimusnahkan, naskah2 dihancurkan, pendidikan dihentikan, dan seluruh daerah Asia Barat terjun bebas menuju kebodohan yang berlangsung berabad-abad kemudian dan mungkin masih terus berlangsung sampai hari ini karena di negara2 Asia Baratlah perkembangan sains dan pendidikan modern terhenti.

Dikatakan bahwa almarhum Raja Saudi Arabia tidak bisa mengijinkan berdirinya stasiun radio di ibukota negara sendiri karena ditentang kelompok pemimpin agama. Dia lalu bersiasat. Dikumpulkannya para ulama dan dia lalu diam2 memasang radio yang melantunkan pelafalan Qur’an dari stasiun kecil. Para ulama senang, begitu kabarnya, mendengar kata2 Allah terdengar entah dari mana. Sang Raja lalu bertanya apa yang membuat mereka menentang alat yang menyiarkan firman Allah. Setelah itu para ulama setuju dan dibangunlah sebuah stasiun radio kecil.

Daftar isi

//

Encyclopaedia Britannica dan Encycløpaedia Islamia

Menurut Encyclopaedia Britannica dan Encycløpaedia Islamia, orang Arab pra-Islam tidak mencatat sejarah mereka. TAPI anehnya, mereka dengan yakin menyebut jaman itu sebagai jaman jahiliyah yang penuh nista dan kegelapan. Mungkin tiada satu pun negara di dunia yang terang2an menghapus sejarahnya sendiri selama 2.500 tahun dengan secara sistematis menghancurkan segala yang berhubungan dengan masa lalu. Mereka telah menghapus segala kenangan era sebelum Islam dalam benak mereka. Jika mereka memilih untuk jadi bodoh dan tidak tahu apa2 tentang masa lalu mereka, maka sungguh ironis bahwasanya mereka menuduh jaman sebelum Islam sebagai jaman bodoh dan tidak tahu apa2.

Untungnya, kita masih bisa menelusuri jaman pra-Islam di Arabia. Pepatah terkanal mengatakan bahwa tidak mungkin bisa menghilangkan segala bukti. Sejarah Arab pra-Islam adalah sejarah Ksatria India atas tanah tersebut, di mana masyarakat menganut cara hidup Veda.

Sebagai usaha menyusun kembali sejarah Arabia pra-Islam, kami mulai dengan nama negara itu sendiri. Telah diterangkan sebelumnya bahwa nama negara itu berasal dari bahasa Sanskrit. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sanskrit. Kata Makha dalam bahasa Sanskrit berarti api persembahan. Karena penyembahan terhadap Api Veda dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, maka Makha berarti tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.

Ziarah tahunan yang merupakan hari raya ibadah besar di Makha atau Mekah telah berlangsung sejak jaman dahulu kala. Ibadah haji tahun yang dilakukan Muslim ke Mekah bukanlah penemuan baru tapi merupakan lanjutan dari ziarah kuno. Kenyataan ini tertulis di berbagai ensiklopedia.

Vikramaditya

Bukti menunjukkan bahwa seluruh Arabia dulu merupakan bagian kekaisaran Raja besar India Vikramaditya. Luasnya kekaisaran Vikramaditya merupakan salah satu alasan mengapa dia terkenal ke seluruh dunia. Hal ini pulalah yang menerangkan banyaknya hal2 yang menarik yang berhubungan dengan India di Arabia. Ada kemungkinan Vikramaditya sendirilah yang menamakan Jazirah ini dengan nama Arvashtan jika dia adalah raja India pertama yang berhasil mengalahkan dan mempengaruhi daerah tersebut.

Hal kedua yang menarik adalah adanya lingga Shiva atau simbol Mahadewa di Ka’bah di Mekah. Sebelum mengungkapkan banyak rincian tentang ibadah Veda kuno dan nama2 yang masih tercantum dalam ibadah Muslim di Mekah, mari kita lihat bukti yang ada bahwa Arabia dulu merupakan daerah kekuasaan Vikramaditya.

Anthologi Puisi Arab Kuno: SAYAR-UL-OKUL

Di Istanbul, Turki, terdapat perpustakaan terkenal yang bernama Makteb-e-Sultania yg memiliki koleksi literatur terbesar Asia Barat kuno. Dalam bagian bahasa Arab perpustakaan tsb terdapat sebuah antologi sajak2 Arab kuno. Antologi disusun dari karya sebelumnya pd th 1742M atas perintah penguasa Turki, Sultan Salim.

‘Halaman2′ volume tsb terbuat dari HAREER – semacam kain sutera yg khusus utk penulisan kata2. Setiap halaman memiliki pinggir2 yg dihiasi dgn tinta emas. Tradisi menghiasi halaman2 buku suci dgn hiasan tinta emas memang merupakan tradisi kuno Sansekerta yg juga ditemukan di PULAU JAWA.

Antologi itu dikenal sbg SAYAR-UL-OKUL dan terbagi dlm 3 bagian:

  1. detail2 biograpis dan komposisi2 syair2 Arab pra-Islam.
  2. kesaksian dan syair2 dari masa sejak jaman Muhamad sampai dgn akhir dinasti Bani Ummayyad.
  3. penyair2 pada jaman akhir Khalifat Harun-al-Rashid.

Catatan : “Bani” berarti “Vani” dan Ummayyad spt Krishnayyad merupakan nama2 Sansekerta.

Abu Amir Abdul Asamai, penyair terkenal di jaman Harun-al-Rashid megnumpulkan dan mengedit antologi tsb.

Edisi modern pertama antologi Sayar-ul-Okul dicetak dan diterbitkan di Berlin th 1864M. Edisi berikutnya terbit di Beirut, 1932. Karya ini adalah yg paling penting dan otoritatif mengenai syair2 Arab kuno. Ini menunjukkan kehidupan sosial, tradisi dan etika serta bentuk2 hiburan di jaman Arab kuno.

Buku ini juga mengandung deskripsi ttg kuil Mekah kuno, kota tsb dan ziarah tahunan yg dikenal sbg OKAJ. Ini saja sudah dapat meyakinkan pembaca bahwa ritual haji tahunan Muslim ke Kaabah hanya merupakan lanjutan dari praktek berhala tua dan bukan sebuah ciptaan baru.

Perayaan OKAJ bukan sebuah karnaval. Kesempatan ini merupakan sebuah forum bagi kaum intelektual dan elit utk membahas isu2 sosial,
religius, politikal, literatur dan aspek2 budaya Veda di Arabia jaman itu.

Sayar-ul-Okul menegaskan bahwa kesimpulan2 yg didapatkan pada diskusi2 itu dihormati diseluruh jazirah Arabia. Mekah, oleh karena itu, mengikuti tradisi Varanasi utk menyediakan tempat bagi diskusi2 penting bagi kaum terpelajar sementara rakyat umum berkumpul disana utk mencapai ketenangan spiritual. Kedua kuil utama saat itu adalah Varanasi di India dan Mekah di Arvasthan dan keduanya merupakan kuil Shiva temples. Bahkan sampai detik ini, obyek sentral yg dijadikan pusat perhatian baik di Mekah dan Varanasi adalah emblem2 Mahadeva kuno, yi BATU Shankara (Hajar e Aswad)yg disentuh dan dicium para peziarah Muslim di Kaabah.

Entry of non-Muslim Verboten
Image: Mecca-roadsign.jpg

Mecca-roadsign

Tanda larangan bagi non-Muslim utk memasuki Mekah ini mengingatkan kita akan hari2 kuil Kabah diserang dgn tujuan menjadikannya tempat hanya utk agama baru saja, Islam. Tujuannya adalah agar kota itu tidak direbut kembali oleh pemilik asalnya, kaum Hindu.

Para peziarah diminta mencukur rambut dan jenggot dan mengenakan kain putih bersih tidak bernoda dan tanpa jahitan, sebelum memasuki Mekah. Ini merupakan praktek Veda kuno.

Kuil utama di Mekah yg menyimpan emblem Shiva adalah kuil Kaabah yg diselimuti kain hitam. Tradisi ini berasal dari jaman ketika itu dirasakan penting utk menghalangi perenutan kembali Kaabah oleh kaum Hindu. Menurut encyclopaedias Britannica dan Islamia, Kaabah memiliki 360 patung dewa dewi. Menurut kesaksian, salah satu patung dari antara ke 360 yg dihancurkan itu, adalah patung Saturnus, dan satunya lagi adalah patung dewa bulan dan satu lagi adalah patung dewa yg disebut dgn ALLAH !

DI India, praktek puja Navagraha – atau praktek pemujaan 9 planet, dan sampai sekarang masih dipraktekkan. Dua dari ke9 planet tsb adalah Saturnus dan Bulan. Lagipula, bulan selalu diasosiasikan dgn Dewa Shankara. Lambang bulan sabit selalu digambarkan pada dahi lambang Shiva. Karena ketua para dewa di Kaabah adalah Dewa Shiva yi Shankara, bulan sabit itu juga digambarkan padanya. Itulah bulan sabit yg kini diadopsi sbg lambang religius Islam.

Sungai Gangga

Tradisi Hindu lain adalah di mana ada kuil Shiva maka di situ harus ada pula sumber air suci Gangga. Sesuai dengan tradisi ini, sebuah mata air juga terdapa di dekat Kasba. Airnya dianggap suci karena dianggap sebagai air Gangga sejak jaman sebelum Islam. Para peziarah Muslim mendatangi Ka’bah dan mengelilinginya sebanyak 7 kali. Kegiatan mengelilingi 7 kali tidak dilakukan di mesjid lainnya. Umat Hindu juga mengelilingi tempat2 ibadahnya. Ini merupakan bukti lain bahwa Ka’bah memang merupakan kuil Shiva di jaman sebelum Islam di mana cara ibadah Hindu berkeliling ternyata masih dijalankan dengan sangat seksama sampai sekarang.

Allah adalah kata Sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta, nama Allah, Akka dan Amba merupakan sinonim. Kata2 ini berarti seorang dewi atau ibu. Kata Allah muncul dalam ucapan2 mantra Sansekerta untuk memuja dewi2 Durga, yakni Bhavani. Kata Islam Allah untuk Tuhan karenanya bukanlah hasil ciptaan sendiri, melainkan nama Sansekerta kuno dan sampai sekarang masih digunakan oleh Islam.

Cara ibadah berkeliling tujuh kali merupakan hal yang sangat penting. Dalam upacara2 perkawinan Hindu, pasangan pengantin pria dan wanita berjalan mengelilingi api suci sebanyak tujuh kali. Upacara keliling Ka’bah tujuh kali sudah jelas berasal dari kebiasaan ibadah Hindu Veda. Ini juga membuktikan bahwa Mekah dulunya bernama Makha atau tempat api suci yang dikelilingi tujuh kali oleh umatnya.

Simposium Puisi Negara-negara Arab

SAYAR-UL-OKUL menyatakan bahwa simposium puisi negara2 Arab diadakan di Mekah setahun sekali di perayaan Okaj di jaman sebelum Islam. Semua penyair2 ulung berpartisipasi dalam perayaan ini. Puisi yang dianggap terbaik akan diberi penghargaan. Puisi2 terbaik akan dipahat di atas piring emas dan digantung di dalam Ka’bah. Puisi2 lainnya dipahat di atas kulit onta atau kambing dan digantung di luar Ka’bah. Jadi selama ribuan tahun, Ka’bah merupakan rumah suci bagi puisi2 terbak Arabia. Tradisi ini mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi. Tapi kebanyakan puisi2 tersebut hilang dan hancur saat Muhammad menyerang Mekah dan menguasai Ka’bah.

SAYAR-UL-OKUL adalah sajak oleh UMAR-BIN-HASSNAM (julukannya: ABBUL-HIQAM yg berarti Bapak Pengetahuan).

Ia adalah PAMAN ‘NABI’ Mohamad. Ia menolak utk masuk Islam dan tewas sbg martir ditangan Muslim2 tulen yg ingin menghabisi non-Muslim. Sajak ini dinilai sbg yg paling bagus dlm acara ziarah tahunan di Kaabah.

QAFA VINAK ZIQRA MIN ULUMIN TAV ASERU KALUBAN AYATTUL HAWA VA TAZAKKARU
A man who has spent all his life in sin and immorality and has wasted away his life in passion and fury,
(Seorang laki2 yg menghabiskan seluruh hidupnya dlm dosa dan imoralitas dan membuang hidupnya demi nafsu dan kemarahan,)

VA TAZAKEROHA AUDAN ELALVADAE LILVARA VALUK YANK ZATULLA HE YOM TAB ASERU
If he repents in the end and wants to return to morality, is there a way for his redemption?
(Jika ia bertobat dan ingin kembali kpd moralitas, adakah pengampunan tersedia baginya ?)

VA AHLOLAHA AZAHU ARMIMAN MAHADEV O MANAZEL ILAMUDDINE MINJUM VA SAYATTARU
Even if only once he sincerely worships Mahadeva, he can attain the highest position in the path of righteousness.
(Bahkan jika hanya sekali ia dgn tulus memuja Mahadewa, ia bisa mencapai posisi tertinggi dlm jalan kebenaran)

VA SAHABI KEYAM FEEM QAMIL HINDE YOMAN VA YAQULOON LATAHAZAN FAINNAK TAVAJARU
Oh Lord! Take away all my life and in return pray grant me even a single day’s stay in Hind (India) as a man becomes spiritually free on reaching that holy land.
(Ya Tuhan! Cabut seluruh nyawa saya dan sbg gantinya, berikan saya satu hari saja utk tinggal di Hind (india) sbg lelaki yg menjadi bebas secara spiritual saat mencapai tanah suci)

MAYASSAYARE AKHALAQAN HASNAN KULLAHUM NAJUMUN AZAAT SUMM GABUL HINDU
By dint of a pilgrimage of Hind a man attains the merit of noble deeds and gets the privilege of pious touch with ideal Hindu teachers.
(Dgn ziarah ke Hind, seorang lelaki bisa mencapai kebijakan utk melakukan tindakan mulia dan mendapat kehormatan menyentuh guru2 Hindu yg mulia)


Footnote
1. Shankara: another name of Hindu god Shiva.

If you enjoyed this article , please visit: Hindu Unity

Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Rafat Amari: PERANAN KABAH DALAM AGAMA JIN DI ARAB

PERANAN KUIL DI MEKAH DALAM AGAMA JIN DI JAZIRAH ARAB
By Dr. Rafat Amari
http://religionresearchinstitute.org/me … temple.htm

Kaabah adalah sebuah kuil tempat diletakkannya kedua tugu Asaf dan Naelah, Kuhhan [pendeta/dukun] terkenal agama jin. Ibadah haji dimulai disana dan diteruskan ke tugu2 jin Angin. Tiruan tugu2 Asaf dan Naelah ditempatkan di atas bukit2 Safa dan Marwa. Tidak seorangpun yang tidak mengetahui peranan kuil di Mekah sebagai sebuah tempat pemujaan bagi agama jin, sebagaimana juga menjadi sebuah tempat pemujaan Keluarga Bintang jazirah Arab.

Elemen lain yang membantu kita memahami peranan kuil Mekah adalah bahwa ia menyatukan kedua agama utama jazirah Arab: agama jin dan agama Keluarga Bintang. Dalam agama Keluarga Bintang, Allah adalah bintang terbesar. Istrinya adalah matahari, dan putri2nya adalah Manat dan al-‘Uzza, masing2 melambangkan sebuah planet. Para Kuhhan yang mewakili agama jin bagi orang2 Arab yang menganut agama2 pagan lainnya, seperti penyembahan Keluarga Bintang jazirah Arab, diterima oleh masyarakat yang menganggap para Kuhhan sebagai dewa2. Suku Quraish menganggap iblis – nama lain setan – dan Allah adalah saling bersaudara. [1] Mereka mengatakan bahwa di antara Allah dan jin, ada suatu hubungan yang agung.[2] Mereka mempercayai bahwa para malaikat adalah putri2 Allah, dan bahwa ibu2 dari para malaikat adalah putri2 dari “Tuhannya jin.” [3] Kaum Jin dilihat sebagai lebih hebat dari para malaikat. Orang2 Arab pagan memberikan posisi yang ditinggikan bagi kaum jin karena mereka percaya kaum jin berada dalam hubungan dan kesamaan dengan Allah. Karena kaum jin menggantikan para malaikat, mereka meninggalkan sidik jari mereka pada Quran.

Jin-setan menggantikan Para Malaikat dalam Quran, seperti Mereka menggantikan Para Malaikat dalam literatur dan Syair Agama Jin jazirah Arab

Quran melambangkan sebuah literatur Arab yang dikembangkan sebelum Muhammed; suatu literature pekerjaan2 akreditasi artistic bagi kaum jin.[4] Dalam Quran, kita menemukan kekuatan agama jin jazirah Arab. Kita melihat setan2 sebagai pekerja2 cerdas bagi Sulaiman dalam Surah al-Anbiya’. Dikutip dari Surah 21, ayat 81 dan 82:

Bagi Sulaiman, angin yang berhembus kencang dengan perintahnya menuju daratan yang Kami berkahi, karena kami sungguh mengetahui segalanya. Dan di antara setan2 ada yang menyelam ke dalam lautan baginya, dan melakukan pekerjaan2 lainnya, dan kami melindungi mereka.

Ayat 81 merujuk kepada Sulaiman yang mengklaim bahwa dia mempunyai angin sebagai pembantunya. Di bawah perintahnya, angin akan pergi ke daratan yang diberkahi Allah, disebut Harran/Haran, sebagaimana yang kita pahami dari sumber2 lainnya. Sang angin sebagai pembantu dewa2 yang hebat dan raja2 kudus adalah suatu premis umum dalam agama2 kuno Timur Tengah.

Al-Sabuni, seorang komentator modern di Arab Saudi, memberikan komentar atas ayat 82:

Kaum setan menyelam bagi Sulaiman, ke dalam lautan untuk mendapatkan permata2 dan mutiara2. Mereka membangunkan bangunan yang hebat bagi Sulaiman, termasuk membangunkan istana2nya.

Kaum setan digambarkan dalam Quran sebagai agen yang sangat berguna bagi Sulaiman dan para nabi. Mereka digambarkan sebagai agen yang benar yang berasal dari Tuhan, yang Tuhan tempatkan sebagai pelayanan bagi Sulaiman.[5] Ajaran ini berasal dari agama jin yang meninggikan kaum setan di mata orang2 Arab sehingga kam setan akan menjadi dihormati dan disembah. Ayat2 Quran ini menyatakan secara tidak langsung sebuah hubungan antara Tuhan dalam Perjanjian Lama dan setan2, pada suatu titik bahwa Tuhan akan melindungi mereka.

Ayat2 lain dari Quran juga menunjukkan pengaruh agama jin terhadap Quran. Surah 38, disebut Surat S’ad/Shaad, dalam ayat 37-39, ditujukan bagi Sulaiman: “Kaum setan, yang termasuk setiap jenis pembangun dan penyelam, adalah pemberian kami, maka berterimakasihlah kepada kami, dan tiada penjelasan akan diminta.”

Kaum setan digambarkan sebagai pemberian Tuhan kepada Sulaiman, yang memerlukan untuk berterimakasih kepada Tuhan karenanya. Pengakuan palsu ini diambil langsung dari agama jin jazirah Arab yang memberikan kaum setan sebuah posisi yang tinggi dan memperlakukan mereka sebagai pemberian berharga bagi para nabi dari Perjanjian Lama. Pengakuan seperti ini bertentangan dengan ajaran Bible. Bible memperingatkan kita mengenai kaum setan, dan menampilkan mereka sebagai suatu kutukan dan sebagai musuh Tuhan dan manusia. Bible memperingatkan kita untuk tidak mempunyai hubungan apapun dengan kaum setan.

Tidak hanya di dalam Quran kami menemukan ide bahwa kaum setan bekerja bagi Sulaiman, tetapi kami melihatnya dalam syair2 sebelum Islam oleh orang2 yang diketahui mempunyai suatu hubungan dengan jin. Sebagai contoh, kami menemukan syair2 al-Nabighah النابغة bahwa jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kota Tadmur di padang pasir Syria baginya[6]. Contoh lainnya ditemukan dalam tulisan2 Al-Aasha’, seorang Arab penyair masa sebelum Islam. Al-Aasha’ menyebut jin-setan yang menginspirasi syairnya. Dia menyebut jin-setan, Musahhal المسحل, dan menggambarkannya sebagai “yang dikasihi”nya. Al-Aasha’ mengatakan: “saudaraku, jin, telah menyalamiku. Jiwaku didedikasikan baginya.”[7] Ini menunjukkan al-Aasha’ adalah salah satu dari banyak penyair yang mendedikasikan diri pada agama jin jazirah Arab. Syair2 ini menganggap jin sebagai saudara2, dan mereka mencoba menyatukan manusia dengan jin. Muhammed juga mengekspresikan pemikiran2 yang sama. Dia mengklaim pergi ke surga di mana dia bertemu dengan Allah yang menugaskannya untuk suatu misi bagi manusia dan bagi kaum jin. Muhammed mendefinisikan masyarakatnya berasal dari jin dan manusia.[8] Dia sering mengklaim bahwa jin menjadi muslim,[9] dan dia merujuk mereka sebagai saudara2.[10]

Al-Aasha’ menulis di dalam salah satu syairnya bahwa ‘kaum jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kurva2.”[11] Muhammed menjiplak ide yang sama ke dalam surah Saba 34, ayat 12-13, Membicarakan Sulaiman, dia menulis:

Di antara kaum jin yang bekerja dengannya, sepeninggal Tuhannya, mereka bekerja baginya sebagaimana dia kehendaki, membangun kurva2, tugu2 dan
kolam2 sebesar dam2 dan kawah2 kokoh di tempat2nya. Bekerjalah engkau anak Daud dengan berterimakasih.

Quran menggambarkan Tuhan sebagai meminta anak2 Daud, seperti Sulaiman, untuk berterimakasih kepada Tuhan karena Dia mengirimkan kaum jin untuk melakukan pekerjaan2 yang begitu artistic. Hal ini merupakan pernyataan palsu melecehkan Tuhan. Ide menempatkan kaum jin ditempat tinggi yang terhormat sebagai pekerja2 yang baik yang dikirimkan oleh Tuhan merupakan sebuah ide yang dipromosikan oleh Kuhhan di jazirah Arab, untuk membuat kaum jin dihargai dan dihormati oleh orang2 Arab. Hal itu dimaksudkan lebih lanjut untuk orang2 Arab supaya mendatangi Kuhhan sebagai perwakilan2 kaum jin dan meminta bimbingan dari mereka.

Akar2 kuno jin-setan jazirah Arab yang sangat Dirujuk sebagai datang dari Dewa2

Ajaran2 orang2 Arab mengenai jin-setan yang dihubungkan dengan Allah, dan putri2 mereka menjadi ibu2 para malaikat, mempunyai akar2 kuno di jazirah Arab. Kaum Akkadian, yang datang dari jazirah Arab ke Mesopotamia, mengklaim tujuh setan adalah anak laki2 dari dewa Mesopotamia “An”, yang melambangkan langit dan istrinya “Kai,” yang melambangkan bumi. Menurut orang2 Summeria, An dan Kai telah menikah. Kaum Akkadian memperkenalkan ide bahwa kaum setan berhubungan dengan dewa2 utama Mesopotamia dan membantu mereka dalam penciptaan dan memerintah alam semesta[12]. Kaum Akkadian menyembah setan bernama Girru, yang mereka klaim segaris dengan dewa, “An”, dan dibuat dari api.[13] Dalam Quran kita menemukan jin-setan juga dibuat dari api.

Akar2 kuno jazirah Arab menunjukkan bahwa ribuan tahun sebelum Muhammed agama jin-setan memberikan mereka posisi yang ditinggikan, membuat mereka menjadi suatu kekuatan luarbiasa dalam penyembahan pagan di kuil2 di jazirah arab, khususnya dalam penyembahan Keluarga Bintang. Para Kuhhan menjadi kelas keagamaan, sebuah hirarki yang bertanggungjawab bagi berbagai kuil di jazirah Arab. Hal ini memudahkan para Kuhhan untuk memperkenalkan ritual2 agama jin jazirah Arab ke dalam kuil2, seperti peribadahan haji Umra yang berputar di sekitar jin dan abdi2 jin terkenal, Asaf dan Naelah. Kita melihat bagaimana peribadahan haji ini menjadi sebuah peribadahan haji resmi yang dimulai pada Kaabah di Mekah. Para Kuhhan membuat figur2 yang dihormati dari agama jin menjadi elemen suci yang difokuskan di dalam kuil. Tugu2 Asaf dan Naelah ditempatkan di atas batu2 utama di kuil Mekah.

Sejak di awal pembangunan kuil Mekah, para Kuhhan jin adalah pendeta2nya yang resmi. Ini menjelaskan bagaimana mereka membuat peribadahan okultis haji mereka ke dalam sebuah perayaan di kuil.

Kuil di Mekah dikuasai para Kuhhan jin. Kita melihat ini dari kehadiran dua tugu Kuhhan pada batu2 yang, tanpa keraguan, menjadi suci karena kedua tugu ditempatkan di sana. Fakta bahwa tugu tersebut terus menerus berada di sana untuk suatu periode waktu yang panjang memberitahu kita bahwa hirarki kuil dikontrol dalam barisan Para Kuhhan. Mereka menganggap Asaf dan Naelah sebagai abdi perintis di kuil.

Kami menyimpulkan bahwa ritual2 di dalam Kaabah Mekah dilakukan oleh Para Kuhhan jin, dan mereka bertanggungjawab dalam fungsi2 keagamaannya. Ada Kuhhan terkenal lainnya yang diketahui bertanggungjawab atas Kaabah di Mekah. Di antara mereka adalah Wake’a Zuhair al-Iyadi. Ibn al-Kalbi, seorang sejarawan Arab dan penulis yang menulis mengenai masa sebelum Islam, mengatakan bahwa Wake’a bertanggungjawab sebagai Kahen di Kaabah pada masa2 itu.[14] Menurut para penulis2 kuno Arab, Wake’a diketahui mempunyai syair prosa seperti dari para Kuhhan.[15] Hal ini mengkonfirmasi hubungannya dengan Kuhhan agama jin. Syair prosanya dianggap sama dengan Quran. Kita juga menemukan banyak frase2nya yang dijiplak Muhammed dan dimasukkan ke dalam Quran. Kumpulan perkataan Wake’a dapat ditemukan dalam literature Arab kuno, seperti Majma’ al-Amthaal yang ditulis oleh al-Maydaani. [16]

Semua hal ini mengkonfirmasi kuasa para Kuhhan jin di atas kuil di Mekah, membuat mereka kelas agama sesungguhnya dari kuil tersebut. Hal ini juga menjelaskan bagaimana ritual2 mereka, seperti peribadahan haji mereka menjadi elemen utama agama jin dalam kota, menjadi sebuah ritual utama kuil tersebut dan bagi penyembah Keluarga Bintang jazirah Arab.

Mereka menyembah seekor ULAR di dalam Kuil di Mekah, dan orang2 Arab menganggapnya sebagai jin-setan

Perayaan2 sesungguhnya di Kaabah, dan hubungan mereka dengan agama jin, ditunjukkan oleh penyembahan seekor ular di dalam Kaabah. Tulisan Tabari, sejarawan Arab terkenal yang menulis mengenai masa sebelum Islam jazirah Arab, memberitahu kita bahwa seekor ular hidup di dalam sumur di Kaabah, di mana para penghuni Mekah melemparkan pemberian2 mereka.[17] Kelihatannya bahwa pemberian2 dipersembahkan bagi sang ular.

Sejarawan Arab yang menulis mengenai masa sebelum Islam Mekah, mengatakan istilah “Allaha”, dari mana nama Allah berasal, diberikan pada “sang ular besar.”[18] Orang2 Arab menyembah ular2, menganggap mereka sebagai ular-setan. Salah satu title bagi setan di sekitar Mekah adalah “Azab”, yang dipercaya sebagai seekor ular.[19] Sejarawan2 juga mengatakan bahwa jin adalah seekor ular putih,[20] yang mereka percayai mendengarkan dan hebat di antara bahasa2. Syair, seperti al-Nabighah dan yang lain2nya yang diketahui memiliki hubungan dengan jin, seperti Umayya bin Abi al-Salt dan Adi bin Zayd, mempromosikan ide2 demikian.[21]

Karena ular di dalam sumur kuil disembah, dan karena ia menerima pemberian2 mereka, kita dapat melihat bahwa kuil Mekah adalah sebuah pusat yang penting bagi penyembahan jin. Mereka menyembah jin melalui penyembahan ular di dalam sumur Kaabah, dan mereka menyebutnya “Allaha.” Ingatlah bahwa patung “Kozah” ditempatkan dalam Kaabah. Masyarakat percaya dia membuat hujan dan guntur, tetapi banyak cendekiawan berpikir bahwa dia adalah setan.

Dalam struktur dan perayaan, Kaabah dalam banyak cara adalah persis sama dengan kuil2 agama jin jazirah Arab.

Orang2 Arab mempunyai kuil2 yang mereka namakan “Taghut ” طاغوت, sebuah title bagi Marid sang jin مارد الجن, yang berarti jin raksasa. Dalam masa-masa sesudahnya, para Kuhhan jin juga disebut sebagai Taghut, [22] menunjukkan pada kita bahwa Taghut adalah kuil2 agama jin. Para penulis yang menulis mengenai jazirah Arab dalam periode sebelum Islam menyebutkan kesamaan antara Kaabah Mekah dengan Taghut. Taghut memiliki konstruksi yang sama seperti Kaabah dari dalam, dan mereka memiliki perayaan2 yang sama, seperti berjalan mengelilinginya seperti orang2 Arab pagan yang mengelilingi Kaabah.[23] Hal ini memberitahu kita bahwa kuil Mekah adalah sama dengan Taghut yang disatukan dengan berbagai kuil2 agama jin lainnya. Dalam perayaan2 dan struktur, ada suatu kesamaan antara kuil2 yang dibangun bagi Keluarga Bintang jazirah Arab dan yang dibangun bagi agama jin. Hal ini dapat dipahami, sejak Para Kuhhan jin menguasai fungsi2 agama pada hampir semua kuil2 yang dibangun bagi penyembahan Keluarga Bintang. Para Kuhhan mengatur penyembahan di kuil Keluarga Bintang dengan cara yang sama mereka mengatur kuil2 Taghut, yang didedikasikan untuk menyembah jin. Kuil di Mekah adalah salah satu dari kuil2 di jazirah Arab yang melaksanakan penyembahan kepada kedua agama pagan utama jazirah Arab.

Kedua pendeta jin, Asaf dan Naelah, diasumsikan dimakamkan dalam Kaabah di Mekah. Kaabah adalah sebuah tempat bagi perayaan2 tidak bermoral, yang mendukung ide bahwa itu adalah sebuah tempat perlindungan bagi agama jin. Dalam masa sebelum Islam, makam2 beberapa Kuhhan menjadi tempat2 suci di mana orang2 Arab datang berkunjung untuk mendapatkan berkah. Orang2 Arab pagan membuat perlindungan mereka menjadi suatu tempat2 yang aman dan untuk berlindung. Jika seseorang masuk ke dalam tempat2 perlindungan, dia akan menjadi tidak tersentuh, dan tidak seorangpun dapat membahayakannya.[24] Hal ini juga dilakukan pada kuil di Mekah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa Kaabah aslinya merupakan sebuah tempat di mana kedua Kuhhan, Asaf dan Naelah, dimakamkan. Kemudian suku2 dari Yaman membangun sebuah kuil di sana, berbagi tujuan yang sama untuk Kaabah di antara agama jin dan penyembahan Keluarga Bintang jazirah Arab yang dianut orang2 Yaman.

Juga, para penulis tentang Mekah pra-Islam berbicara mengenai perayaan2 yang terjadi dalam Kaabah yang bisa dibandingkan dengan upacara2 masa kini dalam kuil2 aliran setan. Sebagai contoh, menurut Bukhari, ketika mereka mengelilingi Kaabah, para peserta ibadah berada dalam keadaan telanjang bulat, termasuk para wanita.[25] Juga menurut kitab Halabiyah/Halabieh, Kaabah merupakan sebuah tempat perzinahan. Jika seseorang hendak melakukan perzinahan, dia dapat melakukannya di Kaabah.[26] Hal ini mengingatkan kita bahwa perzinahan yang terjadi di dalam kuil2 milik penyembahan setan, dan yang mendukung hubungan Kaabah dengan agama jin jazirah Arab. Penulis2 Arab yang memberitahu kita mengenai Mekah menggambarkan perzinahan para wanita dalam kota tersebut.[27] Kelihatannya ketidakbermoralan dalam Kaabah ini telah mempengaruhi kota tersebut.

Sejarah praktek2 okultis dalam Kaabah Mekah mendiskualifikasinya sebagai sebuah kuil yang benar, Tuhan yang Kudus, karena Dia menentang aliran setan dan setiap bentuk okultisme. Semua perayaan dan mereka yang mengatur perayaan2, termasuk patung2 yang disembah dan batu2an yang dihormati, mengkonfirmasi Kaabah adalah sebuah ekpresi pagan local dan penyembahan okultis di Mekah. Penajisan ini lebih buruk daripada apa yang terjadi di kuil2 pagan manapun yang dikenal di seluruh dunia kuno, apakah yang berada di Timur Tengah ataupun di Asia. Di dalam kuil Mekah kita hanya melihat okultisme dan tradisi pagan Keluarga Bintang. Bagaimana bisa Islam mengaku kuil Mekah sebagai pusat sejarah monotheisme untuk segala jaman ?

________________________________________
[1] Tafsir al-Tabari, 23, page 69
[2] Tafsir al-Tabari, 23, page 69
[3] Sahih al-Bukhari, 4, page 96
[4] Al-Jaheth, al-Haiwan, 6, page 187; quoted by Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[5] Sabuni, Safwat al-Tafasir, 2, page 270
[6] Al-Jaheth, Al Haiwan, 6, page 223; quoted by Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[7] Al-Tha’alibi, Abd al-Malik ibn Mohammed, Kitab Thimar al-qulub, pages 69 and 70
[8] Halabieh 2, page 130
[9] Sahih al-Bukhari, 5, page 227
[10] Halabieh 2, page 63
[11] Taj Al Aruss, 9, page 165
[12] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, page 162
[13] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, p. 88
[14] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, page 260
[15] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, page 260; Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, page 81
[16] Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, page 81
[17]Tarikh al-Tabari, I, page 525
[18] Taj Al Aruss, 9, 410
[19] Taj Al Aruss, I, pages 147 and 284
[20] Taj Al Aruss, 9, page 165
[21] Al-Jaheth, Al Haiwan, 4, 203; quoted by Jawad Ali,vi, 726
[22] Raghib al-Isfahani, Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammed, Mufradat al-Qur’an, page 307; al-Kalbi, al-Asnam, page 6; Taj al-Aruss, 10, page 225
[23] Ibn Hisham I, page 64 ; Hamish Ala Al Rauth Al Anf, I, page 64; quoted by Jawad Ali, al Mufassal, vi, pages 401 and 402
[24] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, page 448
[25] Sahih al-Bukhari, 2, 164
[26] Halabieh 1, page 15
[27] Ibn Al Muja’wir, Descriptio, 1, 7; quoted by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, pages 106, 107
 2004 by Dr. Rafat Amari. All rights reserved.
rafat-amari-okultisme-penyembahan-jin-keluarga-muhammad-t31059/
rafat-amari-peranan-kabah-dalam-agama-jin-di-arab-t31229/
haji-umroh-safa-marwah-tradisi-jin-t42134/
rafat-amari-islam-ditinjau-dari-pengamatan-sejarah-1-t42161/

Read More

%d blogger menyukai ini: