Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Kosmologi Dalam Islam

Kosmologi Dalam Islam

sumber artikel : http://faithfreedom.frihost.net/wiki/Kosmologi_Dalam_Islam

Model alam semesta menurut Islam yang menyebutkan matahari terbenam di lautan lumpur hitam.
http://www.sullivan-county.com/x/koran_cos.htm
Didasarkan pada artikel dengan penambahan /pengurangan : Richard Carrier Cosmology and the Koran: A Response to Muslim Fundamentalists (2001)

Model alam semesta menurut Islam yang menyebutkan matahari terbenam di lautan lumpur hitam

Muslim Fundamentalist sangat senang mengklaim bahwa Quran secara ajaib mempredisksi penemuan-penemuan sains modern. Tapi yang sebenarnya ada beberapa fakta mengenai Quran:

Daftar isi
1 Tidak ada berita gaib dalam Quran
2 Prediksi Kosmology Quran salah
3 Masalah 7 Lapis Langit
4 Bumi sebagai pusat alam semesta
5 Kutipan dari Talmud Tract Hagiga

1 Tidak ada berita gaib dalam Quran

Banyak bukti-bukti tentang ke ajaiban Quran kenyataannya dapat diperdebatkan, kerena pengetahuan yang dihadirkan sudah diketahui baik di Mediteranian dan Timur Tengah sejak berabad-abad sebelum Quran di tulis.

Karya-karya Yunani dikenal di dunia Arab dan Afrika Utara sejak seribu tahun sebelum Islam, dan Islam mulai menterjemahkan text-text Yunani ke bahasa Arab dalam satu abad penyerbuan militernya. Budaya Hellenis Yunani sejak lama tersebar dan mempengaruhi kepercayaan popular, bahkan di antara orang-orang yang buta huruf. Bahkan India sudah mengenal karya-karya astronomy pada abad pertama AD, dan secara parsial diterjemahkan ke bahasa kerajaan. Setiap orang yang kenal dengan sejarah penyerbuan Alexander Agung dan para penerusnya tahu bahwa orang-orang Yunani dan kebudayaan mereka dengan kuat berakar dan menyebar ke seluruh dunia kuno seperti Afganistan,Syria, Persia, Mesir bahkan Arab sendiri.

Quran sama sekali tidak menjelaskan cosmology modern, yang disebut Quran hanyalah teori bahwa alam semesta MELULU hanya terdiri dari langit dan bumi berikut aksesorisnya yaitu bintang-bintang dan rembulan. Quran sama sekali tidak menyebutkan bahwa bintang-bintang adalah matahari yang jumlahnya milyaran di alam semesta. Sains quran hanyalah representasi dari pandangan masyarakat kuno mengenai alam semesta.

Model kuno alam semesta menurut Homer dibawah ini, lebih cocok dengan pernyataan Quran yang menyebut alam semesta hanya terdiri dari langit dan bumi, dan kisah mengenai Dzul Qarnaen ke tempat matahari terbenam yang berupa lautan berlumpur hitam :

Quran 18:86
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka”.

Juga pernyataan Quran mengenai 2 tempat terbit/tebenamnya matahari, cocok dengan konsep dunia kuno dari parallelogram Ephorus mengenai “summer setting/rising” dan “winter setting/rising”:

Quran 55:17
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

2. Prediksi Kosmology Quran salah

Muslim menyetakan bahwa Quran menunjukkan alam semesta berasal dari ‘material seperti gas’ (Surah 41:11). Ini adalah contoh pola “bukti” yang biasa disodorkan. Tapi ide-ide mengenai alam semesta bermula sebagai sejenis ‘pusaran gas’, ada dimana-mana di seluruh ideology Persia dan Yunani. Maka pernyataan Quran mengenai hal yang sama , sama sekali tidak mengejutkan. Filsuf-filsuf Yunani memperkirakan banyak detail-detail sains secara benar. Mereka mengantisipasi atom, system tata surya, evolusi, hukum thermodynamic, siklus hujan, dan itu tidak membuat mereka menjadi juru ramal supernatural.

Al Quran gagal untuk mengatakan tentang gas-gas yang spesifik, atau ada lebih dari satu (helium and hydrogen), atau hal-hal ilmiah lainnya yang bersifat spesifik, seperti mengapa dan bagaimana alam semesta berasal atau berkembang, tidak sebut mengenai hukum matematik atau ikatan-ikatan atau konstanta fisika. Oleh kerena itu Quran sama sekali tidak membuat pernyataan sains.

Alam semesta tidak dimulai sebagai sebuah gas. Bila teori Big-Bang benar, alam semesta mulai sebelum berbagai jenis materi eksis—-ia mulai sebagai energy yang murni. Ia mengambil beberapa saat untuk terbentuknya berbagai materi, yang merupakan sebuah plasma bukan sebuah gas. Gas datang kemudian, sesudah plasma mendingin, dan gas-gas bukan satu-satunya, banyak massa energy pada saat itu, seperti sebelumnya, terdiri atas radiasi elektromagnetik –cahaya. Pada kenyataannya Quran gagal menyebutkan hal-hal itu atau menyebutkan berbagai informasi sains yang penting lainnya dengan tepat. Quran hanyalah membuat pernyataan metafisis samar-samar, dan itu bukan sains.

Sebenarnya ayat-ayat Quran itu tidak mengatakan “materi yang seperti gas.” Kata Arab yang digunakan adalah dukhan, “asap.” Ini di klaim sebagai analogy yang sempurna dari gas. Itu tidak benar. Asap dibuat dari abu, sebagian besar karbon, dan dihasilkan dari dari pembakaran (oksidasi), bukan pemadatan plasma. Asap tidak seperti hydrogen atau helium dipanaskan, maupun mengandung unsur-unsur massanya atau kandungan yang lain, bahkan tidak memiliki banyak kandungan umum dari sebuah gas. Dengan begitu ini adalah sebuah kata yang tidak tepat. Bahasa Arab tidak kekurangan perbendaharaan kata untuk dengan gampang mengatakan “udara panas” atau “gas panas mengembang di dalam ruang” atau apapun yang agak relevan dengan kebenaran. Sebagai ganti, penulis Quran malah memilih kata yang paling tidak akurat, “asap.” Bila engkau dapat mengubah arti sebuah kata sekehendak, dengan mengubah sebuah kata untuk “abu berbasis carbon” menjadi “ gas-gas dua asas,” maka engkau dapat mengubah arti kata-kata pada setiap buku manapun untuk membuktikan terori yang engkau inginkan.

Yang paling dipermasalahkan adalah kutipan yang dikutip di luar konteks, untuk menyembunyikan fakta bahwa seluruh bagian sesungguhnya dengan jelas dan bulat berkontradisksi dengan sains. Sains dalam Quran sepenuhnya salah, dan ini membuktikan bahwa sains dalam Quran berasal dari budaya pra-modern sesuai dengan tempat dan waktunya. Kedua fakta ini membuktikan bahwa Quran tidak mengandung prediksi ilmiah dan hanya produk imajinasi manusia saja. Perhatikan kutipan di bawah ini :

QS 41 : 9-12

[9] Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa (atau hari) dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”.

[10] Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

[11] Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

[12] Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Berulang-ulang Quran menyatakan Allah menciptakan segala sesuatu dalam enam hari (dalam terjemahan al Islam diganti dengan enam masa), sama halnya dengan yang dikatakan Bibel PL, dan di sini 6 hari dipecah menjadi 3 bagian , disusun menurut urutan waktu. Meskipun dicoba untuk mereinterpretasi kata hari (dengan istilah masa) supaya sesuai dengan pengetahuan sains , kita kesampingkan itu dan fokus dengan apa yang tidak dapat di bantah : urutan penciptaan yang dengan jelas diberikan di atas terlihat berkontradiksi dengan fakta sains. Ayat 41: 9 menyatakan dengan pasti bahwa bumi di ciptakan dalam “dua hari (atau masa),” dan dua hari pertama ada dalam daftar. Ayat 41:10 menjelaskan dua hari berikutnya, menyelesaikan “empat hari “ yang pertama, dimana gunun-gunung dan tanaman di buat. Maka, kita melihat sebuah urutan sementara dengan jelas : kerena gunung-gunung dan tumbuhan tidak dapat dibuat sebelum bumi dibuat, oleh sebab itu ayat 41:10 mengikuti 41:9 dalam urutan waktu, maka ini hanya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa 41:11 dan 41:12 meneruskan yang sebelumnya, yang , kerena satu langit tidak dapat dipisahkan menjadi 7 langit dan menghiasinya dengan bintang-bintang sebelum berbentuk sebagai asap.

Tetapi kemudian kita melihat pada ayat 41:11 menunjukkan konteks yang tidak dapat dibantah bahwa alam semesta eksis sebagai asap pada saat dimana bumi sudah eksis, kerena Alah “naik ke atas langit waktu masih berbentuk asap” dan berbicara kepadanya dan kepada bumi. Bumi eksis saat langit masih sebagai asap, atau kalimat ini tidak punya arti. Maka dapat disimpulkan bahwa Quran tidak mengatakan “ bahwa alam semesta berasal” dari asap, dan tentunya tidak ada teori sains yang mengatakan bahwa ketika alam semesta dalam keadaan berbentuk gas, pada saat yang bersamaan bumi sudah terbentuk ! Secara sains ini tidak mungkin : unsur-unsur yang membentuk bumi tidak eksis sampai gas-gas dipadatkan ke bintang-bintang, dan bintang-bintang meledak dan dipadatkan kembali melalui beberapa siklus, memunculkan unsur-unsur padat yang pada akhirnya memadat menjadi planet-planet mengelilingi bintang (matahari) yang baru.

Muslim biasanya mencoba menggunakan taktik untuk mengelabui dan memelintir bahasa melawan perasaan dan nalar, mengatakan bahwa kata yang diterjemakan sebagai “kemudian,” thumma, dalam ayat 41:11 dan 41:12 berarti “dan juga” atau “lagipula” sehingga tidak menunjukan urutan kejadian, maka ayat 41:9-12 hanyalah urutan waktu yang bersifat konsepsual . Tetapi argument ini salah, kerena thumma faktanya dapat berarti sebuah urutan waktu “kemudian,” dan sebagai mana kita lihat konteks membuat tidak ada tafsiran lain yang secara logis memadai. Namun di samping itu klaim bahwa alam semesta “dimulai” sebagai asap sama sekali tidak ada dalam Quran. Dengan mengabaikan sifat kronologis dalam ayat itu, muslim juga sebenarnya menolak klaimnya sendiri.

Penulis Quran hanyalah mengulangi urutan kejadian yang ada dalam Bibel. Variasinya cuman ada pada pemilihan waktu , Kejadian menyatakan bintang-bintang diciptakan pada hari yang ke 4, sedangkan Quran pada hari yang ke lima dan ke enam, dsb, tetapi kedua konsep itu jelas berhubungan. Lagipula, ayat 41:12 hanya mengulangi tahayul popular yang ditemukan pada dunia Yunani-Persia pada waktu itu yaitu: mithos 7 lapisan langit. Tentu saja “tujuh lapis langit” adalah pandangan yang keliru mengenai susunan tata surya bahkan menyiratkan geosentrisme, kerena “ ke tujuh lapis langit biasanya digambarkan dengan tujuh “planet” yang terluhat oleh mata telanjang, yaitu matahari, bulan, Mercury, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Waktu itu orang belum mengetahui adanya planet Uranus, Neptunus, atau Pluto.

3 Masalah 7 Lapis Langit

Dalam Timaeus ( http://en.wikipedia.org/wiki/Timaeus_(dialogue) ) dan Republic ( http://en.wikipedia.org/wiki/Republic } Plato berpendapat bahwa langit terdiri dari 7 lapis (sphere) yang masing-masing diwakili dengan 7 planet yang kelihatan :

Yang Ilahi.
Bintang tetap (tidak bergerak)
7. Saturn
6. Jupiter
5. Mars
4. Mercury
3. Venus
2. Matahari
1. Bulan

4 Bumi sebagai pusat alam semesta

Dan pada bagian lapis ke 8 tempatnya bintang-bintang tetap atau fixed stars. Di atasnya tempat bersemayamnya Tuhan. Konsep Plato ini mempengaruhi pemikiran Yahudi, tapi Yahudi yang menganggap angka 7 adalah angka keramat lebih memilih 7 lapis langit dan menempatkan bintang-bintang pada bagian lapisan yang paling bawah atau rakia. Yahudi tetap setia kepada Bibel yang mengatakan bahwa diluar alam semesta adalah air, dan dibawah bumi adalah alam kubur, maka lahirlah konsep cosmology Yahudi yang mengatakan bahwa langit terdiri dari 7 lapis dan dilapisan paling atas adalah air dan diatasnya lagi adalah tahta Ilahi.

Kutipan dari Talmud Tract Hagiga

http://www.sacred-texts.com/jud/t03/hgg03.htm

Resh Lakish berkata, mereka (langit) ada tujuh, yaitu : Vilon, Rakhia, Shchakim, Zbul, Maon, Makhon, Araboth. Vilon tidak ada kegunaan apapun selain ini , ia muncul di pagi hari dan pergi di petang hari, dan memperbaharui setiap hari karya penciptaan. Rakia adalah yang tempat kedudukan matahari dan bulan, bintang-bintang dan gugus bintang. Shchakim adalah tempat baru gerinda berdiri dan menggerinda manna (makanan surgawi) untuk orang-orang kudus. Zbul adalah tempat dimana Jerusalem Surgawai dan Kuil, altar dibangun di sana, dan malaikat Michael pangeran agung berdiri dan mempersembahkan di atasnya suatu persembahan. Maon adalah tempat kelompok malaikat-malaikat yang melayani Allah, yang melantunkan nyanyian Nya di malam hari dan diam di siang hari demi kemuliaan Israel…… Makhon adalah tempat d perbendaharaan salju,………………………………………………………. Araboth (langit ke 7) adalah dimana kebajikan dan penghakiman dan rahmat, harta-harta karun kehidupan dan damai dan berkat, dan jiwa-jiwa orang kudus dan jiwa-jiwa yang akan diciptakan……………malaikat-malaikat yang melayani…………. tahta kemuliaan, dan sang Raja, Tuhan yang Hidup, tinggi dan ditinggikan, duduk diatas mereka di antara awan-awan, dan kegelapan dan awan dan kegelapan pekat mengelilinginya [/b].

Konsep cosmology Yahudi itu sama dengan konsep cosmology Quran.

QS 42 :12 Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Abu Dawud, Book 40, Number 470

Diriwayatkan Al Abbas ibn AbdulMuttalib:
Aku duduk di al Batha dengan para sahabat, dan diantaranya adalah Rasul Allah sendiri yang sedang duduk, ketika awan lewat di atas mereka, Rasul melihat ke atas dan berkata : ‘Kamu sebut apa ini ?’ Mereka berkata :’ Sahab’. Rasul berkata : ‘dan Munz ?’ Mereka berkata : ‘dan Muzn ‘. Rasul berkata :’. Dan anan ?’ Mereka berkata : ‘dan anan’. Abu dawud berkata : ‘saya tidak sungguh –sungguh yakin mengenai kata anan’. Rasul berkata :’ kamu tahu jarak antara langit dan bumi?’. Mereka menjawab :’kami tidak tahu’. Rasul kemudian berkata : ‘ Jarak antara mereka adalah 71, 72, atau 73 tahun (perjalanan onta). Langit yang di atasnya mempunyai jarak yang sama. Di atas surga ke 7 adalah lautan. Jarak antara permukaan dan dasarnya adalah sama seperti jarak antara satu lapis langit dengan lapis yang berikutnya. Kemuadian Allah yang disucikan dan di agungkan, ada di atasnya.

Sahih al Bukhari 4.414:

Diriwayatkan Imran bin Husain:
Dia (Rasulullah) berkata, “Pertama dari semuanya, tidak ada apapun kecuali Allah dan (kemudian di menciptakan tahtaNya) tahtaNya di atas air, dan dia menulis segala sesuatu dalam Al Kitab dan menciptakan Langit dan Bumi.”…………………………………..

Al Bukhari 4, no 429 (Isra Miraj)

Di riwayatkan oleh Malik bin Sasaa:

‘Kemudian kami naik ke langit ke 7 dan kembali pertanyaan dan jawaban yang sama diucapkan seperti pada langit yang sebelumnya. Di sini aku bertemu dan menyambut Abraham yang berkata,’Engkau disambut o anak dan seorang nabi.’ udian aku melihat Al-Bait-al-Ma’mur (Rumah Allah). Aku menanyakan Jibril mengenai ini dan dia berkata, ini adalah Al Bait-ul-Ma’mur dimana 70.000 malaikat mengerjakan shalat tiap hari.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: