Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Ramadan di Saudi: Waktunya untuk Berpesta-Pora

Bagian 1

oleh: Mirza Ghalib
Selasa, 19 July 2011 03:49

… tapi pestanya hanya untuk orang² Saudi saja; bagi Muslim non-Arab sih, bulan Ramadan adalah bulan sial kerja lembur.

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menunjukkan kesukaran dan beban yang ditanggung Muslim² non-Arab yang tadinya hidup di negara demokrasi, tapi karena kebodohan sendiri lalu tinggal di negara Islam. Artikel ini tidak bertujuan untuk menyinggung perasaan orang Arab atau siapapun, tapi hanya untuk menunjukkan kenyataan tentang bulan puasa Ramadan, yang tidak diketahui para Muslim non-Arab.

Ramadan merupakan bulan tersuci bagi umat Muslim, terutama Muslim² non-Arab, seperti Muslim Pakistan, Bangladesh, India, Indonesia, dll, dan juga para mualaf di negara Barat. Dulu aku juga menganggap begitu sebelum aku mengunjungi Saudi Arabia untuk tugas kerja di sana, sewaktu masih jadi Muslim India yang taat.

Muslim² Non-Arab dan Ramadan

Ketika pertama kali datang ke Saudi, aku merasa sangat bahagia bisa mengunjungi Tanah Suci Nabi Muhammad kita yang tercinta, apalagi datang di bulan suci Ramadan. Terdapat ratusan ribu umat Muslim non-Arab, yang lebih mencintai Muhammad daripada Allah dan lebih memilih untuk mati di Medina daripada mati di Mekah (tempat Ka’bah, rumah Allah).

Ketika aku baru datang di Saudi Arabia untuk bekerja di departemen Pemerintah sebagai insinyur, aku dan empat kolega dari India menderita kelaparan, dan hanya bisa minum air saja selama tiga hari berturut-turut karena tidak ada pegawai Pemerintah Saudi yang peduli akan nasib kami. Setelah mengetahui penderitaan kami berlima, seorang pegawai bangsa India di kantor itu cepat² datang ke penginapan kami dan memberi kami makan selama dua hari berturut-turut di villa miliknya, atas biayanya sendiri, dan dia meminta pegawai departemen untuk membantu kami. Ketika kami berbicara, dia berulang-kali berkata bahwa kami datang di Saudi Arabia dalam waktu yang salah, karena tiada pegawai Saudi yang mau bekerja di saat “Ramadan.” Aku sangat sukar menerima keterangan tentang kebiasaan buruk Muslim Saudi tersebut dari orang kafir ini. Ya, memang betul, penolong kami adalah orang India Hindu kafir, yang bersedia memberi makan lima India Muslim di bulan Ramadan, selama dua hari berturut-turut. Aku tidak bisa menunjukkan rasa tak sukaku padanya saat itu dan hanya berusaha mengekang perasaan. Setelah kejadian ini, aku bekerja di Saudi Arabia selama hampir sepuluh tahun dan mengalami sendiri sepuluh bulan Ramadan. Sepuluh tahun ini telah mengubah diriku, dan akhirnya aku sadar, murtad, dan jadi ATHEIS. Dalam tulisan ini, aku akan menjelaskan pada pembaca skenario bulan suci Ramadan di Saudi Arabia.

Skenario² Bulan Ramadan di Saudi Arabia

Berdasarkan pengalamanku hidup di Saudi Arabia selama 10 tahun, aku merasa Ramadan tidaklah sesuci yang dianggap para Muslim non-Arab. Sebenarnya malahan bulan ini adalah waktu berpesta pora, bersuka ria bagi orang² Saudi yang sebenarnya frustasi dengan berbagai aturan ketat Islam.

Bulan Ramadan bukanlah bulan puasa, tapi bulan pesta makan besoar bagi orang² Saudi. Mereka puasa dan tidur sepanjang hari, dan lalu makan sepanjang malam sembari mengunjungi berbagai pesta dan bersuka-ria sampai subuh.

Image
Rame² ngudut Hukah.

Mereka merayakan bulan Ramadan ini setelah merasa frustasi karena menjalani hidup sepanjang 11 bulan penuh kekangan berbagai aturan Islam. Sepanjang Ramadan, mereka tak pernah tidur di malam hari. Mereka akan main kartu, karambol, domino, dan ngudut ‘HABLI BABLI’ – dengan pipa dan peralatan Hukahnya. Mereka bergilir mengisap pipa rokok ini beramai-ramai dengan kotornya. Kegiatan bersuka-ria ini dimulai setelah sholat Ishaan (malam) dan terus berlanjut sampai sholat subuh. Setidaknya sepuluh orang Saudi dari keluarga dekat dan para tetangga bertemu setiap malam bergiliran di rumah seseorang. Para remaja dan anak² kecil, yang biasanya tidak boleh bermain di bulan² lain, memanfaatkan bulan Ramadan sepuasnya dan bermain sepakbola pada jam 12 malam. Kegiatan mereka persis kelelawar di bulan ini. Orang² Saudi itu selalu saja butuh pembantu (makna sebenarnya adalah budak). Di pesta² malam hari, mereka menyewa untuk waktu singkat para Muslim non-Arab yang miskin untuk menyediakan teh dan makanan, menyiapkan api untuk “HABLI BABLI.” Mereka makan beberapa kali semua jenis makanan sewaktu bergembira ria. Para pelayan ini harus melayani majikan Saudi mereka sepanjang malam, dan juga harus tetap bekerja seperti biasa di siang hari.

Image
Para majikan Arab bersiap untuk menyerbu makanan.

Para gadis pelayan non-Arab (gundik² – kebanyakan adalah Muslim) harus memasak dan melayani majikan mereka sepanjang malam, dan lalu harus mengurus anak² dan bayi² para majikan di siang hari. Dengan begitu, Ramadan merupakan bulan tanpa tidur bagi para pelayan wanita ini. Sungguh menyedihkan mendengarkan kisah penderitaan mereka. Dibutuhkan kertas berlembar-lembar untuk menulis tentang penderitaan mereka. Singkatnya, sungguh sial bagi wanita yang jadi pelayan bagi orang² Arab, terlebih lagi di bulan Ramadan.

Sudah jadi kebiasaan orang² Arab, dan bahkan juga Muslim² non-Arab, untuk menggunakan satu minggu sebelum Ramadan untuk membeli berbagai makanan dalam jumlah sangat besar. Mereka memakan 3 sampai 4 kali lebih banyak makanan saat Ramadan dibandingkan di bulan² normal. Yah, begitulah BULAN PUASA mereka. Pasar² swalayan akan sarat penuh dengan berbagai makanan yang dijual dengan harga yang menarik.

Para pejabat Saudi akan menyiapkan tempat untuk tidur di kantor mereka lengkap dengan selimut dan bantal, dua hari sebelum bulan Ramadan. Pekerjaan mereka akan dilaksanakan oleh para kolega kafir, sewaktu mereka tidur di kantor. Hal ini merupakan aturan tak tertulis Ramadan. Para pejabat senior Saudi yang bertanggung-jawab dan takut akan Allah (!!!), tidak tidur dengan cara seperti para yunior Saudi mereka. Pejabat² senior Saudi ini tidur di kursi² terhormat mereka sambil memeluk Qur’an (!!!).

Image
Ternyata begini nih cara Muslim Saudi puasa: tidur sepanjang subuh, siang sampe buka, makan dan pesta terus sepanjang malam sampai subuh.

Para pekerja non-Saudi, tak peduli Muslim atau kafir, harus terus bekerja seperti biasa. Mereka juga harus mengurus pekerjaan orang² Saudi yang tidur, sesuai dengan kategori pekerjaan yang ada. Para Muslim non-Saudi dapat waktu istirahat dua jam.

Para pekerja non-Muslim di kantor manapun harus makan siang secara tersembunyi agar bau makanan tidak menggoyahkan iman para Saudi yang sedang tidur, agar mereka tidak bangun dan lalu membatalkan puasa.

Toko² akan tutup sepanjang hari dan baru buka dengan berbagai lampu terang benderang di seluruh kota di malam hari, dan langsung tutup lagi sewaktu panggilan sholat subuh berkumandang. Dimalam hari ini, para wanita bergereombol mengunjungi toko², sambil diawasi anggota keluarga pria, tapi tidak seketat seperti bulan² biasa. Karena kesempatan langka ini, para wanita juga memanfaatkan Ramadan sebaiknya dengan cara bebas mengunjungi berbagai toko yang dijaga penjual non-Saudi. Beberapa teman pria non-Saudi yang bekerja sebagai pedagang di sebuah toko, sering berbisik padaku bahwa mereka seringkali menggerayangi para wanita Saudi sewaktu Ramadan. Kegiatan ini seringkali diprakarsai oleh pihak wanita terlebih dahulu.

Para wanita Saudi berusaha keras menguras habis dompet suami mereka sewaktu Ramadan dengan mengganti perabotan, gorden, dan karpet dengan yang baru. Mereka bukan bermaksud untuk memperindah rumah, tapi untuk menguras habis dompet suami, sehingga suami tak punya cukup uang untuk “membeli” istri baru. Memang benar bahwa jika pria Saudi merasa berdompet tebal, maka dia akan cari istri baru. Jika dia sudah punya empat istri, maka dia akan menendang istri tertuanya. Untuk menghindari kemungkinan ini, istri²nya bekerja keras untuk mempertahankan posisi mereka dengan berbagai pengeluaran di bulan Ramadan. Ternyata Ramadan memiliki efek samping yang baik pula.

Tiada orang yang boleh makan atau minum apapun di muka umum sewaktu jam² puasa. Yang berani melanggar akan dicambuki oleh polisi agama.

KESIMPULAN

Sebenarnya lebih banyak yang bisa kusampaikan, tapi aku sudahi dulu di sini. Keteranganku ini cukup jelas bagi Muslim non-Arab yang bekerja di Saudi Arabia untuk menyadari bagaimana orang² Saudi membuat hidup pekerja non-Muslim ini bagaikan di neraka sepanjang bulan Ramadan. Jika ini adalah skenario Ramadan di tanah suci Muhammad, maka di manakah kesucian dan kerohanian Islam?

Apakah yang membuat orang² Saudi berpesta-pora sedemikian bebas di bulan Ramadan, yang merupakan bulan puasa untuk mengotrol hawa nafsu, yang merupakan bulan yang dianggap suci oleh para Muslim non-Arab?

Apakah ini Islam yang sebenarnya?

Mengapa umat Muslim non-Arab begitu serius akan Ramadan dan menganggapnya sedemikian suci?

Apakah mereka itu lebih beragama dibandingkan orang² Saudi?

Berdasarkan logika sederhana, tentunya tidak mungkin begitu karena secara geografis para Muslim non-Arab tinggal jauh dari tanah suci. Secara biologis, tidak seperti orang² Saudi, para Muslim non-Arab tidak serumpun ras dengan Muhammad dan para sahabatnya. Bahasa para Muslim non-Arab juga sangat berbeda dengan bahasa asli mereka.

Apakah para Muslim non-Arab sangat tidak mengetahui Islam?

Jika betul demikian, apakah yang membuat mereka begitu bodoh?

Secara umum, para Saudi Baduy menyebut orang asing non-Saudi sebagai “MUQH MAAFI” or “MAAFI MUQH” yang berarti “TAK BEROTAK” atau “G0BL0G.”

Apakah para Saudi itu benar² beranggapan begitu?

Apakah mereka sadar bahwa mereka tertipu mentah² oleh Muhammad?

Apakah Muslim non-Arab layak disebut sebagai MUQH MAAFI?
(Addh: Iya, termasuk majikan Arabnya. Muslim Muqh Maafi lo pada!!!)

Bersambung ke Bagian 2.

Bagian 2

Rabu, 20 July 2011 04:17
Oleh: Mirza Ghalib

Di bagian pertama artikel ini, aku mencoba menjelaskan berbagai cara yang dilakukan orang² Saudi untuk merayakan bulan suci Islam, “Ramadan”, yang ternyata sangat berbeda dengan cara sungguh² yang dilakukan umat Muslim non-Arab di bulan yang sama. Di artikel ini aku menganalisa berbagai fakta yang membuat Ramadan menjadi bulan harapan bagi Muslim non-Arab, dan yang membuat Ramadan menjadi bulan pesta-pora bagi Muslim Saudi yang tinggal di Tanah Suci Islam.

Aku adalah ex-Muslim dari India. Di India sih, aku tak akan didiskriminasi umat Muslimku jika aku tidak sholat sama sekali di seluruh tahun dan aku tak akan menghadapi tekanan sosial selama aku terus memberi zakat pada pemimpin mesjid untuk membiayai gaji dan pengeluaran para Mullah pemalas tiada guna. Meskipun begitu, aku tak bisa menghindar dari ritual puasa Ramadan. Di bulan ini, aku harus membuktikan pada umat Muslim bahwa aku masih Muslim untuk melindungi status quo di masyarakat. Aku harus bersikap munafik di bulan Ramadan jika masih ingin diterima dalam masyarakatku.

Tapi di Saudi Arabia sih, keadaannya malah terbalik. Kemunafikan merupakan bagian kehidupan di manapun di Saudi Arabia. Menjadi relijius akan mempengaruhi karir dan bisnis seseorang. Karena itu kebanyakan orang² Saudi yang berpendidikan dan bekerja di bidang bisnis yang peduli akan karir mereka, akan mencoba sebaik mungkin untuk tampak/pura² relijius. Aku bekerja di Departemen Pemerintah, dan aku melihat banyak orang² munafik yang menerima promosi dan keuntungan di segala bidang. Para Baduy Arab yang buta huruf tak pernah sholat, karena mereka tahu pasti bahwa bagaimana pun hebatnya mereka berpura-pura taat Islam, tetap saja mereka tak akan pernah dapat promosi apapun karena tak berpendidikan. Sungguh disayangkan bahwasanya komunitas terpelajar Saudi Arabia yang intelek malahan bersikap pengecut dan munafik karena takut akan pedang Islam. Kebanyakan intelek Saudi tidak senang dengan keadaan mereka sekarang meskipun kondisi ekonomi mereka sangat bagus. Hal ini karena tiada kebebasan dalam mengungkapkan pendapat.

Bulan Ramadan, setidaknya, menyediakan bagi mereka sedikit kebebasan. Mereka sangat menunggu Ramadan karena frustasi dengan keadaan hidup selama 11 bulan. Orang² tidak pernah melewatkan kesempatan merayakan bulan favorit mereka, Ramadan.

Mari telaah alasan² di belakang pandangan yang berbeda akan Ramadan diantara negara² Arab dan non-Arab. Ajaran² Islam berperan penting di belakang semua ini. Para Muslim dari budaya non-Arab diajarkan tentang Islam dengan cara² yang berbeda oleh para Mullah sesuai dengan bawaan asli budaya dan selera masyarakat tersebut di jaman sebelum Islam.

Sahih Al-Bukhari, Vol. 3, Buku Pengetahuan (Bab 50), hadis no. 129:

Kamu harus berdakwah Islam pada masyarakat sesuai dengan kapasitas mental mereka. Sehingga mereka tidak menyampaikan hal² yang salah tentang Allah dan RasulNya.

Berdasarkan hadis di atas, para penjajah Islam beserta penguasa dan para Mullahnya mengajarkan Islam pada jajahannya sesuai dengan selera bangsa jajahan tersebut.
Hadis² yang tak diajarkan oleh para Mullah pada Muslim non-Arab: Ingat bahwa kebanyakan ahadis (hadis²) dibuat khusus hanya untuk menyenangkan para lelaki Muslim pengikut Muhammad.

1. ISLAM: SARAT DENGAN RITUAL PAGAN

Di jaman pra-Islam, ibadah puasa Ramadan merupakan ritual pagan Arab, yang diperkenalkan oleh suku² Yaman, dan dipraktekkan oleh para Arab pagan dengan tatacara ibadah yang serupa dengan Ramadan Islam. Hal yang sama juga berlaku pada ibadah Haji dan Umrah. Contohnya, berlari diantara bukit² Safa dan Marwa, mengelilingi Ka’bah, mencukur rambut, mengorbankan binatang, dan memakai baju putih khusus (Ihram). Semuanya ini merupakan kebiasaan ibadah pagan sepenuhnya. Orang² Hindu India juga melakukan ibadah yang serupa sejak ribuan tahun yang lalu sampai hari ini. (Muhammad tampaknya mencontek umat Hindu India dan Arabia yang melakukan ibadah yang sama di jaman Muhammad).

Sahih Al-Bukhari, vol. 3:116-17,219-20 dan vol. 5:172:

Aisha yang adalah ibu para Muslim berkata, “Praktek puasa merupakan kebiasaan orang² Quraish pagan. Muhammad terbiasa melakukan puasa dan kemudian dia mengIslamkan kebiasaan² pagan.”

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:222-23:

When Muhammad came to Medina he saw the Jews fasting on the day of Ashura. Muhammad too started fasting on that day and ordered his companions to do so.

bahasa Indonesia:

Ketika Muhammad datang ke Medina, dia melihat orang² Yahudi puasa di hari Ashura. Muhammad jadi ikut²an mulai puasa di hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal yang sama.

(Muhammad mencontek ibadah puasa Yahudi tentunya karena ia ingin membujuk orang² Yahudi untuk bergabung bersama aliran sesatnya.)

2. MUHAMMAD LEBIH BERKUASA DARIPADA ALLAH

Tentu saja Muhammad lebih berkuasa daripada Allah, karena Allah tak lain hanyalah ciptaan Muhammad saja, bayang² Muhammad belaka. Sumber² Islam sendiri mengakui hal ini, lho.

PERNYATAAN ALLAH:
Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:128:

Allah said, “The deed of fasting by a Muslim is purely for me and I will give the reward for it.”
bahasa Indonesia:
Allah berkata, “Perbuatan puasa orang Muslim hanya untukmu semata dan aku akan memberinya pahala karenanya.”

PERNYATAAN MUHAMMAD:
Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:140:

“Double reward for the non-fasting Muslims in Ramadan.”
bahasa Indonesia:
Muhammad berkata, “Pahala akan jadi dua kali lipat bagi Muslim yang tak berpuasa di bulan Ramadan.”

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, no. 2458-59:

Muhammad said, “A woman is not to fast except with her husband permission.”
bahasa Indonesia:
Muhammad berkata, “Wanita tidak boleh puasa kecuali atas ijin suaminya.”

(Bagaimana mungkin Muhammad bisa mengesampingkan perintah Allah, jika dia percaya Allah punya kedudukan tertinggi?)

Hadis Sahih Bukhari, vol. 3, Buku tentang Puasa, Bab 10, hal. 71:

Fasting is recommended for those who fear committing illegal sexual relation.
bahasa Indonesia:
Puasa dianjurkan bagi mereka yang khawatir akan melakukan hubungan zinah.

(Alasan bagus untuk berpuasa.)

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:129:

Muhammad recommended fasting to those who cannot afford to marry, as fasting will diminish their sexual power.
bahasa Indonesia:
Muhammad memerintahkan puasa bagi mereka yang tak mampu pernikahan, karena puasa akan mengurangi hasrat seksual mereka.
(Anjuran khusus ini adalah bagi budak² kulit hitam milik Muhammad, yang tidak dia beri jatah ngesex dengan tawanan perang wanita, meskipun mereka berperang baginya di garis depan di “Jalan Allah,” alias Jihad!)

3. Pernyataan Allah tentang Waktu Puasa

Qur’an, Sura Al-Baqara (2), ayat 187:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

(Ini adalah pesan dari Allah yang katanya maha bijak, tapi ternyata tidak tahu apa² tentang ciptaannya sendiri. Ayat ini tidak bisa diterapkan bagi manusia yang hidup di daerah² kutub seperti misalnya Alaska, sebab matahari tidak terbenam selama berbulan-bulan. Apakah ini karena Allah tidak mau Muslim menaklukkan daerah² tersebut?)

Image
Di Alaska yang indah, matahari tidak terbenam selama berbulan-bulan, sehingga bagaimana Muslim bisa menerapkan aturan puasa Ramada seperti yang dikatakan Allah di Q 2:187: “makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Kegiatan Muhammad bersangkutan dengan Q 2:187

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3: 162, 177-179:

Muhammad had broken his fast before the sunset.
bahasa Indonesia:
Muhammad telah buka puasa sebelum matahari terbenam.

Terdapat begitu banyak ayat dalam Qur’an dari Allah yang maha bijak yang menunjukkan dia ternyata tak berpengetahuan akan geografi dan astronomi. Ini contohnya:

Qur’an, Sura Al-Kahf (18), ayat 83-86:

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.
Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,
maka diapun menempuh suatu jalan.
Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.

(Matahari itu lebih besar 1.300.000 kali daripada bumi, jadi bagaimana mungkin matahari bisa tenggelam di lumpur hitam di bumi? Muslim waras, renungkan ini!)
Image

Qur’an, Al-Mulk (67), ayat 3-5 dan Qur’an Sura As-Safaat (37) ayat 6-9:

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,
dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,
syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,

(Bahkan anak TK akan tertawa mendengar dongeng bodoh seperti ini.)

Wahai para Muslim, coba gunakan pemikiran intelekmu dan kau akan menemukan ayat² tak masuk akal seperti ini bertebaran di seluruh Qur’an. Cobalah baca Qur’an dengan analisa yang tajam.

4. Ramadan: Bulan Suci dan Sex

Mereka yang mempelajari Qur’an dan ahadis telah mengetahui berbahayanya buku² ini akan perihal sex dan pengobaran terorisme terhadap masyarakat tak bersalah. Ayat² perang dan pembunuhan disebut berulang kali sampai lebih dari 35.000 kali dalam Qur’an – yang katanya adalah kitab suci “agama damai.”

Aku akan menyebutkan berbagai hadis sahih yang menjelaskan kegiatan sexual Muhammad dan para sahabatnya di bulan Ramadan. Hadis² berikut sudah diperhalus dan diperlembut untuk menutupi sifat Muhammad yang sebenarnya.

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:149-50:

Aisha, mother of the believers said to Muslims, “Muhammad used to kiss and embrace his wives, while he was fasting and he had more power to control his desires (!) than any of you.”
bahasa Indonesia:
Aisyah, ibu umat yang percaya berkata pada umat Muslim, “Muhammad seringkali mencium dan memeluk istri²nya ketika dia sedang puasa dan dia lebih mampu mengontrol nafsu berahinya daripada siapapun diantara kamu.”

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:151:

Zainab, mother of the believers, said, “I and Muhammad used to take a bath from one water pot and he used to kiss me while he was fasting.”
bahasa Indonesia:
Zainab, ibu kaum percaya, berkata, “Aku dan Muhammad seringkali mandi bersama dari satu baskom air dan dia seringkali menciumku saat puasa.”

Hadis Bukhari Sahih, vol. 3:156-58:

Muhammad permitted his companion to pay expiation (!!), who had sexual intercourse with his wife intentionally while he was fasting.
bahasa Indonesia:
Muhammad mengijinkan sahabatnya membayar uang penebusan dosa (!!), karena dia sengaja ngesex dengan istrinya ketika sedang puasa.

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, 2385:

Umar (Father-in-law of Muhammad) kissed his wife while fasting and Muhammad said to him, it is OK.
bahasa Indonesia:
Umar (mertuanya Muhammad) mencium istrinya ketika sedang puasa dan Muhammad mengatakan padanya bahwa hal itu tidak terlarang.

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, 2470-71:

Saffiya, the mother of the believers, visited Muhammad in the mosque while Muhammad was in his ITIKAAF.
bahasa Indonesia:
Saffiya, ibu kaum percaya, mengunjungi Muhammad di mesjid ketika Muhammad sedang itikaaf (tinggal di mesjid untuk sementara waktu saat puasa di bulan Ramadan).

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, 2467-69:

Aisha, the mother of the believers, combs Muhammad’s head while he was observing ITIKAAF.
bahasa Indonesia:
Aisyah, ibu kaum percaya, menyisir kepala Muhammad ketika dia sedang melakukan itikaaf.

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, 2387:

Muhammad allowed old men to embrace and kiss their women, but prohibited the young men to do so.
bahasa Indonesia:
Muhammad mengijinkan pria² lanjut usia untuk memeluk dan mencium para wanita mereka, tapi melarang pria² muda untuk melakukan hal yang sama.

(Knafa nih? Apakah karena Muhammad dan semua mertuanya udah pada toku?)

Hadis Sunan Abu Daud Sahih, 2382-86:

Aisha, the mother of the believers, said, ” Muhammad used to kiss and SUCK HER TOUNG, while he was fasting.”
bahasa Indonesia:
Aisyah, ibu kaum percaya, berkata, “Muhammad seringkali mencium dan menyedot lidahku, ketika dia sedang puasa.”

Kesimpulan

Aku mengajak umat Islam, terutama para Muslim non-Arab, untuk mengikut norma² ‘suci’ di atas, yang dicontohkan oleh Nabi Islam dalam melakukan ibadah puasa Ramadan. Janganlah menghukum dirimu sendiri dengan berbagai aturan ketat untuk berpura-pura dirimu lebih ‘suci’ daripada Muhammad. Allah sendiri telah berkata dalam Qur’an bahwa Muhammad adalah suri teladan sempurna bagi seluruh umat manusia dan memerintahkan umat Muslim untuk melaksanakan Sunnah Nabi.

Qur’an, Sura Al-Ahzab (33), ayat 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Masih banyak yang bisa ditulis tentang aliran sesat buatan Muhammad – salah seorang kriminal pelanggar kemanusiaan terbesar yang pernah hidup. Umat Muslim sebaiknya mempelajari Islam sendiri tanpa bantuan dari ulama Islam. Para Baduy Saudi yang buta huruf dan bodoh tak punya pilihan lain selain mengikuti Islam, karena lahir di Saudi Arabia yang diatur oleh Syariah yang kejam. Akan tetapi orang Baduy Saudi yang sama juga terkejut melihat keketatan dan ketaatan umat Muslim non-Arab dalam beribadah Islam.

Wahai Muslim² non-Arab! Sudah waktunya kalian bertindak! Jika tidak, maka kalian memang layak disebut MAAFI MUQH, julukan yang diberikan Muslim Saudi bagi kalian.
Ternyata puasa Ramadan bagi Muslim Saudi Arabia hanyalah “GANTI JAM MAKAN dan TIDUR” saja. Selain itu, mereka jadi tambah gembrot, malas, dan rakus saja.
Ini lihat daftar penyakit dan gangguan kesehatan yang terjadi akibat puasa:
http://www.nature.com/ejcn/journal/v57/ … 1899a.html

Sampe bayi² yang baru lahir juga kena getahnya:
In Saudi Arabia, the ratio of low-birthweight babies born during the festival months of Ramadan and Hajj was significantly higher than in the non-festival months (Opaneye et al, 1990).

bahasa Indonesia:
Di Saudi Arabia, rasio bayi² dengan berat badan kurang yang lahir di bulan Ramadan dan Haji sangat lebih tinggi dibandingkan di bulan² biasa (Opaneye et al, 1990).

Read More

Comments are closed.

%d bloggers like this: