Sejarah Islam

Manusia bijak adalah manusia yang mengetahui & belajar dari sejarah

Kontroversi umur AISYA, 3 artikel

PERHATIAN:
POST INI TERDIRI DARI 3 ARTIKEL:
1) KONTROVERSI SEKITAR UMUR AISHA (sudah diterjemahkan)
2) DEBAT MENGENAI UMUR AISHA (link ke diskusi di FFI)
3) AISYA, PENGANTIN ANAK2 MUHAMAD
4) MORALITAS PERKAWINAN DENGAN ANAK KECIL
5) Muhamad, Aisha dan Pengantin anak2 (Efek psikologis dan biologis sex sebelum akil baliq)****

SEHARUSNYA ARTIKEL NOMOR 3) DIMULAI TERLEBIH DAHULU. APA BOLEH BUAT. YANG DITERJEMAHKAN TERLEBIH DAHULU ADALAH NOMOR 1) INI.

DEMIKIAN AGAR JELAS & SELAMAT MEMBACA.
_____________________________________________________________
ARTIKEL 1

http://www.faithfreedom.org/Articles/si … ha_age.htm
CONTROVERSIES ABOUT THE AGE OF AISHA By Ali Sina
Kontroversi sekitar umur Aisha

Kaum Islam “modernist” menyanggah fakta umur Aisya ini. Mereka bersikeras:
(dari http://www.understanding-islam.com/ri/mi-004.htm)

1)
Menurut tradisi yang diterima pada umumnya, Aisha dilahirkan sekitar 8 tahun sebelum Hijrah. Ia kemudian menikah pada tahun 1 Hijrah. Jadi banyak yangmengasumsi bahwa Aisha berumur 9 tahun ketika ia menikah. NAMUN menurut narasi lainnya dalam Bukhari (kitabu’l-tafseer) Aisha dilaporkan mengatakan bahwa saat diwahyukannya Surah Al-Qamar, Surah Qur’an nomor 54, “Saya seorang gadis muda”. Surah ke-54 itu diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah. Jadi menurut tradisi ini, pada saat itu Aisha bukan lagi anak2 (sibyah) melainkan gadis muda (jariyah).

Jawaban A SINA terhadap yang diatas:
Bahkan jika kita mengasumsi bahwa riwayah diatas akurat, tidak ada alasan mengapa riwayah ini lebih penting ketimbang riwayah lainnya yang begitu mendetil tentang umur Aisha, menggambarkannya bermain dengan boneka, pembicaraannya dengan teman2 seumurnya dan ceritanya bersembunyi ketika Muhamad memasuki kamar, memorinya tentang bermain di ayunan ketika ibunya memanggilnya dan mencuci mukanya dan mempertontonkannya kepada Muhamad, ke-dungu-annya dan rasa kaget ketika Muhamad beraksi dalam perannya sebagai suami, dsb. Peristiwa2 ini lebih menempel di ingatan ketimbang kapan turunnya wahyu. Kemungkinan orang lebih mengingat peristiwa penting ketimbang kepastian tanggal datangnya Surah.//

2)
Menurut beberapa riwayah, Aisha menemani pasukan muslim dalam pertempuran Badr dan Uhud. Juga dilaporkan dalam hadis dan sejarah bahwa mereka dibawah umur 15 tahun tidak diijinkan mengambil bagian dalam pertempuran Uhud. Semua anak lelaki dibawah umur 15 dipulangkan kembali. Partisipasi Aisha dalam pertempuran Badr dan Uhud pada saat itu jelas menunjukkan bahwa ia bukan lagi berusia 9 atau 10. Lagipula, perempuan biasa menemani kaum lelaki dalam pertempuran guna memberi bantuan.

Jawab A SINA:
Ini alasan lemah. Pada saatnya pertempuran Badr dan Uhud Aisha berumur antara 10 sampai 11 tahun. Ia tidak bertempur seperti kaum lelaki. Ia disitu untuk menghangati tempat tidur Muhamad. Lelaki dibawah umur 15 dipulangkan, tetapi ini tidak berlaku bagi Aisha.//

3)
Menurut kebanyakan pakar sejarah, Asma, kakak perempuan Aisha berumur 10 tahun diatas Aisha. Dilaporkan dalam Taqri’bu’l-tehzi’b dan Al-bidayah wa’l-nihayah bawha Asma wafat tahun 73 hijrah pada usia 100 tahun. Jelas, jika Asma berusia 100 tahun pada tahun 73 Hijrah, pada saat hijrah ia berumur 27 atau 28. Jika Asma berusia 27 atau 28 pada saat hijrah, maka Aisha berumur 17 atau 18 tahun. Jadi, pada saat Aisha menikah pada tahun 1 AH (after hijrah) atau 2 AH, ia berumur antara 18 atau 20 tahun.

Jawaban A SINA:
Pada saat Asma sudah sangat berumur, orang tidak terlalu peduli mengenai umur persisnya. Lebih mudah membulatkan angka 100 tahun ketimbang menyebut 90 tahun. Bedanya tidak kelihatan bagi orang2 sekitarnya.

Dengan asumsi Hadis tersebut autentik, ini mungkin suatu kesalahan tidak sengaja. Dijaman baheula belum ada sertifikat lahir. Lagipula, Asma bukan orang penting dan tidak akan menyangka bahwa 1300 tahun kemudian ia menjadi obyek kontroversi. Ini bisa2 sebuah kesalahan dalam Hadis.//

4)
Tabari dalam tulisannya tentang sejarah Islam, menulis bawha Abu Bakr (ayah Aisha) memiliki 4 anak dan kesemuanya dilahirkan dalam masa Jahiliyyah — masa pra Islam. Jelas jika Aisha lahir dalam masa jahiliyyah, ia tidak dapat berusia dibawah 14 pada masa 1 AH — saat ia kemungkinan besar menikah.

Jawab A SINA:
Riwayah Tabari tidak dikenal sebagai Sahih. Bahkan jika riwayahnya ini sesuai fakta, tidak ada alasan mengapa kita harus menyingkirkan hadis2 yang jauh lebih eksplisit dan mendetail yang saling menunjang dan mengaskan bahwa umur Aisha 9 pada saat ia menikahi Muhamad. Orang lebih mengingat peristiwa2 penting ketimbang hal2 yang tidak terlalu signifikan. Tanggal lahir anak2 Abu Bakr bukan hal penting bagi Muslimin saat itu untuk dicatat. Yang lebih penting adalah detail perkawinan Nabi. Dalam cerita pernikahan Safiyah, bahkan makanan yang dihidangkan pun dicatat.//

5)
Menurut pakar sejarah Ibn Isham, Aisha menerima Islam jauh sebelum Umar ibn Khattab. Ini menunjukkan bahwa Aisha menerima Islam pada tahun 1 Islam. Itu berarti mustahil jika ia dilahirkan pada tahun pertama Islam.

Jawab A SINA:
Para apologis tidak menyertakan teori ini dengan hadis. Lagipula teori ini juga salah. Guna mengerti dan menerima sebuah agama, paling tidak orang harus punya otak. Katakanlah Aisha berumur 12 (atau 15). Kalau memang benar Aisha menerima Islam pada tahun pertama Islam, maka pada saat ia menikahi Muhamad ia berusia 26 tahun (12 + 14) !

Pertama, perempuan jaman itu menikah pada umur jauh lebih muda. Tidak ada seorangpun mau menunggu menikah sampai umur 26 tahun. dan sangat tidak masuk akal bahwa seorang wanita berumur 26 tahun masih bermain dengan boneka. Ini menunjukkan bahwa para muslim apologis malu akan perlakuan Nabi dan mencari-cari alasan untuk menutupi ketidakpantasan sang Nabi.

6)
Tabari juga melaporkan bahwa pada saat Abu Bakr berencana untuk migrasi ke Habshah (8 years sebelum Hijrah), ia pergi ke Mut`am — ayah anak lelaki yang dipinangkan degnan Aisha — dan memintanya agar menerima Aisha sebagai isteri puteranya. Mut`am menolak karena Abu Bakr memeluk Islam, dan akhirnya puteranya menceraikan Aisha.
Nah, jika Aisha berumur hanya 7 tahun pada saat menikah dengan Nabi, mustahil ia dilahirkan pada saat Abu Bakr berencana untuk migrasi ke Habshah. Berdasarkan ini, kita bisa berasumsi bahwa Aisha bukan hanya dilahrkan 8 tahun sebelum hijrah, namun juga seorang wanita muda yang siap memasuki perkawinan.

Jawab A SINA:
Tradisi Arab untuk menjodohkan anak2 pada saat lahir tidak aneh. Bahkan sampai sekarangpun tradisi ini masih berlanjut. Teori diatas tidak membuktikan Aisha seorang gadis muda.

7)
Menurut riwayah Ahmad ibn Hanbal, setelah kematian Khadijah, Khaulah menghadap Nabi agar menikah lagi. Nabi bertanya kepadanya siapa kira2 menurutnya yang ingin dicalonkannya. Khaulah mengatakan: “Kau dapat menikahi perawan (bikr), atau perempuan yang sudah menikah (thayyib)”. Nabi lalu bertanya siapa sang perawan, Khaulah mengusulkan Aisha. Mereka yang mengerti bahasa Arab, tahu bahwa kata “bikr” digunakan tidak untuk menggambarkan gadis berumur 9 tahun. Kata yagn tepat bagi anak2 kecil adalah “Jariyah”. “Bikr” hanya dipakai untuk menggambarkan gadis belum menikah dan bukan seorang berusia 9 tahun.

Jawab A SINA:
Keterangan ini tidak tepat. Saya lahir di Iran dan saya mengerti bahasa Arab. Bikr berarti perawan dan tidak menunjukkan umur. Faktanya, Aisha adalah isteri kedua Muhammad (setelah Khadijah) namun Muhammad MENUNGGU TIGA TAHUN sebelum melakukan hubungan perkawinan karena AISHA TERLALU MUDA. Oleh karena itu ia memuaskan dirinya dengan Umma Salamah, sampai Aisha tumbuh sedikit lagi. Tidak masuk akal untuk mengawini wanita cantik seperti Aisha dan menunggu tiga tahun sebelum membawanya ke rumahnya.

8)
Menurut Ibn Hajar, Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisha. Fatimah dilaporkan lahir pada saat Nabi berumur 35 tahun. Jika info ini benar maka Aisha tidak mungkin berusia dibawah 14 tahun pada saat hijrah dan pada saat menikah berumur 15 atau 16 tahun.

Jawab A SINA :
Tentu info diatas tidak benar. Jika Fatimah 5 tahun diatas Aisha, dan Fatimah lahir saat Nabi berusia 35 tahun, maka Aisha lahir pada saat Nabi berusia 30 tahun. Jadi beda usia mereka 30 tahun. Kalau memang begitu, Ketika Muhamad berusia 54 saat menikahi Aisha, maka Aisha berumur 24 tahun. Ini jelas tidak tepat. Alasannya sudah diberikan diatas selain mengkontradiksi hadis yang diberikan para apologis tentang umur Asma, yang dikatakan 10 tahun diatas Aisha dan wafat pada tahun 73 Hijrah. Kalau begitu pada saat Hijrah, Asma berumur 100 –73 = 27 tahun, sementara menurut hadis, ia berumur 34 tahun.

Kejanggalan antara kedua hadis yang diberikan oleh para apologis menunjukkan kelemahan mereka. Ini menunjukkan bahwa pada jaman itu angka tidak banyak berarti. Kemungkinan besar orang lupa tanggal. Namun peristiwa dengan mudah diingat. Laporan tentang usia muda Aisha konsisten dengan cerita2 masa kanak2nya, bermain dengan boneka, dan teman2 seumurnya dan bersembunyi ketika Muhamad memasuki ruangan dan kagetnya ketika Muhamad mengadakan hubungan seksual dengannya. Mereka yang mengingkari fakta dan mencoba membuktikan sebaliknya menunjukkan malunya mereka akan tindakan Nabi. Mungkin mereka harus di-diskreditkan karena mengetahui kesalahan Muhamad dan kita tidak patut menuruti mereka karena mereka tidak memiliki kejujuran intelektual.

9)
Pada akhirnya, para apologis menyimpulkan:
“Menurut pendapat saya, menjodohkan anak2 seumur 9 atau 10 tahun bukan tradisi Arab dan Nabi juga tidak menikahi Aisha se-muda itu. Orang2 Arab tidak menolak perkawinannya karena perkawinannya memang layak, tidak sebagaimana diriwayahkan sebaliknya.”

Jawab:
Saya total tidak setuju. Tradisi ini MEMANG KHAS ARAB, bahkan masih dilanjutkan sampai sekarang, bahkan di negara2 yang ditaklukkan Islam. Sampai sekarang tidak aneh melihat anak2 berumur 9 tahun dikawinkan. Alasan bahwa tidak ada yang tidak setuju akan perkawinan Muhamad dengan anak ingusan adalah karena ini sesuai adat. Alasan mengapa ini tidak dilaporkan dalam banyak hadis adalah karena ini memang bukan hal luar biasa.

Beberapa minggu yang lalu saya membaca dalam surat kabar bahwa di Iran, seorang perempuan 9 tahun meminta cerai dari suaminya yang berumur 15 tahun setelah perkawinan 20 hari karena ia selalu memukulinya. Ketika sang lelaki ditanya mengapa, ia mengatakan “Isteri saya malas melakukan tugas rumah tangga dan selalu bermain dengan bonekanya. “

Image
Bayangkan : Muhamad ketika itu berusia sama spt pria dlm foto diatas itu, memegang gadis seumur Aisya. Bayangkan sekali lagi, seorang kakek mengawini cicitnya ! Tidak muakkah anda ?

:twisted:

AFGHANISTAN :PENGANTIN ANAK2
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=3633
:vom: :vom: :vom:
Lihat diskusi di :

Nilai Moral Nabi Yg Meniduri Gadis 9 Th
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c.php?t=53

Anda tahu Muhamad (umur 53) menikah dgn anak umur 9 tahun ?
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … .php?t=124
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Aisha.htm

Aisha: Istri Muhammad yang Masih Anak2
Oleh Ali Sina

Membayangkan pria tua terangsang oleh anak kecil adalah sangat memuakkan. Kita semua merinding dibuatnya karena mengingatkan kita pada tindak kriminal fedofilia. Sukar diterima bahwa sang Nabi Suci, pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, bisa menikahi Aisha ketika ia berusia 6 tahun dan menyetubuhinya pada saat ia berusia 9 tahun. Waktu itu, Muhammad berusia 54 tahun.

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3310:
‘A’isha (Allah berkenan padanya) melaporkan: Rasulullah (saw) menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan aku diterima di rumahnya pada waktu aku berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 64
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun, dan dia terus bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun. Hisham berkata: “Aku telah diberitahu bahwa ‘Aisha tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).” Apa yang kau ketahui tentang Qur’an (di luar kepala).

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 88
Dikisahkan oleh ‘Ursa:
Sang Nabi menulis (kontrak kawin) dengan ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun dan menyetubuhinya ketiak dia berusia sembilan tahun dan dia tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Beberapa Muslim mengatakan bahwa adalah ayah Aisha, Abu Bakr, yang meminta agar Muhamad mengawini anaknya. Ini saja tidak benar dan inilah buktinya.

Sahih Bukhari 7.18
Dinyatakan ‘Ursa:
Sang Nabi meminta Abu Bakr untuk menyerahkan Aisha untuk dinikahi. Abu Bakr berkata,”Tapi engkau saudaraku.” Nabi berkata, ”Engkau saudaraku dalam agama Allah dan BukuNya, tapi ia (Aisha) adalah sah untuk dinikahiku.

Orang2 Arab waktu itu masih primitif dengan tidat terikat banyak aturan. Tapi meskipun begitu mereka punya kode etik. Contohnya, meskipun mereka berperang sepanjang tahun, mereka menghilangkan semua rasa permusuhan di bulan2 suci dalam tahun itu. Mereka juga menganggap Mekah adalah kota suci dan tidak ada yang boleh berperang terhadapnya. Istri dari anak angkat seorang pria akan dianggap sebagai menantu wanitanya dan siapapun tidak boleh menikahi menantu wanita itu. Adalah suatu kebiasaan untuk membuat sumpah persaudaraan dan menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Sang Nabi nyata-nyata melanggar semua aturan2 yang dianggapnya menghalangi keinginannya.

Abu Bakr dan Muhamad sudah melakukan sumpah saudara. Jadi berdasarkan adat, Aisha seharusnya sudah seperti keponakan “buyut” sang Nabi. Tapi inipun tidak menghentikannya untuk menikahinya walaupun Aisha masih berusia 6 tahun. !!! :twisted: Bayangkan kalau opa anda menikahi anak anda yang masih 6 tahun !

Nabi yang suka mengubah2 standar moral menutut keadaan ini, sempat berpura2 menolak Aisha ketika ditanya:

Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37
Dinyatakan Ibn ‘Abbas:
Dikatakan pada sang Nabi,”Maukah engkau menikahi anak perempuan Hamza?” Nabi menjawab,”Dia adalah keponakan angkatku (anak saudara angkatku).

Di hadis berikut, sang Nabi menceritakan secara rahasia pada Aisha bahwa ia bermimpi tentang dia sebelum meminta ayahnya untuk memperistrinya.

Sahih Bukhari 9.140
Dinyatakan ‘Aisha:
Nabi Allah berkata padaku,”Kau ditampakkan padaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam kain sutra, dan aku berkata padanya,’Singkapkan (dia), ‘ dan lihatlah, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’ Maka kau ditunjukkan padaku, malaikat membawamu dengan sehelai kain sutra, dan aku berkata (pada malaikat), ‘Singkapkan (dia), dan lihat, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’

Masalahnya bukan apakah Muhamad memang bermimpi atau apakah dia mengatakannya hanya untuk menyenangkan Aisha. Masalahnya adalah mana mungkin malaikat menawarkan anak kecil kepada Nabi. Didunia Muhamad, malaikatpun tidak bermoral ?

Ada banyak sekali hadis yang secara tegas menyatakan usia Aisha pada saat dia menikah. Ini sebagian dari ayat2 tsb.:

Sahih Bukhari 5.236.
Dikisahkan oleh ayah Hisham:
Khadija meninggal dunia tiga tahun sebelum sang Nabi berangkat ke Medina. Dia diam di sana selama dua tahun atau lebih dan lalu dia menikahi ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun, dan dia (Nabi) menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari 5.234
Dikisahkan oleh Aisha:
Sang Nabi bertunangan denganku ketika aku masih seorang gadis kecil berusia enam (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Lalu aku sakit dan rambutku rontok. Tak lama kemudian rambutku tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang padaku ketika aku bermain ayunan bersama beberapa dari kawan perempuanku. Ibu memanggilku, aku pergi menghadapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ibu memegang tanganku dan membawaku berdiri di depan pintu rumah. Aku tak bisa bernafas, dan ketika aku bisa bernafas lagi, dia (Ibu) mengambil air dan membilas wajah dan kepalaku. Lalu dia membawaku masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kulihat wanita2 Ansari yang berkata, “Salam sejahtera dan Berkat Allah dan semoga selamat.” Lalu dia (Ibu) menyerahkanku kepada mereka dan mereka mempersiapkanku (untuk perkawinan). Secara tak terduga, Rasul Allah datang padaku di pagi hari dan ibuku menyerahkanku kepadanya, dan pada saat itu aku adalah seorang gadis berusia sembilan tahun.

Dan di Hadis yang lain kita baca.

Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4916 and Number 4917
Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:
Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

Dalam hadis di atas kita baca bahwa Aisha bermain ayunan. Ini adalah permainan anak2 kecil. Hadis berikut menarik disimak karena ini menunjukkan Aisha masih terlalu kecil sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi ketika sang Nabi Suci “mengejutkannya”.

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 90
Dinyatakan Aisha:
Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG LEBIH MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.

Tentunya ini sangat mengejutkan baginya! Tapi hadis berikut juga menarik karena hadis ini menunjukkan bahwa Aisha hanyalah seorang gadis cilik yang masih suka bermain dengan boneka2nya. Perhatikan apa yang ditulis pengarang dalam tanda kurung. (sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas).

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151
Dinyatakan oleh ‘Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

Sahih Muslim Book 008, Number 3311
‘A’isha (Allah berkenan padanya) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) menikahi dia ketika dia berusia tujuh tahun, dan dia dibawa ke rumah Nabi sebagai pengantin ketika berusia sembilan tahun, dan boneka2nya ikut bersamanya; dan dia (sang Nabi) mati ketika ‘A’isha berusia delapan belas tahun.

Sang Nabi suci mati ketika dia berusia 63 tahun. Karena itu dia mestinya menikahi Aisha ketika dia berusia 51 tahun dan menyetubuhinya ketika dia berusia 54 tahun.

Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 33
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Aku tidak pernah merasa begitu cemburu pada wanita mana pun seperti yang kurasakan pada Khadija, meskipun dia telah meninggal tiga tahun sebelum sang Nabi mengawiniku, dan ini karena aku mendengar dia (Nabi) terlalu sering berkata tentang dia, dan karena Tuhannya memerintahkan dia untuk memberi Khadija kabar2 sukacita agar dia dapat tempat di surga, terbuat dari Qasab dan karena dia (Nabi) dulu sering menyembelih seekor domba dan mem-bagi2kannya diantara kawan2 Khadija.

Khadija meninggal dunia di bulan Desember, 619 AD. Ini adalah dua tahun sebelum Hijra. Pada saat itu sang Nabi berusia 51 tahun. Jadi di tahun yang sama waktu Khadija meninggal, sang Nabi menikahi Aisha dan membawanya ke rumahnya tiga tahun kemudian, yakni setahun setelah Hijra. Tapi selama menunggu Aisha, sang Nabi menikahi Umm Salama.

Sekarang beberapa orang mungkin tetap ngotot mengatakan bahwa hadis2 ini bohong semua. Orang2 boleh bebas percaya apapun yang mereka inginkan. Tapi kebenaran ini tampak nyata seterang matahari bagi mereka yang punya mata.

Pertanyaannya adalah, untuk apa pengikut Muhamad yang banyak itu mau menyusun begitu banyak hadis2 palsu tentang usia Aisha? Malah sebenarnya hadis2 itu saling menegaskan isinya satu sama lain.

Kalau mengarang cerita mukjizat palsu ttg Muhamad, orang masih bisa mengerti. Jemaat Bab percaya bahwa Bab mulai menyembah Tuhan begitu ia lahir. Ada sebuah hadis seperti itu pula tentang Muhamad. Orang2 Kristen percaya bahwa kelahiran Kristus merupakan suatu mukjizat dan kaum Yahudi percaya Musa membelah Laut Merah.

Orang2 penganut agama (apapun) suka mendengar cerita2 seperti ini. Ini menegaskan kepercayaan mereka. Ada banyak mukjizat2 yang tidak masuk akal yang berkenaan dengan Muhamad di hadis2, meskipun Muhamad sendiri menyangkalnya. Tapi kenapa orang akan
mengarang2 tentang usia Aisha yang nantinya akan menunjukkan Nabinya sbg seorang fedofilia?//
http://www.faithfreedom.org/Articles/si … aleval.htm

Penelaahan Moral pada Perkawinan Sang Nabi dengan Aisha
Oleh Ali Sina

Aisha berumur 9 tahun atau 8 tahun 9 bulan berdasarkan perhitungan tahun tatasurya ketika Muhamad menidurinya. Kenyataan ini
ditunjukkan dalam sejumlah besar hadis. Kesemua hadis ini konsisten isinya.

Hal ini tadinya tidak pernah jadi masalah sampai saat kaum Muslim berhubungan dengan nilai2 Barat dan malu mengakui bahwa Nabi mereka seorang pedofil. Muslimin menyangkal fakta2 yang menganga dengan jelas didepan hidung mereka. Herannya, sebagian besar Muslimin tetap merasa perkawinan Aisa pada usia muda sbg hal NORMAL.

Seorang wanita Amerika, yang berkiriman surat denganku tentang Islam, merasa tertarik akan agama ini karena pacar prianya adalah Muslim. Dia mengakui kaget mendengar Muhamad berhubungan seks dengan anak perempuan berusia 9 tahun, tapi dia lalu lega saat beberapa orang Muslim menyangkal hal ini. Ini memang menjadi bahan pertentangan semua orang Muslim. Karena itu aku menulis jawaban ini.

Masih juga ada orang yang menyangkal terjadinya holocaust (pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi dalam PD2). Ini baru saja terjadi 55 tahun yang lalu dan direkam dengan cermat. Tetap saja ada orang yang menyangkalnya. Mereka lalu mulai mengarang2 pertentangan kenyataan.
Tetapi apakah kau akan meragukan terjadinya holocaust hanya karena orang menentangnya ? Orang2 cerdas tidak terpengaruh akan pertentangan. Mereka melihat fakta dan tidak terombang-ambing dengan kata2 orang. Justru orang2 yang mempertentangkan ini menutup dan menghindari masalah utama.

Hanya beberapa tahun yang lalu, Sheikh Baaz di Saudi Arabia mengeluarkan fatwa bahwa setiap orang yang mengatakan bumi bulat adalah kafir. Tentu saja ini tidak bisa bertahan terlalu lama, tapi dia sudah memulai sebuah pertentangan. Lalu apakah pendapatmu tentang bentuk bumi? Apakah engkau tidak mau memikirkannya karena ini merupakan pokok bahasan yang bertentangan? Bagaimana dengan evolusi? Banyak orang Muslim dan Kristen yang tidak percaya akan hal itu. Mereka percaya dongeng Adam dan Hawa dan penciptaan bumi. Ini merupakan pertentangan yang besar. Apakah kau tidak mau memikirkannya? Bukan masalah bagimu? Hampir semua hal di dunia ini merupakan masalah yang bertentangan. Dari masalah hukuman mati ke masalah alasan Perang Irak dsb dsb, semuanya adalah masalah yang penuh pertentangan. Bahkan masalah agama pun merupakan masalah yang bertentangan. Tetapi kau tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab jika kau dihadapkan dengan masalah yang bertentangan.

Aku setuju bahwa moralitas itu relatif dan kita tidak boleh menghakimi moralitas masyarakat kuno dengan moralitas modern yang kita anut sekarang.

Sudah jelas kita akan merinding jika kita berpikir tentang fedofilia dan mengakui bahwa itu adalah tindakan memalukan yang tak bermoral. Tapi pada zaman Muhamad dan bahkan sekarang pun di beberapa negara Islam, menikahi anak berusia 9 tahun bukanlah tindakan tak bermoral. Pada kenyataannya Aisha diberikan pada Muhamad dengan persetujuan orang tuanya dan tidak seorang pun mengangkat alis (kaget). Pertanyaannya adalah, jika meniduri anak perempuan berusia 9 tahun tidak dipandang sebagai sesuatu yang jelek sehingga tidak dianggap amoral, apakah itu tetap dapat diterima? Tidak semua yang diterima suatu masyarakat adalah baik. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin bukan tindakan amoral bagi bangsa Arab 1.400 tahun yang lalu, tapi sekarang, dan juga dulu, merupakan tindakan yang tidak etis. Moralitas terbentuk oleh keadaan, tapi etika melampaui batasan waktu dan tempat. Etika berakar dari akal sehat (logika). Moralitas dapat ber-ubah2 dari satu budaya ke budaya lainnya, dari satu waktu ke waktu lain dan dari satu orang ke orang lain. Siapa yang menentukan mana yang bermoral dan tidak?

Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin bukan tindakan amoral bagi Muhammad dkk di kebudayaan tak beradab itu, tapi secara etika ini salah. Jika Muhamad adalah seorang utusan Tuhan dan seorang yang terhormat, seperti yang diakuinya Allahnya (katanya), maka dia seharusnya tahu apa yang dilakukannya bukan perbuatan terhormat dan tidak etis.

Memang benar zaman dulu orang menikah di usia sangat dini. Dan memang benar bahwa se-kali2 orang2 tua yang kaya menikahi gadis2 yang sangat muda. Kita harus menyadari bahwa orang2 ini bersikap sesuai dengan budayanya. Kita tidak mencela mereka karena memang mereka tidak tahu tata-cara yang lebih baik. Yang mereka lalukan adalah normal (bagi mereka). Tapi kita mencela budaya2 seperti itu.

Akan tetapi, kita tidak dapat menggunakan penilaian yang sama bagi orang2 yang mengaku sbg standar moralitas bagi umat manusia.

Jika rata2 orang tidak dapat membedakan mana yang baik dan jelek, maka utusan2 Tuhan–jika benar2 mereka diutus Tuhan–harus lebih tahu. Jika pernyataan mereka benar, jika pengetahuan mereka datang dari illahi, jika mereka terinspirasi (illahi), maka mereka seharusnya tidak mengikuti tradisi masyarakat mereka sendiri tapi sebaliknya harus menerapkan contoh yang baik. Muhamad mengikuti moralitas masyarakatnya. Tapi moralitas ini secara etis salah. Dia mengaku sebagai orang yang berakhlak terbaik dan utusan terakhir dari Tuhan. Menurut dia, Tuhan telah mewahyukan pesanNYa lewat dirinya kepada seluruh umat manusia. Jadi segala kelakuan dan ajarannya kita harus ketahui dan ikuti se-lama2nya. Sementara segala yang ia lakukan dan kerjakan, di bawah pengamatan nilai2 modern, terbukti sangat salah.

Sekarang kita menyadari bahwa kita tidak dapat hidup berdasarkan contoh2nya lagi dan tidak bisa lagi melakukan ajaran2nya. Moralitas kita sudah berubah. Negara manapun (kecuali negara Islam) akan tegas2 memenjarakan pria kalau sampai meniduri anak umur 9 tahun. Kita tidak mengizinkan orang mengambil budak atau memperdagangkan perbudakan seperti yang dilakukan Muhamad.

Jika kita tidak bisa mengikuti moralitas Muhamad lagi, jika yang dia katakan dan lakukan tidak cocok lagi untuk dunia modern, kenapa kita masih butuh seorang Muhamad ? Bagian mana dari ajarannya yang masih harus kita terima dan bagian mana yang harus kita buang? Siapa yang bisa menentukan itu? Ini adalah pertanyaan yang penting. Jika kita bebas memilih ajaran yang cocok bagi kita, maka kita harus memberi kebebasan yang sama bagi orang lain.

Misalnya kau percaya bahwa menikahi anak kecil harus dilarang, atau bahwa poligami tidak dapat diterima lagi di zaman ini. Kau tidak setuju dengan perbudakan, sunat laki atau wanita, memukuli istri, atau Jihad. Kau lebih suka konsentrasi pada bagian lain dari Islam seperti Salat, Zikat, Haji, dll. Ini adalah pilihanmu. Tapi dapatkah kau melarang orang2 Muslim lain yang memilih hal yang berbeda (dari agama Islam)? Bagaimana kau dapat menghentikan seorang Muslim yang mengikuti ajaran2 Islam yang bagimu sudah ketinggalan zaman? Dengan otoritas apa kau bisa mencegah orang yang ingin menyebarkan Islam melalui Jihad, sama seperti yang dilakukan Muhammad?

Bagaimana kau bisa mencegah tindakan pedofilia ? Apa yang dapat kau katakan pada Muslim yang ingin punya empat istri dan suka memukuli mereka jika mereka tidak taat, seperti yang diperintahkan sang Nabi?

Jika kau menggunakan logika untuk memilih ajaran2 (Islam) terbaik, maka kau berkata bahwa logika lebih unggul daripada wahyu (illahi) dan karena itu kau KAFI, tidak Islami karena tidak mengikuti jalan pikir/contoh Muhamad.

Banyak negara2 Islam yang sadar bahwa Islam sejati mustahil diterapkan. Hanya sedikit sekali yang bisa menerapkannya secara penuh; mereka semua telah merubahnya sampai tahap tertentu dan memasukkan paham sekuler ke dalam hukum2 mereka untuk membuat hidup lebih layak. Mereka (negara2) yang mengikuti Islam secara penuh menjadikan NERAKA di bumi. Semakin tinggi kadar Islamnya, semakin parah–bukan semakin baik–nasib warganya. Anda masih juga tidak setuju ?

Di Jaman Pertengahan (sekitar abad 14 – 15), ketika agama menjerumuskan Eropa ke abad kegelapan, negara2 Islam malah maju dan makmur. Ini dimungkinkan karena toleransi para pemimpin (negara Islam) saat itu, terpisahnya pemerintahan dari mesjid dan ketidaktertarikan mereka untuk menerapkan hukum Islam.

Zakaria Ar-Razi, salah satu pemikir terbesar di dunia Islam, menyerang agama secara umum–dan Islam khususnya–dengan pernyataan yang tidak terpikirkan di jaman kini. Dia menulis:

Para nabi – kambing2 bandot dengan jenggot panjang, tidak dapat menyatakan keunggulan intelektual atau spiritual. Kambing2 bandot ini pura2 datang bawa pesan dari Tuhan, semuanya membuat capek diri mereka sendiri dengan menyemburkan kebohongan2 mereka, dan menuntut ketaatan buta yang menyeluruh pada “firman2 sang pemimpin.”

Muzizat2 para nabi palsu belaka, berdasar tipu daya, atau dongeng2 mereka bohong semua. Kesalahan2 yang dikatakan para nabi jelas tampak pada kenyataan bahwa mereka bertentangan satu sama lain: satu nabi menegaskan hal yang ditentang nabi lainnya, tapi setiap nabi mengaku sebagai satu2nya pembawa kebenaran; karena itu Perjanjian Baru menentang Hukum Taurat, Qur’an menentang Perjanjian Baru.

Tentang Qur’an, ini hanyalah kumpulan berbagai “dongeng2 yang konyol dan tidak konsisten,” yang katanya tidak dapat ditiru, padahal kenyataannya bahasa, gaya, dan pernyataannya banyak salahnya. Kebiasaan, tradisi, dan kemalasan intelektual menuntun orang2 untuk mengikuti pemimpin2 agama mereka secara buta.

Agama telah menjadi satu2nya alasan terjadinya perang2 berdarah yang telah menghancurkan umat manusia. Agama2 memusuhi pandangan2 filosofis dan riset ilmu pengetahuan. Yang disebut sebagai kitab2 suci tidak ada harganya dan malah mengakibatkan kehancuran daripada kebaikan, sedangkan “tulisan2 orang2 kuno seperti Plato, Aristoteles, Euclid dan Hippocrates lebih banyak memberi sumbangan pada humanitas.”

Kritik seperti ini pada Islam di jaman ini, bisa mendatangkan hukuman mati. Dapatkah di jaman sekarang seorang terpelajar dapat bicara bebas menentang Islam dengan memanggil nabi2nya “Kambing Bandot” seperti yang disebut Ar-Razi? Ingatkah kau dengan fatwa yang dijatuhkan pada Salman Rushdi ?

Sudah jelas bahwa di jaman Kejayaan Islam dulu, negara2 Islam menikmati kebebasan dan tingkat sekulerisme yang sekarang tidak nampak lagi. Dan dengan hilangnya itu, kejayaan Islam pun hilang pula. Islam dapat dijadikan alat ukur tingkat kebarbaran dan keterbelakangan. Negara yang menerapkan lebih banyak unsur Islam, menjadi semakin terbelakang dan semakin tak berbudaya.

Aku percaya jika Islam dihapus sama sekali, kita akan mendapatkan lagi kejayaan masa lalu di jaman sekuler dan bahkan bisa lebih jaya lagi. Tidak ada alasan bahwa ras Arab bermata hitam lebih rendah daripada ras Eropa mata biru. Jumlah ilmuwan dan intelektual Arab di negara2 Barat merupakan tanda bahwa kami (orang Arab) tidak lebih bodoh daripada ras mana pun. Alasan kenapa kami terbelakang, tak berbudaya, dan barbar di tanah air sendiri adalah karena Islam telah mengambil harga diri, humanitas, dan daya pikir kami. Islam telah mencuci otak kami, dan sama seperti obat bius, Islam telah merusak pikiran orang2 kami.//
BELUM DITERJEMAHKAN !

http://www.answering-islam.org/Silas/childbrides.htm
MUHAMMAD, AISHA, ISLAM, AND CHILD BRIDES
by Silas

Muhammad was 52 and Aisha was 9 when they married and sexually consummated their marriage. Muhammad followed an Arab custom in marrying a child who had her first menstrual cycle. This action must be questioned, regardless of it being a cultural norm, because Muhammad’s action and teachings on marriage established an Islamic precedent: a girl is judged an adult following her first menses, and is eligible for marriage and sexual relations. Thus Muslim men are allowed to marry and have intercourse with young girls who have happened to have an early first menstrual cycle. As will be shown, this leads to physical and psychological damage to the child.
AISYAH umur 7 TAHUN (Dari buku islam yang ada di INDONESIA)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=9483
FOTO: PENGANTIN ANAK-ANAK MUSLIM!!
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=3633
jadi mmg usia aisyah saat menikah juga tidak akurat,yang pasti aisyah sudah cukup umur.
Ali Sina ..You make me laugh… :rolling:

kandi wrote:jadi mmg usia aisyah saat menikah juga tidak akurat,yang pasti aisyah sudah cukup umur.

Gimana sih? katanya ga akurat, tapi terus kok elo tau sudah “pasti” cukup umur? tau dari mane neng?

:stun:
karena sesuai QS 4:19 Persetubuhan (antara suami istri) harus dilakukan saat keduanya sudah cukup umur,sudah siap secara fisik,lahir maupun bathin.
sesahih-sahihnya status suatu hadist,jika bertentangan dgn 1 saja ayat quran,menjadi gugur dan tak terpakai. apalagi jika haidst itu juga bertentangan dg hadist-hadist lain yg lebih sahih dan lebih kuat.
Begini jadul jahiliya pernikahan manusia itu cuman berdasarkan akil balig/secara fisik saja tanpa melihat lagi sisi2 dr kedewasaan secara moral , jadul sudah akil balik berarti sudah waktunya menikah … sekarang jaman da berubah apakah cult jadul jahilliya masih bisa eksis pada jaman sekarang ini ? cuman islam saja yg masih eksis dengan usia perkawinan dibawah umur yg cuman berdasarkan kedewasaan seseorang dr akil balik saja.

Bagi kafir cara2 yg begitu itu sudah ga bisa diikutin lagi , tp islam masih saja menerapkan hal ini terutama di desa2 malahan disahkan juga dr hasil muktamar NU yg ke 32.

Jadi untuk masalah pernikahan mohamad dengan aisah dimana aisah masih dibawah umur dianggap WAJAR karena waktu itu masih jadul !!!

Tapi….

Akan tidak menjadi WAJAR lagi kalo itu terjadi masa masa sekarang ini. Ini artinya apa ?
Nah sekarang muslim/ah silahkan kesini polling-apakah-muslim-malu-dengan-t41397/

Pisss… :heart:
lol! siapa yg malu,justru akan sangat menyedihkan jika tidak ada hadist Aisya,istri yg haids akan disenggamai dan disuruh tidur di luar rumah krn dianggap najis,spt kebiasaan kafir waktu itu…lol! sudah dianggak najis,msh jg disetubuhi…itulah tradisi kafir,yg akan terus terjadi sampai skrg,kalau tak tjd pernikahan nabi dg Aisya tepat pd wktnya,sblm nabi wafat.

Dorama wrote:sesahih-sahihnya status suatu hadist,jika bertentangan dgn 1 saja ayat quran,menjadi gugur dan tak terpakai. apalagi jika haidst itu juga bertentangan dg hadist-hadist lain yg lebih sahih dan lebih kuat.

mau bertentangan atau tidaknya dengan koran, toh tetap aja si momad birahi n kimpoi sama anak ingusan (pedophille)

Image
kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

doramma wrote:kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

nah…ini dia datang …
Saya pingin undang anda untuk membelajari saya tentang islam disini : akk-pingin-t41567/

Piss… :heart:

doramma wrote:kapir asal bacot! mana buktinya?! TAK ADA! Kapir begoo asal bacotys,seolah-olah lihat dgn mata kepala sendiri. lol!

apa bukti masih kurang ????

Image

Image
TAK ADA BUKTI, mana buktinya hah?!

Justru let us look at the following Verses in the Bible: “If a man takes a wife and, after laying with her, dislikes her and slanders her and gives her a bad name, saying, ‘I married this woman but when I approached her, I did not find proof of her virginity,’ then the girl’s father and mother shall bring proof [how do you think they would do that?] that she was a virgin to the town elders at the gate. The girl’s father will say to the elders, ‘I gave my daughter in marriage to this man, but he dislikes her. Now he has slandered her and said, ‘I did not find your daughter to be a virgin.’ But here is the proof of my daughter’s virginity.’ Then her parents shall display the cloth [the father would literally stick his two fingers covered with a piece of cloth into his daughter’s vagina before she gets married and keep that bloody cloth for as long as his daughter is married] with before the elders of the town, and the elders shall take the man and punish him. (From the NIV Bible, Deuteronomy 22:13-18)”
Here is a more clear translation from Hebrew Resources: “The girl’s father and mother shall produce the evidence of the girl’s virginity before the elders of the town at the gate. And the girl’s father shall say to the elders, “I gave this man my daughter to wife, but he had taken an aversion to her; so he has made up charges, saying, ‘I did not find your daughter a virgin.’ But here is the evidence of my daughter’s virginity!” And they shall spread out the cloth before the elders of the town. (From the New JPS translation, Deuteronomy 22:15-17)”
The New JPS translation of Deuteronomy 22:15-17 makes it even more clear about having the parents of the girl displaying the bloody piece of cloth before the elders of the town.
According to the Talmud, the cloth should be “A cloth of less than 3 square finger-breadths. (From the Talmud, Eruvin 29b-30a and Succah 16a)”, and before it is being used, it should be “soft, woolen and clean. (From the Talmud, Niddah 17a)”

The Pedophilic Verses against 3-year old girls:
The pedophilic Biblical verses are Numbers 31:17-18 and Numbers 31:35-40. Below, you will see DETAILED HISTORY on these SPECIFIC verses from the Jewish Talmud explaining the pedophilia that took place against the 3-year old slave girls under the direct command of Moses.
While Christians are not obligated to follow the laws of the Talmud in their social lives, but the historical FACTS that exist in the Talmud about the Biblical verses Numbers 31:17-18 and Numbers 31:35-40 below, and how the “BIBLE FOLLOWERS” during those days were mostly pedophiles who literally forced sex on 3-year old girls after Moses’ supposed ‘Divine’ order is clear indication that the Bible condones pedophilia.

Sedangkan jika nabi tidak menikahi Aisyah maka Aisya tak akan bisa memberikan hadist-hadist yang menolong nasib wanita, istri dan anak sbb:

http://answering-ff.org/board/alkitab-w … t5427.html

Imamat:
15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

Menurut ajaran kristen diatas, bahwa wanita haid adalah najis. Segala sesuatu yang dipegang, diduduki dan ditidurinya menjadi najis, dan harus segera dicuci. Dan setelah selesai haid harus mempersembahkan korban sebagai penghapus dosa. Ajaran diatas sangatlah melecehkan wanita. Ajaran diatas seharus harus tetap dijalankan oleh umat kristen. Kalau umat kristen menurut apa yang di ajarkan Yesus maka laksanakan hukum tentang wanita haid diatas. Sebab Yesus tidak akan menghilangkan satu huruf pun dair hukum Taurat.

Menurut Islam:
Menurut ajaran Islam, suami masih diperkenankan untuk mencintai dan bermesraan dengan istrinya waktu datang bulan. Dan hal ini bukan merupakan suatu najis. Tidak seperti ajaran kristen yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipegang atau diduduki perempuan haid menjadi najis, ajaran Islam mengajarkan bahwa apapun yang dipegang wanita haid tidak akan menjadi najis. Rasulullah saw bersabda:

Dari Aisyah ra, katanya : “Bersabda Rasulullah saw; “Tolong ambilkan aku tikar sembahyang dari masjid!” Jawabku: “Aku sedang haid.” Rasulullah saw bersabda; “Haidmu bukan ditanganmu.” (Terjemah shahih Muslim, kitab Al Haid).

Diriwayatkan oleh Aisyah ra , katanya: “Pernah aku membasuh kepala Rasulullah saw diwaktu aku sedang haid”. (Terjemah shahih Muslim , Kitab Haid).

http://answering-ff.org/board/alkitab-w … t5427.html

Imamat:
15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

Menurut ajaran kristen diatas, bahwa wanita haid adalah najis. Segala sesuatu yang dipegang, diduduki dan ditidurinya menjadi najis, dan harus segera dicuci. Dan setelah selesai haid harus mempersembahkan korban sebagai penghapus dosa. Ajaran diatas sangatlah melecehkan wanita. Ajaran diatas seharus harus tetap dijalankan oleh umat kristen. Kalau umat kristen menurut apa yang di ajarkan Yesus maka laksanakan hukum tentang wanita haid diatas. Sebab Yesus tidak akan menghilangkan satu huruf pun dair hukum Taurat.

Menurut Islam:
Menurut ajaran Islam, suami masih diperkenankan untuk mencintai dan bermesraan dengan istrinya waktu datang bulan. Dan hal ini bukan merupakan suatu najis. Tidak seperti ajaran kristen yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipegang atau diduduki perempuan haid menjadi najis, ajaran Islam mengajarkan bahwa apapun yang dipegang wanita haid tidak akan menjadi najis. Rasulullah saw bersabda:

Dari Aisyah ra, katanya : “Bersabda Rasulullah saw; “Tolong ambilkan aku tikar sembahyang dari masjid!” Jawabku: “Aku sedang haid.” Rasulullah saw bersabda; “Haidmu bukan ditanganmu.” (Terjemah shahih Muslim, kitab Al Haid).

Diriwayatkan oleh Aisyah ra , katanya: “Pernah aku membasuh kepala Rasulullah saw diwaktu aku sedang haid”. (Terjemah shahih Muslim , Kitab Haid).

ck..ck..ck… :roll:
Selain itu hadist Aisya ttg usia itu memang masih belum ada kesepakatan antar ulama, sehubungan dengan ketidakakuratan datanya..

Read More

Tinggalkan Pesan Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: